Rabu, 25 Maret 2026

Catatan Buku "Kreatif Mengarang" karya A. Widyamartaya BA

Beberapa minggu ini, aku memang aktif membaca perkara teknis kegiatan karang-mengarang. Sebelumnya aku membaca buku karya Mochtar Lubis, lalu buku spiritualisme kritis yang ditulis oleh Ayu Utami, dan sekarang aku membaca buku "Kreatif Mengarang" oleh A. Widyamartaya dari Kanisius. Galibnya, buku-buku seperti ini memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin jadi penulis, dan orang itu adalah aku.

Kalau tak salah ingat, aku pernah sempat ingin membeli buku ini pas main ke Penerbit Kanisius sekitar 1,5 tahun lalu. Aku main ke toko pusatnya langsung, membeli buku dan habis lumayan banyak, haha. Senang banget sih. Kapan-kapan mau main ke sana. Bagiku, Kanisius adalah salah satu penerbit buku terbaik yang dikelola oleh lembaga keagamaan (dalam hal ini Katolik), dengan isi yang sangat bermutu. Banyak penulisnya berasal dari Serikat Jesuit, dan beberapa aktif menulis untuk majalah favoritku, "Basis".

Buku ini bisa dibaca sekali duduk saja, tak perlu waktu lama, sambil ngantuk-ngantuk pun selesai. Kurang lebih isinya memberi langkah-langkah dasar dalam proses mengarang, hingga pentingnya mengarang untuk peradaban. Dijelaskan juga mengapa kita perlu berlatih mengarang. Bagaimana "mekanika mengarang", baik dalam tahap penegasan ide maupun tahap penulisan karangan? Lalu, di bab akhir ada latihan-latihan dan contoh tulisan yang bisa dicoba.

Membaca buku "Mekanika Mengarang" ini menarik. Mekanika ini padahal erat kaitannya sama jurusanku dulu di fisika. Dia cabang untuk menganalisis gerak, gaya, perpindahan, dan kesetimbangan. Sains banget pokoknya, dulu aku pernah ikut kuliah mekanika kuantum, mekanika fluida, atau mekanika tanah dalam ilmu geofisika, kali ini mekanika mengarang. Memang benar, antara sains dan sosial ini bisa berhubungan.

Hal menarik yang aku dapatkan dari buku ini:

1. Pentingnya mengarang itu lebih untuk komunikasi ide, meningkatkan daya pikir, dan kalau diseriusi dengan benar, buahnya sangat manis.

2. Swakerja atau mekanika pengarang itu kurang lebih ada sembilan:

    (1) Memilih bahan pembicaraan (topik)

    (2) Menentukan tema dari bahan pembicaraan itu

    (3) Menentukan tujuan karangan yang akan dibuat serta bentuk karangan

    (4) Menentukan pendekatan terhadap tema pembicaraan

    (5) Membuat bagan atau rencana pembicaraan

    (6) Pandai memulai karangan

    (7) Pandai membangun paragraf dan menjalin kesinambungan paragraf

    (8) Pandai mengakhiri atau menutup karangan

    (9) Pandai membuat judul karangan

Dari sembilan itu kemudian dibagi-bagi lagi, di antaranya:

Tema: pemersatu seluruh karangan, kamu bisa menuliskannya secara terpisah agar jangan lupa dan menyimpang dari apa yang hendak kamu bicarakan. Tema inilah yang mengikat dan mendasari seluruh karanganmu, dari paragraf pertama sampai paragraf terakhir. Contoh pola tema PUSAT-B:

1. Peranan-sikap (PS): Apakah peranan (fungsi, makna, arti) dari sastra pop dalam hidup? Bagaimana sikap orang terhadapnya? 
2. Untung rugi (U): Bagaimana untung rugi sastra pop? 
3. Sabab-sebabnya (S): Bagaimana sejarah sastra pop? 
4. Adanya (A): Bagaimana keadaannya (fakta, data, kerja dan cara sastra pop)? 
5. Tipe (T): Bagaimana tipe-tipe sastra pop? 
6. Benar tidaknya (B): Bagaimana benar tidaknya suatu pernyataan? 

Lalu, ada beberapa pola bagan:

1. DAM-D: Duduk perkara, Alasan, Misal, Duduk perkara lagi (penegasan). 
2. Masa DSD: Dahulu, Sekarang, Depan. 
3. PM-HT: perhatian, minat, hasrat, tindakan. 
4. 5W1H
5. TAS: Tesis, Antitesis, Sintesis. Ini cocok untuk tulisan yang bersifat analisis. 
6. Bagan umum: introduksi, pengembangan, kesimpulan. 

Keseluruhan, buku ini cukup mudah diikuti. Apalagi juga dihadirkan contoh-contoh tulisan dari Basis edisi lama, misal tulisan dari Dick Hartoko. Yang susah hanya latihannya secara konsisten. Setelah membaca buku ini, hal bermanfaat yang bisa kuambil, aku jadi tahu beda antara topik dan tema, khususnya tema. Juga soal paragraf, dalam satu paragraf ada satu ide pokok. Unsur-unsur ini sebenarnya hal-hal dasar yang tidak semua pengarang menyadarinya. Sebab kalau kuamati, kebanyakan pengarang lebih memakai gaya bebas (free style), jadi risiko untuk menjadi berantakan jauh lebih besar.

Judul: Kreatif Mengarang | Penulis: A. Widyamartaya BA | Penerbit: PT Kanisius | Tahun: 1978 | Jumlah halaman: 53

KUTIPAN BUKU:

n-ach: dorongan atau kebutuhan untuk berbuat sesuatu. (4) 

Tanggung jawab itu diukur menurut pengabdian dan pengorbanan kita kepada kesejahteraan umum. Yang penting adalah nilai kita secara pribadi: kedewasaan berpikir, kekuatan kehendak, kejujuran dan keberanian, keterbukaan sikap, kecintaan akan kebenaran dan kesejahteraan bersama... Senjata ampuhnya adalah daya pikir masing-masing. (7) 

Betapa pun baiknya pikiran kita, jika tidak dikomunikasikan, tak akan ada gunanya, dengan jelas, berdaya guna dan tepat guna. (7) 

Modal pokok yang dibutuhkan adalah logika berpikir dan banyak membaca. (8) 

Dapat mengatasi ketidaktentuan dengan membuat keputusan dan berpegang teguh padanya, berarti membina watak yang tegas dan kuat. (10) 

Topik misal wayang kulit. Temanya: Sejarah dan peranannya. 

Bila menghadapi topik yang masih kabur, maka kamu harus lebih dahulu mencari dan menentukan temanya, untuk membatasi pembicaraanmu, meluruskan jalan pikiranmu dan menyalurkan arus-arus pikiranmu. Tema ini perlu untuk mempersatukan karanganmu. (11) 

Topik: Sastra Pop
Tema: Saya akan menguraikan apa sastra pop itu dan bagaimana kerjanya? (tipe A) 

Tujuan: Apakah yang hendak saya capai dengan tulisan saya ini? Ini perlu kamu pikirkan dengan masak-masak, supaya karanganmu sungguh-sungguh kena sasarannya, efektif, supaya pembaca merasa puas dan pengarang pun merasa puas. (13) 

Misal: memberi informasi, menggerakkan hati, atau campuran keduanya. Tujuan menentukan bentuk tulisan. 

Ada dua pendekatan mengarang: pendekatan faktuil dan pendekatan imajinatif. Imajinasi di sini bisa dijembatani dengan melihat objek yang sama dalam waktu berbeda, misal 10-20 tahun lagi. Itu juga imajinasi. Atau juga bisa mengandaikan subjek A bukan sebagai dirinya, tapi subjek BCD. Misal manusia dilihat sebagai binatang. 

Dalam membuat bagan karangan, jangan banyak berputar-putar, bercerita tentang hal-hal yang tidak menyangkut tema itu. (14) 

Ketika kamu membangkitkan minat mereka, tentu tidak sukar menyalakan hasrat mereka. 

Urutan jalan pikiran:
1. Urutan alamiah: urutan waktu (kronologis) dan urutan tempat (lokal) 
2. Urutan logis: urutan yang berdasarkan dialektika pikiran kita sendiri. Bisa dibedakan menjadi: urutan sebab akibat, sarana tujuan, khusus umum (induktif), umum khusus (deduktif), biasa luar biasa. 

Sabtu, 21 Maret 2026

33 th

Hari ini, ulang tahunku yang ke 33 tahun bertepatan dengan perayaan Idul Fitri 1447 Hijirah. Namun, dari dulu aku tak pernah suka lebaran. Lebaran hanya menambah tekanan. Tekanan ini aku alami sejak kecil, dari merasa inferior ketika bertemu dengan para sepupu di Bojonegoro. Mereka anak-anak dari saudara-saudara Bapak, lalu ke rumah Mbah Kung dan Mbah Yi dengan naik sepeda motor yang ditumpangi enam orang (ibu, bapak, aku, dan tiga adikku), juga aneka cerita-cerita yang membuat jiwa tertekan setelah pulang. Aku merasa, tanpa Lebaran pun, hidupku akan baik-baik saja. 

Hari ini berbeda. Ibuku udah lebih dari empat tahun sakit stroke. Beliau tak bisa apa-apa kecuali hanya melakukan aktivitas di atas amben. Aku merasa ibu juga ketakutan untuk sembuh, barangkali, akumulasi sakit yang dialaminya berpotensi akan terjadi pada dirinya lagi jika dia sembuh. Sakit secara fisik lebih bisa diterima daripada sakit secara jiwa dan rasa. Sebagai anak pertama yang tinggal di perantauan, setelah 13 tahun hidup sebagai hyperindependent woman, yang tiap hari mengaktifkan skill problem solving, aku merasa ketika pulang, aku tetaplah jadi sosok yang tak banyak membantu. Aku merasa tiba-tiba kemampuan bertahan hidup yang kudapat di perantauan jadi melempem, seperti tisu terkena air. 

Hari ini, di hari ulang tahunku, di hari Lebaran 2026, pagi tadi aku mengantar adik terakhirku ke rumah sakit. Dia tiba-tiba mengeluh ada gejala DBD dari bacaan internet di hapenya. Antena bertahan hidupku langsung ingin cepat membawanya berobat, meskipun dia ragu akan ada orang yang bertugas di hari raya, saat solat ied dimulai. Dia demam, tulangnya linu, setelah memaksakan diri puasa sebulan penuh. Tapi aku keukeuh, DBD harus segera diobati sebelum terlambat, karena di kantorku ada teman yang kena DBD, dan salah seorang kolegaku bilang, "Mesti cepat-cepat dibawa ke rumah sakit, jiak tidak bisa keterusan meninggal!" Tentu aku ketakutan, sama sekali belum siap. 

Hari ini, aku ingin bercerita tentang dia, adik kebanggaanku. Anak bungsu ibu. Barangkali dia adalah adik yang paling aku banggakan secara akademik. Aku menaruh harapan yang besar padanya. Dia menuruti saranku untuk masuk jurusan HI, dia menuruti saranku untuk ikut organisasi-organisasi kampus sampai dia jadi ketua atau wakil ketua atau sekadar koordinator divisi. Dia mengikuti saranku masuk persma, prestasinya baik, IP-nya selalu membanggakan di atas 3,8; jika aku menjadi dia, sepertinya juga aku tak mampu menyaingi prestasinya. Termasuk ketika dia mendapatkan beasiswa yang cukup bergengsi dari Bank Indonesia (sampai dua kali). Namun, yang membuatku selalu terenyuh, dia adik yang paling peduli sama Ibu ketika sakit. Sebuah pengabdian yang belum tentu aku mampu menjalaninya, padahal dia laki-laki, aku perempuan, yang secara pandangan umum, perempuan memiliki keterampilan lebih di bidang perawatan. Adikku mematahkan itu. Aku merasa belum setelaten dia.

