.jpeg)
I. Pembukaan Diskusi
Klenik Studies Vol. IX pada tanggal 26 Februari 2026
mengangkat tema “Kanuragan dan Ilmu Hitam.” Diskusi ini diikuti oleh
Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurizky Adhi Hutama, dan Isma
Swastiningrum. Forum dibuka dengan tagline Klenik Studies:
“membahas klenik dengan cara yang tidak-tidak.”
Tema kali ini berangkat dari pertanyaan tentang bagaimana ilmu kanuragan dicari, dilatih,
diwariskan, dan dimanifestasikan. Diskusi bergerak dari pengalaman personal
dalam perguruan silat, praktik tenaga dalam, kitab dan mantra, hingga refleksi
teoretis tentang sihir perang dan resistensi kolonial. Ilmu kanuragan
tidak pernah berdiri hanya sebagai teknik bela diri. Ia selalu bersentuhan
dengan spiritualitas, moralitas, ambisi duniawi, hingga struktur sosial.
II. Tubuh, Nafas, dan Progresi Ilmu Kanuragan
Akbar membuka refleksi dari pengalamannya bersentuhan dengan
dunia kanuragan. Ia membandingkan konteks Kalimantan dan Jawa. Menurutnya,
cerita praktik kanuragan di Kalimantan (Dayak) cenderung lebih sekretif, sementara di Jawa ilmu-ilmu semacam ini
lebih sistematis karena keberadaan banyak perguruan.
Ia mengamati progresi yang relatif serupa dalam perguruan kanuragan: dari olah tubuh, olah nafas, dilanjutkan ke tahap mental dan kesadaran. Tenaga dalam disebut memiliki banyak kesamaan dengan tradisi
Tiongkok dan India kuno: konsep energi yang disimpan di bawah pusar (dantian),
serta paralel dengan kundalini. Dalam konteks Indonesia, pengolahan ini sering
dikombinasikan dengan unsur lokal dan Islam, termasuk penggunaan rajah
berbahasa Arab. Menariknya, meskipun simbol berubah, klaim kesaktian tetap
dianggap konstan.
Sulkhan mengonfirmasi pola serupa dari pengalamannya di
lingkungan perguruan silat Jawa Timur. Fase awal menitikberatkan pada fisik dan
teknik pertempuran. Tenaga dalam baru diajarkan kemudian, lengkap dengan kitab
dan mantra yang merupakan campuran Jawa-Islam—termasuk konsep papat limo
pancer dan kode-kode Arab. Tubuh menjadi pintu masuk menuju
spiritualitas. Fisik bukan lawan dari metafisik, melainkan fondasi menuju tahap
berikutnya.
III. Energi, Manifestasi, dan Ambisi Duniawi
Diskusi beralih pada fungsi dan motivasi pencarian
ilmu. Sulkhan menyebut bahwa pada fase awal belajar kanuragan, dorongan utama adalah mencari kekuatan. Ketika kitab dan amalan mulai dikuasai, kekuatan itu
dipercaya dapat dimanfaatkan untuk: pengobatan, meningkatkan
wibawa, hingga mendekati
perempuan.
Ia bahkan menyebut pengalaman empiris di mana 8 dari 10
target perempuan berhasil didekati oleh praktisi yang dianggap memiliki
kanuragan, meski secara fisik tidak terlalu menonjol. Di sini, ilmu berfungsi
sebagai kapital simbolik dalam pergaulan.
Praktik lain yang muncul adalah berburu keris atau jimat
untuk melacak sejarah personal—menghubungkan diri dengan figur seperti Jaka
Tingkir. Kanuragan menjadi medium untuk membangun narasi identitas dan otoritas
sosial.
Akbar menambahkan konsep “krah” (energi) yang pernah
dijelaskan gurunya. Ketika energi terbuka, manifestasinya bisa beragam dan memang bisa jadi kenyataan—dari
memikat lawan jenis hingga efek destruktif. Ia memberi contoh ekstrem: beras
yang dimakan ayam hingga mati sebagai bentuk manifestasi energi terbuka. Ia bisa
diarahkan pada pengendalian diri, tetapi juga pada ambisi duniawi.
