Senin, 04 Mei 2026

Tentang "Kober"

Sabtu lalu aku mendatangi acara Kober Memanggil. Kober di sini baru kuketahui adalah nama gang strategis di kawasan permukiman di Depok. Suatu hari, saat ngobrol dengan tetangga kosku, di dekat Museum Prasasti Jakarta, yang hanya berjarak tak lebih dari satu kilo meter dari kos, ada daerah bernama Kober pula. Daerah ini terkenal angker, dan secara harfiah katanya kober itu artinya kuburan. 

Hari ini, aku bertemu dengan kata ini lagi dalam konteks yang berbeda. Di sebuah acara yang isinya para veteran yang anggotanya berusia lebih dari 60an tahun, salah satunya berkata dalam sebuah sambutan. Ada empat karakteristik seorang pemimpin: pinter, pener, bener, dan kober. Pinter itu syarat biar jadi sumber inspirasi. Pener itu taat hukum. Bener itu bersikap jujur. Kober itu, aku tak menyangka diartikan veteran berumur 76 tahun ini dengan makna peduli, respect, dan respons. 

Veteran ini Jawa tulen, aku langsung ingat juga percakapan di kampung dulu, kata "kober" diartikan memiliki waktu untuk melakukan sesuatu. Kalau ada yang bilang, "wis lah, ora kober", mengindikasikan jika orang ini tidak sempat, atau juga tidak mau. Bagiku cukup menarik juga ketika "kober" dimaknai dengan suatu respons dan kepedulian. Untuk hal-hal yang penting dalam hidup kita, rasa-rasanya tiap hari adalah usaha untuk mengkober-koberkan sesuatu. Aku sepakat dengan veteran yang sebenarnya lebih suka ngarit dan berkebun di tegalan di masa tuanya ituitu bahwa makna "kober" itu perlu diuri-uri.

Kober dalam nama gang atau daerah di Depok, meskipun secara penulisan sama dengan kober yang dimaksud dalam pengertian si veteran, secara pengucapan berbeda di "e". Kalau secara lingustik namanya homograf, sama dengan kata "apel" (buah) yang diucapkan dengan e pepet /ə/. Lalu, "apel" (upacara) yang diucapkan dengan e taling /a/. Jawa lebih suka pakai pepet, sementara yang mode Depok, pakai mode taling. Pepet (ꦼ) dalam aksara Jawa sangat umum karena secara linguistik, tapi ini bahasan lain. Titik tekan tulisan ini adalah ingin menekankan tentang "kober" yang selaras dengan kepedulian.

Perpusnas Jakarta, 4 Mei 2026 

Minggu, 03 Mei 2026

Diskusi Buku "Oni Jouska" karya Asep Ardian

Diskusi buku "Oni Jouska" menghadirkan pembicara Evi Sri Rezeki dan penulisnya langsung Asep Ardian, dengan moderator Rafqi Sadikin. Diskusi membahas perspektif sastra, ekologi politik, hingga proses kreatif penulisan novel. Kegiatan berlangsung di The Hallway Space, Pasar Kosambi, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026.

Moderator Rafqi Sadikin melihat adanya kecenderungan alegoris dalam novel ini, mirip dengan Animal Farm. Ia menilai cerita tersebut dapat dibaca sebagai representasi masyarakat Indonesia, di mana kelompok kecil cenderung mengikuti yang lebih besar.

Pemaparan Evi Sri Rezeki

Evi membuka dengan menyampaikan bahwa Oni Jouska menarik setidaknya karena tiga hal utama.

Pertama, novel ini berbentuk fabel dengan tokoh utama ikan remora—pilihan yang tidak lazim dan memberi pengalaman membaca yang unik. Meski tipis, buku ini memberikan kesan yang menggetarkan sekaligus menyenangkan.

Novel ini juga menghadirkan kritik ekologi politik melalui sudut pandang non-manusia. Selama ini, isu kerusakan lingkungan cenderung dilihat dari perspektif manusia, sementara makhluk lain hanya menjadi latar. Dalam Oni Jouska, Asep menghadirkan “hidangan” tentang relasi ikan dan sampah laut—mengingatkan pembaca pada ironi bahwa manusia mengonsumsi ikan yang juga terpapar plastik, sering kali tanpa kesadaran.

Dalam kajian ekologi politik, relasi kuasa menjadi aspek penting, namun biasanya tetap berpusat pada manusia. Fabel dalam novel ini menjadi jembatan untuk menghadirkan perspektif alternatif: bagaimana jika dunia dilihat dari sudut pandang ikan?

Kedua, kesulitan dalam ekologi politik untuk menggambarkan “perasaan” makhluk non-manusia dijawab melalui pendekatan sastra. Fabel memungkinkan pembaca memahami emosi dan pengalaman ikan secara imajinatif.

Ketiga, novel ini bersifat reflektif. Jika fabel umumnya menyajikan pesan moral di akhir, Oni Jouska justru mengajak pembaca mempertanyakan hidup itu sendiri. Para tokohnya—ikan-ikan—bahkan tidak sepenuhnya tahu apa yang mereka cari dalam hidup, yang sekaligus merepresentasikan kondisi manusia.

Relasi kekuasaan juga tampak dalam interaksi antarklan dan bentuk simbiosis. Ikan remora sebagai makhluk kecil mampu bertahan dengan memanfaatkan kekuatan ikan besar—menjadi metafora kecerdikan dalam struktur sosial. Konflik diperkeruh oleh perilaku membuang sampah sembarangan.

Selain itu, novel ini kaya akan unsur mitos, kenabian, dan imajinasi. Misalnya, kisah ikan yang konon memakan nabi (mengacu pada cerita Nabi Yunus), serta mitos tentang dewa laut dan asal-usul hujan. Asep berhasil membangun mitologi baru dalam dunia ceritanya.

Evi juga menyoroti konsep “Jouska,” yang dalam psikologi merujuk pada dialog internal dengan diri sendiri. Jouska menjadi cara untuk memproses dan menjernihkan pikiran, serta menghadirkan pelajaran tentang empati dan simpati.

Ia membandingkan pengalaman membaca novel ini dengan nuansa serial SpongeBob SquarePants—tokoh Oni yang penuh pertanyaan seolah mengajak pembaca ikut “terjun” ke laut dan mengalami dialog batin tersebut.

Namun, Evi mencatat kelemahan pada penggambaran karakter yang cenderung hitam-putih.

Di sisi lain, novel ini juga terasa seperti membaca buku biologi karena dilengkapi ilustrasi dan deskripsi dunia laut. Pada bagian akhir, terdapat kemiripan dengan kisah Nabi Yunus, terutama pada motif “ditelan paus” dan refleksi spiritual yang menyertainya.

Secara keseluruhan, Evi melihat novel ini sebagai representasi perjalanan dari “nobody menjadi somebody,” yang memberi harapan sekaligus menunjukkan sisi marginal penulis.


Penjelasan Asep Ardian

Asep menjelaskan bahwa awalnya ia ingin menggunakan paus sebagai tokoh utama, tetapi setelah riset, ia menemukan ikan remora lebih relevan sebagai representasi diri.

Ia mengaitkan pilihan tersebut dengan pengalaman pribadi, termasuk fenomena “buntutisme” sejak masa sekolah—kecenderungan mengikuti kelompok tertentu demi terlihat kuat atau keren, yang justru ia anggap tidak menarik.

Menurutnya, novel ini juga menjadi pengingat bagi dirinya sendiri agar tidak terjebak dalam pola tersebut. Ia menekankan bahwa manusia memiliki pilihan dalam menentukan “simbiosis” atau relasi yang dijalani dalam hidup.

Dalam proses kreatif, Asep menyebut menulis bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga kebiasaan. Ia menulis di sela aktivitas sehari-hari, bahkan di tempat berjualan. Ia mengibaratkan menulis fiksi seperti memasak: menggunakan bahan yang ada—pengalaman, ingatan, dan imajinasi—untuk diolah menjadi cerita.

Ia juga menyoroti bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada aspek ekonomi, termasuk pedagang kecil dan nelayan. Dalam narasinya, “musuh” utama bukanlah sesama manusia secara horizontal, melainkan juga persoalan struktural (vertikal), seperti kebijakan.

Asep mengakui bahwa penulisan novel ini berangkat dari fase hidup yang suram. Interaksinya dengan lingkungan sekitar, termasuk laut dan isu sampah, membentuk gagasan cerita.

Ia juga menegaskan bahwa buku ini ditujukan untuk semua umur, dengan harapan pesannya dapat tersampaikan luas. Baginya, yang utama bukanlah figur penulis, melainkan gagasan dalam karya. “Pengkarya adalah wadah, karya adalah isi.”



Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan (Rayan):
Menyoroti kontradiksi antara kesadaran akan sampah dan praktik penggunaan plastik, termasuk dalam kehidupan sehari-hari seperti pedagang.

Jawaban Asep:
Ia menyatakan bahwa pengalaman hidup dan lingkungan membentuk kesadaran seseorang. Ia sendiri merasakan perubahan perspektif setelah sering melihat laut dan fenomena sampah, bahkan dalam hal kecil seperti penggunaan sabun. Ia menyebut perjuangannya masih terbatas, berbeda dengan gerakan langsung seperti Pandawara Group.

Tanggapan Evi:
Setiap orang memiliki peran dan cara masing-masing dalam berkontribusi. Sastra, termasuk "Oni Jouska", dapat menjadi medium untuk mengubah cara pandang masyarakat.

Penutup

Evi menutup dengan menegaskan bahwa setiap penulis memiliki proses yang berbeda—ada yang memulai dari karya, ada pula yang dari komunitas. Diskusi ini menunjukkan bahwa "Oni Jouska" bukan hanya karya sastra, tetapi juga ruang refleksi atas relasi manusia, lingkungan, dan diri sendiri.

Sabtu, 02 Mei 2026

Diskusi “Mitos dan Mimpi” – Kober Memanggil

Diskusi “Mitos dan Mimpi” telah terlaksana di Gramedia Margonda, Depok, pada Sabtu, 2 Mei 2026. Diskusi menghadirkan dua antropolog, Hestu Prahara dan Geger Riyanto, dengan moderator dari pihak Kober Memanggil. Tema utama yang dibahas adalah posisi mimpi dan mitos sebagai bentuk pengetahuan dalam kehidupan manusia.

Pemaparan Hestu Prahara

Hestu memulai dengan menegaskan bahwa mimpi bukan sekadar “bunga tidur,” melainkan dapat dipahami sebagai teknologi untuk menavigasi hidup dan waktu. Mimpi tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial. Dalam banyak masyarakat adat, mimpi digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan—misalnya untuk menentukan masa tanam, pembukaan ladang, hingga relasi manusia dengan tanah dan lingkungan.

Dalam risetnya tentang kematian dan kesejahteraan, Hestu melihat bagaimana pengalaman manusia—termasuk mimpi—dapat menjadi sumber pengetahuan alternatif. Ia menekankan bahwa mimpi bisa menjadi bagian dari sistem pengetahuan yang sah, bukan sekadar fenomena psikologis.

Dalam praktiknya: Mimpi sering kali tidak diceritakan sembarangan. Ada otoritas sosial tertentu (misalnya ketua adat) yang menafsirkan mimpi. Mimpi dapat dinegosiasikan dan dimaknai secara kolektif.

Dengan demikian, mimpi bersifat cultural universal, tetapi cara memaknainya sangat bergantung pada konteks kosmologi masing-masing masyarakat. Selain itu, mimpi juga dapat dipahami sebagai respons terhadap trauma, sekaligus alat untuk membaca kemungkinan masa depan.

Hestu menambahkan bahwa pengalaman etnografi sering kali bersifat personal dan penuh kejadian “uncanny” (ganjil namun bermakna). Dalam praktiknya, batas antara hidup dan penelitian menjadi kabur. Pengetahuan tidak hanya diperoleh dari teori, tetapi juga dari pengalaman langsung dan perjumpaan tak terduga (serendipity). 

Pemaparan Geger Riyanto


Geger membahas mitos dengan pendekatan yang tidak hitam-putih. Menurutnya, mitos tidak bisa dilihat sekadar sebagai benar atau tidak benar, tetapi berada dalam “ruang antara”—di mana kepercayaan dan ketidakpercayaan bisa hadir bersamaan.

Ia mengibaratkan pengetahuan manusia seperti memiliki “kamar-kamar”, seperti ada kamar mitos, kamar mimpi, kamar empiris, dll. Semua kamar tersebut sama-sama valid dalam membentuk cara manusia memahami dunia.

Geger juga bercerita tentang penelitian disertasinya yang mengambil studi kasus: Mitos Siluman Ular di Maluku Dalam penelitian disertasinya (2018–2022) di Maluku, Geger menemukan mitos tentang siluman ular sebagai bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat, khususnya terkait komunitas migran Buton.

Tokoh seperti La Ode Una (yang digambarkan setengah manusia dan setengah ular) di Sulawesi Tenggara dipahami sebagai sosok “siluman,” tetapi di Maluku diposisikan sebagai nenek moyang. Mitos ini berfungsi sebagai: alat legitimasi identitas, dasar pengakuan sosial, bahkan berkaitan dengan klaim atas tanah. Dalam konteks Indonesia, di mana legitimasi kepemilikan sering terkait dengan “siapa yang lebih dahulu,” mitos menjadi instrumen penting untuk mendapatkan pengakuan.

Geger menekankan bahwa kekuatan mitos justru terletak pada sifatnya yang kontra-intuitif (tidak masuk akal). Hal-hal yang absurd cenderung lebih mudah diingat, menyebar, dan “menjajah” pikiran manusia. Ia juga mengaitkan motif ular dengan berbagai budaya, termasuk figur seperti Nyi Blorong dan bahkan karakter Nagini dalam semesta Harry Potter, yang menunjukkan pola serupa di berbagai wilayah.

Baik Hestu maupun Geger sepakat bahwa manusia tidak selalu berada pada posisi percaya atau tidak percaya secara mutlak. Ada kondisi “berayun”, di mana seseorang bisa sekaligus ragu dan percaya dalam waktu yang sama. Contoh yang diangkat: pengalaman melihat hal gaib, fenomena “ketindihan” saat tidur, interpretasi bentuk-bentuk visual yang ambigu.

Dalam situasi lapangan, seorang antropolog tidak bisa langsung menolak atau menerima, tetapi perlu memahami bagaimana pengalaman tersebut bermakna bagi pelakunya. 

Sesi Tanya Jawab (Ringkasan) 

1. Fungsi mitos dalam masyarakat: Pertanyaan menyoroti apakah mitos perlu dinilai benar atau salah, atau cukup dilihat dari fungsinya.

Geger menjawab bahwa mitos penting sebagai cara membaca kondisi manusia dan membantu pengambilan keputusan sosial. Ia memberi contoh petani tembakau di Lombok yang dihadapkan pada pilihan antara data ilmiah dan tafsir tradisional (dukun/peramal hujan).

2. Relasi antara tradisi dan modernitas: Pertanyaan lain menyoroti kecenderungan “mengilmiahkan” tradisi secara reduktif.

Diskusi menekankan bahwa sistem pengetahuan lokal seharusnya diposisikan setara, bukan lebih rendah dari ilmu modern.

3. Mitos dan perempuan: Mitos sering kali berkaitan dengan kontrol terhadap perempuan (misalnya dalam sejarah atau narasi tertentu).

Geger menegaskan bahwa mitos juga merefleksikan struktur kekuasaan, termasuk patriarki. Antropologi, pada akhirnya, harus peka terhadap ketimpangan dan cenderung berpihak pada kelompok yang rentan.

Diskusi juga menyinggung praktik lokal seperti: konsep sasi dalam menjaga laut, mitologi penjaga kebun, serta pengalaman keseharian yang membentuk etika dan batas sosial. Hal ini menunjukkan bahwa mitos dan mimpi memiliki dimensi praktis dalam menjaga tatanan sosial dan ekologis.

Penutup dan Refleksi

Bareng Mas Geger dan Neneng

Moderator menutup dengan menekankan bahwa tidak ada satu “pisau bedah” tunggal untuk memahami realitas. Pengetahuan bersifat jamak, dan forum lintas disiplin seperti ini menjadi ruang penting untuk memperluas cara pandang.

Salah satu refleksi menarik dari Geger sebagai “life hack”: Tidak apa-apa mengambil keputusan di mendekati titik akhir, karena semakin dekat dengan momen tersebut, variabel yang terlihat justru semakin jelas.

Sementara itu, Hestu menekankan bahwa menjadi antropolog berarti membuka diri pada pengalaman—karena belajar tidak selalu terpisah dari kehidupan sehari-hari.

Kamis, 23 April 2026

Catatan Buku "Balqis Mentality" karya Balqis Humaira

"If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles." Sun Tzu

 Pemikiran ini selalu terngiang-ngiang di diriku, dan pemaknaannya secara lebih mendalam telah aku dapatkan ketika membaca buku Balqis Mentality karya Balqis Humaira ini. Sampai kapan pun, jika kita tahu diri, tapi tidak tahu musuh, maka pertempuran apa pun punya peluang besar kita akan kalah. Dan, sebagian orang tidak tahu apa, siapa, musuh yang dimaksud itu. 

Kebanyakan orang ketika ditanyai musuhnya selalu dalam keadaan mengambang. Semisal, kamu tanya perempuan random yang berbicara soal feminisme di sebuah demo, jawaban itu tak kalah ngambangnya juga. Dia bisa jawab, musuhnya patriarki, laki-laki, pasar, atau perlu dirinya sendiri. Jika perempuan tidak tahu jelas siapa musuhnya, jatuhnya hanya pelarian, mereka marah tapi tersesat dan tak punya tujuan.

Balqis menjelaskan, musuh yang lebih jelas itu misalnya: "musuhnya adalah dirinya sendiri yang masih haus diperhatiin laki-laki." Secara lengkap: "Dia pikir musuhnya patriarki, padahal musuhnya adalah trauma yang gak pernah dia obati. Dia pikir musuhnya standar kecantikan, padahal musuhnya adalah ketakutan terlihat biasa saja. Perempuan sering mengalihkan perang ke luar, padahal perang terbesar mereka seharusnya ada di dalam." (36) See, ini internal dan subtil banget ladies, dan kita perlu mengakui itu.

Pengetahuan ini perlu dikenali betul agar tidak berakhir pada pertunjukkan luka yang gak selesai. Niatnya mau protes tapi malah nunjukin trauma sendiri. Biar lukanya gak mencari panggung. Jelas banget Balqis bilang, "Musuh perempuan yang sebenarnya cuma ada dua: 1. Ketidaksadaran diri; 2. kebodohan yang dia pelihara tanpa sengaja." Karena itu, jika hendak melawan, melawanlah dengan akal, punya arah, dan sadar. Harus tahu dulu musuhnya. Termasuk jika musuh itu keputusan-keputusan hidup yang dijalani tiap hari. Berhenti melawan pada yang tidak salah.

Ketika kesulitan menentukan musuh, perempuan juga kesulitan menentukan tanggung jawab. Padahal, tangung jawab ini berkaitan erat dengan kebebasan. Menurutku, tanpa tanggung jawab, tidak ada kebebasan. Maka benar ada salah satu tokoh yang aku lupa namanya bilang, patung liberti yang ada di USA itu perlu diimbangi dengan patung tanggung jawab di sisi lain agar seimbang. 

Aku membeli buku ini dengan tujuan yang sangat spesifik: Aku ingin tahu bagaimana mentalitas Balqis bekerja. Sebab inilah yang dia janjikan di dalam judul. Secara umum buku ini terdiri dari sembilan bab, yang terdiri dari: (1) Dunia yang Menjual Kekuranganmu, (2) Perempuan, Uang, dan Harga untuk Bahagia, (3) Harga Diri yang Dijual Kiloan, (4) Perempuan dan Luka yang Diturunkan, (5) Cinta yang Bikin Perempuan Bodoh, (6) Izin untuk Bahagia, (7) Tubuh, Pikiran, dan Diri yang Asli, (8) Revolusi Sunyi: Perempuan yang Selesai dengan Dirinya, (9) Epilog - Cukup adalah Perlawanan.

Kesanku setelah membaca, aku merasa Balqis, untuk rangkuman buku di awal-awal, lama-lama aku merasa tulisannya jadi mirip ChatGPT, tapi setelah masuk ke bab lain, jadi kembali ke gaya Balqis lagi. Dalam renungan di beberapa babnya, seperti di bab yang menjadikan kekurangan sebagai komoditas, aku mikir juga: Qis, gw jadi mikir ini terjadi juga di dunia sastra. Seolah gw jadi penulis sastra harus serba sempurna dulu. Bener kata lu Qis, "Kekurangan adalah sumber daya yang gak pernah habis." Lalu, "mengemas penderitaan jadi hiburan." Bagian ini kena banget sih.

Setelah baca buku ini aku juga mikir, sebegitu pentingnya uang buat perempuan ya Qis. Aku merasa tergugah dengan cerita perbandingan, perempuan yang diselingkuhi partnernya. Yang punya uang dia bisa healing di Bali, tapi yang gak punya uang cuma nyesek di kamar sambil kelaparan. Itu nyesek yang lebih nyesek sih. 

Overall, aku suka buku ini. Thanks Balqis. 

Judul: Balqis Mentality | Penulis: Balqis Humaira | Cetakan: Pertama, 2026 | Harga: Rp10.000 | Format: PDF | Link beli: https://lynk.id/balqisable/w45q1ym7ko4m 

KUTIPAN:

Kesadaran — bahwa keinginanmu buat “jadi lebih baik” sering kali bukan kebutuhan, tapi hasil didikan industri. (2)

Perempuan baru bisa memilih kalau dia punya daya beli... realitas pahit — perempuan kuat bukan karena kata-kata manis, tapi karena saldo yang cukup buat bilang tidak. (2)

Refleksi moral — bukan soal benar atau salah, tapi soal sadar siapa yang sebenernya ngatur pilihanmu. (2)

Penyembuhan dengan logika — bukan dengan air mata. Kesadaran bahwa ilmu dan berpikir kritis adalah obat paling spiritual. (3)

Jadi perempuan yang damai tanpa minta restu dunia. (3)

Dunia gak bisa ngontrol perempuan yang udah selesai dengan dirinya sendiri. (4)

Damai adalah bentuk tertinggi pemberontakan. (4)

Perempuan gak pernah dilatih buat cukup. Mereka dilatih buat memperbaiki diri, tanpa jeda, tanpa ujung. (4)

Pemulihan mental bisa diganti dengan kandungan niacinamide. Bahwa bahagia itu satu paket dengan bonus pouch edisi terbatas. (5)

Ke labirin yang sama: rasa gak cukup. (5)

Lebih dari 70 persen perempuan usia 18-30 di kota besar Indonesia merasa penampilannya “tidak ideal.” Itu bukan angka sepele. Itu artinya tujuh dari sepuluh perempuan bangun pagi dengan pikiran bahwa mereka belum pantas. Dan tiap kali mereka ngerasa begitu, dunia untung. (5)

Ada bagian dari diri perempuan yang ikut memelihara penyakit yang sama, karena tanpa sadar, mereka udah ketagihan perhatian. (5)

Algoritma kasih validasi dalam dosis kecil, cukup buat bikin nagih, tapi gak cukup buat bikin puas. Setiap notifikasi jadi candu. (6)

Jadi, ini bukan perang antara gender. Ini perang antara kesadaran melawan industri yang hidup dari kebodohan manusia. Dan selama manusia masih percaya bahwa nilai diri bisa ditingkatkan lewat belanja, perang ini gak akan berhenti. (6)

Bahagia gak dijual di toko mana pun dan perempuan udah keburu dilatih untuk cari kebahagiaan lewat barang. (6)

Semua orang pengen menonjol. Semua pengen jadi “yang paling.” Padahal jadi cukup itu juga bentuk kemenangan, cuma gak dijual di etalase mana pun. (7)

Ritual keagamaan baru: ibadah di depan kamera, kurban lewat tubuh sendiri. Kalau zaman dulu orang nyembah dewa, sekarang orang nyembah citra. (7)

Perempuan yang ngerasa cukup gak akan belanja banyak. (7)

Kalau semua perempuan tiba-tiba sadar bahwa mereka udah cukup, miliaran dolar di iklan kecantikan bakal hancur dalam semalam. (7) (Isma: Aku tiba-tiba kepikiran buat cerpen dari kalimat lu ini Qis)

Kebodohan yang dibungkus kebiasaan. (7)

Padahal kulit mereka udah sehat dari sononya, atau dari perawatan yang mahal, laser jutaan, klinik premium, nutrisi yang gak semua orang bisa akses, tapi ketika promosi, mereka bilang itu semua karena produk yang mereka pegang. Dan parahnya, perempuan percaya. (8) (Isma: Anjirlah)

Gue ngajak lo semua khususnya perempuan buat gak gampang disetir atau percaya, lo harus curiga biar gak rugi, lo boleh beli skincare yang dia jual, tapi minimal lo baca dan tau kalo itu emang kebutuhan buat wajah lo. (8)

Mereka tahu perempuan tidak membeli produk, mereka membeli harapan. Harapan untuk terlihat lebih cerah, lebih mulus, lebih glowing, lebih cantik, lebih ideal, lebih diterima. Dan harapan itu dijual lewat wajah influencer. (8)

Perempuan baik harus rapi. Perempuan sukses harus elegan. Perempuan berani harus tetap manis. Gak ada tempat buat perempuan yang biasa aja. (8)

Kesadaran tanpa tindakan cuma jadi bahan konten motivasi. Lo harus beneran ubah cara berpikir, bahkan di hal kecil. Waktu lo beli produk baru, tanya: gue beli karena gue butuh, atau karena gue pengen ngerasa lebih berharga? Waktu lo upload foto, tanya: gue pengen berbagi, atau pengen diakui? Waktu lo bandingin diri sama orang lain, tanya: gue pengen jadi dia, atau gue cuma lupa caranya nerima diri sendiri? (9)

Tapi kalau dijawab jujur, pelan-pelan lo bakal sadar: banyak yang lo kejar padahal sebenarnya gak perlu. (9)

Hargai tenangnya, pikirannya, sikapnya, hal-hal yang gak bisa difilter. Karena kalau lo bisa liat perempuan tanpa nunggu dia bersinar, lo udah bantu satu langkah kecil buat ngeruntuhin sistem yang nyiksa dia. (9)

Dia juga pengen memilih bahagia, tapi besok anaknya harus makan, dan di dompet cuma ada dua lembar lima puluh ribuan. (10) (Isma: Ngena banget kisah dua perempuan ini Qis)

Uang ngasih satu hal yang gak bisa dimiliki perempuan yg gak punya uang yaitu pilihan. (10)

Uang menentukan siapa yang bisa marah, siapa yang harus diam. Uang menentukan siapa yang bisa ninggalin, siapa yang harus bertahan. (10)

Uang adalah satu-satunya alat buat nolak. Lo gak bisa ngomong soal martabat kalau lo masih harus minta uang buat beli sabun. (10)

Ada sabar yang sebenarnya bentuk lain dari kemiskinan. (11) (Isma: Iya lagi Qis)

Uang bukan cuma bikin hidup nyaman, tapi bikin kepala jernih. (11) 

Kalau hidup perempuan itu ibarat permainan, maka uang adalah tombol “save progress.” Lo bisa jatuh, bisa disakiti, tapi selama lo punya uang, lo bisa mulai ulang. (12)

Banyak perempuan gak sadar bahwa ketenangan itu bisa dicicil. Bukan harus langsung kaya, tapi mulai dari keputusan kecil: punya uang atas nama sendiri. (13)

Padahal aman itu bukan soal punya orang, tapi punya pegangan... Kebebasan bukan urusan karakter, tapi akses... Kemandirian bukan cita-cita muluk. Itu survival kit.  (13)

Kerja itu bentuk doa yang paling konkret: doa buat punya pilihan. Karena di dunia yang sekejam ini, pilihan adalah bentuk paling nyata dari martabat. (13) (Isma: BENER BANGET!)

Punya arah itu lebih penting dari punya hasil. (13)

Cinta gak bisa jadi rencana keuangan. Dan kebahagiaan gak bisa diserahkan ke tangan orang lain, bahkan yang lo cintai... hubungan bertahan bukan cuma cinta, tapi keseimbangan kuasa. (14)

Karena yang bikin perempuan kuat bukan sabar, tapi sadar. Dan sadar itu butuh biaya. (14)

Kenapa banyak pernikahan berantakan? Bukan cuma karena dua orang gak cocok, tapi karena salah satunya masih percaya konsep “diselamatkan.” (15)

Kerja buat diri sendiri jauh lebih ringan daripada kerja buat hubungan yang nyiksa. (15)

Kalau lo miskin, kerja.
Kalau lo kosong, isi diri lo. (15)

Kesadaran bahwa hidup lo bukan proyek sosial yang harus diselamatkan orang lain... Kesadaran bahwa bahagia itu bukan hasil pembuktian, tapi hasil pemahaman bahwa lo berharga bahkan tanpa siapa pun di sebelah lo. (16)

Perempuan dulu dijual tanpa pilihan. Sekarang, banyak yang menjual dirinya dengan sadar. Bedanya tipis: dulu dipaksa, sekarang dipelajari. (17)

Pasar paling besar di dunia modern ini bukan saham, bukan kripto, tapi tubuh perempuan... wajah cantik bisa bikin lo viral dalam semalam. Dunia ngasih tepuk tangan lebih keras buat yang berani buka baju, daripada buat yang berani buka pikiran. (18) (Isma: Balqis, aku marah!)

Lo pernah liat gak, di kolom komentar sosmed perempuan yang berani tampil terbuka? Setengah isi komentarnya cowok-cowok haus validasi, sisanya perempuan-perempuan yang sibuk bilang, “ih murahan,” “malu dong jadi cewek,” “aku sih gak gitu.” Padahal kalau dikulik lebih dalam, yang ngetik kata “murahan” itu juga pernah berdiri di depan cermin, membenci tubuhnya sendiri karena gak sekencang tubuh yang dia hina tadi. (18-19)

Itu kenapa gue bilang, harga diri sekarang dijual kiloan. Bukan cuma di jalan, tapi di semua platform yang punya tombol upload. (19)

Karena perhatian bisa bikin orang waras jadi pengemis. Sekali lo ngerasa dicintai karena penampilan, lo bakal terus ngulangin trik yang sama, sampai lo gak tahu lagi di mana batas antara “gue” dan “konten gue.” (19)

Semua yang dijual di dunia ini, cepat atau lambat, akan jadi murah. (19)

Sadar bahwa tubuh lo bukan bukti eksistensi lo. Sadar bahwa lo bisa cantik tanpa harus disetujui publik. Sadar bahwa lo punya hak untuk gak dijadikan komoditas, bahkan oleh diri lo sendiri. (22)

Tapi lo harus bedain antara menggunakan platform dan dijadikan platform. Kalau lo yang ngatur isi konten lo, lo masih pemiliknya. Tapi kalau isi konten lo udah ngatur siapa lo harus jadi, lo udah jadi produknya. (22)

“Gue cukup, bahkan kalau gak ada yang liat.” (23)

Sesuatu yang lebih mahal dari apa pun di dunia ini: harga diri... Etalase yang paling sepi tapi paling mahal: kesadaran. (23)

Ada perempuan yang hidup bukan cuma dengan luka miliknya sendiri, tapi luka milik ibunya, neneknya, bahkan buyutnya. Luka-luka lama yang gak pernah dibereskan, cuma diturunkan. (23)

Banyak perempuan takut dicintai karena keluarganya penuh pertengkaran.... perempuan sering gak sadar bahwa cara mereka mencintai juga hasil warisan luka.  (24)

Kalau ibunya tersiksa tapi bertahan demi anak, itu harus disertai pengorbanan sampai tulang patah. Kalau ibunya takut kehilangan laki-laki, dia akan belajar bahwa cinta harus dijaga dengan ketakutan. Kalau ibunya selalu menunduk, dia akan pikir bahwa menunduk itu cara perempuan hidup yang benar. (24-25) (Isma: Nangis aku Balqis)

Bahkan ketika mereka gak suka dengan hidup ibunya, mereka tetap kepeleset ke pola yang sama... perempuan sering mewarisi luka, tapi jarang mewarisi cara untuk sembuh... Bagaimana perempuan bisa menang dalam permainan yang aturannya saling bertentangan? (25)

 Kita ini sering hidup dengan luka yang bukan milik kita. Bukan hasil keputusan kita, bukan hasil pilihan kita, tapi hasil panjang dari apa yang ibu kita alami, apa yang nenek kita telan, apa yang generasi sebelum kita tahan dalam diam. Tapi seberapa pun kuatnya luka itu diturunkan, ada satu hal yang selalu bisa menghentikannya: ilmu. (25-26)

Tapi ada juga perempuan yang jalan hidupnya jauh lebih terang bukan karena dia lebih cantik atau lebih beruntung, tapi karena dia memilih untuk mengisi hari-harinya dengan ilmu... Dia bukan hidup untuk mengulangi cerita ibunya. Dia hidup untuk menulis cerita baru. (26)

Anak ketiga beda. Dia belajar, dia baca, diia mengamati, dia gak buru-buru. Dia tahu apa yang dia mau, dia tahu apa yang gak boleh dia ulang, dia tahu luka ibunya bukan kewajiban dia untuk diteruskan. (26)

Perempuan yang punya ilmu, bukan cuma menemukan tipe laki-laki ideal, tapi juga menjadi perempuan yang pantas untuk tipe laki-laki ideal itu. (26)

Perempuan yang berilmu bisa memilih dari tempat yang jernih. Dan perempuan yang bisa memilih dari tempat yang jernih tidak akan pernah hidup sebagai replika dari ibunya... Dia bukan cuma siap menikah, tapi siap memilih siapa yang layak menikahinya... dia punya navigasi, dia punya arah, dia punya pemahaman. (27)

Ilmu adalah jalan keluar, ilmu adalah penjeda, ilmu adalah pagar, ilmu adalah pondasi, ilmu adalah penebas rantai luka yang turun tanpa henti. Perempuan yang belajar, menang. Perempuan yang gak belajar, mengulang. (28) (Isma: Persis yang aku alami Qis)

Perempuan sering punya satu kemampuan aneh: kemampuan untuk membela seseorang yang bahkan tidak berusaha mempertahankan dirinya...  perempuan sering pacaran sama versi imajinasi dari laki-laki itu, bukan sama laki-laki yang nyata... Dia jatuh cinta sama potensi, bukan karakter, bukan perilaku, bukan integritas. (28) (Isma: Najis gw Qis balik ke tipe cowok-cowok kek gini).

Perempuan harus paham: tubuh bukan alat tawar-menawar. Cinta sejati tidak pernah meminta tubuh sebagai syarat komitmen... perempuan memberikan terlalu banyak, dengan laki-laki yang memberi terlalu sedikit... Cinta yang sehat selalu bikin perempuan lebih besar, lebih tenang, lebih jelas, lebih berharga. (30)

Perempuan belum selesai dengan dirinya sendiri. Selama perempuan belum tahu nilai dirinya, dia akan menerima apa pun. Selama perempuan belum punya standar, dia akan jatuh ke pola yang sama. (31)

Butuh itu bikin lo nurunin standar, ngejar, ngemis, memaklumi, dan bertahan di hal-hal yang seharusnya lo tinggalkan sejak lama. (32)

Cara berhenti jadi bodoh dalam cinta dimulai dari sini: isi hidup lo dulu, baru tentukan siapa yang pantas masuk. (32)

Perempuan juga harus belajar membaca laki-laki dari pola, bukan dari momen manis, karena momen manis itu tipuan. Laki-laki bisa manis sehari, seminggu, sebulan. Tapi pola hidupnya gak bisa bohong... Cara dia marah, cara dia kecewa, cara dia mengelola konflik, cara dia ngobrol ketika lagi pusing, cara dia treat lo ketika dia gak dapat apa yang dia mau. (32)

Banyak perempuan merasa “disakiti,” padahal yang menyakiti dia bukan laki-laki itu, tapi ekspektasi liar yang dia tulis sendiri... membangun standar yang datang dari nilai diri, bukan dari luka. Standar yang lahir dari pengalaman, bukan ketakutan. Standar yang lahir dari visi hidup, bukan dari keinginan untuk tidak sendirian. (33)

Padahal perempuan yang tetap hidup, tetap belajar, tetap dibangun, tetap punya arah, akan tetap punya diri, meskipun hidupnya sedang hancur-hancuran. (34)

Banyak perempuan ngerasa mereka sedang melawan sesuatu yang besar, tapi kalau lo tanya, “Musuh lo siapa?” jawabannya mengambang. Kadang patriarki, kadang laki-laki, kadang mantan, kadang standar sosial, kadang agama, kadang keluarga, kadang diri sendiri. Padahal kalau lo melawan tanpa tahu musuh lo, yang lo lakukan bukan perlawanan. Itu pelarian. (35) (Isma: Anjay, ini bener banget Qis, kalau kita gak tahu musuh, sampai kapan pun lu bakal kalah.)

Perempuan yang benar-benar kuat gak perlu bilang dirinya kuat, kita bisa lihat dari cara dia hidup... Padahal kebebasan tanpa tanggung jawab bukan kemerdekaan. Itu kekacauan. (36)

Dan jangan lupa bagian paling pahit: perempuan gampang banget diprovokasi. Gampang kebakar isu, gampang teriak di komentar, gampang ikut gerakan viral tanpa paham konteks. Gampang merasa mewakili semua perempuan padahal dia cuma melampiaskan rasa sakitnya sendiri. (36)

Karena perlawanan yang terbesar dan paling penting bukan melawan dunia, tapi melawan kemalasan diri untuk tumbuh. (37)

Algoritma tidak punya etika. Tujuannya cuma satu: membuat lo kecanduan sampai lo kehilangan akal sehat. (38)

Kasus Lina Mukherjee: hidup lo belajar apa dari orang yang bahkan gak belajar dari hidupnya sendiri? ... Perempuan sering memilih panutan berdasarkan luka, bukan logika. (39)

Dunia ini tidak peduli sama lo. (Isma: Lu harus sadar bahwa gak akan ada yang jemput lu, dan lu akan selalu sendiri sampai lu mati.) (41)

Kesadaran bahwa keluarga tidak selalu bisa diandalkan, bahwa validasi tidak punya nilai, bahwa tubuh tidak bisa selamanya jadi modal, bahwa hubungan tidak selalu aman... kesadaran bahwa hidup tidak akan menunggu perempuan untuk siap. (42)

Perempuan utuh adalah perempuan yang menghargai dirinya bukan karena dunia memuji, tapi karena dia tahu dirinya layak dihormati. (42)

Yang menyelamatkan perempuan cuma satu hal: kesadaran untuk tidak mengkhianati dirinya sendiri. (43)

Hidup lo gak akan pernah lebih baik daripada orang-orang yang sekarang udah mulai belajar, ngisi otak, dan naikin kualitas diri. (43)

Gue sampai di titik ini bukan karena gue selalu benar. Gue sampai di titik ini karena gue gak pernah berhenti belajar, bahkan ketika hidup lagi kayak sampah. (44)

Karena kepalanya kosong. Dan hidup paling kejam sama orang yang kepalanya kosong. (44)

Lo harus belajar, bahkan kalau semua orang di sekitar lo berhenti. Belajar, bahkan kalau hidup lagi gak masuk akal. Belajar, bahkan kalau lo lagi gak punya tenaga. Belajar, bahkan kalau gak ada yang tepuk tangan. (45)

Mereka pakai pikiran untuk memahami hidup. Lo pakai pikiran untuk menghindari rasa sakit. (45)

Karena dunia ini gak punya kewajiban untuk baik pada lo. Dunia gak punya kewajiban untuk ngertiin lo. Dunia gak punya kewajiban untuk lembut sama lo. Satu-satunya yang punya kewajiban menyelamatkan lo adalah diri lo sendiri.  (45)

Jadi perempuan yang belajar sampai kepalanya terlalu kuat untuk dibodohi siapa pun. Itu adalah mentalitas yang akan membawa lo ke hidup yang tidak lagi ditentukan oleh siapa
pun. (46)

Rabu, 22 April 2026

Catatan Klenik Studies Vol. X Edisi 9 April 2026: "Bunuh Diri: Antara Harapan Sosial dan Otonomi Tubuh"

I. PEMBUKAAN:

Klenik Studies untuk edisi UFO kami tunda karena narasumber berhalangan. Sebagai gantinya, Klenik Studies Vol. X Edisi Kamis, 9 April 2026 ini mengulas tema “Bunuh Diri: Antara Harapan Sosial dan Otonomi Tubuh”. Pertemuan ini dihadiri oleh enam orang: Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurul Diva Kautsar, Nurizky Adhi Hutama, Jevi Adhi Nugraha, Dwi Oktalina Lestari, dan dimoderatori oleh Isma Swastiningrum.

Pembahasan dalam diskusi ini sama sekali tidak hendak menyalahkan kenapa orang memilih bunuh diri, tapi memahami dan, jika perlu, menghormati keputusan orang lain atas otonomi tubuhnya. Bahasan ini terinspirasi juga dari tulisan “Supporting the Suicidal No Matter What”. Tulisan ini membongkar kecenderungan ilusi/fantasi kita tentang orang lain, bahwa dia harus kuat hidup, begini dan begitu. Seolah kita bisa mengontrol nasib/karakter orang. Dan sebagian besar, kasus bunuh diri ini jadi hantu. Selain kontrol sosial atau merujuk pada kondisi kejiwaan tertentu, bahasan ini menarik untuk digali lebih lanjut.  

II. BUNUH DIRI, NOVEL, DAN TINDAKAN POLITIS

Isma membuka fenomena bunuh diri dengan seri buku kontemporer saat ini yang lekat dengan tema. Seperti buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati atau buku serupa lain, misalnya , want to die but i want to eat tteokbokki karya penulis Korea, Baek Se Hee Jakkanim. Buku ini tentang upaya melawan depresi secara berkepanjangan. Meskipun yang terakhir ini cukup tragis aku baca sekilas di internet. Hidup emang segelap itu kadang ya, jadi buku-buku pun memilih demikian. Memilih bunuh diri, tapi sebelum bunuh diri, makan dulu. Bahkan makanan kesukaanmu bisa menyelamatkan dirimu di fase terendah hidup, ketika kamu ingin mati saja. Bahkan, buku Sulkhan berjudul Kronik Pembunuhan Selma yang menghadirkan karakter yang bunuh diri.

Sulkhan menjelaskan, di tahun-tahun gelap masa pandemi, dia mengaku punya obsesi dengan orang bunuh diri. Ini tak lepas dari pergaulannya dengan kawan-kawan di tempat dia kuliah dulu (Kajian Budaya dan Media/KBM UGM). Menurutnya, ada semacam heroisme yang berkaitan dengan kebuntuan ideologis, terutama yang dialami berbagai pemikir Marxis yang cukup heroik. Namun, di sisi lain, mereka juga putus asa dan penuh kepalsuan melalui pemolesan citra masing-masing.

Di dalam novelnya, Sulkhan mencoba memahami kenapa seseorang bunuh diri? Dia juga melakukan riset ke embung, lalu dipotret lokasinya. Dia merasa, bunuh diri sebagai sesuatu yang romantik, “Ada perasaan seperti itu,” katanya.

Sulkhan juga meluangkan waktu untuk membaca novel dan menonton film tentang bunuh diri. Semisal film “Taste of Cherry” (1997) karya sutradara Abbas Kiarostami, dan “Maborosi” (1995) karya Hirokazu Koreeda. Dari film yang ditontonnya, bahkan tidak diceritakan alasan kenapa karakter bunuh diri.

Tak hanya di novel, bunuh diri juga bisa bermakna politis. Isma mencontohkan seperti yang dialami Aaron Bushnell, saat melakukan aksi protes dengan membakar dirinya sendiri di depan Kedutaan Israel di Washington DC, Amerika Serikat, pada Minggu (25/02/2024) lalu. "Bebaskan Palestina", teriaknya. Aaron Bushnell, 25 tahun, adalah tentara Angkatan Udara AS. Dia dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis setelah pasukan Dinas Rahasia (Secret Service) AS memadamkan api di tubuhnya. Sebelum melakukan aksi yang disebutnya sebagai tindakan protes ekstrem, Bushnell mengatakan bahwa dirinya “tidak akan lagi terlibat dalam genosida”.

Lebih lama dari Bushnell, tanggal 10 Desember 2011, Sondang Hutagalung meninggal dengan membakar diri. Film berjudul "A Single Park" bercerita tentang kehidupan dan perjuangan seorang buruh Korea bernama Jeon Tae-Il. Dia meninggal 11-12 sama Sondang, mati dengan membakar diri. Umurnya pun mereka sama-sama muda. Yang membedakan, setelah Jeon bakar diri, protes di Korea membesar, sedangkan di Indonesia Sondang dilupakan begitu saja. Di Indonesia kematian Sondak lebih membicarakan cara Sondang protes, bukan kenapa dia protes.

Al Fayyadl juga menulis tentang Sondang ini dalam blognya dengan mengatakan, “Bahwa ia hendak melawan, dan ia tahu bahwa hanya dengan membakar dirinya, ia telah melakukan perlawanan paling jauh yang bisa ia lakukan untuk memprotes keadaan, karena perlawanan itu melumat satu-satunya yang paling berharga dari dirinya: hidupnya. Ia melawan hingga teriakan terakhir yang bisa ia teriakkan; hingga kata-kata terakhir yang bisa ia ucapkan; dan hingga napas terakhir yang bisa ia hembuskan.”

III. KLUB 27

Fenomena bunuh diri dalam budaya populer juga terjadi di Klub 27 yang dilakukan para musisi, seperti Amy Winehouse, Jimi Hendrix, dan Kurt Cobain (meski ada rumor juga yang mengatakan Cobain dibunuh). Kebanyakan karena penyalahgunaan narkoba dan alkohol serta tindak kekerasan. Nurul berbagi analisis, di dunia musik memang tak sedikit ditemukan fenomena bunuh diri. Bahkan ada legenda seorang remaja yang bunuh diri setelah mendengarkan lagu Ozzy Osbourne berjudul “Suicide Solution”. Lirik lagu ini serupa ajakan, ketika kamu tidak meraih apa pun di dunia, tujuan pulangmu adalah mati.

Selain itu, berkaitan dengan Klub 27, sebagian musisi juga ada perjanjian dengan sekte-sekte tertentu. Ketika artis ini berada di puncak karier, ia menjual jiwanya.  Ia menyebut nama band metal yang melakukan touring di berbagai negara yang terikat pada sekte tertentu. “Ada obsesi tertentu yang akhirnya membuka jalan untuk mengakhiri hidupnya,” kata Nurul.

IV. KESALAHAN TAFSIR DAN OTONOMI TUBUH

 

Akbar melanjutkan, alasan bunuh diri tidak pernah tunggal. Pengalamannya hidup di Jogja, serta di Bali, yang memiliki angka bunuh diri cukup tinggi, bunuh diri dilakukan karena ada kesalahan tafsir agama. Ada kepercayaan religius tertentu bahwa melakukan puasa berbulan-bulan dapat mengakhiri hidup. Menurut yang menjalaninya, hal itu bukan sesuatu yang hina, tapi malah pencapaian tertinggi. Seperti kisah filsuf Zeno dari Citium yang suatu hari jempolnya kepentok terus bunuh diri. Zeno mengakhiri hidup karena otonomi tubuh. Kepercayaan lain juga soal reinkarnasi. Ketika seseorang bunuh diri, maka karma akan terganggu, karena orang itu mengakhiri hidup sebelum ujian selesai. Katakanlah, dalam perspektif agama, Tuhan telah memberi tugas, tapi malah diakhiri sebelum selesai.

Sementara itu, Nurizky menyampaikan, berkaitan dengan otonomi tubuh, jika seseorang bisa meminta untuk hidup, maka seseorang juga bisa memilih untuk mati. Ketika seseorang tidak bisa hidup, bunuh diri bisa menjadi pilihan. Menurutnya, konteks mental setiap orang berbeda-beda, memiliki kuota yang berbeda-beda, ada yang 50, 100, 400. “Aku berpikirnya, aku tidak menjelekkan mereka yang bunuh diri, yang orang lain tak bisa memilikinya. Ini akan ditertawakan, misal kamu lebai… Aku jujur akan salut. Itu tindakan terberani,” ungkapnya.

V. FAKTOR EKONOMI

Nurizky berbagi pengalaman. Secara umum, faktor terbesar penyebab bunuh diri adalah ekonomi. Sebab apa pun membutuhkan ekonomi. Namun, apa yang dialami Nurizky berbeda karena bukan karena ekonomi, melainkan karena faktor diagnosis depresi sejak umur 10 tahun. “Tidak semua tentang ekonomi,” katanya. Kejadian yang dia alami, situasi itu muncul ketika dunia seolah-olah tidak mendukung kita. Seperti kita juga sudah telah berusaha tapi tidak pernah dapat, sehingga menyebabkan motivasi turun. “Pada akhirnya yang kurasakan, mencoba berusaha jalan, tapi pengen hidup, enggak,” tambahnya.

Nurizky mengaku bisa menikmati hidup sampai di umur 28 tahun. Pernah dia berpikir jika dia tak mau umurnya lebih dari 35 tahun. Dia merasa sudah tidak menyukai hobinya lagi, dan tidak mau sengsara. Lalu, kesempatan berumur panjang ini berlanjut ketika menjalani pendidikan S2. Ada pula seorang perempuan yang menopangnya untuk tetap hidup. “Dia berusaha mengangkat aku terus,” ujarnya. Temannya mengajaknya untuk terus sibuk, bahkan mengajak untuk memimpin perusahaan, agar ia tak kepikiran ke arah sana.

Dia sangat berterima kasih atas support tersebut, meskipun di sisi lain lelah ketika diberikan standar. Menurutnya, memperpanjang alasan hidup itu juga beban, ada rasa capek. Bahkan ketika dia ngobrol dengan sosok yang mendukungnya tersebut yang secara hidup tergolong mapan, mereka tidak menemukan makna hidup. “Kayak ngapain sih. Temanku bertahun-tahun mencapai posisi tertinggi dan merasa hampa,” ujarnya. Mereka juga pernah dalam pembicaraan yang sama-sama bingung, berimajinasi naik pesawat, ada badai, terjadi turbulen, dan entah siapa yang “pergi” duluan.

“Kita hidup untuk orang lain, tapi kenapa sulit hidup untuk diri sendiri,” Nurizky membuat refleksi. Karena hal ini, seseorang cenderung menjadi people-pleaser, selalu merawat dan merawat.

Nurizky juga mengaku pernah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Sayangnya, percobaan itu selalu gagal. Semisal, dia minum obat, tapi bangun lagi. Meskipun dia tak ingin bunuh diri dengan menggantungkan diri karena merasa kasihan jika ada yang menemukan, serta kasihan pula orang yang membersihkan. Apalagi ketika mati, semua isi perut akan keluar, ada bercak yang cukup awet.

VI. KESEPIAN DAN PERASAAN TAK TERTANGGUNGKAN

Akbar pun menegaskan jika ekonomi memang bukan penyebab utama seseorang bunuh diri. Termasuk yang terjadi pada para lansia (yang ingin mati dengan eutanasia), yang penyebab utamanya adalah ketidakinginan untuk merepotkan keluarga. Diperkuat lagi ketika ada perasaan bahwa di dunia ini sudah tidak ada lagi yang mendukung. Ketika ada kepedulian, maka keinginan hidup lebih berpotensi muncul.

Sulkhan pun menarik benang merah jika bunuh diri itu dilakukan bisa karena bebas dari kemiskinan, tapi juga karena faktor gagal berhubungan dengan yang lain, atau tidak terkoneksi dengan yang lain. Sulkhan menyebut peristiwa ini sebagai: “Kesengsaraan yang tak bisa ditampung, yang tak tertanggungkan.” Dari hasil pembacaan dan wawancaranya, apa yang bagi orang lain dianggap sepele, bisa jadi sangat penting bagi orang lain, begitu pun sebaliknya. Apalagi jika berkaitan dengan laku intellectual exercise, yang melihat hidup ini ternyata tak bernilai-nilai amat. Banyak ketidakkokohan dan banyak darah yang ditumpahkan. Apa yang dicari dalam hidup ini, seolah bentuk lain dari kesengsaraan yang kita tanggung.

VII. PULUNG GANTUNG DI GUNUNGKIDUL

Di Gunungkidul, Jogja, fenomena bunuh diri jadi semacam wahyu. Ada film-film yang telah mengulas dengan baik fenomena bunuh diri di Gunungkidul. Akbar bercerita, dosen pembimbing (dosbing) tesisnya, Pak Subandi, ternyata seorang peneliti pulung gantung di Jogja. Meskipun belum membaca penelitian dosennya, Akbar menangkap dalam pembelajaran selama perkuliahan, jika pulung gantung ini dikarenakan faktor kemiskinan. Karena tidak ingin membebani keluarga secara ekonomi. Orang yang kena pulung seperti ada seseorang yang membisiki.

Jevi berbagi pandangan. Dirinya tinggal di Semanu, Gunungkidul. Dia mengaku pernah melihat secara langsung seseorang bunuh diri, hingga secara langsung menurunkan yang gantung diri. Termasuk juga pernah mendapati orang yang hendak gantung diri, tetapi gagal. Termasuk juga ada tetangganya yang memutuskan untuk bunuh diri di pohon jati. Alasannya, ada hajatan yang mengharuskan adanya sumbangan di mana-mana, kalau ada lima orang saja hajatan, bisa dihitung sumbangannya.

Jevi yang juga pernah menulis skripsi tentang bunuh diri ini juga menyebut, kasus lain terjadi pada seorang Bapak yang terjerat utang. Bapak ini mendapatkan bantuan bedah rumah dari pemerintah, tetapi hanya beberapa juta, tidak mencukupi. Bapak ini kemudian hutang 30an juta, tidak hanya di bank, tapi juga lintah darat (bank plecit). Dia terjerat sehingga keluarganya jatuh miskin. Ketika rumah itu jadi, dia langsung tidak ada.

Selang beberapa bulan dari kejadian Bapak tersebut, ada tetangga yang tidak jauh dari korban yang melakukan tindakan nyemplung sumur yang dalamnya sekitar 25 meter. Jevi bercerita warga dusun mencarinya, hingga ayah dari korban ini mendengar teriakan dari sumur sehingga bisa diselamatkan. Dia satu jam baru ditemukan dan masih hidup. Orang yang nyemplung ini diajak oleh sosok yang sebelumnya bunuh diri. Selain itu juga karena orang ini “kabotan ilmu”, dia berguru kesana-kesini, dan menjadi seperti itu. Dia juga sering keluar malam sendiri seperti orang linglung.

Jevi melanjutkan, sejarah di Gunungkidul banyak orang moksa, dan Gunungkidul dikenal sebagai tanah untuk moksa. Menghilangkan diri dari dunia untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Kenapa pilihannya bunuh diri? Jevi menyebut karena banyak dadung, atau tali untuk mengikat, semacam tambang dari pring—sekarang bertransformasi jadi tali tambang. Gantung diri ini rata-rata terjadi di antara kandang sapi, di mana sehari-hari warga juga mengurusi kandang.

Lanjut Jevi, jika dikatakan bunuh diri bagi orang yang melakukannya dianggap agar tidak merepotkan, malah sebaliknya, sangat merepotkan. Pada realitasnya, lebih banyak merepotkan keluarga, padahal tujuannya agar tidak membebani. Seperti anak yang bapaknya bunuh diri, sekarang anaknya dipasung.

Akbar menanggapi, dari ingatannya dari salah seorang dosen pembimbing yang meneliti tentang topik psikosis dan skizofrenia, yang ditandai dengan halusinasi dan delusi. Salah satu fiturnya adalah masalah genetik. “Penyakit jiwa yang sebenarnya punya faktor keturunan yang tinggi,” terangnya. Dari penjabaran Jevi, ketika ada keluarga yang mempunyai kerentanan psikologi secara genetik, ini akan memicu kerentanan untuk muncul pada keturunan. Semisal, ketika ada ayah bunuh diri, anggota keluarga lain bisa berpotensi untuk bunuh diri juga. Polanya, menyelesaikan masalah dengan hal yang sama. “Kasus ini jadi prevalence, menarik pola, ada penjelasan mistis. Walaupun itu tidak menolak mentah-mentah,” jelas Akbar.

Ketika dihubungkan dengan penjelasan Nurizky tentang otonomi tubuh, Akbar melihat, selain faktor sosial, situasi semakin pelik karena ada faktor genetik. Genetik mempunyai kecerendungan risiko yang semakin memperburuk kondisi, menjadikan otonomi semakin menghilang.

Jevi menambahkan, fenomena medsos hari ini arahnya seperti memaklumi bunuh diri. Dia mempertanyakan, entah ini berdampak baik/buruk, tapi dimaklumi, diualng-ulang, dan akan mempengaruhi dunia sosial. Jadi semacam ada trauma massal. Di tempatnya, wujud konkret itu seperti tidak tidur selama sebulan, jendela ditutup dengan triplek, dll. “Selama bertahun-tahun, aku merasakan ada trauma massal. Ini keturunan orang yang bunuh diri, entah kakek buyutnya, cucunya juga memengaruhi,” kata Jevi.

Dari penjelasan Jevi, Lina menyakan, apa tindakan dari pemerintah melihat fenomena tersebut? Apalagi di Jogja juga sudah banyak mengangkat isu ini. Apa ada gerakan di desa/kampung? Sebab ini akan menjadi trauma generasi. Selain memperbaikinya dengan meningkatkan perekonomian, Lina mempertanyakan tindakan dari pemerintah.

Jevi menanggapi bahwa pemerintah telah berusaha keras dan dirinya mengapresiasi, seperti pembuatan Satgas dari Pemda, melakukan sosialisasi, hingga adanya komunitas yang mendampingi. Namun, entah bosan atau lelah, masih belum optimal untuk melakukan pencegahan. Hal yang kurang adalah kehadiran psikolog, dan ketika ada psikolog pun, biayanya mahal.  “Yang masih bolong di psikolognya, komunitas itu banyak entah dari swasta atau negeri. Tapi sampai hari ini, psikolog cuma satu,” jelasnya.

Dia melanjutkan, lagi-lagi kesadaran itu kembali ke warganya, karena tidak mudah mendekati orang-orang rentah. Semisal mereka yang sakit menahun, memiliki ekonomi yang buruk, dia sangat sulit menjalani hidupnya, tapi ketika ada yang hendak menolong, sudah terlambat.

“Untuk diajak bicara susah, ternyata gak semudah bahwa kamu harus cerita, atau jangan tertutup... Aku mendekati orang rentan, itu susah. Banyak yang gak nyaman bercerita, semakin banyak cerita semakin kosong. Gak malah lega, tapi malah bebani,” terang Jevi dilematis.

Nurul kemudian bertanya untuk generasi muda apakah ada yang melakukan pulung gantung? Jevi menjawab, dua tahun terakhir ini anak muda yang lulus SMA atau usia di bawah 30 tahun semakin banyak, rata-rata dari judi online (judol) dan main slot. Menurutnya, faktor keluarga yang sudah dibahas menjadi menarik, sebab tidak semua bisa bersikap terbuka dengan keluarga sendiri. Punya kecenderungan untuk dipendam.

Nurul juga bercerita tentang pengalaman pribadinya berkaitan dengan sikap terbuka terhadap keluarga ini. Saat dia masih di masa sekolah, keluarganya tidak saling terbuka, tidak saling cerita, tapi setelah kuliah dia banyak belajar. “Dulu sebelum terbuka, itu gak bisa, mau melepaskan kesepiaan dengan konser gak boleh, karena gak jelas. Akhirnya, Ketika aku pulang ke rumah itu jadi hal yang menakutkan. Tidak bisa menyampaikan apa yang aku resahkan, aku sempat buntu,” ujarnya.

Lalu, Nurul mencoba untuk membangun obrolan secara pelan-pelan. Dia akhirnya berani berbicara pada orangtuanya. Ketika ada komunikasi, ada potensi support system yang kuat.

Kemudian, Jevi menanggapi, keluarga relate untuk kaum urban, tapi tidak relate dengan yang hidup di desa. Sebab ada perasaan ketika terlalu banyak cerita, justru akan membebaninya. Orang juga tidak semuanya nyaman bercerita. “Terbuka dengan keluarga itu gak relate, ungkapan aku sayang ibu dan ayah itu gak pernah dengar. Itu emang terjadi. Di urban mungkin relate, di tempatku, kayak gitu, itu opo sih. Kesempatan untuk ekspresi itu nol besar,” ujarnya.

Nurizky mengonfirmasi yang dikatakan Jevi. Menurutnya, semakin tua, semacam sulit mencari tempat bercerita. Ibaranya, ketika mau cerita pada 10 orang, bisa jadi yang hanya 2 orang, lalu 8 lainnya adu nasib. Lalu, cerita akan menyerempet pada masalah finansial. 

 

VIII. PENUTUP

Isma menutup diskusi ini dengan konflik yang terjadi di Sudan. Tentang perempuan yang bunuh diri untuk mempertahankan harga dirinya, daripada diperkosa. Ia juga menceritakan sebuah anekdot dari seorang kawannya ketika masih mahasiswa. Teman itu bertanya, “Pernah menemukan hewan bunuh diri nggak?” Pertanyaan ini cukup nyeleneh. Secara asumsi dan logika umum, hewan hampir tidak ada yang bunuh diri. Mereka kuat. Anjing misalnya, meskipun mereka dihina setiap hari, dia tak pernah bunuh diri.

Berbeda dengan Klenik Studies di edisi-edisi sebelumnya yang membahas berbagai fenomena berkaitan dengan makhluk supranatural, kali ini lebih menekankan pada aspek psikologi, sosial, dan ekonomi dari fenomena bunuh diri.

Beberapa kesimpulannya, seseorang tidak bisa semena-mena menghakimi orang yang memutuskan bunuh diri karena alasan kejiwaan, keagamaan, ekonomi, dll. Alasan tak kalah penting juga menyangkut otonomi tubuh seseorang yang perlu dihormati. Isu yang lumayan panjang dibahas juga adalah fenomena bunuh diri (pulung gantung) di Gunungkidul, Jogja. Ternyata, fenomena itu tidak melulu masalah ekonomi, tapi juga trauma antargenerasi, keterbukaan antarkeluarga yang relate untuk warga urban tapi tidak untuk rural, hingga rasio psikolog yang masih sangat minim.