![]() |
| Buku "Renungan dari Yogya" - Masri Singarimbun |
Aku masih ingat bangunannya Pak, sangat lekat karena saya sangat sering main ke perpustakaan PSKK. Aku tidak takut atau malu, meskipun saya orang di luar UGM, bagiku, tempat ini adalah salah satu kawah candradimuka yang tak pernah saya lupakan. Di depan bangunan, terpampang lampu digital berjalan berwarna merah bertulis angka penduduk Indonesia yang tiap detiknya berganti jumlah. Satu demi satu. Sepeda kupakirkan di depan gedung. Parkiran itu tergolong sepi, satu-satunya sepeda hanyalah sepedaku. Aku tak tahu alasan apa yang bisa membawaku ke tempat ini? Apa muasalnya, aku tak ingat lagi.
Aku sering datang siang, pukul 10 ke atas. Seingatku, karena itu jam bukanya. Tak jauh dari pintu, di sana ada patung besar Bapak seolah menyambutku datang. Bapak tersenyum, mengenakan kacamata, dan entah kenapa ketika masuk ke dalamnya terasa seperti "rumah". Bukankah, rumah berarti sesederhana kamu merasa diterima di dalamnya? Aku akan tersenyum, semacam simbol untuk menghormati patung Bapak.
Setelahnya, aku naik, kalau tidak salah, ke lantai III. Aku sudah lupa karena sudah lama. Lalu, aku akan menenggelamkan diri menyisir buku-buku yang bahas terkait masalah kependudukan. Aku mengisi daftar tamu yang dijaga anak magang. Jumlah pengunjung bisanya bisa dihitung jari, kadang tak sampai lima. Aku mengambil beberapa buku, jurnal riset, dlsb, baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris. Perpustakaan tersebut tergolong sepi pengunjung, sering aku hanya sendiri di sana. Tapi entah kenapa rasanya damai.
Di sana, aku menemukan harta berharga bacaan-bacaan yang membuat tubuh, pikiran, dan hati saya seperti bersatu dan termotivasi. Aku seperti menemukan passion yang tenggelam dan direpresi sedemikian rupa oleh distraksi-distraksi yang bukan aku. Kadang aku merenung, kadang aku bermimpi, kadang aku menangis. Salah satu mimpi yang ingin kubocorkan, aku ingin kuliah ke Australian National University (ANU) seperti Pak Masri. Di mataku saat itu, ANU begitu keren. Aku merenda-renda mimpi untuk sekolah tinggi di tengah keterbatasan yang ada. Pendeknya, Bapak memberi inspirasi padaku untuk menempuh pendidikan tinggi yang lebih baik. Bahkan sebelum ke ANU, aku juga berminat untuk melanjutkan pendidikan Magister di Studi Kependudukan UGM.
Waktu berlalu, barangkali aku sering datang ke PSKK sekitar tahun 2016-2018, saat ini tahun 2026, barangkali sudah hampir 10 tahun. Pak Masri.... Rasa itu tak berubah. Tanpa kerencanakan sebelumnya, aku membaca buku "Reunungan dari Yogya". Awalnya, aku tak sadar jika tulisan itu ditulis oleh Pak Masri. Aku baru ngeh saat aku searching nama Bapak, dan teringatlah masa-masa di Perpustakaan PSKK. Buku ini merupakan kumpulan tulisan. yang Bapak tulis di berbagai media massa, seperti Tempo, Editor, Kompas, dan Jawa Pos sepanjang 1977 hingga 1992. Terdapat sebanyak 81 tulisan di dalamnya, yang sudah dikurasi oleh Pak Masri.
Pak Masri, aku begitu menikmati tulisan di buku Bapak. Namun, yang paling penting, aku merasa Pak Masri seperti berbicara langsung padaku melalui huruf-huruf dan kata-kata yang Bapak pilih. Rasanya begitu dekat. Banyak sekali catatan yang kubuat, Bapak begitu banyak membuka mataku terkait konflik-konflik sosial yang lepas dari pengamatanku. Oh ya, pas baca terkait profil Bapak di PSKK dulu, yang bahas terkait kasus kondom; sebagai mahasiswa yang pengetahuannya masih awam, aku sedikit mempertanyakan bahasan tabu tersebut. Namun, setelah aku membaca buku Bapak ini, aku benar-benar menyadari mengapa persoalan ini begitu penting. Bagaimana latar belakang kasusnya, dan bagaimana respons Bapak pada hal itu.
