Ketika aku menemukan judul buku ini di Shoppee, reaksi pertamaku satu, "Eureka!" Ini jenis buku yang aku cari-cari untuk memperkuat fondasi teoritisku di bidang yang kugeluti: studi marjinal. Ada beberapa alasan mengapa buku ini revelan: (1) sejak dulu aku menggiati isu pekerja sektor informal, (2) pekerja sektor informal untuk perempuan masih jarang dibahas, (3) aku punya rencana riset yang menyangkut pekerja sektor informal perempuan.
Menariknya lagi, buku ini tidak ditulis oleh para akademisi handal lulusan luar negeri atau akademia lulusan universitas-universitas prominen, melainkan anak kelas I SMA! Bayangkan! Dan tambah lagi, ini ditulis oleh SMA Santa Ursula Jakarta yang notabene sekolah Katolik khusus perempuan yang cukup elite di kawasan Jakarta Pusat. Mereka dari golongan kelas menengah ke atas yang diajak untuk menyelami lika-liku kehidupan hutan belantara sektor informal yang menurutku cukup beringas ini. Yang secara kelas sosial hingga "ras" dan "agama" berbeda dari mereka yang ditelitinya.
Buku ini dikerjakan secara berkelompok, dengan banyak format (dari laporan jurnalistik, puisi, cerpen, sampai drama), serta yang paling menggugahku adalah di bagian "menurut kami". Bagian terakhir ini memperlihatkan sisi jujur dan personal para anak SMA yang ternyata sudah bisa berpikir secara dewasa. Mereka cukup kritis juga membaca kondisi sosial di sekitar.
Banyak pekerjaan yang dibahas, jika kubagi ke dalam berbagai kluster akan menjadi:
Pertama, "pedagang pakaian, tas dan perhiasan". Di bagian ini dijelaskan seperti ibu-ibu dan bapak-bapak yang berjualan loak. Ada stereotip jika mereka adalah tukang tadah. Jika makanan bisa ada label halalnya, lalu bagaimana dengan pakaian? Ada juga mereka yang kena gerebek polisi, lalu menangis karena tak ada biaya tebusan. Termasuk kisah penjual yang punya omset per hati Rp500 ribu pada zaman itu. Termasuk protes para anak SMA dan pelaku sektor informalnya sendiri jika kecakapan kerja itu tidak bergantung jenis kelamin. Para siswa berkelana dari Pasar Baru, Jatinegara, Kawasan Blok M, Sarinah, dlsb.
Kedua, "pekerja malam (waitress, bargirl, pemijat, pelacur)". Kisah di sini yang menurutku paling beragam, dan bisa dikatakan suram karena stereotipnya kuat sekali. Waitress dan bar girl yang bekerja malam ini ternyata ada training-nya, dan ketika diidentikkan dengan pelacur, ini kesalahan besar. Termasuk juga pekerjaan sebagai pemijat, yang rata-rata dikerjakan oleh (maaf) mereka yang tunanetra. Padahal, pekerjaan ini sangat membantu juga bagi kaum difabel.
Terkait kisah pelacur yang mangkal di sekitar Monas (aku teriingat dengan novel Pramoedya terkait kisah dari Jakarta), ini aku ketawa-tawa, terlebih dengan kutipan spiritual yang intinya, "Tentu aku masih ingat Allah, kalau kesandung setidaknya mengucap, Ya Allah-Ya Allah." Termasuk juga kisah anak perempuan rawa yang dipaksa menikah dengan kakek-kakek. Dia menolak terus kabur ke Jakarta. Dia menemukan orang yang kelihatannya baik, tapi juga malah menyetubuhinya, hingga akhirnya anak rawa yang bisa renang berkilometer di laut ini menyerah dengan tuntutan perut.
Ketiga, "pedagang makanan dan kudapan". Nah, ini banyak pekerja yang dipotret, dari tukang bakso, penjual rujak, hingga pedagang asongan. Yang lucu dan absurd kisah pedagang asongan bernama Ayu yang disukai anak konglomerat bernama Angga. Dengan bantuan adik Angga bernama Inge, didekatilah si Ayu sampai ke rumah bedengnya. Tapi ortu Angga tidak setuju, pas diajak main ke rumah gedong, diusir secara gak langsung terus mati tertabrak. Ini ceritanya menggelikan, khas khayalan anak SMA memang, karena banyak part yang sepertinya susah dicerna secara realistis.
Keempat, "penjaga WC". Yang paling kuingat dari bab ini adalah kutipan dari seorang nenek yang menjaga WC, dia merantau dari desa ke Jakarta. Dia ikut orang yang disegani di Jakarta, disuruh sama orang ini untuk jaga WC. Kata Mbahnya, "Menderita dulu, nantinya nggak tahu!"
