Selasa, 03 Maret 2026

Catatan Buku "Anatomi April" karya Bagus Dwi Danto

Halo Mas Danto, kayaknya sudah lama tidak ngobrol lagi. Terkait apa saja, terlebih terkait musik, musisi yang disingkirkan sistem, musisi pinggiran, buku-buku perlawanan yang menarik untuk ditarik metode survivalnya bagi orang-orang yang hidupnya sering ada di tepi jurang. Obrolan dengan Mas Danto selalu dalam dan sering membuatku berpikir sampai berhari-hari kemudian. Mas Danto sudah seperti saudara tua jauh yang memberiku sudut pandang lain untuk melihat bukan dari pusat sebagaimana orang sering tuju, tapi dari pinggirannya, yang sakit, luka, bopeng, dan ditelantarkan. Mas Danto, kita masih ada imajinasi untuk menulis musisi yang melalui laku hidup seperti Kang Mukti Mukti. Aku akan mengusahakannya lebih serius lagi.

Oh ya, Mas Danto, hari ini ibuku ulang tahun. Ibuku lahir di Blora, 3 Maret 1965. Berarti usianya sekarang 61 tahun. Keren sekali sih ibu, meski sudah empat tahun lebih ini sakit stroke sebelah dan cuma bisa tidur di amben, dia tetap ada semangat untuk hidup. Aku kadang ingin menangis sendiri membayangkan begitu kuatnya dia, sampai-sampai kalau pun aku jadi dia, aku ragu bakal bisa jadi orang yang sekuat dia. Aku menulis ini karena aku tahu, Mas Danto juga sangat sayang pada ibu. Bahkan, buku kumpulan puisi ini Mas Danto persembahkan untuk ibu. Katamu: "Kagem Ibu." Bahasa Jawa Kromo yang berarti, "Untuk Ibu." Mungkin aku tak begitu dekat dengan ibu, tapi beliau sampai kapan pun adalah panutan soal kesabaran bagiku. Lewat tulisan sederhana ini, aku ingin mengucapkan, "Selamat ulang tahun, Ibu. Semoga Ibu sembuh dan bisa sehat lagi, bisa main sama cucu lagi, dan jalan-jalan keliling rumah. Aamiin."

Buku yang ada di tanganku sekarang, yang sampul oranye-nya tertulis judul "Anatomi April", sudah kubaca untuk ketiga kalinya. Pertama, aku membacanya saat main ke Gramedia di Grand Indonesia (GI) Jakarta. Saat aku maraton membaca buku yang sampul plastiknya terbuka. Ah, aku jadi ragu, apakah di GI atau Pacific Place, karena agak-agak mirip vibes-nya. Sebenarnya agak curang karena membaca sampai habis, tapi tidak membeli. Membaca di Gramedia bukan cuma satu, bahkan sampai lima buku, haha. Ya, rata-rata hanya buku yang bisa dibaca sekali duduk. Sebab di tempat lain, kegiatan ini dilarang. Jangankan baca buku sampai habis, buka sampul plastiknya aja gak boleh. Tapi bagi sebagian orang yang gak mampu beli buku, aku akan rela untuk melegalkannya. Aku teringat kata Bernard Shaw, tentu saja, "Dibutuhkan modal tertentu untuk menjalani moral tertentu."

Dan, oh, ternyata pas aku lihat di Goodreads, tanggal 17 April 2022, aku pernah memberikan ulasan begini:

Pada pembacaan kedua, mungkin sekitar beberapa bulan lalu, aku memutuskan membeli buku Mas Danto melalui keranjang oranye. Mas, jujur, baca buku ini tuh seperti mendengarkan lagu-lagu yang ada di album "Woh". Beberapa diksi, frasa, dan struktur metaforanya begitu karib sampai bisa aku nadakan. Kalau mau jujur lagi, banyak puisi yang tidak aku mengerti, dan perlu pembacaan berkali-kali dan sangat slow reading untuk menangkap makna di baliknya. Meskipun buku ini bisa dibaca cepat, pemaknaannya bisa digali bahkan sepuluh tahun kemudian. 

Lalu, pada pembacaan ketiga, ketika aku hendak menulis untuk catatan buku ini.

Ada istilah lain dalam penulisan itu yang disebut "slow-burn", dan buku ini tipe yang begitu. Artinya bukan tipe tulisan yang meledak-ledak terus padam kayak kembang api, tapi pelan, lambat, dan bertahap untuk memahaminya. Mirip kayak bara api, dia gak cepat padam, dan tahan lama. Namun, ada satu tantangan lagi ketika membaca buku Mas Danto ini, bagi orang dengan modal metafora khas puisi yang masih terbatas, pembaca bisa jadi akan tersesat dan tidak paham. Pendeknya, ini sebenarnya mau bicara apa sih? 

Buku ini juga memilih untuk tidak memakai nomor halaman sebagaimana buku-buku lain. Barangkali agar pembaca tidak terbelenggu dengan angka-angka, atau semacam perhitungan kuantitatif: aku sudah di halaman mana? Sudut lainnya, barangkali ini memang strategi agar puisi ini bisa dibaca dari lembar yang mana saja. Secara pilihan huruf juga ditulis dengan kecil semua tanpa kapital. Seolah huruf kecil ingin mengejek si huruf besar, bahwa tanpa huruf besar pun, huruf kecil bisa berdiri.

Secara personal, aku sangat suka dengan judul-judul puisi di buku ini yang menurutku sangat imajinatif, seperti "springbed kebudayaan", "layout libido", dan "republik luka". Kalau kuhitung satu-satu, ada 70 puisi. Hampir di setiap puisi ada ilustrasi khusus yang dibuat oleh perupa bernama Dodi Irwandi. Aku tak akan membahas banyak soal ilustrasinya, tapi lebih pada puisinya. Secara gambar, sebagian besar sudah mewakili. Pesan gambarnya membuat pembaca seperti diajak senam antara makna yang denotatif dan konotatif. 

Aku juga baru ngeh, buku ini kokinya Om Dodo. Aku teringat dengan sosoknya yang ceplas-ceplos dan apa adanya saat dia sering main ke Penerbit Pocer Jogja mirip Mas Eka Wijaya dulu. Di mana saat dulu aku menjadi pekerja di Pocer. Editornya juga Mas Reza Nufa. Penulis buku "Pulang ke Rinjani" yang pernah Mas Danto ceritakan berkelana dari kosnya di wilayah Ciputat ke Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB). Aku juga pernah bertemu dengannya di Kafe Basabasi saat mengantar teman membahas soal perbukuan.

Aku penasaran mengapa judulnya "Anatomi April?" April dalam kepalaku bisa berkorelasi dengan banyak hal: Hari Kartini, bulannya para perempuan selain bukan Desember, April mop, bulan kelahiran adikku dan crush ku dulu (yang aku sadar, aku tidak cocok dengannya karena kami beda dunia, beda energi, semacam air dan minyak). Lalu, anatomi mengingatkanku dengan pelajaran Biologi pas SMA. 

Aku punya beberapa guru Biologi yang menurutku ikonik, salah satunya, sebut saja Bu Ning, rambutnya pendek dan tebal di atas bahu. Wajahnya tegas tapi tetap approachable. Kalau pelajaran dia selalu di Laboratorium Biologi, dan aku masih ingat saat dia menerangkan terkait bab anatomi tumbuhan, hewan, dan manusia. Dia jelaskan secara detail lewat PPT yang dia buat. Tahun 2009 dulu, masih sedikit guru yang menggunakan PPT. Bagiku dia selangkah lebih maju. Aku juga tak lama ini mendapat kabar, jika beliau meninggal. Semoga husnul khotimah.

Kalau refleksi sama ilmu IPA, barangkali aku membayangkan Anatomi April itu secara metaforis merujuk pada segala pengalaman yang terjadi pada Mas Danto saat bulan April. Itu anabel-ku aja sih, alias analisis gembel, wkwk. Yang jelas, antara narasi personal dan kritik sosial coba diulen jadi satu, kemudian dimarinasi jadi puisi-puisi yang menyesakkan hati. Nyaris, tak kutemukan fitur bahagia dalam cerita-cerita yang dibawa oleh puisi-puisi itu. Kecuali mungkin puisi berjudul "Cinta", yang bunyinya: "meski bersampul warna-warni / cinta tetap prolog tanpa koma". Ini pun masih misterius ronanya. Penggembolan kebahagiaan seperti jadi lagu sumbang.

