Minggu, 01 Februari 2026

Ebiet G. Ade

Kota Langsa, Aceh, 1 Februari 2026

1. Elegi Esok Pagi

2. Ibu (feat Iwan Fals)

3. Untuk Kita Renungkan

4. Aku Ingin Pulang

5. Bila Kita Ikhlas

 

6. Menjaring Matahari

7. Titip Rindu Buat Ayah

8. Berita Kepada Kawan 


 9. Masih Ada Waktu

 

 10. Kupu-Kupu Kertas

11. Camelia 

Senin, 19 Januari 2026

Berserah Diri

Ya Allah, aku berserah diri pada-Mu, seluruh hidupku adalah untuk pelayanan-Mu.

Jumat, 16 Januari 2026

Color Walk "Magenta" di Kota Langsa

Semalam, aku dan Binar diskusi random soal warna magenta. Ini berawal dari pengamatanku saat tugas di lapangan, karena dasarku suka ngamatin pola, aku merasa ibu-ibu di sepanjang bolak-balik Aceh Tamiang ke Kota Langsa, sering aku menjumpai ibu-ibu memakai pakaian warna magenta. Mirip warna dominan icon Instagram. Yang boleh dikatakan itu cukup ngejreng di mata. Binar menanggapi, "Bukannya ibu-ibu suka warna kayak gitu ya? Terlebih di Melayu. Kadang mereka suka warna kuning." Dan obrolan berlanjut ke warna lain. Lama gak olahraga, pagi ini, aku iseng color walk, fokus warna magenta. Ternyata cukup banyak warna magenta yang kutemukan meski baru setengah jam jalan. 

Selasa, 06 Januari 2026

Catatan Klenik Studies Edisi 25 Desember 2025: "Hantu di Universitas atau Perguruan Tinggi"

I. Pembukaan dan Kilas Balik Diskusi Sebelumnya

Tema Klenik Studies edisi Hari Natal, Kamis, 25 Desember 2026, bertema “Hantu di Universitas atau Perguruan Tinggi”. Peserta yang hadir terdiri dari: Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurul Diva Kautsar, Nurizky Adhi Hutama, dan Isma Swastiningrum.

Sulkhan membuka pertemuan dengan menegaskan bahwa diskusi hari ini melanjutkan obrolan sebelumnya tentang hantu di institusi pendidikan. Mengingatkan kembali pembahasan yang berangkat dari hantu sebagai politik ingatan. Ia menyinggung cerita-cerita hantu di sekolah masing-masing peserta: dari cerita turun-temurun di desa, kerangka manusia di ruang laboratorium sekolah Nurizky yang berasal dari tukang kebon, hingga suara-suara misterius di sekolah. Isma sebelumnya menyinggung hantu sekolah sebagai representasi trauma yang diwariskan lintas generasi.

Pertanyaan utama yang hendak diteruskan: mengapa pengalaman traumatis itu terus hidup di dunia pendidikan, dan mengapa ia diwujudkan dalam figur hantu. Dari sisi psikologi, menurut Sulkhan, masih ada celah yang perlu dibahas lebih jauh.

II. Tipologi Hantu di Universitas

Isma membagi fenomena hantu di universitas ke dalam beberapa pola:

1. Relasi Dosen-Mahasiswa: Kisah dosen yang mengajar di kelas lantai tiga pada sore hari. Mahasiswa di kelas itu berwajah pucat tanpa ekspresi. Dosen tersebut tetap mengajar hingga 3 SKS selesai. Setelah keluar kelas, ia baru menyadari bahwa dirinya telah berada di kelas tersebut selama tiga hari.

2. Mahasiswa Abadi: Kasus Mbak Yayuk di UGM, khususnya populer di Fakultas Ekonomi. Ia adalah mahasiswi angkatan lama yang skripsinya berkali-kali ditolak hingga mengalami stres berat dan bunuh diri.

3. Mahasiswa Bunuh Diri: Mahasiswi UI berinisial MPD (21), angkatan 2019 FISIP Ilmu Komunikasi, ditemukan tewas di apartemen Kebayoran Baru, beberapa hari sebelum wisuda.

4. Hantu Perempuan dan Ruang Kampus: Selain Mbak Yayuk, urban legend Mbak Rohana di jembatan Perawan UGM (penghubung Pertanian–Kedokteran Hewan). Sosok perempuan berkerudung yang jatuh dari jembatan lalu menghilang.

5. Hantu sebagai Kontrol Sosial Agar Tak Pulang Malam: Cerita mahasiswa yang menyeberangi jembatan berkabut pukul 11 malam, melihat rambut dan kepala menggantung di tiang jembatan. Di UNILA juga dikenal penampakan dua perempuan kembar bergaun hitam di sekitar beringin, yang membuat mahasiswa enggan keluar setelah senja.

Kisah-kisah ini tidak lepas dari situasi dan problem struktural kampus itu sendiri. 

III. Transisi, Ritus, dan Mahasiswa Abadi

Akbar melihat fenomena hantu di universitas, khususnya mahasiswa berkaitan dengan fase transisi. Mahasiswa berada di masa kepompong. Ketika transisi itu tertahan, terutama di skripsi, muncul trauma dan ketakutan universal: takut tidak berfungsi di masyarakat. Hantu mahasiswa abadi menjadi simbol kebuntuan itu. Dalam konteks transisi dan ritus, mahasiswa diposisikan sebagai subjek yang sedang berada di ambang: belum sepenuhnya menjadi bagian dari dunia kerja atau masyarakat, tetapi juga tidak lagi sepenuhnya berada dalam fase belajar yang aman. Universitas berfungsi sebagai ruang ritus peralihan, dengan skripsi, tugas akhir, dan kelulusan sebagai ambang simboliknya.

Ketika ritus ini gagal dilalui (skripsi tak selesai, wisuda tertunda, atau tekanan mental terlalu berat) mahasiswa seolah terjebak dalam fase liminal yang berkepanjangan. Figur “mahasiswa abadi” kemudian muncul sebagai imaji kolektif atas kegagalan transisi itu: tubuhnya tetap berada di kampus, ruang kelas, perpustakaan, atau lorong-lorong akademik. Ada ketakutan, tidak benar-benar menjadi apa-apa dan tidak sampai ke fase kehidupan berikutnya.

Sementara menurut Isma, label “mahasiswa abadi” tidak selalu merujuk pada hal yang negatif, tetapi juga positif. Dari pengalamannya, dia memperhatikan kadang menjadi mahasiswa abadi juga merupakan pilihan sadar si mahasiswa sendiri untuk memaksimalkan skill dan pengalamannya di kampus, terutama terjadi pada anak-anak seni/teater. Melenceng dari anjuran kuliah dari pemerintah, maksimal 5 tahun.

IV. Hantu Perempuan, Patriarki, dan Perlawanan

Nurul mengaitkan fenomena hantu perempuan di kampus dengan tulisan Aihwa Ong berjudul Spirits of Resistance and Capitalist Discipline”. Hantu perempuan dipahami sebagai bentuk perlawanan terhadap patriarki dan kapitalisme. Selain dipahami sebagai bentuk perlawanan, hantu perempuan dalam konteks kampus dan ruang publik juga bekerja sebagai alat pendisiplinan tubuh perempuan itu sendiri.

Menganalisis lebih lanjut, cerita-cerita tentang Mbak Yayuk, Mbak Rohana, perempuan jatuh dari jembatan, atau sosok berambut panjang di ruang-ruang sepi sering kali berfungsi ganda: di satu sisi menyuarakan trauma, kekerasan, dan ketidakadilan yang dialami perempuan dalam sistem patriarkal; di sisi lain justru menjadi mekanisme kontrol agar perempuan tidak berada di ruang tertentu, tidak pulang malam, tidak sendirian, dan tidak melampaui batas moral yang ditentukan. Dengan demikian, figur hantu perempuan tidak sepenuhnya membebaskan, karena narasi horornya kerap direproduksi untuk menjaga keteraturan sosial dan menegaskan siapa yang “pantas” berada di ruang publik.

Sementara itu, dari cerita Nurizky, kisah Slamet Suroyo di UII memperlihatkan bagaimana hantu tidak hanya hadir sebagai residu trauma, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan. Slamet dikenal sebagai mahasiswa yang berusaha membongkar dugaan korupsi dalam proyek pembangunan kampus, sebelum akhirnya meninggal. Setelah kematiannya, yang beredar bukan sekadar cerita duka, melainkan urban legend tentang buku laporan bertanda tangan darah yang dijaga sosok pocong. Wujud pocong itu mencerminkan posisi perjuangan Slamet yang terhenti di tengah jalan, melainkan tetap “berjaga” pada dokumen, ingatan, dan upaya perlawanan yang gagal diselesaikan semasa hidup, menjadikan perhantuan sebagai arsip aktivisme yang sering tak diakui secara resmi.

V. Ingatan, Benda, dan Ruang 

 

Sulkhan menekankan bahwa hantu merefleksikan sesuatu yang tidak selesai. Ia menyinggung, dalam bahasan tentang ingatan, muncul pula cerita bahwa memori tidak hanya melekat pada manusia, tetapi juga menempel pada benda-benda sekolah: bangku kelas, sudut ruangan, laboratorium, dan perpustakaan.