Kelima, "pembantu rumah tangga". Rata-rata PRT yang ada di Jakarta berasal dari kampung. Namun, nyaris semua cerita PRT yang ada di buku ini memiliki nasib baik. Seperti mendapat majikan yang menghormati mereka, dikasih gaji layak, hingga ada waktu berlibur khusus. Mereka juga memaafkan misal ada majikan cerewet karena dianggap itu memang sudah menjadi karakternya. Yang kasihan mungkin kisah TKW, terkhusus mereka yang disalurkan ke Arab Saudi. Bab pembantu ini mengingatkanku dengan kepindahan pertama ke Jakarta pertama kali. Awalnya, aku disambut dengan langit biru. Kemudian aku tinggal sekitar seminggu di rumah yang cukup berpunya di daerah Cipete. Lalu, aku bertemu pembantu perempuan yang memperlakukanku dengan tidak baik dan terkesan seenaknya. Dia baik di depan majikan, tapi tidak di depanku. Mungkin suatu hari aku akan membuat tulisan tentang ini.
Keenam, "pemulung". Dari buku ini aku lumayan kaget jika pemulung pun ada serikat atau laskar yang menaungi mereka. Laskar ini membagi para pemulung ke wilayah-wilayah tertentu. Nah, ada laskar yang menyediakan alat produksi hingga jaminan kesehatan, tapi ada laskar yang tidak sama sekali. Malah disuruh membeli alat produksi dan mengembalikannya lebih mahal, dan boro-boro ada jaminan pekerjaan.
Ketujuh, "pengamen". Selain pemulung, pengamen ternyata di Jakarta juga punya serikatnya sendiri yang membagi wilayah-wilayah kerja. Latar mereka juga cukup beragam, dari perantauan, anak kuliahan, sampai mereka yang memang terjebak dilema antara passion di musik dengan tuntutan hidup (materi). Seperti kisah Kokom yang dibuat dramanya oleh anak-anak SMA ini. Diubah namanya jadi Konny G apa ya, plesetan dari Kenny G. Dia anak perempuan dari Sumatera Barat, anak kiai yang berontak karena ortu mereka menganggap musik haram. Si Kokom diminta sekolah perawatan saja. Dia menuruti keinginan orangtuanya, tapi dia juga tak melepaskan passion-nya untuk jadi penyanyi dengan menjadi pengamen. Hal menarik yang bisa kupetik dari kisah Kokom adalah prinsip hidup dia yang tak mau merepotkan orang lain dan mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya dengan bersungguh-sungguh.
Tujuh golongan pekerjaan ini telah mengajarkanku banyak hal terkait hidup dan kehidupan. Aku melihat kehidupan sektor informal terutama dengan kacamata yang tidak hitam putih. Setiap bidang di SI selalu ada dinamika, khususnya, baik itu senang, sedih, kecewa, harapan, mimpi. Setelah membaca ini, aku juga berpikir bahwa memiliki kemampuan bermimpi itu juga adalah sebuah privilege.
Ada kesamaan dari para pekerja sektor informal ini, sebagian memang tidak memiliki cita-cita tinggi. Hidup bagi mereka ya subsisten saja, saat ditanya apa rencana di masa depan? Ternyata kemampuan membuat rencana itu juga sebuah "privilege", karena mereka hanya menjawab, " Yah, namanya Jakarta, pasti hanya begini-begini saja, dik." Atau, "Belum direncanakan dik, asal sudah cukup untuk hidup sehari-hari saja kami sudah senang."
Judul: "Potret-Potret Tak Berbingkai: Studi Kasus tentang Perempuan Pekerja Sektor Informal di Jakarta" | Penulis: Siswa-Siswa Kelas I SMA Santa Ursula Jakarta Tahun Ajaran 1991-1992 | Penyunting: Tian Bahtiar | Penerbit: Penebar Swadaya | Tahun: 1992 | Jumlah Halaman: x + 176
KUTIPAN:
Ia tidak percaya dengan kebiasaan sebagian pedagang yang menganggap dengan menepuk-nepuk uang perolehan medali pertama, maka dagangan mereka akan lebih laris. (16)
Ia mengaku tidak berani mengeluh. (18)
Iya, aku juga ingin cepat! Tapi kenapa badanku seolah menolak untuk bekerja cepat?! Menolak untuk berlari dari satu pelarian ke pelarian yang lain? Suara polisi-polisi itu semakin dekat... Duh.. Apa kehidupan selalu memusuhiku atau aku yang tak pernah karib dengan kehidupan?? (22)
Hidup adalah kata-kata bagi mereka, dan,
Hidup adalah deraan kata-kata bagiku. (22)
Kami datang untuk belajar
Bukan mengajari bagaimana hidup itu seharusnya (27)
Perempuan jaman sekarang harus mempunyai keahlian agar tidak diremehkan kaum pria. (34)
Mereka cuma tau dari cerita aja terus tinggal buat laporan, kumpulin, diponten, selesai... Tapi kalau kita? Kagak tau kapan selesainya nih tugas. (52)
"Kalau bekerja memang mesti betah." (142)
Bekerja sebagai pengamen bukanlah sesuatu yang harus dinilai baik atau buruk. Semua mereka lakukan agar dapat tetap hidup dan membantu orang tuanya mencari uang. Pendapat yang positif itu ia peroleh dari rekan-rekan dan gurunya yang bertemu dengannya ketika ia tengah mengamen di bus. (172)
"Asalkan mereka tidak mengejek saya karena apa yang saya lakukan ini merupakan hak pribadi saya sebagai manusia." (174)
Bukan perasaan sudah tumpul namun kebutuhan tidak mempersilahkan perasaan untuk berbicara. (176)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar