Senin, 15 Juni 2026

Diskusi Pre-launching Buku "Ekonomi Politik Kekuasaan" karya Vedi R. Hadiz

LP3ES menggelar diskusi dan pre-launching buku bertema "Ekonomi Politik Kekuasaan: Kapitalisme, Populisme dan Oligarki" melalui Zoom Meeting, Senin, 15 Juni 2026. Diskusi ini menghadirkan pembicara Vedi R. Hafiz, serta sambutan dari Rahadi T. Wiratama (Editor Buku) dan Widjanarko (Direktur Program Penerbit LP3ES). 

Vedi memberikan pengantar bahwa ketika menulis buku ini, dia sempat berpindah-pindah tema, salah satunya karena bosan. Tapi juga ada satu benang merah tentang kontestasi, tapi yang bedain, kontestasi ini tidak pernah sama antara satu orang ke orang lainnya. Lebih ke sosiologi kekuasaan, daripada liberalis pluralis. 

Dia terganggu dengan intelektual fate atau intelektual trendy, ada skeptis dari luar negeri sehingga dikonsumsi banyak orang. Dia tidak pernah menerima apa pun dengan take it for granted. "Saya skeptis dengan ide-ide trendi," katanya. Misal soal transisi demokrasi, siapa yang diuntungkan dan dirugikan. Dia juga kritis dengan pasar dan civil society. Lalu soal good governance, siapa sih di baliknya? Apa persoalannya? Produk tersebut merupakan hasil dari kontestasi. Desentralisasi sebagai bagian good governance memproduksi praktek predatoris atau raja-raja kecil. Ada sesuatu skeptis di semua artikel yang Vedi tulis di buku ini. 

Berbicara tentang Indonesia juga ada hal-hal yang dikomparasi secara global. Institutional design itu kurang memadai, kalau diterapkan, bisa dibajak kepentingan dominan, yaitu kepentingan oligarkis. Pemahaman tentang oligarki berbeda dengan pemakaiannya secara umum. Oligarki bukan sekadar perkumpulan orang kaya, tapi juga bagaimana posisinya secara sosial. Bagaimana korporasi dan institusi dominan terhadap gerakan ekonomi politik. Bukan semata-mata soal segelintir komlomerat, tapi juga politik. Kita perlu skeptis bahwa orang yang menulis tentang undang-undang juga orang yang punya usaha. 

Menurutnya, sekarang ini terjadi banyak diskusi tentang krisis demokrasi. Buat Vedi, ini outcome liberalisasi global. Sehingga institusi demokrasi tak bisa bekerja. Kenapa di Indonesia demokrasi tak bisa maju? Karena salah satunya juga ada politik identitas. Oligarki melindungi pihak-pihak di dalam koalisi, itu juga mengambil keuntungan dari struktur sosial ekonomi yang didominasi oleh oligarki. 

Populisme ini juga menjadi perhatian Vedi, terutama populisme Islam. Populisme itu upaya menggabungkan kepentingan-kepentingan yang semakin kompleks. Kemudian ini dimobilisasi untuk mendukung agenda politik tertentu di waktu-waktu penting, misal pada Pemilu 2014, 2019, dan Pilkada DKI Jakarta 2017. Untuk membangun solidaritas penduduk masyarakat karena posisi sosial yang berbeda. Dimobilisasi untuk agenda sesaat. Kemudian ketika berdamai jadi hilang. Ini bisa jadi alat oligarki. 

Ada juga karya-karya tentang buruh. Buruh itu representasi bagian masyarakat yang paling marjinal. Kemampuannya untuk mempengaruhi kebijakan dan sosial ekonomi yang dianggap itu jadi terbatas. Karena fragmentasi dari zaman Orde Baru, jadi mainan oligarki. Dari penelitian Vedi, meski ada yang mau berjuang, pikiran mereka dimoderasi yang dikonsumsikan negara  Buku ini untuk siapa saja yang ingin memahami persoalan-persoalan yang ada di Indonesia. 

Tanya Jawab:

Q1: Populisme Islam berbeda dengan sebelumnya. Dia gerakan sosialisme dan kelas. Ada skeptisisme, berujung pada cakisme. Adakah skenario lain selain cakisme? Kalau kita lihat Islam dan gerakan kelas menengah, mereka enggan berkompromi. 

Q2: Rizal UIN Malang: Bicara soal demokrasi, semua makhluk hidup itu binatang politik. Bagaimana menciptakan kesetaraan tanpa memicu konflik/anarki? Apakah negara yang banyak utang akan terpuruk oleh bunga? 

Q3: Maulana: Pemerintahan saat ini apakah lebih ke oligarki atau demokrasi? Untuk memperbaiki demokrasi tersebut bagaimana? 

Vedi: Di Turki populisme Islam lebih berhasil daripada di Indonesia. Dalam arti, kekuatan sospol yang beraliansi dengan Islam itu menguasai negara karena mereka punya basis materiil yang kuat. Mereka didukung tiga pilar, pertama, kelas menengah yang teralienasi oleh rezim Kemalisme. Kedua, mereka punya kelas pengusaha yang kedaerahan. Mereka punya usaha-usaha kecil, yang bisa jadi penopang. Mereka bisa menjalin ke kelas bawah. Ketiga, ada asosiasi pemudanya. Ada oligarki tandingan terhadap Kemalisme. 

Semua politik itu konflik. Konflik itu keniscayaan dalam ekopol. Bisa jadi konflik ide, senjata, dll. Tak harus ada kekerasan. Apakah ada kekuatan yang cukup inheren untuk menandingi kelas kepentingan berkuasa? Konflik ketika jadi anarki akan menguntungkan status quo. Misal dikomparasi, tak bisa disamakan antara Indonesia vs USA, karena berkaitan dengan ekonomi suatu negara. Indonesia tak bisa tak berhutang semaunya, karena luar negeri juga melihat bagaimana memenejemen sumber daya. 

Q4:  Nabil: Pertanyaan untuk Prof. Vedi, 

R. William Liddle pernah melontarkan kritik terhadap Tesis Oligarki dengan argumen bahwa mazhab ini cenderung mengajarkan 'keputusasaan politik'. Kritik tersebut muncul karena Tesis Oligarki dinilai terlalu deterministik, hanya melihat institusi demokrasi pasca-1998 pada akhirnya selalu dibajak oleh kekuatan elite lama, sehingga menafikan ruang bagi agensi polittisi reformis (seperti Pak B.J. Habibie, misalnya), masyarakat sipil, dan reformasi kelembagaan. Bagaimana Anda memandang kritik mengenai 'keputusasaan' yang dialamatkan pada Tesis Oligarki ini? Apakah analisis ekonomi-politik makro memang cenderung mengesampingkan potensi agensi lokal, atau justru hambatan strukturalnya yang selama ini belum berhasil didobrak? Dalam debat akademik mengenai transisi demokrasi di Indonesia, terdapat jurang yang cukup besar antara mazhab pluralis dan para pengusung Tesis Oligarki. Ketika para sarjana pluralis mengkritik bahwa Tesis Oligarki membawa narasi “keputusasaan” karena skeptis terhadap institusi demokrasi formal, apakah menurut Anda kritik tersebut muncul karena mereka terjebak dalam 'optimisme semu' (naive optimism)? Yaitu melihat demokrasi sebatas prosedur pemilu, tanpa membongkar asimetri material dan penguasaan kapital yang ada di baliknya?