Hari ini di ulang tahunku yang ke-33, aku menangis tanpa bersuara ketika mendengar lagu-lagu Dee Lestari berjudul "Grow A Day Older", "Selamat Ulang Tahun", "Firasat", "Malaikat Juga Tahu", dan "Back to Heaven's Light". Tangisan yang aku lakukan entah itu untuk apa. 

Hari ini, aku makan mie ayam, akhirnya, meski harus menunggu lama. Dan aku melihat ada ibu dan anaknya yang jatuh dari kursi saat tempat makan itu sedang ramai-ramainya. Rasanya tak terlalu istimewa sebenarnya, aku ingin mie ayam Lek No, tapi udah tutup dan habis. Besok aku akan membelinya jika aku dan makanan itu berjodoh. Beliau sudah jualan belasan tahun mungkin sejak aku masih sekolah.

Hari ini, adik perempuanku membelikanku dimsum mentai ulang tahun yang ada lilinnya. Aku mengucapkan terima kasih untuk kadonya, aku sangat berterima kasih. Ternyata, di tengah hari raya yang tidak baik-baik saja ini, Tuhan masih memberikanku banyak rejeki. Pesan paling kurasa dari alam semesta tersimbol dengan kata-kata yang ketemukan di RSUD: "Aku bertekad membuat diriku sehat."

Hari ini, aku bersyukur pada Allah SWT. Terima kasih telah mengizinkan hamba-Mu bisa hidup sampai di usia 33 tahun ini. Terlebih sejak di tahun 2025 lalu, cobaan berat dan membuka mataku itu datang. Pelajaran hidup berharga di mana aku tak lagi mengagumi hal-hal yang sempurna, baik, kelihatan wah, atau menguntungkan tapi secara realita (logika dan matematika) tidak logis. 

Hari ini aku berdoa, semoga, Isma selalu sehat, bisa kuliah Antropologi dan mengikuti tirakat prihatin dan wani rekoso dari Pak Dwi. Terima kasih, terima kasih Ya Allah.

Cepu, Blora, Jawa Tengah, 21 Maret 2026. 23.47 WIB.

Pesan Pak Dwi

Kata-kata ini aku kumpulkan saat masih menjadi murid Bapak dulu di tahun 2010-2011. Sampai kapan pun, Pak Dwi adalah guru terbaik yang pernah Isma miliki. Pak Dwi yang membuka mata Isma bahwa pelajaran sesulit Matematika pun bisa terlihat mudah, sepanjang kita setia menaati aturan yang menjadi kewajiban. Bapaklah orang pertama yang ngajarin Isma cara berpikir kritis, berfilsafat, dan sistematis. Bapak juga sangat progresif, saat guru-guru lain menggunakan LKS buatan pabrik, Bapak menyusun bahan ajarnya sendiri dan sesuai dengan "metode" Bapak sendiri.

Pesan Bapak dulu, "Kuliah ya Ma, meski hanya D1." Pak Dwi, Isma udah lulus S1 delapan tahun lalu, dan Isma akan lanjutin S2 tahun ini. Pak Dwi, mungkin ini lebai, tapi kukira saat dulu, tak ada murid yang sesayang itu dengan Pak Dwi dan Matematika di kelas kecuali Isma. Ingatan itu masih jelas sampai sekarang, saat suatu siang jam Pak Dwi kosong karena Bapak ada acara, semua anak bersorak bahagia, kecuali aku yang malah mbrambang dan pengen nangis. Aku gak tahu, ada kesedihan yang sangat saat itu. Aku selalu menanti kelas Pak Dwi. 

Mendapat guru seperti Bapak juga menjadi moment aku seperti mendapatkan teman, karena aku tak menemukan teman di kelas Pak. Aku terlalu pendiam. Dan, di mana pun aku bertemu dengan "teman", di sanalah prestasiku melejit. Bapak menyalakan cahaya dalam kegelapan Isma, sampai dulu pernah berpikir, jika lotere hidup bisa kuatur sesukaku, aku ingin jadi anak Pak Dwi saja. Bapak bukan hanya sekedar guru, Bapak dulu satu-satunya orang yang menolongku di tengah kelabilanku di usia SMA. Dan selamanya, nama Bapak akan tetap di dalam hatiku. Nama Bapak terukir istimewa.

Umur Bapak mungkin sekarang sudah sekitar 60 tahun, Bapak barangkali juga sudah lama pensiun. Keinginan Isma, pengen ketemu dan lihat Pak Dwi sekali lagi. Ya, kalau tidak bisa lebih dari sekali, sekali saja sudah cukup. Isma kangen banget sama Pak Dwi, sehat-sehat njih Pak. Isma ingin ngikuti jalan prihatin dan wani rekosonya Pak Dwi. Isma pegang erat kunci itu Pak: "TEKUN: PANTANG MENYERAH, PAHAM KONSEP, BERPIKIR KREATIF." Dan berikut berbagai macam pemikiran filsafat yang Isma pelajari dari Bapak:

🌻 Latihan terus menerus sebanyaknya, sepanjang mengikuti peraturan yang berlaku, jangan khawatir salah. 

🌷 Alur berpikir jelas memang perlu perjuangan. Alur pemakaian biasakan nyatakan. Harus penuh perjuangan. 

🌹Penjelasan tak usah semua, tapi aku tahu semuanya. 

💐 Bagaimana melakukan penalaran, sesuai dengan ketentuan yang ada, dalam menanggapi permasalahan yang ada. 

☘️ Lihat angka, manfaatkan angka. 

