Sabtu, 28 Maret 2026

Catatan Buku "The Three Strangers and Other Stories" karya Thomas Hardy

PROLOG:

Akhir-akhir ini aku mengamati pola tidurku sendiri. Rata-rata dalam sehari aku tidur enam jam. Itu waktu minimal, agar aku bisa menjalani hariku dengan normal. Aku ingin jadi sebetul-betulnya aku, seperti Ernest Hemingway yang ingin membuat tokoh-tokohnya sebenar-benarnya lelaki tua, sebenar-benarnya anak lelaki, sebenar-benarnya ikan, dan sebenar-benarnya laut. Aku ingin menjadi sebenar-benarnya Isma, tak perlu menjadi orisinal, aku lebih suka menjadi autentik. Karena orisinal berbasis kebaruan, sementara autentik berbasis kejujuran. 

Aku membaca buku tipis Thomas Hardy ini di sepertiga malam, sekitar pukul 3 dini hari, sebab aku tidur cepat sekitar jam 9. Sebelum tidur, aku cukup kelelahan membaca buku 1984 karya George Orwell. Bagiku, buku itu masih dalam kategori berat. Temanya menyesakkan dada. Saat bangun dan setelah salat tahajud, aku melihat koleksi perpustakaan pribadiku di kos. Aku menemukan buku Thomas Hardy yang diceritakan ulang oleh Margaret Tarner. Sebenarnya, buku ini adalah buku latihan reading bahasa Inggris untuk kelas intermediate.  

Sebab di EF aku sudah di level C1/C2, mudah saja aku melahapnya sekali duduk, mungkin kira-kira aku selesaikan selama dua jam. Agak lambat untuk ketebalan 63 halaman, tapi aku benar-benar menikmatinya. Berikut kisah yang kutangkap...

ALUR:

Dalam buku ini, aku seperti diajak Thomas Hardy untuk flash back masa-masa (mungkin) sekitar abad pertengahan, meskipun dia hidup di antara tahun 1840-1928. Mengapa aku katakan begitu? Karena masalah sosial yang diangkat soal hukuman gantung di depan umum, selain itu juga masih marak tradisi sihir yang melibatkan pengucilan beberapa perempuan. Aku tentu teringat dengan buku Silvia Federici berjudul Perempuan dan Perburuan Penyihir. Bukuk tipis ini terdiri dari tiga (eh empat) cerita pendek, semua latar galibnya terjadi di daerah bernama Edgon Heath di Wessex, Inggris. Begini cerita ketiganya:

1, The Three Strangers: Sebagaimana di Indonesia, di Inggris perayaan juga dilakukan ketika masyarakat tengah melakukan selebrasi terhadap kelahiran, atau upacara kematian. Di sebuah desa yang dingin di Edgon Heath, ada perayaan anak kedua seorang Former Lodge dan istrinya. Mereka mengundang para tetangga dan menyediakan berbagai makanan dan minuman. Pesta itu berlangsung pada malam hari.

Mendekati malam, datang tamu aneh pertama. Orangnya kurus dan bisa bernyanyi dengan merdu. Awalnya dia mengendap-endap dulu, lalu menyapa pemilik rumah, duduk dekat perapian dan bersosialisasi dengan cukup tertutup. Tak lama kemudian, datang orang aneh kedua. Si istri pemilih rumah curiga terhadapnya, karena tubuhnya yang besar dan dia minum terlalu banyak. Bahkan porsinya bisa diminum untuk sepuluh orang sendiri. 

Setelah ngobrol, diketahuilah dia seorang hanging man. Kalau zaman dulu, dia adalah algojo yang membantu terpidana menjalani hukuman gantung yang dilakukan di depan umum. Dia kemalaman datang ke Wessex, mengetahui pesta itu dan ingin bergabung. Pagi-pagi sekali dia harus ke Casterbridge untuk melakukan pekerjaannya. Anehnya, antara orang asing pertama dan kedua saling bernyanyi, nyanyian itu seperti nyambung meskipun keduanya agak mabuk.

Tiba-tiba, datang orang asing ketiga. Dia ternyata dicurigai sebagai tahanan yang kabur. Alasannya, ketika dia datang, terdengar suara ledakan dari penjara sebagai tanda bahwa ada tahanan yang keluar. Dia juga dicurigai mencuri hewan gembala. Pada masa itu, mencuri saja bisa dihukum gantung! Akhirnya, dia lari menuju sebuah tempat yang sangat tidak nyaman secara geografis. Namun, pria ini tak ingin melarikan diri dan ditangkap oleh semacam polisi dan hakim yang tidak resmi kala itu.

Orang asing ketiga mengaku bahwa dirinya sedang mencari saudara kandungnya, yang tak lain adalah orang asing pertama. Ternyata orang asing pertama itulah sang buronan, tawanan penjara yang melarikan diri. Sementara itu, orang asing kedua ditugaskan untuk mengeksekusi hukuman gantung orang asing pertama. Sungguh absurd bukan? Akhir cerita ini mengambang, keduanya tidak ditemukan di mana perginya. 

2. The Withered Arm: Ini cerita unik kedua yang kubaca dari Thomas Hardy, yang menjadi cermin masyarakat pada masanya yang boleh dikatakan Eropa masa "mistik". Terkisah, ada seorang Tuan Tanah (Farmer Lodge) yang punya tanah garapan yang luas tentunya. Dia punya wanita simpanan, buruh perempuan yang bekerja sebagai pemerah susu bernama Rhoda Brook. Dari hubungan itu, keduanya dikaruniai anak laki-laki berumur 11 tahun.

Saat bekerja, Rhoda mendengar gosip bahwa Tuan Tanah itu akan membawa istri barunya yang cantik dan muda bernama Gertrude Lodge. Lalu, anak laki-lakinya disuruh untuk memata-mata si perempuan muda itu di tengah jalan secara terang-terangan. Namun, dengan penampilan necis yang menampakkan bahwa kelasnya setara, padahal tidak. Ibunya seperti dari kelas budak dengan mata hitam dan kulit berwarna, sementara Gertrude berkulit putih dan bermata biru. 

Rhoda pun sakit hati karena hubungan itu. Suatu hari Rhoda bermimpi mengerikan, dia berada satu ranjang dengan Gertrude, lalu Rhoda mencengkeram tangan kirinya, hingga Gertrude jatuh ke lantai. Kejadian itu terjadi pukul 2 malam, sang anak terbangun karena mendapati ibunya jatuh. 

Di lain kesempatan, Gertrude datang ke gubuk Rhoda untuk memberikan sepatu booth pada anak lelakinya. Rhoda merasa malu karena ternyata perempuan itu baik. Suatu hari, perempuan itu datang lagi untuk berbicara hal lebih serius. Gertrude menderita penyakit aneh ada tanda hitam di tangan kirinya, dan penyakit itu terjadi persis seperti di mimpi. Luka itu menimbulkan sakit, suaminya menjadi berkurang kasih sayangnya secara banyak karena luka itu. Rhoda merasa bersalah, karena dialah penyebabnya, dia meyakini jika dirinya punya kekuatan sihir.

Suatu hari, ada yang merekomendasikan Gertrude untuk mendatangi semacam orang sakti atau dukun yang bernama Conjour Trendle. Para pekerja mengatakan, Rhoda tahu di mana kediaman dukun itu. Awalnya, Rhoda ragu membawanya, tapi karena kasihan dibawalah dia kesana. Dalam rumah dukun, dia menyiapkan segelas air dan dipecahkan telur yang putihnya masuk ke gelas. Si dukun meminta Gertrude untuk melihat wajah pelakunya. Sekilas tampahlah wajah Rhoda. Namun, Gertrude masih sanksi Rhoda yang melakukannya. Ketika mereka pulang bersama, mereka hanya saling diang.

Bertahun-tahun kemudian penyakit itu semakin membuat Gertrude sedih. Dia menghabiskan hartanya untuk berobat, tapi tak ada dokter yang mampu menanganinya. Rhoda pun juga sudah pindah entah kemana. Dia lalu mendatangi dukun itu lagi meminta obat. Obatnya cukup sulit, Gertrude harus menyentuhkan tangannya yang sakit ke leher orang yang mati habis digantung. Meskipun ngeri, Gertrude pun menerimanya. Dia pergi ke kota tanpa seizin suaminya. Di saat yang sama, suaminya juga ke kota untuk kepentingan "bisnis".

Dia lalu menemui the hanging man. Dia mendiskusikan masalahnya ke sang algojo agar memberi kesempatan padanya untuk menyentuhkan lukanya ke leher korban gantung. Korban gantung ini pemuda yang sangat masih muda, mungkin baru belasan tahun usianya. Dia kena semacam kasus salah tangkap, karena berada di sebuah tempat yang menimbulkan kebakaran, padahal di sana dia hanya melihatnya saja. Sementara itu, pihak kerajaan tidak memberi keringanan hukuman atau menganulir hukum gantung itu.

Antara jam 12-1 siang, Gertrude diminta untuk mendatangi peti korban hukum gantung. Agar dia segera melaksanakan maksudnya. Namun, sialnya di sini, dan ini bagiku plot twist yang sangat mengagetkan: saat Gertrude ingin meletakkan tangannya di leher si pemuda, di belakangnya dia melihat Rhoda, makin kaget lagi, dia juga melihat suaminya berdiri di samping Rhoda. Ternyata, anak itu adalah anak hasil hubungan Rhoda dan Tuan Tanah! Rhoda selayaknya ibu-ibu langsung histeris dan marah-marah.

Tiga hari kemudian, Gertrude meninggal, disusul dua tahun kemudian suaminya meninggal. Terakhir, disusul dengan kematian Rhoda, sambil terus menyembunyikan kejadian mengenaskan itu.

3. Tony Kytes, The Arch-Deceiver: Ini kisah lelaki belang bernama Tony yang suka berbohong. Dia mbribik tiga perempuan cantik sekaligus bernama Milly Richards, Unity Sallet, dan Hannah Jolliver. Paling konyol, semua dijanjikan menikah sama Tony, sampai-sampai Unity cosplay jadi barang yang disembunyikan ke bak waggon atau kendaraan roda empat kala itu yang ditarik binatang. Namun akhirnya dia manut juga sama bapaknya untuk menikahi Milly.

4. The Special Orders Room: Kisah ini tidak selesai, karena halamannya tidak utuh. Intinya, ada seorang perempuan yang masuk ke dalam sebuah kamar. Di kamar itu, dia mendapati barang-barang aneh, seperti uang banyak dari berbagai macam negara, boneka yang tangannya patah, diamond, dll. Barang-barang itu aneh, ternyata, barang-barang itu jadi penanda atau simbol untuk menyantetlah kalau dibahasa Indonesiakan. Ternyata, kawan si perempuan ini seorang kriminal, barang-barang di kamar itu diibaratkan nasib kliennya.

ANALISIS:

Di cerpen pertama, pikiranku terasa sangat mindblowing, kok bisa ya nulis cerita sesederhana, seunik, tapi juga semisterius ini? Kisah kedua mengingatkanku dengan karakterku sendiri di novel Kaki Lima, aku juga memakai nama Rhoda, haha. Di novel ketiga dan keempat tak banyak kesan, karena ceritanya terpotong dan tidak selesai. Berkat buku Thomas Hardy ini, horizon litererku jadi nambah. Ada beberapa pemikiranku usai membacanya:

1. Aku jadi lebih ngeh gunanya grammar khususnya yang past perfect tense. Di sini penggunaannya jelas banget, karena aku sering bingung.

2. Aku jadi terinspirasi untuk membuat cerita yang terinspirasi dari masaku sendiri, seperti Thomas Hardy terinspirasi dari cerita-cerita masyarakat pada masanya.

3. Aku ingin eksperimen membuat alut dan plot twist yang barangkali Hardyan banget, haha.

Bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan kisah ini. Terima kasih Ya Allah. 

Judul: The Three Strangers and Other Stories | Penulis: Thomas Hardy | Retold: Margaret Tarner | Ilustrator: Anthony Colbert | Penerbit: Dian Rakyat Jakarta | Cetakan: Kedua, 2011 | Jumlah halaman: 63

Jumat, 27 Maret 2026

Catatan Buku "The Old Man and The Sea" karya Ernest Hemingway

PROLOG:

Buku klasik Ernest Hemingway ini mengingatkanku pada zaman-zaman ketika masih SMP entah SMA. Di masa-masa itu, aku meminjam buku The Old Man and The Sea di sebuah perpustakaan sekolah. Aku masih mengingat, buku ini laris jadi materi pembelajaran sastra. Namun, kesan yang mengikutiku sampai sekarang, ceritanya sangat sedih, dan dalam tubuhnya yang kecil dan kurus kala itu, aku menangis membaca buku ini. Aku kasihan sama Pak Tua, dan saat itu aku berpikir jika di akhir cerita, nelayan gaek berdedikasi yang sial ini meninggal. Tapi, pada pembacaan kedua, cerita 

ternyata dia hanya tertidur nyenyak sambil bermimpi tentang singa di Afrika. Lelaki tua yang benar-benar kasihan. Kutipan antara Manolin dan Santiago ini benar-benar memukulku:

"Seberapa banyak kau menderita?"
"Sangat banyak," jawab lelaki tua. 

