“Hidup di Zona Ekstraksi: Dinamika Masyarakat Sagea, Halmahera Tengah di Tengah Industrialisasi Nikel”
Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia
Selasa, 10 Maret 2026 | 10.00–11.30 WIB | Zoom
Narasumber: Supriyadi Sudriman (Koalisi Save Sagea / SEKA)
Moderator: Geger Riyanto
Pengantar Diskusi
Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Hidup di Zona Ekstraksi: Dinamika Masyarakat Sagea, Halmahera Tengah di Tengah Industrialisasi Nikel”. Diskusi ini bertujuan memberikan gambaran mengenai situasi sosial, ekologis, dan politik yang terjadi di Sagea, Halmahera Tengah, di tengah ekspansi industri nikel.Moderator, Geger Riyanto, dalam pengantarnya menjelaskan bahwa kawasan Teluk Weda menjadi salah satu pusat perkembangan industri nikel di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sejak sekitar 2017–2019, aktivitas eksplorasi dan industrialisasi nikel meningkat pesat, terutama setelah masuknya investasi besar, termasuk dari Tiongkok. Perkembangan ini terhubung dengan model kawasan industri seperti yang juga berkembang di Morowali.
Dalam sistem industri tersebut, keberadaan industrial park seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) menjadi penting karena berfungsi sebagai offtaker atau pembeli utama nikel. Kehadiran kawasan industri ini membuat tambang-tambang yang sebelumnya tidak aktif dapat kembali beroperasi karena adanya kepastian pasar.
Namun, menurut Geger, perkembangan industri tersebut juga memunculkan berbagai persoalan sosial dan ekologis di tingkat lokal. Di wilayah seperti Sagea, masyarakat pesisir mulai merasakan perubahan lingkungan, misalnya keruhnya air sungai akibat aktivitas pertambangan di hulu. Bahkan, dalam perkembangan terbaru, terdapat 14 warga Sagea yang diperiksa aparat setelah dilaporkan oleh perusahaan terkait konflik dengan aktivitas tambang.
Diskusi ini diharapkan dapat memberikan perspektif langsung dari masyarakat yang hidup di wilayah terdampak.
Paparan Narasumber
Supriyadi Sudriman, yang merupakan bagian dari Koalisi Save Sagea (SEKA) sekaligus warga Sagea, memulai paparannya dengan menjelaskan perbedaan cara pandang antara wacana pembangunan di tingkat nasional dan pengalaman masyarakat di daerah.Menurutnya, di tingkat pusat nikel sering dibicarakan dalam kaitannya dengan agenda global seperti energi bersih dan mobil listrik. Namun bagi masyarakat di wilayah yang menjadi lokasi ekstraksi, pengalaman yang dirasakan sangat berbeda.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat Sagea telah lama berhadapan dengan ekspansi pertambangan, bahkan sebelum industri nikel berkembang pesat di Teluk Weda. Dalam kehidupan masyarakat Sagea, terdapat nilai-nilai budaya yang mengatur hubungan manusia dengan alam.
Salah satu ungkapan yang dikenal dalam masyarakat Sagea adalah “Ngat rori tarori, ite ror e ite roo”, yang berarti bahwa milik kita adalah milik kita dan milik orang lain adalah milik orang lain. Prinsip ini menekankan penghormatan terhadap batas kepemilikan dan keberadaan pihak lain.
Selain itu terdapat prinsip “Myo facici ie”, yang berarti mengambil dari hutan atau alam secukupnya. Nilai ini menolak sikap rakus terhadap alam dan menekankan keseimbangan dalam pemanfaatan sumber daya.
Dalam kehidupan masyarakat Sagea, salah satu pusat kehidupan adalah Sungai Sageyen (Woye Sageyen). Sungai ini menjadi sumber air, pangan, dan berbagai aktivitas sosial masyarakat. Supriyadi menegaskan bahwa bagi masyarakat Sagea, mineral paling berharga bukanlah nikel, melainkan air.
Peradaban kampung Sagea dibangun di sekitar sungai tersebut, yang juga memiliki makna simbolik dan sakral dalam kosmologi lokal. Dalam tradisi masyarakat, dikenal kisah tentang dua figur simbolik: Bokimaruru, sosok perempuan yang menjaga sungai, dan Legaya Lol, yang melambangkan kekuatan pengetahuan dan kepemimpinan. Kisah ini menggambarkan relasi yang tidak terpisahkan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial.
