Selasa, 10 Maret 2026

Hidup di Zona Ekstraksi Tambang pada Masyarakat Sagea

“Hidup di Zona Ekstraksi: Dinamika Masyarakat Sagea, Halmahera Tengah di Tengah Industrialisasi Nikel”
Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia
Selasa, 10 Maret 2026 | 10.00–11.30 WIB | Zoom

Narasumber: Supriyadi Sudriman (Koalisi Save Sagea / SEKA)
Moderator: Geger Riyanto


Pengantar Diskusi

Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Hidup di Zona Ekstraksi: Dinamika Masyarakat Sagea, Halmahera Tengah di Tengah Industrialisasi Nikel”. Diskusi ini bertujuan memberikan gambaran mengenai situasi sosial, ekologis, dan politik yang terjadi di Sagea, Halmahera Tengah, di tengah ekspansi industri nikel.

Moderator, Geger Riyanto, dalam pengantarnya menjelaskan bahwa kawasan Teluk Weda menjadi salah satu pusat perkembangan industri nikel di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sejak sekitar 2017–2019, aktivitas eksplorasi dan industrialisasi nikel meningkat pesat, terutama setelah masuknya investasi besar, termasuk dari Tiongkok. Perkembangan ini terhubung dengan model kawasan industri seperti yang juga berkembang di Morowali.

Dalam sistem industri tersebut, keberadaan industrial park seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) menjadi penting karena berfungsi sebagai offtaker atau pembeli utama nikel. Kehadiran kawasan industri ini membuat tambang-tambang yang sebelumnya tidak aktif dapat kembali beroperasi karena adanya kepastian pasar.

Namun, menurut Geger, perkembangan industri tersebut juga memunculkan berbagai persoalan sosial dan ekologis di tingkat lokal. Di wilayah seperti Sagea, masyarakat pesisir mulai merasakan perubahan lingkungan, misalnya keruhnya air sungai akibat aktivitas pertambangan di hulu. Bahkan, dalam perkembangan terbaru, terdapat 14 warga Sagea yang diperiksa aparat setelah dilaporkan oleh perusahaan terkait konflik dengan aktivitas tambang.

Diskusi ini diharapkan dapat memberikan perspektif langsung dari masyarakat yang hidup di wilayah terdampak.


Paparan Narasumber

Supriyadi Sudriman, yang merupakan bagian dari Koalisi Save Sagea (SEKA) sekaligus warga Sagea, memulai paparannya dengan menjelaskan perbedaan cara pandang antara wacana pembangunan di tingkat nasional dan pengalaman masyarakat di daerah.

Menurutnya, di tingkat pusat nikel sering dibicarakan dalam kaitannya dengan agenda global seperti energi bersih dan mobil listrik. Namun bagi masyarakat di wilayah yang menjadi lokasi ekstraksi, pengalaman yang dirasakan sangat berbeda.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat Sagea telah lama berhadapan dengan ekspansi pertambangan, bahkan sebelum industri nikel berkembang pesat di Teluk Weda. Dalam kehidupan masyarakat Sagea, terdapat nilai-nilai budaya yang mengatur hubungan manusia dengan alam.

Salah satu ungkapan yang dikenal dalam masyarakat Sagea adalah “Ngat rori tarori, ite ror e ite roo”, yang berarti bahwa milik kita adalah milik kita dan milik orang lain adalah milik orang lain. Prinsip ini menekankan penghormatan terhadap batas kepemilikan dan keberadaan pihak lain.

Selain itu terdapat prinsip “Myo facici ie”, yang berarti mengambil dari hutan atau alam secukupnya. Nilai ini menolak sikap rakus terhadap alam dan menekankan keseimbangan dalam pemanfaatan sumber daya.

Dalam kehidupan masyarakat Sagea, salah satu pusat kehidupan adalah Sungai Sageyen (Woye Sageyen). Sungai ini menjadi sumber air, pangan, dan berbagai aktivitas sosial masyarakat. Supriyadi menegaskan bahwa bagi masyarakat Sagea, mineral paling berharga bukanlah nikel, melainkan air.

Peradaban kampung Sagea dibangun di sekitar sungai tersebut, yang juga memiliki makna simbolik dan sakral dalam kosmologi lokal. Dalam tradisi masyarakat, dikenal kisah tentang dua figur simbolik: Bokimaruru, sosok perempuan yang menjaga sungai, dan Legaya Lol, yang melambangkan kekuatan pengetahuan dan kepemimpinan. Kisah ini menggambarkan relasi yang tidak terpisahkan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial.

