Senin, 16 Maret 2026

Catatan Buku "The Virtuous Puppeteer" (Seni Para Penguasa Pikiran) karya Balqis Humaira

Ini salah satu bacaan paling brengsek dan berguna yang pernah gw baca. Gw baca ini hanya butuh waktu sekitar 2,5 jam untuk buku sepanjang 30 halaman. Agak lambat, tapi setiap halamannya gw kuningin. Si Balqis emang brengsek, gw gak peduli dia dikendalikan AI, atau dibuat dari AI, yang penting pikirannya dan tulisannya bukan AI. Gw beli buku ini di akun Lynk.id dia dengan harga 10 ribu. Buku tipis ini tebal sekali bobotnya. Ini link kalau mau beli: https://lynk.id/balqisable/22x7o56er32m/checkout

Gw tahu orang-orang kayak Balqis ini membahayakan sistem. Makanya dia bersembunyi di balik anonimitas dan avatar perempuan Timur Tengah yang cerdas, lugas, dan blak-blakan. Sementara bahasaku pakai lu dan gw dulu untuk mengimbangi bahasa Balqis.

Jadi ada 12 cara biar lu gak cuma jadi minion di papan catur, tapi juga jadi puppeteer:

1. Kill the "Nice Guy" (Matinya Si Paling Baik): Pertama, dia membuka untuk membunuh kesan diri lu sebagai orang yang "paling baik". Menciptakan aman sendiri di dunia yang kacau, ini cukup bodoh. Lu harus punya daya survival. Untuk itu, lu perlu jadi seorang "the virtuous puppeteer" (Seni Para Pengendali Pikiran). 

2.  Calculated Imperfection (Ketidaksempurnaan yang Terukur): Ini ngebuat lu lebih terasa manusiawi. Ada penelitian, kalau lu jenius, kesalahan lu bisa dimaklumi, tapi kalau lu biasa-biasa saja, lu dianggap bloon dan tak termaafkan. Intinya, ciptain bagian yang tidak sempurna di diri elu. Ini juga yang dilakukan dengan orang-orang hebat dan artis-artis di luar sana. Jangan perlihatkan diri lu yang terlalu sempurna, karena lu rentan dihujat kalau salah total.

3. The Reluctant Leader Strategy (Strategi Pemimpin yang Enggan): Jangan ambis jadi bos atau pemimpin. Lu punya kuasa nolak, itu bikin power lu lebih kuat. Bau mulut bisa dibauin semua orang, kecuali yang punya mulut.

4. The Common Enemy (Menciptakan Musuh Bersama): Tim kuat karena dia punya musuh bersama untuk dilawan. Musuh bersama yang kuat ada di dalam diri mereka sendiri. Ciptakan momen yang awalnya mereka tak bisa, jadi bisa; dari mereka yang tak percaya menjadi percaya. Musuh di sini gak selalu yang kelihatan, tapi juga yang gak kelihatan.

5. Operationalized Empathy (Empati Operasional): Kalau ada teman yang curhat sambil nangis, jangan ikutan nangis. Validasi mereka, dan seret mereka ke tempat yang lebih baik sesuai dengan rencana elu. Coba ciptakan ilusi mayoritas lewat metode orang-orang tarot, yang seolah itu ke mereka, padahal itu hal umum saja. Ini namanya "The Barnum Effect (Forer Effect)", yang biasa dipakai ramalan zodiak-zodiak.

6. The Law of Reciprocity Debt (Hutang Budi Abadi): Hutang budi bukan di saat moment Lebaran atau musim kasih hadiah, tapi di waktu saat mereka butuh banget, dan di moment yang mereka gak sangka-sangka. Mereka akan loyal ke elu tanpa lu minta.

7. Social Proof Engineering (Rekayasa Bukti Sosial): Ciptakan rekayasa kondisi, mereka mau karena kepengenan mereka sendiri, bukan karena paksaan dari elu. Semacam Bandwagon Effect, orang loncat bukan karena tahu tujuannya, tapi karena gerbong itu lebih meriah. Orang makan di restoran bukan karena restoran itu enak, melainkan karena itu ramai.

8. Gashligting for the Greater Good (Gaslighting Demi Kebaikan): Pelajari letak inti ilmu gaslighting. Caranya bukan dari sama-sama menyerang ke luar, tapi diarahkan dari luar ke dalam. Termasuk, misalnya, dengan menyerang "identitas" atau "integritas" mereka. Bingkai pengeorbanan yang mereka lakukan adalah investasi buat mereka sendiri.

9. The Cult of Personality Code (Kode Etik Kultus): Buat bendera atau simbol-simbol tertentu sebagai totem. Ciptakan seragam bersama yang bedain antara klub elu dan klub lain. Buat jadi lebih eksklusif, miliki bahasa-bahasa sendiri.

10. Weaponized Humility (Kerendahan Hati sebagai Senjata): Praktik nyatanya, kalau bos lu bilang karya lu sampah, akui saja dengan rendah hati, baiklah, memang begitu, dan saya akan belajar. Tapi kata-katanya manis, dengan begitu elu gak cuma bikin situasi berbalik, massa berpihak sama elu, tapi juga bikin bos yang ngata-ngatain elu jadi kelihatan buruk. 

11. The Teflon Shield (Perisai Anti-Lengket): Bagi gw pribadi, ini penting banget. Karena sifat teflon, meskipun lu goreng telur gosong, ngebersihinnya gampang, dan lu gak larut sama kotoran yang diciptakan di atasnya. Lu perlu jadi pribadi yang kayak gitu juga. Kalau perlu, dalam mengerjakan sesuatu, punyai kambing hitam dan gunakan doktrin tangan bersih. Jangan kotori tangan lu sendiri, meskipun elu otaknya.

12. The Legacy Trap (Perangkah Warisan): Ciptakan situasi atau kualitas di mana elu seperti pasak bumi, bukan sekrup yang bisa digantikan oleh orang lain. Kalau kamu tahu prosedurnya 100 persen, jangan berikan seluruhnya, sisakan 20 persen sebagai rahasia. Ini yang disebut dengan centralization of vital complexity. Kedua, pakai ,, ilang bentar dan tunjukkan kalau lu gak ada kantor bakalan bangkrut atau tutup. Terus lu kembali lagi menyelesaikan semua.

Meski begitu, ada beberapa pertidaksetujuan gw:

1. Gw kurang cocok sama ide buat diri lu sendiri jadi pusat semesta seperti yang ditawarkan di poin 12. Warisan bagi gw tetap penting selama itu warisan positif, tapi membuat sistem ketergantungan sama diri gw itu bukan gw banget. 

2. Ada peribahasa semakin lu keras genggam pasir, semakin pasir itu lepas. Nah, 12 prinsip ini barangkali hanya bekerja dalam kondisi tertentu. Banyak benarnya, tapi malah jadinya tidak menunjukkan elu orang, tapi nunjukin lu diktator baru. Ide-idenya memang Machiavelian, jadi perlu hati-hati biar trik-trik ini secara alamiah bekerja sesuai jalurnya.

3.  Ilmu-ilmu ini bisa langsung dipraktikkan kalau elu punya skill yang mumpuni. Jangan coba-coba, misal lu tipe orang yang gak pandai akting, terus mencoba ini. Fake elu bakalan kelihatan banget. Melakukan tips-tips ala Balqis ini perlu jam terbang panjang dan perlu mengubah total software otak lu jadi seorang "player". Tulisan ini bisa jadi switch yang besar bagi mereka yang berjalan di hidup yang lurus yang menjunjung nilai 

Ihdinash-shirâthal-mustaqîm
(اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ).

4. Dimensi buku ini begitu intelek (otak) dan menyerang atau meng-hack secara psikologis, tapi lupa ada unsur spiritualitas atau faktor X yang berperan juga.

5.  Menjalankannya perlu hati-hati, dan setidaknya lu punya privilege, paling tidak di tingkat pikiran dan itung-itungan yang tepat.

Yang membuat gw terinspirasi dari buku ini:

1. Setelah baca ini, Balqis buat gw jadi manusia yang gak polos lagi. Gw lihat orang juga jadi gak polos lagi, tapi bisa mengenali motif-motif di baliknya. Kenapa mereka seperti itu? Kita punya pilihan untuk menjadi seorang puppeteer dengan bijak. Gak semua orang memang baik, dan kalau lu terlalu baik, lu bisa dimakan dan jadi korban orang yang lebih berkuasa dari elu.  

2. Emosi orang lebih penting dibandingkan dengan intelektual dan fakta. Jadi, senjata utama untuk memenangkan emosi orang adalah mengenali hasrat utama mereka, insekuritas mereka, dan dimensi-dimensi dasar mereka, seperti cinta, bahagia, ketakutan, dll. Kalau lu paham ini, lu bisa jadi teflon yang gak kena getah-getah sampah itu, tapi juga bisa bantu menyeretnya ke sesuatu yang lebih baik.

3. Buku ini ngebawa gw lebih paham sama diri gw sendiri, masyarakat, dan lingkungan sekitar gw. Klise, tapi ini repetisi tak henti-hentinya yang selalu gw pegang saat belajar. 

Kamis, 12 Maret 2026

I am Ready to be Forgotten, More Than Ready

I feel overwhelmed and so much overthinking with many things, even it is just a small thing. I want to stop. I never need a validation, I will close that curtains of performance. Social media is not my nature pool. It is messy, creepy, exhausted, mental static... It makes me feeling hurt as easy as I use it: more cynical, colder, defensive. 

I want to find my own voice again, quiet, imaginative, and untainted by the judgement of the public eye. I want to step away from public gaze. I am not trading my peace with like or love or comment or share or repost.

I choose private. And of course, I am ready to be forgotten, even, more than ready.

Selasa, 10 Maret 2026

Hidup di Zona Ekstraksi Tambang pada Masyarakat Sagea

“Hidup di Zona Ekstraksi: Dinamika Masyarakat Sagea, Halmahera Tengah di Tengah Industrialisasi Nikel”
Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia
Selasa, 10 Maret 2026 | 10.00–11.30 WIB | Zoom

Narasumber: Supriyadi Sudriman (Koalisi Save Sagea / SEKA)
Moderator: Geger Riyanto


Pengantar Diskusi

Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Hidup di Zona Ekstraksi: Dinamika Masyarakat Sagea, Halmahera Tengah di Tengah Industrialisasi Nikel”. Diskusi ini bertujuan memberikan gambaran mengenai situasi sosial, ekologis, dan politik yang terjadi di Sagea, Halmahera Tengah, di tengah ekspansi industri nikel.

Moderator, Geger Riyanto, dalam pengantarnya menjelaskan bahwa kawasan Teluk Weda menjadi salah satu pusat perkembangan industri nikel di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sejak sekitar 2017–2019, aktivitas eksplorasi dan industrialisasi nikel meningkat pesat, terutama setelah masuknya investasi besar, termasuk dari Tiongkok. Perkembangan ini terhubung dengan model kawasan industri seperti yang juga berkembang di Morowali.

Dalam sistem industri tersebut, keberadaan industrial park seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) menjadi penting karena berfungsi sebagai offtaker atau pembeli utama nikel. Kehadiran kawasan industri ini membuat tambang-tambang yang sebelumnya tidak aktif dapat kembali beroperasi karena adanya kepastian pasar.

Namun, menurut Geger, perkembangan industri tersebut juga memunculkan berbagai persoalan sosial dan ekologis di tingkat lokal. Di wilayah seperti Sagea, masyarakat pesisir mulai merasakan perubahan lingkungan, misalnya keruhnya air sungai akibat aktivitas pertambangan di hulu. Bahkan, dalam perkembangan terbaru, terdapat 14 warga Sagea yang diperiksa aparat setelah dilaporkan oleh perusahaan terkait konflik dengan aktivitas tambang.

Diskusi ini diharapkan dapat memberikan perspektif langsung dari masyarakat yang hidup di wilayah terdampak.


Paparan Narasumber

Supriyadi Sudriman, yang merupakan bagian dari Koalisi Save Sagea (SEKA) sekaligus warga Sagea, memulai paparannya dengan menjelaskan perbedaan cara pandang antara wacana pembangunan di tingkat nasional dan pengalaman masyarakat di daerah.

Menurutnya, di tingkat pusat nikel sering dibicarakan dalam kaitannya dengan agenda global seperti energi bersih dan mobil listrik. Namun bagi masyarakat di wilayah yang menjadi lokasi ekstraksi, pengalaman yang dirasakan sangat berbeda.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat Sagea telah lama berhadapan dengan ekspansi pertambangan, bahkan sebelum industri nikel berkembang pesat di Teluk Weda. Dalam kehidupan masyarakat Sagea, terdapat nilai-nilai budaya yang mengatur hubungan manusia dengan alam.

Salah satu ungkapan yang dikenal dalam masyarakat Sagea adalah “Ngat rori tarori, ite ror e ite roo”, yang berarti bahwa milik kita adalah milik kita dan milik orang lain adalah milik orang lain. Prinsip ini menekankan penghormatan terhadap batas kepemilikan dan keberadaan pihak lain.

Selain itu terdapat prinsip “Myo facici ie”, yang berarti mengambil dari hutan atau alam secukupnya. Nilai ini menolak sikap rakus terhadap alam dan menekankan keseimbangan dalam pemanfaatan sumber daya.

Dalam kehidupan masyarakat Sagea, salah satu pusat kehidupan adalah Sungai Sageyen (Woye Sageyen). Sungai ini menjadi sumber air, pangan, dan berbagai aktivitas sosial masyarakat. Supriyadi menegaskan bahwa bagi masyarakat Sagea, mineral paling berharga bukanlah nikel, melainkan air.

Peradaban kampung Sagea dibangun di sekitar sungai tersebut, yang juga memiliki makna simbolik dan sakral dalam kosmologi lokal. Dalam tradisi masyarakat, dikenal kisah tentang dua figur simbolik: Bokimaruru, sosok perempuan yang menjaga sungai, dan Legaya Lol, yang melambangkan kekuatan pengetahuan dan kepemimpinan. Kisah ini menggambarkan relasi yang tidak terpisahkan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial.

Dalam konteks tersebut, masyarakat Sagea memiliki ungkapan:
“Hutan lestari, sumber air mengalir. Hutan binasa, air mata mengalir.”

Menurut Supriyadi, ungkapan ini menjadi sangat relevan ketika masyarakat mulai merasakan dampak perubahan lingkungan. Ia menyebut bahwa sejak sekitar 2013 masyarakat mulai merasakan ancaman terhadap keberlanjutan sumber air dan hutan mereka.

Merespons situasi tersebut, pada sekitar tahun 2014 muncul gerakan masyarakat yang kemudian dikenal sebagai Save Sagea. Gerakan ini bertujuan mempertahankan kampung dan identitas masyarakat di tengah ekspansi industri ekstraktif.

Dalam paparannya, Supriyadi mengutip sebuah ungkapan yang menggambarkan situasi yang dihadapi masyarakat saat ini: “Rendah karbon, tinggi korban.”

Ia menjelaskan bahwa narasi global mengenai transisi energi dan pengurangan emisi karbon sering kali tidak memperhitungkan dampak yang dialami masyarakat lokal yang hidup di wilayah ekstraksi. Ketika negara berbicara tentang agenda besar pembangunan dan energi bersih, masyarakat di tingkat komunitas justru menghadapi berbagai konsekuensi sosial dan ekologis.

Sejak sekitar 2018, kawasan Teluk Weda mengalami percepatan industrialisasi dengan hadirnya berbagai perusahaan yang terhubung dengan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Beberapa perusahaan yang disebut dalam diskusi antara lain Weda Bay Nickel, Karunia Sagea Mineral, Putra Prima Sejahtera, First Pacific, Gamping Mining Indonesia, dan Kaia Pilar Indonesia.

Menurut Supriyadi, aktivitas perusahaan-perusahaan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan sistem sungai yang bermuara ke Teluk Weda. Limbah dan sedimen dari aktivitas pertambangan di hulu pada akhirnya mengalir ke wilayah pesisir dan laut, sehingga mempengaruhi kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya perairan.

Selain dampak ekologis, industrialisasi juga memunculkan perubahan sosial yang signifikan. Kehadiran kawasan industri menarik migrasi tenaga kerja dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda. Hal ini mengubah struktur sosial komunitas lokal yang sebelumnya relatif kecil dan homogen.

Banyak warga yang sebelumnya bekerja sebagai petani atau nelayan akhirnya kehilangan akses terhadap sumber penghidupan mereka. Dalam situasi tersebut, sebagian masyarakat kemudian bekerja sebagai buruh di industri yang sama yang sebelumnya mengubah lingkungan hidup mereka.

Supriyadi juga menggambarkan kondisi lingkungan di sekitar kawasan industri, termasuk asap pabrik yang terasa di mata dan hidung serta meningkatnya kasus penyakit pernapasan seperti ISPA. Di beberapa wilayah seperti Lelilef dan Gemaf, masyarakat juga mulai merasakan berbagai perubahan sosial, termasuk konflik kecil di masyarakat dan meningkatnya tekanan sosial dalam kehidupan keluarga.

