Rabu, 22 April 2026

Catatan Klenik Studies Vol. X Edisi 9 April 2026: "Bunuh Diri: Antara Harapan Sosial dan Otonomi Tubuh"

I. PEMBUKAAN:

Klenik Studies untuk edisi UFO kami tunda karena narasumber berhalangan. Sebagai gantinya, Klenik Studies Vol. X Edisi Kamis, 9 April 2026 ini mengulas tema “Bunuh Diri: Antara Harapan Sosial dan Otonomi Tubuh”. Pertemuan ini dihadiri oleh enam orang: Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurul Diva Kautsar, Nurizky Adhi Hutama, Jevi Adhi Nugraha, Dwi Oktalina Lestari, dan dimoderatori oleh Isma Swastiningrum.

Pembahasan dalam diskusi ini sama sekali tidak hendak menyalahkan kenapa orang memilih bunuh diri, tapi memahami dan, jika perlu, menghormati keputusan orang lain atas otonomi tubuhnya. Bahasan ini terinspirasi juga dari tulisan “Supporting the Suicidal No Matter What”. Tulisan ini membongkar kecenderungan ilusi/fantasi kita tentang orang lain, bahwa dia harus kuat hidup, begini dan begitu. Seolah kita bisa mengontrol nasib/karakter orang. Dan sebagian besar, kasus bunuh diri ini jadi hantu. Selain kontrol sosial atau merujuk pada kondisi kejiwaan tertentu, bahasan ini menarik untuk digali lebih lanjut.  

II. BUNUH DIRI, NOVEL, DAN TINDAKAN POLITIS

Isma membuka fenomena bunuh diri dengan seri buku kontemporer saat ini yang lekat dengan tema. Seperti buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati atau buku serupa lain, misalnya , want to die but i want to eat tteokbokki karya penulis Korea, Baek Se Hee Jakkanim. Buku ini tentang upaya melawan depresi secara berkepanjangan. Meskipun yang terakhir ini cukup tragis aku baca sekilas di internet. Hidup emang segelap itu kadang ya, jadi buku-buku pun memilih demikian. Memilih bunuh diri, tapi sebelum bunuh diri, makan dulu. Bahkan makanan kesukaanmu bisa menyelamatkan dirimu di fase terendah hidup, ketika kamu ingin mati saja. Bahkan, buku Sulkhan berjudul Kronik Pembunuhan Selma yang menghadirkan karakter yang bunuh diri.

Sulkhan menjelaskan, di tahun-tahun gelap masa pandemi, dia mengaku punya obsesi dengan orang bunuh diri. Ini tak lepas dari pergaulannya dengan kawan-kawan di tempat dia kuliah dulu (Kajian Budaya dan Media/KBM UGM). Menurutnya, ada semacam heroisme yang berkaitan dengan kebuntuan ideologis, terutama yang dialami berbagai pemikir Marxis yang cukup heroik. Namun, di sisi lain, mereka juga putus asa dan penuh kepalsuan melalui pemolesan citra masing-masing.

Di dalam novelnya, Sulkhan mencoba memahami kenapa seseorang bunuh diri? Dia juga melakukan riset ke embung, lalu dipotret lokasinya. Dia merasa, bunuh diri sebagai sesuatu yang romantik, “Ada perasaan seperti itu,” katanya.

Sulkhan juga meluangkan waktu untuk membaca novel dan menonton film tentang bunuh diri. Semisal film “Taste of Cherry” (1997) karya sutradara Abbas Kiarostami, dan “Maborosi” (1995) karya Hirokazu Koreeda. Dari film yang ditontonnya, bahkan tidak diceritakan alasan kenapa karakter bunuh diri.

Tak hanya di novel, bunuh diri juga bisa bermakna politis. Isma mencontohkan seperti yang dialami Aaron Bushnell, saat melakukan aksi protes dengan membakar dirinya sendiri di depan Kedutaan Israel di Washington DC, Amerika Serikat, pada Minggu (25/02/2024) lalu. "Bebaskan Palestina", teriaknya. Aaron Bushnell, 25 tahun, adalah tentara Angkatan Udara AS. Dia dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis setelah pasukan Dinas Rahasia (Secret Service) AS memadamkan api di tubuhnya. Sebelum melakukan aksi yang disebutnya sebagai tindakan protes ekstrem, Bushnell mengatakan bahwa dirinya “tidak akan lagi terlibat dalam genosida”.

Lebih lama dari Bushnell, tanggal 10 Desember 2011, Sondang Hutagalung meninggal dengan membakar diri. Film berjudul "A Single Park" bercerita tentang kehidupan dan perjuangan seorang buruh Korea bernama Jeon Tae-Il. Dia meninggal 11-12 sama Sondang, mati dengan membakar diri. Umurnya pun mereka sama-sama muda. Yang membedakan, setelah Jeon bakar diri, protes di Korea membesar, sedangkan di Indonesia Sondang dilupakan begitu saja. Di Indonesia kematian Sondak lebih membicarakan cara Sondang protes, bukan kenapa dia protes.

Al Fayyadl juga menulis tentang Sondang ini dalam blognya dengan mengatakan, “Bahwa ia hendak melawan, dan ia tahu bahwa hanya dengan membakar dirinya, ia telah melakukan perlawanan paling jauh yang bisa ia lakukan untuk memprotes keadaan, karena perlawanan itu melumat satu-satunya yang paling berharga dari dirinya: hidupnya. Ia melawan hingga teriakan terakhir yang bisa ia teriakkan; hingga kata-kata terakhir yang bisa ia ucapkan; dan hingga napas terakhir yang bisa ia hembuskan.”

III. KLUB 27

Fenomena bunuh diri dalam budaya populer juga terjadi di Klub 27 yang dilakukan para musisi, seperti Amy Winehouse, Jimi Hendrix, dan Kurt Cobain (meski ada rumor juga yang mengatakan Cobain dibunuh). Kebanyakan karena penyalahgunaan narkoba dan alkohol serta tindak kekerasan. Nurul berbagi analisis, di dunia musik memang tak sedikit ditemukan fenomena bunuh diri. Bahkan ada legenda seorang remaja yang bunuh diri setelah mendengarkan lagu Ozzy Osbourne berjudul “Suicide Solution”. Lirik lagu ini serupa ajakan, ketika kamu tidak meraih apa pun di dunia, tujuan pulangmu adalah mati.

Selain itu, berkaitan dengan Klub 27, sebagian musisi juga ada perjanjian dengan sekte-sekte tertentu. Ketika artis ini berada di puncak karier, ia menjual jiwanya.  Ia menyebut nama band metal yang melakukan touring di berbagai negara yang terikat pada sekte tertentu. “Ada obsesi tertentu yang akhirnya membuka jalan untuk mengakhiri hidupnya,” kata Nurul.

IV. KESALAHAN TAFSIR DAN OTONOMI TUBUH

 

Akbar melanjutkan, alasan bunuh diri tidak pernah tunggal. Pengalamannya hidup di Jogja, serta di Bali, yang memiliki angka bunuh diri cukup tinggi, bunuh diri dilakukan karena ada kesalahan tafsir agama. Ada kepercayaan religius tertentu bahwa melakukan puasa berbulan-bulan dapat mengakhiri hidup. Menurut yang menjalaninya, hal itu bukan sesuatu yang hina, tapi malah pencapaian tertinggi. Seperti kisah filsuf Zeno dari Citium yang suatu hari jempolnya kepentok terus bunuh diri. Zeno mengakhiri hidup karena otonomi tubuh. Kepercayaan lain juga soal reinkarnasi. Ketika seseorang bunuh diri, maka karma akan terganggu, karena orang itu mengakhiri hidup sebelum ujian selesai. Katakanlah, dalam perspektif agama, Tuhan telah memberi tugas, tapi malah diakhiri sebelum selesai.

Sementara itu, Nurizky menyampaikan, berkaitan dengan otonomi tubuh, jika seseorang bisa meminta untuk hidup, maka seseorang juga bisa memilih untuk mati. Ketika seseorang tidak bisa hidup, bunuh diri bisa menjadi pilihan. Menurutnya, konteks mental setiap orang berbeda-beda, memiliki kuota yang berbeda-beda, ada yang 50, 100, 400. “Aku berpikirnya, aku tidak menjelekkan mereka yang bunuh diri, yang orang lain tak bisa memilikinya. Ini akan ditertawakan, misal kamu lebai… Aku jujur akan salut. Itu tindakan terberani,” ungkapnya.

V. FAKTOR EKONOMI

Nurizky berbagi pengalaman. Secara umum, faktor terbesar penyebab bunuh diri adalah ekonomi. Sebab apa pun membutuhkan ekonomi. Namun, apa yang dialami Nurizky berbeda karena bukan karena ekonomi, melainkan karena faktor diagnosis depresi sejak umur 10 tahun. “Tidak semua tentang ekonomi,” katanya. Kejadian yang dia alami, situasi itu muncul ketika dunia seolah-olah tidak mendukung kita. Seperti kita juga sudah telah berusaha tapi tidak pernah dapat, sehingga menyebabkan motivasi turun. “Pada akhirnya yang kurasakan, mencoba berusaha jalan, tapi pengen hidup, enggak,” tambahnya.

Nurizky mengaku bisa menikmati hidup sampai di umur 28 tahun. Pernah dia berpikir jika dia tak mau umurnya lebih dari 35 tahun. Dia merasa sudah tidak menyukai hobinya lagi, dan tidak mau sengsara. Lalu, kesempatan berumur panjang ini berlanjut ketika menjalani pendidikan S2. Ada pula seorang perempuan yang menopangnya untuk tetap hidup. “Dia berusaha mengangkat aku terus,” ujarnya. Temannya mengajaknya untuk terus sibuk, bahkan mengajak untuk memimpin perusahaan, agar ia tak kepikiran ke arah sana.