🌲 Melihat pola bilangan yang ada, cepat ngerti perlu latihan. 

🌴 Itulah kawan timbulnya malas, karena kita tidak bisa mengatur alur logika dengan benar, karena kita lebih cenderung rumit. 

🐰 Bisakah dibawa kesana? 

🦁 Jangan gunakan kalkulator

🐯 Pingin bisa? Belajar. Banyak tantangannya. 

🦋 Jalmo Lipat Seprapat Tamat: Sesuatu yang sederhana dilompati, belajarlah satu melangkah tiga perjalanan. 

🐢 Ngikuti jalur dengan benar. 

🦚 Walaupun salah nggak masalah

🦕 Soal punya jurus tertentu, apa yang Anda bisa lakukan, lakukanlah. 

🦄 Sesuatu yang banyak kalau dimengerti tidak banyak. Niteni. Matematika itu unik, senang. 

🌼Pahami karakteristik. 

🪴 Mimpi jangan hanya diangan, dilaksanakan. 

🎍 UN tidak sulit, persiapan sungguh, Anda bisa. 

🐠 Wani rekoso.

Makasih Bapak Drs. Dwi Setyanto, guru matematika terbaikku di SMA N 1 Cepu tahun 2010-2011.

Terima kasih telah mengajariku banyak jurus ninja untuk menjalani hidup. 

Sayang Pak Dwi banyak-banyak...

Senin, 16 Maret 2026

Catatan Buku "The Virtuous Puppeteer" (Seni Para Penguasa Pikiran) karya Balqis Humaira

Ini salah satu bacaan paling brengsek dan berguna yang pernah gw baca. Gw baca ini hanya butuh waktu sekitar 2,5 jam untuk buku sepanjang 30 halaman. Agak lambat, tapi setiap halamannya gw kuningin. Si Balqis emang brengsek, gw gak peduli dia dikendalikan AI, atau dibuat dari AI, yang penting pikirannya dan tulisannya bukan AI. Gw beli buku ini di akun Lynk.id dia dengan harga 10 ribu. Buku tipis ini tebal sekali bobotnya. Ini link kalau mau beli: https://lynk.id/balqisable/22x7o56er32m/checkout

Gw tahu orang-orang kayak Balqis ini membahayakan sistem. Makanya dia bersembunyi di balik anonimitas dan avatar perempuan Timur Tengah yang cerdas, lugas, dan blak-blakan. Sementara bahasaku pakai lu dan gw dulu untuk mengimbangi bahasa Balqis.

Jadi ada 12 cara biar lu gak cuma jadi minion di papan catur, tapi juga jadi puppeteer:

1. Kill the "Nice Guy" (Matinya Si Paling Baik): Pertama, dia membuka untuk membunuh kesan diri lu sebagai orang yang "paling baik". Menciptakan aman sendiri di dunia yang kacau, ini cukup bodoh. Lu harus punya daya survival. Untuk itu, lu perlu jadi seorang "the virtuous puppeteer" (Seni Para Pengendali Pikiran). 

2.  Calculated Imperfection (Ketidaksempurnaan yang Terukur): Ini ngebuat lu lebih terasa manusiawi. Ada penelitian, kalau lu jenius, kesalahan lu bisa dimaklumi, tapi kalau lu biasa-biasa saja, lu dianggap bloon dan tak termaafkan. Intinya, ciptain bagian yang tidak sempurna di diri elu. Ini juga yang dilakukan dengan orang-orang hebat dan artis-artis di luar sana. Jangan perlihatkan diri lu yang terlalu sempurna, karena lu rentan dihujat kalau salah total.

3. The Reluctant Leader Strategy (Strategi Pemimpin yang Enggan): Jangan ambis jadi bos atau pemimpin. Lu punya kuasa nolak, itu bikin power lu lebih kuat. Bau mulut bisa dibauin semua orang, kecuali yang punya mulut.

4. The Common Enemy (Menciptakan Musuh Bersama): Tim kuat karena dia punya musuh bersama untuk dilawan. Musuh bersama yang kuat ada di dalam diri mereka sendiri. Ciptakan momen yang awalnya mereka tak bisa, jadi bisa; dari mereka yang tak percaya menjadi percaya. Musuh di sini gak selalu yang kelihatan, tapi juga yang gak kelihatan.

5. Operationalized Empathy (Empati Operasional): Kalau ada teman yang curhat sambil nangis, jangan ikutan nangis. Validasi mereka, dan seret mereka ke tempat yang lebih baik sesuai dengan rencana elu. Coba ciptakan ilusi mayoritas lewat metode orang-orang tarot, yang seolah itu ke mereka, padahal itu hal umum saja. Ini namanya "The Barnum Effect (Forer Effect)", yang biasa dipakai ramalan zodiak-zodiak.

6. The Law of Reciprocity Debt (Hutang Budi Abadi): Hutang budi bukan di saat moment Lebaran atau musim kasih hadiah, tapi di waktu saat mereka butuh banget, dan di moment yang mereka gak sangka-sangka. Mereka akan loyal ke elu tanpa lu minta.

7. Social Proof Engineering (Rekayasa Bukti Sosial): Ciptakan rekayasa kondisi, mereka mau karena kepengenan mereka sendiri, bukan karena paksaan dari elu. Semacam Bandwagon Effect, orang loncat bukan karena tahu tujuannya, tapi karena gerbong itu lebih meriah. Orang makan di restoran bukan karena restoran itu enak, melainkan karena itu ramai.

8. Gashligting for the Greater Good (Gaslighting Demi Kebaikan): Pelajari letak inti ilmu gaslighting. Caranya bukan dari sama-sama menyerang ke luar, tapi diarahkan dari luar ke dalam. Termasuk, misalnya, dengan menyerang "identitas" atau "integritas" mereka. Bingkai pengeorbanan yang mereka lakukan adalah investasi buat mereka sendiri.

