Sabtu, 21 Februari 2026

Catatan Buku "Kokokan Mencari Arumbawangi" karya Cyntha Hariadi

Setelah membaca buku ini, aku kepikiran satu hal, "Jika seluruh doa petani ada pada tanah-tanah yang digarapnya, maka seluruh doa penulis ada di dalam kata-kata yang dia tulis."

Kamu percaya gak, seperti konsep jodoh dalam pasangan, buku itu juga jodoh-jodohan sama pembaca. Ada yang cocok, ada yang tidak cocok. Dan bagiku, aku berjodoh dengan buku Cyntha Hariadi yang berjudul "Kokokan Mencari Arumbawangi" ini. Aku menyelesaikannya dengan kekuatan super cepat, bahkan dengan tebal 337 hlm., bisa aku selesaikan selama dua hari saat aku main ke Lembang dan Subang! Membacanya seperti mengingatkan aku pada buku-buku yang aku jadikan jodoh lainnya, seperti serial petualangan Narnia karya C. S. Lewis. Energinya sama, anak-anak, dan ketahuan juga dari buku ini jika Cyntha menyukai buku-buku karangan JK Rowling, Hans Christian Andersen, dan sebangsanya. 

Ini buku keempat Cyntha Hariadi yang kubaca. Aku mengagumi caranya menulis dan bercerita, sekaligus sudut pandang penceritaan yang dia pilih. Anak-anak yang masih murni, belum dicemari soal konflik kepentingan orang-orang dewasa atas tanah, pendapatan, ekonomi, dlsb. Seperti di buku ini, rasanya begitu karib: sawah, capung, pohon kelapa, cakrawala, petualangan ke tempat-tempat liminal. Dan, yang paling menggugahku, bagaimana cara menghargai alam lebih baik. Bahkan sekalipun sendiri, saksi-saksi binatang dan tumbuhan melalui narasinya masih bisa tersampaikan.

Di Lembah Dewata Lembang
Secara sederhana, buku ini berkisah tentang seorang ibu yang hidup bersama dua anaknya, cowok dan cewek, bernama Kakaputu dan Arumbawangi. Adiknya, si Arum, ini tidak jelas orangtuanya. Ia dikirim oleh burung kokokan saat Nanama ingin anak perempuan, sehingga Kakaputu meningkatkan kepercayaan dirinya sebagai manusia ketika dia menjadi seorang kakak. Di sisi lain, Nanamama menghadapi perlawanan dari seluruh masyarakat di kampung karena tak mau menjual sawah sumber kehidupannya kepada pihak hotel. Pihak hotel ini awalnya dikelola oleh seorang pria kaya, sibuk, dan necis bernama Pak Rudi. Namun, istrinya meninggal, dan dia hidup bersama anak laki-laki satu-satunya bernama Jojo. Namun, karena sebuah kecelakaan, Jojo meninggal dan arwahnya bertransformasi menjadi pipit haji.

Nama Arum juga mengingatkanku pada diri sendiri. Dia sering dirisak oleh teman-teman bermainnya, terutama dengan Si Kembar, cucu Pak Wawatua, dan tiga anaknya yang meskipun dewasa tetap menyusahkan. Aku tak membayangkan jadi Nanamama. Dia meninggal bukan karena sakit, tapi karena seluruh kampung memusuhinya. Nanamama berpesan agar dikuburkan di tanah dekat rumah, dekat dengan tumbuhan pandan dan sereh, bukan dibakar lalu abunya dilarung berdasarkan adat di Bali. 

Aku suka di buku ini banyak ilustrasinya yang lucu-lucu, saat anak-anak ini sedang bermain di sawah, menerbangkan layangan, naik pohon kelapa, hingga permainan khas Bali yang entah sekarang masih dimainkan atau tidak. Imajinasiku begitu hidup di buku ini. Gambar dan visualnya sangat jelas, mirip film, yang sangat bisa aku nikmati. Anak-anaknya juga sangat bisa kubayangkan, dengan diriku sendiri menjadi Nanamama, haha. Aku sengaja mengajak diriku sendiri ke visual cerita agar konteksnya lebih bisa kurasakan. 

Dalam buku ini, Cyntha juga mengatakan, "Tanah yang tak digarap, tak akan punya nyawa. Seperti jiwa kita, kalau tidak pernah sakit, tak akan jadi kuat." Kata Nanamama pada Arumbawangi, saat Arum lagi down-down-nya. Kalimat ini juga yang berasa di aku saat aku lagi jatuh terkilir kaki ketika menginap di sebuah vila di Lembang. Membaca kalimat ini membuatku kuat lagi.

Judul: Kokokan Mencari Arumbawangi | Penulis: Cyntha Hariadi | Editor: Mirna Yulistianti | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta | Cetakan: Ketiga, Maret 2025 | Jumlah halaman: x + 337 hlm

Jumat, 20 Februari 2026

Catatan Buku "Tiga Dalam Kayu" karya Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie


Emosiku setelah membaca buku ini, jujur: aku ingin membuangnya dan tak ingin kubaca lagi. Alasannya, meskipun buku ini bagus secara isu, tema, dan pesan; tapi disampaikan dengan cara yang membuat bingung pembaca. Dari komentar yang kudapat di Goodreads juga, banyak yang merasa bodoh dan otaknya tak sampai ketika membaca buku ini. Pembaca mengalami fenomena reading slump, di mana kamu kehilangan minat untuk membacanya sampai akhir. Berisiko DNF, meskipun lagi-lagi, aku lulus, aku membacanya sampai akhir. 

Sebetulnya aku tak masalah dengan narasi gore-nya, hanya aku bermalasah dengan logika nulis yang membingungkan dan rentan membuat orang tersesat. Sepertinya ini salah satu buku Ziggy yang salah kuambil. Dua buku Ziggy sebelumnya yang kubaca, tentang kisah Emina dan negeri di bawah laut, kupikir itu enak-enak saja, tapi di buku ini tidak. Ya, mungkin aku membaca buku Ziggy dengan urutan yang salah. 