Tidak aku ragukan, Bapak sebenarnya adalah orang yang humoris, sastrais, dan berpemikiran dalam. Kesan ini aku dapatkan setelah aku selesai membaca buku "Renungan dari Yogya". Banyak pemikiran, metode penelitian, empati, hal-hal sederhana yang penting, jadi hal menarik ketika Bapak menceritakannya. Dari 81 tulisan yang diikat jadi satu buku, terdapat tujuh kluster di dalamnya:
1. Aneka Ragam: Di sini Bapak bercerita dari kisah tikus yang ternyata bisa dimakan di Karo, pemerataan kecantikan yang menyasar perempuan dan kepalsuannya, pesona pariwisata, hingga tokoh bidang bahari bernama Amanna Gappa.
2. Pendidikan Tinggi: Bapak berkisah tentang berbagai masalah penelitian dan budaya baca khususnya di lingkungan kampus. Akademia yang terjebak dalam embel-embel, simbol, hingga masalah perpustakaan dan konsultan domestik.
3. Wanita: Tulisan yang paling menarikku adalah soal imajinasi Pak Masri kalau dilahirkan kembali akan memilih jadi perempuan. Ini sangat mind-blowing, wkwk. Betapa kuatnya perempuan. Termasuk juga soal Bu Sutiyem, ayah rumah tangga, hingga persoalan memukul istri.
4. Perkawinan dan Seks: Bapak membedakan apa itu setan mini dan setan maksi dalam masifnya masalah seksual di Indonesia. Setan mini merujuk pada simbol hingga apa yang dicontohkan di layar kaca, sementara setan maksi mengalaminya secara langsung sampai hamil. Dan lagi, korban anak digugurkan. Bapak bahas soal mucikari paling punya passion di dunia, Xaviera, hingga kasus kumpul kebo.
5. Kesehatan dan Keluarga Berencana: Di sini Bapak mengulas terkait berbagai tantangan pelaksanaan KB di berbagai dunia dari kawasan ASEAN, India, hingga Amerika, Eropa, dan Afrika, pejuang ASI, termasuk juga soal kondom yang sempat ditabukan.
6. Kemikinan dan Pemerataan: Pak, bahasan tentang Sphinx ini mengingatkanku dengan buku HG Wells yang "Mesin Waktu", ada adegan yang latarnya mirip Sphinx, wkwk. Lalu ada paradoks di sana, bagaimana kebudayaan zaman dulu berbeda jauh dengan kebudayaan manusia zaman sekarang, dengan studi kasus di Mesir. Termasuk juga soal kuli kontrak, hidup sampah, seragam untuk apa, per diem, hingga IPM.
7. Sosial Politik dan Birokrasi: Membahas terkait India, dan untungnya Indonesia punya bahasa persatuan. Juga menyangkut hutang adalah hutang, ijon dan UUPA, judi yang dibuat sebagai olahraga kaum "elite", hingga masalah hak ulayat Dayak dan Dodo.
Berikut renungan pribadiku:
- Dari tulisan Pak Masri, aku belajar menggali keindahan dan masalah di bidang yang kugeluti sendiri. Seperti contoh tulisan "Sang Peneliti Tak Bisa Menulis", dia bilang: "Bukan tabel yang bercerita. Seharusnya saudara yang bercerita, lalu disisipkan tabel ke dalam cerita saudara. Begitu caranya menulis laporan ilmiah yang baik. Dan harus ada tema. Bukan tumpukan tabel dan keterangan." (71) Menurutku, ini metode baru dalam menulis esai, pakai pendekatan dalam menulis cerpen. Termasuk pengalaman ketika dia bertemu dan berbincang dengan seseorang yang tiba-tiba filosofis dalam cute meet.
- Kisah Sutiyem bisa kuolah jadi cerpen yang mirip dengan tone-nya AA Navis di Anak Kebanggaan. Eureka.
- Pak Masri benar, di bulan April misal, ceramah soal perempuan banyak, penelitian tentang peranan perempuan juga menjamur, tapi tidak ada yang mencerahamahkan istri yang dipukul, dianiaya, yang menjadi objek kewenangan suami belum banyak.
