Kamis, 04 Juni 2026

Hantu, Klenik, dan Pengetahuan: Tinjauan Antropologis terhadap Dunia Gaib

Hantu, klenik, dan berbagai hal yang dianggap gaib sering kali ditempatkan di luar ruang diskusi akademik. Namun, mengapa kisah-kisah tentang mereka terus hidup, diwariskan, dan memengaruhi kehidupan sosial masyarakat hingga hari ini?

Bagaimana antropologi memandang hantu dan klenik? Apakah keduanya sekadar takhayul, atau justru merupakan bagian penting untuk memahami cara manusia memberi makna pada dunia di sekitarnya?

Mari bergabung dalam diskusi berjudul "Hantu, Klenik, dan Pengetahuan: Tinjauan Antropologis terhadap Dunia Gaib" bersama narasumber Geger Riyanto (Antropolog) dan dimoderatori oleh Isma Swastiningrum (Klenik Studies).

Diskusi ini digelar untuk membicarakan hantu dan klenik secara akademik, sekaligus melihat bagaimana ilmu sosial membaca pengalaman-pengalaman yang sering dianggap berada di luar nalar modern. Selain itu juga untuk merayakan satu tahun komunitas Klenik Studies dengan mottonya, "Membahas klenik dengan pendekatan yang tidak-tidak."

Sampai jumpa di ruang diskusi!

#KlenikStudies #Antropologi #KajianBudaya #Hantu #DiskusiAkademik

Rabu, 03 Juni 2026

Catatan Klenik Studies Vol. XI Edisi 14 Mei 2026: "Tarot dan Ramalan"

I. PEMBUKAAN

Klenik Studies Vol. XI edisi Kamis, 14 Mei 2026 mengangkat tema “Tarot dan Ramalan”. Diskusi ini dihadiri oleh Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurizky Adhi Hutama, Jevi Adhi Nugraha, Nurul Diva Kautsar, dan Isma Swastiningrum.

Pada pembukaan diskusi, Sulkhan menyampaikan bahwa Klenik Studies telah memasuki pertemuan ke-11 dan berlangsung secara konsisten. Ia menjelaskan bahwa tema tarot dan ramalan dipilih karena cukup banyak memantik perhatian. Pembahasan diawali dari tarot, yang dinilai sebagai salah satu jalur spiritual yang populer di kalangan anak muda, termasuk bagi mereka yang sedang menghadapi berbagai persoalan hidup. Selain tarot, diskusi juga menyinggung praktik ramalan lain seperti primbon dan zodiak. 

Tarot dalam banyak kasus berkembang sebagai bentuk bisnis hiburan yang menawarkan layanan konseling dan refleksi diri dengan pendekatan yang lebih atraktif. Menurutnya, di kalangan anak muda perkotaan, termasuk di Yogyakarta, tarot sering menjadi salah satu sarana untuk mencari makna, ketenangan, maupun pengalaman spiritual di luar institusi keagamaan formal. 

Sulkhan kemudian mempersilakan Nurizky sebagai praktisi untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai tarot.

II. TREN TAROT DAN PERKENALAN DENGANNYA

Pembahasan mengenai tren tarot diawali oleh Nurizky yang menceritakan pengalamannya mengenal dunia tarot sejak 2012 melalui sebuah komunitas yang awalnya berfokus pada pendekatan psikologi. Ketertarikannya terhadap tarot kemudian berkembang melalui interaksi dengan almarhum kakaknya (Bunda Ry) yang merupakan praktisi psikologi. Menurutnya, praktik membaca tanda-tanda kehidupan sebenarnya telah lama dikenal di berbagai kebudayaan, seperti zodiak, shio, maupun berbagai bentuk ilmu titen. Ia mencontohkan kemampuan nelayan membaca arah angin dan posisi bintang sebagai bentuk pengetahuan serupa yang berangkat dari pengamatan terhadap pola-pola tertentu.

Nurizky menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap tarot juga dipengaruhi oleh game Persona yang memperkenalkan konsep dalam tarot seperti mayor dan minor arcana. Rasa penasaran tersebut mendorongnya mempelajari tarot lebih serius sejak masa kuliah dan hingga kini masih terus belajar.

Ia menjelaskan bahwa salah satu daya tarik tarot terletak pada visual kartu-kartunya yang menarik dan mudah digunakan sebagai media refleksi. Misal kartu “Eight of Swords” yang menggambarkan seseorang dalam kondisi tertekan atau menghadapi banyak persoalan yang menguras pikiran. Dalam praktiknya, ia melihat sebagian orang datang untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Namun, ia juga menyoroti adanya praktik-praktik tertentu yang memanfaatkan sugesti negatif dan rasa takut agar seseorang menjadi bergantung pada pemberi ramalan.

Menanggapi hal tersebut, Sulkhan berpendapat bahwa praktik ramalan sering kali berkaitan dengan keinginan manusia untuk mengendalikan nasib dan mengantisipasi masa depan. Menurutnya, tidak sedikit ramalan yang menonjolkan unsur ketakutan sehingga membuat orang terdorong untuk kembali mencari jawaban atau kepastian. Ia membedakan praktik tersebut dengan tarot yang, dalam beberapa pendekatan, juga digunakan sebagai sarana mencari solusi atau refleksi diri.

Nurul kemudian menceritakan pengalamannya mengenal dunia ramalan sejak SMP ketika mulai aktif menggunakan internet. Pada masa itu, situs-situs seperti Primbon.com cukup populer di kalangan remaja dan sering diakses di warnet. Berbagai informasi mengenai karakter berdasarkan hari kelahiran, kecocokan pasangan, hingga kisah-kisah mistis menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari anak muda saat itu. Ia juga mengingat berbagai narasi yang berkembang di masyarakat, seperti pantangan tertentu yang diwariskan dari para sesepuh, serta bagaimana ramalan sering kali memengaruhi keyakinan dan harapan seseorang terhadap masa depan.

Sulkhan menambahkan bahwa pada masa remajanya terdapat berbagai saluran yang turut mempopulerkan praktik ramalan, mulai dari primbon, zodiak, acara televisi, hingga rubrik-rubrik ramalan di surat kabar. Menurutnya, zodiak menjadi lebih populer di kalangan anak muda dibandingkan primbon karena lebih banyak hadir dalam media populer. Nurul juga mengingat maraknya iklan layanan ramalan di televisi yang menawarkan konsultasi mengenai kehidupan, pekerjaan, maupun hubungan asmara, serta figur-figur publik yang membahas astrologi sebagai bagian dari hiburan.

III. ILMU RAMALAN SECARA PSIKOLOGI

Pembahasan mengenai ramalan dari perspektif psikologi disampaikan pula oleh Akbar yang menjelaskan adanya dua kecenderungan dalam memandang praktik ramal-meramal. Di satu sisi terdapat kelompok skeptis yang melihat ramalan sebagai hasil kecenderungan manusia mencari dan mencocokkan pola dari berbagai peristiwa yang telah terjadi. Di sisi lain, terdapat pendekatan psikologi analitik yang dipengaruhi pemikiran Carl Jung, terutama melalui konsep synchronicity atau sinkronisitas, yaitu gagasan bahwa dua peristiwa yang terjadi secara bersamaan dapat memiliki keterkaitan makna meskipun tidak memiliki hubungan sebab-akibat secara langsung. Menurutnya, konsep ini dapat digunakan untuk memahami bagaimana tarot bekerja sebagai media refleksi terhadap kondisi psikologis seseorang.

Akbar menjelaskan bahwa simbol-simbol dalam kartu tarot dapat memancing imajinasi dan menjadi pintu masuk ke alam bawah sadar. Dalam perspektif Jungian, alam bawah sadar tidak hanya berisi dorongan-dorongan personal, tetapi juga terhubung dengan simbol dan makna yang lebih luas. Karena itu, tarot dinilai kurang tepat digunakan untuk meramalkan masa depan secara pasti, tetapi lebih berguna untuk memahami situasi yang sedang dihadapi seseorang pada saat ini. Ia juga membandingkan tarot dengan I Ching dalam tradisi Tiongkok yang digunakan untuk membaca pola perubahan suatu keadaan. Menurutnya, tujuan utama metode-metode tersebut bukanlah memprediksi masa depan secara mutlak, melainkan membantu memahami posisi seseorang dalam fase kehidupan yang sedang dijalani.

Menanggapi penjelasan tersebut, Sulkhan mengaitkan konsep sinkronisitas dengan pengalaman sehari-hari ketika seseorang menemukan berbagai peristiwa yang terasa sejalan dengan kondisi batin. Misalnya, ketika sedang mengalami kesedihan lalu menemukan novel, lagu, atau simbol tertentu yang seolah menggambarkan pengalaman yang sama. Menurutnya, tarot dapat dipahami sebagai sebuah sistem simbol yang membantu seseorang mengenali pola-pola yang sebenarnya sudah ada dalam pikirannya sendiri. Simbol-simbol pada kartu kemudian memicu imajinasi dan refleksi yang lebih jauh mengenai pilihan maupun konsekuensi yang sedang dihadapi.

Jevi mengaku tidak memiliki banyak pengalaman dengan tarot, karena dari pengalaman di sekitarnya lebih banyak berkaitan dengan berbagai bentuk peramalan tradisional, seperti membaca cuaca atau tanda-tanda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Isma menyampaikan bahwa dirinya telah cukup lama mengenal tarot dan beberapa kali berkonsultasi dengan praktisi. Namun, ia mempertanyakan sejauh mana karakteristik yang dilekatkan pada suatu zodiak dapat digeneralisasi kepada semua orang, mengingat adanya perbedaan latar belakang sosial dan pengalaman hidup.

Nurizky menyatakan, tarot lebih tepat dipahami sebagai alat untuk membaca pola dan membantu seseorang memahami dirinya sendiri. Mengutip Tarot Bunda Ry, ia mengibaratkan tarot seperti GPS atau payung yang tidak menentukan masa depan, tetapi membantu seseorang mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan. Dalam praktiknya, tarot digunakan untuk menerjemahkan alam bawah sadar melalui simbol-simbol visual sehingga memudahkan seseorang memahami masalah yang sedang dihadapi. Ia juga membandingkan tarot dengan tes psikologi seperti Rorschach yang sama-sama mengandalkan proses pemberian makna terhadap simbol atau gambar tertentu.

Lebih lanjut, Nurizky menjelaskan bahwa setiap praktisi memiliki cara dan ritual masing-masing dalam menggunakan tarot. Namun, menurutnya, yang paling penting bukanlah kartu atau atribut yang digunakan, melainkan kepercayaan yang dibangun antara praktisi dan klien. Banyak orang datang bukan semata-mata untuk mengetahui masa depan, tetapi untuk memperoleh rasa aman, keyakinan, atau perspektif baru terhadap persoalan yang sedang dihadapi. Dalam konteks ini, tarot sering kali berfungsi sebagai sarana komunikasi dan refleksi yang membantu seseorang memahami dirinya sendiri.

Nurizky mengungkapkan bahwa dalam praktik profesional, peran seorang pembaca tarot sering kali lebih dekat dengan konsultan atau teman berbagi cerita dibandingkan peramal. Menurutnya, banyak klien datang karena membutuhkan ruang untuk didengarkan tanpa dihakimi. Kartu tarot hanya menjadi media pembuka percakapan, sedangkan inti interaksi terletak pada proses mendengarkan, memahami persoalan, dan memberikan umpan balik. Pengalaman tersebut membuatnya melihat tarot bukan hanya sebagai alat membaca simbol, tetapi juga sebagai sarana membangun hubungan, refleksi diri, dan pertukaran pengalaman antarmanusia.

Akbar kemudian menegaskan kembali konsep self-fulfilling prophecy dalam praktik ramalan. Menurutnya, sebuah ramalan dapat memengaruhi perilaku seseorang sehingga pada akhirnya turut membentuk masa depan yang diprediksi. Ia juga menyoroti bahwa makna yang muncul dari tarot pada dasarnya merupakan hasil interpretasi. Sebagai contoh, kartu “Death” tidak selalu dimaknai sebagai kematian secara harfiah, tetapi dapat diartikan sebagai berakhirnya suatu fase dan dimulainya fase baru. Karena itu, banyak ramalan disampaikan dalam bentuk yang relatif terbuka sehingga memberi ruang bagi individu untuk memberikan makna sesuai dengan pengalaman hidupnya masing-masing.

Menanggapi hal tersebut, Sulkhan menyoroti bahwa berbagai bentuk ramalan, termasuk zodiak dan primbon, sering kali berkaitan dengan konsep self-fulfilling prophecy yang disebut Akbar, yaitu ketika keyakinan terhadap suatu ramalan secara tidak langsung memengaruhi perilaku seseorang sehingga ramalan tersebut tampak menjadi kenyataan. Ia juga menilai bahwa faktor kelas sosial dapat memengaruhi bagaimana karakteristik yang dikaitkan dengan suatu zodiak diwujudkan dalam kehidupan seseorang. 

IV. SARANA COPING MECHANISM

Diskusi kemudian berlanjut pada fungsi ramalan sebagai sarana coping mechanism dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Nurul mengaku cukup dekat dengan berbagai bentuk ramalan dan masih menggunakan aplikasi seperti The Pattern. Menurutnya, ramalan sering kali terasa relevan dengan kondisi yang sedang dialami seseorang. Namun, yang lebih penting adalah perannya sebagai alat untuk memahami ketidakpastian dan mengelola perasaan tidak nyaman. Ketika menghadapi situasi yang rumit, ramalan dapat membantu menyederhanakan persoalan, memberikan arah, serta menghadirkan harapan yang membuat seseorang merasa lebih tenang dalam mengambil keputusan.

Nurul menjelaskan bahwa berbagai narasi dalam ramalan, seperti prediksi mengenai fase kehidupan tertentu, sering kali berfungsi sebagai sumber motivasi dan refleksi diri. Baginya, benar atau tidaknya ramalan bukanlah hal yang utama. Yang lebih penting adalah bagaimana ramalan membantu seseorang memvalidasi perasaan, memahami kondisi yang sedang dihadapi, dan memperoleh ketenangan dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti. Ia juga menyoroti peran media sosial yang, melalui algoritma, kerap menampilkan konten-konten serupa setelah seseorang berinteraksi dengan tema ramalan tertentu. Karena itu, ia melihat ramalan sebagai salah satu mekanisme psikologis dan sosial untuk menghadapi ketidakpastian hidup.

Menanggapi pandangan tersebut, Sulkhan menilai bahwa pengalaman yang disampaikan Nurul memperkuat argumentasi sebelumnya mengenai fungsi tarot sebagai alat untuk memaknai kondisi yang sedang dialami seseorang pada masa kini. Menurutnya, proses refleksi yang muncul melalui tarot atau ramalan dapat membantu seseorang memahami pola hidupnya dengan lebih baik, sehingga lebih bijak dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan.

Isma kemudian mengaitkan pembahasan ini dengan praktik kreatif dalam dunia sastra. Ia mencontohkan penggunaan tarot oleh seorang penulis sebagai alat untuk mengembangkan alur cerita maupun karakter. Akbar juga mencontohkan bagaimana I Ching juga dipakai penulis sebagai pemicu kemungkinan-kemungkinan baru yang membuat cerita berkembang secara lebih organik dan variatif. Dari sini muncul pertanyaan apakah proses yang sama juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang membaca ramalan lalu menyesuaikan cara pandang maupun tindakannya berdasarkan makna yang diperoleh.

Menurut Sulkhan, upaya memahami atau bahkan memprediksi masa depan berpotensi memengaruhi perilaku seseorang pada masa kini. Ketika seseorang menerima suatu prediksi, baik secara sadar maupun tidak, ia dapat mulai mengubah sikap, pilihan, dan tindakannya. Dengan demikian, ramalan tidak hanya berfungsi sebagai pembacaan terhadap kemungkinan yang akan terjadi, tetapi juga dapat menjadi faktor yang turut membentuk arah masa depan itu sendiri.

V. FENOMENA DI GUNUNGKIDUL DAN TAROT SEBAGAI ENTERTAIN

Pembahasan kemudian bergeser pada berbagai praktik ramalan dan pembacaan tanda yang berkembang di Gunungkidul. Jevi menjelaskan bahwa dirinya tidak terlalu terpapar tarot, tetapi lebih akrab dengan tradisi lokal seperti Cupu Panjala dan Pawukon. Dalam tradisi Cupu Panjala, ramalan dilakukan melalui pembacaan motif atau bercak pada kain mori yang dibuka setahun sekali. Berbagai bentuk yang muncul kemudian ditafsirkan oleh tokoh tertentu untuk menggambarkan kondisi sosial, lingkungan, maupun peristiwa yang diperkirakan akan terjadi. Menurutnya, praktik ini lebih berorientasi pada pembacaan keadaan zaman dan kehidupan masyarakat dibandingkan nasib individu.

Selain itu, Jevi menjelaskan bahwa Pawukon masih digunakan di sejumlah wilayah Gunungkidul, terutama untuk menentukan waktu yang dianggap tepat dalam berbagai aktivitas, seperti menanam, panen, maupun penyelenggaraan hajatan. Pengetahuan tersebut biasanya dimiliki oleh orang-orang tertentu dan diwariskan secara terbatas. Meskipun jumlah praktisinya semakin sedikit, masih terdapat upaya pewarisan kepada generasi muda melalui kelas-kelas informal yang dipandu para sesepuh. Di sisi lain, berbagai tradisi tersebut juga mulai menarik perhatian peneliti dan wisatawan karena dianggap sebagai bentuk pengetahuan lokal yang semakin langka.

Menanggapi hal tersebut, Sulkhan menilai Gunungkidul memiliki kekayaan tradisi yang menarik untuk dikaji, terutama berbagai teknologi budaya yang digunakan masyarakat untuk memahami alam dan membaca pola kehidupan. Menurutnya, tradisi-tradisi yang mulai terancam hilang justru memiliki nilai penting untuk didokumentasikan dan dipelajari lebih lanjut.

Sulkhan kemudian mengaitkan pembahasan ini dengan fungsi sosial ramalan dalam kehidupan masyarakat. Ia mencontohkan berbagai nasihat dalam tradisi pesantren yang disampaikan dalam bentuk konsekuensi atau prediksi, seperti peringatan bahwa seseorang akan dijauhi masyarakat jika tidak menghormati orang tua atau gurunya. Menurutnya, narasi-narasi semacam itu memiliki fungsi sosial untuk membentuk perilaku dan kepatuhan melalui gambaran mengenai akibat yang mungkin terjadi di masa depan.

Jevi kemudian mempertanyakan apakah seorang pembaca tarot mengalami perubahan identitas atau memasuki kondisi tertentu ketika melakukan pembacaan kartu, sebagaimana yang ia temui dalam beberapa praktik spiritual di Gunungkidul. Ia menceritakan pengalamannya menjumpai sejumlah tokoh spiritual yang tampak berubah sikap, bahasa, maupun perilakunya ketika memberikan nasihat atau ramalan kepada orang lain.

Menjawab pertanyaan tersebut, Nurizky menjelaskan bahwa dalam praktik tarot yang ia jalani, perubahan tersebut lebih merupakan bagian dari cara berkomunikasi dan membangun suasana daripada pengalaman mistis. Menurutnya, tarot pada dasarnya merupakan bentuk hiburan sekaligus media konseling yang menggunakan simbol, bahasa, dan penyampaian yang menarik agar klien merasa nyaman untuk bercerita. Dalam praktiknya, kemampuan membangun kepercayaan, memilih kata-kata, serta menciptakan suasana yang cair justru menjadi aspek yang paling penting. Karena itu, ia melihat tarot sebagai perpaduan antara komunikasi, refleksi diri, dan hiburan yang mudah diterima oleh masyarakat urban maupun generasi muda.

Pembahasan kembali mengarah pada praktik perdukunan yang masih berkembang di Gunungkidul. Jevi menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih mendatangi dukun ketika menghadapi persoalan hidup, mulai dari masalah ekonomi hingga persoalan pribadi. Dalam praktik tersebut biasanya terdapat berbagai syarat, media, dan ritual tertentu yang harus dipenuhi. Menurutnya, pola yang digunakan tidak jauh berbeda dengan praktik ramalan pada umumnya, yaitu memberikan tafsir, arahan, atau solusi atas persoalan yang sedang dihadapi seseorang.

Nurul kemudian menanyakan apakah praktik perdukunan masih banyak dijumpai pada masa sekarang. Menanggapi hal itu, Jevi menyatakan bahwa praktik tersebut masih bertahan karena sebagian masyarakat merasa lebih nyaman berkonsultasi kepada figur spiritual dibandingkan kepada tenaga profesional seperti psikolog. Ia menambahkan bahwa keberhasilan maupun kegagalan dari praktik-praktik tersebut tetap bergantung pada banyak faktor, meskipun kepercayaan masyarakat terhadapnya masih cukup kuat.

