Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menggelar forum Mampir ke Makarya #68 berjudul "Dari Huruf ke Huruf ke Banyak Esai dan Kolom". Diskusi dilaksanakan di Ruang Tamu Makarya Gramedia Matraman Lantai I, Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026. Diskusi ini menghadirkan narasumber: Ariel Heryanto (Penulis, Profesor Emeritus Monash Unievrsity), Andina Dwifatma (Dosen Unia Atna Jaya, ko-editor dan penulis kata pengantar), Ining Isaiyas (Editor KPG), dan dimoderatori oleh Iman Zanatul Haeri (Guru Sejarah dan Wawasan Kebangsaan).
Editor KPG Ining Isaiyas menjelaskan, ketika membidani buku ini masuknya di tengah tahun lalu, saat Ariel dan Andina main ke KPG. Karena satu dan lain hal pengerjaan agak lebih lambat. Dengan kesabaran menyusun dan mengurutkan, setelah berproses satu tahun persis, bisa dilengkapi, secara teknis melayout, menyiapkan indeks, dan idenya terlebih dulu. Untuk dua karya Ariel, pihaknya menyambut baik. Isi dua buku ini percakapan tentang Indonesia. Dua buku ini memperkaya percakapan tentang Indonesia. Ini kayak nyambung. Semakin lengkap dengan perayaan KPG ke-30 tahun.
Sebagai editor, Andina melanjutkan, Ariel detail, tapi dia sebagai editor galak juga. Ide dari penyusunan buku ini terjadi ketika dia kuliah di Monash, Melbourne. Pas tahun terakhir sekolah, rumah Ariel dekat dengan kos Andina. Ini masa ketika banyak demo yang ada di Indonesia. Pada saat itu, kecemasan teman-teman yang kuliah bermacam-macam. Ia dan teman-teman cemas, bikin diskusi dan seminar, apakah dengan terpilihnya Prabowo, ada pertanyaan yang mengganggunya, apakah kita mundur dibandingkan Orba? Apa bedanya dengan yang dulu? Diskusi udah berlangsung intens.
Dari pengamatan Andina, Ariel ini arsipnya bagus untuk menjawab itu. Playbook Orba itu gitu-gitu aja, misal pocong begal, dulu mainnya kolor ijo. Perlu ada pembacaan sejarah gerakan Indonesia dari masa ke masa. Tulisan Ariel bagus untuk nge-track. Akibat asal ngomong, beginilah hasilnya. Kolomnya lebih dari 500. Dipilih 158, lalu terpilih 100 kolom. Ia dan Ariel memilih dengan damai. "Nasib Publik dalam Republik" ini versi esai kolom. Yang esai akademik ini yang "Huruf Demi Huruf", tulisan lebih panjang. Untuk mendokumentasikan gerak Indonesia. Serta bagaimana memetakan Indonesia, dan gerak Indonesia ke depan.
Andina melanjutkan, pemilihan judul juga dilakukan dengan perdebatan. Awalnya mau ambil judul "Republik Tanpa Publik". Tapi judul itu ternyata sudah ada yang memakai. Chairil Anwar juga pernah bilang nasib itu kesunyian masing-masing, tapi Indonesia jangan dipikirkan masing-masing. Kalau ia judulnya cenderung suka yang puitik, kalau Ariel enggak. Kemudian, ini sempat jadi materi soal urutan bab, apakah dibikin kronologis, atau yang paling kuat. Lalu dipilih berdasarkan abjad, lalu disusun secara kronologis. Ariel ini menarik karena merekam di berbagai bidang.
Terkait kolom yang paling favorit, akan ada subjektivitas, karena Andina latar belakangnya sastra, ia suka sastra dan seni, ia suka tulisan yang membahas dominasi pria dalam sastra. Juga bagaimana Reformasi 98 mengecewakan. Lalu, juga kenapa demokrasi? Judulnya, "Mungkin yang Salah Demokrasi".
Ariel menyampaikan rasa bahagia atas lahirnya dua anak ini. Makasi pada editor dan rekan-rekan yang mau hadir. Saya terharu ada yang bersusah payah menemani saya.
Sementara itu, Ariel ketika diberikan pertanyaan, kenapa Anda menulis? Ia menjawab, "alasannya karena mereka membaca tulisan saya, makanya saya nulis. Saya menulis karena saya tidak bisa yang lain." Ketika kecil, Ariel pernah bercita-cita jadi arsitek, tapi terhenti karena mahalnya bukan main. Ia juga giat berolahraga", tapi kalah juga. Akhirnya ia menemukan karier di menulis. Ini jujur: "Akhirnya saya temukan nulis itu kreasi sangat murah. Saya suka lukis, tapi biaya cat mahal. Dari Putu Wijaya saya belajar, hal utama bagi pegiat teater adalah tubuhnya." Dan bersandar pada argumen Putu Wijaya, penulis itu kertas dan penanya. Saya dari lapisan kelas menengah paling bawah.
