Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2026

Innalillahi Mas Sunandar

Rasanya, rentang satu bulan ini jadi bulan yang berat untuk keluargaku. Kami kehilangan dua orang dekat kami sekaligus, Bapak yang meninggal Jumat, 14 Agustus 2026; dan Sabtu, 12 September 2026, Sunandar (Mas Nandar) yang juga suami dari adikku Tias, meninggal karena sakit pernafasan di usia yang masih muda. Adikku Tias tidak memberiku kabar, aku hanya tahu kabar ini dari nomor Mas Nandar yang aku kasi nama adikku Tias. 

Kabar itu kuterima mendadak siang ini dari status WA tersebut. Aku langsung menghubungi adikku terakhir, menanyakan kebenarannya, dan begitu patahnya hatiku. Ya Allah, kenapa secepat itu? Ketika pulang ke Cepu, aku hanya sekilas lihat Mas Nandar. Dari dulu orangnya memang kurus, tinggi, jarang bicara jika tidak perlu, dan seperti menyimpan segalanya sendiri. 

Aku ingin cerita flashback. Saat adikku izin menikah dengan melangkahiku, Tias udah bilang ke aku dulu, dan dia tanya aku minta apa? Karena dalam tradisi Jawa, agak pamali melangkahi kakak, dan perlu dapat izin atau aturan tertentu. Karena aku banyak dididik di kota dengan nilai-nilai yang lebih universal, aku sama sekali tidak keberatan Tias menikah duluan. Aku juga bilang padanya, aku tak minta apa-apa. 

Saat Tias menikah di Dukoh, Jawa Timur, sepertinya saat itu aku masih kuliah di semester akhir, tanggal 11 November 2017. Aku saat itu datang bersama keluarga inti, dan saat itu ibu-bapak juga masih sehat. Pernikahan keduanya berlangsung sederhana, ada baju pengantin, tapi bukan yang ada tenda biru beserta meja dan kursi atau sound system di depan rumah sampai menghalangi jalan. 

Dan dalam pengalaman hidupku, pernikahan adikku adalah pernikahan paling sederhana yang pernah kuhadiri. Aku sering datang di acara pernikahan kolega, kawan-kawan kerja, kawan-kawan kuliah dengan semua pesta meriahnya. Bahkan ada salah satu kolega yang karangan bunganya berjejer mengelilingi gedung tempat resepsi, dari pintu masuk sampai pintu keluar. Karangan bunga itu datang dari para pejabat dan orang-orang penting. Mereka juga menyediakan tempat makan VIP untuk tamu-tamu khusus, termasuk untuk hampers akhir juga dibedakan antara yang tamu spesial dan biasa. 

Rata-rata dari mereka, pasti menyediakan tenda dan segala pernak-perniknya. Tapi, tidak untuk adikku. Pernikahan adikku jauh seperti itu, dilaksanakan di ruang tamu, makanan sederhana, tanpa hampers-hampersan. Bahkan aku masih ingat, aku memesankan undangan khusus ke temanku di Jogja untuk undangan adikku dari teman ontelektualku yang jago gambar dan desain grafis bernama Ayik. Saat itu, dengan harga teman, Ayik membuatkanku undangan lucu tersebut. Aku meminta adikku untuk mencetaknya, dan memberikan ke beberapa undangan. 

Suami adikku bernama Sunandar, kelahiran 18 Juli 1989, sementara adikku kelahiran 13 Januari 1995. Mas Nandar dan Tias dikaruniai satu anak laki-laki bernama Alif. Pendidikan Mas Nandar jika tak salah hanya lulusan SD, sementara Tias SMK. Tias memang tidak pintar-pintar amat saat sekolah, tapi dia punya kapasitas empati dan EQ yang lebih baik daripada aku. Seingatku, Mas Nandar tak punya pekerjaan tetap. Sepanjang menikah dengan Tias, dia bekerja membantu adik kandungnya menjajakan lampu-lampu. Adik Mas Nandar punga toko elektronik yang menjual berbagai barang seperti TV, kulkas, kipas angin, mesin cuci, kabel, dan sebangsanya. Mas Nandar ini keliling menjajakan dagangan-dagangan itu. 

Mas Nandar adalah orang desa. Orangtua dan saudara-saudara mereka juga sederhana. Mertua Tias para petani. Saat Tias hamil anak tunggalnya bernama Alif, Tias tinggal di rumah mertua yang bagiku cukup luas. Di sana Alif kecil juga tumbuh dengan lucu dan menggemaskan. Dinamika rumah tangga Tias dan Mas Nandar bagiku juga cukup baik, karena aku tak pernah melihat mereka bertengkar. Tidak ada kasus-kasus kusut yang  mereka hadapi. Alif juga tumbuh dengan baik. Hubungan Alif dengan Mas Nandar juga baik. Mas Nandar sering membawa Alif jalan-jalan naik sepeda motor keliling Cepu. Bahkan untuk membeli hal-hal sederhana seperti mainan dan makanan. 

Karakter Mas Nandar juga bukan orang yang neko-neko. Itu terlihat dari status-status yang dia buat, kadang sering sharing video-video lucu dari TikTok atau kata-kata dalam bahasa Jawa yang mudah dicerna maksudnya. 

Semoga Tias selalu kuat. Jalan masih panjang. Semoga Mas Nandar husnul khotimah. Semoga Alif tumbuh menjadi anak yang berbakti. 

Minggu, 16 Agustus 2026

Obituari Meninggalnya Bapak

1/ Satu rasa penyesalanku sebelum Bapak meninggal hari Jumat, 14 Agustus 2026 adalah belum sempat bilang kalau aku mau S2 di Antropologi. Dulu saat S1, pas daftar SBMPTN, aku juga gak bilang Bapak. Sampai akhirnya pengumuman aku akan melakukan tes di jurusan Fisika baru bilang. Keputusan ini aku ambil karena sudah di taraf tidak mampu mewujudkan harapan Bapak agar aku bisa masuk sekolah kedinasan yang beliau bilang masa depan lebih jelas: kebutuhan sekolah dibayari, setelah lulus PNS. Selama rentang waktu 2 tahun setelah lulus SMA tahun 2011, aku mencoba daftar IPDN (3X), STAN (2X), dan STIS (1X), sampai habis prasyarat usiaku. Di tengah-tengah itu, selain sempat nganggur juga sempat kerja jadi pelayan toko di pasar induk Cepu. 

2/ Namun cita-citaku buat kuliah tetap tinggi. Buku-buku seperti "Laskar Pelangi", "Sang Pemimpi", dan " Edensor" yang kubaca dulu membuatku jadi pengen sekolah tinggi juga. Bukan buku Pramoedya Ananta Toer, A.A. Navis, Marah Roesli atau berbagai buku berat kala itu yang menggerakkan masa kala itu. Sebagai anak kurang gaul dan pendiam di sebuah SMA level kecamatan, aku seperti siswa di jejaring penulis pop culture pada umumnya, pembaca Andrea Hirata yang booming kala itu. Ada keinginan di hati kecilku ingin melanjutkan cita-cita Lintang Samudra Basara (aku fans Lintang) yang tertunda, yang pengen jadi matematikawan, karena itu, aku masuk sains. Karena buku-buku Andrea juga aku punya mimpi-mimpi yang gak tahu diri tentang pendidikan, pencapaian, dan karier. 

3/ Siswa-siswa yang tumbuh di daerah, yang tanah kelahirannya kaya minyak, tapi masyarakatnya banyak yang miskin sepertiku memang perlu lebih aktif agar bisa maju. Termasuk dengan membaca buku-buku, apa pun bukunya, asal bisa memberikan inspirasi untuk memperbaiki hidup. Dulu, jika dibandingkan teman-teman sekelas, kelebihanku bukan karena dapat juara-juara, tapi karena sering ke perpustakaan. Aku gak begitu ambis di akademik, prestasiku tengah-tengah saja, misal dari 45 siswa, aku sering dapat rangking antara 21 sampai 25. IQ ku biasa-biasa aja. Motivasi lainnya, karena saat itu guru Matematika favoritku bernama Pak Dwi Setyanto bilang, "Is, kuliah ya, meski cuma D1." Beliau udah kuanggap seperti Bapakku sendiri di sekolah. Aku akan sedih kalau kelas Pak Dwi kosong. Suatu hari, aku ingin buat tulisan khusus juga untuk beliau. 

4/ Usai berbagai kegagalan sekolah kedinasan, aku inisiatif cari universitas yang kira-kira tidak memberatkan ekonomi Bapak, karena adikku tiga, dan aku anak perempuan pertama. Aku cari universitas kala itu dengan indikator satu saja: "murah". Dari berbagai universitas yang seleksinya dengan SBMPTN, entah kenapa saat itu aku nemu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tahun masukku 2013 dulu jadi tahun pertama percobaan UKT, pembayaran untuk jurusan Saintek 1 juta/semester, sementara yang rumpun agama/sosial hanya 600 ribu, sampai rektor Pak Musa Asy'arie kala itu bilang, UIN Jogja itu kampus paling murah "di dunia dan akhirat". Aku mengamininya. Entah sekarang, kalau memperhatikan berita-berita di LPM Arena (UKM yang membentukku dari maba sampai lulus), label "termurah di dunia dan akhirat" itu sudah tidak relevan lagi. 

5/ Saat aku memberi tahu Bapak, aku daftar UIN tanpa konsultasi dulu ke beliau yang membiayai, Bapak marah. Aku yang keras kepala, aku yang punya jalanku sendiri. Aku masih ingat momen nangisnya kala itu pas diceramahi Bapak. Tapi Bapak luluh juga mengikuti keinginanku. Malah Bapak yang ngantar aku tes SBMPTN di SMA 6 Semarang, tanggal 19 Juni 2013, naik kereta. Karena gak ada saudara, saat itu nginep di masjid. Ternyata aku lolos di UIN, Bapak juga yang mengantarkanku naik sepeda motor tuanya dari Cepu ke UIN Jogja untuk daftar ulang. Usia Bapak saat itu 64 tahun, masih kuat angin mengendara dengan motor dengan jarak sekitar 200 km. Kami berangkat pagi dan sampai malam sekitar Isya, tanpa Google Map dan pengalaman sebelumnya, entah kenapa Bapak bisa tahu jalan. Pas lewat UIN, aku ngeh karena plang yang cukup besar. Melihat UIN pertama kali, jujur saat itu di atas ekspektasiku. Aku pikir UIN kecil seperti STAI Al Muhammad Cepu, tapi malam itu entah kenapa terlihat agung, besar, dan beraura bijaksana. Gedung pertama yang kulihat setelah gedung rektorat yang terletak di pinggir jalan adalah Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, lebih khusus lagi berhenti sejenak di tulisan jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (kelak, teman-temanku banyak di jurusan ini), termasuk sahabat-sahabat baikku, hingga orang yang pernah kucintai dalam arti romantis juga di sini. Ya, meskipun kisah cinta juga gagal total, haha. Tapi yaudahlah, namanya juga hidup.

