
I. Pembukaan Diskusi
Klenik Studies Vol. VIII pada tanggal 29 Januari 2026 pukul
20.00 WIB mengambil tema “Cerita Horor dari Rumah”. Diskusi ini
membahas tentang bagaimana rumah sebagai ruang domestik menyimpan jejak
sejarah, warisan spiritual, trauma kolektif, hingga sugesti sosial. Cerita yang
muncul tidak hanya tentang penampakan, tetapi juga tentang keluarga,
lingkungan, ekonomi, dan cara orang menafsirkan pengalaman. Diskusi ini diikuti
oleh Khumaid Akhyat Sulkhan, Nurul Diva Kautsar, Nurizky Adhi Hutama, Mi’rajul
Akbar, dan Isma Swastiningrum.
Diskusi edisi ini berangkat dari pertanyaan sederhana: mengapa
rumah bisa berhantu? Jawaban terkait ini berkembang dari pengalaman
personal, cerita turun-temurun, hingga refleksi teoretis tentang memori ruang,
trauma domestik, dan dimensi psikologis.
II. Rumah Lama dan Sejarah di Baliknya
Nurizky membuka diskusi dengan kisah tentang rumah yang
pernah dia tinggali. Rumah itu menyimpan serangkaian pengalaman yang tidak
dialami semua cucu, hanya dua atau tiga orang dari sembilan bersaudara—termasuk
dirinya dan adiknya.
Ia menceritakan pintu yang terbuka sendiri dengan tangan
besar yang tampak mendorongnya, suara langkah dari lantai atas pada malam
tertentu, serta rambut yang tiba-tiba ditemukan tanpa tahu asalnya. Dari garis
neneknya yang berdarah Dayak, ada mandau yang pernah bergerak sendiri dan
lemari yang bergetar. Seorang pakde bahkan menyebut mandau itu meminta darah.
Nurizky juga mengaitkan lokasi rumahnya dengan kawasan
Samirono dan Gejayan—wilayah yang menurut cerita warga memiliki sejarah
kekerasan pada masa perang di Yogyakarta. Ia menyebut insiden “pocong minta
diuculi” dan kisah mobil yang tiba-tiba berada di lantai dua bangunan, tapi tanpa mobil itu rusak.
III. Hantu Domestik dan Garis Keturunan
Diskusi lalu bergerak ke relasi antara rumah dan keluarga. Nurizky
menceritakan tentang neneknya yang menjelang wafat justru memanggil satu cucu
tertentu. Orang yang memahami hal metafisik menyebut adanya “pemberian” secara selektif. Warisan ini tidak selalu diminta, dan tidak
selalu jelas fungsinya. Bahkan muncul pertanyaan bagi Nurizky: jika dipilih,
untuk apa? Apakah warisan itu mempersiapkan masa depan tertentu, atau justru
menjadi beban?
Hantu yang berhubungan dengan keluarga sendiri, bisa
berwujud seperti nenek yang sudah meninggal. Dalam kepercayaan Jawa, 100 hari
setelah meninggal masih “di situ”. Ada cerita nenek duduk di lemari dan
berjalan ke mana-mana, atau lebih sering “menampakkan diri” ke salah satu cucu.
Nurizky juga menjelaskan bahwa keluarganya memiliki latar
spiritual: ayahnya kejawen, nenek berdarah Dayak, kakek dari lingkungan
keraton. Ia merasa rumah yang ditinggalinya diperkuat oleh energi manusia-manusia
yang tinggal di dalamnya.
Ada pengalaman masa kecil Nurizky saat melihat mbak cantik
berbaju putih yang menemani ketika ia sendirian di rumah. Ayahnya menyebut
sosok itu penunggu pohon mangga depan rumah. Sosok itu ramah, tidak
menyeramkan. Namun ia hanya muncul ketika rumah sepi, jarang saat ia bermain
PlayStation. Sosok ini tidak diposisikan secara otomatis sebagai jahat; bahkan
justru hadir sebagai teman, terutama ketika Nurizky sendirian di rumah. Namun ketika
pagar terbuka oleh anggota keluarga lain, sosok itu pergi.
Ketika rumah dikoskan, ternyata kos-kosan itu dihuni banyak
perempuan dengan ciri fisik serupa, serta mereka juga betah kos di sana.
