I. Pembukaan dan Kilas Balik Diskusi Sebelumnya
Tema Klenik Studies edisi Hari Natal, Kamis, 25 Desember
2026, bertema “Hantu di Universitas atau Perguruan Tinggi”. Peserta yang hadir
terdiri dari: Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurul Diva Kautsar,
Nurizky Adhi Hutama, dan Isma Swastiningrum.
Sulkhan membuka pertemuan dengan menegaskan bahwa diskusi
hari ini melanjutkan obrolan sebelumnya tentang hantu di institusi pendidikan.
Mengingatkan kembali pembahasan yang berangkat dari hantu sebagai politik
ingatan. Ia menyinggung cerita-cerita hantu di sekolah masing-masing peserta:
dari cerita turun-temurun di desa, kerangka manusia di ruang laboratorium
sekolah Nurizky yang berasal dari tukang kebon, hingga suara-suara misterius di
sekolah. Isma sebelumnya menyinggung hantu sekolah sebagai representasi trauma yang
diwariskan lintas generasi.
Pertanyaan utama yang hendak diteruskan: mengapa
pengalaman traumatis itu terus hidup di dunia pendidikan, dan mengapa ia
diwujudkan dalam figur hantu. Dari sisi psikologi, menurut Sulkhan, masih ada
celah yang perlu dibahas lebih jauh.
II. Tipologi Hantu di Universitas
Isma membagi fenomena hantu di universitas ke dalam beberapa
pola:
1. Relasi Dosen-Mahasiswa: Kisah dosen yang mengajar di
kelas lantai tiga pada sore hari. Mahasiswa di kelas itu berwajah pucat tanpa
ekspresi. Dosen tersebut tetap mengajar hingga 3 SKS selesai. Setelah keluar
kelas, ia baru menyadari bahwa dirinya telah berada di kelas tersebut selama
tiga hari.
2. Mahasiswa Abadi: Kasus Mbak Yayuk di UGM, khususnya
populer di Fakultas Ekonomi. Ia adalah mahasiswi angkatan lama yang skripsinya
berkali-kali ditolak hingga mengalami stres berat dan bunuh diri.
3. Mahasiswa Bunuh Diri: Mahasiswi UI berinisial MPD (21),
angkatan 2019 FISIP Ilmu Komunikasi, ditemukan tewas di apartemen Kebayoran
Baru, beberapa hari sebelum wisuda.
4. Hantu Perempuan dan Ruang Kampus: Selain Mbak Yayuk, urban
legend Mbak Rohana di jembatan Perawan UGM (penghubung Pertanian–Kedokteran
Hewan). Sosok perempuan berkerudung yang jatuh dari jembatan lalu menghilang.
5. Hantu sebagai Kontrol Sosial Agar Tak Pulang Malam: Cerita
mahasiswa yang menyeberangi jembatan berkabut pukul 11 malam, melihat rambut
dan kepala menggantung di tiang jembatan. Di UNILA juga dikenal penampakan dua
perempuan kembar bergaun hitam di sekitar beringin, yang membuat mahasiswa
enggan keluar setelah senja.
Kisah-kisah ini tidak lepas dari situasi dan problem
struktural kampus itu sendiri.
III. Transisi, Ritus, dan Mahasiswa Abadi
Akbar melihat fenomena hantu di universitas, khususnya
mahasiswa berkaitan dengan fase transisi. Mahasiswa berada di masa
kepompong. Ketika transisi itu tertahan, terutama di skripsi, muncul trauma dan
ketakutan universal: takut tidak berfungsi di masyarakat. Hantu mahasiswa abadi
menjadi simbol kebuntuan itu. Dalam konteks transisi dan ritus, mahasiswa
diposisikan sebagai subjek yang sedang berada di ambang: belum sepenuhnya
menjadi bagian dari dunia kerja atau masyarakat, tetapi juga tidak lagi
sepenuhnya berada dalam fase belajar yang aman. Universitas berfungsi sebagai
ruang ritus peralihan, dengan skripsi, tugas akhir, dan kelulusan sebagai
ambang simboliknya.
Ketika ritus ini gagal dilalui (skripsi tak selesai, wisuda
tertunda, atau tekanan mental terlalu berat) mahasiswa seolah terjebak dalam
fase liminal yang berkepanjangan. Figur “mahasiswa abadi” kemudian muncul
sebagai imaji kolektif atas kegagalan transisi itu: tubuhnya tetap berada di
kampus, ruang kelas, perpustakaan, atau lorong-lorong akademik. Ada ketakutan,
tidak benar-benar menjadi apa-apa dan tidak sampai ke fase kehidupan
berikutnya.
Sementara menurut Isma, label “mahasiswa abadi” tidak selalu
merujuk pada hal yang negatif, tetapi juga positif. Dari pengalamannya, dia
memperhatikan kadang menjadi mahasiswa abadi juga merupakan pilihan sadar si
mahasiswa sendiri untuk memaksimalkan skill dan pengalamannya di kampus,
terutama terjadi pada anak-anak seni/teater. Melenceng dari anjuran kuliah dari pemerintah, maksimal 5 tahun.
IV. Hantu Perempuan, Patriarki, dan Perlawanan
Nurul mengaitkan fenomena hantu perempuan di kampus dengan
tulisan Aihwa Ong berjudul “Spirits
of Resistance and Capitalist Discipline”. Hantu perempuan dipahami
sebagai bentuk perlawanan terhadap patriarki dan kapitalisme. Selain dipahami
sebagai bentuk perlawanan, hantu perempuan dalam konteks kampus dan ruang
publik juga bekerja sebagai alat pendisiplinan tubuh perempuan itu sendiri.
Menganalisis lebih lanjut, cerita-cerita tentang Mbak Yayuk,
Mbak Rohana, perempuan jatuh dari jembatan, atau sosok berambut panjang di
ruang-ruang sepi sering kali berfungsi ganda: di satu sisi menyuarakan trauma,
kekerasan, dan ketidakadilan yang dialami perempuan dalam sistem patriarkal; di
sisi lain justru menjadi mekanisme kontrol agar perempuan tidak berada di ruang
tertentu, tidak pulang malam, tidak sendirian, dan tidak melampaui batas moral
yang ditentukan. Dengan demikian, figur hantu perempuan tidak sepenuhnya
membebaskan, karena narasi horornya kerap direproduksi untuk menjaga
keteraturan sosial dan menegaskan siapa yang “pantas” berada di ruang publik.
Sementara itu, dari cerita Nurizky, kisah Slamet Suroyo di UII
memperlihatkan bagaimana hantu tidak hanya hadir sebagai residu trauma, tetapi
juga sebagai bentuk perlawanan. Slamet dikenal sebagai mahasiswa yang berusaha
membongkar dugaan korupsi dalam proyek pembangunan kampus, sebelum akhirnya
meninggal. Setelah kematiannya, yang beredar bukan sekadar cerita duka,
melainkan urban legend tentang buku laporan bertanda tangan darah yang
dijaga sosok pocong. Wujud pocong itu mencerminkan posisi perjuangan Slamet
yang terhenti di tengah jalan, melainkan tetap “berjaga” pada dokumen, ingatan,
dan upaya perlawanan yang gagal diselesaikan semasa hidup, menjadikan
perhantuan sebagai arsip aktivisme yang sering tak diakui secara resmi.
V. Ingatan, Benda, dan Ruang
Sulkhan menekankan bahwa hantu merefleksikan sesuatu yang
tidak selesai. Ia menyinggung, dalam bahasan tentang ingatan, muncul pula
cerita bahwa memori tidak hanya melekat pada manusia, tetapi juga menempel pada
benda-benda sekolah: bangku kelas, sudut ruangan, laboratorium, dan
perpustakaan.