ALUR:

Di sebuah desa nelayan di Havana, Kuba, hidup seorang nelayan yang sangat miskin bernama Santiago. Aku membayangkan rumahnya di tepi pantai, sedikit perabotan, tak ada makanan, dan dia hanya tidur di atas kertas koran. Harta benda paling berharga yang dia punya hanya perahu, dayung, kail, harpun, dan pisau untuk mencari ikan. Sayangnya, masyarakat di sekitar sana menyebut dia "salao" atau bentuk terburuk dari ketidakberuntungan. Pasalnya, selama 84 hari dia melaut, tak didapatkan satu pun tangkapan ikan yang mampu menghidupinya. 

Kurasa, Santiago masih memiliki keberuntungan karena ada pemuda bernama Manolin yang berempati padanya. Manolin bukan anak kandung, tapi anak tetangga. Dia dilarang orangtuanya ikut Santiago agar tidak ketularan sial. Lebih baik ikut nelayan lain yang banyak menghasilkan ikan. Manolin keras kepala mengikuti dan peduli pada Santiago. 

Dia sangat gemati pada laki-laki berumur tanpa keluarga itu, dari menemani ngobrol untuk mengurangi kesepian, menyediakan makanan dan minuman saat lelaki tua itu kekurangan, dan membantu membereskan alat melaut ketika Santiago berangkat atau pulang. Seolah-olah, Santiago ayahnya sendiri. Pun begitu, Santiago juga sangat sayang pada Manolin. Dia selalu mengharapkan kehadiran anak muda itu menemaninya di berbagai situasi, khususnya saat melaut.

Alur novela ini sangat-sangat sederhana. Jika kurangkum dalam satu kalimat: Nelayan tua yang berlayar di laut dalam untuk mencari ikan, namun setelah mendapat ikan besar sepanjang sejarah hidupnya, dia harus menghadapi cobaan makhluk-makhluk lain yang besar. Di akhir cerita, Santiago harus gigit jari karena ikan marlin seberat 1.500 pound, yang rencana akan dijual per pound seharga 30 sen itu habis dimakan predator laut seperti lumba-lumba, hiu, dan pari. Sesampai di gubuk deritanya lagi, hanya kerangka ikan marlinnya saja yang tersisa. Pak tua hancur jiwa-raga, tapi kupikir dia punya kemenangan akan harga dirinya yang berhasil melalui cobaan berat itu.

Di awal-awal pelayaran, perjalanannya santai-santai saja dengan hanya melewati laut yang tenang dan angin sepoi-sepoin. Namun, ketika dia sampai Laut Atlantik yang dalam, dia sendirian dan kelabakan. Apalagi dia sudah tua, bekalnya terbatas hanya sebotol minuman, tanpa makanan. Iya, karena dia tak punya makanan cukup dan sudah bosan makan. Dia hanya memakan ikan-ikan kecill yang ditemuinya di sepanjang perjalanan.

Kemampuan si lelaki tua dalam membaca arah angin, cuaca, bintang, dan situasinya seperti di luar kepala. Bahkan dia juga bisa memahami bahasa para burung-burung dan ikan-ikan secara tidak langsung. Meskipun, dalam perjalannya, tangan kirinya mengalami kram yang menyulitkannya. Selain itu, tangan kanannya  juga terluka setelah pertarungan sengit dengan tangkapan ikan marlin raksasa yang cantik, anggun, dan kalem itu. 

ANALISIS:

Nyaris, dari halaman pertama sampai terakhir, Hemingway begitu terfokus pada cerita Santiago saja di laut. Tak banyak bagiku penulis yang bisa sefokus ini, karena rata-rata kisah para penulis bercabang, banyak tokoh, dan berantakan. Progresi narasinya seperti reruntuhan puzzle yang diacak-acak, sementara progresi narasi Hemingway lewat tokohnya Santiago ini seperti melihat laut di pinggi pantai: padu, aware, dan berkesan. Aku ingin suatu hari bisa menulis sebaik ini. Setiap unsur sastra yang digunakan Hemingway sangat minimalis: karakter, alur, latar, konflik, hingga narasi interior dan eksterior tokoh. 

Laut bagi Santiago adalah surga. Bahkan si lelaki tua menyebut ikan-ikan dan hewan-hewan yang ada di laut sebagai saudaranya. Aku begitu menikmati monolog-monolognya dengan diri sendiri dan linkungan sekitarnya. Santiago juga menganggap laut memiliki karakter feminim. Aku pribadi sangat mengagumi karakter kuat Santiago dalam menghadapi berbagai tantangan laut yang dihadapinya. Aku jadi berpikir, ketika kau yakin berada di jalan hidup yang menjadi panggilanmu, apa pun hambatannya akan bisa kau hadapi dengan penuh ketegaran.

Novela ini pintar sekali fokus pada kondisi laut tak dihalangi imajinasi di luar itu. Sepanjang cerita hanya satu, yakni kisah tanding panco yang dilakukan Santiago saat muda. Atau yang ringan seperti bisbol, legenda DiMaggio, dan harapan misal anak muda yang bernama Manolin itu menemaninya. Sisanya adalah problematika antara Santiago dengan dirinya sendiri, dengan ikan, dengan laut, dengan cuaca, dan kondisi kelaparan serta kepapaannya. Aku juga menyukai bagaimana Hemingway bisa memakai dua POV sekaligus secara bergantian, antara POV orang pertama dan POV orang ketiga. Namun, pembaca masih dibuatnya bisa membedakan antara keduanya. Genius. 

Terakhir, aku mengutip kata-kata Hemingway berikut terkait karakternya di The Old Man and The Sea:

"Tidak ada buku bagus yang pernah ditulis yang menggunakan simbol-simbol yang sudah ada sebelumnya dan telah teringat di dalam pikiran. ... Saya mencoba untuk meciptakan lelaki tua yang sesungguhnya, anak laki-laki sesungguhnya, laut yang sesungguhnya, ikan yang sesungguhnya dan hiu yang sesungguhnya. Namun, jika saya telah membuatnya dengan cukup bagus dan sesungguh-sungguhnya, mereka dapat berarti apa saja".  

Judul: The Old Man and The Sea | Penulis: Ernest Hemingway | Penerjemah: Deera Army Pramana | Penyunting: Nina Artanti R | Penerbit: Narasi Yogyakarta | Jumlah halaman: 164 | Dimensi: 11,5 x 18,5 cm | Cetakan: 8, 2025

KUTIPAN:

Tokoh, peristiwa, dan lema-lema: Pak Tua, pemuda Manolin, ikan terbang, bonito, albacore, sarden, burung fregat, penyu hijau, penyu sisik, ikan marlin, harpun, lumba-lumba hidung botol, ikan todak, hiu, Virgin of Cobre di Kuba, Santiago El Campeon muda vs negro, pompano dolphin, 1500 pound per pound 30 sen, ikan pedang, dentuso, taji tulang, pari hiu sirip coklat, hiu galanos, Guanabacoa Havana Kuba, 

Untuk apa diciptakan burung-burung yang begitu ringkih dan mungil, padahal samudra begitu kejam? (36) 

Fatom (atau fathom dalam bahasa Inggris) adalah satuan panjang yang setara dengan 6 kaki atau sekitar 1,8288 meter, yang digunakan khusus untuk mengukur kedalaman air atau panjang tali kapal.

Setiap hari adalah hari yang baru. Memang lebih baik kalau beruntung. Tapi aku lebih suka menjadi tepat. Sehingga saat keberuntungan datang, kau sudah siap. (40) 

burung frigate yang megah adalah kleptoparasit, juga dikenal sebagai bajak laut di kerajaan hewan, mencuri makanan dari burung laut lainnya.

Ia senang melihat begitu banyak plankton karena itu berarti ada banyak ikan di perairan itu. (43) 

Laut Sargasso adalah region di tengah Samudra Atlantik Utara. Laut Sargasso dikelilingi oleh arus air laut. 

1 yard = 0,914 meter

Racun agua mala (ubur-ubur beracun) dari bangkai kapal perang Portugis di laut. 

Karapaks atau Karapas adalah bagian dorsal dari cangkang atau eksoskeleton dari berbagai kelompok hewan, termasuk artropoda seperti krustasea dan arachnida, dan vertebrata seperti kura-kura dan penyu. 

Nilai jual mereka juga sangat besar, meskipun jujur saja, ia memiliki rasa jijik dengan makhluk dungu besar itu. Menurutnya cara mereka kawin sangat aneh. Dan mengherankan juga bagaimana mereka bisa memakan kapal perang Portugis dengan mata tertutup namun tampak sangat riang. (45) 

Sebagian orang tak merasa kasihan pada penyu karena jantung penyu masih akan berdetak selama berjam-jam setelah disembelih dan dijagal. (45) 

Sebenarnya rasanya tak lebih buruk dari bangun tidur dengan terpaksa. (46) 

Ingatlah, tak peduli seberapa kecil minatmu, kau harus sarapan di pagi hari. Ingatlah. (60) 

Ia mencaplok umpan seperti pejantan dan menarik seperti pejantan dan perlawanannya tak mengandung kepanikan. Aku penasaran apakah ia punya rencana atau apa ia hanya putus asa sepertiku? (61) 

Kekang adalah alat mendasar yang digunakan untuk mengendalikan dan berkomunikasi dengan kuda saat berkuda. 

"Mungkin aku seharusnya tak menjadi seorang nelayan," pikirnya. "Tapi itulah tujuan hidupku, untuk itulah aku dilahirkan. Aku benar-benar harus ingat untuk makan tunanya setelah hari terang." (63) 

"Ikan," katanya lembut, dengan keras, "Aku akan tetap bersamamu hingga aku mati."

Ia memandang langit dan melihat kumulus putih meninggi seperti tumpukan es krim yang bersahabat dan tinggi di atasnya adalah bulu-bulu tipis awan cirrus pada langit bulan September. (77) 

Tapi, terima kasih Tuhan, hewan ini tak sepintar manusia, meskipun mereka memiliki kekuatan yang lebih. (80) 

Tangan kirinya masih sekencang cakar elang yang mencengkeram. (80) 

Seolah-olah samudra tengah bercinta dengan sesuatu di bawah selimut kuning. (92) 

Bulan dan matahari juga tidur dan bahkan lautan pun terkadang tidur di hari-hari tertentu saat tak ada arus. Saat itu lautan begitu tenang. (99) 

Rasa sakit bukanlah masalah untuk seorang laki-laki sepertiku. (108) 

Seorang lelaki tak pernah tersesat di laut dan di laut adalah pulau yang panjang. (114) 

Tetap tenang dan kuatlah lelaki tua. (116) 

"Kau benar-benar menyiksaku, oh ikan," pikir si lelaki tua. Tapi kau punya hak untuk itu. Belum pernah aku melihat makhluk yang lebih agung, lebih cantik, lebih tenang, atau lebih mulia darimu, saudaraku. Kemari dan bunuhlah aku. Aku tak peduli siapa yang membunuh siapa di ujung cerita ini. (119) 

"Kau harus menjaga agar kepalamu tetap jernih. Jaga kepalamu tetap jernih dan hadapi penderitaan ini layaknya seorang lelaki. Atau seekor ikan," pikirnya. (119) 

Sirip punggungnya memisau air tanpa gentar. (129) Sirip punggung birunya mengiris air. (130) 

Aku benar-benar ingin membelinya jika ada tempat yang menjual keberuntungan. (150) 

"Aku tak ingin bertarung lagi, dan kuharap aku tak harus melakukannya," pikirnya. "Aku sangat berharap tak harus bertarung lagi." (152) 

Kau tidak membunuh ikan hanya agar tetap hidup dan untuk menjual makanan, pikirnya. Kau membunuhnya untuk harga dirimu, dan karena kau adalah nelayan. Kau mencintainya saat ia hidup dan kau mencintainya sesudahnya. (135) 

Ia hanya menyadari betapa ringan dan baiknya sampan itu berlayar setelah tak ada lagi beban yang sangat berat di sampingnya. (154) 

Ia sadar betapa menyenangkannya memiliki seseorang untuk diajak bicara alih-alih berkata pada diri sendiri dan pada laut. (160) 

Kamis, 26 Maret 2026

Catatan Buku "Asal Usul Kebudayaan" karya Geger Riyanto

PROLOG:

Buku ini menarik karena penulis tidak menerima begitu saja hal-hal yang rasanya sudah umum, seperti ucapan-ucapan abstrak untuk membangkitkan motivasi, tapi juga membedahkan kenapa itu memungkinkan. Geger dalam buku ini mendedah artikulasi-artikulasi kebudayaan yang dilakukan oleh para advokat-advokat budaya di ruang publik. Kepeduliannya terhadap keselarasan antara teks dan konteks menjadi bagian yang bagiku sangat menarik untuk ditelusuri. Jika galibnya kebudayaan yang memiliki pusparagam definisi itu diartikan salah satunya sebagai hasil dari cipta, karsa, dan karya suatu masyarakat tertentu; di buku ini Geger menggugat antara pertentangan yang konkret dan kiasan dalam ranah kebudayaan.

