Sabtu, 28 Maret 2026

Catatan Buku "The Three Strangers and Other Stories" karya Thomas Hardy

PROLOG:

Akhir-akhir ini aku mengamati pola tidurku sendiri. Rata-rata dalam sehari aku tidur enam jam. Itu waktu minimal, agar aku bisa menjalani hariku dengan normal. Aku ingin jadi sebetul-betulnya aku, seperti Ernest Hemingway yang ingin membuat tokoh-tokohnya sebenar-benarnya lelaki tua, sebenar-benarnya anak lelaki, sebenar-benarnya ikan, dan sebenar-benarnya laut. Aku ingin menjadi sebenar-benarnya Isma, tak perlu menjadi orisinal, aku lebih suka menjadi autentik. Karena orisinal berbasis kebaruan, sementara autentik berbasis kejujuran. 

Aku membaca buku tipis Thomas Hardy ini di sepertiga malam, sekitar pukul 3 dini hari, sebab aku tidur cepat sekitar jam 9. Sebelum tidur, aku cukup kelelahan membaca buku 1984 karya George Orwell. Bagiku, buku itu masih dalam kategori berat. Temanya menyesakkan dada. Saat bangun dan setelah salat tahajud, aku melihat koleksi perpustakaan pribadiku di kos. Aku menemukan buku Thomas Hardy yang diceritakan ulang oleh Margaret Tarner. Sebenarnya, buku ini adalah buku latihan reading bahasa Inggris untuk kelas intermediate.  

Sebab di EF aku sudah di level C1/C2, mudah saja aku melahapnya sekali duduk, mungkin kira-kira aku selesaikan selama dua jam. Agak lambat untuk ketebalan 63 halaman, tapi aku benar-benar menikmatinya. Berikut kisah yang kutangkap...

ALUR:

Dalam buku ini, aku seperti diajak Thomas Hardy untuk flash back masa-masa (mungkin) sekitar abad pertengahan, meskipun dia hidup di antara tahun 1840-1928. Mengapa aku katakan begitu? Karena masalah sosial yang diangkat soal hukuman gantung di depan umum, selain itu juga masih marak tradisi sihir yang melibatkan pengucilan beberapa perempuan. Aku tentu teringat dengan buku Silvia Federici berjudul Perempuan dan Perburuan Penyihir. Bukuk tipis ini terdiri dari tiga (eh empat) cerita pendek, semua latar galibnya terjadi di daerah bernama Edgon Heath di Wessex, Inggris. Begini cerita ketiganya:

1, The Three Strangers: Sebagaimana di Indonesia, di Inggris perayaan juga dilakukan ketika masyarakat tengah melakukan selebrasi terhadap kelahiran, atau upacara kematian. Di sebuah desa yang dingin di Edgon Heath, ada perayaan anak kedua seorang Former Lodge dan istrinya. Mereka mengundang para tetangga dan menyediakan berbagai makanan dan minuman. Pesta itu berlangsung pada malam hari.

Mendekati malam, datang tamu aneh pertama. Orangnya kurus dan bisa bernyanyi dengan merdu. Awalnya dia mengendap-endap dulu, lalu menyapa pemilik rumah, duduk dekat perapian dan bersosialisasi dengan cukup tertutup. Tak lama kemudian, datang orang aneh kedua. Si istri pemilih rumah curiga terhadapnya, karena tubuhnya yang besar dan dia minum terlalu banyak. Bahkan porsinya bisa diminum untuk sepuluh orang sendiri. 

Setelah ngobrol, diketahuilah dia seorang hanging man. Kalau zaman dulu, dia adalah algojo yang membantu terpidana menjalani hukuman gantung yang dilakukan di depan umum. Dia kemalaman datang ke Wessex, mengetahui pesta itu dan ingin bergabung. Pagi-pagi sekali dia harus ke Casterbridge untuk melakukan pekerjaannya. Anehnya, antara orang asing pertama dan kedua saling bernyanyi, nyanyian itu seperti nyambung meskipun keduanya agak mabuk.