Menurutnya, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri sering kali harus menanggung beban ekologis yang besar, sementara wacana pembangunan di tingkat nasional lebih banyak menekankan manfaat ekonomi dan kontribusi terhadap agenda energi global.

Ia juga menyampaikan kritik terhadap respons pemerintah daerah dan pemerintah provinsi yang dinilai belum memberikan perhatian memadai terhadap kekhawatiran masyarakat pesisir.

Bagi masyarakat Sagea, perjuangan mempertahankan wilayah mereka bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan martabat, kedaulatan komunitas, serta masa depan generasi berikutnya.

Dalam presentasinya, Supriyadi juga menampilkan gambar Danau Lagaelol, yang terhubung dengan laut dan menjadi salah satu sumber protein penting bagi masyarakat Sagea serta kampung-kampung sekitar seperti Fritu dan Gemaf. Danau tersebut selama ini menjadi tempat masyarakat memperoleh kerang, ikan bandeng, dan berbagai sumber pangan lainnya.

Namun dengan berkembangnya aktivitas industri di wilayah tersebut, masyarakat mulai merasa khawatir terhadap keamanan sumber pangan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.


Sesi Tanya Jawab

Pada sesi diskusi, moderator menyinggung konsep “cheap nature” atau alam murah, yaitu kondisi ketika sumber daya alam diperlakukan seolah-olah tidak memiliki biaya sosial dan ekologis. Dalam model pembangunan seperti ini, negara memberikan konsesi kepada perusahaan tanpa memperhitungkan dampak lingkungan dan sosial yang harus ditanggung masyarakat lokal.

Menanggapi hal tersebut, Supriyadi menyatakan bahwa sejak awal masyarakat Sagea melihat kehadiran perusahaan sebagai potensi ancaman terhadap kehidupan mereka. Dalam berbagai kegiatan komunitas, Save Sagea berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak industri ekstraktif melalui diskusi, pemutaran film, serta pendidikan komunitas.

Pertanyaan lain menyoroti dilema yang dihadapi masyarakat, di mana sebagian warga berharap pada lapangan kerja dari industri, sementara sebagian lainnya khawatir terhadap dampak ekologis.

Supriyadi menjelaskan bahwa Save Sagea tidak memusuhi warga yang bekerja di industri. Banyak anggota komunitas mereka sendiri yang bekerja di perusahaan tambang atau industri terkait. Menurutnya, situasi tersebut lebih merupakan bentuk keterpaksaan karena masyarakat kehilangan alternatif sumber penghidupan.

Dalam beberapa kasus, Save Sagea bahkan menjadi tempat bagi warga untuk menyampaikan keluhan terkait kondisi kerja maupun persoalan keselamatan di tempat kerja.

Pertanyaan lain menyinggung apakah terdapat kepercayaan lokal mengenai “kutukan” ketika alam dieksploitasi secara berlebihan. Supriyadi menjelaskan bahwa dalam budaya Sagea terdapat keyakinan bahwa alam harus diperlakukan dengan keseimbangan. Ketika manusia mengambil terlalu banyak dari alam secara rakus, maka alam akan “marah”, yang dalam konteks modern dapat dipahami sebagai munculnya bencana seperti banjir atau kerusakan ekosistem.

Diskusi juga menyinggung dampak yang dirasakan secara berbeda oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Menurut Supriyadi, perempuan merupakan salah satu kelompok yang merasakan dampak paling langsung, karena banyak aktivitas sosial perempuan berlangsung di wilayah sungai dan perairan. Ketika wilayah tersebut berubah menjadi kawasan industri, ruang sosial perempuan juga ikut hilang.

Selain itu, masyarakat juga melaporkan meningkatnya kasus penyakit pernapasan seperti ISPA di wilayah Teluk Weda. Namun menurut Supriyadi, data tersebut sering kali tidak muncul dalam laporan resmi di tingkat pemerintah yang lebih tinggi.

Pertanyaan mengenai hubungan Save Sagea dengan pemerintah daerah dan akademisi juga muncul dalam diskusi. Supriyadi menjelaskan bahwa Save Sagea pernah terlibat dalam diskusi mengenai perlindungan kawasan karst bersama pemerintah dan akademisi, namun diskusi tersebut tidak berlanjut menjadi kebijakan konkret.

Ia juga menyampaikan kritik terhadap sebagian akademisi yang terlibat dalam penyusunan dokumen AMDAL untuk proyek pertambangan, yang menurutnya sering kali justru memberikan legitimasi terhadap eksploitasi sumber daya alam.


Penutup

Sebagai penutup, Supriyadi menegaskan bahwa perjuangan masyarakat Sagea menghadapi kekuatan industri yang sangat besar bukanlah hal yang mudah. Namun mereka akan tetap bersuara untuk mempertahankan kehidupan dan wilayah mereka.

Ia menutup dengan refleksi bahwa di tengah berbagai narasi besar tentang pembangunan dan energi, terdapat masyarakat di berbagai tempat yang berjuang mempertahankan ruang hidup mereka.

Menurutnya, perjuangan masyarakat Sagea merupakan bagian dari upaya mempertahankan kehidupan, martabat, dan masa depan generasi yang akan datang.

Senin, 09 Maret 2026

Catatan Buku "Bersama Para Kamerad" karya Arundhati Roy


Ketika hendak mengulas sebuah buku, biasanya aku akan memulai dengan entri tertentu yang aku merasa dekat. Aku tak perlu membahas sesuatu yang aku tak paham, sebab bagiku itu tak hanya melelahkan, tapi juga membuatku ketika menulis merasa tidak nyaman. Setelah membaca buku Arundhati berjudul "Bersama Para Kamerad" ini, aku pernah memikirkan satu entri poin yang menurutku penting. Tapi ingatanku sebegitu rapuhnya, sehingga aku lupa pintu masuk yang kumaksud itu. Akhirnya, aku masuk ke pintu lain. Begini ceritanya...

Saat aku kuliah di UIN Jogja dulu, menjadi aktivis LPM Arena, aku ditawari untuk menjadi proofreading (entah mengulas) buku dari pejuang Timor Timur. Buku itu berjudul "Timor Timur: Sebuah Memoar" yang ditulis oleh Naldo Rei, dan disunting oleh Linda Christanty. Buku itu rasanya begitu pekat, sedih, dan lembar demi lembar adalah catatan luka yang terasa sesak ketika kamu baca. Wajah kemanusiaan digambarkan se-raw itu di antara perjuangan di hutan-hutan, derap perang, dan darah. Meski tak sepekat narasi Naldo Rei, Arundhati Roy kurang lebih menuturkan suatu perjuangan yang kurang lebih sama: melawan penjajahan dari mereka yang punya kuasa terhadap mereka yang dianggap pemberontak.

Aku mengoleksi sekitar tiga buku Arundhati di kosku, tapi baru ini yang pertama kubaca. Aku cukup shock ternyata penulis perempuan yang sepertinya bertubuh kecil itu punya keberanian yang sangat besar untuk melakukan turun bawah (turba) di sebuah kamp terlarang, tepatnya di Hutan Dandakaranya, India. Dia melakukan suatu liputan etnografis terkait perjuangan sekelompok masyarakat adat dan marjinal yang menolak tanah mereka menjadi ladang eksploitasi tambang pemerintahan yang berkuasa saat itu. Rezim yang sewenang-wenang melakukan pembunuhan, pembakaran, pemerkosaan, dan pencurian besar-besaran melalui instrumen berseragam mereka. Operasi Salwa Judum inilah biang keroknya. Ketika kau mengetik, "salwa judum", kau akan menemukan banyak pelanggaran yang dilakukan mereka atas tindakan tidak beradab yang mencoreng nilai-nilai kemanusiaan.

Perlawanan itu terhimpun dalam sekelompok golongan yang disebut Naxal, yang memiliki nama lain pengikut ajaran Mao. Inti ideologis kelompok ini adalah berbasis pada pemikiran Mao Zedong, yang percaya bahwa revolusi bisa dipimpin oleh petani. Mao berfokus pada masyarakat agraris, percaya pada strategi perang gerilya dari desa ke kota. Mao percaya petani adalah kekuatan revolusi utama, bukan hanya buruh kota saja. Ini tentu berbeda dengan pandangan Leninisme (yang basisnya buruh industri dengan strategi utama partai pelopor di tingkat nasional), Trotskisme (berbasis kekuatan buruh dengan skala revolusi yang internasional), dan Stalinisme (revolusi dengan sentralisasi kekuasaan ekstrem, industrialisasi cepat). Tentu isme-isme ini berfondasi pada pemikiran Karl Marx bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas. 

Berbekal kekuatan para petani yang kehilangan tanah, rumah, dan keluarganya itulah; kemarahan ini disulut. Perlawanan ini terjadi di daerah-daerah dengan kekayaan mineral yang kaya, di Chhattsgarh, Jharkhand, Orissa, dan Bengal Barat. Di sini, secara telaten, Arundhati juga menceritakan berbagai kamerad-kamerad yang ditemuinya sepanjang perjalanan: 

Chandu, Mangtu, Didi, Kamerad Mahdav, Kamerad Narmada (sosok yang bertanggungjawab di Krantikari Adivasi Mahila Sangathan/KAMS yang kepalanya punya label harga), Kamerad Saroja dari PLGA, Kamerad Maase (perempuan hitam di Gondi), Kamerad Roopi (sang penyihir teknologi), Kamerad Raju, Kamerad Veny/Muralli/Sonu/Sushil (yang paling senior dari Komite Sentral atau Politbiro). Kamerad Kamla. Setiap kamerad-kamerad ini mempunyai kisah-kisahnya sendiri. Salah satu sobat yang paling kuingat adalah dia yang membawa sepeda. Sepeda selalu mengingatkanku dengan diri sendiri.

Hal yang sangat menggugahku adalah bagaimana Arundhati menganggap bahwa tidur di hutan yang penuh kesusahan, capek, kelegaan tak terkira itu nilainya lebih tinggi daripada tidur di hotel mewah mana pun! Dia juga tak pernah mengeluh meskipun dia perempuan, punya disleksia arah, kekurangan makanan, mungkin tidurnya tak nyenyak, tapi dia menganggap bahwa apa yang dia lakukan adalah suatu "tugas mulia". Arundhati bekerja bukan untuk dirinya, tapi untuk kepentingan yang lebih tinggi dari golongan minoritas yang dianggap hama yang perlu dibasmi. Arundhati menulis dengan nada menyentuh seperti ini:

Ini adalah kamar paling indah yang pernah kutiduri selama ini. Sebuah kamar khusus di sebuah hotel berbintang seribu. Aku terkepung oleh keasingan, bocah-bocah luar biasa dengan kantong senjata yang aneh... Kenapa mereka harus mati? Untuk apa? Hanya untuk mengubah dan menukarnya dengan tambang?. . . Aku tak menyangka keberadaanku di sini akan sebahagia ini. Tidak akan ada lagi tempat-tempat di dunia yang ingin aku kunjungi. (25-27) 
Para pejuang dalam buku ini digambarkan sangat beragam latar belakangnya. Ada yang masih anak-anak, ada yang ibu-ibu atau orang tua yang kehilangan anaknya, ada para remaja, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama berjuang. Perjuangan ini tidak mengenal gender. Aku terenyuh saat di bagian ketika para pejuang ini secara logistik dibatasi, mereka tak boleh membeli sembako yang dibutuhkan karena pasarnya dijaga aparat, para kamerad yang kepalanya seolah ada label harganya, hingga perempuan terpaksa tidak bisa haid lagi. Belum lagi kondisi kesehatan dan pengobatan yang sangat terbatas. Tentu akan sangat sedikit menemukan dokter yang mau bekerja di kondisi seperti itu, dengan persediaan obat yang juga sangat terbatas. Aku ingin menangis. Masa depan tak ada harganya di depan mereka.

Di buku ini juga diceritakan tentang kebudayaan khas Naxal, dari pakaian khas mereka, persenjataan mereka, hingga tradisi bertemu keluarga di sebuah lapangan besar. Khususnya saat berkumpul dan menari dalam perayaan Bhumkal. Aku sangat tertarik dengan kerja-kerja yang dilakukan Arundhati menulis terkait hal-hal marjinal seperti ini. Karena katertarikan awalku membeli buku ini adalah, aku sudah mendapat getaran jika dia akan mengulas hal-hal yang aku hidupi sejak dulu: studi marjinalitas.

Terbagi ke dalam 20 bagian, Arundhati menulis ini tidak sepenuhnya mirip dengan catatan harian. Namun, dia mengelompokkan ke bagian-bagian tertentu sehingga memudahkan untuk dibaca. Sebenarnya tidak terlalu tebal, bisa kamu baca sekali duduk, dengan tambahan foto-foto di lapangan dan lembaran khusus "quote" untuk mempertebal part-part penting, buku ini jadi bacaan penting untuk mempertebal humanisme di siatuasi konflik (atau perang). 

Buku ini diberikan pengantar yang sangat baik oleh Hilmy Firdausy, meskipun bagian-bagian buku yang dikutip dari Arundhati tidak berhubungan langsung dengan isi buku, melainkan dengan karya Arundhati yang lain. Dari pengantarnya, keresahan dan kritik Arundhati menjadi terang benderang. Pengantarnya adalah salah satu pengantar terbaik, dari berbagai buku yang pernah kubaca. Judulnya, "Lipatan Fiksi Arundhati Roy, Walking with The Comrades dan Problem Pascakolonial". Dia membaca dari POV kajian poskol. Aku mengutipnya sangat banyak di bagian "Kutipan". 

Di Islam Bergerak, salah khas yang kami berikan untuk para kamerad adalah "Lal Salam". Salam ini dipopulerkan oleh Mas Azka Fahriza. Setiap postingan, kami memakai salah "Lal Salam", untuk membalas email pun juga diakhiri salam tersebut, yang juga digunakan oleh para golongan Naxalite di buku Arundhati. Belakangan, aku baru ngeh, salam ini "Lal Salam" (लाल सलाम)  diambil dari bahasa Hindi/Urdu yang berarti "salam merah". Merupakan sapaan revolusioner yang oleh kaum sosialis dan komunis di Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, Nepal).

KUTIPAN:

Arundhati Roy terlibat dalam agenda kebudayaan bagaimana seharusnya "menulis" novel sekaligus mengembalikan novel sebagai sebuah "genre". (iii) 

Sastra menjelma tidak hanya sebagai novel atau fiksi, namun juga korpus historiografi, laporan antropologis hingga gelanggang perlawanan serta gugatan pada hegemoni. (iv) 

Realitas tidak hanya dijadikan bahan mentah dan dipilih hanya karena ia unik, epik, dan "lokal". Keunikan dan lokalitas hanya akan menjadi peneguh identitas "liyan" kala ia tidak disokong oleh suatu keresahan eksistensial berikut kejelasan mengenai apa yang hendak dilawan dan diperjuangkan. Dengan kata lain, ada latar belakang keberpihakan yang kuat sekaligus keresahan terhadap satu problem identitas... Arundhati tidak muluk-muluk. Ia melihat sekelilingnya, memaksimalkan keresahan dan mempersoalkan ketersudutan beberapa komunitas yang terpental dari tanahnya sendiri... Memintal pertanyaan-pertanyaan dan menyusun amarahnya menjadi mozaik-mozaik cerita. (iv) 

Sosok asing tiba-tiba datang mengomentari satu hal berdasarkan kemampuan berbahasa Inggrisnya yang sedang-sedang saja. Karena sudah menjadi ke makluman, kecongakan intelektual seringkali muncul dari orang yang baru setengah tahu, atau baru tahu... Tidak ada yang ingin dicapai kecuali monopoli makna dan identitas. (vii)

Kolonialisme memang selalu akan menemukan ruang kabur, hibriditas dan kebingungan-kebingungannya sendiri. Dan dalam kebingungan itu, obyek kolonial yang mulanya berupaya didisiplinkan, berbalik menatap dan keluar melawan. (viii) 

Arundhati melakukan gugatan atas seluruh aspek kolonialistik dalam kebudayaan beserta sempalan tradisi dengan konservatisme akut yang sudah terlanjur didaku sebagai yang asli dan fitrah. Arundhati juga menggugat kapitalisme, kecongakan negara yang baru kaya, tindak pembalakan dan setiap praktik ketidakadilan pada kelompok-kelompok minoritas. (ix) 

Ia fiksi karena tokoh-tokohnya dan plot ceritanya mungkin hanya rekaan semata. Ia nonfiksi karena problem, latar kesejarahan dan tragedi yang dipotret di dalamnya benar-benar terjadi di dunia nyata. (x) 

Keserakahan pihak-pihak yang diperbudak perutnya sendiri. (xiii) 