9. The Cult of Personality Code (Kode Etik Kultus): Buat bendera atau simbol-simbol tertentu sebagai totem. Ciptakan seragam bersama yang bedain antara klub elu dan klub lain. Buat jadi lebih eksklusif, miliki bahasa-bahasa sendiri.

10. Weaponized Humility (Kerendahan Hati sebagai Senjata): Praktik nyatanya, kalau bos lu bilang karya lu sampah, akui saja dengan rendah hati, baiklah, memang begitu, dan saya akan belajar. Tapi kata-katanya manis, dengan begitu elu gak cuma bikin situasi berbalik, massa berpihak sama elu, tapi juga bikin bos yang ngata-ngatain elu jadi kelihatan buruk. 

11. The Teflon Shield (Perisai Anti-Lengket): Bagi gw pribadi, ini penting banget. Karena sifat teflon, meskipun lu goreng telur gosong, ngebersihinnya gampang, dan lu gak larut sama kotoran yang diciptakan di atasnya. Lu perlu jadi pribadi yang kayak gitu juga. Kalau perlu, dalam mengerjakan sesuatu, punyai kambing hitam dan gunakan doktrin tangan bersih. Jangan kotori tangan lu sendiri, meskipun elu otaknya.

12. The Legacy Trap (Perangkah Warisan): Ciptakan situasi atau kualitas di mana elu seperti pasak bumi, bukan sekrup yang bisa digantikan oleh orang lain. Kalau kamu tahu prosedurnya 100 persen, jangan berikan seluruhnya, sisakan 20 persen sebagai rahasia. Ini yang disebut dengan centralization of vital complexity. Kedua, pakai ,, ilang bentar dan tunjukkan kalau lu gak ada kantor bakalan bangkrut atau tutup. Terus lu kembali lagi menyelesaikan semua.

Meski begitu, ada beberapa pertidaksetujuan gw:

1. Gw kurang cocok sama ide buat diri lu sendiri jadi pusat semesta seperti yang ditawarkan di poin 12. Warisan bagi gw tetap penting selama itu warisan positif, tapi membuat sistem ketergantungan sama diri gw itu bukan gw banget. 

2. Ada peribahasa semakin lu keras genggam pasir, semakin pasir itu lepas. Nah, 12 prinsip ini barangkali hanya bekerja dalam kondisi tertentu. Banyak benarnya, tapi malah jadinya tidak menunjukkan elu orang, tapi nunjukin lu diktator baru. Ide-idenya memang Machiavelian, jadi perlu hati-hati biar trik-trik ini secara alamiah bekerja sesuai jalurnya.

3.  Ilmu-ilmu ini bisa langsung dipraktikkan kalau elu punya skill yang mumpuni. Jangan coba-coba, misal lu tipe orang yang gak pandai akting, terus mencoba ini. Fake elu bakalan kelihatan banget. Melakukan tips-tips ala Balqis ini perlu jam terbang panjang dan perlu mengubah total software otak lu jadi seorang "player". Tulisan ini bisa jadi switch yang besar bagi mereka yang berjalan di hidup yang lurus yang menjunjung nilai 

Ihdinash-shirâthal-mustaqîm
(اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ).

4. Dimensi buku ini begitu intelek (otak) dan menyerang atau meng-hack secara psikologis, tapi lupa ada unsur spiritualitas atau faktor X yang berperan juga.

5.  Menjalankannya perlu hati-hati, dan setidaknya lu punya privilege, paling tidak di tingkat pikiran dan itung-itungan yang tepat.

Yang membuat gw terinspirasi dari buku ini:

1. Setelah baca ini, Balqis buat gw jadi manusia yang gak polos lagi. Gw lihat orang juga jadi gak polos lagi, tapi bisa mengenali motif-motif di baliknya. Kenapa mereka seperti itu? Kita punya pilihan untuk menjadi seorang puppeteer dengan bijak. Gak semua orang memang baik, dan kalau lu terlalu baik, lu bisa dimakan dan jadi korban orang yang lebih berkuasa dari elu.  

2. Emosi orang lebih penting dibandingkan dengan intelektual dan fakta. Jadi, senjata utama untuk memenangkan emosi orang adalah mengenali hasrat utama mereka, insekuritas mereka, dan dimensi-dimensi dasar mereka, seperti cinta, bahagia, ketakutan, dll. Kalau lu paham ini, lu bisa jadi teflon yang gak kena getah-getah sampah itu, tapi juga bisa bantu menyeretnya ke sesuatu yang lebih baik.

3. Buku ini ngebawa gw lebih paham sama diri gw sendiri, masyarakat, dan lingkungan sekitar gw. Klise, tapi ini repetisi tak henti-hentinya yang selalu gw pegang saat belajar. 

Jumat, 13 Maret 2026

Catatan Buku "Penziarahan: Pemurnian Jiwa" karya Maharsono Probho, SJ

Buku Romo Mahar ini aku beli setelah mendapat rekomendasi dari grup "Meditasi Kesadaran", yang rutin digelar di Katedral Jakarta setiap Kamis malam. Romo Mahar sendiri yang memimpinnya. Awal-awal dulu, aku sering datang. Namun, setelah ditempatkan live in di Aceh selama sebulan, kemudian dilanjutkan Ramadan dan Lebaran, sudah hampir tiga bulanan aku tak ikut meditasi lagi. Aku senang mengikuti meditasi itu, meskipun aku satu-satunya umat Islam dan berkerudung di sana. Rindu ikut meditasi itu lagi, meskipun di keseharian juga ada grup meditasi pagi yang jarang aku ikuti. Mungkin, aku masih di fase ups-down dalam melaksanakan meditasi, meskipun niat untuk menyeriusinya sudah ada.