ALUR: 

Barangkali, ini jadi salah satu review yang susah kulakukan karena sifatnya yang teoritis. Namun, sebisa mungkin, aku akan membuatnya dengan lebih sederhana dengan pikiranku sendiri:

Secara umum, premis buku ini adalah bagaimana gagasan dan praktik kebudayaan yang ada di Indonesia ini lebih bercorak pada kiasan, alih-alih pada bukti konkret, empiris, dan ilmiah. Namun, kiasan inilah yang justru menggerakkan kebudayaan di Indonesia karena sifatnya yang menghasrati jiwa-jiwa masyarakat Indonesia yang sering terpukau dengan kata-kata abstrak. Dalam pola yang seperti ini, budaya tidak ditentukan oleh seberapa konkret dia hadir, tapi seberapa mengambang dia hadir. Mengambang yang disimbolkan dengan kiasan ini penting untuk menstimulasi, memprovokasi, dan menggerakkan aktor-aktor budaya yang terlibat di dalamnya. 

Digarap dari POV antropologi, sepanjang membaca buku, aku seperti diajak berdialog secara intens, bab per babnya. Meskipun buku ini tergolong berketebalan sedang, aku membacanya tak kalah berat dengan buku-buku yang berhalaman tebal.

Buku ini terdiri dari enam bab. Pada Bab 1 "Problem Konseptualisasi Penalaran", di awal-awal buku, Geger bercerita terkait sang budayawan dan sang akademisi. Keduanya sama-sama menggunakan kata "kebudayaan" untuk membangun bangsa, khususnya dari segi maritim dan pembangunan. Coba bayangkan, ketika ada seseorang mengatakan, "Kita hidup dalam kekangan adab daratan," apa yang ada di pikiranmu? Hal serupa inilah yang disampaikan sang budayawan. Di awal, aku tak begitu ngeh siapa sang budayawan yang dimaksud, di akhir-akhir buku aku menemukan nama di balik sosok itu, yang berinisial RPD. 

Geger kemudian juga menyinggung penalaran primitif. Sejauh yang bisa kutangkap, dalam dunia mistik, kita sering kesusahan untuk menentukan antara apa yang ada dan apa yang kita yakini. Masalah ontologis dalam dunia mistik ini jadi salah satu misteri yang tak terpecahkan. Sayangnya, advokasi yang sering muncul di publik adalah menempatkan yang mistik ini sebagai suatu hal yang lebih rendah, hina, dan tentu, primitif dan pralogis. Kita juga punya kecenderungan untuk meninggikan yang rasional dan mengeksklusi yang mistik. Cara pandang ini tentu tak lepas dari peran rasionalisasi para ilmuwan Barat. 

Geger mendedah fenomena ini dengan menyebut beberapa penelitian relevan seperti penelitian E. B. Tylor, George Frazer, Lucien Lévy-Bruhl, hingga Evans-Pritchard; secara umum (dan vulgar) menganggap produk mistik itu sesuatu yang salah, galat, tentu sekali lagi, "primitif". Standar Barat ini dikritik oleh Geger, karena menghilangkan pusparagam kebudayaan yang sangat dijaga oleh antropologi. Dan parahnya, advokasi keunggulan nalar Barat ini masih sering kita reproduksi hingga hari ini.

Lalu, analisis berprogres pada penalaran kiasan dan konteks sosialnya. Geger mengutip penelitian Clifford Geertz bejrudul Witchcraft, Oracles and Magic Among Azande, yang mencoba untuk memoderasi universalisme akal sehat Barat. Kondisi mistik yang dialami masyarakat Azande bukan objek yang bebas dan berada di luar pikiran, tapi punya keterhubungan dengan benda-benda dalam tatanan klasifikasi yang bekerja--pion gagasan ini diambil dari Wittgenstein. 

Teori linguistik Wittgenstein sangat berfaedah untuk menguliti pengetahuan saintifik yang begitu dipuja oleh Barat dalam rangka meninggikan diri mereka sendiri, kemudian membodohkan golongan yang percaya pada mitos dan tahayul. Baginya: "Keyakinan, ritual, dan praktik-praktik lain yang dianggap menggambarkan mentalitas pralogis tak akan berjalan bila ia tak dianggap sesuatu yang meyakinkan dan nyata di antara para pelakunya." (13) Penekanan Geger yakni, penalaran berwatak kiasan ini seolah dari waktu ke waktu dianggap inferior, irasional, dibanding yang representasional. 

Secara alur pemikiran, Geger menjelaskan bahwa penalaran Indonesia dengan produk kiasan dan logika taut menautkan ini bisa mengonstitusi kehidupan sosial. Berbasis pada pemikiran Émile Durkheim bahwa dalam ranah sosial, gagasan melampaui ranah-ranah lainnya yang menciptakan realitas. Di sini, kita tak bisa amenyatakan bahwa produk kiasan para budayawan kita itu tidak nyata, tapi dialah yang memungkinkan kehidupan sosial bergulir.

Dalam subbab kajian-kajian terdahulu tentang kiasan, Geger banyak sekali mengutip berbagai penelitian terkait temanya ini, dari Durkheim, Mauss, Radcliffe-Brown, Malinowski, Alfred Gell, CS Peirce, Graeber, Lévi-Strauss, hingga penelitian dari Indonesia milik Tony Rudyansjah. Tujuannya untuk menjelaskan bagaimana kiasan-kiasan ini bekerja secara nyata dalam dunia kita hari ini. Bagaimana hubungan antara kekuasaan dan dinamika sosial. Dia mengungkap bahwa diskursus kebudayaan Indonesia berjalan atas prinsip kiasan, pemajasan, dan analogi yang penampakannya didukung oleh dimensi-dimensi yang praktis, afektif, dan sensual.

Pada Bab 2 "Artikulasi-Artikulasi Diskursus Kebudayaan Indonesia", di sini Geger mendedah keberagaman penggunaan konsep kebudayaan Indonesia. Ia menyinggung juga tentang kebudayaan pembangunan, sebagai tindak lanjut dari pembahasan di bab 1. Ia mengutip bagaimana Kepala Bapenas kala itu, Andrinof Chaniago, saat dies natalis FISIP UI ke-47 memberi orasi "Pengarusutamaan Bidang Sosial dan Budaya dalam Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia". Geger mengkritik bagaimana lema "budaya" masih menjadi dagangan yang laris untuk diberikan kepada audiens di tataran kelasnya, meskipun gagasan itu tidak baru. Bahkan pejabat-pejabat sebelumnya seperti SBY, juga lebih dulu menggunakannya.

Pada subbab "Sesudah Makan, Kebudayaan", menyinggung advokat budaya lainnya seperti Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III, yang terkenal dengan kebijakan NKK/BKK. Daoed menekankan jika menjadi manusia berbudaya lebih penting dibandingkan menjadi manusia berpendidikan, katanya, "Sesudah roti, kebutuhan rakyat yang pertama adalah pendidikan." 

Dari retorika Daoed dan Andrinof tersebut, sebenarnya tidak ada gagasan baru. Hal yang ingin ditekankan, dialektika kita berubah secara statis, dan masih tak bergeming antara Barat dan Timur. Diskurus ini termasuk yang dilakukan oleh Sutan Takdir Alisjahbana (STA), Sanusi Pane, dan Purbatjaraka. STA misalnya dalam polemik kebudayaannya, menginginkan adanya kebudayaan baru dengan meninggalkan kebudayaan lama, dan nasihatnya, jangan mabuk kebudayaan kuno. STA meminta kita untuk memilih mana yang baik, kemudian memakainya agar selamat.

Pada Bab 3 "Akar dan Perkembangan Diskursus Kebudayaan", Geger mengidentifikasi dan melacak asal-usul konotasi yang menganyam diskursus kebudayaan kita. Bab ini aku rasakan seperti suatu studi historiografi dan jadi bab jantung judul bulu terkait asal-usul kebudayaan yang Geger maksudkan. Lebih khusus lagi, kita akan diajak untuk mengenali aturan dan batasan dari wacana kebudayaan Indonesia. Di subbab pertama, Geger menelisik lebih jauh bagaimana kebudayaan menjadi oposisi terhadap alam. Dia menelisik berbagai literatur klasik dari zaman Plato, Hobbes, Thucydides, John Adams, Sahlins, dan Whitehead. Intinya, dualisme antara phusis (alam) dan nomos (manusia) ini berlangsung secara kontradiktif hingga hari ini, namun tidak bisa terpisahkan satu sama lain. 

Geger kemudian mendedah bab ini lagi ke dalam empat subbab utama: 

1. Kebudayaan sebagai agensi, daya kreatif: Pembahasan ini bagiku pribadi menarik, sebab merekatkan kebudayaan dengan kreativitas, vitalitas, dan kemanusiaan. Salah satu contoh yang menarik adalah bagaimana Michel Foucault secara jenius memberikan interpretasi jitu terhadap lukisan berjudul Las Meninas karya Diego Velázquez. Lukisan ini menggambarkan keluarga kerajaan Philip V di ruang megah Royal Alcazar, Madrid. Yang unik dari lukisan ini adalah, ia menandai Eropa sedang berada pada era epistemik baru, "ketika penghadiran perlahan mulai dipahami dapat dilakukan tanpa melalui objek yang dihadirkan itu sendiri." Foucault juga mencontohkan fenomena lain, Don Kisot, ketika Spanyol saat itu masih menjunjung tinggi norma-norma ksatriaan; Don Kisot dianggap tak waras oleh zamannya dengan cara tidak merespons pikirannya, dan berpetualang dalam pikirannya sendiri.

Subbab ini juga mengulas ranah yang bagiku cukup personal dalam konsep yang diusung oleh Kant dalam slogannya "sapere aude", beranilah menggunakan akal budimu sendiri. Kalimat yang disebut sebagai moto pencerahan ini membangkitkan seseorang pada ketidakberdayaan akalnya sendiri. Secara kebudayaan, ia juga memberikan implikasi yang memaksa manusia untuk membelenggu sifat kebinatangannya, lalu membalut diri dengan norma, kesantunan, dan selera estetik yang unggul.

2. Kebudayaan sebagai jati diri kolektif: Di subbab ini, Geger menelisik bagaimana kebudayaan juga merupakan cermin dari jati diri suatu masyarakat secara kolektif. Mengutip Raymond Williams semisal memahami Kebudayaan sebagai "produk dan praktik intelektual dan khususnya kegiatan artistik", seperti musik, sastra, patung, teater, film, dan karya berkualitas tinggi. Namun, di dalam konteks Indonesia sendiri, pencatatan bukan menjadi hal natural yang digeluti masyarakat sehingga kesulitan untuk menganalisis "kebudayaan" sendiri. Berbeda dengan Barat, yang sejak filsuf Yunani sudah sadar pentingnya mencatat, sehingga keholistikan lebih tinggi. Ini bagiku juga jadi tantangan/hambatan bagi masyarakat Timur yang masih lekat sampai hari ini, ketika kita ingin mengkaji hal-hal yang dianggap non-empiris. Tapi setelah kurefleksikan, faktor ini cukup inheren juga, jadi masih bisa diperdebatkan.

3. Kebudayaan dan watak bangsa: Geger di bab ini menegaskan bahwa diskursus kebudayaan Indonesia dilakukan dengan jalan menaut-nautkan alih-alih pembuktian, yang mengarah pada watak bangsa, karena memicu kepribadian asali jutaan orang. Apa yang dikatakan antropolog jadi kurang relevan dengan para ideolog yang tak ambil pusing dengan kontradiksi-kontradiksi pemikirannya sendiri. Memakai eksplorasi konsep yang dirintis oleh Levi-Strauss, Geger memakai istilah "penanda mengambang" yang tidak merujuk pada satu objek tertentu. Namun, penanda mengambang ini tidak langgeng ketika diuji secara empiris, tapi dia langgeng melalui kiasan dan konotasi. 