Buku ini terdiri dari 11 bab, di mana setiap babnya diberi judul Buku 1, 2, 3, dst, kemudian disusul 7 bab lain semacam enigma dari bahasa Rusia, alih-alih itu gaya-gayaan penulis edgy yang ingin tampil "berbeda". Salah seorang pengguna Goodreads juga sudah dengan baik menuliskan arti "Myla", "Pid Oblachkom", hingga "Patshok Spivat" itu, yang dari bunyinya saja sudah mirip dengan mantra sihirnya Harry Potter.

Namun, yang paling menggugahku dari buku ini adalah (setelah aku menghujatnya di paragraf awal), aku tersadar jika pengalaman perempuan memang sesedih, setragis, semenyakitkan, sesakit, dan serapuh itu. Orang selalu ingin membuangnya, menyampahkannya, karena sulit dipahami, dan dengan dalih demi kebaikan. Ziggy barangkali menangkap semangat yang sangat mentah (raw) ini terkait berbagai ketidakadilan yang dialami oleh perempuan, dengan tokoh-tokohnya yang kebanyakan dari sudut pandang penceritaan kriminal.

Hanya beberapa cerita saja yang menurutku berkesan dari 18 bab kumpulan cerpen, ya, aku lebih suka menyebutnya kumpulan cerpen daripada novel itu:

Pertama, Buku 1, tentang Petrus di masa Orba dulu. Bagaimana orang-orang ditembaki kemudian mayatnya dikarungi goni, dibuang ke tempat-tempat umum seperti pasar hingga di depan rumah. Yang menarik, yang bercerita adalah anak-anak. Bahkan, di sini Ziggy dengan berani memakai tokoh anak-anak sebagai pelaku pembunuhan teman-temannya sendiri. Di sini, aku melihat keberanian Ziggy untuk keluar dari pakem umum bahwa anak-anak itu polos, ternyata tidak. Dia juga tak memberikan gender yang jelas pada tokoh-tokohnya, bisa jadi dia perempuan, bisa jadi juga laki-laki.

Kedua, Buku 6, terkait keluarga yang nonton bioskop, tapi anak terakhir perempuannya tidak suka. Si ibu juga tak suka nonton bioskop, tapi karena ia istri yang baik, dia menemani suaminya yang suka nonton bioskop. Si ibu bercerita pada anak perempuannya, jika di situ ada perempuan gila yang dihamili oleh pria-pria belang yang sering nongkrong di bioskop, saat perempuan gila ini mengambil bunga soka. Aku tak tahu, sepertinya Ziggy suka bunga soka, karena nama bunga ini disebut berkali-kali.

Ketiga, Buku 4, cerita Nyonya Van Wijk dan suaminya yang sama-sama mati karena racun si Nyonya. Bagaimana dia menyukai kue pancong, juga menghadiahkan seluruh kekayaan pada seorang anak perempuan yang berpakaian beludru. 

Berikutnya barangkali sekilas terkait seorang kakek yang tidak ingin menyakiti ikan tapi punya istri yang jago masak ikan, kisah Maria asli dan Maria lain yang jadi korban kejahatan, seorang ibu yang hobi teaternya tak diwadahi tapi masih menerima-menerima saja, seorang adik yang aneh, Arkeolog Sushi, seorang bapak yang membumikan istri, anak, dan cucunya di satu peti sampai mayatnya busuk. Tapi aparat militer malah seakan-akan membebaskannya, dengan dalih "demi kebaikan". 

Dan jujur, aku tak mengerti dengan kisah perempuan hantu di perpustakaan yang dibuat khusus untuk menyimpan buku-buku orang mati itu. Ceritanya belibet dan tidak clear. Atau soal pembunuhan yang dilakukan perempuan dengan piano mahalnya itu juga cukup sulit dipahami alurnya. Aku yakin Ziggy cukup sadar ceritanya ini tak semua pembaca akan paham, tapi dia tetap memilihnya.

Tambahan, judul "Tiga Dalam Kayu" ini dari interpretasi suka-sukaku, diambil dari tiga generasi perempuan: nenek, ibu, anak, (ada juga yang cucu) terkait kehidupan mereka di sepanjang banyak bab. Atau kisah di bab-bab terakhir terkait, seorang laki-laki yang menguburkan istri, anak, sekaligus cucunya sendiri di dalam peti. Terakhir, kalau kamu mau baca buku-buku Ziggy, plis, jangan mulai dari buku ini. Sekian dan terima kasih.

Judul: Tiga Dalam Kayu | Penulis: Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie | Editor: Teguh Afandi | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta | Cetakan: Ketujuh, Februari 2025 | Tahun terbit: 2022 | Jumlah Halaman dan Dimensi: vi + 162 hlm, 13,5 x 20 cm

Kamis, 19 Februari 2026

Catatan Buku "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" karya Brian Khrisna

Ya, aku cukup fomo ketika memilih buku tiap aku datang ke Gramedia tanpa preferensi yang jelas pengen beli buku apa. Akhirnya, nasib mempertemukanku dengan buku penulis Bandung, Brian Khrisna ini. Judulnya cukup provokatif, "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati". Anyway, entah perasaanku saja atau bagaiamana, akhir-akhir ini aku sering membaca judul-judul buku yang temanya tentang suicide (bunuh diri), namun alih-alih mendukung tentunya, kebanyakan judul lebih kek ingin mencegah dengan cara yang cukup chill dan kekinian, termasuk buku ini. Buku serupa lain misalnya, "want to die but i want to eat tteokbokki" karya penulis Korea, Baek Se Hee Jakkanim. Meskipun yang terakhir ini cukup tragis aku baca sekilas di internet. Hidup emang segelap itu kadang ya, jadi buku-buku pun memilih demikian. 

Premisnya barangkali cukup sederhana, bahkan makanan kesukaanmu bisa menyelamatkan dirimu di fase terendah hidup, ketika kamu ingin mati saja. Persis seperti itu yang dialami si tokoh utama bernama Ale, anak kantoran SCBD yang dari gaji cukup mapan, tinggal di apartemen, tapi pengen mengakhiri hidup karena merasa dirinya useless dan korban bullying sana-sini. Tubuh Ale tinggi gempal, badannya bau, mukanya mirip preman kriminal, dan dia merasa tak ada yang mencintainya. Dia sudah berulang kali ke psikiater berharap sembuh, tapi gak mempan. Dia ingin memutuskan untuk mati dengan menenggak pil yang jumlahnya banyak, TAPI "makan mie ayam dulu".  