- Menarik juga ya neliti kekerasan terhadap perempuan lewat 4 koran dan satu majalah sepanjang tahun 1989. Terdiri dari: Kompas, Pos Kota, Sinar Pagi, Jawa Pos, dan Tempo. Ditemukan ada 639 kasus yang dibagi atas 19 jenis kejahatan.
- Aku tertarik pada cara Pak Masri menganalisis data-data statistik yang keren. Dia misal bisa fleksibel membahas data perceraian dengan melihat dampaknya tak hanya pada suami istri, tapi juga anak. Lalu bagaimana hal itu dihubungkan ke kasus negara lain misal Australia, juga hubungan dengan pengalaman pribadi dan agama.
- Tulisan "Yang Takut Gaji Naik" mengingatkanku dengan layanan hotel ketika aku dinas. Semalam di sana rasanya bisa setara dengan gaji orang lain selama sebulan ;( Aku bisa mengerti perasaan Panut. Begitu timpangnya hidup Pak Masri.
- Pak Masri, di sini saya jadi mikir tentang IPM. Terkait bagaimana data dianalisis, saya belajar banyak. Yang nampaknya ini bisa mengungkapkan banyak sekali dampak, ekses, dlsb pada kehidupan sehari-hari. Termasuk soal pilihan dan fasilitas yang kita hadapi. Saya tinggal di kota dengan IPM tertinggi se-Indonesia. Ini privilege dan nature saya untuk saat ini. Jadi saya tidak hanya membaca data saja dengan bilang, IPM itu indikator ada tiga: 1. Angka kematian bayi kurang dari 50 per seribu kelahiran hidup, 2. Harapan hidup 65 tahun ke atas, 3. Tingkat melek huruf paling tidak 75 persen. Bukan sekadar itu! Baik Pak Masri, Anda memberikan saya alat yang sangat berguna sekali. Terima kasih. Oh ya, saya juga ingin mengkritik terkait IPM itu, saya pikir tiga indikator itu terlalu kaku. Apakah hanya dengan tiga itu orang lalu sadar dengan kondisinya? Saya pikir tidak serta merta. Apa persoalannya? Sepertinya saya bisa memberikan tanggapan untuk Pak Sayogyo.
- Pak Masri, saya nangis baca tulisan "Ibu-Ibu adalah para wanita yang perkasa". Aku tertarik pada segi disertasi juga yang dibahas Carol Hetler, "Female Headed Households in a Circular Migration Village in Central Java" (1986), ANU. Penelitian dilakukan di Desa Jaten, Wonogiri, 1984. Titik beratnya: seluk-beluk wanita yang menjadi kepala rumah tangga. Ternyata jumlah wanita demikian tidak sedikit di daerah penelitian. Juga tidak sedikit di tingkat provinsi, nasional, dan internasional. (93)
Dari sub-sub itu, Bapak begitu spesifik dan kokoh pada "ladang penelitian" Bapak sendiri, jika memilih satu ladang, itu adalah studi kependudukan. Atau mungkin secara ilmiahnya: Studi Kependudukan hubungannya dengan masalah reproduksi, kemiskinan, dan sosial. Bapak juga banyak mengkaji kelompok-kelompok marjinal seperti buruh sirkuler Gunung Kidul, perempuan yang kerja bangunan, kuli kontrak, Dodo yang jenazahnya ditolak, tukang pijat urut yang tak sanggup beli seragam, para gelandangan. Dan di sinilah letak pertemuan kajian saya dengan kajian Bapak di aspek marginal studies. Saya jatuh cinta dengan bahasan-bahasan Bapak yang tak tertipu dengan statistik pada studi kebijakan, tapi mencoba untuk mengenali dan memahaminya secara kasus yang konkret dan personal. Masalah itu terjadi pada individu dan komunitas.
Saya juga sepakat dengan tulisan yang terbit di tokoh.id ini, yang menyatakan bahwa:
"KOLOM merupakan tulisan yang sangat menonjolkan strong personal views. Ciri utama kolom Pak Masri, sebagaimana dituturkan Prof Terence H Huul dari Australian National University, bahasanya populer, langsung menukik ke pokok soal, berlumuran humor di sekujur karangan, reflektif, dan tak lekang zaman. Almarhum Satyagraha Hurip, sastrawan, pernah menganjurkan Pak Masri menulis cerpen mengingat gagrak (genre) story telling tulisannya."