Di sini, Geger mengkritik bagaimana konsepsi kebudayaan tidak selalu memberikan kejernihan analitik, karena hubungan kolonial di zaman dulu. Masyarakat Eropa yang secara inheren dianggap lebih tinggi, maju, dan menduduki jabatan tinggi; mempertegas kebudayaannya yang kontras dengan budaya pribumi yang memiliki watak berkebalikan, dengan stereotip dihuni para kuli, petani, buruh kebun, dan meskipun priyayi masih dikatakan kolot. Ketimpangan ekonomi berlaku di sini, termasuk situasi yang terjadi pada sosok seperti RA Kartini.

Argumentasi terhadap kecenderungan ini bisa dilihat dalam karya JH Boeke terkait dualisme ekonomi dan JS Furnivall tentang masyarakat majemuk. Boeke pernah menyebut, bangsa Eropa dengan ekonomi kapitalisnya telah mengoyak-oyak kehidupan pribumi, menggerus kolektivitas dengan tatanan yang berorientasi pada keuntungan pribadi. Kebudayaan kemudian dimanfaatkan untuk melabeli dan menasionalisasi kemajuan, pandangan ini banyak ditemukan di berbagai pemikiran-pemikiran, terutama para orientalis. Termasuk ini juga yang digemakan para cerdik cendekia kita seperti STA, hingga Kartini pada mimpi menjadi gadis abad baru/gadis modern. 

Kartini kalau kamu amat-amati, mana ada dia jadi aktivis yang mengorganisir gerakan formal yang besar. Dia lebih dikenal karena korespondensi surat-suratnya, sekolah perempuan di lingkungan pendopo kabupaten yang terbatas, dan seperti halnya ibu-ibu PKK, Dharma Wanita, dan Dekranasda, promosi hasil ukiran pengrajin kayu di Jepara untuk orang-orang Eropa—dan itu bisa dilabeli pemberdayaan ekonomi. Yang penting dari Kartini, karena dia ada di "jantung terdalam masyarakat feodal", yang jauh dari pencerahan, tapi punya mimpi besar agar perempuan bangsanya terdidik, bebas, dan mandiri; dia lalu dianggap sebagai tokoh emansipasi perempuan. 

Jadi buat kamu terutama yang sekarang ada di kelas menengah ke atas, dan kalian merasa jauh dari pencerahan dengan kondisi kebijakan yang masih dianggap porak-poranda ini, kalian punya kesempatan jadi pembaharu di masa berbeda seperti halnya Kartini. Kalau kalian progresif, posisi kelasmu sekarang jangan disalahkan dan dimusuhi, jadikan privilese itu untuk menguliti kebudayaan kalian sendiri, sehingga ada emansipasi untuk pihak-pihak lain yang secara sistem dibunuh karakternya untuk menjadi sepadan.

Namun, kita semestinya cukup tahu, Kartini tidak akan memperoleh reputasi sebagai pahlawan tanpa narasi tragis seseorang yang sadar dengan ketertindasan yang malangnya tak berdaya lantaran terlahir dalam palungan kebudayaan masyarakat yang tertindas. (72) 
Diskursus kebudayaan yang seolah bersifat inheren dan statis terhadap lingkungannya ini terus diulang-ulang dalam berbagai macam bentuk penulisan. 

4. Kebudayaan dan kegelisahan pascakolonial: Dari masa kolonial, analisis kemudian bergerak pada masa pascakolonial. Di masa kolonial, contoh gamblang yang diberikan untuk subbab ini adalah lukisan Raden Saleh yang berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan ini merupakan tanggapan Raden Saleh yang tidak menerima lukisan Nicolas Pieneman, seolah Diponegoro "pasrah" ditangkap pihak Belanda. Kontras dengan itu, Raden Saleh membuat lukisan Diponegoro yang tak terima dan melawan, termasuk semangat ini diikuti oleh para pendukung dan masyarakatnya. Lukisan ini menjadi ekspresi kebangsaan yang bagiku mahal di ranah budaya.

"Raden Saleh tak sekadar berniat menunjukkan Diponegoro dikhianati oleh Belanda sebagaimana tafsir yang dominan muncul mengikuti penulisan sejarah Orde Baru. Raden Saleh juga menunjukkan Diponegoro bukanlah semata pemberontak yang mengacaukan ketenangan tatanan dan tidak dihiraukan orang-orang Jawa sendiri sebagaimana yang dilukiskan Pieneman melainkan sosok bagi orang-orangnya yang terancam direnggut kedaulatannya oleh sebuah bangsa asing." (77)

Pada situasi pascakolonial, advokat budaya kita melakukan berbagai macam strategi untuk menggambarkan bahwa kebudayaan Indonesia ini sejajar dengan kebudayaan bangsa lain. Beberapa praktik ini dilakukan oleh Sjahrir dan Pramoedya lewat perjuangan dan karyanya. Strategi lainnya, dengan menciptakan kebudayaan sintesis yang melampaui masyarakat sendiri di masa lalu dengan bangsa lain yang dianggap lebih maju. Praktik ini sebagaimana dilakukan oleh Romo Mangun.

Di dalam buku "Burung-Burung Manyar", ini bagiku menarik, karena aku akan lebih berhati-hati sekali soal konsep dan pengertian. Misal konsep kebudayaan yang dianggap sebagai bawaan sebuah bangsa, yang ini terus direproduksi sampai di situasi kontemporer, bahkan pada jalur yang tak terduga: kritik sastra pascakolonial. Geger memberi contoh "Burung-Burung Manyar" (BBM) karya YB Mangunwijaya, setelah dia merenungkan baik-baik usai membacanya, ditemukan Romo Mangun terang-terangan menyimbolkan kebudayaan Indonesia berwatak kolektif, dan merepresentasikan budaya Barat dengan watak rasional, individual, dan benci terhadap feodal. Romo Mangun mengusung gagasan-gagasan yang tidak lelah dia usung: pasca-Indonesia. 

Maksud Geger, tokoh utama BBM, Teto, tak seharusnya setiap waktu bergelut dengan dilema dua bangsa dengan wataknya masing-masing. Romo Mangun gagal menanggalkan ambisi filosofisnya karena BBM menarasikan konsep kebudayaan yang ahistoris. Pengertian kebudayaan hari ini didesain untuk memastikan kelompok yang satu lebih unggul dibandingkan yang lain. Lalu para pejabat menerokanya secara latah dalam pidato dan kebijakan. Lalu dalih yang tak usang bahwa suatu budaya harus "dilindungi, dilestarikan, dan dibangun" terus bergulir, meskipun pihak bersangkutan kebingungan, tak ada keuntungan praktis jangka pendek yang diperoleh darinya.  

Pada Bab 4 "Terpanggil Oleh Kebudayaan", di bab ini Geger menyigi temanya pada pengamatan-pengamatan yang dilakukannya pada para advokat kebudayaan. Pertanyaan sederhana yang coba diajukan: bagaimana proses mereka menjadi ideolog dalam diskursus ini? Bagaimana situasi-situasi yang memungkinkan mereka menjadi seperti itu secara intelektual?

Antara pilihan "memilih atau dipilih kebudayaan", secara panjang lebar, Geger menelusuri rekam jejak beberapa sosok yang disebut budayawan atau yang menggeluti kebudayaan, yang terdiri dari: Radhar Panca Dahana dan Yudi Latief (dengan sedikit tambahan Nirwan Dewanto). Radhar Panca Dahana yang sering membubuhkan identitas sebagai budayawan. Juga Yudi Latief yang sering melibatkan kebudayaan untuk menganalisis persoalan-persoalan pelik. Termasuk juga Nirwan Dewanto dalam pidatonya di Kongres Kebudayaan pada 1991. 

Yudi Latief misal menulis buku "Intelegensia Muslim dan Kuasa" (2005), hasil dari disertasinya di ANU. Buku itu dianggap menaikkan popularitasnya di lingkungan yang terbatas, apalagi dia juga memiliki kedekatan dengan Nurcholish Madjid ketika mendirikan Universitas Paramadina. Yudi tentu senang dengan itu, apalagi New York Times saat Cak Nur meninggal, membuat obituari berjudul, Nurcholish Madjid, 66, Advocate of Moderate Islam. Namun, trayektori Yudi berubah ketika menulis buku Negara Paripurna, dari yang awalnya orang-orang respek padanya karena berhati-hati dalam mengajukan gagasan, kali itu mengajukan gagasan secara anakronistis, penuh apriori, dan pretensius dengan mengidealkan konsepsi masa silam. 

Berbeda dengan Radhar Panca Dahana, ia berawal dari arena kesenian. Sejak umur 10 tahun, dia telah menulis untuk Kompas dan menjadi wartawan di sana. Termasuk juga mengajar di Sosiologi UI, meneruskan di EHESS Paris (dan bangga karena sempat berkorespondensi dengan Pierre Bourdieu dan Jacques Derrida), karenanya ia juga bekerja dengan standar akademik, memberikan pandangan miring terhadap gagasan yang tak disampaikan dengan keketatan yang memadai. Sepulang dari Paris, ia menderita sakit ginjal dan harus cuci darah seminggu tiga kali. Dalam tulisan-tulisan Radhar kemudian, lebih banyak mengangkat terkait dunia bahari dan peradaban maritim. 

Kesamaan antara Yudi Latief dan Radhar adalah gerak advokasinya dari mengajukan kritik menuju bentuk kebudayaan yang ideal. Mereka juga menggunakan "struktur terbayang" untuk mendefinisikan kebudayaan. Kata Geger, "Kita dapat secara metaforis, karenanya, mengatakan, mereka tidak memilih kebudayaan. Kebudayaanlah yang memilih mereka." Kebudayaan dengan jejaring konotasinya menempatkan mereka sebagai juru bicara. 

Progresi deskripsi beralih pada peralihan ganjil, sebagaimana yang dijelaskan di subbab sebelumnya, peralihan corak intelektual Yudi dan Radhar ini menggelikan. Namun, ada lagi yang lebih menggelikan untuk menggambarkan bagaimana konotasi, kiasan, dan otak-atik gatuk ini digunakan untuk membuat buku-buku yang bernada sensasional (dan berorientasi bisnis). Di antaranya, para ilmuwan yang bekerja di antara penanda mengambang ini seperti buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found karya Arysio Santos; Eden in the East karya Stephen OppenheimerPenjelajahan Bahari karya Robert Dick-Read; Majapahit Peradaban Maritim karya Irawan Djoko Nugroho; Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman karya KH Fahmi Basya; hingga Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB).

Buku-buku yang disebutkan ini dianggap ditulis dengan logika yang sama dengan memanfaatkan kuasa, dan seolah-olah untuk membentuk imajinasi jika bangsa kita lebih maju dan berharga. Hasrat bawah sadar yang dirindukan orang-orang Indonesia, meskipun materi pembuatannya bisa kita pertanyakan lagi secara akademis, ditulis oleh sejarawan amatir, atau diterbitkan di penerbit yang mengejar laba, dan secara referensi abal-abal kredibilitasnya.

Pada Bab 5 "Game of Nations", aku curiga bab ini terinspirasi dari serial drama fantasi Game of Thrones, tentang perebutan kekuasaan politik yang kejam antarkeluarga bangsawan. Kemudian, di ranah yang lain kita bisa menggantinya dengan perebutan kekuasaan kebudayaan antarnegara di dunia—atau secara lebih khusus antaradvokat budaya di Indonesia. Geger dalam bab ini menunjukkan asosiasi penanda untuk menunjukkan betapa besarnya bangsa Indonesia ini. Termasuk juga oposisinya ketika bangsa ini direndahkan, akan ada perlawanan, seperti yang dilakukan oleh Ridwan Saidi dalam buku Profil Orang Betawi. Buku ini merupakan bentuk kontra terhadap buku yang ditulis Lance Castles yang menganggap orang Betawi ini golongan budak dari berbagai suku yang berdatangan.

Narasi-narasi yang seolah menggembongkan diri sendiri itu dibangun di atas topangan perebutan nilai. Sejauh ini, para advokat budaya Indonesia tidak terlalu mempermasalahkan bagaimana konseptualisasi mereka sendiri perihal kebudayaan yang menggambarkan realitas di luar pikiran. Mengutip Graeber, ada cara pandang antropologis yang anti-ontologis pada medan kultural tertentu. Representasi ini berlaku secara kolektif, yang memobilisasi diskursus kebudayaan Indonesia. Dengan cara pandang yang menganggap bangsa sendiri lebih unggul lewat kiasan, tenaga, kapasitas intelektual, dan sumber daya.

