Beberapa minggu ini, aku memang aktif membaca perkara teknis kegiatan karang-mengarang. Sebelumnya aku membaca buku karya Mochtar Lubis, lalu buku spiritualisme kritis yang ditulis oleh Ayu Utami, dan sekarang aku membaca buku "Kreatif Mengarang" oleh A. Widyamartaya dari Kanisius. Galibnya, buku-buku seperti ini memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin jadi penulis, dan orang itu adalah aku.
Kalau tak salah ingat, aku pernah sempat ingin membeli buku ini pas main ke Penerbit Kanisius sekitar 1,5 tahun lalu. Aku main ke toko pusatnya langsung, membeli buku dan habis lumayan banyak, haha. Senang banget sih. Kapan-kapan mau main ke sana. Bagiku, Kanisius adalah salah satu penerbit buku terbaik yang dikelola oleh lembaga keagamaan (dalam hal ini Katolik), dengan isi yang sangat bermutu. Banyak penulisnya berasal dari Serikat Jesuit, dan beberapa aktif menulis untuk majalah favoritku, "Basis".
Buku ini bisa dibaca sekali duduk saja, tak perlu waktu lama, sambil ngantuk-ngantuk pun selesai. Kurang lebih isinya memberi langkah-langkah dasar dalam proses mengarang, hingga pentingnya mengarang untuk peradaban. Dijelaskan juga mengapa kita perlu berlatih mengarang. Bagaimana "mekanika mengarang", baik dalam tahap penegasan ide maupun tahap penulisan karangan? Lalu, di bab akhir ada latihan-latihan dan contoh tulisan yang bisa dicoba.
Membaca buku "Mekanika Mengarang" ini menarik. Mekanika ini padahal erat kaitannya sama jurusanku dulu di fisika. Dia cabang untuk menganalisis gerak, gaya, perpindahan, dan kesetimbangan. Sains banget pokoknya, dulu aku pernah ikut kuliah mekanika kuantum, mekanika fluida, atau mekanika tanah dalam ilmu geofisika, kali ini mekanika mengarang. Memang benar, antara sains dan sosial ini bisa berhubungan.
Hal menarik yang aku dapatkan dari buku ini:
1. Pentingnya mengarang itu lebih untuk komunikasi ide, meningkatkan daya pikir, dan kalau diseriusi dengan benar, buahnya sangat manis.
2. Swakerja atau mekanika pengarang itu kurang lebih ada sembilan:
(1) Memilih bahan pembicaraan (topik)
(2) Menentukan tema dari bahan pembicaraan itu
(3) Menentukan tujuan karangan yang akan dibuat serta bentuk karangan
(4) Menentukan pendekatan terhadap tema pembicaraan
(5) Membuat bagan atau rencana pembicaraan
(6) Pandai memulai karangan
(7) Pandai membangun paragraf dan menjalin kesinambungan paragraf
(8) Pandai mengakhiri atau menutup karangan
(9) Pandai membuat judul karangan
Dari sembilan itu kemudian dibagi-bagi lagi, di antaranya:
Tema: pemersatu seluruh karangan, kamu bisa menuliskannya secara terpisah agar jangan lupa dan menyimpang dari apa yang hendak kamu bicarakan. Tema inilah yang mengikat dan mendasari seluruh karanganmu, dari paragraf pertama sampai paragraf terakhir. Contoh pola tema PUSAT-B:
1. Peranan-sikap (PS): Apakah peranan (fungsi, makna, arti) dari sastra pop dalam hidup? Bagaimana sikap orang terhadapnya?
