Selasa, 26 Mei 2026

Kanonisasi, Politik Sastra, dan Peran Kritikus Sastra


Kelas Kritik Sastra DKJ edisi Selasa, 26 Mei 2026, digelar secara online dengan tema "Kanonisasi, Politik Sastra, dan Peran Kritikus Sastra". Diskusi ini menghadirkan narasumber akadmikus Katrin Bandel, dan dimoderatori oleh Dewi Kharisma Michellia. 

Michel membuka diskusi dengan bacaan di blog Boemi Poetra. Termasuk ada bacaan list sastra di kurikulum sekolah, ada Pustaka Sastra juga di masa Hilmar Farid. Bagaimana kanonisasi ini bekerja? Pembicara Katrin Bandel akan memaparkan materinya. 

Katrin menjelaskan, karena ini kritik sastra, peran kritikus adalah bagaimana berkaitan dengan kanon dan politik sastra. Ia mempertanyakan, apa itu kanon? Dia menyebut, kanon adalah sekumpulan teks yang dinilai panting penting, berpengaruh, dan paling layak dibaca serta diajarkan. Kata ini awalnya ada dalam tradisi Al-Kitab, terkait ayat mana yang perlu dan tidak perlu dimasukkan. Istilah meluas ke dunia sastra, karya mana yang klasik, bermutu, dan perlu diajarkan. 

Kanon selalu hadir dan kita bersentuhan dengannya. Tapi tidak ada buku tunggal yang menentukan teks mana yang masuk kanon, atau tidak ada lembaga yang menentukan kanonisasi dalam sastra, meskipun di lembaga agama ada. Yang ada di kepala kita masing-masing bisa jadi yang disebut kanon tak tentu sama. Dia selalu dinegosiasikan dan berubah. Bisa saja karya yang awalnya tidak terlalu penting, berpuluh tahun kemudian dianggap kanon. Kanon itu bukan sesuatu yang tetap, tapi sesuatu yang jelas ada. 

Karena tidak ada otoritas yang pasti, kita berjumpa dengan kanon di mana? Mudahnya bisa kita temukan dalam dunia akademia. Misal karya apa yang dibaca dan diajarkan di sekolah. Di buku pelajaran kadang dihafal nama pengarang dan judul buku sebagai strategi kanon. Ini moment penting ketika belajar sastra. Buku pelajaran dan kurikulum di semua level, dasar sampai perguruan tinggi, baik di Fakultas Sastra maupun jurnal sastra internasional, karya mana yang dibaca bisa berubah-ubah tapi tidak terlalu jauh. Misal karya yang sering dibahas dari Inggris dan Amerika Serikat. Kurikulum sangat berpengaruh terkait karya apa yang akan dikenal dan dikaji. 

Yang cukup berperan di Indonesia itu misal antologi. Ada yang membentuk angkatan, misal Angkatan 2000 dengan mengumpulkan sekian karya. Mereka mengusulkan adanya nama angkatan, melakukan seleksi mana sastrawan yang layak dibaca. Contoh lain yang lumayan heboh, berkaitan dengan majalah sastra Horison. Mereka menerbitkan buku cerpen, puisi, novel. Seleksi ini juga untuk dipakai di sekolah-sekolah, melakukan seleksi karya yang paling layak dibaca. Selain lewat dokumen atau buku yang terbit, juga lewat kesepakatan bersama dalam masyarakat secara informal. Karya mana yang sering tersebut dan mana yang dipinggirkan. 

Kanonisasi menentukan bagaimana proses seorang sastrawan mulai dianggap penting dan dihargai? Yang disebut kanon bukan yang baru-baru, tapi yang lama. Istilah kanon dipakai untuk yang sudah agak lewat. Bagaimana proses menjadi kanon? Institusi seperti apa yang berperan di situ? Ada pula kanonisasi dari lomba dan penghargaan. Penghargaan yang ada, hadiah sastra yang muncul dengan legitimasi juri, ini tentu berperan jika mendapatkan anugerah atau penghargaan tertentu. Termasuk yang diselenggarakan oleh DKJ. Kanal lain seperti sastra dalam media massa dan pemberitaan. Ini berperan dalam penghargaan kepada sastrawan. Di masa lalu, koran Minggu itu penting. Sastrawan yang dimuat di koran Minggu dianggap sudah mendapat legitimasi tertentu. 

Kita melihat status media berubah. Ada masa sastra Minggu penting, tapi sekarang bergeser peran institusi ini. Termasuk lewat undangan acara lokal hingga internasional. Apalagi diundang ke luar negeri, ini jadi legitimasi tertentu. Kanonisasi termasuk juga lewat penerjemahan. Ini beberapa hal yang membuat sastrawan disebut karyanya penting. Sehingga kanonisasi itu bukan didapatkan begitu saja. Cara kita memilih buku mana yang kita beli, termasuk berkaitan dengan kanonisasi ini. Semua ini sangat berpengaruh. 

Kenapa Kanonisasi Perlu Dikritik? 

Kenapa ini perlu dikritik? Apa yang perlu diperhatikan? Kanonisasi ini tidak pernah netral. Pilihan karya baik yang dimasukkan ke antologi dan penghargaan, bukan hal yang diterima begitu saja, tapi perlu terus menerus dipertanyakan. Ada asumsi yang disadari maupun tidak oleh seseorang. Tentu ada karya-karya tertentu yang diperhatikan dan tidak diperhatikan. Apakah karya yang dipilih mewakili semua kalangan? Apakah karya laki-laki lebih banyak terepresentasi? Ini beberapa kritik yang umum terhadap kanon. 

Contoh hadiah nobel sastra di zaman dulu hampir semuanya laki-laki kulit putih. Sudah bias gender, bias ras lagi. Misal penulis yang eksplisit berhaluan kiri tidak dianggap ada, tidak pernah benar-benar menang. Ada bias dalam seleksi itu, perubahan itu terjadi. 

Proses penciptaan nilai seleksi karya kanon ini yang disebut politik sastra. Bukan bagaimana dunia politik masuk ke sastra, tapi bagaimana dalam membentuk kanonisasi karya? Memilih karya? Ini ada politik, kepentingan, relasi kuasa yang menentukan karya seperti apa yang lebih dihargai dan mana yang dipinggirkan. Kalau mau meneliti politik sastra, kita perlu memperhatikan bagaimana individu tertentu mengangkat sastrawan. Kira-kira ada kepentingan apa di situ. Apakah itu tidak adil? Adakah kalangan tertentu yang secara sistematis dikecualikan. Jadi kalau mau memperhatikan itu, perlu "memetakan" individu dan institusi yang terlibat. Apakah mereka jujur atau manipulatif. 

Seringkali yang jadi pembicaraan hangat adalah hal yang sedang hangat berlangsung. Bisa juga kanon yang lewat atau yang kuno ini dipertanyakan. Kanon yang diajarkan di sekolah apakah cukup mewakili? Karya seperti apa yang diajarkan sekarang? Di masa awal sampai 65, seperti apa? Apakah karya Lekra diajarkan di sekolah atau dikecualikan? Bagaimana terhadap kesan yang disampaikan. Ini sangat layak diteliti. Jika neliti ini, perlunya argumentasi perubahan, banyak kemungkinan penelitiannya. 

Katrin mencontohkan bagaimana Balai Pustaka (BP) vs Sastra Melayu Lingua Franca berseteru. BP lahir sebagai penerbit kolonial dengan sengaja merangkul sastrawan untuk belajar bagaimana cara menulis karya yang baik, yang sesuai dengan bacaan pribumi, dan mendukung kolonialisme. Bahasa yang digunakan, ada seorang peneliti Belanda yang merumuskan bahasa Belanda standar di Riau, karena daerah yang melahirkan bahasa Melayu. Tapi di masyarakat, bahasa Melayu Kasar atau Melayu Rendah untuk berkomunikasi antar etnis. BP menggunakan bahasa yang terstandarisasi. 

Katrin meneliti dalam disertasinya, bagaimana ideologi soal kedokteran sering ada di karangan BP. Sementara dukun selalu kalah, dokter menang. Ini salah satu bentuk bagaimana ada hal-hal tertentu yang ingin diajarkan. BP politik kanonisasi terbantu karena fasilitasnya lebih. Akhirnya berhasil mendominasi. Karya yang terbit di luar BP tentu banyak, termasuk buku "Drama di Boven Digoel". Ini novel yang sangat menarik daripada Siti Nurbaya dan Salah Asuhan. Tapi karya "Drama di Boven Digoel" dianggap karya yang lebih rendah, bahasanya kasar. 

Politik sastra yang digunakan BP sangat sukses. Novel BP yang diajarkan di Indonesia, jarang yang dengar nama Kwee Tek Hoay, itu langka. Atau buku yang dieditori oleh Pram, itu jarang. Ada usaha untuk menerbitkan karya-karya berhaluan kiri, sastra keturunan Tionghoa juga saat ini. Menurut Katrin, framing kurang tepat seperti membuktikan penulis Tionghoa semua nasionalis dan jadi bagian dari ke-Indonesiaan. Posisi mereka lebih kompleks. Ada juga serial yang penulis Tionghoa yang rasis terhadap pribumi. Keberagaman dan framing ini yang menarik. 

Peran Kritik Sastra

Apa peran kritikus sastra? Tentu punya peran. Hal yang sering kita amati seperti lomba kritik sastra itu relevan, kadang dalam kasus karya tertentu sangat populer, yang hadir bukan kritik sastra, tapi komentar-komentar lepas. Ada tanggung jawab juri juga kadang kurang mendalam. Tidak ada dasar kritik sastra serius yang memahami kenapa karya ini penting. Katrin sering diminta untuk komentar buku, satu dua kalimat di cover belakang. Nama kita sebagai kritikus dipinjam untuk legitimasi tertentu, tapi tak ada ruang untuk penjelasan. Kecenderungan ini bermasalah, seharusnya kritik sastra berperan di sini. Pertanyaan yang muncul: Bagaimana kritikus bisa bersikap independen? Misal, kritikus diundang nulis karya tertentu, tapi dengan asumsi tertentu. Jadi tidak bebas, kritikus itu belum tentu independen. Katrin sering melakukan itu, perlu menjaga agar tidak menerima karya yang tak ingin kita dukung. Bagaimana sebagai kritikus sastra menjaga sikap cukup independen. Bukan menjadi penulis pesanan. Secara keseluruhan perlu sadar tentang peran kita dalam politik sastra. Minimal kritik sastra punya kontribusi yang penting. 

