Kamis, 05 Maret 2026

Catatan Buku "Islam, Seni dan Da'wah"

Dari dulu, aku tidak bisa membedakan dengan jelas, mana seni Islam, dan mana yang bukan Islam. Di dalam seni rupa khususnya, aku memiliki kecenderungan untuk menikmati objek-objek hidup yang digambar oleh si perupa, baik itu bentuknya manusia, hewan, maupun gambar yang bercermin dari alam. Namun, setelah membaca buku "Islam, Seni, dan Da'wah", lewat penjelasan Pak Kuntowijoyo, aku setidaknya punya tiga saringan terkait seni yang Islam dan tidak. Batas yang beliau utarakan jelas: (1) dematerialisasi, (2) demasifikasi, dan (3) menuju cahaya. Untuk menjadi berbeda rasa-rasanya kita memang perlu batas demarkasi yang jelas.

Buku ini aku beli secara random di Shopee karena ditulis secara berjamaah oleh banyak penulis, dan salah tiganya aku sukai karyanya: Pak Kunto, Pak Emha, dan Pak Ebiet. Setelah kubaca, ternyata buku ini merupakan kumpulan makalah dari Seminar Sehari Tentang Islam, Seni, dan Da'wah yang dilaksanakan di Aula APDN Srondol Semarang, pada 13 Oktober 1988. Termaktub dalam majalan bulanan Rindang pada Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah.

Mendengar majalah "Rindang", ingatanku langsung melesat pada Doel Rohim, partner kepemimpinan, PU-ku dulu di LPM Arena. Dia pernah bercerita, seingatku, yang memotivasinya untuk kuliah di Jogja dan masuk Arena karena dulu pernah mengurusi penerbitan yang disebut Rindang ini (jika aku tak salah ingat). Sebab, salah satu kyai yang menjadi narasumber di sini juga berasal dari kota yang sama dengan Rohim, yaitu Pati. Kyai tersebut adalah Kyai Haji Muhammad Ahmad (KHMA) Sahal Mahfudz, yang mengasuh Pondok Pesantren "Maslakul Huda", Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Dari pembacaanku, sebenarnya tidak terlalu banyak kebaruan yang diutarakan para narasumbernya. Pikiran yang eksepsional barangkali yang telah saya sebutkan di atas, terkait ide Pak Kuntowijoyo yang memberikan batas demarkasi yang jelas. Narasumber lain lebih konvensional lagi karena berdasar pada argumentasi yang menurutku mengambang dan abstrak, yang diambil dari nilai-nilai agama dan pengalaman. Semisal, Cak Nun berkata, seni Islam itu bentuk anugerah dan sunatullah. Atau juga (maaf) para kyai yang bagi saya cukup mengambang juga memberikan argumentasi yang sangat umum (common sense) seperti amar ma'ruf nahi mungkar, atau ditujukan kepada Allah. 

Namun, terlepas dari semua itu, terima kasih telah menulis buku ini. Aku jadi kepikiran, semisal ada kegiatan serupa, membukukan pemikiran yang dibicarakan di dalamnya juga menjadi ide konkret yang menarik. Dengan begitu, bisa dibaca oleh generasi-generasi setelahnya. Seni termasuk menjadi bidang yang aku sukai, karenanya aku peduli.

Judul: Islam, Seni dan Da'wah | Penulis: K.H. Sahal Mahfudz, K.H. Amir Ma'sum, Drs. H. Amri Yahya, Azwar A.N., Dr. Kuntowijoyo, Drs. Suwaji Bustomi, Emha Ainun Najib, Ebiet G. Ade | Penerbit: Rindang Jawa Tengah | Tahun: 1988 | Jumlah halaman: xvi + 80

KUTIPAN:

Kelebihan seniman adalah kemampuannya untuk dapat melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh orang biasa. (1) 

Sekedar menampilkan solidaritas sosial desa dan bukan untuk menjamin karier seorang seniman. (3) 

Isma: Seni Islam yang aku pahami, ini sebagaimana diungkapkan Pak Kuntowijoyo, dematerialisasi (abstrak), demasifikasi (tidak sebesar kelihatannya atau mencairkan yang masif, tidak ada kesan berat), dan memberikan cahaya (dari gelap ke terang, pertemuan antara yang fana ke abadi). Jika menambah Cak Nun, seni Islam adalah seni yang ditujukan kepada Allah, dalam rangka (kata KH Sahal) amar maruf nahi mungkar. Di sini niat sangat-sangat penting, kesenian adalah manifestasi dari keilahian. Untuk dakwah, "pelaku dakwah harus menguasai substansi dakwah, di samping menguasai metoda dan alatnya. (12) 

Keberhasilan seni media dakwah selain dapat ditemukan melalui wawasan sejarah, juga berdasar penelitian-penelitian yang telah dilakukan para ahli maupun berdasar pengalaman para praktisi seni itu sendiri. (13) 

Pemanfaatan musik pop harus diawali dari musisi Muslim itu sendiri yang menyadari kekuatan musik pop. Kalau musisi Muslim mampu menyisipkan pesan Islam dalam momen yang pas, akan sangat luar biasa hasilnya. Keberhasilan musik sebagai media dakwah dialami sendiri oleh Ebiet, seseorang yang telah memberikan sebidang tanah seluas satu hejtar kepadanya sebagai pernyataan rasa syukur karena orang tersebut merasa telah "dikembalikan" imannya oleh lagu-lagu Ebiet. (14) 