Buku ini terdiri dari 12 bab. Di tiap babnya, usaha Ale untuk bunuh diri akan digagalkan oleh Tuhan dengan berbagai jenis orang dan kejadian yang dialaminya. Mulai dari ternyata penjual mie ayamnya (Pak Jo) sudah koit dulu, ketemu sama pemimpin mafia pengedar sabu di penjara sekaligus bromocorah (Murad), ketemu ketua PSK dan pelacur yang hidup demi anak (Mami Lousse dan Juleha), ke rumah pegawai OB di pinggir rel kereta api (Ipul), ketemu seorang ibu yang mengecewakan anaknya sendiri karena sering dibanding-bandingkan (Bu Murni), ketemu bapak-bapak penjual layangan (Pak Uju), sampai ketemu seorang pria penjual kerupuk bangka yang buta (Jipren).

Di kantoran ber-AC, tokoh utama dipanggil Ale; di jalanan, tokoh utama dipanggil Blek. Anaknya monster di depan, tapi Hello Kitty di dalam. Aku cukup menikmati kisahnya, meskipun ini jenis novel yang "alim" banget, di tiap lembarnya ada petuah-petuah yang akan membawamu pada "kebijaksanaan hidup". Ya, walaupun setelah kubaca sampai akhir, kupikir ini bukan my cup of tea. Penulisnya seperti mendedikasikan diri untuk jadi juru selamat (yang itu memang dibutuhkan untuk sebagian besar orang, karena buku itu laris, tapi tidak saya). 

Aku cukup banyak mengalami dan merasakan apa yang dialami dan dirasakan oleh Blek. Tapi bagiku, alasan dia untuk bunuh diri tak sekuat dan sefundamental itu. Meskipun level mental orang beda-beda, tokoh Blek rasanya memang terlalu cengeng. Hal yang menarik dari buku ini menurutku malah bagaimana dia mengangkat kelas-kelas yang dianggap "sampah" oleh masyarakat yang diberikan suara: pelacur, OB, lansia, penyandang disabilitas, dlsb. Kupikir ini bukan hal mudah untuk diceritakan. 

Selain itu, ada plot hole, terutama dengan mudahnya Ale di akhir buku bisa lepas dari jerat setan orang macam Murad. Padahal Murad sudah memberikan tanda istimewa sekaligus nulis nama Blek di tembok perumahan dekat kampung sarang kriminal. Bagiku secara penulisan juga masih ada rasa hitam-putih dengan jelas. Ya, itu saja kesannya. 

KUTIPAN:

Lo gak usah takut salah. Di dunia ini, lo gak boleh kelihatan salah. Sesalah apa pun yang sudah lo lakuin, berntak mereka, tanyain memangnya kenapa kalau lo salah? Kalau lo salah, terus mereka mau apa? ... Hilangkan sikap pengecut lo itu. Perasaan orang lain bukan tanggung jawab lo. Berdiri tegap dan lawan seakan-akan itu adalah cara lo bisa tetap hidup dan gak mati." (72-73)

Rawa rontek, kanuragan, pancasona, brajamusti, dan khodam macan putih. 

Itu sih cuma alur cinta anak muda biasa aja Le. Semua orang jelek di dunia ini setidaknya pernah mengalami hal yang sama. Jadi santai saja. (101) 

Elo punya kesamaan dengan barbie-barbie gue. Elo dan mereka itu seringnya cari cinta di tempat yang salah. (102) 

Berkembangbaiklah dulu sebelum memutuskan berkembang biak. (103) 

Kalau gak bisa ngidupin diri sendiri, jangan matiin masa depan perempuan. (104) 

Coba deh sekali-kali ubah sudut pandang lo. Siapa tahu hidup bakal ngebawa lo ke arah yang lebih baik. (108) 

Ternyata selama ini banyak yang melihatku. Aku pikir aku sendirian. Tapi ternyata tidak. Aku saja yang tak mampu melihat mereka. (127) 

Hidup akan jadi lebih gampang kalau kita sudah bisa belajar untuk menerima kekecewaan dan melihatnya sebagai sebuah berkah yang asing. (128) 

Judul buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati | Penulis: Brian Khrisna | Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) Jakarta | Editor: Trian Lesmana | Cetakan: Ke-83, Desember 2025 | Jumlah Halaman dan Dimensi: 216 hlm, 13.5 x 20 cm |  

Rabu, 18 Februari 2026

Catatan Buku "Perayaan Hal-Hal Tak Penting" karya Bre Redana


Buku ini dihadiahi langsung oleh Mas Eka Pocer, saat diskusi pembahasan buku Pak Bre ini di eks Gedung Filatelli Jakarta. Saat itu pembahasnya ada KD (Krisdayanti) juga, termasuk moderator dari Kompas. Buku "Perayaan Hal-Hal Tak Penting" ini aku selesaikan sekali duduk. Setengah adalah cerita Pak Bre, setengah buku sisanya adalah komentar dari seorang seniman Bali bernama Pak Hartanto.

Buku ini terdiri dari 11 bab. Secara keseluruhan, aku menikmatinya. Yang paling menggugahku adalah soal betapa rapuhnya ingatan manusia. Bahkan ketika itu sudah dengan baik kita arsipkan secara tertulis. Namun, ketika dokumentasi itu kita lihat lagi, beberapa bahkan kita sudah tak ingat lagi terkait konteksnya. Menurutku ini mindblowing, karena aku pernah mengalami kejadian serupa ketika membuka jurnal-jurnal pribadiku katakanlah 10 tahun lalu.

Sebagaimana buku ini dipersembahkan untuk Milan Kundera yang pernah mengatakan jika, "Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa." (Kitab Lupa dan Gelak Tawa); barangkali, buku ini juga ditulis dengan tujuan melawan lupa. Sebagaimana saat diskusi, Pak Bre mengatakan jika kejadian luar biasa itu sangat jarang terjadi di hidup kita, karena itu dia memilih untuk menuliskan hal-hal yang biasa-biasa saja.