Secara isi, aku menangkap ada beberapa diksi-diksi yang jadi kata kunci: kawan, lawan, keluarga, hidup, mati, sepi, mimpi, ajal, nihil, api matahari, buta, kebudayaan, kiri, restorasi, pucat, lelah, bungkuk, jerit, cakar, lubang, darah, pecah, rebah, spasi, hantu, deru, rahasia, tanya, tanda, toilet, pahit, mahal, air mata, kuasa, tai, nanah, sekam, desis, jerit, berak, kepyur-kepyur, bangkai, hitam, kere, polisi, mitos, penjara, mentok, kering, nisan ... suaka marga sastra ...

Aku menyukai metafora-metafora semacam:

"berat amat mereka mimpi / mungkinkah seperti kita / dan kita adalah tralala"

"sebelum jalan terjamah hasrat / jalan kecil di ujung mulai rintik / termakan tarot" 

"pelan-pelan / manusia membebani / pundaknya sendiri"

"siang ini kupetik setangkai setan di / sebatang hape. hati yang imitasi"

"begitu kerap kemunculan / begitu palsu"

"warung bakmi menyikat rugi dengan / hati-hati. panah putih retak. ada yang / tak sudi pada senja. menanggung / matahari mengunyah aspal. gontai. / kupinjam toilet dari mulutmu"

"kulirik aku. siangku lapar, kumakan / saja teman-teman"

"semakin beragenda / semakin putus asa"

"ketela / tumbuh subur kendati pisah kasur"

"gerobak bakso merampok matahari / dalam mangkuk meremas nalar" 

"ada subuh di apotik berdinding kaca" 

Namun, yang menurutku sangat menarik dari buku ini, sebagaimana yang sudah kutulis di Goodreads, "Mas Danto membawa cara tutur baru, diksi-diksinya unik, tidak linier, dan di berbagai puisi, saya butuh banyak waktu untuk mengartikan beberapa lariknya saja." Jika Chairil Anwar punya model berpuisinya sendiri yang membawa pembaruan, bagiku Mas Danto dalam buku "Anatomi April" ini juga punya literer otentiknya sendiri. 

Terakhir, terima kasih Mas Danto sudah menulis "Anatomi April". 

Judul: Anatomi April | Penulis: Bagus Dwi Danto | Ilustrasi: Dodi Irwandi | Koki Buku: Dodo Hartoko | Penyunting: Reza Nufa | Penerbit: Shira Media | Cetakan: Pertama, 2021 | Dimensi: 14,8 x 21 cm | Jumlah halaman: 124 

Senin, 02 Maret 2026

Catatan Buku "The Lost Library" (Misteri Perpustakaan yang Hilang) karya Rebecca Stead dan Wendy Mass

Perpustakaan gratis Martinville. Perpustakaan di antara balai kota dan rumah sejarah. Ada kubah dengan pintu warna biru yang megah. Aku membaca buku ini dengan hitungan cukup cepat, tidak lebih dari tiga hari kupikir dengan berbagai aktivitas kerja, ishoma, dlsb. Bahasanya cukup mudah dipahami, meskipun sense-nya tetap mirip novel terjemahan yang kerasanya seperti ada jarak yang gak kelihatan ketika itu pindah ke bahasa Indonesia. 

Membaca ini cukup menyenangkan, karena aku membayangkan diriku jadi salah satu karakter di dalamnya agar lebih ada sense terlibat, wkwk. Ya, aku merasa memang di usiaku yang sekarang, kita jadi lebih wise memerankan karakter yang mana. Bayangannya cukup jelas terkait tokoh-tokoh di buku ini. Ada semacam metode menggantung tiap bab, untuk menarik pembaca ke bab selanjutnya. Karena ditulis oleh Rebecca Stead dan Wendy Mass, dua orang yang bergantian, tiap babnya dinarasikan oleh masing-masing POV yang berbeda. Kalau manusia dewasa, dia dari sudut pandang kesatu. Selebihnya, lebih ke POV orang ketiga.

Premis buku ini sebenarnya sederhana: Ada anak kelas V SD yang penasaran dengan misteri perpustakaan gratis bernama Martinville yang pernah terbakar 20 tahun lalu dan menimbulkan korban. Perpustakaan ini dijaga oleh kucing comel bernama Mortimer, semacam kucing oranye gitu kalau di kita. Si kucing punya adik bernama Petunia yang jadi korban kebakaran. Perpustakaan ini juga dirawat oleh Al, singkatan dari Assistant Library. Dia jago memasak, dan sering membuatkan masakan untuk pimpinan perpustakaan bernama Ms. Scoggin, yang punya kekasih bernama Mr. Brock. Saat kebakaran tiba, Ms. Scoggin dan Mr. Brock menjadi korban kebakaran. 

Karakter Al unik. Dia gak punya orang tua, namun diketahui passion terbesar dia ada di perpustakaan. Dia pikir dia udah mati karena selalu mengeluhkan dirinya gak bisa terbang atau menghilang layaknya hantu. Al gak bisa seperti Ms. Scoggin dan Mr. Brock, sampai akhirnya di akhir-akhir buku dia menyadari kalau dirinya terjebak terlalu lama di Martiville, sampai 20 tahun pascakebakaran.

Tak dinyana, korban itu melibatkan ayah Evan si Mr. McClelland, yang punya pseudoname HG Higgins. Si ayah ini cukup unik pekerjaannya, jadi dia memilih jadi penulis yang "gak pengen terkenal", karena menjadi terkenal itu merepotkan. Dia juga gak mau ada wawancara, ceramah buku, penandatanganan massal, dlsb. Cukup hening dengan menjadi penulis "underground". Cara ini juga cukup ampuh agar tetap fokus. Kerjanya di ruang bawah tanah. Si ayah juga punya kebiasaan aneh suka nggusak tikus yang dianggap mengganggu ke tempat yang lebih layak. Dia pecinta tikus, itu kenapa dia tak ingin menyakiti tikus dan tak ingin melihat tikus mati dibunuh.

Pas kebakaran itu, ayah Evan jadi anak magang yang kesepian dan gak punya teman. Kebetulan dia juga ada di ruang bawah tanah untuk nata buku-buku yang habis dibaca. Ayah Evan ingin ngasi tahu ke Evan terkait dirinya yang masih merasakan trauma saat Al menolongnya keluar dari asap, kemudian media juga seolah menyalahkannya. Tapi karena ayah Evan di bawah umur, dia gak kena hubungan. Ayah Evan selalu menghindar ketika ditanya soal kebakaran. Namun, Evan dengan bukti-bukti buku terkait cara menulis novel misterius, hingga buku personal yang sampulnya sobek-sobek karena dibaca berulang kali dengan foto Polaroid di dalamnya, membuat Evan menjadi sosok Sherlock Holmes baru. 

Evan menguak misteri itu dengan kawannya bernama Rafe. Karakter Rafe ini sebenarnya pemberani dan rebel, karena ortunya sangat protektif, gak boleh ini itu. Bahkan untuk menyeberang pun, perlu temannya. Dia dan ortunya bikin kesepakatan: setelah di SMP, seluruh aturan yang mengekang akan dibebaskan. Sehingga si Rafe sangat menanti masa-masa "pembebasan" itu. Dan saat itu tiba, Evan mengajak Rafe untuk menguak misteri kebakaran Martiville dengan menaiki sebuah rumah pohon tempat foto Polaroid diambil. Foto ini dia temukan di dalam buku yang ada di Martinville. Setelah penuh perjuangan naik rumah pohon yang dianggap angker itu, ketahuan kalau foto itu adalah foto gurunya, Mr. O'Neal, wkwk, yang tak lain adalah teman ayah Evan di masa lalu. 