Di kritik sastra mana pun, pasti ada kaitan antara politik dan kanonisasi karya. Apa posisi karya yang kita bahas? Minimal paham kedudukan karya sastra itu, menulis tentang karya, mau gak mau berkontribusi terhadap politk sastra. Ini minimal yang perlu kita sadari. Sekilas kita paham kedudukannya bagaimana? Dengan membahasnya mau apa? Posisi apa yang mau kita ambil. Itu yang membuat tulisan kita terasa lebih relevan dan bisa dipetakan diskusi yang sedang berlangsung. 

Satu hal yang perlu ditanyakan termasuk mempertanyakan di mana masalah kanon sastra. Misal dari perspektif gender, pascakolonial, dominasi estetika sastra tertentu. Tulisan eksperimental dianggap lebih bermutu, sementara yang realis kurang dihargai. Politik sastra berkaitan dengan estetika mana yang dikatakan bermutu dan bukan. Ini yang berimplikasi sampai sekarang. Sebenarnya karya Pram biasa saja, seolah itu lebih mudah ditulis daripada yang eksperimentasi yang plotnya susah dipahami. Ini masih berimplikasi sampai saat ini. Apakah sebagai kritikus punya bias tertentu dalam kritik yang ditulis? Termasuk bias topik, misal soal topik seksualitas yang lebih laku, daripada soal masyarakat pedalaman yang kurang diangkat. 

Sejauh mana karya-karya di sekolah-sekolah terpencil seperti Papua, apakah kanonisasi itu sama? Apakah sastra lokal masuk? Apakah yang dibaca banyak yang di luar lokal? Kita bernegosiasi dengan kanon, seharusnya dibaca kenapa diabaikan? Atau yang dianggap kanon tapi ada elemen yang bermasalah. Ini banyak dilakukan oleh kajian pascakolonial. Ada rasisme tertentu yang tercermin di situ. 


Tanya dan Jawab:

1. Lukman Hakim: Bagaimana dengan kanonisasi puisi esai oleh survei politik? 

Katrin: Ini kasus yang banyak dibahas. Ini politik sastra dalam bentuk yang paling kasar dan ekstrem. Kasus Denny JA dalam esai, bisa dikatakan menggunakan modal di luar sastra, terutama kekuatan finansial untuk membeli posisi di sastra. Walaupun dinamika politik sastra bermasalah, kasus ini tidak berhasil. Ini menimbulkan diskusi yang sangat heboh, sekarang tak ada lagi membicarakan ini. Kasus menarik, pertama, mencoba menciptakan genre baru yang sebetulnya konyol. Padahal itu puisi naratif yang ada catatan kaki. Itu bukan hal baru. Yang luar biasa, dia mencoba membuat orang lain menulis itu dengan honor yang tinggi. Sastrawan Ahmadun kemudian mengembalikan honor itu. Sebagian sastrawan yang menerima itu ada yang tidak sadar ada kepentingan yang lebih besar. Langkah berikutnya bikin buku sastrawan yang paling berpengaruh. Sepertinya strateginya sudah diplot, haha. "Sangat konyol cara mainnya," kata Katrin. Buku itu terbit tapi tak ada yang benar-benar menganalisis buku itu. Masalah finansial memang berpengaruh, tapi yang sampai orang dibeli itu ekstrem. Enggak main di pengaruh komunitas tertentu, membuka pintu tertentu, dll. Denny JA pengecualian. 

2. Laksmi Mutiara: Novel Manusia Bebas dari Suwarsih Djojopuspito juga tidak diterima untuk terbit karena kurang "tradisional". Akhirnya diterbitkan dalam bahasa Belanda dan baru diterjemahkan hampir 50 tahun kemudian. 

Katrin: Memang ini bagian dari keberhasilan politik sastra dan bagaimana BP sukses mengeksklusi lingua franca atau Melayu kasar. Masih banyak pekerjaan yang harusnya dilakukan kritikus. Perlu kerja kritikus mana yang menarik, konteksnya. Bahkan belum sampai ke konteks "kolonialnya".

3. Question: Penerbit lain di luar BP yang konsisten menerbitkan karya bagus? 

Katrin: Ada. Ada negosiasi menarik. Hal lain yang bisa kita lakukan, mengangkat dengan melacak politik sastranya. Mengkaji teks di luar karya yang digunakan untuk memposisikannya/mengiklankannya. Teks ini menunjukkan bagaimana karya ini diposisikan lewat konteks di sekitarnya. Kita mencari "peninggalannya" itu. Bagaimana karya tertentu berusaha diangkat, dengan cara apa? Banyak hal yang bisa digali. Berangkat dari situ bisa dibuat kritik sastra. 

4. Ratri: Kenapa sastrawan BP banyak nulis karya anak? 

Katrin: Saya tak tahu pasti. Bacaan untuk anak-anak di Eropa, kadang di Indonesia jadi bacaan umum. Diasosiasikan seolah yang terjajah seperti anak kecil. Untuk karya yang diterjemahkan itu karya untuk anak, yang kemudian tak hanya dibaca anak, tapi juga orang dewasa. Misal kalau ditanya apakah Muchtar Lubis dipengaruhi itu? Saya belum tahu. Kalau ada yang menulis itu menarik. 

5. Isma: (1) Saya tertarik dengan tulisan Pak Saut sebagai pengantar untuk diskusi ini. 

Dari bacaan itu saya jadi berdialog dengan diri saya sendiri, apa jangan-jangan ketakutan penulis Indonesia untuk menulis sastra (atau menulis secara umum) ada kaitannya dengan kanonisasi yang dilakukan oleh pihak Manikebu (yang institusinya masih hidup dan berumur panjang sampai sekarang)? 

Di mana art as art, eksperimental lebih dihargai daripada yang realis. Nilai seperti ini lalu menyampingkan karya-karya yang dianggap kasar, raw (mentah), nyata, lebih membaca konteks sosial, dan gak cenderung untuk menjadi ndakik-ndakik. Padahal kalau berkaca dari Lekra, itu lebih membumi. 

Efeknya, ketika penulis ingin menulis, dia dihantui duluan oleh POV sastra versi berat yang ditawarkan kanon sekarang. 

(2) Bagaimana kelindan antara karya kanon dan popularitas? 

(3) Kanon berkaitan dengan uji waktu. Menurut Mbak Katrin, indikator apa yang menyebabkan suatu karya tak lekang waktu? 

Katrin: Benar, berkaitan dengan kanonisasi tadi. Standar yang tercipta lewat kanonisasi sastra, punya estetika tertentu untuk diakui. Saya kira ini jadi persoalan. Harapan karya harus rumit dan eksperimental. Eksperimentasi bentuk itu juga lain. Bagi saya terkadang gak jelas, eksperimentasi ini untuk apa? Mungkin untuk menangkap sisi estetika tertentu. Bukan berangkat dari karya yang unik. Usaha untuk merekam itu. Permainan estetika, eksperimentasi lahir dari sesuatu yang konkret. Tapi ketika itu jadi standar, lahir bereksperimen karena harus eksperimen untuk diakui sastra. Tapi eksperimentasi yang gagal terjadi ketika saya jadi gak tahu ini tentang apa? Mau ngomong apa? Saya terganggu dengan tren itu. Di situ juga peran kritikus harusnya tampil. Kritikus bisa menunjukkan ini tren yang sudah seharusnya diakhiri. Ini lahir dari Orba, tidak bisa langsung, harus dibuat rumit. Sekarang sudah berbeda situasi. 

Kedua, kanon dan popularitas ini penting. Kanon sastra dan popularitas, jumlah penjualan karya dua hal berbeda. Dari konstruksi ini dua hal berbeda. Kanon sastra apakah dianggap penting/canggih? Apakah langsung berimplikasi, belum tentu. Sedangkan karya yang dijual dengan jumlah banyak, justru bisa jadi dipahami, ini bukan sastra. Karena sastra itu benda yang elite. Karya seperti Tere Liye, popularitas bisa dilihat sebagai bukti, ini bacaan populer. Dua hal ini dipertemukan, ada negosiasi, perdebatan, di mana batasnya. Itu jadi topik menarik. 

Ketiga, terkait kanon yang melampaui zaman, yang terus diangkat dan diajarkan. Itu bagian dari kanonisasi. Kenapa itu terjadi? Awalnya dikira dinilai sangat bagus, lalu tenggelam. Ini per kasus harus dilihat. Kenapa sastrawan tertentu diangkat. Apakah berkaitan dengan gaya tulisnya yang gak lagi populer. Ini sulit digeneralisasi, perlu dilihat per kasus. 

6. Question: Kanonisasi dalam penerjemahan seperti apa? 

Katrin: Ada relasi kuasa tertentu, tapi pilihan karya kenapa diterjemahkan ini menarik juga diteliti. Mungkin pandangan penerbit juga punya pandangan menarik. Tidak lagi didominasi karya-karya dari Eropa atau Barat lainnya. Pemetaan sastra dunia oleh penerbit, apakah atas kesadaran penerjemah? Ini menarik diteliti. Ini sangat berkaitan dengan politik sastra. Menerjemahkan karya luar ini mengundang pengaruh tertentu. Semisal ketika seseorang terpengaruh oleh karya Amerika Latin. 

7. Dedy Tri Riyadi: Di era digital, peran kritikus kalah oleh influencer. Apakah kritikus masih diperlukan? 

Katrin: Kanonisasi selalu bermasalah. Kanon itu sangat berperan di pendidikan, kalau gak ada kanonisasi apa pun, gak terbayang guru harus bagaimana. Seakan-akan semua karya yang ada berstatus sama. Kanonisasi itu tetap sesuatu yang secara praktis kita butuhkan. Permasalahan di relasi kuasa dan otoritas. Mungkin ada pemetaan ulang yang sehat, zaman BP yang diajarkan begitu saja. Mana yang relevan diajarkan oleh sekolah-sekolah? Apakah oke membuat daftar, oke saja, tapi tahu betul, "kamu ada di posisi seperti apa?" Untuk intervensi ke kanon, ada argumentasi yang jelas. Kenapa relevan dibahas dari yang lain. Tidak menghadirkan daftar tambahan. Ada jumlah kritikus yang bahas secara serius, ada level diskusi yang mendalam. Meskipun nanti ada influencer, di level serius itu setidaknya ada. Yang mendasarkan diri pada teks. Sehingga tidak sekadar perayaan atau debat kusir tanpa dasar. Perdebatan itu lebih sedikit, tapi minimal ada. Itu yang diharapkan dari kritik sastra. Kanonisasi lebih bisa merujuk kesana. Karya itu bukan sekadar kehebohan yang terjadi di medsos. Influencer tak bisa menggantikan kritikus serius. 

