Rabu, 04 Maret 2026

Aku, Pak Masri Singarimbun, dan Buku Renungan dari Yogya

Buku "Renungan dari Yogya" - Masri Singarimbun
Pak Masri yang baik dan cerdas, aku menangis dua sampai tiga kali ketika membaca buku Bapak berjudul "Renungan dari Yogya" ini. Betapa besar kerinduan saya di zaman-zaman pas masih kuliah di Yogya (bahkan saat menulis ini aku meneteskan air mata). Pak Masri, dulu dengan sepeda mini kecilku berwarna pink yang kunamai Nuun Junior, aku mengolah roda dari kosku di daerah Sapen menuju Jl. Tevesia Bulaksumur, Sagan, Caturtunggal. Letak Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM berada. 

Aku masih ingat bangunannya Pak, sangat lekat karena saya sangat sering main ke perpustakaan PSKK. Aku tidak takut atau malu, meskipun saya orang di luar UGM, bagiku, tempat ini adalah salah satu kawah candradimuka yang tak pernah saya lupakan. Di depan bangunan, terpampang lampu digital berjalan berwarna merah bertulis angka penduduk Indonesia yang tiap detiknya berganti jumlah. Satu demi satu. Sepeda kupakirkan di depan gedung. Parkiran itu tergolong sepi, satu-satunya sepeda hanyalah sepedaku. Aku tak tahu alasan apa yang bisa membawaku ke tempat ini? Apa muasalnya, aku tak ingat lagi.

Aku sering datang siang, pukul 10 ke atas. Seingatku, karena itu jam bukanya. Tak jauh dari pintu, di sana ada patung besar Bapak seolah menyambutku datang. Bapak tersenyum, mengenakan kacamata, dan entah kenapa ketika masuk ke dalamnya terasa seperti "rumah". Bukankah, rumah berarti sesederhana kamu merasa diterima di dalamnya? Aku akan tersenyum, semacam simbol untuk menghormati patung Bapak.

Setelahnya, aku naik, kalau tidak salah, ke lantai III. Aku sudah lupa karena sudah lama. Lalu, aku akan menenggelamkan diri menyisir buku-buku yang bahas terkait masalah kependudukan. Aku mengisi daftar tamu yang dijaga anak magang. Jumlah pengunjung bisanya bisa dihitung jari, kadang tak sampai lima. Aku mengambil beberapa buku, jurnal riset, dlsb, baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris. Perpustakaan tersebut tergolong sepi pengunjung, sering aku hanya sendiri di sana. Tapi entah kenapa rasanya damai.

Di sana, aku menemukan harta berharga bacaan-bacaan yang membuat tubuh, pikiran, dan hati saya seperti bersatu dan termotivasi. Aku seperti menemukan passion yang tenggelam dan direpresi sedemikian rupa oleh distraksi-distraksi yang bukan aku. Kadang aku merenung, kadang aku bermimpi, kadang aku menangis. Salah satu mimpi yang ingin kubocorkan, aku ingin kuliah ke Australian National University (ANU) seperti Pak Masri. Di mataku saat itu, ANU begitu keren. Aku merenda-renda mimpi untuk sekolah tinggi di tengah keterbatasan yang ada. Pendeknya, Bapak memberi inspirasi padaku untuk menempuh pendidikan tinggi yang lebih baik. Bahkan sebelum ke ANU, aku juga berminat untuk melanjutkan pendidikan Magister di Studi Kependudukan UGM. 

Waktu berlalu, barangkali aku sering datang ke PSKK sekitar tahun 2016-2018, saat ini tahun 2026, barangkali sudah hampir 10 tahun. Pak Masri.... Rasa itu tak berubah. Tanpa kerencanakan sebelumnya, aku membaca buku "Reunungan dari Yogya". Awalnya, aku tak sadar jika tulisan itu ditulis oleh Pak Masri. Aku baru ngeh saat aku searching nama Bapak, dan teringatlah masa-masa di Perpustakaan PSKK. Buku ini merupakan kumpulan tulisan. yang Bapak tulis di berbagai media massa, seperti Tempo, Editor, Kompas, dan Jawa Pos sepanjang 1977 hingga 1992. Terdapat sebanyak 81 tulisan di dalamnya, yang sudah dikurasi oleh Pak Masri.

Pak Masri, aku begitu menikmati tulisan di buku Bapak. Namun, yang paling penting, aku merasa Pak Masri seperti berbicara langsung padaku melalui huruf-huruf dan kata-kata yang Bapak pilih. Rasanya begitu dekat. Banyak sekali catatan yang kubuat, Bapak begitu banyak membuka mataku terkait konflik-konflik sosial yang lepas dari pengamatanku. Oh ya, pas baca terkait profil Bapak di PSKK dulu, yang bahas terkait kasus kondom; sebagai mahasiswa yang pengetahuannya masih awam, aku sedikit mempertanyakan bahasan tabu tersebut. Namun, setelah aku membaca buku Bapak ini, aku benar-benar menyadari mengapa persoalan ini begitu penting. Bagaimana latar belakang kasusnya, dan bagaimana respons Bapak pada hal itu.

Tidak aku ragukan, Bapak sebenarnya adalah orang yang humoris, sastrais, dan berpemikiran dalam. Kesan ini aku dapatkan setelah aku selesai membaca buku "Renungan dari Yogya". Banyak pemikiran, metode penelitian, empati, hal-hal sederhana yang penting, jadi hal menarik ketika Bapak menceritakannya. Dari 81 tulisan yang diikat jadi satu buku, terdapat tujuh kluster di dalamnya:

1. Aneka Ragam: Di sini Bapak bercerita dari kisah tikus yang ternyata bisa dimakan di Karo, pemerataan kecantikan yang menyasar perempuan dan kepalsuannya, pesona pariwisata, hingga tokoh bidang bahari bernama Amanna Gappa.

2. Pendidikan Tinggi: Bapak berkisah tentang berbagai masalah penelitian dan budaya baca khususnya di lingkungan kampus. Akademia yang terjebak dalam embel-embel, simbol, hingga masalah perpustakaan dan konsultan domestik.

3. Wanita: Tulisan yang paling menarikku adalah soal imajinasi Pak Masri kalau dilahirkan kembali akan memilih jadi perempuan. Ini sangat mind-blowing, wkwk. Betapa kuatnya perempuan. Termasuk juga soal Bu Sutiyem, ayah rumah tangga, hingga persoalan memukul istri.

4. Perkawinan dan Seks: Bapak membedakan apa itu setan mini dan setan maksi dalam masifnya masalah seksual di Indonesia. Setan mini merujuk pada simbol hingga apa yang dicontohkan di layar kaca, sementara setan maksi mengalaminya secara langsung sampai hamil. Dan lagi, korban anak digugurkan. Bapak bahas soal mucikari paling punya passion di dunia, Xaviera, hingga kasus kumpul kebo.

5. Kesehatan dan Keluarga Berencana: Di sini Bapak mengulas terkait berbagai tantangan pelaksanaan KB di berbagai dunia dari kawasan ASEAN, India, hingga Amerika, Eropa, dan Afrika, pejuang ASI, termasuk juga soal kondom yang sempat ditabukan.

6. Kemikinan dan Pemerataan: Pak, bahasan tentang Sphinx ini mengingatkanku dengan buku HG Wells yang "Mesin Waktu", ada adegan yang latarnya mirip Sphinx, wkwk. Lalu ada paradoks di sana, bagaimana kebudayaan zaman dulu berbeda jauh dengan kebudayaan manusia zaman sekarang, dengan studi kasus di Mesir. Termasuk juga soal kuli kontrak, hidup sampah, seragam untuk apa, per diem, hingga IPM.

7. Sosial Politik dan Birokrasi: Membahas terkait India, dan untungnya Indonesia punya bahasa persatuan. Juga menyangkut hutang adalah hutang, ijon dan UUPA, judi yang dibuat sebagai olahraga kaum "elite", hingga masalah hak ulayat Dayak dan Dodo.

Berikut renungan pribadiku:

  • Dari tulisan Pak Masri, aku belajar menggali keindahan dan masalah di bidang yang kugeluti sendiri. Seperti contoh tulisan "Sang Peneliti Tak Bisa Menulis", dia bilang: "Bukan tabel yang bercerita. Seharusnya saudara yang bercerita, lalu disisipkan tabel ke dalam cerita saudara. Begitu caranya menulis laporan ilmiah yang baik. Dan harus ada tema. Bukan tumpukan tabel dan keterangan." (71) Menurutku, ini metode baru dalam menulis esai, pakai pendekatan dalam menulis cerpen. Termasuk pengalaman ketika dia bertemu dan berbincang dengan seseorang yang tiba-tiba filosofis dalam cute meet.
  • Kisah Sutiyem bisa kuolah jadi cerpen yang mirip dengan tone-nya AA Navis di Anak Kebanggaan. Eureka. 
  • Pak Masri benar, di bulan April misal, ceramah soal perempuan banyak, penelitian tentang peranan perempuan juga menjamur, tapi tidak ada yang mencerahamahkan istri yang dipukul, dianiaya, yang menjadi objek kewenangan suami belum banyak. 
  • Menarik juga ya neliti kekerasan terhadap perempuan lewat 4 koran dan satu majalah sepanjang tahun 1989. Terdiri dari: Kompas, Pos Kota, Sinar Pagi, Jawa Pos, dan Tempo. Ditemukan ada 639 kasus yang dibagi atas 19 jenis kejahatan. 
  • Aku tertarik pada cara Pak Masri menganalisis data-data statistik yang keren. Dia misal bisa fleksibel membahas data perceraian dengan melihat dampaknya tak hanya pada suami istri, tapi juga anak. Lalu bagaimana hal itu dihubungkan ke kasus negara lain misal Australia, juga hubungan dengan pengalaman pribadi dan agama. 
  • Tulisan "Yang Takut Gaji Naik" mengingatkanku dengan layanan hotel ketika aku dinas. Semalam di sana rasanya bisa setara dengan gaji orang lain selama sebulan ;( Aku bisa mengerti perasaan Panut. Begitu timpangnya hidup Pak Masri. 
  • Pak Masri, di sini saya jadi mikir tentang IPM. Terkait bagaimana data dianalisis, saya belajar banyak. Yang nampaknya ini bisa mengungkapkan banyak sekali dampak, ekses, dlsb pada kehidupan sehari-hari. Termasuk soal pilihan dan fasilitas yang kita hadapi. Saya tinggal di kota dengan IPM tertinggi se-Indonesia. Ini privilege dan nature saya untuk saat ini. Jadi saya tidak hanya membaca data saja dengan bilang, IPM itu indikator ada tiga: 1. Angka kematian bayi kurang dari 50 per seribu kelahiran hidup, 2. Harapan hidup 65 tahun ke atas, 3. Tingkat melek huruf paling tidak 75 persen. Bukan sekadar itu! Baik Pak Masri, Anda memberikan saya alat yang sangat berguna sekali. Terima kasih. Oh ya, saya juga ingin mengkritik terkait IPM itu, saya pikir tiga indikator itu terlalu kaku. Apakah hanya dengan tiga itu orang lalu sadar dengan kondisinya? Saya pikir tidak serta merta. Apa persoalannya? Sepertinya saya bisa memberikan tanggapan untuk Pak Sayogyo. 
  • Pak Masri, saya nangis baca tulisan "Ibu-Ibu adalah para wanita yang perkasa". Aku tertarik pada segi disertasi juga yang dibahas Carol Hetler, "Female Headed Households in a Circular Migration Village in Central Java" (1986), ANU. Penelitian dilakukan di Desa Jaten, Wonogiri, 1984. Titik beratnya: seluk-beluk wanita yang menjadi kepala rumah tangga. Ternyata jumlah wanita demikian tidak sedikit di daerah penelitian. Juga tidak sedikit di tingkat provinsi, nasional, dan internasional. (93) 

