Rabu, 11 Maret 2026

Catatan Buku "Seakan Bisa Dipisahkan" karya Ruhaeni Intan

Ini buku kedua Ruhaeni Intan yang kubaca dalam waktu sekali duduk, sekitar dua jam selesai. Aku membelinya pas bulan Ramadan, saat jalan-jalan di Grand Indonesia. Aku mampir ke Gramedia dan menemukan buku ini nyelip di antara novel-novel populer yang sampulnya cantik-cantik. Novela ini tidak kelihatan karena tinggal satu, dan sampulnya tak terlihat dari jauh. Namun, karena aku tipe pembaca yang suka eksplor tata rak, refleks aja kuambil. 

Sebagai kaum yang mendang-mending, apalagi mau lebaran 2026; aku sempat cek harga buku ini di Shopee, harganya beda jauh sama di Gramedia GI. Aku akhirnya terlibat dilema yang bagiku "tidak terlalu penting" (andai aku banyak uang) untuk membeli di GI atau Shopee saja? Sampai-sampai, aku diskusi sama ChatGPT untuk pengambilan keputusan. Menyusahkan memang. Argumen ChatGPT, kalau aku mau ngejar momen, beli dari GI, karena pengalaman ini gak bisa terulang. Membeli secara online dan offline tentu pengalamannya akan sangat berbeda. Belum lagi aku harus menunggu beberapa hari dan semangat belajar itu barangkali sudah hilang. "Anggap aja selisih harga 35 persen itu untuk biaya kursus menulis," katanya mengompori. Baiklah, terdengar masuk akal, akhirnya aku membelinya di GI.

Setelah membacanya, aku suka bagaimana Intan mengangkat tema sehari-hari dan domestik menjadi hal yang menarik untuk ditulis. Premis buku ini sederhana saja: Seorang anak pertama perempuan yang memiliki hubungan tidak baik dengan orangtua, khususnya sang ibu, dan mencoba untuk menghadapi hubungan rapuh itu. Tema semacam ini tentu banyak relate-nya dengan pemuda-pemudi sekarang, yang rata-rata yatim pasif atau piatu pasif, atau yatim-piatu pasif. Kalau mengamati hidupku sendiri, barangkali aku masuk yang golongan akhir, orangtuaku ada, tapi hubungan kami tak berjalan sebagaimana mestinya.

Simaklah kutipan menyayat berikut, "Karena aku telah membenci ibu, aku berhenti belajar darinya. Aku berhenti mendengarkan nasihat ibu, aku berhenti menuruti permintaannya, dan aku berhenti menghiraukannya. Aku merasa kasihan dengan ibuku. Aku seharusnya menyanyangi ibuku seperti ibuku juga menyayangi ibunya. Seperti ayahku menyayangi ibunya. Seperti teman-temanku menyayangi ibunya masing-masing. Seperti tetanggaku menyanyangi ibunya." (hlm. 1) 

ALUR: 

Terkisah, tokoh utama bernama Sofia yang bekerja sebagai Personal Assistant sebuah kantor di lingkungan urban memutuskan untuk berhenti bekerja. Nama Sofia jujur mengingatkanku dengan video klip Boy Pablo yang berjudul "Hey Girl", modelnya dinamai Sofia. Si Sofia mencari kosan baru dan meninggalkan kos lamanya yang dirasa tak representatif lagi. Dia menghubungi sahabat SMA-nya bernama Karin yang kosnya hendak ditukar gulingkan dengan harga sewa yang murah, karena Karin hendak kumpul kebo bersama pacarnya. 

Di kos-kosan baru inilah, aku membayangkan sebuah rumah tua bertembok dan Sofia tinggal di lantai dua. Kontrakan ini ada di belakang ruko, dengan gang yang sering dilewati para pekerja sektor informal. Rumah ini agak suwung karena penghuni utamanya hanya Sofia dan seorang pria paruh baya yang berpretensi jadi karakter yang dikasihani sepanjang cerita bernama Pak Kaslan. Awalnya, aku mengira dia tokoh jahat yang punya kelainan jiwa dan akan mengganggu Sofia. Ramalan ini aku buat di awal karena aku masih teringat dengan pola alur di novela "Arapaima", di mana tokoh laki-laki kebanyakan adalah pria belang.