Mungkin kritikku untuk buku Bapak, kadang penceritaan Bapak kurasakan meloncat-loncat, baik dalam hal tokoh, latar, dan subjek yang Bapak perbincangkan. Aku perlu berhenti sejenak, ini masih bahasan yang samakah? Begitu. Dan gebrakan lain di buku esai ini, banyak tulisan menggunakan format dialog seperti orang sedang berbicang biasa.
Kemampuan story telling Bapak sangat bagus, dan itu kenapa Pak Goenawan Mohammad meminta Bapak untuk jadi kolomnis tetap di Tempo. Buku ini ditulis setahun sebelum aku lahir di dunia tahun 1993. Sebelum saya lahir, buku ini sudah lahir terlebih dahulu. Semoga suatu hari saya bisa berziarah ke makam bapak di Makam Kuncen Wirobrajan Jogja. See you and thank you, Pak Masri!
KUTIPAN:
Dodo (299)
Kemampuan manusia menciptakan senjata ampuh terus meningkat untuk membunuh sesama. Sementara itu kemampuannya mengekang diri tidak semakin baik. (7)
Persoalan orang tua: miskin, tidak ada jaminan, dianggap kelompok tak berguna, tidak produktif
Humanisme menjadi penghias etalase... Orang-orang jompo telah membeberkan kegagalan peradaban kita. Habis manis sepah dibuang. (38)
Pak Masri, aku senang banget tahu Pak, bisa ngobrol dan mendengar cerita Bapak lewat buku. Dulu aku sering banget ke UGM dan tempat paling sentimental di UGM bagiku adalah pusat studi kependudukan, yang dulu aku juga pengen ambil S2 itu di sana.
Penobatan Sultan HB X tanggal 7 Maret 1989 dan kirab keesokan harinya. Sayang peristiwa yang mulia itu dimanfaatkan para copet untuk mencari nafkah dengan menjambret uang pensiunan ibu-ibu. (44)
Orang Wajo terkenal sebagai orang yang gemar mengembara, berlayar, dan berdagang, tidak begitu tertarik kepada pertanian. (50)
Dalam pelayaran, perselisihan harus selesai sebelum mendarat. Sebab setiap negri punya masing-masing hakim. Amanna Gappa. (51)
Namun uang bukan satu-satunya. Faktor penting lainnya adalah skala prioritas. (61)
Kalau pegawai kurang beres, terminalnya di perpustakaan. (63)
Sekali lagi tidak. Tidak usah naik eselon. Hatinya tidak tergoyahkan oleh rumah, mobil, dan embel-embel lainnya itu. Dia tidak mau menjadi makhluk kesasar, tapi terhormat. (65)
Yang menjadi kebutuhan permanen sebagian orang adalah masalah kenaikan status sosial dan kenaikan gaji. (66)
Penelitian digotong-royongkan seperti membersihkan jalan. (68)
Pamong yang berpengalaman itu berpegang teguh pada asas pemerataan dan itu bisa dipecahkan secara ketimuran. (71)
Gengsinya naik lagi, sebagai orang pertama yang memiliki benda ajaib berlubang-lubang itu. (71)
Kita tidak pernah belajar memegang kunci. "Itu kesalahan kontrak namanya," komentarnya tegas. Mudah-mudahan tidak terulang lagi. (75)
Kerapuhan laki-laki menuntut kompensasi bernama kejantanan dan kepemilikan. Ketahanan mental perempuan lebih tinggi, demografi menunjukkan itu. (83) Juga buku "The Mothers" karya Robert Briffault, dan "The Natural Superiority of Women" (84)
Setelah menimbang dan mengkaji, kalau saya kembali, saya memilih yang unggul: lahir sebagai anak perempuan. Terus terang saja, jauh di dalam lubuk hati saya, terkadang menyelinao rasa iri terhadap isteri. Iri karena dia lebih dekat dengan anak-anak kami. Saya terlalu terpukau oleh revolusi industri dan sering terlupa hakekat kehidupan yang singkat ini. (85)
Orang memerlukan modal tertentu untuk mempertahankan ukuran moral tertentu. Bernard Shaw. (88)