Kadang Evan merasa ayahnya, meskipun lahir di area Ville, susah buat sosialisasi dengan lingkungannya sendiri. Sementara ayah Rafe yang pendatang, sudah tinggal 10 tahun, malah dikenal oleh siapa saja. Ini cukup kena di aku sih, haha. Terus juga, si Rafe ini bilang dan yakin, keyakinannya ini ditunjukkan dengan bahasa yang bagiku cukup memukau, semisal, bahkan untuk sampai seratus kematian sekalipun rasa-rasanya ayah Evan gak mungkin jadi pelaku yang membakar perpustakaan. 

Penyebab kebakaran pun aneh. Polisi juga tidak begitu menemukan kepastiannya. Sampai akhirnya, berkat kucing dan para tikus keluarga F yang beratraksi, mereka seolah mau bilang, kalau sebenarnya akibat kebakaran itu karena para tikus yang gak sengaja semacam bawa batang korek api, terus ketika gerak, itu bagian mesiunya tergores ke benda-benda di sekitarnya, dan apesnya dekat dengan buku, sehingga, terbakar deh.  

Kelemahannya, aku ngrasa ketidaksadaran Al itu terlalu dibuat-buat, kek hello? Emang bisa orang halusinasi selama itu? Tinggal sendiri dengan dua hantu yang akhirnya lepas karena mau nonton bioskop? Kan aneh. Terus kadang juga tempo-temponya cukup lambat, dan ada bagian-bagian bab tertentu yang kalau itu dihapus pun gak masalah sih. Misal yang soal kakak kelas Evan yang kakinya jadi agak pincang setelah naik dari rumah pohon. Karena pas baca, karakter ini kek muncul tiba-tiba.

Terakhir, kalau butuh bacaan ringan dan mayan imajinatif. Kamu bisa baca buku ini. Karakter-karakternya juga cukup warm. Banyak kutipan yang menarik juga.  

KUTIPAN:

Awan sirus selalu berada di atas, tidak pernah di bawah. Bagiku, awan itu terlihat seperti bulu, rasanya seperti cokelat panas, dan baunya seperti semprotan serangga. Awan sirus bisa bergerak dengan cepat. (24) 

Mortimer, Evan, Goldie/Sunshine, Al (Assistant Library), Mr O'Neal, Rafe, Edward McClelland, HG Higgins, Ms Scoggin, Mr Brock....

Suara ketukan kibor melayang naik dari tangga. 

Asisten perpustakaan di Perpustakaan Martinville, 

Mr Block paling suka menemukan keberanian dalam buku. (49) 

Ia sudah berkeringat dan telah menghemat waktu tujuh menit. (59) 

Menjadi Pembaca Hebat tidak ada hubungannya dengan membaca buku-buku rumit, atau membaca buku-buku tebal, atau bahkan membaca banyak buku. Menjadi Pembaca Hebat berarti merasakan sesuatu tentang buku. (69) 

Aku tidak kecewa ketika orang lain tidak menyukai buku-buku yang kusukai. (71) 

Pagi ini aku bangun dan bertekad menjadikan hari ini hari yang baik. (90) 

Namun, bukankah "orang tua" adalah sumber kehidupan? Jika hidup adalah garis, yang mengarah ke suatu tempat, bukanlah orangtua adalah titik awalnya? (92) 

Buku tidak akan habis. Buku mendapatkan tenaga dari pembancanya, bukan? Mereka bisa dibaca lagi dan lagi. (94) 

Bagiku, perpustakaan itu selalu terlihat seperti raksasa kotor yang tangannya diikat ke belakang. (95) 

Perluasan besar kedua dari perpustakaan kecil gratis Martinville berbentuk gerobak merah tua yang ditarik dua siswa kelas tiga: Jessica dan Winnie D. (96) 

Menurutmu, apakah ada yang namanya dokter hantu? Bagaimana pula aku bisa memanggilnya? (98) 

Mortimer menyukai Winnie D. Tidak masalah jika anak itu lebih menyukai anjing dan kuda daripada kucing. Mortimer menyukai perpustakaannya. Ia merawatnya dengan baik. (100) 

Setiap kali membaca buku baru, dia membangun ruangan baru di dalam pikirannya. "Saat ini aku memiliki banyak sekali ruangan di sini," katanya, sambil mengetuk-ngetuk bagian di atas telinga kiri, "tetapi selalu ada tempat untuk satu buku lagi." Setelah itu, setiap kali menatap mata cokelatnya yang bersinar, aku membayangkan rumah yang sangat besar dan indah di balik mata tersebut... Aku membangun ruangan demi ruangan dalam pikiranku... Rumah yang kubangun sendiri dengan membaca banyak buku, dengan bantuan Ms. Scoggin, dan bantuan baterai-baterai senter, yang ternyata, seperti yang sudah dijelaskan manajer panti asuhan, harganya cukup mahal. (102) 

Bayangkan ada pembaca yang sedang mencari buku dan hanya menemukan ruang kosong di antara buku lain, seperti gigi ompong akibat dipukul perundung. (125) 

Mereka terus membayangkan setiap hal buruk yang mungkin terjadi. Aturan membuat mereka merasa jauh lebih baik. (135) 

Rafe tidak butuh orang lain mengetahui hal itu. (136) 

Judul: The Lost Library (Misteri Perpustakaan yang Hilang) | Penulis: Rebecca Stead dan Wendy Mass | Editor: Vania Adinda | Penerjemah: Reita Ariyanti | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta |  Cetakan: Kedelapan, Oktober 2025 | Jumlah halaman dan dimensi: 240 hlm, 20 cm

Minggu, 01 Maret 2026

Catatan Buku "Time is More Valuable Than Money: Dampak Transportasi pada Hidup Kita" karya Yoris Sebastian

Aku membaca buku ini ketika waktu sahur. Sebenarnya aku tak begitu bisa tidur nyenyak. Barangkali, aku perlu memprioritaskan tidur nyenyak 8 jam setiap hari sebagaimana yang Yoris praktikkan dalam hidupnya. Buku ini kubaca relatif cepat, kurang lebih dua jam sudah selesai. Mungkin karena bahasanya yang enak diikuti, meskipun informatif, di aku sangat masuk. Apalagi dia ngutip ide wartawan Amerika, Christopher Morley, yang menarik juga, "When You sell a man a book, you don't sell him just twelve ounces of paper and ink and glue -- you sell him a whole new life." Kurasa ini yang diberikan sama buku-buku yang kubaca.

Berkat buku ini, aku jadi paham terkait sejarah transportasi di Indonesia. Dari pas masa Orde Lama, Orde Baru, reformasi, sampai lanjutannya sekarang ini. Premis buku ini sebenarnya sederhana juga, penulis mau menunjukkan kalau waktu itu lebih berharga daripada uang berdasarkan kacamata mode transportasi yang kita gunakan sehari-hari. Hidup di tempat kerja yang jauh dari tempat tinggal itu suatu PR besar, karena gak hanya menyangkut kesehatanmu, tapi juga waktumu. Waktu yang gak bisa diganti, diperbanyak, dan dikembangbiakkan kayak komoditas kapitalisme yang lainnya.

Penulis mencontohkan ada kawannya seorang konsultan yang hidup di kota satelit, sementara kantornya katakanlah di distrik bisnis Jakarta. Pergi-pulang sudah berapa jam, tapi pas mutusin pindah, kualitas hidup jadi berubah. Dia bisa jadi punya banyak waktu sama keluarga. Lalu, karena dekat, juga enak. Praktik-praktik serupa banyak contohnya. Yoris juga ngasi semacam log book yang bisa diisi oleh pembaca terkait alokasi waktu yang bisa digunakan dalam 24 jam.

Namun, ada semacam titik buta juga menurutku, ya, itu masuk akal, tapi masalahnya kupikir lebih kompleks daripada sekedar transportasinya. Tapi juga gimana struktur kapital, modal, kelas sosial, dan finansial bekerja. Untuk buruh yang di bawah UMR itu gak ada pilihan lain. Mungkin Yoris atau kawannya bisa bacot gitu karena secara finansial udah settle, sehingga mereka punya banyak pilihan. Bagaimana dengan kelas sosial lain, kaum pinggiran yang tak punya banyak pilihan? 