Ia menautkan ini dengan studi memori: benda bisa menjadi pemicu ingatan. Dia mempertanyakan, mengapa ingatan itu berubah menjadi horor? Menurutnya, mitos-mitos hantu di universitas, termasuk larangan dan cerita seputar lagu “Gugur Bunga”, perlu dibaca dengan menelusuri latar sejarah UGM sendiri, karena sangat mungkin berakar pada peristiwa traumatis tertentu, seperti ingatan kolektif tentang kekerasan negara dan penembakan misterius (Petrus), yang kemudian disublimasikan menjadi cerita horor dan peringatan moral di ruang kampus.

Termasuk dengan mitos “Gugur Bunga” di Bundaran UGM, Nurizky menceritakan bahwa versi kisah bundaran Teknik UGM yang ia dengar agak berbeda, berdasarkan pengalaman teman-temannya di gang “Oestad” yang pernah melakukan vandalisme di area tersebut. Mereka menggambarkan sosok seperti raksasa bermata merah dan berbulu tinggi yang muncul sebagai urban legend untuk mengurangi kenakalan remaja, terutama pacaran yang dianggap melewati batas, mengingat kawasan itu sepi dan hampir tidak dilalui orang pada malam hari.

Isma juga membahas terkait cerita kereta hantu UI–Tebet dibahas sebagai contoh keterikatan hantu pada ruang transisi (kelas, stasiun, kereta). Kisah mahasiswa yang menaiki kereta dari Stasiun UI menuju Stasiun Tebet memperlihatkan bagaimana hantu bekerja sebagai politik ruang. Ketika seorang mahasiswa pulang terlalu malam, kelelahan dan tidak sepenuhnya sadar; di dalam kereta, dia bertemu dengan penumpang berwajah pucat, kereta yang tak berhenti di stasiun mana pun, hingga si mahasiswa bahwa ia sebenarnya berjalan kaki di sepanjang rel. 

VI. Kiai, Kesucian, dan Stratifikasi Hantu

Sulkhan menjelaskan bahwa dalam tradisi pesantren, kiai hampir tidak pernah dicitrakan sebagai hantu menyeramkan. Bahkan jika hadir dalam mimpi, ia dianggap membawa berkah. Ada strata dalam perhantuan: orang suci tetap suci setelah mati.

Sulkhan menyoroti bahwa hampir tidak pernah ada kisah kiai yang menjadi hantu menyeramkan. Jika pun muncul setelah wafat, kehadiran kiai lebih sering dimaknai sebagai pertanda baik, dia muncul dalam mimpi, memberi isyarat, atau dianggap membawa berkah. Bahkan dalam cerita pesantren, ada keyakinan bahwa semakin dekat seseorang dengan Tuhan, rohnya justru semakin bebas: dapat hadir di banyak tempat, “menumpang” makhluk lain, atau berfungsi sebagai penjaga.

Fenomena ini menunjukkan adanya stratifikasi dalam dunia hantu, di mana kesucian semasa hidup menentukan bagaimana sosok itu dibayangkan setelah mati. Santri yang kualat bisa menjadi cerita horor, tetapi kiai tidak; bahkan jika kiai mati secara tidak wajar, imajinasi kolektif enggan mencitrakannya sebagai hantu. Hal ini kontras dengan mahasiswa atau siswa yang mati karena tekanan akademik, tugas akhir, atau ketidakadilan struktural; yang justru dengan mudah diposisikan sebagai hantu gentayangan. Stratifikasi ini memperlihatkan bahwa perhantuan tidak netral: ia mengikuti hierarki moral, religius, dan simbolik, di mana mereka yang dianggap suci tetap suci bahkan setelah mati, sementara yang berada di posisi subordinat lebih rentan dijadikan figur horor.

Sulkhan dan Nurul menyinggung film Pengabdi Setan—ustaz yang bisa dikalahkan oleh setan, tapi kiai hampir tak pernah kalah oleh setan. Pola film seperti ini hadir baru-baru ini (karena ada hubungannya juga dengan politik Orde Baru).

Nurizky mengaitkannya dengan mayoritas agama dan penjagaan citra religius. Dalam diskusi juga muncul catatan tentang bagaimana representasi hantu berkaitan dengan mayoritas agama, khususnya Islam. Di Indonesia, figur kiai hampir tidak pernah muncul sebagai hantu menyeramkan, sementara justru beredar kisah seperti pastor hantu di Jeruk Purut. Hal ini dibaca bukan semata soal iman, melainkan soal penjagaan citra keagamaan di ruang publik: karena Islam menjadi agama mayoritas, figur-figur sentralnya cenderung dilindungi dari representasi horor agar tidak merusak wibawa simbolik. Akibatnya, figur dari agama minoritas lebih “aman” untuk dimistifikasi atau dijadikan cerita hantu, karena tidak menanggung beban representasi mayoritas.

VII. Mahasiswa vs Dosen: Relasi Kuasa

Menanggapi Sulkhan terkait sangat jarang kiai yang menjadi hantu, Isma mencatat bahwa mahasiswa jauh lebih sering menjadi hantu dibanding dosen. Bahasan tentang mahasiswa versus dosen memperjelas bahwa kemunculan hantu di kampus tidak bisa dilepaskan dari relasi kuasa yang timpang. Mahasiswa berada pada posisi subordinat: jumlah banyak dan suara lemah. Karena itu, ketika terjadi kegagalan (skripsi tak selesai, tekanan mental, hingga bunuh diri) yang “menjadi hantu” hampir selalu mahasiswa, bukan dosen.

Akbar melihat ini sebagai jembatan psikologis dan relasi kuasa: mahasiswa berada dalam ritus peralihan, dosen dianggap sudah “selesai”. Dosen jarang dibayangkan sebagai hantu karena secara simbolik mereka dipersepsikan sudah selesai, mapan, dan memiliki otoritas; bahkan ketika mereka problematik, horor tidak diarahkan ke sana.

Sulkhan menegaskan bahwa mahasiswa adalah subjek yang sedang menuju kematangan; kegagalan mencapai titik itu melahirkan hantu. Meskipun jika diberi kacamat pembesar, dosen berada di posisi yang juga problematik, berbeda dengan kiai yang tetap dicitrakan suci bahkan setelah mati.

VIII. Hantu di Kampus Luar Negeri

Diskusi kemudian menyinggung kisah-kisah horor di kampus luar negeri. Isma bercerita, di Universitas Heidelberg, Jerman, selama era Nazi, banyak profesor dikirim ke kamp konsentrasi. Hingga kini beredar klaim bahwa di ruang kelas lama, papan tulis sering terhapus sendiri dan dipenuhi tulisan-tulisan misterius. Di lokasi pembakaran buku-buku terlarang sebelum Perang Dunia II, beberapa orang mengaku masih mencium bau terbakar. Ingatan akan kekerasan negara dan pemusnahan pengetahuan itu seolah tidak benar-benar hilang dari ruang akademik.

Di University of St Andrews, Skotlandia, kampus disebut dihuni oleh beragam entitas gaib: biarawan hantu, perempuan hantu, pemain seruling, hingga kapal hantu. Di Universitas Nagasaki, Jepang, arwah korban bom atom Amerika Serikat pada 9 Agustus 1945 dipercaya menghuni area kampus. Trauma perang dan kehancuran massal tidak hanya tercatat dalam arsip sejarah, tetapi juga hidup dalam imajinasi kolektif dan kisah perhantuan.

Sementara itu, di University College London (UCL), Inggris, dikenal legenda hantu seorang gadis muda bernama Emma Louise. Ia konon muncul jika namanya disebut tiga kali. Emma dipercaya dibunuh di terowongan yang menghubungkan gedung modern UCL dengan gedung Cruciform yang lebih tua. Sekelompok mahasiswa yang mencoba memanggil namanya mengaku mendengar tawa perempuan dan menemukan tulisan “tolong aku”, “mati”, dan “pembunuhan” di dinding.

Sulkhan menanggapi bahwa pola ini konsisten: di luar negeri pun, hantu-hantu kampus hampir selalu berasal dari mereka yang tidak memiliki otoritas, korban perang, korban kekerasan negara, atau individu yang terpinggirkan oleh sejarah besar. Mereka bukan figur berkuasa, melainkan sisa-sisa tragedi yang tidak pernah benar-benar selesai. Bahasan ini mempertegas bahwa hantu, baik di kampus lokal maupun global, berfungsi sebagai penanda ingatan kolektif atas ketidakadilan, kekerasan, dan sejarah yang tidak tuntas.

IX. Hantu, Kelas Sosial, dan Ketidakadilan

 

Diskusi berkembang ke hantu sebagai representasi kelas tertindas, seperti buruh pabrik, mahasiswa, rakyat biasa, bukan elite. Hantu muncul dari posisi yang tidak punya kuasa. Pembahasan tentang hantu, kelas sosial, dan ketidakadilan menegaskan bahwa figur hantu hampir selalu berasal dari posisi yang kalah secara struktural. Yang menjadi hantu bukan manajer, pemilik modal, dosen elite, atau penguasa, melainkan mahasiswa yang gagal lulus, buruh yang mati di tengah kerja, atau individu yang tidak memiliki ruang untuk menyelesaikan konfliknya secara adil.