Diam-diam, tanpa pidato dan gunting pita, mereka menampilkan gaya hidup yang sudah lain: kumpul ora kumpul angger mangan. (95)
Di negeri yang maju tidak ada tenaga pembantu rumah tangga yang murah. Tenaga yang murah adalah cermin keterbelakangan. (99)
Philip Yampolsky menganalisa riwayat lagu (cengeng) "Hati yang Luka" dengan jitu dalam majalah Indonesia (terbitan Cornell), nomor April 1989, dengan judul "Hati yang Luka, an Indonesian Hit". Dilagukan atau tidak, kisah-kisah pemukulan istri merupakan bagian dari bangsa kita dan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Duduk soalnya belum jelas dan kita juga tidak berbuat apa-apa untuk menguranginya.(101)
Namun sayangnya, bangsa kita juga mempunyai warga negara yang terdidik, yang memotong-motong istrinya atas tujuh bagian. (102)
Kehidupan seks hewan lebih teratur dan tujuannya lebih sederhana, reproduksi. (111)
Mereka tidak perlu belajar dari buku tentang hal elementer itu... Orang Barat perlu pendidikan seks karena mereka gak pernah lihat capung, ayam, kucing, anjing, ngeseks liar di sekeliling. Jadi mereka butuh buku. (114)
Xavier Hollander. Egonya terhibur, juga kejantanannya. Semoga pada suatu waktu, pelacuran dilegalisir. (123)
Suasana jadi kurang gairah karena terjepit oleh persoalan moral... Perlu disadari, keluarga yang beranak banyak jadi tukang rebut di masyarakat. Merebut berbagai fasilitas yang terbatas: pendidikan, transportasi, kesehatan. (164)
Tampangnya lugu, geraknya lamban, suaranya lembut; tapi berbagai hal penting yang tak pernah saya pikirkan bermunculan dari mulutnya. Benaknya ternyata sarat dengan rupa-rupa soal. (166)
Masalah ekonomi yang ditimbulkan struktur umur yang tua di Jepang, tidak seberapa dibandingkan masalah kemiskinan pada masyarakat yang terbelakang dengan tingkat kelahiran tinggi. (167)
Tidak peduli orang bilang jarum jam berputar ke belakang beberapa puluh tahun. Tapi sesungguhnya, apakah orang Amerika begitu jijik terhadap praktek pengangguran? Begini riwayatnya. (170)
Eropa, mereka masih termasuk terbelakang dari sudut penggunaan kontrasepsi... Kondom yang dituduh banyak mempunyai dosa itu, menempati nomor satu di Finlandia dan Denmark. (174)
Berkaca pada kestrikan Comstock, urgensi mengalahkan moralitas. (186)
Sphinx pun tidak akan mengatakan bahwa ternyata mendirikan piramid lebih mudah daripada meratakan kesejahteraan, lebih mudah daripada mencerdaskan rakyat. (208)
Eraini: Terpaksa ke Kota, Bukan Tarikan Neon Kemilau. (218)
Untuk mendapatkan kuli yang diperlukan, dilakukan berbagai tipu daya terhadap mereka, dan mentalnya dirusak supaya tetap bertahan di perkebunan. (228) Kebiasaan berjudi dan bersenang-senang pada waktu gajian besar (tiap bulan) betul-betul menghancurkan mental kuli kontrak dan menggiring mereka memperpanjang kontrak terus menerus, tidak peduli penderitaan apa pun menimpanya. Sekali jadi kuli kontrak, tetap jadi kuli kontrak. (229) Isma: Pak Masri, aku lagi-lagi menangis membaca tulisan Pak Masri. Mungkin pas aku main ke UGM dulu, arwah Pak Masri benar-benar menyambutku. Aku teringat pada perbudakan modern yang dialami para manusia hari ini. Lingkaran setan yang merusak mental mereka.
Pada Kelompok Tuna Wisma, dilakukan usaha 3 tertib, 3 bersih, 3 aman: (1) di dalam diri sendiri, (2) dalam keluarga, (3) dalam lingkungan... Terlintas dalam pikiran sebuah topik penelitian: peranan gelandangan dalam pembangunan nasional. (233)
Kusum Nair, Blossoms in the Dust.