Dalam konteks tersebut, masyarakat Sagea memiliki ungkapan:
“Hutan lestari, sumber air mengalir. Hutan binasa, air mata mengalir.”
Menurut Supriyadi, ungkapan ini menjadi sangat relevan ketika masyarakat mulai merasakan dampak perubahan lingkungan. Ia menyebut bahwa sejak sekitar 2013 masyarakat mulai merasakan ancaman terhadap keberlanjutan sumber air dan hutan mereka.
Merespons situasi tersebut, pada sekitar tahun 2014 muncul gerakan masyarakat yang kemudian dikenal sebagai Save Sagea. Gerakan ini bertujuan mempertahankan kampung dan identitas masyarakat di tengah ekspansi industri ekstraktif.
Dalam paparannya, Supriyadi mengutip sebuah ungkapan yang menggambarkan situasi yang dihadapi masyarakat saat ini: “Rendah karbon, tinggi korban.”
Ia menjelaskan bahwa narasi global mengenai transisi energi dan pengurangan emisi karbon sering kali tidak memperhitungkan dampak yang dialami masyarakat lokal yang hidup di wilayah ekstraksi. Ketika negara berbicara tentang agenda besar pembangunan dan energi bersih, masyarakat di tingkat komunitas justru menghadapi berbagai konsekuensi sosial dan ekologis.
Sejak sekitar 2018, kawasan Teluk Weda mengalami percepatan industrialisasi dengan hadirnya berbagai perusahaan yang terhubung dengan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Beberapa perusahaan yang disebut dalam diskusi antara lain Weda Bay Nickel, Karunia Sagea Mineral, Putra Prima Sejahtera, First Pacific, Gamping Mining Indonesia, dan Kaia Pilar Indonesia.
Menurut Supriyadi, aktivitas perusahaan-perusahaan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan sistem sungai yang bermuara ke Teluk Weda. Limbah dan sedimen dari aktivitas pertambangan di hulu pada akhirnya mengalir ke wilayah pesisir dan laut, sehingga mempengaruhi kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya perairan.
Selain dampak ekologis, industrialisasi juga memunculkan perubahan sosial yang signifikan. Kehadiran kawasan industri menarik migrasi tenaga kerja dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda. Hal ini mengubah struktur sosial komunitas lokal yang sebelumnya relatif kecil dan homogen.
Banyak warga yang sebelumnya bekerja sebagai petani atau nelayan akhirnya kehilangan akses terhadap sumber penghidupan mereka. Dalam situasi tersebut, sebagian masyarakat kemudian bekerja sebagai buruh di industri yang sama yang sebelumnya mengubah lingkungan hidup mereka.
Supriyadi juga menggambarkan kondisi lingkungan di sekitar kawasan industri, termasuk asap pabrik yang terasa di mata dan hidung serta meningkatnya kasus penyakit pernapasan seperti ISPA. Di beberapa wilayah seperti Lelilef dan Gemaf, masyarakat juga mulai merasakan berbagai perubahan sosial, termasuk konflik kecil di masyarakat dan meningkatnya tekanan sosial dalam kehidupan keluarga.
Menurutnya, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri sering kali harus menanggung beban ekologis yang besar, sementara wacana pembangunan di tingkat nasional lebih banyak menekankan manfaat ekonomi dan kontribusi terhadap agenda energi global.
Ia juga menyampaikan kritik terhadap respons pemerintah daerah dan pemerintah provinsi yang dinilai belum memberikan perhatian memadai terhadap kekhawatiran masyarakat pesisir.
Bagi masyarakat Sagea, perjuangan mempertahankan wilayah mereka bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan martabat, kedaulatan komunitas, serta masa depan generasi berikutnya.
Dalam presentasinya, Supriyadi juga menampilkan gambar Danau Lagaelol, yang terhubung dengan laut dan menjadi salah satu sumber protein penting bagi masyarakat Sagea serta kampung-kampung sekitar seperti Fritu dan Gemaf. Danau tersebut selama ini menjadi tempat masyarakat memperoleh kerang, ikan bandeng, dan berbagai sumber pangan lainnya.