Dia sangat berterima kasih atas support tersebut, meskipun di sisi lain lelah ketika diberikan standar. Menurutnya, memperpanjang alasan hidup itu juga beban, ada rasa capek. Bahkan ketika dia ngobrol dengan sosok yang mendukungnya tersebut yang secara hidup tergolong mapan, mereka tidak menemukan makna hidup. “Kayak ngapain sih. Temanku bertahun-tahun mencapai posisi tertinggi dan merasa hampa,” ujarnya. Mereka juga pernah dalam pembicaraan yang sama-sama bingung, berimajinasi naik pesawat, ada badai, terjadi turbulen, dan entah siapa yang “pergi” duluan.

“Kita hidup untuk orang lain, tapi kenapa sulit hidup untuk diri sendiri,” Nurizky membuat refleksi. Karena hal ini, seseorang cenderung menjadi people-pleaser, selalu merawat dan merawat.

Nurizky juga mengaku pernah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Sayangnya, percobaan itu selalu gagal. Semisal, dia minum obat, tapi bangun lagi. Meskipun dia tak ingin bunuh diri dengan menggantungkan diri karena merasa kasihan jika ada yang menemukan, serta kasihan pula orang yang membersihkan. Apalagi ketika mati, semua isi perut akan keluar, ada bercak yang cukup awet.

VI. KESEPIAN DAN PERASAAN TAK TERTANGGUNGKAN

Akbar pun menegaskan jika ekonomi memang bukan penyebab utama seseorang bunuh diri. Termasuk yang terjadi pada para lansia (yang ingin mati dengan eutanasia), yang penyebab utamanya adalah ketidakinginan untuk merepotkan keluarga. Diperkuat lagi ketika ada perasaan bahwa di dunia ini sudah tidak ada lagi yang mendukung. Ketika ada kepedulian, maka keinginan hidup lebih berpotensi muncul.

Sulkhan pun menarik benang merah jika bunuh diri itu dilakukan bisa karena bebas dari kemiskinan, tapi juga karena faktor gagal berhubungan dengan yang lain, atau tidak terkoneksi dengan yang lain. Sulkhan menyebut peristiwa ini sebagai: “Kesengsaraan yang tak bisa ditampung, yang tak tertanggungkan.” Dari hasil pembacaan dan wawancaranya, apa yang bagi orang lain dianggap sepele, bisa jadi sangat penting bagi orang lain, begitu pun sebaliknya. Apalagi jika berkaitan dengan laku intellectual exercise, yang melihat hidup ini ternyata tak bernilai-nilai amat. Banyak ketidakkokohan dan banyak darah yang ditumpahkan. Apa yang dicari dalam hidup ini, seolah bentuk lain dari kesengsaraan yang kita tanggung.

VII. PULUNG GANTUNG DI GUNUNGKIDUL

Di Gunungkidul, Jogja, fenomena bunuh diri jadi semacam wahyu. Ada film-film yang telah mengulas dengan baik fenomena bunuh diri di Gunungkidul. Akbar bercerita, dosen pembimbing (dosbing) tesisnya, Pak Subandi, ternyata seorang peneliti pulung gantung di Jogja. Meskipun belum membaca penelitian dosennya, Akbar menangkap dalam pembelajaran selama perkuliahan, jika pulung gantung ini dikarenakan faktor kemiskinan. Karena tidak ingin membebani keluarga secara ekonomi. Orang yang kena pulung seperti ada seseorang yang membisiki.

Jevi berbagi pandangan. Dirinya tinggal di Semanu, Gunungkidul. Dia mengaku pernah melihat secara langsung seseorang bunuh diri, hingga secara langsung menurunkan yang gantung diri. Termasuk juga pernah mendapati orang yang hendak gantung diri, tetapi gagal. Termasuk juga ada tetangganya yang memutuskan untuk bunuh diri di pohon jati. Alasannya, ada hajatan yang mengharuskan adanya sumbangan di mana-mana, kalau ada lima orang saja hajatan, bisa dihitung sumbangannya.

Jevi yang juga pernah menulis skripsi tentang bunuh diri ini juga menyebut, kasus lain terjadi pada seorang Bapak yang terjerat utang. Bapak ini mendapatkan bantuan bedah rumah dari pemerintah, tetapi hanya beberapa juta, tidak mencukupi. Bapak ini kemudian hutang 30an juta, tidak hanya di bank, tapi juga lintah darat (bank plecit). Dia terjerat sehingga keluarganya jatuh miskin. Ketika rumah itu jadi, dia langsung tidak ada.

Selang beberapa bulan dari kejadian Bapak tersebut, ada tetangga yang tidak jauh dari korban yang melakukan tindakan nyemplung sumur yang dalamnya sekitar 25 meter. Jevi bercerita warga dusun mencarinya, hingga ayah dari korban ini mendengar teriakan dari sumur sehingga bisa diselamatkan. Dia satu jam baru ditemukan dan masih hidup. Orang yang nyemplung ini diajak oleh sosok yang sebelumnya bunuh diri. Selain itu juga karena orang ini “kabotan ilmu”, dia berguru kesana-kesini, dan menjadi seperti itu. Dia juga sering keluar malam sendiri seperti orang linglung.

Jevi melanjutkan, sejarah di Gunungkidul banyak orang moksa, dan Gunungkidul dikenal sebagai tanah untuk moksa. Menghilangkan diri dari dunia untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Kenapa pilihannya bunuh diri? Jevi menyebut karena banyak dadung, atau tali untuk mengikat, semacam tambang dari pring—sekarang bertransformasi jadi tali tambang. Gantung diri ini rata-rata terjadi di antara kandang sapi, di mana sehari-hari warga juga mengurusi kandang.

Lanjut Jevi, jika dikatakan bunuh diri bagi orang yang melakukannya dianggap agar tidak merepotkan, malah sebaliknya, sangat merepotkan. Pada realitasnya, lebih banyak merepotkan keluarga, padahal tujuannya agar tidak membebani. Seperti anak yang bapaknya bunuh diri, sekarang anaknya dipasung.

Akbar menanggapi, dari ingatannya dari salah seorang dosen pembimbing yang meneliti tentang topik psikosis dan skizofrenia, yang ditandai dengan halusinasi dan delusi. Salah satu fiturnya adalah masalah genetik. “Penyakit jiwa yang sebenarnya punya faktor keturunan yang tinggi,” terangnya. Dari penjabaran Jevi, ketika ada keluarga yang mempunyai kerentanan psikologi secara genetik, ini akan memicu kerentanan untuk muncul pada keturunan. Semisal, ketika ada ayah bunuh diri, anggota keluarga lain bisa berpotensi untuk bunuh diri juga. Polanya, menyelesaikan masalah dengan hal yang sama. “Kasus ini jadi prevalence, menarik pola, ada penjelasan mistis. Walaupun itu tidak menolak mentah-mentah,” jelas Akbar.

Ketika dihubungkan dengan penjelasan Nurizky tentang otonomi tubuh, Akbar melihat, selain faktor sosial, situasi semakin pelik karena ada faktor genetik. Genetik mempunyai kecerendungan risiko yang semakin memperburuk kondisi, menjadikan otonomi semakin menghilang.

Jevi menambahkan, fenomena medsos hari ini arahnya seperti memaklumi bunuh diri. Dia mempertanyakan, entah ini berdampak baik/buruk, tapi dimaklumi, diualng-ulang, dan akan mempengaruhi dunia sosial. Jadi semacam ada trauma massal. Di tempatnya, wujud konkret itu seperti tidak tidur selama sebulan, jendela ditutup dengan triplek, dll. “Selama bertahun-tahun, aku merasakan ada trauma massal. Ini keturunan orang yang bunuh diri, entah kakek buyutnya, cucunya juga memengaruhi,” kata Jevi.

Dari penjelasan Jevi, Lina menyakan, apa tindakan dari pemerintah melihat fenomena tersebut? Apalagi di Jogja juga sudah banyak mengangkat isu ini. Apa ada gerakan di desa/kampung? Sebab ini akan menjadi trauma generasi. Selain memperbaikinya dengan meningkatkan perekonomian, Lina mempertanyakan tindakan dari pemerintah.

Jevi menanggapi bahwa pemerintah telah berusaha keras dan dirinya mengapresiasi, seperti pembuatan Satgas dari Pemda, melakukan sosialisasi, hingga adanya komunitas yang mendampingi. Namun, entah bosan atau lelah, masih belum optimal untuk melakukan pencegahan. Hal yang kurang adalah kehadiran psikolog, dan ketika ada psikolog pun, biayanya mahal.  “Yang masih bolong di psikolognya, komunitas itu banyak entah dari swasta atau negeri. Tapi sampai hari ini, psikolog cuma satu,” jelasnya.

Dia melanjutkan, lagi-lagi kesadaran itu kembali ke warganya, karena tidak mudah mendekati orang-orang rentah. Semisal mereka yang sakit menahun, memiliki ekonomi yang buruk, dia sangat sulit menjalani hidupnya, tapi ketika ada yang hendak menolong, sudah terlambat.

“Untuk diajak bicara susah, ternyata gak semudah bahwa kamu harus cerita, atau jangan tertutup... Aku mendekati orang rentan, itu susah. Banyak yang gak nyaman bercerita, semakin banyak cerita semakin kosong. Gak malah lega, tapi malah bebani,” terang Jevi dilematis.

Nurul kemudian bertanya untuk generasi muda apakah ada yang melakukan pulung gantung? Jevi menjawab, dua tahun terakhir ini anak muda yang lulus SMA atau usia di bawah 30 tahun semakin banyak, rata-rata dari judi online (judol) dan main slot. Menurutnya, faktor keluarga yang sudah dibahas menjadi menarik, sebab tidak semua bisa bersikap terbuka dengan keluarga sendiri. Punya kecenderungan untuk dipendam.