Seseorang berkesenian adalah lantaran mensyukuri anugerah Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Hanya Allah yang memungkinkan dia berkesenian itu... Fungsi "liya' budun", hanya dapat berjalan apabila seluruh isi Al-Quran dan Sunnah Rasulullah menjadi tuntutan dalam berkesenian. (16) 

Seni yang Islami dapat melalui restriksi (pembatasan), yakni: bersih dari khufarat, bersih dari syirik, dan tidak membawa manusia kepada kehidupan yang nista. (19) 

Kebaikan dilakukan secara lumintu (terus menerus). 

Penulis semacam orang yang ikut-ikutan makan besar dalam pesta makan meskipun tidak diundang. (27) perumpamaan yang baik. 

Kalau dia (seni) ditumbuhkan dari bibit keimanan, maka dia juga akan menjadi pohon keimanan. Kalau dia ditumbuhkan dari bibit kekufuran maka dia juga tumbuh menjadi pohon kekufuran. (29) 

Rukh seni Islam itu taukhid. Ismail Rasi al Faruqi. 

Saya ingin memberikan catatan kaki terhadap apa-apa yang disampaikan Bapak KH Sahal Mahfudz dan Bapak KH Amir Maksum. Apa yang ingin saya sampaikan mungkin ilustrasi:
1. Tentang rukh Islam dan struktur seni
2. Tentang institusionalisasi kesenian
3. Tentang seni pertunjukan rakyat Jawa Islam

Dengan deformasi bentuk berarti dilakukan "dematerialisasi" yang berarti menuju kepada taukhid. Kalau kita tidak menganggap yang ada itu matter, maka kita melihat yang ada itu Allah. Itulah taukhid dalam kesenian. (33)
 

Seolah-olah lukisan itu menuju sesuatu yang tidak terjangkau. Hal itu berarti menuju Allah... Pak Sadali mengatakan, "Kesenian itu adalah tasbih kita kepada Allah." Karena itu kesenian dengan seluruh misinya semacam itu mampu memberikan pengaruh kepada pembaca, penonton atau kepada mereka yang masuk ke dalam arsitektur Islam. Kalau kita masuk ke dalam masjid, kita akan mensucikan diri. Tetapi masjidlah yang memberi suasana tazkiyah, yaitu terang, tidak ada misteri. (34) 

Kesenian partisipan: setiap orang dapat ikut ke dalam kesenian itu, tidak diketahui penciptanya dan pengubahnya. (35) Ternyata seni rakyat tradisional yang Islam tidak membutuhkan profesionalisme yang tinggi, karena pelaku dan penonton dapat saling berganti. Kesenian semacam ini akan sangat baik untuk media dakwah. (36) 

Emha Ainun Najib hlm. 37: Semoga bisa merupakan bahan silaturahim dan "syuraa bainahum" dari seorang tukang--yang semoga tidak terlalu berarti--kepada para ahli/pakar serta ulama:
(1) Orang berkesusastraan itu sama dengan orang mandi, makan, menimba atau menanam pohon. Ialah yang mensyukuri anugerah Allah dan melaksanakan Sunatullah: bahwa kalau diberi badan, kita kasih makan; kalau diberi tubuh, kita rawat kebersihannya; kalau diberi ilmu, kita amalkan; kalau diberi amr, kita laksanakan; dan kalau dilarang, kita hindarkan; kalau diberi ilham, kita ungkapkan. 
(2) Seorang sastrawan Muslim itu seorang mulhim di bidang kesusastraan. Pikiran dan perasaannya, atau segala potensi kreativitasnya , semacam radio, yang harus senantiasa siap menerima "siaran" dari Allah. 
(3) Kenapa manusia-sastrawan hanya semacam radio? Karena manusia itu tidak punya apa-apa, bahkan sebenarnya tidak ada; ia hanya "diselenggarakan" oleh Tuhan untuk "ada" dalam fungsi "liya' buduun". Manusia tidak bisa apa-apa, tidak punya ilmu, tidak bisa menulis puisi, hanya Allah yang memungkinkannya bisa, atau lebih tepatnya; Allah mewakilkan kebiasaannya. 

Kemiskinan hampir dikatakan membangun "kotak sabun" dalam skala besar, tanpa apa-apa. Bentuk bagus hambar makna dan ciri khas, ciri khas tetapi rusak karena papan nama yang terlalu "tamak" memborong semua halaman depan. (54) 

Yang membedakan kita di hadapan Tuhan cuma ketaqwaan, yang membedakan kita di hadapan manusia adalah akhlak dan wawasan. (Isma) 

Ketika kita sekali mengetahui kunci, kita bisa ikut di dalamnya.... Ada satu puisi Umar Kayam tentang ketauhidan, "Setiap pagi mawar berkembang, tetapi mawar kemarin mana ia sekarang... (61) 

Seni tradisional itu seni kebersamaan dan partisipasi, mementingkan sikap-sikap komunal yang tidak mendukung individualisme maka tidak mungkin membawa karier. Beda dengan seni profesional. (61) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar