Kamis, 23 April 2026

Catatan Buku "Balqis Mentality" karya Balqis Humaira

"If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles." Sun Tzu

 Pemikiran ini selalu terngiang-ngiang di diriku, dan pemaknaannya secara lebih mendalam telah aku dapatkan ketika membaca buku Balqis Mentality karya Balqis Humaira ini. Sampai kapan pun, jika kita tahu diri, tapi tidak tahu musuh, maka pertempuran apa pun punya peluang besar kita akan kalah. Dan, sebagian orang tidak tahu apa, siapa, musuh yang dimaksud itu. 

Kebanyakan orang ketika ditanyai musuhnya selalu dalam keadaan mengambang. Semisal, kamu tanya perempuan random yang berbicara soal feminisme di sebuah demo, jawaban itu tak kalah ngambangnya juga. Dia bisa jawab, musuhnya patriarki, laki-laki, pasar, atau perlu dirinya sendiri. Jika perempuan tidak tahu jelas siapa musuhnya, jatuhnya hanya pelarian, mereka marah tapi tersesat dan tak punya tujuan.

Balqis menjelaskan, musuh yang lebih jelas itu misalnya: "musuhnya adalah dirinya sendiri yang masih haus diperhatiin laki-laki." Secara lengkap: "Dia pikir musuhnya patriarki, padahal musuhnya adalah trauma yang gak pernah dia obati. Dia pikir musuhnya standar kecantikan, padahal musuhnya adalah ketakutan terlihat biasa saja. Perempuan sering mengalihkan perang ke luar, padahal perang terbesar mereka seharusnya ada di dalam." (36) See, ini internal dan subtil banget ladies, dan kita perlu mengakui itu.

Pengetahuan ini perlu dikenali betul agar tidak berakhir pada pertunjukkan luka yang gak selesai. Niatnya mau protes tapi malah nunjukin trauma sendiri. Biar lukanya gak mencari panggung. Jelas banget Balqis bilang, "Musuh perempuan yang sebenarnya cuma ada dua: 1. Ketidaksadaran diri; 2. kebodohan yang dia pelihara tanpa sengaja." Karena itu, jika hendak melawan, melawanlah dengan akal, punya arah, dan sadar. Harus tahu dulu musuhnya. Termasuk jika musuh itu keputusan-keputusan hidup yang dijalani tiap hari. Berhenti melawan pada yang tidak salah.

Ketika kesulitan menentukan musuh, perempuan juga kesulitan menentukan tanggung jawab. Padahal, tangung jawab ini berkaitan erat dengan kebebasan. Menurutku, tanpa tanggung jawab, tidak ada kebebasan. Maka benar ada salah satu tokoh yang aku lupa namanya bilang, patung liberti yang ada di USA itu perlu diimbangi dengan patung tanggung jawab di sisi lain agar seimbang. 

Aku membeli buku ini dengan tujuan yang sangat spesifik: Aku ingin tahu bagaimana mentalitas Balqis bekerja. Sebab inilah yang dia janjikan di dalam judul. Secara umum buku ini terdiri dari sembilan bab, yang terdiri dari: (1) Dunia yang Menjual Kekuranganmu, (2) Perempuan, Uang, dan Harga untuk Bahagia, (3) Harga Diri yang Dijual Kiloan, (4) Perempuan dan Luka yang Diturunkan, (5) Cinta yang Bikin Perempuan Bodoh, (6) Izin untuk Bahagia, (7) Tubuh, Pikiran, dan Diri yang Asli, (8) Revolusi Sunyi: Perempuan yang Selesai dengan Dirinya, (9) Epilog - Cukup adalah Perlawanan.

Kesanku setelah membaca, aku merasa Balqis, untuk rangkuman buku di awal-awal, lama-lama aku merasa tulisannya jadi mirip ChatGPT, tapi setelah masuk ke bab lain, jadi kembali ke gaya Balqis lagi. Dalam renungan di beberapa babnya, seperti di bab yang menjadikan kekurangan sebagai komoditas, aku mikir juga: Qis, gw jadi mikir ini terjadi juga di dunia sastra. Seolah gw jadi penulis sastra harus serba sempurna dulu. Bener kata lu Qis, "Kekurangan adalah sumber daya yang gak pernah habis." Lalu, "mengemas penderitaan jadi hiburan." Bagian ini kena banget sih.

Setelah baca buku ini aku juga mikir, sebegitu pentingnya uang buat perempuan ya Qis. Aku merasa tergugah dengan cerita perbandingan, perempuan yang diselingkuhi partnernya. Yang punya uang dia bisa healing di Bali, tapi yang gak punya uang cuma nyesek di kamar sambil kelaparan. Itu nyesek yang lebih nyesek sih. 

Overall, aku suka buku ini. Thanks Balqis. 

KUTIPAN:

Kesadaran — bahwa keinginanmu buat “jadi lebih baik” sering kali bukan kebutuhan, tapi hasil didikan industri. (2)

Perempuan baru bisa memilih kalau dia punya daya beli... realitas pahit — perempuan kuat bukan karena kata-kata manis, tapi karena saldo yang cukup buat bilang tidak. (2)

Refleksi moral — bukan soal benar atau salah, tapi soal sadar siapa yang sebenernya ngatur pilihanmu. (2)

Penyembuhan dengan logika — bukan dengan air mata. Kesadaran bahwa ilmu dan berpikir kritis adalah obat paling spiritual. (3)

Jadi perempuan yang damai tanpa minta restu dunia. (3)

Dunia gak bisa ngontrol perempuan yang udah selesai dengan dirinya sendiri. (4)

Damai adalah bentuk tertinggi pemberontakan. (4)

Perempuan gak pernah dilatih buat cukup. Mereka dilatih buat memperbaiki diri, tanpa jeda, tanpa ujung. (4)

Pemulihan mental bisa diganti dengan kandungan niacinamide. Bahwa bahagia itu satu paket dengan bonus pouch edisi terbatas. (5)

Ke labirin yang sama: rasa gak cukup. (5)

Lebih dari 70 persen perempuan usia 18-30 di kota besar Indonesia merasa penampilannya “tidak ideal.” Itu bukan angka sepele. Itu artinya tujuh dari sepuluh perempuan bangun pagi dengan pikiran bahwa mereka belum pantas. Dan tiap kali mereka ngerasa begitu, dunia untung. (5)

Ada bagian dari diri perempuan yang ikut memelihara penyakit yang sama, karena tanpa sadar, mereka udah ketagihan perhatian. (5)

Algoritma kasih validasi dalam dosis kecil, cukup buat bikin nagih, tapi gak cukup buat bikin puas. Setiap notifikasi jadi candu. (6)

Jadi, ini bukan perang antara gender. Ini perang antara kesadaran melawan industri yang hidup dari kebodohan manusia. Dan selama manusia masih percaya bahwa nilai diri bisa ditingkatkan lewat belanja, perang ini gak akan berhenti. (6)

Bahagia gak dijual di toko mana pun dan perempuan udah keburu dilatih untuk cari kebahagiaan lewat barang. (6)

Semua orang pengen menonjol. Semua pengen jadi “yang paling.” Padahal jadi cukup itu juga bentuk kemenangan, cuma gak dijual di etalase mana pun. (7)

Ritual keagamaan baru: ibadah di depan kamera, kurban lewat tubuh sendiri. Kalau zaman dulu orang nyembah dewa, sekarang orang nyembah citra. (7)

Perempuan yang ngerasa cukup gak akan belanja banyak. (7)

Kalau semua perempuan tiba-tiba sadar bahwa mereka udah cukup, miliaran dolar di iklan kecantikan bakal hancur dalam semalam. (7) (Isma: Aku tiba-tiba kepikiran buat cerpen dari kalimat lu ini Qis)

Kebodohan yang dibungkus kebiasaan. (7)

Padahal kulit mereka udah sehat dari sononya, atau dari perawatan yang mahal, laser jutaan, klinik premium, nutrisi yang gak semua orang bisa akses, tapi ketika promosi, mereka bilang itu semua karena produk yang mereka pegang. Dan parahnya, perempuan percaya. (8) (Isma: Anjirlah)

Gue ngajak lo semua khususnya perempuan buat gak gampang disetir atau percaya, lo harus curiga biar gak rugi, lo boleh beli skincare yang dia jual, tapi minimal lo baca dan tau kalo itu emang kebutuhan buat wajah lo. (8)

Mereka tahu perempuan tidak membeli produk, mereka membeli harapan. Harapan untuk terlihat lebih cerah, lebih mulus, lebih glowing, lebih cantik, lebih ideal, lebih diterima. Dan harapan itu dijual lewat wajah influencer. (8)

Perempuan baik harus rapi. Perempuan sukses harus elegan. Perempuan berani harus tetap manis. Gak ada tempat buat perempuan yang biasa aja. (8)

Kesadaran tanpa tindakan cuma jadi bahan konten motivasi. Lo harus beneran ubah cara berpikir, bahkan di hal kecil. Waktu lo beli produk baru, tanya: gue beli karena gue butuh, atau karena gue pengen ngerasa lebih berharga? Waktu lo upload foto, tanya: gue pengen berbagi, atau pengen diakui? Waktu lo bandingin diri sama orang lain, tanya: gue pengen jadi dia, atau gue cuma lupa caranya nerima diri sendiri? (9)

Tapi kalau dijawab jujur, pelan-pelan lo bakal sadar: banyak yang lo kejar padahal sebenarnya gak perlu. (9)

Hargai tenangnya, pikirannya, sikapnya, hal-hal yang gak bisa difilter. Karena kalau lo bisa liat perempuan tanpa nunggu dia bersinar, lo udah bantu satu langkah kecil buat ngeruntuhin sistem yang nyiksa dia. (9)

Dia juga pengen memilih bahagia, tapi besok anaknya harus makan, dan di dompet cuma ada dua lembar lima puluh ribuan. (10) (Isma: Ngena banget kisah dua perempuan ini Qis)

Uang ngasih satu hal yang gak bisa dimiliki perempuan yg gak punya uang yaitu pilihan. (10)

Uang menentukan siapa yang bisa marah, siapa yang harus diam. Uang menentukan siapa yang bisa ninggalin, siapa yang harus bertahan. (10)

Uang adalah satu-satunya alat buat nolak. Lo gak bisa ngomong soal martabat kalau lo masih harus minta uang buat beli sabun. (10)

Ada sabar yang sebenarnya bentuk lain dari kemiskinan. (11) (Isma: Iya lagi Qis)

Uang bukan cuma bikin hidup nyaman, tapi bikin kepala jernih. (11) 

Kalau hidup perempuan itu ibarat permainan, maka uang adalah tombol “save progress.” Lo bisa jatuh, bisa disakiti, tapi selama lo punya uang, lo bisa mulai ulang. (12)

Banyak perempuan gak sadar bahwa ketenangan itu bisa dicicil. Bukan harus langsung kaya, tapi mulai dari keputusan kecil: punya uang atas nama sendiri. (13)

Padahal aman itu bukan soal punya orang, tapi punya pegangan... Kebebasan bukan urusan karakter, tapi akses... Kemandirian bukan cita-cita muluk. Itu survival kit.  (13)

Kerja itu bentuk doa yang paling konkret: doa buat punya pilihan. Karena di dunia yang sekejam ini, pilihan adalah bentuk paling nyata dari martabat. (13) (Isma: BENER BANGET!)

Punya arah itu lebih penting dari punya hasil. (13)

Cinta gak bisa jadi rencana keuangan. Dan kebahagiaan gak bisa diserahkan ke tangan orang lain, bahkan yang lo cintai... hubungan bertahan bukan cuma cinta, tapi keseimbangan kuasa. (14)

Karena yang bikin perempuan kuat bukan sabar, tapi sadar. Dan sadar itu butuh biaya. (14)

Kenapa banyak pernikahan berantakan? Bukan cuma karena dua orang gak cocok, tapi karena salah satunya masih percaya konsep “diselamatkan.” (15)

Kerja buat diri sendiri jauh lebih ringan daripada kerja buat hubungan yang nyiksa. (15)

Kalau lo miskin, kerja.
Kalau lo kosong, isi diri lo. (15)

Kesadaran bahwa hidup lo bukan proyek sosial yang harus diselamatkan orang lain... Kesadaran bahwa bahagia itu bukan hasil pembuktian, tapi hasil pemahaman bahwa lo berharga bahkan tanpa siapa pun di sebelah lo. (16)

Perempuan dulu dijual tanpa pilihan. Sekarang, banyak yang menjual dirinya dengan sadar. Bedanya tipis: dulu dipaksa, sekarang dipelajari. (17)

Pasar paling besar di dunia modern ini bukan saham, bukan kripto, tapi tubuh perempuan... wajah cantik bisa bikin lo viral dalam semalam. Dunia ngasih tepuk tangan lebih keras buat yang berani buka baju, daripada buat yang berani buka pikiran. (18) (Isma: Balqis, aku marah!)

Lo pernah liat gak, di kolom komentar sosmed perempuan yang berani tampil terbuka? Setengah isi komentarnya cowok-cowok haus validasi, sisanya perempuan-perempuan yang sibuk bilang, “ih murahan,” “malu dong jadi cewek,” “aku sih gak gitu.” Padahal kalau dikulik lebih dalam, yang ngetik kata “murahan” itu juga pernah berdiri di depan cermin, membenci tubuhnya sendiri karena gak sekencang tubuh yang dia hina tadi. (18-19)

Itu kenapa gue bilang, harga diri sekarang dijual kiloan. Bukan cuma di jalan, tapi di semua platform yang punya tombol upload. (19)

Karena perhatian bisa bikin orang waras jadi pengemis. Sekali lo ngerasa dicintai karena penampilan, lo bakal terus ngulangin trik yang sama, sampai lo gak tahu lagi di mana batas antara “gue” dan “konten gue.” (19)

Semua yang dijual di dunia ini, cepat atau lambat, akan jadi murah. (19)

Sadar bahwa tubuh lo bukan bukti eksistensi lo. Sadar bahwa lo bisa cantik tanpa harus disetujui publik. Sadar bahwa lo punya hak untuk gak dijadikan komoditas, bahkan oleh diri lo sendiri. (22)

Tapi lo harus bedain antara menggunakan platform dan dijadikan platform. Kalau lo yang ngatur isi konten lo, lo masih pemiliknya. Tapi kalau isi konten lo udah ngatur siapa lo harus jadi, lo udah jadi produknya. (22)

“Gue cukup, bahkan kalau gak ada yang liat.” (23)

Sesuatu yang lebih mahal dari apa pun di dunia ini: harga diri... Etalase yang paling sepi tapi paling mahal: kesadaran. (23)

Ada perempuan yang hidup bukan cuma dengan luka miliknya sendiri, tapi luka milik ibunya, neneknya, bahkan buyutnya. Luka-luka lama yang gak pernah dibereskan, cuma diturunkan. (23)

Banyak perempuan takut dicintai karena keluarganya penuh pertengkaran.... perempuan sering gak sadar bahwa cara mereka mencintai juga hasil warisan luka.  (24)

Kalau ibunya tersiksa tapi bertahan demi anak, itu harus disertai pengorbanan sampai tulang patah. Kalau ibunya takut kehilangan laki-laki, dia akan belajar bahwa cinta harus dijaga dengan ketakutan. Kalau ibunya selalu menunduk, dia akan pikir bahwa menunduk itu cara perempuan hidup yang benar. (24-25) (Isma: Nangis aku Balqis)

Bahkan ketika mereka gak suka dengan hidup ibunya, mereka tetap kepeleset ke pola yang sama... perempuan sering mewarisi luka, tapi jarang mewarisi cara untuk sembuh... Bagaimana perempuan bisa menang dalam permainan yang aturannya saling bertentangan? (25)

 Kita ini sering hidup dengan luka yang bukan milik kita. Bukan hasil keputusan kita, bukan hasil pilihan kita, tapi hasil panjang dari apa yang ibu kita alami, apa yang nenek kita telan, apa yang generasi sebelum kita tahan dalam diam. Tapi seberapa pun kuatnya luka itu diturunkan, ada satu hal yang selalu bisa menghentikannya: ilmu. (25-26)

Tapi ada juga perempuan yang jalan hidupnya jauh lebih terang bukan karena dia lebih cantik atau lebih beruntung, tapi karena dia memilih untuk mengisi hari-harinya dengan ilmu... Dia bukan hidup untuk mengulangi cerita ibunya. Dia hidup untuk menulis cerita baru. (26)

Anak ketiga beda. Dia belajar, dia baca, diia mengamati, dia gak buru-buru. Dia tahu apa yang dia mau, dia tahu apa yang gak boleh dia ulang, dia tahu luka ibunya bukan kewajiban dia untuk diteruskan. (26)

Perempuan yang punya ilmu, bukan cuma menemukan tipe laki-laki ideal, tapi juga menjadi perempuan yang pantas untuk tipe laki-laki ideal itu. (26)

Perempuan yang berilmu bisa memilih dari tempat yang jernih. Dan perempuan yang bisa memilih dari tempat yang jernih tidak akan pernah hidup sebagai replika dari ibunya... Dia bukan cuma siap menikah, tapi siap memilih siapa yang layak menikahinya... dia punya navigasi, dia punya arah, dia punya pemahaman. (27)

Ilmu adalah jalan keluar, ilmu adalah penjeda, ilmu adalah pagar, ilmu adalah pondasi, ilmu adalah penebas rantai luka yang turun tanpa henti. Perempuan yang belajar, menang. Perempuan yang gak belajar, mengulang. (28) (Isma: Persis yang aku alami Qis)

Perempuan sering punya satu kemampuan aneh: kemampuan untuk membela seseorang yang bahkan tidak berusaha mempertahankan dirinya...  perempuan sering pacaran sama versi imajinasi dari laki-laki itu, bukan sama laki-laki yang nyata... Dia jatuh cinta sama potensi, bukan karakter, bukan perilaku, bukan integritas. (28) (Isma: Najis gw Qis balik ke tipe cowok-cowok kek gini).