Sulkhan menambahkan hantu domestik juga berkelindan dengan
pengasuhan bayi. Ia bercerita tentang adiknya yang masih bayi tiba-tiba sudah
berada di kolong tempat tidur padahal belum bisa tengkurap sempurna, dia tidak
menangis ataupun terluka bahkan ketika dianggap dia jatuh dari amben.
Sulkhan juga menceritakan kisah ibunya saat hamil dirinya: ada sosok
yang menerobos jendela kamar pada malam hari. Setelah ia lahir, ibunya sering
bermimpi ada sosok yang ingin merebut atau menyakiti anaknya. Ia juga menyebut
legenda seperti kuyang yang berfungsi membuat ibu-ibu lebih waspada.
Menurut Sulkhan, rumah adalah simbol peradaban. Ketegangan antara pendatang dan “yang lebih dulu ada”
menjadi narasi dominan. Entah itu entitas gaib, atau manusia lain yang mengirim
teror psikologis.
IV. Cerita Orang Lain dan Produksi Ketakutan
Nurul mengaku tidak pernah mengalami langsung penampakan hantu
di rumahnya. Namun ketakutan justru datang dari cerita orang lain. Ia tinggal
di rumah tumbuh yang dibangun bertahap. Keluarganya tidak pernah mengenalkan
cerita klenik. Ia menyadari bahwa yang membuat takut bukan penampakan,
melainkan spesifikasi cerita: disebutkan lokasi, waktu, hingga detailnya. Banyak rasa takut muncul dari cerita
tetangga atau sepupu.
Cerita yang pernah didengar Nurul, seperti ada cerita perempuan berbaju putih di pohon mangga, hantu di
loteng, anak kecil di gudang, sosok tinggi di belakang rumah, sosok hitam
berjalan di dapur, mbah-mbah duduk di depan rumah. Ketika disebut spesifik dan
dikaitkan dengan ruang gelap, ketakutan muncul. Saat kecil, dia sampai tidak
berani ke dapur malam hari dan ke toilet harus diantar. Terutama karena area
dapur tidak pernah dinyalakan lampunya. Jika lampu dinyalakan, mungkin
ketakutan berkurang.
V. Rumah sebagai Kambing Hitam dan Dokumentasi Tragedi
Akbar juga menyinggung film Thailand “Ladda Land”. Dalam
film itu, horor tidak hanya muncul dari penampakan, tetapi dari masalah
domestik, seperti suami dipecat, istri tidak tahu, relasi keluarga retak. Efek horor
hadir dari suasana dan cerita, bukan sekadar makhluk gaib.
Sulkhan mengingat tetangganya yang usahanya tidak pernah
berhasil. Rumah menjadi kambing hitam atas ketidaksuksesan dan kegagalan ekonomi. Rumah menjadi tempat proyeksi atas konteks sosial-ekonomi
yang tidak berpihak. Ia berpendapat bahwa rumah berhantu kerap menjadi
dokumentasi tragedi: bunuh diri, konflik keluarga, atau sejarah kekerasan.
Cerita hantu adalah cara masyarakat menyimpan ingatan atas peristiwa yang sulit
dibicarakan secara langsung.
Isma menambahkan tentang Rumah Kentang: Mitosnya, setiap
lewat di depan rumah ini akan mencium bau kentang digodok. Narasinya, seorang
ibu memasak dan anak balitanya kecemplung ke kuali air mendidih hingga
meninggal.
Saat keluarga Isma pernah pindah rumah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, ada teman
aneh yang suka bercerita tentang kisah horor. Semisal, temannya ini bercerita
tentang salah satu rumah tetangga yang menculik anak-anak, tulang dan dagingnya dimasak jadi
sup. Temannya juga bercerita tentang pocong-pocong muncul di kawasan tertentu.
Wilayah ini sendiri memiliki sanitasi buruk dan kebiasaan masyarakat yang masih
BAB di sungai, dengan akses ke sungai yang gelap dan melewati bambu-bambu. Narasi
seperti ini bisa dibaca sebagai representasi kecemasan terhadap keamanan anak
dan ancaman kriminalitas.
VI. Ritual, Perjanjian, dan Energi Negatif
Isma membagikan kisah tentang pasangan suami-istri yang
membeli rumah kolonial luas pada tahun 1960-an. Suami-istri ini memiliki
anak-anak yang masih kecil sehingga harus memperkerjakan baby sitter.
