Jumat, 22 Mei 2026

Kota Pesisir: Bayangan yang Mulai Memudar

Diskusi "Kota Pesisir: Bayangan yang Mulai Memudar" sekaligus pemutaran film "Nelayan Perempuan Terakhir" karya Irwan Ahmett dan Tita Salina dilaksanakan di Ruang 302-303 Institute for Advancement of Science Technology and Humanity (IASTH) Kampus UI Salemba, Jumat, 22 Mei 2026. Diskusi ini menghadirkan pembicara: Elisa Sutanudjaja (Direktur RCUS), Irene Sondang Fitrinitia (Dosen KPP-SPBB UI), serta sambutan pembuka oleh Husnul Fitri (Kaprodi Kajian Pengembangan Perkotaan UI). 

Husnul mengatakan, pihaknya di sini membahas perkotaan dari berbagai sisi. Ruang itu berisi tak hanya fisik, tapi organisme yang bergerak dan beraktivitas. Ruang tak bisa dipandang berhasil jika punya gedung mewah atau pemukiman yang baik, tapi juga jiwa yang dibangun. Manusia itu hidup di dalamnya, jiwanya yang ingin terus untuk hidup dalam kota. Sifatnya bukan teknis, tapi juga dari berbagai sudut pandang. Menampilkan seni, kota bisa dilihat dari berbagai perspektif. 

Dia mengapresiasi kepada seniman, sastrawan, yang melihat kota dari sisi seni. Ini film yang dibuat Iwang dan tim dari lingkungan pesisir, dia salah satu tempat dengan kemiskinan ekstrem. Mendekatinya tak seperti yang ada di daratan, tapi juga pesisir. Bagi yang tinggal di Jakarta, kita ada di kawasan itu. Itu bukan kawasan yang jauh dari kita. Ancaman yang membawa kita, isu yang sama-sama kita kawal. Dengan adanya pemutaran film ini, bisa melihat potret kehidupan pesisir. Kita berdiskusi tentang itu, tak hanya perdebatan tapi juga solusi terbaik. 

Usai sambutan dari Husnul, diselenggarakanlah nobar film "Nelayan Perempuan Terakhir". Usai itu digelarlah diskusi film. 

Moderator usai penayangan film berkomentar, banyak metafora yang menarik. Rumah yang disunggi itu kenapa? Biasanya yang disunggi kitab suci. Iwang menjelaskan, sebagai seniman tak ingin banyak bicara, yang menarik dari seni adalah interpretasi. Kalau terlalu jelas jadi undang-undang. Mungkin yang sifatnya lebih relasi biar lebih humanis. 

Elisa melanjutkan paparan, dirinya agak berbeda dengan Iwang. Ia ingin menjelaskan sejelas-jelasnya. Rumahnya ini untuk kesenian lain. Ada mitologi, narasi tentang tembok pantai. Kenapa rumah jadi topeng itu menarik. Mereka menolak penggusuran. Satunya lagi, ada juga pameran dengan Bremen. Akhir tahun Rujak Center for Urban Studies (RCUS) kerjasama dengan negara-negara dunia ketiga di Amerika Selatan dan Afrika, ada satu departemen khusus yang bahas perumahan dan iklim. RCUS pakai seni untuk cara, metode, dan membebaskan. Seni ini salah satu saja. Berdasarkan jurnal "Infrastructure: Etymology dan Import", istilah infrastruktur itu untuk dunia militer lalu pindah ke istilah pembangunan. 

Elisa kemudian menjelaskan tentang kronologi tahun dan peristiwa terkait kondisi Kampung Dadap dari era kolonial sampai tahun 2025. Misal ekspansi PIK itu ada tahun 2013. PIK juga bekerja sama dengan UGM untuk penataan kampung. Elisa sempat ketemu Profesor, bilang gara-gara aktivis tak bisa buat rumah susun. Di sisi lain yang menjadi korban, menurut UUPA setelah 30 tahun, ada bukti khusus, tanahnya bisa diurus. Di Dadap bencana dibuat-buat. Ada pula jalan tol ilegal yang sudah ada. Kapitalis tidak pernah puas, dia selalu absorbsi lahan-lahan di area frontier. Menurutnya, infrastruktur kembali ke maknanya, melibatkan militer untuk perang. Ketika tak masuk, dia akan ke badan, menderita stroke. Seperti yang dialami Bu Rustami di Dadap. 

Irene Sondang Fitrinitia menyampaikan alur yang dia tangkap. Dia menonton bagaimana ini disampaikan secara menarik, dengan suasana bisa merasakan apa yang dirasakan Mak Karmitem (Item). Bagaimana sisi kota lainnya dibungkus dengan seni, satu metode yang inovatif, ini jadi catatan di ruang akademik. Bagaimana media lain seperti seni menjadi instrumen untuk mengungkapkan isu kota. Di Dadap, dia mengambil dari Google Map tahun 2014, ada ancaman rob-nya untuk wilayah daratan. Mak Item juga menjelaskan naik-turun laut itu biasa, menjadi luar biasa ketika berpengaruh pada permukiman di arena pesisir. Ini jadi ancaman untuk Jakarta. Namanya infrastruktur, pendekatan infrastruktur digunakan untuk menjawab ancaman, mengatasnamakan pesisir. Sebenarnya infrastrukturnya untuk siapa? Jika publik, tapi publik yang mana? 

Untuk Pesisir, sebenarnya di Jakarta Pusat juga pesisir, tapi lebih jauh seluruh Jakarta itu juga Pesisir. Air tanah di Pusat ini juga asin. Salah satu solusinya adalah tanggul untuk proteksi wilayah. Intensinya lebih ke mainland. Ada dampak spasial, alih-alih melindungi, dia punya risiko baru, airnya terperangkap, bisa masuk tapi tak bisa keluar. Di Jateng ada kasus water trapped, yang menyebabkan kampung terendam. Selain itu juga memberikan dampak sosial, yang terjadi multiplier effect. Kampungnya kebanjiran, kualitas hidup tak tercapai. Mereka dikepung darat dan laut. 

Di Timbulsloko, Demak, berbeda. Mereka orang daratan yang terbenam. Dia tidak terbiasa dengan air yang tergenang, lalu mau tak mau mengubah penghidupan, dari buruh jadi nelayan. Di Dadap ini kampung nelayan, belonging dengan tempat tinggal tidak sedekat dengan orang darat. Tapi jangan salah, nelayan juga punya keluarga. Nelayan digambarkan miskin dan kotor, kulturnya beda. Seperti kasus Mak Item beberapa kali pindah tapi merasa biasa saja. 

Selain spasial, juga lihat secara sosial. Sebenarnya yang terjadi adalah risikonya terkapitalisasi, ada manufacture risks. Risikonya ternyata dibikin. Adaptasi sehari-hari itu terhadap si infrastruktur tadi. Di Muara Baru misal, mereka meninggikan rumah, itu berlomba dengan jalan, dengan infrastruktur, bukan alamnya. Risiko yang muncul di Dadap ini terkapitalisasi. 

Lalu apakah ada hal yang bisa dilakukan di ranah akademik? Apa yang "dibutuhkan" oleh Pesisir? Sebenarnya pemerintah kota sudah banyak berbuat, tapi apa dia bisa sendiri? Mereka tak bisa sendiri, tapi seperti RCUS dan seniman bisa masuk. Mekanisme co-kreasi dan co-produksi penting. Perlu ada kolaborasi dari berbagai pihak. Termasuk akademisi apakah bisa jadi pengkritik saja? 





TANYA JAWAB:

Pak Gun: Saya ada beberapa pertanyaan, ke Iwang, kenapa memilih pilihan artistik itu? Ke Elisa, tadi ada alam, apakah benar yang dibutuhkan Mak Item dan orang pesisir, sebetulnya adalah pekerjaan? Pembangunan untuk apa dan untuk siapa? Ke Irene, level yang mau kita bicarakan di forum ini skalanya di mana? Kebijakan nasional tak begitu memperhatikan geografi Indonesia. Angkutan termurah itu laut, baru kereta. 