Namun, sebiasa-biasanya sebuah tulisan, jika itu ditulis oleh orang-orang yang memiliki skill, jatuhnya tetap berat, seberat komentar yang ditulis oleh Pak Hartanto juga. Aku menangkap di setiap tulisan Pak Bre selalu ada dorongan akan pemberian makna yang filosofis, dan tentu itu menjauhkan isi buku dengan judulnya. Kuharap kau tak terkecoh.

Secara alur, aku justru teringat dengan buku Ashadi Siregar yang fenomenal kala itu, "Cintaku di Kampus Biru", ketika aku mengikuti perjalanan tokoh utama di buku Pak Bre. Namanya Frans, dia punya moral dan etika yang sangat urban dan Jakarta akan aturan umum. Frans punya band rock Tumapel, namun karena memilih lebih oportunistik, dia menggeluti usaha sound system.

Frans punya teman-teman dekat seperti Sisca (yang kematiannya aneh, tenggelam dengan high heels cantik berwarna merah), Haris (Chindo businessman yang hobi koleksi barang seni dan selalu menepati kata-katanya), hingga tokoh-tokoh pendukung lain seperti Emma (keponakan Haris, mirip Sisca tapi versi sepatu keds bukan high heels), Vita (yang menikahi bule dan kata Frans, nama akhir Vita diambil dari nama burung), Kirana/Nani (yang Frans lupa konteks pertemuan dia dengannya, perempuan yang bosen hidup di Jakarta dan mencoba hidup stoik di sebuah desa di Magelang), Eva (ibu-ibu sosialita pemimpin bisnis EO), dlsb.

Di novel ini, aku mengenal istilah "oblivious", tapi alih-alih jelas, di sini yang kuartikan lebih ke "terlupakan". Inti masalah yang diangkat Pak Bre, "Persoalannya di sinilah rahasia memori. Dua orang yang sama, pernah mengalami peristiwa yang sama, belum tentu memori yang tertinggal pada keduanya serupa, persis sama." (hal. 21)

Di buku ini aku juga belajar terkait "ketidakberesan kognitif" manusia. konsep ini diambil dari buku "The Art of Thinking Clearly" karya Rolf Dobelli. Intinya, kita semua rentan mengalami ketidakberesan kognitif. Umumnya dimulai rai prasangka-prasangka yang diciptakan manusia sendiri, sehingga membuat realitasnya jadi ikut-ikutan bias dan error.

Buku ini menarik dan cukup ringan dibaca ketika kamu senggang.   

Judul: Perayaan Hal-Hal Tak Penting | Penulis: Bre Redana | Penanggap: Hartanto | Penerbit: Minak Jingga, Yogyakarta | Jumlah halaman dan dimensi: viii + 114; 11 x 17 cm | Cetakan: Pertama, Oktober 2025 

Senin, 09 Februari 2026

Memaknai Metafora Bebas Bernama "Zona Nyaman"

"Comfort’s etymology maps directly onto histories of colonialism, industrialization and consumer capitalism." (h. 4)

Zona nyaman bukan istilah yang netral. Awalnya, kata ini merujuk pada istilah mekanis yang berkaitan dengan suhu, atau suatu teknik yang berhubungan dengan ventilasi dan AC. Zona nyaman berhubungan dengan suhu, kelembaban, dan aliran udara yang bagaimana yang membuat tubuh betah, tapi juga produktif.

Pada tahun 1923, istilah ini diperkenalkan oleh American Society of Heating and Ventilating Engineers (ASHVE) untuk mendefinisikan kombinasi suhu, aliran udara, dan kelembapan di lingkungan ber-AC buatan yang menghasilkan sensasi hangat bagi manusia. 

Istilah ini kemudian maknanya jauh berkembang, dari yang awalnya mekanis, jadi terma luas yang dikenal di dunia arsitektur, psikologi, sampai ekonomi-politik. Ia juga berada di antara pertentangan antara pikiran dan tubuh, ekologi dan ekonomi. Semisal para psikolog-pop setuju dengan semangat neoliberal, bahwa zona nyaman menurunkan inovasi dan ekonomi, meskipun lama-lama di zona nyaman juga bisa mengancam pertumbuhan ekonomi.

Tahun 1960-an misanya, zona nyaman maknanya berkembang untuk perluasan spasial yang berhubungan dengan rumah tangga dan lingkungan kantor kerah putih. Lalu tahun 1970-an, zona nyaman diartikulasikan sebagai ruang psikososial di mana terapis, konsultan, dan bahkan pemimpin politik bisa melakukan intervensi. Kenyamanan itu mahal bagi mereka yang berpenghasilan rendah, akan lebih parah lagi pada mereka yang berusia lanjut dan minoritas. Zona nyaman ada di produksi industri dan reproduksi sosial.

Zona nyaman merupakan bagian dari ketidaksetaraan. Ini juga diciptakan untuk memitigasi ketidaknyamanan golongan kulit putih berkaitan dengan suhu, yang disandarkan pada teknologi. Cross dan Nading memperkuat ini dengan mengutip gagasan Marx, zona nyaman merupakan kondisi material yang dibutuhkan untuk proses reproduksi. Para inspektur pabrik, pendeta, pendidik, ekonomi, menggunakan kenyamanan untuk menggambarkan kondisi material tenaga kerja industri.

Sementara itu, Frederich Engels menghubungkan konsep kenyamanan dengan masalah alkoholisme. Ketika pekerja yang pulang dalam keadaan lelah, sementara mendapati rumahnya "tidak nyaman" (lembap, kotor, menjijikkan); akan memunculkan pikiran dan tubuh yang gelisah hingga hipokondria. Kenyamanan di sini menjadi cara bagaimana ekonomi politik, lingkungan, dan keadaan afektif saling membentuk satu sama lain.

Sejarawan arsitektur, Daniel Barber (2019) juga pernah memperkenalkan istilah "comfortocene" untuk menamai zaman geologi saat ini. Argumen inti darinya adalah, saat ini manusia mengejar "kenyamanan". Termasuk praktiknya dengan penggunaan alat-alat listrik seperti AC sebagai bagian dari ancaman eksistensial. Bayangkan, superblok dan kantor-kantor tinggi di Jakarta tanpa AC, apakah bisa disebut nyaman?