Ia menautkan ini dengan studi memori: benda bisa menjadi
pemicu ingatan. Dia mempertanyakan, mengapa ingatan itu berubah menjadi horor? Menurutnya,
mitos-mitos hantu di universitas, termasuk larangan dan cerita seputar lagu
“Gugur Bunga”, perlu dibaca dengan menelusuri latar sejarah UGM sendiri, karena
sangat mungkin berakar pada peristiwa traumatis tertentu, seperti ingatan
kolektif tentang kekerasan negara dan penembakan misterius (Petrus), yang
kemudian disublimasikan menjadi cerita horor dan peringatan moral di ruang
kampus.
Termasuk dengan mitos “Gugur Bunga” di Bundaran UGM, Nurizky
menceritakan bahwa versi kisah bundaran Teknik UGM yang ia dengar agak berbeda,
berdasarkan pengalaman teman-temannya di gang “Oestad” yang pernah melakukan
vandalisme di area tersebut. Mereka menggambarkan sosok seperti raksasa bermata
merah dan berbulu tinggi yang muncul sebagai urban legend untuk
mengurangi kenakalan remaja, terutama pacaran yang dianggap melewati batas,
mengingat kawasan itu sepi dan hampir tidak dilalui orang pada malam hari.
Isma juga membahas terkait cerita kereta hantu UI–Tebet
dibahas sebagai contoh keterikatan hantu pada ruang transisi (kelas, stasiun,
kereta). Kisah mahasiswa yang menaiki kereta dari Stasiun UI menuju Stasiun
Tebet memperlihatkan bagaimana hantu bekerja sebagai politik ruang. Ketika seorang mahasiswa pulang terlalu malam, kelelahan dan
tidak sepenuhnya sadar; di dalam kereta, dia bertemu dengan penumpang berwajah pucat, kereta yang tak berhenti di stasiun mana pun, hingga si mahasiswa bahwa ia sebenarnya berjalan kaki di sepanjang rel.
VI. Kiai, Kesucian, dan Stratifikasi Hantu
Sulkhan menjelaskan bahwa dalam tradisi pesantren, kiai
hampir tidak pernah dicitrakan sebagai hantu menyeramkan. Bahkan jika hadir
dalam mimpi, ia dianggap membawa berkah. Ada strata dalam perhantuan: orang
suci tetap suci setelah mati.
Sulkhan menyoroti bahwa hampir tidak pernah ada kisah kiai
yang menjadi hantu menyeramkan. Jika pun muncul setelah wafat, kehadiran kiai
lebih sering dimaknai sebagai pertanda baik, dia muncul dalam mimpi, memberi
isyarat, atau dianggap membawa berkah. Bahkan dalam cerita pesantren, ada
keyakinan bahwa semakin dekat seseorang dengan Tuhan, rohnya justru semakin
bebas: dapat hadir di banyak tempat, “menumpang” makhluk lain, atau berfungsi
sebagai penjaga.
Fenomena ini menunjukkan adanya stratifikasi dalam dunia hantu, di
mana kesucian semasa hidup menentukan bagaimana sosok itu dibayangkan setelah
mati. Santri yang kualat bisa menjadi cerita horor, tetapi kiai tidak; bahkan
jika kiai mati secara tidak wajar, imajinasi kolektif enggan mencitrakannya
sebagai hantu. Hal ini kontras dengan mahasiswa atau siswa yang mati karena
tekanan akademik, tugas akhir, atau ketidakadilan struktural; yang justru
dengan mudah diposisikan sebagai hantu gentayangan. Stratifikasi ini
memperlihatkan bahwa perhantuan tidak netral: ia mengikuti hierarki moral,
religius, dan simbolik, di mana mereka yang dianggap suci tetap suci bahkan
setelah mati, sementara yang berada di posisi subordinat lebih rentan dijadikan
figur horor.
Sulkhan dan Nurul menyinggung film Pengabdi Setan—ustaz
yang bisa dikalahkan oleh setan, tapi kiai hampir tak pernah kalah oleh setan.