Geger kemudian menyinggung World Culture Forum, yang dianggap sebagai Davos-nya segi budaya. Forum ini oleh Kemendikbud dianggap sebagai ajang besar yang bisa memperkenalkan budaya Indonesia (dan Asia Tenggara) ke dunia, sekaligus untuk meningkatkan dunia pariwisata dengan jualan budaya yang dianggap Barat eksotik dan panoramik. Sebelum ajang itu, dilakukan forum World Conference on Culture, Education, and Science (WISDOM) yang digelar di UGM pada 8-11 November 2010. Forum itu dihadiri oleh berbagai macam tokoh budaya, dari Radhar Panca Dahana, HS Dillon, Rokhmin Dahuri, Taufik Ikram Jamil, Anhar Gongong, Aspar Paturusi, Achmad Chodjim, Sori Siregar, Wicaksono Adi, Warih Wisatsana, Dolorasa Sinaga, Hermawan Sulistyo. 

Seribu permasalahan, satu kiasan, satu pertandingan. Di mana intinya, bagaimana gagasan akan kiasan menjadi otoritas. Namun dari yang berbasis kiasan tersebut, ada pandangan berbeda dari Jean Couteau, budayawan asal Prancis yang mencintai Bali dan hidup dalam kultur Barat:

Menurutnya, kapitalisme harus dihadapi dengan instrumen alih-alih dengan mimpi kebudayaan yang tak punya hubungan dengan dunia riil. Bila menginginkan Indonesia maju, mereka menurutnya harus melihat situasi sosial secara materialistis. Orang Indonesia harus melihat sistem kapitalis menggerus tanah, hubungan sosial, menggerus sistem hukum, prosedur, norma dan lain sebagainya melalui analis yang riil. (163)  

Pada Bab 6 "Penutup: Kebenaran Dunia Sosial, Kebenaran Mengambang", Geger memberi penegasan, buku ini adalah menelaah logika sosial yang bekerja di balik penalaran yang lazim disebut berwatak kiasan dan acap dicemooh tidak bermanfaat, mendekatkan kita kepada kebenaran. Geger menjelaskan konsep ini lewat konsep Lévi-Strauss terkait penanda mengambang yang tak merujuk pada satu objek tertentu. Menurutnya, dunia sosial yang tak (selalu) koheren.

Pengkaji kebudayaan yang ingin memperoleh gambaran proses penalaran yang ditelitinya, bila sebelumnya tidak melepaskan kategori-kategori kebudayaannya sendiri, akan kesulitan memperoleh gambaran yang dikatakan representatif. (176) 

Bagi sebagian orang pertanyaannya mungkin, "kebenaran tegak dari alasan sesepele itu?" Sesepele itu, memang... Bukan dari apa yang kita yakini berlaku, tapi dari apa yang berlaku. (182)  

EPILOG: 

Barangkali kritikku setelah membaca buku ini, Mas Geger tidak membahas pola nonrasional yang pernah dialami oleh Barat/Eropa pada zaman dahulu. Eropa sempat mengalami masa mempercayai hal-hal mistik, bahkan budaya witch (sihir) juga kental pada masyarakat zaman itu. Contoh bacaan yang pernah kubaca seperti Perempuan dan Perburuan Penyihir yang ditulis Silvia Federici. Baru-baru ini, aku juga membaca cerpen Thomas Hardy berjudul The Withered Arm. Cerpen ini berkisah tentang perempuan simpanan Tuan Tanah yang punya kekuatan sihir menyakiti istri baru di landlord. Latarnya terjadi di Inggris.

Aku pikir, sihir di Eropa sangat berhubungan erat dengan budaya klenik yang sampai saat ini masih dikenal di Indonesia. Maksudku, Eropa juga pernah mengalami masa-masa kegelapan, mereka percaya sihir yang tidak konkret secara ilmiah, pelakunya juga dijatuhi hukuman berat hingga kematian jika ketahuan. Aku juga memikirkan, kiasan itu tak hanya di ranah akademik yang dilontarkan para advokat budaya secara berbusa-busa, tapi juga dalam ranah sehari-hari seperti "gosip". 

Orang-orang yang melakukan gosip kadang dasarnya tak hanya pada keirian materialistis belaka, tapi juga kiasan-kiasan dan mitos-mitos seperti kekurangan seseorang, kisah asmara rekan kerja, kondisi kejiwaan, atau masalah-masalah lain. Bagiku itu menarik juga, jadi tataran kiasan barangkali tak hanya dilakukan oleh mereka yang dalam tanda pentik berada di jajaran menara gading, tapi lebih jauh lagi, sudah hidup di masyarakat sudah lama.

Yang aku pikirkan lainnya, bisakah Antropologi secara teoritis membedah terkait yang disebut kiasan ini dalam ranah klenik studies semisal? Aku tertarik karena selama sekitar setahun sama beberapa teman membuat grup Klenik Studies yang mengulas terkait hantu-hantu. Motonya yang kuingat sederhana saja, "Membahas hantu secara suka-suka." Segala sudut pandang bisa masuk. Para temanku juga sepertinya tak begitu hirau soal, apakah hantu itu ada atau tidak, tapi fenomena dia di masyarakat itu sudah membentuk diskursus sendiri, sehingga menarik untuk dibahas.

Sebagai penutup--ini akan terbaca personal--dari pikiran dan argumentasi Mas Geger, aku jadi mikir mengagumi seseorang sampai segitunya, termasuk pikiran-pikirannya itu kok malah njijiki ya, wkwk. Karena dia sangat membongkar kebiasaan kita yang latah untuk kagum. Jadi, ya, biasa saja. Kita toh semua setara. Tapi yang sangat aku hormati (alih-alih aku ingin menulis kagumi) adalah kemampuannya melihat intinya inti. Pendeknya, dia tidak suka kebiasaan menghamba-hamba. Dari bukunya, lama-lama aku paham bagaimana pola, cara berpikir, dan cara bekerja dari Mas Geger. Contohnya seperti paragraf ini:

Meskipun berhadapan dengan perkara yang berbeda dan, untuk memperpanjang daftar perbedaannya, masing-masing dengan gaya menguraikan permasalahannya sendiri di mana satu merengkuh strategi bertutur kompleks dan tak menampik intensi menjadi filosofis dan yang lain bertutur gamblang dan cepat dicerna, baik Soedjatmoko maupun Andrinof sama-sama berangkat dari perspepsi tentang kebudayaan dan pembangunan yang masih dapat dikatakan simetris. (45)  

Sebagai poskrip lainnya, kamu tahu, apa yang selalu kusuka dari Mas Geger sejak dulu? Dia jernih. Jadi berbagai upaya intelektual antropologiku kadang hanya usaha-usaha untuk mendekatkan diri pada cahayanya saja. Dia tak menjanjikan apa-apa. Dia realistis. Aduh, aku nangis. Salah satu lotere hidup yang aku syukuri adalah pernah mengenal Mas Geger. Jarang aku nangis baca buku teori. Hanya Mas Geger, Pak Masri, atau Mas Danto yang bisa. 

Jika nanti aku ditanya mengapa Antropologi? Karena Mas Geger Riyanto. Kalau dalam konteks HAM, motivasi aktivis Fatia Maulidiyanti karena Munir; aku karena Mas Geger. Dia tak hanya antropolog yang pintar, tapi juga rendah hati dan berani. Tulisan-tulisannya bernas, kritis, dan menggugah. Dia loyal pada dunia akademik. 

Terima kasih Mas Geger telah menulis buku penting ini. 

Judul: "Asal Usul Kebudayaan: Telaah Antropologi Penalaran terhadap Advokasi Intelektual Diskursus Kebudayaan Indonesia" | Penulis: Geger Riyanto | Penerbit: Beranda (Kelompok Intrans Publishing), Malang, Jatim | Cetakan: Pertama, Maret 2018 | Dimensi: 15,5 x 23 cm | Halaman: xiv + 192

KUTIPAN BUKU:

Budaya adalah konstruk-konstruk yang dibangun manusia sesuai dengan konteks lingkungan dan kepentingannya. (v) 

Manuskrip yang saya tulis ini merupakan karya antropologi kebenaran.... Sesutu hanya dapat dikatakan benar apabila ia bisa dibuktikan terlebih dahulu. (vi) 

Akan tetapi, dalam berbagai pengalaman saya meneliti praktik kebudayaan, nyaris setiap pemahaman yang dikotomis apalagi dikotomi bersangkutan memuaskan kita dengan melekatkan segala bentuk keburukkan kepada yang lain adalah konstruksi internal alih-alih empiris. (vii) 

Kita, artinya, tak pernah semodern yang dibayangkan kawula cerdik cendikia. Kita menghasrati fiksi yang menjadi panglima serta kebenaran kita... Bagaimana fiksi lebih efektif menjadi kebenaran dibandingkan kebenaran itu sendiri. Kebetulan, perkakas yang tersedia untuk saya gunakan adalah konsep serta metode antropologi penalaran. Dan fenomena yang langsung tersedia untuk menjadi subjek kajian saya adalah diskursus kebudayaan Indonesia.(viii) 

Apa yang menggerakkan diskursus kebudayaan Indonesia bukanlah kemasukakalannya ataupun memadaiannya secara logis dan empiris melainkan kekuatannya menggerakkan, memprovokasi, menstimulasi, pusparagam aktor kehidupan sosial. (viii) 

Mari rebut perubahan dengan membaca! (xii) 

"Anda itu ngawur," tegasnya tanpa tedeng aling-aling. (4) 

Kehati-hatiaan menjadi cara kerja sang ilmuwan. 

Tak sedikit kolega yang mengambil penekunan di ranah akademik. 

Akibat kemenduaannya, mereka menyandang satu sebutan sendiri sebagai intelektual elektrik... Mereka disebut demikian lantaran suka mencampuradukkan pengetahuan, konsep, istilah tanpa mengikuti kaidah yang dianggap tertib. (8) 

Sedari pertama saya mendengar tuturan argumentasi para budayawan dalam mengedepankan gagasannya, selaku seseorang yang merasa dilatih dalam tradisi akademik saya memiliki kecenderungan untuk mengesampingkannya sebagai proses logika yang cacat. (8) 

Teoretisasi terdahulu yang lebih telanjang lagi dalam mengadvokasi keunggulan akal sehat Barat. (11) 

Teori linguistik Wittgenstein ini tampaknya merupakan kontribusi yang sangat berfaedah bila kita memiliki kepentingan mblejeti konsep pengetahuan saintifik yang pernah sedemikian dipuja di antara para cendekiawan Eropa untuk meninggikan diri di hadapan masyarakat luar Eropa yang identik terbelenggu mitos dan takhayul. (12) 

Wittgenstein sendiri tercatat pernah mengkritik Frazer yang uraiannya dalam Golden Bough tak menutup-nutupi gelagat merendahkan kapasitas penalaran masyarakat-masyarakat di luar Eropa... Menggugat konsepsi penalaran Barat yang tidak membantu kerja antropologis untuk memahami proses pengetahuan di antara para subjek amatan sebagaimana ia berjalan. (13) 

Masyarakat di luar Eropa maupun yang kelas sosialnya dianggap rendah tak dapat dikatakan memiliki sensibilitas yang lebih rendah dibandingkan masyarakat Eropa terdidik. Yang ada adalah pengorganisasian mentalitasnya berbeda lantaran mereka harus menghadapi situasi-situasi yang berbeda dari para insan Eropa terdidik. (14) 

Kebudayaan Indonesia, memang, adalah produk dari penalaran kiasan atau menaut-nautkan. (20) 

Saya terbantu oleh teori nilai yang dikembangkan oleh David Graeber dari pemikiran Terrence Turner dan Nancy Munn. (23) 

Bila kita periksa seluk beluk argumentasi mereka adalah kebutuhan untuk menyejajarkan antara identitas kedirian dengan pihak kolonial. (23) 

Kontestasi tidak hanya berlangsung pada tataran imajiner dengan bayangan bangsa-bangsa berlomba-lomba mengungguli yang lain, melainkan juga secara aktual di antara para tokoh yang berkutat di dalam arena bersangkutan. (25) 

Logika keberiringan antar diskursus yang coba diajukan dalam bab ini, saya rasa, cukup penting apabila kita hendak memahami kebudayaan sebagai kesinambungan praktik yang dilakoni para subjek alih-alih pemahaman normatif mereka. (25) 

Baik atau buruk adalah dua idiom yang merupakan penanda mengambang yang sangat umum, tak menggambarkan apa-apa. (25) 

Pengujian-pengujian etnografis lebih lanjut terhadap inferensi ini, bagi saya, bukan tidak mungkin mendatangkan konseptualisasi-konseptualisasi antropologis yang produktif; khususnya tentu saja, bagi konseptualisasi tentang penalaran kiasan yang ditinggalkan mengikuti maraknya proyek-proyek intelektual yang menganggapnya relik dari masa di mana antropologi masih mengerdilkan "orang-orang primitif". (25-26) Isma: Mas Geger, dari bahasan yang kami bahas di Klenik Studies, sepertinya aku bisa melakukan interferensi yang produktif berkaitan dengan diskursus ini. Kapan-kapan ya Mas Geger. Aku siapkan amunisi yang banyak dulu. Terkait bagaimana kajian klenik diteorisasikan ke dalam Antropologi.