Dari sub-sub itu, Bapak begitu spesifik dan kokoh pada "ladang penelitian" Bapak sendiri, jika memilih satu ladang, itu adalah studi kependudukan. Atau mungkin secara ilmiahnya: Studi Kependudukan hubungannya dengan masalah reproduksi, kemiskinan, dan sosial. Bapak juga banyak mengkaji kelompok-kelompok marjinal seperti buruh sirkuler Gunung Kidul, perempuan yang kerja bangunan, kuli kontrak, Dodo yang jenazahnya ditolak, tukang pijat urut yang tak sanggup beli seragam, para gelandangan. Dan di sinilah letak pertemuan kajian saya dengan kajian Bapak di aspek marginal studies. Saya jatuh cinta dengan bahasan-bahasan Bapak yang tak tertipu dengan statistik pada studi kebijakan, tapi mencoba untuk mengenali dan memahaminya secara kasus yang konkret dan personal. Masalah itu terjadi pada individu dan komunitas.

Saya juga sepakat dengan tulisan yang terbit di tokoh.id ini, yang menyatakan bahwa:

"KOLOM merupakan tulisan yang sangat menonjolkan strong personal views. Ciri utama kolom Pak Masri, sebagaimana dituturkan Prof Terence H Huul dari Australian National University, bahasanya populer, langsung menukik ke pokok soal, berlumuran humor di sekujur karangan, reflektif, dan tak lekang zaman. Almarhum Satyagraha Hurip, sastrawan, pernah menganjurkan Pak Masri menulis cerpen mengingat gagrak (genre) story telling tulisannya."

Mungkin kritikku untuk buku Bapak, kadang penceritaan Bapak kurasakan meloncat-loncat, baik dalam hal tokoh, latar, dan subjek yang Bapak perbincangkan. Aku perlu berhenti sejenak, ini masih bahasan yang samakah? Begitu. Dan gebrakan lain di buku esai ini, banyak tulisan menggunakan format dialog seperti orang sedang berbicang biasa. 

Kemampuan story telling Bapak sangat bagus, dan itu kenapa Pak Goenawan Mohammad meminta Bapak untuk jadi kolomnis tetap di Tempo. Buku ini ditulis setahun sebelum aku lahir di dunia tahun 1993. Sebelum saya lahir, buku ini sudah lahir terlebih dahulu. Semoga suatu hari saya bisa berziarah ke makam bapak di Makam Kuncen Wirobrajan Jogja. See you and thank you, Pak Masri!

KUTIPAN:

Dodo (299) 

Kemampuan manusia menciptakan senjata ampuh terus meningkat untuk membunuh sesama. Sementara itu kemampuannya mengekang diri tidak semakin baik. (7)

Persoalan orang tua: miskin, tidak ada jaminan, dianggap kelompok tak berguna, tidak produktif

Humanisme menjadi penghias etalase... Orang-orang jompo telah membeberkan kegagalan peradaban kita. Habis manis sepah dibuang. (38) 

Pak Masri, aku senang banget tahu Pak, bisa ngobrol dan mendengar cerita Bapak lewat buku. Dulu aku sering banget ke UGM dan tempat paling sentimental di UGM bagiku adalah pusat studi kependudukan, yang dulu aku juga pengen ambil S2 itu di sana. 

Penobatan Sultan HB X tanggal 7 Maret 1989 dan kirab keesokan harinya. Sayang peristiwa yang mulia itu dimanfaatkan para copet untuk mencari nafkah dengan menjambret uang pensiunan ibu-ibu. (44) 

Orang Wajo terkenal sebagai orang yang gemar mengembara, berlayar, dan berdagang, tidak begitu tertarik kepada pertanian. (50) 

Dalam pelayaran, perselisihan harus selesai sebelum mendarat. Sebab setiap negri punya masing-masing hakim. Amanna Gappa. (51) 

Namun uang bukan satu-satunya. Faktor penting lainnya adalah skala prioritas. (61) 

Kalau pegawai kurang beres, terminalnya di perpustakaan. (63) 

Sekali lagi tidak. Tidak usah naik eselon. Hatinya tidak tergoyahkan oleh rumah, mobil, dan embel-embel lainnya itu. Dia tidak mau menjadi makhluk kesasar, tapi terhormat. (65) 

Yang menjadi kebutuhan permanen sebagian orang adalah masalah kenaikan status sosial dan kenaikan gaji. (66) 

Penelitian digotong-royongkan seperti membersihkan jalan. (68) 

Pamong yang berpengalaman itu berpegang teguh pada asas pemerataan dan itu bisa dipecahkan secara ketimuran. (71) 

Gengsinya naik lagi, sebagai orang pertama yang memiliki benda ajaib berlubang-lubang itu. (71) 

Kita tidak pernah belajar memegang kunci. "Itu kesalahan kontrak namanya," komentarnya tegas. Mudah-mudahan tidak terulang lagi. (75) 

Kerapuhan laki-laki menuntut kompensasi bernama kejantanan dan kepemilikan. Ketahanan mental perempuan lebih tinggi, demografi menunjukkan itu. (83) Juga buku "The Mothers" karya Robert Briffault, dan "The Natural Superiority of Women" (84) 

Setelah menimbang dan mengkaji, kalau saya kembali, saya memilih yang unggul: lahir sebagai anak perempuan. Terus terang saja, jauh di dalam lubuk hati saya, terkadang menyelinao rasa iri terhadap isteri. Iri karena dia lebih dekat dengan anak-anak kami. Saya terlalu terpukau oleh revolusi industri dan sering terlupa hakekat kehidupan yang singkat ini. (85) 

Orang memerlukan modal tertentu untuk mempertahankan ukuran moral tertentu. Bernard Shaw. (88) 

Diam-diam, tanpa pidato dan gunting pita, mereka menampilkan gaya hidup yang sudah lain: kumpul ora kumpul angger mangan. (95) 

Di negeri yang maju tidak ada tenaga pembantu rumah tangga yang murah. Tenaga yang murah adalah cermin keterbelakangan. (99) 

Philip Yampolsky menganalisa riwayat lagu (cengeng) "Hati yang Luka" dengan jitu dalam majalah Indonesia (terbitan Cornell), nomor April 1989, dengan judul "Hati yang Luka, an Indonesian Hit". Dilagukan atau tidak, kisah-kisah pemukulan istri merupakan bagian dari bangsa kita dan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Duduk soalnya belum jelas dan kita juga tidak berbuat apa-apa untuk menguranginya.(101) 

Namun sayangnya, bangsa kita juga mempunyai warga negara yang terdidik, yang memotong-motong istrinya atas tujuh bagian. (102) 

Kehidupan seks hewan lebih teratur dan tujuannya lebih sederhana, reproduksi. (111) 

Mereka tidak perlu belajar dari buku tentang hal elementer itu... Orang Barat perlu pendidikan seks karena mereka gak pernah lihat capung, ayam, kucing, anjing, ngeseks liar di sekeliling. Jadi mereka butuh buku. (114) 

Xavier Hollander. Egonya terhibur, juga kejantanannya. Semoga pada suatu waktu, pelacuran dilegalisir. (123) 

Suasana jadi kurang gairah karena terjepit oleh persoalan moral... Perlu disadari, keluarga yang beranak banyak jadi tukang rebut di masyarakat. Merebut berbagai fasilitas yang terbatas: pendidikan, transportasi, kesehatan. (164) 

Tampangnya lugu, geraknya lamban, suaranya lembut; tapi berbagai hal penting yang tak pernah saya pikirkan bermunculan dari mulutnya. Benaknya ternyata sarat dengan rupa-rupa soal. (166) 

Masalah ekonomi yang ditimbulkan struktur umur yang tua di Jepang, tidak seberapa dibandingkan masalah kemiskinan pada masyarakat yang terbelakang dengan tingkat kelahiran tinggi. (167) 

Tidak peduli orang bilang jarum jam berputar ke belakang beberapa puluh tahun. Tapi sesungguhnya, apakah orang Amerika begitu jijik terhadap praktek pengangguran? Begini riwayatnya. (170) 

Eropa, mereka masih termasuk terbelakang dari sudut penggunaan kontrasepsi... Kondom yang dituduh banyak mempunyai dosa itu, menempati nomor satu di Finlandia dan Denmark. (174) 

Berkaca pada kestrikan Comstock, urgensi mengalahkan moralitas. (186) 

Sphinx pun tidak akan mengatakan bahwa ternyata mendirikan piramid lebih mudah daripada meratakan kesejahteraan, lebih mudah daripada mencerdaskan rakyat. (208) 

Eraini: Terpaksa ke Kota, Bukan Tarikan Neon Kemilau. (218) 

Untuk mendapatkan kuli yang diperlukan, dilakukan berbagai tipu daya terhadap mereka, dan mentalnya dirusak supaya tetap bertahan di perkebunan. (228) Kebiasaan berjudi dan bersenang-senang pada waktu gajian besar (tiap bulan) betul-betul menghancurkan mental kuli kontrak dan menggiring mereka memperpanjang kontrak terus menerus, tidak peduli penderitaan apa pun menimpanya. Sekali jadi kuli kontrak, tetap jadi kuli kontrak. (229) Isma: Pak Masri, aku lagi-lagi menangis membaca tulisan Pak Masri. Mungkin pas aku main ke UGM dulu, arwah Pak Masri benar-benar menyambutku. Aku teringat pada perbudakan modern yang dialami para manusia hari ini. Lingkaran setan yang merusak mental mereka. 

Pada Kelompok Tuna Wisma, dilakukan usaha 3 tertib, 3 bersih, 3 aman: (1) di dalam diri sendiri, (2) dalam keluarga, (3) dalam lingkungan... Terlintas dalam pikiran sebuah topik penelitian: peranan gelandangan dalam pembangunan nasional. (233) 

Kusum Nair, Blossoms in the Dust. 

