I. PEMBUKAAN:
Klenik Studies untuk edisi UFO kami tunda karena narasumber
berhalangan. Sebagai gantinya, Klenik Studies Vol. X Edisi Kamis, 9 April 2026
ini mengulas tema “Bunuh Diri: Antara Harapan Sosial dan Otonomi Tubuh”. Pertemuan
ini dihadiri oleh enam orang: Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurul
Diva Kautsar, Nurizky Adhi Hutama, Jevi Adhi Nugraha, Dwi Oktalina Lestari, dan
dimoderatori oleh Isma Swastiningrum.
Pembahasan dalam diskusi ini sama sekali tidak hendak
menyalahkan kenapa orang memilih bunuh diri, tapi memahami dan, jika perlu,
menghormati keputusan orang lain atas otonomi tubuhnya. Bahasan ini
terinspirasi juga dari tulisan “Supporting
the Suicidal No Matter What”. Tulisan ini membongkar kecenderungan
ilusi/fantasi kita tentang orang lain, bahwa dia harus kuat hidup, begini dan
begitu. Seolah kita bisa mengontrol nasib/karakter orang. Dan sebagian besar,
kasus bunuh diri ini jadi hantu. Selain kontrol sosial atau merujuk pada
kondisi kejiwaan tertentu, bahasan ini menarik untuk digali lebih lanjut.
II. BUNUH DIRI, NOVEL, DAN TINDAKAN POLITIS
Isma membuka fenomena bunuh diri dengan seri buku
kontemporer saat ini yang lekat dengan tema. Seperti buku Seporsi Mie Ayam
Sebelum Mati atau buku serupa lain, misalnya , want to die but i want to
eat tteokbokki karya penulis Korea, Baek Se Hee Jakkanim. Buku ini
tentang upaya melawan depresi secara berkepanjangan. Meskipun yang terakhir ini
cukup tragis aku baca sekilas di internet. Hidup emang segelap itu kadang ya,
jadi buku-buku pun memilih demikian. Memilih bunuh diri, tapi sebelum
bunuh diri, makan dulu. Bahkan makanan kesukaanmu bisa menyelamatkan dirimu di
fase terendah hidup, ketika kamu ingin mati saja. Bahkan, buku Sulkhan berjudul
Kronik Pembunuhan Selma yang menghadirkan karakter yang bunuh diri.
Sulkhan menjelaskan, di tahun-tahun gelap masa pandemi, dia
mengaku punya obsesi dengan orang bunuh diri. Ini tak lepas dari pergaulannya
dengan kawan-kawan di tempat dia kuliah dulu (Kajian Budaya dan Media/KBM UGM).
Menurutnya, ada semacam heroisme yang berkaitan dengan kebuntuan ideologis,
terutama yang dialami berbagai pemikir Marxis yang cukup heroik. Namun, di sisi
lain, mereka juga putus asa dan penuh kepalsuan melalui pemolesan citra
masing-masing.
Di dalam novelnya, Sulkhan mencoba memahami kenapa seseorang
bunuh diri? Dia juga melakukan riset ke embung, lalu dipotret lokasinya. Dia
merasa, bunuh diri sebagai sesuatu yang romantik, “Ada perasaan seperti itu,”
katanya.
Sulkhan juga meluangkan waktu untuk membaca novel dan
menonton film tentang bunuh diri. Semisal film “Taste of Cherry” (1997) karya
sutradara Abbas Kiarostami, dan “Maborosi” (1995) karya Hirokazu Koreeda. Dari
film yang ditontonnya, bahkan tidak diceritakan alasan kenapa karakter bunuh
diri.
Tak hanya di novel, bunuh diri juga bisa bermakna politis.
Isma mencontohkan seperti yang dialami Aaron Bushnell, saat melakukan aksi
protes dengan membakar dirinya sendiri di depan Kedutaan Israel di Washington
DC, Amerika Serikat, pada Minggu (25/02/2024) lalu. "Bebaskan
Palestina", teriaknya. Aaron Bushnell, 25 tahun, adalah tentara
Angkatan Udara AS. Dia dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis setelah
pasukan Dinas Rahasia (Secret Service) AS memadamkan api di tubuhnya.
Sebelum melakukan aksi yang disebutnya sebagai tindakan protes ekstrem,
Bushnell mengatakan bahwa dirinya “tidak akan lagi terlibat dalam genosida”.
Lebih lama dari Bushnell, tanggal 10 Desember 2011, Sondang
Hutagalung meninggal dengan membakar diri. Film berjudul "A Single
Park" bercerita tentang kehidupan dan perjuangan seorang buruh Korea
bernama Jeon Tae-Il. Dia meninggal 11-12 sama Sondang, mati dengan membakar
diri. Umurnya pun mereka sama-sama muda. Yang membedakan, setelah Jeon bakar
diri, protes di Korea membesar, sedangkan di Indonesia Sondang dilupakan begitu
saja. Di Indonesia kematian Sondak lebih membicarakan cara Sondang protes,
bukan kenapa dia protes.
Al Fayyadl juga menulis tentang Sondang ini dalam blognya
dengan mengatakan, “Bahwa ia hendak melawan, dan ia tahu bahwa hanya dengan
membakar dirinya, ia telah melakukan perlawanan paling jauh yang bisa ia
lakukan untuk memprotes keadaan, karena perlawanan itu melumat satu-satunya
yang paling berharga dari dirinya: hidupnya. Ia melawan hingga teriakan
terakhir yang bisa ia teriakkan; hingga kata-kata terakhir yang bisa ia
ucapkan; dan hingga napas terakhir yang bisa ia hembuskan.”
III. KLUB 27
Fenomena bunuh diri dalam budaya populer juga terjadi di
Klub 27 yang dilakukan para musisi, seperti Amy Winehouse, Jimi Hendrix, dan Kurt
Cobain (meski ada rumor juga yang mengatakan Cobain dibunuh). Kebanyakan karena
penyalahgunaan narkoba dan alkohol serta tindak kekerasan. Nurul berbagi
analisis, di dunia musik memang tak sedikit ditemukan fenomena bunuh diri.
Bahkan ada legenda seorang remaja yang bunuh diri setelah mendengarkan lagu
Ozzy Osbourne berjudul “Suicide Solution”. Lirik lagu ini serupa ajakan, ketika
kamu tidak meraih apa pun di dunia, tujuan pulangmu adalah mati.
Selain itu, berkaitan dengan Klub 27, sebagian musisi juga
ada perjanjian dengan sekte-sekte tertentu. Ketika artis ini berada di puncak
karier, ia menjual jiwanya. Ia menyebut
nama band metal yang melakukan touring di berbagai negara yang terikat pada
sekte tertentu. “Ada obsesi
tertentu yang akhirnya membuka jalan untuk mengakhiri hidupnya,” kata Nurul.
IV. KESALAHAN
TAFSIR DAN OTONOMI TUBUH
Akbar melanjutkan, alasan bunuh diri tidak pernah tunggal.
Pengalamannya hidup di Jogja, serta di Bali, yang memiliki angka bunuh diri
cukup tinggi, bunuh diri dilakukan karena ada kesalahan tafsir agama. Ada
kepercayaan religius tertentu bahwa melakukan puasa berbulan-bulan dapat
mengakhiri hidup. Menurut yang menjalaninya, hal itu bukan sesuatu yang hina,
tapi malah pencapaian tertinggi. Seperti kisah filsuf Zeno dari Citium yang
suatu hari jempolnya kepentok terus bunuh diri. Zeno mengakhiri hidup karena
otonomi tubuh. Kepercayaan lain juga soal reinkarnasi. Ketika seseorang bunuh
diri, maka karma akan terganggu, karena orang itu mengakhiri hidup sebelum
ujian selesai. Katakanlah, dalam perspektif agama, Tuhan telah memberi tugas,
tapi malah diakhiri sebelum selesai.