Sulkhan menilai bahwa berbagai cerita mengenai perdukunan, mitos, dan praktik spiritual lokal merupakan bagian menarik dari kehidupan sosial masyarakat yang layak diteliti maupun dijadikan bahan karya sastra. Nurul menambahkan bahwa praktik-praktik semacam itu tidak hanya ditemukan di tingkat masyarakat biasa, tetapi juga kerap dikaitkan dengan berbagai kalangan, termasuk tokoh-tokoh politik. Sulkhan kemudian menegaskan bahwa pada dasarnya berbagai bentuk ramalan dan ilmu titen berangkat dari upaya manusia membaca pola-pola yang dianggap memiliki makna dalam kehidupan.

Sulkhan kembali menyoroti fungsi tarot dan berbagai bentuk ramalan sebagai sarana pencarian makna. Menurutnya, berbagai ritual yang menyertai praktik tarot dapat dipahami sebagai cara para praktisi membangun makna dan pengalaman simbolik bagi diri mereka maupun kliennya. Ia melihat apa yang sering disebut sebagai “cocokologi” tidak semata-mata bertentangan dengan rasionalitas, melainkan merupakan bagian dari pengalaman batin manusia dalam mencari pemahaman terhadap kehidupan. Dalam pandangannya, banyak orang datang kepada tarot atau ramalan bukan sekadar untuk mengetahui masa depan, melainkan untuk menemukan makna atas pengalaman yang sedang mereka jalani. 

VI. POLA, WETON, DAN PRIMBON

Pembahasan mengenai weton dan primbon dijelaskan oleh Jevi yang menjelaskan bahwa sistem penanggalan Jawa masih dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk pada nama-nama hari pasaran seperti Pon, Kliwon, Legi, Wage, dan Pahing. Menurutnya, tradisi tersebut berangkat dari upaya masyarakat Jawa membaca pola-pola kehidupan berdasarkan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia meyakini bahwa sistem seperti weton lahir dari pengamatan yang panjang terhadap karakter maupun peristiwa yang berulang, meskipun sebagian besar pengetahuan tersebut kini lebih banyak diwariskan secara lisan dibandingkan melalui catatan tertulis.

Nurul mengaku tertarik untuk mencoba membaca weton karena tradisi tersebut tidak terlalu populer dalam lingkungan keluarganya yang berlatar Jawa dan Sunda. Ia menceritakan bahwa media sosial sering menampilkan berbagai kisah terkait weton, perjodohan, dan penentuan hari baik, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari pengamatannya, weton masih digunakan oleh sebagian masyarakat untuk menentukan waktu yang dianggap tepat dalam berbagai aktivitas, mulai dari pernikahan hingga membuka usaha.

Jevi kemudian menceritakan sejumlah tradisi yang masih dijalankan di lingkungannya terkait peringatan weton. Salah satunya adalah penyajian makanan tertentu pada hari kelahiran berdasarkan weton, lengkap dengan tata cara dan simbol-simbol yang memiliki makna tersendiri. Menurutnya, berbagai ritual tersebut tidak selalu dianggap wajib, tetapi tetap dijalankan sebagai bagian dari tradisi keluarga dan penghormatan terhadap warisan budaya. Ia juga menambahkan bahwa dalam beberapa praktik Jawa, arah mata angin memiliki peran penting dalam menentukan hari baik maupun membaca berbagai pertanda.

Pembahasan kemudian beralih pada perbedaan cara masyarakat memaknai ramalan. Jevi menyinggung pengalamannya melihat praktik-praktik ramalan di luar Indonesia yang cenderung lebih terbuka dan spesifik dalam menyampaikan prediksi, termasuk mengenai kehidupan dan kematian. Sebaliknya, menurutnya, tradisi Jawa umumnya lebih simbolis dan tidak disampaikan secara gamblang, sehingga memberi ruang yang lebih luas bagi proses penafsiran.

Isma kemudian menambahkan bahwa ramalan zodiak yang banyak beredar di media populer sering kali ditulis dengan cara mengarang sehingga mudah dianggap relevan oleh banyak orang. Ia mengingat pengalaman seorang redaktur media yang mengaku menyusun ramalan zodiak lebih sebagai konten hiburan daripada hasil pembacaan yang benar-benar mendalam.

Menanggapi terkait ramalan sebagai suatu bentuk entertain, Nurizky menjelaskan bahwa sebagian tayangan ramalan yang muncul di televisi pada masa lalu sering kali mengandung unsur rekayasa demi kepentingan hiburan dan peningkatan rating. Ia mencontohkan pengalaman kakaknya yang pernah mendapat tawaran untuk terlibat dalam program televisi bertema ramalan, namun diminta mengikuti skenario yang telah disiapkan sebelumnya. Menurutnya, aspek hiburan sering kali menjadi pertimbangan utama dalam penyajian ramalan di media massa.

Nurizky menjelaskan bahwa berbagai sistem seperti weton, neptu, astrologi, maupun metode serupa di kebudayaan lain pada dasarnya berangkat dari upaya mengumpulkan dan membaca pola-pola kehidupan manusia. Menurutnya, para pendahulu menyusun berbagai klasifikasi berdasarkan waktu kelahiran, karakter, dan pengalaman hidup untuk membantu memahami kecenderungan seseorang serta meminimalkan potensi konflik dalam hubungan sosial. Namun, ia menekankan bahwa kecocokan antara hasil pembacaan dengan realitas tidak selalu mutlak karena kepribadian manusia juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial, pengalaman hidup, dan proses pembelajaran.

Nurizky menekankan bahwa yang terpenting dari ramalan adalah kemampuan seseorang mengambil hal-hal yang dianggap bermanfaat dan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sulkhan menambahkan bahwa ramalan pada akhirnya dapat berfungsi sebagai sarana untuk membuat seseorang merasa lebih berdaya dalam menghadapi kehidupannya. Nurizky kemudian menegaskan bahwa setidaknya ramalan dapat memberikan keyakinan dan dorongan bagi seseorang untuk terus bergerak menjalani hidup.

VII. RAMALAN DAN CHATGPT

Pada bagian akhir diskusi, pembahasan berkembang ke fenomena penggunaan kecerdasan buatan, khususnya ChatGPT, sebagai sarana mencari jawaban dan memahami kehidupan. Jevi mengaku tidak terlalu tertarik pada ramalan maupun upaya mengetahui masa depan secara detail. Baginya, kejutan-kejutan dalam hidup justru menjadi bagian yang menarik untuk dijalani. Ia juga mengamati bahwa banyak anak muda saat ini cenderung bertanya kepada ChatGPT mengenai berbagai persoalan hidup, meskipun dirinya sendiri tidak memiliki kebiasaan tersebut.

Menanggapi hal itu, Sulkhan berpendapat bahwa sebagian orang memang lebih menikmati ketidakpastian dan kejutan-kejutan hidup, sementara sebagian lainnya merasa perlu memiliki gambaran mengenai masa depan sebagai pegangan dalam mengambil keputusan. Menurutnya, kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa manusia selalu berupaya mencari arah di tengah kompleksitas kehidupan.

Nurizky kemudian membandingkan penggunaan ChatGPT dengan praktik tarot. Menurutnya, ChatGPT lebih banyak menawarkan pendekatan yang logis dan analitis, sedangkan tarot lebih dekat dengan refleksi perasaan dan intuisi. Ia mengaku menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu melihat persoalan secara lebih objektif, terutama ketika sedang menghadapi penolakan atau bias dalam menilai dirinya sendiri. Dalam pandangannya, AI dapat membantu meredam kecenderungan menyangkal kenyataan dan memberikan sudut pandang yang lebih rasional. Sementara itu, tarot digunakan untuk membantu menyelaraskan pikiran dan perasaan melalui simbol-simbol yang memancing refleksi.

Jevi menilai bahwa hal yang belum sepenuhnya dapat diberikan oleh ChatGPT adalah aspek rasa dan intuisi yang sering muncul dalam interaksi antarmanusia. Menurutnya, jawaban yang diberikan AI tetap berangkat dari pola dan sistem yang telah dirancang sebelumnya. Sulkhan kemudian menambahkan bahwa pencarian rasa maupun makna juga merupakan bagian dari upaya manusia mencari kebenaran, sebagaimana pencarian melalui ramalan, refleksi diri, maupun berbagai bentuk pengetahuan lainnya.

Nurul menjelaskan bahwa ketertarikannya menggunakan ChatGPT berangkat dari pengalaman menghadapi ketidakpastian dalam hidup. Setelah mengalami berbagai kegagalan dan merasa tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai masa depan, ia mulai menggunakan ChatGPT sebagai sarana menyusun rencana dan mencari alternatif solusi. Baginya, teknologi tersebut membantu proses refleksi sekaligus memberikan struktur dalam menghadapi persoalan yang sebelumnya terasa membingungkan.

Menutup diskusi, Nurizky menekankan bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki pola hidup dan kebiasaan yang dapat diamati. Menurutnya, kemampuan mengenali pola tersebut membantu seseorang memahami dirinya sendiri maupun orang lain. Ia mengaku lebih nyaman menjalani hidup dengan pola yang relatif teratur karena keteraturan tersebut membantunya menjaga keseimbangan psikologis. Dari perspektif ini, baik ramalan, ilmu titen, maupun penggunaan ChatGPT dapat dipahami sebagai berbagai cara yang digunakan manusia untuk membaca pola.

VIII. PENUTUP

Beberapa kesimpulan diskusi Klenik Studies Vol. XI:

1. Ramalan, tarot, weton, primbon, maupun ilmu titen menunjukkan upaya manusia membaca pola dan mencari makna di tengah ketidakpastian hidup.

2. Dari perspektif psikologi, ramalan lebih berfungsi sebagai sarana refleksi diri, coping mechanism, dan pemberian makna atas pengalaman hidup daripada alat untuk memprediksi masa depan secara pasti.

3. Baik melalui ramalan tradisional maupun teknologi seperti ChatGPT, manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama, yaitu mencari arah, memahami diri sendiri, dan memperoleh keyakinan dalam mengambil keputusan.