Vedi: Resentralisasi oligarki terjadi dalam pemerintahan Prabowo. Tapi ada tiga kontradiksi inheren yang bisa jadi peluang. Pertama, akan jadi krisis fiskal. Ini menciptakan kontradiksi, karena proyek mahal seperti Danantara, MBG, Kopdes untuk membangun patronase dan hegemoni. Pada saat yang sama membebani APBN, memberatkan pengusaha dan masyarakat. Ini terjadi krisis oligarki juga. Kedua, dengan adanya Danantara dan MBG, membangun koalisi yang bisa dikontrol oleh sebagian orang. Lalu bagaimana dengan pihak yang sudah mengalami desentralisasi? Seperti kepala daerah, ini persoalan di dalam politik juga. Ketiga, terjadi konflik masyarakat dengan aparat dan ASN terutama yang berhubungan dengan Sumber Daya Alam. Ada kontradiksi yang mungkin akan menyebabkan konflik antara masyarakat lokal dan  aparat (negara). Akan banyak lagi konflik lokal yang terjadi. 

Q5: Deda UGM: Apa yang dihighlight soal civil society? Kelas menengah kita yang deliberal.

Q6: Andi: Tanggapan terkait krisis neoliberalisme? Bagaimana memandang populisme yang berbasis identitas jadi satu-satunya basis resistensi terhadap oligarki? 

Q7: Goris (FISIP Universitas Djuanda): Elaborasi lebih lanjut mulai dari perkembangannya, yang disebut aliansi apa saja? Basis ekonomi materialnya yang membentuk oligarki? Tesis saya pemain inti sama. 

Vedi: Oligarki itu bukan benda mati, tapi beradaptasi terus dengan kepentingan-kepentingan yang ada di dalamnya. Banyak oligarki manancapkan diri di neoliberalisme karena konsentrasi kekayaan menjadi lebih tajam, tetapi krisis neoliberalisme itu sendiri kemudian memberikan oligarki yang telah memanfaatkannya dalam mekanisme pasar untuk mempertahankan kedudukan. Pada tahun 2008-2009, partai jadi disfungsional. Ini menjadikan rentan terhadap krisis. Persoalan-persoalan ekonomi yang dialami rakyat diakibatkan oleh orang luar juga memberi dampak ideologis yang memunculkan gerakan-gerakan kritik. Oligarki bisa menggunakan retorika populis untuk melindungi diri sendiri, ternyata menciptakan amarah sosial. Sangat mudah kita tergelincir oleh propaganda oligarki, yang seolah mementingkan rakyat tapi enggak. 

Q10: Fahri: Apakah ekonomi politik kekuasaan berseberangan dengan free market? 

Vedi: Pasar bebas di Indonesia, tiap kali masuk jadi hal lain oleh pembuatnya. Misal regulasi perbankan, didukung oleh lembaga internasional. Yang terjadi kemudian konglomerat bikin bank-nya sendiri, kemudian ditambah kebijakan yang bisa mengakses dana internasional secara lebih mudah. Ini meningkatkan utang luar negeri swasta secara luas biasa. Teknokrat di Indonesia ini hanya berkuasa sekian tahun saja. Sesudah itu mereka dimutasikan untuk kepentingan oligarki. Perubahan geopolitik dan geoekonomi yang mengubah. 

Sabtu, 13 Juni 2026

Ruang Publik dan Aksi Massa

Ada satu pertanyaan yang mengusikku berkaitan dengan demo kemarin: Mengapa ruang publik sekarang semakin dijaga dari massa aksi? Pertanyaan ini tiba-tiba muncul saat aparat mengalihkan konsentrasi massa dari yang awalnya dari akan dipusatkan di Bundaran HI untuk diganti di Gedung DPR atau seputaran Patung Kuda Arjuna Wijaya dekat Monas. Aku mengetahui ini setelah membaca berita, dan ada orang-orang yang cukup kecele juga pas datang ke Bundaran HI di jam istirahat makan siang, dan melihat lokasi itu masih sepi. Mereka menyangka jam 10 sudah ada pergerakan. Bahkan driver ojol ada yang bilang jika katanya demo batal, karena lalu lintas di Bundaran HI masih lancar. Dalih aparat mengapa massa aksi dilarang ke Bundaran HI karena "menjaga ketertiban umum dan kelancaran kegiatan ekonomi ", dengan dialihkan ke tempat yang disebut sebelumnya, aspirasi jadi semakin didengar, begitu klaimnya. Namun, wait, pada Jumat pagi aku juga baca komentar netizen yang bilang Bundaran HI salah tempat. Berikut skrinsutnya. 

Padahal, jika kita membaca sejarah, misal ketika membaca tulisan Rita Padawangi, ruang publik strategis seperti Bundaran HI ini bisa menjadi "megafon", bagaimana informasi disebarkan, didistribusikan, dan bagaimana kota menjadi agen untuk menyuarakan gagasan. Tentu komentar yang menyerang pemilihan Bundaran HI bisa mudah dimentahkan. Ruang publik sestrategis Bundaran HI juga punya makna simbolik sebagai jalur efektif bagaimana pesan diterima publik, terutama bagi kalangan di luar elite, termasuk kaum papa dan mereka yang cenderung acuh sama politik kuasa. Ruang publik juga menyimpan memori kolektif yang tentu punya makna personalnya sendiri bagi setiap orang. Tentu, bagiku Bundaran HI adalah lalu-lintasku usai kerja untuk menuju tempat les belajar bahasa. Yang selalu macet di jam² pulang kerja. 

Pemindahan lokasi massa aksi ini punya dampak yang serius:

1. Strategi memecah belah massa: Ketika disepakati satu tempat, tapi di lapangan semacam dibajak lokasi dan waktunya, maka massa jelas akan terpencar-pencar dan tidak bersatu. Ini menjadikan substansi perjuangan jadi semakin dilemahkan. 

2. Pengontrolan massa di Bundaran HI lebih susah karena paling tidak ada tujuh simpang dari yang besar sampai yang jarang dilalui di titik itu. Bandingkan dengan simpang di patung kuda dengan persimpangan yang lebih sedikit dibandingkan HI. Sementara kita tahu efektivitas gedung DPR hari ini dengan elite-elitenya. 