Sudahlah, itu bahasan lain, aku tertarik dengan sejarah transportasi yang kita temui sehari-hari. Sebab aku menerimanya secara take it for granted saja, tanpa mempertanyakannya lebih jauh. Yoris ngutip pendapat Buya Hamka, intinya, kalau dulu kita ibadah ke Makkah bisa sampai dua bulan, sekarang berkat teknologi bisa ditempuh selama 9 jam saja. Ini berkat bantuan yang namanya "transportasi". Jadi, transportasi itu bagian dari revolusi sebenarnya. 

Aku jadi punya asumsi, revolusi itu emang cara manusia memanfaatkan waktu. Semakin dia cepat, efektif, dan efisien; maka manusia lebih punya banyak waktu untuk menikmati hidupnya--atau justru lebih sengsara dan teraleniasi? Bukan soal transportasi aja, misalnya juga soal AI. Alat itu benar-benar menggunting waktu boros yang kita gunakan untuk kegiatan yang lebih produktif. Sebagaimana yang kayaknya udah jadi common sense, masyarakat Indonesia itu boros waktu, jamnya pun jam karet.

Yoris di buku ini juga ngulas soal problem kemacetan di Jakarta yang menyebabkan stres. Kemudian didukung sama inovasi transportasi. Di zaman dulu, kita semisal mengenal delman, yang itu ternyata berasal dari bahasa Belanda, dan ditemukan oleh Charles Theodore Deeleman. Dulu kendaraan ini cukup elite, tapi sekarang lebih difungsikan untuk kegiatan yang sifatnya rekreatif. Lanjut dengan sepeda, dari yang rodanya satu, atau model sepeda Baron Karls Davis, sampai sepeda yang kita jumpai sekarang.

Dari sepeda, terus beranjak ke motor. Sebuah inovasi yang salah satunya digerakkan oleh Edward Butler di tahun 1885. Sementara, di Indonesia sendiri, motor pertama itu ada pada tahun 1898. Kalau kamu bayangin itu agak mirip-mirip sama property film jadul di masa dulu. Terus lanjut ke becak yang ditemukan pada tahun 1869 di Jepang. Yoris juga lihat rickshaw pertama kali pas baca Tintin. Nah, problem bencak itu bagiku cukup kompleks, karena dianggap sebagai pekerjaan yang tidak manusiawi. Soekarno juga pernah menghina ini di tulisan scholar Jepang. Di Jakarta, ternyata ada alat transportasi yang bagiku udah punah, macam helicak (helipad + becak).

Di buku lain, aku malah membaca kalau rickshaw itu digeret pakai tangan! Ini terjadi di Kolkata, India. Menariknya, malah pelakunya sendiri merasa pekerjaan ini lebih bermartabat. Gajinya lebih tinggi daripada dia ikut orang disuruh-suruh, sementara di rickshaw, cukup selow sambil tidur-tidur juga gak masalah. Bahkan mereka menyalahkan pemerintah yang gak menyediakan transportasi yang proper buat masyarakat yang dianggap pekerjaannya "tak manusiawi" itu.

Berlanjut, mode transportasi lainnya ada becak motor (bemo) dan oplet. Baca ini, yang kebayang itu filmnya si Doel. Terus juga transportasi modern di era sekarang, Yoris lebih banyak membahas lebih cepat lagi, seperti trem dan kereta api. Tapi gak terlalu bahas teknologi, misal pintu ke mana sajanya Doraemon. Atau baling-baling bambu untuk terbang.

Sementara untuk tranportasi modern di era sekarang, Yoris lebih banyak bahas sistem. Misal untuk mengatasi kemacetan, dia bahas ada perkumpulan nebeng gitu. Juga, lebih ke transportasi umum yang bisa digunakan secara inklusif semacam Transjakarta (TJ). Atau yang lain ada shuttle, Yoris juga membagikan mode di negara lain seperti lyft rideshare service, bicycle sharing system yang biasa kutemukan di UI, city water transportation, jadi macam taksi air gitu, sampai intelligent transportation system (ITS). 

Di bab lainnya, Yoris bahas terkait kemungkinan transportasi di masa depan. Jadi sistemnya lebih terintegrasi gitu, kayak yang dia temukan di Bandara Kualanamu Medan. Aku sempat mau ketinggalan pesawat pas ke sini, wkwk. Dia nawarin semacam very fast transportation macam kereta cepat yang sudah bisa kita nikmati di Kereta Cepat Bandung. Termasuk juga usulan seputar panoramic transportation, atau kereta wisata yang sangat mahal itu. Dan ternyata, Indonesia punya: Kereta Wisata Nusantara, Kereta Wisata Bali, dan Kereta Wisata Toraja. Dari buku ini, aku bermimpi suatu hari bisa menjajal naik Glacier Express dan The Pride of Africa, yang bisa jalan-jalan lihat panorama negeri dongeng di Eropa dan Afrika.

Di akhir bab buku, Yoris nekanin kalau harusnya dengan mencermati transportasi yang kita gunakan, kita bisa menghemat waktu kita untuk hal-hal yang lebih  bermakna dalam hidup kita. Mengutip kata Yoris, "Ukuran penting bagi orang yang satu dengan orang yang lain pasti berbeda. Namun saya coba paparkan beberapa hal yang penting untuk saya pribadi. Dengan mempunyai banyak waktu, sya punya 'extra time' to be HEALTHY, to be HAPPY, and to be WEALTHY. Ya, tiga hal ini penting buat saya. Itulah yang menjadi alasan kenapa saya harus menghindari pemborosan waktu."

Yang intinya: extra time to be healthy, extra time to be happy, and extra time to be wealthy

Mari kita lebih memberi perhatian pada transportasi yang kita gunakan.

Judul: "Time is More Valuable Than Money: Dampak Transportasi pada Hidup Kita" | Penulis: Yoris Sebastian | Editor: Mirna Yulistianti | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta | Cetakan: Pertama, November, 2013 | Jumlah halaman: vii + 148

Jumat, 27 Februari 2026

Catatan Klenik Studies Vol. IX Edisi 26 Februari 2026: "Kanuragan dan Ilmu Hitam"

I. Pembukaan Diskusi

Klenik Studies Vol. IX pada tanggal 26 Februari 2026 mengangkat tema “Kanuragan dan Ilmu Hitam.” Diskusi ini diikuti oleh Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurizky Adhi Hutama, dan Isma Swastiningrum. Forum dibuka dengan tagline Klenik Studies: “membahas klenik dengan cara yang tidak-tidak.”

Tema kali ini berangkat dari pertanyaan tentang bagaimana ilmu kanuragan dicari, dilatih, diwariskan, dan dimanifestasikan. Diskusi bergerak dari pengalaman personal dalam perguruan silat, praktik tenaga dalam, kitab dan mantra, hingga refleksi teoretis tentang sihir perang dan resistensi kolonial. Ilmu kanuragan tidak pernah berdiri hanya sebagai teknik bela diri. Ia selalu bersentuhan dengan spiritualitas, moralitas, ambisi duniawi, hingga struktur sosial.

II. Tubuh, Nafas, dan Progresi Ilmu Kanuragan

Akbar membuka refleksi dari pengalamannya bersentuhan dengan dunia kanuragan. Ia membandingkan konteks Kalimantan dan Jawa. Menurutnya, cerita praktik kanuragan di Kalimantan (Dayak) cenderung lebih sekretif, sementara di Jawa ilmu-ilmu semacam ini lebih sistematis karena keberadaan banyak perguruan.

Ia mengamati progresi yang relatif serupa dalam perguruan kanuragan: dari olah tubuh, olah nafas, dilanjutkan ke tahap mental dan kesadaran. Tenaga dalam disebut memiliki banyak kesamaan dengan tradisi Tiongkok dan India kuno: konsep energi yang disimpan di bawah pusar (dantian), serta paralel dengan kundalini. Dalam konteks Indonesia, pengolahan ini sering dikombinasikan dengan unsur lokal dan Islam, termasuk penggunaan rajah berbahasa Arab. Menariknya, meskipun simbol berubah, klaim kesaktian tetap dianggap konstan.