Saya akan memperlihatkan beberapa dari antara kerja-kerja antropologis tersebut lantas menunjukkan sisi-sisi di mana saya berkontribusi terhadap khazanah konseptual yang ada. (27) 

Salah satu teori Pierce adalah teori abduksi. Kecenderungan kita untuk menganggap bahwa benda mati memiliki agensi sebagaimana makhluk hidup atau melekatkan agensi ke tempat yang tidak seharusnya adalah karena penalaran abduksi ini. (29) 

Yang disediakan oleh kiasan bersangkutan bukanlah sekadar pemahaman bersama melainkan arena... Kontestasi imajiner ini memungkinkan para aktornya memiliki orientasi, dan memberikan pengakuan pada objek yang mengambang... Satu objek hasrat yang didambakan di antara orang-orang. (30) 

Kiasan sebelumnya harus sanggup melibatkan para pelaku dalam sebuah ruang imajiner di mana mereka membayar dirinya dan diri-diri yang lain bertarung menunaikan ataupun mendapatkan apa yang mereka hasrati. (31) 

Diskursus kebudayaan Indonesia adalah satu di antara berbagai abstraksi mengambang yang berdaya menggerakkan, menggugah, memobilisasi para aktor melalui bayangan adanya misi besar yang mesti diperjuangkan yakni kesetaraan dengan atau kedigdayaan imajiner di hadapan bangsa-bangsa lain. (31) 

Telisik tidak sampai meneoritisasi pengejaran kekuasaan ini sebagai dinamika pergulatan nilai... (33) 

Fakultas ilmu sosial salah satu Perguruan Tinggi paling prestisius. ...  Budaya alur argumentasinya pun tak bisa dikatakan tak bersinggungan satu sama lain... Koentjaraningrat terhadap mentalitas menerabas... 

Hal yang menjadi kehirauan pokok dari telaah kita adalah ketidakbaruannya. Seseorang yang mencurahkan sedikit waktunya mencermati diskursus-diskursus pembangunan yang telah silam dapat dengan mudah menyadari bahwa kebaruan adalah klaim yang sama sekali oksimoron bila ia dilekatkan dengan tajuk yang diangkat Andrianof. (38) 

Persoalan-persoalan yang mengganggu kehidupan sosial di Indonesia berakar pada kebudayaan tabiat yang tertanam pada sekelompok manusianya yang bermasalah. (40) 

Daoed menyelesaikan studi doktoralnya di bidang keuangan internasional dan hubungan internasional serta ilmu ekonomi di Sorbonne, Paris. Ekspresi-ekspresi ekstaverbalnya tak pernah menutup-nutupi kekagumannya dengan pengalaman-pengalaman berkesan yang didapatinya di negeri tempat studinya tersebut maupun antusiasmenya ketika memperbincangkan kebudayaan. (43) 

Pendek kata: janganlah mabuk kebudayaan kuno, tetapi jangan mabuk kebaratan.

Menurut Syahrir, kita tak bisa berkiblat lagi kepada Barat yang kapitalistis maupun Timur yang menghamba-hamba. (48) 

Saya masih bisa lanjut menjajarkan litani cendekiawan, teknokrat, akademisi hingga instansi strategis yang mengerumuni konsep ini, dan saya cukup yakin tak akan kehabisan nama dalam waktu dekat. Namun, poin pentingnya bukanlah deretan nama itu sendiri, dan poin ini semoga sudah tersampaikan cukup baik. Di balik hamburan nama, pemikiran, orasi, retorika, intrik, perdebatan kebudayaan dalam kesinambungan ruang dan waktu yang begitu ekstensif ini, poin pentingnya, kesemuanya berdiri di atas pemahaman kebudayaan sebagaimana ia dimetaforakan sebagai kepribadian bangsanya. (49) 

Satu pesan yang saya harap tersampaikan adalah para pelaku kontemporer diskursus ini, ketika melakoninya, maupun saya sendiri, ketika mengkajinya, tidak menatanya sekehendak diri. Pergeseran signifikan dari pemaknaannya terjadi hanya karena situasi kontekstual yang cukup kuat dan pergeseran tersebut dituntut untuk tetap koheren dengan konfigurasi internalnya yang sudah tersusun. (51) 

Telusur Sahlins berlanjut sampai dengan memeriksa terperinci berbagai permutasi yang menjadi konsekuensi dari silang sengkarut antara variasi sejarah dengan bingkai penalaran sifat alami manusia ini. Namun, untuk kepentingan kita, kiranya kita cukup mengambil satu poin penting yang mengemuka dari telusurnya, yakni bahwa sejak era Thucydides dikotomi antara alam dan kebudayaan sudah mendarah daging dalam asumsi-asumsi bagaimana kekacauan sipil dibayangkan serta harus ditanggulangi. (57) 

Penyimpangan konsepsi phusis dan nomos secara lebih utuh akan memakan waktu yang panjang dan, selain saya sama sekali tak memiliki kompetensi untuk mengkajinya, halaman-halaman uraian ini bukanlah tempat yang patut untuk berkutat melakukannya. Untuk itu, guna kepentingan proyek intelektual kita, saya akan mempercayai paparan Guthrie dkk bahwa antara phusis dan nomos sebagai dua konsep yang kontradiktif namun tak terpisahkan satu sama lain; antara phusis, di satu sisi, sebagai alamiah dan sejati, dan nomos yang dimengerti selaku yang dibuat dan rekaan. (58) 

Mengatakan bahwa pemikiran-pemikiran prominen dalam sejarah gagasan di Barat semata terusan pemikiran Plato tentu saja adalah penyederhanaan yang kelewatan. Kendati demikian, untuk mereproduksi abstraksi semesta Plato seseorang tak perlu sama sekali menjiplak alur berpikirnya, melainkan cukup memulai telusurnya... (59) eureka! 

Geertz yang dalam proyek teoritisnya memahami kebudayaan sebagai tatanan simbol yang dirampungkan para pelakunya dari kenyataan sosial yang dihidupi... (60)

Kebudayaan: cerapan yang cacat dari tatanan alamiah di luar diri. 

Obsesi terhadap realisme dan konsepsi alam yang dibayangkan bergeming pejal... 

Terdapat dunia riil dan dunia fenomenologis yang secara spesifik yakni oleh Plato, dianggap lebih rendah dan senantiasa merupakan peniruan terhadap yang pertama. Dalam bingkai penalaran ini, memikirkan seniman sebagai pencipta adalah hal yang sama sekali tak terbayangkan... (60-61) 

Aristoteles tak melakukan banyak hal untuk meretas jalan keluar dari dikotomi antara ranah alami dan ranah representasi. (61) 

Satu hal yang penting kita perhatikan adalah kebudayaan belum dibayangkan sebagai sesuatu yang lekat dengan kreativitas, vitalitas, apalagi: kemanusiaan. (Isma: Tapi Mas Geger, diksi kemanusiaan di sini problematis juga gak sih? Sebagai calon antropolog yang semoga sungguhan, aku jadi ingin membongkar secara teoritis terkait apa yang disebut "kemanusiaan" melalui metode telusurnya Mas Geger). Ia baru terbayangkan sebagai nomos sebagai konsep yang membantu para pengamat untuk mengidentifikasi apa-apa yang dianggap bukan kenyataan yang terberi melainkan apa yang diorkestrasi, didesain, disepakati insan manusia. (61) 

Menurut Levi-Strausse, alam merupakan sesuatu yang hadir tanpa memerlukan intervensi apa pun dari manusia. Alam spontan, sementara yang kultural adalah yang berkembang dan menyeruak setelah masyarakat memberikan sentuhannya. (61) 

Las Meninas, lukisan Diego Velazques. Sekilas kita tak akan menangkap sesuatu yang benar-benar menempatkan Las Meninas berbeda dengan lukisan-lukisan zamannya sampai dengan Foucault menunjukkan daya metalukisan dari lukisan ini. Lukisan ini maksudnya insaf dengan mediumnya sendiri. (62) 

Mengapa Las Meninas sekurangnya menurut Foucault, revolusioner? Pasalnya, Foucault menunjukkan, ia menandai bahwa Eropa yang tengah memasuki sebuah era epistemik yang baru yakni ketika penghadiran perlahan mulai dipahami dapat dilakukan tanpa melalui objek yang dihadirkan itu sendiri. (62) Isma: Mas Geger, aku jadi kepikiran ketika main ke Art  Jakarta atau ArtJog nanti, aku ingin mengamati adakah lukisan yang serupa Las Meninas ini? Maksudku, dia bisa menggambarkan semangat intelektual atau epistemik dari zamannya. Ini menjadi kajian dan sawah telusur yang sangat baik. 

Konsep, penanda, kiasan, pada masa yang baru ini, dapat berjalan sendiri tanpa tuntutan bertautan dengan objek konkret di luar sana. Ia mempunyai logikanya sendiri. (62-63) Isma: Barangkali ini juga ya Mas Geger yang bisa kukontribusikan di bidang sastra. Sebagaimana Don Kisot.

Alih-alih memperlakukan manusia tak ayalnya 'mesin', atau 'anasir pasif dari dunia ini' sebagaimana yang dilakukan oleh filsafat lama, Kant memberikan agensi kepada manusia. Sang insanlah, pasalnya, yang memproduksi dunianya. (63) 

Mengiringi pemahaman ini, Kant kemudian mengajukan apa yang bisa kita katakan sebagai definisi dan takaran kemanusiaan seseorang. Manusia menjadi manusia pada saat ia bisa menghindarkan dirinya dari tuntutan-tuntutan bawaan alamiahnya: pada saat ia mengekspresikan kebebasannya manakala dihadapkan dengan kodrat alaminya. Manusia memiliki obligasi moral untuk menjadi insan yang berbudaya, membentuk dirinya berdasarkan penafsiran atas kehidupan yang dianyamnya dalam kategori-kategorinya sendiri. Kemanusiaan, kebudayaan adalah kebebasan, alam adalah pengekangnya, dan Kant tidak pernah malu-malu dalam mengikrarkan implikasi moral dari pemikirannya ini. Dalam kata-kata Kant bila kita perlu mendengarnya sendiri:

Pencerahan merupakan kebangkitan manusia dari ketidakdewasaan yang ditanamkannya kepada dirinya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan seseorang memberdayakan akal budinya tanpa bimbingan dari orang lain. Ketidakdewasaan ini ditanamkan oleh dirinya sendiri manakala ia disebabkan bukan oleh mempergunakan akal budinya tanpa tuntutan orang lain. Sapere aude! "Beranilah mempergunakan akal budimu sendiri!" Inilah moto dari pencerahan (Kant, 1991 [1784]: 162). (64) 

Dengan kesadarannya sendiri, ia mesti memilih untuk menjadi berbudaya, membalut diri dalam norma, kesantunan, selera estetik yang dianyamnya dengan kapasitas akal budi yang hanya miliknya, dan melalui ini mendemonstrasikan dirinya lebih unggul di hadapan makhluk lain serta manusia yang tidak bisa mengekang dorongan-dorongan alamiahnya. (65) Isma: Kant keren banget, Mas Geger. Aku nemu kunci hidup yang lain dari filsafatnya. 

Terdapat tiga perbedaan mendasar antara Hegel da Kant yang penting kita perhatikan untuk memudahkan kita mengidentifikasi perbedaan konsep kebudayaan yang menyeruak dari tubuh keduanya. Pertama, Hegel berangkat dari sudut pandang komunitas alih-alih individual. Kita dapat memahfumi ini pasalnya, beriringan dengan kepentingannya merespons gagasan-gagasan besar zamannya, proyek antropologi filosofis Hegel juga dimotivasi kepentingannya memahami sejarah pembentukan masyarakat sipil (Patterson, 2009: 33). Kemudian, yang kedua, dalam tubuh filsafat Hegel tidak ada yang benar-benar bisa dikatakan sebagai kenyataan yang bertempat di luar ruh. Semua yang terjadi, terjadi dalam kesadaran kolektif yang adalah sang ruh. Yang ketiga dan terpenting adalah ruh senantiasa bergerak dengan satu asas yakni merealisasikan rasionalitas. Sejarah adalah sebuah gerak baik insan maupun komunitasnya bertumbukan dengan situasi-situasi liyan dan, melalui proses sublasi terhadapnya, membangun satu keutuhan yang lebih rasional ketimbang sebelumnya. (67) 

Mas Geger menjelaskan, kebudayaan di masa kolonial khususnya, yang memisahkan antara kawula Eropa dan kawula wilayah koloni, semakin menegaskan kebudayaan satu berbeda dengan yang lain. Tak hanya berbeda, tapi juga terpisah dan asimetris. Orang Eropa menduduki posisi yang lebih tinggi, karena status ekonomi-sosial yang lebih terpandang. "Sementara orang pribumi yang stereotipnya adalah kuli, petani, buruh kebun, atau terkadang priyayi menduduki status sosial yang lebih rendah dikarenakan kebudayaan mereka yang memang terbelakang dan berkutat di masa lalu." (69) Fenomena ini melahirkan eksklusi sistematis yang menghasilkan ekses-ekses pada kelompok tertentu di tengah kerumitan-kerumitan modernitas. 