6/ Usai berhenti di UIN, Bapak mengajakku ke arah Malioboro. Sampai sekarang, aku masih takjub dengan kemampuan navigasi Bapak, kok bisa-bisanya dia seolah tahu jalan dan gak tersesat? Sesampainya di Malioboro dan mamarkirkan mobil di pinggiran jalan, malam itu untuk pertama kalinya aku merasakan gegap gempita Jogja. Malioboro begitu ramai dengan para wisatawan, orang-orang jualan, pengamen, dan permainan angklung yang khas. Saat itu, Bapak kupikir pusing akan tidur di mana. Kami tidak menemukan masjid semudah di Semarang, jika pun buka, masjid di Jogja sedikit yang buka 24 jam sangat jarang. Akhirnya, entah mendapat ide darimana, Bapak menyuruhku tidur di emperan depan pagar Museum Benteng Vredeburg sekitar Titik Nol Jogja, yang tak jauh dari kompleks istana di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Aku tidur, Bapak yang jaga sambil duduk dan wiridan (kebiasaannya). Aku tidur di antara hingar bingar suara Malioboro. Sampai esoknya bangun, mencari masjid yang buka untuk mandi, dan daftar ulang ke UIN. Usai mengurus administrasi, lalu kami meneruskan perjalanan pulang ke Cepu. 

7/ Pas akan masuk kuliah pertama kali, Bapak juga yang mengantarkanku bolak-balik dari Cepu ke Jogja. Bapak juga yang mencarikan aku kos pertama di daerah Balai Yasa, bengkel kereta api yang depannya banyak pphon-pohon tua besar dan terkadang sering disebut angker. Di depan Balai Yasa adalah rumah-rumah zaman Belanda, tempat di mana aku ngekos pada seorang nenek sepuh dengan panggilan Eyang. Hampir semua yang ngekos di tempat Eyang adalah mahasiswa-mahasiswa STIE YKPN. Kos pilihan Bapak atas saran dari Bapak tukang becak nyaman, keluar pintu langsung udara, tanah, dan pohon. Hubungan Bapak dan Eyang juga sangat baik. Di semester awal-awal, aku mencoba banyak ekstrakurikuler kampus, dari persma Arena, Sanggar Nuun, PMII cabang Saintek sebentar, sampai KMPD, membuatku sering pulang malam. Terutama pas latihan pentas teater, dengan sepedaku, oh ya, Bapak membelikanku sepeda mini warna pink untuk transportasiku sehari-hari, aku sering lewat Balai Yasa sendirian yang dianggap angker dengan pohon-pohon jaman penjajahan sampai rumah-rumah gaeknya itu. 

8/ Karena kos Eyang punya jam malam sampai pukul 22.00 WIB, sementara kegiatan-kegiatan di kampus memintaku fleksibel, akhirnya aku pindah kos di sekitar Kantor Kecamatan Gondokusuman. Di kos yang pemiliknya memelihara dua anjing besar itu, Bapak masih beberapa kali menengokku. Pesan yang sering aku dengar dari Bapak, dia akan mengusahakan apa pun untuk pendidikan anak, asalkan si anak mau sekolah. "Tak badhani. Isane mung nyangoni ilmu (Bapak biayai, bisanya hanya membekali ilmu)," katanya. Ya, meski saat itu aku offside kuliah sampai lulus di semester 9 dengan IPK yang biasa-biasa saja, karena aku lebih sibuk di Arena daripada Fisika, Bapak sempat menegur, meski aku juga memberikan alasan-alasan. Sampai tahun 2018, aku lulus, Bapak sudah tidak cawe-cawe lagi dengan pilihan pekerjaanku, meskipun keinginan dia yang utama tetap satu, jadi PNS seperti dirinya. 

9/ Bapak sendiri lahir di Bojonegoro, Jawa Timur tahun 1949. Dia anak pertama dari sembilan bersaudara. Didikan keluarganya cukup keras, tapi dari didikan keras itu, rata-rata saudara Bapak bisa hidup layak. Pendidikan Bapak SMA, tapi beliau pernah bilang sempat merasakan pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Malang zaman itu, IPDN kalau sekarang, yang kampusnya di daerah. Tapi karena Bapak tergolong nakal di zaman mudanya, dia tidak lulus. Ya, Bapak juga mengalami banyak kenakalan di era remaja sampai menikah dua kali. Di pernikahan pertama, Bapak punya empat anak, jadi aku punya banyak saudara tiri juga. Setelah cerai dari istri pertama, Bapak menikah dengan ibuku, yang juga punya empat anak. Karena punya latar belakang semi-militer, Bapak juga mendidikku dan adik-adikku tak kalah keras juga. Bapak sendiri meski gagal di APDN, dengan ijazah SMA diterima jadi PNS bergolongan rendah-menengah sampai pensiunannya sebagai Satpol PP. Dengan "menjagakan" uang pensiun itulah, Bapak mengkuliahkanku, dan terus mendorongku dulu sekolah kedinasan dan jadi PNS. Bapak pengen ada anaknya yang sekolah di IPDN, bahkan nama adikku nomor tiga ada kata Praja-nya. 

10/ Berkat doa Bapak juga barangkali, aku bisa bekerja di Jakarta seperti sekarang. Di lingkungan dan instansi yang sebenarnya juga tidak jauh-jauh dengan dunia Bapak, dan mimpi Bapak. Bapak mungkin bangga aku bisa kerja di lingkup Dagri dan Pemda, turun lapangan langsung sampai ke daerah-daerah terpencil di berbagai pulau di Indonesia dari Aceh sampai Papua. Sementara rekan kerjaku rata-rata adalah lulusan IPDN. Nasib berjalan dan melingkar dengan cara yang aneh bukan? Dan, cita-cita untuk sekolah tinggi itu masih kugenggam. Tuhan memberikanku kesempatan untuk melanjutkan kuliah lagi tahun ini. Aku diterima di S2 Antropologi Universitas Indonesia (UI). Setelah berbagai percobaan beasiswa, yang lagi-lagi menghadapi kegagalan, sampai akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan gaji bulanan sebagai bekal melanjutkan kuliah S2. Suatu hari, ada teman yang bertanya? "Kamu kuliah beasiswa, Is?" Aku jawab, "Enggak dong, ini itu dari Ideopraksis Foundation." Lalu dijawab temanku, "wkwk". Aku sendiri juga tertawa, hahaha. Antara lucu dan getir. Ya, kuliah ini aku biayai sendiri. Hidup ini juga tidak mudah, sebelumnya, tabunganku selama di bekerja full hours pernah habis sampai minus karena kena tipu secara online orang yang mengaku-aku teman. Namun, alhamdulillah lagi, aku masih bisa seperti burung Phoenix, bangkit lagi apa pun yang terjadi. Sejak saat itu, aku sangat berhati-hati soal uang, punya tujuan finansial yang lebih jelas, salah satunya alokasi untuk pendidikan.

12/ Beberapa hari yang lalu, aku sempat berdiskusi dengan kawan, kakak angkatan lulusan UIN yang juga akan wisuda di Antrop UI sebentar lagi. Kata-katanya menurutku jadi renungan yang berharga buatku pribadi. Konteksnya, aku punya banyak sekali minat, gimana caranya agar aku bisa fokus ke salah satu bahasan? Kalau bahasa ilmiahnya bisa disebut, trayektori akademik. 

Dia bilang, "Anak UIN kayak kita gak punya privilese untuk punya imajinasi trayektori, just follow the money." Aku bingung, memintanya menjelaskan lebih, katanya:

Jadi, menurutku anak2 uin kan yg penting asal kuliah (ini jamanku yg spp masih 600), yaa. Jadi terbiasa berpikir dan hidup scr generalis. Belajar de urban property. Mereka gak akan bisa hidup jika mjd spesialis. Perjalanan hidup mereka menuntut mjd generalis, harus bisa segala bidang, karena gak mungkin mjd spesialis, itu akan menambah pengeluaran. Jadi pas ditanya, "apa trajektorimu?". Biasanya bingung karena terbiasa hidup generalis. Trajektori menuntut timeline dan expertise. Atau setidaknya peminatan yg spesifik. (Putra, 2026) 

13/ Dari situ rasanya kayak, deg, blind spot-ku terbuka. Ini alasan yang sangat jelas, mengapa mahasiswa yang hidup dari kelas menengah ke bawah dan kekurangan/pas-pasan secara ekonomi susah membayangkan dirinya sebagai seorang ahli. Karena mode hidup kami lebih banyak soal bertahan, mencari uang, dan aturan sederhananya adalah, kemana uang itu ada, kita mengikuti. Asalkan bisa hidup dan makan sehari-hari, "just follow the money." Tentu, bukan follow curiousity, nah, itu kenapa juga terhubung dengan kegelisahanku setelahnya, mengapa di dalam kultur akademik kampus, mahasiswa yang fokus pada penelitian teoritik itu jauh lebih sedikit daripada yang penelitian lapangan? Contohnya, di jurusan Fisika angkatanku, seingatku tidak ada satu pun yang fokus ke fisika teoritik, hampir semua arahnya ke penelitian terapan di bidang instrumentasi, material, dan fisika bumi. Bukannya antara yang teoritik dan lapangan tidak berhubungan, tapi aku penasaran mengapa penelitian yang satu lebih dominan dibanding yang lainnya.

14/ Lewat tulisan ini, aku sungguh berterima kasih pada Bapak yang sudah mbandhani aku sampai lulus dari UIN. Masa ketika aku menjalani jenjang S1 adalah titik balik banyak perubahan besar dalam hidup. Bukan karena aku dapat ijazah, tapi perubahan caraku berpikir, perubahan paradigmaku menjalani hidup, hingga dipertemukan dengan orang-orang yang akan mengubah hidupku di kemudian hari. 

15/ Bapak mengajariku pula untuk menjadi diri sendiri, dan menerima konsekuensi apa pun dari keputusan itu. Dia tidak suka dengan berbagai macam performativitas palsu, dia tidak peduli dibenci keluarga besar bahkan dibenci satu kampung karena prinsipnya itu. 