Melihat penampilannya di pasar dan melihat barang dagangannya terus timbul belas kasihan... Tapi dalam penelitian kita harus berusaha menahan diri. (235-6) 

Tak berani lagi dia menghubungkan tarif tersebut dengan upah buruh tani, dan tak sampai hati dia mengaitkannya dengan Ekonomi Pancasila atau Demokrasi Ekonomi. (238) 

Jurang antara golongan atas dan menengah lebih besar daripada antara golongan menengah ke bawah. (243) 

Sayogyo, delapan jalur pemerataan, beserta matriksnya... Berkata Sayogyo dengan nada rendah tapi kocak, "Sayang tulisan saya mengenai Indeks Mutu Hidup di Prisma tahun 1984 sampai sekarang tidak ada yang menanggapinya, baik ilmuwan maupun policy maker." Peserta lalu senyum-senyum karena merasa bahwa, kalau sebuah konsep datang dari luar negeri, kita pun cepat ribut untuk menanggapinya, tapi lain halnya kalau itu datang dari pakar dalam negeri. (244) 

Tujuan utama dari pembangunan manusia adalah memperluas pilihan-pilihan, sehingga pembangunan lebih bersifat demokratis dan partispatoris. Pilihan-pilihan tersebut meliputi akses pada: pendapatan dan kesempatan kerja, pendidikan dan kesehatan, serta lingkungan fisik yang bersih dan aman. Tiap individu seyogyanya mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi penuh dalam keputusan-keputusan komunitas dan menikmati kebebasan-kebebasan insani, ekonomi, dan politik. Klise lama dicantumkan: pembangunan rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. (245) 

Gandhi mati hanya mewariskan dua mangkuk tempat nasi, sebuah sendok, dua pasang sandal, buku Bhagavad Gita, dan kacamata. (251) 

Inggah-inggih nanging mboten kepanggih.

Pinjam meminjamkan punya jalur, punya pola. Buruh tani miskin punya cara tertentu, usahawan kaya punya cara lain. Jumlahnya berbeda, jenisnya berbeda, tujuannya lain, sumbernya lain. Namanya pun bisa lain: yang satu "ijon" yang lainnya "kredit". (259) 

Membeli makanan dalam jumlah kecil dengan frekuensi yang tinggi... Percikan dari kebudayaan masyarakat miskin. (259) 

Semoga koruptor bekerja dengan baik, terus terang dan efisien. Cuma itu. (263)

Nampaknya Anda sudah menyiapkan alat-alat sebelum tujuan diketahui. Ada baiknya tujuan ditentukan dulu, baru dipikirkan alat untuk mencapainya. (268) 

Topik harus dikembangkan melalui bacaan. Minat, hipotesa, dan teori berkembang dari situ. Apakah sempat membaca waktu mengikuti lokakarya metodologi tempo hari? (268) 

Kata Dr. Ace Partadiredja, para ekonom tidak tertarik pada pendekatan antropologi; sebaliknya para antropolog, belum tertarik pada penelitian ekonomi. (273) 

Pertemuan kami adalah untuk membahas usulan penelitian yang berlusin-lusin banyaknya dari berbagai negara di Asia Tenggara. Tujuan program internet memberi kesempatan kepada peneliti muda untuk meningkatkan kemampuan meneliti dan memupuk kepekaan mereka terhadap masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan masalah kependudukan. (276) 

Prinsip jam kerja 37,5 jam seminggu. 

Bicara tentang pembangunan, kita harus bicara tentang hubungan kita dengan benda-benda. Kita harus mencintai benda-benda itu dalam arti yang sesungguhnya. Dan selalu ingin tahu tentang sifat-sifatnya, sehingga makin lama makin menguasai alam kebendaan. (284) 

Tampaknya ini juga kepribadian bangsa Indonesia. Orang datang mendengarkan suara. Tidak perlu mengerti isinya.... Kelompok I bahas Kak Alex di TVRI, kelompok II bahas lombok naik, kelompok III bahas seragam sekolah.... (288) 

Saya sudah siap menelan apa saja yang barangkali sukar dikunyah. Siap menyimak hal-hal teknis yang kurang saya mengerti. Maklumlah, saya buta huruf dalam bidang keahliannya. (289) 

Filsafat hidup Ki Ageng Suryomentaramlah orangnya yang mencanangkan asas 6-sa: sa-butuhe (sesuai dengan keperluan hakiki), sa-perlune (memenuhi kebutuhan secara efektif), sa-cukupe (tanpa berlebih-lebihan), sa-benere (sesuai dengan kenyataan yang obyektif), sa-mestine (sesuai dengan rasa kebenaran dan keadilan), sa-kepenake (tanpa melewati batas kesanggupan fisik dan material). 

Pada perguruan tinggi di Indonesia, perpustakaan merupakan embel-embel. Prioritasnya tidak tinggi. Statusnya saja tidak profesional. Selama ini di fakultas letaknya di bawah tata usaha yang tidak begitu mengerti tentang perpustakaan. Kalau bagian tata usaha sudah miskin, apalagi perpustakaan yang dibawahinya. (61)

"Pekerjaan ini memberikan kepuasan spiritual yang besar bagi saya karena efisiensinya tinggi," katanya sungguh-sungguh. "Waktu dipergunakan dengan sebaik-baiknya: dipakai dengan baik untuk bekerja, pakai dengan baik untuk rekreasi. Saya berusaha supaya selalu dalam keadaan segar. Jam terbang saya mungkin tidak kalah dengan pilot kita di muka. Gaji saya lumayan tapi tiap rupiah sangat halal karena kerja keras dan berusaha seefisien mungkin. Banyak orang menuntut kenaikan gaji. tapi kadang-kadang gaji yang rendah itu masih terlalu tinggi bila dihitung jam kerjanya dan apa yang dihasilkan.ungkin gajinya masih perlu diturunkan." (66)

Sikap dan ucapannya mengingatkan saya kepada Ivan Illich, Deschooling Society. Orangnya begitu polos, percaya diri dan konsekwen. Hari esok baginya hari kerja yang penuh gairah, hari menabur benih, menyiang, menghalau pipit atau panen. Bukan priyayi yang parlente, "thenguk-thenguk nemu gethuk." (68)

Penelitian-penelitian tidak luput dari berbagai masalah. Dalam pengambilan sampel orang perlu berhati-hati. Si peneliti juga perlu berhati-hati dalam menguraikan hasil penelitiannya tersebut. Dalam studi kasus, orang perlu hati-hati menarik kesimpulan, yakni bahwa hasilnya terbatas pada kasus tersebut, secara geografis dan sosial. Jangan cepat-cepat membuat generalisasi walaupun tidak mustahil bahwa fenomena tertentu, kalau diteliti, memang terdapat secara meluas di tempat-tempat lainnya. (77)

Ada kalanya terdapat masalah konsep, masalah mutu kuisioner (daftar pertanyaan), mutu wawancara atau mutu pengisian kuisioner, dan juga masalah analisa. Tiap tahap perlu dilakukan dengan hati-hati karena, sekali data sudah terkumpul dan dianalisa, si peneliti akan percaya pada hasilnya, percaya pada tabel-tabelnya. Tidak etis jika dia sendiri kurang percaya kepada angka-angkanya itu dan mengharapkan orang lain percaya. (77)

Karena masalah konsep yang tidak atau kurang dimengerti oleh responden, boleh terjadi kuesioner asal diisi, asal dijawab. Itu juga dapat terjadi kalau, karena suatu hal, dia kurang suka kepada si penanya. Dijawab seenaknya saja. Sebaliknya, jawaban mungkin cenderung terarah kepada jawaban tertentu, apalagi kalau dihadiri pula oleh pamong desa, yang merasa perlu untuk menghadirinya. Jawabannya dia sesuaikan dengan keinginan pamong. (77)

"Bapak ngerjain tanah berapa luasnya?" Responden terkejut dan menjawab: "Saya ngerjain tanah?" Dan suasana wawancara menjadi kurang enak dan ini dapat mempengaruhi obyektivitas jawaban. Sering terdapat jawaban yang menyimpang dari tujuan karena tidak termasuk ke dalam kategori yang dimaksudkan. Untuk menyisihkan jawaban tersebut dipakai istilah NA (not applicable). (78)

Bagi orang miskin pinjaman identik dengan bantuan. Dalam otak mereka hutang dan bantuan menjadi berbaur. Terserah mau diterangkan dengan teori apa. Barangkali bisa dihubungkan dengan teori Kusum Nair tentang aspirasi yang terlalu rendah, dengan David Penny tentang subsistence mindedness, dengan David McClelland tentang need for Achievement (n-Ach) yang pudar. Ahli lain barangkali bilang mereka tidak jauh melihat ke depan. Punya kecondongan yang terlalu besar untuk segera mengkonsumsikan. Tapi Oscar Lewis akan bilang, tanpa tedeng aling-aliing, bahwa doyan berhutang termasuk sebuah ciri kebudayaan golongan miskin, the culture of poverty. Mereka senantiasa terjun ke dalam dunia hutang dengan spontan, kapan saja kesempatan terbuka. Di samping itu suka jual beli barang bekas, membeli makanan dalam jumlah kecil dengan frekuensi yang tinggi. (259)

Kasus ini (tak diberi karcis agar dapat uang lebih) berbeda dengan korupsi tak kentara oleh penjaga palang rel kereta api, yang dituturkan oleh Syed Hussein Alatas. (The Sociology of Corruption, 1975). Konon seorang penjaga palang dengan sengaja terlalu awal menurunkan palang. Siasatnya ini sulit diketahui umum karena kereta memang sering terlambat lewat. Nah, antri kendaraan menjadi lama dan panjang. Banyak di antara mereka yang tertahan di antaranya sopir dan kernet truk, memarkir kendaraannya lalu jajan di warung-warung tepi jalan. Dan di sinilah letak kongkalikongnya. Penjaga palang mendapat komisi dari pemilih warung. Keterlaluan. Akibatnya, terhadap efisiensi, penghambatan transportasi, kekacauan jadwal orang, bukan main. (261)

Untuk kesekian kalinya dia dimintai konsultan. Bakal terjadi pengangguran konsultan kalau dituruti. Sudah berapa kali terjadi, konsultan yang mahal itu kebingungan, tak tahu apa yang mau dikerjakan di tempatnya yang baru. Rekan-rekan setempat sibuk ngobyek, seminar, lokakarya, widyakarya, rapat, mengikuti penataran, memberi ceramah, menjemput tamu, mengantar mahasiswa study tour, dan lain-lain. Tidak diketahui hari apa jam berapa ada di kantor. Dan sebagai barang pajangan yang mulus berulang kali sang konsultan diperkenalkan dengan sopan dan ditanyai: Apakah tuan kerasan di sini? Apakah suka nasi? Apakah sanggup makan sambal? (269)

Nasib Widodo, 18 tahun, sudah mati. Kematian yang konyol dari sebuah kehidupan yang konyol pula. Dia mati tanpa KTP, tanpa orang tua yang kehilangan anak, tanpa Kepala Desa yang kehilangan warga. Tanpa negara yang kehilangan warga negara. Namanya tidak tercantum di daftar mana pun. Dia cuma warga dunia. Soal pemakaman ini membuat Didit Adinanta pusing tujuh keliling. (299)

Matinya lebih mendapat perhatian daripada hidupnya. Matinya lebih terhormat walaupun ibunya tetap belum mengetahui kematian Dodo sampai sekarang. (302)

Untuk macam-macam urusan, kita bergelimang dengan aneka ragam formulir, banyak kuitansi, tanda tangan, stempel, membungkuk-bungkuk, bolak-balik, dan butuh banyak waktu menunggu. Tetek bengek yang menguras waktu dan energi itu tidak ada di negeri maju. Pada dasarnya kita tidak saling percaya. Tapi kita memuji-muji diri dalam hal kekeluargaan, ke-Timuran, tepa selira, gotong royong, tidak individualitis, dan yang muluk-muluk lainnya. Seolah kita lebih peka tentang soal-soal manusia daripada bangsa lain. Kalau kita saling percaya mengapa diperlukan Surat Berkelakuan Baik untuk berbagai urusan? Kita punya praduga bahwa yang bersangkutan tidak baik, kecuali dia dapat membuktikan sebaliknya. Kriteria juga tidak jelas bagaimana yang berkelakuan baik dan bagaimana yang tidak berkelakuan baik. (304)

Mohammad Said Reksohadiprodjo, Ki Ageng Suryomentaraman, Alex Inkeles. 