Yang lebih penting dan krusial sejatinya adalah keretakan mentalitas dan konstruksi imajinatif yang berujung pada pembelahan identitas, bahasa sampai kebudayaan. (xvii) 

Kata Arundhati, Orang-orang Maois tampaknya tidak terjebak dalam politik teritori semacam itu. Sebagai bagian dari hutan, mereka punya petanya sendiri. Peta itu terukir secara permanen dalam benak dan memori mereka. (xviii) 

Yang tidak boleh hilang dalam proses perjuangan adalah bahwa nyawa manusia tetap prioritas dan berada di atas segala-galanya. (xx) 

Bukan hanya mengalihbahasakan, tapi mendekatkan problem yang dimiliki Arundhati, menafsir ulang dan menyuguhkannya seakan-akan problem itu juga problem kita hari ini. Hilmy Firdausy. (xxi) 

Arundhati pada Februari 2010, diam-diam mengunjungi kamp terlarang di tengah Hutan Dandakaranya, India. Di sana ada masyarakat yang mengangkat senjata dari perampok dan eksploiter yang didukung negara. Ia hidup bersama gerilyawan, ini buku etnografis yang penuh darah, senjata, traktor, truk besar, dari kaum yang dipinggitkan dan diusir dari tanah sendiri. (hlm. xxv) 

Ada banyak cara untuk menggambarkan Dantewara. Ia adalah oksimoron. Sebuah kota perbatasan yang tepat berada di jantung India. Ia adalah pusat gelanggang peperangan. Luar dalam, Dantewara adalah kota yang serba terbalik. (3) 

Antagonisme di dalam hutan memang berbeda dan tidak setara hampir dalam segala hal. Di satu sisi pasukan paramiliter, di sisi lain masyarakat sipil yang terinspirasi gerakan Maois (Naxatile)... Pemberontakan telah menyebar melalui hutan-hutan kaya mineral di Chhattisgarh, Jharkhand, Orissa, dan Bengal Barat. Tanah air jutaaan masyarakat adat India, sekaligus surga yang menggiurkan bagi kaum korporat. (5) 

Pemilu palsu, parlemen sebagai kandang babi, dan secara terbuka ingin menggulingkan pemerintahan India. (6)

Pemerintah menggunakan dalih kemiskinan sebagai alat untuk melawan masyarakat adat. (7) 

Setiap kali pemerintah berbicara soal kesejahteraan masyarakat adat, saat itulah sebenarnya waktu yang tepat untuk merasa khawatir dan was-was.... Pemerintah negara bagian telah menandatangani ratusan MoU bernilai milyaran dollar untuk proyek industri besi, perusahaan bijih besi, pembangkit listrik, kilang minyak, bendungan, dan beberapa tambang. (8) 

Keywords: Sandwich Theory, PWG (Peoples War Group) faksi dari Communist Party of India), cordon and search, Salwa Judum, Dandakaranya, Charu Mazumdar, Kamerad Niti, Kamerad Vinod, 

Bahasa genosida dilumrahkan dan secara perlahan masuk ke dalam kosakata bahasa kita sehari-hari... Dana CSR menutupi ekonomi kotor yang menopang sektor pertambangan di India.(12) 

Keberadaan rumah sakit kanker di satu tempat menunjukkan keberadaan bauksit dengan gunung yang sudah rata di tempat yang lain. (13) 

Operasi Salwa Judum, kelompok vigilant yang ditakuti dan disponsori pemerintah serta bertanggung jawab atas praktik pemerkosaan, pembunuhan, pembakaran desa-desa, dipimpin oleh Mahendra Karma, anggota Kongres MLA. (14) 

Permasalahan dari masyarakat adat ini adalah mereka tampaknya tidak mengerti soal keserakahan. (16) 

Mereka adalah Peoples Liberation Guerilla Army (PLGA). Untuk merekalah detektor suhu dan senjata pengintai laser disiapkan. Dan untuk mereka juga Jungle Walfare Training School diadakan. (29) 

Tidak ada yang disia-siakan dalam perjalanan menuju revolusi. (33) 

Membangkitkan kebencian diri. 

Operasi pembersihan wilayah yang ditujukan untuk memindahkan orang-orang dari desanya ke kamp-kamp pinggir jalan, tempat mereka diawasi dan dikendalikan. Dalam istilah militer, hal itu disebut sebagai strategi hamleting. (55) 

Gadis-gadis (atau anak-anak) tetap tinggal di dalamnya sebagai "perisai" manusia. (59) 

Salwa Judum sejatinya adalah operasi gabungan antara Pemerintah Negara Bagian Chhattisgarh dan Partai Kongres yang berkuasa di pusat. Maka ia tidak bisa dibiarkan gagal... Terbagi ke dalam CAF, CRPF, BSF, ITBP, CISF... Kebijakannya penuh kemesraan, winning hearts and minds...(61) 

Tata Steel dan Essar Steel adalah pemodal utama yang berada di balik Salwa Judum. (62) 

50 orang dari masyarakat adat disewa. Media merilis berita-berita bohong agar iklan masuk dan laku. 

Sedangkan iklan-iklan di yang berserakan di televisi, yang telah mencuci otak anak-anak kecil bahkan sebelum mereka mampu berpikir, tidak dilihat sebagai proses indoktrinasi. (67) 

Keyakinan, harapan, dan cinta mereka untuk partai. Aku menemukan letupan itu berkali-kali dalam wujudnya yang paling dalam dan bentuknya yang paling personal. (70) 

Dalam hal konsumsi, ia lebih Gandhian daripada Gandhian-Gandhian lainnya. Ia juga meningalkan lebih sedikit jejak karbon dibanding kelompok evangelis pejuang climate change lainnya. (73) 

Dalam peperangan ini, hanya orang mati yang namanya aman untuk dipakai. (79) 

Sebuah majalah seperti Frontline juga mengatakan kalau kami telah membunuh 18 masyarakat adat yang tidak bersalah. Bahkan K. Balagopal, seorang aktivis hak asasi manusia yang biasanya selalu berpijak pada fakta-fakta juga mengatakan hal yang sama... Balagopal mengakui kesalahannya...(89) 

Semakin banyak yang mereka bunuh, semakin banyak pula penghargaan yang akan mereka peroleh. Mereka dijuluki "Bravehearts", " Encounter Spesialist". (90) 

Dengan seluruh hal yang terjadi di sini, sungguh sangat disayangkan, bahwa satu-satunya yang bisa dilihat dari dunia luar hanyalah aspek ketakutan serta ideologi partai yang keras dari sebuah kelompok yang lahir dari masa lalu yang problematik. (99) 

Dia memang gila kerja. 

Jika ini bukan "peperangan jangka panjang," lalu apa?. . . "Saya sedang memikirkan para jurnalis yang tahun lalu datang ke Perayaan Bhumkal. Mereka datang satu dua hari. Salah seorang berpose dengan senjata AK saya. Kemudian mereka pulang dan meyebut kami sebagai mesin pembunuh atau sejenisnya." (103) 

Para komunis muda mengambil dan membawa klip-klip catatan untuk bahan latihan membaca. Mereka berkeliling di sekitar kamp sambil membaca artikel-artikel anti-Maois dengan lantang seperti penyiar radio. (109) 

Tidak ada klinik di hutan ini selain satu atau dua klinik di Gadchiroli. Tidak ada dokter. Tidak ada obat-obatan. (110) 

Naxalvad berarti keluarga kami. Saat kami mendengar sebuah serangan, itu sama saja berarti keluarga kami telah disakiti... Mao adalah seorang pemimpin, kami bekerja untuk visinya. (116) 

Di pasar.... Para wanitanya diawasi ketat. Jika mereka berbelanja terlalu banyak, polisi akan menuduhnya membeli untuk Naxal. Para kimiawan memberikan instruksi untuk tidak memperkenankan orang memberi obat-obatan kecuali dalam jumlah yang sangat kecil. Sembako murah dari Public Distribution System (PDS) disimpan di dalam atau dekat kantor polisi sehingga kebanyakan orang sulit membelinya. (119) 

Lagi-lagi, sebuah kamar premium di hotel berbintang seribu. Aku sakit. Hujan mulai turun. (121) 

Di satu malam, orang-orang ber kerumunan di sekitar titik cahaya seperti ngengat. Itu adalah komputer kecil Kamerad Sukhdev. (123) 

Hal itu adalah lampu pengingat, bahwa betapa mudahnya disiplin perjuangan bersenjata larut dalam sebuah tindakan "lumpen" kekerasan yang dididiskriminalisasi, atau larut dalam sebuah perang identitas bodoh di antara kasta-kasta, komunitas dan kelompok agama. Dengan melembagakan ketidakadilan dengan cara-cara tersebut, India sebenarnya telah mengubah dirinya menjadi sebuah kotak yang mudah terbakar oleh kerusuhan besar-besaran. (125)

Judul: Bersama Para Kamerad | Penulis: Arundhati Roy | Penerjemah: Hilmy Firdausy | Ceakan: Pertama, Maret 2022 | Penerbit: GDN, Tangerang Selatan | Jumlah halaman: xxiv + 138

Minggu, 08 Maret 2026

Catatan Buku "Potret-Potret Tak Berbingkai" oleh Siswa-Siswa SMA Santa Ursula Jakarta

Ketika aku menemukan judul buku ini di Shoppee, reaksi pertamaku satu, "Eureka!" Ini jenis buku yang aku cari-cari untuk memperkuat fondasi teoritisku di bidang yang kugeluti: studi marjinal. Ada beberapa alasan mengapa buku ini revelan: (1) sejak dulu aku menggiati isu pekerja sektor informal, (2) pekerja sektor informal untuk perempuan masih jarang dibahas, (3) aku punya rencana riset yang menyangkut pekerja sektor informal perempuan. 