Beberapa judul Ariel juga hanya nulis judul itu cuma satu kata, tapi Ariel bisa menjelaskan dengan mengalir? Padahal sekarang banyak judul nyentrik. Jawabannya sederhana, yaitu berdasarkan pengalaman. Tahun 2026 ini menjadi tahun karier kepenulisan yang ke-50. Sejak tulisan pertama tahun 1976 diterbitkan. Kenapa judul satu kata? (1) Karena menulis kolom, dan harus pendek. Editor Kompas gak apa-apa judul panjang, tapi secara visual gak enak. (2) Saya terinspirasi dari Putu Wijaya juga yang hanya menulis judulnya satu kata. Makin sedikit kata, makin tidak mereduksi makna.
QnA:
1. Zainal Abidin (Tegal): Saya follower Andina, meskipun followers 43 ribu, saya mau tanya Pak Ariel. Untuk siapa menulis itu? Orang membaca semakin berkurang. Perubahan dalam tulisan ini berat. Yang baca itu-itu saja, dan itu makin berkurang?
2. Chris Wibisana (Tangsel): "Nasib Publik dalam Republik" bukan yang terbaik tapi yang terpilih? Kenapa?
Ariel: Sederhananya, kalau nulis untuk Kompas, sesuaikan dengan
pembaca Kompas. Profil setiap pembaca berbeda-beda sesuai dengan media
yang akan kita kirimkan tulisannya. Kalau nulis untuk Kompas, maka perlu
mengenal pembaca Kompas kayak apa. Setiap hari baca Kompas, sehingga
tahu yang dibaca apa? Apa yang luput dari bacaan itu dan saya isi.
Juga, misalnya, pembaca Suara Merdeka ya berbeda.
Andina: Pak Zainal ini baca tulisan saya kuliah S1 di Undip. Yang ditulis kajian media, Michelle Foucault. Pertanyaan Chris, kurasi berdasarkan pada kesinambungan yang ada dengan zaman sekarang. Misal, tentara selalu paranoid dengan berbagai gerakan kiri. Saya memilih yang paling kuat. Dari buku Ariel, kesadaran sebagai bangsa, ini bisa digerakkan dari situ. Ada hint optimis.
Ining: Akhir-akhir ini baca intens, menurut penulis Parakitri Simbolon, tarik ulur kepentingan negara dan masyarakat selalu bertentangan. Kita harus melawan. Kadang-kadang publik ada moment menangnya.
4. Adit (BSD): Ini startnya overthinking, lalu dikumpulkan jadi buku. Apakah setelah menulis ini, overthinking masih ada? Atau ada insight baru?
Ariel: Banyak dari buku yang biru dari kolom harian dan majalah. Diterbitkan untuk dibaca saat itu. Pertanyaan Anda penting. Sekarang gimana? Saya dihubungi sejumlah penerbit, tapi saya hold dulu. Terutama lagi-lagi generasi saat ini, sudah dibahas teman-teman saya saat itu. Harapannya, ini disimpan, dan dikontekstualisasikan di masa kini.
5. Wawan: Mas Ariel, di zaman Anda dulu ini dari episteme group. Ariel punya kelompok intelektual. Ada Arief Budiman, Rizal Ramli, GM. Ini pembelajaran untuk memperdalam pengetahuan dan perspektif kita. Sehari-hari jadi sesuatu yang bermakna. Yang saya pahami, ada kelompok diskusi itu. Bisa diceritakan, terkait grup-grup itu? Buku ini akan lebih bermanfaat, sesuai bidang masing-masing. Lagi ramai-ramainya, bagaimana kita juga tetap update perbincangan intelektual global. Bisa cerita Mas.
Ariel: Pendek katanya, ada satu masa tentara masuk kampus dengan
tank. Di saat itu, lagi ramai-ramainya teologi pembebasan dan marxisme, di Indonesia timbul kelompok diskusi. Kelompok diskusi
terjadi di pra-internet. Jaman itu ketika bersurat, kelompok diskusi
sangat intens. Kelompok diskusi itu kelompok kecil, lima sampai 15 orang,
bertemu secara rutin. Di kota lain ada lagi. Puncaknya, kami bikin kelompok
diskusi se-Jawa dan Bali. Ada Harwib, Vedi Hadiz, bacaannya orang-orang
kiri-kiri semua. Salah satu analisisnya: Kenapa PKI kalah? Kelompok diskusi itu kekuatan. Kompas rajin, Mas St.
Sunarto memetakan berbagai kota. Bisanya cuma itu. Demo gak bisa. Bacaan
kita memang berat banget. Bacaan S3 dibaca S1. Kita teori, bisanya cuma
nulis. Masa itu pasti sulit, orangnya sama tulis. Andina ayo bikin di
Jakarta.