Dalam konteks tersebut, masyarakat Sagea memiliki ungkapan:
“Hutan lestari, sumber air mengalir. Hutan binasa, air mata mengalir.”

Menurut Supriyadi, ungkapan ini menjadi sangat relevan ketika masyarakat mulai merasakan dampak perubahan lingkungan. Ia menyebut bahwa sejak sekitar 2013 masyarakat mulai merasakan ancaman terhadap keberlanjutan sumber air dan hutan mereka.

Merespons situasi tersebut, pada sekitar tahun 2014 muncul gerakan masyarakat yang kemudian dikenal sebagai Save Sagea. Gerakan ini bertujuan mempertahankan kampung dan identitas masyarakat di tengah ekspansi industri ekstraktif.

Dalam paparannya, Supriyadi mengutip sebuah ungkapan yang menggambarkan situasi yang dihadapi masyarakat saat ini: “Rendah karbon, tinggi korban.”

Ia menjelaskan bahwa narasi global mengenai transisi energi dan pengurangan emisi karbon sering kali tidak memperhitungkan dampak yang dialami masyarakat lokal yang hidup di wilayah ekstraksi. Ketika negara berbicara tentang agenda besar pembangunan dan energi bersih, masyarakat di tingkat komunitas justru menghadapi berbagai konsekuensi sosial dan ekologis.

Sejak sekitar 2018, kawasan Teluk Weda mengalami percepatan industrialisasi dengan hadirnya berbagai perusahaan yang terhubung dengan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Beberapa perusahaan yang disebut dalam diskusi antara lain Weda Bay Nickel, Karunia Sagea Mineral, Putra Prima Sejahtera, First Pacific, Gamping Mining Indonesia, dan Kaia Pilar Indonesia.

Menurut Supriyadi, aktivitas perusahaan-perusahaan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan sistem sungai yang bermuara ke Teluk Weda. Limbah dan sedimen dari aktivitas pertambangan di hulu pada akhirnya mengalir ke wilayah pesisir dan laut, sehingga mempengaruhi kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya perairan.

Selain dampak ekologis, industrialisasi juga memunculkan perubahan sosial yang signifikan. Kehadiran kawasan industri menarik migrasi tenaga kerja dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda. Hal ini mengubah struktur sosial komunitas lokal yang sebelumnya relatif kecil dan homogen.

Banyak warga yang sebelumnya bekerja sebagai petani atau nelayan akhirnya kehilangan akses terhadap sumber penghidupan mereka. Dalam situasi tersebut, sebagian masyarakat kemudian bekerja sebagai buruh di industri yang sama yang sebelumnya mengubah lingkungan hidup mereka.

Supriyadi juga menggambarkan kondisi lingkungan di sekitar kawasan industri, termasuk asap pabrik yang terasa di mata dan hidung serta meningkatnya kasus penyakit pernapasan seperti ISPA. Di beberapa wilayah seperti Lelilef dan Gemaf, masyarakat juga mulai merasakan berbagai perubahan sosial, termasuk konflik kecil di masyarakat dan meningkatnya tekanan sosial dalam kehidupan keluarga.

Menurutnya, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri sering kali harus menanggung beban ekologis yang besar, sementara wacana pembangunan di tingkat nasional lebih banyak menekankan manfaat ekonomi dan kontribusi terhadap agenda energi global.

Ia juga menyampaikan kritik terhadap respons pemerintah daerah dan pemerintah provinsi yang dinilai belum memberikan perhatian memadai terhadap kekhawatiran masyarakat pesisir.

Bagi masyarakat Sagea, perjuangan mempertahankan wilayah mereka bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan martabat, kedaulatan komunitas, serta masa depan generasi berikutnya.

Dalam presentasinya, Supriyadi juga menampilkan gambar Danau Lagaelol, yang terhubung dengan laut dan menjadi salah satu sumber protein penting bagi masyarakat Sagea serta kampung-kampung sekitar seperti Fritu dan Gemaf. Danau tersebut selama ini menjadi tempat masyarakat memperoleh kerang, ikan bandeng, dan berbagai sumber pangan lainnya.

Namun dengan berkembangnya aktivitas industri di wilayah tersebut, masyarakat mulai merasa khawatir terhadap keamanan sumber pangan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.