Nurul juga bercerita tentang pengalaman pribadinya berkaitan dengan sikap terbuka terhadap keluarga ini. Saat dia masih di masa sekolah, keluarganya tidak saling terbuka, tidak saling cerita, tapi setelah kuliah dia banyak belajar. “Dulu sebelum terbuka, itu gak bisa, mau melepaskan kesepiaan dengan konser gak boleh, karena gak jelas. Akhirnya, Ketika aku pulang ke rumah itu jadi hal yang menakutkan. Tidak bisa menyampaikan apa yang aku resahkan, aku sempat buntu,” ujarnya.

Lalu, Nurul mencoba untuk membangun obrolan secara pelan-pelan. Dia akhirnya berani berbicara pada orangtuanya. Ketika ada komunikasi, ada potensi support system yang kuat.

Kemudian, Jevi menanggapi, keluarga relate untuk kaum urban, tapi tidak relate dengan yang hidup di desa. Sebab ada perasaan ketika terlalu banyak cerita, justru akan membebaninya. Orang juga tidak semuanya nyaman bercerita. “Terbuka dengan keluarga itu gak relate, ungkapan aku sayang ibu dan ayah itu gak pernah dengar. Itu emang terjadi. Di urban mungkin relate, di tempatku, kayak gitu, itu opo sih. Kesempatan untuk ekspresi itu nol besar,” ujarnya.

Nurizky mengonfirmasi yang dikatakan Jevi. Menurutnya, semakin tua, semacam sulit mencari tempat bercerita. Ibaranya, ketika mau cerita pada 10 orang, bisa jadi yang hanya 2 orang, lalu 8 lainnya adu nasib. Lalu, cerita akan menyerempet pada masalah finansial. 

 

VIII. PENUTUP

Isma menutup diskusi ini dengan konflik yang terjadi di Sudan. Tentang perempuan yang bunuh diri untuk mempertahankan harga dirinya, daripada diperkosa. Ia juga menceritakan sebuah anekdot dari seorang kawannya ketika masih mahasiswa. Teman itu bertanya, “Pernah menemukan hewan bunuh diri nggak?” Pertanyaan ini cukup nyeleneh. Secara asumsi dan logika umum, hewan hampir tidak ada yang bunuh diri. Mereka kuat. Anjing misalnya, meskipun mereka dihina setiap hari, dia tak pernah bunuh diri.

Berbeda dengan Klenik Studies di edisi-edisi sebelumnya yang membahas berbagai fenomena berkaitan dengan makhluk supranatural, kali ini lebih menekankan pada aspek psikologi, sosial, dan ekonomi dari fenomena bunuh diri.

Beberapa kesimpulannya, seseorang tidak bisa semena-mena menghakimi orang yang memutuskan bunuh diri karena alasan kejiwaan, keagamaan, ekonomi, dll. Alasan tak kalah penting juga menyangkut otonomi tubuh seseorang yang perlu dihormati. Isu yang lumayan panjang dibahas juga adalah fenomena bunuh diri (pulung gantung) di Gunungkidul, Jogja. Ternyata, fenomena itu tidak melulu masalah ekonomi, tapi juga trauma antargenerasi, keterbukaan antarkeluarga yang relate untuk warga urban tapi tidak untuk rural, hingga rasio psikolog yang masih sangat minim.

Selasa, 21 April 2026

Catatan Buku "The Perfect Boy" karya Balqis Humaira

Jika ada sosok yang sudah meninggal dan ingin aku temui, tentu orang itu adalah Rasullah Muhammad SAW. Buku karya Balqis Humaira ini meningkatkan level keimananku pada Tuhan beberapa digit lebih baik. Parameternya sederhana, setelah membaca buku, dan aku solat dzuhur di masjid kantor, rasanya begitu khusyuk. Ada rasa transendensi yang karib, yang sering hilang, dan dinamika turun-naiknya sangat cepat sekali. Semangat memento mori atau mengingat mati juga jadi lebih tebal.

Kelebihan lain dari buku ini adalah imajinasinya yang mengubah secara total bayanganku tentang zaman Jahiliah. Ketika aku SD dulu, aku PD mengatakan jika aku murid kesayangan guru agama karena nilaiku yang selalu tinggi. Soal sejarah ke-Islam-an, nilai-nilaiku saat SD bagus. Waktu guruku yang bernama Bu Har itu bercerita tentang masyarakat Jahiliah, imajinasiku benar-benar gelap, muram, dan sedih. 

Namun, setelah membaca buku Balqis ini, rasanya berbeda. Balqis bisa menarik kontekstualisasi antara zaman sekarang dan zaman Jahiliah dulu. Jadi, misal sekarang ada banyak kafe-kafe, tongkrongan berkelas yang diisi oleh orang-orang yang mengagung-agungkan nasab, harta, dan rupanya; itu juga terjadi di zaman Jahiliah dulu, tapi dengan style uniknya sendiri. Imajinasi ini tentu lebih mudah dan gak out of nowhere karena alasan geografis dan sejarah yang berbeda.

Termasuk juga sejarah nabi secara singkat yang disebut Balqis menerapkan Joy of Missing Out (JOMO) sejak dulu ini melakukan hari-harinya. Karakter-karakter Rasul dibahas dengan pendekatan yang sangat kekinian dan muda, tanpa kehilangan analisis dan kekritisan. Kritik utama buku ini adalah perlunya kita menyadari sifat Fear of Missing Out (FOMO) sebagai kebalikan dari JOMO. Karakter yang dijadikan role model tidak main-main: Rasulullah Muhammad SAW. 

Aku cukup menikmati buku ini meski aku selesaikan tak tepat waktu sebagaimana yang kuperkirakan di awal. Aku di buku ini diajari bagaimana menerapkan seni bodoh amat level Nabi, gimana mengubah trauma jadi fondasi untuk mental baja, gimana ngebentuk personal branding tanpa flexing dengan mengokohkan integritas dan karakter yang kuat, belajar filosofi penggembala yang banyak nabi agama samawi melakukannya, jadi gentleman di lingkungan yang toksik, ekonomi yang berlandaskan kepercayaan tingkat dewa, cara milih sirkel yang baik buat pertumbuhan jiwa, hingga kekuatan detoks media sosial.

Untuk yang soal terakhir, Balqis nulis:

Ini saatnya lo ngebangun Gua Hira digital lo. Gimana panduan praktisnya?
Pertama, sadari dan akui dopamin loop lo. 
Kedua, ciptakan "Sacred Time" (Waktu Suci) tanpa layar. 
Ketiga, berlatihlah memeluk rasa bosan (The Art of Doing Nothing).
Keempat, mulai tanyakan "Iqra" versi diri lo sendiri. 

Rasa-rasanya, aku memang ingin kembali ke Gua Hira sendiri. Di tengah dar-der-dor hidup....

Makasi Balqis. 

Judul: The Perfect Boy | Penulis: Balqis Humaira | Cetakan: Pertama, 2026 | Harga: Rp10.000 | Format: PDF | Link beli: https://lynk.id/balqisable/nw2kp23xq1vp/checkout

KUTIPAN:

Beliau milih untuk fokus benerin diri, kerja keras, dan cari ketenangan yang hakiki. (7)

Kadang, "ketinggalan" dari sebuah tren itu bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah bentuk perlindungan kelas VIP dari jalur langit. (7) 

JOMO itu adalah sebuah seni, sebuah kemampuan psikologis di mana lo ngerasa puas, tenang, dan bahagia dengan apa yang lagi lo lakuin saat ini, tanpa ngerasa perlu buat ngecek atau peduli orang lain lagi ngapain di luar sana. (8)

Beliau menolak peer pressure dengan integritas, bukan dengan arogansi. (10)

Sikap "bodo amat" yang elegan itu bentuknya gini: Kalau diajakin ngelakuin hal yang nggak sesuai prinsipnya, beliau bakal nolak dengan sopan, santai, tapi super tegas. Nggak perlu ngasih ceramah panjang lebar, nggak perlu merendahkan lawan bicaranya. (11)

Lo bayangin, seorang remaja yang lagi jauh dari rumahnya, di depan seorang pemuka agama asing yang sangat dihormati, berani nge-state prinsipnya sejelas dan sekeras itu tanpa ragu sedetik pun. (11)

Beliau cuma ngasih tau letak prinsipnya di mana, dan beliau nggak mau kompromi soal itu. Itu adalah level self-awareness dan integritas yang luar biasa tinggi. Beliau tau siapa dirinya, beliau tau apa value-nya, dan beliau nggak butuh validasi dari tradisi kaumnya buat ngerasa benar. (12)

Kepercayaan dirinya berasal dari karakter yang bersih. (12)

dari mana sih Muhammad dapet ketenangan batin sampai bisa tahan banting ngelawan godaan FOMO ini? Rahasianya ada pada kemampuannya menikmati kesendirian. Beliau menemukan kedamaian dalam kesunyian, bukan dalam keramaian yang palsu. (12)

Keramaian yang palsu itu emang jahat banget, dia nyedot energi lo tapi nggak ngasih nutrisi apa-apa ke jiwa lo. (13)

Muhammad belajar buat dengerin isi kepalanya sendiri. Beliau belajar ngamatin langit, memikirkan dari mana alam semesta ini berasal, dan ngebangun mentalitas yang mandiri. Beliau nggak ngerasa kesepian, karena orang yang otaknya penuh dan jiwanya hidup nggak bakal pernah mati gaya cuma karena sendirian. (13)