Perempuan harus paham: tubuh bukan alat tawar-menawar. Cinta sejati tidak pernah meminta tubuh sebagai syarat komitmen... perempuan memberikan terlalu banyak, dengan laki-laki yang memberi terlalu sedikit... Cinta yang sehat selalu bikin perempuan lebih besar, lebih tenang, lebih jelas, lebih berharga. (30)

Perempuan belum selesai dengan dirinya sendiri. Selama perempuan belum tahu nilai dirinya, dia akan menerima apa pun. Selama perempuan belum punya standar, dia akan jatuh ke pola yang sama. (31)

Butuh itu bikin lo nurunin standar, ngejar, ngemis, memaklumi, dan bertahan di hal-hal yang seharusnya lo tinggalkan sejak lama. (32)

Cara berhenti jadi bodoh dalam cinta dimulai dari sini: isi hidup lo dulu, baru tentukan siapa yang pantas masuk. (32)

Perempuan juga harus belajar membaca laki-laki dari pola, bukan dari momen manis, karena momen manis itu tipuan. Laki-laki bisa manis sehari, seminggu, sebulan. Tapi pola hidupnya gak bisa bohong... Cara dia marah, cara dia kecewa, cara dia mengelola konflik, cara dia ngobrol ketika lagi pusing, cara dia treat lo ketika dia gak dapat apa yang dia mau. (32)

Banyak perempuan merasa “disakiti,” padahal yang menyakiti dia bukan laki-laki itu, tapi ekspektasi liar yang dia tulis sendiri... membangun standar yang datang dari nilai diri, bukan dari luka. Standar yang lahir dari pengalaman, bukan ketakutan. Standar yang lahir dari visi hidup, bukan dari keinginan untuk tidak sendirian. (33)

Padahal perempuan yang tetap hidup, tetap belajar, tetap dibangun, tetap punya arah, akan tetap punya diri, meskipun hidupnya sedang hancur-hancuran. (34)

Banyak perempuan ngerasa mereka sedang melawan sesuatu yang besar, tapi kalau lo tanya, “Musuh lo siapa?” jawabannya mengambang. Kadang patriarki, kadang laki-laki, kadang mantan, kadang standar sosial, kadang agama, kadang keluarga, kadang diri sendiri. Padahal kalau lo melawan tanpa tahu musuh lo, yang lo lakukan bukan perlawanan. Itu pelarian. (35) (Isma: Anjay, ini bener banget Qis, kalau kita gak tahu musuh, sampai kapan pun lu bakal kalah.)

Perempuan yang benar-benar kuat gak perlu bilang dirinya kuat, kita bisa lihat dari cara dia hidup... Padahal kebebasan tanpa tanggung jawab bukan kemerdekaan. Itu kekacauan. (36)

Dan jangan lupa bagian paling pahit: perempuan gampang banget diprovokasi. Gampang kebakar isu, gampang teriak di komentar, gampang ikut gerakan viral tanpa paham konteks. Gampang merasa mewakili semua perempuan padahal dia cuma melampiaskan rasa sakitnya sendiri. (36)

Karena perlawanan yang terbesar dan paling penting bukan melawan dunia, tapi melawan kemalasan diri untuk tumbuh. (37)

Algoritma tidak punya etika. Tujuannya cuma satu: membuat lo kecanduan sampai lo kehilangan akal sehat. (38)

Kasus Lina Mukherjee: hidup lo belajar apa dari orang yang bahkan gak belajar dari hidupnya sendiri? ... Perempuan sering memilih panutan berdasarkan luka, bukan logika. (39)

Dunia ini tidak peduli sama lo. (Isma: Lu harus sadar bahwa gak akan ada yang jemput lu, dan lu akan selalu sendiri sampai lu mati.) (41)

Kesadaran bahwa keluarga tidak selalu bisa diandalkan, bahwa validasi tidak punya nilai, bahwa tubuh tidak bisa selamanya jadi modal, bahwa hubungan tidak selalu aman... kesadaran bahwa hidup tidak akan menunggu perempuan untuk siap. (42)

Perempuan utuh adalah perempuan yang menghargai dirinya bukan karena dunia memuji, tapi karena dia tahu dirinya layak dihormati. (42)

Yang menyelamatkan perempuan cuma satu hal: kesadaran untuk tidak mengkhianati dirinya sendiri. (43)

Hidup lo gak akan pernah lebih baik daripada orang-orang yang sekarang udah mulai belajar, ngisi otak, dan naikin kualitas diri. (43)

Gue sampai di titik ini bukan karena gue selalu benar. Gue sampai di titik ini karena gue gak pernah berhenti belajar, bahkan ketika hidup lagi kayak sampah. (44)

Karena kepalanya kosong. Dan hidup paling kejam sama orang yang kepalanya kosong. (44)

Lo harus belajar, bahkan kalau semua orang di sekitar lo berhenti. Belajar, bahkan kalau hidup lagi gak masuk akal. Belajar, bahkan kalau lo lagi gak punya tenaga. Belajar, bahkan kalau gak ada yang tepuk tangan. (45)

Mereka pakai pikiran untuk memahami hidup. Lo pakai pikiran untuk menghindari rasa sakit. (45)

Karena dunia ini gak punya kewajiban untuk baik pada lo. Dunia gak punya kewajiban untuk ngertiin lo. Dunia gak punya kewajiban untuk lembut sama lo. Satu-satunya yang punya kewajiban menyelamatkan lo adalah diri lo sendiri.  (45)

Jadi perempuan yang belajar sampai kepalanya terlalu kuat untuk dibodohi siapa pun. Itu adalah mentalitas yang akan membawa lo ke hidup yang tidak lagi ditentukan oleh siapa
pun. (46)

Rabu, 22 April 2026

Catatan Klenik Studies Vol. X Edisi 9 April 2026: "Bunuh Diri: Antara Harapan Sosial dan Otonomi Tubuh"

I. PEMBUKAAN:

Klenik Studies untuk edisi UFO kami tunda karena narasumber berhalangan. Sebagai gantinya, Klenik Studies Vol. X Edisi Kamis, 9 April 2026 ini mengulas tema “Bunuh Diri: Antara Harapan Sosial dan Otonomi Tubuh”. Pertemuan ini dihadiri oleh enam orang: Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurul Diva Kautsar, Nurizky Adhi Hutama, Jevi Adhi Nugraha, Dwi Oktalina Lestari, dan dimoderatori oleh Isma Swastiningrum.

Pembahasan dalam diskusi ini sama sekali tidak hendak menyalahkan kenapa orang memilih bunuh diri, tapi memahami dan, jika perlu, menghormati keputusan orang lain atas otonomi tubuhnya. Bahasan ini terinspirasi juga dari tulisan “Supporting the Suicidal No Matter What”. Tulisan ini membongkar kecenderungan ilusi/fantasi kita tentang orang lain, bahwa dia harus kuat hidup, begini dan begitu. Seolah kita bisa mengontrol nasib/karakter orang. Dan sebagian besar, kasus bunuh diri ini jadi hantu. Selain kontrol sosial atau merujuk pada kondisi kejiwaan tertentu, bahasan ini menarik untuk digali lebih lanjut.  

II. BUNUH DIRI, NOVEL, DAN TINDAKAN POLITIS

Isma membuka fenomena bunuh diri dengan seri buku kontemporer saat ini yang lekat dengan tema. Seperti buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati atau buku serupa lain, misalnya , want to die but i want to eat tteokbokki karya penulis Korea, Baek Se Hee Jakkanim. Buku ini tentang upaya melawan depresi secara berkepanjangan. Meskipun yang terakhir ini cukup tragis aku baca sekilas di internet. Hidup emang segelap itu kadang ya, jadi buku-buku pun memilih demikian. Memilih bunuh diri, tapi sebelum bunuh diri, makan dulu. Bahkan makanan kesukaanmu bisa menyelamatkan dirimu di fase terendah hidup, ketika kamu ingin mati saja. Bahkan, buku Sulkhan berjudul Kronik Pembunuhan Selma yang menghadirkan karakter yang bunuh diri.

Sulkhan menjelaskan, di tahun-tahun gelap masa pandemi, dia mengaku punya obsesi dengan orang bunuh diri. Ini tak lepas dari pergaulannya dengan kawan-kawan di tempat dia kuliah dulu (Kajian Budaya dan Media/KBM UGM). Menurutnya, ada semacam heroisme yang berkaitan dengan kebuntuan ideologis, terutama yang dialami berbagai pemikir Marxis yang cukup heroik. Namun, di sisi lain, mereka juga putus asa dan penuh kepalsuan melalui pemolesan citra masing-masing.

Di dalam novelnya, Sulkhan mencoba memahami kenapa seseorang bunuh diri? Dia juga melakukan riset ke embung, lalu dipotret lokasinya. Dia merasa, bunuh diri sebagai sesuatu yang romantik, “Ada perasaan seperti itu,” katanya.

Sulkhan juga meluangkan waktu untuk membaca novel dan menonton film tentang bunuh diri. Semisal film “Taste of Cherry” (1997) karya sutradara Abbas Kiarostami, dan “Maborosi” (1995) karya Hirokazu Koreeda. Dari film yang ditontonnya, bahkan tidak diceritakan alasan kenapa karakter bunuh diri.

Tak hanya di novel, bunuh diri juga bisa bermakna politis. Isma mencontohkan seperti yang dialami Aaron Bushnell, saat melakukan aksi protes dengan membakar dirinya sendiri di depan Kedutaan Israel di Washington DC, Amerika Serikat, pada Minggu (25/02/2024) lalu. "Bebaskan Palestina", teriaknya. Aaron Bushnell, 25 tahun, adalah tentara Angkatan Udara AS. Dia dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis setelah pasukan Dinas Rahasia (Secret Service) AS memadamkan api di tubuhnya. Sebelum melakukan aksi yang disebutnya sebagai tindakan protes ekstrem, Bushnell mengatakan bahwa dirinya “tidak akan lagi terlibat dalam genosida”.

Lebih lama dari Bushnell, tanggal 10 Desember 2011, Sondang Hutagalung meninggal dengan membakar diri. Film berjudul "A Single Park" bercerita tentang kehidupan dan perjuangan seorang buruh Korea bernama Jeon Tae-Il. Dia meninggal 11-12 sama Sondang, mati dengan membakar diri. Umurnya pun mereka sama-sama muda. Yang membedakan, setelah Jeon bakar diri, protes di Korea membesar, sedangkan di Indonesia Sondang dilupakan begitu saja. Di Indonesia kematian Sondak lebih membicarakan cara Sondang protes, bukan kenapa dia protes.

Al Fayyadl juga menulis tentang Sondang ini dalam blognya dengan mengatakan, “Bahwa ia hendak melawan, dan ia tahu bahwa hanya dengan membakar dirinya, ia telah melakukan perlawanan paling jauh yang bisa ia lakukan untuk memprotes keadaan, karena perlawanan itu melumat satu-satunya yang paling berharga dari dirinya: hidupnya. Ia melawan hingga teriakan terakhir yang bisa ia teriakkan; hingga kata-kata terakhir yang bisa ia ucapkan; dan hingga napas terakhir yang bisa ia hembuskan.”

III. KLUB 27

Fenomena bunuh diri dalam budaya populer juga terjadi di Klub 27 yang dilakukan para musisi, seperti Amy Winehouse, Jimi Hendrix, dan Kurt Cobain (meski ada rumor juga yang mengatakan Cobain dibunuh). Kebanyakan karena penyalahgunaan narkoba dan alkohol serta tindak kekerasan. Nurul berbagi analisis, di dunia musik memang tak sedikit ditemukan fenomena bunuh diri. Bahkan ada legenda seorang remaja yang bunuh diri setelah mendengarkan lagu Ozzy Osbourne berjudul “Suicide Solution”. Lirik lagu ini serupa ajakan, ketika kamu tidak meraih apa pun di dunia, tujuan pulangmu adalah mati.

Selain itu, berkaitan dengan Klub 27, sebagian musisi juga ada perjanjian dengan sekte-sekte tertentu. Ketika artis ini berada di puncak karier, ia menjual jiwanya.  Ia menyebut nama band metal yang melakukan touring di berbagai negara yang terikat pada sekte tertentu. “Ada obsesi tertentu yang akhirnya membuka jalan untuk mengakhiri hidupnya,” kata Nurul.

IV. KESALAHAN TAFSIR DAN OTONOMI TUBUH

 

Akbar melanjutkan, alasan bunuh diri tidak pernah tunggal. Pengalamannya hidup di Jogja, serta di Bali, yang memiliki angka bunuh diri cukup tinggi, bunuh diri dilakukan karena ada kesalahan tafsir agama. Ada kepercayaan religius tertentu bahwa melakukan puasa berbulan-bulan dapat mengakhiri hidup. Menurut yang menjalaninya, hal itu bukan sesuatu yang hina, tapi malah pencapaian tertinggi. Seperti kisah filsuf Zeno dari Citium yang suatu hari jempolnya kepentok terus bunuh diri. Zeno mengakhiri hidup karena otonomi tubuh. Kepercayaan lain juga soal reinkarnasi. Ketika seseorang bunuh diri, maka karma akan terganggu, karena orang itu mengakhiri hidup sebelum ujian selesai. Katakanlah, dalam perspektif agama, Tuhan telah memberi tugas, tapi malah diakhiri sebelum selesai.

Sementara itu, Nurizky menyampaikan, berkaitan dengan otonomi tubuh, jika seseorang bisa meminta untuk hidup, maka seseorang juga bisa memilih untuk mati. Ketika seseorang tidak bisa hidup, bunuh diri bisa menjadi pilihan. Menurutnya, konteks mental setiap orang berbeda-beda, memiliki kuota yang berbeda-beda, ada yang 50, 100, 400. “Aku berpikirnya, aku tidak menjelekkan mereka yang bunuh diri, yang orang lain tak bisa memilikinya. Ini akan ditertawakan, misal kamu lebai… Aku jujur akan salut. Itu tindakan terberani,” ungkapnya.

V. FAKTOR EKONOMI

Nurizky berbagi pengalaman. Secara umum, faktor terbesar penyebab bunuh diri adalah ekonomi. Sebab apa pun membutuhkan ekonomi. Namun, apa yang dialami Nurizky berbeda karena bukan karena ekonomi, melainkan karena faktor diagnosis depresi sejak umur 10 tahun. “Tidak semua tentang ekonomi,” katanya. Kejadian yang dia alami, situasi itu muncul ketika dunia seolah-olah tidak mendukung kita. Seperti kita juga sudah telah berusaha tapi tidak pernah dapat, sehingga menyebabkan motivasi turun. “Pada akhirnya yang kurasakan, mencoba berusaha jalan, tapi pengen hidup, enggak,” tambahnya.

Nurizky mengaku bisa menikmati hidup sampai di umur 28 tahun. Pernah dia berpikir jika dia tak mau umurnya lebih dari 35 tahun. Dia merasa sudah tidak menyukai hobinya lagi, dan tidak mau sengsara. Lalu, kesempatan berumur panjang ini berlanjut ketika menjalani pendidikan S2. Ada pula seorang perempuan yang menopangnya untuk tetap hidup. “Dia berusaha mengangkat aku terus,” ujarnya. Temannya mengajaknya untuk terus sibuk, bahkan mengajak untuk memimpin perusahaan, agar ia tak kepikiran ke arah sana.