Melihat penampilannya di pasar dan melihat barang dagangannya terus timbul belas kasihan... Tapi dalam penelitian kita harus berusaha menahan diri. (235-6)
Tak berani lagi dia menghubungkan tarif tersebut dengan upah buruh tani, dan tak sampai hati dia mengaitkannya dengan Ekonomi Pancasila atau Demokrasi Ekonomi. (238)
Jurang antara golongan atas dan menengah lebih besar daripada antara golongan menengah ke bawah. (243)
Sayogyo, delapan jalur pemerataan, beserta matriksnya... Berkata Sayogyo dengan nada rendah tapi kocak, "Sayang tulisan saya mengenai Indeks Mutu Hidup di Prisma tahun 1984 sampai sekarang tidak ada yang menanggapinya, baik ilmuwan maupun policy maker." Peserta lalu senyum-senyum karena merasa bahwa, kalau sebuah konsep datang dari luar negeri, kita pun cepat ribut untuk menanggapinya, tapi lain halnya kalau itu datang dari pakar dalam negeri. (244)
Tujuan utama dari pembangunan manusia adalah memperluas pilihan-pilihan, sehingga pembangunan lebih bersifat demokratis dan partispatoris. Pilihan-pilihan tersebut meliputi akses pada: pendapatan dan kesempatan kerja, pendidikan dan kesehatan, serta lingkungan fisik yang bersih dan aman. Tiap individu seyogyanya mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi penuh dalam keputusan-keputusan komunitas dan menikmati kebebasan-kebebasan insani, ekonomi, dan politik. Klise lama dicantumkan: pembangunan rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. (245)
Gandhi mati hanya mewariskan dua mangkuk tempat nasi, sebuah sendok, dua pasang sandal, buku Bhagavad Gita, dan kacamata. (251)
Inggah-inggih nanging mboten kepanggih.
Pinjam meminjamkan punya jalur, punya pola. Buruh tani miskin punya cara tertentu, usahawan kaya punya cara lain. Jumlahnya berbeda, jenisnya berbeda, tujuannya lain, sumbernya lain. Namanya pun bisa lain: yang satu "ijon" yang lainnya "kredit". (259)
Membeli makanan dalam jumlah kecil dengan frekuensi yang tinggi... Percikan dari kebudayaan masyarakat miskin. (259)
Semoga koruptor bekerja dengan baik, terus terang dan efisien. Cuma itu. (263)
Nampaknya Anda sudah menyiapkan alat-alat sebelum tujuan diketahui. Ada baiknya tujuan ditentukan dulu, baru dipikirkan alat untuk mencapainya. (268)
Topik harus dikembangkan melalui bacaan. Minat, hipotesa, dan teori berkembang dari situ. Apakah sempat membaca waktu mengikuti lokakarya metodologi tempo hari? (268)
Kata Dr. Ace Partadiredja, para ekonom tidak tertarik pada pendekatan antropologi; sebaliknya para antropolog, belum tertarik pada penelitian ekonomi. (273)
Pertemuan kami adalah untuk membahas usulan penelitian yang berlusin-lusin banyaknya dari berbagai negara di Asia Tenggara. Tujuan program internet memberi kesempatan kepada peneliti muda untuk meningkatkan kemampuan meneliti dan memupuk kepekaan mereka terhadap masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan masalah kependudukan. (276)
Prinsip jam kerja 37,5 jam seminggu.
Bicara tentang pembangunan, kita harus bicara tentang hubungan kita dengan benda-benda. Kita harus mencintai benda-benda itu dalam arti yang sesungguhnya. Dan selalu ingin tahu tentang sifat-sifatnya, sehingga makin lama makin menguasai alam kebendaan. (284)
Tampaknya ini juga kepribadian bangsa Indonesia. Orang datang mendengarkan suara. Tidak perlu mengerti isinya.... Kelompok I bahas Kak Alex di TVRI, kelompok II bahas lombok naik, kelompok III bahas seragam sekolah.... (288)
Saya sudah siap menelan apa saja yang barangkali sukar dikunyah. Siap menyimak hal-hal teknis yang kurang saya mengerti. Maklumlah, saya buta huruf dalam bidang keahliannya. (289)
Filsafat hidup Ki Ageng Suryomentaramlah orangnya yang mencanangkan asas 6-sa: sa-butuhe (sesuai dengan keperluan hakiki), sa-perlune (memenuhi kebutuhan secara efektif), sa-cukupe (tanpa berlebih-lebihan), sa-benere (sesuai dengan kenyataan yang obyektif), sa-mestine (sesuai dengan rasa kebenaran dan keadilan), sa-kepenake (tanpa melewati batas kesanggupan fisik dan material).