Lo adalah apa yang lo tolak. Karakter lo bukan cuma dibentuk dari apa yang lo terima, tapi dari hal-hal apa saja yang berani lo katakan "TIDAK". (13)

Terkadang, kekuatan terbesar seorang manusia justru lahir ketika dia berani menghilang dari radar keramaian, bersembunyi dari tren yang dangkal, dan fokus ngebangun fondasi karakternya di dalam kesunyian. (14)

Kita ngerasa dunia ini jahat, Tuhan nggak adil, dan wajar kalau kita jadi berantakan karena kita adalah "korban" dari keadaan. (14)

Di sinilah letak kejeniusan kecerdasan emosional seorang Muhammad. Beliau memproses kesedihan itu bukan menjadi kepahitan, melainkan menjadi empati yang levelnya nggak masuk akal. (16)

Kemandirian emosional itu seringkali lahir dari kemandirian finansial dan rasa tanggung jawab. Dengan bekerja, Muhammad muda sedang membangun harga dirinya sendiri. Beliau sedang ngasih tahu ke alam bawah sadarnya bahwa meskipun beliau yatim piatu, beliau bukan orang lemah yang harus dikasihani. Beliau punya tenaga, beliau punya otak, dan beliau bisa survive dengan keringatnya sendiri. (17)

Cara terbaik buat menyembuhkan insecurity dan trauma masa lalu adalah dengan mengambil kendali penuh atas hidup lo hari ini. Ambil tanggung jawab. Kerja keras. Berhenti mengasihani diri sendiri. (18)

Alam semesta dan keheningan adalah terapisnya. Saat beliau sendirian menggembala, beliau belajar menerima takdirnya tanpa syarat. Beliau belajar bahwa manusia itu datang dan pergi, bahwa kematian itu keniscayaan, dan bahwa satu-satunya tempat bergantung yang abadi bukanlah manusia, melainkan Sang Pencipta. (18)

Berhenti ngasih makan ego lo. (19)

Muhammad sadar bahwa reputasi sejati nggak bisa diwariskan, tapi harus dibuktikan lewat tindakan nyata di lapangan. (21)

Material yang sangat langka di Makkah saat itu: integritas. Konsistensi antara ucapan dan tindakan. (21)

Itulah kekuatan karakter. Karakter yang bersih akan selalu memancarkan gravitasi yang nggak bisa ditolak oleh siapa pun, bahkan oleh orang jahat sekalipun. (22)

Karena Muhammad punya rekam jejak yang tanpa cacat. Beliau punya reputasi tidak pernah berbohong, tidak pernah memihak secara tidak adil, dan tidak pernah gila jabatan. (23)

Itulah the power of authentic personal branding. Ketika lo ngebangun reputasi dari kejujuran dan empati, lo nggak cuma dihormati, tapi lo bisa jadi pemadam kebakaran di tengah konflik sebesar apa pun. Nama baik lo jadi garansi keamanan buat orang lain. (24)

Kita menghabiskan energi yang luar biasa besar untuk mengontrol apa yang orang lain lihat tentang kita, tapi kita lupa membangun siapa kita sebenarnya saat nggak ada orang yang ngelihat. (24)

Reputasi yang sesungguhnya nggak dibangun dari apa yang lo pakai, tapi dari janji yang lo tepati. (24)

Kalau lo kerja atau magang, datang tepat waktu, dan jangan pernah ngambil credit atau pujian atas hasil kerja keras teman lo. (25)

Dan percayalah, dunia profesional dan kehidupan nyata itu sangat haus akan orang-orang yang bisa dipercaya. (25)

Sebaliknya, kalau lo punya cap Al-Amin versi lo sendiri di sirkel pergaulan atau tempat kerja lo, opportunity atau kesempatan itu yang bakal ngejar-ngejar lo. (25)

Berhenti flexing hal-hal yang sebenarnya nggak lo miliki cuma buat bikin kagum orang-orang yang bahkan nggak peduli sama lo. (25)

Kebanyakan dari kita kerja sampai tipes itu sebenarnya buat apa sih? Apakah murni karena kita cinta sama kerjaan kita? Atau karena kita lagi ngejar standar kesuksesan yang dibikin sama orang lain? (26)

Beliau nggak pernah stres atau depresi gara-gara kerjaan. Kenapa? Karena mesin penggerak beliau bukan gila harta atau haus validasi, melainkan sebuah prinsip yang sangat membumi: Iffah, atau menjaga kehormatan diri agar tidak menjadi beban bagi orang lain. (26)

Musa menggembala, Daud menggembala, dan Muhammad pun menggembala. Ini bukan kebetulan semata. Ini adalah kurikulum kepemimpinan langsung dari jalur langit. (27)

Beliau belajar untuk menuntun, bukan memaksa. Beliau belajar untuk berjalan di belakang kawanan untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, sekaligus waspada melihat ke depan untuk mencari padang rumput yang hijau. Ini adalah filosofi servant leadership (kepemimpinan yang melayani) yang sesungguhnya. (28) Isma: Aku ingin buat kisah yang strukturnya mirip hidup nabi, tapi sesuai konteksnya di masa sekarang. (28)

Dari mengembala, nabi belajar: Kesabaran tingkat dewa, Ketelitian dan Observasi, Problem Solving dan Manajemen Krisis di Bawah Tekanan. 


Maisarah ngelaporin bahwa pemuda ini kerjanya luar biasa efisien, sangat jujur, tidak pernah bersumpah palsu untuk melariskan dagangan, dan sangat memanusiakan anak buahnya. (30)

Kita kerja keras buat membiayai inflasi gaya hidup kita sendiri. Makin gede gaji, makin gede pengeluaran buat pamer. (30) Isma: Anjiiirrrr, ngerasa ketampar gw, ngebiayai inflasi hidup gw sendiri. Meanwhile, "Beliau tidak mengubah gaya hidupnya sama sekali."

Kerja kerasnya itu beliau gunakan untuk dua hal utama: Pertama, untuk membantu perekonomian pamannya, Abu Thalib, sebagai bentuk balas budi yang sangat elegan. Beliau mengambil alih beban hidup pamannya dengan cara yang terhormat. Kedua, beliau menggunakan hartanya untuk membantu fakir miskin dan membebaskan budak. (30)

Ketika tujuan utama lo bekerja adalah untuk kemandirian dan memberikan manfaat buat orang di sekitar lo, lo nggak akan gampang stres. Kenapa? Karena parameter kesuksesan lo ada di tangan lo sendiri. (31)

Sebaliknya, kalau tujuan lo bekerja adalah buat ngalahin gaya hidup temen lo, buat kelihatan lebih kaya dari tetangga lo, atau buat dapet likes terbanyak di media sosial, lo sedang mendaftar untuk depresi seumur hidup. (31) Isma: Atau jangan-jangan, gw depresi tulis gara-gara ini ya, astaghfirullah.

Kerjakan itu dengan dedikasi layaknya seorang penggembala yang melindungi dombanya dari serigala. Serap semua skill kesabaran, observasi, dan problem solving dari pekerjaan "bawah" lo itu. Jangan complain, jangan playing victim. (31)

Berkeringatlah demi kemandirian, bukan demi tepuk tangan. Ketika lo memutus rantai ketergantungan lo dari penilaian orang lain, saat itulah lo benar-benar merdeka sebagai manusia seutuhnya. (31)

 Serba-serbi: Abdullah (sebelum lahir), Siti Aminah (6th), Abdul Muthalib (8th), Abu Thalib, Pasar Ukaz, Khadijah binti Khuwailid, Hilf al-Fudul (Perjanjian Fudul atau Pakta Kesatria),

Puncak dari kegilaan toxic masculinity Makkah ini adalah sebuah tradisi mengerikan yang disebut Wa'd, yaitu mengubur anak perempuan hidup-hidup. (33)

Beliau menjadikan kelembutan, empati, dan perlindungan terhadap yang lemah sebagai definisi kejantanan yang sesungguhnya. (33)

Mendengar teriakan itu, banyak petinggi Makkah yang buang muka. Mereka pura-pura nggak denger. Kenapa? Karena yang nipu adalah Al-'As bin Wa'il, orang kuat. Mereka ngerasa nggak ada untungnya belain orang asing yang miskin dan cari masalah sama bos preman Makkah. (34)

Muhammad muda mempraktikkan filter pertemanan tingkat dewa. Beliau sadar betul akan hukum tarik-menarik dalam psikologi: lo adalah rata-rata dari lima orang yang paling sering menghabiskan waktu sama lo. (46)

Beliau nggak butuh validasi dari Amr bin Hisyam buat merasa berharga. Jadi, beliau dengan sadar menjauh dari circle utama itu. (47)

Muhammad nggak peduli. Beliau lebih memilih menjaga kewarasan dan integritasnya daripada dapet predikat "anak gaul Makkah". (47)

Ketika lo berani melepaskan sesuatu yang buruk, lo akan dipertemukan dengan sesuatu yang sefrekuensi sama lo. (47)

Karena Muhammad sibuk memperbaiki diri, menjaga kejujuran, dan berbisnis dengan etika, beliau akhirnya "beresonansi" dengan seorang pemuda lain yang juga merupakan anomali di Makkah. Namanya Abdullah bin Abi Quhafah, atau yang kelak lebih kita kenal dengan nama Abu Bakar. (47)

Ini adalah pertemanan yang effortless (nggak butuh banyak usaha buat pura-pura). (48)

Pertemanan yang sehat itu ciri utamanya satu: lo nggak merasa capek setelah nongkrong sama mereka. Justru energi lo ke-charge (terisi penuh). (48)

Beliau tahu cara meninggalkan vibes negatif tanpa harus memutus tali silaturahmi. (48)

Muhammad tidak memutus hubungan sosial dengan orang-orang Makkah, se- toxic apa pun mereka sebelum beliau jadi Nabi. (49)