Sesi Tanya Jawab

Pada sesi diskusi, moderator menyinggung konsep “cheap nature” atau alam murah, yaitu kondisi ketika sumber daya alam diperlakukan seolah-olah tidak memiliki biaya sosial dan ekologis. Dalam model pembangunan seperti ini, negara memberikan konsesi kepada perusahaan tanpa memperhitungkan dampak lingkungan dan sosial yang harus ditanggung masyarakat lokal.

Menanggapi hal tersebut, Supriyadi menyatakan bahwa sejak awal masyarakat Sagea melihat kehadiran perusahaan sebagai potensi ancaman terhadap kehidupan mereka. Dalam berbagai kegiatan komunitas, Save Sagea berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak industri ekstraktif melalui diskusi, pemutaran film, serta pendidikan komunitas.

Pertanyaan lain menyoroti dilema yang dihadapi masyarakat, di mana sebagian warga berharap pada lapangan kerja dari industri, sementara sebagian lainnya khawatir terhadap dampak ekologis.

Supriyadi menjelaskan bahwa Save Sagea tidak memusuhi warga yang bekerja di industri. Banyak anggota komunitas mereka sendiri yang bekerja di perusahaan tambang atau industri terkait. Menurutnya, situasi tersebut lebih merupakan bentuk keterpaksaan karena masyarakat kehilangan alternatif sumber penghidupan.

Dalam beberapa kasus, Save Sagea bahkan menjadi tempat bagi warga untuk menyampaikan keluhan terkait kondisi kerja maupun persoalan keselamatan di tempat kerja.

Pertanyaan lain menyinggung apakah terdapat kepercayaan lokal mengenai “kutukan” ketika alam dieksploitasi secara berlebihan. Supriyadi menjelaskan bahwa dalam budaya Sagea terdapat keyakinan bahwa alam harus diperlakukan dengan keseimbangan. Ketika manusia mengambil terlalu banyak dari alam secara rakus, maka alam akan “marah”, yang dalam konteks modern dapat dipahami sebagai munculnya bencana seperti banjir atau kerusakan ekosistem.

Diskusi juga menyinggung dampak yang dirasakan secara berbeda oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Menurut Supriyadi, perempuan merupakan salah satu kelompok yang merasakan dampak paling langsung, karena banyak aktivitas sosial perempuan berlangsung di wilayah sungai dan perairan. Ketika wilayah tersebut berubah menjadi kawasan industri, ruang sosial perempuan juga ikut hilang.

Selain itu, masyarakat juga melaporkan meningkatnya kasus penyakit pernapasan seperti ISPA di wilayah Teluk Weda. Namun menurut Supriyadi, data tersebut sering kali tidak muncul dalam laporan resmi di tingkat pemerintah yang lebih tinggi.

Pertanyaan mengenai hubungan Save Sagea dengan pemerintah daerah dan akademisi juga muncul dalam diskusi. Supriyadi menjelaskan bahwa Save Sagea pernah terlibat dalam diskusi mengenai perlindungan kawasan karst bersama pemerintah dan akademisi, namun diskusi tersebut tidak berlanjut menjadi kebijakan konkret.

Ia juga menyampaikan kritik terhadap sebagian akademisi yang terlibat dalam penyusunan dokumen AMDAL untuk proyek pertambangan, yang menurutnya sering kali justru memberikan legitimasi terhadap eksploitasi sumber daya alam.


Penutup

Sebagai penutup, Supriyadi menegaskan bahwa perjuangan masyarakat Sagea menghadapi kekuatan industri yang sangat besar bukanlah hal yang mudah. Namun mereka akan tetap bersuara untuk mempertahankan kehidupan dan wilayah mereka.

Ia menutup dengan refleksi bahwa di tengah berbagai narasi besar tentang pembangunan dan energi, terdapat masyarakat di berbagai tempat yang berjuang mempertahankan ruang hidup mereka.

Menurutnya, perjuangan masyarakat Sagea merupakan bagian dari upaya mempertahankan kehidupan, martabat, dan masa depan generasi yang akan datang.

Senin, 09 Maret 2026

Catatan Buku "Bersama Para Kamerad" karya Arundhati Roy


Ketika hendak mengulas sebuah buku, biasanya aku akan memulai dengan entri tertentu yang aku merasa dekat. Aku tak perlu membahas sesuatu yang aku tak paham, sebab bagiku itu tak hanya melelahkan, tapi juga membuatku ketika menulis merasa tidak nyaman. Setelah membaca buku Arundhati berjudul "Bersama Para Kamerad" ini, aku pernah memikirkan satu entri poin yang menurutku penting. Tapi ingatanku sebegitu rapuhnya, sehingga aku lupa pintu masuk yang kumaksud itu. Akhirnya, aku masuk ke pintu lain. Begini ceritanya...