Iwang: Ada satu kata yang membuat saya menelusuri kata apa yang tepat untuk menggambarkan nelayan di Pantura. Setelah saya cari, ternyata istilahnya bukan nelayan, tapi "wong balik". Dia punya harapan pulang. Berangkat dari wong balik, kerinduannya itu ke rumah. Kedua, bagaimana juga sebagai warga Jaksel di kompleks perumahan, kondisi kami tidak akan pernah sama, karena saya lahir berprivilege. Ketika mengarahkan kamera pun saya tak tega, apakah saya mengobjektifkan dia? Tidak tega. Banyak kondisi lain. Ketika melihat ibu tua, butuh pertolongan, tidak ada ambulans. Saya apakah jadi seniman atau bagaimana? Etika ini jadi hal yang sangat penting. Di film ini, Mak Item masih punya privasi. Hari ini, shooting kamera ini sangat politis. Menciptakan tokoh-tokoh yang dialenasi. Keputusan untuk aktor megang kamera sendiri adalah hal yang menurutnya demokratis. Dengan membuat framing, wide framing, itu juga beda, ini yang membuat saya memutuskan untuk mengedit sendiri. Buat warga, kamera dan drone itu bentuk intimidasi. Saya dan Tita bikin kameranya satu dan kemana-mana. Dia juga menjelaskan rumahnya sendiri, sehingga menubuh. Mak Item punya pride karena dia pernah menjadi nelayan paling kaya. 

Elisa: Saya tidak layak menjawab. Dalam bekerja dengan JRMK ada perbedaan jawaban, jika sudah terorganisir hak dan kewajiban, dia akan kasi jawaban beda dengan mereka yang belum terorganisir. Kalau nanya ke bukan kelompok yang terorganisir, pasti pertama uang. Di Dadap itu sudah terorganisir. Kami di RCUS, mengadakan penelitian di empat seri (kelompok) ojol, mereka terorganisir, mereka butuh rumah yang dekat dengan tempat kerja. Satu rumah, kedua jiwanya. Pengen ada namanya di sertifikat. 

Irene: Bicara Indonesia yang bisa dikedepankan adalah wilayah pesisirnya. Kita archipelago state, hanya beberapa negara yang seperti Indonesia. Harusnya uniqueness Indonesia kaya. Menurut data Kemendagri, 30 persen itu pesisir. Tapi tidak semanis yang kita bayangkan, kalau bicara nelayan pesisir itu menyedihkan. Di Jepang bahkan nelayan yang melaut jauh itu sensei. Bahkan di Kampung Bajo bukan jadi nelayan tapi jadi satpam tambang, karena nelayan pendapatan tidak jelas. 

Reza (Kajian Gender UI) : Filmnya keren banget, detail yang coba dibagikan sudah merepresentasikan judul. Saya memberikan beberapa kritik, banyak isu yang berkelindan, di sini saya ingin mengkritik kebijakan hari ini. Banyak sekali bantuan pemerintah tak diberikan ke perempuan. Makasi judulnya sudah berjudul perempuan. Kedua, bicara pembangunan, tak hanya bicara infrastruktur, tapi juga jiwa. Di Dadap sudah direbut kapitalisme. Alih-alih melindungi, mereka direnggut secara perlahan-lahan. Bicara soal ruang hidup, dampaknya yang melekat ke perempuan itu kebutuhan air bersih. Ngomongin perempuan juga homogen. Ada force migration, pengetahuan itu juga bergender. Mangrove sudah hilang, ada beban nurturing. Kita gak berhenti di sini, tapi juga ekskalasi. Pemerintah mungkin ada kebijakan di sana, tapi bagaimana bentuknya? Di film tadi tidak partisipatif. Proses advokasi dan riset ada gak inter generasi trauma? Bagaimana pengetahuan itu diwariskan? 

Iwang: Tadi ngundang warga Dadap yang mungkin bisa jawab tapi terjebak hujan. Namun, ada jurnalis Mey yang bisa cerita. 

Mey: Saya pernah meliput anak-anak Dadap. Di Juli mereka ada Festival Dadap, menyuarakan isu itu. Waktu itu nulis untuk Project Multatuli, ya, miris menurut saya. Pemuda-pemudanya, generasi muda mereka, di tengah keterbatasan, sangat tidak berpihak, banyak sampah-sampah tak bisa keluar. Saya juga tak tahu apa yang membuat mereka tetap semangat, terus berjuang, bicara tentang sertifikat, saya dapat undangan dari pihak kelurahan. Pembangunan yang untuk Jakarta, di situ tertulis Dadap harus berkorban. Festival Dadap adalah festival tahunan yang digelar, dilakukan untuk masyarakat Dadap. Skalanya mungkin festival kampung, itu bentuk mereka bisa melawan. PIK selalu mengincar wilayah Dadap. Pemuda di Dadap tak kalah di bidang pendidikan, mereka mencoba untuk sekolah dan kuliah dengan beasiswa. Meski ironisnya setelah lulus mereka juga kalah, nelayan muda banyak yang berganti pekerjaan karena kondisi pesisir yang susah dapat ikan dari jarak dekat. Hasil tangkapan sedikit, yang ketika dijual tak seberapa. Pak Wanto juga memutuskan jadi penembak karena kondisi pesisir yang hitam, juga pabrik yang dibuang ke lautan. Soal gender Dadap, setidaknya mereka punya jembatan. 

Elisa: Tadi Irene sempat bicara perbedaan antara Timbulsloko dan Dadap, ada perbedaan gender jelas. Di Dadap seperti tak ada bedanya gender. Di Timbul Sloko ada perbedaan perlakuan. Yang dilakukan gimana caranya jadi nelayan kerang hijau yang banyak untungnya, di sana perempuannya tak disebut. Yang laki-laki bilang perempuan gak usah, perempuan seperti gak dianggap. Bagian RCUS memastikan perannya apa? Lewat baby steps, akhirnya perempuan mencatat keuangan. Ini menarik peran perempuan berbeda-beda, tergantung tempatnya. 

Irene: Saya selalu melakukan riset ini membagi perempuan, laki-laki, anak muda, termasuk nature mereka. Saya berkesimpulan, kalau bicara bapak-bapak itu bicara romantisme masa lalu, dulu begitu begini, dia sangat tahu sequence seperti apa. Kalau anak muda di Pesisir, sedih karena mereka tak mau jadi nelayan. Yang rutin, dan pengen jadi pegawai negeri, meskipun bersih-bersih. Mereka juga enggan bawa teman ke rumah. Orientasinya selalu keluar. Karena dianggap kampung tak ada harapan. Di Timbulsloko juga ada pemuda yang gerak. Ibu-ibu ini lebih realistis, ibu-ibu yang menghadapi keseharian. Mereka udah tahu musim, lalu belanja seminggu sekali. Mereka paling adaptif dan bisa coping dengan kondisi yang ada. Bapak masa lalu, ibu masa kini, anak muda masa depan. Perempuan senior di wilayah terendam air, mereka tidak ada layanan kesehatan. Ada penderita stroke yang tiga tahun tidak keluar. Dia meminta cerita dan kabar dunia di luar seperti apa. Mereka juga ada yang gak mau punya anak, karena membayangkan risiko. 

Di akhir sesi diskusi, Iwang juga bercerita tentang proyek pembangunan toilet apung untuk Mak Item. Kenapa satu toilet? Karena di sana sudah ada toilet yang dibisniskan warga. Jadi untuk membuat toilet bersama sudah terlambat. Ada politik lokalnya juga. Di sana, orang berhutang karena urusan toilet, karena urusan perut. Dibantu kawan-kawan, pihaknya membuat program toilet apung yang tahan air laut untuk Mak Item. Pembangunan toilet ini butuh dana 50 juta. Jika tidak tercapai, akan ada program berak bersama yang isinya nanti akan dikirim ke Senayan. 

Ps: Hari ini 22 Mei, bertepatan juga dengan ulang tahun Mas Iwang, selamat ulang tahun Mas Iwang! Sehat selalu!