16/ Bagiku, kado terindah dari Bapak sejauh ini bukanlah materi, tapi pendidikan. Bapak juga bilang, misal aku mampu sekolah sampai di tingkat paling tinggi, dia akan mengusahakan. Bapak, kini Isma sudah bisa menjalani hidup mandiri, sebagaimana arti nama "Swa" yang Bapak berikan padaku. Kali ini, aku izin ke Bapak untuk melanjutkan sekolah lagi, Pak, aku mau jadi Antropolog di kemudian hari. Semoga Bapak ridha dengan pilihan Isma. Matur nuwun njih, Pak.

Rabu, 01 Juli 2026

Diskusi Novel Lebih Senyap dari Bisikan

Terima kasih Mbak Andina Dwifatma dan Ocehan Random untuk diskusi malam ini. Hari ini saya belajar:

1. Menulis dengan tidak menghakimi itu jadi jalan yang perlu dilatih untuk memahami kompleksitas manusia.

2. Budaya populer mengajarkan perempuan seolah-olah konfliknya hanya soal perebutan laki-laki. Cerita seperti ini sangat banyak di sinetron, FTV, drama-drama Korea/dracin, bahkan dalam dongeng seperti Cinderella dan Putri Salju. Padahal kisah perempuan sangat lebih rumit dari ia mengandung, melahirkan, hingga membesarkan anak. 

3. Kisah-kisah perempuan yang berada di tengah-tengah seperti tokoh Amara dalam novel "Lebih Senyap dari Bisikan" masih jarang ditulis. Kebanyakan wacana juga, karakter perempuannya jika tidak ia sangat berhati malaikat yang sangat keibuan; ya sebaliknya, karakter perempuan yang binal seperti dalam karya Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu.

4. Pernikahan beda agama seperti yang terjadi pada Amara dan Baron bisa berhasil, asal benar memilih pasangan yang mau diajak komunikasi.

5. Kalau kamu "yakin", jalankan, karena itu panggilan Tuhan dan alam. Lainnya nanti akan mengikuti.

Sabtu, 13 Juni 2026

Ruang Publik dan Aksi Massa

Ada satu pertanyaan yang mengusikku berkaitan dengan demo kemarin: Mengapa ruang publik sekarang semakin dijaga dari massa aksi? Pertanyaan ini tiba-tiba muncul saat aparat mengalihkan konsentrasi massa dari yang awalnya dari akan dipusatkan di Bundaran HI untuk diganti di Gedung DPR atau seputaran Patung Kuda Arjuna Wijaya dekat Monas. Aku mengetahui ini setelah membaca berita, dan ada orang-orang yang cukup kecele juga pas datang ke Bundaran HI di jam istirahat makan siang, dan melihat lokasi itu masih sepi. Mereka menyangka jam 10 sudah ada pergerakan. Bahkan driver ojol ada yang bilang jika katanya demo batal, karena lalu lintas di Bundaran HI masih lancar. Dalih aparat mengapa massa aksi dilarang ke Bundaran HI karena "menjaga ketertiban umum dan kelancaran kegiatan ekonomi ", dengan dialihkan ke tempat yang disebut sebelumnya, aspirasi jadi semakin didengar, begitu klaimnya. Namun, wait, pada Jumat pagi aku juga baca komentar netizen yang bilang Bundaran HI salah tempat. Berikut skrinsutnya. 

Padahal, jika kita membaca sejarah, misal ketika membaca tulisan Rita Padawangi, ruang publik strategis seperti Bundaran HI ini bisa menjadi "megafon", bagaimana informasi disebarkan, didistribusikan, dan bagaimana kota menjadi agen untuk menyuarakan gagasan. Tentu komentar yang menyerang pemilihan Bundaran HI bisa mudah dimentahkan. Ruang publik sestrategis Bundaran HI juga punya makna simbolik sebagai jalur efektif bagaimana pesan diterima publik, terutama bagi kalangan di luar elite, termasuk kaum papa dan mereka yang cenderung acuh sama politik kuasa. Ruang publik juga menyimpan memori kolektif yang tentu punya makna personalnya sendiri bagi setiap orang. Tentu, bagiku Bundaran HI adalah lalu-lintasku usai kerja untuk menuju tempat les belajar bahasa. Yang selalu macet di jam² pulang kerja. 

Pemindahan lokasi massa aksi ini punya dampak yang serius:

1. Strategi memecah belah massa: Ketika disepakati satu tempat, tapi di lapangan semacam dibajak lokasi dan waktunya, maka massa jelas akan terpencar-pencar dan tidak bersatu. Ini menjadikan substansi perjuangan jadi semakin dilemahkan. 

2. Pengontrolan massa di Bundaran HI lebih susah karena paling tidak ada tujuh simpang dari yang besar sampai yang jarang dilalui di titik itu. Bandingkan dengan simpang di patung kuda dengan persimpangan yang lebih sedikit dibandingkan HI. Sementara kita tahu efektivitas gedung DPR hari ini dengan elite-elitenya. 

3. Justru saking vitalnya Bundaran HI, tempat itu jadi tempat yang sangat politis. Tempat juga bisa menjadi agensi yang tak kalah penting untuk menyuarakan tuntutan. Karena di sana juga letak otoritasnya. 

Sebagai bagian dari sipil, aku juga ingin melihat Indonesia dengan kepemimpinan sekarang bisa melakukan refleksi. Aku mencoba membela apa yang menurutku perlu dibela, karena sekali lagi, hidup itu sendiri sudah sangat politis. 

Selasa, 09 Juni 2026

Refleksi Kelas Kritik Sastra dari Mbak Ayda

Saya mendapatkan berbagai inspirasi, seperti: (1) bisa membedakan bahwa sastra pinggiran itu konstruk dari apa yang ada di pusat, (2) sebagaimana refleksi Mbak Ayda, selera sastra yang dibentuk dalam lomba-lomba cenderung maskulin, (3) untuk melihat corak masyarakat bahkan bisa dilihat dari sastra populernya, bukan sastra kanonnya, (4) selera berkaitan dengan struktur yang membentuk seseorang, tidak ada yang perlu ditinggikan atau direndahkan, cukup dihormati, (5) pas Mbak Ayda mahasiswa, dia mendapatkan nilai yang biasa saja karena mengulas Kuntowijoyo. Sementara yang mengulas karya terkini dapat nilai baik. Pelajaran moralnya, ketika membahas karya kanon seperti Kuntowijoyo atau Pramoedya Ananta Toer semisal, kamu harus benar-benar paham dari yang lain, karena yang mengulas sudah sangat banyak. Tapi ketika mengulas karya baru, ada kemudahan relevansi dengan masa sekarang, dan cenderung belum banyak diulas. 

Jumat, 29 Mei 2026

Tentang Musik Algoritma AI

 

Refleksi 29052026:

Hari ini aku makan bakso di dekat Stasiun Juanda, karena bakso Handayani di Gang Kingkit tutup, mungkin karena libur panjang Idul Adha. Aku pun memutar jalan menuju arah Juanda, melewati gang-gang kecil di Jakarta. Aku memperhatikan, bahkan karena sempitnya ruang, menjadi umum gang digunakan sebagai dapur. Kompor dan bahan makanan yang diletakkan di depan rumah jadi hal lazim.

Saat sampai di penjual bakso kaki lima, aku memesan semangkok bakso dan es teh tawar. Penjualnya seorang ibu berkacamata, yang dibantu anak perempuannya (mungkin usia 20-an), wajah mereka mirip. Aku makan seperti biasa, yang menarik, si anak perempuan ini nyanyi lagu yang lagi viral berulang-ulang: "MBG, Mas Bahlil Ganteng / Buah apa, yang paling manis? / Buahlil / Tambah ganteng aja..." 

Tanpa bermaksud menghafalnya, aku sampai hafal reff-nya saking si anak tadi mengulang-ulangnya terus. Panasaran, aku browsing asal-usul lagu itu, dan ternyata lagu itu dibuat AI. Aku jadi mikir: untuk golongan grassroots, lagu-lagu seperti ini populer juga ya. Ia jadi semacam "earworm" di wilayah abu-abu, yang sulit dibedakan apakah ini meme, propaganda, satire, ironi, hiper-absurd, atau ambiguitas sama sosok Bahlil. Politik udah ekspansi ke jalur-jalur seperti ini.

Untunglah, enggak tahu nyambung atau enggak dengan refleksiku, di semesta lain, ada pula orang-orang baik yang ngasi bacaan-bacaan waras (di tengah gempuran musik algoritma) macam ini. Buku itu judulnya, Music and Social Movements: Mobilizing Traditions in the Twienthieth Century karya Ron Eyerman dan Andrew Jamison. Link dowload bisa dunggah dari ini: https://share.google/FVbgsxQ7Uy0N1j3vO.

Senin, 25 Mei 2026

In spirituality, no one can judge you. No one can bluff you.

Maybe, I am not a good preacher. But, all the things I do are to bring myself to the light, in His greatness. I still try meditation even though I know that I may fail. Sometimes, I only want to be honest to myself, everything I do is something I aware that I want to do. Not because it is influenced by the outside world around me. 

Every Monday's night, Shraddha Ma gives us new insight into spirituality. This night, I learned that the inside is more important than the outside. I learned about equality too, religions sometimes are just fashions. 

I learned from Tejomoyee Maa that, "In spirituality, no one can judge you. No one can bluff you." 

She told to us that Bhagavan never disciminated against people, whether because of social status, class, religion, skin colour, etc. Until now, his values about oneness remain eternal. He made devotee' practices as a priority. 

And, I want to write too, when I did a meditation practice at Katedral Jakarta with Romo Mahar and Catholic people, even though I was the only woman who wore a jilbab, but I was happy, and felt the sense of equality. One more experience: there was a girl who smiled to me effortlessly, and I felt that her smile was so honest. And, I am thankful for that. I continue to remember it. 🙏

Kamis, 21 Mei 2026

Bapak Berkaos Maroon

Refleksi 21052026:

Siang ini aku makan di sebuah warung makan Padang yang menurutku paling enak dan murah di kawasan dekat kos. Aku harus pulang sebentar ke kos karena ada urusan administrasi kantor yang tertinggal. Di warung naspad itu, saat jam makan siang ramai. Aku mencari tempat duduk yang kosong. Duduklah aku di sebelah Bapak tua berkaos maroon (mungkin usia 60an ke atas, sekilas Bapak itu terlihat (maaf) seperti petugas cleaning service. Sementara, di depan Bapak itu ada Bapak lain yang lebih muda mungkin usia 40an, nampak terawat dari prejengannya seperti bos. Gesturnya seperti berniat hendak interogasi. 