3. Justru saking vitalnya Bundaran HI, tempat itu jadi tempat yang sangat politis. Tempat juga bisa menjadi agensi yang tak kalah penting untuk menyuarakan tuntutan. Karena di sana juga letak otoritasnya. 

Sebagai bagian dari sipil, aku juga ingin melihat Indonesia dengan kepemimpinan sekarang bisa melakukan refleksi. Aku mencoba membela apa yang menurutku perlu dibela, karena sekali lagi, hidup itu sendiri sudah sangat politis. 

Selasa, 09 Juni 2026

Refleksi Kelas Kritik Sastra dari Mbak Ayda

Saya mendapatkan berbagai inspirasi, seperti: (1) bisa membedakan bahwa sastra pinggiran itu konstruk dari apa yang ada di pusat, (2) sebagaimana refleksi Mbak Ayda, selera sastra yang dibentuk dalam lomba-lomba cenderung maskulin, (3) untuk melihat corak masyarakat bahkan bisa dilihat dari sastra populernya, bukan sastra kanonnya, (4) selera berkaitan dengan struktur yang membentuk seseorang, tidak ada yang perlu ditinggikan atau direndahkan, cukup dihormati, (5) pas Mbak Ayda mahasiswa, dia mendapatkan nilai yang biasa saja karena mengulas Kuntowijoyo. Sementara yang mengulas karya terkini dapat nilai baik. Pelajaran moralnya, ketika membahas karya kanon seperti Kuntowijoyo atau Pramoedya Ananta Toer semisal, kamu harus benar-benar paham dari yang lain, karena yang mengulas sudah sangat banyak. Tapi ketika mengulas karya baru, ada kemudahan relevansi dengan masa sekarang, dan cenderung belum banyak diulas. 

Kamis, 04 Juni 2026

Hantu, Klenik, dan Pengetahuan: Tinjauan Antropologis terhadap Dunia Gaib

Hantu, klenik, dan berbagai hal yang dianggap gaib sering kali ditempatkan di luar ruang diskusi akademik. Namun, mengapa kisah-kisah tentang mereka terus hidup, diwariskan, dan memengaruhi kehidupan sosial masyarakat hingga hari ini?

Bagaimana antropologi memandang hantu dan klenik? Apakah keduanya sekadar takhayul, atau justru merupakan bagian penting untuk memahami cara manusia memberi makna pada dunia di sekitarnya?

Mari bergabung dalam diskusi berjudul "Hantu, Klenik, dan Pengetahuan: Tinjauan Antropologis terhadap Dunia Gaib" bersama narasumber Geger Riyanto (Antropolog) dan dimoderatori oleh Isma Swastiningrum (Klenik Studies).

Diskusi ini digelar untuk membicarakan hantu dan klenik secara akademik, sekaligus melihat bagaimana ilmu sosial membaca pengalaman-pengalaman yang sering dianggap berada di luar nalar modern. Selain itu juga untuk merayakan satu tahun komunitas Klenik Studies dengan mottonya, "Membahas klenik dengan pendekatan yang tidak-tidak."

Sampai jumpa di ruang diskusi!

#KlenikStudies #Antropologi #KajianBudaya #Hantu #DiskusiAkademik

Rabu, 03 Juni 2026

Catatan Klenik Studies Vol. XI Edisi 14 Mei 2026: "Tarot dan Ramalan"

I. PEMBUKAAN

Klenik Studies Vol. XI edisi Kamis, 14 Mei 2026 mengangkat tema “Tarot dan Ramalan”. Diskusi ini dihadiri oleh Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurizky Adhi Hutama, Jevi Adhi Nugraha, Nurul Diva Kautsar, dan Isma Swastiningrum.

Pada pembukaan diskusi, Sulkhan menyampaikan bahwa Klenik Studies telah memasuki pertemuan ke-11 dan berlangsung secara konsisten. Ia menjelaskan bahwa tema tarot dan ramalan dipilih karena cukup banyak memantik perhatian. Pembahasan diawali dari tarot, yang dinilai sebagai salah satu jalur spiritual yang populer di kalangan anak muda, termasuk bagi mereka yang sedang menghadapi berbagai persoalan hidup. Selain tarot, diskusi juga menyinggung praktik ramalan lain seperti primbon dan zodiak. 

Tarot dalam banyak kasus berkembang sebagai bentuk bisnis hiburan yang menawarkan layanan konseling dan refleksi diri dengan pendekatan yang lebih atraktif. Menurutnya, di kalangan anak muda perkotaan, termasuk di Yogyakarta, tarot sering menjadi salah satu sarana untuk mencari makna, ketenangan, maupun pengalaman spiritual di luar institusi keagamaan formal. 

Sulkhan kemudian mempersilakan Nurizky sebagai praktisi untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai tarot.

II. TREN TAROT DAN PERKENALAN DENGANNYA

Pembahasan mengenai tren tarot diawali oleh Nurizky yang menceritakan pengalamannya mengenal dunia tarot sejak 2012 melalui sebuah komunitas yang awalnya berfokus pada pendekatan psikologi. Ketertarikannya terhadap tarot kemudian berkembang melalui interaksi dengan almarhum kakaknya (Bunda Ry) yang merupakan praktisi psikologi. Menurutnya, praktik membaca tanda-tanda kehidupan sebenarnya telah lama dikenal di berbagai kebudayaan, seperti zodiak, shio, maupun berbagai bentuk ilmu titen. Ia mencontohkan kemampuan nelayan membaca arah angin dan posisi bintang sebagai bentuk pengetahuan serupa yang berangkat dari pengamatan terhadap pola-pola tertentu.

Nurizky menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap tarot juga dipengaruhi oleh game Persona yang memperkenalkan konsep dalam tarot seperti mayor dan minor arcana. Rasa penasaran tersebut mendorongnya mempelajari tarot lebih serius sejak masa kuliah dan hingga kini masih terus belajar.

Ia menjelaskan bahwa salah satu daya tarik tarot terletak pada visual kartu-kartunya yang menarik dan mudah digunakan sebagai media refleksi. Misal kartu “Eight of Swords” yang menggambarkan seseorang dalam kondisi tertekan atau menghadapi banyak persoalan yang menguras pikiran. Dalam praktiknya, ia melihat sebagian orang datang untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Namun, ia juga menyoroti adanya praktik-praktik tertentu yang memanfaatkan sugesti negatif dan rasa takut agar seseorang menjadi bergantung pada pemberi ramalan.