Dia sangat berterima kasih atas support tersebut, meskipun di sisi lain lelah ketika diberikan standar. Menurutnya, memperpanjang alasan hidup itu juga beban, ada rasa capek. Bahkan ketika dia ngobrol dengan sosok yang mendukungnya tersebut yang secara hidup tergolong mapan, mereka tidak menemukan makna hidup. “Kayak ngapain sih. Temanku bertahun-tahun mencapai posisi tertinggi dan merasa hampa,” ujarnya. Mereka juga pernah dalam pembicaraan yang sama-sama bingung, berimajinasi naik pesawat, ada badai, terjadi turbulen, dan entah siapa yang “pergi” duluan.

“Kita hidup untuk orang lain, tapi kenapa sulit hidup untuk diri sendiri,” Nurizky membuat refleksi. Karena hal ini, seseorang cenderung menjadi people-pleaser, selalu merawat dan merawat.

Nurizky juga mengaku pernah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Sayangnya, percobaan itu selalu gagal. Semisal, dia minum obat, tapi bangun lagi. Meskipun dia tak ingin bunuh diri dengan menggantungkan diri karena merasa kasihan jika ada yang menemukan, serta kasihan pula orang yang membersihkan. Apalagi ketika mati, semua isi perut akan keluar, ada bercak yang cukup awet.

VI. KESEPIAN DAN PERASAAN TAK TERTANGGUNGKAN

Akbar pun menegaskan jika ekonomi memang bukan penyebab utama seseorang bunuh diri. Termasuk yang terjadi pada para lansia (yang ingin mati dengan eutanasia), yang penyebab utamanya adalah ketidakinginan untuk merepotkan keluarga. Diperkuat lagi ketika ada perasaan bahwa di dunia ini sudah tidak ada lagi yang mendukung. Ketika ada kepedulian, maka keinginan hidup lebih berpotensi muncul.

Sulkhan pun menarik benang merah jika bunuh diri itu dilakukan bisa karena bebas dari kemiskinan, tapi juga karena faktor gagal berhubungan dengan yang lain, atau tidak terkoneksi dengan yang lain. Sulkhan menyebut peristiwa ini sebagai: “Kesengsaraan yang tak bisa ditampung, yang tak tertanggungkan.” Dari hasil pembacaan dan wawancaranya, apa yang bagi orang lain dianggap sepele, bisa jadi sangat penting bagi orang lain, begitu pun sebaliknya. Apalagi jika berkaitan dengan laku intellectual exercise, yang melihat hidup ini ternyata tak bernilai-nilai amat. Banyak ketidakkokohan dan banyak darah yang ditumpahkan. Apa yang dicari dalam hidup ini, seolah bentuk lain dari kesengsaraan yang kita tanggung.

VII. PULUNG GANTUNG DI GUNUNGKIDUL

Di Gunungkidul, Jogja, fenomena bunuh diri jadi semacam wahyu. Ada film-film yang telah mengulas dengan baik fenomena bunuh diri di Gunungkidul. Akbar bercerita, dosen pembimbing (dosbing) tesisnya, Pak Subandi, ternyata seorang peneliti pulung gantung di Jogja. Meskipun belum membaca penelitian dosennya, Akbar menangkap dalam pembelajaran selama perkuliahan, jika pulung gantung ini dikarenakan faktor kemiskinan. Karena tidak ingin membebani keluarga secara ekonomi. Orang yang kena pulung seperti ada seseorang yang membisiki.

Jevi berbagi pandangan. Dirinya tinggal di Semanu, Gunungkidul. Dia mengaku pernah melihat secara langsung seseorang bunuh diri, hingga secara langsung menurunkan yang gantung diri. Termasuk juga pernah mendapati orang yang hendak gantung diri, tetapi gagal. Termasuk juga ada tetangganya yang memutuskan untuk bunuh diri di pohon jati. Alasannya, ada hajatan yang mengharuskan adanya sumbangan di mana-mana, kalau ada lima orang saja hajatan, bisa dihitung sumbangannya.

Jevi yang juga pernah menulis skripsi tentang bunuh diri ini juga menyebut, kasus lain terjadi pada seorang Bapak yang terjerat utang. Bapak ini mendapatkan bantuan bedah rumah dari pemerintah, tetapi hanya beberapa juta, tidak mencukupi. Bapak ini kemudian hutang 30an juta, tidak hanya di bank, tapi juga lintah darat (bank plecit). Dia terjerat sehingga keluarganya jatuh miskin. Ketika rumah itu jadi, dia langsung tidak ada.

Selang beberapa bulan dari kejadian Bapak tersebut, ada tetangga yang tidak jauh dari korban yang melakukan tindakan nyemplung sumur yang dalamnya sekitar 25 meter. Jevi bercerita warga dusun mencarinya, hingga ayah dari korban ini mendengar teriakan dari sumur sehingga bisa diselamatkan. Dia satu jam baru ditemukan dan masih hidup. Orang yang nyemplung ini diajak oleh sosok yang sebelumnya bunuh diri. Selain itu juga karena orang ini “kabotan ilmu”, dia berguru kesana-kesini, dan menjadi seperti itu. Dia juga sering keluar malam sendiri seperti orang linglung.

Jevi melanjutkan, sejarah di Gunungkidul banyak orang moksa, dan Gunungkidul dikenal sebagai tanah untuk moksa. Menghilangkan diri dari dunia untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Kenapa pilihannya bunuh diri? Jevi menyebut karena banyak dadung, atau tali untuk mengikat, semacam tambang dari pring—sekarang bertransformasi jadi tali tambang. Gantung diri ini rata-rata terjadi di antara kandang sapi, di mana sehari-hari warga juga mengurusi kandang.

Lanjut Jevi, jika dikatakan bunuh diri bagi orang yang melakukannya dianggap agar tidak merepotkan, malah sebaliknya, sangat merepotkan. Pada realitasnya, lebih banyak merepotkan keluarga, padahal tujuannya agar tidak membebani. Seperti anak yang bapaknya bunuh diri, sekarang anaknya dipasung.

Akbar menanggapi, dari ingatannya dari salah seorang dosen pembimbing yang meneliti tentang topik psikosis dan skizofrenia, yang ditandai dengan halusinasi dan delusi. Salah satu fiturnya adalah masalah genetik. “Penyakit jiwa yang sebenarnya punya faktor keturunan yang tinggi,” terangnya. Dari penjabaran Jevi, ketika ada keluarga yang mempunyai kerentanan psikologi secara genetik, ini akan memicu kerentanan untuk muncul pada keturunan. Semisal, ketika ada ayah bunuh diri, anggota keluarga lain bisa berpotensi untuk bunuh diri juga. Polanya, menyelesaikan masalah dengan hal yang sama. “Kasus ini jadi prevalence, menarik pola, ada penjelasan mistis. Walaupun itu tidak menolak mentah-mentah,” jelas Akbar.

Ketika dihubungkan dengan penjelasan Nurizky tentang otonomi tubuh, Akbar melihat, selain faktor sosial, situasi semakin pelik karena ada faktor genetik. Genetik mempunyai kecerendungan risiko yang semakin memperburuk kondisi, menjadikan otonomi semakin menghilang.

Jevi menambahkan, fenomena medsos hari ini arahnya seperti memaklumi bunuh diri. Dia mempertanyakan, entah ini berdampak baik/buruk, tapi dimaklumi, diualng-ulang, dan akan mempengaruhi dunia sosial. Jadi semacam ada trauma massal. Di tempatnya, wujud konkret itu seperti tidak tidur selama sebulan, jendela ditutup dengan triplek, dll. “Selama bertahun-tahun, aku merasakan ada trauma massal. Ini keturunan orang yang bunuh diri, entah kakek buyutnya, cucunya juga memengaruhi,” kata Jevi.

Dari penjelasan Jevi, Lina menyakan, apa tindakan dari pemerintah melihat fenomena tersebut? Apalagi di Jogja juga sudah banyak mengangkat isu ini. Apa ada gerakan di desa/kampung? Sebab ini akan menjadi trauma generasi. Selain memperbaikinya dengan meningkatkan perekonomian, Lina mempertanyakan tindakan dari pemerintah.

Jevi menanggapi bahwa pemerintah telah berusaha keras dan dirinya mengapresiasi, seperti pembuatan Satgas dari Pemda, melakukan sosialisasi, hingga adanya komunitas yang mendampingi. Namun, entah bosan atau lelah, masih belum optimal untuk melakukan pencegahan. Hal yang kurang adalah kehadiran psikolog, dan ketika ada psikolog pun, biayanya mahal.  “Yang masih bolong di psikolognya, komunitas itu banyak entah dari swasta atau negeri. Tapi sampai hari ini, psikolog cuma satu,” jelasnya.