Beliau membuat batasan (boundaries) yang sangat tegas terkait waktu luang dan ruang hatinya. (49)

Beliau menyortir circle-nya bukan dengan cara mengibarkan bendera perang, tapi dengan cara membatasi akses. Lo boleh beli barang gue, lo boleh ngobrol urusan kerjaan sama gue, tapi lo nggak punya akses buat ngobrolin hal-hal personal. (49)

Menolak tanpa membenci. Menjauh tanpa memusuhi. Itulah seni menyortir circle ala Muhammad muda. (49)

Waktu dan energi lo itu aset paling berharga, jangan dihambur-hamburin buat nyeponsorin orang-orang yang ngerusak mental lo. (49)

Karena kalau lo maju, itu akan jadi cermin yang nunjukin kemalasan mereka sendiri. Mereka pengen lo tetep stuck di level yang sama bareng mereka biar mereka nggak ngerasa bersalah. (50)

Alokasikan waktu lo buat upgrade diri. Ikut workshop, baca buku, atau gabung ke komunitas yang sesuai sama passion lo yang positif. Percaya sama gue, di tempat yang baru itu, lo bakal nemuin "Abu Bakar" versi lo sendiri. (50)

Hidup lo terlalu singkat buat dihabiskan demi mencari likes dari orang-orang yang nggak penting. (50)

Doomscrolling itu adalah kebiasaan ngabisin waktu berjam-jam buat scroll timeline media sosial (X/Twitter, TikTok, Instagram) tanpa tujuan yang jelas, ngelihatin konten demi konten, dari yang lucu, yang pamer, sampai berita tragedi yang bikin anxiety (kecemasan) lo kumat. (51)

Kita hidup di era di mana kesunyian itu dianggap sebagai sebuah ancaman. Coba lo perhatiin diri lo sendiri atau orang-orang di sekitar lo. Kita takut banget sama yang namanya hening. Mau mandi aja harus nyalain Spotify atau podcast. Mau makan siang sendirian harus sambil nonton YouTube. Mau tidur harus ada suara white noise atau video ASMR yang nyala. Kalau tiba-tiba kuota internet habis atau hape mati waktu lagi tunggu KRL, kita langsung panik, gelisah, mati gaya, seolah-olah dunia mau kiamat. (51)

Sebenarnya apa sih yang lagi kita hindari? Kenapa kita butuh banget "kebisingan" (noise) buatan ini setiap saat? Jawabannya brutal, bro: Kita takut sendirian dengan isi kepala kita sendiri. Kita takut ngedengerin suara hati kita yang mungkin lagi teriak minta tolong karena kita salah ngambil jalan hidup. Kita lari dari trauma, lari dari insecurity, lari dari pertanyaan pertanyaan besar tentang masa depan. (51)

Ketika kepala lo udah terlalu penuh sama kebisingan dunia, lo nggak akan bisa nemuin solusi kalau lo tetap stay di tengah keramaian itu. Lo nggak bisa menjernihkan air yang keruh kalau lo terus-terusan mengaduk gelasnya. Lo harus meletakkan gelas itu, diam, dan biarkan kotorannya mengendap ke bawah sampai airnya bening kembali. (53)

Tahannuth ini artinya menyendiri untuk beribadah dan merenung, menjauh dari dosa-dosa dan kebiasaan buruk masyarakat. (53)

Lo harus menciptakan batasan yang radikal antara diri lo dan sumber kebisingan itu. (53)

Yang ada cuma keheningan alam semesta. (54)

Tahannuth ini nggak terjadi cuma semalam, bro. Beliau ngelakuin ini berhari-hari. (54)

Jiwa yang sudah dijernihkan melalui kekuatan sebuah JEDA. (55)

Gua Hira modern lo bisa jadi adalah kamar tidur lo sendiri, atau bangku taman di dekat kompleks rumah lo, asalkan lo tahu cara mematikan kebisingannya. (55)

Lo tau segala hal tentang kehidupan orang di belahan dunia lain, tapi lo buta sama apa yang lagi dirasain sama diri lo sendiri. (55)

Revolusi terbesar dalam hidup manusia tidak pernah dimulai dari sebuah panggung yang ramai. Revolusi selalu dimulai dari sebuah jeda yang sunyi. (57)

Menolak keras untuk memakai "kartu korban" (victim card) dan malah memproses semua trauma masa kecilnya menjadi empati tingkat dewa. (58)

Menolak menjadi Alpha Male yang kasar dan manipulatif, lalu mendefinisikan ulang arti kejantanan lewat kelembutan, penghormatan kepada wanita, dan keberanian membela kaum yang tertindas. (58)

Muhammad sudah terlebih dahulu "mewahyukan" dirinya sendiri lewat karakter, kerja keras, dan keringat kemanusiaannya. Beliau pantas dipilih oleh langit, karena di bumi, beliau adalah manusia yang paling siap. (58)

Mengeluh tidak akan pernah mengubah realita. Mengutuk kegelapan tidak akan pernah membuat ruangan menjadi terang, sampai ada satu orang yang berani bangun, melangkah, dan menyalakan lilin. (60)

Kedamaian yang lo rasain saat duduk di rumah jauh lebih mahal dari tiket VIP club mana pun di kota ini. (62) 

Kamis, 02 April 2026

Melepaskan

Hari ini aku belajar melepaskan:

Perlombaan-perlombaan yang tak sesuai bakatku.

Bacaan-bacaan yang tak menggugah minatku.  

Wacana-wacana yang tak cocok.

Aktivitas-aktivitas yang melemahkanku. 

Acara-acara yang menghabiskan dayaku. 

Manusia-manusia yang tak sesuai dengan energiku. 

Aku ingin lebih jujur pada diri sendiri.

Karena hari ini aku belajar kejujuran sebagai suatu metode.

Yang bukan hanya dalam teori, tapi juga praktik. 

Senin, 30 Maret 2026

Catatan Buku "The Hound of the Baskervilles" karya Sir Arthur Conan Doyle

Aku sering ngerasa amazed dengan penulis-penulis macam Arthur Conan Doyle, kek ada aja gitu imajinasinya, dan pinter banget nyembunyiin plot twist. Kek, di awal-awal cerita tuh kita dijebak kalau semua karakter itu punya potensi jadi pelaku, termasuk ketika aku membaca buku berbahasa Inggris tingkat elementary berjudul "The Hound of the Baskervilles". Ada 12 karakter di buku ini, premisnya: Terjadi pembunuhan pemilik Baskerville Hall yang udah jadi mitos diserang anjing siluman besar, padahal bukan serangan anjing, tapi ada pelaku di baliknya. 

Cerita dimulai dengan kedatangan dokter pribadi Raja Sir Charles Baskerville bernama dr. Mortimer ke markas Sherlock Holmes di 221B Baker Street, London. Latar berlangsung pada tahun 1889. Di sana si dokter bercerita terkait mitos yang ditulis koran The Times tentang pemilik istana Baskerville tahun 1645 bernama Sir Hugo Baskerville. Hugo ini seorang ateis yang kejam. Suatu hari menculik seorang gadis desa untuk dinikahi. Gadis itu dibawa ke istana tapi bisa melarikan diri. Murkalah dia lalu dikejar sampai ke hutan. Di rimba itu, nasibnya naas, dia mati karena ulah anjing hitam besar.

Legenda itu kemudian turun-temurun menimpa pewaris setelahnya, si Charles. Suatu malam pas nyebat di dekat gerbang, dia juga diserang oleh anjing besar seperti siluman yang mengeluarkan api di sekitar tubuhnya. Usai kematian itu, istana diserahkan kepada pewaris setelahnya, Sir Henry Baskerville. Dr. Mortimer pun sanksi jika pasien langganannya dibunuh siluman hound, lalu diceritakanlah kronologinya.

Secara kebetulan, Henry juga ada di London, menginap di sebuah hotel mewah di sana. Tapi dia diikuti oleh orang yang menggunakan topeng pembantu pribadi di Istana. Hal aneh lain yang terjadi, sepatu booth Henry satu sisi dicuri entah oleh siapa. Henry pun dijaga ketat oleh Holmes bersama dengan asistennya bernama Dr. Watson. Henry juga menerima semacam surat peringatan yang kata-katanya diambil dari potongan koran lokal. Intinya, berhati-hatilah dan menjauh dari The Moor (kawasan Baskerville).

Namun, alih-allih menjauh, Holmes meminta Henry untuk ke Istana saja, karena di London jauh lebih bahaya. Agak laen emang pikirannya. Tapi Henry tak sendirian, kemana pun dia pergi, selalu dijaga oleh Watson dengan senjata pistol di jubahnya. Watson kemudian mempelajari denah The Moor, termasuk pembantu yang telah ikut lama dan ditemui di London, Mr. Barry More, yang tinggal dengan istrinya Mrs. Barry More. Pembantunya sering keluar malam pakai lilin ke arah hutan. Entah untuk menemui siapa. Padahal hutan seram, dan dianggap tempat sembunyi anjing siluman.

Di kawasan The Moor, ada tetangga yang tinggal tak jauh dari istana. Dia adalah Mr. Jack Stapleton yang tinggal di Merripit House dekat dengan Grimpen Mire. Serupa biolog dan akunya sebagai naturalis, dia sangat tertarik dengan tanaman, burung-burung, dan serangga yang ada di Dartmoor. Dia tinggal dengan seorang perempuan cantik yang diperkenalkan sebagai adik bernama Miss Stapleton. Selain itu, tinggal juga tetangga lain yang tinggal di Lafter Hall dekan Coombe Tracey bernama Mr. Frankland. Dia tertarik mempelajari bintang-bintang menggunakan teleskop. 