Buku penziarahan ini aku selesaikan juga dengan sekali duduk. Lebih tepatnya, aku menyelesaikan selama satu jam. Aku kagum dengan referensi yang digunakan Romo Mahar dalam buku ini. Bagiku bukan referensi biasa, karena bahasanya berbeda dengan yang digunakan sehari-hari. Buku ini juga dianggit dari hasil pengalaman Romo Mahar mengikuti kegiatan meditasi ketika masih tinggal untuk pengabdian umat di Thailand. Ia menjalani perutusan sebagai anggota Serikat Yesus sejak 1992 sampai 2015. Dengan waktu yang lama tersebut, tak heran Beliau juga aktif berbahasa Thailand. Buku ini jadi sarana "sharing" Romo.

Isi dari buku ini lebih banyak berbicara tentang teknik, mekanisme, atau langkah-langkah melakukan meditasi. Di awal, Romo menekankan betapa pentingnya "berdoa". Ini sebagaimana yang dikatakan mistikus kuno bernama Evagrius, "Jika engkau sungguh seorang teolog sejati, engkau tentu sungguh-sungguh berdoa; jika engkau berdoa sungguh-sungguh, engkau adalah seorang teolog." Mistik di sini bukan berarti klenik. Mistik di sini diartikan "pengalaman berhubungan langsung dengan Yang Ilahi secara mesra-akrab." Ketika seseorang makin dekat dengan Allah, akan ditemui suatu paradoks yang barangkali dihindari manusia: ketidakpastian karena dosa-dosa, makin miskin karena Allah saja kekuatannya, hingga dia menemukan berbagai ungkapan cinta. Cinta Allah itu bergerak.

Hal paling utama dalam melakukan meditasi adalah menyediakan diri. Ada dua catatan dasar yang perlu dipahami bersama: (1) Hiburan rohani dan pengalaman mistik adalah murni dari Allah, (2) Apa yang menjadi niat manusia adalah penyediaan diri, perlu ada kesungguhan hadir di hadapan Allah, "cinta memerlukan penyerahan segalanya, dan lepas dari berbagai kelekatan", (3) Semua itu terjadi di bumi dalam lingkup semesta, dalam hubungan antarsemua makhluk hidup. Penyediaan diri adalah bentuk latihan rohani. 

Meditasi sendiri diartikan sebagai latihan rohani yang berumur tua, khususnya dari tradisi Hindhuisme dan Buddhisme. Fungsinya untuk menghadirkan kesadaran dalam setiap tindakan kita. Mengapa kesadaran penting? Salah satunya untuk penjagaan terhadap kelima panca indra, dan mengecilkan ego. Meditasi menjadi penziarahan kesadaran. Lalu, Romo menjelaskan terkait empat unsur kehidupan: meditasi api, meditasi air, meditasi udara, dan meditasi tanah. Paling mudah meditasi udara, karena lebih bisa kita lakukan di mana saja. Apalagi jika kamu hidup di kawasan urban dan perumahan vertikal, susah menemukan tanah, air untuk berendam, atau api yang didapat dari sinar matahari.

Menariknya, Romo di buku ini juga membahas meditasi lain: meditasi makanan, meditasi berjalan, dan latihan pancaindra. Aku tertarik dengan meditasi makanan, karena kita jadi belajar untuk menghormati setiap unsur makanan yang ada di piring kita, lalu memberikan ucapan terima kasih kepadanya. Makanan dalam tradisi Kristiani juga merupakan ekaristi (perayaan kurban Tubuh dan Darah Yesus Kristus yang diubah dari roti dan anggur) semesta. 

Terakhir, Romo Mahar mengajarkan terkait meditasi cinta. Prinsip utamanya, "Menjaga budi, pikiran, dan hati agar tetap bersih, hanya bisa dilakukan dengan mengalirinya dari sumber yang bersih!" Romo meminta kita untuk mengalami cinta, alih-alih menganlisisnya, karena itu hanya akan membuang energi. Tujuan dari meditasi cinta yaitu menyemai cinta, sementara medannya adalah diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan alam semesta. Ini berhubugan juga dengan meditasi berkat, dengan cara nafas masuk (menyebut nama), dan nafas keluar (mengucapkan berkat). 

Pendekatan buku ini memakai POV umat Katolik. Romo Mahar juga mengajak kita untuk membaca gerak dunia. Namun, meski keyakinan kami berbeda, aku bisa mengambil pesan universal yang disampaikan Romo Mahar. Semisal bagaimana agar manusia lebih mendekatkan diri pada Allah, dengan cinta Allah. Romo mengingatkan, "Dalam gerak penziarahan mencari Allah ini, manusia bisa mengalami banyak gangguan, penyimpangan, dan bahkan bisa tersesat, sadar atau tidak. Sekaligus juga manusia menemukan bentuk-bentuk tuntutan-Nya yang kreatif." (vi) Dan ini bisa menjadi sejarah rahmat bagi kita.

Judul: "Penziarahan: Pemurnian Jiwa" | Penulis: Maharsono Probho, SJ | Editor: Rosalia Retno | Penerbit: PT Kanisius Yogyakarta | Tahun terbit: 2023 | Jumlah halaman: xiv + 66

Kamis, 12 Maret 2026

I am Ready to be Forgotten, More Than Ready

I feel overwhelmed and so much overthinking with many things, even it is just a small thing. I want to stop. I never need a validation, I will close that curtains of performance. Social media is not my nature pool. It is messy, creepy, exhausted, mental static... It makes me feeling hurt as easy as I use it: more cynical, colder, defensive. 

I want to find my own voice again, quiet, imaginative, and untainted by the judgement of the public eye. I want to step away from public gaze. I am not trading my peace with like or love or comment or share or repost.

I choose private. And of course, I am ready to be forgotten, even, more than ready.