Dia melanjutkan, lagi-lagi kesadaran itu kembali ke warganya, karena tidak mudah mendekati orang-orang rentah. Semisal mereka yang sakit menahun, memiliki ekonomi yang buruk, dia sangat sulit menjalani hidupnya, tapi ketika ada yang hendak menolong, sudah terlambat.

“Untuk diajak bicara susah, ternyata gak semudah bahwa kamu harus cerita, atau jangan tertutup... Aku mendekati orang rentan, itu susah. Banyak yang gak nyaman bercerita, semakin banyak cerita semakin kosong. Gak malah lega, tapi malah bebani,” terang Jevi dilematis.

Nurul kemudian bertanya untuk generasi muda apakah ada yang melakukan pulung gantung? Jevi menjawab, dua tahun terakhir ini anak muda yang lulus SMA atau usia di bawah 30 tahun semakin banyak, rata-rata dari judi online (judol) dan main slot. Menurutnya, faktor keluarga yang sudah dibahas menjadi menarik, sebab tidak semua bisa bersikap terbuka dengan keluarga sendiri. Punya kecenderungan untuk dipendam.

Nurul juga bercerita tentang pengalaman pribadinya berkaitan dengan sikap terbuka terhadap keluarga ini. Saat dia masih di masa sekolah, keluarganya tidak saling terbuka, tidak saling cerita, tapi setelah kuliah dia banyak belajar. “Dulu sebelum terbuka, itu gak bisa, mau melepaskan kesepiaan dengan konser gak boleh, karena gak jelas. Akhirnya, Ketika aku pulang ke rumah itu jadi hal yang menakutkan. Tidak bisa menyampaikan apa yang aku resahkan, aku sempat buntu,” ujarnya.

Lalu, Nurul mencoba untuk membangun obrolan secara pelan-pelan. Dia akhirnya berani berbicara pada orangtuanya. Ketika ada komunikasi, ada potensi support system yang kuat.

Kemudian, Jevi menanggapi, keluarga relate untuk kaum urban, tapi tidak relate dengan yang hidup di desa. Sebab ada perasaan ketika terlalu banyak cerita, justru akan membebaninya. Orang juga tidak semuanya nyaman bercerita. “Terbuka dengan keluarga itu gak relate, ungkapan aku sayang ibu dan ayah itu gak pernah dengar. Itu emang terjadi. Di urban mungkin relate, di tempatku, kayak gitu, itu opo sih. Kesempatan untuk ekspresi itu nol besar,” ujarnya.

Nurizky mengonfirmasi yang dikatakan Jevi. Menurutnya, semakin tua, semacam sulit mencari tempat bercerita. Ibaranya, ketika mau cerita pada 10 orang, bisa jadi yang hanya 2 orang, lalu 8 lainnya adu nasib. Lalu, cerita akan menyerempet pada masalah finansial. 

 

VIII. PENUTUP

Isma menutup diskusi ini dengan konflik yang terjadi di Sudan. Tentang perempuan yang bunuh diri untuk mempertahankan harga dirinya, daripada diperkosa. Ia juga menceritakan sebuah anekdot dari seorang kawannya ketika masih mahasiswa. Teman itu bertanya, “Pernah menemukan hewan bunuh diri nggak?” Pertanyaan ini cukup nyeleneh. Secara asumsi dan logika umum, hewan hampir tidak ada yang bunuh diri. Mereka kuat. Anjing misalnya, meskipun mereka dihina setiap hari, dia tak pernah bunuh diri.

Berbeda dengan Klenik Studies di edisi-edisi sebelumnya yang membahas berbagai fenomena berkaitan dengan makhluk supranatural, kali ini lebih menekankan pada aspek psikologi, sosial, dan ekonomi dari fenomena bunuh diri.

Beberapa kesimpulannya, seseorang tidak bisa semena-mena menghakimi orang yang memutuskan bunuh diri karena alasan kejiwaan, keagamaan, ekonomi, dll. Alasan tak kalah penting juga menyangkut otonomi tubuh seseorang yang perlu dihormati. Isu yang lumayan panjang dibahas juga adalah fenomena bunuh diri (pulung gantung) di Gunungkidul, Jogja. Ternyata, fenomena itu tidak melulu masalah ekonomi, tapi juga trauma antargenerasi, keterbukaan antarkeluarga yang relate untuk warga urban tapi tidak untuk rural, hingga rasio psikolog yang masih sangat minim.

Selasa, 21 April 2026

Catatan Buku "The Perfect Boy" karya Balqis Humaira

Jika ada sosok yang sudah meninggal dan ingin aku temui, tentu orang itu adalah Rasullah Muhammad SAW. Buku karya Balqis Humaira ini meningkatkan level keimananku pada Tuhan beberapa digit lebih baik. Parameternya sederhana, setelah membaca buku, dan aku solat dzuhur di masjid kantor, rasanya begitu khusyuk. Ada rasa transendensi yang karib, yang sering hilang, dan dinamika turun-naiknya sangat cepat sekali. Semangat memento mori atau mengingat mati juga jadi lebih tebal.

Kelebihan lain dari buku ini adalah imajinasinya yang mengubah secara total bayanganku tentang zaman Jahiliah. Ketika aku SD dulu, aku PD mengatakan jika aku murid kesayangan guru agama karena nilaiku yang selalu tinggi. Soal sejarah ke-Islam-an, nilai-nilaiku saat SD bagus. Waktu guruku yang bernama Bu Har itu bercerita tentang masyarakat Jahiliah, imajinasiku benar-benar gelap, muram, dan sedih. 

Namun, setelah membaca buku Balqis ini, rasanya berbeda. Balqis bisa menarik kontekstualisasi antara zaman sekarang dan zaman Jahiliah dulu. Jadi, misal sekarang ada banyak kafe-kafe, tongkrongan berkelas yang diisi oleh orang-orang yang mengagung-agungkan nasab, harta, dan rupanya; itu juga terjadi di zaman Jahiliah dulu, tapi dengan style uniknya sendiri. Imajinasi ini tentu lebih mudah dan gak out of nowhere karena alasan geografis dan sejarah yang berbeda.

Termasuk juga sejarah nabi secara singkat yang disebut Balqis menerapkan Joy of Missing Out (JOMO) sejak dulu ini melakukan hari-harinya. Karakter-karakter Rasul dibahas dengan pendekatan yang sangat kekinian dan muda, tanpa kehilangan analisis dan kekritisan. Kritik utama buku ini adalah perlunya kita menyadari sifat Fear of Missing Out (FOMO) sebagai kebalikan dari JOMO. Karakter yang dijadikan role model tidak main-main: Rasulullah Muhammad SAW. 

Aku cukup menikmati buku ini meski aku selesaikan tak tepat waktu sebagaimana yang kuperkirakan di awal. Aku di buku ini diajari bagaimana menerapkan seni bodoh amat level Nabi, gimana mengubah trauma jadi fondasi untuk mental baja, gimana ngebentuk personal branding tanpa flexing dengan mengokohkan integritas dan karakter yang kuat, belajar filosofi penggembala yang banyak nabi agama samawi melakukannya, jadi gentleman di lingkungan yang toksik, ekonomi yang berlandaskan kepercayaan tingkat dewa, cara milih sirkel yang baik buat pertumbuhan jiwa, hingga kekuatan detoks media sosial.

Untuk yang soal terakhir, Balqis nulis:

Ini saatnya lo ngebangun Gua Hira digital lo. Gimana panduan praktisnya?
Pertama, sadari dan akui dopamin loop lo. 
Kedua, ciptakan "Sacred Time" (Waktu Suci) tanpa layar. 
Ketiga, berlatihlah memeluk rasa bosan (The Art of Doing Nothing).
Keempat, mulai tanyakan "Iqra" versi diri lo sendiri. 

Rasa-rasanya, aku memang ingin kembali ke Gua Hira sendiri. Di tengah dar-der-dor hidup....

Makasi Balqis. 