Selasa, 02 Juni 2026

Sastra Indonesia dan Arenanya

Kelas kritik sastra DKJ sesi 8 kali ini bertema "Sastra Indonesia dan Arenanya". Narasumbernya adalah Asri Saraswati. Dilaksanakan via Zoom, Selasa, 2 Juni 2026, pukul 19.15-21.05 WIB. 

Asri menjelaskan, kita hari ini diskusi sastra, sastra hidup dan beredar. Membicarakan hal-hal di luar teks, hidup, beredar, diterjemahkan, dimaknai. Ada ruang untuk diskusi sastra juga. Di sesi ini banyak teman dari komunitas, penulis, penerjemah, dan praktisi sastra. Nanti saat diskusi sangat mengharapkan masukan. Pasti ada hal-hal tertentu untuk didiskusikan. 

Konsep arena sastra diambil dari tulisan Bourdieau. Konsep habitus dan arena budaya. Sumber bacaan bisa dibaca tulisan Doni Ahmadi ("Menunggu Negara Bekerja"), Naufil Istikhari Kr. ("Sisi Lain Penerbit Indie"), dan Hartiningtyas (Jurnal). Ketika membaca tulisan-tulisan orang lain, baca dengan pikiran terbuka. Perhatikan format, argumen, dan cara penulis bercerita dan meyakinkan pembaca. Kita tak perlu setuju dengan bacaan, tapi perlu balajar darinya. Manfaatkan pemikiran dan pendapat yang menurut kita berharga dan berguna. Kutip dengan tepat jika ingin merujuknya. 

Mengapa membahas sastra sebagai arena? Menurut Asri, ini merupakan dorongan post-struktural dengan pendekatan materialisme historis untuk memahami teks dan karya seni. Termasuk memahami masyarakat dan pasar yang mengatur karya. Memahami karya tak hanya hasil idealisme penulis, namun penyebaran dan apresiasinya dipengaruhi elemen eksternal. Teks dipengaruhi elemen-elemen lain di luar tulisan. 

Asri mempertanyakan, seperti apa skena sastra di Indonesia saat ini? Apa yang membuat sastra diminati saat ini? Beberapa jawaban dari peserta seperti menjadi penulis untuk ngejar uang itu gak ideal, meskipun perlu. Ada faktor ekonomi di sana. Juga ada faktor distribusi, ada karya tertentu ditansmisikan dengan baik, meskipun secara kualitas kurang. Skena sastra ini jadi sebuah tren, yang muda sekarang punya media sendiri. Penerbitan ini ada major publications, vanity publications, dan independent publications

Kembali ke Bourdieau, dia mempertanyakan: Apakah selera sifatnya muncul dari dalam? Apakah kita punya otonomi/kuasa atas selera kita? Menurut Bourdieau, selera adalah bentukan, bukan sesuatu yang datang dari dalam. Ia adalah instrumen social distinction, penanda kelompok. Sejumlah simbol dan makna dibuat agar tak semua kelompok bisa mengaksesnya. Di sana ada "kapital simbolik", yang menemukan nilai tak hanya pada nilai materiil benda, tapi nilai simbol yang ada di dalamnya. Di sini pentingnya membaca dari dekat. Pengetahuan tak hanya milik kelompok tertentu saja. 

Terkait otonomi di "arena" budaya, ada pertanyaan: Apakah seni otonom? Menurutnya ada otoritas luar yang berperan, misal negara dan gereja. Bourdieau membantu kita memahami ada yang disebut seni "tinggi" dan seni populer. Ada hierarki dalam selera. Ada pihak yang berperan dalam arena sastra. Menurut Bourdieau, karya yang dipengaruhi pasar berarti tidak otonom. Ia cenderung mengkritik karya yang dipenuhi pasar. Pemikiran ini dipengaruhi Engels. Ada pengaruh pasar dalam produksi budaya. 

Pertanyaannya kemudian, apakah Bourdieau cocok untuk konteks Indonesia? Semangat baca tinggi akses buku terbatas, kritik perlu menjangkau semua jenis bacaan demi produksi pengetahuan. Asri mendorong peserta untuk melampaui Bourdieau. Asri juga memberikan contoh kritik sastra yang memetakan arena sastra dalam tulisan Gisele Sapiro berjudul, "The Structure of the French Literay Field During the German Occupation (1940-1944)". Dia mendiskusikan mengenai hubungan antar aktor, dan kritikus bisa memetakan sendiri. 

Asri mencontohkan juga Penerbitan Partikular yang lahir tahun 2022. Ia berkembang menjadi toko buku dan ruang diskusi, menghidupkan kembali klub sastra. Mendahulukan diskusi dan berbagai pengetahuan dengan topik beragam. Partikular, buku yang dijual adalah pilihan penjual, di kurasi oleh penjual, dan bukan mengikuti selera pasar. Diskusi dengan Juli Sastrawan, faktor yang menyebabkan ramainya toko buku antara lain: populernya budaya analog saat ini, ada status sosial tertentu yang memungkinkan itu terjadi. Serta bagaimana diskusi sastra juga turut berperan dalam memperkuat ekosistem. 

Jumat, 29 Mei 2026

Tentang Musik Algoritma AI

 

Refleksi 29052026:

Hari ini aku makan bakso di dekat Stasiun Juanda, karena bakso Handayani di Gang Kingkit tutup, mungkin karena libur panjang Idul Adha. Aku pun memutar jalan menuju arah Juanda, melewati gang-gang kecil di Jakarta. Aku memperhatikan, bahkan karena sempitnya ruang, menjadi umum gang digunakan sebagai dapur. Kompor dan bahan makanan yang diletakkan di depan rumah jadi hal lazim.

Saat sampai di penjual bakso kaki lima, aku memesan semangkok bakso dan es teh tawar. Penjualnya seorang ibu berkacamata, yang dibantu anak perempuannya (mungkin usia 20-an), wajah mereka mirip. Aku makan seperti biasa, yang menarik, si anak perempuan ini nyanyi lagu yang lagi viral berulang-ulang: "MBG, Mas Bahlil Ganteng / Buah apa, yang paling manis? / Buahlil / Tambah ganteng aja..." 

Tanpa bermaksud menghafalnya, aku sampai hafal reff-nya saking si anak tadi mengulang-ulangnya terus. Panasaran, aku browsing asal-usul lagu itu, dan ternyata lagu itu dibuat AI. Aku jadi mikir: untuk golongan grassroots, lagu-lagu seperti ini populer juga ya. Ia jadi semacam "earworm" di wilayah abu-abu, yang sulit dibedakan apakah ini meme, propaganda, satire, ironi, hiper-absurd, atau ambiguitas sama sosok Bahlil. Politik udah ekspansi ke jalur-jalur seperti ini.

Untunglah, enggak tahu nyambung atau enggak dengan refleksiku, di semesta lain, ada pula orang-orang baik yang ngasi bacaan-bacaan waras (di tengah gempuran musik algoritma) macam ini. Buku itu judulnya, Music and Social Movements: Mobilizing Traditions in the Twienthieth Century karya Ron Eyerman dan Andrew Jamison. Link dowload bisa dunggah dari ini: https://share.google/FVbgsxQ7Uy0N1j3vO.

Selasa, 26 Mei 2026

Kanonisasi, Politik Sastra, dan Peran Kritikus Sastra


Kelas Kritik Sastra DKJ edisi Selasa, 26 Mei 2026, digelar secara online dengan tema "Kanonisasi, Politik Sastra, dan Peran Kritikus Sastra". Diskusi ini menghadirkan narasumber akadmikus Katrin Bandel, dan dimoderatori oleh Dewi Kharisma Michellia. 

Michel membuka diskusi dengan bacaan di blog Boemi Poetra. Termasuk ada bacaan list sastra di kurikulum sekolah, ada Pustaka Sastra juga di masa Hilmar Farid. Bagaimana kanonisasi ini bekerja? Pembicara Katrin Bandel akan memaparkan materinya. 

Katrin menjelaskan, karena ini kritik sastra, peran kritikus adalah bagaimana berkaitan dengan kanon dan politik sastra. Ia mempertanyakan, apa itu kanon? Dia menyebut, kanon adalah sekumpulan teks yang dinilai panting penting, berpengaruh, dan paling layak dibaca serta diajarkan. Kata ini awalnya ada dalam tradisi Al-Kitab, terkait ayat mana yang perlu dan tidak perlu dimasukkan. Istilah meluas ke dunia sastra, karya mana yang klasik, bermutu, dan perlu diajarkan. 

Kanon selalu hadir dan kita bersentuhan dengannya. Tapi tidak ada buku tunggal yang menentukan teks mana yang masuk kanon, atau tidak ada lembaga yang menentukan kanonisasi dalam sastra, meskipun di lembaga agama ada. Yang ada di kepala kita masing-masing bisa jadi yang disebut kanon tak tentu sama. Dia selalu dinegosiasikan dan berubah. Bisa saja karya yang awalnya tidak terlalu penting, berpuluh tahun kemudian dianggap kanon. Kanon itu bukan sesuatu yang tetap, tapi sesuatu yang jelas ada. 

Karena tidak ada otoritas yang pasti, kita berjumpa dengan kanon di mana? Mudahnya bisa kita temukan dalam dunia akademia. Misal karya apa yang dibaca dan diajarkan di sekolah. Di buku pelajaran kadang dihafal nama pengarang dan judul buku sebagai strategi kanon. Ini moment penting ketika belajar sastra. Buku pelajaran dan kurikulum di semua level, dasar sampai perguruan tinggi, baik di Fakultas Sastra maupun jurnal sastra internasional, karya mana yang dibaca bisa berubah-ubah tapi tidak terlalu jauh. Misal karya yang sering dibahas dari Inggris dan Amerika Serikat. Kurikulum sangat berpengaruh terkait karya apa yang akan dikenal dan dikaji. 

Yang cukup berperan di Indonesia itu misal antologi. Ada yang membentuk angkatan, misal Angkatan 2000 dengan mengumpulkan sekian karya. Mereka mengusulkan adanya nama angkatan, melakukan seleksi mana sastrawan yang layak dibaca. Contoh lain yang lumayan heboh, berkaitan dengan majalah sastra Horison. Mereka menerbitkan buku cerpen, puisi, novel. Seleksi ini juga untuk dipakai di sekolah-sekolah, melakukan seleksi karya yang paling layak dibaca. Selain lewat dokumen atau buku yang terbit, juga lewat kesepakatan bersama dalam masyarakat secara informal. Karya mana yang sering tersebut dan mana yang dipinggirkan. 