Aku gak berniat nguping, terpaksa mendengarkan karena mau gak mau obrolannya meluber padaku. Intinya, Bapak tua itu telah ditipu oleh lawan bisnisnya sampai 500-600 juta (si Bapak memperkirakan segitu). Dia berbicara pada orang di depannya bahwa dia mau kerja apa saja, usahanya juga apa saja dari bengkel motor sampai usaha kaligrafi yang kena tipu. Bahkan saat dia sukses pun, dia masih memperhitungkan gaji karyawan yang belum layak. Eh tiba-tiba, si Bapak yang lebih muda ini bilang dengan jelas, "Bapak terlalu jujur,  Bapak terlihat polos. .." 

Dalam hatiku, anjir, aku freeze sejenak, aku memahami kondisi sakitnya ditipu finansial yang tidak sedikit. Terus aku mikir dan kalau boleh ngegas, "Lu gak harus degradasi moral seseorang untuk ngebuat diri lu sendiri lebih baik, dengan mengatakan dia terlalu jujur, terlalu baik, terlalu dapat dipercaya!" Berak itu narasi-narasi yang ada kata-kata, "Kamu buatku terlalu baik," yang jelas-jelas orang yang ngatain itu lebih toksik dari orang yang diberi pesan. Untunglah, aku melihat Bapak tua itu orangnya selow. Dia masih bisa tertawa, bahkan masih bisa bilang kalau sekarang dirinya lebih bebas mengelola usaha kecilnya sekarang. Meski tidak sebesar dulu, tapi hidupnya lebih enteng. Sehat terus Bapak berkaos maroon, Tuhan memberkahi hidup Bapak.

Senin, 04 Mei 2026

Tentang "Kober"

Sabtu lalu aku mendatangi acara Kober Memanggil. Kober di sini baru kuketahui adalah nama gang strategis di kawasan permukiman di Depok. Suatu hari, saat ngobrol dengan tetangga kosku, di dekat Museum Prasasti Jakarta, yang hanya berjarak tak lebih dari satu kilo meter dari kos, ada daerah bernama Kober pula. Daerah ini terkenal angker, dan secara harfiah katanya kober itu artinya kuburan. 

Hari ini, aku bertemu dengan kata ini lagi dalam konteks yang berbeda. Di sebuah acara yang isinya para veteran yang anggotanya berusia lebih dari 60an tahun, salah satunya berkata dalam sebuah sambutan. Ada empat karakteristik seorang pemimpin: pinter, pener, bener, dan kober. Pinter itu syarat biar jadi sumber inspirasi. Pener itu taat hukum. Bener itu bersikap jujur. Kober itu, aku tak menyangka diartikan veteran berumur 76 tahun ini dengan makna peduli, respect, dan respons. 

Veteran ini Jawa tulen, aku langsung ingat juga percakapan di kampung dulu, kata "kober" diartikan memiliki waktu untuk melakukan sesuatu. Kalau ada yang bilang, "wis lah, ora kober", mengindikasikan jika orang ini tidak sempat, atau juga tidak mau. Bagiku cukup menarik juga ketika "kober" dimaknai dengan suatu respons dan kepedulian. Untuk hal-hal yang penting dalam hidup kita, rasa-rasanya tiap hari adalah usaha untuk mengkober-koberkan sesuatu. Aku sepakat dengan veteran yang sebenarnya lebih suka ngarit dan berkebun di tegalan di masa tuanya ituitu bahwa makna "kober" itu perlu diuri-uri.

Kober dalam nama gang atau daerah di Depok, meskipun secara penulisan sama dengan kober yang dimaksud dalam pengertian si veteran, secara pengucapan berbeda di "e". Kalau secara lingustik namanya homograf, sama dengan kata "apel" (buah) yang diucapkan dengan e pepet /ə/. Lalu, "apel" (upacara) yang diucapkan dengan e taling /a/. Jawa lebih suka pakai pepet, sementara yang mode Depok, pakai mode taling. Pepet (ꦼ) dalam aksara Jawa sangat umum karena secara linguistik, tapi ini bahasan lain. Titik tekan tulisan ini adalah ingin menekankan tentang "kober" yang selaras dengan kepedulian.

Perpusnas Jakarta, 4 Mei 2026 

Kamis, 02 April 2026

Melepaskan

Hari ini aku belajar melepaskan:

Perlombaan-perlombaan yang tak sesuai bakatku.

Bacaan-bacaan yang tak menggugah minatku.  

Wacana-wacana yang tak cocok.

Aktivitas-aktivitas yang melemahkanku. 

Acara-acara yang menghabiskan dayaku. 

Manusia-manusia yang tak sesuai dengan energiku. 

Aku ingin lebih jujur pada diri sendiri.

Karena hari ini aku belajar kejujuran sebagai suatu metode.

Yang bukan hanya dalam teori, tapi juga praktik. 

Sabtu, 21 Maret 2026

33 th

Hari ini, ulang tahunku yang ke 33 tahun bertepatan dengan perayaan Idul Fitri 1447 Hijirah. Namun, dari dulu aku tak pernah suka lebaran. Lebaran hanya menambah tekanan. Tekanan ini aku alami sejak kecil, seperti merasa inferior ketika bertemu dengan para sepupu di Bojonegoro. Mereka anak-anak dari saudara-saudara Bapak, lalu ke rumah Mbah Kung dan Mbah Yi dengan naik sepeda motor yang ditumpangi enam orang (ibu, bapak, aku, dan tiga adikku), juga aneka cerita-cerita yang membuat jiwa tertekan setelah pulang. Aku merasa, tanpa Lebaran pun, hidupku akan baik-baik saja. 

Hari ini berbeda. Ibuku udah lebih dari empat tahun sakit stroke. Beliau tak bisa apa-apa kecuali hanya melakukan aktivitas di atas amben. Aku merasa ibu juga ketakutan untuk sembuh, barangkali, akumulasi sakit yang dialaminya berpotensi akan terjadi pada dirinya lagi jika dia sembuh. Sakit secara fisik lebih bisa diterima daripada sakit secara jiwa dan rasa. Sebagai anak pertama yang tinggal di perantauan, setelah 13 tahun hidup sebagai hyperindependent woman, yang tiap hari mengaktifkan skill problem solving, aku merasa ketika pulang, aku tetaplah jadi sosok yang tak banyak membantu. Aku merasa tiba-tiba kemampuan bertahan hidup yang kudapat di perantauan jadi melempem, seperti tisu terkena air. 

Hari ini, di hari ulang tahunku, di hari Lebaran 2026, pagi tadi aku mengantar adik terakhirku ke rumah sakit. Dia tiba-tiba mengeluh ada gejala DBD dari bacaan internet di hapenya. Antena bertahan hidupku langsung ingin cepat membawanya berobat, meskipun dia ragu akan ada orang yang bertugas di hari raya, saat solat ied dimulai. Dia demam, tulangnya linu, setelah memaksakan diri puasa sebulan penuh. Tapi aku keukeuh, DBD harus segera diobati sebelum terlambat, karena di kantorku ada teman yang kena DBD, dan salah seorang kolegaku bilang, "Mesti cepat-cepat dibawa ke rumah sakit, jika tidak bisa keterusan meninggal!" Tentu aku ketakutan, sama sekali belum siap. 

Hari ini, aku ingin bercerita tentang dia, adik kebanggaanku. Anak bungsu ibu. Barangkali dia adalah adik yang paling aku banggakan secara akademik. Aku menaruh harapan yang besar padanya. Dia menuruti saranku untuk masuk jurusan HI, dia menuruti saranku untuk ikut organisasi-organisasi kampus sampai dia jadi ketua atau wakil ketua atau sekadar koordinator divisi. Dia mengikuti saranku masuk persma, prestasinya baik, IP-nya selalu membanggakan di atas 3,8; jika aku menjadi dia, sepertinya juga aku tak mampu menyaingi prestasinya. Termasuk ketika dia mendapatkan beasiswa yang cukup bergengsi dari Bank Indonesia (sampai dua kali). Namun, yang membuatku selalu terenyuh, dia adik yang paling peduli sama Ibu ketika sakit. Sebuah pengabdian yang belum tentu aku mampu menjalaninya, padahal dia laki-laki, aku perempuan, yang secara pandangan umum, perempuan memiliki keterampilan lebih di bidang perawatan. Adikku mematahkan itu. Aku merasa belum setelaten dia.

Hari ini di ulang tahunku yang ke-33, aku menangis tanpa bersuara ketika mendengar lagu-lagu Dee Lestari berjudul "Grow A Day Older", "Selamat Ulang Tahun", "Firasat", "Malaikat Juga Tahu", dan "Back to Heaven's Light". Tangisan yang aku lakukan entah itu untuk apa. 

Hari ini, aku makan mie ayam, akhirnya, meski harus menunggu lama. Dan aku melihat ada ibu dan anaknya yang jatuh dari kursi saat tempat makan itu sedang ramai-ramainya. Rasanya kosong. Di tempat makan ini, rasanya tak terlalu istimewa sebenarnya, aku ingin mie ayam Lek Mo, tapi udah tutup dan habis. Besok aku akan membelinya jika aku dan makanan itu berjodoh. Beliau sudah jualan belasan tahun mungkin sejak aku masih sekolah.

Hari ini, adik perempuanku membelikanku dimsum mentai ulang tahun yang ada lilinnya. Aku mengucapkan terima kasih untuk kadonya, aku sangat berterima kasih. Ternyata, di tengah hari raya yang tidak baik-baik saja ini, Tuhan masih memberikanku banyak rejeki. Pesan paling kurasa dari alam semesta tersimbol dengan kata-kata yang ketemukan di RSUD: "Aku bertekad membuat diriku sehat."

Hari ini, aku bersyukur pada Allah SWT. Terima kasih telah mengizinkan hamba-Mu bisa hidup sampai di usia 33 tahun ini. Terlebih sejak di tahun 2025 lalu, cobaan berat dan membuka mataku itu datang. Pelajaran hidup berharga di mana aku tak lagi mengagumi hal-hal yang sempurna, baik, kelihatan wah, atau menguntungkan tapi secara realita (logika dan matematika) tidak logis. 

Hari ini aku berdoa, semoga, Isma selalu sehat, bisa kuliah Antropologi dan mengikuti tirakat prihatin dan wani rekoso dari Pak Dwi. Terima kasih, terima kasih Ya Allah.

Cepu, Blora, Jawa Tengah, 21 Maret 2026. 23.47 WIB.

Pesan Pak Dwi

Kata-kata ini aku kumpulkan saat masih menjadi murid Bapak dulu di tahun 2010-2011. Sampai kapan pun, Pak Dwi adalah guru terbaik yang pernah Isma miliki. Pak Dwi yang membuka mata Isma bahwa pelajaran sesulit Matematika pun bisa terlihat mudah, sepanjang kita setia menaati aturan yang menjadi kewajiban. Bapaklah orang pertama yang ngajarin Isma cara berpikir kritis, berfilsafat, dan sistematis. Bapak juga sangat progresif, saat guru-guru lain menggunakan LKS buatan pabrik, Bapak menyusun bahan ajarnya sendiri dan sesuai dengan "metode" Bapak sendiri.