Nurizky menyebut, elite dan kelompok berprivilege cenderung tidak dihantui karena mereka memiliki jarak emosional, logika rasional, dan sumber daya untuk tidak berhubungan dengan hal-hal mistis, sementara kelas bawah dipaksa menanggung beban hingga ke kematian. Hantu tidak pernah benar-benar menyentuh elite.

Nurizky menambahkan bahwa kemunculan hantu juga berkaitan dengan tingkat rasionalitas dan pilihan subjektif manusia. Ia bercerita pernah berbincang dengan kalangan pengusaha yang cenderung tidak memikirkan hal-hal mistis. Golongan ini tidak berarti lebih beriman, melainkan karena logika dan posisi sosial yang membuat mereka tidak memberi ruang pada pengalaman semacam itu. Sementara itu, dari kecil, kita justru terus mengonsumsi narasi hantu, sehingga lebih “tersedia” untuk dipinjam atau dihantui.

Nurizky lalu berimajinasi soal keinginannya jika kelak menjadi hantu, ingin berwujud hantu yang keren—macam Gundam—seperti di beberapa budaya lain, misalnya ksatria Templar atau figur horor ikonik di Barat. Di kisah lain ada Elizabeth Báthory dengan tradisi satanisnya. Menurutnya, wujud hantu bukan sesuatu yang netral, melainkan hasil negosiasi antara imajinasi budaya, posisi sosial, dan izin personal: hantu menakutkan muncul karena memang difungsikan untuk menakuti, sementara pada tingkat spiritualitas tertentu, manusia justru bisa berdiri setara dengan entitas itu dan tidak lagi takut.

X. Spiritualitas, Elite, dan Kekuasaan

Diskusi berlanjut ke Soekarno, Soeharto, spiritualitas elite, logika mistika, dan kemampuan “bekerja sama” dengan entitas gaib alih-alih dihantui. Isma mempertanyakan dari bahasan sebelumnya terkait kelas/strata perhantuan, dan bagaimana mereka yang katakanlah dari kalangan bawah bisa melakukan “hack” untuk bisa naik kelas?

Nurizky membahas energi, cakra, dan eksklusivitas kelas. Manusia dipahami memiliki spektrum energi (bawah, tengah, dan atas) yang membentuk karakter, cara berpikir, dan posisi sosial seseorang. Energi yang dianggap “di atas rata-rata” membuat seseorang lebih cepat membaca situasi, lebih strategis, dan lebih mudah melakukan “hack” dalam relasi sosial. Contohnya Soekarno yang dipandang memiliki karisma dan wibawa tanpa perlu kehadiran langsung, serta Soeharto yang digambarkan seperti pemain catur ulung, mampu menentukan langkah jauh sebelum situasi terlihat jelas.

Konsep tujuh cakra disebut sebagai kerangka untuk memahami perbedaan ini, di mana bentuk energi tiap orang tidak sama dan mengarah ke fungsi yang berbeda: ada yang menjadi pemimpin, manajer, tentara, atau pemikir akademik. Dalam pandangan ini, spiritualitas tidak selalu sejalan dengan religiositas formal atau moralitas ritual, melainkan dengan kemampuan menyatu dengan alam, membaca keadaan, dan mengelola energi diri untuk bergerak naik dalam struktur sosial.

Soekarno dan Soeharto sebagai contoh figur elite yang tidak dibayangkan sebagai sosok yang “dihantui”, melainkan justru digambarkan mampu mengelola atau bahkan bekerja sama dengan dunia spiritual. Keduanya kerap dipahami memiliki spiritualitas tinggi, bukan dalam pengertian moralitas yang luhur, melainkan sebagai kemampuan melampaui rasa bersalah, takut, dan keterikatan emosional yang biasanya menjadi sumber kemunculan hantu. Dalam logika elite kekuasaan, dunia mistik tidak hadir sebagai gangguan, tetapi sumber daya yang bisa dinegosiasikan, dikelola, atau dijadikan bagian dari strategi.

Spiritualitas tidak selalu berkelindan dengan moralitas sebagaimana dalam kisah pewayangan yang disebut Sulkhan, terkait saudara, perang, dlsb. Karena itu, tragedi kemanusiaan, termasuk kematian massal, tidak serta-merta menghantui pelaku di posisi atas, sebab mereka tidak menghayati peristiwa itu sebagai beban personal, melainkan sebagai angka, kebijakan, atau konsekuensi sejarah. Spiritualitas tinggi tidak otomatis beriringan dengan moralitas, dan justru mereka yang melampaui kemanusiaan sehari-hari sering kali menjadi kebal terhadap hantu-hantu rasa bersalah, sementara yang tertindas dan tak berkuasa terus hidup sebagai cerita perhantuan.

Nurul menyoroti faktor pendidikan dan lingkungan. Dia menyinggung buku The Geography of Genius untuk mempertanyakan apakah Soekarno dan Soeharto memiliki privilese ruang dan waktu untuk belajar dengan lebih tenang, sehingga memungkinkan mereka mengenal diri sendiri dan “meng-hack” situasi ketika sudah berada dalam posisi berkuasa. Ia mencontohkan Soekarno yang sempat mengenyam pendidikan di Eropa dan di ITB, sehingga pengalaman intelektual dan lingkungannya membentuk cara berpikir yang berbeda. Menurutnya, lingkungan dan pola pendidikan sangat mempengaruhi arah energi seseorang: di Eropa, seni dan musik berkembang dalam kerangka institusional, sementara di negara berkembang kesenian lebih lekat dengan rakyat dan pengalaman sehari-hari.

Akbar mengaitkannya dengan karisma pemimpin, kehadiran (presence), dan pertarungan narasi—antara hantu orang tertindas dan figur pemimpin yang dianggap adil. Akbar menyinggung bahwa karisma pemimpin sangat bergantung pada seberapa “nyata” ia hadir di hadapan pengikutnya. Kehadiran ini bukan semata soal jabatan, tetapi soal kemampuan untuk terus muncul, terlihat, dan dirasakan; baik melalui praktik meditasi yang membuat seseorang lebih present dalam hidup, maupun melalui kerja narasi yang konsisten.

Pemimpin dengan logika mistika yang kuat berusaha mengalahkan narasi tandingan dengan membangun citra yang lebih nyata dan meyakinkan, sehingga kepercayaan publik tertarik dan menumpuk pada dirinya. Dalam konteks ini, terjadi pertarungan narasi antara cerita tentang hantu orang-orang tertindas dengan figur pemimpin yang dipersepsikan adil dan hadir. Akbar mencontohkan figur seperti Ferry Irwandi di Instagram, yang oleh sebagian orang diposisikan hampir seperti mesias digital, karena kemampuannya membuat diri terasa lebih nyata dan relevan dibanding narasi lain yang bersaing di ruang publik.

XI. Kesimpulan

Pertama, hantu di institusi pendidikan, khususnya universitas, muncul dari posisi yang belum selesai dan tidak berdaya. Mahasiswa, siswa, buruh, dan korban kekerasan struktural lebih sering menjadi hantu dibandingkan dosen, guru, atau elite, karena mereka berada dalam fase transisi dan relasi kuasa yang timpang. Kematian, kegagalan, atau keterhentian di tengah proses belajar dan berjuang menciptakan residu pengalaman yang tidak menemukan saluran penyelesaian di dunia nyata, lalu hidup sebagai cerita perhantuan.

Kedua, hantu bekerja sebagai politik ingatan dan politik ruang. Ingatan kolektif tentang trauma, ketidakadilan, dan kekerasan melekat pada ruang-ruang tertentu (kelas, bangku, jembatan, stasiun, kereta) yang kemudian tidak lagi netral. Melalui cerita hantu, ruang-ruang ini mengatur tubuh, waktu, dan perilaku. Pendisiplinan ini di antaranya secara tidak langsung mengatur siapa yang boleh hadir, kapan harus pulang, dan apa konsekuensi jika melampaui batas. Dengan cara ini, hantu menjadi medium disiplin sosial.

Ketiga, hantu menandai jurang antara yang tertindas dan yang berkuasa. Elite politik, agama, dan ekonomi jarang dibayangkan sebagai sosok yang dihantui, karena mereka tidak menghayati tragedi sebagai pengalaman personal, melainkan sebagai kebijakan, angka, atau strategi. Spiritualitas elite justru sering dipahami sebagai kemampuan mengelola atau menegosiasikan dunia gaib, bukan tunduk padanya. Akibatnya, hantu tidak pernah benar-benar menyentuh pusat kekuasaan, melainkan terus berputar di pinggiran, pada mereka yang suaranya tidak terdengar semasa hidup.

Sebagai refleksi bersama, merasa dihantui bukan semata soal ketakutan, melainkan tanda kepedulian terhadap kemanusiaan. Hantu mengingatkan bahwa di balik statistik, institusi, dan ritus pendidikan, ada individu dengan nama, tubuh, dan sejarah yang terhenti. Selama ketidakadilan, relasi kuasa timpang, dan perjuangan yang tak selesai terus direproduksi, cerita-cerita hantu akan tetap hidup. Ia berfungsi sebagai peringatan, sebagai arsip, dan sebagai cermin bagi kehidupan.