Namun, baby sitter tidak pernah betah. Suami sakit muntah darah tanpa
sebab medis jelas. Suami ini kemudian datang ke “orang pintar”, yang
menyarankan ritual menabur garam setiap malam sebelum purnama dalam keadaan
telanjang. Ritual suami pas pertama kali gagal setengah jalan, lalu dilanjutkan
istri.
Kemudian di dalam mimpi, si suami didatangi penunggu rumah
yang marah karena tidak “kulon nuwon.” Terjadi perjanjian: makhluk halus diberi
ruang kembali, jika tidak akan mengganggu keturunan beberapa generasi.
Konsekuensinya mengerikan. Halaman belakang berubah menjadi
semacam “pasar hantu.” Warga yang ronda melihat keramaian dengan orang-orang sibuk di dalamnya tapi berwajah pucat.
Pada akhirnya pasangan itu meninggal tak wajar, rumah dijual, lalu dihancurkan. Ketika tanah bekas rumah itu diganti dengan koperasi, bahkan koperasi yang berdiri di atasnya bangkrut. Warga percaya energinya masih
terpancar. Di sini, rumah bukan sekadar bangunan, tetapi medan perjanjian
antara manusia dan entitas lain.
Isma juga membagikan kisah perempuan yang putus asa mencari kerja
dan berkata, “Setan saja tidak kerja bisa hidup.” Perempuan ini kemudian
diterima bekerja di rumah Joglo yang ternyata kosong tiga tahun. Ia merasa
rumah itu bersih, dan dia melakukan kerja-kerja domestik: mencuci piring, baskom lodeh, dua baju
putih. Namun posisi barang selalu kembali seperti semula. Tetangga heran karena
rumah itu kosong. Setelah minum air dari orang pintar dari kenalan yang dia datangi, ia
melihat wajah asli rumah sebenarnya yang berantakan, berubah muram, dan dua pocong mendekat. Dua orang yang memperkerjakannya, Bu Haji dan Pak Haji, dijadikan avatar oleh dua pocong tersebut.
Si perempuan itu pun pingsan. Narasi
menyimpulkan bahwa ucapannya memanggil hal-hal yang tidak dia inginkan menjadi suatu realitas nyata. Ia “diperlihatkan”
pekerjaan para pocong, seolah membantah ucapannya sendiri. Di sini, horor
menjadi refleksi keputusasaan, energi negatif, dan proyeksi psikis.
VII. Hantu Sebagai Pelindung?
Dalam diskusi ini, Akbar juga mempertanyakan: Adakah hantu
yang bukan menakut-nakuti, tetapi melindungi? Varian seperti guardian angel
atau khodam disebut. Entitas ini digambarkan Akbar sebagai sosok yang sifatnya
tidak mengganggu, tapi malah melindungi.
Nurizky berpendapat bahwa jika ada pelindung, ia bukan
menjaga rumah, tetapi menjaga orang. Ada yang “dipilih”, ada yang “diskip”.
Penjagaan bisa muncul dalam bentuk firasat. Ada sosok penjaga dengan nama-nama
tertentu seperti panji, berbentuk macan, kadang menjelma bayangan kucing yang
lewat. Yang dijaga adalah orangnya, bukan bangunan.
Sulkhan menanggapi, dalam konteks pesantren, ada penjaga
rumah atau penjaga kiai. Namun pada umumnya, di Indonesia yang dijaga adalah
orangnya. Rumah bisa saja kemalingan tanpa “bantuan”, tetapi orang yang dijaga
mendapat peringatan.
VIII. Dimensi Psikologis dan Persepsi
Nurul menyebut konsep “residual energi”, energi emosional
yang tertinggal dari tragedi. Rumah menyimpan memori aktivitas masa lalu
semisal bunuh diri. Dampak dari aktivitas itu terus berjalan dalam dimensi
berbeda.
Selain itu, Nurizky juga menyentuh isu: skizofrenia,
halusinasi, dan stres berat dapat membentuk pengalaman gaib. Dia juga
menceritakan pengalaman mendengar suara (bukan suara batin biasa), yang digambarkan
sebagai percakapan timbal balik. Jawaban yang muncul tidak sepenuhnya dikenali
sebagai dirinya sendiri. Semacam ada pluralitas: suara masa kecil, suara
kini, dan dua suara lain yang tak dikenal. Dalam konteks ini, latihan batin
bukan hanya memperdalam kesadaran diri, tetapi juga memperlebar kemungkinan
interaksi dengan entitas. Meditasi disebut sebagai salah satu pintu pembuka.