Menariknya lagi, buku ini tidak ditulis oleh para akademisi handal lulusan luar negeri atau akademia lulusan universitas-universitas prominen, melainkan anak kelas I SMA! Bayangkan! Dan tambah lagi, ini ditulis oleh SMA Santa Ursula Jakarta yang notabene sekolah Katolik khusus perempuan yang cukup elite di kawasan Jakarta Pusat. Mereka dari golongan kelas menengah ke atas yang diajak untuk menyelami lika-liku kehidupan hutan belantara sektor informal yang menurutku cukup beringas ini. Yang secara kelas sosial hingga "ras" dan "agama" berbeda dari mereka yang ditelitinya.

Buku ini dikerjakan secara berkelompok, dengan banyak format (dari laporan jurnalistik, puisi, cerpen, sampai drama), serta yang paling menggugahku adalah di bagian "menurut kami". Bagian terakhir ini memperlihatkan sisi jujur dan personal para anak SMA yang ternyata sudah bisa berpikir secara dewasa. Mereka cukup kritis juga membaca kondisi sosial di sekitar. 

Banyak pekerjaan yang dibahas, jika kubagi ke dalam berbagai kluster akan menjadi:

Pertama, "pedagang pakaian, tas dan perhiasan". Di bagian ini dijelaskan seperti ibu-ibu dan bapak-bapak yang berjualan loak. Ada stereotip jika mereka adalah tukang tadah. Jika makanan bisa ada label halalnya, lalu bagaimana dengan pakaian? Ada juga mereka yang kena gerebek polisi, lalu menangis karena tak ada biaya tebusan. Termasuk kisah penjual yang punya omset per hati Rp500 ribu pada zaman itu. Termasuk protes para anak SMA dan pelaku sektor informalnya sendiri jika kecakapan kerja itu tidak bergantung jenis kelamin. Para siswa berkelana dari Pasar Baru, Jatinegara, Kawasan Blok M, Sarinah, dlsb.

Kedua, "pekerja malam (waitress, bargirl, pemijat, pelacur)". Kisah di sini yang menurutku paling beragam, dan bisa dikatakan suram karena stereotipnya kuat sekali. Waitress dan bar girl yang bekerja malam ini ternyata ada training-nya, dan ketika diidentikkan dengan pelacur, ini kesalahan besar. Termasuk juga pekerjaan sebagai pemijat, yang rata-rata dikerjakan oleh (maaf) mereka yang tunanetra. Padahal, pekerjaan ini sangat membantu juga bagi kaum difabel.

Terkait kisah pelacur yang mangkal di sekitar Monas (aku teriingat dengan novel Pramoedya terkait kisah dari Jakarta), ini aku ketawa-tawa, terlebih dengan kutipan spiritual yang intinya, "Tentu aku masih ingat Allah, kalau kesandung setidaknya mengucap, Ya Allah-Ya Allah." Termasuk juga kisah anak perempuan rawa yang dipaksa menikah dengan kakek-kakek. Dia menolak terus kabur ke Jakarta. Dia menemukan orang yang kelihatannya baik, tapi juga malah menyetubuhinya, hingga akhirnya anak rawa yang bisa renang berkilometer di laut ini menyerah dengan tuntutan perut.

Ketiga, "pedagang makanan dan kudapan". Nah, ini banyak pekerja yang dipotret, dari tukang bakso, penjual rujak, hingga pedagang asongan. Yang lucu dan absurd kisah pedagang asongan bernama Ayu yang disukai anak konglomerat bernama Angga. Dengan bantuan adik Angga bernama Inge, didekatilah si Ayu sampai ke rumah bedengnya. Tapi ortu Angga tidak setuju, pas diajak main ke rumah gedong, diusir secara gak langsung terus mati tertabrak. Ini ceritanya menggelikan, khas khayalan anak SMA memang, karena banyak part yang sepertinya susah dicerna secara realistis.

Keempat, "penjaga WC". Yang paling kuingat dari bab ini adalah kutipan dari seorang nenek yang menjaga WC, dia merantau dari desa ke Jakarta. Dia ikut orang yang disegani di Jakarta, disuruh sama orang ini untuk jaga WC. Kata Mbahnya, "Menderita dulu, nantinya nggak tahu!"

Kelima, "pembantu rumah tangga". Rata-rata PRT yang ada di Jakarta berasal dari kampung. Namun, nyaris semua cerita PRT yang ada di buku ini memiliki nasib baik. Seperti mendapat majikan yang menghormati mereka, dikasih gaji layak, hingga ada waktu berlibur khusus. Mereka juga memaafkan misal ada majikan cerewet karena dianggap itu memang sudah menjadi karakternya. Yang kasihan mungkin kisah TKW, terkhusus mereka yang disalurkan ke Arab Saudi. Bab pembantu ini mengingatkanku dengan kepindahan pertama ke Jakarta pertama kali. Awalnya, aku disambut dengan langit biru. Kemudian aku tinggal sekitar seminggu di rumah yang cukup berpunya di daerah Cipete. Lalu, aku bertemu pembantu perempuan yang memperlakukanku dengan tidak baik dan terkesan seenaknya. Dia baik di depan majikan, tapi tidak di depanku. Mungkin suatu hari aku akan membuat tulisan tentang ini.

Keenam, "pemulung". Dari buku ini aku lumayan kaget jika pemulung pun ada serikat atau laskar yang menaungi mereka. Laskar ini membagi para pemulung ke wilayah-wilayah tertentu. Nah, ada laskar yang menyediakan alat produksi hingga jaminan kesehatan, tapi ada laskar yang tidak sama sekali. Malah disuruh membeli alat produksi dan mengembalikannya lebih mahal, dan boro-boro ada jaminan pekerjaan.

Ketujuh, "pengamen". Selain pemulung, pengamen ternyata di Jakarta juga punya serikatnya sendiri yang membagi wilayah-wilayah kerja. Latar mereka juga cukup beragam, dari perantauan, anak kuliahan, sampai mereka yang memang terjebak dilema antara passion di musik dengan tuntutan hidup (materi). Seperti kisah Kokom yang dibuat dramanya oleh anak-anak SMA ini. Diubah namanya jadi Konny G apa ya, plesetan dari Kenny G. Dia anak perempuan dari Sumatera Barat, anak kiai yang berontak karena ortu mereka menganggap musik haram. Si Kokom diminta sekolah perawatan saja. Dia menuruti keinginan orangtuanya, tapi dia juga tak melepaskan passion-nya untuk jadi penyanyi dengan menjadi pengamen. Hal menarik yang bisa kupetik dari kisah Kokom adalah prinsip hidup dia yang tak mau merepotkan orang lain dan mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya dengan bersungguh-sungguh.

Tujuh golongan pekerjaan ini telah mengajarkanku banyak hal terkait hidup dan kehidupan. Aku melihat kehidupan sektor informal terutama dengan kacamata yang tidak hitam putih. Setiap bidang di SI selalu ada dinamika, khususnya, baik itu senang, sedih, kecewa, harapan, mimpi. Setelah membaca ini, aku juga berpikir bahwa memiliki kemampuan bermimpi itu juga adalah sebuah privilege. 