8. Dendi Madiya: Apakah seorang kritikus atau juri sayembara itu betul-betul bisa keluar total dari seleranya? Biasanya dia menilai, berkomentar karya ini terlalu ini dan itu. Bukankah itu selera dia, dan pasti itu subjektif. Aku yakin juri itu subjektif. Ketika kritikus misalnya dia membahas karya yang itu-itu saja, apakah bisa dibilang begitu? Juri yang tidak independen, apakah ada independensi juri? Meski pada akhirnya kritikus itu politis, gak bisa independen. 

Katrin: Tentu saja kritikus tak lepas dari selera kita, gak lepas dari ideologi. Bedanya bukan komentar itu politis atau netral, apakah kita punya pendapat tertentu dengan argumentasi tertentu? Atau hanya bisa bilang itu jelek tanpa alasan. Meskipun ada selera, tapi ada penjelasan, sehingga orang lain bisa berdiskusi. Kalau tidak ada dalam penjelasan, ya, tidak terjadi diskusi apa pun. Itu yang berbahaya. Bagaimana diskusi bisa berlangsung kalau hanya di level itu. Tentu tidak ada yang netral, untuk sedikit mengambil jarak dengan selera itu bisa. 

9. Andika: Bagaimana menjadi pembaca karya yang berdaulat dan tak dibayangi kanon? 

Katrin: Pembaca berdaulat bisa diartikan dia yang bisa seleksi sendiri mana yang mau dibaca. Saya yang pengetahuan sastra lumayan, tapi ketika ke toko buku juga bingung mana yang perlu dibeli. Satu hal, kalau mengamati peta penerbit setelah runtuh Orba, lahir banyak penerbit baru, penerbitan karya sastra lebih luas dan positif. Tapi efek sampingnya, banyak karya tapi juga kurang peta mana yang relevan dibaca. Penerbit mulai lebih spesifik dan selektif. Beberapa penulis menerbitkan sendiri, kita berhadapan buku tidak tahu mana yang layak baca dan mana yang tidak. Kalau ada peta, ini memudahkan pembaca. Misal saya cocok dengan penerbit ini, tapi di kita budaya itu belum terbentuk. Bagi pembaca perlu pertolongan, dari penerbit maupun kritikus sastra untuk memilih buku mana yang perlu dibaca. Dengan kondisi sekarang, pembaca jadi tergantung pada iklan dan diskusi singkat di medsos. Jadi kurang berdaulat karena gak ada panduan yang jelas. Kritik sastra bisa masuk di sana. Untuk memberi argumen ini pantas dibaca atau tidak. Di Jerman ada penjelasan ringkas novel ini tentang apa. Berdasarkan itu saya menentukan topik ini menarik atau tidak. 

Andika: BP buat karya kolonial, tapi kayak dibuat untuk anak-anak. Nah, kapan pembaca bisa disebut berdaulat? Bagaimana kalau institusi itu mendewasakan atau mencerahkan? 

Katrin: Ya, kanonisasi tidak selalu negatif. Tentu itu ada potensi positif juga. Dengan kurikulum, karya seperti apa yang sampai ke pembaca. Bisa jadi membatasi atau justru sebaliknya. Yang penting itu di sisi pendidikan juga. Membayangkan anak remaja yang berkenalan dengan sastra, nah, bagaimana dia memilih? Tergantung dari gurunya memilih. Kita butuh lebih jauh dari sekadar kanonisasi. 

Senin, 25 Mei 2026

In spirituality, no one can judge you. No one can bluff you.

Maybe, I am not a good preacher. But, all the things I do are to bring myself to the light, in His greatness. I still try meditation even though I know that I may fail. Sometimes, I only want to be honest to myself, everything I do is something I aware that I want to do. Not because it is influenced by the outside world around me. 

Every Monday's night, Shraddha Ma gives us new insight into spirituality. This night, I learned that the inside is more important than the outside. I learned about equality too, religions sometimes are just fashions. 

I learned from Tejomoyee Maa that, "In spirituality, no one can judge you. No one can bluff you." 

She told to us that Bhagavan never disciminated against people, whether because of social status, class, religion, skin colour, etc. Until now, his values about oneness remain eternal. He made devotee' practices as a priority. 

And, I want to write too, when I did a meditation practice at Katedral Jakarta with Romo Mahar and Catholic people, even though I was the only woman who wore a jilbab, but I was happy, and felt the sense of equality. One more experience: there was a girl who smiled to me effortlessly, and I felt that her smile was so honest. And, I am thankful for that. I continue to remember it. 🙏

Minggu, 24 Mei 2026

Sore di Prasravana: Harapan, Praktik, dan Masa Depan Seniman

Diskusi bertajuk "Sore di Prasravana: Harapan, Praktik, dan Masa Depan Seniman", di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu, 23 Mei 2026. Diskusi ini digelar dalam rangka artist talk para pemenang Cipta Art Award 2026 yang digelar Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Diskusi menghadirkan seniman dan pemenangnya langsung: Tahnia Ahista Nareswari, Yosua Reydo Respati, Kevin Jagar Eliezer Nababan, Karin Josephina Tani Tantiana, Ismayanti, Kristian Panca "Kape" Nugroho, dan Maryo Pratama. Ada dua penanggap dalam diskusi, yaitu Aidil Usman (Komite Seni Rupa DKJ) dan Ilham Nurjadin (Dewan Juri Cipta Art Award 2026), serta dimoderatori oleh Danny Yuwanda. 

Moderator Danny Yuwanda membuka diskusi dengan menyampaikan, Prasravana ini benih, bentang (dari benih ke bentang), sebagai simbolisasi dari fenomena seni rupa kontemporer yang sangat dinamis. Di samping sisi kiri kanan dia duduk ada penanggap. Pertama ada Aidil yang sudah melakukan project membuat dua ton rendang untuk korban banjir Pulau Sumatera. 

Danny menyebut, setiap karya besar selalu dimulai dari hal kecil, layaknya mata air. Melalui pameran ini tidak melihat karya sebagai hasil, tapi juga proses. Sebagai ruang tumbuh untuk memperkuat ekosistem seni rupa. Saat ini, seniman punya tantangan bagaimana memaknai kedalaman di tengah situasi kontemporer sekarang. Ia mempertanyakan kepada seniman yang hadir: Apa sih benih utama yang melahirkan karya Anda saat ini? 

Tahnia menjelaskan, karyanya berjudul "Her Second Skin" merupakan visual tubuh perempuan dengan deboss lingerie. Inspirasi karya awalnya ketika dia sedang meyortir pakaian eyang putri. Banyak koleksi lingerie di sana, di awal doa mengamati, "wow, ini sangat berbeda dengan pakaian dalam yang kami kenakan, dengan visual brokat kasar." Ada perasaan ingin mencoba dari diri Tahnia. Ada rasa paradoks di mana tubuhnya cantik, tapi juga tidak nyaman. Eyang Tahnia menyukai ini dan dipakai setiap hari. Dia memakai lingerie ini sebagai visual jejak perempuan. Karya ini series yang dia pakai juga di sidang skripsi studinua. Tahnia lebih khusus lagi mengulas fenomena happy victim. Bukan untuk memenuhi standar kecantikan, tapi memenuhi standar dia sendiri. 

Selanjutnya, Yosua Reydo Respati atau kerap disapa Edo, karyanya berjudul "Tuhan, Tulang Ini Aku Pinjam". Awal idenya adalah dari kecil mengikuti satu ritual, tiap minggu pergi ke gereja Katolik. Ada khotbah bacaan, dia mempertanyakan ulang tak hanya khotbah tapi narasi tunggal yang ada di sekitarnya. Proses itu menjadi refleksi Edo terhadap kebenaran yang menghegemoni. Menurutnya itu bukan karya yang sempurna tapi yang lebih ingin Edo tegaskan adalah bagaimana dia bisa menjelaskan argumennya dalam sebuah karya. 

Kevin Jagar Eliezer Nababan kemudian menjelaskan karyanya yang berjudul "Manuskrip Kulit", menggunakan teknik single foto pigmen print. Berangkat dari risetnya di Kupang. Kevin merasa ada rantai terputus antara kebudayaan dan kesenian. Kenapa kebudayaan hari ini itu representasinya kurang di seni kontemporer. Ia mencoba menyajikan karya yang argumennya kontemporer. Fokus karya adalah mendekode karya masyarakat adat jadi karya yang consumable untuk contemporary art

Karin dengan karya berjudul "Anicca", sebelum dikolase, awalnya karya itu belum ada nama. Karya itu sudah dia bikin tahun lalu, tapi belum dapat kesempatan ditampilkan. Pas ada open call, karya yang belum ada nama ini ia ikutsertakan di Cipta Art Award. Karin memandang tema benih itu kesempatan baru, karena dia lagi banyak eksplorasi konsep agama Buddha. Sangat lumayan belajar tentang kesederhanaan yang mengena secara pribadi. Makanya dia namai Anicca, yang juga bisa berarti ketidaktetapan. "Yaudah itu kayak bibit, sebuah peluang tapi juga bisa layu. Memandang itu secara pribadi zoom in kemungkinan, kita lihat dari lensa mikroskop ada peluang. Apakah itu nanti akan layu atau bertumbuh, semua bisa punya kemungkinan. Tapi di sini ada kedamaian pribadi."

Ismayanti dalam karyanya berjudul "A quiet Reclaiming" menjelaskan, karyanya berbentuk mika bulat. Baginya karya itu reflektif sekali. Dia yang memiliki background di fotografi, ingin membuat fotografi dikonsumsi dengan cara yang berbeda. Kemudian dia eksplorasi berbagai medium, sampai akhirnya berlabuh ke lem Korea. Asal idenya, kalau lagi jalan motret, dia sering lihat tumbuhan kecil yang nerobos tembok, mereka tidak mati. Jalan di bawah flyover, tumbuhan ada yang nempel di tembok dengan akar besar. Dia lalu bertanya, "Kapan ya pembangunan di kota ini melihat sisi ekologis dari tumbuhan yang juga punya sikap keras, masif, senyap? " Dia menganggap, kajian arsitektur tidak memberikan hak yang sama dengan mereka, kesenyapan yang bingar. "Before mereka ambil dengan cara mereka, better kita memperhatikan," ujarnya. Akhirnya analisis itu dia bawa juga ke urban studies melalui teknik layering, karena tersembunyi tapi juga terlihat. Begitulah dasar ide Isma. 