Pada perguruan tinggi di Indonesia, perpustakaan merupakan embel-embel. Prioritasnya tidak tinggi. Statusnya saja tidak profesional. Selama ini di fakultas letaknya di bawah tata usaha yang tidak begitu mengerti tentang perpustakaan. Kalau bagian tata usaha sudah miskin, apalagi perpustakaan yang dibawahinya. (61)
"Pekerjaan ini memberikan kepuasan spiritual yang besar bagi saya karena efisiensinya tinggi," katanya sungguh-sungguh. "Waktu dipergunakan dengan sebaik-baiknya: dipakai dengan baik untuk bekerja, pakai dengan baik untuk rekreasi. Saya berusaha supaya selalu dalam keadaan segar. Jam terbang saya mungkin tidak kalah dengan pilot kita di muka. Gaji saya lumayan tapi tiap rupiah sangat halal karena kerja keras dan berusaha seefisien mungkin. Banyak orang menuntut kenaikan gaji. tapi kadang-kadang gaji yang rendah itu masih terlalu tinggi bila dihitung jam kerjanya dan apa yang dihasilkan.ungkin gajinya masih perlu diturunkan." (66)
Sikap dan ucapannya mengingatkan saya kepada Ivan Illich, Deschooling Society. Orangnya begitu polos, percaya diri dan konsekwen. Hari esok baginya hari kerja yang penuh gairah, hari menabur benih, menyiang, menghalau pipit atau panen. Bukan priyayi yang parlente, "thenguk-thenguk nemu gethuk." (68)
Penelitian-penelitian tidak luput dari berbagai masalah. Dalam pengambilan sampel orang perlu berhati-hati. Si peneliti juga perlu berhati-hati dalam menguraikan hasil penelitiannya tersebut. Dalam studi kasus, orang perlu hati-hati menarik kesimpulan, yakni bahwa hasilnya terbatas pada kasus tersebut, secara geografis dan sosial. Jangan cepat-cepat membuat generalisasi walaupun tidak mustahil bahwa fenomena tertentu, kalau diteliti, memang terdapat secara meluas di tempat-tempat lainnya. (77)
Ada kalanya terdapat masalah konsep, masalah mutu kuisioner (daftar pertanyaan), mutu wawancara atau mutu pengisian kuisioner, dan juga masalah analisa. Tiap tahap perlu dilakukan dengan hati-hati karena, sekali data sudah terkumpul dan dianalisa, si peneliti akan percaya pada hasilnya, percaya pada tabel-tabelnya. Tidak etis jika dia sendiri kurang percaya kepada angka-angkanya itu dan mengharapkan orang lain percaya. (77)
Karena masalah konsep yang tidak atau kurang dimengerti oleh responden, boleh terjadi kuesioner asal diisi, asal dijawab. Itu juga dapat terjadi kalau, karena suatu hal, dia kurang suka kepada si penanya. Dijawab seenaknya saja. Sebaliknya, jawaban mungkin cenderung terarah kepada jawaban tertentu, apalagi kalau dihadiri pula oleh pamong desa, yang merasa perlu untuk menghadirinya. Jawabannya dia sesuaikan dengan keinginan pamong. (77)
"Bapak ngerjain tanah berapa luasnya?" Responden terkejut dan menjawab: "Saya ngerjain tanah?" Dan suasana wawancara menjadi kurang enak dan ini dapat mempengaruhi obyektivitas jawaban. Sering terdapat jawaban yang menyimpang dari tujuan karena tidak termasuk ke dalam kategori yang dimaksudkan. Untuk menyisihkan jawaban tersebut dipakai istilah NA (not applicable). (78)
Bagi orang miskin pinjaman identik dengan bantuan. Dalam otak mereka hutang dan bantuan menjadi berbaur. Terserah mau diterangkan dengan teori apa. Barangkali bisa dihubungkan dengan teori Kusum Nair tentang aspirasi yang terlalu rendah, dengan David Penny tentang subsistence mindedness, dengan David McClelland tentang need for Achievement (n-Ach) yang pudar. Ahli lain barangkali bilang mereka tidak jauh melihat ke depan. Punya kecondongan yang terlalu besar untuk segera mengkonsumsikan. Tapi Oscar Lewis akan bilang, tanpa tedeng aling-aliing, bahwa doyan berhutang termasuk sebuah ciri kebudayaan golongan miskin, the culture of poverty. Mereka senantiasa terjun ke dalam dunia hutang dengan spontan, kapan saja kesempatan terbuka. Di samping itu suka jual beli barang bekas, membeli makanan dalam jumlah kecil dengan frekuensi yang tinggi. (259)