2. Untung rugi (U): Bagaimana untung rugi sastra pop?
3. Sabab-sebabnya (S): Bagaimana sejarah sastra pop?
4. Adanya (A): Bagaimana keadaannya (fakta, data, kerja dan cara sastra pop)?
5. Tipe (T): Bagaimana tipe-tipe sastra pop?
6. Benar tidaknya (B): Bagaimana benar tidaknya suatu pernyataan?
Lalu, ada beberapa pola bagan:
1. DAM-D: Duduk perkara, Alasan, Misal, Duduk perkara lagi (penegasan).
2. Masa DSD: Dahulu, Sekarang, Depan.
3. PM-HT: perhatian, minat, hasrat, tindakan.
4. 5W1H
5. TAS: Tesis, Antitesis, Sintesis. Ini cocok untuk tulisan yang bersifat analisis.
6. Bagan umum: introduksi, pengembangan, kesimpulan.
Keseluruhan, buku ini cukup mudah diikuti. Apalagi juga dihadirkan contoh-contoh tulisan dari Basis edisi lama, misal tulisan dari Dick Hartoko. Yang susah hanya latihannya secara konsisten. Setelah membaca buku ini, hal bermanfaat yang bisa kuambil, aku jadi tahu beda antara topik dan tema, khususnya tema. Juga soal paragraf, dalam satu paragraf ada satu ide pokok. Unsur-unsur ini sebenarnya hal-hal dasar yang tidak semua pengarang menyadarinya. Sebab kalau kuamati, kebanyakan pengarang lebih memakai gaya bebas (free style), jadi risiko untuk menjadi berantakan jauh lebih besar.
Judul: Kreatif Mengarang | Penulis: A. Widyamartaya BA | Penerbit: PT Kanisius | Tahun: 1978 | Jumlah halaman: 53
KUTIPAN BUKU:
n-ach: dorongan atau kebutuhan untuk berbuat sesuatu. (4)
Tanggung jawab itu diukur menurut pengabdian dan pengorbanan kita kepada kesejahteraan umum. Yang penting adalah nilai kita secara pribadi: kedewasaan berpikir, kekuatan kehendak, kejujuran dan keberanian, keterbukaan sikap, kecintaan akan kebenaran dan kesejahteraan bersama... Senjata ampuhnya adalah daya pikir masing-masing. (7)
Betapa pun baiknya pikiran kita, jika tidak dikomunikasikan, tak akan ada gunanya, dengan jelas, berdaya guna dan tepat guna. (7)
Modal pokok yang dibutuhkan adalah logika berpikir dan banyak membaca. (8)
Dapat mengatasi ketidaktentuan dengan membuat keputusan dan berpegang teguh padanya, berarti membina watak yang tegas dan kuat. (10)
Topik misal wayang kulit. Temanya: Sejarah dan peranannya.
Bila menghadapi topik yang masih kabur, maka kamu harus lebih dahulu mencari dan menentukan temanya, untuk membatasi pembicaraanmu, meluruskan jalan pikiranmu dan menyalurkan arus-arus pikiranmu. Tema ini perlu untuk mempersatukan karanganmu. (11)
Topik: Sastra Pop
Tema: Saya akan menguraikan apa sastra pop itu dan bagaimana kerjanya? (tipe A)
Tujuan: Apakah yang hendak saya capai dengan tulisan saya ini? Ini perlu kamu pikirkan dengan masak-masak, supaya karanganmu sungguh-sungguh kena sasarannya, efektif, supaya pembaca merasa puas dan pengarang pun merasa puas. (13)
Misal: memberi informasi, menggerakkan hati, atau campuran keduanya. Tujuan menentukan bentuk tulisan.
Ada dua pendekatan mengarang: pendekatan faktuil dan pendekatan imajinatif. Imajinasi di sini bisa dijembatani dengan melihat objek yang sama dalam waktu berbeda, misal 10-20 tahun lagi. Itu juga imajinasi. Atau juga bisa mengandaikan subjek A bukan sebagai dirinya, tapi subjek BCD. Misal manusia dilihat sebagai binatang.
Dalam membuat bagan karangan, jangan banyak berputar-putar, bercerita tentang hal-hal yang tidak menyangkut tema itu. (14)
Ketika kamu membangkitkan minat mereka, tentu tidak sukar menyalakan hasrat mereka.
Urutan jalan pikiran:
1. Urutan alamiah: urutan waktu (kronologis) dan urutan tempat (lokal)
2. Urutan logis: urutan yang berdasarkan dialektika pikiran kita sendiri. Bisa dibedakan menjadi: urutan sebab akibat, sarana tujuan, khusus umum (induktif), umum khusus (deduktif), biasa luar biasa.
.jpeg)

.jpeg)