Kape dalam karyanya berjudul "Kuasa" berkontrmplasi terlebih dahulu terkait konsep pameran? Apa benih utamanya? Kekaryaannya sendiri didasarkan dari kayu. Dan kayu ini diambil sebagai metode berkarya. "Saya ikut vipasana, meditasi 10 hari. Metode kesadaran. Dalam 10 hari berkarya, saya kontemplasi, nemu satu kalimat we are nature. Ini dasar untuk menggali karya ini. Kita ini dengan alam satu kesatuan, tapi kondisi sekarang paradoks. Kita membutuhkan alam tapi juga menghancurkan alam. Makanya pakai simbol kampak dan tali yang diikat. Pohonnya itu dari alam langsung," jelasnya. 

Danny sebagai moderator juga bertanya kembali, sejauh mana pengalaman personal mempengaruhi penciptaan karya? 

Tahnia menjawab, menurutnya semua karyanya dari pengalaman personalnya sendiri, apalagi konteksnya ketubuhan perempuan. "Pengalaman aku sebagai seorang perempuan." 

Edo menjawab, di karyanya, dia mengamati ada informasi yang gak berhenti di masa sekarang. Ini memunculkan dialog di dalam dirinya, "Apa yang saya pikirkan ini saya tuangkan ke karya. Beruntungnya di Indonesia masalah bertubi-tubi, supaya sehat diolah dan dikeluarkan lagi," ungkapnya. 

Kalau menurut Kevin, ada ketimpangan urban dan suburban. Di Timur Indonesia ada anggapan melihat mereka kok merasa kasihan, misa buat kain tenun sulit-sulit dan lama tapi dijual murah. Narasi kasihan terhadap orang Timur ini yang coba dia bongkar. "Saya sampai ke cara pandang suburban, apa yang kita anggap susah itu resilensi buat mereka. Ini beda dengan konsep yang sekarang uang, uang, uang," protesnya. Dari refleksi itu, lalu hasil karya tidak memasukkan wajah, tapi hanya tangan. Kalau ada wajah, pasti ada konsep untuk dikasihani. "Kita hanya fokus ke kebudayaan yang mereka miliki. It is what it is. Cara mereka hidup adalah cara mereka hidup." 

Karin begitu sepakat jika pengalaman pribadi berpengaruh ke karya. Mungkin ini dianggap egosentris juga berasal dari pengalaman pribadi. Dari pengalamannya sepuluh tahun lebih menekuni visual abstrak, selama ini bertanya kenapa karyanya gak eye catching? Secara intuitif karyanya ke arah abstrak, setelah sekian periode, ia mengalami isu penurunan pendengaran. Ini berefek ke berbagai hal, ternyata setelah dia proses, ternyata tubuh bereaksi duluan sebelum ia tahu kenapa. Laku untuk berkarya secara intuitif itu cara menyelamatkan diri Karin. "Aku menggali mengapa toh? Reaksi otak begini, korelasi terhadap dunia luar beraksi kayak gini ketika gak ditangani dengan baik. Aku mempelajari dengan caraku sendiri. Sangat pribadi tapi juga sangat universal," ceritanya.

Isma menjawab, banyak hal yang masuk ke dalam dirinya itu menggilakan, jadi harus dikeluarkan. Semua terserap menimbulkan banyak pertanyaan. Banyak apatisme orang, mereka, society punya big attention ke yang terlihat, tapi lingkungan seperti tanaman kurang diperhatikan. Ada keresahan personal terhadap lingkungan. Kalau sedang moto, itu gak dikasi ke ruang hidup. Menurutnya, ada dialektika, entah kenapa dan bagaimana. "Karya saya juga terkait identitas, bagaimana manusia menghasilkan kebudayaan. Saya pernah buat film di Kalbar, sebagai human, kita part of lingkungan. Tapi sebagai manusia Nusantara kok malah menjauh dari lingkungan. Ada kontemplasi sendiri agar melihat alam gak sempit. Buat saya ini menyakitkan," ungkapnya. 

Kape berkaitan dengan pengalaman personal justru mempertanyakan, seorang seniman ketika berhadapan dengan medium, harus jujur dengan karyanya atau tidak? "Keseharian saya coba masuk ke situ. Di rumah grounding, permakultur, saya melihat bahwa medium sangat penting untuk seniman. Lucu kalau seniman tak jujur dengan mediumnya," jelasnya. 

TANGGAPAN:

Danny bertanya pada Usman: Bagaimana melihat ekosistem Jakarta selama beberapa tahun terakhir? Apa kontribusi Cipta Art Award pada karier seniman? 

Aidil Usman menjelaskan, di dalam konteks sejarah seni rupa, masa sekarang menjadi periode kedua setelah lima puluh tahun, sebagai cikal bakal Jakarta Binneal. Tapi ini banyak perdebatan, ada dikotomi seniman baik. Ada perlawanan dengan gerakan seni rupa baru dengan tokohnya seperti Hardi, FX Harsono, Bonyong. Ini para seniman pembangkang. 

"Alhamdulillah saya berhubungan dengan mereka. Kenapa cipta ini kita inisiasi di Jakarta. Dengan harapan seni rupa Jakarta harus menciptakan ekosistem baru, agar seni rupa Indonesia biar masuk ke pergulatan wacana. Jakarta hanya masuk etalase, primary market," katanya

Menurutnya, Cipta Art Award ini akan sustain. Dari sisi karya kawan-kawan seniman menarik. Banyak genre, ada lukis, instalasi, patung. Ini yang ada di pergulatan seni rupa kontemporer. Dari sisi narasi dan kesadaran juga tumbuh, ada lompatan jauh, tapi pertanyaan bagaimana konsistensinya? Cara berpikirnya bisa dimulai dari menemukan ide, mengolah ini sebagai sistem, akan dilihat dalam kondisi tertentu. 

"Sekarang pendekatan itu mudah diraih, sejauh mana mengolah kesadaran imajinasi, visi, mengelola ekosistem, tentu ini bisa personal. Keterkejutan ini tentu perlu dijaga. Saya berkeyakinan teman-teman ini merangkak pada posisi tertentu. Pengkaryaan perlu ada impact ekonomi tertentu. Dimulai dari bercipta, ruangan yang mempengaruhi seniman. Dari ide benih. Simbolnya bibit kelapa. Selamat para seniman di sini akan jadi penerus," ungkapnya. 

Ilham Nurjadin menambahkan, dari 20 finalis pemenang, secara personal dia fokus ke teknis, konsep, dan mediumnya. Bagaimana kita bisa melihat beyond dalam karya seni. Setiap seniman punya mediumnya sendiri, juga konsep yang menarik untuk dijelaskan. Ada hubungan yang kuat dengan teknik khusus mereka masing-masing. 

Danny mempertanyakan lagi, bagaimana eksplorasi medium? 

Kape menjawab, aturan pertama, dia adalah seniman yang suka dengan medium kayu. Kenapa kampak gak pakai besi tapi pakai? "Dari dulu saya suka banget sama kayu. Punya hasrat yang kuat ke kayu kalau lihat kayu. Saya ingin bawa benda-benda yang natural dari alam," kata Kape menjelaskan tentang mediumnya. 

Seniman lain bernama Maryo Pratama yang datang terlambat menjelaskan, berkaitan dengan pemilihan media, dirinya eksplorasi medium ini sudah dari tahun 2015. "Sempat tidak pede dengan media, saya suka numpuk objek di lukisan. Proses editing olah dulu di Photoshop. Ada tiga layer. Saya eksplorasi medium apa yang ada objeknya tapi masih bisa transparan. Akhirnya saya nemukan medium kain tile," terang Maryo yang menjelaskan karyanya berjudul "Life Rhytm".


Tahnia menambahkan, dia pernah satu tahun magang di Jogja, dan mengharuskannya eksplorasi material. Ia ditekan untuk extend print making yang lebih modern menggunakan teknik litografi, dan akhirnya photolitography yang dipilih. "Dari situ kepikiran tentang jejak, jejak pada tubuh perempuan. Tidak ada tintanya, tapi ada teksturnya, khususnya teknik deboss."

Edo menyebut bahwa mediumnyalah yang paling sederhana, medianya kertas. Banyak perupa menganggap gambar di kertas jadi awal buat ide. "Yang saya temukan, dalam medium kertas ada ungkapan yang lebih jujur, gak dipoles. Karena kertas juga kaku mungkin tidak menarik, itu jadi nilai lebih. Juga tentang garis, bagaimana garis itu hadir. Bagaimana kertas jadi medium yang sangat mendasar," ungkap Edo. 

Kevin menanggapi, awalnya dia merasa insecure di awal, fotografi lumayan jarang dipertimbangkan dalam seni. Untuk membuat foto ini bisa bertatapan dengan karya lumayan lama, adalah dibesarkan skalanya. Tangan yang sangat besar, seperti manusia. Ditempel di dinding ukurannya pas. "Yang ingin saya tonjolkan adalah energinya. Banyak yang kira oil paint, karena tenggat dan materialnya tetap. Gak hanya fotografi, tapi juga hal yang hidup."

Karin menjelaskan, "Aku kerja dengan kertas, utamanya kertas yang siap dibuang, seperti ketika dapat kemasan, kardus bekas, selotip, itu diproses lagi, juga tanggung jawab pribadi ngurangin sampah. Belakangan banyak bekerja dengan benang, belajar merajut, itu aku eksplorasi dan bagaimana bisa digabungkan dengan kolaseku. Itu berkontribusi untuk narasi karya."

Isma menjelaskan, "Kenapa akrilik? Karena chemical-nya di akrilik itu sesuai, gak perfect, ada cracked, gimana karya itu gak harus dari looks, tapi bagaimana menyampaikan pesan. Saya mengincar ketidaksempurnaan. Kemudian ditransfer image, saya eksplorasi dari gel medium, stiker, UV print. Pemilihan bukan akrilik yang tebal, saya ingin membuatnya tipis."

Dewan Juri Ilham menanggapi, medium penting dan medium yang dipilih seniman harus sesuai dengan konsep. "Yang saya temukan, setiap seniman bercerita dengan sangat lokal dan personal," ujarnya. 

Aidil juga mendapat pertanyaan dari Danny, "Seberapa penting membangun regenerasi seniman?" Aidil menjawab, penting karena kompetisi seperti Cipta Art Award bisa menampung seniman. Bagaimana memberikan ruang bagi seniman muda yang punya kemampuan sendiri. Ketika dikomunitaskan, bagaimana itu menciptakan ruang. Sustainable juga agar terjaga. " Agar mereka sudah tak gamang milih seni rupa sebagai jalan hidup. Sekaligus seni rupa ini bagaimana agar punya implikasi sosial, bagaimana sejarah dibangun."