Judul: Renungan dari Yogya | Penulis: Masri Singarimbun | Penerbit: Balai Pustaka Jakarta | Cetakan: Pertama, 1992 | Jumlah halaman: 305 | Dimensi: 21 cm 

Selasa, 03 Maret 2026

Catatan Buku "Anatomi April" karya Bagus Dwi Danto

Halo Mas Danto, kayaknya sudah lama tidak ngobrol lagi. Terkait apa saja, terlebih terkait musik, musisi yang disingkirkan sistem, musisi pinggiran, buku-buku perlawanan yang menarik untuk ditarik metode survivalnya bagi orang-orang yang hidupnya sering ada di tepi jurang. Obrolan dengan Mas Danto selalu dalam dan sering membuatku berpikir sampai berhari-hari kemudian. Mas Danto sudah seperti saudara tua jauh yang memberiku sudut pandang lain untuk melihat bukan dari pusat sebagaimana orang sering tuju, tapi dari pinggirannya, yang sakit, luka, bopeng, dan ditelantarkan. Mas Danto, kita masih ada imajinasi untuk menulis musisi yang melalui laku hidup seperti Kang Mukti Mukti. Aku akan mengusahakannya lebih serius lagi.

Oh ya, Mas Danto, hari ini ibuku ulang tahun. Ibuku lahir di Blora, 3 Maret 1965. Berarti usianya sekarang 61 tahun. Keren sekali sih ibu, meski sudah empat tahun lebih ini sakit stroke sebelah dan cuma bisa tidur di amben, dia tetap ada semangat untuk hidup. Aku kadang ingin menangis sendiri membayangkan begitu kuatnya dia, sampai-sampai kalau pun aku jadi dia, aku ragu bakal bisa jadi orang yang sekuat dia. Aku menulis ini karena aku tahu, Mas Danto juga sangat sayang pada ibu. Bahkan, buku kumpulan puisi ini Mas Danto persembahkan untuk ibu. Katamu: "Kagem Ibu." Bahasa Jawa Kromo yang berarti, "Untuk Ibu." Mungkin aku tak begitu dekat dengan ibu, tapi beliau sampai kapan pun adalah panutan soal kesabaran bagiku. Lewat tulisan sederhana ini, aku ingin mengucapkan, "Selamat ulang tahun, Ibu. Semoga Ibu sembuh dan bisa sehat lagi, bisa main sama cucu lagi, dan jalan-jalan keliling rumah. Aamiin."

Buku yang ada di tanganku sekarang, yang sampul oranye-nya tertulis judul "Anatomi April", sudah kubaca untuk ketiga kalinya. Pertama, aku membacanya saat main ke Gramedia di Grand Indonesia (GI) Jakarta. Saat aku maraton membaca buku yang sampul plastiknya terbuka. Ah, aku jadi ragu, apakah di GI atau Pacific Place, karena agak-agak mirip vibes-nya. Sebenarnya agak curang karena membaca sampai habis, tapi tidak membeli. Membaca di Gramedia bukan cuma satu, bahkan sampai lima buku, haha. Ya, rata-rata hanya buku yang bisa dibaca sekali duduk. Sebab di tempat lain, kegiatan ini dilarang. Jangankan baca buku sampai habis, buka sampul plastiknya aja gak boleh. Tapi bagi sebagian orang yang gak mampu beli buku, aku akan rela untuk melegalkannya. Aku teringat kata Bernard Shaw, tentu saja, "Dibutuhkan modal tertentu untuk menjalani moral tertentu."

Dan, oh, ternyata pas aku lihat di Goodreads, tanggal 17 April 2022, aku pernah memberikan ulasan begini:

Pada pembacaan kedua, mungkin sekitar beberapa bulan lalu, aku memutuskan membeli buku Mas Danto melalui keranjang oranye. Mas, jujur, baca buku ini tuh seperti mendengarkan lagu-lagu yang ada di album "Woh". Beberapa diksi, frasa, dan struktur metaforanya begitu karib sampai bisa aku nadakan. Kalau mau jujur lagi, banyak puisi yang tidak aku mengerti, dan perlu pembacaan berkali-kali dan sangat slow reading untuk menangkap makna di baliknya. Meskipun buku ini bisa dibaca cepat, pemaknaannya bisa digali bahkan sepuluh tahun kemudian. 

Lalu, pada pembacaan ketiga, ketika aku hendak menulis untuk catatan buku ini.

Ada istilah lain dalam penulisan itu yang disebut "slow-burn", dan buku ini tipe yang begitu. Artinya bukan tipe tulisan yang meledak-ledak terus padam kayak kembang api, tapi pelan, lambat, dan bertahap untuk memahaminya. Mirip kayak bara api, dia gak cepat padam, dan tahan lama. Namun, ada satu tantangan lagi ketika membaca buku Mas Danto ini, bagi orang dengan modal metafora khas puisi yang masih terbatas, pembaca bisa jadi akan tersesat dan tidak paham. Pendeknya, ini sebenarnya mau bicara apa sih? 

Buku ini juga memilih untuk tidak memakai nomor halaman sebagaimana buku-buku lain. Barangkali agar pembaca tidak terbelenggu dengan angka-angka, atau semacam perhitungan kuantitatif: aku sudah di halaman mana? Sudut lainnya, barangkali ini memang strategi agar puisi ini bisa dibaca dari lembar yang mana saja. Secara pilihan huruf juga ditulis dengan kecil semua tanpa kapital. Seolah huruf kecil ingin mengejek si huruf besar, bahwa tanpa huruf besar pun, huruf kecil bisa berdiri.

Secara personal, aku sangat suka dengan judul-judul puisi di buku ini yang menurutku sangat imajinatif, seperti "springbed kebudayaan", "layout libido", dan "republik luka". Kalau kuhitung satu-satu, ada 70 puisi. Hampir di setiap puisi ada ilustrasi khusus yang dibuat oleh perupa bernama Dodi Irwandi. Aku tak akan membahas banyak soal ilustrasinya, tapi lebih pada puisinya. Secara gambar, sebagian besar sudah mewakili. Pesan gambarnya membuat pembaca seperti diajak senam antara makna yang denotatif dan konotatif. 

Aku juga baru ngeh, buku ini kokinya Om Dodo. Aku teringat dengan sosoknya yang ceplas-ceplos dan apa adanya saat dia sering main ke Penerbit Pocer Jogja mirip Mas Eka Wijaya dulu. Di mana saat dulu aku menjadi pekerja di Pocer. Editornya juga Mas Reza Nufa. Penulis buku "Pulang ke Rinjani" yang pernah Mas Danto ceritakan berkelana dari kosnya di wilayah Ciputat ke Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB). Aku juga pernah bertemu dengannya di Kafe Basabasi saat mengantar teman membahas soal perbukuan.

Aku penasaran mengapa judulnya "Anatomi April?" April dalam kepalaku bisa berkorelasi dengan banyak hal: Hari Kartini, bulannya para perempuan selain bukan Desember, April mop, bulan kelahiran adikku dan crush ku dulu (yang aku sadar, aku tidak cocok dengannya karena kami beda dunia, beda energi, semacam air dan minyak). Lalu, anatomi mengingatkanku dengan pelajaran Biologi pas SMA. 

Aku punya beberapa guru Biologi yang menurutku ikonik, salah satunya, sebut saja Bu Ning, rambutnya pendek dan tebal di atas bahu. Wajahnya tegas tapi tetap approachable. Kalau pelajaran dia selalu di Laboratorium Biologi, dan aku masih ingat saat dia menerangkan terkait bab anatomi tumbuhan, hewan, dan manusia. Dia jelaskan secara detail lewat PPT yang dia buat. Tahun 2009 dulu, masih sedikit guru yang menggunakan PPT. Bagiku dia selangkah lebih maju. Aku juga tak lama ini mendapat kabar, jika beliau meninggal. Semoga husnul khotimah.

Kalau refleksi sama ilmu IPA, barangkali aku membayangkan Anatomi April itu secara metaforis merujuk pada segala pengalaman yang terjadi pada Mas Danto saat bulan April. Itu anabel-ku aja sih, alias analisis gembel, wkwk. Yang jelas, antara narasi personal dan kritik sosial coba diulen jadi satu, kemudian dimarinasi jadi puisi-puisi yang menyesakkan hati. Nyaris, tak kutemukan fitur bahagia dalam cerita-cerita yang dibawa oleh puisi-puisi itu. Kecuali mungkin puisi berjudul "Cinta", yang bunyinya: "meski bersampul warna-warni / cinta tetap prolog tanpa koma". Ini pun masih misterius ronanya. Penggembolan kebahagiaan seperti jadi lagu sumbang.

Secara isi, aku menangkap ada beberapa diksi-diksi yang jadi kata kunci: kawan, lawan, keluarga, hidup, mati, sepi, mimpi, ajal, nihil, api matahari, buta, kebudayaan, kiri, restorasi, pucat, lelah, bungkuk, jerit, cakar, lubang, darah, pecah, rebah, spasi, hantu, deru, rahasia, tanya, tanda, toilet, pahit, mahal, air mata, kuasa, tai, nanah, sekam, desis, jerit, berak, kepyur-kepyur, bangkai, hitam, kere, polisi, mitos, penjara, mentok, kering, nisan ... suaka marga sastra ...