IV. Rajah, Disiplin Moral, dan Paralel Asia Tenggara
Isma lalu mengaitkan diskusi rajah dengan praktik tato
sakral Thailand, yaitu Sak Yant. Sak Yant adalah tato sakral berisi
mantra Pali, simbol geometris (yantra), serta figur seperti harimau, Hanuman,
atau Garuda. Ia biasanya ditato oleh biksu atau ajarn (guru ritual). Fungsinya
meliputi: perlindungan
tubuh, penambah
karisma dan wibawa, hingga kekuatan
kebal.
Namun, kekuatan ini tidak gratis. Pemakai harus menjaga sila
tertentu, paralel dengan Five Precepts Buddhis: tidak membunuh, tidak mencuri,
tidak berzina, tidak berbohong, tidak mabuk. Beberapa ajaran menambahkan
pantangan khusus. Jika dilanggar, kekuatan dipercaya melemah. Praktik ini
paralel dengan puasa mutih, laku tapa, serta pantangan sebelum menerima ilmu
dalam kanuragan, di mana kekuatan selalu mensyaratkan disiplin moral.
Isma juga membahas ke praktik ilmu hitam yang paling populer
di Indonesia: santet. Dalam narasi populer, santet dipercaya bekerja melalui:
Media benda (paku, kaca, rambut, foto); Perantara roh atau jin; Ritual malam
hari; Peran dukun. Korban sering dilaporkan mengalami sakit misterius,
mengeluarkan benda dari tubuh, gangguan mental, atau nasib buruk bertubi-tubi. Secara antropologis, santet kerap muncul dalam konteks
konflik ekonomi, kecemburuan sosial, dan rivalitas politik lokal.
V. War Magic, Agama Prajurit, dan Politik Perlawanan
Untuk memperluas horizon teoretis, Isma merujuk pada buku
War
Magic: Religion, Sorcery, and Performance suntingan Douglas S. Farrer. Buku
ini mengkaji “war magic” dan “warrior religion” secara antropologis—yakni
bagaimana sihir dan ritual dipakai dalam konteks kekerasan, pertahanan, konflik
sosial, dan resistensi kolonial.
Beberapa contoh kasus dalam buku tersebut antara lain: (a) Tangki
war magic di Singapura, (b) Inisiasi ritual Jawa dan konsep invulnerabilitas,
(c) Black magic di Sumatra, (d) Ritual dan keyakinan dalam gerakan Tamil Tigers,
(e) Shamanisme di Venezuela, (f) Revitalisasi spiritual Chamorro sebagai
resistensi kolonial, (g) Buddhisme Tantra dan perang defensif di India.
Buku ini tidak hanya bertanya apa makna sihir, tetapi apa
yang dilakukan sihir dalam kehidupan sosial: bagaimana ia menciptakan
keberanian, legitimasi, solidaritas, teror, bahkan melawan kolonialisme.
Menanggapi Isma, Akbar kemudian memperluas pembahasan pada
dimensi historis dan politis. Penggunaan kata-kata suci sebagai medium kekuatan
radial mengingatkannya pada tesis Ian Wilson dalam buku Politik Tenaga
Dalam: Praktik Pencak Silat di Jawa Barat.
Menurut pembacaan tersebut, tenaga dalam tidak hanya
fenomena spiritual, tetapi juga terkait gerakan sosial dan perlawanan kolonial.
Dari bela diri fisik, praktik ini berkembang menjadi medan spiritual
perlawanan. Spiritualitas menjadi strategi menghadapi dominasi, bukan sekadar
latihan batin.
VI. Sensitivitas, Visualisasi, dan Interaksi dengan “Alam
Sebelah”
Nurizky mengaku tidak mengikuti perguruan formal. Praktik yang ia ceritakan lebih
berbasis visualisasi dan fokus mental. Dalam konteks menarik lawan jenis, ia menggambarkan proses
memfokuskan pikiran hingga sosok yang ditargetkan “terngiang-ngiang,” bahkan
mengirimkan imajinasi makhluk tertentu agar respons meningkat. Di sini,
kekuatan tidak dipahami sebagai mantra formal, melainkan sebagai intensifikasi
konsentrasi dan proyeksi mental.