Dari sisi audiens, Isma dari Petojo bertanya: "Benih atau ide dalam berkarya itu mudah ditemukan dalam sehari-hari, tapi bagaimana membuat ekosistem untuk menjadi karya yang jadi itu yang sulit. Bagaimana seniman di sini membangun ekosistem dari benih ke karya tersebut?"

Edo menjawab, dia berkarya tidak ada ekspektasi, yang dia puaskan pertama kali adalah dirinya. Layaknya menebar benih, tidak semuanya akan tumbuh dengan baik, tapi di sana ada konsistensi dari Edo untuk selalu berkarya dan mencoba sesuatu yang baru. Mengulang pun juga bentuk eksperimen. 

Ismayanti melengkapi, menurutnya gak ada ekspektasi sama seperti Edo. Dia melakukan seni bahkan dengan lembur tapi itu dilakukan dengan menyenangkan. Justru menjaga intensi atau niat, untuk apa. Yang mendasar itu Isma merasa merdeka dalam berkarya, itu yang saya jaga. Eksperimental itu ada hasil tak terduga. Ini respons terhadap apa yang kita konsumsi. Bagaimanapun jadinya itu sebuah karya. Itu wujud pikir kita, kalau ditolak berarti ada problem. Ekosistem itu yang dia jaga dalam berkarya. "It's liberating. Ini yang personal buat saya. Interaksi medium dengan hasil karya kita."

Sementara itu, Arhan Aryadi Komponis sekaligus dari DKJ Seni Musik menanggapi, menurutnya seni itu bukan pacuan kuda, tidak perlu dilombakan, tapi lomba itu penting untuk merangsang kita berkarya. Ada ruang di DKJ, untuk merepresentasikan karyanya. DKJ memberikan ruang itu. 

"Seni gak ada yang baik dan buruk, sama dengan di musik, bukan musik yang enak atau tidak enak, yang paling dicari itu kuat atau tidak kuat, kedalamannya. Awal-awal itu saya sempat lihat plating pamerannya, itu sebenarnya kuat, menarik, tapi balik ke personal. Kalau kuat harus betul-betul jujur dan dalam terkait bagaimana mengungkapkan ekspresi. Harus dilihat dari berbagai segi arahnya. Saya pergi ke Baduy, saya sering kecamatan Baduy, di Baduy Dalam itu wanita tak pakai daleman. Karena kolonialis, tubuh harus ditutup. Lingerie itu produk kolonialisme, lingerie itu produk yang dipakai bangsawan kelas atas. Kedalaman karya harus betul-betul dipikirkan, dalam berkesenian akan masuk dalam gaya seperti apa? Misal saya spektralisme. Misal lingerie bisa jadi gaya, mengembangkan itu dengan terus menerus. Sebagai seniman gak harus mencari-cari atau apa, kalau ketemu satu, yaudah itu aja yang dikembangkan." Arhan memberi pesan. 

Jumat, 22 Mei 2026

Kota Pesisir: Bayangan yang Mulai Memudar

Diskusi "Kota Pesisir: Bayangan yang Mulai Memudar" sekaligus pemutaran film "Nelayan Perempuan Terakhir" karya Irwan Ahmett dan Tita Salina dilaksanakan di Ruang 302-303 Institute for Advancement of Science Technology and Humanity (IASTH) Kampus UI Salemba, Jumat, 22 Mei 2026. Diskusi ini menghadirkan pembicara: Elisa Sutanudjaja (Direktur RCUS), Irene Sondang Fitrinitia (Dosen KPP-SPBB UI), serta sambutan pembuka oleh Husnul Fitri (Kaprodi Kajian Pengembangan Perkotaan UI). 

Husnul mengatakan, pihaknya di sini membahas perkotaan dari berbagai sisi. Ruang itu berisi tak hanya fisik, tapi organisme yang bergerak dan beraktivitas. Ruang tak bisa dipandang berhasil jika punya gedung mewah atau pemukiman yang baik, tapi juga jiwa yang dibangun. Manusia itu hidup di dalamnya, jiwanya yang ingin terus untuk hidup dalam kota. Sifatnya bukan teknis, tapi juga dari berbagai sudut pandang. Menampilkan seni, kota bisa dilihat dari berbagai perspektif. 

Dia mengapresiasi kepada seniman, sastrawan, yang melihat kota dari sisi seni. Ini film yang dibuat Iwang dan tim dari lingkungan pesisir, dia salah satu tempat dengan kemiskinan ekstrem. Mendekatinya tak seperti yang ada di daratan, tapi juga pesisir. Bagi yang tinggal di Jakarta, kita ada di kawasan itu. Itu bukan kawasan yang jauh dari kita. Ancaman yang membawa kita, isu yang sama-sama kita kawal. Dengan adanya pemutaran film ini, bisa melihat potret kehidupan pesisir. Kita berdiskusi tentang itu, tak hanya perdebatan tapi juga solusi terbaik. 

Usai sambutan dari Husnul, diselenggarakanlah nobar film "Nelayan Perempuan Terakhir". Usai itu digelarlah diskusi film. 

Moderator usai penayangan film berkomentar, banyak metafora yang menarik. Rumah yang disunggi itu kenapa? Biasanya yang disunggi kitab suci. Iwang menjelaskan, sebagai seniman tak ingin banyak bicara, yang menarik dari seni adalah interpretasi. Kalau terlalu jelas jadi undang-undang. Mungkin yang sifatnya lebih relasi biar lebih humanis. 

Elisa melanjutkan paparan, dirinya agak berbeda dengan Iwang. Ia ingin menjelaskan sejelas-jelasnya. Rumahnya ini untuk kesenian lain. Ada mitologi, narasi tentang tembok pantai. Kenapa rumah jadi topeng itu menarik. Mereka menolak penggusuran. Satunya lagi, ada juga pameran dengan Bremen. Akhir tahun Rujak Center for Urban Studies (RCUS) kerjasama dengan negara-negara dunia ketiga di Amerika Selatan dan Afrika, ada satu departemen khusus yang bahas perumahan dan iklim. RCUS pakai seni untuk cara, metode, dan membebaskan. Seni ini salah satu saja. Berdasarkan jurnal "Infrastructure: Etymology dan Import", istilah infrastruktur itu untuk dunia militer lalu pindah ke istilah pembangunan. 

Elisa kemudian menjelaskan tentang kronologi tahun dan peristiwa terkait kondisi Kampung Dadap dari era kolonial sampai tahun 2025. Misal ekspansi PIK itu ada tahun 2013. PIK juga bekerja sama dengan UGM untuk penataan kampung. Elisa sempat ketemu Profesor, bilang gara-gara aktivis tak bisa buat rumah susun. Di sisi lain yang menjadi korban, menurut UUPA setelah 30 tahun, ada bukti khusus, tanahnya bisa diurus. Di Dadap bencana dibuat-buat. Ada pula jalan tol ilegal yang sudah ada. Kapitalis tidak pernah puas, dia selalu absorbsi lahan-lahan di area frontier. Menurutnya, infrastruktur kembali ke maknanya, melibatkan militer untuk perang. Ketika tak masuk, dia akan ke badan, menderita stroke. Seperti yang dialami Bu Rustami di Dadap. 

Irene Sondang Fitrinitia menyampaikan alur yang dia tangkap. Dia menonton bagaimana ini disampaikan secara menarik, dengan suasana bisa merasakan apa yang dirasakan Mak Karmitem (Item). Bagaimana sisi kota lainnya dibungkus dengan seni, satu metode yang inovatif, ini jadi catatan di ruang akademik. Bagaimana media lain seperti seni menjadi instrumen untuk mengungkapkan isu kota. Di Dadap, dia mengambil dari Google Map tahun 2014, ada ancaman rob-nya untuk wilayah daratan. Mak Item juga menjelaskan naik-turun laut itu biasa, menjadi luar biasa ketika berpengaruh pada permukiman di arena pesisir. Ini jadi ancaman untuk Jakarta. Namanya infrastruktur, pendekatan infrastruktur digunakan untuk menjawab ancaman, mengatasnamakan pesisir. Sebenarnya infrastrukturnya untuk siapa? Jika publik, tapi publik yang mana? 

Untuk Pesisir, sebenarnya di Jakarta Pusat juga pesisir, tapi lebih jauh seluruh Jakarta itu juga Pesisir. Air tanah di Pusat ini juga asin. Salah satu solusinya adalah tanggul untuk proteksi wilayah. Intensinya lebih ke mainland. Ada dampak spasial, alih-alih melindungi, dia punya risiko baru, airnya terperangkap, bisa masuk tapi tak bisa keluar. Di Jateng ada kasus water trapped, yang menyebabkan kampung terendam. Selain itu juga memberikan dampak sosial, yang terjadi multiplier effect. Kampungnya kebanjiran, kualitas hidup tak tercapai. Mereka dikepung darat dan laut. 

Di Timbulsloko, Demak, berbeda. Mereka orang daratan yang terbenam. Dia tidak terbiasa dengan air yang tergenang, lalu mau tak mau mengubah penghidupan, dari buruh jadi nelayan. Di Dadap ini kampung nelayan, belonging dengan tempat tinggal tidak sedekat dengan orang darat. Tapi jangan salah, nelayan juga punya keluarga. Nelayan digambarkan miskin dan kotor, kulturnya beda. Seperti kasus Mak Item beberapa kali pindah tapi merasa biasa saja. 

Selain spasial, juga lihat secara sosial. Sebenarnya yang terjadi adalah risikonya terkapitalisasi, ada manufacture risks. Risikonya ternyata dibikin. Adaptasi sehari-hari itu terhadap si infrastruktur tadi. Di Muara Baru misal, mereka meninggikan rumah, itu berlomba dengan jalan, dengan infrastruktur, bukan alamnya. Risiko yang muncul di Dadap ini terkapitalisasi. 

Lalu apakah ada hal yang bisa dilakukan di ranah akademik? Apa yang "dibutuhkan" oleh Pesisir? Sebenarnya pemerintah kota sudah banyak berbuat, tapi apa dia bisa sendiri? Mereka tak bisa sendiri, tapi seperti RCUS dan seniman bisa masuk. Mekanisme co-kreasi dan co-produksi penting. Perlu ada kolaborasi dari berbagai pihak. Termasuk akademisi apakah bisa jadi pengkritik saja? 





TANYA JAWAB:

Pak Gun: Saya ada beberapa pertanyaan, ke Iwang, kenapa memilih pilihan artistik itu? Ke Elisa, tadi ada alam, apakah benar yang dibutuhkan Mak Item dan orang pesisir, sebetulnya adalah pekerjaan? Pembangunan untuk apa dan untuk siapa? Ke Irene, level yang mau kita bicarakan di forum ini skalanya di mana? Kebijakan nasional tak begitu memperhatikan geografi Indonesia. Angkutan termurah itu laut, baru kereta. 