Aku menyukai metafora-metafora semacam:

"berat amat mereka mimpi / mungkinkah seperti kita / dan kita adalah tralala"

"sebelum jalan terjamah hasrat / jalan kecil di ujung mulai rintik / termakan tarot" 

"pelan-pelan / manusia membebani / pundaknya sendiri"

"siang ini kupetik setangkai setan di / sebatang hape. hati yang imitasi"

"begitu kerap kemunculan / begitu palsu"

"warung bakmi menyikat rugi dengan / hati-hati. panah putih retak. ada yang / tak sudi pada senja. menanggung / matahari mengunyah aspal. gontai. / kupinjam toilet dari mulutmu"

"kulirik aku. siangku lapar, kumakan / saja teman-teman"

"semakin beragenda / semakin putus asa"

"ketela / tumbuh subur kendati pisah kasur"

"gerobak bakso merampok matahari / dalam mangkuk meremas nalar" 

"ada subuh di apotik berdinding kaca" 

Namun, yang menurutku sangat menarik dari buku ini, sebagaimana yang sudah kutulis di Goodreads, "Mas Danto membawa cara tutur baru, diksi-diksinya unik, tidak linier, dan di berbagai puisi, saya butuh banyak waktu untuk mengartikan beberapa lariknya saja." Jika Chairil Anwar punya model berpuisinya sendiri yang membawa pembaruan, bagiku Mas Danto dalam buku "Anatomi April" ini juga punya literer otentiknya sendiri. 

Terakhir, terima kasih Mas Danto sudah menulis "Anatomi April". 

Judul: Anatomi April | Penulis: Bagus Dwi Danto | Ilustrasi: Dodi Irwandi | Koki Buku: Dodo Hartoko | Penyunting: Reza Nufa | Penerbit: Shira Media | Cetakan: Pertama, 2021 | Dimensi: 14,8 x 21 cm | Jumlah halaman: 124 

Senin, 02 Maret 2026

Catatan Buku "The Lost Library" (Misteri Perpustakaan yang Hilang) karya Rebecca Stead dan Wendy Mass

Perpustakaan gratis Martinville. Perpustakaan di antara balai kota dan rumah sejarah. Ada kubah dengan pintu warna biru yang megah. Aku membaca buku ini dengan hitungan cukup cepat, tidak lebih dari tiga hari kupikir dengan berbagai aktivitas kerja, ishoma, dlsb. Bahasanya cukup mudah dipahami, meskipun sense-nya tetap mirip novel terjemahan yang kerasanya seperti ada jarak yang gak kelihatan ketika itu pindah ke bahasa Indonesia. 

Membaca ini cukup menyenangkan, karena aku membayangkan diriku jadi salah satu karakter di dalamnya agar lebih ada sense terlibat, wkwk. Ya, aku merasa memang di usiaku yang sekarang, kita jadi lebih wise memerankan karakter yang mana. Bayangannya cukup jelas terkait tokoh-tokoh di buku ini. Ada semacam metode menggantung tiap bab, untuk menarik pembaca ke bab selanjutnya. Karena ditulis oleh Rebecca Stead dan Wendy Mass, dua orang yang bergantian, tiap babnya dinarasikan oleh masing-masing POV yang berbeda. Kalau manusia dewasa, dia dari sudut pandang kesatu. Selebihnya, lebih ke POV orang ketiga.

Premis buku ini sebenarnya sederhana: Ada anak kelas V SD yang penasaran dengan misteri perpustakaan gratis bernama Martinville yang pernah terbakar 20 tahun lalu dan menimbulkan korban. Perpustakaan ini dijaga oleh kucing comel bernama Mortimer, semacam kucing oranye gitu kalau di kita. Si kucing punya adik bernama Petunia yang jadi korban kebakaran. Perpustakaan ini juga dirawat oleh Al, singkatan dari Assistant Library. Dia jago memasak, dan sering membuatkan masakan untuk pimpinan perpustakaan bernama Ms. Scoggin, yang punya kekasih bernama Mr. Brock. Saat kebakaran tiba, Ms. Scoggin dan Mr. Brock menjadi korban kebakaran. 

Karakter Al unik. Dia gak punya orang tua, namun diketahui passion terbesar dia ada di perpustakaan. Dia pikir dia udah mati karena selalu mengeluhkan dirinya gak bisa terbang atau menghilang layaknya hantu. Al gak bisa seperti Ms. Scoggin dan Mr. Brock, sampai akhirnya di akhir-akhir buku dia menyadari kalau dirinya terjebak terlalu lama di Martiville, sampai 20 tahun pascakebakaran.

Tak dinyana, korban itu melibatkan ayah Evan si Mr. McClelland, yang punya pseudoname HG Higgins. Si ayah ini cukup unik pekerjaannya, jadi dia memilih jadi penulis yang "gak pengen terkenal", karena menjadi terkenal itu merepotkan. Dia juga gak mau ada wawancara, ceramah buku, penandatanganan massal, dlsb. Cukup hening dengan menjadi penulis "underground". Cara ini juga cukup ampuh agar tetap fokus. Kerjanya di ruang bawah tanah. Si ayah juga punya kebiasaan aneh suka nggusak tikus yang dianggap mengganggu ke tempat yang lebih layak. Dia pecinta tikus, itu kenapa dia tak ingin menyakiti tikus dan tak ingin melihat tikus mati dibunuh.

Pas kebakaran itu, ayah Evan jadi anak magang yang kesepian dan gak punya teman. Kebetulan dia juga ada di ruang bawah tanah untuk nata buku-buku yang habis dibaca. Ayah Evan ingin ngasi tahu ke Evan terkait dirinya yang masih merasakan trauma saat Al menolongnya keluar dari asap, kemudian media juga seolah menyalahkannya. Tapi karena ayah Evan di bawah umur, dia gak kena hubungan. Ayah Evan selalu menghindar ketika ditanya soal kebakaran. Namun, Evan dengan bukti-bukti buku terkait cara menulis novel misterius, hingga buku personal yang sampulnya sobek-sobek karena dibaca berulang kali dengan foto Polaroid di dalamnya, membuat Evan menjadi sosok Sherlock Holmes baru. 

Evan menguak misteri itu dengan kawannya bernama Rafe. Karakter Rafe ini sebenarnya pemberani dan rebel, karena ortunya sangat protektif, gak boleh ini itu. Bahkan untuk menyeberang pun, perlu temannya. Dia dan ortunya bikin kesepakatan: setelah di SMP, seluruh aturan yang mengekang akan dibebaskan. Sehingga si Rafe sangat menanti masa-masa "pembebasan" itu. Dan saat itu tiba, Evan mengajak Rafe untuk menguak misteri kebakaran Martiville dengan menaiki sebuah rumah pohon tempat foto Polaroid diambil. Foto ini dia temukan di dalam buku yang ada di Martinville. Setelah penuh perjuangan naik rumah pohon yang dianggap angker itu, ketahuan kalau foto itu adalah foto gurunya, Mr. O'Neal, wkwk, yang tak lain adalah teman ayah Evan di masa lalu. 

Kadang Evan merasa ayahnya, meskipun lahir di area Ville, susah buat sosialisasi dengan lingkungannya sendiri. Sementara ayah Rafe yang pendatang, sudah tinggal 10 tahun, malah dikenal oleh siapa saja. Ini cukup kena di aku sih, haha. Terus juga, si Rafe ini bilang dan yakin, keyakinannya ini ditunjukkan dengan bahasa yang bagiku cukup memukau, semisal, bahkan untuk sampai seratus kematian sekalipun rasa-rasanya ayah Evan gak mungkin jadi pelaku yang membakar perpustakaan. 

Penyebab kebakaran pun aneh. Polisi juga tidak begitu menemukan kepastiannya. Sampai akhirnya, berkat kucing dan para tikus keluarga F yang beratraksi, mereka seolah mau bilang, kalau sebenarnya akibat kebakaran itu karena para tikus yang gak sengaja semacam bawa batang korek api, terus ketika gerak, itu bagian mesiunya tergores ke benda-benda di sekitarnya, dan apesnya dekat dengan buku, sehingga, terbakar deh.  

Kelemahannya, aku ngrasa ketidaksadaran Al itu terlalu dibuat-buat, kek hello? Emang bisa orang halusinasi selama itu? Tinggal sendiri dengan dua hantu yang akhirnya lepas karena mau nonton bioskop? Kan aneh. Terus kadang juga tempo-temponya cukup lambat, dan ada bagian-bagian bab tertentu yang kalau itu dihapus pun gak masalah sih. Misal yang soal kakak kelas Evan yang kakinya jadi agak pincang setelah naik dari rumah pohon. Karena pas baca, karakter ini kek muncul tiba-tiba.

Terakhir, kalau butuh bacaan ringan dan mayan imajinatif. Kamu bisa baca buku ini. Karakter-karakternya juga cukup warm. Banyak kutipan yang menarik juga.  

KUTIPAN:

Awan sirus selalu berada di atas, tidak pernah di bawah. Bagiku, awan itu terlihat seperti bulu, rasanya seperti cokelat panas, dan baunya seperti semprotan serangga. Awan sirus bisa bergerak dengan cepat. (24) 

Mortimer, Evan, Goldie/Sunshine, Al (Assistant Library), Mr O'Neal, Rafe, Edward McClelland, HG Higgins, Ms Scoggin, Mr Brock....

Suara ketukan kibor melayang naik dari tangga. 

Asisten perpustakaan di Perpustakaan Martinville, 

Mr Block paling suka menemukan keberanian dalam buku. (49) 

Ia sudah berkeringat dan telah menghemat waktu tujuh menit. (59) 

Menjadi Pembaca Hebat tidak ada hubungannya dengan membaca buku-buku rumit, atau membaca buku-buku tebal, atau bahkan membaca banyak buku. Menjadi Pembaca Hebat berarti merasakan sesuatu tentang buku. (69) 

Aku tidak kecewa ketika orang lain tidak menyukai buku-buku yang kusukai. (71) 

Pagi ini aku bangun dan bertekad menjadikan hari ini hari yang baik. (90) 

Namun, bukankah "orang tua" adalah sumber kehidupan? Jika hidup adalah garis, yang mengarah ke suatu tempat, bukanlah orangtua adalah titik awalnya? (92) 

Buku tidak akan habis. Buku mendapatkan tenaga dari pembancanya, bukan? Mereka bisa dibaca lagi dan lagi. (94) 

Bagiku, perpustakaan itu selalu terlihat seperti raksasa kotor yang tangannya diikat ke belakang. (95) 

Perluasan besar kedua dari perpustakaan kecil gratis Martinville berbentuk gerobak merah tua yang ditarik dua siswa kelas tiga: Jessica dan Winnie D. (96) 

Menurutmu, apakah ada yang namanya dokter hantu? Bagaimana pula aku bisa memanggilnya? (98) 

Mortimer menyukai Winnie D. Tidak masalah jika anak itu lebih menyukai anjing dan kuda daripada kucing. Mortimer menyukai perpustakaannya. Ia merawatnya dengan baik. (100) 

Setiap kali membaca buku baru, dia membangun ruangan baru di dalam pikirannya. "Saat ini aku memiliki banyak sekali ruangan di sini," katanya, sambil mengetuk-ngetuk bagian di atas telinga kiri, "tetapi selalu ada tempat untuk satu buku lagi." Setelah itu, setiap kali menatap mata cokelatnya yang bersinar, aku membayangkan rumah yang sangat besar dan indah di balik mata tersebut... Aku membangun ruangan demi ruangan dalam pikiranku... Rumah yang kubangun sendiri dengan membaca banyak buku, dengan bantuan Ms. Scoggin, dan bantuan baterai-baterai senter, yang ternyata, seperti yang sudah dijelaskan manajer panti asuhan, harganya cukup mahal. (102) 