XII. Tindak Lanjut

Pertemuan Klenik Studies berikutnya dengan tema: Cerita Horor dari Rumah, yang akan dilaksanakan pada Kamis, 22 Januari 2026. Tema ini sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari. Tema lanjutan tentang hantu dari rumah berangkat dari cerita Rumah Kentang. Rumah itu kosong, tidak dihuni, tetapi setiap kali orang melintas selalu tercium bau kentang yang sedang direbus. Mitos yang beredar menyebutkan seorang ibu lalai saat memasak kentang dalam kuali besar hingga anaknya yang masih balita tercebur ke dalamnya.

Book Notes "Financial Freedom" by Ulf Ekman

Good afternoon, Mr. Ekman, I have read your book "Financial Freedom" in around 6 hours this weekend. I read your short biography that you are a pastor and live in Sweden. You were born in 1950, your age as same as my father's. Now, I just want to share or make a short synopsis about your book. As my commitment to all of the books that I have read, I will try to write three important points about what I understood after I read. 

First of all, as I know that you are a pastor or a religious leader, you have a unique perspective on how to see money or material things based on scripture, especially from bible. I think it is rare, because many perspective about financial stuff are too mechanical and formulaic. Honestly, I found your book when I went to Glodok, Central Jakarta. I bought a used book seller who sells on the street. I was interested in the title, it was like fulfilling one of my big desire to "financial freedom". The price was low, and I decided to buy it. 

From the content, I divide this book into two parts: financial prosperity in the Old Testament and the New Testament. Sure, because I am a Muslim, I just follow it like the flow, many verses, and it is okay. When I was reading on page 40, my brain refused to continue, because the content is boring, as you only write in a dogmatic tone. But I was trying to continue to the end, and I got these three important things:

  1. Prosperity is the character of God. If I want to be prosperous, I need to follow God's character, especially to serve and to give to others. 
  2. Sometimes, if you become a good man, people will mistreat or pin you, and you think that it is normal. But the point is, it should not make you feel angry, disappointed, and lose your heart. Don't defend yourself or your ego. This argument is mind-blowing to me. 
  3. We need to implement active obedience. I mean, we as men, the most need that bother our way to God is about connection. I do pray a lot, but sometimes it feels empty in my heart. I like bible's metaphor to describe it: you sow the field, but you cannot taste the fruit. You work or pray every day, but you don't enjoy it. It is a big modern problem, sir.

What do you think?

Ulf Ekman would say: "Thank you so much Isma for reading my book. I am just a channel that God sent for you to make you understand these important points in your life, in your own context. One day if you forget, just read your notes."

QUOTATION:

Wherever you go you will find people dictated to and ruled by money, unless they are ruled by the Spirit of God. If they are not directly by money itself, they are ruled by what money can buy... We are virtually afraid of speaking about money. Why? Because we are afraid that others will think we are overly interested in money. (6) 

Financial prosperity is certainly not a get-rich-quick scheme; however it does seek to challenge incorrect beliefs about money... Money is a sensitive subject. For many, it is an open wound they dare not touch, think about or speak about... You have not been called to live in financial bondage... Poverty-consciousness has become such a normal part.. And we need to renew our minds. (7) 

A "balance" of 50% faith and 50% unbelief is no balance at all. (8) 

The more you get know God, the fewer problems you have with areas like healing, the authority of the believer, demons, speaking with others tongues, and so on. (11) 

He gives much more than you think He should give... Give, and it will be given to you: good measure, pressed down, shaken together, and running over! God enjoys giving to you... (12) It is mind blowing tho'. 

You need to see God's character with regard to giving so that you will no longer have a bad conscience in this area of your life... God has two primary characteristics in the area of giving; first, He is a rich God, and second, He is a glad and cheerful giver. (13) 

He is greater than you needs. (15) El Shaddai. 

Fill God's ears with His own promises and force Him to do what He has promised. (17) 

The Lord is the provider. (19) 

Through understanding God's character and covenant, you will begin to understand how He thinks. And this understanding is important. (20) 

There are millions of flowers which remain unseen by man. (21) 

Obedience leads to influence. (32) 

The devil gets nervous when you become a channel for God by blessing people with what God has given you. (33) 

Two important paragraph in page 36.

Perfection is not a requirement for the blessings of God. What really matters is the person's attitude of herart. If the heart is right, the blessings of God will immediately begin to flow. (37) 

Isma: Don't forget the source of wealth... I think in this world we meet many things something that we don't build, houses full of all good things, which we don't fill. 

The Lord knows that the curse which is in the world will come over us if we choose to disobey by following our own ways and the ways of the world. (44) 

"You shall plant a vineyard, but shall not gather its grapes." - "A nation whom you have not known shall eat the fruit of your land and the produce of your labour..." - "You shall carry much seed out to the field and gather but little in..." (44) 

Poverty has one aim: to rob people of the blessings of God and to prevent them from doing what has called them to do. (49) 

Wisdom is more precious than rubies, and all the things you may desire cannot compare by it. If you gain wisdom instead of silver, wisdom will in turn gain riches and honor for you. (54) 

Diligent hands will bring you success in every area of your life. 

The desire of the righteous is only good, but the expectation of the wicked is wrath. There is one who scatters, yet increases more; and there is one who withholds more than is right, but it leads to poverty. (57) 

I would not have been able to open this door for you if you had not turned down the other invitation. (86) 

Fear is stingy, afraid of the consequences and always trying to hold on to things. Fear must see before it can be believe. On the other hand, faith is built on the knowledge of what God has promised. (88) 

If your conscience is clear it will not be easy for people to pin something on you. (96) 

If God is truly your provider rather than people, you can be unmoved and content in any and every circumstance. Your trust is where it should be; in God... So one important aspect of walking in financial prosperity is being free from depedency on other people. (106) 

You will always receive back when you give. It is a spiritual law. (106) 

Always sow your seed in good soil and never sow under pressure. God will speak to you, thus enabling you to give with joy. However, do not give an arbitrary sum; ask God how much you are to give. The devil wants believers not to give. (117) 

Beloved, I pray that you may prosper in all things and be in health, just as your soul prospers. (119) 

Prosperity is for the expansion of God's kingdom. (123)

Title: Financial Freedom | Writer: Ulf Ekman | Translated by: Ferguson Communications | Year: 1989 | Publisher: Word of Life Publications Sweden 

Senin, 05 Januari 2026

Kondisi Darurat Literasi dan Dinas Perpustakaan Kita

            Masyarakat umum rata-rata tidak mengetahui jika di daerahnya masing-masing ada tempat bernama Dinas Perpustakaan dan Arsip. Bahkan dinas layanan ini bisa ditemukan hingga tingkat kabupaten, dengan berbagai macam namanya; meskipun di kalangan masyarakat, dinas ini lebih sering disebut sebagai perpustakaan daerah. Ketika saya menempuh pendidikan sarjana di Jogjakarta, perpustakaan daerah yang terletak di tengah kota menjadi tempat favorit untuk membaca, mengerjakan tugas, atau sekadar hanya wi-fi-an. Sementara di daerah asal saya, di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, alangkah sulitnya menemukan perpustakaan. Bahkan saat duduk di Sekolah Dasar, SD saya pun tak memiliki perpustakaan.

            Membaca buku "Literasi di Daerah: Realitas dan Strategi Kebijakan Perpustakaan Daerah" karya Moh Ilham A Hamudy, M Saidi Rifki, Mukhlisha Hayuningtyas, Mutiara Lulu Annisa, dan Fajar Setyawan mengingatkan saya kembali pada akses bacaan ketika masih tinggal di Cepu, serta membuka mata dan pikiran saya terkait peliknya urusan perpustakaan. Buku ini menghadirkan kondisi riil tantangan, hambatan, dan dinamika dinas perpustakaan di 34 provinsi yang ada di Indonesia. Secara umum, tantangan yang dihadapi dinas perpustakaan bisa saya golongkan menjadi 10 masalah pokok:

            Pertama, Sumber Daya Manusia (SDM). Buku ini menjelaskan ternyata dari banyak perpustakaan daerah, rata-rata karyawan yang bekerja di sana tidak berasal dari lulusan jurusan Ilmu Perpustakaan, melainkan jurusan campuran yang bahkan tidak berhubungan dengan perpustakaan. Hal ini jelas akan menghambat kerja-kerja perpustakaan karena seseorang harus belajar dari awal lagi. Meskipun setelah masuk dinas karyawan juga akan diberikan pelatihan, tetapi pelatihan ini tidak menjamin dia bekerja dengan terampil dan bisa memenuhi kebutuhan pelayanan yang dibutuhkan masyarakat akan perpustakaan.

Di sini, profesionalisme pegawai perlu didukung melalui berbagai kegiatan, seperti sertifikasi, pelatihan, pendidikan, dan lain-lain. Apalagi jika pegawai di dinas perpustakaan mayoritas diisi oleh generasi muda dan usia produktif usia sekitar 25-50 tahun. Tingginya tenaga kontrak yang kurang produktif juga perlu untuk dievaluasi kembali, sebab alih-alih membantu, di beberapa provinsi menunjukkan jika peran mereka pun belum begitu signifikan. Belum lagi ditambah pustakawan yang berasal dari inpassing atau golongan usia memasuki pensiun yang menganggap perpustakaan hanya sebagai tempat menghabiskan umur tanpa kontribusi aktif untuk kemajuan perpustakaan.