Ada kesamaan dari para pekerja sektor informal ini, sebagian memang tidak memiliki cita-cita tinggi. Hidup bagi mereka ya subsisten saja, saat ditanya apa rencana di masa depan? Ternyata kemampuan membuat rencana itu juga sebuah "privilege", karena mereka hanya menjawab, " Yah, namanya Jakarta, pasti hanya begini-begini saja, dik." Atau, "Belum direncanakan dik, asal sudah cukup untuk hidup sehari-hari saja kami sudah senang."

Judul: "Potret-Potret Tak Berbingkai: Studi Kasus tentang Perempuan Pekerja Sektor Informal di Jakarta" | Penulis: Siswa-Siswa Kelas I SMA Santa Ursula Jakarta Tahun Ajaran 1991-1992 | Penyunting: Tian Bahtiar | Penerbit: Penebar Swadaya | Tahun: 1992 | Jumlah Halaman: x + 176

KUTIPAN:

Ia tidak percaya dengan kebiasaan sebagian pedagang yang menganggap dengan menepuk-nepuk uang perolehan medali pertama, maka dagangan mereka akan lebih laris. (16) 

Ia mengaku tidak berani mengeluh. (18) 

Iya, aku juga ingin cepat! Tapi kenapa badanku seolah menolak untuk bekerja cepat?! Menolak untuk berlari dari satu pelarian ke pelarian yang lain? Suara polisi-polisi itu semakin dekat... Duh.. Apa kehidupan selalu memusuhiku atau aku yang tak pernah karib dengan kehidupan?? (22) 

Hidup adalah kata-kata bagi mereka, dan, 
Hidup adalah deraan kata-kata bagiku. (22) 

Kami datang untuk belajar
Bukan mengajari bagaimana hidup itu seharusnya (27) 

Perempuan jaman sekarang harus mempunyai keahlian agar tidak diremehkan kaum pria. (34) 

Mereka cuma tau dari cerita aja terus tinggal buat laporan, kumpulin, diponten, selesai... Tapi kalau kita? Kagak tau kapan selesainya nih tugas. (52) 

"Kalau bekerja memang mesti betah." (142) 

Bekerja sebagai pengamen bukanlah sesuatu yang harus dinilai baik atau buruk. Semua mereka lakukan agar dapat tetap hidup dan membantu orang tuanya mencari uang. Pendapat yang positif itu ia peroleh dari rekan-rekan dan gurunya yang bertemu dengannya ketika ia tengah mengamen di bus. (172) 

"Asalkan mereka tidak mengejek saya karena apa yang saya lakukan ini merupakan hak pribadi saya sebagai manusia." (174) 

Bukan perasaan sudah tumpul namun kebutuhan tidak mempersilahkan perasaan untuk berbicara. (176) 

Jumat, 06 Maret 2026

Catatan Buku "Pedoman Praktis Membuat Usulan Penelitian" karya Masri Singarimbun

Topik yang diajukan sudah usang dan terasa yang bersangkutan tidak mengikuti perkembangan dalam bidangnya. (7)

Halo Pak Masri, rasanya kutipan itu menggelitikku. Untuk menjadi ilmuwan sungguhan, kita memang perlu up-to-date dengan perkembangan yang terjadi di bidang kita. Aku kembali lagi membaca buku Bapak yang menurutku penting ini. Dalam kata pengantar, Pak Masri membukanya dengan sangat lucu, terkait kelemahan penelitian yang tidak jelas tujuannya apa, sehingga membuat Bapak dan tim yang membacanya berkelakar, "Apa yang kau cari Palupi?" Aku ketawa-tawa Pak, karena di sisi lain, aku menghadapi permasalahan yang serupa pula. 

Buku ini membuatku lebih rigid lagi dalam membuat research note. Segala hal yang berkaitan dengan penelitian perlu menggunakan metode yang jelas, konsisten, dan bisa dipertanggungjawabkan. Termasuk dari latar belakang, kerangka teori, metodologi, referensi, hingga anggaran dan personelia yang dibutuhkan. 

Di sini, Pak Masri mencontohkan 11 contoh usulan penelitian (9 dari peneliti dalam negeri dan 2 luar negeri). Selain itu juga dilengkapi lampiran pengajuan usulan penelitian, kalau dulu namanya Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (DP3M). Kalau pas aku kuliah di UIN, mungkin sebutannya LPPM kali ya, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Tema-tema yang diangkat dalam usulan penelitian selaras dengan bidang Pak Masri di Studi Kependudukan. Berikut aku ingin melampirkan semua judulnya:

  1. Pengambilan Keputusan Ikut atau Tidak Ikut Transmigrasi (PM Laksono)
  2. Tanggapan Guru Terhadap Kurikulum Pendidikan Kependudukan di SMA Kotamadya Yogyakarta (Sunarto Hs)
  3. Penyerapan Tenaga Kerja pada Usaha Tani Padi Bimas dan Inmas (Sadyadharma)
  4. Pengaruh Pekerjaan Wanita Terhadap Jumlah Anak yang Diinginkan (M. Affandi)
  5. Keberhasilan Tubektomi di Daerah Pedesaan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta: Evaluasi Terhadap Tim Mobil Tubektomi Rumah Sakit Bethesda (Masri Singarimbun dan tim)
  6. Jaringan Komuniasi, Inovasi dan Adopsi Metode Kontrasepsi Modern di Kota Yogyakarta (Bambang Setiawan)
  7. Kebenaran Laporan dan Ketepatan Pencatatan Karakteristik Akseptor di Jawa Tengah (Masri Singarimbun dan tim)
  8. Analisa Jarak Kelahiran di Ngaglik (Analisa Data Sekunder)
  9. Proyeksi Penduduk Indonesia (Analisa Data Sekunder)
  10. Research Program for Study of Internal Migration in West Java (Graeme Hugo)
  11. The Relation Between Social Roles of Women and Family Formation (Valerie J. Hull)

Dari contoh-contoh yang Bapak tulis, meskipun aku tak memahami semuanya, aku mengambil benang merah dan sikap etisku sendiri: Nanti, ketika aku membuat penelitian, apa pun itu, harus punya peta yang sejelas Pak Masri contohkan. Bapak akan aku jadikan mentor dan konselorku. Makasi Pak Masri. Buku ini akan menjadi buku pegangan wajib penelitianku. Aku akan hati-hati dan konsisten dalam menjalankan metode.

Peneliti kita rata-rata tak memiliki atau tak mau mencari kunci dalam melakukan penelitian yang benar. Dengan bertemunya aku dengan kunci ini, aku tak perlu merasa rendah diri dengan para peneliti luar negeri. Aku siap tanding secara keilmuan dengan mereka. Gendang perang kubunyikan untuk semua pengetahuan-pengetahuan yang bertendensi kolonial.

Judul: Pedoman Praktis Membuat Usulan Penelitian | Penulis: Masri Singarimbun | Penerbit: Ghalia Indonesia Jakarta | Cetakan: Kedua, Januari 1986 | Jumlah halaman: 127

Kamis, 05 Maret 2026

Catatan Buku "Islam, Seni dan Da'wah"

Dari dulu, aku tidak bisa membedakan dengan jelas, mana seni Islam, dan mana yang bukan Islam. Di dalam seni rupa khususnya, aku memiliki kecenderungan untuk menikmati objek-objek hidup yang digambar oleh si perupa, baik itu bentuknya manusia, hewan, maupun gambar yang bercermin dari alam. Namun, setelah membaca buku "Islam, Seni, dan Da'wah", lewat penjelasan Pak Kuntowijoyo, aku setidaknya punya tiga saringan terkait seni yang Islam dan tidak. Batas yang beliau utarakan jelas: (1) dematerialisasi, (2) demasifikasi, dan (3) menuju cahaya. Untuk menjadi berbeda rasa-rasanya kita memang perlu batas demarkasi yang jelas.

Buku ini aku beli secara random di Shopee karena ditulis secara berjamaah oleh banyak penulis, dan salah tiganya aku sukai karyanya: Pak Kunto, Pak Emha, dan Pak Ebiet. Setelah kubaca, ternyata buku ini merupakan kumpulan makalah dari Seminar Sehari Tentang Islam, Seni, dan Da'wah yang dilaksanakan di Aula APDN Srondol Semarang, pada 13 Oktober 1988. Termaktub dalam majalan bulanan Rindang pada Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah.