Pola film seperti ini hadir baru-baru ini (karena ada hubungannya juga dengan
politik Orde Baru).
Nurizky mengaitkannya dengan mayoritas agama dan penjagaan
citra religius. Dalam diskusi juga muncul catatan tentang bagaimana
representasi hantu berkaitan dengan mayoritas agama, khususnya Islam. Di
Indonesia, figur kiai hampir tidak pernah muncul sebagai hantu menyeramkan,
sementara justru beredar kisah seperti pastor hantu di Jeruk Purut. Hal ini
dibaca bukan semata soal iman, melainkan soal penjagaan citra keagamaan di
ruang publik: karena Islam menjadi agama mayoritas, figur-figur sentralnya
cenderung dilindungi dari representasi horor agar tidak merusak wibawa
simbolik. Akibatnya, figur dari agama minoritas lebih “aman” untuk
dimistifikasi atau dijadikan cerita hantu, karena tidak menanggung beban
representasi mayoritas.
VII. Mahasiswa vs Dosen: Relasi Kuasa
Menanggapi Sulkhan terkait sangat jarang kiai yang menjadi
hantu, Isma mencatat bahwa mahasiswa jauh lebih sering menjadi hantu dibanding
dosen. Bahasan tentang mahasiswa versus dosen memperjelas bahwa kemunculan
hantu di kampus tidak bisa dilepaskan dari relasi kuasa yang timpang. Mahasiswa
berada pada posisi subordinat: jumlah banyak dan suara lemah. Karena itu,
ketika terjadi kegagalan (skripsi tak selesai, tekanan mental, hingga bunuh
diri) yang “menjadi hantu” hampir selalu mahasiswa, bukan dosen.
Akbar melihat ini sebagai jembatan psikologis dan relasi
kuasa: mahasiswa berada dalam ritus peralihan, dosen dianggap sudah “selesai”. Dosen
jarang dibayangkan sebagai hantu karena secara simbolik mereka dipersepsikan
sudah selesai, mapan, dan memiliki otoritas; bahkan ketika mereka problematik,
horor tidak diarahkan ke sana.
Sulkhan menegaskan bahwa mahasiswa adalah subjek yang sedang
menuju kematangan; kegagalan mencapai titik itu melahirkan hantu. Meskipun jika diberi kacamat pembesar, dosen berada
di posisi yang juga problematik, berbeda dengan kiai yang tetap dicitrakan suci bahkan
setelah mati.
VIII. Hantu di Kampus Luar Negeri
Diskusi kemudian menyinggung kisah-kisah horor di kampus
luar negeri. Isma bercerita, di Universitas Heidelberg, Jerman, selama era
Nazi, banyak profesor dikirim ke kamp konsentrasi. Hingga kini beredar klaim
bahwa di ruang kelas lama, papan tulis sering terhapus sendiri dan dipenuhi
tulisan-tulisan misterius. Di lokasi pembakaran buku-buku terlarang sebelum
Perang Dunia II, beberapa orang mengaku masih mencium bau terbakar. Ingatan
akan kekerasan negara dan pemusnahan pengetahuan itu seolah tidak benar-benar
hilang dari ruang akademik.
Di University of St Andrews, Skotlandia, kampus disebut
dihuni oleh beragam entitas gaib: biarawan hantu, perempuan hantu, pemain
seruling, hingga kapal hantu. Di Universitas Nagasaki, Jepang, arwah korban bom
atom Amerika Serikat pada 9 Agustus 1945 dipercaya menghuni area kampus. Trauma
perang dan kehancuran massal tidak hanya tercatat dalam arsip sejarah, tetapi
juga hidup dalam imajinasi kolektif dan kisah perhantuan.
Sementara itu, di University College London (UCL), Inggris,
dikenal legenda hantu seorang gadis muda bernama Emma Louise. Ia konon muncul
jika namanya disebut tiga kali. Emma dipercaya dibunuh di terowongan yang
menghubungkan gedung modern UCL dengan gedung Cruciform yang lebih tua.