Watson mengunjungi dua tetangga dengan hobi aneh ini. Henry sendiri sering ke Merripit House karena dia naksir sama Miss Stapleton, tapi yang ditaksirnya itu coba mengingatkan Henry agar berhati-hati pada kakaknya. Watson juga berkomunikasi menggunakan surat untuk dikirimkan ke Holmes yang ada di London terkait perkembangan status, termasuk membuat denah The Moor dan sekelilingnya.

Suatu hari, Henry menginterogasi Mr. Barry terkait kegiatannya di hutan. Ternyata, Mr. Barry punya saudara laki-laki yang cukup kurang waras bernama Selden. Selden ini sekaligus tahanan penjara yang melarikan diri dari Dartmoor Prison. Barry memberikan makan pada Selden yang tinggal di hutan. Sebab kasihan, Henry pun memberikan baju bekasnya untuk dipakai Selden. Barry sangat senang dan menemui saudaranya.

Naas, terjadi serangan di hutan karena Selden ternyata dimangsa anjing jadi-jadian yang menjadi mitos di Baskervilles. Watson dan Henry ke hutan, menemukan Selden telah mati tercabik-cabik. Suatu waktu, tanpa angin dan hujan, Holmes tiba-tiba muncul ketika Watson kesulitan memecahkan teka-teki kematian Selden. Termasuk informasi dari Frankland yang menunjukkan teleskop kehadiran orang asing di The Moor. Di suatu tempat, terjadilah tembak menembak yang melibatkan Selden itu, yang dikira Henry. Karena baunya Henry lewat baju itu, meskipun bukan. Holmes dan Watson menembak anjing siluman itu.

Akhirnya, terkuaklah semuanya. Pembunuh Charles adalah Mr. Stapleton. Dia adalah anak haram dari saudara Charles yang menginginkan harta Baskervilles. Dia meminta Miss Stapleton untuk mendekati Henry, sehingga memudahkan niatnya. Padahal Miss Stapleton itu bukan adiknya, tapi istrinya. Yang mengikuti Henry ke London pun Stapleton, dia sudah bereksperimen sains kaitannya dengan anjing yang bisa ada apinya. Sebagai seorang naturalis, dia telah banyak memahami. Booth yang dicuri di hotel itu pun berkat kongkalikong dengan pegawai hotel untuk mengidentifikasi bau Henry. Watson sering bertanya-tanya pada Holmes terkait lapis misteri ini, dan Holmes mencanda, "Watson, you are very slow." Wkwk.

Buku ini aku baca sekali duduk. Asik ceritanya, gak muter-muter dan aku langsung dapat poinnya. Gak ada kritik serius di aku, meskipun mitos yang diturunkan dari Hugo ke Charles lalu ke Henry ini kurang kuat aja. Karena jenis anjingnya berbeda, masanya berbeda, dan kalau jarak waktunya sangat jauh, itu kayak sulit kuterima aja motif si pelakunya yang tinggal di masa Henry. Lesson learned-nya:

1. Kagak usah berambisi deh cari harta sampai membunuh orang segala. Nyusahin hidup saja.

2. Milikilah sikap skeptis yang bertanggung jawab, seperti yang dicontohkan Dr. Mortimer. 

3. Seriusilah hobimu, seaneh apa pun itu, pasti bermanfaat. Tokoh-tokoh seperti Frankland dan Stapleton ini menarik secara hobi, tapi jangan lupa gunakan untuk hal yang bermanfaat.

Sekian, terima kasih. 

Judul: The Hound of the Baskervilles | Penulis: Sir Arthur Conan Doyle | Retold: Stephen Colbourn | Penerbit: Dian Rakyat Jakarta | Cetakan: Kedua, 2011 | Jumlah Halaman: 64

Sabtu, 28 Maret 2026

Catatan Buku "The Three Strangers and Other Stories" karya Thomas Hardy

PROLOG:

Akhir-akhir ini aku mengamati pola tidurku sendiri. Rata-rata dalam sehari aku tidur enam jam. Itu waktu minimal, agar aku bisa menjalani hariku dengan normal. Aku ingin jadi sebetul-betulnya aku, seperti Ernest Hemingway yang ingin membuat tokoh-tokohnya sebenar-benarnya lelaki tua, sebenar-benarnya anak lelaki, sebenar-benarnya ikan, dan sebenar-benarnya laut. Aku ingin menjadi sebenar-benarnya Isma, tak perlu menjadi orisinal, aku lebih suka menjadi autentik. Karena orisinal berbasis kebaruan, sementara autentik berbasis kejujuran. 

Aku membaca buku tipis Thomas Hardy ini di sepertiga malam, sekitar pukul 3 dini hari, sebab aku tidur cepat sekitar jam 9. Sebelum tidur, aku cukup kelelahan membaca buku 1984 karya George Orwell. Bagiku, buku itu masih dalam kategori berat. Temanya menyesakkan dada. Saat bangun dan setelah salat tahajud, aku melihat koleksi perpustakaan pribadiku di kos. Aku menemukan buku Thomas Hardy yang diceritakan ulang oleh Margaret Tarner. Sebenarnya, buku ini adalah buku latihan reading bahasa Inggris untuk kelas intermediate.  

Sebab di EF aku sudah di level C1/C2, mudah saja aku melahapnya sekali duduk, mungkin kira-kira aku selesaikan selama dua jam. Agak lambat untuk ketebalan 63 halaman, tapi aku benar-benar menikmatinya. Berikut kisah yang kutangkap...

ALUR:

Dalam buku ini, aku seperti diajak Thomas Hardy untuk flash back masa-masa (mungkin) sekitar abad pertengahan, meskipun dia hidup di antara tahun 1840-1928. Mengapa aku katakan begitu? Karena masalah sosial yang diangkat soal hukuman gantung di depan umum, selain itu juga masih marak tradisi sihir yang melibatkan pengucilan beberapa perempuan. Aku tentu teringat dengan buku Silvia Federici berjudul Perempuan dan Perburuan Penyihir.  

Bukuk tipis ini terdiri dari tiga (eh empat) cerita pendek, semua latar galibnya terjadi di daerah bernama Edgon Heath di Wessex, Inggris. Begini cerita-ceritanya:

1. The Three Strangers: Sebagaimana di Indonesia, di Inggris perayaan juga dilakukan ketika masyarakat tengah melakukan selebrasi terhadap kelahiran, atau upacara kematian. Di sebuah desa yang dingin di Edgon Heath, ada perayaan anak kedua seorang Former Lodge dan istrinya. Mereka mengundang para tetangga dan menyediakan berbagai makanan dan minuman. Pesta itu berlangsung pada malam hari.

Mendekati malam, datang tamu aneh pertama. Orangnya kurus dan bisa bernyanyi dengan merdu. Awalnya dia mengendap-endap dulu, lalu menyapa pemilik rumah, duduk dekat perapian dan bersosialisasi dengan cukup tertutup. Tak lama kemudian, datang orang aneh kedua. Si istri pemilik rumah curiga terhadapnya, karena tubuhnya yang besar dan dia minum terlalu banyak. Bahkan porsinya bisa diminum untuk sepuluh orang sendiri. 

Setelah ngobrol, diketahuilah dia seorang hanging man. Kalau zaman dulu, dia adalah algojo yang membantu terpidana menjalani hukuman gantung yang dilakukan di depan umum. Dia kemalaman datang ke Wessex, mengetahui pesta itu dan ingin bergabung. Pagi-pagi sekali dia harus ke Casterbridge untuk melakukan pekerjaannya. Anehnya, antara orang asing pertama dan kedua saling bernyanyi, nyanyian itu seperti nyambung meskipun keduanya agak mabuk. Nyanyian itu berkisah tentang pelaksanaan hukuman gantung.

Tiba-tiba, datang orang asing ketiga. Dia ternyata dicurigai sebagai tahanan yang kabur. Alasannya, ketika dia datang, terdengar suara ledakan dari penjara sebagai tanda bahwa ada tahanan yang keluar. Dia juga dicurigai mencuri hewan gembala. Pada masa itu, mencuri saja bisa dihukum gantung! Akhirnya, dia lari menuju sebuah tempat yang sangat tidak nyaman secara geografis. Namun, pria ini tak ingin melarikan diri dan ditangkap oleh semacam polisi dan hakim yang tidak resmi kala itu.

Orang asing ketiga mengaku bahwa dirinya sedang mencari saudara kandungnya, yang tak lain adalah orang asing pertama. Ternyata orang asing pertama itulah sang buronan, tawanan penjara yang melarikan diri. Sementara itu, orang asing kedua ditugaskan untuk mengeksekusi hukuman gantung orang asing pertama. Sungguh absurd bukan? Akhir cerita ini mengambang, keduanya tidak ditemukan di mana perginya. 

2. The Withered Arm: Ini cerita unik kedua yang kubaca dari Thomas Hardy, yang menjadi cermin masyarakat pada masanya yang boleh dikatakan Eropa masa "mistik". Terkisah, ada seorang Tuan Tanah (Farmer Lodge) yang punya tanah garapan yang luas tentunya. Dia punya wanita simpanan, buruh perempuan yang bekerja sebagai pemerah susu bernama Rhoda Brook. Dari hubungan itu, keduanya dikaruniai anak laki-laki berumur 11 tahun.

Saat bekerja, Rhoda mendengar gosip bahwa Tuan Tanah itu akan membawa istri barunya yang cantik dan muda bernama Gertrude Lodge. Lalu, anak laki-lakinya disuruh untuk memata-mata si perempuan muda itu di tengah jalan secara terang-terangan. Namun, dengan penampilan necis yang menampakkan bahwa kelasnya setara, padahal tidak. Ibunya seperti dari kelas budak dengan mata hitam dan kulit berwarna, sementara Gertrude berkulit putih dan bermata biru. 