Iwang: Ada satu kata yang membuat saya menelusuri kata apa yang tepat untuk menggambarkan nelayan di Pantura. Setelah saya cari, ternyata istilahnya bukan nelayan, tapi "wong balik". Dia punya harapan pulang. Berangkat dari wong balik, kerinduannya itu ke rumah. Kedua, bagaimana juga sebagai warga Jaksel di kompleks perumahan, kondisi kami tidak akan pernah sama, karena saya lahir berprivilege. Ketika mengarahkan kamera pun saya tak tega, apakah saya mengobjektifkan dia? Tidak tega. Banyak kondisi lain. Ketika melihat ibu tua, butuh pertolongan, tidak ada ambulans. Saya apakah jadi seniman atau bagaimana? Etika ini jadi hal yang sangat penting. Di film ini, Mak Item masih punya privasi. Hari ini, shooting kamera ini sangat politis. Menciptakan tokoh-tokoh yang dialenasi. Keputusan untuk aktor megang kamera sendiri adalah hal yang menurutnya demokratis. Dengan membuat framing, wide framing, itu juga beda, ini yang membuat saya memutuskan untuk mengedit sendiri. Buat warga, kamera dan drone itu bentuk intimidasi. Saya dan Tita bikin kameranya satu dan kemana-mana. Dia juga menjelaskan rumahnya sendiri, sehingga menubuh. Mak Item punya pride karena dia pernah menjadi nelayan paling kaya. 

Elisa: Saya tidak layak menjawab. Dalam bekerja dengan JRMK ada perbedaan jawaban, jika sudah terorganisir hak dan kewajiban, dia akan kasi jawaban beda dengan mereka yang belum terorganisir. Kalau nanya ke bukan kelompok yang terorganisir, pasti pertama uang. Di Dadap itu sudah terorganisir. Kami di RCUS, mengadakan penelitian di empat seri (kelompok) ojol, mereka terorganisir, mereka butuh rumah yang dekat dengan tempat kerja. Satu rumah, kedua jiwanya. Pengen ada namanya di sertifikat. 

Irene: Bicara Indonesia yang bisa dikedepankan adalah wilayah pesisirnya. Kita archipelago state, hanya beberapa negara yang seperti Indonesia. Harusnya uniqueness Indonesia kaya. Menurut data Kemendagri, 30 persen itu pesisir. Tapi tidak semanis yang kita bayangkan, kalau bicara nelayan pesisir itu menyedihkan. Di Jepang bahkan nelayan yang melaut jauh itu sensei. Bahkan di Kampung Bajo bukan jadi nelayan tapi jadi satpam tambang, karena nelayan pendapatan tidak jelas. 

Reza (Kajian Gender UI) : Filmnya keren banget, detail yang coba dibagikan sudah merepresentasikan judul. Saya memberikan beberapa kritik, banyak isu yang berkelindan, di sini saya ingin mengkritik kebijakan hari ini. Banyak sekali bantuan pemerintah tak diberikan ke perempuan. Makasi judulnya sudah berjudul perempuan. Kedua, bicara pembangunan, tak hanya bicara infrastruktur, tapi juga jiwa. Di Dadap sudah direbut kapitalisme. Alih-alih melindungi, mereka direnggut secara perlahan-lahan. Bicara soal ruang hidup, dampaknya yang melekat ke perempuan itu kebutuhan air bersih. Ngomongin perempuan juga homogen. Ada force migration, pengetahuan itu juga bergender. Mangrove sudah hilang, ada beban nurturing. Kita gak berhenti di sini, tapi juga ekskalasi. Pemerintah mungkin ada kebijakan di sana, tapi bagaimana bentuknya? Di film tadi tidak partisipatif. Proses advokasi dan riset ada gak inter generasi trauma? Bagaimana pengetahuan itu diwariskan? 

Iwang: Tadi ngundang warga Dadap yang mungkin bisa jawab tapi terjebak hujan. Namun, ada jurnalis Mey yang bisa cerita. 

Mey: Saya pernah meliput anak-anak Dadap. Di Juli mereka ada Festival Dadap, menyuarakan isu itu. Waktu itu nulis untuk Project Multatuli, ya, miris menurut saya. Pemuda-pemudanya, generasi muda mereka, di tengah keterbatasan, sangat tidak berpihak, banyak sampah-sampah tak bisa keluar. Saya juga tak tahu apa yang membuat mereka tetap semangat, terus berjuang, bicara tentang sertifikat, saya dapat undangan dari pihak kelurahan. Pembangunan yang untuk Jakarta, di situ tertulis Dadap harus berkorban. Festival Dadap adalah festival tahunan yang digelar, dilakukan untuk masyarakat Dadap. Skalanya mungkin festival kampung, itu bentuk mereka bisa melawan. PIK selalu mengincar wilayah Dadap. Pemuda di Dadap tak kalah di bidang pendidikan, mereka mencoba untuk sekolah dan kuliah dengan beasiswa. Meski ironisnya setelah lulus mereka juga kalah, nelayan muda banyak yang berganti pekerjaan karena kondisi pesisir yang susah dapat ikan dari jarak dekat. Hasil tangkapan sedikit, yang ketika dijual tak seberapa. Pak Wanto juga memutuskan jadi penembak karena kondisi pesisir yang hitam, juga pabrik yang dibuang ke lautan. Soal gender Dadap, setidaknya mereka punya jembatan. 

Elisa: Tadi Irene sempat bicara perbedaan antara Timbulsloko dan Dadap, ada perbedaan gender jelas. Di Dadap seperti tak ada bedanya gender. Di Timbul Sloko ada perbedaan perlakuan. Yang dilakukan gimana caranya jadi nelayan kerang hijau yang banyak untungnya, di sana perempuannya tak disebut. Yang laki-laki bilang perempuan gak usah, perempuan seperti gak dianggap. Bagian RCUS memastikan perannya apa? Lewat baby steps, akhirnya perempuan mencatat keuangan. Ini menarik peran perempuan berbeda-beda, tergantung tempatnya. 

Irene: Saya selalu melakukan riset ini membagi perempuan, laki-laki, anak muda, termasuk nature mereka. Saya berkesimpulan, kalau bicara bapak-bapak itu bicara romantisme masa lalu, dulu begitu begini, dia sangat tahu sequence seperti apa. Kalau anak muda di Pesisir, sedih karena mereka tak mau jadi nelayan. Yang rutin, dan pengen jadi pegawai negeri, meskipun bersih-bersih. Mereka juga enggan bawa teman ke rumah. Orientasinya selalu keluar. Karena dianggap kampung tak ada harapan. Di Timbulsloko juga ada pemuda yang gerak. Ibu-ibu ini lebih realistis, ibu-ibu yang menghadapi keseharian. Mereka udah tahu musim, lalu belanja seminggu sekali. Mereka paling adaptif dan bisa coping dengan kondisi yang ada. Bapak masa lalu, ibu masa kini, anak muda masa depan. Perempuan senior di wilayah terendam air, mereka tidak ada layanan kesehatan. Ada penderita stroke yang tiga tahun tidak keluar. Dia meminta cerita dan kabar dunia di luar seperti apa. Mereka juga ada yang gak mau punya anak, karena membayangkan risiko. 

Di akhir sesi diskusi, Iwang juga bercerita tentang proyek pembangunan toilet apung untuk Mak Item. Kenapa satu toilet? Karena di sana sudah ada toilet yang dibisniskan warga. Jadi untuk membuat toilet bersama sudah terlambat. Ada politik lokalnya juga. Di sana, orang berhutang karena urusan toilet, karena urusan perut. Dibantu kawan-kawan, pihaknya membuat program toilet apung yang tahan air laut untuk Mak Item. Pembangunan toilet ini butuh dana 50 juta. Jika tidak tercapai, akan ada program berak bersama yang isinya nanti akan dikirim ke Senayan. 

Ps: Hari ini 22 Mei, bertepatan juga dengan ulang tahun Mas Iwang, selamat ulang tahun Mas Iwang! Sehat selalu!

Diskursus Seniman Perempuan di Bidang Seni Rupa

Diskusi publik bertema "Indonesian Women Artists Exposure Internationally" digelar di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia (Galnas) Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026. Diskusi ini menghadirkan empat pembicara: Citra Sasmita (Perupa), Ines Katamso (Perupa), Farah Wardani (Kurator), Maya Rizano (Art and Communications), dan dimoderatori oleh Falencia Hutabarat (Wakil Ketua 2 Dewan Kesenian Jakarta). 

Maya Rizano (Art and Communications Consultant) mengatakan, seni rupa itu tak hanya harus inklusif, tapi secara kreativitas juga sangat besar. Setelah berkarir di industri manufaktur hingga perbankan (termasuk UOB), ada yang bersinggungan dengan art, hubungannya dengan CSR. Tapi untuk apa perbankan mendekati art? Karena kebanyakan ada di pendidikan. UOB berbeda, dia melihat di sini ada human capital dan nilai ekonomi dari sebuah seni. Return of invesment (ROI) meskipun tak bisa dihitung kuantitatif, tapi bisa dihitung secara kuantitatif. Powerful sekali panggung ini, penghargaan sangat dinanti seniman. Bukan hanya memberikan prize, tapi bisa untuk menunjang karier seniman. Ini mengangkat galeri juga. 

Beberapa kali UOB ke ISI Bali untuk memberikan dukungan dan berkarya. Ini yang membuat kompetisi semakin bersaing. Saat Covid-19, kompetisi juga tak berhenti, yang membedakan justru saat bencana isu lebih diangkat daripada isu manusia. Memberi wawasan pada seniman untuk bereksplorasi, tidak ada tema justru membuka lebar kreativitas. Di program ini ada redefinisi tentang seni lukis sendiri yang tertuang dalam karya-karya para seniman dari berbagai negara, seperti karya seniman Thailand tentang isu perempuan. 

Di UOB terbuka topik apa saja, termasuk sangat terbuka untuk gender dan dinilai berdasarkan merit. "Seni Rupa untuk korporasi sangat terbuka sekali," katanya. Meskipun ada value juga yang dijaga, termasuk tidak mengakomodir pornografi. 

Seniman Indonesia juga tidak kalah, seorang kurator buat one day visit, salah satu seniman karyanya dilirik karena bahas manusia dan Antropologi juga. 