Pesan Bapak dulu, "Kuliah ya Ma, meski hanya D1." Pak Dwi, Isma udah lulus S1 delapan tahun lalu, dan Isma akan lanjutin S2 tahun ini. Pak Dwi, mungkin ini lebai, tapi kukira saat dulu, tak ada murid yang sesayang itu dengan Pak Dwi dan Matematika di kelas kecuali Isma. Ingatan itu masih jelas sampai sekarang, saat suatu siang jam Pak Dwi kosong karena Bapak ada acara, semua anak bersorak bahagia, kecuali aku yang malah mbrambang dan pengen nangis. Aku gak tahu, ada kesedihan yang sangat saat itu. Aku selalu menanti kelas Pak Dwi. 

Mendapat guru seperti Bapak juga menjadi moment aku seperti mendapatkan teman, karena aku tak menemukan teman di kelas Pak. Aku terlalu pendiam. Dan, di mana pun aku bertemu dengan "teman", di sanalah prestasiku melejit. Bapak menyalakan cahaya dalam kegelapan Isma, sampai dulu pernah berpikir, jika lotere hidup bisa kuatur sesukaku, aku ingin jadi anak Pak Dwi saja. Bapak bukan hanya sekedar guru, Bapak dulu satu-satunya orang yang menolongku di tengah kelabilanku di usia SMA. Dan selamanya, nama Bapak akan tetap di dalam hatiku. Nama Bapak terukir istimewa.

Umur Bapak mungkin sekarang sudah sekitar 60 tahun, Bapak barangkali juga sudah lama pensiun. Keinginan Isma, pengen ketemu dan lihat Pak Dwi sekali lagi. Ya, kalau tidak bisa lebih dari sekali, sekali saja sudah cukup. Isma kangen banget sama Pak Dwi, sehat-sehat njih Pak. Isma ingin ngikuti jalan prihatin dan wani rekosonya Pak Dwi. Isma pegang erat kunci itu Pak: "TEKUN: PANTANG MENYERAH, PAHAM KONSEP, BERPIKIR KREATIF." Dan berikut berbagai macam pemikiran filsafat yang Isma pelajari dari Bapak:

🌻 Latihan terus menerus sebanyaknya, sepanjang mengikuti peraturan yang berlaku, jangan khawatir salah. 

🌷 Alur berpikir jelas memang perlu perjuangan. Alur pemakaian biasakan nyatakan. Harus penuh perjuangan. 

🌹Penjelasan tak usah semua, tapi aku tahu semuanya. 

💐 Bagaimana melakukan penalaran, sesuai dengan ketentuan yang ada, dalam menanggapi permasalahan yang ada. 

☘️ Lihat angka, manfaatkan angka. 

🌲 Melihat pola bilangan yang ada, cepat ngerti perlu latihan. 

🌴 Itulah kawan timbulnya malas, karena kita tidak bisa mengatur alur logika dengan benar, karena kita lebih cenderung rumit. 

🐰 Bisakah dibawa kesana? 

🦁 Jangan gunakan kalkulator

🐯 Pingin bisa? Belajar. Banyak tantangannya. 

🦋 Jalmo Lipat Seprapat Tamat: Sesuatu yang sederhana dilompati, belajarlah satu melangkah tiga perjalanan. 

🐢 Ngikuti jalur dengan benar. 

🦚 Walaupun salah nggak masalah

🦕 Soal punya jurus tertentu, apa yang Anda bisa lakukan, lakukanlah. 

🦄 Sesuatu yang banyak kalau dimengerti tidak banyak. Niteni. Matematika itu unik, senang. 

🌼Pahami karakteristik. 

🪴 Mimpi jangan hanya diangan, dilaksanakan. 

🎍 UN tidak sulit, persiapan sungguh, Anda bisa. 

🐠 Wani rekoso.

Makasih Bapak Drs. Dwi Setyanto, guru matematika terbaikku di SMA N 1 Cepu tahun 2010-2011.

Terima kasih telah mengajariku banyak jurus ninja untuk menjalani hidup. 

Sayang Pak Dwi banyak-banyak...

Kamis, 12 Maret 2026

I am Ready to be Forgotten, More Than Ready

I feel overwhelmed and so much overthinking with many things, even it is just a small thing. I want to stop. I never need a validation, I will close that curtains of performance. Social media is not my nature pool. It is messy, creepy, exhausted, mental static... It makes me feeling hurt as easy as I use it: more cynical, colder, defensive. 

I want to find my own voice again, quiet, imaginative, and untainted by the judgement of the public eye. I want to step away from public gaze. I am not trading my peace with like or love or comment or share or repost.

I choose private. And of course, I am ready to be forgotten, even, more than ready.

Senin, 19 Januari 2026

Berserah Diri

Ya Allah, aku berserah diri pada-Mu, seluruh hidupku adalah untuk pelayanan-Mu.

Jumat, 16 Januari 2026

Color Walk "Magenta" di Kota Langsa

Semalam, aku dan Binar diskusi random soal warna magenta. Ini berawal dari pengamatanku saat tugas di lapangan, karena dasarku suka ngamatin pola, aku merasa ibu-ibu di sepanjang bolak-balik Aceh Tamiang ke Kota Langsa, sering aku menjumpai ibu-ibu memakai pakaian warna magenta. Mirip warna dominan icon Instagram. Yang boleh dikatakan itu cukup ngejreng di mata. Binar menanggapi, "Bukannya ibu-ibu suka warna kayak gitu ya? Terlebih di Melayu. Kadang mereka suka warna kuning." Dan obrolan berlanjut ke warna lain. Lama gak olahraga, pagi ini, aku iseng color walk, fokus warna magenta. Ternyata cukup banyak warna magenta yang kutemukan meski baru setengah jam jalan. 

Sabtu, 03 Januari 2026

LPJ Hidup 2025: Tahun Kegelapan

Dulu, saat menjadi mahasiswa, tapi lebih khususnya jadi anggota Lembaga Pers Mahasiwa (LPM) Arena, salah satu laporan resmi yang paling suka kubaca adalah saat membaca Laporan Pertanggung Jawaban (LJP) kawan-kawan segenerasiku saat kami hendak menyerahkan kepengurusan ke generasi selanjutnya. Hal menarik dari tulisan itu adalah sifatnya yang personal. Sebagian orang bisa berbakat menjadi Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi, sekretaris, bendahara, atau posisi menentukan lainnya; tapi setiap dari mereka, seperti lagu Padi, "semua tak sama, tak pernah sama". Cerita-cerita merekalah yang membedakan, dan aku suka membacanya, terlebih jika tulisan itu isinya refleksi yang sifatnya tak hanya radikal secara intelektual, tapi menyentuh perasaan dan kemanusiaan siapa pun yang membacanya. Apalagi saat itu, LPJ itu dibacakan di depan teman-teman seluruh anggota sidang.

Salah satu lukisan di Art Jakarta, mengingatkanku pada desaku di Cepu, Blora
Kucing dan pohon bunga kertas (bugenvil) yang terasa karib
Sebenarnya, ide membuat LPJ hidup setiap tahun yang coba kukonsistenkan sejak awal tahun 2020 ketika aku membuat LPJ hidup tahun 2019 terinspirasi dari Rapat Tahunan Anggota (RTA) yang dilaksanakan oleh Arena. Aku merasa, ketika membuat LPJ kala itu, entah itu posisiku sebagai anggota PSDM, redaktur website atau pemimpin redaksi, memberiku kesan tersendiri. Bagaimana aku bisa merefleksikan, mengekspresikan, dan memaknai perjalanan selama satu kepengurusan. Tentu, ada suka, duka, canda, kecewa, keberhasilan, kegagalan, titik rendah, titik klimaks, titik biasa-biasa saja, yang kalau dipikir-pikir itu sebagai sesuatu yang normal. Namun, memberi "nama" untuk berbagai pemberhentian yang kurasa penting tersebut menjadi keasyikanku sendiri.

Suatu hari di Anyer
Suatu hari di Lembang
Nikahan Dinda & Surya
Begitu juga yang ingin aku ceritakan padamu di LPJ hidupku tahun 2025, dan kutulis di awal tahun 2026 ini. Tak ada lagu yang sama untuk setiap bulannya. Kalau aku recap, barangkali begini garis besarnya yang kuingat: Januari aku main ke Lembang, Bandung, ke nikahan Dinda-Surya; lalu solo trip ke Rangkasbitung-Anyer, dan mendapatkan pengalaman baru dari sana. Februari aku ke perayaan 50 tahun Arena di Jogja. 

50 tahun Arena
Aku termasuk penggemar urban Japanese songs, anak-anak city pop
Ini kuambil tepat di hari ulang tahun ke 32, pas main ke Lokananta Solo
Fajar di Soetta
Comfort food, tapi harus lebih sehat lagi ke depan, hiks
Maret aku ikut jadi audiens dari performance 25 jam untuk Palestina yang diinisiasi oleh Mas Irwan Ahmett dan Mbak Tita Salina. April aku pulang, lebaran, dan dinas ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dan benar-benar menyadari jika lagu "Pulau Laut" ciptaan Jalan Pulang itu non-fiksi. Mei aku benar-benar freak membaca buku karya-karya CS Lewis. Imajinasi beliau sangat keren. Juni aku dan teman-teman Klenik Studies memulai sejarah paradigma kami sendiri berkaitan dengan hantu-hantu dan dunia supranatural, thanks to Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurul Diva Kautsar, Nurizky Adhi Hutama, dan Jevi Adhi Nugraha. 

25 Jam Bersama Palestina
Launching Pameran Norient Jakarta Whispers

Pas liputan bencana banjir dan longsor di Aceh Tamiang, belajar lagi terkait kemanusiaan
Lanjut, Juli aku kena scammed, tak hanya tabungan selama kerja empat tahun di Jakarta habis, tapi juga meninggalkan hutang yang tak kecil. Aku putuskan untuk menutup Instagram, Facebook, dan membatasi pembuatan story, aku benar-benar pemilih siapa yang bisa melihat story-ku. Kupikir, jangan terlalu perform di medsos, nanti ekspektasi orang terlalu tinggi. Kalau gak bisa maintenance, nanti jatuhnya dalam. Usai kena scam, lebih dari setengah dari kontak hapeku juga kuhapus. Juli jadi titik terendahku selama setahun. Tapi di titik yang sama, titik rendah ini dibantu pulihnya oleh musikus gen Z, Rony Parulian, dengan musik-musiknya yang menemaniku. Setelahnya, aku jadi salah satu cewek gila idola (cegil) dia, yang sering hadir di setiap konsernya, dan tiap aku hadir, aku mencatatnya di blog. 