Sementara itu, Nurizky menyampaikan, berkaitan dengan otonomi
tubuh, jika seseorang bisa meminta untuk hidup, maka seseorang juga bisa memilih
untuk mati. Ketika seseorang tidak bisa hidup, bunuh diri bisa menjadi pilihan.
Menurutnya, konteks mental setiap orang berbeda-beda, memiliki kuota yang berbeda-beda,
ada yang 50, 100, 400. “Aku
berpikirnya, aku tidak menjelekkan mereka yang bunuh diri, yang orang lain tak
bisa memilikinya. Ini akan ditertawakan, misal kamu lebai… Aku jujur akan salut.
Itu tindakan terberani,” ungkapnya.
V. FAKTOR EKONOMI
Nurizky berbagi pengalaman. Secara umum, faktor terbesar
penyebab bunuh diri adalah ekonomi. Sebab apa pun membutuhkan ekonomi. Namun,
apa yang dialami Nurizky berbeda karena bukan karena ekonomi, melainkan karena
faktor diagnosis depresi sejak umur 10 tahun. “Tidak semua tentang ekonomi,”
katanya. Kejadian yang dia alami, situasi itu muncul ketika dunia seolah-olah
tidak mendukung kita. Seperti kita juga sudah telah berusaha tapi tidak pernah
dapat, sehingga menyebabkan motivasi turun. “Pada akhirnya yang kurasakan, mencoba berusaha jalan, tapi pengen hidup,
enggak,” tambahnya.
Nurizky
mengaku bisa menikmati hidup sampai di umur 28 tahun. Pernah dia berpikir jika
dia tak mau umurnya lebih dari 35 tahun. Dia merasa sudah tidak menyukai
hobinya lagi, dan tidak mau sengsara. Lalu, kesempatan berumur panjang ini
berlanjut ketika menjalani pendidikan S2. Ada pula seorang perempuan yang
menopangnya untuk tetap hidup. “Dia berusaha mengangkat aku terus,” ujarnya. Temannya
mengajaknya untuk terus sibuk, bahkan mengajak untuk memimpin perusahaan, agar
ia tak kepikiran ke arah sana.
Dia sangat
berterima kasih atas support tersebut, meskipun di sisi lain lelah
ketika diberikan standar. Menurutnya, memperpanjang alasan hidup itu juga
beban, ada rasa capek. Bahkan ketika dia ngobrol dengan sosok yang mendukungnya
tersebut yang secara hidup tergolong mapan, mereka tidak menemukan makna hidup.
“Kayak ngapain sih. Temanku bertahun-tahun mencapai posisi tertinggi dan
merasa hampa,” ujarnya. Mereka juga pernah dalam pembicaraan yang sama-sama
bingung, berimajinasi naik pesawat, ada badai, terjadi turbulen, dan entah
siapa yang “pergi” duluan.
“Kita hidup
untuk orang lain, tapi kenapa sulit hidup untuk diri sendiri,” Nurizky
membuat refleksi. Karena hal ini, seseorang cenderung menjadi people-pleaser,
selalu merawat dan merawat.
Nurizky
juga mengaku pernah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Sayangnya,
percobaan itu selalu gagal. Semisal, dia minum obat, tapi bangun lagi. Meskipun
dia tak ingin bunuh diri dengan menggantungkan diri karena merasa kasihan jika
ada yang menemukan, serta kasihan pula orang yang membersihkan. Apalagi ketika
mati, semua isi perut akan keluar, ada bercak yang cukup awet.
VI. KESEPIAN
DAN PERASAAN TAK TERTANGGUNGKAN
Akbar pun
menegaskan jika ekonomi memang bukan penyebab utama seseorang bunuh diri.
Termasuk yang terjadi pada para lansia (yang ingin mati dengan eutanasia), yang
penyebab utamanya adalah ketidakinginan untuk merepotkan keluarga. Diperkuat
lagi ketika ada perasaan bahwa di dunia ini sudah tidak ada lagi yang
mendukung. Ketika ada kepedulian, maka keinginan hidup lebih berpotensi muncul.