Saat aku kuliah di UIN Jogja dulu, menjadi aktivis LPM Arena, aku ditawari untuk menjadi proofreading (entah mengulas) buku dari pejuang Timor Timur. Buku itu berjudul "Timor Timur: Sebuah Memoar" yang ditulis oleh Naldo Rei, dan disunting oleh Linda Christanty. Buku itu rasanya begitu pekat, sedih, dan lembar demi lembar adalah catatan luka yang terasa sesak ketika kamu baca. Wajah kemanusiaan digambarkan se-raw itu di antara perjuangan di hutan-hutan, derap perang, dan darah. Meski tak sepekat narasi Naldo Rei, Arundhati Roy kurang lebih menuturkan suatu perjuangan yang kurang lebih sama: melawan penjajahan dari mereka yang punya kuasa terhadap mereka yang dianggap pemberontak.

Aku mengoleksi sekitar tiga buku Arundhati di kosku, tapi baru ini yang pertama kubaca. Aku cukup shock ternyata penulis perempuan yang sepertinya bertubuh kecil itu punya keberanian yang sangat besar untuk melakukan turun bawah (turba) di sebuah kamp terlarang, tepatnya di Hutan Dandakaranya, India. Dia melakukan suatu liputan etnografis terkait perjuangan sekelompok masyarakat adat dan marjinal yang menolak tanah mereka menjadi ladang eksploitasi tambang pemerintahan yang berkuasa saat itu. Rezim yang sewenang-wenang melakukan pembunuhan, pembakaran, pemerkosaan, dan pencurian besar-besaran melalui instrumen berseragam mereka. Operasi Salwa Judum inilah biang keroknya. Ketika kau mengetik, "salwa judum", kau akan menemukan banyak pelanggaran yang dilakukan mereka atas tindakan tidak beradab yang mencoreng nilai-nilai kemanusiaan.

Perlawanan itu terhimpun dalam sekelompok golongan yang disebut Naxal, yang memiliki nama lain pengikut ajaran Mao. Inti ideologis kelompok ini adalah berbasis pada pemikiran Mao Zedong, yang percaya bahwa revolusi bisa dipimpin oleh petani. Mao berfokus pada masyarakat agraris, percaya pada strategi perang gerilya dari desa ke kota. Mao percaya petani adalah kekuatan revolusi utama, bukan hanya buruh kota saja. Ini tentu berbeda dengan pandangan Leninisme (yang basisnya buruh industri dengan strategi utama partai pelopor di tingkat nasional), Trotskisme (berbasis kekuatan buruh dengan skala revolusi yang internasional), dan Stalinisme (revolusi dengan sentralisasi kekuasaan ekstrem, industrialisasi cepat). Tentu isme-isme ini berfondasi pada pemikiran Karl Marx bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas. 

Berbekal kekuatan para petani yang kehilangan tanah, rumah, dan keluarganya itulah; kemarahan ini disulut. Perlawanan ini terjadi di daerah-daerah dengan kekayaan mineral yang kaya, di Chhattsgarh, Jharkhand, Orissa, dan Bengal Barat. Di sini, secara telaten, Arundhati juga menceritakan berbagai kamerad-kamerad yang ditemuinya sepanjang perjalanan: 

Chandu, Mangtu, Didi, Kamerad Mahdav, Kamerad Narmada (sosok yang bertanggungjawab di Krantikari Adivasi Mahila Sangathan/KAMS yang kepalanya punya label harga), Kamerad Saroja dari PLGA, Kamerad Maase (perempuan hitam di Gondi), Kamerad Roopi (sang penyihir teknologi), Kamerad Raju, Kamerad Veny/Muralli/Sonu/Sushil (yang paling senior dari Komite Sentral atau Politbiro). Kamerad Kamla. Setiap kamerad-kamerad ini mempunyai kisah-kisahnya sendiri. Salah satu sobat yang paling kuingat adalah dia yang membawa sepeda. Sepeda selalu mengingatkanku dengan diri sendiri.