Bayangkan ada pembaca yang sedang mencari buku dan hanya menemukan ruang kosong di antara buku lain, seperti gigi ompong akibat dipukul perundung. (125) 

Mereka terus membayangkan setiap hal buruk yang mungkin terjadi. Aturan membuat mereka merasa jauh lebih baik. (135) 

Rafe tidak butuh orang lain mengetahui hal itu. (136) 

Judul: The Lost Library (Misteri Perpustakaan yang Hilang) | Penulis: Rebecca Stead dan Wendy Mass | Editor: Vania Adinda | Penerjemah: Reita Ariyanti | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta |  Cetakan: Kedelapan, Oktober 2025 | Jumlah halaman dan dimensi: 240 hlm, 20 cm

Minggu, 01 Maret 2026

Catatan Buku "Time is More Valuable Than Money: Dampak Transportasi pada Hidup Kita" karya Yoris Sebastian

Aku membaca buku ini ketika waktu sahur. Sebenarnya aku tak begitu bisa tidur nyenyak. Barangkali, aku perlu memprioritaskan tidur nyenyak 8 jam setiap hari sebagaimana yang Yoris praktikkan dalam hidupnya. Buku ini kubaca relatif cepat, kurang lebih dua jam sudah selesai. Mungkin karena bahasanya yang enak diikuti, meskipun informatif, di aku sangat masuk. Apalagi dia ngutip ide wartawan Amerika, Christopher Morley, yang menarik juga, "When You sell a man a book, you don't sell him just twelve ounces of paper and ink and glue -- you sell him a whole new life." Kurasa ini yang diberikan sama buku-buku yang kubaca.

Berkat buku ini, aku jadi paham terkait sejarah transportasi di Indonesia. Dari pas masa Orde Lama, Orde Baru, reformasi, sampai lanjutannya sekarang ini. Premis buku ini sebenarnya sederhana juga, penulis mau menunjukkan kalau waktu itu lebih berharga daripada uang berdasarkan kacamata mode transportasi yang kita gunakan sehari-hari. Hidup di tempat kerja yang jauh dari tempat tinggal itu suatu PR besar, karena gak hanya menyangkut kesehatanmu, tapi juga waktumu. Waktu yang gak bisa diganti, diperbanyak, dan dikembangbiakkan kayak komoditas kapitalisme yang lainnya.

Penulis mencontohkan ada kawannya seorang konsultan yang hidup di kota satelit, sementara kantornya katakanlah di distrik bisnis Jakarta. Pergi-pulang sudah berapa jam, tapi pas mutusin pindah, kualitas hidup jadi berubah. Dia bisa jadi punya banyak waktu sama keluarga. Lalu, karena dekat, juga enak. Praktik-praktik serupa banyak contohnya. Yoris juga ngasi semacam log book yang bisa diisi oleh pembaca terkait alokasi waktu yang bisa digunakan dalam 24 jam.

Namun, ada semacam titik buta juga menurutku, ya, itu masuk akal, tapi masalahnya kupikir lebih kompleks daripada sekedar transportasinya. Tapi juga gimana struktur kapital, modal, kelas sosial, dan finansial bekerja. Untuk buruh yang di bawah UMR itu gak ada pilihan lain. Mungkin Yoris atau kawannya bisa bacot gitu karena secara finansial udah settle, sehingga mereka punya banyak pilihan. Bagaimana dengan kelas sosial lain, kaum pinggiran yang tak punya banyak pilihan? 

Sudahlah, itu bahasan lain, aku tertarik dengan sejarah transportasi yang kita temui sehari-hari. Sebab aku menerimanya secara take it for granted saja, tanpa mempertanyakannya lebih jauh. Yoris ngutip pendapat Buya Hamka, intinya, kalau dulu kita ibadah ke Makkah bisa sampai dua bulan, sekarang berkat teknologi bisa ditempuh selama 9 jam saja. Ini berkat bantuan yang namanya "transportasi". Jadi, transportasi itu bagian dari revolusi sebenarnya. 

Aku jadi punya asumsi, revolusi itu emang cara manusia memanfaatkan waktu. Semakin dia cepat, efektif, dan efisien; maka manusia lebih punya banyak waktu untuk menikmati hidupnya--atau justru lebih sengsara dan teraleniasi? Bukan soal transportasi aja, misalnya juga soal AI. Alat itu benar-benar menggunting waktu boros yang kita gunakan untuk kegiatan yang lebih produktif. Sebagaimana yang kayaknya udah jadi common sense, masyarakat Indonesia itu boros waktu, jamnya pun jam karet.

Yoris di buku ini juga ngulas soal problem kemacetan di Jakarta yang menyebabkan stres. Kemudian didukung sama inovasi transportasi. Di zaman dulu, kita semisal mengenal delman, yang itu ternyata berasal dari bahasa Belanda, dan ditemukan oleh Charles Theodore Deeleman. Dulu kendaraan ini cukup elite, tapi sekarang lebih difungsikan untuk kegiatan yang sifatnya rekreatif. Lanjut dengan sepeda, dari yang rodanya satu, atau model sepeda Baron Karls Davis, sampai sepeda yang kita jumpai sekarang.

Dari sepeda, terus beranjak ke motor. Sebuah inovasi yang salah satunya digerakkan oleh Edward Butler di tahun 1885. Sementara, di Indonesia sendiri, motor pertama itu ada pada tahun 1898. Kalau kamu bayangin itu agak mirip-mirip sama property film jadul di masa dulu. Terus lanjut ke becak yang ditemukan pada tahun 1869 di Jepang. Yoris juga lihat rickshaw pertama kali pas baca Tintin. Nah, problem bencak itu bagiku cukup kompleks, karena dianggap sebagai pekerjaan yang tidak manusiawi. Soekarno juga pernah menghina ini di tulisan scholar Jepang. Di Jakarta, ternyata ada alat transportasi yang bagiku udah punah, macam helicak (helipad + becak).

Di buku lain, aku malah membaca kalau rickshaw itu digeret pakai tangan! Ini terjadi di Kolkata, India. Menariknya, malah pelakunya sendiri merasa pekerjaan ini lebih bermartabat. Gajinya lebih tinggi daripada dia ikut orang disuruh-suruh, sementara di rickshaw, cukup selow sambil tidur-tidur juga gak masalah. Bahkan mereka menyalahkan pemerintah yang gak menyediakan transportasi yang proper buat masyarakat yang dianggap pekerjaannya "tak manusiawi" itu.

Berlanjut, mode transportasi lainnya ada becak motor (bemo) dan oplet. Baca ini, yang kebayang itu filmnya si Doel. Terus juga transportasi modern di era sekarang, Yoris lebih banyak membahas lebih cepat lagi, seperti trem dan kereta api. Tapi gak terlalu bahas teknologi, misal pintu ke mana sajanya Doraemon. Atau baling-baling bambu untuk terbang.

Sementara untuk tranportasi modern di era sekarang, Yoris lebih banyak bahas sistem. Misal untuk mengatasi kemacetan, dia bahas ada perkumpulan nebeng gitu. Juga, lebih ke transportasi umum yang bisa digunakan secara inklusif semacam Transjakarta (TJ). Atau yang lain ada shuttle, Yoris juga membagikan mode di negara lain seperti lyft rideshare service, bicycle sharing system yang biasa kutemukan di UI, city water transportation, jadi macam taksi air gitu, sampai intelligent transportation system (ITS). 

Di bab lainnya, Yoris bahas terkait kemungkinan transportasi di masa depan. Jadi sistemnya lebih terintegrasi gitu, kayak yang dia temukan di Bandara Kualanamu Medan. Aku sempat mau ketinggalan pesawat pas ke sini, wkwk. Dia nawarin semacam very fast transportation macam kereta cepat yang sudah bisa kita nikmati di Kereta Cepat Bandung. Termasuk juga usulan seputar panoramic transportation, atau kereta wisata yang sangat mahal itu. Dan ternyata, Indonesia punya: Kereta Wisata Nusantara, Kereta Wisata Bali, dan Kereta Wisata Toraja. Dari buku ini, aku bermimpi suatu hari bisa menjajal naik Glacier Express dan The Pride of Africa, yang bisa jalan-jalan lihat panorama negeri dongeng di Eropa dan Afrika.

Di akhir bab buku, Yoris nekanin kalau harusnya dengan mencermati transportasi yang kita gunakan, kita bisa menghemat waktu kita untuk hal-hal yang lebih  bermakna dalam hidup kita. Mengutip kata Yoris, "Ukuran penting bagi orang yang satu dengan orang yang lain pasti berbeda. Namun saya coba paparkan beberapa hal yang penting untuk saya pribadi. Dengan mempunyai banyak waktu, sya punya 'extra time' to be HEALTHY, to be HAPPY, and to be WEALTHY. Ya, tiga hal ini penting buat saya. Itulah yang menjadi alasan kenapa saya harus menghindari pemborosan waktu."

Yang intinya: extra time to be healthy, extra time to be happy, and extra time to be wealthy

Mari kita lebih memberi perhatian pada transportasi yang kita gunakan.

Judul: "Time is More Valuable Than Money: Dampak Transportasi pada Hidup Kita" | Penulis: Yoris Sebastian | Editor: Mirna Yulistianti | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta | Cetakan: Pertama, November, 2013 | Jumlah halaman: vii + 148

Jumat, 27 Februari 2026

Catatan Klenik Studies Vol. IX Edisi 26 Februari 2026: "Kanuragan dan Ilmu Hitam"

I. Pembukaan Diskusi

Klenik Studies Vol. IX pada tanggal 26 Februari 2026 mengangkat tema “Kanuragan dan Ilmu Hitam.” Diskusi ini diikuti oleh Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurizky Adhi Hutama, dan Isma Swastiningrum. Forum dibuka dengan tagline Klenik Studies: “membahas klenik dengan cara yang tidak-tidak.”

Tema kali ini berangkat dari pertanyaan tentang bagaimana ilmu kanuragan dicari, dilatih, diwariskan, dan dimanifestasikan. Diskusi bergerak dari pengalaman personal dalam perguruan silat, praktik tenaga dalam, kitab dan mantra, hingga refleksi teoretis tentang sihir perang dan resistensi kolonial. Ilmu kanuragan tidak pernah berdiri hanya sebagai teknik bela diri. Ia selalu bersentuhan dengan spiritualitas, moralitas, ambisi duniawi, hingga struktur sosial.

II. Tubuh, Nafas, dan Progresi Ilmu Kanuragan

Akbar membuka refleksi dari pengalamannya bersentuhan dengan dunia kanuragan. Ia membandingkan konteks Kalimantan dan Jawa. Menurutnya, cerita praktik kanuragan di Kalimantan (Dayak) cenderung lebih sekretif, sementara di Jawa ilmu-ilmu semacam ini lebih sistematis karena keberadaan banyak perguruan.