Paper ini juga mengeksplorasi terkait bagaimana zona nyaman dipetakan dalam ekonomi global kontemporer, lewat kerangka ekologi dunia dari Jason Moore (2015). Zona nyaman membentuk infrastruktur material-semiotik, yang mengarahkan seseorang pada aliran kekuasaan, modal, dan energi melalui jaringan akumulasi modal. Kita bisa melihat praktiknya lewat berbagai macam ruang, dari perumahan, pekerjaan, migrasi, makanan, hingga data.

Ada lima karakteristik zona nyaman:
1. Bukan hanya terkait suhu, tapi juga rasa aman hidup.
2. Selalu menciptakan kondisi "di dalam" dan "di luar".
3. Dibangun oleh benda, orang, dan sistem.
4. Melibatkan non-manusia: tanaman, hewan, mesin, dll.
5. Punya konsekuensi sosial dan politik.

Kebalikan dari comfort zone adalah discomfort zone, atau kadang juga disebut sacrifice zone (zona penderitaan). Cross dan Nading mengkritik gagasan, "kita perlu lebih banyak rasa tidak nyaman supaya dunia jadi lebih baik." Padahal, gagasan seperti ini lahir dari orang-orang yang sebenarnya sudah sangat nyaman dan punya privilese. Rasa tidak nyaman bukan hal alami, tapi bisa diatur, dikelola, bahkan difasilitasi lewat teknologi, desain, material, dan kondisi sosial tertentu.

Penulis:

Jamie Cross, Profesor Sosial Antropologi di Universitas Glasgow. Direktur inisiatif Glasgow Changing Futures. Ia suka menelusuri bagaimana repsons manusia dan non-manusia terhadap perubahan iklim yang saling terhubung. Menulis buku berjudul "Planet Mold",  yang lahir dari risetnya selama tiga tahun berkaitan dengan panas (heat) dalam kajian sosial, serta dampaknya bagi negara-negara di Global Utara dan Global Selatan.

Alex Nading, Profesor Sosial Antropologi di Universitas Cornell. Seorang antropolog medis dan lingkungan yang fokus pada Nikaragua. Menulis buku "Mosquito Trails: Ecology, Health, and the Politics of Entanglement" (2014), dan "The Kidney and the Cane: Planetary Health and Plantation Labor in Nicaragua" (2025).

***

Sastrawan India, Prayaag Akbar, dalam fiksi iklim distopia berjudul "Leila" bercerita sebuah kota di India yang dilanda panas ekstrem. Kemudian, terdapat perusahaan multinasional yang membangun suatu "zona nyaman" di distrik kota yang disebut "Skydomes". Ruang-ruang yang diperuntukkan bagi orang kaya yang suhunya bisa diatur, lalu membuang polusi dan limbahnya ke rumah-rumah warga yang berpenghasilan rendah. Pembangunan ini memperburuk ketidaksetaraan dan memicu konflik kelas, kasta, dan komunal warga.

Cross, J., & Nading, A. (2026). Comfort zones: Thermal environments for life and capital in a warming world. Economy and Society, 1-24.

Link: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/03085147.2025.2603819

#jamiecross #alexnading #comfortzones

Minggu, 01 Februari 2026

Ebiet G. Ade

Kota Langsa, Aceh, 1 Februari 2026

1. Elegi Esok Pagi

2. Ibu (feat Iwan Fals)

3. Untuk Kita Renungkan

4. Aku Ingin Pulang

5. Bila Kita Ikhlas

 

6. Menjaring Matahari

7. Titip Rindu Buat Ayah

8. Berita Kepada Kawan 


 9. Masih Ada Waktu

 

10. Nyanyian Rindu

11. Kupu-Kupu Kertas


12. Cinta Sebening Embun
 
 
13. Camelia II

Kamis, 29 Januari 2026

Catatan Klenik Studies Vol. VIII Edisi 29 Januari 2026: "Cerita Horor dari Rumah"

I. Pembukaan Diskusi

Klenik Studies Vol. VIII pada tanggal 29 Januari 2026 pukul 20.00 WIB mengambil tema “Cerita Horor dari Rumah”. Diskusi ini membahas tentang bagaimana rumah sebagai ruang domestik menyimpan jejak sejarah, warisan spiritual, trauma kolektif, hingga sugesti sosial. Cerita yang muncul tidak hanya tentang penampakan, tetapi juga tentang keluarga, lingkungan, ekonomi, dan cara orang menafsirkan pengalaman. Diskusi ini diikuti oleh Khumaid Akhyat Sulkhan, Nurul Diva Kautsar, Nurizky Adhi Hutama, Mi’rajul Akbar, dan Isma Swastiningrum.

Diskusi edisi ini berangkat dari pertanyaan sederhana: mengapa rumah bisa berhantu? Jawaban terkait ini berkembang dari pengalaman personal, cerita turun-temurun, hingga refleksi teoretis tentang memori ruang, trauma domestik, dan dimensi psikologis.

II. Rumah Lama dan Sejarah di Baliknya

Nurizky membuka diskusi dengan kisah tentang rumah yang pernah dia tinggali. Rumah itu menyimpan serangkaian pengalaman yang tidak dialami semua cucu, hanya dua atau tiga orang dari sembilan bersaudara—termasuk dirinya dan adiknya.

Ia menceritakan pintu yang terbuka sendiri dengan tangan besar yang tampak mendorongnya, suara langkah dari lantai atas pada malam tertentu, serta rambut yang tiba-tiba ditemukan tanpa tahu asalnya. Dari garis neneknya yang berdarah Dayak, ada mandau yang pernah bergerak sendiri dan lemari yang bergetar. Seorang pakde bahkan menyebut mandau itu meminta darah. 

Nurizky juga mengaitkan lokasi rumahnya dengan kawasan Samirono dan Gejayan—wilayah yang menurut cerita warga memiliki sejarah kekerasan pada masa perang di Yogyakarta. Ia menyebut insiden “pocong minta diuculi” dan kisah mobil yang tiba-tiba berada di lantai dua bangunan, tapi tanpa mobil itu rusak.