            Kedua, manajemen perpustakaan. Di banyak perpustakaan dan arsip daerah, manajemen yang tidak baik marak ditemui, bagaimana tim dalam perpustakaan gagal dalam mengatur, mengorganisir, merencanakan, dan memimpin organisasinya sendiri. Manajemen ini erat kaitannya dengan kepemimpinan, ketika pemimpin bisa memberikan teladan yang baik, dengan kepemimpinan yang baik, perpustakaan tersebut menjadi maju, begitu juga sebaliknya. Bahkan ada daerah yang antara kepala dinas dan sekretarisnya bahkan tidak saling tahu menahu apa yang dikerjakan, tidak saling mengenal, bahkan saling bermusuhan. Ketika saya membayangkan berada dalam kondisi kerja yang seperti itu, alangkah tidak enaknya.

            Ketiga, infrastruktur. Membaca buku ini seperti membaca sebuah parade arsitektur bangunan perpustakaan, karena buku ini mendeskripsikan dengan baik bagaimana bentuk, tata letak, perabotan (furniture), hingga warna dan mood dari bangunan perpustakaan di daerah. Infrastruktur ini di daerah sangat beragam kondisi fisiknya, ada yang merupakan bangunan baru, ada juga yang lama. Ada pula bangunan perpustakaan yang mengalami sengketa karena dilebur dengan dinas lain akibat efisiensi atau perampingan organisasi, seperti yang terjadi di Dinas Arsip dan Perpustakaan (DAP) Bali. Infrastruktur yang lengkap biasanya ditemukan di kota, di mana fasilitas yang diberikan tak hanya soal ruang saja, tapi juga infrastruktur digital yang memadai.

            Infrastruktur di sini juga berhubungan dengan banyak gedung perpustakaan di daerah yang tidak layak. Salah satu perpustakaan di Papua bahkan gedungnya rusak akibat gempa dan masih belum diperbaiki, perpustakaan ini juga menggunakan tenda darurat yang panas untuk pengunjung. Ada pula perpustakaan daerah yang masih menggunakan ruko dalam melakukan layanan operasionalnya seperti di Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Aceh, sehingga kurang representatif. Infrastruktur termasuk berkaitan dengan kenyamanan ruangan, dengan penyediaan ruang yang berventilasi baik, hingga penyediaan layanan khusus bagi anak-anak dan mereka yang berkebutuhan khusus (difabel).

            Keempat, keuangan atau kurangnya anggaran dan pendanaan. Faktor anggaran ini menjadi masalah pokok yang hampir ditemui di setiap dinas perpustakaan. Banyak sekali narasi yang menjelaskan alasan kurangnya anggaran menjadi masalah paling urgent yang membuat dinas perpustakaan tidak maju. Sebab, tanpa anggaran, program-program mereka tidak bisa jalan, seperti contoh sederhananya tidak ada dana untuk menjalankan Mobil Perpustakaan Keliling (MPK), yang membutuhkan bensin hingga insentif lebih bagi perpustakaan yang menjalankannya.

            Kurangnya anggaran ini juga menjadi hambatan utama dalam hal pengadaan buku-buku terbaru dan keberagaman koleksi yang dibutuhkan oleh masyarakat yang plural. Perpustakaan yang memiliki sedikit buku atau buku-bukunya ketinggalan zaman tentu mengurangi minat masyarakat untuk datang. Hal ini juga berdampak pada akreditasi. Meskipun banyak dinas perpustakaan daerah yang melakukan akrobat untuk mendatangkan anggaran, seperti dari dana Pokir hingga Silpa pendidikan, tetapi anggaran ini kebanyakan seperti dipaksakan tanpa menggunakan perencanaan anggaran yang matang.

            Keuangan ini berhubungan pula dengan begitu buruknya dinas perpustakaan dan arsip membuat rancangan anggaran dan program yang berkualitas. Di banyak daerah bisa ditemui, program-program tahunan yang menjadi dasar dalam penentuan anggaran ini secara substansi stagnan, tidak berubah, bahkan sekadar hanya “copy paste” dari tahun-tahun sebelumnya. Mereka pun juga tidak memiliki alasan dan data yang jelas mengapa suatu program itu penting dan perlu. Hal ini tentu akan menimbulkan masalah ketika dibicarakan ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), di mana pihak Bappeda sendiri tidak mengerti urusan perpustakaan. Alhasil, realisasi anggaran yang didapat tidak seperti yang diharapkan.

            Kelima, komunikasi yang buruk. Komunikasi menjadi faktor penting untuk menjalankan dan mewujudkan berbagai program di dinas perpustakaan dan arsip daerah. Ketika komunikasi yang baik tidak terjadi, maka program pun akan tersendat. Kisah komunikasi antarpegawai yang kurang dan tidak harmonis juga terlihat seperti di Provinsi Jawa Tengah. Di Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Jawa Tengah, koordinasi antar bidang di dalamnya tidak berjalan dengan baik karena Bidang Layanan dan Bidang Pembinaan berada di lokasi yang berbeda, di Jl. Setiabudi dan Jl. Sriwijaya. Bahkan dua bidang ini tidak mengetahui program sama lain karena kurangnya komunikasi dan koordinasi. Selain itu, di DPAD Provinsi Jambi, ketidakseimbangan dan kurangnya komunikasi terjadi antara pejabat fungsional dan struktural. Para pustakawan fungsional merasa diri mereka diabaikan dan tak dilibatkan dalam perencanaan kegiatan.

            Kisah mengkhawatirkan lain berkaitan dengan komunikasi ada di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Diperpusip) Jawa Timur, di mana hubungan antara sekretaris dinas dan para fungsionalnya tidak berjalan dengan baik karena lebih mementingkan ego sektoral. Masing-masing pihak juga tidak membaca beberapa kebijakan yang telah dibuat, sehingga memunculkan permasalahan lain seperti adanya kecurigaan dan hubungan personal antarpegawai yang terganggu.

Keenam, rasa kepemilikan dan bonding antar-pegawai yang kurang. Telah menjadi stigma jika mereka yang bekerja di bagian perpustakaan merupakan pihak-pihak buangan dari tempat lain. Ini membuat rasa kepemilikan dan inisiatifnya susah untuk muncul. Dinas Perpustakaan dan Arsip seolah juga seperti milik kepala dinasnya saja, sehingga para pegawainya bisa santai-santai, bekerja hanya setengah hati dan setengah hari, serta tidak menunjukkan kinerja yang maksimal—contohnya sangat lama dalam mendata buku, melakukan shelving, dan tidak tahu letak buku.

            Ketujuh, komitmen pemerintah daerah dan kepala dinas. Sebagaimana diketahui, literasi adalah masalah yang kompleks dan struktural, di mana kepemimpinan baik dari kepala daerah maupun kepala dinas sangat berperan di sini. Kurangnya komitmen pemerintah daerah dalam memajukan literasi berdampak besar pada rendahnya Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Masyarakat (TGM). Komitmen ini tentunya terlihat di dalam pengalokasian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan turunannya pada program-program perpustakaan hingga dualisme kebijakan anggaran antara Bappeda dan BPKAD sebagaimana yang terjadi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kalimantan Timur (Kaltim).

            Kedelapan, kurang sinergi dengan pihak-pihak terkait. Dinas Perpustakaan dan Arsip daerah sering kurang melakukan kolaborasi dengan instansi pemerintahan terkait, sekolah, universitas, hingga komunitas literasi di daerah masing-masing. Hal ini pula yang menjadikan dinas perpustakaan dan arsip sering kali tidak masuk ke dalam prioritas utama pemerintah daerah, termasuk di luar radar kepala daerah yang menjabat. Padahal, kolaborasi bisa dilakukan di banyak sisi. Salah satunya yang disebut di buku ini dengan menggandeng PKK atau menjadikan istri kepala daerah sebagai Bunda Literasi. Atau juga bekerja sama dengan pihak-pihak yang berpeluang untuk diajak kerja sama, seperti bekerja sama dengan TNI AL untuk literasi terkait kelautan, sebagaimana yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Gorontalo. Tak kalah penting, dinas perpustakaan dan arsip tingkat provinsi perlu membangun koordinasi yang baik dengan perpustakaan kabupaten/kota dan perpustakaan nasional.

            Kesembilan, pengembangan teknologi perpustakaan. Di zaman digital seperti sekarang, perpustakaan tentu harus bisa beradaptasi di tengah gempuran gawai yang dimiliki oleh hampir setiap orang. Buku-buku fisik hari ini terancam kehilangan relevansi dan eksistensinya dengan adanya berbagi produk digital. Dalam buku ini digambarkan, ada daerah yang peka menjawab tuntutan teknologi ini, tapi lebih banyak dinas perpustakaan dan arsip yang tidak peka menjawab tantangan ini. Hadirnya perpustakaan digital dalam bentuk aplikasi, seperti e-Library, e-book, Pojok Baca Digital (Pocadi) memang sangat membantu, tetapi terobosan ini dirasa kurang cukup jika pengelolaannya tidak baik. Pengembangan layanan digital yang inovatif seperti yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan Jogjakarta perlu direplikasi.

            Penggunaan teknologi yang terkesan setengah hati perlu mendapat atensi. Selain itu, pengelolaan dan pemanfaatan media baru seperti media sosial masih kurang. Banyak perpustakaan daerah yang kurang dalam memanfaatkan media sosial untuk membagikan informasi, promosi layanan, dan sarana edukasi bagi masyarakat khususnya netizen. Padahal, media sosial hari ini menjadi sumber informasi utama yang mendapat perhatian masyarakat selama 24 jam, tapi sangat disayangkan jika media baru seperti Instagram, YouTube, Podcast. Channel WA, hingga TikTok belum dieksplorasi.