Judul: The Perfect Boy | Penulis: Balqis Humaira | Cetakan: Pertama, 2026 | Harga: Rp10.000 | Format: PDF | Link beli: https://lynk.id/balqisable/nw2kp23xq1vp/checkout

KUTIPAN:

Beliau milih untuk fokus benerin diri, kerja keras, dan cari ketenangan yang hakiki. (7)

Kadang, "ketinggalan" dari sebuah tren itu bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah bentuk perlindungan kelas VIP dari jalur langit. (7) 

JOMO itu adalah sebuah seni, sebuah kemampuan psikologis di mana lo ngerasa puas, tenang, dan bahagia dengan apa yang lagi lo lakuin saat ini, tanpa ngerasa perlu buat ngecek atau peduli orang lain lagi ngapain di luar sana. (8)

Beliau menolak peer pressure dengan integritas, bukan dengan arogansi. (10)

Sikap "bodo amat" yang elegan itu bentuknya gini: Kalau diajakin ngelakuin hal yang nggak sesuai prinsipnya, beliau bakal nolak dengan sopan, santai, tapi super tegas. Nggak perlu ngasih ceramah panjang lebar, nggak perlu merendahkan lawan bicaranya. (11)

Lo bayangin, seorang remaja yang lagi jauh dari rumahnya, di depan seorang pemuka agama asing yang sangat dihormati, berani nge-state prinsipnya sejelas dan sekeras itu tanpa ragu sedetik pun. (11)

Beliau cuma ngasih tau letak prinsipnya di mana, dan beliau nggak mau kompromi soal itu. Itu adalah level self-awareness dan integritas yang luar biasa tinggi. Beliau tau siapa dirinya, beliau tau apa value-nya, dan beliau nggak butuh validasi dari tradisi kaumnya buat ngerasa benar. (12)

Kepercayaan dirinya berasal dari karakter yang bersih. (12)

dari mana sih Muhammad dapet ketenangan batin sampai bisa tahan banting ngelawan godaan FOMO ini? Rahasianya ada pada kemampuannya menikmati kesendirian. Beliau menemukan kedamaian dalam kesunyian, bukan dalam keramaian yang palsu. (12)

Keramaian yang palsu itu emang jahat banget, dia nyedot energi lo tapi nggak ngasih nutrisi apa-apa ke jiwa lo. (13)

Muhammad belajar buat dengerin isi kepalanya sendiri. Beliau belajar ngamatin langit, memikirkan dari mana alam semesta ini berasal, dan ngebangun mentalitas yang mandiri. Beliau nggak ngerasa kesepian, karena orang yang otaknya penuh dan jiwanya hidup nggak bakal pernah mati gaya cuma karena sendirian. (13)

Lo adalah apa yang lo tolak. Karakter lo bukan cuma dibentuk dari apa yang lo terima, tapi dari hal-hal apa saja yang berani lo katakan "TIDAK". (13)

Terkadang, kekuatan terbesar seorang manusia justru lahir ketika dia berani menghilang dari radar keramaian, bersembunyi dari tren yang dangkal, dan fokus ngebangun fondasi karakternya di dalam kesunyian. (14)

Kita ngerasa dunia ini jahat, Tuhan nggak adil, dan wajar kalau kita jadi berantakan karena kita adalah "korban" dari keadaan. (14)

Di sinilah letak kejeniusan kecerdasan emosional seorang Muhammad. Beliau memproses kesedihan itu bukan menjadi kepahitan, melainkan menjadi empati yang levelnya nggak masuk akal. (16)

Kemandirian emosional itu seringkali lahir dari kemandirian finansial dan rasa tanggung jawab. Dengan bekerja, Muhammad muda sedang membangun harga dirinya sendiri. Beliau sedang ngasih tahu ke alam bawah sadarnya bahwa meskipun beliau yatim piatu, beliau bukan orang lemah yang harus dikasihani. Beliau punya tenaga, beliau punya otak, dan beliau bisa survive dengan keringatnya sendiri. (17)

Cara terbaik buat menyembuhkan insecurity dan trauma masa lalu adalah dengan mengambil kendali penuh atas hidup lo hari ini. Ambil tanggung jawab. Kerja keras. Berhenti mengasihani diri sendiri. (18)

Alam semesta dan keheningan adalah terapisnya. Saat beliau sendirian menggembala, beliau belajar menerima takdirnya tanpa syarat. Beliau belajar bahwa manusia itu datang dan pergi, bahwa kematian itu keniscayaan, dan bahwa satu-satunya tempat bergantung yang abadi bukanlah manusia, melainkan Sang Pencipta. (18)

Berhenti ngasih makan ego lo. (19)

Muhammad sadar bahwa reputasi sejati nggak bisa diwariskan, tapi harus dibuktikan lewat tindakan nyata di lapangan. (21)

Material yang sangat langka di Makkah saat itu: integritas. Konsistensi antara ucapan dan tindakan. (21)

Itulah kekuatan karakter. Karakter yang bersih akan selalu memancarkan gravitasi yang nggak bisa ditolak oleh siapa pun, bahkan oleh orang jahat sekalipun. (22)

Karena Muhammad punya rekam jejak yang tanpa cacat. Beliau punya reputasi tidak pernah berbohong, tidak pernah memihak secara tidak adil, dan tidak pernah gila jabatan. (23)

Itulah the power of authentic personal branding. Ketika lo ngebangun reputasi dari kejujuran dan empati, lo nggak cuma dihormati, tapi lo bisa jadi pemadam kebakaran di tengah konflik sebesar apa pun. Nama baik lo jadi garansi keamanan buat orang lain. (24)

Kita menghabiskan energi yang luar biasa besar untuk mengontrol apa yang orang lain lihat tentang kita, tapi kita lupa membangun siapa kita sebenarnya saat nggak ada orang yang ngelihat. (24)

Reputasi yang sesungguhnya nggak dibangun dari apa yang lo pakai, tapi dari janji yang lo tepati. (24)

Kalau lo kerja atau magang, datang tepat waktu, dan jangan pernah ngambil credit atau pujian atas hasil kerja keras teman lo. (25)

Dan percayalah, dunia profesional dan kehidupan nyata itu sangat haus akan orang-orang yang bisa dipercaya. (25)

Sebaliknya, kalau lo punya cap Al-Amin versi lo sendiri di sirkel pergaulan atau tempat kerja lo, opportunity atau kesempatan itu yang bakal ngejar-ngejar lo. (25)

Berhenti flexing hal-hal yang sebenarnya nggak lo miliki cuma buat bikin kagum orang-orang yang bahkan nggak peduli sama lo. (25)

Kebanyakan dari kita kerja sampai tipes itu sebenarnya buat apa sih? Apakah murni karena kita cinta sama kerjaan kita? Atau karena kita lagi ngejar standar kesuksesan yang dibikin sama orang lain? (26)

Beliau nggak pernah stres atau depresi gara-gara kerjaan. Kenapa? Karena mesin penggerak beliau bukan gila harta atau haus validasi, melainkan sebuah prinsip yang sangat membumi: Iffah, atau menjaga kehormatan diri agar tidak menjadi beban bagi orang lain. (26)

Musa menggembala, Daud menggembala, dan Muhammad pun menggembala. Ini bukan kebetulan semata. Ini adalah kurikulum kepemimpinan langsung dari jalur langit. (27)

Beliau belajar untuk menuntun, bukan memaksa. Beliau belajar untuk berjalan di belakang kawanan untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, sekaligus waspada melihat ke depan untuk mencari padang rumput yang hijau. Ini adalah filosofi servant leadership (kepemimpinan yang melayani) yang sesungguhnya. (28) Isma: Aku ingin buat kisah yang strukturnya mirip hidup nabi, tapi sesuai konteksnya di masa sekarang. (28)

Dari mengembala, nabi belajar: Kesabaran tingkat dewa, Ketelitian dan Observasi, Problem Solving dan Manajemen Krisis di Bawah Tekanan. 


Maisarah ngelaporin bahwa pemuda ini kerjanya luar biasa efisien, sangat jujur, tidak pernah bersumpah palsu untuk melariskan dagangan, dan sangat memanusiakan anak buahnya. (30)

Kita kerja keras buat membiayai inflasi gaya hidup kita sendiri. Makin gede gaji, makin gede pengeluaran buat pamer. (30) Isma: Anjiiirrrr, ngerasa ketampar gw, ngebiayai inflasi hidup gw sendiri. Meanwhile, "Beliau tidak mengubah gaya hidupnya sama sekali."

Kerja kerasnya itu beliau gunakan untuk dua hal utama: Pertama, untuk membantu perekonomian pamannya, Abu Thalib, sebagai bentuk balas budi yang sangat elegan. Beliau mengambil alih beban hidup pamannya dengan cara yang terhormat. Kedua, beliau menggunakan hartanya untuk membantu fakir miskin dan membebaskan budak. (30)

Ketika tujuan utama lo bekerja adalah untuk kemandirian dan memberikan manfaat buat orang di sekitar lo, lo nggak akan gampang stres. Kenapa? Karena parameter kesuksesan lo ada di tangan lo sendiri. (31)

Sebaliknya, kalau tujuan lo bekerja adalah buat ngalahin gaya hidup temen lo, buat kelihatan lebih kaya dari tetangga lo, atau buat dapet likes terbanyak di media sosial, lo sedang mendaftar untuk depresi seumur hidup. (31) Isma: Atau jangan-jangan, gw depresi tulis gara-gara ini ya, astaghfirullah.