Sulkhan mengonfirmasi pola serupa dari pengalamannya di lingkungan perguruan silat Jawa Timur. Fase awal menitikberatkan pada fisik dan teknik pertempuran. Tenaga dalam baru diajarkan kemudian, lengkap dengan kitab dan mantra yang merupakan campuran Jawa-Islam—termasuk konsep papat limo pancer dan kode-kode Arab. Tubuh menjadi pintu masuk menuju spiritualitas. Fisik bukan lawan dari metafisik, melainkan fondasi menuju tahap berikutnya.

III. Energi, Manifestasi, dan Ambisi Duniawi

Diskusi beralih pada fungsi dan motivasi pencarian ilmu. Sulkhan menyebut bahwa pada fase awal belajar kanuragan, dorongan utama adalah mencari kekuatan. Ketika kitab dan amalan mulai dikuasai, kekuatan itu dipercaya dapat dimanfaatkan untuk: pengobatan, meningkatkan wibawa, hingga mendekati perempuan.

Ia bahkan menyebut pengalaman empiris di mana 8 dari 10 target perempuan berhasil didekati oleh praktisi yang dianggap memiliki kanuragan, meski secara fisik tidak terlalu menonjol. Di sini, ilmu berfungsi sebagai kapital simbolik dalam pergaulan.

Praktik lain yang muncul adalah berburu keris atau jimat untuk melacak sejarah personal—menghubungkan diri dengan figur seperti Jaka Tingkir. Kanuragan menjadi medium untuk membangun narasi identitas dan otoritas sosial.

Akbar menambahkan konsep “krah” (energi) yang pernah dijelaskan gurunya. Ketika energi terbuka, manifestasinya bisa beragam dan memang bisa jadi kenyataan—dari memikat lawan jenis hingga efek destruktif. Ia memberi contoh ekstrem: beras yang dimakan ayam hingga mati sebagai bentuk manifestasi energi terbuka. Ia bisa diarahkan pada pengendalian diri, tetapi juga pada ambisi duniawi.

IV. Rajah, Disiplin Moral, dan Paralel Asia Tenggara

Isma lalu mengaitkan diskusi rajah dengan praktik tato sakral Thailand, yaitu Sak Yant. Sak Yant adalah tato sakral berisi mantra Pali, simbol geometris (yantra), serta figur seperti harimau, Hanuman, atau Garuda. Ia biasanya ditato oleh biksu atau ajarn (guru ritual). Fungsinya meliputi: perlindungan tubuh, penambah karisma dan wibawa, hingga kekuatan kebal.

Namun, kekuatan ini tidak gratis. Pemakai harus menjaga sila tertentu, paralel dengan Five Precepts Buddhis: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berbohong, tidak mabuk. Beberapa ajaran menambahkan pantangan khusus. Jika dilanggar, kekuatan dipercaya melemah. Praktik ini paralel dengan puasa mutih, laku tapa, serta pantangan sebelum menerima ilmu dalam kanuragan, di mana kekuatan selalu mensyaratkan disiplin moral.

Isma juga membahas ke praktik ilmu hitam yang paling populer di Indonesia: santet. Dalam narasi populer, santet dipercaya bekerja melalui: Media benda (paku, kaca, rambut, foto); Perantara roh atau jin; Ritual malam hari; Peran dukun. Korban sering dilaporkan mengalami sakit misterius, mengeluarkan benda dari tubuh, gangguan mental, atau nasib buruk bertubi-tubi. Secara antropologis, santet kerap muncul dalam konteks konflik ekonomi, kecemburuan sosial, dan rivalitas politik lokal. 

V. War Magic, Agama Prajurit, dan Politik Perlawanan

Untuk memperluas horizon teoretis, Isma merujuk pada buku War Magic: Religion, Sorcery, and Performance suntingan Douglas S. Farrer. Buku ini mengkaji “war magic” dan “warrior religion” secara antropologis—yakni bagaimana sihir dan ritual dipakai dalam konteks kekerasan, pertahanan, konflik sosial, dan resistensi kolonial.

Beberapa contoh kasus dalam buku tersebut antara lain: (a) Tangki war magic di Singapura, (b) Inisiasi ritual Jawa dan konsep invulnerabilitas, (c) Black magic di Sumatra, (d) Ritual dan keyakinan dalam gerakan Tamil Tigers, (e) Shamanisme di Venezuela, (f) Revitalisasi spiritual Chamorro sebagai resistensi kolonial, (g) Buddhisme Tantra dan perang defensif di India.

Buku ini tidak hanya bertanya apa makna sihir, tetapi apa yang dilakukan sihir dalam kehidupan sosial: bagaimana ia menciptakan keberanian, legitimasi, solidaritas, teror, bahkan melawan kolonialisme.

Menanggapi Isma, Akbar kemudian memperluas pembahasan pada dimensi historis dan politis. Penggunaan kata-kata suci sebagai medium kekuatan radial mengingatkannya pada tesis Ian Wilson dalam buku Politik Tenaga Dalam: Praktik Pencak Silat di Jawa Barat.

Menurut pembacaan tersebut, tenaga dalam tidak hanya fenomena spiritual, tetapi juga terkait gerakan sosial dan perlawanan kolonial. Dari bela diri fisik, praktik ini berkembang menjadi medan spiritual perlawanan. Spiritualitas menjadi strategi menghadapi dominasi, bukan sekadar latihan batin.

VI. Sensitivitas, Visualisasi, dan Interaksi dengan “Alam Sebelah”

Nurizky mengaku tidak mengikuti perguruan formal. Praktik yang ia ceritakan lebih berbasis visualisasi dan fokus mental. Dalam konteks menarik lawan jenis, ia menggambarkan proses memfokuskan pikiran hingga sosok yang ditargetkan “terngiang-ngiang,” bahkan mengirimkan imajinasi makhluk tertentu agar respons meningkat. Di sini, kekuatan tidak dipahami sebagai mantra formal, melainkan sebagai intensifikasi konsentrasi dan proyeksi mental.

Pengalaman lain muncul dalam konteks kesurupan. Ia membayangkan menarik sesuatu dari tubuh orang yang kesurupan, mengajak entitas berdialog, sampai makhluk halus tersebut keluar. Atau pengalaman mengeluarkan gangguan rumah yang singup saat dirinya menjalani KKN. Nurizky lalu membangun semacam “kubah energi” yang diperluas bersama teman-teman untuk mendorong gangguan keluar dari lokasi rumah. Ia menyebut sensasi medan energi yang padat namun tak terlihat.

Ia juga mengisahkan pengalaman intuisi atau “warning”: dorongan untuk menghindari jalan tertentu, pulang lebih dulu sebelum acara di klenteng, hingga visualisasi orang-orang yang memusuhinya sedang berkumpul. Feeling semacam ini dipahaminya sebagai sensitivitas tertentu, meski ia sendiri menyebutnya dengan nada percaya-tidak-percaya.

Dalam konteks personal, Nurizky mengakui pernah memvisualisasikan seseorang yang menurutnya sudah bertindak menyakiti orang lain. Ia menyebut nama dan tanggal, membentuk entitas seperti dementor dalam Harry Potter—bukan untuk membunuh, tetapi untuk menakut-nakuti. Ada ambivalensi antara ingin membalas, tetapi tetap membatasi. Motifnya lebih pada ingin diingat, punya andil dalam kehidupan orang tersebut. Visualisasi kembali menjadi teknik kunci—bukan sekadar imajinasi liar, tetapi intensifikasi emosi menjadi bentuk simbolik yang diarahkan.

Akbar menanggapi bahwa interaksi dengan “alam sebelah” memang mensyaratkan sensitivitas. Ada orang yang terbentuk secara natural, ada pula yang dilatih melalui semedi, puasa mutih, dan pantangan. Visualisasi menjadi tahap awal sebelum energi diarahkan ke bentuk tertentu.