Pengalaman lain muncul dalam konteks kesurupan. Ia membayangkan menarik sesuatu dari
tubuh orang yang kesurupan, mengajak entitas berdialog, sampai makhluk halus tersebut keluar. Atau pengalaman mengeluarkan gangguan
rumah yang singup saat dirinya menjalani KKN. Nurizky lalu membangun semacam
“kubah energi” yang diperluas bersama teman-teman untuk mendorong gangguan
keluar dari lokasi rumah. Ia menyebut sensasi medan energi yang padat namun tak
terlihat.
Ia juga mengisahkan pengalaman intuisi atau “warning”:
dorongan untuk menghindari jalan tertentu, pulang lebih dulu sebelum acara di
klenteng, hingga visualisasi orang-orang yang memusuhinya sedang berkumpul. Feeling
semacam ini dipahaminya sebagai sensitivitas tertentu, meski ia sendiri
menyebutnya dengan nada percaya-tidak-percaya.
Dalam konteks personal, Nurizky mengakui pernah
memvisualisasikan seseorang yang menurutnya sudah bertindak menyakiti orang lain. Ia
menyebut nama dan tanggal, membentuk entitas seperti dementor dalam Harry
Potter—bukan untuk membunuh, tetapi untuk menakut-nakuti. Ada ambivalensi antara ingin membalas, tetapi tetap membatasi. Motifnya lebih pada ingin diingat,
punya andil dalam kehidupan orang tersebut. Visualisasi kembali menjadi teknik
kunci—bukan sekadar imajinasi liar, tetapi intensifikasi emosi menjadi bentuk
simbolik yang diarahkan.
Akbar menanggapi bahwa interaksi dengan “alam sebelah”
memang mensyaratkan sensitivitas. Ada orang yang terbentuk secara natural, ada
pula yang dilatih melalui semedi, puasa mutih, dan pantangan. Visualisasi
menjadi tahap awal sebelum energi diarahkan ke bentuk tertentu.
VII. Keturunan, Transfer Energi, dan Ikatan Guru–Murid
Pembahasan kemudian bergeser pada aspek keturunan dan
pewarisan energi. Nurizky menyebut adanya pantangan keluarga seperti larangan
naik Gunung Lawu, serta narasi bahwa dari sekian cucu, “turun” kekuatan
tertentu kepadanya. Ia mempertanyakan mengapa dirinya yang menerima, dan
mengakui dampaknya pada ketidakstabilan mental.
Ia juga menyebut penggunaan benda simbolik sebagai
pelindung, misalnya gundam yang diletakkan untuk “menjaga” ruangan. Dalam
tradisi lain, ia menyebut simbol-simbol tertentu dalam cabang ilmu injilogi
(misalnya simbol Mikael) yang digunakan untuk perlindungan atau menangkal ilmu
hitam. Di sini, simbol menjadi medium koneksi.
Akbar memperluas bahwa pewarisan tidak selalu berbasis
darah. Dalam praktik tenaga dalam di Indonesia, ada periode tertentu ketika
murid mewarisi energi dari guru—semacam distabilisasi energi agar dapat
digunakan. Pola ini, menurutnya, juga ditemukan dalam tradisi Tiongkok kuno:
transfer pola energi dari guru ke murid.
Dengan demikian, garis transmisi bisa melalui keluarga atau
melalui relasi pedagogis. Energi membangun jejaring sosial: ada keterikatan
sesama pengguna, membentuk komunitas tak kasat mata.
VIII. Imajinasi, Keyakinan, dan Tubuh sebagai Medium
Sulkhan merefleksikan pengalaman yang berhubungan erat
dengan imajinasi dan keyakinan. Dalam perguruan, keyakinan dianggap krusial. Ia
memberi contoh memecahkan bata dengan kepala, atau menahan pukulan tanpa rasa
sakit.