III. Hantu Domestik dan Garis Keturunan

Diskusi lalu bergerak ke relasi antara rumah dan keluarga. Nurizky menceritakan tentang neneknya yang menjelang wafat justru memanggil satu cucu tertentu. Orang yang memahami hal metafisik menyebut adanya “pemberian” secara selektif. Warisan ini tidak selalu diminta, dan tidak selalu jelas fungsinya. Bahkan muncul pertanyaan bagi Nurizky: jika dipilih, untuk apa? Apakah warisan itu mempersiapkan masa depan tertentu, atau justru menjadi beban?

Hantu yang berhubungan dengan keluarga sendiri, bisa berwujud seperti nenek yang sudah meninggal. Dalam kepercayaan Jawa, 100 hari setelah meninggal masih “di situ”. Ada cerita nenek duduk di lemari dan berjalan ke mana-mana, atau lebih sering “menampakkan diri” ke salah satu cucu.

Nurizky juga menjelaskan bahwa keluarganya memiliki latar spiritual: ayahnya kejawen, nenek berdarah Dayak, kakek dari lingkungan keraton. Ia merasa rumah yang ditinggalinya diperkuat oleh energi manusia-manusia yang tinggal di dalamnya.

Ada pengalaman masa kecil Nurizky saat melihat mbak cantik berbaju putih yang menemani ketika ia sendirian di rumah. Ayahnya menyebut sosok itu penunggu pohon mangga depan rumah. Sosok itu ramah, tidak menyeramkan. Namun ia hanya muncul ketika rumah sepi, jarang saat ia bermain PlayStation. Sosok ini tidak diposisikan secara otomatis sebagai jahat; bahkan justru hadir sebagai teman, terutama ketika Nurizky sendirian di rumah. Namun ketika pagar terbuka oleh anggota keluarga lain, sosok itu pergi.

Ketika rumah dikoskan, ternyata kos-kosan itu dihuni banyak perempuan dengan ciri fisik serupa, serta mereka juga betah kos di sana.

Sulkhan menambahkan hantu domestik juga berkelindan dengan pengasuhan bayi. Ia bercerita tentang adiknya yang masih bayi tiba-tiba sudah berada di kolong tempat tidur padahal belum bisa tengkurap sempurna, dia tidak menangis ataupun terluka bahkan ketika dianggap dia jatuh dari amben.

Sulkhan juga menceritakan kisah ibunya saat hamil dirinya: ada sosok yang menerobos jendela kamar pada malam hari. Setelah ia lahir, ibunya sering bermimpi ada sosok yang ingin merebut atau menyakiti anaknya. Ia juga menyebut legenda seperti kuyang yang berfungsi membuat ibu-ibu lebih waspada.

Menurut Sulkhan, rumah adalah simbol peradaban. Ketegangan antara pendatang dan “yang lebih dulu ada” menjadi narasi dominan. Entah itu entitas gaib, atau manusia lain yang mengirim teror psikologis.

IV. Cerita Orang Lain dan Produksi Ketakutan

Nurul mengaku tidak pernah mengalami langsung penampakan hantu di rumahnya. Namun ketakutan justru datang dari cerita orang lain. Ia tinggal di rumah tumbuh yang dibangun bertahap. Keluarganya tidak pernah mengenalkan cerita klenik. Ia menyadari bahwa yang membuat takut bukan penampakan, melainkan spesifikasi cerita: disebutkan lokasi, waktu, hingga detailnya. Banyak rasa takut muncul dari cerita tetangga atau sepupu.

Cerita yang pernah didengar Nurul, seperti ada cerita perempuan berbaju putih di pohon mangga, hantu di loteng, anak kecil di gudang, sosok tinggi di belakang rumah, sosok hitam berjalan di dapur, mbah-mbah duduk di depan rumah. Ketika disebut spesifik dan dikaitkan dengan ruang gelap, ketakutan muncul. Saat kecil, dia sampai tidak berani ke dapur malam hari dan ke toilet harus diantar. Terutama karena area dapur tidak pernah dinyalakan lampunya. Jika lampu dinyalakan, mungkin ketakutan berkurang.

V. Rumah sebagai Kambing Hitam dan Dokumentasi Tragedi

Akbar juga menyinggung film Thailand “Ladda Land”. Dalam film itu, horor tidak hanya muncul dari penampakan, tetapi dari masalah domestik, seperti suami dipecat, istri tidak tahu, relasi keluarga retak. Efek horor hadir dari suasana dan cerita, bukan sekadar makhluk gaib.

Sulkhan mengingat tetangganya yang usahanya tidak pernah berhasil. Rumah menjadi kambing hitam atas ketidaksuksesan dan kegagalan ekonomi. Rumah menjadi tempat proyeksi atas konteks sosial-ekonomi yang tidak berpihak. Ia berpendapat bahwa rumah berhantu kerap menjadi dokumentasi tragedi: bunuh diri, konflik keluarga, atau sejarah kekerasan. Cerita hantu adalah cara masyarakat menyimpan ingatan atas peristiwa yang sulit dibicarakan secara langsung.

Isma menambahkan tentang Rumah Kentang: Mitosnya, setiap lewat di depan rumah ini akan mencium bau kentang digodok. Narasinya, seorang ibu memasak dan anak balitanya kecemplung ke kuali air mendidih hingga meninggal.

Saat keluarga Isma pernah pindah rumah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, ada teman aneh yang suka bercerita tentang kisah horor. Semisal, temannya ini bercerita tentang salah satu rumah tetangga yang menculik anak-anak, tulang dan dagingnya dimasak jadi sup. Temannya juga bercerita tentang pocong-pocong muncul di kawasan tertentu. Wilayah ini sendiri memiliki sanitasi buruk dan kebiasaan masyarakat yang masih BAB di sungai, dengan akses ke sungai yang gelap dan melewati bambu-bambu. Narasi seperti ini bisa dibaca sebagai representasi kecemasan terhadap keamanan anak dan ancaman kriminalitas.

VI. Ritual, Perjanjian, dan Energi Negatif

Isma membagikan kisah tentang pasangan suami-istri yang membeli rumah kolonial luas pada tahun 1960-an. Suami-istri ini memiliki anak-anak yang masih kecil sehingga harus memperkerjakan baby sitter. Namun, baby sitter tidak pernah betah. Suami sakit muntah darah tanpa sebab medis jelas. Suami ini kemudian datang ke “orang pintar”, yang menyarankan ritual menabur garam setiap malam sebelum purnama dalam keadaan telanjang. Ritual suami pas pertama kali gagal setengah jalan, lalu dilanjutkan istri.