Kasus ini (tak diberi karcis agar dapat uang lebih) berbeda dengan korupsi tak kentara oleh penjaga palang rel kereta api, yang dituturkan oleh Syed Hussein Alatas. (The Sociology of Corruption, 1975). Konon seorang penjaga palang dengan sengaja terlalu awal menurunkan palang. Siasatnya ini sulit diketahui umum karena kereta memang sering terlambat lewat. Nah, antri kendaraan menjadi lama dan panjang. Banyak di antara mereka yang tertahan di antaranya sopir dan kernet truk, memarkir kendaraannya lalu jajan di warung-warung tepi jalan. Dan di sinilah letak kongkalikongnya. Penjaga palang mendapat komisi dari pemilih warung. Keterlaluan. Akibatnya, terhadap efisiensi, penghambatan transportasi, kekacauan jadwal orang, bukan main. (261)
Untuk kesekian kalinya dia dimintai konsultan. Bakal terjadi pengangguran konsultan kalau dituruti. Sudah berapa kali terjadi, konsultan yang mahal itu kebingungan, tak tahu apa yang mau dikerjakan di tempatnya yang baru. Rekan-rekan setempat sibuk ngobyek, seminar, lokakarya, widyakarya, rapat, mengikuti penataran, memberi ceramah, menjemput tamu, mengantar mahasiswa study tour, dan lain-lain. Tidak diketahui hari apa jam berapa ada di kantor. Dan sebagai barang pajangan yang mulus berulang kali sang konsultan diperkenalkan dengan sopan dan ditanyai: Apakah tuan kerasan di sini? Apakah suka nasi? Apakah sanggup makan sambal? (269)
Nasib Widodo, 18 tahun, sudah mati. Kematian yang konyol dari sebuah kehidupan yang konyol pula. Dia mati tanpa KTP, tanpa orang tua yang kehilangan anak, tanpa Kepala Desa yang kehilangan warga. Tanpa negara yang kehilangan warga negara. Namanya tidak tercantum di daftar mana pun. Dia cuma warga dunia. Soal pemakaman ini membuat Didit Adinanta pusing tujuh keliling. (299)
Matinya lebih mendapat perhatian daripada hidupnya. Matinya lebih terhormat walaupun ibunya tetap belum mengetahui kematian Dodo sampai sekarang. (302)
Untuk macam-macam urusan, kita bergelimang dengan aneka ragam formulir, banyak kuitansi, tanda tangan, stempel, membungkuk-bungkuk, bolak-balik, dan butuh banyak waktu menunggu. Tetek bengek yang menguras waktu dan energi itu tidak ada di negeri maju. Pada dasarnya kita tidak saling percaya. Tapi kita memuji-muji diri dalam hal kekeluargaan, ke-Timuran, tepa selira, gotong royong, tidak individualitis, dan yang muluk-muluk lainnya. Seolah kita lebih peka tentang soal-soal manusia daripada bangsa lain. Kalau kita saling percaya mengapa diperlukan Surat Berkelakuan Baik untuk berbagai urusan? Kita punya praduga bahwa yang bersangkutan tidak baik, kecuali dia dapat membuktikan sebaliknya. Kriteria juga tidak jelas bagaimana yang berkelakuan baik dan bagaimana yang tidak berkelakuan baik. (304)
Mohammad Said Reksohadiprodjo, Ki Ageng Suryomentaraman, Alex Inkeles.
Judul: Renungan dari Yogya | Penulis: Masri Singarimbun | Penerbit: Balai Pustaka Jakarta | Cetakan: Pertama, 1992 | Jumlah halaman: 305 | Dimensi: 21 cm





.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)