Mendengar majalah "Rindang", ingatanku langsung melesat pada Doel Rohim, partner kepemimpinan, PU-ku dulu di LPM Arena. Dia pernah bercerita, seingatku, yang memotivasinya untuk kuliah di Jogja dan masuk Arena karena dulu pernah mengurusi penerbitan yang disebut Rindang ini (jika aku tak salah ingat). Sebab, salah satu kyai yang menjadi narasumber di sini juga berasal dari kota yang sama dengan Rohim, yaitu Pati. Kyai tersebut adalah Kyai Haji Muhammad Ahmad (KHMA) Sahal Mahfudz, yang mengasuh Pondok Pesantren "Maslakul Huda", Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Dari pembacaanku, sebenarnya tidak terlalu banyak kebaruan yang diutarakan para narasumbernya. Pikiran yang eksepsional barangkali yang telah saya sebutkan di atas, terkait ide Pak Kuntowijoyo yang memberikan batas demarkasi yang jelas. Narasumber lain lebih konvensional lagi karena berdasar pada argumentasi yang menurutku mengambang dan abstrak, yang diambil dari nilai-nilai agama dan pengalaman. Semisal, Cak Nun berkata, seni Islam itu bentuk anugerah dan sunatullah. Atau juga (maaf) para kyai yang bagi saya cukup mengambang juga memberikan argumentasi yang sangat umum (common sense) seperti amar ma'ruf nahi mungkar, atau ditujukan kepada Allah. 

Namun, terlepas dari semua itu, terima kasih telah menulis buku ini. Aku jadi kepikiran, semisal ada kegiatan serupa, membukukan pemikiran yang dibicarakan di dalamnya juga menjadi ide konkret yang menarik. Dengan begitu, bisa dibaca oleh generasi-generasi setelahnya. Seni termasuk menjadi bidang yang aku sukai, karenanya aku peduli.

Judul: Islam, Seni dan Da'wah | Penulis: K.H. Sahal Mahfudz, K.H. Amir Ma'sum, Drs. H. Amri Yahya, Azwar A.N., Dr. Kuntowijoyo, Drs. Suwaji Bustomi, Emha Ainun Najib, Ebiet G. Ade | Penerbit: Rindang Jawa Tengah | Tahun: 1988 | Jumlah halaman: xvi + 80

KUTIPAN:

Kelebihan seniman adalah kemampuannya untuk dapat melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh orang biasa. (1) 

Sekedar menampilkan solidaritas sosial desa dan bukan untuk menjamin karier seorang seniman. (3) 

Isma: Seni Islam yang aku pahami, ini sebagaimana diungkapkan Pak Kuntowijoyo, dematerialisasi (abstrak), demasifikasi (tidak sebesar kelihatannya atau mencairkan yang masif, tidak ada kesan berat), dan memberikan cahaya (dari gelap ke terang, pertemuan antara yang fana ke abadi). Jika menambah Cak Nun, seni Islam adalah seni yang ditujukan kepada Allah, dalam rangka (kata KH Sahal) amar maruf nahi mungkar. Di sini niat sangat-sangat penting, kesenian adalah manifestasi dari keilahian. Untuk dakwah, "pelaku dakwah harus menguasai substansi dakwah, di samping menguasai metoda dan alatnya. (12) 

Keberhasilan seni media dakwah selain dapat ditemukan melalui wawasan sejarah, juga berdasar penelitian-penelitian yang telah dilakukan para ahli maupun berdasar pengalaman para praktisi seni itu sendiri. (13) 

Pemanfaatan musik pop harus diawali dari musisi Muslim itu sendiri yang menyadari kekuatan musik pop. Kalau musisi Muslim mampu menyisipkan pesan Islam dalam momen yang pas, akan sangat luar biasa hasilnya. Keberhasilan musik sebagai media dakwah dialami sendiri oleh Ebiet, seseorang yang telah memberikan sebidang tanah seluas satu hejtar kepadanya sebagai pernyataan rasa syukur karena orang tersebut merasa telah "dikembalikan" imannya oleh lagu-lagu Ebiet. (14) 

Seseorang berkesenian adalah lantaran mensyukuri anugerah Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Hanya Allah yang memungkinkan dia berkesenian itu... Fungsi "liya' budun", hanya dapat berjalan apabila seluruh isi Al-Quran dan Sunnah Rasulullah menjadi tuntutan dalam berkesenian. (16) 

Seni yang Islami dapat melalui restriksi (pembatasan), yakni: bersih dari khufarat, bersih dari syirik, dan tidak membawa manusia kepada kehidupan yang nista. (19) 

Kebaikan dilakukan secara lumintu (terus menerus). 

Penulis semacam orang yang ikut-ikutan makan besar dalam pesta makan meskipun tidak diundang. (27) perumpamaan yang baik. 

Kalau dia (seni) ditumbuhkan dari bibit keimanan, maka dia juga akan menjadi pohon keimanan. Kalau dia ditumbuhkan dari bibit kekufuran maka dia juga tumbuh menjadi pohon kekufuran. (29) 

Rukh seni Islam itu taukhid. Ismail Rasi al Faruqi. 

Saya ingin memberikan catatan kaki terhadap apa-apa yang disampaikan Bapak KH Sahal Mahfudz dan Bapak KH Amir Maksum. Apa yang ingin saya sampaikan mungkin ilustrasi:
1. Tentang rukh Islam dan struktur seni
2. Tentang institusionalisasi kesenian
3. Tentang seni pertunjukan rakyat Jawa Islam

Dengan deformasi bentuk berarti dilakukan "dematerialisasi" yang berarti menuju kepada taukhid. Kalau kita tidak menganggap yang ada itu matter, maka kita melihat yang ada itu Allah. Itulah taukhid dalam kesenian. (33)
 

Seolah-olah lukisan itu menuju sesuatu yang tidak terjangkau. Hal itu berarti menuju Allah... Pak Sadali mengatakan, "Kesenian itu adalah tasbih kita kepada Allah." Karena itu kesenian dengan seluruh misinya semacam itu mampu memberikan pengaruh kepada pembaca, penonton atau kepada mereka yang masuk ke dalam arsitektur Islam. Kalau kita masuk ke dalam masjid, kita akan mensucikan diri. Tetapi masjidlah yang memberi suasana tazkiyah, yaitu terang, tidak ada misteri. (34) 

Kesenian partisipan: setiap orang dapat ikut ke dalam kesenian itu, tidak diketahui penciptanya dan pengubahnya. (35) Ternyata seni rakyat tradisional yang Islam tidak membutuhkan profesionalisme yang tinggi, karena pelaku dan penonton dapat saling berganti. Kesenian semacam ini akan sangat baik untuk media dakwah. (36) 

Emha Ainun Najib hlm. 37: Semoga bisa merupakan bahan silaturahim dan "syuraa bainahum" dari seorang tukang--yang semoga tidak terlalu berarti--kepada para ahli/pakar serta ulama:
(1) Orang berkesusastraan itu sama dengan orang mandi, makan, menimba atau menanam pohon. Ialah yang mensyukuri anugerah Allah dan melaksanakan Sunatullah: bahwa kalau diberi badan, kita kasih makan; kalau diberi tubuh, kita rawat kebersihannya; kalau diberi ilmu, kita amalkan; kalau diberi amr, kita laksanakan; dan kalau dilarang, kita hindarkan; kalau diberi ilham, kita ungkapkan. 
(2) Seorang sastrawan Muslim itu seorang mulhim di bidang kesusastraan. Pikiran dan perasaannya, atau segala potensi kreativitasnya , semacam radio, yang harus senantiasa siap menerima "siaran" dari Allah. 
(3) Kenapa manusia-sastrawan hanya semacam radio? Karena manusia itu tidak punya apa-apa, bahkan sebenarnya tidak ada; ia hanya "diselenggarakan" oleh Tuhan untuk "ada" dalam fungsi "liya' buduun". Manusia tidak bisa apa-apa, tidak punya ilmu, tidak bisa menulis puisi, hanya Allah yang memungkinkannya bisa, atau lebih tepatnya; Allah mewakilkan kebiasaannya. 

Kemiskinan hampir dikatakan membangun "kotak sabun" dalam skala besar, tanpa apa-apa. Bentuk bagus hambar makna dan ciri khas, ciri khas tetapi rusak karena papan nama yang terlalu "tamak" memborong semua halaman depan. (54) 

Yang membedakan kita di hadapan Tuhan cuma ketaqwaan, yang membedakan kita di hadapan manusia adalah akhlak dan wawasan. (Isma) 

Ketika kita sekali mengetahui kunci, kita bisa ikut di dalamnya.... Ada satu puisi Umar Kayam tentang ketauhidan, "Setiap pagi mawar berkembang, tetapi mawar kemarin mana ia sekarang... (61) 

Seni tradisional itu seni kebersamaan dan partisipasi, mementingkan sikap-sikap komunal yang tidak mendukung individualisme maka tidak mungkin membawa karier. Beda dengan seni profesional. (61)