Sekelompok mahasiswa yang mencoba memanggil namanya mengaku mendengar tawa
perempuan dan menemukan tulisan “tolong aku”, “mati”, dan “pembunuhan” di
dinding.
Sulkhan menanggapi bahwa pola ini konsisten: di luar negeri
pun, hantu-hantu kampus hampir selalu berasal dari mereka yang tidak memiliki
otoritas, korban perang, korban kekerasan negara, atau individu yang
terpinggirkan oleh sejarah besar. Mereka bukan figur berkuasa, melainkan
sisa-sisa tragedi yang tidak pernah benar-benar selesai. Bahasan ini
mempertegas bahwa hantu, baik di kampus lokal maupun global, berfungsi sebagai
penanda ingatan kolektif atas ketidakadilan, kekerasan, dan sejarah yang tidak
tuntas.
IX. Hantu, Kelas Sosial, dan Ketidakadilan
Diskusi berkembang ke hantu sebagai representasi kelas
tertindas, seperti buruh pabrik, mahasiswa, rakyat biasa, bukan elite. Hantu muncul
dari posisi yang tidak punya kuasa. Pembahasan tentang hantu, kelas sosial, dan
ketidakadilan menegaskan bahwa figur hantu hampir selalu berasal dari posisi
yang kalah secara struktural. Yang menjadi hantu bukan manajer, pemilik modal,
dosen elite, atau penguasa, melainkan mahasiswa yang gagal lulus, buruh yang
mati di tengah kerja, atau individu yang tidak memiliki ruang untuk
menyelesaikan konfliknya secara adil.
Nurizky menyebut, elite dan kelompok berprivilege cenderung
tidak dihantui karena mereka memiliki jarak emosional, logika rasional, dan
sumber daya untuk tidak berhubungan dengan hal-hal mistis, sementara kelas bawah
dipaksa menanggung beban hingga ke kematian. Hantu tidak
pernah benar-benar menyentuh elite.
Nurizky menambahkan bahwa kemunculan hantu juga berkaitan
dengan tingkat rasionalitas dan pilihan subjektif manusia. Ia bercerita pernah
berbincang dengan kalangan pengusaha yang cenderung tidak memikirkan hal-hal
mistis. Golongan ini tidak berarti lebih beriman, melainkan karena logika dan posisi sosial yang membuat mereka tidak memberi ruang pada pengalaman semacam itu. Sementara
itu, dari kecil, kita justru terus mengonsumsi narasi hantu, sehingga lebih
“tersedia” untuk dipinjam atau dihantui.
Nurizky lalu berimajinasi soal keinginannya jika kelak
menjadi hantu, ingin berwujud hantu yang keren—macam Gundam—seperti di beberapa
budaya lain, misalnya ksatria Templar atau figur horor ikonik di Barat. Di kisah lain ada Elizabeth
Báthory dengan tradisi satanisnya. Menurutnya, wujud hantu bukan sesuatu yang netral, melainkan hasil
negosiasi antara imajinasi budaya, posisi sosial, dan izin personal: hantu
menakutkan muncul karena memang difungsikan untuk menakuti, sementara pada
tingkat spiritualitas tertentu, manusia justru bisa berdiri setara dengan
entitas itu dan tidak lagi takut.
X. Spiritualitas, Elite, dan Kekuasaan
Diskusi berlanjut ke Soekarno, Soeharto, spiritualitas
elite, logika mistika, dan kemampuan “bekerja sama” dengan entitas gaib
alih-alih dihantui. Isma mempertanyakan dari bahasan sebelumnya terkait kelas/strata
perhantuan, dan bagaimana mereka yang katakanlah dari kalangan bawah bisa
melakukan “
hack” untuk bisa naik kelas?