Diskursus Seniman Perempuan di Bidang Seni Rupa

Diskusi publik bertema "Indonesian Women Artists Exposure Internationally" digelar di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia (Galnas) Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026. Diskusi ini menghadirkan empat pembicara: Citra Sasmita (Perupa), Ines Katamso (Perupa), Farah Wardani (Kurator), Maya Rizano (Art and Communications), dan dimoderatori oleh Falencia Hutabarat (Wakil Ketua 2 Dewan Kesenian Jakarta). 

Maya Rizano (Art and Communications Consultant) mengatakan, seni rupa itu tak hanya harus inklusif, tapi secara kreativitas juga sangat besar. Setelah berkarir di industri manufaktur hingga perbankan (termasuk UOB), ada yang bersinggungan dengan art, hubungannya dengan CSR. Tapi untuk apa perbankan mendekati art? Karena kebanyakan ada di pendidikan. UOB berbeda, dia melihat di sini ada human capital dan nilai ekonomi dari sebuah seni. Return of invesment (ROI) meskipun tak bisa dihitung kuantitatif, tapi bisa dihitung secara kuantitatif. Powerful sekali panggung ini, penghargaan sangat dinanti seniman. Bukan hanya memberikan prize, tapi bisa untuk menunjang karier seniman. Ini mengangkat galeri juga. 

Beberapa kali UOB ke ISI Bali untuk memberikan dukungan dan berkarya. Ini yang membuat kompetisi semakin bersaing. Saat Covid-19, kompetisi juga tak berhenti, yang membedakan justru saat bencana isu lebih diangkat daripada isu manusia. Memberi wawasan pada seniman untuk bereksplorasi, tidak ada tema justru membuka lebar kreativitas. Di program ini ada redefinisi tentang seni lukis sendiri yang tertuang dalam karya-karya para seniman dari berbagai negara, seperti karya seniman Thailand tentang isu perempuan. 

Di UOB terbuka topik apa saja, termasuk sangat terbuka untuk gender dan dinilai berdasarkan merit. "Seni Rupa untuk korporasi sangat terbuka sekali," katanya. Meskipun ada value juga yang dijaga, termasuk tidak mengakomodir pornografi. 

Seniman Indonesia juga tidak kalah, seorang kurator buat one day visit, salah satu seniman karyanya dilirik karena bahas manusia dan Antropologi juga. 

Yang penting juga ada edukasi untuk anak-anak. Kolaborasi dengan Art Jakarta, Art Moment, Museum Macan, dan responsnya juga sangat baik. Bahkan ada art online juga untuk anak-anak terkait fabel kerja sama dengan Citra Sasmita. Tidak mungkin bergerak sendiri, tetapi bermain dengan para pemain di ekosistem. Juga mengajak masyarakat yang tidak mengenal art, untuk orang yang tak punya waktu untuk melihat seni. Karena umumnya yang datang ke seni itu lagi, itu lagi. Termasuk juga di bidang culinary, ada kerja sama untuk isu yang dihubungkan dengan seni rupa. Setiap seniman punya nilai sendiri yang diperjuangkan. 

Ada Bibit dan Treasury juga bermain di seni rupa. Maya juga bertanya kenapa memberikan dukungan pada seni rupa? Karena juga menarik ekonomi kreatif. Dana filantropis ini diterima karena ROI kadang tak kelihatan. Ini jadi tools untuk investasi juga. Melalui art bisa mempertemukan para kolektor juga mereka punya aset yang sangat penting. "Ujung-ujungnya monetize," terangnya. Selain itu juga untuk jaringan (network). 

Citra Sasmita (Perupa) menambahkan, momentum kebangkitan seni rupa untuk perempuan datang sekarang, manfaatkan itu sebaik-baiknya, seluas-luasnya. Ketika tahun 2012, saat dia merintis karier, masih sedikit perempuan yang bicara seni rupa perempuan. Citra mengkaji ini akarnya di mana. Termasuk belajar dari tulisan Farah Wardani, bahkan Basoeki Abdullah memberikan doktrin kalau perempuan hanya layak dilukis, tapi tidak melukis. Indonesia juga sedikit memberikan apresiasi bagi seniman perempuan. Yang ingin diretas Citra, apa sih yang paling primordial? Secara perspektif ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya. 

Apalagi IVAA juga buat arsip seni rupa Indonesia yang melibatkan perempuan. Pioner seniman perempuan dari Bali tahun 50an juga mendobrak tradisi itu, dia perlu mendobrak lebih keras gagasannya seperti apa. Di Bali, seni rupanya lahir duluan daripada lahir Indonesia. Ini membuat Citra tertarik untuk menguji sebaik-baiknya bagaimana gagasan yang dia bawa punya kontekstualitas. 

"Ketika masih ada ketidakadilan pada perempuan, saya akan masih menggeluti feminisme," tegas Citra. 

Ines Katamso (Perupa) menjelaskan, karyanya lebih ke ekologi juga feminisme. Lebih mudah bicara nature, feminisme bukan hanya menempatkan perempuan di panggung, tapi juga bagaimana kualitasnya. Untuk elemen yang sifatnya budaya nasional, dipengaruhi oleh lingkungan, penting untuknya menemukan identitasnya sendiri, misalnya dengan menggunakan medium tanah. Di Binneal Bali, ada isu plastik, berkolaborasi bersama untuk mengolah sampah menjadi karya seni--suatu artificial material--dan ada narasi apokaliptik. Fokusnya pada harapan. 

Farah Wardani (Kurator) melanjutkan, agensi perempuan dalam ekualitas, banyak dari seni rupa perempuan juga mengangkat isu perempuan sebagai agensi. Feminisme berkembang termasuk di wilayah seni. Ini benang merah. Tapi kadang ada era ketika bahas perempuan malah dia di-dismiss sendiri. Ketika dua perupa laki-laki dan perempuan sama-sama melukis bunga, responnya berbeda, yang perupa perempuan lebih dijudge. Bahkan Sudjojono pernah bilang perupa Emiria Soenassa karyanya lebih maskulin dibandingkan perupa laki-laki. Menurutnya, termasuk dengan karya dari Arahmaiani, lebih ke maskulin. 

"Aku sendiri kurang pro dengan dikotomi [gender] itu," katanya. 

Tanya Jawab:

1. Diva: Saya merintis karier sebagai seniman perempuan kontemporer. Di luar jalur media sosial, jalur apa untuk membangun visibilitas internasional tanpa harus kehilangan identitas sebagai perempuan? Karena saya tidak pandai membuat hal yang viral. 

2. Question: Apakah dari panel, adakah kegelisahan di negeri sendiri? Audiens di sini punya kebebasan. Apakah ada kekhawatiran dalam kebebasan ekspresi, untuk lebih mengekspresikan tentang tubuh/cara berpakaian dalam kreativitasnya? 

3. Kevin: Sejauh mana adat bisa jadi objek setara dan bukan sebagai objek eksotis? 

Citra: Kebetulan saya dari akar rumput. Saya juga tidak sekolah seni. Jalan menuju kesenian dua kali lipat, benefitnya saya bisa mendekati seni dengan berbagai POV. Bisa menambah referensi, paham bagaimana membentuk karya yang mampu berdialog dan tidak hanya selesai di podium. Mindset seperti orang petani yang menyelamatkan saya. Mereka mengajari saya bagaimana melemparkan "koin" sampai titik terjauh. Soal kebebasan berekspresi, saya selalu mengamini dia adalah jalan kemerdekaan. Saya tidak takut dengan hantu-hantu dan sensor-sensor seni. Kita punya sensitivitas yang tinggi. Karya saya ada nudity, tapi untuk seni anak harus menyesuaikan seni itu. Saya terjemahankan, di situ intelektualitas seniman, bagaimana menerjemahkan sesuatu jadi hal yang mampu dibahasakan. Based bisa di Bali, tapi pemikiran harus beyond. Untuk pertanyaan tradisi, itu satu-satunya sustain hingga saat ini. Mereka penjaga warisan budaya. 

Ines: Saya sebagai introvert mencoba untuk bersosialisasi dalam pameran seni. Kamu bisa belajar berbagai teknik narasi, gali curiosity. Pikirkan dirimu sendiri dulu, dan bekerjalah. 