Kemudian di dalam mimpi, si suami didatangi penunggu rumah yang marah karena tidak “kulon nuwon.” Terjadi perjanjian: makhluk halus diberi ruang kembali, jika tidak akan mengganggu keturunan beberapa generasi. 

Konsekuensinya mengerikan. Halaman belakang berubah menjadi semacam “pasar hantu.” Warga yang ronda melihat keramaian dengan orang-orang sibuk di dalamnya tapi berwajah pucat. Pada akhirnya pasangan itu meninggal tak wajar, rumah dijual, lalu dihancurkan. Ketika tanah bekas rumah itu diganti dengan koperasi, bahkan koperasi yang berdiri di atasnya bangkrut. Warga percaya energinya masih terpancar. Di sini, rumah bukan sekadar bangunan, tetapi medan perjanjian antara manusia dan entitas lain.

Isma juga membagikan kisah perempuan yang putus asa mencari kerja dan berkata, “Setan saja tidak kerja bisa hidup.” Perempuan ini kemudian diterima bekerja di rumah Joglo yang ternyata kosong tiga tahun. Ia merasa rumah itu bersih, dan dia melakukan kerja-kerja domestik: mencuci piring, baskom lodeh, dua baju putih. Namun posisi barang selalu kembali seperti semula. Tetangga heran karena rumah itu kosong. Setelah minum air dari orang pintar dari kenalan yang dia datangi, ia melihat wajah asli rumah sebenarnya yang berantakan, berubah muram, dan dua pocong mendekat. Dua orang yang memperkerjakannya, Bu Haji dan Pak Haji, dijadikan avatar oleh dua pocong tersebut.

Si perempuan itu pun pingsan. Narasi menyimpulkan bahwa ucapannya memanggil hal-hal yang tidak dia inginkan menjadi suatu realitas nyata. Ia “diperlihatkan” pekerjaan para pocong, seolah membantah ucapannya sendiri. Di sini, horor menjadi refleksi keputusasaan, energi negatif, dan proyeksi psikis.

VII. Hantu Sebagai Pelindung?

Dalam diskusi ini, Akbar juga mempertanyakan: Adakah hantu yang bukan menakut-nakuti, tetapi melindungi? Varian seperti guardian angel atau khodam disebut. Entitas ini digambarkan Akbar sebagai sosok yang sifatnya tidak mengganggu, tapi malah melindungi.

Nurizky berpendapat bahwa jika ada pelindung, ia bukan menjaga rumah, tetapi menjaga orang. Ada yang “dipilih”, ada yang “diskip”. Penjagaan bisa muncul dalam bentuk firasat. Ada sosok penjaga dengan nama-nama tertentu seperti panji, berbentuk macan, kadang menjelma bayangan kucing yang lewat. Yang dijaga adalah orangnya, bukan bangunan.

Sulkhan menanggapi, dalam konteks pesantren, ada penjaga rumah atau penjaga kiai. Namun pada umumnya, di Indonesia yang dijaga adalah orangnya. Rumah bisa saja kemalingan tanpa “bantuan”, tetapi orang yang dijaga mendapat peringatan.

VIII. Dimensi Psikologis dan Persepsi

Nurul menyebut konsep “residual energi”, energi emosional yang tertinggal dari tragedi. Rumah menyimpan memori aktivitas masa lalu semisal bunuh diri. Dampak dari aktivitas itu terus berjalan dalam dimensi berbeda.

Selain itu, Nurizky juga menyentuh isu: skizofrenia, halusinasi, dan stres berat dapat membentuk pengalaman gaib. Dia juga menceritakan pengalaman mendengar suara (bukan suara batin biasa), yang digambarkan sebagai percakapan timbal balik. Jawaban yang muncul tidak sepenuhnya dikenali sebagai dirinya sendiri. Semacam ada pluralitas: suara masa kecil, suara kini, dan dua suara lain yang tak dikenal. Dalam konteks ini, latihan batin bukan hanya memperdalam kesadaran diri, tetapi juga memperlebar kemungkinan interaksi dengan entitas. Meditasi disebut sebagai salah satu pintu pembuka.

Namun pengalaman ini menurut Nurizky ambivalen. Entitas ini bisa membantu menjawab persoalan spontan, tetapi juga mengganggu, seperti menarik selimut, menghadirkan bayangan, memicu insomnia sejak SMA. Ketika mencoba meminta agar gangguan dikurangi, respons yang dia dapat ambigu. Nurizky melanjutkan, narasi tentang kapasitas manusia memiliki “penjaga” hingga ratusan entitas memperlihatkan imajinasi kuantitatif atas metafisik. Ketika jumlahnya “kelebihan”, dampaknya disebut menyerang fisik dan mental, bahkan memengaruhi emosi dan relasi sosial.

Dalam beberapa situasi, ia merasa seperti “dibantu menjawab” sesuatu. Namun bantuan itu tidak selalu membawa ketenangan. Nurizky pernah membantu orang menggunakan tarot, tetapi merasa tidak nyaman karena seperti adu nasib. Ia juga pernah mendatangi paranormal, tetapi justru merasa paranormal tersebut “kalah” atau tidak mampu mengatasi persoalannya. Ia pernah di kafe, ia merasa bisa membuat es batu dengan gelasnya berbunyi. Ia menghubungkannya dengan kekuatan visualisasi. Namun lagi-lagi, pertanyaan fungsional muncul: “Kalau mereka jagain, fungsinya apa?” Ia merasa kadang hanya menjadi katalis sosial. Dia merasa terkadang ada orang-orang yang datang padanya tanpa sebab, merasa nyaman, atau akrab meski ia kadang merasa pendiam dan ucapannya terbata-bata. Menurutnya, itu benefit yang ia alami dari kehadiran entitas lain tersebut.

Nurizky sendiri justru meragukan konsep guardian angel. Ia merasa entitas yang hadir tidak pernah memperkenalkan diri. Ia bahkan mengimajinasikan struktur entitas tersebut seperti “instansi” atau “HRD” yang merekrut dan menambah entitas—namun lagi-lagi ia bertanya: untuk apa?