Rhoda pun sakit hati karena hubungan itu. Suatu hari Rhoda bermimpi mengerikan, dia berada satu ranjang dengan Gertrude, lalu Rhoda mencengkeram tangan kirinya, hingga Gertrude jatuh ke lantai. Kejadian itu terjadi pukul 2 malam, sang anak terbangun karena mendapati ibunya jatuh. 

Di lain kesempatan, Gertrude datang ke gubuk Rhoda untuk memberikan sepatu booth pada anak lelakinya. Rhoda merasa malu karena ternyata perempuan itu baik. Suatu hari, perempuan itu datang lagi untuk berbicara hal lebih serius. Gertrude menderita penyakit aneh ada tanda hitam di tangan kirinya, dan penyakit itu terjadi persis seperti di mimpi. Luka itu menimbulkan sakit, suaminya menjadi berkurang kasih sayangnya secara banyak karena luka itu. Rhoda merasa bersalah, karena dialah penyebabnya, dia meyakini jika dirinya punya kekuatan sihir.

Suatu hari, ada yang merekomendasikan Gertrude untuk mendatangi semacam orang sakti atau dukun yang bernama Conjour Trendle. Para pekerja mengatakan, Rhoda tahu di mana kediaman dukun itu. Awalnya, Rhoda ragu membawanya, tapi karena kasihan dibawalah dia kesana. Dalam rumah dukun, dia menyiapkan segelas air dan dipecahkan telur yang putihnya masuk ke gelas. Si dukun meminta Gertrude untuk melihat wajah pelakunya. Sekilas tampahlah wajah Rhoda. Namun, Gertrude masih sanksi Rhoda yang melakukannya. Ketika mereka pulang bersama, mereka hanya saling diam.

Bertahun-tahun kemudian penyakit itu semakin membuat Gertrude sedih. Dia menghabiskan hartanya untuk berobat, tapi tak ada dokter yang mampu menanganinya. Rhoda pun juga sudah pindah entah kemana. Dia lalu mendatangi dukun itu lagi meminta obat. Obatnya cukup sulit, Gertrude harus menyentuhkan tangannya yang sakit ke leher orang yang mati habis digantung. Meskipun ngeri, Gertrude pun menerimanya. Dia pergi ke kota tanpa seizin suaminya. Di saat yang sama, suaminya juga ke kota untuk kepentingan "bisnis".

Dia lalu menemui the hanging man. Dia mendiskusikan masalahnya ke sang algojo agar memberi kesempatan padanya untuk menyentuhkan lukanya ke leher korban gantung. Korban gantung ini pemuda yang sangat masih muda, mungkin baru belasan tahun usianya. Dia kena semacam kasus salah tangkap, karena berada di sebuah tempat yang menimbulkan kebakaran, padahal di sana dia hanya melihatnya saja. Sementara itu, pihak kerajaan tidak memberi keringanan hukuman atau menganulir hukum gantung itu.

Antara jam 12-1 siang, Gertrude diminta untuk mendatangi peti korban hukum gantung. Agar dia segera melaksanakan maksudnya. Namun, sialnya di sini, dan ini bagiku plot twist yang sangat mengagetkan: saat Gertrude ingin meletakkan tangannya di leher si pemuda, di belakangnya dia melihat Rhoda, makin kaget lagi, dia juga melihat suaminya berdiri di samping Rhoda. Ternyata, anak itu adalah anak hasil hubungan Rhoda dan Tuan Tanah! Rhoda selayaknya ibu-ibu langsung histeris dan marah-marah.

Tiga hari kemudian, Gertrude meninggal, disusul dua tahun kemudian suaminya meninggal. Terakhir, disusul dengan kematian Rhoda, sambil terus menyembunyikan kejadian mengenaskan itu.

3. Tony Kytes, The Arch-Deceiver: Ini kisah lelaki belang bernama Tony yang suka berbohong. Dia mbribik tiga perempuan cantik sekaligus bernama Milly Richards, Unity Sallet, dan Hannah Jolliver. Paling konyol, semua dijanjikan menikah sama Tony, sampai-sampai Unity cosplay jadi barang yang disembunyikan ke bak waggon atau kendaraan roda empat kala itu yang ditarik binatang. Namun akhirnya dia manut juga sama bapaknya untuk menikahi Milly.

4. The Special Orders Room: Kisah ini tidak selesai, karena halamannya tidak utuh. Intinya, ada seorang perempuan yang masuk ke dalam sebuah kamar. Di kamar itu, dia mendapati barang-barang aneh, seperti uang banyak dari berbagai macam negara, boneka yang tangannya patah, diamond, dll. Barang-barang itu aneh, ternyata, barang-barang itu jadi penanda atau simbol untuk menyantetlah kalau dibahasa Indonesiakan. Ternyata, kawan si perempuan ini seorang kriminal, barang-barang di kamar itu diibaratkan nasib kliennya.

ANALISIS:

Di cerpen pertama, pikiranku terasa sangat mindblowing, kok bisa ya nulis cerita sesederhana, seunik, tapi juga semisterius ini? Kisah kedua mengingatkanku dengan karakterku sendiri di novel Kaki Lima, aku juga memakai nama Rhoda, haha. Di novel ketiga dan keempat tak banyak kesan, karena ceritanya terpotong dan tidak selesai. Berkat buku Thomas Hardy ini, horizon litererku jadi nambah. Ada beberapa pemikiranku usai membacanya:

1. Aku jadi lebih ngeh gunanya grammar khususnya yang past perfect tense. Di sini penggunaannya jelas banget, karena aku sering bingung.

2. Aku jadi terinspirasi untuk membuat cerita yang terinspirasi dari masaku sendiri, seperti Thomas Hardy terinspirasi dari cerita-cerita masyarakat pada masanya.

3. Aku ingin eksperimen membuat alur dan plot twist yang barangkali Hardyan banget, haha.

Bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan kisah ini. Terima kasih Ya Allah. 

Judul: The Three Strangers and Other Stories | Penulis: Thomas Hardy | Retold: Margaret Tarner | Ilustrator: Anthony Colbert | Penerbit: Dian Rakyat Jakarta | Cetakan: Kedua, 2011 | Jumlah halaman: 63

Jumat, 27 Maret 2026

Catatan Buku "The Old Man and The Sea" karya Ernest Hemingway

PROLOG:

Buku klasik Ernest Hemingway ini mengingatkanku pada zaman-zaman ketika masih SMP entah SMA. Di masa-masa itu, aku meminjam buku The Old Man and The Sea di sebuah perpustakaan sekolah. Aku masih mengingat, buku ini laris jadi materi pembelajaran sastra. Namun, kesan yang mengikutiku sampai sekarang, ceritanya sangat sedih, dan dalam tubuhnya yang kecil dan kurus kala itu, aku menangis membaca buku ini. Aku kasihan sama Pak Tua, dan saat itu aku berpikir jika di akhir cerita, nelayan gaek berdedikasi yang sial ini meninggal. Tapi, pada pembacaan kedua, ternyata dia hanya tertidur nyenyak sambil bermimpi tentang singa di Afrika. Lelaki tua yang benar-benar kasihan. Kutipan antara Manolin dan Santiago ini benar-benar memukulku:

"Seberapa banyak kau menderita?"
"Sangat banyak," jawab lelaki tua. 

ALUR:

Di sebuah desa nelayan di Havana, Kuba, hidup seorang nelayan yang sangat miskin bernama Santiago. Aku membayangkan rumahnya di tepi pantai, sedikit perabotan, tak ada makanan, dan dia hanya tidur di atas kertas koran. Harta benda paling berharga yang dia punya hanya perahu, dayung, kail, harpun, dan pisau untuk mencari ikan. Sayangnya, masyarakat di sekitar sana menyebut dia "salao" atau bentuk terburuk dari ketidakberuntungan. Pasalnya, selama 84 hari dia melaut, tak didapatkan satu pun tangkapan ikan yang mampu menghidupinya. 

Kurasa, Santiago masih memiliki keberuntungan karena ada pemuda bernama Manolin yang berempati padanya. Manolin bukan anak kandung, tapi anak tetangga. Dia dilarang orangtuanya ikut Santiago agar tidak ketularan sial. Lebih baik ikut nelayan lain yang banyak menghasilkan ikan. Manolin keras kepala mengikuti dan peduli pada Santiago. 

Dia sangat gemati pada laki-laki berumur tanpa keluarga itu, dari menemani ngobrol untuk mengurangi kesepian, menyediakan makanan dan minuman saat lelaki tua itu kekurangan, dan membantu membereskan alat melaut ketika Santiago berangkat atau pulang. Seolah-olah, Santiago ayahnya sendiri. Pun begitu, Santiago juga sangat sayang pada Manolin. Dia selalu mengharapkan kehadiran anak muda itu menemaninya di berbagai situasi, khususnya saat melaut.

Alur novela ini sangat-sangat sederhana. Jika kurangkum dalam satu kalimat: Nelayan tua yang berlayar di laut dalam untuk mencari ikan, namun setelah mendapat ikan babon sepanjang sejarah hidupnya, dia harus menghadapi cobaan makhluk-makhluk lain yang besar. Di akhir cerita, Santiago harus gigit jari karena ikan marlin seberat 1.500 pound, yang rencana akan dijual per pound seharga 30 sen itu habis dimakan predator laut seperti lumba-lumba, hiu, dan pari. Sesampai di gubuk deritanya lagi, hanya kerangka ikan marlinnya saja yang tersisa. Pak tua hancur jiwa-raga, tapi kupikir dia punya kemenangan akan harga dirinya yang berhasil melalui cobaan berat itu.