Farah: Aku beberapa kali ngomong di berbagai kesempatan soal ekosistem seni kita, yang aneh sekali akademi seni di Indonesia masih jadi minoritas. Art School bisa dihitung jari dan gak nambah-nambah. Ada ASRI, ISI, atau humaniora, wacana indigenous art jadi counter Barat yang bisa dikaji di tataran akademis. Buatlah art school di 38 provinsi ini, bahwa tradisi sebagai lokal sih oke, tapi secara akademis belum. Selama ekosistem termasuk pendidikan belum kuat, jadi susah berkembang. 

Maya: Pertanyaan pertama bisa dimulai dari apa yang membedakan dengan yang lain. Sosmed penting mau gak mau. Ikut aktif dalam asosiasi seni, perkenalkan siapa dirimu, kenalan dengan kurator, tapi juga kamu harus punya "profil" juga, sehingga orang bisa capture itu. Memang ketuk pintu gak cuma sekali, tapi kalau sudah kebuka akan sangat membentuk. 

Kamis, 21 Mei 2026

Bapak Berkaos Maroon

Refleksi 21052026:

Siang ini aku makan di sebuah warung makan Padang yang menurutku paling enak dan murah di kawasan dekat kos. Aku harus pulang sebentar ke kos karena ada urusan administrasi kantor yang tertinggal. Di warung naspad itu, saat jam makan siang ramai. Aku mencari tempat duduk yang kosong. Duduklah aku di sebelah Bapak tua berkaos maroon (mungkin usia 60an ke atas, sekilas Bapak itu terlihat (maaf) seperti petugas cleaning service. Sementara, di depan Bapak itu ada Bapak lain yang lebih muda mungkin usia 40an, nampak terawat dari prejengannya seperti bos. Gesturnya seperti berniat hendak interogasi. 

Aku gak berniat nguping, terpaksa mendengarkan karena mau gak mau obrolannya meluber padaku. Intinya, Bapak tua itu telah ditipu oleh lawan bisnisnya sampai 500-600 juta (si Bapak memperkirakan segitu). Dia berbicara pada orang di depannya bahwa dia mau kerja apa saja, usahanya juga apa saja dari bengkel motor sampai usaha kaligrafi yang kena tipu. Bahkan saat dia sukses pun, dia masih memperhitungkan gaji karyawan yang belum layak. Eh tiba-tiba, si Bapak yang lebih muda ini bilang dengan jelas, "Bapak terlalu jujur,  Bapak terlihat polos. .." 

Dalam hatiku, anjir, aku freeze sejenak, aku memahami kondisi sakitnya ditipu finansial yang tidak sedikit. Terus aku mikir dan kalau boleh ngegas, "Lu gak harus degradasi moral seseorang untuk ngebuat diri lu sendiri lebih baik, dengan mengatakan dia terlalu jujur, terlalu baik, terlalu dapat dipercaya!" Berak itu narasi-narasi yang ada kata-kata, "Kamu buatku terlalu baik," yang jelas-jelas orang yang ngatain itu lebih toksik dari orang yang diberi pesan. Untunglah, aku melihat Bapak tua itu orangnya selow. Dia masih bisa tertawa, bahkan masih bisa bilang kalau sekarang dirinya lebih bebas mengelola usaha kecilnya sekarang. Meski tidak sebesar dulu, tapi hidupnya lebih enteng. Sehat terus Bapak berkaos maroon, Tuhan memberkahi hidup Bapak.

Sabtu, 16 Mei 2026

Value-based Education oleh DGB UI



Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Indonesia mengadakan webinar terbuka bertema "Value-based Education" (VbE) melalui Zoom Meeting, Sabtu, 16 Mei 2026. Webinar ini menghadirkan narasumber:

1. Prof. Corina D.S. Riantoputra (Fakultas Psikologi UI) 

2. Prof. Theddeus O.H. Prasetyono (FK UI) 

3. Prof. Agus Sartono (FEB UGM) 

4. Prof. T. Chan Basaruddin (Fasilkom UI) 

5. Prof. Sudarso Kaderi Wiryono (SBM ITB) 

Sambutan:

Prof. Eko Prasojo (Ketua Umum DGB UI) 

Prof. Riri Fitri Sari (Ketua Komite 1 DGB UI) 

Moderator:

Prof. Cynthia Afriani Utama (FEB UI) 

ISI DISKUSI:

Agus Sartono (Guru Besar FEB UGM) menjelaskan, hakikat hidup tertinggi manusia terletak pada kemampuannya untuk berpikir kritis dan berefleksi. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang berperan dalam pendidikan itu? Yang paling berperan guru dan dosen, tapi tak sekedar di kelas, orang tua juga harus jadi guru. Mereka harus bisa menjadi contoh. Menguasai materi itu mudah, tapi perlu punya satu value, integrity, dalam konteks agama ini ketakwaan (Allah selalu melihat). Di UGM ada contoh misal kasus sexual harrasment, runtuhlah kredibilitas dosen. Bagaimana kita memberi penilaian tidak hanya numerik, tapi juga karakter. Manner sangat penting. Bukan untuk dosen, tapi untuk masa depan mahasiswa. Guru harus jauh dari rasa ketakutan juga karena mendisiplinkan anak didik. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab formal, tapi juga orang tua dan orang-orang terdekat. 



Dalam sambutannya, Eko Prasojo (Ketua Umum Dewan Guru Besar UI) mengatakan, tema ini sangat penting sekali dalam berbagai perkembangan sosial dan perilaku masyarakat. Ditandai dengan perkembangan teknologi dan informasi, juga perubahan generasi. Ada digitalisasi, globalisasi, dan milenialisasi. Ini berpengaruh pada mental model dan perilaku masyarakat. Tidak hanya transfer pengetahuan, tapi juga membentuk budaya yang baru, yang sesuai dengan perjalanan saat ini. Universitas sebagai salah satu institusi pendidikan, berperan dalam melahirkan sosok yang tak hanya baik dalam pengetahuan, tapi juga perubahan kultur. Alumni universitas harus jadi agen perubahan sehingga membantu perumahan sistem yang lebih kondusif, misal untuk pencegahan korupsi. Kemajuan setiap bangsa dipengaruhi empat hal: (1) sumber daya alam, (2) sumber daya manusia, (3) institusi atau sistem/good governance, (4) good value. Sehingga lulusan tak hanya pintar dan kompeten, tapi juga punya budaya yang baik. 

Nilai Itu Inheren dengan Konflik

Corina D.S. Riantoputra (Fakultas Psikologi UI) melanjutkan, kalau melihat anak muda sekarang punya perkembangan yang berbeda. Mereka dalam informasi overload, ada informasi baru yang muncul tiap hari di gadget. Kalau dulu jam 9 malam tahu dunia dalam berita. Sebelum masuk kelas, mereka udah dapat informasi duluan. Informasi banyak yang membingungkan, ada inkonsistensi, sehingga bingung melangkah bagaimana. Semua ingin langkah kita aman jika peraturan berubah-ubah. Mahasiswa mengalami uncertainty yang tinggi. Mahasiswa juga hidup dalam perbandingan sosial yang tinggi, bahkan juga ada budaya cancel. Mereka bingung, kalau berbeda pendapat haruskan kita cut atau bagaimana. Mahasiswa dalam kondisi hampir tenggelam. Dalam menolong, kita tolong dari belakang. Nilai-nilai yang baik itu tidak selalu sejalan, bahkan sering berkonflik, satu dengan yang lain (Schwartz, 2012). Contoh: kreativitas vs kepatuhan; prestatif vs kebaikan/pehatian. Dengan resources terbatas, kita tak bisa memenuhi semua dalam waktu yang sama. Harus tahu prioritas. "Value inherent in conflicting," katanya. 

Value-based education bukanlah upaya untuk mengajarkan tentang "to be good", tapi untuk merumuskan apa yang bermakna untuk dikejar, apa yang penting untuk tidak dilanggar, dan bagaimana membuat keputusan yang saling bertentangan. 