Ia mengamati progresi yang relatif serupa dalam perguruan kanuragan: dari olah tubuh, olah nafas, dilanjutkan ke tahap mental dan kesadaran. Tenaga dalam disebut memiliki banyak kesamaan dengan tradisi Tiongkok dan India kuno: konsep energi yang disimpan di bawah pusar (dantian), serta paralel dengan kundalini. Dalam konteks Indonesia, pengolahan ini sering dikombinasikan dengan unsur lokal dan Islam, termasuk penggunaan rajah berbahasa Arab. Menariknya, meskipun simbol berubah, klaim kesaktian tetap dianggap konstan.

Sulkhan mengonfirmasi pola serupa dari pengalamannya di lingkungan perguruan silat Jawa Timur. Fase awal menitikberatkan pada fisik dan teknik pertempuran. Tenaga dalam baru diajarkan kemudian, lengkap dengan kitab dan mantra yang merupakan campuran Jawa-Islam—termasuk konsep papat limo pancer dan kode-kode Arab. Tubuh menjadi pintu masuk menuju spiritualitas. Fisik bukan lawan dari metafisik, melainkan fondasi menuju tahap berikutnya.

III. Energi, Manifestasi, dan Ambisi Duniawi

Diskusi beralih pada fungsi dan motivasi pencarian ilmu. Sulkhan menyebut bahwa pada fase awal belajar kanuragan, dorongan utama adalah mencari kekuatan. Ketika kitab dan amalan mulai dikuasai, kekuatan itu dipercaya dapat dimanfaatkan untuk: pengobatan, meningkatkan wibawa, hingga mendekati perempuan.

Ia bahkan menyebut pengalaman empiris di mana 8 dari 10 target perempuan berhasil didekati oleh praktisi yang dianggap memiliki kanuragan, meski secara fisik tidak terlalu menonjol. Di sini, ilmu berfungsi sebagai kapital simbolik dalam pergaulan.

Praktik lain yang muncul adalah berburu keris atau jimat untuk melacak sejarah personal—menghubungkan diri dengan figur seperti Jaka Tingkir. Kanuragan menjadi medium untuk membangun narasi identitas dan otoritas sosial.

Akbar menambahkan konsep “krah” (energi) yang pernah dijelaskan gurunya. Ketika energi terbuka, manifestasinya bisa beragam dan memang bisa jadi kenyataan—dari memikat lawan jenis hingga efek destruktif. Ia memberi contoh ekstrem: beras yang dimakan ayam hingga mati sebagai bentuk manifestasi energi terbuka. Ia bisa diarahkan pada pengendalian diri, tetapi juga pada ambisi duniawi.

IV. Rajah, Disiplin Moral, dan Paralel Asia Tenggara

Isma lalu mengaitkan diskusi rajah dengan praktik tato sakral Thailand, yaitu Sak Yant. Sak Yant adalah tato sakral berisi mantra Pali, simbol geometris (yantra), serta figur seperti harimau, Hanuman, atau Garuda. Ia biasanya ditato oleh biksu atau ajarn (guru ritual). Fungsinya meliputi: perlindungan tubuh, penambah karisma dan wibawa, hingga kekuatan kebal.

Namun, kekuatan ini tidak gratis. Pemakai harus menjaga sila tertentu, paralel dengan Five Precepts Buddhis: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berbohong, tidak mabuk. Beberapa ajaran menambahkan pantangan khusus. Jika dilanggar, kekuatan dipercaya melemah. Praktik ini paralel dengan puasa mutih, laku tapa, serta pantangan sebelum menerima ilmu dalam kanuragan, di mana kekuatan selalu mensyaratkan disiplin moral.

Isma juga membahas ke praktik ilmu hitam yang paling populer di Indonesia: santet. Dalam narasi populer, santet dipercaya bekerja melalui: Media benda (paku, kaca, rambut, foto); Perantara roh atau jin; Ritual malam hari; Peran dukun. Korban sering dilaporkan mengalami sakit misterius, mengeluarkan benda dari tubuh, gangguan mental, atau nasib buruk bertubi-tubi. Secara antropologis, santet kerap muncul dalam konteks konflik ekonomi, kecemburuan sosial, dan rivalitas politik lokal. 

V. War Magic, Agama Prajurit, dan Politik Perlawanan

Untuk memperluas horizon teoretis, Isma merujuk pada buku War Magic: Religion, Sorcery, and Performance suntingan Douglas S. Farrer. Buku ini mengkaji “war magic” dan “warrior religion” secara antropologis—yakni bagaimana sihir dan ritual dipakai dalam konteks kekerasan, pertahanan, konflik sosial, dan resistensi kolonial.

Beberapa contoh kasus dalam buku tersebut antara lain: (a) Tangki war magic di Singapura, (b) Inisiasi ritual Jawa dan konsep invulnerabilitas, (c) Black magic di Sumatra, (d) Ritual dan keyakinan dalam gerakan Tamil Tigers, (e) Shamanisme di Venezuela, (f) Revitalisasi spiritual Chamorro sebagai resistensi kolonial, (g) Buddhisme Tantra dan perang defensif di India.

Buku ini tidak hanya bertanya apa makna sihir, tetapi apa yang dilakukan sihir dalam kehidupan sosial: bagaimana ia menciptakan keberanian, legitimasi, solidaritas, teror, bahkan melawan kolonialisme.

Menanggapi Isma, Akbar kemudian memperluas pembahasan pada dimensi historis dan politis. Penggunaan kata-kata suci sebagai medium kekuatan radial mengingatkannya pada tesis Ian Wilson dalam buku Politik Tenaga Dalam: Praktik Pencak Silat di Jawa Barat.

Menurut pembacaan tersebut, tenaga dalam tidak hanya fenomena spiritual, tetapi juga terkait gerakan sosial dan perlawanan kolonial. Dari bela diri fisik, praktik ini berkembang menjadi medan spiritual perlawanan. Spiritualitas menjadi strategi menghadapi dominasi, bukan sekadar latihan batin.

VI. Sensitivitas, Visualisasi, dan Interaksi dengan “Alam Sebelah”

Nurizky mengaku tidak mengikuti perguruan formal. Praktik yang ia ceritakan lebih berbasis visualisasi dan fokus mental. Dalam konteks menarik lawan jenis, ia menggambarkan proses memfokuskan pikiran hingga sosok yang ditargetkan “terngiang-ngiang,” bahkan mengirimkan imajinasi makhluk tertentu agar respons meningkat. Di sini, kekuatan tidak dipahami sebagai mantra formal, melainkan sebagai intensifikasi konsentrasi dan proyeksi mental.

Pengalaman lain muncul dalam konteks kesurupan. Ia membayangkan menarik sesuatu dari tubuh orang yang kesurupan, mengajak entitas berdialog, sampai makhluk halus tersebut keluar. Atau pengalaman mengeluarkan gangguan rumah yang singup saat dirinya menjalani KKN. Nurizky lalu membangun semacam “kubah energi” yang diperluas bersama teman-teman untuk mendorong gangguan keluar dari lokasi rumah. Ia menyebut sensasi medan energi yang padat namun tak terlihat.

Ia juga mengisahkan pengalaman intuisi atau “warning”: dorongan untuk menghindari jalan tertentu, pulang lebih dulu sebelum acara di klenteng, hingga visualisasi orang-orang yang memusuhinya sedang berkumpul. Feeling semacam ini dipahaminya sebagai sensitivitas tertentu, meski ia sendiri menyebutnya dengan nada percaya-tidak-percaya.

Dalam konteks personal, Nurizky mengakui pernah memvisualisasikan seseorang yang menurutnya sudah bertindak menyakiti orang lain. Ia menyebut nama dan tanggal, membentuk entitas seperti dementor dalam Harry Potter—bukan untuk membunuh, tetapi untuk menakut-nakuti. Ada ambivalensi antara ingin membalas, tetapi tetap membatasi. Motifnya lebih pada ingin diingat, punya andil dalam kehidupan orang tersebut. Visualisasi kembali menjadi teknik kunci—bukan sekadar imajinasi liar, tetapi intensifikasi emosi menjadi bentuk simbolik yang diarahkan.

Akbar menanggapi bahwa interaksi dengan “alam sebelah” memang mensyaratkan sensitivitas. Ada orang yang terbentuk secara natural, ada pula yang dilatih melalui semedi, puasa mutih, dan pantangan. Visualisasi menjadi tahap awal sebelum energi diarahkan ke bentuk tertentu.

VII. Keturunan, Transfer Energi, dan Ikatan Guru–Murid

Pembahasan kemudian bergeser pada aspek keturunan dan pewarisan energi. Nurizky menyebut adanya pantangan keluarga seperti larangan naik Gunung Lawu, serta narasi bahwa dari sekian cucu, “turun” kekuatan tertentu kepadanya. Ia mempertanyakan mengapa dirinya yang menerima, dan mengakui dampaknya pada ketidakstabilan mental.

Ia juga menyebut penggunaan benda simbolik sebagai pelindung, misalnya gundam yang diletakkan untuk “menjaga” ruangan. Dalam tradisi lain, ia menyebut simbol-simbol tertentu dalam cabang ilmu injilogi (misalnya simbol Mikael) yang digunakan untuk perlindungan atau menangkal ilmu hitam. Di sini, simbol menjadi medium koneksi.

Akbar memperluas bahwa pewarisan tidak selalu berbasis darah. Dalam praktik tenaga dalam di Indonesia, ada periode tertentu ketika murid mewarisi energi dari guru—semacam distabilisasi energi agar dapat digunakan. Pola ini, menurutnya, juga ditemukan dalam tradisi Tiongkok kuno: transfer pola energi dari guru ke murid.

Dengan demikian, garis transmisi bisa melalui keluarga atau melalui relasi pedagogis. Energi membangun jejaring sosial: ada keterikatan sesama pengguna, membentuk komunitas tak kasat mata.

VIII. Imajinasi, Keyakinan, dan Tubuh sebagai Medium

Sulkhan merefleksikan pengalaman yang berhubungan erat dengan imajinasi dan keyakinan. Dalam perguruan, keyakinan dianggap krusial. Ia memberi contoh memecahkan bata dengan kepala, atau menahan pukulan tanpa rasa sakit.

Kanuragan dipahami sebagai menarik tenaga alam melalui pernafasan, lalu menjadikan tubuh sebagai medium entitas tertentu. Dalam beberapa praktik, visualisasi mengambil bentuk hewan—mode kera atau gorila—meski ia menekankan bahwa ini dipahami sebagai energi alam, bukan jin. Namun antarperguruan berbeda-beda pendekatannya.

Visualisasi juga digunakan dalam penyembuhan: membayangkan penyakit diangkat keluar dari tubuh. Bahkan dalam konteks menarik lawan jenis, imajinasi diarahkan agar target jatuh cinta. Meski begitu, ia mengakui tidak semua orang berhasil memanifestasikan bentuk tertentu—misalnya ia tidak pernah berhasil masuk “mode monyet” seperti teman-temannya.