Rabu, 11 Maret 2026

Catatan Buku "Seakan Bisa Dipisahkan" karya Ruhaeni Intan

Ini buku kedua Ruhaeni Intan yang kubaca dalam waktu sekali duduk, sekitar dua jam selesai. Aku membelinya pas bulan Ramadan, saat jalan-jalan di Grand Indonesia. Aku mampir ke Gramedia dan menemukan buku ini nyelip di antara novel-novel populer yang sampulnya cantik-cantik. Novela ini tidak kelihatan karena tinggal satu, dan sampulnya tak terlihat dari jauh. Namun, karena aku tipe pembaca yang suka eksplor tata rak, refleks aja kuambil. 

Sebagai kaum yang mendang-mending, apalagi mau lebaran 2026; aku sempat cek harga buku ini di Shopee, harganya beda jauh sama di Gramedia GI. Aku akhirnya terlibat dilema yang bagiku "tidak terlalu penting" (andai aku banyak uang) untuk membeli di GI atau Shopee saja? Sampai-sampai, aku diskusi sama ChatGPT untuk pengambilan keputusan. Menyusahkan memang. Argumen ChatGPT, kalau aku mau ngejar moment, beli dari GI, karena pengalaman ini gak bisa terulang. Membeli secara online dan offline tentu pengalamannya akan sangat berbeda. Belum lagi aku harus menunggu beberapa hari dan semangat itu barangkali sudah hilang. "Anggap aja selisih harga 35 persen itu untuk biaya kursus menulis," katanya mengompori. Baiklah, terdengar masuk akal, akhirnya aku membelinya di GI.

Setelah membacanya, aku suka bagaimana Intan mengangkat tema sehari-hari dan domestik menjadi hal yang menarik untuk ditulis. Premis buku ini sederhana saja: Seorang anak pertama perempuan yang memiliki hubungan tidak baik dengan orangtua, khususnya sang ibu, dan mencoba untuk memperbaiki hubungan rapuh itu. Tema semacam ini tentu banyak relate-nya dengan pemuda-pemudi sekarang, yang rata-rata yatim pasif atau piatu pasif, atau yatim-piatu pasif. Kalau mengamati hidupku sendiri, barangkali aku masuk yang golongan akhir, orangtuaku ada, tapi hubungan kami tak berjalan sebagaimana mestinya.

Simaklah kutipan menyayat berikut, "Karena aku telah membenci ibu, aku berhenti belajar darinya. Aku berhenti mendengarkan nasihat ibu, aku berhenti menuruti permintaannya, dan aku berhenti menghiraukannya. Aku merasa kasihan dengan ibuku. Aku seharusnya menyanyangi ibuku seperti ibuku juga menyayangi ibunya. Seperti ayahku menyayangi ibunya. Seperti teman-temanku menyayangi ibunya masing-masing. Seperti tetanggaku menyanyangi ibunya." (hlm. 1) 

ALUR: 

Terkisah, tokoh utama bernama Sofia yang bekerja sebagai Personal Assistant sebuah kantor di lingkungan urban memutuskan untuk berhenti bekerja. Nama Sofia jujur mengingatkanku dengan video klip Boy Pablo yang berjudul "Hey Girl", modelnya dinamai Sofia. Si Sofia mencari kosan baru dan meninggalkan kos lamanya yang dirasa tak representatif lagi. Dia menghubungi sahabat SMA-nya bernama Karin yang kosnya hendak ditukar gulingkan dengan harga sewa yang murah, karena Karin hendak kumpul kebo bersama pacarnya. 

Di kos-kosan baru inilah, aku membayangkan sebuah rumah tua bertembok dan Sofia tinggal di lantai dua. Kontrakan ini ada di belakang ruko, dengan gang yang sering dilewati para pekerja sektor informal. Rumah ini agak suwung karena hanya penghuni utamanya hanya Novia dan seorang pria paruh baya yang berpretensi jadi karakter yang dikasihani sepanjang cerita bernama Pak Kaslan. Awalnya, aku mengira dia tokoh jahat yang punya kelainan jiwa dan akan mengganggu Sofia. Ramalan ini aku buat di awal karena aku masih teringat dengan pola alur di novela "Arapaima", di mana tokoh laki-laki kebanyakan lelaki belang.

Namun, aku salah. Pak Kaslan ini sangat baik pada Sofia. Bapak ini membantu perempuan madesu itu pindahan, membawakan perabotan ke atas, memberi Sofia makanan dan minuman. Pak Kaslan ini jago masak ikan, dan berhubungan dengan ikan, dia juga punya jadwal tetap memancing setiap weekend (seingatku). Jadi, dia tidak akan membuat janji apa pun di hari khususnya hanya untuk memancing. Baginya, memancing tidak untuk mendapatkan ikan, hanya untuk senang-senang saja.

Pak Kaslan hidup sendiri di kamar yang lebih kecil, dengan barang rongsokan yang sangat banyak. Dia seperti mewakili karakter orangtua lama, para boomers yang hobi hoarding barang-barang pecah belah seperti gelas, cangkir, dan piring. Barangkali ini juga bentuk trauma masa lalu, saat mereka kesusahan memiliki barang pecah belah tersebut dan saat mereka mampu, mereka mengoleksinya. Meskipun dalam tahap tertentu, itu seperti mengoleksi sampah. Barang-barang Pak Kaslan, barangkali kalau di Jogja dia mengoleksi dari Pasar Klitikan, atau kalau di Jakarta thrifting atau hunting barang bekas di pasar loak sekitar Stasiun Kebayoran.

Konflik yang terjadi antara Sofia dan ibunya sebenarnya cukup kompleks. Inti yang kutangkap, kondisi ekonomi keluarga Sofia tidak baik saat kecil. Meskipun si Bapak jadi guru, tapi malah kegocek sama bisnis MLM tak jelas sehingga jatuh miskin. Si Bapak juga terlibat perselingkuhan dengan perempuan lain, ini yang membuat ibu Sofia mengambil alih posisi menjadi Ibu Kepala Rumah Tangga. Ibu Sofia membanting tulang membuka bisnis makanan, salah satunya membuat pastel isi wortel (sampai wortel kemudian jadi makanan yang dibenci Sofia karena ibunya meminta memakan dengan paksaan).