Namun pengalaman ini menurut Nurizky ambivalen. Entitas ini
bisa membantu menjawab persoalan spontan, tetapi juga mengganggu, seperti menarik
selimut, menghadirkan bayangan, memicu insomnia sejak SMA. Ketika mencoba
meminta agar gangguan dikurangi, respons yang dia dapat ambigu. Nurizky melanjutkan, narasi
tentang kapasitas manusia memiliki “penjaga” hingga ratusan entitas
memperlihatkan imajinasi kuantitatif atas metafisik. Ketika jumlahnya
“kelebihan”, dampaknya disebut menyerang fisik dan mental, bahkan memengaruhi
emosi dan relasi sosial.
Dalam beberapa situasi, ia merasa seperti “dibantu menjawab”
sesuatu. Namun bantuan itu tidak selalu membawa ketenangan. Nurizky pernah
membantu orang menggunakan tarot, tetapi merasa tidak nyaman karena seperti adu
nasib. Ia juga pernah mendatangi paranormal, tetapi justru merasa paranormal
tersebut “kalah” atau tidak mampu mengatasi persoalannya. Ia pernah di kafe, ia
merasa bisa membuat es batu dengan gelasnya berbunyi. Ia menghubungkannya dengan kekuatan visualisasi. Namun lagi-lagi,
pertanyaan fungsional muncul: “Kalau mereka jagain, fungsinya apa?” Ia merasa
kadang hanya menjadi katalis sosial. Dia merasa terkadang ada orang-orang yang datang
padanya tanpa sebab, merasa nyaman, atau akrab meski ia kadang merasa pendiam dan ucapannya
terbata-bata. Menurutnya, itu benefit yang ia alami dari kehadiran entitas lain tersebut.
Nurizky sendiri justru meragukan konsep guardian angel.
Ia merasa entitas yang hadir tidak pernah memperkenalkan diri. Ia bahkan
mengimajinasikan struktur entitas tersebut seperti “instansi” atau “HRD” yang
merekrut dan menambah entitas—namun lagi-lagi ia bertanya: untuk apa?
IX. Rumah, Tanah, dan Dimensi Paralel
Nurizky mengembangkan gagasan bahwa rumah berdiri di atas
tanah yang sudah memiliki penghuni. Aktivitas yang kita sebut “penampakan” bisa
jadi hanyalah perbedaan dimensi waktu. “Satu hari kita bisa jadi seratus hari
di warga lain (dimensi gaib},” katanya. Ia membayangkan dimensi keempat,
kelima, keenam—ruang paralel di mana aktivitas tetap berlangsung.
Nurizky menambahkan, tanah kosong yang dibangun rumah bisa
saja sudah “berpenunggu”. Aktivitas yang terlihat mungkin bukan gangguan,
tetapi kebiasaan lama yang masih berlangsung. Warga halus beraktivitas, dan
ketika manusia tidak stabil atau sedang “sinkron” dengan entitas gaib, maka
terjadi penampakan.Yang terlihat sebagai penampakan bisa jadi hanya “sinkronisasi” antardimensi.
Ada gagasan bahwa waktu tidak selalu linier. Satu hari bagi
manusia bisa menjadi seratus hari bagi entitas lain. Komunikasi bisa terjadi
seperti percakapan biasa, tetapi sebenarnya terhubung dengan timeline
berbeda. Dia menyebut, portal hanya terbuka ketika diizinkan. Konsep ini
mendekati gagasan menggali memori bukan dari benda purba, tetapi melalui
manusia dan residu ruang. Seolah-olah seseorang bisa masuk sebagai penonton
dalam dimensi lain, lalu kembali.
Ada keyakinan bahwa manusia memiliki medan elektromagnetik
yang memungkinkan resonansi dengan “dimensi lain”. Dalam imajinasi ini, ketika
medan yang sama ditemukan, partikel dapat menyatu, membuka portal tapi tidak
harus merusak ruang fisik. Baginya, interaksi lintas dimensi bukan sekadar
tahayul, melainkan kemungkinan resonansi energi. Ia menegaskan, bukan berarti
menyinggung agama, tetapi menurutnya arwah tidak selalu langsung “naik.” Ada
kemungkinan mereka tetap beraktivitas, melihat anak-cucu tumbuh.