Ada penelitian yang bagus, "Individual and Generation Value Change in an Adult Population, a 12-year Longtitudinal panel study", menunjukkan semakin tua, akan semakin konservatif. Barangkali tidak hanya self-bias. Selain itu, ada value transformation, tak hanya sekadar bagaimana caranya tapi juga "reason" (alasannya). Membantu untuk identifikasi konflik yang ada (contoh: kejujuran vs tekanan untuk berprestasi, takut gagal), memahami konsekuensi jangka panjang dari tiap keputusan dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Ketika seorang memilih tidak jujur, kita cari tahu alasannya. Bukan tak mau tanggung jawab, tapi ada value lain yang diprioritaskan. 

Indonesia hanya sekadar ekspos value, bukan action. Kita hanya omon-omon saja. Kita tutup mata misal soal menulis dengan AI, dosen menyuruh tidak pakai AI, tapi dosen publikasi pakai karya mahasiswa. Bagaimana jika mahasiswa mengukur value dosen? Apakah mereka kasi role model atau dosen cuma omon-omon saja. Ditanya juga dosen yang dikagumi, karena dia bisa berperan sebagai role model, ini yang harus saya lakukan. Jika mereka melihat dosennya harus berprestasi, tapi ketika mahasiswa butuh pertolongan dan dosen memberikan, mereka belajar terkait passion. Banyak orang belajar dari "actions".

Universitas perlu melakukan soul searching: Apakah yang menjadi tujuannya? Pemerintah perlu merenungkan mungkinkah universitas diberikan beban begitu tinggi dengan dukungan yang sangat terbatas? Ada cerita mahasiswa UI yang home broken, dia harus jalan dari Cinmanggis ke UI, dia dapat beasiswa, ibunya tidak bekerja, dan uang beasiswa untuk ibunya, mengatur ekonomi keluarga; tidak mungkin dia secermelang yang punya privilege mahasiswa dengan ekonomi lebih. Dosen PTNBH 52% merasakan beban lebih. Cara dosen mengajar perlu dipertimbangkan, mahasiswa butuh dialog. "Our job is to prepare students to be responsible," ujarnya. 

Dari Volume ke Value










Materi selanjutnya dari Theddeus OH Prasetyono (FK UI) menjelaskan tentang pengantar hidupnya, "to educate a man in mind and not in morals is to educate a menace to society..." (Theodore Roosevelt). Dia cerita bagaimana mahasiswa PPDS melakukan refleksi. Dalam kondisi lelah muncul jalan pintas, tapi dampaknya berpengaruh buruk dalam jangka panjang. Ada nilai yang perlu dibangun, UI jadi acuan sebagaimana UGM dan ITB, menggali nilai apa yang menjadi topik dialog internal? Kejujuran, keterpercayaan, ini bagian dari tanggung jawab, kepatuhan pada aturan. 

Contoh lain pernah memberikan contekan saat ujian. Berpikir ini bentuk kepedulian pada temannya, tapi setelah refleksi ini melanggar nilai. Dialog internalnya tentang kejujuran. Ada kelonggaran terhadap nilai. Ternyata ada dokter spesialis, ada yang merasa tidak salah, ini surprising

Studi kasus lain, ada pasien yang punya ambang batas rendah. Dokter ini menemani pasien ngobrol, ternyata pasien gelisah atau nyeri tapi karena tidak ada keluarga dekat yang ada di sampingnya. Dialog internal terjadi karena ada kesadaran akan kemartabatan sebagai manusia. 

Etika profesi dan pendidikan yang berkarakter keluar bukan hanya sekadar teknik, tapi juga compassion yang proper, ethics, dan patient dignity. Termasuk leadership yang melayani, menekankan kesetaraan. Ada tiga prinsip nilai berbasis pendidikan: (1) holistic development, (2) critical thinking as a value, (3) civic engagement. Di dunia apa pun bisa menerapkan ini. 

Ada tiga kurikulum tersembunyi mempelajari nilai: (1) role modeling, (2) institutional culture, (3) collborative learning. Setiap kita punya kesempatan role model di setiap kesempatan. Sebagai pendidik, selalu terpotret, conduct yang kita lakukan akan selalu terpotret. Tindak profesional akan jadi ukuran nilai, dan jadi feedback. Kita juga mesti lihat institusionalnya. Mengubah budaya institusional dari "volume ke value". Ini jadi perenungan penting tak hanya di dunia kedokteran. Ada the value star: (1) clinical excellence, (2) operational efficiency, (3) patient experience, (4) profesional value, (5) professional well-being. Gak hanya bicara body of knowledge saja, tapi juga memahami ada competent humility. Not just an individual trait, tapi juga sistem. 


Materi terakhir dari Sudarso Kaderi Wiryono (SBM ITB) menjelaskan, tema ini penting karena masalah perubahan yang besar: AI, disrupsi, perubahan kerja, hingga degradasi etika. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan gak hanya pintar saja. Jika hanya berdasarkan pada kompetensi, VbE ini jadi penting, agar siap memimpin. Pendidikan masa depan akan jadi beyond knowledge and skill. Di era AI, akses mudah tapi tantangannya bukan hanya apa yang diketahui, tapi untuk tujuan apa digunakan. Integritas akademik jadi fondasi yang utama.

P.S.:

Untuk materi dari Prof Chan dan Prof Riri, saya tidak mengikutinya karena datang ke webinar terlambat. Baru mengetahui acara setelah menonton stori Instagram UI. Overall, saya berterima kasih untuk ilmu baru dari kegiatan ini karena semakin memperkuat pengajaran terkait dengan nilai yang saya terima.

 Tanya Jawab:

1. Adelashal: Banyak teori value, tapi kenapa pejabat sekarang tidak sesuai nilai? 

Agus: Ada dua tipikal pejabat, pejabat karier dan pejabat bukan karier. Kalau karier tidak ada pilihan, tapi kalau punya side job bisa ada pilihan. Yang karier ini akan sulit lurus. Ikan tergantung kepala ini juga betul. Sistem monitoring ini sangat penting. Korupsi ini terjadi karena mengorbankan identitas. Sebagai pejabat jangan diukur dari intesifnya, tapi juga integritas. Kalau melanggar pasti tidak sustainable. Mengejar dunia iya tapi tidak yang utama. Kejar akhirat, dunia akan mengikuti. 

2. Question: Bagaimana cara terbaik mengatasi dekadensi moral? 

Agus: Harus dimulai dari rekrutmen guru, beri guru intensif yang cukup. Masih sedih dengan nasib guru sekarang. Kalau Desember gak ada guru honorer, akan sangat kesulitan. Orang lebih mementingkan investasi jangka pendek daripada jangka panjang. Menanam nilai-nilai itu harus dari kecil, bukan dari malah pendidikan tinggi. 

3. Sabang: Budaya kita paternalistik. Kita banyak orang pintar tapi kurang bijak. Mulainya darimana? 

Corina: Kalau benar kita budaya yang membutuhkan role model, ini memberi kesempatan kita sebagai dosen untuk jadi role model. Saya mengundang ibu-bapak Profesor jadi role-model. Untuk membentuk mahasiswa, perlu refleksi apakah kita jadi role-model. 

4. Dwi Wahyu: Bagaimana cara membantu mahasiswa dalam berbagi nilai? Tantangan utama menerapkan berbasis nilai? 

Corina: Mengingat kita banyak yang hadir, forum DGB bisa bicara. Bagaimana kalau forum DBG alokasikan 30 persen untuk mendiskusikan dilema moral. Ini memungkinkan karena mahasiswa ada AI. Barangkali keseluruhan mengajar perlu diperbaiki. Alokasi waktu diberikan pada diskusi dilema moral, sehingga tak sekadar lewat. 

Jumat, 15 Mei 2026

"Marx dan Mode Produksi Asiatik" Oleh Martin Suryajaya

Lombok Studies Center bersama dengan Odyssey Filsafat mengadakan diskusi bertema "Marx dan Asiatic Mode of Productions" secara online via Zoom, Jumat, 15 Mei 2026 (19.30-21.15 WIB). Diskusi ini menghadirkan pembicara akademikus dari IKJ, Martin Suryajaya. Berikut catatan diskusi tersebut:

Diskusi ingin membahas, Marx and Asiatic Productions. Martin menjelaskan, konteksnya diminta mengisi materi terkait buruh dan buruh migran. Ada topik yang bisa Martin bantu jelaskan, yaitu Marx. Ini wacana Marx di luar Barat, di Asia tidak banyak. Dia menjelaskan perkembangan yang terjadi di Eropa. Marx juga nyebut beberapa aspek di luar Barat, yaitu "Asiatic Mode of Productions". Awalnya Marx berpikir ini ekonomi di luar Barat sama sekali, mereka masyarakat di luar sejarah. 