Kanonisasi menentukan bagaimana proses seorang sastrawan mulai dianggap penting dan dihargai? Yang disebut kanon bukan yang baru-baru, tapi yang lama. Istilah kanon dipakai untuk yang sudah agak lewat. Bagaimana proses menjadi kanon? Institusi seperti apa yang berperan di situ? Ada pula kanonisasi dari lomba dan penghargaan. Penghargaan yang ada, hadiah sastra yang muncul dengan legitimasi juri, ini tentu berperan jika mendapatkan anugerah atau penghargaan tertentu. Termasuk yang diselenggarakan oleh DKJ. Kanal lain seperti sastra dalam media massa dan pemberitaan. Ini berperan dalam penghargaan kepada sastrawan. Di masa lalu, koran Minggu itu penting. Sastrawan yang dimuat di koran Minggu dianggap sudah mendapat legitimasi tertentu. 

Kita melihat status media berubah. Ada masa sastra Minggu penting, tapi sekarang bergeser peran institusi ini. Termasuk lewat undangan acara lokal hingga internasional. Apalagi diundang ke luar negeri, ini jadi legitimasi tertentu. Kanonisasi termasuk juga lewat penerjemahan. Ini beberapa hal yang membuat sastrawan disebut karyanya penting. Sehingga kanonisasi itu bukan didapatkan begitu saja. Cara kita memilih buku mana yang kita beli, termasuk berkaitan dengan kanonisasi ini. Semua ini sangat berpengaruh. 

Kenapa Kanonisasi Perlu Dikritik? 

Kenapa ini perlu dikritik? Apa yang perlu diperhatikan? Kanonisasi ini tidak pernah netral. Pilihan karya baik yang dimasukkan ke antologi dan penghargaan, bukan hal yang diterima begitu saja, tapi perlu terus menerus dipertanyakan. Ada asumsi yang disadari maupun tidak oleh seseorang. Tentu ada karya-karya tertentu yang diperhatikan dan tidak diperhatikan. Apakah karya yang dipilih mewakili semua kalangan? Apakah karya laki-laki lebih banyak terepresentasi? Ini beberapa kritik yang umum terhadap kanon. 

Contoh hadiah nobel sastra di zaman dulu hampir semuanya laki-laki kulit putih. Sudah bias gender, bias ras lagi. Misal penulis yang eksplisit berhaluan kiri tidak dianggap ada, tidak pernah benar-benar menang. Ada bias dalam seleksi itu, perubahan itu terjadi. 

Proses penciptaan nilai seleksi karya kanon ini yang disebut politik sastra. Bukan bagaimana dunia politik masuk ke sastra, tapi bagaimana dalam membentuk kanonisasi karya? Memilih karya? Ini ada politik, kepentingan, relasi kuasa yang menentukan karya seperti apa yang lebih dihargai dan mana yang dipinggirkan. Kalau mau meneliti politik sastra, kita perlu memperhatikan bagaimana individu tertentu mengangkat sastrawan. Kira-kira ada kepentingan apa di situ. Apakah itu tidak adil? Adakah kalangan tertentu yang secara sistematis dikecualikan. Jadi kalau mau memperhatikan itu, perlu "memetakan" individu dan institusi yang terlibat. Apakah mereka jujur atau manipulatif. 

Seringkali yang jadi pembicaraan hangat adalah hal yang sedang hangat berlangsung. Bisa juga kanon yang lewat atau yang kuno ini dipertanyakan. Kanon yang diajarkan di sekolah apakah cukup mewakili? Karya seperti apa yang diajarkan sekarang? Di masa awal sampai 65, seperti apa? Apakah karya Lekra diajarkan di sekolah atau dikecualikan? Bagaimana terhadap kesan yang disampaikan. Ini sangat layak diteliti. Jika neliti ini, perlunya argumentasi perubahan, banyak kemungkinan penelitiannya. 

Katrin mencontohkan bagaimana Balai Pustaka (BP) vs Sastra Melayu Lingua Franca berseteru. BP lahir sebagai penerbit kolonial dengan sengaja merangkul sastrawan untuk belajar bagaimana cara menulis karya yang baik, yang sesuai dengan bacaan pribumi, dan mendukung kolonialisme. Bahasa yang digunakan, ada seorang peneliti Belanda yang merumuskan bahasa Belanda standar di Riau, karena daerah yang melahirkan bahasa Melayu. Tapi di masyarakat, bahasa Melayu Kasar atau Melayu Rendah untuk berkomunikasi antar etnis. BP menggunakan bahasa yang terstandarisasi. 

Katrin meneliti dalam disertasinya, bagaimana ideologi soal kedokteran sering ada di karangan BP. Sementara dukun selalu kalah, dokter menang. Ini salah satu bentuk bagaimana ada hal-hal tertentu yang ingin diajarkan. BP politik kanonisasi terbantu karena fasilitasnya lebih. Akhirnya berhasil mendominasi. Karya yang terbit di luar BP tentu banyak, termasuk buku "Drama di Boven Digoel". Ini novel yang sangat menarik daripada Siti Nurbaya dan Salah Asuhan. Tapi karya "Drama di Boven Digoel" dianggap karya yang lebih rendah, bahasanya kasar. 

Politik sastra yang digunakan BP sangat sukses. Novel BP yang diajarkan di Indonesia, jarang yang dengar nama Kwee Tek Hoay, itu langka. Atau buku yang dieditori oleh Pram, itu jarang. Ada usaha untuk menerbitkan karya-karya berhaluan kiri, sastra keturunan Tionghoa juga saat ini. Menurut Katrin, framing kurang tepat seperti membuktikan penulis Tionghoa semua nasionalis dan jadi bagian dari ke-Indonesiaan. Posisi mereka lebih kompleks. Ada juga serial yang penulis Tionghoa yang rasis terhadap pribumi. Keberagaman dan framing ini yang menarik. 

Peran Kritik Sastra

Apa peran kritikus sastra? Tentu punya peran. Hal yang sering kita amati seperti lomba kritik sastra itu relevan, kadang dalam kasus karya tertentu sangat populer, yang hadir bukan kritik sastra, tapi komentar-komentar lepas. Ada tanggung jawab juri juga kadang kurang mendalam. Tidak ada dasar kritik sastra serius yang memahami kenapa karya ini penting. Katrin sering diminta untuk komentar buku, satu dua kalimat di cover belakang. Nama kita sebagai kritikus dipinjam untuk legitimasi tertentu, tapi tak ada ruang untuk penjelasan. Kecenderungan ini bermasalah, seharusnya kritik sastra berperan di sini. Pertanyaan yang muncul: Bagaimana kritikus bisa bersikap independen? Misal, kritikus diundang nulis karya tertentu, tapi dengan asumsi tertentu. Jadi tidak bebas, kritikus itu belum tentu independen. Katrin sering melakukan itu, perlu menjaga agar tidak menerima karya yang tak ingin kita dukung. Bagaimana sebagai kritikus sastra menjaga sikap cukup independen. Bukan menjadi penulis pesanan. Secara keseluruhan perlu sadar tentang peran kita dalam politik sastra. Minimal kritik sastra punya kontribusi yang penting. 

Di kritik sastra mana pun, pasti ada kaitan antara politik dan kanonisasi karya. Apa posisi karya yang kita bahas? Minimal paham kedudukan karya sastra itu, menulis tentang karya, mau gak mau berkontribusi terhadap politk sastra. Ini minimal yang perlu kita sadari. Sekilas kita paham kedudukannya bagaimana? Dengan membahasnya mau apa? Posisi apa yang mau kita ambil. Itu yang membuat tulisan kita terasa lebih relevan dan bisa dipetakan diskusi yang sedang berlangsung. 

Satu hal yang perlu ditanyakan termasuk mempertanyakan di mana masalah kanon sastra. Misal dari perspektif gender, pascakolonial, dominasi estetika sastra tertentu. Tulisan eksperimental dianggap lebih bermutu, sementara yang realis kurang dihargai. Politik sastra berkaitan dengan estetika mana yang dikatakan bermutu dan bukan. Ini yang berimplikasi sampai sekarang. Sebenarnya karya Pram biasa saja, seolah itu lebih mudah ditulis daripada yang eksperimentasi yang plotnya susah dipahami. Ini masih berimplikasi sampai saat ini. Apakah sebagai kritikus punya bias tertentu dalam kritik yang ditulis? Termasuk bias topik, misal soal topik seksualitas yang lebih laku, daripada soal masyarakat pedalaman yang kurang diangkat. 

Sejauh mana karya-karya di sekolah-sekolah terpencil seperti Papua, apakah kanonisasi itu sama? Apakah sastra lokal masuk? Apakah yang dibaca banyak yang di luar lokal? Kita bernegosiasi dengan kanon, seharusnya dibaca kenapa diabaikan? Atau yang dianggap kanon tapi ada elemen yang bermasalah. Ini banyak dilakukan oleh kajian pascakolonial. Ada rasisme tertentu yang tercermin di situ. 


Tanya dan Jawab:

1. Lukman Hakim: Bagaimana dengan kanonisasi puisi esai oleh survei politik? 

Katrin: Ini kasus yang banyak dibahas. Ini politik sastra dalam bentuk yang paling kasar dan ekstrem. Kasus Denny JA dalam esai, bisa dikatakan menggunakan modal di luar sastra, terutama kekuatan finansial untuk membeli posisi di sastra. Walaupun dinamika politik sastra bermasalah, kasus ini tidak berhasil. Ini menimbulkan diskusi yang sangat heboh, sekarang tak ada lagi membicarakan ini. Kasus menarik, pertama, mencoba menciptakan genre baru yang sebetulnya konyol. Padahal itu puisi naratif yang ada catatan kaki. Itu bukan hal baru. Yang luar biasa, dia mencoba membuat orang lain menulis itu dengan honor yang tinggi. Sastrawan Ahmadun kemudian mengembalikan honor itu. Sebagian sastrawan yang menerima itu ada yang tidak sadar ada kepentingan yang lebih besar. Langkah berikutnya bikin buku sastrawan yang paling berpengaruh. Sepertinya strateginya sudah diplot, haha. "Sangat konyol cara mainnya," kata Katrin. Buku itu terbit tapi tak ada yang benar-benar menganalisis buku itu. Masalah finansial memang berpengaruh, tapi yang sampai orang dibeli itu ekstrem. Enggak main di pengaruh komunitas tertentu, membuka pintu tertentu, dll. Denny JA pengecualian. 