Sulkhan pun
menarik benang merah jika bunuh diri itu dilakukan bisa karena bebas dari
kemiskinan, tapi juga karena faktor gagal berhubungan dengan yang lain, atau
tidak terkoneksi dengan yang lain. Sulkhan menyebut peristiwa ini sebagai: “Kesengsaraan
yang tak bisa ditampung, yang tak tertanggungkan.” Dari hasil pembacaan dan
wawancaranya, apa yang bagi orang lain dianggap sepele, bisa jadi sangat
penting bagi orang lain, begitu pun sebaliknya. Apalagi jika berkaitan dengan
laku intellectual exercise, yang melihat hidup ini ternyata tak
bernilai-nilai amat. Banyak ketidakkokohan dan banyak darah yang ditumpahkan.
Apa yang dicari dalam hidup ini, seolah bentuk lain dari kesengsaraan yang kita
tanggung.
VII. PULUNG GANTUNG DI GUNUNGKIDUL
Di Gunungkidul, Jogja, fenomena bunuh diri jadi semacam
wahyu. Ada film-film yang telah mengulas dengan baik fenomena bunuh diri di
Gunungkidul. Akbar bercerita, dosen pembimbing (dosbing) tesisnya, Pak
Subandi, ternyata seorang peneliti pulung gantung di Jogja. Meskipun belum
membaca penelitian dosennya, Akbar menangkap dalam pembelajaran selama
perkuliahan, jika pulung gantung ini dikarenakan faktor kemiskinan. Karena
tidak ingin membebani keluarga secara ekonomi. Orang yang kena pulung seperti
ada seseorang yang membisiki.
Jevi berbagi pandangan. Dirinya tinggal di Semanu,
Gunungkidul. Dia mengaku pernah melihat secara langsung seseorang bunuh diri,
hingga secara langsung menurunkan yang gantung diri. Termasuk juga pernah
mendapati orang yang hendak gantung diri, tetapi gagal. Termasuk juga ada
tetangganya yang memutuskan untuk bunuh diri di pohon jati. Alasannya, ada
hajatan yang mengharuskan adanya sumbangan di mana-mana, kalau ada lima orang
saja hajatan, bisa dihitung sumbangannya.
Jevi yang juga pernah menulis skripsi tentang bunuh diri ini
juga menyebut, kasus lain terjadi pada seorang Bapak yang terjerat utang. Bapak
ini mendapatkan bantuan bedah rumah dari pemerintah, tetapi hanya beberapa
juta, tidak mencukupi. Bapak ini kemudian hutang 30an juta, tidak hanya di
bank, tapi juga lintah darat (bank plecit). Dia terjerat sehingga keluarganya
jatuh miskin. Ketika rumah itu jadi, dia langsung tidak ada.
Selang beberapa bulan dari kejadian Bapak tersebut, ada
tetangga yang tidak jauh dari korban yang melakukan tindakan nyemplung sumur
yang dalamnya sekitar 25 meter. Jevi bercerita warga dusun mencarinya, hingga ayah
dari korban ini mendengar teriakan dari sumur sehingga bisa diselamatkan. Dia
satu jam baru ditemukan dan masih hidup. Orang yang nyemplung ini diajak
oleh sosok yang sebelumnya bunuh diri. Selain itu juga karena orang ini “kabotan
ilmu”, dia berguru kesana-kesini, dan menjadi seperti itu. Dia juga sering
keluar malam sendiri seperti orang linglung.
Jevi melanjutkan, sejarah di Gunungkidul banyak orang moksa,
dan Gunungkidul dikenal sebagai tanah untuk moksa. Menghilangkan diri dari
dunia untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Kenapa pilihannya bunuh diri?