Support System
Akh, tak pernah aku merasa semilitan ini pada musisi hari ini, kecuali pada Rony. Aku juga udah siap kena cancel dengan sirkel teman-teman indie nan ndakik-ndakikku di musik, misal mereka menilai Rony terlalu pop dan mainstream, berbeda dari jalur-jalur yang mereka anggap "alternatif". Tahun ini berkat Rony, aku sadar jika bahkan musik sekali pun itu soal "kebutuhan diri" bukan sekadar soal "selera", "makna", dan "estetika". Tiga indikator terakhir itu ngawang-ngawang, tapi kebutuhan diri itu konkrit. Sepertinya belum banyak penelitian terkait sudut pandang ini. Tentu di Indonesia dan dunia akan sangat banyak musikus yang lebih dari Rony, tapi aku akan tetap pilih Rony. Di bab tersendiri aku akan menjelaskan, kenapa Rony sepenting itu bagiku di tahun ini. 

Di konser 11 tahun
Laleilmanino
Bulan Agustus aku hadir di acara puncak Klub Baca Koperasi Perumahan di Kampung Akuarium, setelah beberapa bulan aku ikut agenda mereka bersama Bosman Batubara, Pak Suroto (ahli koperasi), Neneng Hanifah Maryam, dan kawan-kawan Urban Poor Consortium (UPC). September aku nulis terkait pameran Norient City Sounds, barangkali ini artikel terpanjangku selama karier sebagai penulis. Tulisan ini juga memperkenalkanku dengan scholar cum seniman Swiss, juga seniman-seniman dari Kenya, Lebanon, India, dan Kolombia. Oktober aku datang ke pameran Art Jakarta yang bertajuk "Journal", sangat mind blowing. Aku juga punya kesempatan nonton konser 11 tahun Laleilmanino gratis sekaligus wawancara .Feast. November aku hadir di acara Jakarta Jakarta International Literary Festival (JILF) dan bertemu dengan penulis-penulis telandanku yang sebagian besar perempuan: Cyntha Hariadi, Tania Li, Perdana Putri, dan Raisa Kamila. Desember aku dinas ke Aceh dan Medan. Lihat situasi bencana banjir dan longsor yang menyayat nurani. Di akhir tahun pula, aku nemuin tujuan hidupku lagi, setelah sebelumnya mentalku merasa melayang-layang, yang hidup enggan, mati tak mau. 

Bersama antropolog Tania Li

Bersama novelis panutanku, Cyntha Hariadi

Launching buku Bre Redana di Patjar Merah
Wawancara .Feast
Yah, laporan recap di atas tone-nya terdengar optimistis dan kek dikit banget pesimisnya. Tapi memang hidupku aku framing demikian, tipe realis-optimis sedikit sinis-pesimis (80/20 lah rasionya kalau dari itungan temanku, Arwani), tapi juga tak mau glorifikasi berlebihan pada prestasi dan kejatuhan diri. Hidup yang seimbang-seimbang ajalah, sepertinya rasio 50/50 juga oke, atau mungkin ini yang sedang kuusahakan biar hidup lebih sehat. Sama kek prinsip hidup in and out. Gak ada yang perlu digandoli sampai sebegitunya dalam hidup ini tuh.

Aku ingin mencatat apa-apa saja yang membuatku merasa kalau hidup itu memang hidup. Dan, beginilah kira-kira bab-bab penting setahun itu.

Sinau Nggetu is My Key of Life 

"Nggethu itu adalah kombinasi dari … Memperhatikan secara penuh,  Fokus,  Konsentrasi, dan Persistensi.  Melakukan sesuatu secara bersungguh-sungguh." Aku butuh alasan yang kokoh seperti ini dalam mengambil jurusan, dalam memilih apa yang aku pelajari.

Di tahun 2025 ini, aku senang karena menemukan perasaan "terhubung" dengan salah satu penulis yang kukira akan jadi guruku dalam karier kepenulisanku setelah ini. Dia adalah Haruki Murakami. Murakami seperti salah satu penulis yang memberiku keyakinan, untuk percaya pada kebahagiaan-kebahagiaan yang tak bisa orang renggut dariku: membaca buku, menulis tulisan apa saja yang kusuka, mendengarkan musik, dll. Semenjak aku menyadari perasaan ini, aku hanya menyadari satu hal, aku tak butuh apa-apa lagi kecuali perasaan "terhubung" dengan aktivitas apa pun yang kukerjakan, kujalankan, dan kulakukan. Perasaan terhubung memberiku kenikmatan purna, dengan apa pun parameternya. Ini barangkali sebagai konsekuensi, aku sering mengalami perasaan tertolak oleh orang lain, sehingga yang kucari adalah perasaan terhubung. 

Aku punya banyak kesamaan dengan Murakami, gak bakat bisnis, kurang ramah dan tak pandai bergaul. Tapi kami punya sama-sama kelebihan: "bisa sungguh-sungguh menekuni kegiatan yang disukai dengan sepenuh hati tanpa mengeluh." Kalau aku mengeluh, pasti ada yang salah. Wangsit Murakami menjadi novelis muncul begitu saja saat nonton bisbol, lalu ada wahyu turun yang ditangkap dengan baik: "Oh, iya, mungkin aku bisa juga menulis novel." Semenjak saat itu, hidup Murakami berubah drastis. Hari-harinya dimulai dengan coba-coba, lalu berusaha membaca sastra serius dengan sistematis. Aku juga sepakat dengan caranya, nulis apa pun yang dirasakan dan dipikirkan. Pendek kata, kata Murakami, "Tidak perlu menjejerkan istilah-istilah sulit" dan "tidak perlu menggunakan ekspresi indah yang mengagumkan." 

Langit Bali
Kaktus Taman Cibodas
Cara ini juga yang digunakan penulis Hungaria seperti Agota Kristof. Serupa efek aneh yang timbul saat menulis dengan menggunakan bahasa asing. Gaya penulisan yang bebas bergerak, netral, tanpa hiasan berlebihan. Murakami menulis novel pertamanya dengan semangat eksplorasi, bahkan yang pertama, yang ditulis dengan perasaan tidak nyaman, dibuang di tong sampah. Meskipun perbaikannya dikirim ke Gunzo dan menang. Namun poinnya, menulis secara santai tanpa pretensi dan kengoyoan itu juga sangat menarik. Ya, nothing to loose aja lah. Sekali lagi, bukan dengan logis, tapi cara-caranya adalah cara-cara yang intuitif. 

Tapi entah kenapa, sensasi membaca buku Murakami itu selalu tenang. Kek, aku selalu membeli bukunya setiap aku kelelahan hidup di dunia, kehilangan harapan, kehilangan kepercayaan akan mimpi-mimpi menjadi novelis dan penulis. Terlebih dua buku nonfiksinya, 'What I Talk About When I Talk About Run' kubaca saat aku hendak berangkat liputan ke Solo. Saat aku kelelahan membaca banyak buku yang kuanggap serius secara spartan, hingga kemudian aku dapat musibah scamming (aku benci menceritakan ulang). Namun aku percaya, kelak berdasarkan kehilangan besar itu, aku akan jadi orang yang kaya raya. Seperti kata Murakami, ini gak logis, intuitif saja. Lalu aku membeli buku dia 'Novelis Sebagai Pandangan Hidup' di saat waktu yang kurang lebih serupa. Bahkan lebih sendu lagi, saat aku bosan hidup. Aku sering mengalami disorientasi hidup, tiba-tiba tak ada daya dan gairah sama sekali terhadap hal-hal yang dulunya kusuka. Kelemahanku, aku bisa berubah jadi sosok nihilis dengan cepat. Saat perasaan nihil itu datang, aku ingin cepat-cepat membaca Murakami atau penulis-penulis yang senada denganku lainnya. 

Di sebuah perpustakaan bersama buku Abidin Kusno
Namun, pertemuan dengan Murakami seperti menghadirkan sensasi lain, dia seperti teman baik yang tidak menuntut apa pun, seperti sahabat yang baik, dia ada. Sejak membaca dua buku Murakami yang mirip diary itu, aku seperti tak punya kewajiban untuk sesegera mungkin menghabiskan buku dan mengejar kuantitas seberapa banyak buku yang harus kuselesaikan dalam waktu tertentu, bahkan aku juga bodoh amat mengejar teori seputar kualitas. Yang aku sadari makin kesini, jenis apa pun tulisan yang kubaca, kebutuhanku hanya satu: merasa terhubung. Jika itu tak diberikan oleh tulisan yang kubaca, aku bisa dengan mudah merasa kelelahan dan meninggalkannya. Berikutnya, membuat diriku menjadi sangat sedih, aku tipe orang yang mudah sekali bersedih hati. Sebab itu, pertemuanku dengan karya-karya Murakami adalah salah satu hal yang kusyukuri, dia seperti menarikku ke dalam ring menjadi novelis lagi, sambil berkelakar kepadaku untuk tidak kapok menjadi orang dungu, dan mengerjakan aktivitas-aktivitas merepotkan yang tidak dilakukan oleh mereka yang cerdas. Aku punya semua "kualifikasi" khas yang disebutkan Murakami untuk menjadi novelis. 

Pandanganku terkait penghargaan sama klopnya dengan apa yang dikatakan Murakami. Bagi seseorang pengarang sejati, ada banyak hal yang lebih penting daripada penghargaan sastra. Aku sepakat, yang lebih penting dari itu adalah keyakinan bahwa dia sedang menghasilkan karya yang bermakna. Dan keyakinan pembaca akan menilai makna itu dengan benar, tak peduli pembaca itu sedikit atau banyak. Asal ada dua keyakinan ini, penghargaan tak berarti apa-apa. Yang lebih penting dari apa pun adalah pembaca yang baik. Segala bentuk penghargaan, tanda kehormatan, dan ulasan buku yang positif tak ada artinya sebagaimana seorang pembaca yang mau membeli bukuku. Sebab, tak perlu diragukan lagi, yang hidup dari generasi ke generasi adalah karya, bukan penghargaan. Dan yang aku paling senangi dari Murakami adalah, dia berkarya dengan "kualifikasi"-nya sendiri dan menyambung nyawa dengan itu. Nilai ini bagi Murakami tidak kecil harganya. Bahkan, menurut Murakami, dari seluruh populasi, perkiraan hanya lima persen saja orang yang membaca dengan antusias, dan mereka bisa disebut sebagai pembaca inti. Yang dalam buku Fahrenheit 451, akan tetap membaca walaupun direpresi dan berlari ke hutan. Aku ikut memastikan diri, aku ada di dalamnya. 