Tiba-tiba, datang orang asing ketiga. Dia ternyata dicurigai sebagai tahanan yang kabur. Alasannya, ketika dia datang, terdengar suara ledakan dari penjara sebagai tanda bahwa ada tahanan yang keluar. Dia juga dicurigai mencuri hewan gembala. Pada masa itu, mencuri saja bisa dihukum gantung! Akhirnya, dia lari menuju sebuah tempat yang sangat tidak nyaman secara geografis. Namun, pria ini tak ingin melarikan diri dan ditangkap oleh semacam polisi dan hakim yang tidak resmi kala itu.

Orang asing ketiga mengaku bahwa dirinya sedang mencari saudara kandungnya, yang tak lain adalah orang asing pertama. Ternyata orang asing pertama itulah sang buronan, tawanan penjara yang melarikan diri. Sementara itu, orang asing kedua ditugaskan untuk mengeksekusi hukuman gantung orang asing pertama. Sungguh absurd bukan? Akhir cerita ini mengambang, keduanya tidak ditemukan di mana perginya. 

2. The Withered Arm: Ini cerita unik kedua yang kubaca dari Thomas Hardy, yang menjadi cermin masyarakat pada masanya yang boleh dikatakan Eropa masa "mistik". Terkisah, ada seorang Tuan Tanah (Farmer Lodge) yang punya tanah garapan yang luas tentunya. Dia punya wanita simpanan, buruh perempuan yang bekerja sebagai pemerah susu bernama Rhoda Brook. Dari hubungan itu, keduanya dikaruniai anak laki-laki berumur 11 tahun.

Saat bekerja, Rhoda mendengar gosip bahwa Tuan Tanah itu akan membawa istri barunya yang cantik dan muda bernama Gertrude Lodge. Lalu, anak laki-lakinya disuruh untuk memata-mata si perempuan muda itu di tengah jalan secara terang-terangan. Namun, dengan penampilan necis yang menampakkan bahwa kelasnya setara, padahal tidak. Ibunya seperti dari kelas budak dengan mata hitam dan kulit berwarna, sementara Gertrude berkulit putih dan bermata biru. 

Rhoda pun sakit hati karena hubungan itu. Suatu hari Rhoda bermimpi mengerikan, dia berada satu ranjang dengan Gertrude, lalu Rhoda mencengkeram tangan kirinya, hingga Gertrude jatuh ke lantai. Kejadian itu terjadi pukul 2 malam, sang anak terbangun karena mendapati ibunya jatuh. 

Di lain kesempatan, Gertrude datang ke gubuk Rhoda untuk memberikan sepatu booth pada anak lelakinya. Rhoda merasa malu karena ternyata perempuan itu baik. Suatu hari, perempuan itu datang lagi untuk berbicara hal lebih serius. Gertrude menderita penyakit aneh ada tanda hitam di tangan kirinya, dan penyakit itu terjadi persis seperti di mimpi. Luka itu menimbulkan sakit, suaminya menjadi berkurang kasih sayangnya secara banyak karena luka itu. Rhoda merasa bersalah, karena dialah penyebabnya, dia meyakini jika dirinya punya kekuatan sihir.

Suatu hari, ada yang merekomendasikan Gertrude untuk mendatangi semacam orang sakti atau dukun yang bernama Conjour Trendle. Para pekerja mengatakan, Rhoda tahu di mana kediaman dukun itu. Awalnya, Rhoda ragu membawanya, tapi karena kasihan dibawalah dia kesana. Dalam rumah dukun, dia menyiapkan segelas air dan dipecahkan telur yang putihnya masuk ke gelas. Si dukun meminta Gertrude untuk melihat wajah pelakunya. Sekilas tampahlah wajah Rhoda. Namun, Gertrude masih sanksi Rhoda yang melakukannya. Ketika mereka pulang bersama, mereka hanya saling diang.

Bertahun-tahun kemudian penyakit itu semakin membuat Gertrude sedih. Dia menghabiskan hartanya untuk berobat, tapi tak ada dokter yang mampu menanganinya. Rhoda pun juga sudah pindah entah kemana. Dia lalu mendatangi dukun itu lagi meminta obat. Obatnya cukup sulit, Gertrude harus menyentuhkan tangannya yang sakit ke leher orang yang mati habis digantung. Meskipun ngeri, Gertrude pun menerimanya. Dia pergi ke kota tanpa seizin suaminya. Di saat yang sama, suaminya juga ke kota untuk kepentingan "bisnis".