            Kesepuluh, kurang inovasi di banyak sisi. Meskipun setiap daerah memiliki dinas perpustakaan, tetapi minat baca masyarakat masih saja tetap rendah. Inovasi ini bisa dilakukan di berbagai bidang: (1) memperbanyak event yang mengundang masyarakat untuk hadir, seperti adanya Hari Aksara (seperti yang terjadi di Provinsi Sumatera Utara), hingga workshop yang mendatangkan para penulis dan tokoh literasi ternama, seperti Najwa Shihab, Habiburrahman Elshirazy, Raditya Dika, dan lain-lain yang digemari oleh generasi muda. Kegiatan lain seperti mengadakan lomba pidato bahasa daerah, lomba karya tulis, dan lomba menggambar sebagaimana terjadi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DKP) Provinsi Lampung.

Selain itu, (2) perpustakaan berbasis inklusi sosial perlu dikaji lagi untuk mendorong kunjungan masyarakat, perpustakaan ini biasanya memberikan pelatihan/keterampilan yang sifatnya konkret dan menghasilkan uang. Hal ini seperti terjadi di Dinas Arsip dan Perpustakaan (DAP) Provinsi Sumatera Barat, dengan membuka pelatihan kerajinan bagi ibu-ibu. Atau membuka Kelas Asyik Bahasa Isyarat sebagaimana yang terjadi di Provinsi Sumatera Selatan.

            Kemudian, (3) membangun ekosistem perpustakaan yang lebih berpihak kepada pembaca. Segenap stakeholders terkait perlu menghidupkan literasi dengan berbagai macam upaya, yang dimulai dari penyediaan ruang yang nyaman bagi pembaca, peningkatan kapasitas SDM pustawakan, komitmen yang kuat dari pihak Pemda, hingga inovasi yang mendorong literasi dan minat baca masyarakat. Sebagai evaluasi, Dinas Perpustakaan di masing-masing daerah harus bisa mengevaluasi sepuluh hal ini di tempatnya masing-masing.

Asa di Tengah Tragedi

            Peningkatan budaya literasi khususnya dalam meningkatkan IPLM dan TGM merupakan PR besar yang dihadapi Indonesia. Meskipun Dinas Perpustakaan telah mengupayakan berbagai program dan niat baik, tetapi asa itu perlu untuk dipupuk. Hal penting yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengubah pola pikir (mind set) dan menjadi perpustakaan sebagai center of  excellence yang memberdayakan masyarakat.

            Renovasi infrastruktur (hardware) perpustakaan saja tidak cukup, sebagaimana yang terjadi di Provinsi Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Provinsi Papua. Dinas Perpustakaan dan Arsip perlu melakukan renovasi dari dalam (software).

Daerah juga memerlukan penggerak yang berasal dari individu-individu yang sadar akan literasi. Kisah inspiratif ini seperti dialkukan oleh Ocha yang berhasil mengubah citra tempat pronstitusi di Rusun 26 Ilir Palembang, Sumatera Selatan, menjadi Kampung Literasi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Tak hanya literasi, tapi juga dikembangkan dalam gerakan yang lebih luas lagi seperti pengolahan sampah. Kegiatan lain juga menciptakan kegiatan produktif, seperti dengan mendirikan Rumah Baca dan Kriya Warga Kampung Literasi 26 Ilir.

            Dari berbagai kondisi perpustakaan dan arsip daerah di 34 provinsi yang diceritakan dalam buku ini, menurut saya perpustakaan yang saya rasa ideal adalah di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY. Di DIY, masyarakat mempunyai berbagai akses literasi alternatif. Mereka mempunyai 24 jenis layanan, di mana 7 di antaranya telah berbasis digital seperti: iJogja, layanan Sitem Perpustakaan Terpadu Jogja Library for All (Sepatu Jolifa), layanan Perpustakaan Keliling, layanan Paket Buku, layanan Pojok Baca, layanan delivery order untuk pemustaka istimewa, dan layanan Perpustakaan Elektronik melalui aplikasi SiYocka.

Sebagaimana yang pernah saya rasakan sendiri ketika masih menjadi mahasiswa di Jogja dan berkunjung ke Perpustakaan Daerah Jogja, perpustakaan di sana saya rasakan sangat nyaman dengan fasilitas yang lumayan lengkap. Kondisi ini tak mengherankan karena pemerintah daerah setempat termasuk Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X mendukung ragam kebijakan literasi di DIY. Ini pula yang membuat pada tahun 2021, DIY mendapat penghargaan menjadi provinsi dengan literasi digital tertinggi di Indonesia.

Hal lain yang saya pelajari dari DPAD DIY adalah bagaimana mereka membangun jejaring dengan perpustakaan lintas lembaga, seperti dengan perpustakaan-perpustakaan yang berada di universitas-universitas di Yogyakarta. Kerja sama ini penting karena bisa menghubungkan antar-universitas, juga membantu para mahasiswa dalam menemukan referensi yang penting bagi mereka untuk tugas-tugas kuliah jika di universitasnya sendiri tidak begitu lengkap.

Sementara, daerah dengan kondisi yang paling tidak ideal adalah Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah (DPPAD) Provinsi Papua. Perpustakaan ini bahkan dari segi bangunan dan infrastrukturnya sudah tidak layak usai terjadinya gempa. Ruang baca di tenda tersebut tentu saja panas dan tidak nyaman. Para pengunjung hanya disediai fasilitas tenda. Beberapa ruang juga terkesan gelap, kotor, bahkan ada kamar mandi yang lebih mirip rumah hantu. Koleksi buku di perpustakaan ini juga sudah banyak yang tidak relevan dan up to date. Belum lagi, para pustakawannya juga kurang disiplin dalam bekerja, tidak menunjukkan skill yang seharusnya, dan program-program yang tidak berjalan.

Terlepas dari bahasan di atas, buku ini memiliki kelebihan, di antaranya, buku ini menyajikan data lapangan yang menarik terkait kondisi perpustakaan di daerah. Informasi merentang dari soal SDM, infrastruktur, anggaran, bahkan konflik internal unik yang berbeda antara daerah satu dengan daerah lain. Pengalaman tiap perpustakaan ini bisa menjadi kaca refleksi dan evaluasi bagi mereka yang bergiat di perpustakaan atau bidang literasi secara lebih umum.

Kelebihan berikutnya, buku ini dilengkapi oleh literatur akademik pendukung yang mendukung analisis kondisi perpustakaan. Literatur akademik ini memberikan pembacaan lain yang memperluas cakrawala pembaca. Meskipun ada kesan akademik, gaya bahasa dalam buku ini juga memberikan citra rasa sastra khas tulisan-tulisan feature. Dengan gaya bahasa tersebut, tulisan tidak hanya disajikan dengan mendalam, tetapi juga “segar”. Buku ini juga tidak terkesan menggurui, malah lebih bergaya semi-investigasi, karena membongkar bobrok yang rasanya sulit untuk diungkap jika penulis bukan dari orang-orang yang bergerak di bidang perpustakaan.

Sementara untuk kekurangan, buku ini tidak banyak membahas terkait "arsip" secara lebih spesifik, padahal nama dinas di daerah itu sendiri adalah Dinas Perpustakaan dan Arsip. Dalam buku ini masalah arsip hanya dibahas sepintas saja, seperti soal anggaran untuk arsip yang kurang hingga pendigitalisasian arsip yang setengah-setengah. Namun, geliat dan dinamika arsip itu sendiri belum dibahas lebih mendalam. Padahal arsip merupakan sesuatu yang penting. Arsip bisa dialihmediakan menjadi produk-produk literasi lain yang bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih suka membaca.

Kekurangan lainnya, saya merasa framing yang disajikan di dalam buku ini “seragam”, seperti soal infrastruktur, SDM, anggaran, inovasi, dan program-program yang dihadapi oleh perpustakaan daerah. Sebenarnya ini bisa menjadi kelebihan (kita bisa mendapatkan pola) sekaligus kekurangan. Dari sisi kekurangan, meskipun objek dan kondisinya berbeda-beda di setiap provinsi, tapi keseragaman ini di akhir pembacaan buku akan terlihat lebih jelas, jika sebagian besar masalah yang dihadapi oleh perpustakaan di Indonesia tidak jauh berbeda. Akan lebih menarik jika framing masalah yang dihadapi perpustakaan ini berbeda-beda. Diambil satu tantangan yang menonjol, kemudian digali lebih dalam, hingga solusi apa yang ditawarkan dari pendalaman masalah tersebut.

Namun terlepas dari hal-hal di atas, buku ini cocok dibaca oleh para pelaku literasi di tingkat struktural maupun mereka yang bergiat di komunitas literasi dan orang-orang yang peduli terhadap literasi.

Jakarta, 4 Januari 2026

Minggu, 04 Januari 2026

Catatan Buku "The Psychology of Money" karya Morgan Housel

"Psikologi Uang", ini buku pertama yang kubaca di tahun 2026. Buku pertama pula yang kubeli di tahun baru saat random main ke Gramedia di tanggal 1 Januari. Buku ini relatif aku selesaikan dengan cepat hanya tiga hari di tengah berbagai kesibukan bekerja, menulis, dan hal-hal keseharian lainnya. Aku ingin melanjutkan pola pembahasan buku dengan model dialog bersama penulisnya secara imajiner. Entah dia membacanya atau tidak, atau entah ini waras atau tidak, itu bukan jadi soal, aku hanya butuh pola keterhubungan.