Lambat laun, usaha ibu Sofia bisa menghidupi seluruh keluarga. Namun, di sisi lain, bapak Sofia merasa seperti tidak dianggap di rumah. Si bapak pulang pergi dari rumah seenaknya tanpa kabar, seolah tidak menghiraukan Sofia, dan mereka yang tinggal di rumah. Perselingkuhan tetap berjalan, meskipun tidak dijelaskan dengan detail. Perkawinan yang sebenarnya sudah pecah sejak awal itu terpaksa dilanjutkan karena alasan anak-anak, yaitu Sofia dan adiknya Novia.

Awalnya, si ibu masih sering mengontak Sofia, tapi lama-lama tidak lagi. Kasus memuncak ketika Novia dikabarkan kabur dari rumah. Ibunya blingsatan menghubungi Sofia untuk mencari si adik yang ternyata dia nginep di sahabat baiknya. Novia kabur karena di rumah dia tak merasa aman, ibunya juga terbilang keras, dan bapaknya tak perhatian. Uang kaburnya didapat dari menjual HP. Setelah dibujuk, Novia pun mau kembali, tapi terlebih dulu tinggal di kontrakan Sofia. Novia mengamati kakaknya yang gelundang-gelundung di kamar tanpa pekerjaan jelas. Sementara Sofia berdalih sedang cuti panjang.

Setelah sekitar seminggu, Sofia membujuk Novia kembali ke rumah. Mereka pulang naik bus cepat. Di rumah pun, hubungan ibu dan anak tak kembali baik. Bahkan Sofia enggan makan masakan ibu dan memilih makan mi instan. Terjadilah perang dingin antara keduanya, Sofia tak betah, dan ingin cepat-cepat ke kamarnya.

Namun, ketika dia tiba, lelaki paruh baya Pak Kaslan ditemukan meninggal secara mengenaskan. Mayatnya telah membusuk dan tak ada yang peduli padanya. Dia meninggalkan harta karun barang-barang rongsokan yang sangat banyak, dan cairan tubuh Pak Kaslan mengenai barang-barang itu. Di belakang cerita, terungkap jika Pak Kaslan punya keluarga, dia punya satu anak perempuan. Sofia mengingatkan Pak Kaslan dengan anak perempuannya, sehingga dia baik hati pada Sofia. Pak Kaslan menulis surat yang tak pernah dia kirim untuk si anak, juga uang tabungan yang disimpan di sebuah kursi. Naasnya, uang tabungan itu pun dimakan rayap. 

Ketika pemilih rumah ingin membuang barang-barang Pak Kaslan, Sofia tak tega dan membelinya. Barang-barang itu dialihkan di kamarnya. Suatu hari, pacar Sofia bernama Agam, membantu untuk membersihkan dan menata barang-barang itu agar lebih rapi. Dari sanalah rahasia Pak Kaslan tentang surat dan anak terkuak.  

ANALISIS: 

Penilaianku pribadi untuk novela ini, aku menikmatinya, dan lancar-lancar saja dibaca secara santai. Namun, aku merasa karakter di buku "Seakan Bisa Dipisahkan" ini tak lebih kuat dari karakter "Aku" di novela "Arapaima". Keduanya sama-sama berkisah tentang perempuan-perempuan yang mumet, entah karena pekerjaan, relasi yang tidak baik dengan keluarga dan kolega, maupun hubungan yang tidak baik dengan diri sendiri; tapi aku merasa tokoh utama di Arapaima lebih kompleks. Intan yang barangkali bisa kuanggap bisa menjadi penerus Budi Darma versi perempuan seperti kehilangan distingsi karakter unik ini di novela SBD: kurang greget, kurang nakal, kurang antagonis, kurang out of the box. Mungkin penilaianku salah tapi itu yang kurasakan.

Tak diragukan, buku ini juga menghadirkan isu-isu keperempuanan dan gender yang kompleks. Temanya khas dengan masalah umum banyak keluarga di Indonesia. Hubungan orangtua dan anak bisa menjadi kisah dan sumur inspirasi yang sangat bisa digali, dan tak pernah basi. Meski begitu, karakter "ibu" di buku ini juga masih kurang digali, padahal dia menjadi sorot utama, justru yang tergali lebih ke karakter Novia dan Pak Kaslan. Apalagi si bapak, bahkan karakter ini tak tergali sama sekali. 

Isu besar lainnya terkait dilema pekerjaan di usia setelah kuliah. Isu kesejahteraan pekerja dengan segenap mental health-nya. Aku suka bagaimana penggambaran keseharian pekerja yang dekat, seperti berhenti lama melihat jemuran, karena aku teringat kosku di Semarang. Di sana, jemuran bajunya di tingkat dua, jadi tempat yang menarik untuk melamun. Saat itu aku jadi jurnalis freelance, pun nasibnya sama, dengan gaji yang tak seberapa, dan gaji hanya untuk sekadar hidup, tanpa simpanan.

Kekuatan novela ini: (1)  Penceritaan keseharian dengan bahasa yang dekat dengan pembaca, (2) Isunya aktual dan dekat, (3) Tidak bertele-tele. Kelemahan: (1) Karakter beberapa kurang terolah dengan baik, (2) Hubungan dengan ibu dan bapak kurang intens, (3) Lebih banyak drama dengan dunia luar (pekerjaan/Pak Kaslan) alih-alih drama dengan dunia dalam (orangtua).

Judul: Seakan Bisa Dipisahkan | Penulis: Ruhaeni Intan | Penyunting: Teguh Affandi | Cetakan: Pertama, Juni 2025 | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) | Jumlah halaman: x + 117 | Dimensi: 13,5 x 20 cm