Dia lalu menemui the hanging man. Dia mendiskusikan masalahnya ke sang algojo agar memberi kesempatan padanya untuk menyentuhkan lukanya ke leher korban gantung. Korban gantung ini pemuda yang sangat masih muda, mungkin baru belasan tahun usianya. Dia kena semacam kasus salah tangkap, karena berada di sebuah tempat yang menimbulkan kebakaran, padahal di sana dia hanya melihatnya saja. Sementara itu, pihak kerajaan tidak memberi keringanan hukuman atau menganulir hukum gantung itu.

Antara jam 12-1 siang, Gertrude diminta untuk mendatangi peti korban hukum gantung. Agar dia segera melaksanakan maksudnya. Namun, sialnya di sini, dan ini bagiku plot twist yang sangat mengagetkan: saat Gertrude ingin meletakkan tangannya di leher si pemuda, di belakangnya dia melihat Rhoda, makin kaget lagi, dia juga melihat suaminya berdiri di samping Rhoda. Ternyata, anak itu adalah anak hasil hubungan Rhoda dan Tuan Tanah! Rhoda selayaknya ibu-ibu langsung histeris dan marah-marah.

Tiga hari kemudian, Gertrude meninggal, disusul dua tahun kemudian suaminya meninggal. Terakhir, disusul dengan kematian Rhoda, sambil terus menyembunyikan kejadian mengenaskan itu.

3. Tony Kytes, The Arch-Deceiver: Ini kisah lelaki belang bernama Tony yang suka berbohong. Dia mbribik tiga perempuan cantik sekaligus bernama Milly Richards, Unity Sallet, dan Hannah Jolliver. Paling konyol, semua dijanjikan menikah sama Tony, sampai-sampai Unity cosplay jadi barang yang disembunyikan ke bak waggon atau kendaraan roda empat kala itu yang ditarik binatang. Namun akhirnya dia manut juga sama bapaknya untuk menikahi Milly.

4. The Special Orders Room: Kisah ini tidak selesai, karena halamannya tidak utuh. Intinya, ada seorang perempuan yang masuk ke dalam sebuah kamar. Di kamar itu, dia mendapati barang-barang aneh, seperti uang banyak dari berbagai macam negara, boneka yang tangannya patah, diamond, dll. Barang-barang itu aneh, ternyata, barang-barang itu jadi penanda atau simbol untuk menyantetlah kalau dibahasa Indonesiakan. Ternyata, kawan si perempuan ini seorang kriminal, barang-barang di kamar itu diibaratkan nasib kliennya.

ANALISIS:

Di cerpen pertama, pikiranku terasa sangat mindblowing, kok bisa ya nulis cerita sesederhana, seunik, tapi juga semisterius ini? Kisah kedua mengingatkanku dengan karakterku sendiri di novel Kaki Lima, aku juga memakai nama Rhoda, haha. Di novel ketiga dan keempat tak banyak kesan, karena ceritanya terpotong dan tidak selesai. Berkat buku Thomas Hardy ini, horizon litererku jadi nambah. Ada beberapa pemikiranku usai membacanya:

1. Aku jadi lebih ngeh gunanya grammar khususnya yang past perfect tense. Di sini penggunaannya jelas banget, karena aku sering bingung.

2. Aku jadi terinspirasi untuk membuat cerita yang terinspirasi dari masaku sendiri, seperti Thomas Hardy terinspirasi dari cerita-cerita masyarakat pada masanya.

3. Aku ingin eksperimen membuat alut dan plot twist yang barangkali Hardyan banget, haha.

Bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan kisah ini. Terima kasih Ya Allah. 

Judul: The Three Strangers and Other Stories | Penulis: Thomas Hardy | Retold: Margaret Tarner | Ilustrator: Anthony Colbert | Penerbit: Dian Rakyat Jakarta | Cetakan: Kedua, 2011 | Jumlah halaman: 63

Tidak ada komentar:

Posting Komentar