Kanuragan dipahami sebagai menarik tenaga alam melalui
pernafasan, lalu menjadikan tubuh sebagai medium entitas tertentu. Dalam
beberapa praktik, visualisasi mengambil bentuk hewan—mode kera atau
gorila—meski ia menekankan bahwa ini dipahami sebagai energi alam, bukan jin.
Namun antarperguruan berbeda-beda pendekatannya.
Visualisasi juga digunakan dalam penyembuhan: membayangkan
penyakit diangkat keluar dari tubuh. Bahkan dalam konteks menarik lawan jenis,
imajinasi diarahkan agar target jatuh cinta. Meski begitu, ia mengakui tidak
semua orang berhasil memanifestasikan bentuk tertentu—misalnya ia tidak pernah
berhasil masuk “mode monyet” seperti teman-temannya.
Akbar menegaskan bahwa meyakini sesuatu adalah proses
universal. Energi dianggap mengelilingi tubuh; tahap awal adalah melatih
sensitivitas dan visualisasi, lalu mengontrol arah dan bentuknya. Ia melihat
Nurizky dan Sulkhan berada pada level sensitivitas tertentu. Pada bagian ini,
diskusi memperlihatkan bahwa kanuragan bukan sekadar mantra, melainkan latihan
persepsi dan sugesti yang terinternalisasi pada tubuh.
Sulkhan dan Akbar kemudian berbagi pengalaman yang mereka
sebut sebagai “games” perguruan. Sulkhan mengisahkan telur ayam Jawa
yang tidak bisa dipecahkan meski dicengkeram sekuat tenaga setelah diberi
“kanuragan.”
Akbar menyebut permainan memindahkan keseleo ke tubuh orang
sehat atau menjatuhkan kelapa dari pohon sebagai bagian dari latihan.
Demonstrasi semacam ini berfungsi sebagai pembuktian kolektif dan penguat
keyakinan anggota.
IX. Maskulinitas, Kuasa, dan Dimensi Gender
Isma mengangkat dimensi gender dalam kanuragan dan
persilatan. Ia melihat praktik ini maskulin dan patriarkis: berkaitan dengan
kejantanan, kekuasaan lokal, otoritas informal, figur jawara, hingga penaklukan
perempuan.
Sebagai pembanding, ia menyebut figur kuyang dalam folklor
Kalimantan—makhluk yang diasosiasikan dengan kecantikan dan keawetmudaan, namun
mengambil korban ibu hamil yang mengandung seorang anak untuk dijadikan tumbal.
Nurizky membuka dengan kisah tentang perkuyangan sebagai
turunan. Ia menyebut ada orang yang tidak sadar bahwa dirinya keturunan kuyang,
lalu menolak ilmu tersebut. Penolakan itu justru menciptakan ketegangan antara
“ilmu” dan tubuhnya sendiri. Ada gambaran garis di leher, simbol bahwa ilmu tersebut tidak
benar-benar lepas.
Akbar menanggapi dengan menarik paralel pada figur seperti
Elizabeth Báthory yang dalam legenda dikaitkan dengan obsesi kecantikan dan
keabadian. Ia melihat bahwa jika kanuragan maskulin cenderung mengejar power
dan dominasi, maka praktik yang diasosiasikan dengan feminin sering berkisar
pada kecantikan dan keawetmudaan.
Refleksi pun muncul: dari tujuan yang dikejar suatu
praktik spiritual, kita bisa membaca nilai apa yang dianggap penting oleh
gender dan masyarakat tertentu.
Diskusi kembali ke soal gender. Akbar mengakui jejak
patriarki di perguruan kanuragan masih kuat. Di tempatnya tidak ada perempuan. Di sisi lain, Sulkhan menyebut di perguruannya ada perempuan, tetapi
sangat minim dan perempuan yang mengikuti cenderung berkarakter maskulin. Latihannya semi-militer: push-up
dengan kepalan tangan, fisik keras, disiplin tinggi. Latihan ini memberi rasa percaya
diri sebagai laki-laki, seperti disiplin bertarung, disegani, tidak dibully.