Namun, aku salah. Pak Kaslan ini sangat baik pada Sofia. Bapak ini membantu perempuan madesu itu pindahan, membawakan perabotan ke atas, memberi Sofia makanan dan minuman. Pak Kaslan ini jago masak ikan, dan berhubungan dengan ikan, dia juga punya jadwal tetap memancing setiap weekend (seingatku). Jadi, dia tidak akan membuat janji apa pun di hari khususnya hanya untuk memancing. Baginya, memancing tidak untuk mendapatkan ikan, hanya untuk senang-senang saja.

Pak Kaslan hidup sendiri di kamar yang lebih kecil, dengan barang rongsokan yang sangat banyak. Dia seperti mewakili karakter orangtua lama, para boomers yang hobi hoarding barang-barang pecah belah seperti gelas, cangkir, dan piring. Barangkali ini juga bentuk trauma masa lalu, saat mereka kesusahan memiliki barang pecah belah tersebut dan saat mereka mampu, mereka mengoleksinya. Meskipun dalam tahap tertentu, itu seperti mengoleksi sampah. Barang-barang Pak Kaslan, barangkali kalau di Jogja dia mengoleksi dari Pasar Klitikan, atau kalau di Jakarta thrifting atau hunting barang bekas di pasar loak sekitar Stasiun Kebayoran.

Konflik yang terjadi antara Sofia dan ibunya sebenarnya cukup kompleks. Inti yang kutangkap, kondisi ekonomi keluarga Sofia tidak baik saat kecil. Meskipun si Bapak jadi guru, tapi malah kegocek sama bisnis MLM tak jelas sehingga jatuh miskin. Si Bapak juga terlibat perselingkuhan dengan perempuan lain, ini yang membuat ibu Sofia mengambil alih posisi menjadi Ibu Kepala Rumah Tangga. Ibu Sofia membanting tulang membuka bisnis makanan, salah satunya membuat pastel isi wortel (sampai wortel kemudian jadi makanan yang dibenci Sofia karena ibunya meminta memakan dengan paksaan).

Lambat laun, usaha ibu Sofia bisa menghidupi seluruh keluarga. Namun, di sisi lain, bapak Sofia merasa seperti tidak dianggap di rumah. Si bapak pulang pergi dari rumah seenaknya tanpa kabar, seolah tidak menghiraukan Sofia, dan mereka yang tinggal di rumah. Perselingkuhan tetap berjalan, meskipun tidak dijelaskan dengan detail. Perkawinan yang sebenarnya sudah pecah sejak awal itu terpaksa dilanjutkan karena alasan anak-anak, yaitu Sofia dan adiknya Novia.

Awalnya, si ibu masih sering mengontak Sofia, tapi lama-lama tidak lagi. Kasus memuncak ketika Novia dikabarkan kabur dari rumah. Ibunya blingsatan menghubungi Sofia untuk mencari si adik yang ternyata dia nginep di sahabat baiknya. Novia kabur karena di rumah dia tak merasa aman, ibunya juga terbilang keras, dan bapaknya tak perhatian. Uang kaburnya didapat dari menjual HP. Setelah dibujuk, Novia pun mau kembali, tapi terlebih dulu tinggal di kontrakan Sofia. Novia mengamati kakaknya yang gelundang-gelundung di kamar tanpa pekerjaan jelas. Sementara Sofia berdalih sedang cuti panjang.

Setelah sekitar seminggu, Sofia membujuk Novia kembali ke rumah. Mereka pulang naik bus cepat. Di rumah pun, hubungan ibu dan anak tak kembali baik. Bahkan Sofia enggan makan masakan ibu dan memilih makan mi instan. Terjadilah perang dingin antara keduanya, Sofia tak betah, dan ingin cepat-cepat ke kamarnya.