Kerjakan itu dengan dedikasi layaknya seorang penggembala yang melindungi dombanya dari serigala. Serap semua skill kesabaran, observasi, dan problem solving dari pekerjaan "bawah" lo itu. Jangan complain, jangan playing victim. (31)

Berkeringatlah demi kemandirian, bukan demi tepuk tangan. Ketika lo memutus rantai ketergantungan lo dari penilaian orang lain, saat itulah lo benar-benar merdeka sebagai manusia seutuhnya. (31)

 Serba-serbi: Abdullah (sebelum lahir), Siti Aminah (6th), Abdul Muthalib (8th), Abu Thalib, Pasar Ukaz, Khadijah binti Khuwailid, Hilf al-Fudul (Perjanjian Fudul atau Pakta Kesatria),

Puncak dari kegilaan toxic masculinity Makkah ini adalah sebuah tradisi mengerikan yang disebut Wa'd, yaitu mengubur anak perempuan hidup-hidup. (33)

Beliau menjadikan kelembutan, empati, dan perlindungan terhadap yang lemah sebagai definisi kejantanan yang sesungguhnya. (33)

Mendengar teriakan itu, banyak petinggi Makkah yang buang muka. Mereka pura-pura nggak denger. Kenapa? Karena yang nipu adalah Al-'As bin Wa'il, orang kuat. Mereka ngerasa nggak ada untungnya belain orang asing yang miskin dan cari masalah sama bos preman Makkah. (34)

Muhammad muda mempraktikkan filter pertemanan tingkat dewa. Beliau sadar betul akan hukum tarik-menarik dalam psikologi: lo adalah rata-rata dari lima orang yang paling sering menghabiskan waktu sama lo. (46)

Beliau nggak butuh validasi dari Amr bin Hisyam buat merasa berharga. Jadi, beliau dengan sadar menjauh dari circle utama itu. (47)

Muhammad nggak peduli. Beliau lebih memilih menjaga kewarasan dan integritasnya daripada dapet predikat "anak gaul Makkah". (47)

Ketika lo berani melepaskan sesuatu yang buruk, lo akan dipertemukan dengan sesuatu yang sefrekuensi sama lo. (47)

Karena Muhammad sibuk memperbaiki diri, menjaga kejujuran, dan berbisnis dengan etika, beliau akhirnya "beresonansi" dengan seorang pemuda lain yang juga merupakan anomali di Makkah. Namanya Abdullah bin Abi Quhafah, atau yang kelak lebih kita kenal dengan nama Abu Bakar. (47)

Ini adalah pertemanan yang effortless (nggak butuh banyak usaha buat pura-pura). (48)

Pertemanan yang sehat itu ciri utamanya satu: lo nggak merasa capek setelah nongkrong sama mereka. Justru energi lo ke-charge (terisi penuh). (48)

Beliau tahu cara meninggalkan vibes negatif tanpa harus memutus tali silaturahmi. (48)

Muhammad tidak memutus hubungan sosial dengan orang-orang Makkah, se- toxic apa pun mereka sebelum beliau jadi Nabi. (49)

Beliau membuat batasan (boundaries) yang sangat tegas terkait waktu luang dan ruang hatinya. (49)

Beliau menyortir circle-nya bukan dengan cara mengibarkan bendera perang, tapi dengan cara membatasi akses. Lo boleh beli barang gue, lo boleh ngobrol urusan kerjaan sama gue, tapi lo nggak punya akses buat ngobrolin hal-hal personal. (49)

Menolak tanpa membenci. Menjauh tanpa memusuhi. Itulah seni menyortir circle ala Muhammad muda. (49)

Waktu dan energi lo itu aset paling berharga, jangan dihambur-hamburin buat nyeponsorin orang-orang yang ngerusak mental lo. (49)

Karena kalau lo maju, itu akan jadi cermin yang nunjukin kemalasan mereka sendiri. Mereka pengen lo tetep stuck di level yang sama bareng mereka biar mereka nggak ngerasa bersalah. (50)

Alokasikan waktu lo buat upgrade diri. Ikut workshop, baca buku, atau gabung ke komunitas yang sesuai sama passion lo yang positif. Percaya sama gue, di tempat yang baru itu, lo bakal nemuin "Abu Bakar" versi lo sendiri. (50)

Hidup lo terlalu singkat buat dihabiskan demi mencari likes dari orang-orang yang nggak penting. (50)

Doomscrolling itu adalah kebiasaan ngabisin waktu berjam-jam buat scroll timeline media sosial (X/Twitter, TikTok, Instagram) tanpa tujuan yang jelas, ngelihatin konten demi konten, dari yang lucu, yang pamer, sampai berita tragedi yang bikin anxiety (kecemasan) lo kumat. (51)

Kita hidup di era di mana kesunyian itu dianggap sebagai sebuah ancaman. Coba lo perhatiin diri lo sendiri atau orang-orang di sekitar lo. Kita takut banget sama yang namanya hening. Mau mandi aja harus nyalain Spotify atau podcast. Mau makan siang sendirian harus sambil nonton YouTube. Mau tidur harus ada suara white noise atau video ASMR yang nyala. Kalau tiba-tiba kuota internet habis atau hape mati waktu lagi tunggu KRL, kita langsung panik, gelisah, mati gaya, seolah-olah dunia mau kiamat. (51)

Sebenarnya apa sih yang lagi kita hindari? Kenapa kita butuh banget "kebisingan" (noise) buatan ini setiap saat? Jawabannya brutal, bro: Kita takut sendirian dengan isi kepala kita sendiri. Kita takut ngedengerin suara hati kita yang mungkin lagi teriak minta tolong karena kita salah ngambil jalan hidup. Kita lari dari trauma, lari dari insecurity, lari dari pertanyaan pertanyaan besar tentang masa depan. (51)

Ketika kepala lo udah terlalu penuh sama kebisingan dunia, lo nggak akan bisa nemuin solusi kalau lo tetap stay di tengah keramaian itu. Lo nggak bisa menjernihkan air yang keruh kalau lo terus-terusan mengaduk gelasnya. Lo harus meletakkan gelas itu, diam, dan biarkan kotorannya mengendap ke bawah sampai airnya bening kembali. (53)

Tahannuth ini artinya menyendiri untuk beribadah dan merenung, menjauh dari dosa-dosa dan kebiasaan buruk masyarakat. (53)

Lo harus menciptakan batasan yang radikal antara diri lo dan sumber kebisingan itu. (53)

Yang ada cuma keheningan alam semesta. (54)

Tahannuth ini nggak terjadi cuma semalam, bro. Beliau ngelakuin ini berhari-hari. (54)

Jiwa yang sudah dijernihkan melalui kekuatan sebuah JEDA. (55)

Gua Hira modern lo bisa jadi adalah kamar tidur lo sendiri, atau bangku taman di dekat kompleks rumah lo, asalkan lo tahu cara mematikan kebisingannya. (55)

Lo tau segala hal tentang kehidupan orang di belahan dunia lain, tapi lo buta sama apa yang lagi dirasain sama diri lo sendiri. (55)

Revolusi terbesar dalam hidup manusia tidak pernah dimulai dari sebuah panggung yang ramai. Revolusi selalu dimulai dari sebuah jeda yang sunyi. (57)

Menolak keras untuk memakai "kartu korban" (victim card) dan malah memproses semua trauma masa kecilnya menjadi empati tingkat dewa. (58)

Menolak menjadi Alpha Male yang kasar dan manipulatif, lalu mendefinisikan ulang arti kejantanan lewat kelembutan, penghormatan kepada wanita, dan keberanian membela kaum yang tertindas. (58)

Muhammad sudah terlebih dahulu "mewahyukan" dirinya sendiri lewat karakter, kerja keras, dan keringat kemanusiaannya. Beliau pantas dipilih oleh langit, karena di bumi, beliau adalah manusia yang paling siap. (58)

Mengeluh tidak akan pernah mengubah realita. Mengutuk kegelapan tidak akan pernah membuat ruangan menjadi terang, sampai ada satu orang yang berani bangun, melangkah, dan menyalakan lilin. (60)

Kedamaian yang lo rasain saat duduk di rumah jauh lebih mahal dari tiket VIP club mana pun di kota ini. (62)