Menariknya, Sulkhan berefleksi, praktisi kanuragan tidak benar-benar merasa sedang
“meninggalkan dunia.” Justru merasa sedang meraih dunia: meraih posisi,
pengakuan, dan identitas. Akbar lalu menanggapi, mungkin yang dikejar
bukan hanya kekuatan, tetapi identitas dan teman: baik secara spiritual maupun
sosial.
X. Power, Pantangan, dan Paradoks Keduniawian
Akbar menarik kesimpulan awal: pencarian kanuragan selalu
berkaitan dengan
power. Namun untuk mengejar
power itu,
diperlukan pantangan, pengorbanan, dan disiplin yang justru menuntut menjauh
dari keduniawian. Di sini muncul paradoks: Puasa dan laku prihatin untuk tidak
terikat dunia, tetapi ilmu dipakai untuk menarik lawan jenis, menaikkan status,
atau mengejar otoritas
Sulkhan menambahkan bahwa mantra seperti sedulur papat
limo pancer berfungsi sebagai “password” untuk mengakses energi
alam. Ia bahkan membandingkannya dengan segel tangan dalam Naruto—kode tertentu
untuk mengeluarkan kekuatan pada level tertentu.
Namun di Jawa Timur, praktik pencak silat seperti PSHT,
Pagar Nusa, dan Merpati Putih bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga
membentuk fraksi sosial. Silat menjadi identitas, mitologi diri, sekaligus alat
proteksi dari bullying. Ada rasa aman karena orang lain berpikir dua kali untuk
berhadapan. Belajar kanuragan yang dulu dibingkai sebagai perlawanan kolonial,
dalam konteks kontemporer bisa berubah menjadi produksi identitas gagah, mencari
musuh agar kepahlawanan tetap relevan.
XI. Skeptisisme, Ilmu yang Asli, dan Batas Manusia
Sulkhan mulai mempertanyakan konsistensi praktik etis dalam kanuragan. Ada
doktrin bahwa anggota level tertentu tidak boleh banyak dosa, tidak maksiat,
tidak minum. Namun ia melihat banyak yang melanggar tetapi tetap mengklaim
sakti.
Ia menyaksikan praktik yang terasa performatif. Narasi spiritual
yang ternyata juga bisa ditemukan di Google. Ini memunculkan keraguan: Apakah
kekuatan itu nyata atau sekadar performa sosial?
Isma menegaskan kecenderungan semakin tinggi ilmunya,
semakin tidak performatif. Akbar mengonfirmasi, praktisi yang punya kekuatan dalam tidak arogan. Ia
merefleksikan perjalanannya sendiri—awal yang patriarkis dan penuh ambisi,
tetapi seiring mastery, motivasi berubah menjadi pengendalian diri dan
perbaikan diri. Pada tahap lebih tinggi, orientasi bisa bergeser menuju
realitas yang lebih tinggi, yaitu menuju Tuhan, dengan bahasa masing-masing tradisi. Namun, tetap ada risiko jatuh ke duniawi.
Nurizky mengakui pernah merasa punya kekuatan lebih, pernah meremehkan
orang lain karena merasa lebih “tebal.” Tetapi pengalaman membantu orang justru
memperlihatkan keterbatasan. Energi cepat habis. Membantu beberapa orang saja
sudah menguras fisik; tarot pun hanya bisa mendalam pada dua-tiga orang sebelum
tubuh terdampak.
Dia juga memiliki pengalaman sensitivitas terhadap kematian:
feeling kuat sebelum kakak angkatnya meninggal, kakak angkatnya selama tujuh hari berturut-turut meminta ditemani. Lalu juga ada insiden menyenggol guci yang terasa sebagai tanda.
Sensitivitas terkadang menurutnya bukan selalu anugerah; tapi membawa kekhawatiran dan beban.
Akbar kembali pada paradoks: semakin tinggi ilmu, justru
semakin biasa hidupnya. Guru-guru tenaga dalam hidup normal, tidak performatif.