Yang penting juga ada edukasi untuk anak-anak. Kolaborasi dengan Art Jakarta, Art Moment, Museum Macan, dan responsnya juga sangat baik. Bahkan ada art online juga untuk anak-anak terkait fabel kerja sama dengan Citra Sasmita. Tidak mungkin bergerak sendiri, tetapi bermain dengan para pemain di ekosistem. Juga mengajak masyarakat yang tidak mengenal art, untuk orang yang tak punya waktu untuk melihat seni. Karena umumnya yang datang ke seni itu lagi, itu lagi. Termasuk juga di bidang culinary, ada kerja sama untuk isu yang dihubungkan dengan seni rupa. Setiap seniman punya nilai sendiri yang diperjuangkan. 

Ada Bibit dan Treasury juga bermain di seni rupa. Maya juga bertanya kenapa memberikan dukungan pada seni rupa? Karena juga menarik ekonomi kreatif. Dana filantropis ini diterima karena ROI kadang tak kelihatan. Ini jadi tools untuk investasi juga. Melalui art bisa mempertemukan para kolektor juga mereka punya aset yang sangat penting. "Ujung-ujungnya monetize," terangnya. Selain itu juga untuk jaringan (network). 

Citra Sasmita (Perupa) menambahkan, momentum kebangkitan seni rupa untuk perempuan datang sekarang, manfaatkan itu sebaik-baiknya, seluas-luasnya. Ketika tahun 2012, saat dia merintis karier, masih sedikit perempuan yang bicara seni rupa perempuan. Citra mengkaji ini akarnya di mana. Termasuk belajar dari tulisan Farah Wardani, bahkan Basoeki Abdullah memberikan doktrin kalau perempuan hanya layak dilukis, tapi tidak melukis. Indonesia juga sedikit memberikan apresiasi bagi seniman perempuan. Yang ingin diretas Citra, apa sih yang paling primordial? Secara perspektif ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya. 

Apalagi IVAA juga buat arsip seni rupa Indonesia yang melibatkan perempuan. Pioner seniman perempuan dari Bali tahun 50an juga mendobrak tradisi itu, dia perlu mendobrak lebih keras gagasannya seperti apa. Di Bali, seni rupanya lahir duluan daripada lahir Indonesia. Ini membuat Citra tertarik untuk menguji sebaik-baiknya bagaimana gagasan yang dia bawa punya kontekstualitas. 

"Ketika masih ada ketidakadilan pada perempuan, saya akan masih menggeluti feminisme," tegas Citra. 

Ines Katamso (Perupa) menjelaskan, karyanya lebih ke ekologi juga feminisme. Lebih mudah bicara nature, feminisme bukan hanya menempatkan perempuan di panggung, tapi juga bagaimana kualitasnya. Untuk elemen yang sifatnya budaya nasional, dipengaruhi oleh lingkungan, penting untuknya menemukan identitasnya sendiri, misalnya dengan menggunakan medium tanah. Di Binneal Bali, ada isu plastik, berkolaborasi bersama untuk mengolah sampah menjadi karya seni--suatu artificial material--dan ada narasi apokaliptik. Fokusnya pada harapan. 

Farah Wardani (Kurator) melanjutkan, agensi perempuan dalam ekualitas, banyak dari seni rupa perempuan juga mengangkat isu perempuan sebagai agensi. Feminisme berkembang termasuk di wilayah seni. Ini benang merah. Tapi kadang ada era ketika bahas perempuan malah dia di-dismiss sendiri. Ketika dua perupa laki-laki dan perempuan sama-sama melukis bunga, responnya berbeda, yang perupa perempuan lebih dijudge. Bahkan Sudjojono pernah bilang perupa Emiria Soenassa karyanya lebih maskulin dibandingkan perupa laki-laki. Menurutnya, termasuk dengan karya dari Arahmaiani, lebih ke maskulin. 

"Aku sendiri kurang pro dengan dikotomi [gender] itu," katanya. 

Tanya Jawab:

1. Diva: Saya merintis karier sebagai seniman perempuan kontemporer. Di luar jalur media sosial, jalur apa untuk membangun visibilitas internasional tanpa harus kehilangan identitas sebagai perempuan? Karena saya tidak pandai membuat hal yang viral. 

2. Question: Apakah dari panel, adakah kegelisahan di negeri sendiri? Audiens di sini punya kebebasan. Apakah ada kekhawatiran dalam kebebasan ekspresi, untuk lebih mengekspresikan tentang tubuh/cara berpakaian dalam kreativitasnya? 

3. Kevin: Sejauh mana adat bisa jadi objek setara dan bukan sebagai objek eksotis? 

Citra: Kebetulan saya dari akar rumput. Saya juga tidak sekolah seni. Jalan menuju kesenian dua kali lipat, benefitnya saya bisa mendekati seni dengan berbagai POV. Bisa menambah referensi, paham bagaimana membentuk karya yang mampu berdialog dan tidak hanya selesai di podium. Mindset seperti orang petani yang menyelamatkan saya. Mereka mengajari saya bagaimana melemparkan "koin" sampai titik terjauh. Soal kebebasan berekspresi, saya selalu mengamini dia adalah jalan kemerdekaan. Saya tidak takut dengan hantu-hantu dan sensor-sensor seni. Kita punya sensitivitas yang tinggi. Karya saya ada nudity, tapi untuk seni anak harus menyesuaikan seni itu. Saya terjemahankan, di situ intelektualitas seniman, bagaimana menerjemahkan sesuatu jadi hal yang mampu dibahasakan. Based bisa di Bali, tapi pemikiran harus beyond. Untuk pertanyaan tradisi, itu satu-satunya sustain hingga saat ini. Mereka penjaga warisan budaya. 

Ines: Saya sebagai introvert mencoba untuk bersosialisasi dalam pameran seni. Kamu bisa belajar berbagai teknik narasi, gali curiosity. Pikirkan dirimu sendiri dulu, dan bekerjalah. 

Farah: Aku beberapa kali ngomong di berbagai kesempatan soal ekosistem seni kita, yang aneh sekali akademi seni di Indonesia masih jadi minoritas. Art School bisa dihitung jari dan gak nambah-nambah. Ada ASRI, ISI, atau humaniora, wacana indigenous art jadi counter Barat yang bisa dikaji di tataran akademis. Buatlah art school di 38 provinsi ini, bahwa tradisi sebagai lokal sih oke, tapi secara akademis belum. Selama ekosistem termasuk pendidikan belum kuat, jadi susah berkembang. 

Maya: Pertanyaan pertama bisa dimulai dari apa yang membedakan dengan yang lain. Sosmed penting mau gak mau. Ikut aktif dalam asosiasi seni, perkenalkan siapa dirimu, kenalan dengan kurator, tapi juga kamu harus punya "profil" juga, sehingga orang bisa capture itu. Memang ketuk pintu gak cuma sekali, tapi kalau sudah kebuka akan sangat membentuk. 

Kamis, 21 Mei 2026

Bapak Berkaos Maroon

Refleksi 21052026:

Siang ini aku makan di sebuah warung makan Padang yang menurutku paling enak dan murah di kawasan dekat kos. Aku harus pulang sebentar ke kos karena ada urusan administrasi kantor yang tertinggal. Di warung naspad itu, saat jam makan siang ramai. Aku mencari tempat duduk yang kosong. Duduklah aku di sebelah Bapak tua berkaos maroon (mungkin usia 60an ke atas, sekilas Bapak itu terlihat (maaf) seperti petugas cleaning service. Sementara, di depan Bapak itu ada Bapak lain yang lebih muda mungkin usia 40an, nampak terawat dari prejengannya seperti bos. Gesturnya seperti berniat hendak interogasi. 

Aku gak berniat nguping, terpaksa mendengarkan karena mau gak mau obrolannya meluber padaku. Intinya, Bapak tua itu telah ditipu oleh lawan bisnisnya sampai 500-600 juta (si Bapak memperkirakan segitu). Dia berbicara pada orang di depannya bahwa dia mau kerja apa saja, usahanya juga apa saja dari bengkel motor sampai usaha kaligrafi yang kena tipu. Bahkan saat dia sukses pun, dia masih memperhitungkan gaji karyawan yang belum layak. Eh tiba-tiba, si Bapak yang lebih muda ini bilang dengan jelas, "Bapak terlalu jujur,  Bapak terlihat polos. .." 

Dalam hatiku, anjir, aku freeze sejenak, aku memahami kondisi sakitnya ditipu finansial yang tidak sedikit. Terus aku mikir dan kalau boleh ngegas, "Lu gak harus degradasi moral seseorang untuk ngebuat diri lu sendiri lebih baik, dengan mengatakan dia terlalu jujur, terlalu baik, terlalu dapat dipercaya!" Berak itu narasi-narasi yang ada kata-kata, "Kamu buatku terlalu baik," yang jelas-jelas orang yang ngatain itu lebih toksik dari orang yang diberi pesan. Untunglah, aku melihat Bapak tua itu orangnya selow. Dia masih bisa tertawa, bahkan masih bisa bilang kalau sekarang dirinya lebih bebas mengelola usaha kecilnya sekarang. Meski tidak sebesar dulu, tapi hidupnya lebih enteng. Sehat terus Bapak berkaos maroon, Tuhan memberkahi hidup Bapak.

Sabtu, 16 Mei 2026

Value-based Education oleh DGB UI



Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Indonesia mengadakan webinar terbuka bertema "Value-based Education" (VbE) melalui Zoom Meeting, Sabtu, 16 Mei 2026. Webinar ini menghadirkan narasumber:

1. Prof. Corina D.S. Riantoputra (Fakultas Psikologi UI) 

2. Prof. Theddeus O.H. Prasetyono (FK UI) 

3. Prof. Agus Sartono (FEB UGM) 

4. Prof. T. Chan Basaruddin (Fasilkom UI) 

5. Prof. Sudarso Kaderi Wiryono (SBM ITB) 

Sambutan:

Prof. Eko Prasojo (Ketua Umum DGB UI) 

Prof. Riri Fitri Sari (Ketua Komite 1 DGB UI) 

Moderator:

Prof. Cynthia Afriani Utama (FEB UI) 

ISI DISKUSI:

Agus Sartono (Guru Besar FEB UGM) menjelaskan, hakikat hidup tertinggi manusia terletak pada kemampuannya untuk berpikir kritis dan berefleksi. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang berperan dalam pendidikan itu? Yang paling berperan guru dan dosen, tapi tak sekedar di kelas, orang tua juga harus jadi guru. Mereka harus bisa menjadi contoh. Menguasai materi itu mudah, tapi perlu punya satu value, integrity, dalam konteks agama ini ketakwaan (Allah selalu melihat). Di UGM ada contoh misal kasus sexual harrasment, runtuhlah kredibilitas dosen. Bagaimana kita memberi penilaian tidak hanya numerik, tapi juga karakter. Manner sangat penting. Bukan untuk dosen, tapi untuk masa depan mahasiswa. Guru harus jauh dari rasa ketakutan juga karena mendisiplinkan anak didik. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab formal, tapi juga orang tua dan orang-orang terdekat. 



