1/ Satu rasa penyesalanku sebelum Bapak meninggal adalah belum sempat bilang kalau aku mau S2 di Antropologi. Dulu saat S1, pas daftar SBMPTN, aku juga gak bilang Bapak. Sampai akhirnya pengumuman aku akan melakukan tes di jurusan Fisika baru bilang. Keputusan ini aku ambil karena sudah di taraf tidak mampu mewujudkan harapan Bapak agar aku bisa masuk sekolah kedinasan yang beliau bilang masa depan lebih jelas: kebutuhan sekolah dibayari, setelah lulus PNS. Selama rentang waktu 2 tahun setelah lulus SMA tahun 2011, aku mencoba daftar IPDN (3X), STAN (2X), dan STIS (1X), sampai habis prasyarat usiaku. Di tengah-tengah itu, selain sempat nganggur juga sempat kerja jadi pelayan toko di pasar induk Cepu.
2/ Namun cita-citaku buat kuliah tetap tinggi. Buku-buku seperti "Laskar Pelangi", "Sang Pemimpi", dan " Edensor" yang kubaca dulu membuatku jadi pengen sekolah tinggi juga. Bukan buku Pramoedya Ananta Toer, A.A. Navis, Marah Roesli atau berbagai buku berat kala itu yang menggerakkan masa kala itu. Sebagai anak kurang gaul dan pendiam di sebuah SMA level kecamatan, aku seperti mahasiswa di jejaring penulis pop culture pada umumnya, pembaca Andrea Hirata yang booming kala itu. Ada keinginan di hati kecilku ingin melanjutkan cita-cita Lintang Samudra Basara (aku fans Lintang) yang tertunda, yang pengen jadi matematikawan, karena itu, aku masuk sains. Karena buku-buku Andrea juga aku punya mimpi-mimpi yang gak tahu diri tentang pendidikan, pencapaian, dan karier.
3/ Siswa-siswa yang tumbuh di daerah, yang tanah kelahirannya kaya minyak, tapi masyarakatnya banyak yang miskin sepertiku memang perlu lebih aktif agar bisa maju. Termasuk dengan membaca buku-buku, apa pun bukunya, asal bisa memberikan inspirasi untuk memperbaiki hidup. Dulu, jika dibandingkan teman-teman sekelas, kelebihanku bukan karena dapat juara-juara, tapi karena sering ke perpustakaan. Aku gak begitu ambis di akademik, prestasiku tengah-tengah saja, misal dari 45 siswa, aku sering dapat rangking antara 21 sampai 25. IQ ku biasa-biasa aja. Motivasi lainnya, karena saat itu guru Matematika favoritku bernama Pak Dwi Setyanto bilang, "Ma, kuliah ya, meski cuma D1." Beliau udah kuanggap seperti Bapakku sendiri di sekolah. Aku akan sedih kalau kelas Pak Dwi kosong. Suatu hari, aku ingin buat tulisan khusus juga untuk beliau.
4/ Usai berbagai kegagalan sekolah kedinasan, aku inisiatif cari universitas yang kira-kira tidak memberatkan ekonomi Bapak, karena adikku tiga, dan aku anak perempuan pertama. Aku cari universitas kala itu dengan indikator satu saja: "murah". Dari berbagai universitas yang seleksinya dengan SBMPTN, entah kenapa saat itu aku nemu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tahun masukku 2013 dulu jadi tahun pertama percobaan UKT, pembayaran untuk jurusan Saintek 1 juta/semester, sementara yang rumpun agama/sosial hanya 600 ribu, sampai rektor Pak Musa Asy'arie kala itu bilang, UIN Jogja itu kampus paling murah "di dunia dan akhirat". Aku mengamininya. Entah sekarang, kalau memperhatikan berita-berita di LPM Arena (UKM yang membentukku dari maba sampai lulus), label "termurah di dunia dan akhirat" itu sudah tidak relevan lagi.
5/ Saat aku memberi tahu Bapak, aku daftar UIN tanpa konsultasi dulu ke beliau yang membiayai, Bapak marah. Aku masih ingat momen nangisnya kala itu pas diceramahi Bapak. Tapi Bapak luluh juga mengikuti keinginanku. Malah Bapak yang ngantar aku tes SBMPTN di SMA 6 Semarang, tanggal 19 Juni 2013, naik kereta. Karena gak ada saudara, saat itu nginep di masjid. Ternyata aku lolos di UIN, Bapak juga yang mengantarkanku naik sepeda motor tuanya dari Cepu ke UIN Jogja untuk daftar ulang. Usia Bapak saat itu 64 tahun, masih kuat angin mengendara dengan motor dengan jarak sekitar 200 km. Kami berangkat pagi dan sampai malam sekitar Isya, tanpa Google Map dan pengalaman sebelumnya, entah kenapa Bapak bisa tahu jalan. Pas lewat UIN, aku ngeh karena plang yang cukup besar. Melihat UIN pertama kali, jujur saat itu di atas ekspektasiku. Aku pikir UIN kecil seperti STAI Al Muhammad Cepu, tapi malam itu entah kenapa terlihat agung, besar, dan beraura bijaksana. Gedung pertama yang kulihat setelah gedung rektorat yang terletak di pinggir jalan adalah Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, lebih khusus lagi berhenti sejenak di tulisan jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (kelak, teman-temanku banyak di jurusan ini).
6/ Usai berhenti di UIN, Bapak mengajakku ke arah Malioboro. Sampai sekarang, aku masih takjub dengan kemampuan navigasi Bapak, kok bisa-bisanya dia seolah tahu jalan dan gak tersesat? Sesampainya di Malioboro dan mamarkirkan mobil di pinggiran jalan, malam itu untuk pertama kalinya aku merasakan gegap gempita Jogja. Malioboro begitu ramai dengan para wisatawan, orang-orang jualan, pengamen, dan permainan angklung yang khas. Saat itu, Bapak kupikir pusing akan tidur di mana. Kami tidak menemukan masjid semudah di Semarang, jika pun buka, masjid di Jogja sedikit yang buka 24 jam sangat jarang. Akhirnya, entah mendapat ide darimana, Bapak menyuruhku tidur di emperan depan pagar Museum Benteng Vredeburg sekitar Titik Nol Jogja, yang tak jauh dari kompleks istana di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Aku tidur, Bapak yang jaga sambil tidur dan wiridan (kebiasaannya). Aku tidur di antara hingar bingar suara Malioboro. Sampai esoknya bangun, mencari masjid yang buka untuk mandi, dan daftar ulang ke UIN. Usai mengurus administrasi, lalu kami meneruskan perjalanan pulang ke Cepu.
7/ Pas akan masuk kuliah pertama kali, Bapak juga yang mengantarkanku bolak-balik dari Cepu ke Jogja. Bapak juga yang mencarikan aku kos pertama di daerah Balai Yasa, bengkel kereta api yang depannya banyak pphon-pohon tua besar dan terkadang sering disebut angker. Di depan Balai Yasa adalah rumah-rumah zaman Belanda, tempat di mana aku ngekos pada seorang nenek sepuh dengan panggilan Eyang. Hampir semua yang ngekos di tempat Eyang adalah mahasiswa-mahasiswa STIE YKPN. Kos pilihan Bapak atas saran dari Bapak tukang becak nyaman, keluar pintu langsung udara, tanah, dan pohon. Hubungan Bapak dan Eyang juga sangat baik. Di semester awal-awal, aku mencoba banyak ekstrakurikuler kampus, dari persma Arena, Sanggar Nuun, PMII cabang Saintek sebentar, sampai KMPD, membuatku sering pulang malam. Terutama pas latihan pentas teater, dengan sepedaku, oh ya, Bapak membelikanku sepeda mini warna pink untuk transportasiku sehari-hari, aku sering lewat Balai Yasa sendirian yang dianggap angker dengan pohon-pohon jaman penjajahan sampai rumah-rumah gaeknya itu.
8/ Karena kos Eyang punya jam malam sampai pukul 22.00 WIB, sementara kegiatan-kegiatan di kampus memintaku fleksibel, akhirnya aku pindah kos di sekitar Kantor Kecamatan Gondokusuman. Di kos yang pemiliknya memelihara dua anjing besar itu, Bapak masih beberapa kali menengokku. Pesan yang sering aku dengar dari Bapak, dia akan mengusahakan apa pun untuk pendidikan anak, asalkan si anak mau sekolah. "Tak badhani. Isane mung nyangoni ilmu (Bapak biayai, bisanya hanya membekali ilmu)," katanya. Ya, meski saat itu aku offside kuliah sampai lulus di semester 9 dengan IPK yang biasa-biasa saja, karena aku lebih sibuk di Arena daripada Fisika, Bapak sempat menegur, meski aku juga memberikan alasan-alasan. Sampai tahun 2018, aku lulus, Bapak sudah tidak cawe-cawe lagi dengan pilihan pekerjaanku, meskipun keinginan dia yang utama tetap satu, jadi PNS seperti dirinya.
9/ Bapak sendiri lahir di Bojonegoro, Jawa Timur tahun 1949. Dia anak pertama dari sembilan bersaudara. Didikan keluarganya cukup keras, tapi dari didikan keras itu, rata-rata saudara Bapak bisa hidup layak. Pendidikan Bapak SMA, tapi beliau pernah bilang sempat merasakan pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Malang zaman itu, IPDN kalau sekarang, yang kampusnya di daerah. Tapi karena Bapak tergolong nakal di zaman mudanya, dia tidak lulus. Ya, Bapak juga mengalami banyak kenakalan di era remaja sampai menikah dua kali. Di pernikahan pertama, Bapak punya empat anak, jadi aku punya banyak saudara tiri juga. Setelah cerai dari istri pertama, Bapak menikah dengan ibuku, yang juga punya empat anak. Karena punya latar belakang semi-militer, Bapak juga mendidikku dan adik-adikku tak kalah keras juga. Bapak sendiri meski gagal di APDN, dengan ijazah SMA diterima jadi PNS bergolongan rendah-menengah sampai pensiunannya sebagai Satpol PP. Dengan "menjagakan" uang pensiun itulah, Bapak mengkuliahkanku, dan terus mendorongku dulu sekolah kedinasan dan jadi PNS. Bapak pengen ada anaknya yang sekolah di IPDN, bahkan nama adikku nomor tiga ada kata Praja-nya.
10/ Berkat doa Bapak juga barangkali, aku bisa bekerja di Jakarta seperti sekarang. Di lingkungan dan instansi yang sebenarnya juga tidak jauh-jauh dengan dunia Bapak, dan mimpi Bapak. Bapak mungkin bangga aku bisa kerja di lingkup Dagri dan Pemda, turun lapangan langsung sampai ke daerah-daerah terpencil di berbagai pulau di Indonesia. Sementara rekan kerjaku rata-rata adalah lulusan IPDN. Nasib berjalan dan melingkar dengan cara yang aneh bukan? Dan, cita-cita untuk sekolah tinggi itu masih kugenggam. Tuhan memberikanku kesempatan untuk melanjutkan kuliah lagi tahun ini. Aku diterima di S2 Antropologi Universitas Indonesia (UI). Setelah berbagai percobaan beasiswa, yang lagi-lagi menghadapi kegagalan, sampai akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan gaji bulanan sebagai bekal melanjutkan kuliah S2. Suatu hari, ada teman yang bertanya? "Kamu kuliah beasiswa, Is?" Aku jawab, "Enggak dong, ini itu dari Ideopraksis Foundation." Lalu dijawab temanku, "wkwk". Aku sendiri juga tertawa, hahaha. Hidup ini juga tidak mudah, sebelumnya, tabunganku selama di bekerja full hours pernah habis sampai minus karena kena tipu secara online orang yang mengaku-aku teman. Namun, alhamdulillah lagi, aku masih bisa seperti burung Phoenix, bangkit lagi apa pun yang terjadi. Sejak saat itu, aku sangat berhati-hati soal uang, punya tujuan finansial yang lebih jelas, salah satunya alokasi untuk pendidikan.
12/ Beberapa hari yang lalu, aku sempat berdiskusi dengan kawan, kakak angkatan lulusan UIN yang juga akan wisuda di Antrop UI sebentar lagi. Kata-katanya menurutku jadi renungan yang berharga buatku pribadi. Konteksnya, aku punya banyak sekali minat, gimana caranya agar aku bisa fokus ke salah satu bahasan? Kalau bahasa ilmiahnya bisa disebut, trayektori akademik.
Dia bilang, "Anak UIN kayak kita gak punya privilese untuk punya imajinasi trayektori, just follow the money." Aku bingung, memintanya menjelaskan lebih, katanya:
Jadi, menurutku anak2 uin kan yg penting asal kuliah (ini jamanku yg spp masih 600), yaa. Jadi terbiasa berpikir dan hidup scr generalis. Belajar de urban property. Mereka gak akan bisa hidup jika mjd spesialis. Perjalanan hidup mereka menuntut mjd generalis, harus bisa segala bidang, karena gak mungkin mjd spesialis, itu akan menambah pengeluaran. Jadi pas ditanya, "apa trajektorimu?". Biasanya bingung karena terbiasa hidup generalis. Trajektori menuntut timeline dan expertise. Atau setidaknya peminatan yg spesifik. (Putra, 2026)
13/ Dari situ rasanya kayak, deg, blind spot-ku terbuka. Ini alasan yang sangat jelas, mengapa mahasiswa yang hidup dari kelas menengah ke bawah dan kekurangan/pas-pasan secara ekonomi susah membayangkan dirinya sebagai seorang ahli. Karena mode hidup kami lebih banyak soal bertahan, mencari uang, dan aturan sederhananya adalah, kemana uang itu ada, kita mengikuti. Asalkan bisa hidup dan makan sehari-hari, "just follow the money." Tentu, bukan follow curiousity, nah, itu kenapa juga terhubung dengan kegelisahanku setelahnya, mengapa di dalam kultur akademik kampus, mahasiswa yang fokus pada penelitian teoritik itu jauh lebih sedikit daripada yang penelitian lapangan? Contohnya, di jurusan Fisika angkatanku, seingatku tidak ada satu pun yang fokus ke fisika teoritik, hampir semua arahnya ke penelitian terapan di bidang instrumentasi, material, dan fisika bumi. Bukannya antara yang teoritik dan lapangan tidak berhubungan, tapi aku penasaran mengapa penelitian yang satu lebih dominan dibanding yang lainnya.
14/ Lewat tulisan ini, aku sungguh berterima kasih pada Bapak yang sudah mbandhani aku sampai lulus dari UIN. Masa ketika aku menjalani jenjang S1 adalah titik balik banyak perubahan besar dalam hidup. Bukan karena aku dapat ijazah, tapi perubahan caraku berpikir, perubahan paradigmaku menjalani hidup, hingga dipertemukan dengan orang-orang yang akan mengubah hidupku di kemudian hari. Bagiku, kado terindah dari Bapak sejauh ini bukanlah materi, tapi pendidikan. Bapak juga bilang, misal aku mampu sekolah sampai di tingkat paling tinggi, dia akan mengusahakan. Bapak, kini Isma sudah bisa menjalani hidup mandiri, sebagaimana arti nama "Swa" yang Bapak berikan padaku. Kali ini, aku izin ke Bapak untuk melanjutkan sekolah lagi, Pak, aku mau jadi Antropolog di kemudian hari. Semoga Bapak ridha dengan pilihan Isma. Matur nuwun njih, Pak.


.png)
.png)

.png)
.png)