VII. Keturunan, Transfer Energi, dan Ikatan Guru–Murid

Pembahasan kemudian bergeser pada aspek keturunan dan pewarisan energi. Nurizky menyebut adanya pantangan keluarga seperti larangan naik Gunung Lawu, serta narasi bahwa dari sekian cucu, “turun” kekuatan tertentu kepadanya. Ia mempertanyakan mengapa dirinya yang menerima, dan mengakui dampaknya pada ketidakstabilan mental.

Ia juga menyebut penggunaan benda simbolik sebagai pelindung, misalnya gundam yang diletakkan untuk “menjaga” ruangan. Dalam tradisi lain, ia menyebut simbol-simbol tertentu dalam cabang ilmu injilogi (misalnya simbol Mikael) yang digunakan untuk perlindungan atau menangkal ilmu hitam. Di sini, simbol menjadi medium koneksi.

Akbar memperluas bahwa pewarisan tidak selalu berbasis darah. Dalam praktik tenaga dalam di Indonesia, ada periode tertentu ketika murid mewarisi energi dari guru—semacam distabilisasi energi agar dapat digunakan. Pola ini, menurutnya, juga ditemukan dalam tradisi Tiongkok kuno: transfer pola energi dari guru ke murid.

Dengan demikian, garis transmisi bisa melalui keluarga atau melalui relasi pedagogis. Energi membangun jejaring sosial: ada keterikatan sesama pengguna, membentuk komunitas tak kasat mata.

VIII. Imajinasi, Keyakinan, dan Tubuh sebagai Medium

Sulkhan merefleksikan pengalaman yang berhubungan erat dengan imajinasi dan keyakinan. Dalam perguruan, keyakinan dianggap krusial. Ia memberi contoh memecahkan bata dengan kepala, atau menahan pukulan tanpa rasa sakit.

Kanuragan dipahami sebagai menarik tenaga alam melalui pernafasan, lalu menjadikan tubuh sebagai medium entitas tertentu. Dalam beberapa praktik, visualisasi mengambil bentuk hewan—mode kera atau gorila—meski ia menekankan bahwa ini dipahami sebagai energi alam, bukan jin. Namun antarperguruan berbeda-beda pendekatannya.

Visualisasi juga digunakan dalam penyembuhan: membayangkan penyakit diangkat keluar dari tubuh. Bahkan dalam konteks menarik lawan jenis, imajinasi diarahkan agar target jatuh cinta. Meski begitu, ia mengakui tidak semua orang berhasil memanifestasikan bentuk tertentu—misalnya ia tidak pernah berhasil masuk “mode monyet” seperti teman-temannya.

Akbar menegaskan bahwa meyakini sesuatu adalah proses universal. Energi dianggap mengelilingi tubuh; tahap awal adalah melatih sensitivitas dan visualisasi, lalu mengontrol arah dan bentuknya. Ia melihat Nurizky dan Sulkhan berada pada level sensitivitas tertentu. Pada bagian ini, diskusi memperlihatkan bahwa kanuragan bukan sekadar mantra, melainkan latihan persepsi dan sugesti yang terinternalisasi pada tubuh.

Sulkhan dan Akbar kemudian berbagi pengalaman yang mereka sebut sebagai “games” perguruan. Sulkhan mengisahkan telur ayam Jawa yang tidak bisa dipecahkan meski dicengkeram sekuat tenaga setelah diberi “kanuragan.”

Akbar menyebut permainan memindahkan keseleo ke tubuh orang sehat atau menjatuhkan kelapa dari pohon sebagai bagian dari latihan. Demonstrasi semacam ini berfungsi sebagai pembuktian kolektif dan penguat keyakinan anggota.

IX. Maskulinitas, Kuasa, dan Dimensi Gender

Isma mengangkat dimensi gender dalam kanuragan dan persilatan. Ia melihat praktik ini maskulin dan patriarkis: berkaitan dengan kejantanan, kekuasaan lokal, otoritas informal, figur jawara, hingga penaklukan perempuan.

Sebagai pembanding, ia menyebut figur kuyang dalam folklor Kalimantan—makhluk yang diasosiasikan dengan kecantikan dan keawetmudaan, namun mengambil korban ibu hamil yang mengandung seorang anak untuk dijadikan tumbal.

Nurizky membuka dengan kisah tentang perkuyangan sebagai turunan. Ia menyebut ada orang yang tidak sadar bahwa dirinya keturunan kuyang, lalu menolak ilmu tersebut. Penolakan itu justru menciptakan ketegangan antara “ilmu” dan tubuhnya sendiri. Ada gambaran garis di leher, simbol bahwa ilmu tersebut tidak benar-benar lepas.

Akbar menanggapi dengan menarik paralel pada figur seperti Elizabeth Báthory yang dalam legenda dikaitkan dengan obsesi kecantikan dan keabadian. Ia melihat bahwa jika kanuragan maskulin cenderung mengejar power dan dominasi, maka praktik yang diasosiasikan dengan feminin sering berkisar pada kecantikan dan keawetmudaan.

Refleksi pun muncul: dari tujuan yang dikejar suatu praktik spiritual, kita bisa membaca nilai apa yang dianggap penting oleh gender dan masyarakat tertentu.

Diskusi kembali ke soal gender. Akbar mengakui jejak patriarki di perguruan kanuragan masih kuat. Di tempatnya tidak ada perempuan. Di sisi lain, Sulkhan menyebut di perguruannya ada perempuan, tetapi sangat minim dan perempuan yang mengikuti cenderung berkarakter maskulin. Latihannya semi-militer: push-up dengan kepalan tangan, fisik keras, disiplin tinggi. Latihan ini memberi rasa percaya diri sebagai laki-laki, seperti disiplin bertarung, disegani, tidak dibully

Menariknya, Sulkhan berefleksi, praktisi kanuragan tidak benar-benar merasa sedang “meninggalkan dunia.” Justru merasa sedang meraih dunia: meraih posisi, pengakuan, dan identitas. Akbar lalu menanggapi, mungkin yang dikejar bukan hanya kekuatan, tetapi identitas dan teman: baik secara spiritual maupun sosial.

X. Power, Pantangan, dan Paradoks Keduniawian

Akbar menarik kesimpulan awal: pencarian kanuragan selalu berkaitan dengan power. Namun untuk mengejar power itu, diperlukan pantangan, pengorbanan, dan disiplin yang justru menuntut menjauh dari keduniawian. Di sini muncul paradoks: Puasa dan laku prihatin untuk tidak terikat dunia, tetapi ilmu dipakai untuk menarik lawan jenis, menaikkan status, atau mengejar otoritas

Sulkhan menambahkan bahwa mantra seperti sedulur papat limo pancer berfungsi sebagai “password” untuk mengakses energi alam. Ia bahkan membandingkannya dengan segel tangan dalam Naruto—kode tertentu untuk mengeluarkan kekuatan pada level tertentu.

Namun di Jawa Timur, praktik pencak silat seperti PSHT, Pagar Nusa, dan Merpati Putih bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga membentuk fraksi sosial. Silat menjadi identitas, mitologi diri, sekaligus alat proteksi dari bullying. Ada rasa aman karena orang lain berpikir dua kali untuk berhadapan. Belajar kanuragan yang dulu dibingkai sebagai perlawanan kolonial, dalam konteks kontemporer bisa berubah menjadi produksi identitas gagah, mencari musuh agar kepahlawanan tetap relevan.

XI. Skeptisisme, Ilmu yang Asli, dan Batas Manusia

Sulkhan mulai mempertanyakan konsistensi praktik etis dalam kanuragan. Ada doktrin bahwa anggota level tertentu tidak boleh banyak dosa, tidak maksiat, tidak minum. Namun ia melihat banyak yang melanggar tetapi tetap mengklaim sakti.

Ia menyaksikan praktik yang terasa performatif. Narasi spiritual yang ternyata juga bisa ditemukan di Google. Ini memunculkan keraguan: Apakah kekuatan itu nyata atau sekadar performa sosial?