Kebudayaan diri pada dasarnya mulia, agung, berfaedah. Hanya saja masyarakatnya dipaksa menrima kategori-kategori Barat yang sebenarnya tidak sejalan dengan jati dirinya. (78) 

Inferensi adalah proses menarik kesimpulan logis berdasarkan pengamatan, bukti, fakta, atau informasi yang ada. Tindakan menyimpulkan sesuatu yang tidak dinyatakan secara eksplisit. Melibatkan pengamatan (fakta) + pengetahuan sebelumnya = kesimpulan logis. Jika melihat seseorang membanting pintu, Anda dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut sedang kesal. Mengamati langit mendung dan rumput basah, lalu menyimpulkan bahwa baru saja hujan. Pengamatan adalah apa yang Anda lihat (data), sedangkan inferensi adalah penjelasan atau makna dari apa yang Anda lihat. (Isma: Menarik banget konsep inferensi ini untuk kupakai dalam pembuatan karya sastra.) 

Di bab 4, Mas Geger melakukan inferensi terkait mereka yang dianggap sebagai advokat intelektual isu kebudayaan Indonesia. Ia mempertanyakan hal sederhana: Bagaimana proses mereka "terpanggil" menjadi "ideolog" diskursus ini? Situasi-situasi seperti apakah yang turut andil menceburkan mereka menjadi bagian yang tak terpisahkan dari reproduksi diskursus ini pada tataran intelektual? (81) 

Mereka juga akan memahamkan kepada kita bahwa pencapaian akademia bukanlah sesuatu yang benar-benar mereka singkirkan dari trayektori kehidupan mereka. Mereka menempuh pendidikan tinggi di institusi Barat yang dianggap prestisius di antara kolega-koleganya. Sesekali, mereka menampakan keinginannya menyusun karya yang dapat dibandingkan dengan magnum opus sejarawan, antropolog, sosiolog, atau filsuf terpandang. (82)

Artinya, berkat konotasi megah dan sublim lema kebudayaan, banyak gagasan yang dalam pengertian tertentu tak bisa dikatakan genial memperoleh kedudukan yang penting dalam imajinasi pencerap yang ditujunya karena dianyam sebagai upaya mengadvokasi entitas penting yang tengah terancam ini. (87) 

Lema adalah kata atau frasa masukan dalam kamus yang menjadi entri utama, biasanya berupa kata dasar tanpa imbuhan, yang didefinisikan maknanya. 

Pekerja pengetahuan, audiens elite, ditulis dengan referensi yang sulit dikatakan akademis, 

Cerpen eksperimental "Sepi Pun Menari di Tepi Hari" Radhar. 

Ambivalen adalah kondisi emosi atau sikap seseorang yang bercabang, memiliki perasaan campur aduk, atau bersikap bertentangan terhadap satu objek, orang, atau situasi yang sama secara bersamaan. Ini mencakup perasaan suka dan tidak suka, ragu-ragu, atau ketertarikan sekaligus penolakan yang terjadi berbarengan. 

Yudi sendiri, saya kira, tak akan mempersulit dirinya menyusun satu literatur yang ketebalannya mengintimidasi bila kebutuhannya adalah semata untuk tampil di antara para pemegang kedudukan strategis. Sumber-sumber referensi Yudi pun sebagian besar merupakan karya yang membawa otoritas akademik. Ia tidak mengutip dokumen dari internet kecuali ia bisa memastikan kredibilitas situs yang menampilkan informasi bersangkutan. (Ini mungkin tampak sepele, tapi ada karya yang ditulis dengan referensi yang sulit dikatakan akademis). (99) 

Karena persoalan didefinisikan bukan dari sesuatu yang aktual melainkan dari prakonsepsi yang mengambang, setiap bentuk praktik yang kita lihat dapat dibingkai bermasalah. (101) 

Persoalannya adalah kita lupa dengan jati diri itu sendiri akibat pengetahuan-pengetahuan yang dicangkokkan bangsa lain melalui kekuasaannya. (104) 

Sebagai penanda mengambang, artinya, kekaburan justru merupakan kekuatan dari konseptualisasi revitalisasi kebudayaan yang diajukan Rudi serta Radhar. Karena tak merujuk kemana-mana, ia berimplikasi leluasa untuk dipahami oleh siapa pun. (105) 

Isma: Kemudian aku jadi bertanya, apa modusmu dalam produksi pengetahuan? 

Penaut-nautan yang membingkai cendekiawan dan audiensnya untuk memiliki objek hasrat yang serupa dan tak jarang menjadi orang yang tidak asing satu sama lain. (120) 

Bukan hanya kerja-kerja penalaran kiasan menjadi relevan namun tatanan konseptual mengambangnya juga menjadi terasa nyata karena ia berada di atas sebuah medan yang ditempatkan sebagai pertandingan yang pencapaiannya adalah bayangan kedigdayaan komunitas kebangsaan sang pelaku. (122) 

Sementara Ahmad Samantho, penulis lokal yang giat menggeluti teori konspirasi, tak banyak memberikan pandangan baru... Juga penting menimbulkan efek sensasional yang setara dengannya lantaran, agaknya, berawal dari terbitan di luar negeri, disusun orang asing berlatar akademisi, serta ketebalannya mengintimidasi adalah karya dari Oppenheimer, Eden in The East. (123) 

Buku Atlantis karya Arysio Santos. 

Tidak heran mengapa buku teori konspirasi yang liar hingga buku panduan kesehatan yang isinya tak ditulis dokter melainkan menjiplak dari internet bertebaran menjadi buku terlaris di Indonesia.... Popularitas buku, karenanya, bisa membantu kita meraba apa yang mengundang mereka untuk membaca.... Agak tak terduga bila kita membayangkannya dari tema yang sampaikan sejauh kita ulas, adalah Hitler Mati di Indonesia. (126) 

Kecenderungan sebagian orang mengejar bayangan sendiri sebagai satu bangsa yang punya posisi di antara bangsa-bangsa lain. (126) 

Namun, saya kira, kelarisan buku yang dicetak ulang hingga berkali-kali ini berbicara jauh lebih banyak dari apa yang mungkin kita peroleh dari buku ini apabila kita membacanya secara sinis selaku dalam kapasitas seorang akademisi... Saya kira, menengarai kepada kita satu dorongan yang saat ini berkembang untuk mendapati Indonesia punya andil atau meninggalkan jejak dalam perguliran sejarah dunia, bahkan walau sebatas wilayahnya menjadi tempat meninggalnya salah satu figur sentral sejarah abad ke-20. (126-127) 

Ia akan menggoda pembaca generik di Indonesia yang dibayangkan akan bangga mendapati negerinya punya andil penting menentukan negeri lain. (129) Isma: Entah kenapa ambisi ini apinya gak padam² ya? Heran juga saya. Termasuk mungkin ketika menemukan tokoh yang lahir di Cepu, haha. Aku pernah kegocek juga sama narasi ini. 

Mereka membatasi pengamatannya sebatas apa yang tercerna secara materiil padahal data materiil ini tidak netral, apalagi untuk menggambarkan bangsa Indonesia yang sedari dulu memiliki kepribadian mistis dan tak mencatat pengalaman-pengalamannya dalam wujud tulisan. (135) 

Satu kecenderungan yang didorong oleh tatanan konseptual mengambang ini adalah mencari takaran kedigdayaan bangsanya dan inilah yang terjadi. (137) 

Apa yang ingin saya kontribusikan terhadap teori nilai ini kini adalah menggambarkan keterpautannya dengan praktik-praktik penalaran kiasan yang menjadi subjek telaahan kita. (139) 

Artinya, kemajuan dan kebaruan mereka tak lebih dari citra hasil abstraksi penaut-nautan.... Apa yang mendasari perumusan-perumusan tentang bangsa dan kebudayaan adalah persoalan pembuktian harga diri: nilai apa yang dicitrakan sebagai dirinya. (140) 

Tujuan eksklusif sihir, tampaknya adalah hasil. Mauss. (142) 

Keyakinan-keyakinan supranatural dilakoni bersama-sama, artinya, utamanya bukan karena gambarannya yang meyakinkan atas realitas, melainkan karena dampaknya yang dibayangkan para pelajar akan memengaruhi trayektori kehidupan mereka. (142) 

Kita menjumpai situasi yang luar biasa ironis. Ironi tersebut yakni: hanya dengan penanda yang tidak konkret kehidupan sosial bergulir secara konkret. (143) 

Menurut HS Dillon, kebudayaan tak pernah orisinil. Ia dipelajari ketika manusia masuk ke suatu kelompok tertentu untuk bertahan hidup. 

HS Dillon menyampaikan bahwa yang pada saat ini marak terjadi adalah hegemoni makna. Sekelompok kecil orang menentukan apa itu Indonesia ada kelompok yang berhak menentukannya dan yang lain tidak diperkenankan bicara. Penindasan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sejak kita berlaku kasar kepada pembantu. (154) 

Mengapa terus terjadi kesenjangan? Karena roh-roh kolonial menjelma kembali dari masa ke masa. Apa yang perlu dijebol? Kelembagaan ekstraktif (sistem oligarkis yang mengeksploitasi penduduk serta sumber dayanya). (154) 

Dua sektor yang perlu diperbaiki menurutnya adalah perguruan tinggi, karena ia merupakan pusat kebudayaan bangsa, dan media massa yang saat ini malah dikendalikan kekuatan pasar dan kepentingan kapitalis untuk membentuk masyarakat menjadi konsumtif. (154) 

Ia mempertanyakan keberadaan masyarakat akademis yang menurutnya tak merawat ilmu pengetahuan dan teknologi yang menentukan masa depan. (154) 

Selepas mengenang kedekatannya dengan HS Dillon sebagai sesama almamater IPB dan pejabat, Rokhmin sebagaimana pemrasaran pertama lebih banyak mengartikulasikan apa yang ia pandang sebagai persoalan kritis Indonesia. (156) 

Kapitalisme, menurutnya, tak memiliki kandungan spiritualitas. Tanpa spiritualitas, orang terperosok dalam nihilisme dan hedonisme. (157) Isma: Aku tiba-tiba takut, tanpa kesadaran yang utuh, nulis yang gak bener. 

Menyampaikan pikiran yang strukturnya serupa meskipun isinya berbeda. 

Wicaksono Adi, kritikus kesenian menyampaikan pandangannya dengan artikulasi yang menurut saya lebih sistematis dan mudah saya organisir. (159) 

Forum untuk memufakati desain kebudayaan Indonesia yang tepat, dalam pergulirannya, menjadi tak terpisahkan dengan pertunjukan kebernilaian diri istilah sehari-hari kita, harga diri dari para pelakunya. (161) 

Sepanjang para pelaku bekerja dengan membingkai persoalan dari tatanan konseptual mengambang diskursus kebudayaan Indonesia, saya karenanya tak bisa membayangkan akan ada alternatif perumusan yang secara radikal lain. (162) 

Kecenderungan beberapa kalangan intelektual dan kelas menengah pada pertengahan abad ke-20 mengidentifikasi haluan mereka sebagai sosialis. Mereka tampak cukup jelas tak ingin diidentikkan dengan komunisme, di satu sisi, dan di sisi lain tidak mau pula tampak lekat dengan kapitalisme. (170)

Maksud saya mungkin sudah dapat ditebak. Saya ingin menunjukkan bahwa upaya merumuskan kekhasan kebudayaan Indonesia yang kita jumpai dalam ajang kebudayaan yang barusan kita amati bukanlah kecenderungan yang eksepsional melainkan fenomena yang lazim dalam sejarah. Para cendekiawan menyusun kiasan-kiasan yang bisa menyematkan Indonesia dengan keunikan yang tak terbandingkan di mana melalui lelaku diskursif ini mereka bisa menikmati bayangan bangsanya sebagai bangsa yang digdaya atau dirinya, yang merumuskannya, sebagai cendekiawan yang punya peranan memperjuangkan konsepsi yang penting tersebut. (171) 

Mungkinkah demikianlah kebudayaan terbentuk, berubah, berinovasi, menyimpang, terbarukan? Melalui penolakan-penolakan yang tak selalu logis? Penelusuran lebih lanjut, memang, dibutuhkan. Tetapi saya tak akan menampik kemungkinannya. (172) 

Galib (kata sifat) menurut KBBI/bahasa Indonesia berarti umum, lazim, atau sering terjadi. 