6. Tio (Bungurasih): Saya tertarik politik sehari-hari, wabil khusus, Pak Ariel concern ke kelas menengah. Saya membayangkan, ketika bicara teater, film, Pak Ariel bercerita tentang kelas menengah di Indonesia. Apakah bisa melihat kelas menengah dari filmnya? Atau produk-produknya?
Ariel: Tentang kelas menengah, ada tren baru dalam ilmu-ilmu sosial. Setelah runtuhnya Marxisme, muncul reaksi baru di kalangan ilmu sosial terkait representasi. Lalu antropolog studinya orang desa, saya bertumbuh masa itu. Pilihan ideologis saya, saya kelas menengah, saya bukan petani, produk saya ya dari posisi sata. Saya tak bisa tentang elit oligarki. Saya sadar betul, mengkritik kelas menengah karena saya adalah bagian dari situ. Kelas menengah itu paling gak jelas. Jadi dia akhirnya cenderung menjadi konservatif. Kelas bawah gak punya apa-apa kecuali penderitaan. Gak cukup menderita untuk melawan, untuk ngajak dialog.
7. Isma: Kenapa dari banyaknya seniman seangkatan Bapak, yang menjadi inspirasi Putu Wijaya?
Ariel: Karena karya-karya Putu Wijaya seiman dengan saya. Semua cerita-cerita Putu itu antihero. Walaupun petani, buruh, dll, tapi dia selalu menunjukkan kekuatan.
8. Indra (Monash) : Saya penasaran, ada gak sedikit perbedaan nuansa kebatinan ketika nulis di Salatiga? Melbourne? Singapura? Apakah tempat menjadi pembeda. Kalau iya, relevan kabur aja dulu.
Ariel: Menulis Indonesia dengan lokasi Indonesia seperti menulis
pohon di hutan. Saya di luar Indonesia, seperti melihat hutan dari jauh.
Yang kita lihat beda. Rahasia dapur yang individual, nulis Indonesia
dari jauh, saya bersumpah gak hanya nulis-nulis yang jelek saja. Tapi
ada saat-saat tertentu ketika nulis hal positif. Karena yang saya lihat
memang beda. Karena "etika" sangat penting dalam segala hal.
9. Fitriadi: Tadi pagi yang saya baca di berita, kata Prabowo, cuma Indonesia tentaranya ngurus sawah. Gimana biar gak terjebak dalam kesalahan sejarah yang berulang kali?
10. Question: Bagaimana dengan gerakan kabur aja dulu?
Ariel: Ketika keluar Indonesia, saya terpaksa keluar. Di kampus kami dulu terjadi konflik besar selama tiga tahun. Puncaknya sembilan bulan nonstop dosen gak digaji, kampus mogok. Sekarang ramai Serikat Pekerja Kampus, kalau benar melawan, harus berani mogok. Setelah sembilan bulan, di akhir 90an, ada gedung yang dipecahkan. Rektor menelepon, ada teman-teman yang menyerang. Kelasnya lain. Kalau Serikat gak berani, gak bisa. Senjata utama itu mogok. Pasivis. Saya terlunta-lunta gak digaji, teman-teman saya banyak wartawan gak digaji. Zamannya, orang-orangnya radikal semua. Saya juga punya teman, saya terjebak di Singapura. Negara paling otoriter. Pokoknya kamu bayar saya, saya kerjakan. Jangan buru-buru harus kabur.
Kenapa publik? Indonesia sedang berindustrialisasi. Publik ini kelasnya banyak. Dosen gak dihargai sebagai buruh. Kapitalisme gak betul-betul kapitalis industri. Ketika memaki-maki kapitalisme di Indonesia, kapitalisme macam apa ini?
Terkait amnesia sejarah? Tujuan buku ini mencoba melihat kembali apa yang terjadi. Masalah kolonial ini jelas sekali. Kalau gak cocok ya putus, di mana pasar kita juga gak pernah bebas. Feodalisme di Indonesia kuatnya bukan main.
Ining: Memang harus dibaca dua buku Pak Ariel. Membaca itu gak cuma pengalaman intelektual, tapi juga pengalaman tubuh. Gak semua orang betah duduk berjam-jam. Saya datang dari tradisi idea, tapi Ariel dua-duanya ada.
Andina: Saya menegaskan lagi, penerbitan ini bukan merayakan ketokohan, kami merekonstualisasi lagi republik. Apa artinya ini sekarang? Ariel juga nulis kata pengantar murni. Kenapa nulis? Bahasa teoritisi lainnya, agar bisa mengonstruksi structure of feeling kita sebagai masyarakat gimana.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


