Isma menegaskan kecenderungan semakin tinggi ilmunya, semakin tidak performatif. Akbar mengonfirmasi, praktisi yang punya kekuatan dalam tidak arogan. Ia merefleksikan perjalanannya sendiri—awal yang patriarkis dan penuh ambisi, tetapi seiring mastery, motivasi berubah menjadi pengendalian diri dan perbaikan diri. Pada tahap lebih tinggi, orientasi bisa bergeser menuju realitas yang lebih tinggi, yaitu menuju Tuhan, dengan bahasa masing-masing tradisi. Namun, tetap ada risiko jatuh ke duniawi.

Nurizky mengakui pernah merasa punya kekuatan lebih, pernah meremehkan orang lain karena merasa lebih “tebal.” Tetapi pengalaman membantu orang justru memperlihatkan keterbatasan. Energi cepat habis. Membantu beberapa orang saja sudah menguras fisik; tarot pun hanya bisa mendalam pada dua-tiga orang sebelum tubuh terdampak.

Dia juga memiliki pengalaman sensitivitas terhadap kematian: feeling kuat sebelum kakak angkatnya meninggal, kakak angkatnya selama tujuh hari berturut-turut meminta ditemani. Lalu juga ada insiden menyenggol guci yang terasa sebagai tanda. Sensitivitas terkadang menurutnya bukan selalu anugerah; tapi membawa kekhawatiran dan beban.

Akbar kembali pada paradoks: semakin tinggi ilmu, justru semakin biasa hidupnya. Guru-guru tenaga dalam hidup normal, tidak performatif. Bahkan ada anggapan semakin tinggi ilmu, semakin jauh dari kekayaan sebagaimana yang pernah dikatakan gurunya Sulkhan. Dukun sakti bisa membuat klien kaya, tetapi dirinya sendiri miskin. Realitas ini memunculkan ironi: menguasai sesuatu yang melampaui manusia, tetapi hidup tetap biasa, bahkan sederhana.

Pertanyaan reflektif dari Akbar juga muncul: Mengapa orang memilih jalan pantangan dan laku berat untuk menyelesaikan masalah? Mengapa tidak langsung menggunakan kekerasan fisik jika tujuan akhirnya sama? Apa motif terdalamnya? Apakah kontrol, identitas, pengakuan, atau transendensi?

Sulkhan mengakui bahwa masa remaja dengan hormon tinggi mendorong pencarian kekuatan yang melampaui diri. Kini ia melihat kanuragan sebagai salah satu cara produksi kekuatan, seperti produksi pengetahuan dalam dunia akademik.

XII. Penutup dan Resonansi Diskusi

Dari seluruh diskusi, muncul beberapa simpul refleksi:

Pertama, kanuragan selalu berangkat dari tubuh, tetapi tidak pernah berhenti pada tubuh semata. Ia tidak bisa dipahami hanya sebagai praktik mistik yang bersifat individual, melainkan sebagai fenomena sosial yang menghubungkan tubuh dengan moralitas, kekuasaan, identitas, dan sejarah.

Energi atau kekuatan dalam kanuragan bersifat ambivalen: dapat diarahkan untuk pengendalian diri, tetapi juga untuk ambisi duniawi. Rajah, mantra, dan tato sakral memperlihatkan bahwa kekuatan selalu mensyaratkan disiplin moral. Dalam konteks sejarah, praktik seperti tenaga dalam dan war magic bahkan dapat menjadi bagian dari resistensi politik.

Kedua, sensitivitas dan kemampuan visualisasi menjadi fondasi dalam berinteraksi dengan dunia tak kasat mata. Pewarisan energi dapat terjadi melalui garis keturunan maupun relasi guru–murid. Di sini, imajinasi dan keyakinan memediasi tubuh sebagai medium kekuatan.

Ketiga, kanuragan dan ilmu supranatural menyingkap struktur gender dan relasi kuasa yang kuat. Ilmu menjadi instrumen power—baik dalam ranah sosial, gender, maupun politik. Dimensi maskulinitas dan kecantikan turut memperlihatkan bahwa praktik-praktik ini bekerja pada banyak lapisan sekaligus—psikologis, simbolik, politis, dan kultural.

Di dalamnya terdapat pantangan serta paradoks antara asketisme dan ambisi duniawi. Ketegangan antara performativitas dan kedalaman yang tersembunyi juga menunjukkan tingkat kematangan (mastery) dalam kanuragan. Pada akhirnya, perjalanan spiritual ini dapat bermuara pada pengendalian diri—atau justru membuat seseorang tetap terjebak dalam hasrat duniawi. 

Edisi Vol. IX Klenik Studies ini tidak menyimpulkan apakah ilmu itu benar atau tidak. Yang jelas, ia nyata sebagai pengalaman sosial, karena membentuk identitas, relasi kuasa, dan cara manusia memahami keterbatasannya sendiri.

Vol. IX juga tidak berhenti pada glorifikasi kekuatan, tetapi membuka pertanyaan yang lebih dalam: Apa yang sebenarnya dicari manusia ketika mengejar kesaktian? Kanuragan dan ilmu hitam sebagai praktik, tetapi juga sebagai cermin nilai, hasrat, dan struktur sosial yang lebih luas.

Di ujung diskusi, obrolan beralih ringan pada kemungkinan tema berikutnya: UFO, banaspati, atau fenomena lain. Pertemuan ditutup dengan rencana: malam Jumat Kliwon depan, yang jatuh pada Kamis, 2 April 2026, akan membahas Unidentified Flying Object (UFO).

Sabtu, 21 Februari 2026

Catatan Buku "Kokokan Mencari Arumbawangi" karya Cyntha Hariadi

Setelah membaca buku ini, aku kepikiran satu hal, "Jika seluruh doa petani ada pada tanah-tanah yang digarapnya, maka seluruh doa penulis ada di dalam kata-kata yang dia tulis."

Kamu percaya gak, seperti konsep jodoh dalam pasangan, buku itu juga jodoh-jodohan sama pembaca. Ada yang cocok, ada yang tidak cocok. Dan bagiku, aku berjodoh dengan buku Cyntha Hariadi yang berjudul "Kokokan Mencari Arumbawangi" ini. Aku menyelesaikannya dengan kekuatan super cepat, bahkan dengan tebal 337 hlm., bisa aku selesaikan selama dua hari saat aku main ke Lembang dan Subang! Membacanya seperti mengingatkan aku pada buku-buku yang aku jadikan jodoh lainnya, seperti serial petualangan Narnia karya C. S. Lewis. Energinya sama, anak-anak, dan ketahuan juga dari buku ini jika Cyntha menyukai buku-buku karangan JK Rowling, Hans Christian Andersen, dan sebangsanya. 

Ini buku keempat Cyntha Hariadi yang kubaca. Aku mengagumi caranya menulis dan bercerita, sekaligus sudut pandang penceritaan yang dia pilih. Anak-anak yang masih murni, belum dicemari soal konflik kepentingan orang-orang dewasa atas tanah, pendapatan, ekonomi, dlsb. Seperti di buku ini, rasanya begitu karib: sawah, capung, pohon kelapa, cakrawala, petualangan ke tempat-tempat liminal. Dan, yang paling menggugahku, bagaimana cara menghargai alam lebih baik. Bahkan sekalipun sendiri, saksi-saksi binatang dan tumbuhan melalui narasinya masih bisa tersampaikan.

Di Lembah Dewata Lembang
Secara sederhana, buku ini berkisah tentang seorang ibu yang hidup bersama dua anaknya, cowok dan cewek, bernama Kakaputu dan Arumbawangi. Adiknya, si Arum, ini tidak jelas orangtuanya. Ia dikirim oleh burung kokokan saat Nanama ingin anak perempuan, sehingga Kakaputu meningkatkan kepercayaan dirinya sebagai manusia ketika dia menjadi seorang kakak. Di sisi lain, Nanamama menghadapi perlawanan dari seluruh masyarakat di kampung karena tak mau menjual sawah sumber kehidupannya kepada pihak hotel. Pihak hotel ini awalnya dikelola oleh seorang pria kaya, sibuk, dan necis bernama Pak Rudi. Namun, istrinya meninggal, dan dia hidup bersama anak laki-laki satu-satunya bernama Jojo. Namun, karena sebuah kecelakaan, Jojo meninggal dan arwahnya bertransformasi menjadi pipit haji.