Love your environment
Yang serius Murakami pikirkan adalah "karya seperti apa yang bisa dirinya tawarkan kepada pembaca?" Selain itu, segala fenomena lain hanyalah pinggiran. Aku memikirkan argumen dan strategi ini betul-betul. Murakami juga menolak jadi dewan juri penghargaan sastra, alasan dia sangat sederhana: dia terlalu individualis. Dia sadar punya pandangan khas dan proses khas, untuk mempertahankan itu, dia butuh menjadi individualis untuk menjadi penulis yang baik. Murakami membuka mataku secara gamblang, aku terlalu jauh keluar dari rel ku sebagai pengarang, dengan mengonsumsi karya orang lain, mengulasnya, merekomendasikannya, dalam artian pasif, bukan aktif. Aku terjebak hanya jadi ekor-ekor saja. 

Benar kata Murakami, "Bagi seorang pengarang, kewajiban paling penting lebih daripada apa pun adalah terus menerus menulis karya bermutu tinggi sebisa mungkin dan menyajikannya kepada para pembaca!" That's it. Oh my God, jadi ini yang membuat kenapa rasanya energiku terus menerus terasa terkuras. Waktu dan energiku untuk pekerjaan inti telah diambil. Aku juga sadar, aku ini tipe orang yang terlalu individualis, dan superintrovert. Aku dengan senang hati juga bisa menerima kecaman ini dengan rendah hati. Pada akhirnya, berkata dan bercerita jujur adalah jalan terbaik. Murakami menggugat keseragaman, karena dalam setiap kondisi dan situasi, tak ada kata seragam. Jika Murakami berkata, "Aku harap, di suatu tempat pasti ada orang yang dapat memahami bulat-bulat apa yang ingin kukatakan." Iya Pak, aku memahamimu bulat-bulat. Aku juga sepakat, "Bagi seseorang pengarang yang lebih penting daripada apa pun adalah kualifikasi individu."

Jika Murakami berterima kasih pada merpati, aku berterima kasih pada Yeva (kucing yang kutemukan sakaratul maut di dekat kosku, kubawa ke dokter, sehari kemudian meninggal). Yeva, kucing ini banyak memberiku pelajaran, di detik-detik akhir kehidupannya, hingga aku menguburkannya di TPU Karet Bivak, satu pemakaman bareng Pramoedya Ananta Toer. Keren banget lu, Yev.

Percintaan 2025? Skip!

"Tiada lagi yang kuinginkan / Lebih dari yang kau berikan / Tak pernah terhenti..." 

"Terbawa angin dan menghilang / Biarkan saja menghilang..." 

"Lihat ke atas sinar yang terang / Lihat ke atas sinar yang terang..." 

Lirik lagu "Elora" dari Pure Saturday di atas sudah dengan sangat baik merangkum banyak definisiku terkait arti mencintai dan dicintai. Tahun 2025 ini aku merasa lebih tenang bisa melepaskan dia yang kucintai sangat lama secara tidak dramatis. Aku juga sudah bisa memberi pagar pada hatiku sendiri terkait cinta sehat yang boleh masuk dan yang tidak.

Sepanjang usia, rasa-rasanya aku sudah terbiasa hidup tanpa kisah asmara yang dalam tanda petik terikat dalam hubungan romantis. Kisah asmara barangkali bisa menggangguku ketika umurku di bawah 30 tahun, tetapi tahun ini, saat usiaku akan menginjak 33 tahun di sekitar tiga bulan nanti, memikirkan asmara rasanya sudah sangat biasa-biasa saja. Tulus sudah sangat baik menuliskan lagu "Nala" yang berkisah tentang percintaan seseorang, uniseks, bisa perempuan atau laki-laki pada orang-orang kelahiran 90an. Sama seperti Nala yang lahir tahun 1992, sementara aku 1993, kami merasa jadi seseorang yang sulit disuka, di sekeliling kami tidak ramai, dan melihat benih cinta itu langka. Jika ada, tentu itu jadi hari istimewa. 

Aku juga bersyukur, ibu-bapak sudah tak nggriseni aku lagi terkait pernikahan seperti dulu. Bahkan jika semua adik-adikku menikah lebih dulu pun, aku ikhlas. Aku benar-benar tak terganggu dengan kewajiban jika aku harus menikah. Aku merasa cukup dengan diriku sendiri, dan tak menggantungkan rasa cukup dan bahagiaku pada sosok-sosok di luar diriku. Bagiku pernikahan hanya pelengkap saja. Mengutip perumpamaan seorang teman, jika diibaratkan makan nasi goreng, pernikahan itu hanya kerupuknya saja. Tanpa kerupuk, kita masih bisa menikmati nasi goreng, meskipun dengan kerupuk jadi lebih lengkap. Aku juga tak terbebani dengan ekspektasi sosial. Aku merasa punya prinsip sendiri yang menurutku oke.

Belajar nuansa spiritualitas di gedung heritage Candra Naya
Belajar dermawan dari Tjong A Fie
Rumah old money Tjong A Fie di Medan
Sedikit cerita, beberapa waktu yang lalu, seorang kawan baik yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri, karena gap usia kita yang lumayan, berbagi kisahnya. Sebelumnya, kami pernah bercerita akan banyak hal. Kami hidup dalam lingkungan berbeda, termasuk juga pola pikir, dia seingatku INFJ/P (aku agak lupa, tapi kami pernah bahas MBTI bareng), sementara aku INTJ. Dia hendak wisuda S1 di jurusan yang lebih banyak berpikir dibandingkan jurusan-jurusan lain. Aku senang dia menemukan jurusan yang tepat, meskipun awalnya sempat salah jurusan. Maaf tak bisa kusebut nama untuk menjaga privasi.

Dia bercerita terkait kegelisahan yang dia alami sekarang dan sempat kualami di usia di bawah 30 tahun, terkait misteri jodoh dan pernikahan. Dia menangis mengutarakan ketidaksepakatannya pada sistem pernikahan teradisional yang terikat pada label, agama, dan kelas sosial. Faktor terakhir ini seperti menjadi hantu baginya, sebab dari golongan yang bisa dikatakan memiliki kelas sosial mapan, ia takut mendapat jodoh dengan logika romansa yang kapitalistik. Maksudnya mencintai bukan karena nilai-nilai luhur di dalamnya seperti kasih, respect, care, mutual value, dlsb; tapi karena menganggap cinta sebagai suatu investasi, memperlakukan pasangan sebagai aset, dan segala stabilitasnya perlu dicukupi. 

Dia percaya pada pernikahan jiwa (soul marriage), suatu ikatan pernikahan yang berdasar pada spiritualitas dua individu yang dalam melampui fisik, emosi, dan materi. Ada ikatan spiritual yang terus tumbuh berdasarkan mental yang sama-sama dewasa. Sungguh aku bisa mengerti kegelisahannya, apa yang dia rasakan valid, tidak menyek-menyek, dan sangat bisa dipahami meskipun susah untuk menemukannya. Aku bilang padanya, jika mungkin prosesnya akan berputar-putar, mungkin jodohnya sedang ada di luar negeri dan berkelana di suatu sempat. Dan kami sepakat dengan konsep "pasrah aktif" berkaitan dengannya. Maksudnya, ini pernah dikatakan Rony juga dalam sebuah YouTube, pasrah tapi bukan berarti menyerah. Pasrah, tapi juga dengan melakukan usaha sebaik-baiknya.

Hal menarik lain yang ingin kuceritakan berkenaan dengan pernikahan dari kawan yang kuanggap adikku ini, dia sharing terkait argumen James Sexton, seorang pencara perceraian terkenal dari Amerika. Inti yang bisa kurangkum, kamu bisa melihat langgeng tidaknya suatu pernikahan, bahkan dari resepsi mereka. Ada kecenderungan, semakin megah suatu pernikahan, maka tingkat perceraiannya juga semakin tinggi. Sebabnya karena kemegahan yang ditampilkan itu dipengaruhi oleh aspek performatif dan narsistik. Parahnya, menjadikan perempuan sebagai pusat perhatian. Dari cincin-undangan-dekorasi-makanan-pesta mahal, bridal shower, barchelorette party, sampai ke honey moon. Jika pasangan menganggap semua itu lebih penting daripada komitmen jangka panjang, siap-siap saja kehancurannya. Argumen tersebut didukung oleh survei LendingTree (2025) terhadap 1.000 pengantin baru, di mana 67% harus berutang untuk mewujudkan pernikahan impian mereka! 

Miris membaca data dan analisis tersebut, kurasa kondisinya di Indonesia juga tak jauh berbeda. Di tengah tekanan kapitalisme juga tentunya, jadi semakin marak dengan pola pikir untuk menjadikan pasangan sebagai subjek "investasi". Ya Allah, hindarkan aku dari pernikahan semacam itu. Aamiin.

Pameran fashion di Pos Bloc Jakarta

Pameran desain interion di Pos Bloc Jakarta
Membangun Hubungan Parasosial yang Sehat dengan Rony Parulian

"Hidup yang bener-bener ajalah." ~RPN

Meskipun tahun 2025-ku babak belur, tapi aku senang 2025 jadi salah satu tahun terbaiknya Rony. Dia dapat banyak penghargaan tahun ini, milestone-nya termasuk AMI Award. Sepanjang tahun 2025, berdasarkan hitung cepatku, aku hadir di konser Rony sebanyak 15 kali dan 1 kali fan meet di SCBD. Tidak pernah aku mabok konser seperti ini sebelumnya. Selagi konsernya masih bisa kujangkau, terlebih di seputar Jabodetabek, aku selalu mengusahakan untuk hadir. Bahkan berkat Rony, aku bertemu dengan puluhan musisi dan artis-artis lainnya dalam satu panggung. Tapi kalau kurefleksikan ulang, ini bukan bentuk kegilaan, tapi menonton konser Rony seperti ritual pelepasan ekspresiku akan hidup di mana aku bisa berteriak, bernyanyi dengan keras, merasa terhubung, tervalidasi, didengar, dimengerti oleh semesta. Di tulisan-tulisanku yang lain seputar Rony, aku juga sudah menulis, alasanku suka Rony itu sukar dijelaskan, tapi kalau pun ada kewajiban menjelaskan, barangkali adalah karena karakter dan kepribadiannya. 