2. Laksmi Mutiara: Novel Manusia Bebas dari Suwarsih Djojopuspito juga tidak diterima untuk terbit karena kurang "tradisional". Akhirnya diterbitkan dalam bahasa Belanda dan baru diterjemahkan hampir 50 tahun kemudian. 

Katrin: Memang ini bagian dari keberhasilan politik sastra dan bagaimana BP sukses mengeksklusi lingua franca atau Melayu kasar. Masih banyak pekerjaan yang harusnya dilakukan kritikus. Perlu kerja kritikus mana yang menarik, konteksnya. Bahkan belum sampai ke konteks "kolonialnya".

3. Question: Penerbit lain di luar BP yang konsisten menerbitkan karya bagus? 

Katrin: Ada. Ada negosiasi menarik. Hal lain yang bisa kita lakukan, mengangkat dengan melacak politik sastranya. Mengkaji teks di luar karya yang digunakan untuk memposisikannya/mengiklankannya. Teks ini menunjukkan bagaimana karya ini diposisikan lewat konteks di sekitarnya. Kita mencari "peninggalannya" itu. Bagaimana karya tertentu berusaha diangkat, dengan cara apa? Banyak hal yang bisa digali. Berangkat dari situ bisa dibuat kritik sastra. 

4. Ratri: Kenapa sastrawan BP banyak nulis karya anak? 

Katrin: Saya tak tahu pasti. Bacaan untuk anak-anak di Eropa, kadang di Indonesia jadi bacaan umum. Diasosiasikan seolah yang terjajah seperti anak kecil. Untuk karya yang diterjemahkan itu karya untuk anak, yang kemudian tak hanya dibaca anak, tapi juga orang dewasa. Misal kalau ditanya apakah Muchtar Lubis dipengaruhi itu? Saya belum tahu. Kalau ada yang menulis itu menarik. 

5. Isma: (1) Saya tertarik dengan tulisan Pak Saut sebagai pengantar untuk diskusi ini. 

Dari bacaan itu saya jadi berdialog dengan diri saya sendiri, apa jangan-jangan ketakutan penulis Indonesia untuk menulis sastra (atau menulis secara umum) ada kaitannya dengan kanonisasi yang dilakukan oleh pihak Manikebu (yang institusinya masih hidup dan berumur panjang sampai sekarang)? 

Di mana art as art, eksperimental lebih dihargai daripada yang realis. Nilai seperti ini lalu menyampingkan karya-karya yang dianggap kasar, raw (mentah), nyata, lebih membaca konteks sosial, dan gak cenderung untuk menjadi ndakik-ndakik. Padahal kalau berkaca dari Lekra, itu lebih membumi. 

Efeknya, ketika penulis ingin menulis, dia dihantui duluan oleh POV sastra versi berat yang ditawarkan kanon sekarang. 

(2) Bagaimana kelindan antara karya kanon dan popularitas? 

(3) Kanon berkaitan dengan uji waktu. Menurut Mbak Katrin, indikator apa yang menyebabkan suatu karya tak lekang waktu? 

Katrin: Benar, berkaitan dengan kanonisasi tadi. Standar yang tercipta lewat kanonisasi sastra, punya estetika tertentu untuk diakui. Saya kira ini jadi persoalan. Harapan karya harus rumit dan eksperimental. Eksperimentasi bentuk itu juga lain. Bagi saya terkadang gak jelas, eksperimentasi ini untuk apa? Mungkin untuk menangkap sisi estetika tertentu. Bukan berangkat dari karya yang unik. Usaha untuk merekam itu. Permainan estetika, eksperimentasi lahir dari sesuatu yang konkret. Tapi ketika itu jadi standar, lahir bereksperimen karena harus eksperimen untuk diakui sastra. Tapi eksperimentasi yang gagal terjadi ketika saya jadi gak tahu ini tentang apa? Mau ngomong apa? Saya terganggu dengan tren itu. Di situ juga peran kritikus harusnya tampil. Kritikus bisa menunjukkan ini tren yang sudah seharusnya diakhiri. Ini lahir dari Orba, tidak bisa langsung, harus dibuat rumit. Sekarang sudah berbeda situasi. 

Kedua, kanon dan popularitas ini penting. Kanon sastra dan popularitas, jumlah penjualan karya dua hal berbeda. Dari konstruksi ini dua hal berbeda. Kanon sastra apakah dianggap penting/canggih? Apakah langsung berimplikasi, belum tentu. Sedangkan karya yang dijual dengan jumlah banyak, justru bisa jadi dipahami, ini bukan sastra. Karena sastra itu benda yang elite. Karya seperti Tere Liye, popularitas bisa dilihat sebagai bukti, ini bacaan populer. Dua hal ini dipertemukan, ada negosiasi, perdebatan, di mana batasnya. Itu jadi topik menarik. 

Ketiga, terkait kanon yang melampaui zaman, yang terus diangkat dan diajarkan. Itu bagian dari kanonisasi. Kenapa itu terjadi? Awalnya dikira dinilai sangat bagus, lalu tenggelam. Ini per kasus harus dilihat. Kenapa sastrawan tertentu diangkat. Apakah berkaitan dengan gaya tulisnya yang gak lagi populer. Ini sulit digeneralisasi, perlu dilihat per kasus. 

6. Question: Kanonisasi dalam penerjemahan seperti apa? 

Katrin: Ada relasi kuasa tertentu, tapi pilihan karya kenapa diterjemahkan ini menarik juga diteliti. Mungkin pandangan penerbit juga punya pandangan menarik. Tidak lagi didominasi karya-karya dari Eropa atau Barat lainnya. Pemetaan sastra dunia oleh penerbit, apakah atas kesadaran penerjemah? Ini menarik diteliti. Ini sangat berkaitan dengan politik sastra. Menerjemahkan karya luar ini mengundang pengaruh tertentu. Semisal ketika seseorang terpengaruh oleh karya Amerika Latin. 

7. Dedy Tri Riyadi: Di era digital, peran kritikus kalah oleh influencer. Apakah kritikus masih diperlukan? 

Katrin: Kanonisasi selalu bermasalah. Kanon itu sangat berperan di pendidikan, kalau gak ada kanonisasi apa pun, gak terbayang guru harus bagaimana. Seakan-akan semua karya yang ada berstatus sama. Kanonisasi itu tetap sesuatu yang secara praktis kita butuhkan. Permasalahan di relasi kuasa dan otoritas. Mungkin ada pemetaan ulang yang sehat, zaman BP yang diajarkan begitu saja. Mana yang relevan diajarkan oleh sekolah-sekolah? Apakah oke membuat daftar, oke saja, tapi tahu betul, "kamu ada di posisi seperti apa?" Untuk intervensi ke kanon, ada argumentasi yang jelas. Kenapa relevan dibahas dari yang lain. Tidak menghadirkan daftar tambahan. Ada jumlah kritikus yang bahas secara serius, ada level diskusi yang mendalam. Meskipun nanti ada influencer, di level serius itu setidaknya ada. Yang mendasarkan diri pada teks. Sehingga tidak sekadar perayaan atau debat kusir tanpa dasar. Perdebatan itu lebih sedikit, tapi minimal ada. Itu yang diharapkan dari kritik sastra. Kanonisasi lebih bisa merujuk kesana. Karya itu bukan sekadar kehebohan yang terjadi di medsos. Influencer tak bisa menggantikan kritikus serius. 

8. Dendi Madiya: Apakah seorang kritikus atau juri sayembara itu betul-betul bisa keluar total dari seleranya? Biasanya dia menilai, berkomentar karya ini terlalu ini dan itu. Bukankah itu selera dia, dan pasti itu subjektif. Aku yakin juri itu subjektif. Ketika kritikus misalnya dia membahas karya yang itu-itu saja, apakah bisa dibilang begitu? Juri yang tidak independen, apakah ada independensi juri? Meski pada akhirnya kritikus itu politis, gak bisa independen. 

Katrin: Tentu saja kritikus tak lepas dari selera kita, gak lepas dari ideologi. Bedanya bukan komentar itu politis atau netral, apakah kita punya pendapat tertentu dengan argumentasi tertentu? Atau hanya bisa bilang itu jelek tanpa alasan. Meskipun ada selera, tapi ada penjelasan, sehingga orang lain bisa berdiskusi. Kalau tidak ada dalam penjelasan, ya, tidak terjadi diskusi apa pun. Itu yang berbahaya. Bagaimana diskusi bisa berlangsung kalau hanya di level itu. Tentu tidak ada yang netral, untuk sedikit mengambil jarak dengan selera itu bisa. 

9. Andika: Bagaimana menjadi pembaca karya yang berdaulat dan tak dibayangi kanon? 

Katrin: Pembaca berdaulat bisa diartikan dia yang bisa seleksi sendiri mana yang mau dibaca. Saya yang pengetahuan sastra lumayan, tapi ketika ke toko buku juga bingung mana yang perlu dibeli. Satu hal, kalau mengamati peta penerbit setelah runtuh Orba, lahir banyak penerbit baru, penerbitan karya sastra lebih luas dan positif. Tapi efek sampingnya, banyak karya tapi juga kurang peta mana yang relevan dibaca. Penerbit mulai lebih spesifik dan selektif. Beberapa penulis menerbitkan sendiri, kita berhadapan buku tidak tahu mana yang layak baca dan mana yang tidak. Kalau ada peta, ini memudahkan pembaca. Misal saya cocok dengan penerbit ini, tapi di kita budaya itu belum terbentuk. Bagi pembaca perlu pertolongan, dari penerbit maupun kritikus sastra untuk memilih buku mana yang perlu dibaca. Dengan kondisi sekarang, pembaca jadi tergantung pada iklan dan diskusi singkat di medsos. Jadi kurang berdaulat karena gak ada panduan yang jelas. Kritik sastra bisa masuk di sana. Untuk memberi argumen ini pantas dibaca atau tidak. Di Jerman ada penjelasan ringkas novel ini tentang apa. Berdasarkan itu saya menentukan topik ini menarik atau tidak. 

Andika: BP buat karya kolonial, tapi kayak dibuat untuk anak-anak. Nah, kapan pembaca bisa disebut berdaulat? Bagaimana kalau institusi itu mendewasakan atau mencerahkan? 