Martin menganggap perlu didefinisikan dulu apa itu mode produksi, dia basis. Bagaimana masyarakat mengorganisasikan lewat ekonomi-politik vs atas. Mode produksi ini komponen bawah secara detail, bagaimana dia hidup secara material. Modus produksi dibagi jadi sua unsur: tenaga produktif (keterampilan, tanah, mesin, hingga teknologi, keseluruhan aspek yang bersifat material dan ide); dan relasi sosial-produksi (hubungan sosialnya, bagaimana menjalin produksi antara pekerja dan bos, intinya adalah pembagian kerja/social divisions labor). Sejarah bergerak dari dua aspek ini. Tenaga produktif selalu ada relasi sosial-produksi. Mana yang lebih dulu ini susah, kayak jawab telur atau ayam dulu? 

Akibat dari relasi produksi itu muncul hal yang khas. Misal perkebunan anggur di Eropa. Pada gilirannya, ketika tenaga produktif terlalu advanced, maka relasi sosial-produksi jadi kuno, seperti kemunculan kapitalisme. Ini terjadi di area urban khususnya. Ini menghasilkan relasi produksi yang baru, yang menyebabkan adanya kelas baru, kapitalis. Produksi lebih besar dan berpengaruh pada ekonomi. Ketika muncul teknologi baru, maka relasi sosial-produksi jadi usang, misal sekarang zaman algoritma dengan aplikasinya. Ada fleksibilitas tenaga kerja, eksploitasi yang fleksibel akibat teknologi (platform). 

Ini di kalangan gerakan, ada perubahan kuantitatif dan kualitatif di dua aspek tadi. Ada kontradiksi, sejarah bergerak karena ada kontradiksi di basis: cost of productions dan relation of productions. Kuasa tak lagi di kapital yang lama, tapi ke yang baru. Bentuknya selalu itu, tapi manifestasi dalam sejarah selalu berubah-ubah. Misal dari sosialisme ke kapitalisme. 

Ada setidaknya sembilan modus produksi sampai sekarang dari primitif ke kapitalisme. Primitif (meramu, agrikultur bukan sistem yang otomatis). Dari sembilan itu dijelaskan masing-masing ke basis kepemilikan, unit produksi dominan, produsen langsung, bentuk kontrol atas produsen, mekanisme ekstraksi surplus, bentuk negara dominan, struktur kelas utama, hingga basis teknologi produktif. 

Misal, pada modus produksi feodal yang utama adalah kepemilikan tanah, ada kerja wajib bagi masyarakat untuk menggarap tanah, ada setoran juga. Lalu, ke masa Renaisans, ada modus produksi pedagang kecil-kecilan yang membuat sepatu, penerbit buku, sehingga ada perdagangan. Ada nilai lebih di tanah sirkulasi, bukan di produksi, sebutan lain merchantilisme. Lalu, berkembang ke kapitalisme lebih lanjut. Ada konsentrasi tenaga kerja di kawasan industrial. Konsep nilai lebih ini untuk menjelaskan model produksi yang ini. 

Muncul di masa abad 20-an berkaitan dengan finance-capital, produksi komoditas turunan. Instrumen finansial yang diperjual belikan, seperti saham. Sekarang juga di era digital yang teorinya macam-macam, yang ramai itu di Yunani, techno-feodalism. Bayar sewa tapi data kita diekstraksi pemilik platform. Ada tahapan-tahapan. 

Sementara itu, modus produksi Asiatik ini tergolong kuno. Misal pembebasan di Cina, Vietnam, negara-negara Asia Tenggara. Ada transisi ke sosialisme yang melawan kapitalisme. Di Asia, yang masyarakat masih despotik, ada argumen irasional yang masih dibawa. Ada penggambaran Asia yang tidak rasional, tidak seperti Eropa. Kita tahu ada problem utama dalam relasi produksi tadi. Asia hanya dilihat sebagai deviasi dari Eropa. Ini juga terjadi saat Orba, 80an pertumbuhan dikodifikasikan ke tahapan seperti teori Rostow. Ada istilah Global North. Seolah-olah hanya satu yang maju. Masyarakat di beberapa tempat lain, beda dengan Eropa. Jalur perkembangan punya teori khsusu, ada mode produksi yang menumpuk. Mode produksi ditandai dengan adanya tradisi, dan juga kepentingan self-interest untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. 



Di Marx sendiri, AMP (Asiatic Mode of Productions), sebenarnya Marx ini sangat bias Barat. Misal dalam menggambarkan masyarakat India, seperti tidak ada sejarahnya. Dilihatnya Asia itu stagnan dan tidak punya sejarah. Ada klaim-klaim adat yang susah dinalar. Despotisme yang tidak jelas. Pelan-pelan Marx mengubah, Asia dilihat dengan lebih bernuansa. Dia menjelaskan, ini transisi dari primitif ke mode selanjutnya. Asia punya jalurnya sendiri. Secara tahap sejarah ini sejajar dengan feodalisme. Adanya kaisar yang menarik surplus di region masing-masing, basisnya di perdesaan--kalau di Eropa di perkotaan, surplus para artisan. 

Waktu di abad 19, Marx banyak baca buku-buku Antropologi dan Arkeologi. Marx mulai melihat dan punya konsepsi yang lebih jelas. Marx bicara redistribusi tanah, pedesaan di Asia, dan negara despotik yang mengambil surplus dari masyarakat. Di tahap terakhir pun belum kelar. AMP, unit dasarnya bukan individu dan bangsawan, tapi komunitas desa. Ada pertanian kolektif satu desa. Dia mengakses tanah bersama, ada lumbung. Kalau ada masyarakat yang berkekurangan bisa mengambil. Itu juga diorganisir secara kolektif. Diferensiasi kelas terlihat dari jumlah kepemilikan tanah, rumah, ternak, dll. Surplusnya bukan perbudakan tapi upeti. Ini asal-usul dari negara despotik. Buku "Hydrolic Society" juga ada basisnya pengelolaan sumber daya air, untuk mengerjakan pekerjaan padat karya. Di sini, Asia, ada konsolidasi vertikal. Raja dianggap sebagai hal tertinggi. Kontradiksi antara raja dan masyarakatnya. Ini runtuh ketika unit produksi gak lagi kolektif, modus produksi kemudian bergeser. Bisa ke feodalisme dan kapitalisme. Sejarah AMP bisa baca bukunya Dunn. 


Teori AMP dijelaskan untuk masyarakat Asia. Ketika gaya Eropa diterapkan ke Asia, akan tidak fit. Di situ ada problem, tahap perkembangan sejarah AMP. Seperti dari Marx, Lenin, dll, semisal bagaimana mengkonsolidasikan Asia dan Afrika untuk melawan kapitalisme dan memihak ke Soviet. Penggunaan AMP berhenti dilakukan ketika zaman Stalin, AMP dianggap tidak ada. Yang ada hanya kategori Eropa. Alasan politiknya untuk sejarah universal yang sifatnya tunggal. Kalau ada AMP, berarti ada pengecualian. Dihidupkan kembali ketika tahun 70an, termasuk saudara Ben Anderson. AMP sebagai hal yang teoritis, ini banyak kajian Antropologi. Teorisasi AMP ini jadi semakin ramai. 

Konsep Asiatik sendiri dikritik, karena dibawa orientalis, dibangun atas kepentingan kolonial, misal nilai-nilai ketimuran. Esensialisasi Asia ini dipertanyakan. Perkembangan kontemporer di mana? Ada banyak, tapi kita ambil tiga rute. 