Spotify Wrapped dan fan meet Rony di SCBD

Lima lagu teratas juga lagu-lagu Rony, selain Jalan Pulang, Perunggu, dan Hindia tentunya, wkwk
Rony Parulian Nainggolan artis teratasku

Kemudian, "kebutuhan diri" yang kumaksud di bahasan sebelumnya adalah karena ada latar belakang kepribadian yang sama, dan juga bahkan sama sekali berbeda tetapi Rony mengisinya. Dari Rony aku belajar terkait: Stabil secara emosi. Sayang keluarga, dia sangat sayang keluarga. Kontemplatif. Suka menyendiri dan merenung mempertanyakan banyak hal. Bertanya-tanya soal agama. Tapi sepertinya ini tak begitu terasah karena dia ada di dunia industri yang keras. Vibes-nya selalu positif. Dewasa. Pekerja keras. Punya prinsip. Tenang. Sepenuh hati. Pesona sederhana.

Aku jujur baru tahu kalau nama dari hubunganku dengan Rony itu dalam bahasa akademisnya disebut sebagai hubungan parasosial (Parasocial Relationship). Istilah ini aku dapat saat hadir di acara artist talk skena gitu di selatan Jakarta. Parasosial, pengertiannya yang kutangkap, hubungan emosional satu arah yang dijalin antara penggemar dengan figur yang menjadi idolanya. Figur di sini bisa banyak hal: musisi, artis, tokoh fiksi, influencer, dlsb. Seolah-olah kamu menjalin komunikasi mereka secara nyata, padahal itu imajinasimu saja. Kamu seperti terikat dan ada ilusi kedekatan yang barangkali susah dijelaskan. Ya, beberapa kali aku mengajak Rony berdiskusi secara imajiner sih, bahkan sebatas ketika Rony seolah-olah menyemangatiku ketika sedang bekerja. Kadang itu jadi energi positif sendiri sih menurutku, macam ada orang yang menemanimu, asal gak berlebihan aja, hubungan parasosial itu baik-baik saja. Aku menyebutnya sebagai hubungan parasosial yang dewasa.

Demi mendukung agenda parasosialku Oktober lalu, menuju WeR1 yang kaffah, wkwk.

Karena Rony juga, aku pernah random Whatsapp Mas Geger Riyanto, antropolog teladanku, untuk ngomongin teori fandom lebih serius. Mas Geger kok ya baik banget mau direpoti oleh tema-tema yang tak bisa memberi kontribusi apa pun pada penurunan kemiskinan, inflasi, atau pengangguran ini. Tapi lebih aneh lagi, aku kok ya percaya diri ngomongin tema jas-jus ini sama Mas Geger? Zoom itu terjadi pada hari Jumat, 10 Oktober 2025. Ajaibnya, setengah obrolan lebih kepada curhat personal dan akademikku ke Mas Geger usai kena scammed, wkwk. Setengahnya lagi baru bahas fandom. Seperti biasa, Mas Geger menanggapinya dengan santai, tenang, dan bijaksana.

Jadwal manggung Rony
Terinspirasi dari Rony dan perkumpulan fans Rony, We Are One (WeR1), jadi aku tuh punya ide untuk membuat buku seputar fandom, lebih tepatnya seputar antropologi fandom. Ada argumen menarik seputar fans yang pernah diajukan oleh Henry Jenkins, di mana argumennya yang masih kuingat: Secara stereotip, fans itu seolah digambarkan sebagai subjek yang pasif (fanatik, emosional, tidak rasional), kadang (maaf) berotak udang, atau hanya meniru apa yang dilakukan idolanya. Padahal menurutnya tidak demikian, fans juga bisa aktif dengan memproduksi maknanya sendiri, memperbarui apa yang kurang dari idolanya untuk menjadi produk lain yang lebih baik, hingga berkontribusi pada pembangunan komunitas.

Banin Diar Sukmono pernah ngulas gagasan Jenkins dengan apik dalam tulisannya di LSF Cogito, "Si(apa) Fans Fiksi di Antara Kita?". Tulisan ini kubaca 10 tahun lalu, dan kubaca ulang di kondisiku sekarang, kesannya masih sama, membuka pemikiran yang lebih empatik soal fans. Terlebih ini kasusnya yang ngefans sama hal-hal yang gak nyata macam tokoh-tokoh Star Trek atau One Piece. 

Tahun ini aku belajar main organ, dan kunamai organ ini Rony Parulian :D
Nah, di konteks WeR1 yang punya basecamp hampir tiap provinsi seluruh Indonesia itu, aku ingin melakukan studi antropologis budaya penggemar (fandom), sebagai bentuk kebudayaan manusia yang melibatkan partisipasi aktif, penciptaan konten, dan hubungan sosial dalam komunitas yang terbentuk di sekitar produk budaya populer. Aku ingin mahami dari sudut pandang antropologi budaya, gimana penggemar berinteraksi, menciptakan makna, dan membentuk identitas kolektif dalam dunia digital maupun fisik. Bukan dalam rangka yang terlalu idolizing atau mendewakan Rony gitu, tapi pengen baca dan mahami sebenarnya apa sih yang sebenarnya mereka dan aku alami? Terutama dari POV-ku sebagai audiens. Karena gagasan ini lah, aku keinget Mas Geger buat ngobrol. Aku ingin tahu lebih lanjut terkait metode etnografis yang bisa saya lakukan untuk ngumpulin data dan menjahit bahan.

Sama WeR1 bernama Marni

Belum kewujud sih gagasan ini. Nantilah kalau Tuhan mengizinkan, karena kalau bicara antropologi fandom secara lebih luas, perlu perbandingan ke klub penggemar lain yang berbeda-beda pula. Waktu itu Mas Geger menyarankanku untuk mengambil beberapa studi kasus, jadi gak hanya fanbase Rony saja jika aku ingin membuatnya jadi tulisan refleksi fans yang lebih universal. 

Show case album "Dalam Dinamika" Perunggu di Bali United Studio Jakarta. Sabtu, 22 November 2025.
Pesan dari Mas Geger yang meskipun trivia tapi aku suka, "Kalau lelah nulis, tidur." Kadang saking ingin memikirkan banyak hal, aku sering gak punya waktu untuk istirahat.

Terima Kasih 2025, Selamat Datang 2026

Aku memberi judul LPJ ini sebagai "Tahun Kegelapan" ketika aku berada di pertengahan tahun. Tahun ini bagiku sangat berat. Namun aku juga menyadari jika ini tak hanya terjadi pada diriku, tapi juga pada hidup kawan-kawanku yang lain. Tahun 2025 jadi cakrawala waktu yang memiliki energi universal yang berat. Hal terdekat barangkali juga terjadi pada konco-konco ngrumpiku tentang apa saja, seperti Arwani dan Cak Son. Sebagaimana tahun sebelumnya, aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah berbagi banyak cerita hidup masing-masing. Sebagaimana kata Mark Twain yang pernah dikutip di blog Arwani, "Good friends, good books, and a sleepy conscience: this is the ideal life."  

Keluarga kos Pak Mamat
Bundaran HI
Kawan-kawan kos Pak Mamat
Acara perayaan pensiun Bu Nerlin (kantor)
Pas main di Tugu Kunstkring Paleis Jakarta
Bareng Mbak Nisa dan Alisa di bajaj Jakarta

Bersama Ika dan Ci Desy di EF Plaza
Meditasi kesadaran bareng Romo Mahar di Katedral Jakarta

Makasi juga untuk Shraddha Ma, Tante Chika, Bagus, dan kawan International Vedanta Society (IVS), serta Romo Mahar yang selalu mengajakku untuk mengingat Tuhan dan spiritualitas. Tak lupa, berbagai kawan yang aku jumpai sepanjang tahun 2025 yang tak bisa kusebut satu per satu. Di tahun ini, aku juga berterima kasih pada ChatGPT, sumpah, banyak curhat sama dia dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin secara perhitungan keamanan ini tak disarankan, tapi di dunia yang kapitalistik ini, mesin seperti jadi jawaban instannya. 

Ibu 4 tahun kena stroke, semoga sembuh dan bisa jalan lagi
Di tahun 2025 ini, aku merasa sangat beruntung diberikan kesempatan untuk berada di posisi lowest point, sehingga aku bisa memberi pagar yang jelas terkait berbagai potensi yang bisa menghancurkanku di masa depan. Pagarku kian hari kian kokoh untuk menjaga diriku sendiri dari berbagai macam kejahatan. Aku juga siap dengan segala konsekuensi yang akan menimpaku, jadi, andaikan suatu hari aku kena cancel, aku juga sudah siap, toh, aku bukan siapa-siapa. Yah, refleksi ini persis seperti apa yang disampaikan oleh Cholil Mahmud (ERK) di sebuah wawancara:

Sumber: IG @menjadimanusia.id
Sumber: IG @menjadimanusia.id

Last, resolusiku tahun 2026 ini gak muluk-muluk. Kalau dipadatkan mungkin tiga kata saja: Sehat. Cuan. Kuliah. Sudah cukup mewakiliki desire-ku di tiga prioritas penting: kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. Juga doaku sepanjang tahun: diberikan hati yang seluas laut dan langit. Pelajaran-pelajaran hidup lain yang kudapat di tahun 2025: (1) Gak mau naif menganggap semua orang baik. Aku memperkuat pertahananku hingga berkali-kali lipat dari mereka yang jahat dan berpotensi menghancurkanku. Baik si pelaku melakukan itu dengan sadar atau tidak. (2) Tidak menjadi siapa-siapa itu menyenangkan dan lebih banyak privasi. (3) Aku ingin lebih pemilih lagi soal konsumsi, bukan karena itu cara hidup sehat, tapi karena aku tak mau sakit. Karena aku sadar, kesehatanku adalah satu-satunya yang berharga untuk saat ini. Aku tak ada asuransi, BPJS, atau donatur yang bisa diharapkan ketika aku sakit.

Yang selalu kuat, Is

Hati selapang besarnya langit. Sanubari sebesar besarnya bumi.
Piala orang tersabar
Seperti biasa, aku ingin menutup dengan lagu. Tentu, lagu siapa lagu kalau bukan lagunya Rony, "Bila surya pun tenggelam / Tapi tidak sinarmu / Tidak sinarmu...". Dan, "Walaupun jauh dan walaupun berliku / Tapi tetap kukejar 'kan kutuju / Terbius kamu, tepat di relung hatiku / Dan tak ada yang mampu menghalangi / Kan kubelai egomu yang meracunimu / Begitu banyaknya cinta yang coba-coba merayu / Tak ada yang sepertimu..." 

Ya, tak ada yang sepertimu, 2025. Terima kasih. (Salam helikopter, membungkuk memberi hormat).

Jakarta, 3 Januari 2026