Menanggapi hal tersebut, Sulkhan berpendapat bahwa praktik ramalan sering kali berkaitan dengan keinginan manusia untuk mengendalikan nasib dan mengantisipasi masa depan. Menurutnya, tidak sedikit ramalan yang menonjolkan unsur ketakutan sehingga membuat orang terdorong untuk kembali mencari jawaban atau kepastian. Ia membedakan praktik tersebut dengan tarot yang, dalam beberapa pendekatan, juga digunakan sebagai sarana mencari solusi atau refleksi diri.

Nurul kemudian menceritakan pengalamannya mengenal dunia ramalan sejak SMP ketika mulai aktif menggunakan internet. Pada masa itu, situs-situs seperti Primbon.com cukup populer di kalangan remaja dan sering diakses di warnet. Berbagai informasi mengenai karakter berdasarkan hari kelahiran, kecocokan pasangan, hingga kisah-kisah mistis menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari anak muda saat itu. Ia juga mengingat berbagai narasi yang berkembang di masyarakat, seperti pantangan tertentu yang diwariskan dari para sesepuh, serta bagaimana ramalan sering kali memengaruhi keyakinan dan harapan seseorang terhadap masa depan.

Sulkhan menambahkan bahwa pada masa remajanya terdapat berbagai saluran yang turut mempopulerkan praktik ramalan, mulai dari primbon, zodiak, acara televisi, hingga rubrik-rubrik ramalan di surat kabar. Menurutnya, zodiak menjadi lebih populer di kalangan anak muda dibandingkan primbon karena lebih banyak hadir dalam media populer. Nurul juga mengingat maraknya iklan layanan ramalan di televisi yang menawarkan konsultasi mengenai kehidupan, pekerjaan, maupun hubungan asmara, serta figur-figur publik yang membahas astrologi sebagai bagian dari hiburan.

III. ILMU RAMALAN SECARA PSIKOLOGI

Pembahasan mengenai ramalan dari perspektif psikologi disampaikan pula oleh Akbar yang menjelaskan adanya dua kecenderungan dalam memandang praktik ramal-meramal. Di satu sisi terdapat kelompok skeptis yang melihat ramalan sebagai hasil kecenderungan manusia mencari dan mencocokkan pola dari berbagai peristiwa yang telah terjadi. Di sisi lain, terdapat pendekatan psikologi analitik yang dipengaruhi pemikiran Carl Jung, terutama melalui konsep synchronicity atau sinkronisitas, yaitu gagasan bahwa dua peristiwa yang terjadi secara bersamaan dapat memiliki keterkaitan makna meskipun tidak memiliki hubungan sebab-akibat secara langsung. Menurutnya, konsep ini dapat digunakan untuk memahami bagaimana tarot bekerja sebagai media refleksi terhadap kondisi psikologis seseorang.

Akbar menjelaskan bahwa simbol-simbol dalam kartu tarot dapat memancing imajinasi dan menjadi pintu masuk ke alam bawah sadar. Dalam perspektif Jungian, alam bawah sadar tidak hanya berisi dorongan-dorongan personal, tetapi juga terhubung dengan simbol dan makna yang lebih luas. Karena itu, tarot dinilai kurang tepat digunakan untuk meramalkan masa depan secara pasti, tetapi lebih berguna untuk memahami situasi yang sedang dihadapi seseorang pada saat ini. Ia juga membandingkan tarot dengan I Ching dalam tradisi Tiongkok yang digunakan untuk membaca pola perubahan suatu keadaan. Menurutnya, tujuan utama metode-metode tersebut bukanlah memprediksi masa depan secara mutlak, melainkan membantu memahami posisi seseorang dalam fase kehidupan yang sedang dijalani.

Menanggapi penjelasan tersebut, Sulkhan mengaitkan konsep sinkronisitas dengan pengalaman sehari-hari ketika seseorang menemukan berbagai peristiwa yang terasa sejalan dengan kondisi batin. Misalnya, ketika sedang mengalami kesedihan lalu menemukan novel, lagu, atau simbol tertentu yang seolah menggambarkan pengalaman yang sama. Menurutnya, tarot dapat dipahami sebagai sebuah sistem simbol yang membantu seseorang mengenali pola-pola yang sebenarnya sudah ada dalam pikirannya sendiri. Simbol-simbol pada kartu kemudian memicu imajinasi dan refleksi yang lebih jauh mengenai pilihan maupun konsekuensi yang sedang dihadapi.

Jevi mengaku tidak memiliki banyak pengalaman dengan tarot, karena dari pengalaman di sekitarnya lebih banyak berkaitan dengan berbagai bentuk peramalan tradisional, seperti membaca cuaca atau tanda-tanda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Isma menyampaikan bahwa dirinya telah cukup lama mengenal tarot dan beberapa kali berkonsultasi dengan praktisi. Namun, ia mempertanyakan sejauh mana karakteristik yang dilekatkan pada suatu zodiak dapat digeneralisasi kepada semua orang, mengingat adanya perbedaan latar belakang sosial dan pengalaman hidup.

Nurizky menyatakan, tarot lebih tepat dipahami sebagai alat untuk membaca pola dan membantu seseorang memahami dirinya sendiri. Mengutip Tarot Bunda Ry, ia mengibaratkan tarot seperti GPS atau payung yang tidak menentukan masa depan, tetapi membantu seseorang mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan. Dalam praktiknya, tarot digunakan untuk menerjemahkan alam bawah sadar melalui simbol-simbol visual sehingga memudahkan seseorang memahami masalah yang sedang dihadapi. Ia juga membandingkan tarot dengan tes psikologi seperti Rorschach yang sama-sama mengandalkan proses pemberian makna terhadap simbol atau gambar tertentu.

Lebih lanjut, Nurizky menjelaskan bahwa setiap praktisi memiliki cara dan ritual masing-masing dalam menggunakan tarot. Namun, menurutnya, yang paling penting bukanlah kartu atau atribut yang digunakan, melainkan kepercayaan yang dibangun antara praktisi dan klien. Banyak orang datang bukan semata-mata untuk mengetahui masa depan, tetapi untuk memperoleh rasa aman, keyakinan, atau perspektif baru terhadap persoalan yang sedang dihadapi. Dalam konteks ini, tarot sering kali berfungsi sebagai sarana komunikasi dan refleksi yang membantu seseorang memahami dirinya sendiri.

Nurizky mengungkapkan bahwa dalam praktik profesional, peran seorang pembaca tarot sering kali lebih dekat dengan konsultan atau teman berbagi cerita dibandingkan peramal. Menurutnya, banyak klien datang karena membutuhkan ruang untuk didengarkan tanpa dihakimi. Kartu tarot hanya menjadi media pembuka percakapan, sedangkan inti interaksi terletak pada proses mendengarkan, memahami persoalan, dan memberikan umpan balik. Pengalaman tersebut membuatnya melihat tarot bukan hanya sebagai alat membaca simbol, tetapi juga sebagai sarana membangun hubungan, refleksi diri, dan pertukaran pengalaman antarmanusia.

Akbar kemudian menegaskan kembali konsep self-fulfilling prophecy dalam praktik ramalan. Menurutnya, sebuah ramalan dapat memengaruhi perilaku seseorang sehingga pada akhirnya turut membentuk masa depan yang diprediksi. Ia juga menyoroti bahwa makna yang muncul dari tarot pada dasarnya merupakan hasil interpretasi. Sebagai contoh, kartu “Death” tidak selalu dimaknai sebagai kematian secara harfiah, tetapi dapat diartikan sebagai berakhirnya suatu fase dan dimulainya fase baru. Karena itu, banyak ramalan disampaikan dalam bentuk yang relatif terbuka sehingga memberi ruang bagi individu untuk memberikan makna sesuai dengan pengalaman hidupnya masing-masing.

Menanggapi hal tersebut, Sulkhan menyoroti bahwa berbagai bentuk ramalan, termasuk zodiak dan primbon, sering kali berkaitan dengan konsep self-fulfilling prophecy yang disebut Akbar, yaitu ketika keyakinan terhadap suatu ramalan secara tidak langsung memengaruhi perilaku seseorang sehingga ramalan tersebut tampak menjadi kenyataan. Ia juga menilai bahwa faktor kelas sosial dapat memengaruhi bagaimana karakteristik yang dikaitkan dengan suatu zodiak diwujudkan dalam kehidupan seseorang. 

IV. SARANA COPING MECHANISM

Diskusi kemudian berlanjut pada fungsi ramalan sebagai sarana coping mechanism dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Nurul mengaku cukup dekat dengan berbagai bentuk ramalan dan masih menggunakan aplikasi seperti The Pattern. Menurutnya, ramalan sering kali terasa relevan dengan kondisi yang sedang dialami seseorang. Namun, yang lebih penting adalah perannya sebagai alat untuk memahami ketidakpastian dan mengelola perasaan tidak nyaman. Ketika menghadapi situasi yang rumit, ramalan dapat membantu menyederhanakan persoalan, memberikan arah, serta menghadirkan harapan yang membuat seseorang merasa lebih tenang dalam mengambil keputusan.

Nurul menjelaskan bahwa berbagai narasi dalam ramalan, seperti prediksi mengenai fase kehidupan tertentu, sering kali berfungsi sebagai sumber motivasi dan refleksi diri. Baginya, benar atau tidaknya ramalan bukanlah hal yang utama. Yang lebih penting adalah bagaimana ramalan membantu seseorang memvalidasi perasaan, memahami kondisi yang sedang dihadapi, dan memperoleh ketenangan dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti. Ia juga menyoroti peran media sosial yang, melalui algoritma, kerap menampilkan konten-konten serupa setelah seseorang berinteraksi dengan tema ramalan tertentu. Karena itu, ia melihat ramalan sebagai salah satu mekanisme psikologis dan sosial untuk menghadapi ketidakpastian hidup.

Menanggapi pandangan tersebut, Sulkhan menilai bahwa pengalaman yang disampaikan Nurul memperkuat argumentasi sebelumnya mengenai fungsi tarot sebagai alat untuk memaknai kondisi yang sedang dialami seseorang pada masa kini. Menurutnya, proses refleksi yang muncul melalui tarot atau ramalan dapat membantu seseorang memahami pola hidupnya dengan lebih baik, sehingga lebih bijak dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan.

Isma kemudian mengaitkan pembahasan ini dengan praktik kreatif dalam dunia sastra. Ia mencontohkan penggunaan tarot oleh seorang penulis sebagai alat untuk mengembangkan alur cerita maupun karakter. Akbar juga mencontohkan bagaimana I Ching juga dipakai penulis sebagai pemicu kemungkinan-kemungkinan baru yang membuat cerita berkembang secara lebih organik dan variatif. Dari sini muncul pertanyaan apakah proses yang sama juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang membaca ramalan lalu menyesuaikan cara pandang maupun tindakannya berdasarkan makna yang diperoleh.

Menurut Sulkhan, upaya memahami atau bahkan memprediksi masa depan berpotensi memengaruhi perilaku seseorang pada masa kini. Ketika seseorang menerima suatu prediksi, baik secara sadar maupun tidak, ia dapat mulai mengubah sikap, pilihan, dan tindakannya. Dengan demikian, ramalan tidak hanya berfungsi sebagai pembacaan terhadap kemungkinan yang akan terjadi, tetapi juga dapat menjadi faktor yang turut membentuk arah masa depan itu sendiri.

V. FENOMENA DI GUNUNGKIDUL DAN TAROT SEBAGAI ENTERTAIN

Pembahasan kemudian bergeser pada berbagai praktik ramalan dan pembacaan tanda yang berkembang di Gunungkidul. Jevi menjelaskan bahwa dirinya tidak terlalu terpapar tarot, tetapi lebih akrab dengan tradisi lokal seperti Cupu Panjala dan Pawukon. Dalam tradisi Cupu Panjala, ramalan dilakukan melalui pembacaan motif atau bercak pada kain mori yang dibuka setahun sekali. Berbagai bentuk yang muncul kemudian ditafsirkan oleh tokoh tertentu untuk menggambarkan kondisi sosial, lingkungan, maupun peristiwa yang diperkirakan akan terjadi. Menurutnya, praktik ini lebih berorientasi pada pembacaan keadaan zaman dan kehidupan masyarakat dibandingkan nasib individu.

Selain itu, Jevi menjelaskan bahwa Pawukon masih digunakan di sejumlah wilayah Gunungkidul, terutama untuk menentukan waktu yang dianggap tepat dalam berbagai aktivitas, seperti menanam, panen, maupun penyelenggaraan hajatan. Pengetahuan tersebut biasanya dimiliki oleh orang-orang tertentu dan diwariskan secara terbatas. Meskipun jumlah praktisinya semakin sedikit, masih terdapat upaya pewarisan kepada generasi muda melalui kelas-kelas informal yang dipandu para sesepuh. Di sisi lain, berbagai tradisi tersebut juga mulai menarik perhatian peneliti dan wisatawan karena dianggap sebagai bentuk pengetahuan lokal yang semakin langka.

Menanggapi hal tersebut, Sulkhan menilai Gunungkidul memiliki kekayaan tradisi yang menarik untuk dikaji, terutama berbagai teknologi budaya yang digunakan masyarakat untuk memahami alam dan membaca pola kehidupan. Menurutnya, tradisi-tradisi yang mulai terancam hilang justru memiliki nilai penting untuk didokumentasikan dan dipelajari lebih lanjut.

Sulkhan kemudian mengaitkan pembahasan ini dengan fungsi sosial ramalan dalam kehidupan masyarakat. Ia mencontohkan berbagai nasihat dalam tradisi pesantren yang disampaikan dalam bentuk konsekuensi atau prediksi, seperti peringatan bahwa seseorang akan dijauhi masyarakat jika tidak menghormati orang tua atau gurunya. Menurutnya, narasi-narasi semacam itu memiliki fungsi sosial untuk membentuk perilaku dan kepatuhan melalui gambaran mengenai akibat yang mungkin terjadi di masa depan.

Jevi kemudian mempertanyakan apakah seorang pembaca tarot mengalami perubahan identitas atau memasuki kondisi tertentu ketika melakukan pembacaan kartu, sebagaimana yang ia temui dalam beberapa praktik spiritual di Gunungkidul. Ia menceritakan pengalamannya menjumpai sejumlah tokoh spiritual yang tampak berubah sikap, bahasa, maupun perilakunya ketika memberikan nasihat atau ramalan kepada orang lain.

Menjawab pertanyaan tersebut, Nurizky menjelaskan bahwa dalam praktik tarot yang ia jalani, perubahan tersebut lebih merupakan bagian dari cara berkomunikasi dan membangun suasana daripada pengalaman mistis. Menurutnya, tarot pada dasarnya merupakan bentuk hiburan sekaligus media konseling yang menggunakan simbol, bahasa, dan penyampaian yang menarik agar klien merasa nyaman untuk bercerita. Dalam praktiknya, kemampuan membangun kepercayaan, memilih kata-kata, serta menciptakan suasana yang cair justru menjadi aspek yang paling penting. Karena itu, ia melihat tarot sebagai perpaduan antara komunikasi, refleksi diri, dan hiburan yang mudah diterima oleh masyarakat urban maupun generasi muda.

Pembahasan kembali mengarah pada praktik perdukunan yang masih berkembang di Gunungkidul. Jevi menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih mendatangi dukun ketika menghadapi persoalan hidup, mulai dari masalah ekonomi hingga persoalan pribadi. Dalam praktik tersebut biasanya terdapat berbagai syarat, media, dan ritual tertentu yang harus dipenuhi. Menurutnya, pola yang digunakan tidak jauh berbeda dengan praktik ramalan pada umumnya, yaitu memberikan tafsir, arahan, atau solusi atas persoalan yang sedang dihadapi seseorang.

Nurul kemudian menanyakan apakah praktik perdukunan masih banyak dijumpai pada masa sekarang. Menanggapi hal itu, Jevi menyatakan bahwa praktik tersebut masih bertahan karena sebagian masyarakat merasa lebih nyaman berkonsultasi kepada figur spiritual dibandingkan kepada tenaga profesional seperti psikolog. Ia menambahkan bahwa keberhasilan maupun kegagalan dari praktik-praktik tersebut tetap bergantung pada banyak faktor, meskipun kepercayaan masyarakat terhadapnya masih cukup kuat.

Sulkhan menilai bahwa berbagai cerita mengenai perdukunan, mitos, dan praktik spiritual lokal merupakan bagian menarik dari kehidupan sosial masyarakat yang layak diteliti maupun dijadikan bahan karya sastra. Nurul menambahkan bahwa praktik-praktik semacam itu tidak hanya ditemukan di tingkat masyarakat biasa, tetapi juga kerap dikaitkan dengan berbagai kalangan, termasuk tokoh-tokoh politik. Sulkhan kemudian menegaskan bahwa pada dasarnya berbagai bentuk ramalan dan ilmu titen berangkat dari upaya manusia membaca pola-pola yang dianggap memiliki makna dalam kehidupan.

Sulkhan kembali menyoroti fungsi tarot dan berbagai bentuk ramalan sebagai sarana pencarian makna. Menurutnya, berbagai ritual yang menyertai praktik tarot dapat dipahami sebagai cara para praktisi membangun makna dan pengalaman simbolik bagi diri mereka maupun kliennya. Ia melihat apa yang sering disebut sebagai “cocokologi” tidak semata-mata bertentangan dengan rasionalitas, melainkan merupakan bagian dari pengalaman batin manusia dalam mencari pemahaman terhadap kehidupan. Dalam pandangannya, banyak orang datang kepada tarot atau ramalan bukan sekadar untuk mengetahui masa depan, melainkan untuk menemukan makna atas pengalaman yang sedang mereka jalani. 

VI. POLA, WETON, DAN PRIMBON

Pembahasan mengenai weton dan primbon dijelaskan oleh Jevi yang menjelaskan bahwa sistem penanggalan Jawa masih dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk pada nama-nama hari pasaran seperti Pon, Kliwon, Legi, Wage, dan Pahing. Menurutnya, tradisi tersebut berangkat dari upaya masyarakat Jawa membaca pola-pola kehidupan berdasarkan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia meyakini bahwa sistem seperti weton lahir dari pengamatan yang panjang terhadap karakter maupun peristiwa yang berulang, meskipun sebagian besar pengetahuan tersebut kini lebih banyak diwariskan secara lisan dibandingkan melalui catatan tertulis.

Nurul mengaku tertarik untuk mencoba membaca weton karena tradisi tersebut tidak terlalu populer dalam lingkungan keluarganya yang berlatar Jawa dan Sunda. Ia menceritakan bahwa media sosial sering menampilkan berbagai kisah terkait weton, perjodohan, dan penentuan hari baik, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari pengamatannya, weton masih digunakan oleh sebagian masyarakat untuk menentukan waktu yang dianggap tepat dalam berbagai aktivitas, mulai dari pernikahan hingga membuka usaha.

Jevi kemudian menceritakan sejumlah tradisi yang masih dijalankan di lingkungannya terkait peringatan weton. Salah satunya adalah penyajian makanan tertentu pada hari kelahiran berdasarkan weton, lengkap dengan tata cara dan simbol-simbol yang memiliki makna tersendiri. Menurutnya, berbagai ritual tersebut tidak selalu dianggap wajib, tetapi tetap dijalankan sebagai bagian dari tradisi keluarga dan penghormatan terhadap warisan budaya. Ia juga menambahkan bahwa dalam beberapa praktik Jawa, arah mata angin memiliki peran penting dalam menentukan hari baik maupun membaca berbagai pertanda.

Pembahasan kemudian beralih pada perbedaan cara masyarakat memaknai ramalan. Jevi menyinggung pengalamannya melihat praktik-praktik ramalan di luar Indonesia yang cenderung lebih terbuka dan spesifik dalam menyampaikan prediksi, termasuk mengenai kehidupan dan kematian. Sebaliknya, menurutnya, tradisi Jawa umumnya lebih simbolis dan tidak disampaikan secara gamblang, sehingga memberi ruang yang lebih luas bagi proses penafsiran.