Pertama, cara melihat mode produksi dekolonial. Imperialisme dan kapitalisme itu saudara kembar. Bisa baca buku suami-istri Ulsa dan Prabhat Parnaik, "Capital and Imperialism". Ada konsepsi sejarah yang berkaitan dengan India, kapitalisme bisa gitu karena mengembangkan imperialisme ke negara-negara lain, khususnya dari Dunia Ketiga. Sebagai sistem, dia imperialisme. Mengkritik Lenin, yang mengatakan imperialisme itu kondisi tertinggi dari kapitalisme, tapi menurut Patnaik, gak bisa, justru hidup berdampingan dengan kapitalisme. Yang ambil keuntungan besar dari negara-negara ketiga ke core nation. Termasuk peran semi-peri nation atau negara pansos, yang mau jadi core nation. Seperti halnya VOC mengandalkan relasi yang sifatnya despotik, asal setor ke VOC. 

Kedua, rute ekologis, bukan urusan manusia dan pabrik, tapi juga bagaimana manusia mengorganisir dirinya dengan alam. Ini dikembangkan oleh Marxis Amerika Latin. Bukan hanya metabolisme ekologis tapi juga politik. Bisa baca buku "The Social Metabolism" bicara sustainability tapi konteksnya Marxis, karya Manuel Gonzales de Molina dan Victor M. Toledo. Skema yang digunakan masyarakat ini semacam proses, ada input-output. Ada ekskresi juga, bagaimana dia berinteraksi dengan alam. Setiap masyarakat punya peran yang berbeda-beda, misal masyarakat perdesaan aprosiasi sangat tinggi, tapi limbah (ekskresi) kecil. Beda dengan masyarakat urban, di mana limbahnya sangat banyak. Endosomatik (di dalam tubuh) dan eksosomatik (di luar tubuh) ini saling berkaitan. Entropi kemudian disebar. Apa pun yang disebut wasted, akan kembali ke alam, tidak ada wasted. 

Ketiga, konsep kepedulian, reproduksi sosial. Dikembangkan orang seperti Silvia Federici, mengupah kerja-kerja rumah tangga, dll. Reproduksi bukan hanya seksual tapi juga reproduksi sosial. Bagaimana manusia bereproduksi ngurus urusan-urusan yang gak dipikirkan ekonomi. Urusan-urusan care work ini sering gak diitung, seperti dianggap itu hal natural. Beban ini juga dibebankan ke perempuan. Padahal ini juga urusan ekonomi, kalau gak ada ini, maka relasi kapitalisme bisa rontok. Pabrik gak itung kebutuhan rumah tangga yang memungkinkan dia ada. Ini yang menjadi persoalan. Care sector ini juga di bidang lain seperti budaya. Ada ekstraksi berlebihan di care sector, gak ada baliknya. Dianggap sesuatu yang given, sudah dari sononya. Ini cara berpikir yang berat sebelah. 

Solusinya membuat yang gak dipedulikan ini jadi dipedulikan. Misal ada pajak yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Kita harus ngurus sesuatu yang sifatnya commoning, meritualkan kebersamaan, ini dihidupkan lagi untuk melawan kapitalisme. Kepemilikan bersama atas hal apa pun. Ini praktik lokal sebenarnya seperti di masyarakat adat. Bagaimana mengatur peer governance juga. 









Tanya-Jawab:

1. Gigih Saputra: Ada buruh dosen, ada kapitalisme dalam karier dosen. Apakah bisa dibaca secara AMP? 

Martin: Sebenarnya bisa-bisa saja, tapi dilonggarkan lagi, karena AMP itu ekonomi. Baca saja "Hegemoni dan Kemandirian Ilmu" karya SH Alatas, kita (Asia) produksi data, tapi yang buat teori ini orang Eropa. Daripada langsung ke AMP, lebih baik jembatan pakai SH Alatas. 

2. Surya Anta: Persoalan AMP dalam konteks Indonesia menjadi persoalan masyarakat kapitalis jadi ketimpangan di Jawa dan luar Jawa. Transformasi dari feodal ke kapital tidak cepat? Perdebatan antara Lenin, berkaca di Indonesia apa bisa diambil sintesis? Apa sebenarnya, Marx ambil konteks Jawa, apa yang terwariskan secara suprastruktur pada kaum buruh? Sebenarnya tidak ada kapitalisme yang secara koheren ini tuntas. 

Martin: AMP ini perdebatannya, apa adakah pengecualian. Bahwa sebetulnya tiap masyarakat itu punya jalannya sendiri, ketika melakukan by pass itu memungkinkan, tak perlu ada tahap-tahap karena titik tolaknya berbeda-beda. Lebih ke arah sana yang penting, Marx membuka ada jalur lain dalam memproses sejarah yang berbeda, gak semua masuk yang tipikalnya Barat. Bagaimana mengembangkan satu transisi yang secara modus produksi gak bisa disamakan dengan Eropa. Membuat road map-nya tentu saja berbeda. Di sana eksperimen menariknya. Ketika mau menguntungkan kelas pekerja, tergantung konteks masyarakat masing-masing. Ngiri, ngirinya itu harus localised. Bisa berangkat dari suprastruktur yang sudah siap, tapi di Indonesia gak gitu, misal HAM, hak politik, di sini gak bisa taken from granted. Gak mengasumsikan tentang teori dasar seperti HAM, karena gak tuntas di sini. Beda ketika terjadi di negara yang demokratiknya selesai. Yang digambarkan Habermas ini sangat-sangat muluk kalau di Indonesia. Yang bisa diadopsi melihat masyarakat yang lebih cair, dan menguntungkan mereka pada hari ini.

3. Ana: Apakah memungkinkan modus produksi sebagai reproduksi bisa berkurang atau meningkat? 

Martin: Ini dikembangkan oleh feminis Marxis yang melpadahal ekonomi digerakkan gak hanya formal, tapi juga yang gak terlihat. Dari rumah tangga hingga inisiatif warga untuk dapur umum misal pas Covid-19. Ini gak ada biayanya. Kalau mau memasukkan ini ke ekonomi, dianggap gak ada justru kita defisit dalam pembayaran yang reproduksi sosial ini. Ini gak pernah dimonetisasi. Kalau diitung ke ekonomi, ini bukan tumbuh, tapi boncos. 

4. Habib Al-Qanhar: Berangkat dari rute India, ketika lihat imperialisme dan kapitalisme, ada open system semua masuk. Open system ini lihat dua hal ini atau gimana? 

Martin: Yang dimaksud sistem tertutup itu ada di kapital. Bagaimana mengevaluasi kerja yang necessary labor jadi komoditas. Tujuannya mengembangkan untuk sirkuit kapital. Kapital dapat laba dari eksploitasi. Roy Baskar ini beda konsepnya dengan yang di Marx. Jangan lihat kapitalisme sebagai model utama, tapi model historis, termasuk yang Asiatik. 

5. Abdul Rauf: Apakah partisipasi politik dari satu kawasan ke kawasan lain, apakah jika mihak pihak tertindas bagaimana? 

Martin: AMP gak bicara taktik, beda pembahasan. 

6. Galih Winata: Bagaimana Martin melihat kerja migran dan aliran dari core countries ke negara berkembang? 

Martin: Sangat bisa pisau bedah Marx dipakai. Misal Singapura butuh buruh murah, dibandingkan bayar orang Singapura sendiri. Teori reproduksi sosial bisa dipakai. Sektor-sektor tertentu banyak diisi oleh pekerja migran, karena biayanya bisa ditekan. 

Rabu, 13 Mei 2026

Refleksi Satu Tahun Klenik Studies

Komunitas ini didirikan dengan selow, dan kami namai spontan aja bernama "Klenik Studies". Awalnya, Sulkhan suatu hari bikin story Instagram tentang semacam pembahasan klenik gitu secara lebih proper dari sisi keilmuan. Aku mengomentarinya dan bahasan berlanjut di WhatsApp.

Sebab, pada Minggu, 8 Desember 2024 lalu kami ada peluncuran buku pertama kami di Jogja bertiga: Sulkhan, Jevi, dan aku. Kami juga udah ngobrol berbagai ide terkait buku, akhirnya aku inisiatif untuk menghidupkan grup itu jadi kegiatan yang lebih berkelanjutan. 