Bahkan ada anggapan semakin tinggi ilmu, semakin jauh dari kekayaan sebagaimana yang pernah dikatakan gurunya Sulkhan. Dukun
sakti bisa membuat klien kaya, tetapi dirinya sendiri miskin. Realitas ini
memunculkan ironi: menguasai sesuatu yang melampaui manusia, tetapi hidup tetap
biasa, bahkan sederhana.
Pertanyaan reflektif dari Akbar juga muncul: Mengapa orang
memilih jalan pantangan dan laku berat untuk menyelesaikan masalah? Mengapa
tidak langsung menggunakan kekerasan fisik jika tujuan akhirnya sama? Apa motif
terdalamnya? Apakah kontrol, identitas, pengakuan, atau transendensi?
Sulkhan mengakui bahwa masa remaja dengan hormon tinggi
mendorong pencarian kekuatan yang melampaui diri. Kini ia melihat kanuragan
sebagai salah satu cara produksi kekuatan, seperti produksi pengetahuan dalam
dunia akademik.
XII. Penutup dan Resonansi Diskusi
Dari seluruh diskusi, muncul beberapa simpul refleksi:
Pertama, kanuragan selalu berangkat dari tubuh, tetapi tidak pernah berhenti pada tubuh semata. Ia tidak bisa dipahami hanya sebagai praktik mistik yang bersifat individual, melainkan sebagai fenomena sosial yang menghubungkan tubuh dengan moralitas, kekuasaan, identitas, dan sejarah.
Energi atau kekuatan dalam kanuragan bersifat ambivalen: dapat diarahkan untuk pengendalian diri, tetapi juga untuk ambisi duniawi. Rajah, mantra, dan tato sakral memperlihatkan bahwa kekuatan selalu mensyaratkan disiplin moral. Dalam konteks sejarah, praktik seperti tenaga dalam dan war magic bahkan dapat menjadi bagian dari resistensi politik.
Kedua, sensitivitas dan kemampuan visualisasi menjadi fondasi dalam berinteraksi dengan dunia tak kasat mata. Pewarisan energi dapat terjadi melalui garis keturunan maupun relasi guru–murid. Di sini, imajinasi dan keyakinan memediasi tubuh sebagai medium kekuatan.
Ketiga, kanuragan dan ilmu supranatural menyingkap struktur gender dan relasi kuasa yang kuat. Ilmu menjadi instrumen power—baik dalam ranah sosial, gender, maupun politik. Dimensi maskulinitas dan kecantikan turut memperlihatkan bahwa praktik-praktik ini bekerja pada banyak lapisan sekaligus—psikologis, simbolik, politis, dan kultural.
Di dalamnya terdapat pantangan serta paradoks antara asketisme dan ambisi duniawi. Ketegangan antara performativitas dan kedalaman yang tersembunyi juga menunjukkan tingkat kematangan (mastery) dalam kanuragan. Pada akhirnya, perjalanan spiritual ini dapat bermuara pada pengendalian diri—atau justru membuat seseorang tetap terjebak dalam hasrat duniawi.
Edisi Vol. IX Klenik Studies ini tidak menyimpulkan apakah
ilmu itu benar atau tidak. Yang jelas, ia nyata sebagai pengalaman sosial,
karena membentuk identitas, relasi kuasa, dan cara manusia memahami
keterbatasannya sendiri.
Vol. IX juga tidak berhenti pada glorifikasi kekuatan, tetapi
membuka pertanyaan yang lebih dalam: Apa yang sebenarnya dicari manusia ketika
mengejar kesaktian? Kanuragan
dan ilmu hitam sebagai praktik, tetapi juga sebagai cermin nilai, hasrat, dan
struktur sosial yang lebih luas.
Di ujung diskusi, obrolan beralih ringan pada kemungkinan
tema berikutnya: UFO, banaspati, atau fenomena lain. Pertemuan ditutup dengan
rencana: malam Jumat Kliwon depan, yang jatuh pada Kamis, 2 April 2026, akan
membahas Unidentified Flying Object (UFO).