Isma kemudian menambahkan bahwa ramalan zodiak yang banyak beredar di media populer sering kali ditulis dengan cara mengarang sehingga mudah dianggap relevan oleh banyak orang. Ia mengingat pengalaman seorang redaktur media yang mengaku menyusun ramalan zodiak lebih sebagai konten hiburan daripada hasil pembacaan yang benar-benar mendalam.

Menanggapi terkait ramalan sebagai suatu bentuk entertain, Nurizky menjelaskan bahwa sebagian tayangan ramalan yang muncul di televisi pada masa lalu sering kali mengandung unsur rekayasa demi kepentingan hiburan dan peningkatan rating. Ia mencontohkan pengalaman kakaknya yang pernah mendapat tawaran untuk terlibat dalam program televisi bertema ramalan, namun diminta mengikuti skenario yang telah disiapkan sebelumnya. Menurutnya, aspek hiburan sering kali menjadi pertimbangan utama dalam penyajian ramalan di media massa.

Nurizky menjelaskan bahwa berbagai sistem seperti weton, neptu, astrologi, maupun metode serupa di kebudayaan lain pada dasarnya berangkat dari upaya mengumpulkan dan membaca pola-pola kehidupan manusia. Menurutnya, para pendahulu menyusun berbagai klasifikasi berdasarkan waktu kelahiran, karakter, dan pengalaman hidup untuk membantu memahami kecenderungan seseorang serta meminimalkan potensi konflik dalam hubungan sosial. Namun, ia menekankan bahwa kecocokan antara hasil pembacaan dengan realitas tidak selalu mutlak karena kepribadian manusia juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial, pengalaman hidup, dan proses pembelajaran.

Nurizky menekankan bahwa yang terpenting dari ramalan adalah kemampuan seseorang mengambil hal-hal yang dianggap bermanfaat dan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sulkhan menambahkan bahwa ramalan pada akhirnya dapat berfungsi sebagai sarana untuk membuat seseorang merasa lebih berdaya dalam menghadapi kehidupannya. Nurizky kemudian menegaskan bahwa setidaknya ramalan dapat memberikan keyakinan dan dorongan bagi seseorang untuk terus bergerak menjalani hidup.

VII. RAMALAN DAN CHATGPT

Pada bagian akhir diskusi, pembahasan berkembang ke fenomena penggunaan kecerdasan buatan, khususnya ChatGPT, sebagai sarana mencari jawaban dan memahami kehidupan. Jevi mengaku tidak terlalu tertarik pada ramalan maupun upaya mengetahui masa depan secara detail. Baginya, kejutan-kejutan dalam hidup justru menjadi bagian yang menarik untuk dijalani. Ia juga mengamati bahwa banyak anak muda saat ini cenderung bertanya kepada ChatGPT mengenai berbagai persoalan hidup, meskipun dirinya sendiri tidak memiliki kebiasaan tersebut.

Menanggapi hal itu, Sulkhan berpendapat bahwa sebagian orang memang lebih menikmati ketidakpastian dan kejutan-kejutan hidup, sementara sebagian lainnya merasa perlu memiliki gambaran mengenai masa depan sebagai pegangan dalam mengambil keputusan. Menurutnya, kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa manusia selalu berupaya mencari arah di tengah kompleksitas kehidupan.

Nurizky kemudian membandingkan penggunaan ChatGPT dengan praktik tarot. Menurutnya, ChatGPT lebih banyak menawarkan pendekatan yang logis dan analitis, sedangkan tarot lebih dekat dengan refleksi perasaan dan intuisi. Ia mengaku menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu melihat persoalan secara lebih objektif, terutama ketika sedang menghadapi penolakan atau bias dalam menilai dirinya sendiri. Dalam pandangannya, AI dapat membantu meredam kecenderungan menyangkal kenyataan dan memberikan sudut pandang yang lebih rasional. Sementara itu, tarot digunakan untuk membantu menyelaraskan pikiran dan perasaan melalui simbol-simbol yang memancing refleksi.

Jevi menilai bahwa hal yang belum sepenuhnya dapat diberikan oleh ChatGPT adalah aspek rasa dan intuisi yang sering muncul dalam interaksi antarmanusia. Menurutnya, jawaban yang diberikan AI tetap berangkat dari pola dan sistem yang telah dirancang sebelumnya. Sulkhan kemudian menambahkan bahwa pencarian rasa maupun makna juga merupakan bagian dari upaya manusia mencari kebenaran, sebagaimana pencarian melalui ramalan, refleksi diri, maupun berbagai bentuk pengetahuan lainnya.

Nurul menjelaskan bahwa ketertarikannya menggunakan ChatGPT berangkat dari pengalaman menghadapi ketidakpastian dalam hidup. Setelah mengalami berbagai kegagalan dan merasa tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai masa depan, ia mulai menggunakan ChatGPT sebagai sarana menyusun rencana dan mencari alternatif solusi. Baginya, teknologi tersebut membantu proses refleksi sekaligus memberikan struktur dalam menghadapi persoalan yang sebelumnya terasa membingungkan.

Menutup diskusi, Nurizky menekankan bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki pola hidup dan kebiasaan yang dapat diamati. Menurutnya, kemampuan mengenali pola tersebut membantu seseorang memahami dirinya sendiri maupun orang lain. Ia mengaku lebih nyaman menjalani hidup dengan pola yang relatif teratur karena keteraturan tersebut membantunya menjaga keseimbangan psikologis. Dari perspektif ini, baik ramalan, ilmu titen, maupun penggunaan ChatGPT dapat dipahami sebagai berbagai cara yang digunakan manusia untuk membaca pola.

VIII. PENUTUP

Beberapa kesimpulan diskusi Klenik Studies Vol. XI:

1. Ramalan, tarot, weton, primbon, maupun ilmu titen menunjukkan upaya manusia membaca pola dan mencari makna di tengah ketidakpastian hidup.

2. Dari perspektif psikologi, ramalan lebih berfungsi sebagai sarana refleksi diri, coping mechanism, dan pemberian makna atas pengalaman hidup daripada alat untuk memprediksi masa depan secara pasti.

3. Baik melalui ramalan tradisional maupun teknologi seperti ChatGPT, manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama, yaitu mencari arah, memahami diri sendiri, dan memperoleh keyakinan dalam mengambil keputusan.

Selasa, 02 Juni 2026

Sastra Indonesia dan Arenanya

Kelas kritik sastra DKJ sesi 8 kali ini bertema "Sastra Indonesia dan Arenanya". Narasumbernya adalah Asri Saraswati. Dilaksanakan via Zoom, Selasa, 2 Juni 2026, pukul 19.15-21.05 WIB. 