Aku ngabarin Jevi untuk gabung, lalu, Sulkhan mengajak dua temannya yang lain untuk gabung juga, mereka adalah Akbar dan Nurul. Di kemudian hari, komunitas ini turut diramaikan pula oleh nama-nama lain, di antaranya Nurizky dan Lina.

Pertemuan Zoom pertama itu berlangsung pada Selasa, 13 Mei 2025 (secara pasaran Jawa ada di waktu malam Rabu Legi). Kami bahas secara sederhana saja mulai dari komunitas ini bahas apa, diskusinya tiap kapan, terbuka atau tertutup, dlsb. Hari pertama pembahasan Klenik Studies ini jadi semacam milestone awal untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Nurul juga membuat rangkuman begini:

1.Model diskusi di awal: lempar tema dan dikendalikan moderator.

2.Tema pertama: Pamali soal tempat/jalan bagi pejabat/pengantin (jalan Karanggetas, peninggalan kerajaan Buton, menara Kudus, pengantin dilarang lewat di Gunungkidup) - mitos dan ruang.

3.Kapan? Kamis, malam Jumat (22/5) jam 20:00 - 22:00 WIB.

4.Hasil tema klenik yg dikumpulkan:

    a. Tenaga dalam (klenik).

    b. Urban legend kampus.
 
    c. Tempat terlarang untuk perempuan dan mengurai rambut.

   d. Musik dan mistis (black metal dan death metal atau bisa ke seni juga)

    e. Bagaimana presiden memilih semedi untuk menentukan peristiwa besar.

    f. Pamali soal tempat/jalan bagi pejabat/pengantin (jalan Karanggetas, peninggalan kerajaan Buton, menara Kudus, pengantin dilarang lewat di Gunungkidup) - mitos dan ruang.

    g. Hari weton (penentuan hari baik)

     h. Hantu/klenik dan gender.

     i. Eksploitasi perempuan dalam film horor

     j. Klenik di Kalimantan (stigma Dayak) 

Awalnya, kami juga sempat mendiskusikan soal nama komunitas. Ada beberapa tawaran dari teman-teman untuk nama komunitas ini, di antaranya: "Kamar Merah", "BGN (Badan Gaib Nasional)", "Anamnesis", "Laboratorium Klenik", Ruang Ambang Batas", "Liminal Space Society", "Hauntologi", sampai "Ngaji Klenik". Obrolan ini belum tercipta kesepakatan, hingga akhirnya pakai nama awal "Klenik Studies".

Dan setelah tanggal 13 Mei itu, kami rutin setiap 35 hari sekali, di Jawa istilahnya selapan, satu putaran lengkap dari lima pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Kami mengadakan diskusi tiap malam Jumat Kliwon, tapi tak jarang juga, jika berhalangan, diganti malam Jumat Legi. Diskusi dilaksanakan biasanya dari jam 21.00-23.00 WIB atau 20.00-23.00 WIB, tergantung kesepakatan dan pulang kerjanya kapan.

Malam Jumat Kliwon kami pilih karena secara kebudayaan populer di Indonesia dianggap sebagai malam paling angker. Dalam budaya Jawa, malam Jumat Kliwon itu juga jadi waktu yang sakral, punya energi spiritual, dan mistis dibandingkan malam-malam lainnya. Malam Jumat Kliwon juga dipercaya menipiskan batas antara dunia gaib dan manusia, sehingga banyak yang memilih laku spiritual. Laku spiritual kami, kami alihkan untuk memahaminya secara keilmuan masing-masing.

Sepanjang satu tahun itu Klenik Studies (2025-2026) telah membahas sebanyak sepuluh tema yang terdokumentasi dalam catatan berikut:

  1. Tempat-Tempat Pamali (https://pilea-eureka.blogspot.com/2025/05/catatan-klenik-studies-edisi-23-mei-2025.html)
  2. Hantu, Ruang, dan Teknologi (https://pilea-eureka.blogspot.com/2025/06/catatan-klenik-studies-edisi-26-juni.html)
  3. Demonologi: Iblis dalam Kebudayaan Islam (https://pilea-eureka.blogspot.com/2025/08/catatan-klenik-studies-edisi-31-juli.html)
  4. Pesugihan, Horor, dan Ekonomi-Politik (https://pilea-eureka.blogspot.com/2025/09/catatan-klenik-studies-edisi-4.html)
  5. Tuyul dan Hantu-Hantu Anak (https://pilea-eureka.blogspot.com/2025/10/catatan-klenik-studies-edisi-16-oktober.html)
  6. Hantu di Institusi Pendidikan (https://pilea-eureka.blogspot.com/2025/11/catatan-klenik-studies-edisi-20.html)
  7. Hantu di Universitas atau Perguruan Tinggi (https://pilea-eureka.blogspot.com/2026/01/catatan-klenik-studies-edisi-25.html)
  8. Cerita Horor dari Rumah (https://pilea-eureka.blogspot.com/2026/01/catatan-klenik-studies-vol-viii-edisi.html)
  9. Kanuragan dan Ilmu Hitam (https://pilea-eureka.blogspot.com/2026/02/catatan-klenik-studies-vol-ix-edisi-26.html)
  10. Bunuh Diri: Antara Harapan Sosial dan Otonomi Tubuh (https://pilea-eureka.blogspot.com/2026/04/catatan-klenik-studies-vol-x-edisi-9.html

Tentu, masing-masing di antara kami punya refleksi masing-masing. Untukku sendiri, aku setidaknya jadi belajar:

Hantu dan klenik tidak untuk ditakuti, tapi dipahami. Kita takut karena horor dan klenik itu berada di wilayah abu-abu dan liminal, seperti bidang apa pun di dunia yang tidak kita pahami dan ketahui, kita akan cenderung takut dan menghindar. Dengan memahami klenik, timbul simpati dan empati terhadap entitas yang disebut sebagai hantu. 

Klenik Studies memiliki motto: "Membahas Klenik dengan Pendekatan yang Tidak-Tidak." Kami percaya jika klenik tak hanya bisa dipahami dengan satu pendekatan, tapi berbagai pendekatan, sebanyak mereka yang mau memahaminya.

Minggu, 10 Mei 2026

Terima Kasih Rayap

Terima kasih surprised-nya rayap yang gemuk-gemuk dan ginuk-ginuk. Aku tak menyangka ini akan terjadi pada buku-buku dan koleksiku juga. Kesalahanku:

  1. Memepetkan rak berbahan kayu ke tembok. 
  2. Menaruh kardus di bawah kolong meja yang lembab. 
  3. Serangan rayap ternyata seklandestin itu. Meskipun dari depan terlihat rapi dan baik, eh, koloni rayap kelas pekerja atas perintah ratu rayap berhasil memomotkan buku-buku yang dikiranya snack itu.
 
Tapi baiklah, kau sudah bisa kuatasi, tapi makan Indomie telor dulu. Dan aku pakai rak kayunya untuk barang-barang lain yang sering kupakai saja. Darimu rayap, aku belajar:
  1. Kau mengajariku untuk gak hoarding dan impulsif beli buku banyak lagi. Kehilangan ini benar-benar membuka kesadaranku yang lain akan benda-benda yang kusuka juga adalah sementara. No greed, no hoarding. 
  2. Kau mengajariku tentang equality. Rayap tak bisa membedakan mana buku berkualitas, mana yang tidak, mana tulisan top, mana yang cuma 'yapping', mana yang mahal, mana yang murah, mana yang emosional, mana yang biasa saja; baginya, semua kertas adalah sama. Persetan dengan isinya. 
  3. Meskipun kau kecil, lemah, ringkih, tak berdaya, dan bisa kupites dengan mudah, kau punya kemampuan luar biasa meluluhkan benda sekeras kayu.

Salah satu prestasiku keknya bisa menghadapi up and down segala tentang buku, tapi juga sesuatu yang berhubungan dengan materi. Yang kehilangan setahunan yang lalu juga berat, tapi terlalui juga kan. Jadi, ikhlas dan tenanglah.