Katrin: Ya, kanonisasi tidak selalu negatif. Tentu itu ada potensi positif juga. Dengan kurikulum, karya seperti apa yang sampai ke pembaca. Bisa jadi membatasi atau justru sebaliknya. Yang penting itu di sisi pendidikan juga. Membayangkan anak remaja yang berkenalan dengan sastra, nah, bagaimana dia memilih? Tergantung dari gurunya memilih. Kita butuh lebih jauh dari sekadar kanonisasi. 

Senin, 25 Mei 2026

In spirituality, no one can judge you. No one can bluff you.

Maybe, I am not a good preacher. But, all the things I do are to bring myself to the light, in His greatness. I still try meditation even though I know that I may fail. Sometimes, I only want to be honest to myself, everything I do is something I aware that I want to do. Not because it is influenced by the outside world around me. 

Every Monday's night, Shraddha Ma gives us new insight into spirituality. This night, I learned that the inside is more important than the outside. I learned about equality too, religions sometimes are just fashions. 

I learned from Tejomoyee Maa that, "In spirituality, no one can judge you. No one can bluff you." 

She told to us that Bhagavan never disciminated against people, whether because of social status, class, religion, skin colour, etc. Until now, his values about oneness remain eternal. He made devotee' practices as a priority. 

And, I want to write too, when I did a meditation practice at Katedral Jakarta with Romo Mahar and Catholic people, even though I was the only woman who wore a jilbab, but I was happy, and felt the sense of equality. One more experience: there was a girl who smiled to me effortlessly, and I felt that her smile was so honest. And, I am thankful for that. I continue to remember it. 🙏

Minggu, 24 Mei 2026

Sore di Prasravana: Harapan, Praktik, dan Masa Depan Seniman

Diskusi bertajuk "Sore di Prasravana: Harapan, Praktik, dan Masa Depan Seniman", di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu, 23 Mei 2026. Diskusi ini digelar dalam rangka artist talk para pemenang Cipta Art Award 2026 yang digelar Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Diskusi menghadirkan seniman dan pemenangnya langsung: Tahnia Ahista Nareswari, Yosua Reydo Respati, Kevin Jagar Eliezer Nababan, Karin Josephina Tani Tantiana, Ismayanti, Kristian Panca "Kape" Nugroho, dan Maryo Pratama. Ada dua penanggap dalam diskusi, yaitu Aidil Usman (Komite Seni Rupa DKJ) dan Ilham Nurjadin (Dewan Juri Cipta Art Award 2026), serta dimoderatori oleh Danny Yuwanda. 

Moderator Danny Yuwanda membuka diskusi dengan menyampaikan, Prasravana ini benih, bentang (dari benih ke bentang), sebagai simbolisasi dari fenomena seni rupa kontemporer yang sangat dinamis. Di samping sisi kiri kanan dia duduk ada penanggap. Pertama ada Aidil yang sudah melakukan project membuat dua ton rendang untuk korban banjir Pulau Sumatera. 

Danny menyebut, setiap karya besar selalu dimulai dari hal kecil, layaknya mata air. Melalui pameran ini tidak melihat karya sebagai hasil, tapi juga proses. Sebagai ruang tumbuh untuk memperkuat ekosistem seni rupa. Saat ini, seniman punya tantangan bagaimana memaknai kedalaman di tengah situasi kontemporer sekarang. Ia mempertanyakan kepada seniman yang hadir: Apa sih benih utama yang melahirkan karya Anda saat ini? 

Tahnia menjelaskan, karyanya berjudul "Her Second Skin" merupakan visual tubuh perempuan dengan deboss lingerie. Inspirasi karya awalnya ketika dia sedang meyortir pakaian eyang putri. Banyak koleksi lingerie di sana, di awal doa mengamati, "wow, ini sangat berbeda dengan pakaian dalam yang kami kenakan, dengan visual brokat kasar." Ada perasaan ingin mencoba dari diri Tahnia. Ada rasa paradoks di mana tubuhnya cantik, tapi juga tidak nyaman. Eyang Tahnia menyukai ini dan dipakai setiap hari. Dia memakai lingerie ini sebagai visual jejak perempuan. Karya ini series yang dia pakai juga di sidang skripsi studinua. Tahnia lebih khusus lagi mengulas fenomena happy victim. Bukan untuk memenuhi standar kecantikan, tapi memenuhi standar dia sendiri. 

Selanjutnya, Yosua Reydo Respati atau kerap disapa Edo, karyanya berjudul "Tuhan, Tulang Ini Aku Pinjam". Awal idenya adalah dari kecil mengikuti satu ritual, tiap minggu pergi ke gereja Katolik. Ada khotbah bacaan, dia mempertanyakan ulang tak hanya khotbah tapi narasi tunggal yang ada di sekitarnya. Proses itu menjadi refleksi Edo terhadap kebenaran yang menghegemoni. Menurutnya itu bukan karya yang sempurna tapi yang lebih ingin Edo tegaskan adalah bagaimana dia bisa menjelaskan argumennya dalam sebuah karya. 

Kevin Jagar Eliezer Nababan kemudian menjelaskan karyanya yang berjudul "Manuskrip Kulit", menggunakan teknik single foto pigmen print. Berangkat dari risetnya di Kupang. Kevin merasa ada rantai terputus antara kebudayaan dan kesenian. Kenapa kebudayaan hari ini itu representasinya kurang di seni kontemporer. Ia mencoba menyajikan karya yang argumennya kontemporer. Fokus karya adalah mendekode karya masyarakat adat jadi karya yang consumable untuk contemporary art

Karin dengan karya berjudul "Anicca", sebelum dikolase, awalnya karya itu belum ada nama. Karya itu sudah dia bikin tahun lalu, tapi belum dapat kesempatan ditampilkan. Pas ada open call, karya yang belum ada nama ini ia ikutsertakan di Cipta Art Award. Karin memandang tema benih itu kesempatan baru, karena dia lagi banyak eksplorasi konsep agama Buddha. Sangat lumayan belajar tentang kesederhanaan yang mengena secara pribadi. Makanya dia namai Anicca, yang juga bisa berarti ketidaktetapan. "Yaudah itu kayak bibit, sebuah peluang tapi juga bisa layu. Memandang itu secara pribadi zoom in kemungkinan, kita lihat dari lensa mikroskop ada peluang. Apakah itu nanti akan layu atau bertumbuh, semua bisa punya kemungkinan. Tapi di sini ada kedamaian pribadi."

Ismayanti dalam karyanya berjudul "A quiet Reclaiming" menjelaskan, karyanya berbentuk mika bulat. Baginya karya itu reflektif sekali. Dia yang memiliki background di fotografi, ingin membuat fotografi dikonsumsi dengan cara yang berbeda. Kemudian dia eksplorasi berbagai medium, sampai akhirnya berlabuh ke lem Korea. Asal idenya, kalau lagi jalan motret, dia sering lihat tumbuhan kecil yang nerobos tembok, mereka tidak mati. Jalan di bawah flyover, tumbuhan ada yang nempel di tembok dengan akar besar. Dia lalu bertanya, "Kapan ya pembangunan di kota ini melihat sisi ekologis dari tumbuhan yang juga punya sikap keras, masif, senyap? " Dia menganggap, kajian arsitektur tidak memberikan hak yang sama dengan mereka, kesenyapan yang bingar. "Before mereka ambil dengan cara mereka, better kita memperhatikan," ujarnya. Akhirnya analisis itu dia bawa juga ke urban studies melalui teknik layering, karena tersembunyi tapi juga terlihat. Begitulah dasar ide Isma. 

Kape dalam karyanya berjudul "Kuasa" berkontrmplasi terlebih dahulu terkait konsep pameran? Apa benih utamanya? Kekaryaannya sendiri didasarkan dari kayu. Dan kayu ini diambil sebagai metode berkarya. "Saya ikut vipasana, meditasi 10 hari. Metode kesadaran. Dalam 10 hari berkarya, saya kontemplasi, nemu satu kalimat we are nature. Ini dasar untuk menggali karya ini. Kita ini dengan alam satu kesatuan, tapi kondisi sekarang paradoks. Kita membutuhkan alam tapi juga menghancurkan alam. Makanya pakai simbol kampak dan tali yang diikat. Pohonnya itu dari alam langsung," jelasnya. 

Danny sebagai moderator juga bertanya kembali, sejauh mana pengalaman personal mempengaruhi penciptaan karya? 

Tahnia menjawab, menurutnya semua karyanya dari pengalaman personalnya sendiri, apalagi konteksnya ketubuhan perempuan. "Pengalaman aku sebagai seorang perempuan." 

Edo menjawab, di karyanya, dia mengamati ada informasi yang gak berhenti di masa sekarang. Ini memunculkan dialog di dalam dirinya, "Apa yang saya pikirkan ini saya tuangkan ke karya. Beruntungnya di Indonesia masalah bertubi-tubi, supaya sehat diolah dan dikeluarkan lagi," ungkapnya. 

Kalau menurut Kevin, ada ketimpangan urban dan suburban. Di Timur Indonesia ada anggapan melihat mereka kok merasa kasihan, misa buat kain tenun sulit-sulit dan lama tapi dijual murah. Narasi kasihan terhadap orang Timur ini yang coba dia bongkar. "Saya sampai ke cara pandang suburban, apa yang kita anggap susah itu resilensi buat mereka. Ini beda dengan konsep yang sekarang uang, uang, uang," protesnya. Dari refleksi itu, lalu hasil karya tidak memasukkan wajah, tapi hanya tangan. Kalau ada wajah, pasti ada konsep untuk dikasihani. "Kita hanya fokus ke kebudayaan yang mereka miliki. It is what it is. Cara mereka hidup adalah cara mereka hidup." 

Karin begitu sepakat jika pengalaman pribadi berpengaruh ke karya. Mungkin ini dianggap egosentris juga berasal dari pengalaman pribadi. Dari pengalamannya sepuluh tahun lebih menekuni visual abstrak, selama ini bertanya kenapa karyanya gak eye catching? Secara intuitif karyanya ke arah abstrak, setelah sekian periode, ia mengalami isu penurunan pendengaran. Ini berefek ke berbagai hal, ternyata setelah dia proses, ternyata tubuh bereaksi duluan sebelum ia tahu kenapa. Laku untuk berkarya secara intuitif itu cara menyelamatkan diri Karin. "Aku menggali mengapa toh? Reaksi otak begini, korelasi terhadap dunia luar beraksi kayak gini ketika gak ditangani dengan baik. Aku mempelajari dengan caraku sendiri. Sangat pribadi tapi juga sangat universal," ceritanya.