Aku mungkin kesulitan bagaimana harus memanggil Morgan Housel karena dia tak mencantumkan secara spesifik tanggal kelahirannya di buku maupun internet. Entah itu Mas, Pak, Mister, atau lainnya; sebagaimana kultur Amerika, aku akan memanggilnya Morgan saja. Baiklah, kita mulai pembahasan buku ini...

Halo Morgan, salam kenal. Saya seorang pekerja jurnalistik yang bekerja di Jakarta sudah empat tahun lebih empat bulan. Saya menemukan buku Anda di Gramedia Pasar Baru, dan entah kenapa ada dorongan di hati kecil saya bahwa resolusi keuangan penting yang perlu saya prioritaskan di tahun 2026 adalah terkait kebebasan finansial. Itu kenapa, begitu saya melihat buku Anda di rak, saya langsung tertarik, meskipun di kesempatan-kesempatan sebelumnya saya tidak tertarik. Masalah keuangan jadi semakin penting bagi saya setelah mendapatkan musibah besar terkait dengannya. Ketidakpastian begitu menghantui saya.

Setelah membaca buku yang Anda tulis sebanyak 20 bab dengan tambahan bab sejarah konsumen AS berpikir, banyak poin-poin menarik yang saya catat. Namun, karena saya membatasi diri sendiri untuk tidak rakus dan berkata cukup, saya hanya membatasi tiga hal penting yang ingin saya utarakan terkait buku Anda:

  1. Hubungan kita pada uang tidak ditentukan oleh tingkat kecerdasan, kegeniusan, pengalaman, pendidikan; tapi perilaku kita terhadap uang.
  2. Berhati-hati pada apa yang kamu kagumi dan remehkan. Kamu tak perlu berpatokan pada satu hal khusus yang sangat ekstrem atau studi kasus. Tapi coba lihat pola umum yang bisa kamu pelajari. Pelajari polanya, yang kira-kira bisa kamu terapkan.
  3. Mendapatkan uang itu satu hal, tapi mempertahankannya adalah hal lain. Untuk mempertahankan uang, kamu harus tahu kapan merasa "cukup". Juga sabar untuk berpikir secara eksponen, bukan linier, dengan penumpukan secara pelan-pelan. 

Buku Anda sangat mudah dibaca, bahkan mungkin dengan pengetahuan terkait bahasa-bahasa saham yang hanya sebagian orang saja mengerti, tapi Anda bisa membahasakannya dengan mudah. Meskipun ketika saya baca sampai tuntas, alih-alih berharap buku ini akan menghadirkan sudut pandang yang sangat psikologis seperti teori-teori psikologi yang amat rumit; malah saya merasa kata "psikologi" di sini hanya tempelan saja, karena tanpa mengurangi bobot kualitas dari buku Anda, saya merasa apa yang Anda ceritakan memang lebih sebagai suatu "fakta", "sejarah", "studi kasus", "pengalaman" yang Anda racik sedemikian rupa, kemudian melabeli hal itu sebagai perilaku psikologi. Cara Anda menulis memang bukan hal yang baru (umum, normatif, terkadang mengulang), dan Anda sukses mengeksekusinya jadi jenis bacaan yang renyah.

Sebab, seperti yang Anda jelaskan juga, POV kita terhadap keuangan terlalu matematis atau fisikais, sehingga orang cenderung menjauhinya. Meminjam kalimat Sherlock Holmes yang Anda kutip, "Dunia penuh hal-hal yang jelas tapi tak pernah diperhatikan siapa pun." Tepat, di sektor keuangan, Anda telah melakukannya melalui pembahasan terkait: keberuntungan dan risiko, perasaan cukup, bagaimana menabung dan menumpuk uang, ruang untuk kesalahan, jebakan pesimisme, hingga suatu pengakuan. 

Setelah membaca buku Anda, terdapat perubahan yang terjadi di hidup saya. Barangkali ini akan menentukan keseharian saya berikutnya. Saya menyadari, usai membaca buku Anda, saya langsung benar-benar mengamati perilaku saya terhadap uang. Saya juga membatasi pengeluaran harian saya agar lebih bisa banyak menabung untuk mencapai kemandirian fiskal. Kemandirian ini secara sederhana didedefinisikan sebagai: bekerja apa pun yang saya suka, dengan siapa pun yang saya suka, dan selama apa pun yang saya suka. Saya juga menghitung aset saya, berhitung dengannya terkait masa depan saya, dan tujuan keuangan saya. Sebab perubahan ini, saya mengucapkan terima kasih. Saya kembali sadar terkait bagaimana sebuah buku bisa mengubah seseorang, bukan lewat teori, tapi dengan pendekatan psikologi. Caramu berhasil, Morgan. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih.

Dan barangkali Morgan akan menjawab: "Halo, salam kenal Isma, terus menabunglah, karena lewat buku ini, aku memang sedang mengajakmu untuk menelusuri perbuatanmu sendiri yang berkaitan dengan uang. Paling tidak, kamu sudah merasakan manfaat buku ini secara teknis, dan bagiku itu sudah lebih dari cukup jika buku ini bisa memberikan perubahan kecil. Aku berdoa semoga mimpi kemandirian fiskal kamu tercapai, selamat berjuang Isma. Terima kasih juga telah membaca." 

KUTIPAN:

Premis buku ini adalah bahwa mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan Anda dan lebih banyak berhubungan dengan perilaku Anda. Dan perilaku sukar diajarkan, bahkan kepada orang-orang yang sangat cerdas. (xv) 

Ronald James Read, kehidupannya sangat bersahaja. Sang mantan petugas kebersihan mewariskan $2 juta kepada anak-anak tirinya dan $6 juta lebih kepada rumah sakit dan perpustakaan setempat... Read menabung berapa pun yang dia bisa tabung dan menginvestasikan pada saham blue chip. (xvi) 

Ronald Read sabar; Richard Fuscone tamak. Itu saja yang membuat perbedaan besar; pendidikan dan pengalaman keduanya tidak berpengaruh. (xviii) 

Keberhasilan finansial bukan hard science, tapi soft skill yang di dalamnya perilaku Anda lebih penting daripada pengetahuan Anda... Keahlian-keahlian itu sekarang saya sadari sangat kurang dihargai. (xix) 

Mengetahui apa yang harus dilakukan tidak memberi tahu apa yang terjadi dalam kepala Anda ketika Anda mencoba melakukannya. (xx) 

Dua topik berdampak ke semua orang, baik Anda tertarik dengannya atau tidak: kesehatan dan uang. (xx) 

Kita berpikir dan diajari mengenai uang dalam cara-cara yang terlalu mirip fisika dan tidak cukup seperti psikologi... Hanya sedikit yang memberi kaca pembesar lebih kuat untuk membantu menjelaskan mengapa orang berperilaku sebagaimana adanya dibanding uang. Uang adalah salah satu pertunjukan terbesar di bumi. (xxi) 

Belajar sejarah membuat Anda merasa seolah mengerti sesuatu. Namun, sampai Anda menjalaninya dan merasakan konsekuensinya secara pribadi, boleh jadi Anda tak cukup memahaminya sampai mengubah perilaku. (5) 

Kami membayar mimpi, dan boleh jadi Anda tak mengerti karena sudah hidup dalam mimpi itu. Makanya kami membeli lebih banyak tiket lotere daripada Anda. (12) 

Hati-hati dengan siapa yang Anda puji dan kagumi. Hati-hati dengan siapa yang Anda remehkan dan hindari. (31) Oleh karena itu, kurangi fokus ke individu tertentu dan studi kasus, tambah fokus ke pola umum. (32) 

People: Friedrick Lewis Allen

Ya, tapi saya punya sesuatu yang dia tak akan punya... Rasa cukup. (36) 

Gupta dan Madoff melakukan sesuatu yang berbeda. Mereka sudah punya semuanya: kekayaan tak terbayangkan, prestise, kekuasaan, kebebasan. Mereka kemudian membuang itu semua karena ingin lebih. Mereka tak tahu kapan harus berkata cukup. (40) 

Tak ada alasan untuk mempertaruhkan sesuatu yang Anda miliki dan butuhkan demi apa yang Anda tidak miliki dan tak Anda butuhkan. (41) 

Tidak bertarung sejak awal, menerima bahwa Anda barangkali sudah punya cukup harta, meski lebih sedikit daripada yang dimiliki orang sekeliling Anda. Satu-satunya cara untuk menang di kasino Las Vegas adalah langsung keluar sesudah masuk. (43) 

Rahasianya adalah waktu. Begitu cara kerja penumpukan. Jumlah tahun yang Jim Simons punya untuk menumpuk kekayaan lebih sedikit daripada Buffett. (53) 

Pemikiran linier jauh lebih intuitif daripada pemikiran eksponensial. (54) 

Investasi: diam dan tunggu. (56) 

Ada sejuta cara menjadi kaya, namun hanya ada satu cara agar tetap kaya: suatu kombinasi sikap hemat dan paranoia. (58) 