Nama Arum juga mengingatkanku pada diri sendiri. Dia sering dirisak oleh teman-teman bermainnya, terutama dengan Si Kembar, cucu Pak Wawatua, dan tiga anaknya yang meskipun dewasa tetap menyusahkan. Aku tak membayangkan jadi Nanamama. Dia meninggal bukan karena sakit, tapi karena seluruh kampung memusuhinya. Nanamama berpesan agar dikuburkan di tanah dekat rumah, dekat dengan tumbuhan pandan dan sereh, bukan dibakar lalu abunya dilarung berdasarkan adat di Bali. 

Aku suka di buku ini banyak ilustrasinya yang lucu-lucu, saat anak-anak ini sedang bermain di sawah, menerbangkan layangan, naik pohon kelapa, hingga permainan khas Bali yang entah sekarang masih dimainkan atau tidak. Imajinasiku begitu hidup di buku ini. Gambar dan visualnya sangat jelas, mirip film, yang sangat bisa aku nikmati. Anak-anaknya juga sangat bisa kubayangkan, dengan diriku sendiri menjadi Nanamama, haha. Aku sengaja mengajak diriku sendiri ke visual cerita agar konteksnya lebih bisa kurasakan. 

Dalam buku ini, Cyntha juga mengatakan, "Tanah yang tak digarap, tak akan punya nyawa. Seperti jiwa kita, kalau tidak pernah sakit, tak akan jadi kuat." Kata Nanamama pada Arumbawangi, saat Arum lagi down-down-nya. Kalimat ini juga yang berasa di aku saat aku lagi jatuh terkilir kaki ketika menginap di sebuah vila di Lembang. Membaca kalimat ini membuatku kuat lagi.

Judul: Kokokan Mencari Arumbawangi | Penulis: Cyntha Hariadi | Editor: Mirna Yulistianti | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta | Cetakan: Ketiga, Maret 2025 | Jumlah halaman: x + 337 hlm

Jumat, 20 Februari 2026

Catatan Buku "Tiga Dalam Kayu" karya Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie


Emosiku setelah membaca buku ini, jujur: aku ingin membuangnya dan tak ingin kubaca lagi. Alasannya, meskipun buku ini bagus secara isu, tema, dan pesan; tapi disampaikan dengan cara yang membuat bingung pembaca. Dari komentar yang kudapat di Goodreads juga, banyak yang merasa bodoh dan otaknya tak sampai ketika membaca buku ini. Pembaca mengalami fenomena reading slump, di mana kamu kehilangan minat untuk membacanya sampai akhir. Berisiko DNF, meskipun lagi-lagi, aku lulus, aku membacanya sampai akhir. 

Sebetulnya aku tak masalah dengan narasi gore-nya, hanya aku bermalasah dengan logika nulis yang membingungkan dan rentan membuat orang tersesat. Sepertinya ini salah satu buku Ziggy yang salah kuambil. Dua buku Ziggy sebelumnya yang kubaca, tentang kisah Emina dan negeri di bawah laut, kupikir itu enak-enak saja, tapi di buku ini tidak. Ya, mungkin aku membaca buku Ziggy dengan urutan yang salah. 

Buku ini terdiri dari 11 bab, di mana setiap babnya diberi judul Buku 1, 2, 3, dst, kemudian disusul 7 bab lain semacam enigma dari bahasa Rusia, alih-alih itu gaya-gayaan penulis edgy yang ingin tampil "berbeda". Salah seorang pengguna Goodreads juga sudah dengan baik menuliskan arti "Myla", "Pid Oblachkom", hingga "Patshok Spivat" itu, yang dari bunyinya saja sudah mirip dengan mantra sihirnya Harry Potter.

Namun, yang paling menggugahku dari buku ini adalah (setelah aku menghujatnya di paragraf awal), aku tersadar jika pengalaman perempuan memang sesedih, setragis, semenyakitkan, sesakit, dan serapuh itu. Orang selalu ingin membuangnya, menyampahkannya, karena sulit dipahami, dan dengan dalih demi kebaikan. Ziggy barangkali menangkap semangat yang sangat mentah (raw) ini terkait berbagai ketidakadilan yang dialami oleh perempuan, dengan tokoh-tokohnya yang kebanyakan dari sudut pandang penceritaan kriminal.

Hanya beberapa cerita saja yang menurutku berkesan dari 18 bab kumpulan cerpen, ya, aku lebih suka menyebutnya kumpulan cerpen daripada novel itu:

Pertama, Buku 1, tentang Petrus di masa Orba dulu. Bagaimana orang-orang ditembaki kemudian mayatnya dikarungi goni, dibuang ke tempat-tempat umum seperti pasar hingga di depan rumah. Yang menarik, yang bercerita adalah anak-anak. Bahkan, di sini Ziggy dengan berani memakai tokoh anak-anak sebagai pelaku pembunuhan teman-temannya sendiri. Di sini, aku melihat keberanian Ziggy untuk keluar dari pakem umum bahwa anak-anak itu polos, ternyata tidak. Dia juga tak memberikan gender yang jelas pada tokoh-tokohnya, bisa jadi dia perempuan, bisa jadi juga laki-laki.

Kedua, Buku 6, terkait keluarga yang nonton bioskop, tapi anak terakhir perempuannya tidak suka. Si ibu juga tak suka nonton bioskop, tapi karena ia istri yang baik, dia menemani suaminya yang suka nonton bioskop. Si ibu bercerita pada anak perempuannya, jika di situ ada perempuan gila yang dihamili oleh pria-pria belang yang sering nongkrong di bioskop, saat perempuan gila ini mengambil bunga soka. Aku tak tahu, sepertinya Ziggy suka bunga soka, karena nama bunga ini disebut berkali-kali.

Ketiga, Buku 4, cerita Nyonya Van Wijk dan suaminya yang sama-sama mati karena racun si Nyonya. Bagaimana dia menyukai kue pancong, juga menghadiahkan seluruh kekayaan pada seorang anak perempuan yang berpakaian beludru. 

Berikutnya barangkali sekilas terkait seorang kakek yang tidak ingin menyakiti ikan tapi punya istri yang jago masak ikan, kisah Maria asli dan Maria lain yang jadi korban kejahatan, seorang ibu yang hobi teaternya tak diwadahi tapi masih menerima-menerima saja, seorang adik yang aneh, Arkeolog Sushi, seorang bapak yang membumikan istri, anak, dan cucunya di satu peti sampai mayatnya busuk. Tapi aparat militer malah seakan-akan membebaskannya, dengan dalih "demi kebaikan". 

Dan jujur, aku tak mengerti dengan kisah perempuan hantu di perpustakaan yang dibuat khusus untuk menyimpan buku-buku orang mati itu. Ceritanya belibet dan tidak clear. Atau soal pembunuhan yang dilakukan perempuan dengan piano mahalnya itu juga cukup sulit dipahami alurnya. Aku yakin Ziggy cukup sadar ceritanya ini tak semua pembaca akan paham, tapi dia tetap memilihnya.

Tambahan, judul "Tiga Dalam Kayu" ini dari interpretasi suka-sukaku, diambil dari tiga generasi perempuan: nenek, ibu, anak, (ada juga yang cucu) terkait kehidupan mereka di sepanjang banyak bab. Atau kisah di bab-bab terakhir terkait, seorang laki-laki yang menguburkan istri, anak, sekaligus cucunya sendiri di dalam peti. Terakhir, kalau kamu mau baca buku-buku Ziggy, plis, jangan mulai dari buku ini. Sekian dan terima kasih.

Judul: Tiga Dalam Kayu | Penulis: Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie | Editor: Teguh Afandi | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta | Cetakan: Ketujuh, Februari 2025 | Tahun terbit: 2022 | Jumlah Halaman dan Dimensi: vi + 162 hlm, 13,5 x 20 cm