Hal yang sangat menggugahku adalah bagaimana Arundhati menganggap bahwa tidur di hutan yang penuh kesusahan, capek, kelegaan tak terkira itu nilainya lebih tinggi daripada tidur di hotel mewah mana pun! Dia juga tak pernah mengeluh meskipun dia perempuan, punya disleksia arah, kekurangan makanan, mungkin tidurnya tak nyenyak, tapi dia menganggap bahwa apa yang dia lakukan adalah suatu "tugas mulia". Arundhati bekerja bukan untuk dirinya, tapi untuk kepentingan yang lebih tinggi dari golongan minoritas yang dianggap hama yang perlu dibasmi. Arundhati menulis dengan nada menyentuh seperti ini:

Ini adalah kamar paling indah yang pernah kutiduri selama ini. Sebuah kamar khusus di sebuah hotel berbintang seribu. Aku terkepung oleh keasingan, bocah-bocah luar biasa dengan kantong senjata yang aneh... Kenapa mereka harus mati? Untuk apa? Hanya untuk mengubah dan menukarnya dengan tambang?. . . Aku tak menyangka keberadaanku di sini akan sebahagia ini. Tidak akan ada lagi tempat-tempat di dunia yang ingin aku kunjungi. (25-27) 
Para pejuang dalam buku ini digambarkan sangat beragam latar belakangnya. Ada yang masih anak-anak, ada yang ibu-ibu atau orang tua yang kehilangan anaknya, ada para remaja, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama berjuang. Perjuangan ini tidak mengenal gender. Aku terenyuh saat di bagian ketika para pejuang ini secara logistik dibatasi, mereka tak boleh membeli sembako yang dibutuhkan karena pasarnya dijaga aparat, para kamerad yang kepalanya seolah ada label harganya, hingga perempuan terpaksa tidak bisa haid lagi. Belum lagi kondisi kesehatan dan pengobatan yang sangat terbatas. Tentu akan sangat sedikit menemukan dokter yang mau bekerja di kondisi seperti itu, dengan persediaan obat yang juga sangat terbatas. Aku ingin menangis. Masa depan tak ada harganya di depan mereka.

Di buku ini juga diceritakan tentang kebudayaan khas Naxal, dari pakaian khas mereka, persenjataan mereka, hingga tradisi bertemu keluarga di sebuah lapangan besar. Khususnya saat berkumpul dan menari dalam perayaan Bhumkal. Aku sangat tertarik dengan kerja-kerja yang dilakukan Arundhati menulis terkait hal-hal marjinal seperti ini. Karena katertarikan awalku membeli buku ini adalah, aku sudah mendapat getaran jika dia akan mengulas hal-hal yang aku hidupi sejak dulu: studi marjinalitas.

Terbagi ke dalam 20 bagian, Arundhati menulis ini tidak sepenuhnya mirip dengan catatan harian. Namun, dia mengelompokkan ke bagian-bagian tertentu sehingga memudahkan untuk dibaca. Sebenarnya tidak terlalu tebal, bisa kamu baca sekali duduk, dengan tambahan foto-foto di lapangan dan lembaran khusus "quote" untuk mempertebal part-part penting, buku ini jadi bacaan penting untuk mempertebal humanisme di siatuasi konflik (atau perang). 

Buku ini diberikan pengantar yang sangat baik oleh Hilmy Firdausy, meskipun bagian-bagian buku yang dikutip dari Arundhati tidak berhubungan langsung dengan isi buku, melainkan dengan karya Arundhati yang lain. Dari pengantarnya, keresahan dan kritik Arundhati menjadi terang benderang. Pengantarnya adalah salah satu pengantar terbaik, dari berbagai buku yang pernah kubaca. Judulnya, "Lipatan Fiksi Arundhati Roy, Walking with The Comrades dan Problem Pascakolonial". Dia membaca dari POV kajian poskol. Aku mengutipnya sangat banyak di bagian "Kutipan". 

Di Islam Bergerak, salah khas yang kami berikan untuk para kamerad adalah "Lal Salam". Salam ini dipopulerkan oleh Mas Azka Fahriza. Setiap postingan, kami memakai salah "Lal Salam", untuk membalas email pun juga diakhiri salam tersebut, yang juga digunakan oleh para golongan Naxalite di buku Arundhati. Belakangan, aku baru ngeh, salam ini "Lal Salam" (लाल सलाम)  diambil dari bahasa Hindi/Urdu yang berarti "salam merah". Merupakan sapaan revolusioner yang oleh kaum sosialis dan komunis di Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, Nepal).