Isma menjawab, banyak hal yang masuk ke dalam dirinya itu menggilakan, jadi harus dikeluarkan. Semua terserap menimbulkan banyak pertanyaan. Banyak apatisme orang, mereka, society punya big attention ke yang terlihat, tapi lingkungan seperti tanaman kurang diperhatikan. Ada keresahan personal terhadap lingkungan. Kalau sedang moto, itu gak dikasi ke ruang hidup. Menurutnya, ada dialektika, entah kenapa dan bagaimana. "Karya saya juga terkait identitas, bagaimana manusia menghasilkan kebudayaan. Saya pernah buat film di Kalbar, sebagai human, kita part of lingkungan. Tapi sebagai manusia Nusantara kok malah menjauh dari lingkungan. Ada kontemplasi sendiri agar melihat alam gak sempit. Buat saya ini menyakitkan," ungkapnya. 

Kape berkaitan dengan pengalaman personal justru mempertanyakan, seorang seniman ketika berhadapan dengan medium, harus jujur dengan karyanya atau tidak? "Keseharian saya coba masuk ke situ. Di rumah grounding, permakultur, saya melihat bahwa medium sangat penting untuk seniman. Lucu kalau seniman tak jujur dengan mediumnya," jelasnya. 

TANGGAPAN:

Danny bertanya pada Usman: Bagaimana melihat ekosistem Jakarta selama beberapa tahun terakhir? Apa kontribusi Cipta Art Award pada karier seniman? 

Aidil Usman menjelaskan, di dalam konteks sejarah seni rupa, masa sekarang menjadi periode kedua setelah lima puluh tahun, sebagai cikal bakal Jakarta Binneal. Tapi ini banyak perdebatan, ada dikotomi seniman baik. Ada perlawanan dengan gerakan seni rupa baru dengan tokohnya seperti Hardi, FX Harsono, Bonyong. Ini para seniman pembangkang. 

"Alhamdulillah saya berhubungan dengan mereka. Kenapa cipta ini kita inisiasi di Jakarta. Dengan harapan seni rupa Jakarta harus menciptakan ekosistem baru, agar seni rupa Indonesia biar masuk ke pergulatan wacana. Jakarta hanya masuk etalase, primary market," katanya

Menurutnya, Cipta Art Award ini akan sustain. Dari sisi karya kawan-kawan seniman menarik. Banyak genre, ada lukis, instalasi, patung. Ini yang ada di pergulatan seni rupa kontemporer. Dari sisi narasi dan kesadaran juga tumbuh, ada lompatan jauh, tapi pertanyaan bagaimana konsistensinya? Cara berpikirnya bisa dimulai dari menemukan ide, mengolah ini sebagai sistem, akan dilihat dalam kondisi tertentu. 

"Sekarang pendekatan itu mudah diraih, sejauh mana mengolah kesadaran imajinasi, visi, mengelola ekosistem, tentu ini bisa personal. Keterkejutan ini tentu perlu dijaga. Saya berkeyakinan teman-teman ini merangkak pada posisi tertentu. Pengkaryaan perlu ada impact ekonomi tertentu. Dimulai dari bercipta, ruangan yang mempengaruhi seniman. Dari ide benih. Simbolnya bibit kelapa. Selamat para seniman di sini akan jadi penerus," ungkapnya. 

Ilham Nurjadin menambahkan, dari 20 finalis pemenang, secara personal dia fokus ke teknis, konsep, dan mediumnya. Bagaimana kita bisa melihat beyond dalam karya seni. Setiap seniman punya mediumnya sendiri, juga konsep yang menarik untuk dijelaskan. Ada hubungan yang kuat dengan teknik khusus mereka masing-masing. 

Danny mempertanyakan lagi, bagaimana eksplorasi medium? 

Kape menjawab, aturan pertama, dia adalah seniman yang suka dengan medium kayu. Kenapa kampak gak pakai besi tapi pakai? "Dari dulu saya suka banget sama kayu. Punya hasrat yang kuat ke kayu kalau lihat kayu. Saya ingin bawa benda-benda yang natural dari alam," kata Kape menjelaskan tentang mediumnya. 

Seniman lain bernama Maryo Pratama yang datang terlambat menjelaskan, berkaitan dengan pemilihan media, dirinya eksplorasi medium ini sudah dari tahun 2015. "Sempat tidak pede dengan media, saya suka numpuk objek di lukisan. Proses editing olah dulu di Photoshop. Ada tiga layer. Saya eksplorasi medium apa yang ada objeknya tapi masih bisa transparan. Akhirnya saya nemukan medium kain tile," terang Maryo yang menjelaskan karyanya berjudul "Life Rhytm".


Tahnia menambahkan, dia pernah satu tahun magang di Jogja, dan mengharuskannya eksplorasi material. Ia ditekan untuk extend print making yang lebih modern menggunakan teknik litografi, dan akhirnya photolitography yang dipilih. "Dari situ kepikiran tentang jejak, jejak pada tubuh perempuan. Tidak ada tintanya, tapi ada teksturnya, khususnya teknik deboss."

Edo menyebut bahwa mediumnyalah yang paling sederhana, medianya kertas. Banyak perupa menganggap gambar di kertas jadi awal buat ide. "Yang saya temukan, dalam medium kertas ada ungkapan yang lebih jujur, gak dipoles. Karena kertas juga kaku mungkin tidak menarik, itu jadi nilai lebih. Juga tentang garis, bagaimana garis itu hadir. Bagaimana kertas jadi medium yang sangat mendasar," ungkap Edo. 

Kevin menanggapi, awalnya dia merasa insecure di awal, fotografi lumayan jarang dipertimbangkan dalam seni. Untuk membuat foto ini bisa bertatapan dengan karya lumayan lama, adalah dibesarkan skalanya. Tangan yang sangat besar, seperti manusia. Ditempel di dinding ukurannya pas. "Yang ingin saya tonjolkan adalah energinya. Banyak yang kira oil paint, karena tenggat dan materialnya tetap. Gak hanya fotografi, tapi juga hal yang hidup."

Karin menjelaskan, "Aku kerja dengan kertas, utamanya kertas yang siap dibuang, seperti ketika dapat kemasan, kardus bekas, selotip, itu diproses lagi, juga tanggung jawab pribadi ngurangin sampah. Belakangan banyak bekerja dengan benang, belajar merajut, itu aku eksplorasi dan bagaimana bisa digabungkan dengan kolaseku. Itu berkontribusi untuk narasi karya."

Isma menjelaskan, "Kenapa akrilik? Karena chemical-nya di akrilik itu sesuai, gak perfect, ada cracked, gimana karya itu gak harus dari looks, tapi bagaimana menyampaikan pesan. Saya mengincar ketidaksempurnaan. Kemudian ditransfer image, saya eksplorasi dari gel medium, stiker, UV print. Pemilihan bukan akrilik yang tebal, saya ingin membuatnya tipis."

Dewan Juri Ilham menanggapi, medium penting dan medium yang dipilih seniman harus sesuai dengan konsep. "Yang saya temukan, setiap seniman bercerita dengan sangat lokal dan personal," ujarnya. 

Aidil juga mendapat pertanyaan dari Danny, "Seberapa penting membangun regenerasi seniman?" Aidil menjawab, penting karena kompetisi seperti Cipta Art Award bisa menampung seniman. Bagaimana memberikan ruang bagi seniman muda yang punya kemampuan sendiri. Ketika dikomunitaskan, bagaimana itu menciptakan ruang. Sustainable juga agar terjaga. " Agar mereka sudah tak gamang milih seni rupa sebagai jalan hidup. Sekaligus seni rupa ini bagaimana agar punya implikasi sosial, bagaimana sejarah dibangun."

Dari sisi audiens, Isma dari Petojo bertanya: "Benih atau ide dalam berkarya itu mudah ditemukan dalam sehari-hari, tapi bagaimana membuat ekosistem untuk menjadi karya yang jadi itu yang sulit. Bagaimana seniman di sini membangun ekosistem dari benih ke karya tersebut?"

Edo menjawab, dia berkarya tidak ada ekspektasi, yang dia puaskan pertama kali adalah dirinya. Layaknya menebar benih, tidak semuanya akan tumbuh dengan baik, tapi di sana ada konsistensi dari Edo untuk selalu berkarya dan mencoba sesuatu yang baru. Mengulang pun juga bentuk eksperimen. 

Ismayanti melengkapi, menurutnya gak ada ekspektasi sama seperti Edo. Dia melakukan seni bahkan dengan lembur tapi itu dilakukan dengan menyenangkan. Justru menjaga intensi atau niat, untuk apa. Yang mendasar itu Isma merasa merdeka dalam berkarya, itu yang saya jaga. Eksperimental itu ada hasil tak terduga. Ini respons terhadap apa yang kita konsumsi. Bagaimanapun jadinya itu sebuah karya. Itu wujud pikir kita, kalau ditolak berarti ada problem. Ekosistem itu yang dia jaga dalam berkarya. "It's liberating. Ini yang personal buat saya. Interaksi medium dengan hasil karya kita."

Sementara itu, Arhan Aryadi Komponis sekaligus dari DKJ Seni Musik menanggapi, menurutnya seni itu bukan pacuan kuda, tidak perlu dilombakan, tapi lomba itu penting untuk merangsang kita berkarya. Ada ruang di DKJ, untuk merepresentasikan karyanya. DKJ memberikan ruang itu. 

"Seni gak ada yang baik dan buruk, sama dengan di musik, bukan musik yang enak atau tidak enak, yang paling dicari itu kuat atau tidak kuat, kedalamannya. Awal-awal itu saya sempat lihat plating pamerannya, itu sebenarnya kuat, menarik, tapi balik ke personal. Kalau kuat harus betul-betul jujur dan dalam terkait bagaimana mengungkapkan ekspresi. Harus dilihat dari berbagai segi arahnya. Saya pergi ke Baduy, saya sering kecamatan Baduy, di Baduy Dalam itu wanita tak pakai daleman. Karena kolonialis, tubuh harus ditutup. Lingerie itu produk kolonialisme, lingerie itu produk yang dipakai bangsawan kelas atas. Kedalaman karya harus betul-betul dipikirkan, dalam berkesenian akan masuk dalam gaya seperti apa? Misal saya spektralisme. Misal lingerie bisa jadi gaya, mengembangkan itu dengan terus menerus. Sebagai seniman gak harus mencari-cari atau apa, kalau ketemu satu, yaudah itu aja yang dikembangkan." Arhan memberi pesan.