Rumah juga dikaitkan dengan materialitas tanah. Materi-materi di sekeliling kita bisa di ranah
domestik bisa menyimpan jejak yang tidak kasat mata. Tanah bukan benda mati; ia
menyimpan sejarah, bahkan potensi gangguan. Seperti urukan yang
tidak jelas asal-usulnya, atau memori tanah yang
terserap ke dalam bangunan.
X. Pola-Pola Hantu Rumah
Isma menjelaskan, narasi horor berkaitan dengan rumah muncul
dari beberapa pola:
1. Narasinya lokal dan personal, dan biasanya dihadapi oleh
penghuni baru, awam, dia tidak tahu apa-apa. Keawaman ini jadi pintu untuk
masuknya hal-hal gaib.
2. Cerita horor di rumah ini selalu berkaitan dengan sejarah
rumah atau pemilik sebelumnya. Cerita horor sering jadi mekanisme kontrol
sosial: misal, mengingatkan anak-anak agar tidak masuk ke area tertentu. Bisa
juga sebagai cara masyarakat melestarikan sejarah atau trauma kolektif,
contohnya rumah yang dulunya ada peristiwa tragis.
3. Ritual dan praktik “pembersihan”. Ada ritual tertentu
untuk “mengusir” atau “menenangkan” makhluk halus di rumah? Apa simbol atau
benda yang dianggap bisa menolak energi negatif (misal garam, dupa, patung)?
4. Dimensi psikologi dan persepsi: Fenomena horor bisa
muncul karena ketakutan, sugesti, atau pengalaman traumatis. Bagaimana orang
menafsirkan suara, bayangan, atau perasaan aneh di rumah? Kaitan antara cerita
horor dengan stres, kecemasan, atau pengalaman hidup penghuni.
5. Representasi ketakutan masyarakat terhadap ancaman nyata
(misal kriminalitas, keamanan anak). Teman sebaya yang diajak bermain saat kecil
mungkin mengekspresikan kecemasan atau pengalaman sehari-hari melalui narasi
yang menakutkan.
XI. Penutup dan Kesimpulan
Rumah berhantu bukan hanya soal makhluk halus, tetapi juga pertemuan
antara memori ruang, ketegangan sosial, sejarah yang tidak selesai, dan
imajinasi manusia. Rumah dalam percakapan ini tidak pernah hadir sebagai
sekadar bangunan fisik; ia muncul sebagai ruang liminal, tempat dimensi-dimensi
lain diyakini dapat bersinggungan secara langsung dengan manusia.
Ia sering kali berasal dari keangkeran alam yang kemudian
dijadikan bangunan, dan berhubungan dengan masa lalu ruang tersebut. Rumah
dilihat sebagai hasil “invasi” manusia atas tanah. Manusia sebagai pendatang
membangun peradaban di atas ruang yang mungkin sudah lebih dulu “dihuni”.
Ketegangan muncul antara manusia dan entitas yang dianggap terjajah. Narasi
berhantu sering berkisar pada perebutan ruang dan legitimasi untuk tinggal.
Beberapa alasan mengapa rumah berhantu: (a) Histori
berdirinya rumah: ada rumah yang berdiri di atas tanah terlarang, bekas rumah
sakit, bekas pasar zaman penjajahan, rumah dianggap mendokumentasikan tragedi.
(b) Konflik keluarga: ruang yang pernah menjadi lokasi bunuh diri atau konflik
berat, ketika dialihfungsikan (misal jadi kantor atau tempat ibadah), tetap masih membawa narasi sebelumnya. (c) Kiriman dan serangan psikologis: ketegangan
manusia versus manusia dapat memunculkan “teror” yang dibaca sebagai gangguan
gaib.
Diskusi Klenik Studies akan berlanjut pada 26 Februari 2026
dengan tema “Ilmu Hitam dan Kanuragan.” Jika edisi ini berbicara tentang rumah
sebagai ruang berhantu, edisi berikutnya akan masuk lebih jauh: ketika tubuh
manusia sendiri hingga barang-barang di sekitarnya menjadi sarana gaib.