Klenik Studies Vol. XII Edisi Jumat, 5 Juni 2026 mengambil
tema “Hantu, Klenik, dan Pengetahuan: Tinjauan Antropologis terhadap Dunia
Gaib”. Diskusi ini menghadirkan narasumber Geger Riyanto (Antropolog), dengan
moderator Isma Swastiningrum (Klenik Studies), dan diikuti oleh peserta online
sebanyak lebih dari 400 orang.
Pada pembukaan diskusi, Geger memulai diskusinya dengan
memperkenalkan diri. Ia adalah seorang antropolog yang sehari-sehari mengajar
di Universitas Indonesia (UI). Di kampus, dia mengajar soal religi dan magi,
atau topik-topik yang berkaitan dengan agama dan sihir, dan kajian antropologi
tentang hal-hal gaib. Geger membuka dengan pertanyaan: ketika Antropologi
mengkaji tentang klenik, sebenarnya apa yang dikaji? Geger menjawabnya dengan
paparan slide PPT berjudul “Mengapa Antropologi Sibuk dengan Klenik?”
Ketika berbicara antropologi sehari-hari berkaitan dengan
klenik, ada beberapa praktik yang umum kita temukan, seperti orang menyantet,
fenomena dukun online, hingga tarot. Antropologi sendiri dekat dengan
kajian yang gaib-gaib. Namun, jelas Geger, hal yang gaib-gaib tersebut tidak
dikaji semata sebagai ilmu untuk memberi berkat maupun mencelakakan orang lain,
tapi dalam sisi antropologi adalah berusaha mengkaji yang gaib sebagai kondisi
kemanusiaan. Bahwa manusia mencoba untuk menjawab persoalan-persoalan di dalam
hidupnya. Mereka berusaha untuk menjalani hidup, menavigasi lika-liku hidup,
lalu menghadapi frustrasi, bahkan melalui hal gaib. Fenomena ini muncul dalam
beberapa dorongan atau prinsip disiplin yang sudah dicetuskan oleh para
pendahulu antropologi.
Antropolog Polandia bernama Bronislaw Malinowski mempertanyakan:
Kenapa magi itu ada di seluruh kebudayaan dunia? Kenapa sihir ada di mana-mana?
Kenapa santet ada di Afrika, tetapi juga sekaligus ada di Asia Tenggara? Jika
ditarik dalam budaya Indonesia, semisal suanggi (hantu yang ada di banyak
wilayah Indonesia Timur khususnya Maluku dan Papua), kenapa ada perbandingannya
dengan fenomena serupa di Nigeria? Bahkan, kita tidak hanya membatasi pada
negara-negara selatan atau bahasa pembangunannya negara berkembang, hantu juga
banyak dibicarakan di negara-negara Utara, seperti Amerika, dan negara maju
seperti Jepang. Manusia tidak bisa berhenti berbicara tentang hantu hanya
karena teknologi atau perekonomian lebih maju. Magi juga tidak berhenti pada
seseorang yang dianggap lebih rasional dan berilmu, bahkan di negara yang
mengedepankan ilmu.
Dari hal ini, Geger mengajak untuk memulai pada sebuah
premis: Sihir, magi, dan hal-hal gaib adalah universal, ada di mana-mana, ada
di segala bentuk kebudayaan, ada di masyarakat di berbagai belahan dunia,
bahkan ada pada orang-orang yang memahami ilmu pengetahuan. Geger mencontohkan
salah seorang fisikawan bernama Niels Bohr yang memajang tapal kuda di rumah
yang identik dengan keberuntungan. Ketika Bohr ditanya apakah dia percaya bahwa
tapal kuda membawa keberuntungan? Bohr menjawab, dia tidak percaya dengan
keberuntungan yang bisa dibawa oleh tapal kuda, tapi dia percaya dan tidak
percaya bahwa tapal kuda itu mempunyai kekuatan untuknya.
Jawaban kontradiktif tersebut sering kita jumpai dalam
kehidupan sehari-hari. Pertanyaan selanjutnya, antropolog mencoba untuk
menelusuri kondisi-kondisi kemanusiaan apa yang menyebabkan itu terjadi?
Mengapa magi itu universal? Pertanyaan ini akan membawa kita untuk mencoba
memahami kenapa magi ada di mana-mana.
TINJAUAN ANTROPOLOGIS
Geger menegaskan, antropologi tidak menganggap klenik
sebagai kedunguan atau tahayul usang, melainkan sebagai indikasi nyata dari
pergulatan dan pergumulan sosial di tengah masyarakat. Kita mencoba untuk
menelusuri magi sebagai indikasi, representasi sesuatu yang lebih menandai
dinamika kemanusiaan. Dasar dari magi dan praktiknya bisa disebut sebagai
kondisi-kondisi kemanusiaan, yang di dalamnya terdapat pergumulan manusia. Karenanya,
kata kunci selanjutnya untuk memahami hal ini adalah perlunya mengkaji magi
secara empatik.
Klenik tampil sebagai upaya aktif manusia menghadapi dan
memasukakalkan realitas dunia yang tidak pasti. Di mana ada ketidakpastian, di
mana ada kondisi negatif yang dihadapi manusia, maka di sana ada klenik. Ia
adalah bagian dari cara manusia menghadapi ketidakpastian.
Mengutip Rebecca L. Stein dan Philip L. Stein dalam buku The
Anthropology of Religion, Magic, and Witchcraft menyampaikan, “Beberapa
situasi berada di luar jangkauan penjelasan dan kendali sains serta teknologi.
Tak peduli seberapa cermat dan tampilnya seorang petani dalam menjalankan
tugasnya, hal-hal buruk tetap bisa dan memang terjadi. Hujan tak kunjung turun,
atau serangan hama serangga menghancurkan tanamannya, ‘Mengapa ini terjadi
padaku? Apa yang bisa kulakukan untuk mencegah hal-hal ini terjadi?’
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak dapat dijawab melalui penyelidikan
ilmiah.”
Tidak peduli seberapa terampil seorang petani, akan ada
ketidakpastian tentang kondisi tanah hingga serangga yang menghancurkan
tanaman. Mengapa itu terjadi? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat seseorang
berspekulasi dan mengembangkan imajinasi tentang magi. Makanya, dalam tradisi
petani di Jawa Barat, untuk menangkal ketidakpastian tersebut, sebelum menanam
padi akan dilakukan ritual. Termasuk juga sebagai doa agar hasil panennya
melimpah. Meski hal ini tidak menjamin keberhasilan, karena akan selalu ada kemisteriusan,
praktik magi digunakan untuk menavigasi ketidakpastian.
Antropolog Malinowski pada awal 1990-an juga mengkaji
orang-orang Trobriand yang tinggal di Kepulauan Pasifik yang dianggap primitif
dan terbelakang, tapi Malinowski menunjukkan bahwa masyarakat di sana maju.
Mereka tahu musim, bisa memancing, tahu cara untuk mendapatkan ikan.
Menariknya, Malinowski membandingkan dua cara orang Trobriand mendapatkan ikan,
yakni di laguna dan laut. Ketika memancing di laguna (teluk), airnya lebih
tenang dan tidak mengancam keselamatan. Masyarakat Trobriand tidak mempunyai
ritual khusus untuk memancing. Sebaliknya, ketika memancing di laut yang jauh
lebih berbahaya, luas, badai, hingga kemungkinan perahu bisa bocor dan
tenggelam di tengah laut, masyarakat mempunyai ritualnya sendiri. Dari hal ini,
Geger menegaskan: Magi adalah cara untuk mengintervensi dan menegaskan
kontrol atas kehidupan yang tidak terkontrol.
Dalam penelitian yang dilakukan Geger di Maluku Tengah, di
mana mata pencaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, mereka sangat
jago memancing. Mereka mempunyai pengetahuan yang luar biasa tentang
jenis-jenis ikan, cara menarik untuk membuat umpan yang efektif, tapi ketika
berbicara tentang laut, maka menjadi tidak pasti. Mereka sering memancing hingga
jarak 40-50 kilometer ke tengah laut. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan.
Orang-orang di sana tidak berani untuk melaut ketika saat mereka membeli perahu
baru, belum didoakan. Mereka menjalani ritual untuk keselamatan. Meskipun
perahu baru itu bagus, kokoh, dan kelihatan canggih, mereka tidak berani
memakainya dan lebih memilih menggunakan perahu lama yang sudah didoakan. Untuk
mendoakan perahu, mereka perlu mengundang ustad dan orang-orang yang dianggap
memiliki otoritas. Klenik dalam hal ini membantu untuk menavigasi dan
mengarungi kehidupan.
Selain itu, salah satu profesi yang mempunyai ritual yang
tak kalah absurd dan tidak sepenuhnya masuk akal adalah olahragawan. Mereka
sering berada dalam kompetisi, di mana lengah sedikit akan kalah, kompetisi
identik dengan ketidakpastian. Symbaluk and Honey (2009) dalam Introduction
to Learning and Behaviour 3rd Edition menyampaikan, “Di bawah ancaman terus-menerus
kehilangan posisi oleh pendatang baru yang ambisius, atlet profesional selalu
mencari apa pun yang dapat meningkatkan performa mereka. Akibatnya, kejadian
tidak biasa yang mendahului penampilan luar biasa (seperti menyenandungkan nada
tertentu atau memakai pakaian unik) sengaja diulang dengan harapan dapat
memproduksi performa tersebut.”
Ritual dalam sepak bola seperti dilakukan keeper
seperti mencium gawang terlebih dahulu sebelum memulai permainan atau hal lain ritual
lain yang tidak ada hubungannya dengan kondisi fisik mereka. Secara rasional
memang kita tidak benar-benar memahaminya, tapi ketika kita mencoba berempati kepada
mereka, mencoba duduk dan ada di posisi mereka—dan ini merupakan prinsip dari
penelitian antropologi—maka hal itu menjadi masuk akal karena kondisi mereka
tidak pasti. Mereka mencoba menenangkan diri, mengambil kontrol pada hal-hal
yang tidak terkontrol.
Antropologi sebagai disiplin mencoba memahami kebudayaan
yang berbeda, mencoba untuk berfokus pada konteks. Di dalam psikologi
menekankan mekanisme yang muncul dari diri individu seperti tadi, akan mencoba
melihat pola-pola yang berbeda dan membandingkannya pada setiap kebudayaan yang
berbeda. Antropologi yang penting adalah konteks sosialnya. Semisal di Jawa,
mereka memiliki cara yang berbeda untuk mengintervensi ketidakjelasan.
Antropologi berusaha untuk melihat fenomena sosial yang terjadi. Bagaimana ia bisa
terjadi di masyarakat dan menggambarkannya? Termasuk bagaimana latar belakang
fenomena yang terjadi secara lebih komprehensif. Karenanya, antropologi sering
dianggap ilmu yang terlalu lama dalam penelitian, karena berusaha untuk membuat
konteks yang lebih menyeluruh, berbeda dengan psikologi lebih sering melakukan
penelitian dengan menggunakan survei langsung dan mendapatkan sampel. “Pada
akhirnya klinik itu menunjukkan kondisi kemanusiaan kondisi manusia berusaha
untuk mengintervensi ketidakpastiannya,” katanya.
Malinowski menekankan, “Fungsi dari sihir/klenik adalah untuk
meningkatkan keyakinannya pada kemenangan harapan atas rasa takut. Klenik
mengekspresikan nilai yang lebih besar bagi manusia atas keyakinan di atas
keraguan, keteguhan di atas keragu-raguan, dan optimisme di atas pesimisme.” Kata
kuncinya adalah usaha manusia untuk menavigasi dan mengontrol hidup. Meskipun
manusia masuk lewat ilmu pengetahuan, selalu akan ada dan banyak ruang yang
tidak bisa dijelaskan.
Antropolog lain bernama Ernesto De Martino juga mengatakan,
“Akar dari... segala bentuk sihir adalah hal negatif yang merajalela dalam
hidup, yang membekaskan trauma, hambatan, frustrasi, dan keterbatasan, serta
kerapuhan hal-hal positif.” Dalam kehidupan sehari-hari, praktik
itu diwujudkan semisal bagaimana seorang ibu mendoakan anak ketika pergi agar
tidak terjadi kecelakaan. Atau studi kasus yang ada di Lombok, bahkan ilmu pengetahuan
dalam operasinya di kehidupan sehari-hari bisa mendapatkan status sebagai
sihir. Salah seorang teman Geger bernama Rhino Ariefiansyah dalam penelitian “Petani
dan Pengetahuan Perubahan Iklim”, Rhino melakukan meneliti di Lombok tahun
2015, terjadi perselisihan antara petani dan ketua adat terkait pengetahuan
berkaitan dengan musim kemarau. Dari dua musim basah dan kering, mana yang
lebih panjang?
Musim penting karena tembakau butuh dijemur lama. Ketika
musim panasnya kering, petani biasanya untung, karena bisa dijemur dan dijual
ke gudang pabrik rokok. Ketika musim kemaraunya basah, maka mereka akan rugi.
Petani tembakau yang berselisih dengan ketua adat tersebut kemudian mengikuti
workshop iklim. Dalam workshop diberikan pengetahuan untuk mengukur curah
hujan, lalu membuat prediksi musim panas ini kering atau tidak. Sementara,
ketua adat bilang agar tidak menanam, karena kemaraunya akan basah. Sebaliknya,
petani yang ikut workshop dari data curah hujan yang dia punya meramalkan jika
kemaraunya adalah kemarau kering. Masyarakat kemudian mengikuti petani yang
mengikuti workshop, dan terbukti prediksinya lebih benar. Petani tersebut
kemudian mendapatkan gelar yang cukup klenik dan gaib, yaitu jadi mangku hujan.
Sihir dan ilmu pengetahuan saling bersanding untuk menawarkan bacaan tentang
masa depan atau bacaan tentang hidup yang tidak pasti. Sementara, orang-orang
berusaha menggunakan sihir sebagai cara mengintervensi dengan cara yang
sebetulnya mirip dengan ilmu pengetahuan.
ORANG-ORANG AZANDE
Di studi kasus lain, antropolog Evans-Pritchard pernah
mengkaji tentang perdukunan di antara orang-orang Azande di Afrika. Masyarakat
Azande percaya, saat kemalangan terjadi, seperti bencana dan petaka yang mereka
alami ke dukun. Bahkan sesederhana ada anak kecil yang tersandung tunggul kayu,
orang di sana akan bilang hal itu gara-gara dukun. Kemudian, ada atap rumah
yang tiba-tiba ronoh, ada yang tertimpa luka parah, juga dianggap gara-gara
disantet. Padahal bisa jadi, anak tersandung kayu karena dia ceroboh, atap
roboh karena banyak rayap. Mereka bisa menjelaskan itu secara rasional tetapi
pertanyaan yang muncul berbeda, kenapa saya yang mesti terus mengalami? Kenapa
orang dekat saya yang mengalami? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian
direspons dengan pikiran-pikiran spekulatif klenik.
Penelitian Evans-Pritchard pada orang-orang Azande tersebut
berkontribusi penting terhadap gagasan: selalu akan ada pertanyaan yang
membayangi orang-orang yang terkenal malapetaka. Pertanyaan itu adalah kenapa
saya? Kenapa saya adalah pertanyaan yang kemudian dijawab orang-orang dengan
penjelasan-penjelasan yang bersifat klenik. Serta berusaha untuk diatasi
melalui usaha-usaha yang menyentuh klenik. Ketika menempatkan pada posisi orang
tersebut, juga terlihat bahwa hidup kita pun tidak pernah pasti. Selalu ada
perasaan yang menggantung berkaitan dengan kenapa saya begini dan begitu,
mengalami ini itu, kesialan ini itu. Di sini, “magi adalah ekspresi
ketidakpastian dan usaha untuk menavigasi ketidakpastian itu.”
.png)
Geger juga menunjukkan salah satu skrinsut dari TikTok
berkaitan dengan medium santet. Ada media santet di dekat rumah si pengguna
TikTok, kemudian dia berasumsi agar netizen waspada terhadap orang-orang di
sekitar. Karena ada orang-orang yang berusaha untuk menjelekkan kita. Berbicara
santet secara universal lekat dengan menarik orang-orang dekat. Termasuk dalam
kajian Evans-Pritchard, tetangga terdekat Anda adalah dukun santet. Sementara
Clifford Geertzs juga menyebut, “Santet di Jawa cenderung dipraktikkan kepada
tetangga, teman, kerabat, dan orang-orang dekat.”
Ada pun menurut penelitian Rupert Stasch, “Suanggi Korowai
merupakan kerabat sangat dekat dengan korbannya.” Di wilayah-wilayah lain,
masih banyak lagi kajian-kajian antropologi yang memperlihatkan bahwa biasanya
pelaku santet yang dituduh pertama adalah orang-orang dekat. Hal ini
menunjukkan, bahkan orang-orang terdekat kita adalah simbol ketidakpastian. Kita
tidak pernah bisa menebak isi hati orang. Ada suatu prasangka kita sakit karena
tetangga atau sahabat kita. “Ketidakpastian itu selalu ada, bahkan orang yang
kita anggap dekat. Orang yang kita anggap bisa kita pegang, juga selalu kita
duga, dia punya kepentingan untuk mencelakakan kita. Ini adalah ekspresi
ketidakpastian dalam hidup,” terang Geger.
ORANG-ORANG PRANCIS DALAM PENELITIAN FAVRET-SAADA
Ia beralih pada fenomena yang terjadi di Prancis (Bocage).
Antropolog Prancis bernama Favret-Saada, di kawasan pertaniannya orang-orang
percaya bahwa mereka yang percaya santet dianggap orang terbelakang,
orang-orang Prancis lebih senang mengedepankan diri sebagai orang-orang yang
mempunyai rasionalitas. Santet dianggap sebagai kultur orang-orang terbelakang
yang ada di kampung-kampung. Orang-orang Prancis punya kecenderungan untuk
tidak percaya. Namun, ketika orang-orang yang tidak percaya santet itu terkena
sakit, mereka mulai berpikir jangan-jangan ini akibat santet. Kemudian mereka
mulai pergi ke penyembuh (healer), narasumber Favret-Saada: “Saya tahu
[bahwa sakit ini bukan karena santet]... tapi tetap saja...”
Lanjut Geger, kita selalu punya keraguan. Salah satu
antropolog Finlandia pernah menggambarkan kehidupan manusia dan kenapa dia akan
selalu kembali ke klenik. Manusia mempunyai keraguan yang tidak pernah bisa
padam (restlessness of doubt). Satu hal yang pasti tentang hidup adalah
ketidakpastian itu sendiri. Perasaan manusia akan ketidakpastian selalu
berkecamuk. Meskipun ilmu pengetahuan menawarkan solusi terhadap persoalan
praktis, selalu ada celah untuk berkembangnya hal-hal klenik. Makanya,
dibutuhkan pendekatan yang empatik untuk memahami, pengetahuan dan teknologi tidak
bisa menjamah persoalan di setiap lini kehidupan.
Contoh terkait penyembuhan, meskipun pengobatan modern
efektif, tapi satu hal yang sering jarang disadari oleh orang-orang yang
berusaha mengutuk pengobatan yang lebih holistik adalah layanan kesehatan
profesional itu biasanya dibebani dengan pasien yang luar biasa membludak. Di
kampung-kampung, semisal di Puskesmas kampung, dari pagi penuh dan akhirnya di
hadapan kondisi seperti itu, bisanya orang-orang yang berhadapan dengan nakes
memperlakukan pasien bukan sebagai manusia, tetapi sebagai persoalan yang harus
segera selesai. Ini akan berelasi dengan pengalaman personal kita yang sering
bertemu dengan nakes yang jutek, dokter yang tidak berusaha untuk menanyakan
lebih jauh. Di sisi lain, dokter hanya punya waktu untuk menghadapi pasien
selama lima menit, karena sudah menunggu pasien lainnya. Belum lagi dengan
pembayaran BPJS yang kecil.
Persoalannya bukan hanya ilmu pengetahuan yang tidak
menjawab, tetapi juga persoalan secara sosial, solusi pengobatan modern
mempunyai keterbatasan. Belum lagi ketika kita berbicara tentang terapi yang
disarankan oleh dokter, belum tentu itu efektif, dokter harus mencoba beberapa
kali. Setelah berobat berkali-kali, belum tentu pasien akan sembuh. Kondisi
medis bisa menjadi sangat tidak pasti. Ketika pasien ingin mendapatkan
komunikasi yang intens dan simpatik dari dokter, sementara nakes kewalahan
menghadapi pasien yang banyak, sementara rasa sakit tidak berhenti-henti.
Apalagi manusia yang dibawa ke rumah sakit, akan membawa seseorang untuk
mencari solusi-solusi lain. Semisal dia pergi ke orang sakti untuk menyembuhkan
rasa sakit. Terutama ini juga banyak terjadi di desa-desa dukun putih. Kita
sering melihat di Instagram/TikTok yang berusaha untuk memberikan terapi
pengobatan yang ekstrem, yang kelihatannya juga konyol dan tahayul. Misalkan,
dipukul-pukul anak, ini dipercaya akan menyembuhkan.
Geger melihat juga dan membuatnya cukup terganggu, ketika
pergi ke kampung sangat banyak orang-orang yang kemudian berusaha untuk
memberikan kesembuhan dengan cara yang agak ekstrem, cuma digosok-gosok, atau
hanya dibacakan doa. Biasanya mereka ada tetangga atau kerabat dekat, yang
bukan hanya memberi terapi penyembuhan yang sifatnya klenik, tapi juga kepada
orang-orang yang datang juga memberikan sugesti-sugesti positif. Pendekatan ini
tentu berbeda dengan nakes yang dihadapkan dengan pasien yang banyak, yang dia
tidak kenal.
Sebaliknya, ketika berobat ke dukun kampung, biasanya dukun
kampung masih merupakan kerabat dan masih sosok yang dikenal, yang bisa diajak
ngobrol. Bagaimanapun, treatment ini memanusiakan orang. Geger berefleksi,
sebagai antropolog juga seperti itu, paling tidak ketika melakukan penelitian,
Geger perlu memahami kondisi kemanusiaan. Bahwa dalam pengobatan holistik,
biasanya dukun adalah kerabat. Dukun itu akan berusaha untuk memahami dan
memperlakukan yang datang sebagai manusia. Problemnya bukan hanya ilmu
pengetahuan yang tidak sampai, tetapi terkadang kondisi sosial tidak
memungkinkan model pengobatan yang proper bisa didistribusikan ke seluruh
masyarakat, karena biaya yang mahal. Ini menjadikan klenik terus berkembang.
MASEAN’S MESSAGES DI BALI
Studi kasus lain yang ditunjukkan Geger adalah Masean 1965, Masean
adalah salah satu banjar di Bali. Pada tahun 2015-2016 sempat ada penggalian
kuburan yang berasal dari inisatif warga Banjar, Masean. Sampai dengan tahun
2015, masyarakat di sekitar merasa diganggu oleh makhluk gaib. Berdasarkan
orang Bali istilahnya “buto kalah”, dan saking seringnya gangguan, orang di
sana bunuh diri—menjadi kampung dengan tingkat bunuh diri paling tinggi di
seluruh dunia. Kemudian orang-orang bertanya-tanya. Ada juga cerita-cerita,
anak kecil yang sedang berjalan, tidak ada siapa-siapa tiba-tiba dilempar baju.
Banyak juga insiden anak kecil yang jatuh.

Muncul berbagai pertanyaan, generasi muda mencari tahu ke
generasi yang lebih tua, sebetulnya ada apa sih dengan kampung ini? Ternyata,
di kampung ini pernah terjadi pembunuhan dari tahun 1965 sampai dengan 1967.
Pada zaman itu, di Bali posisinya lebih parah dibandingkan berbagai tempat lain
di Indonesia. Insidennya bisa disebut sebagai pembunuhan orang-orang yang
dianggap berkaitan dengan PKI, berdasarkan filmnya, “Masean’s Messages”,
beberapa orang di kampung kemudian dikumpulkan. Orang-orang di kampung saat itu
diminta oleh pihak keamanan yang sedang membasmi PKI untuk membunuh saudaranya
sendiri yang PKI. Hingga sampai hari ini, mereka masih membawa perasaan yang
tidak terselesaikan. Perasaan tidak terselesaikan ini berkembang menjadi hantu
yang hadir secara harfiyah dan tidak harfiyah di masyarakat.
Lalu, ada inisiatif untuk menyewa traktor, dari pendanaan
masyarakat sendiri untuk membongkar jalan. Masyarakat berusaha untuk
menghilangkan hal negatif yang lekat dengan trauma politik di masa lalu.
Hal-hal negatif dalam hidup bukan hanya terkait dengan usaha manusia
mengintervensi rasa sakit, atau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tapi
juga terkait trauma politik masa lalu yang tidak pernah terselesaikan. Fenomena
ini sangat manusiawi, karena ketika seseorang membawa sesuatu yang tidak
selesai, dia akan selalu merasa dihantui. Hantu itu akan mewujud dalam
imajinasi dan realitas yang berkembang di masyarakat. Hal itu mewujud menjadi
hantu yang real.
HUTAN ADAT SEI TOBUN DAN PABRIK KAYU JOKOWI
Studi kasus lainnya terjadi di Sei Tobun, Kalimantan Tengah,
tentang kembalinya roh leluhur. Alkisah, pada tahun 2016, Jokowi datang untuk
memperkenalkan pohon sengon ke orang-orang di Sei Tobun. Sengon sendiri bukan
pohon native masyarakat di sana, tapi mereka diminta menanam dengan kepentingan
di sana akan dibangun pabrik kayu lapis. Pohon-pohon sengon yang ditanam
tersebut bisa jadi tabungan keluarga pria Solo tersebut. Jokowi meresmikan
pabriknya pada akhir 2016. Namun, pada tahun 2019, pohon sengon warga ludes
karena kebakaran lahan. Pabrik kemudian sering menggunakan kayu meranti dari
hutan.
Kita bisa menduga, jangan-jangan pabrik dibangun untuk
mendapatkan persetujuan sosial saja dari warga. Agar warga mengizinkan pabrik
masuk ke wilayah mereka. Yang terjadi, warga bukannya untung, tetapi malah
buntung. Akhirnya, pabrik menutup akses jalan tani. Jalan tani milik warga ini
diambil oleh pabrik. Ketua adat di sana kemudian melakukan ritual “hinting
pali” (menandai hutan sebagai wilayah roh yang tidak boleh diakses). Hutan
tersebut ditandai sebagai wilayah roh yang tidak boleh diakses. Selanjutnya
yang terjadi, pabrik tersebut diganggu oleh kecelakaan kerja, ada penampakan,
dan masalah kesurupan massal yang tidak selesai-selesai. Pabrik akhirnya
melakukan ritual adat untuk menenangkan roh-roh.
Fenomena ini bukan hanya berbicara bahwa orang-orang Sei
Tobun dari awal cuma percaya dengan klenik. Sebab yang sebenarnya terjadi,
ketika Jokowi datang, sebagian warga antusias karena mereka berharap akan punya
tabungan dengan sengon. Mereka bisa mengkuliahkan anaknya, karena mereka sudah
tidak bisa mengharapkan pertanian lagi. Orang-orang dilarang untuk membuka
lahan dengan cara dibakar. Mereka perlu uang kas dan mengelola tanaman
komoditas. Mereka juga berharap kampungnya akan dibangun jalan, sekolah, hingga
akses kehidupan, sehingga mereka senang dengan pabrik kayu lapis tersebut.
Namun, begitu pabrik dianggap membawa hal-hal negatif ke masyarakat, roh
leluhur kemudian kembali.
Ketika kecelakaan terjadi di pabrik, kemudian dianggap
karena roh leluhur tidak suka dengan mereka. Pabrik memperlakukan bentang alam
dan roh-roh penghuni sebagai subordinat. Padahal selama ini, hubungan di antara
manusia, roh, bentang alam, bersifat resiprokal. Pembukaan hutan dan penebangan
pohon yang dilakukan tanpa izin menyebabkan roh-roh jadi haus darah. Berbagai
insiden yang terjadi di pabrik karena roh menuntut keadilan. Warga
kemudian melakukan pemalangan adat dan berusaha untuk dan ‘apel’ pada kekuatan
gaib.
KESIMPULAN
Ini menunjukkan bahwa klenik/hal gaib walaupun hidup di
era modern, akan selalu ada kontradiksi yang tidak pernah bisa untuk
diselesaikan. Akan ada hal negatif yang akan selalu ada di kehidupan kita.
Justru, Geger berasumsi, semakin modern kita, semakin banyak persoalan yang
akhirnya modernitas bukan hanya menghilangkan klenik, tapi justru sisi-sisi
lain yang mengakselerasi klenik. Karena di masa depan justru semakin banyak
ketidakpastian yang terjadi. Kepercayaan klenik adalah sebuah respons. Klenik
hadir bukan hanya sebagai ekspresi bahwa orang yang melakukannya terbelakang,
tapi dia adalah ekspresi kemanusiaan yang menandai di balik hal tersebut ada
“hal lain”. Hal lain ini adalah usaha manusia untuk menghadapi ketidakpastian
dalam hidupnya. Klenik adalah kondisi kemanusiaan. Kondisi bahwa manusia
selalu dihadapkan dengan ketidakpastian dan berusaha untuk mengintervensi hal
itu. Manusia berusaha untuk menavigasi kehidupan, karena semampu-mampunya kita
mengendalikan kehidupan, pasti akan ada celah-celah. Ketika ada celah itu,
celah itu kemudian bisa diisi oleh hal-hal yang sifatnya klenik.