IX. Rumah, Tanah, dan Dimensi Paralel

Nurizky mengembangkan gagasan bahwa rumah berdiri di atas tanah yang sudah memiliki penghuni. Aktivitas yang kita sebut “penampakan” bisa jadi hanyalah perbedaan dimensi waktu. “Satu hari kita bisa jadi seratus hari di warga lain (dimensi gaib},” katanya. Ia membayangkan dimensi keempat, kelima, keenam—ruang paralel di mana aktivitas tetap berlangsung. 

Nurizky menambahkan, tanah kosong yang dibangun rumah bisa saja sudah “berpenunggu”. Aktivitas yang terlihat mungkin bukan gangguan, tetapi kebiasaan lama yang masih berlangsung. Warga halus beraktivitas, dan ketika manusia tidak stabil atau sedang “sinkron” dengan entitas gaib, maka terjadi penampakan.Yang terlihat sebagai penampakan bisa jadi hanya “sinkronisasi” antardimensi.

Ada gagasan bahwa waktu tidak selalu linier. Satu hari bagi manusia bisa menjadi seratus hari bagi entitas lain. Komunikasi bisa terjadi seperti percakapan biasa, tetapi sebenarnya terhubung dengan timeline berbeda. Dia menyebut, portal hanya terbuka ketika diizinkan. Konsep ini mendekati gagasan menggali memori bukan dari benda purba, tetapi melalui manusia dan residu ruang. Seolah-olah seseorang bisa masuk sebagai penonton dalam dimensi lain, lalu kembali.

Ada keyakinan bahwa manusia memiliki medan elektromagnetik yang memungkinkan resonansi dengan “dimensi lain”. Dalam imajinasi ini, ketika medan yang sama ditemukan, partikel dapat menyatu, membuka portal tapi tidak harus merusak ruang fisik. Baginya, interaksi lintas dimensi bukan sekadar tahayul, melainkan kemungkinan resonansi energi. Ia menegaskan, bukan berarti menyinggung agama, tetapi menurutnya arwah tidak selalu langsung “naik.” Ada kemungkinan mereka tetap beraktivitas, melihat anak-cucu tumbuh.

Rumah juga dikaitkan dengan materialitas tanah. Materi-materi di sekeliling kita bisa di ranah domestik bisa menyimpan jejak yang tidak kasat mata. Tanah bukan benda mati; ia menyimpan sejarah, bahkan potensi gangguan. Seperti urukan yang tidak jelas asal-usulnya, atau memori tanah yang terserap ke dalam bangunan.

X. Pola-Pola Hantu Rumah

Isma menjelaskan, narasi horor berkaitan dengan rumah muncul dari beberapa pola:

1. Narasinya lokal dan personal, dan biasanya dihadapi oleh penghuni baru, awam, dia tidak tahu apa-apa. Keawaman ini jadi pintu untuk masuknya hal-hal gaib.

2. Cerita horor di rumah ini selalu berkaitan dengan sejarah rumah atau pemilik sebelumnya. Cerita horor sering jadi mekanisme kontrol sosial: misal, mengingatkan anak-anak agar tidak masuk ke area tertentu. Bisa juga sebagai cara masyarakat melestarikan sejarah atau trauma kolektif, contohnya rumah yang dulunya ada peristiwa tragis.

3. Ritual dan praktik “pembersihan”. Ada ritual tertentu untuk “mengusir” atau “menenangkan” makhluk halus di rumah? Apa simbol atau benda yang dianggap bisa menolak energi negatif (misal garam, dupa, patung)?

4. Dimensi psikologi dan persepsi: Fenomena horor bisa muncul karena ketakutan, sugesti, atau pengalaman traumatis. Bagaimana orang menafsirkan suara, bayangan, atau perasaan aneh di rumah? Kaitan antara cerita horor dengan stres, kecemasan, atau pengalaman hidup penghuni.

5. Representasi ketakutan masyarakat terhadap ancaman nyata (misal kriminalitas, keamanan anak). Teman sebaya yang diajak bermain saat kecil mungkin mengekspresikan kecemasan atau pengalaman sehari-hari melalui narasi yang menakutkan.

XI. Penutup dan Kesimpulan

Rumah berhantu bukan hanya soal makhluk halus, tetapi juga pertemuan antara memori ruang, ketegangan sosial, sejarah yang tidak selesai, dan imajinasi manusia. Rumah dalam percakapan ini tidak pernah hadir sebagai sekadar bangunan fisik; ia muncul sebagai ruang liminal, tempat dimensi-dimensi lain diyakini dapat bersinggungan secara langsung dengan manusia.

Ia sering kali berasal dari keangkeran alam yang kemudian dijadikan bangunan, dan berhubungan dengan masa lalu ruang tersebut. Rumah dilihat sebagai hasil “invasi” manusia atas tanah. Manusia sebagai pendatang membangun peradaban di atas ruang yang mungkin sudah lebih dulu “dihuni”. Ketegangan muncul antara manusia dan entitas yang dianggap terjajah. Narasi berhantu sering berkisar pada perebutan ruang dan legitimasi untuk tinggal.

Beberapa alasan mengapa rumah berhantu: (a) Histori berdirinya rumah: ada rumah yang berdiri di atas tanah terlarang, bekas rumah sakit, bekas pasar zaman penjajahan, rumah dianggap mendokumentasikan tragedi. (b) Konflik keluarga: ruang yang pernah menjadi lokasi bunuh diri atau konflik berat, ketika dialihfungsikan (misal jadi kantor atau tempat ibadah), tetap masih membawa narasi sebelumnya. (c) Kiriman dan serangan psikologis: ketegangan manusia versus manusia dapat memunculkan “teror” yang dibaca sebagai gangguan gaib.

Diskusi Klenik Studies akan berlanjut pada 26 Februari 2026 dengan tema “Ilmu Hitam dan Kanuragan.” Jika edisi ini berbicara tentang rumah sebagai ruang berhantu, edisi berikutnya akan masuk lebih jauh: ketika tubuh manusia sendiri hingga barang-barang di sekitarnya menjadi sarana gaib.