Nurizky membahas energi, cakra, dan eksklusivitas kelas. Manusia
dipahami memiliki spektrum energi (bawah, tengah, dan atas) yang membentuk
karakter, cara berpikir, dan posisi sosial seseorang. Energi yang dianggap “di
atas rata-rata” membuat seseorang lebih cepat membaca situasi, lebih strategis,
dan lebih mudah melakukan “hack” dalam relasi sosial. Contohnya Soekarno
yang dipandang memiliki karisma dan wibawa tanpa perlu kehadiran langsung,
serta Soeharto yang digambarkan seperti pemain catur ulung, mampu menentukan
langkah jauh sebelum situasi terlihat jelas.
Konsep tujuh cakra disebut sebagai kerangka untuk memahami
perbedaan ini, di mana bentuk energi tiap orang tidak sama dan mengarah ke
fungsi yang berbeda: ada yang menjadi pemimpin, manajer, tentara, atau pemikir
akademik. Dalam pandangan ini, spiritualitas tidak selalu sejalan dengan
religiositas formal atau moralitas ritual, melainkan dengan kemampuan menyatu
dengan alam, membaca keadaan, dan mengelola energi diri untuk bergerak naik
dalam struktur sosial.
Soekarno dan Soeharto sebagai contoh figur elite yang tidak
dibayangkan sebagai sosok yang “dihantui”, melainkan justru digambarkan mampu
mengelola atau bahkan bekerja sama dengan dunia spiritual. Keduanya kerap
dipahami memiliki spiritualitas tinggi, bukan dalam pengertian moralitas yang
luhur, melainkan sebagai kemampuan melampaui rasa bersalah, takut, dan
keterikatan emosional yang biasanya menjadi sumber kemunculan hantu. Dalam
logika elite kekuasaan, dunia mistik tidak hadir sebagai gangguan, tetapi sumber daya yang bisa dinegosiasikan, dikelola, atau dijadikan bagian
dari strategi.
Spiritualitas tidak selalu berkelindan dengan moralitas sebagaimana
dalam kisah pewayangan yang disebut Sulkhan, terkait saudara, perang, dlsb. Karena
itu, tragedi kemanusiaan, termasuk kematian massal, tidak serta-merta
menghantui pelaku di posisi atas, sebab mereka tidak menghayati peristiwa itu
sebagai beban personal, melainkan sebagai angka, kebijakan, atau konsekuensi
sejarah. Spiritualitas tinggi tidak otomatis beriringan dengan moralitas, dan
justru mereka yang melampaui kemanusiaan sehari-hari sering kali menjadi kebal
terhadap hantu-hantu rasa bersalah, sementara yang tertindas dan tak berkuasa
terus hidup sebagai cerita perhantuan.
Nurul menyoroti faktor pendidikan dan lingkungan. Dia menyinggung
buku The Geography of Genius untuk mempertanyakan apakah Soekarno dan
Soeharto memiliki privilese ruang dan waktu untuk belajar dengan lebih tenang,
sehingga memungkinkan mereka mengenal diri sendiri dan “meng-hack”
situasi ketika sudah berada dalam posisi berkuasa. Ia mencontohkan Soekarno
yang sempat mengenyam pendidikan di Eropa dan di ITB, sehingga pengalaman
intelektual dan lingkungannya membentuk cara berpikir yang berbeda. Menurutnya,
lingkungan dan pola pendidikan sangat mempengaruhi arah energi seseorang: di
Eropa, seni dan musik berkembang dalam kerangka institusional, sementara di
negara berkembang kesenian lebih lekat dengan rakyat dan pengalaman
sehari-hari.
Akbar mengaitkannya dengan karisma pemimpin, kehadiran (presence),
dan pertarungan narasi—antara hantu orang tertindas dan figur pemimpin yang
dianggap adil. Akbar menyinggung bahwa karisma pemimpin sangat bergantung pada
seberapa “nyata” ia hadir di hadapan pengikutnya. Kehadiran ini bukan semata
soal jabatan, tetapi soal kemampuan untuk terus muncul, terlihat, dan dirasakan;
baik melalui praktik meditasi yang membuat seseorang lebih present dalam
hidup, maupun melalui kerja narasi yang konsisten.