Asri menjelaskan, kita hari ini diskusi sastra, sastra hidup dan beredar. Membicarakan hal-hal di luar teks, hidup, beredar, diterjemahkan, dimaknai. Ada ruang untuk diskusi sastra juga. Di sesi ini banyak teman dari komunitas, penulis, penerjemah, dan praktisi sastra. Nanti saat diskusi sangat mengharapkan masukan. Pasti ada hal-hal tertentu untuk didiskusikan. 

Konsep arena sastra diambil dari tulisan Bourdieau. Konsep habitus dan arena budaya. Sumber bacaan bisa dibaca tulisan Doni Ahmadi ("Menunggu Negara Bekerja"), Naufil Istikhari Kr. ("Sisi Lain Penerbit Indie"), dan Hartiningtyas (Jurnal). Ketika membaca tulisan-tulisan orang lain, baca dengan pikiran terbuka. Perhatikan format, argumen, dan cara penulis bercerita dan meyakinkan pembaca. Kita tak perlu setuju dengan bacaan, tapi perlu balajar darinya. Manfaatkan pemikiran dan pendapat yang menurut kita berharga dan berguna. Kutip dengan tepat jika ingin merujuknya. 

Mengapa membahas sastra sebagai arena? Menurut Asri, ini merupakan dorongan post-struktural dengan pendekatan materialisme historis untuk memahami teks dan karya seni. Termasuk memahami masyarakat dan pasar yang mengatur karya. Memahami karya tak hanya hasil idealisme penulis, namun penyebaran dan apresiasinya dipengaruhi elemen eksternal. Teks dipengaruhi elemen-elemen lain di luar tulisan. 

Asri mempertanyakan, seperti apa skena sastra di Indonesia saat ini? Apa yang membuat sastra diminati saat ini? Beberapa jawaban dari peserta seperti menjadi penulis untuk ngejar uang itu gak ideal, meskipun perlu. Ada faktor ekonomi di sana. Juga ada faktor distribusi, ada karya tertentu ditansmisikan dengan baik, meskipun secara kualitas kurang. Skena sastra ini jadi sebuah tren, yang muda sekarang punya media sendiri. Penerbitan ini ada major publications, vanity publications, dan independent publications

Kembali ke Bourdieau, dia mempertanyakan: Apakah selera sifatnya muncul dari dalam? Apakah kita punya otonomi/kuasa atas selera kita? Menurut Bourdieau, selera adalah bentukan, bukan sesuatu yang datang dari dalam. Ia adalah instrumen social distinction, penanda kelompok. Sejumlah simbol dan makna dibuat agar tak semua kelompok bisa mengaksesnya. Di sana ada "kapital simbolik", yang menemukan nilai tak hanya pada nilai materiil benda, tapi nilai simbol yang ada di dalamnya. Di sini pentingnya membaca dari dekat. Pengetahuan tak hanya milik kelompok tertentu saja. 

Terkait otonomi di "arena" budaya, ada pertanyaan: Apakah seni otonom? Menurutnya ada otoritas luar yang berperan, misal negara dan gereja. Bourdieau membantu kita memahami ada yang disebut seni "tinggi" dan seni populer. Ada hierarki dalam selera. Ada pihak yang berperan dalam arena sastra. Menurut Bourdieau, karya yang dipengaruhi pasar berarti tidak otonom. Ia cenderung mengkritik karya yang dipenuhi pasar. Pemikiran ini dipengaruhi Engels. Ada pengaruh pasar dalam produksi budaya. 

Pertanyaannya kemudian, apakah Bourdieau cocok untuk konteks Indonesia? Semangat baca tinggi akses buku terbatas, kritik perlu menjangkau semua jenis bacaan demi produksi pengetahuan. Asri mendorong peserta untuk melampaui Bourdieau. Asri juga memberikan contoh kritik sastra yang memetakan arena sastra dalam tulisan Gisele Sapiro berjudul, "The Structure of the French Literay Field During the German Occupation (1940-1944)". Dia mendiskusikan mengenai hubungan antar aktor, dan kritikus bisa memetakan sendiri. 

Asri mencontohkan juga Penerbitan Partikular yang lahir tahun 2022. Ia berkembang menjadi toko buku dan ruang diskusi, menghidupkan kembali klub sastra. Mendahulukan diskusi dan berbagai pengetahuan dengan topik beragam. Partikular, buku yang dijual adalah pilihan penjual, di kurasi oleh penjual, dan bukan mengikuti selera pasar. Diskusi dengan Juli Sastrawan, faktor yang menyebabkan ramainya toko buku antara lain: populernya budaya analog saat ini, ada status sosial tertentu yang memungkinkan itu terjadi. Serta bagaimana diskusi sastra juga turut berperan dalam memperkuat ekosistem. 

Jumat, 29 Mei 2026

Tentang Musik Algoritma AI

 

Refleksi 29052026:

Hari ini aku makan bakso di dekat Stasiun Juanda, karena bakso Handayani di Gang Kingkit tutup, mungkin karena libur panjang Idul Adha. Aku pun memutar jalan menuju arah Juanda, melewati gang-gang kecil di Jakarta. Aku memperhatikan, bahkan karena sempitnya ruang, menjadi umum gang digunakan sebagai dapur. Kompor dan bahan makanan yang diletakkan di depan rumah jadi hal lazim.

Saat sampai di penjual bakso kaki lima, aku memesan semangkok bakso dan es teh tawar. Penjualnya seorang ibu berkacamata, yang dibantu anak perempuannya (mungkin usia 20-an), wajah mereka mirip. Aku makan seperti biasa, yang menarik, si anak perempuan ini nyanyi lagu yang lagi viral berulang-ulang: "MBG, Mas Bahlil Ganteng / Buah apa, yang paling manis? / Buahlil / Tambah ganteng aja..." 

Tanpa bermaksud menghafalnya, aku sampai hafal reff-nya saking si anak tadi mengulang-ulangnya terus. Panasaran, aku browsing asal-usul lagu itu, dan ternyata lagu itu dibuat AI. Aku jadi mikir: untuk golongan grassroots, lagu-lagu seperti ini populer juga ya. Ia jadi semacam "earworm" di wilayah abu-abu, yang sulit dibedakan apakah ini meme, propaganda, satire, ironi, hiper-absurd, atau ambiguitas sama sosok Bahlil. Politik udah ekspansi ke jalur-jalur seperti ini.

Untunglah, enggak tahu nyambung atau enggak dengan refleksiku, di semesta lain, ada pula orang-orang baik yang ngasi bacaan-bacaan waras (di tengah gempuran musik algoritma) macam ini. Buku itu judulnya, Music and Social Movements: Mobilizing Traditions in the Twienthieth Century karya Ron Eyerman dan Andrew Jamison. Link dowload bisa dunggah dari ini: https://share.google/FVbgsxQ7Uy0N1j3vO.