Akbar menegaskan bahwa meyakini sesuatu adalah proses universal. Energi dianggap mengelilingi tubuh; tahap awal adalah melatih sensitivitas dan visualisasi, lalu mengontrol arah dan bentuknya. Ia melihat Nurizky dan Sulkhan berada pada level sensitivitas tertentu. Pada bagian ini, diskusi memperlihatkan bahwa kanuragan bukan sekadar mantra, melainkan latihan persepsi dan sugesti yang terinternalisasi pada tubuh.

Sulkhan dan Akbar kemudian berbagi pengalaman yang mereka sebut sebagai “games” perguruan. Sulkhan mengisahkan telur ayam Jawa yang tidak bisa dipecahkan meski dicengkeram sekuat tenaga setelah diberi “kanuragan.”

Akbar menyebut permainan memindahkan keseleo ke tubuh orang sehat atau menjatuhkan kelapa dari pohon sebagai bagian dari latihan. Demonstrasi semacam ini berfungsi sebagai pembuktian kolektif dan penguat keyakinan anggota.

IX. Maskulinitas, Kuasa, dan Dimensi Gender

Isma mengangkat dimensi gender dalam kanuragan dan persilatan. Ia melihat praktik ini maskulin dan patriarkis: berkaitan dengan kejantanan, kekuasaan lokal, otoritas informal, figur jawara, hingga penaklukan perempuan.

Sebagai pembanding, ia menyebut figur kuyang dalam folklor Kalimantan—makhluk yang diasosiasikan dengan kecantikan dan keawetmudaan, namun mengambil korban ibu hamil yang mengandung seorang anak untuk dijadikan tumbal.

Nurizky membuka dengan kisah tentang perkuyangan sebagai turunan. Ia menyebut ada orang yang tidak sadar bahwa dirinya keturunan kuyang, lalu menolak ilmu tersebut. Penolakan itu justru menciptakan ketegangan antara “ilmu” dan tubuhnya sendiri. Ada gambaran garis di leher, simbol bahwa ilmu tersebut tidak benar-benar lepas.

Akbar menanggapi dengan menarik paralel pada figur seperti Elizabeth Báthory yang dalam legenda dikaitkan dengan obsesi kecantikan dan keabadian. Ia melihat bahwa jika kanuragan maskulin cenderung mengejar power dan dominasi, maka praktik yang diasosiasikan dengan feminin sering berkisar pada kecantikan dan keawetmudaan.

Refleksi pun muncul: dari tujuan yang dikejar suatu praktik spiritual, kita bisa membaca nilai apa yang dianggap penting oleh gender dan masyarakat tertentu.

Diskusi kembali ke soal gender. Akbar mengakui jejak patriarki di perguruan kanuragan masih kuat. Di tempatnya tidak ada perempuan. Di sisi lain, Sulkhan menyebut di perguruannya ada perempuan, tetapi sangat minim dan perempuan yang mengikuti cenderung berkarakter maskulin. Latihannya semi-militer: push-up dengan kepalan tangan, fisik keras, disiplin tinggi. Latihan ini memberi rasa percaya diri sebagai laki-laki, seperti disiplin bertarung, disegani, tidak dibully

Menariknya, Sulkhan berefleksi, praktisi kanuragan tidak benar-benar merasa sedang “meninggalkan dunia.” Justru merasa sedang meraih dunia: meraih posisi, pengakuan, dan identitas. Akbar lalu menanggapi, mungkin yang dikejar bukan hanya kekuatan, tetapi identitas dan teman: baik secara spiritual maupun sosial.

X. Power, Pantangan, dan Paradoks Keduniawian

Akbar menarik kesimpulan awal: pencarian kanuragan selalu berkaitan dengan power. Namun untuk mengejar power itu, diperlukan pantangan, pengorbanan, dan disiplin yang justru menuntut menjauh dari keduniawian. Di sini muncul paradoks: Puasa dan laku prihatin untuk tidak terikat dunia, tetapi ilmu dipakai untuk menarik lawan jenis, menaikkan status, atau mengejar otoritas

Sulkhan menambahkan bahwa mantra seperti sedulur papat limo pancer berfungsi sebagai “password” untuk mengakses energi alam. Ia bahkan membandingkannya dengan segel tangan dalam Naruto—kode tertentu untuk mengeluarkan kekuatan pada level tertentu.

Namun di Jawa Timur, praktik pencak silat seperti PSHT, Pagar Nusa, dan Merpati Putih bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga membentuk fraksi sosial. Silat menjadi identitas, mitologi diri, sekaligus alat proteksi dari bullying. Ada rasa aman karena orang lain berpikir dua kali untuk berhadapan. Belajar kanuragan yang dulu dibingkai sebagai perlawanan kolonial, dalam konteks kontemporer bisa berubah menjadi produksi identitas gagah, mencari musuh agar kepahlawanan tetap relevan.

XI. Skeptisisme, Ilmu yang Asli, dan Batas Manusia

Sulkhan mulai mempertanyakan konsistensi praktik etis dalam kanuragan. Ada doktrin bahwa anggota level tertentu tidak boleh banyak dosa, tidak maksiat, tidak minum. Namun ia melihat banyak yang melanggar tetapi tetap mengklaim sakti.

Ia menyaksikan praktik yang terasa performatif. Narasi spiritual yang ternyata juga bisa ditemukan di Google. Ini memunculkan keraguan: Apakah kekuatan itu nyata atau sekadar performa sosial?

Isma menegaskan kecenderungan semakin tinggi ilmunya, semakin tidak performatif. Akbar mengonfirmasi, praktisi yang punya kekuatan dalam tidak arogan. Ia merefleksikan perjalanannya sendiri—awal yang patriarkis dan penuh ambisi, tetapi seiring mastery, motivasi berubah menjadi pengendalian diri dan perbaikan diri. Pada tahap lebih tinggi, orientasi bisa bergeser menuju realitas yang lebih tinggi, yaitu menuju Tuhan, dengan bahasa masing-masing tradisi. Namun, tetap ada risiko jatuh ke duniawi.

Nurizky mengakui pernah merasa punya kekuatan lebih, pernah meremehkan orang lain karena merasa lebih “tebal.” Tetapi pengalaman membantu orang justru memperlihatkan keterbatasan. Energi cepat habis. Membantu beberapa orang saja sudah menguras fisik; tarot pun hanya bisa mendalam pada dua-tiga orang sebelum tubuh terdampak.

Dia juga memiliki pengalaman sensitivitas terhadap kematian: feeling kuat sebelum kakak angkatnya meninggal, kakak angkatnya selama tujuh hari berturut-turut meminta ditemani. Lalu juga ada insiden menyenggol guci yang terasa sebagai tanda. Sensitivitas terkadang menurutnya bukan selalu anugerah; tapi membawa kekhawatiran dan beban.

Akbar kembali pada paradoks: semakin tinggi ilmu, justru semakin biasa hidupnya. Guru-guru tenaga dalam hidup normal, tidak performatif. Bahkan ada anggapan semakin tinggi ilmu, semakin jauh dari kekayaan sebagaimana yang pernah dikatakan gurunya Sulkhan. Dukun sakti bisa membuat klien kaya, tetapi dirinya sendiri miskin. Realitas ini memunculkan ironi: menguasai sesuatu yang melampaui manusia, tetapi hidup tetap biasa, bahkan sederhana.

Pertanyaan reflektif dari Akbar juga muncul: Mengapa orang memilih jalan pantangan dan laku berat untuk menyelesaikan masalah? Mengapa tidak langsung menggunakan kekerasan fisik jika tujuan akhirnya sama? Apa motif terdalamnya? Apakah kontrol, identitas, pengakuan, atau transendensi?

Sulkhan mengakui bahwa masa remaja dengan hormon tinggi mendorong pencarian kekuatan yang melampaui diri. Kini ia melihat kanuragan sebagai salah satu cara produksi kekuatan, seperti produksi pengetahuan dalam dunia akademik.

XII. Penutup dan Resonansi Diskusi

Dari seluruh diskusi, muncul beberapa simpul refleksi:

Pertama, kanuragan selalu berangkat dari tubuh, tetapi tidak pernah berhenti pada tubuh semata. Ia tidak bisa dipahami hanya sebagai praktik mistik yang bersifat individual, melainkan sebagai fenomena sosial yang menghubungkan tubuh dengan moralitas, kekuasaan, identitas, dan sejarah.

Energi atau kekuatan dalam kanuragan bersifat ambivalen: dapat diarahkan untuk pengendalian diri, tetapi juga untuk ambisi duniawi. Rajah, mantra, dan tato sakral memperlihatkan bahwa kekuatan selalu mensyaratkan disiplin moral. Dalam konteks sejarah, praktik seperti tenaga dalam dan war magic bahkan dapat menjadi bagian dari resistensi politik.

Kedua, sensitivitas dan kemampuan visualisasi menjadi fondasi dalam berinteraksi dengan dunia tak kasat mata. Pewarisan energi dapat terjadi melalui garis keturunan maupun relasi guru–murid. Di sini, imajinasi dan keyakinan memediasi tubuh sebagai medium kekuatan.

Ketiga, kanuragan dan ilmu supranatural menyingkap struktur gender dan relasi kuasa yang kuat. Ilmu menjadi instrumen power—baik dalam ranah sosial, gender, maupun politik. Dimensi maskulinitas dan kecantikan turut memperlihatkan bahwa praktik-praktik ini bekerja pada banyak lapisan sekaligus—psikologis, simbolik, politis, dan kultural.

Di dalamnya terdapat pantangan serta paradoks antara asketisme dan ambisi duniawi. Ketegangan antara performativitas dan kedalaman yang tersembunyi juga menunjukkan tingkat kematangan (mastery) dalam kanuragan. Pada akhirnya, perjalanan spiritual ini dapat bermuara pada pengendalian diri—atau justru membuat seseorang tetap terjebak dalam hasrat duniawi. 

Edisi Vol. IX Klenik Studies ini tidak menyimpulkan apakah ilmu itu benar atau tidak. Yang jelas, ia nyata sebagai pengalaman sosial, karena membentuk identitas, relasi kuasa, dan cara manusia memahami keterbatasannya sendiri.

Vol. IX juga tidak berhenti pada glorifikasi kekuatan, tetapi membuka pertanyaan yang lebih dalam: Apa yang sebenarnya dicari manusia ketika mengejar kesaktian? Kanuragan dan ilmu hitam sebagai praktik, tetapi juga sebagai cermin nilai, hasrat, dan struktur sosial yang lebih luas.

Di ujung diskusi, obrolan beralih ringan pada kemungkinan tema berikutnya: UFO, banaspati, atau fenomena lain. Pertemuan ditutup dengan rencana: malam Jumat Kliwon depan, yang jatuh pada Kamis, 2 April 2026, akan membahas Unidentified Flying Object (UFO).