Jevi menyebut karena banyak dadung, atau tali untuk mengikat, semacam tambang
dari pring—sekarang bertransformasi jadi tali tambang. Gantung diri ini rata-rata
terjadi di antara kandang sapi, di mana sehari-hari warga juga mengurusi
kandang.
Lanjut Jevi, jika dikatakan bunuh diri bagi orang yang
melakukannya dianggap agar tidak merepotkan, malah sebaliknya, sangat
merepotkan. Pada realitasnya, lebih banyak merepotkan keluarga, padahal
tujuannya agar tidak membebani. Seperti anak yang bapaknya bunuh diri, sekarang
anaknya dipasung.
Akbar menanggapi, dari ingatannya dari salah seorang dosen
pembimbing yang meneliti tentang topik psikosis dan skizofrenia, yang ditandai
dengan halusinasi dan delusi. Salah satu fiturnya adalah masalah genetik. “Penyakit
jiwa yang sebenarnya punya faktor keturunan yang tinggi,” terangnya. Dari penjabaran
Jevi, ketika ada keluarga yang mempunyai kerentanan psikologi secara genetik,
ini akan memicu kerentanan untuk muncul pada keturunan. Semisal, ketika ada
ayah bunuh diri, anggota keluarga lain bisa berpotensi untuk bunuh diri juga.
Polanya, menyelesaikan masalah dengan hal yang sama. “Kasus ini jadi prevalence, menarik pola,
ada penjelasan mistis. Walaupun itu tidak menolak mentah-mentah,” jelas Akbar.
Ketika dihubungkan dengan penjelasan Nurizky tentang otonomi
tubuh, Akbar melihat, selain faktor sosial, situasi semakin pelik karena ada
faktor genetik. Genetik mempunyai kecerendungan risiko yang semakin memperburuk
kondisi, menjadikan otonomi semakin menghilang.
Jevi menambahkan, fenomena medsos hari ini arahnya seperti
memaklumi bunuh diri. Dia mempertanyakan, entah ini berdampak baik/buruk, tapi
dimaklumi, diualng-ulang, dan akan mempengaruhi dunia sosial. Jadi semacam ada
trauma massal. Di tempatnya, wujud konkret itu seperti tidak tidur selama
sebulan, jendela ditutup dengan triplek, dll. “Selama bertahun-tahun, aku merasakan ada trauma
massal. Ini keturunan orang yang bunuh diri, entah kakek buyutnya, cucunya juga
memengaruhi,” kata Jevi.
Dari
penjelasan Jevi, Lina menyakan, apa tindakan dari pemerintah melihat fenomena
tersebut? Apalagi di Jogja juga sudah banyak mengangkat isu ini. Apa ada gerakan
di desa/kampung? Sebab ini akan menjadi trauma generasi. Selain memperbaikinya
dengan meningkatkan perekonomian, Lina mempertanyakan tindakan dari pemerintah.
Jevi
menanggapi bahwa pemerintah telah berusaha keras dan dirinya mengapresiasi,
seperti pembuatan Satgas dari Pemda, melakukan sosialisasi, hingga adanya
komunitas yang mendampingi. Namun, entah bosan atau lelah, masih belum optimal
untuk melakukan pencegahan. Hal yang kurang adalah kehadiran psikolog, dan
ketika ada psikolog pun, biayanya mahal. “Yang masih bolong di psikolognya, komunitas
itu banyak entah dari swasta atau negeri. Tapi sampai hari ini, psikolog cuma
satu,” jelasnya.
Dia melanjutkan,
lagi-lagi kesadaran itu kembali ke warganya, karena tidak mudah mendekati
orang-orang rentah. Semisal mereka yang sakit menahun, memiliki ekonomi yang buruk,
dia sangat sulit menjalani hidupnya, tapi ketika ada yang hendak menolong, sudah
terlambat.
“Untuk
diajak bicara susah, ternyata gak semudah bahwa kamu harus cerita, atau jangan
tertutup... Aku mendekati orang rentan, itu susah. Banyak yang gak nyaman
bercerita, semakin banyak cerita semakin kosong. Gak malah lega, tapi malah
bebani,” terang Jevi dilematis.