Di awal-awal pelayaran, perjalanannya santai-santai saja dengan hanya melewati laut yang tenang dan angin sepoi-sepoi. Namun, ketika dia sampai Laut Atlantik yang dalam, dia sendirian dan kelabakan. Apalagi dia sudah tua, bekalnya terbatas hanya sebotol minuman, tanpa makanan. Iya, karena dia tak punya makanan cukup dan sudah bosan makan. Dia hanya memakan ikan-ikan kecill yang ditemuinya di sepanjang perjalanan.

Kemampuan si lelaki tua dalam membaca arah angin, cuaca, bintang, dan situasinya seperti di luar kepala. Bahkan dia juga bisa memahami bahasa para burung-burung dan ikan-ikan secara tidak langsung. Meskipun, dalam perjalannya, tangan kirinya mengalami kram yang menyulitkannya. Selain itu, tangan kanannya  juga terluka setelah pertarungan sengit dengan tangkapan ikan marlin raksasa yang cantik, anggun, dan kalem itu. 

ANALISIS:

Nyaris, dari halaman pertama sampai terakhir, Hemingway begitu terfokus pada cerita Santiago saja di laut. Tak banyak bagiku penulis yang bisa sefokus ini, karena rata-rata kisah para penulis bercabang, banyak tokoh, dan berantakan. Progresi narasinya seperti reruntuhan puzzle yang diacak-acak, sementara progresi narasi Hemingway lewat tokohnya Santiago ini seperti melihat laut di pinggi pantai: padu, aware, dan berkesan. Aku ingin suatu hari bisa menulis sebaik ini. Setiap unsur sastra yang digunakan Hemingway sangat minimalis: karakter, alur, latar, konflik, hingga narasi interior dan eksterior tokoh. 

Laut bagi Santiago adalah surga. Bahkan si lelaki tua menyebut ikan-ikan dan hewan-hewan yang ada di laut sebagai saudaranya. Aku begitu menikmati monolog-monolognya dengan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Santiago juga menganggap laut memiliki karakter feminim. Aku pribadi sangat mengagumi karakter kuat Santiago dalam menghadapi berbagai tantangan laut yang dihadapinya. Aku jadi berpikir, ketika kau yakin berada di jalan hidup yang menjadi panggilanmu, apa pun hambatannya akan bisa kau hadapi dengan penuh ketegaran.

Novela ini pintar sekali fokus pada kondisi laut tak dihalangi imajinasi di luar itu. Sepanjang cerita hanya satu, yakni kisah tanding panco yang dilakukan Santiago saat muda. Atau yang ringan seperti bisbol, legenda DiMaggio, dan harapan misal anak muda yang bernama Manolin itu menemaninya. Sisanya adalah problematika antara Santiago dengan dirinya sendiri, dengan ikan, dengan laut, dengan cuaca, dan kondisi kelaparan serta kepapaannya. Aku juga menyukai bagaimana Hemingway bisa memakai dua POV sekaligus secara bergantian, antara POV orang pertama dan POV orang ketiga. Namun, pembaca masih dibuatnya bisa membedakan antara keduanya. Genius. 

Terakhir, aku mengutip kata-kata Hemingway berikut terkait karakternya di The Old Man and The Sea:

"Tidak ada buku bagus yang pernah ditulis yang menggunakan simbol-simbol yang sudah ada sebelumnya dan telah teringat di dalam pikiran. ... Saya mencoba untuk meciptakan lelaki tua yang sesungguhnya, anak laki-laki sesungguhnya, laut yang sesungguhnya, ikan yang sesungguhnya dan hiu yang sesungguhnya. Namun, jika saya telah membuatnya dengan cukup bagus dan sesungguh-sungguhnya, mereka dapat berarti apa saja".  

Judul: The Old Man and The Sea | Penulis: Ernest Hemingway | Penerjemah: Deera Army Pramana | Penyunting: Nina Artanti R | Penerbit: Narasi Yogyakarta | Jumlah halaman: 164 | Dimensi: 11,5 x 18,5 cm | Cetakan: 8, 2025

KUTIPAN:

Tokoh, peristiwa, dan lema-lema: Pak Tua, pemuda Manolin, ikan terbang, bonito, albacore, sarden, burung fregat, penyu hijau, penyu sisik, ikan marlin, harpun, lumba-lumba hidung botol, ikan todak, hiu, Virgin of Cobre di Kuba, Santiago El Campeon muda vs negro, pompano dolphin, 1500 pound per pound 30 sen, ikan pedang, dentuso, taji tulang, pari hiu sirip coklat, hiu galanos, Guanabacoa Havana Kuba, 

Untuk apa diciptakan burung-burung yang begitu ringkih dan mungil, padahal samudra begitu kejam? (36) 

Fatom (atau fathom dalam bahasa Inggris) adalah satuan panjang yang setara dengan 6 kaki atau sekitar 1,8288 meter, yang digunakan khusus untuk mengukur kedalaman air atau panjang tali kapal.

Setiap hari adalah hari yang baru. Memang lebih baik kalau beruntung. Tapi aku lebih suka menjadi tepat. Sehingga saat keberuntungan datang, kau sudah siap. (40) 

burung frigate yang megah adalah kleptoparasit, juga dikenal sebagai bajak laut di kerajaan hewan, mencuri makanan dari burung laut lainnya.

Ia senang melihat begitu banyak plankton karena itu berarti ada banyak ikan di perairan itu. (43) 

Laut Sargasso adalah region di tengah Samudra Atlantik Utara. Laut Sargasso dikelilingi oleh arus air laut. 

1 yard = 0,914 meter

Racun agua mala (ubur-ubur beracun) dari bangkai kapal perang Portugis di laut. 

Karapaks atau Karapas adalah bagian dorsal dari cangkang atau eksoskeleton dari berbagai kelompok hewan, termasuk artropoda seperti krustasea dan arachnida, dan vertebrata seperti kura-kura dan penyu. 

Nilai jual mereka juga sangat besar, meskipun jujur saja, ia memiliki rasa jijik dengan makhluk dungu besar itu. Menurutnya cara mereka kawin sangat aneh. Dan mengherankan juga bagaimana mereka bisa memakan kapal perang Portugis dengan mata tertutup namun tampak sangat riang. (45) 

Sebagian orang tak merasa kasihan pada penyu karena jantung penyu masih akan berdetak selama berjam-jam setelah disembelih dan dijagal. (45) 

Sebenarnya rasanya tak lebih buruk dari bangun tidur dengan terpaksa. (46) 

Ingatlah, tak peduli seberapa kecil minatmu, kau harus sarapan di pagi hari. Ingatlah. (60) 

Ia mencaplok umpan seperti pejantan dan menarik seperti pejantan dan perlawanannya tak mengandung kepanikan. Aku penasaran apakah ia punya rencana atau apa ia hanya putus asa sepertiku? (61) 

Kekang adalah alat mendasar yang digunakan untuk mengendalikan dan berkomunikasi dengan kuda saat berkuda. 

"Mungkin aku seharusnya tak menjadi seorang nelayan," pikirnya. "Tapi itulah tujuan hidupku, untuk itulah aku dilahirkan. Aku benar-benar harus ingat untuk makan tunanya setelah hari terang." (63) 

"Ikan," katanya lembut, dengan keras, "Aku akan tetap bersamamu hingga aku mati."

Ia memandang langit dan melihat kumulus putih meninggi seperti tumpukan es krim yang bersahabat dan tinggi di atasnya adalah bulu-bulu tipis awan cirrus pada langit bulan September. (77) 

Tapi, terima kasih Tuhan, hewan ini tak sepintar manusia, meskipun mereka memiliki kekuatan yang lebih. (80) 

Tangan kirinya masih sekencang cakar elang yang mencengkeram. (80) 

Seolah-olah samudra tengah bercinta dengan sesuatu di bawah selimut kuning. (92) 

Bulan dan matahari juga tidur dan bahkan lautan pun terkadang tidur di hari-hari tertentu saat tak ada arus. Saat itu lautan begitu tenang. (99) 

Rasa sakit bukanlah masalah untuk seorang laki-laki sepertiku. (108) 

Seorang lelaki tak pernah tersesat di laut dan di laut adalah pulau yang panjang. (114) 

Tetap tenang dan kuatlah lelaki tua. (116) 

"Kau benar-benar menyiksaku, oh ikan," pikir si lelaki tua. Tapi kau punya hak untuk itu. Belum pernah aku melihat makhluk yang lebih agung, lebih cantik, lebih tenang, atau lebih mulia darimu, saudaraku. Kemari dan bunuhlah aku. Aku tak peduli siapa yang membunuh siapa di ujung cerita ini. (119) 

"Kau harus menjaga agar kepalamu tetap jernih. Jaga kepalamu tetap jernih dan hadapi penderitaan ini layaknya seorang lelaki. Atau seekor ikan," pikirnya. (119) 

Sirip punggungnya memisau air tanpa gentar. (129) Sirip punggung birunya mengiris air. (130) 

Aku benar-benar ingin membelinya jika ada tempat yang menjual keberuntungan. (150) 

"Aku tak ingin bertarung lagi, dan kuharap aku tak harus melakukannya," pikirnya. "Aku sangat berharap tak harus bertarung lagi." (152) 

Kau tidak membunuh ikan hanya agar tetap hidup dan untuk menjual makanan, pikirnya. Kau membunuhnya untuk harga dirimu, dan karena kau adalah nelayan. Kau mencintainya saat ia hidup dan kau mencintainya sesudahnya. (135) 

Ia hanya menyadari betapa ringan dan baiknya sampan itu berlayar setelah tak ada lagi beban yang sangat berat di sampingnya. (154) 

Ia sadar betapa menyenangkannya memiliki seseorang untuk diajak bicara alih-alih berkata pada diri sendiri dan pada laut. (160)