Pemimpin dengan logika mistika yang kuat berusaha
mengalahkan narasi tandingan dengan membangun citra yang lebih nyata dan
meyakinkan, sehingga kepercayaan publik tertarik dan menumpuk pada dirinya.
Dalam konteks ini, terjadi pertarungan narasi antara cerita tentang hantu
orang-orang tertindas dengan figur pemimpin yang dipersepsikan adil dan hadir.
Akbar mencontohkan figur seperti Ferry Irwandi di Instagram, yang oleh sebagian
orang diposisikan hampir seperti mesias digital, karena kemampuannya membuat
diri terasa lebih nyata dan relevan dibanding narasi lain yang bersaing di
ruang publik.
XI. Kesimpulan
Pertama, hantu di institusi pendidikan, khususnya
universitas, muncul dari posisi yang belum selesai dan tidak berdaya.
Mahasiswa, siswa, buruh, dan korban kekerasan struktural lebih sering menjadi
hantu dibandingkan dosen, guru, atau elite, karena mereka berada dalam fase
transisi dan relasi kuasa yang timpang. Kematian, kegagalan, atau keterhentian
di tengah proses belajar dan berjuang menciptakan residu pengalaman yang tidak
menemukan saluran penyelesaian di dunia nyata, lalu hidup sebagai cerita
perhantuan.
Kedua, hantu bekerja sebagai politik ingatan dan politik
ruang. Ingatan kolektif tentang trauma, ketidakadilan, dan kekerasan melekat
pada ruang-ruang tertentu (kelas, bangku, jembatan, stasiun, kereta) yang
kemudian tidak lagi netral. Melalui cerita hantu, ruang-ruang ini mengatur
tubuh, waktu, dan perilaku. Pendisiplinan ini di antaranya secara tidak langsung mengatur siapa yang boleh hadir, kapan harus pulang, dan apa
konsekuensi jika melampaui batas. Dengan cara ini, hantu menjadi medium
disiplin sosial.
Ketiga, hantu menandai jurang antara yang tertindas dan yang
berkuasa. Elite politik, agama, dan ekonomi jarang dibayangkan sebagai sosok
yang dihantui, karena mereka tidak menghayati tragedi sebagai pengalaman
personal, melainkan sebagai kebijakan, angka, atau strategi. Spiritualitas
elite justru sering dipahami sebagai kemampuan mengelola atau menegosiasikan
dunia gaib, bukan tunduk padanya. Akibatnya, hantu tidak pernah benar-benar
menyentuh pusat kekuasaan, melainkan terus berputar di pinggiran, pada mereka
yang suaranya tidak terdengar semasa hidup.
Sebagai refleksi bersama, merasa dihantui bukan semata soal
ketakutan, melainkan tanda kepedulian terhadap kemanusiaan. Hantu mengingatkan
bahwa di balik statistik, institusi, dan ritus pendidikan, ada individu dengan
nama, tubuh, dan sejarah yang terhenti. Selama ketidakadilan, relasi kuasa
timpang, dan perjuangan yang tak selesai terus direproduksi, cerita-cerita
hantu akan tetap hidup. Ia berfungsi sebagai peringatan, sebagai arsip, dan
sebagai cermin bagi kehidupan.
XII. Tindak Lanjut
Pertemuan Klenik Studies berikutnya dengan tema: Cerita
Horor dari Rumah, yang akan dilaksanakan pada Kamis, 22 Januari 2026. Tema
ini sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari. Tema lanjutan tentang hantu
dari rumah berangkat dari cerita Rumah Kentang. Rumah itu kosong, tidak dihuni,
tetapi setiap kali orang melintas selalu tercium bau kentang yang sedang
direbus. Mitos yang beredar menyebutkan seorang ibu lalai saat memasak kentang
dalam kuali besar hingga anaknya yang masih balita tercebur ke dalamnya.