Namun, ketika dia tiba, lelaki paruh baya Pak Kaslan ditemukan meninggal secara mengenaskan. Mayatnya telah membusuk dan tak ada yang peduli padanya. Dia meninggalkan harta karun barang-barang rongsokan yang sangat banyak, dan cairan tubuh Pak Kaslan mengenai barang-barang itu. Di belakang cerita, terungkap jika Pak Kaslan punya keluarga, dia punya satu anak perempuan. Sofia mengingatkan Pak Kaslan dengan anak perempuannya, sehingga dia baik hati pada Sofia. Pak Kaslan menulis surat yang tak pernah dia kirim untuk si anak, juga uang tabungan yang disimpan di sebuah kursi. Naasnya, uang tabungan itu pun dimakan rayap. 

Ketika pemilih rumah ingin membuang barang-barang Pak Kaslan, Sofia tak tega dan membelinya. Barang-barang itu dialihkan di kamarnya. Suatu hari, pacar Sofia bernama Agam, membantu untuk membersihkan dan menata barang-barang itu agar lebih rapi. Agam satu pekerjaan dengan Sofia di semacam klinik hewan anabul. Dari barang hoardingan yang amat banyak itulah, rahasia Pak Kaslan tentang surat dan anak terkuak.  

ANALISIS: 

Penilaianku pribadi untuk novela ini, aku menikmatinya, dan lancar-lancar saja dibaca secara santai. Namun, aku merasa karakter di buku "Seakan Bisa Dipisahkan" ini tak lebih kuat dari karakter "Aku" di novela "Arapaima". Keduanya sama-sama berkisah tentang perempuan-perempuan yang mumet, entah karena pekerjaan, relasi yang tidak baik dengan keluarga dan kolega, maupun hubungan yang tidak baik dengan diri sendiri; tapi aku merasa tokoh utama di "Arapaima" lebih kompleks. Intan yang barangkali bisa kuanggap bisa menjadi penerus Budi Darma versi perempuan seperti kehilangan distingsi karakter unik ini di novela SBD: kurang greget, kurang nakal, kurang antagonis, kurang out of the box. Mungkin penilaianku salah tapi itu yang kurasakan.

Tak diragukan, buku ini juga menghadirkan isu-isu keperempuanan dan gender yang kompleks. Temanya khas dengan masalah umum banyak keluarga di Indonesia. Hubungan orangtua dan anak bisa menjadi kisah dan sumur inspirasi yang sangat bisa digali, dan tak pernah basi. Meski begitu, karakter "ibu" di buku ini juga masih kurang digali, padahal dia menjadi sorot utama, justru yang tergali lebih ke karakter Novia dan Pak Kaslan. Apalagi si bapak, bahkan karakter ini tak tergali sama sekali. 

Isu besar lainnya terkait dilema pekerjaan di usia setelah kuliah. Isu kesejahteraan pekerja dengan segenap mental health-nya. Aku suka bagaimana penggambaran keseharian pekerja yang dekat, seperti berhenti lama melihat jemuran, karena aku teringat kosku di Semarang. Di sana, jemuran bajunya di tingkat dua, jadi tempat yang menarik untuk melamun. Saat itu aku jadi jurnalis freelance, pun nasibnya sama, dengan gaji yang tak seberapa, dan gaji hanya untuk sekadar hidup, tanpa simpanan.

Kekuatan novela ini: (1) Penceritaan keseharian dengan bahasa yang dekat dengan pembaca, (2) Isunya aktual dan dekat, (3) Tidak bertele-tele. Kelemahan: (1) Karakter beberapa kurang terolah dengan baik, (2) Hubungan dengan ibu dan bapak kurang intens, (3) Lebih banyak drama dengan dunia luar (pekerjaan/Pak Kaslan) alih-alih drama dengan dunia dalam (orangtua).

Judul: Seakan Bisa Dipisahkan | Penulis: Ruhaeni Intan | Penyunting: Teguh Affandi | Cetakan: Pertama, Juni 2025 | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) | Jumlah halaman: x + 117 | Dimensi: 13,5 x 20 cm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar