Lombok Studies Center bersama dengan Odyssey Filsafat mengadakan diskusi bertema "Marx dan Asiatic Mode of Productions" secara online via Zoom, Jumat, 15 Mei 2026 (19.30-21.15 WIB). Diskusi ini menghadirkan pembicara akademikus dari IKJ, Martin Suryajaya. Berikut catatan diskusi tersebut:
Diskusi ingin membahas, Marx and Asiatic Productions. Martin menjelaskan, konteksnya diminta mengisi materi terkait buruh dan buruh migran. Ada topik yang bisa Martin bantu jelaskan, yaitu Marx. Ini wacana Marx di luar Barat, di Asia tidak banyak. Dia menjelaskan perkembangan yang terjadi di Eropa. Marx juga nyebut beberapa aspek di luar Barat, yaitu "Asiatic Mode of Productions". Awalnya Marx berpikir ini ekonomi di luar Barat sama sekali, mereka masyarakat di luar sejarah.
Martin menganggap perlu didefinisikan dulu apa itu mode produksi, dia basis. Bagaimana masyarakat mengorganisasikan lewat ekonomi-politik vs atas. Mode produksi ini komponen bawah secara detail, bagaimana dia hidup secara material. Modus produksi dibagi jadi sua unsur: tenaga produktif (keterampilan, tanah, mesin, hingga teknologi, keseluruhan aspek yang bersifat material dan ide); dan relasi sosial-produksi (hubungan sosialnya, bagaimana menjalin produksi antara pekerja dan bos, intinya adalah pembagian kerja/social divisions labor). Sejarah bergerak dari dua aspek ini. Tenaga produktif selalu ada relasi sosial-produksi. Mana yang lebih dulu ini susah, kayak jawab telur atau ayam dulu?
Akibat dari relasi produksi itu muncul hal yang khas. Misal perkebunan anggur di Eropa. Pada gilirannya, ketika tenaga produktif terlalu advanced, maka relasi sosial-produksi jadi kuno, seperti kemunculan kapitalisme. Ini terjadi di area urban khususnya. Ini menghasilkan relasi produksi yang baru, yang menyebabkan adanya kelas baru, kapitalis. Produksi lebih besar dan berpengaruh pada ekonomi. Ketika muncul teknologi baru, maka relasi sosial-produksi jadi usang, misal sekarang zaman algoritma dengan aplikasinya. Ada fleksibilitas tenaga kerja, eksploitasi yang fleksibel akibat teknologi (platform).
Ini di kalangan gerakan, ada perubahan kuantitatif dan kualitatif di dua aspek tadi. Ada kontradiksi, sejarah bergerak karena ada kontradiksi di basis: cost of productions dan relation of productions. Kuasa tak lagi di kapital yang lama, tapi ke yang baru. Bentuknya selalu itu, tapi manifestasi dalam sejarah selalu berubah-ubah. Misal dari sosialisme ke kapitalisme.
Ada setidaknya sembilan modus produksi sampai sekarang dari primitif ke kapitalisme. Primitif (meramu, agrikultur bukan sistem yang otomatis). Dari sembilan itu dijelaskan masing-masing ke basis kepemilikan, unit produksi dominan, produsen langsung, bentuk kontrol atas produsen, mekanisme ekstraksi surplus, bentuk negara dominan, struktur kelas utama, hingga basis teknologi produktif.
Misal, pada modus produksi feodal yang utama adalah kepemilikan tanah, ada kerja wajib bagi masyarakat untuk menggarap tanah, ada setoran juga. Lalu, ke masa Renaisans, ada modus produksi pedagang kecil-kecilan yang membuat sepatu, penerbit buku, sehingga ada perdagangan. Ada nilai lebih di tanah sirkulasi, bukan di produksi, sebutan lain merchantilisme. Lalu, berkembang ke kapitalisme lebih lanjut. Ada konsentrasi tenaga kerja di kawasan industrial. Konsep nilai lebih ini untuk menjelaskan model produksi yang ini.
Muncul di masa abad 20-an berkaitan dengan finance-capital, produksi komoditas turunan. Instrumen finansial yang diperjual belikan, seperti saham. Sekarang juga di era digital yang teorinya macam-macam, yang ramai itu di Yunani, techno-feodalism. Bayar sewa tapi data kita diekstraksi pemilik platform. Ada tahapan-tahapan.
Sementara itu, modus produksi Asiatik ini tergolong kuno. Misal pembebasan di Cina, Vietnam, negara-negara Asia Tenggara. Ada transisi ke sosialisme yang melawan kapitalisme. Di Asia, yang masyarakat masih despotik, ada argumen irasional yang masih dibawa. Ada penggambaran Asia yang tidak rasional, tidak seperti Eropa. Kita tahu ada problem utama dalam relasi produksi tadi. Asia hanya dilihat sebagai deviasi dari Eropa. Ini juga terjadi saat Orba, 80an pertumbuhan dikodifikasikan ke tahapan seperti teori Rostow. Ada istilah Global North. Seolah-olah hanya satu yang maju. Masyarakat di beberapa tempat lain, beda dengan Eropa. Jalur perkembangan punya teori khsusu, ada mode produksi yang menumpuk. Mode produksi ditandai dengan adanya tradisi, dan juga kepentingan self-interest untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
Di Marx sendiri, AMP (Asiatic Mode of Productions), sebenarnya Marx ini sangat bias Barat. Misal dalam menggambarkan masyarakat India, seperti tidak ada sejarahnya. Dilihatnya Asia itu stagnan dan tidak punya sejarah. Ada klaim-klaim adat yang susah dinalar. Despotisme yang tidak jelas. Pelan-pelan Marx mengubah, Asia dilihat dengan lebih bernuansa. Dia menjelaskan, ini transisi dari primitif ke mode selanjutnya. Asia punya jalurnya sendiri. Secara tahap sejarah ini sejajar dengan feodalisme. Adanya kaisar yang menarik surplus di region masing-masing, basisnya di perdesaan--kalau di Eropa di perkotaan, surplus para artisan.
Waktu di abad 19, Marx banyak baca buku-buku Antropologi dan Arkeologi. Marx mulai melihat dan punya konsepsi yang lebih jelas. Marx bicara redistribusi tanah, pedesaan di Asia, dan negara despotik yang mengambil surplus dari masyarakat. Di tahap terakhir pun belum kelar. AMP, unit dasarnya bukan individu dan bangsawan, tapi komunitas desa. Ada pertanian kolektif satu desa. Dia mengakses tanah bersama, ada lumbung. Kalau ada masyarakat yang berkekurangan bisa mengambil. Itu juga diorganisir secara kolektif. Diferensiasi kelas terlihat dari jumlah kepemilikan tanah, rumah, ternak, dll. Surplusnya bukan perbudakan tapi upeti. Ini asal-usul dari negara despotik. Buku "Hydrolic Society" juga ada basisnya pengelolaan sumber daya air, untuk mengerjakan pekerjaan padat karya. Di sini, Asia, ada konsolidasi vertikal. Raja dianggap sebagai hal tertinggi. Kontradiksi antara raja dan masyarakatnya. Ini runtuh ketika unit produksi gak lagi kolektif, modus produksi kemudian bergeser. Bisa ke feodalisme dan kapitalisme. Sejarah AMP bisa baca bukunya Dunn.
Teori AMP dijelaskan untuk masyarakat Asia. Ketika gaya Eropa diterapkan ke Asia, akan tidak fit. Di situ ada problem, tahap perkembangan sejarah AMP. Seperti dari Marx, Lenin, dll, semisal bagaimana mengkonsolidasikan Asia dan Afrika untuk melawan kapitalisme dan memihak ke Soviet. Penggunaan AMP berhenti dilakukan ketika zaman Stalin, AMP dianggap tidak ada. Yang ada hanya kategori Eropa. Alasan politiknya untuk sejarah universal yang sifatnya tunggal. Kalau ada AMP, berarti ada pengecualian. Dihidupkan kembali ketika tahun 70an, termasuk saudara Ben Anderson. AMP sebagai hal yang teoritis, ini banyak kajian Antropologi. Teorisasi AMP ini jadi semakin ramai.
Konsep Asiatik sendiri dikritik, karena dibawa orientalis, dibangun atas kepentingan kolonial, misal nilai-nilai ketimuran. Esensialisasi Asia ini dipertanyakan. Perkembangan kontemporer di mana? Ada banyak, tapi kita ambil tiga rute.
Pertama, cara melihat mode produksi dekolonial. Imperialisme dan kapitalisme itu saudara kembar. Bisa baca buku suami-istri Ulsa dan Prabhat Parnaik, "Capital and Imperialism". Ada konsepsi sejarah yang berkaitan dengan India, kapitalisme bisa gitu karena mengembangkan imperialisme ke negara-negara lain, khususnya dari Dunia Ketiga. Sebagai sistem, dia imperialisme. Mengkritik Lenin, yang mengatakan imperialisme itu kondisi tertinggi dari kapitalisme, tapi menurut Patnaik, gak bisa, justru hidup berdampingan dengan kapitalisme. Yang ambil keuntungan besar dari negara-negara ketiga ke core nation. Termasuk peran semi-peri nation atau negara pansos, yang mau jadi core nation. Seperti halnya VOC mengandalkan relasi yang sifatnya despotik, asal setor ke VOC.
Kedua, rute ekologis, bukan urusan manusia dan pabrik, tapi juga bagaimana manusia mengorganisir dirinya dengan alam. Ini dikembangkan oleh Marxis Amerika Latin. Bukan hanya metabolisme ekologis tapi juga politik. Bisa baca buku "The Social Metabolism" bicara sustainability tapi konteksnya Marxis, karya Manuel Gonzales de Molina dan Victor M. Toledo. Skema yang digunakan masyarakat ini semacam proses, ada input-output. Ada ekskresi juga, bagaimana dia berinteraksi dengan alam. Setiap masyarakat punya peran yang berbeda-beda, misal masyarakat perdesaan aprosiasi sangat tinggi, tapi limbah (ekskresi) kecil. Beda dengan masyarakat urban, di mana limbahnya sangat banyak. Endosomatik (di dalam tubuh) dan eksosomatik (di luar tubuh) ini saling berkaitan. Entropi kemudian disebar. Apa pun yang disebut wasted, akan kembali ke alam, tidak ada wasted.
Ketiga, konsep kepedulian, reproduksi sosial. Dikembangkan orang seperti Silvia Federici, mengupah kerja-kerja rumah tangga, dll. Reproduksi bukan hanya seksual tapi juga reproduksi sosial. Bagaimana manusia bereproduksi ngurus urusan-urusan yang gak dipikirkan ekonomi. Urusan-urusan care work ini sering gak diitung, seperti dianggap itu hal natural. Beban ini juga dibebankan ke perempuan. Padahal ini juga urusan ekonomi, kalau gak ada ini, maka relasi kapitalisme bisa rontok. Pabrik gak itung kebutuhan rumah tangga yang memungkinkan dia ada. Ini yang menjadi persoalan. Care sector ini juga di bidang lain seperti budaya. Ada ekstraksi berlebihan di care sector, gak ada baliknya. Dianggap sesuatu yang given, sudah dari sononya. Ini cara berpikir yang berat sebelah.
Solusinya membuat yang gak dipedulikan ini jadi dipedulikan. Misal ada pajak yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Kita harus ngurus sesuatu yang sifatnya commoning, meritualkan kebersamaan, ini dihidupkan lagi untuk melawan kapitalisme. Kepemilikan bersama atas hal apa pun. Ini praktik lokal sebenarnya seperti di masyarakat adat. Bagaimana mengatur peer governance juga.
Tanya-Jawab:
1. Gigih Saputra: Ada buruh dosen, ada kapitalisme dalam karier dosen. Apakah bisa dibaca secara AMP?
Martin: Sebenarnya bisa-bisa saja, tapi dilonggarkan lagi, karena AMP itu ekonomi. Baca saja "Hegemoni dan Kemandirian Ilmu" karya SH Alatas, kita (Asia) produksi data, tapi yang buat teori ini orang Eropa. Daripada langsung ke AMP, lebih baik jembatan pakai SH Alatas.
2. Surya Anta: Persoalan AMP dalam konteks Indonesia menjadi persoalan masyarakat kapitalis jadi ketimpangan di Jawa dan luar Jawa. Transformasi dari feodal ke kapital tidak cepat? Perdebatan antara Lenin, berkaca di Indonesia apa bisa diambil sintesis? Apa sebenarnya, Marx ambil konteks Jawa, apa yang terwariskan secara suprastruktur pada kaum buruh? Sebenarnya tidak ada kapitalisme yang secara koheren ini tuntas.
Martin: AMP ini perdebatannya, apa adakah pengecualian. Bahwa sebetulnya tiap masyarakat itu punya jalannya sendiri, ketika melakukan by pass itu memungkinkan, tak perlu ada tahap-tahap karena titik tolaknya berbeda-beda. Lebih ke arah sana yang penting, Marx membuka ada jalur lain dalam memproses sejarah yang berbeda, gak semua masuk yang tipikalnya Barat. Bagaimana mengembangkan satu transisi yang secara modus produksi gak bisa disamakan dengan Eropa. Membuat road map-nya tentu saja berbeda. Di sana eksperimen menariknya. Ketika mau menguntungkan kelas pekerja, tergantung konteks masyarakat masing-masing. Ngiri, ngirinya itu harus localised. Bisa berangkat dari suprastruktur yang sudah siap, tapi di Indonesia gak gitu, misal HAM, hak politik, di sini gak bisa taken from granted. Gak mengasumsikan tentang teori dasar seperti HAM, karena gak tuntas di sini. Beda ketika terjadi di negara yang demokratiknya selesai. Yang digambarkan Habermas ini sangat-sangat muluk kalau di Indonesia. Yang bisa diadopsi melihat masyarakat yang lebih cair, dan menguntungkan mereka pada hari ini.
3. Ana: Apakah memungkinkan modus produksi sebagai reproduksi bisa berkurang atau meningkat?
Martin: Ini dikembangkan oleh feminis Marxis yang melpadahal ekonomi digerakkan gak hanya formal, tapi juga yang gak terlihat. Dari rumah tangga hingga inisiatif warga untuk dapur umum misal pas Covid-19. Ini gak ada biayanya. Kalau mau memasukkan ini ke ekonomi, dianggap gak ada justru kita defisit dalam pembayaran yang reproduksi sosial ini. Ini gak pernah dimonetisasi. Kalau diitung ke ekonomi, ini bukan tumbuh, tapi boncos.
4. Habib Al-Qanhar: Berangkat dari rute India, ketika lihat imperialisme dan kapitalisme, ada open system semua masuk. Open system ini lihat dua hal ini atau gimana?
Martin: Yang dimaksud sistem tertutup itu ada di kapital. Bagaimana mengevaluasi kerja yang necessary labor jadi komoditas. Tujuannya mengembangkan untuk sirkuit kapital. Kapital dapat laba dari eksploitasi. Roy Baskar ini beda konsepnya dengan yang di Marx. Jangan lihat kapitalisme sebagai model utama, tapi model historis, termasuk yang Asiatik.
5. Abdul Rauf: Apakah partisipasi politik dari satu kawasan ke kawasan lain, apakah jika mihak pihak tertindas bagaimana?
Martin: AMP gak bicara taktik, beda pembahasan.
6. Galih Winata: Bagaimana Martin melihat kerja migran dan aliran dari core countries ke negara berkembang?
Martin: Sangat bisa pisau bedah Marx dipakai. Misal Singapura butuh buruh murah, dibandingkan bayar orang Singapura sendiri. Teori reproduksi sosial bisa dipakai. Sektor-sektor tertentu banyak diisi oleh pekerja migran, karena biayanya bisa ditekan.
















.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)