Nurul kemudian bertanya untuk generasi muda apakah ada yang
melakukan pulung gantung? Jevi menjawab, dua tahun terakhir ini anak muda yang
lulus SMA atau usia di bawah 30 tahun semakin banyak, rata-rata dari judi online
(judol) dan main slot. Menurutnya, faktor keluarga yang sudah dibahas
menjadi menarik, sebab tidak semua bisa bersikap terbuka dengan keluarga
sendiri. Punya kecenderungan untuk dipendam.
Nurul juga bercerita tentang pengalaman pribadinya berkaitan
dengan sikap terbuka terhadap keluarga ini. Saat dia masih di masa sekolah,
keluarganya tidak saling terbuka, tidak saling cerita, tapi setelah kuliah dia
banyak belajar. “Dulu sebelum
terbuka, itu gak bisa, mau melepaskan kesepiaan dengan konser gak boleh, karena
gak jelas. Akhirnya, Ketika aku pulang ke rumah itu jadi hal yang menakutkan.
Tidak bisa menyampaikan apa yang aku resahkan, aku sempat buntu,” ujarnya.
Lalu, Nurul
mencoba untuk membangun obrolan secara pelan-pelan. Dia akhirnya berani
berbicara pada orangtuanya. Ketika ada komunikasi, ada potensi support
system yang kuat.
Kemudian,
Jevi menanggapi, keluarga relate untuk kaum urban, tapi tidak relate
dengan yang hidup di desa. Sebab ada perasaan ketika terlalu banyak cerita, justru
akan membebaninya. Orang juga tidak semuanya nyaman bercerita. “Terbuka dengan
keluarga itu gak relate, ungkapan aku sayang ibu dan ayah itu gak pernah dengar. Itu
emang terjadi. Di urban mungkin relate, di tempatku, kayak gitu, itu opo
sih. Kesempatan untuk ekspresi itu nol besar,” ujarnya.
Nurizky
mengonfirmasi yang dikatakan Jevi. Menurutnya, semakin tua, semacam sulit
mencari tempat bercerita. Ibaranya, ketika mau cerita pada 10 orang, bisa jadi
yang hanya 2 orang, lalu 8 lainnya adu nasib. Lalu, cerita akan menyerempet
pada masalah finansial.
VIII. PENUTUP
Isma menutup diskusi ini dengan konflik
yang terjadi di Sudan. Tentang perempuan yang bunuh diri untuk
mempertahankan harga dirinya, daripada diperkosa. Ia juga menceritakan sebuah
anekdot dari seorang kawannya ketika masih mahasiswa. Teman itu bertanya,
“Pernah menemukan hewan bunuh diri nggak?” Pertanyaan ini cukup nyeleneh.
Secara asumsi dan logika umum, hewan hampir tidak ada yang bunuh diri. Mereka
kuat. Anjing misalnya, meskipun mereka dihina setiap hari, dia tak pernah bunuh
diri.
Berbeda dengan Klenik Studies di edisi-edisi sebelumnya yang
membahas berbagai fenomena berkaitan dengan makhluk supranatural, kali ini
lebih menekankan pada aspek psikologi, sosial, dan ekonomi dari fenomena bunuh
diri.
Beberapa kesimpulannya, seseorang tidak bisa semena-mena
menghakimi orang yang memutuskan bunuh diri karena alasan kejiwaan, keagamaan,
ekonomi, dll. Alasan tak kalah penting juga menyangkut otonomi tubuh seseorang
yang perlu dihormati. Isu yang lumayan panjang dibahas juga adalah fenomena
bunuh diri (pulung gantung) di Gunungkidul, Jogja. Ternyata, fenomena itu tidak
melulu masalah ekonomi, tapi juga trauma antargenerasi, keterbukaan
antarkeluarga yang relate untuk warga urban tapi tidak untuk rural,
hingga rasio psikolog yang masih sangat minim.