Dalam sambutannya, Eko Prasojo (Ketua Umum Dewan Guru Besar UI) mengatakan, tema ini sangat penting sekali dalam berbagai perkembangan sosial dan perilaku masyarakat. Ditandai dengan perkembangan teknologi dan informasi, juga perubahan generasi. Ada digitalisasi, globalisasi, dan milenialisasi. Ini berpengaruh pada mental model dan perilaku masyarakat. Tidak hanya transfer pengetahuan, tapi juga membentuk budaya yang baru, yang sesuai dengan perjalanan saat ini. Universitas sebagai salah satu institusi pendidikan, berperan dalam melahirkan sosok yang tak hanya baik dalam pengetahuan, tapi juga perubahan kultur. Alumni universitas harus jadi agen perubahan sehingga membantu perumahan sistem yang lebih kondusif, misal untuk pencegahan korupsi. Kemajuan setiap bangsa dipengaruhi empat hal: (1) sumber daya alam, (2) sumber daya manusia, (3) institusi atau sistem/good governance, (4) good value. Sehingga lulusan tak hanya pintar dan kompeten, tapi juga punya budaya yang baik. 

Nilai Itu Inheren dengan Konflik

Corina D.S. Riantoputra (Fakultas Psikologi UI) melanjutkan, kalau melihat anak muda sekarang punya perkembangan yang berbeda. Mereka dalam informasi overload, ada informasi baru yang muncul tiap hari di gadget. Kalau dulu jam 9 malam tahu dunia dalam berita. Sebelum masuk kelas, mereka udah dapat informasi duluan. Informasi banyak yang membingungkan, ada inkonsistensi, sehingga bingung melangkah bagaimana. Semua ingin langkah kita aman jika peraturan berubah-ubah. Mahasiswa mengalami uncertainty yang tinggi. Mahasiswa juga hidup dalam perbandingan sosial yang tinggi, bahkan juga ada budaya cancel. Mereka bingung, kalau berbeda pendapat haruskan kita cut atau bagaimana. Mahasiswa dalam kondisi hampir tenggelam. Dalam menolong, kita tolong dari belakang. Nilai-nilai yang baik itu tidak selalu sejalan, bahkan sering berkonflik, satu dengan yang lain (Schwartz, 2012). Contoh: kreativitas vs kepatuhan; prestatif vs kebaikan/pehatian. Dengan resources terbatas, kita tak bisa memenuhi semua dalam waktu yang sama. Harus tahu prioritas. "Value inherent in conflicting," katanya. 

Value-based education bukanlah upaya untuk mengajarkan tentang "to be good", tapi untuk merumuskan apa yang bermakna untuk dikejar, apa yang penting untuk tidak dilanggar, dan bagaimana membuat keputusan yang saling bertentangan. 

Ada penelitian yang bagus, "Individual and Generation Value Change in an Adult Population, a 12-year Longtitudinal panel study", menunjukkan semakin tua, akan semakin konservatif. Barangkali tidak hanya self-bias. Selain itu, ada value transformation, tak hanya sekadar bagaimana caranya tapi juga "reason" (alasannya). Membantu untuk identifikasi konflik yang ada (contoh: kejujuran vs tekanan untuk berprestasi, takut gagal), memahami konsekuensi jangka panjang dari tiap keputusan dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Ketika seorang memilih tidak jujur, kita cari tahu alasannya. Bukan tak mau tanggung jawab, tapi ada value lain yang diprioritaskan. 

Indonesia hanya sekadar ekspos value, bukan action. Kita hanya omon-omon saja. Kita tutup mata misal soal menulis dengan AI, dosen menyuruh tidak pakai AI, tapi dosen publikasi pakai karya mahasiswa. Bagaimana jika mahasiswa mengukur value dosen? Apakah mereka kasi role model atau dosen cuma omon-omon saja. Ditanya juga dosen yang dikagumi, karena dia bisa berperan sebagai role model, ini yang harus saya lakukan. Jika mereka melihat dosennya harus berprestasi, tapi ketika mahasiswa butuh pertolongan dan dosen memberikan, mereka belajar terkait passion. Banyak orang belajar dari "actions".

Universitas perlu melakukan soul searching: Apakah yang menjadi tujuannya? Pemerintah perlu merenungkan mungkinkah universitas diberikan beban begitu tinggi dengan dukungan yang sangat terbatas? Ada cerita mahasiswa UI yang home broken, dia harus jalan dari Cinmanggis ke UI, dia dapat beasiswa, ibunya tidak bekerja, dan uang beasiswa untuk ibunya, mengatur ekonomi keluarga; tidak mungkin dia secermelang yang punya privilege mahasiswa dengan ekonomi lebih. Dosen PTNBH 52% merasakan beban lebih. Cara dosen mengajar perlu dipertimbangkan, mahasiswa butuh dialog. "Our job is to prepare students to be responsible," ujarnya. 

Dari Volume ke Value










Materi selanjutnya dari Theddeus OH Prasetyono (FK UI) menjelaskan tentang pengantar hidupnya, "to educate a man in mind and not in morals is to educate a menace to society..." (Theodore Roosevelt). Dia cerita bagaimana mahasiswa PPDS melakukan refleksi. Dalam kondisi lelah muncul jalan pintas, tapi dampaknya berpengaruh buruk dalam jangka panjang. Ada nilai yang perlu dibangun, UI jadi acuan sebagaimana UGM dan ITB, menggali nilai apa yang menjadi topik dialog internal? Kejujuran, keterpercayaan, ini bagian dari tanggung jawab, kepatuhan pada aturan. 

Contoh lain pernah memberikan contekan saat ujian. Berpikir ini bentuk kepedulian pada temannya, tapi setelah refleksi ini melanggar nilai. Dialog internalnya tentang kejujuran. Ada kelonggaran terhadap nilai. Ternyata ada dokter spesialis, ada yang merasa tidak salah, ini surprising

Studi kasus lain, ada pasien yang punya ambang batas rendah. Dokter ini menemani pasien ngobrol, ternyata pasien gelisah atau nyeri tapi karena tidak ada keluarga dekat yang ada di sampingnya. Dialog internal terjadi karena ada kesadaran akan kemartabatan sebagai manusia. 

Etika profesi dan pendidikan yang berkarakter keluar bukan hanya sekadar teknik, tapi juga compassion yang proper, ethics, dan patient dignity. Termasuk leadership yang melayani, menekankan kesetaraan. Ada tiga prinsip nilai berbasis pendidikan: (1) holistic development, (2) critical thinking as a value, (3) civic engagement. Di dunia apa pun bisa menerapkan ini. 

Ada tiga kurikulum tersembunyi mempelajari nilai: (1) role modeling, (2) institutional culture, (3) collborative learning. Setiap kita punya kesempatan role model di setiap kesempatan. Sebagai pendidik, selalu terpotret, conduct yang kita lakukan akan selalu terpotret. Tindak profesional akan jadi ukuran nilai, dan jadi feedback. Kita juga mesti lihat institusionalnya. Mengubah budaya institusional dari "volume ke value". Ini jadi perenungan penting tak hanya di dunia kedokteran. Ada the value star: (1) clinical excellence, (2) operational efficiency, (3) patient experience, (4) profesional value, (5) professional well-being. Gak hanya bicara body of knowledge saja, tapi juga memahami ada competent humility. Not just an individual trait, tapi juga sistem. 


Materi terakhir dari Sudarso Kaderi Wiryono (SBM ITB) menjelaskan, tema ini penting karena masalah perubahan yang besar: AI, disrupsi, perubahan kerja, hingga degradasi etika. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan gak hanya pintar saja. Jika hanya berdasarkan pada kompetensi, VbE ini jadi penting, agar siap memimpin. Pendidikan masa depan akan jadi beyond knowledge and skill. Di era AI, akses mudah tapi tantangannya bukan hanya apa yang diketahui, tapi untuk tujuan apa digunakan. Integritas akademik jadi fondasi yang utama.

P.S.:

Untuk materi dari Prof Chan dan Prof Riri, saya tidak mengikutinya karena datang ke webinar terlambat. Baru mengetahui acara setelah menonton stori Instagram UI. Overall, saya berterima kasih untuk ilmu baru dari kegiatan ini karena semakin memperkuat pengajaran terkait dengan nilai yang saya terima.

 Tanya Jawab:

1. Adelashal: Banyak teori value, tapi kenapa pejabat sekarang tidak sesuai nilai? 

Agus: Ada dua tipikal pejabat, pejabat karier dan pejabat bukan karier. Kalau karier tidak ada pilihan, tapi kalau punya side job bisa ada pilihan. Yang karier ini akan sulit lurus. Ikan tergantung kepala ini juga betul. Sistem monitoring ini sangat penting. Korupsi ini terjadi karena mengorbankan identitas. Sebagai pejabat jangan diukur dari intesifnya, tapi juga integritas. Kalau melanggar pasti tidak sustainable. Mengejar dunia iya tapi tidak yang utama. Kejar akhirat, dunia akan mengikuti. 

2. Question: Bagaimana cara terbaik mengatasi dekadensi moral? 

Agus: Harus dimulai dari rekrutmen guru, beri guru intensif yang cukup. Masih sedih dengan nasib guru sekarang. Kalau Desember gak ada guru honorer, akan sangat kesulitan. Orang lebih mementingkan investasi jangka pendek daripada jangka panjang. Menanam nilai-nilai itu harus dari kecil, bukan dari malah pendidikan tinggi. 

3. Sabang: Budaya kita paternalistik. Kita banyak orang pintar tapi kurang bijak. Mulainya darimana? 

Corina: Kalau benar kita budaya yang membutuhkan role model, ini memberi kesempatan kita sebagai dosen untuk jadi role model. Saya mengundang ibu-bapak Profesor jadi role-model. Untuk membentuk mahasiswa, perlu refleksi apakah kita jadi role-model. 

4. Dwi Wahyu: Bagaimana cara membantu mahasiswa dalam berbagi nilai? Tantangan utama menerapkan berbasis nilai? 

Corina: Mengingat kita banyak yang hadir, forum DGB bisa bicara. Bagaimana kalau forum DBG alokasikan 30 persen untuk mendiskusikan dilema moral. Ini memungkinkan karena mahasiswa ada AI. Barangkali keseluruhan mengajar perlu diperbaiki. Alokasi waktu diberikan pada diskusi dilema moral, sehingga tak sekadar lewat.