Namun dengan berkembangnya aktivitas industri di wilayah tersebut, masyarakat mulai merasa khawatir terhadap keamanan sumber pangan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Sesi Tanya Jawab
Pada sesi diskusi, moderator menyinggung konsep “cheap nature” atau alam murah, yaitu kondisi ketika sumber daya alam diperlakukan seolah-olah tidak memiliki biaya sosial dan ekologis. Dalam model pembangunan seperti ini, negara memberikan konsesi kepada perusahaan tanpa memperhitungkan dampak lingkungan dan sosial yang harus ditanggung masyarakat lokal.Menanggapi hal tersebut, Supriyadi menyatakan bahwa sejak awal masyarakat Sagea melihat kehadiran perusahaan sebagai potensi ancaman terhadap kehidupan mereka. Dalam berbagai kegiatan komunitas, Save Sagea berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak industri ekstraktif melalui diskusi, pemutaran film, serta pendidikan komunitas.
Pertanyaan lain menyoroti dilema yang dihadapi masyarakat, di mana sebagian warga berharap pada lapangan kerja dari industri, sementara sebagian lainnya khawatir terhadap dampak ekologis.
Supriyadi menjelaskan bahwa Save Sagea tidak memusuhi warga yang bekerja di industri. Banyak anggota komunitas mereka sendiri yang bekerja di perusahaan tambang atau industri terkait. Menurutnya, situasi tersebut lebih merupakan bentuk keterpaksaan karena masyarakat kehilangan alternatif sumber penghidupan.
Dalam beberapa kasus, Save Sagea bahkan menjadi tempat bagi warga untuk menyampaikan keluhan terkait kondisi kerja maupun persoalan keselamatan di tempat kerja.
Pertanyaan lain menyinggung apakah terdapat kepercayaan lokal mengenai “kutukan” ketika alam dieksploitasi secara berlebihan. Supriyadi menjelaskan bahwa dalam budaya Sagea terdapat keyakinan bahwa alam harus diperlakukan dengan keseimbangan. Ketika manusia mengambil terlalu banyak dari alam secara rakus, maka alam akan “marah”, yang dalam konteks modern dapat dipahami sebagai munculnya bencana seperti banjir atau kerusakan ekosistem.
Diskusi juga menyinggung dampak yang dirasakan secara berbeda oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Menurut Supriyadi, perempuan merupakan salah satu kelompok yang merasakan dampak paling langsung, karena banyak aktivitas sosial perempuan berlangsung di wilayah sungai dan perairan. Ketika wilayah tersebut berubah menjadi kawasan industri, ruang sosial perempuan juga ikut hilang.
Selain itu, masyarakat juga melaporkan meningkatnya kasus penyakit pernapasan seperti ISPA di wilayah Teluk Weda. Namun menurut Supriyadi, data tersebut sering kali tidak muncul dalam laporan resmi di tingkat pemerintah yang lebih tinggi.
Pertanyaan mengenai hubungan Save Sagea dengan pemerintah daerah dan akademisi juga muncul dalam diskusi. Supriyadi menjelaskan bahwa Save Sagea pernah terlibat dalam diskusi mengenai perlindungan kawasan karst bersama pemerintah dan akademisi, namun diskusi tersebut tidak berlanjut menjadi kebijakan konkret.
Ia juga menyampaikan kritik terhadap sebagian akademisi yang terlibat dalam penyusunan dokumen AMDAL untuk proyek pertambangan, yang menurutnya sering kali justru memberikan legitimasi terhadap eksploitasi sumber daya alam.
Penutup
Sebagai penutup, Supriyadi menegaskan bahwa perjuangan masyarakat Sagea menghadapi kekuatan industri yang sangat besar bukanlah hal yang mudah. Namun mereka akan tetap bersuara untuk mempertahankan kehidupan dan wilayah mereka.Ia menutup dengan refleksi bahwa di tengah berbagai narasi besar tentang pembangunan dan energi, terdapat masyarakat di berbagai tempat yang berjuang mempertahankan ruang hidup mereka.
Menurutnya, perjuangan masyarakat Sagea merupakan bagian dari upaya mempertahankan kehidupan, martabat, dan masa depan generasi yang akan datang.











.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)