Mendapat uang itu satu hal. Menjaganya itu lain cerita. (61) 

Kami selalu takut gulung tikar. Kami anggap besok tak sama dengan hari ini. Kami tak bisa santai. Kami tak boleh lalai. Kami tak bisa berasumsi bahwa keberhasilan kemarin akan menyebabkan nasib baik besok... Kemampuan bertahan untuk waktu lama, tanpa musnah atau terpaksa menyerah, adalah yang membuat perbedaan besar.(62) 

Anda perlu menghindari kehancuran. Dengan segala cara. (65) 

Ekonomi, pasar, dan karier sering mengikuti jalur yang sama, pertumbuhan di tengah kehilangan. (69) 

Saya sudah melakukan ini selama 30 tahun. Saya pikir rumus sederhananya, ada proyek yang berjalan dan ada yang tidak. Tidak usah pusing dengan keduanya. Lanjutkan saja dengan proyek berikutnya. (74) 

Kita bereaksi berlebihan terhadap kegagalan. (75) 

Kemerdekaan: Kendali atas waktu Anda adalah dividen terbesar yang bisa diberikan uang. (89)

Mereka menggunakan kekayaan Anda sebagai patokan untuk hasrat mereka sendiri untuk disukai dan dikagumi. (102) 

Kita cenderung menilai kekayaan berdasarkan apa yang kita lihat, karena itulah informasi yang tersedia di depan kita. Kita tak bisa melihat rekening bank orang atau catatan utangnya. Jadi kita mengandalkan tampilan luar untuk menakar keberhasilan finansial. Mobil. Rumah. Foto instagram... Namun kebenarannya adalah bahwa kekayaan merupakan apa yang tak terlihat... Kekayaan adalah aset finansial yang belum diubah menjadi barang yang bisa dilihat. (107) 

Apa benar-benar perlu memberitahu dia bahwa jika kita mengeluarkan uang untuk membeli barang, kita akan mendapatkan barang, bukan uang? (107) 

Kekayaan adalah menolak makan besar dan benar-benar membakar kalori. Sukar dan memerlukan kendali diri. Namun itu menciptakan kesenjangan antara apa yang Anda dapat lakukan dan apa yang Anda pilih untuk lakukan, seiring waktu. (109) 

Kemampuan menahan diri yang diperlukan untuk benar-benar memiliki kekayaan. (110) 

Susah mempelajari sesuatu yang tak bisa dilihat. Itu menjelaskan mengapa banyak orang kesulitan membangun kekayaan... Dunia penuh orang yang tampil sederhana tapi sebenarnya memiliki kekayaan dan orang yang tampil kaya tapi hampir bangkrut. Ingat itu ketika menilai keberhasilan orang dan menetapkan tujuan sendiri. (111) 

Satu cara paling dahsyat untuk menambah tabungan bukan menambah pendapatan, melainkan menambah kerendahan hati... Tabungan adalah selisih antara ego dan pendapatan. (118) 

Uang lebih mengandalkan psikologi daripada pengetahuan keuangan. (119) 

(Menabung murni untuk menabung). Supaya Is, kamu siap jika hidup: Mengagetkan Anda dalam waktu yang tidak pas... Manfaat tak kasat mata uang bisa jauh lebih berharga dan mampu menambah kebahagiaan Anda lebih daripada benda-benda kasat mata yang jadi sasaran jelas tabungan kita. (120) 

Bila Anda tak punya kendali atas waktu Anda, Anda dipaksa menerima segala nasib buruk yang datang. (121) 

Masuk akal > rasional. Berusaha lebih banyak masuk akal itu lebih ampuh daripada jadi rasional tanpa perasaan. (125) 

Anda bukan tabel. Anda manusia. Manusia yang kacau dan emosional. Saya perlu beberapa lama untuk menyadarinya... Menyadari ini adalah salah satu bagian penting dalam keuangan. (126) 

Jika demam berguna, mengapa kita selalu melawannya? Saya pikir alasannya tak sukar dimengerti: Demam itu menyakitkan. Dan orang tak ingin sakit. (129) 

Pelajaran yang tepat untuk diambil dari hal-hal yang mengagetkan adalah bahwa dunia itu mengagetkan. (144) 

Titik kegagalan paling besar dalam hal uang adalah hanya mengandalkan satu gaji untuk mendanai belanja jangka pendek, tanpa tabungan untuk bantalan antara belanja masa kini dan belanja masa depan. Menabung untuk hal-hal yang tak bisa diprediksi, seperti tikus. (166) 

Orang buruk dalam memprakirakan dirinya pada masa depan. Membayangkan suatu cita-cita itu gampang dan asyik. Membayangkan cita-cita dalam konteks ketegangan realistis dalam kehidupan yang makin besar di bidang kompetitif itu beda lagi. (171) 

Hanya 27% lulusan kuliah yang pekerjaannya berhubungan dengan jurusan kuliahnya, menurut Federal Reserve. (172) 

Hati-hati kalau mengambil petunjuk finansial dari orang-orang yang melakukan permainan yang berbeda dengan Anda. (190) 

Manusia itu rakus, dan kerakusan adalah suatu ciri manusia yang tidak bisa dihapuskan. Tapi jangan lewatkan pelajaran penting mengenai bagaimana dan mengapa orang merasionalkan apa yang sesudahnya tampak sebagai keputusan rakus. (192) isma: aku jadi tertarik meneliti terkait koruptor kalau baca ini. Banyak sekali korupsi terjadi di negeri ini, tapi kita gak tahu akar apa yang menjadi kerakusan mereka? Banyak yang saling bertentangan, semuanya kontroversial. 

Investor sering mengikuti petunjuk dari investor lain yang melakukan permainan berbeda, secara polos. (193) Padahal mereka memiliki tujuan dan cakrawala waktu yang berbeda-beda. Harga-harga yang konyol bagi satu orang, bisa masuk akal bagi orang lain, karena faktor-faktor yang diperhatikan berbeda. 

Satu hukum besi keuangan adalah bahwa uang mengejar hasil sejauh mungkin. (195) 

Duduk dan menonton dengan sabar? Tidak. Bukan begitu cara kerja dunia. (197) 

Namun bila Anda tak tahu mengapa seseorang berperilaku tertentu, Anda tak akan tahu berapa lama dia akan terus berperilaku begitu, apa yang akan membuatnya berubah pikiran, atau apakah mereka akan belajar dari pengalaman. (199) 

Satu hikmah yang bisa diambil di sini adalah bahwa hanya sedikit hal yang lebih penting dalam urusan uang dibanding memahami cakrawala waktu Anda sendiri serta tidak terbujuk perbuatan dan perilaku orang yang melakukan permainan berbeda. (200) 

Nasihat utama saya adalah usahakan mengenali permainan yang Anda lakukan. (201) 

Pesimisme juga kedengaran lebih cerdas. Pesimisme memukau secara intelektual. (204) 

Optimisme adalah kepercayaan bahwa peluang hasil baik akan ada seiring waktu, bahkan ketika dalam perjalanan kesana akan ada halangan. (204) 

Saya telah mengamati bahwa yang dikagumi khalayak sebagai orang bijak bukan orang yang berharap ketika yang lain putus asa, melainkan orang yang putus asa ketika yang lain berharap. John Stuart Mill. (209) 

Di karier, di mana reputasi dibangun sepanjang hidup tapi hancur gara-gara satu email. Sengatan singkat pesimisme berjaya sementara tarikan kuat optimisme tak diperhatikan. (218) 

Mengapa cerita lebih kuat daripada statistik? 

Fiksi menarik muncul ketika Anda cerdas, ingin mendapat solusi, tapi menghadapi kombinasi kendali terbatas dan taruhan besar. (225) 

Setiap orang memiliki model mental terbatasnya sendri. Kita membentuk narasi untuk mengisi kekosongannya. Kita hanya mengetahui sedikit dari cara kerja dunia dibandingkan yang sudah kita ketahui. Kamu bisa mengajukan penjelasan yang masuk akal berdasarkan sudut pandang dan pengalaman unikmu sendiri. 

Kahneman pernah menjelaskan jalan yang diambil cerita-cerita itu:
1. Bila merencanakan, kita memusatkan perhatian ke apa yang kita ingin lakukan dan bisa lakukan, mengabaikan rencana dan keahlian orang lain yang keputusannya boleh jadi mempengaruhi hasil kita. 
2. Dalam menjelaskan masa lalu dan memprediksi masa depan, kita fokus ke peran keahlian dalam sebab-akibat dan mengabaikan peran keberuntungan. 
3. Kita memperhatikan apa yang kita ketahui dan tak memperhatikan apa yang kita tak ketahui, membuat kita terlalu percaya diri dengan kepercayaan kita. 

Kemandirian berarti Anda hanya melakukan pekerjaan yang Anda suka dengan orang yang Anda suka pada waktu yang Anda inginkan selama Anda mau. (253) 

Isma: Saya tak masalah kalau tidak menjadi penulis terbesar di dunia, tapi saya tak bisa menjadi penulis yang buruk.

Judul: The Psychology of Money | Penulis: Morgan Housel | Penerjemah: Zia Anshor | Penyunting: Lucia Ariani | Penerbit: Baca (PT Bentara Aksara Cahaya) | Tebal: XXIV + 296 | Cetakan: XLVIII Edisi Revisi: Juni 2025