Isma: STA lucu juga ya, emang gimana sih maksud, sebelum tercium perasaan keindonesiaan? 

Kapasitas penalaran yang satu lebih rendah dibandingkan yang lain, melainkan karena keduanya merupakan bagian dari keutuhan diskursif yang berbeda. Tatanan pengklasifikasian mereka, yang terbentuk melalui proses sejarah yang kontingen berbeda.... Lingkungan kehidupan yang berbeda menuntut pelaku mengorganisir persepsinya secara berbeda. (175-176) 

Kendati emansipatif, kontribusi eksepsional Levi-Strauss secara spesifik terletak pada kerja-kerjanya mengintegrasikan inspirasi-inspirasi dari kajian linguistik menjadi wawasan teoritis untuk membantu mencerna fenomena sosial dalam keberlangsungannya. (175) 

Galat adalah istilah bahasa Indonesia untuk error, yang berarti kesalahan, kekeliruan, atau cacat.

"Semua teori antropologi haruslah sebuah teori tentang praktik." (Viverios de Castro, 2012) 

Rabu, 25 Maret 2026

Catatan Buku 2 "Menulis dan Berpikir Kreatif: Cara Spiritualisme Kritis (Penulisan Kompleks)" karya Ayu Utami

Ulasan ini merupakan kelanjutan dari buku 1 menulis berbasis spiritualisme kritis dari Ayu Utami. Usai membaca dua buku tersebut, rasanya sebagai calon penulis, laku spiritual memang tak bisa dilepaskan. Entah itu dalam bentuk meditasi, puasa, atau pengekangan ego. Selain spiritualitas, aku juga mendapati ada dorongan nilai-nilai luhur dalam keyakinan spiritual Ayu yang disuntikkannya di dalam dua bukunya ini. Bagi orang yang ateis, barangkali energinya kurang sejalan, tapi tak masalah, mereka bisa membacanya juga.

Secara galib, buku 2 ini lebih susah daripada yang pertama, karena mengulas jeroan manusia, seperti hasrat, dorongan, hingga psikologi terdalamnya.  

Sebagaimana ulasan di buku 1, aku hanya membahas seputar daftar isinya saja. Sebagian besar pelajaran yang kudapat dari buku ini telah aku abadikan dalam bentuk catatan terpisah di kertas-kertas HVS. Nah, inti dari buku 2, yang sama-sama memiliki 10 sesi ini terdiri dari:

(1) Sang Manusia - Rencana, di sesi awal ini, Ayu mengajakku untuk menyigi diri manusia yang memiliki hasrat, topeng, bawah sadar, dan kegelisahannya masing-masing. Aku juga belajar terkait rencana, yang terdiri dari keutuhan dan bagian.

(2) Rupa - Rasa Bahasa, pada bagian ini, rupa itu terdiri dari peta batin manusia. Sementara itu, rasa bahasa itu menunjukkan kompas rasa, yang dibagi menjadi bahasa puitis dan bahasa lugas, bahasa nalar dan bahasa pengalaman.

(3) Kerentanan - Bobot, tentu dalam menulis "bobot" ini sering diulang-ulang. Bobot berkaitan dengan muatan, yang itu bisa digali dari tema mudah dan tema sulit, hasrat serta naluri dasar, eksterior dan interior, hingga isu yang sensitif.

(4) Rantai Hasrat - Hubungan Antar Bab, pas buat novel atau cerpen dulu, aku sering kebingungan bagaimana caranya menghubungkan bagian satu dengan bagian lain. Ternyata, Ayu memberikan jembatan melalui rantai hasrat yang menghasilkan progresi narasi seperti seseorang menaiki suatu tangga. Hubungan antar bab ini juga bisa memakai struktur 3T (Tokoh, Tempat, Tema).

(5) Penyangkalan dan Penerimaan - Hubungan Antar Kalimat, di bab ini aku belajar terkait bagaimana penolakan dan penerimaan itu bisa membentuk latar cerita, karakter lain, akhir cerita (sedih, bahagia, dan gabunga), serta koherensi tulisan. Patokannya, bagaimana posisi unsur-unsur ini dilihat dari tokoh utama.

(6) Mekanisme Pertahanan - Lima Mekanisme Pikir, jadi yang pokok dari bahasan ini ada lima mekanimse berpikir: mengembangkan, menciutkan, menaikkan, menurunkan, dan menyamping.

(7) Siklus Jiwa Manusia - Mengatasi Mandeg, lakukan cara-cara kreatif, salah satunya terus menimbulkan hasrat baru yang berjalan secara koheren dari hasrat sebelumnya.

(8) Kebebasan dan Determinisme - Kesan dan Pengetahuan, ini hubungan paradoksal abadi antara bebas dan terkekang, teratur dan tidak teratur, atau wacana serupa itu.

(9) Moral dan Absurditas - Kosmos dan Khaos, seperti halnya di sesi 8, ada sisi tarik menarik dalam hidup manusia yang resep ini bisa dijadikan adonan ampuh dalam membuat cerita, yaitu pertentangan antara yang kosmos dan yang khaos, atau yang bermoral dan yang absurd. Penulis yang cerdas tahu bagaimana memainkan keduanya.

(10) Kebenaran yang Sulit - Spiritualisme Kritis, Ayu di bab terakhir ini menegaskan pentingnya bersikap terbuka jika ingin menjalani dunia kreatif. Akan ada pertentangan antara selera pribadi dan pasar, atau antara pembaca generik dan pembaca khusus. Namun, intinya: a. Jangan membohongi diri sendiri, b. Lakukan analisa diri, c. Lakukan analisa pasar, d. Ambil kesimpulan yang jujur dan cukup obyektif, e. Buat rencana ke depan. Dengan dua hal ini, rasa-rasanya kau bisa menjadi penulis yang bisa bermain di antara dua kutub besar, seperti Ayu Utami dan Leila S. Chudori. 

Terakhir, mengutip Ayu, "Seluruh pendekatan spiritual-kritis ini percaya bahwa pemahaman rasional dan pengalaman nonrasional kita sama-sama bisa meningkat menuju yang lebih ultim dan sublim." 

CATATAN:

1
Ini lanjutan dari catatan tanganku.

2
3

4

5

6
Judul: Menulis dan Berpikir Kreatif: Cara Spiritualisme Kritis (Buku  2: Penulisan Kompleks) | Penulis: Ayu Utami | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta | Cetakan: Kedua, Februari 2023 | Jumlah Halaman: xx +180 | Dimensi: 13 x 20 cm

Catatan Buku "Menulis dan Berpikir Kreatif: Cara Spiritualisme Kritis" (Buku 1: Dasar dan Umum) karya Ayu Utami

Aku lupa kapan membeli buku ini di Gramedia Gajah Mada dekat Glodok. Barangkali satu tahun yang lalu, atau sekitaran setahunan ini. Kala itu, semangat untuk menjadi novelis dan penulis yang serius menggebu-gebu. Harga buku ini cukup mahal, karena aku membeli dua paket sekaligus masing-masing Rp120.000,00. Aku sungguh serius ingin belajar dari Ayu Utami karena novel-novelnya, buku-bukunya selalu berhasil membiusku. Dia adalah koki tulisan yang tak kuragkukan kepakarannya mengolah kata, kalimat, paragraf, hingga menjadi buku. Dia rapi dan tidak berantakan.

Kenangan itu masih kuingat. Saat membaca buku pertama ini, aku serius menuliskan gagasan-gagasan Ayu Utami di sebuah notebook bersampul hitam di sebuah Starbuck daerah kota lama Glodok. Aku sok-sokan mencicipi budaya kelas menengah Jakarta. Aku tentu tak membeli kopi, hanya minuman non-kopi yang entah itu apa dan roti khas makanan Barat. Di sana, secara tak terduga, ada reuni sekelompok Chinese yang cerita tentang pencapaian dan pendidikan anak-anak mereka di luar negeri. Aku merasa terasing, atau dalam bahasa Homi K. Bhabha disebut sebagai situasi "uncanny".

Buku 1 yang dilabeli "dasar dan umum" ini sederhana. Seluruh rangkuman bisa dilihat di halaman paling belakang buku. Aku juga sudah membuat catatan pribadi tentang isinya. Bagian yang paling membuatku menantang adalah latihan-latihannya. Aku mengikuti latihan-latihan Ayu di selembaran terpisah. Barangkali, aku hanya akan mencatat beberapa yang menjadi concern-ku di buku 1 ini:

Pertama, buku 1 ini terdiri dari 10 sesi: 

(1) Perkenalan, di sesi ini aku belajar setidaknya tentang: apa itu kreatif, kreativitas, berpikir kreatif; sikap kreatif sadar; perkenalan; dasar-dasar deskripsi; contoh perkenalan; perbedaan antara data dan makna; memulai; ide; dorongan; tujuan; mempertajam dorongan, ide, tujuan; serta berpikir kreatif secara umum.

(2) Ci-Luk-Ba! Struktur Dasar Narasi, di sini aku belajar: orientasi eksterior dan interior; kompas batin; struktur dasar cilukba; tensi; dan kerancuan umum.

(3) Bank Ide, di bagian ini aku belajar terkait empat pola pikir, yang terdiri dari berpikir dengan kotak, persilangan, asosiasi, dan oposisi. Dilanjutkan dengan membuat bank ide dengan empat pola pikir tersebut. Bab di antaranya ada selipan spiritualisme kritis (I), yaitu memberi muatan pada gerbong, memberi bentuk pada ide. Intinya, kreativitas itu seperti spiritualitas. Keduanya perlu sikap terbuka pada hal tak terduga.

(4)  Prinsip Kenikmatan, di bab ini, Ayu memperkenalkanku dengan organisasi informasi, ketegangan, mengintensifkan ketegangan kecil, menyebar ketegangan, dan proporsi.

(5) Fokus, menulis itu harus fokus. Satu waktu, satu tempat, satu kejadian.

(6) Tokoh, Sudut Pandang, Dialog: Di sini aku belajar lebih lanjut tentang apa itu tokoh; konsistensi tokoh; pengaitan karakter pada suspens cerita; melakukan riset; membuat karakter yang memiliki bahasa, sudut pandang, dan keterbatasannya sendiri; hingga bagaimana dialognya.

(7) Deskripsi, ada dua macam yang ditawarkan, yaitu eksterior dan interior. Selain itu yang tak kalah penting digarap adalah rasionalitas dan non-rasionalitas. Perlu bisa dibedakan juga antara informasi dan narasi.

(8) Gaya Bahasa, menurutku ini salah satu bab penting. Dahulu aku berpikir jika menulis itu harus menggunakan gaya bahasa indah, tapi bahasa indah ini bunga-bunganya saja, yang paling penting adalah gagasan apa yang mau kita sampaikan. Sebab itu, sebagai penulis butuh otensitas (kejujuran) dan orisinalitas (kebaruan), Ayu menilai otensitas lebih tinggi nilainya dibanding orisinalitas. Dalam gaya bahasa, hal lain yang perlu diperhatikan seperti kiasan, bunyi, dan ritme.

(9) Eja dan Sunting, suatu hari aku pernah membaca, penulis yang tak mau mengedit tulisan sendiri itu penulis yang jorok! Macam gak mau mandi dan sikat gigi, tentu ini akan membuat orang lain jadi risih. Pengeditan di sini itu meliputi aspek: bahasa yang baik dan benar, pedoman untuk memperbaiki kesalahan umum; penyuntingan, logika; kaidah dan penyesuaian gaya lisan ke tulisan; efisiensi; hingga penyulaman terakhir. Di sini diselipin juga spiritulisme kritis (II). Ayu Utami mengartikan spiritualisme kritis sebagai, "Keterbukaan pada yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis. Sikap kritis yang tidak tertutup." Menurut Ayu, mekanisme spiritualitas dan kreativitas itu sejalan.

(10) Estetika dan Etika, tak kalah penting dua unsur ini perlu ada, estetika ini menyangkut keindahan, etika menyangkut kebenaran. Ayu mengulas juga terkait kehidupan sebagai penulis dalam bab ini. 

CATATAN:

1

2
Ya, aku merangkum buku Ayu Utami ini dalam catatan-catatan tangan berikut. Maafkan jika kurang rapi, karena catatan-catatan ini lebih ditujukan sebagai arsip untuk diriku sendiri.

3
4

5
Judul: Menulis dan Berpikir Kreatif: Cara Spiritualisme Kritis (Buku 1: Dasar dan Umum) | Penulis: Ayu Utami | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta | Cetakan: Kelima, Januari 2025 | Jumlah Halaman: xviii +192 | Dimensi: 13 x 20 cm