KUTIPAN:

Arundhati Roy terlibat dalam agenda kebudayaan bagaimana seharusnya "menulis" novel sekaligus mengembalikan novel sebagai sebuah "genre". (iii) 

Sastra menjelma tidak hanya sebagai novel atau fiksi, namun juga korpus historiografi, laporan antropologis hingga gelanggang perlawanan serta gugatan pada hegemoni. (iv) 

Realitas tidak hanya dijadikan bahan mentah dan dipilih hanya karena ia unik, epik, dan "lokal". Keunikan dan lokalitas hanya akan menjadi peneguh identitas "liyan" kala ia tidak disokong oleh suatu keresahan eksistensial berikut kejelasan mengenai apa yang hendak dilawan dan diperjuangkan. Dengan kata lain, ada latar belakang keberpihakan yang kuat sekaligus keresahan terhadap satu problem identitas... Arundhati tidak muluk-muluk. Ia melihat sekelilingnya, memaksimalkan keresahan dan mempersoalkan ketersudutan beberapa komunitas yang terpental dari tanahnya sendiri... Memintal pertanyaan-pertanyaan dan menyusun amarahnya menjadi mozaik-mozaik cerita. (iv) 

Sosok asing tiba-tiba datang mengomentari satu hal berdasarkan kemampuan berbahasa Inggrisnya yang sedang-sedang saja. Karena sudah menjadi ke makluman, kecongakan intelektual seringkali muncul dari orang yang baru setengah tahu, atau baru tahu... Tidak ada yang ingin dicapai kecuali monopoli makna dan identitas. (vii)

Kolonialisme memang selalu akan menemukan ruang kabur, hibriditas dan kebingungan-kebingungannya sendiri. Dan dalam kebingungan itu, obyek kolonial yang mulanya berupaya didisiplinkan, berbalik menatap dan keluar melawan. (viii) 

Arundhati melakukan gugatan atas seluruh aspek kolonialistik dalam kebudayaan beserta sempalan tradisi dengan konservatisme akut yang sudah terlanjur didaku sebagai yang asli dan fitrah. Arundhati juga menggugat kapitalisme, kecongakan negara yang baru kaya, tindak pembalakan dan setiap praktik ketidakadilan pada kelompok-kelompok minoritas. (ix) 

Ia fiksi karena tokoh-tokohnya dan plot ceritanya mungkin hanya rekaan semata. Ia nonfiksi karena problem, latar kesejarahan dan tragedi yang dipotret di dalamnya benar-benar terjadi di dunia nyata. (x) 

Keserakahan pihak-pihak yang diperbudak perutnya sendiri. (xiii) 

Yang lebih penting dan krusial sejatinya adalah keretakan mentalitas dan konstruksi imajinatif yang berujung pada pembelahan identitas, bahasa sampai kebudayaan. (xvii) 

Kata Arundhati, Orang-orang Maois tampaknya tidak terjebak dalam politik teritori semacam itu. Sebagai bagian dari hutan, mereka punya petanya sendiri. Peta itu terukir secara permanen dalam benak dan memori mereka. (xviii) 

Yang tidak boleh hilang dalam proses perjuangan adalah bahwa nyawa manusia tetap prioritas dan berada di atas segala-galanya. (xx) 

Bukan hanya mengalihbahasakan, tapi mendekatkan problem yang dimiliki Arundhati, menafsir ulang dan menyuguhkannya seakan-akan problem itu juga problem kita hari ini. Hilmy Firdausy. (xxi) 

Arundhati pada Februari 2010, diam-diam mengunjungi kamp terlarang di tengah Hutan Dandakaranya, India. Di sana ada masyarakat yang mengangkat senjata dari perampok dan eksploiter yang didukung negara. Ia hidup bersama gerilyawan, ini buku etnografis yang penuh darah, senjata, traktor, truk besar, dari kaum yang dipinggitkan dan diusir dari tanah sendiri. (hlm. xxv) 

Ada banyak cara untuk menggambarkan Dantewara. Ia adalah oksimoron. Sebuah kota perbatasan yang tepat berada di jantung India. Ia adalah pusat gelanggang peperangan. Luar dalam, Dantewara adalah kota yang serba terbalik. (3) 

Antagonisme di dalam hutan memang berbeda dan tidak setara hampir dalam segala hal. Di satu sisi pasukan paramiliter, di sisi lain masyarakat sipil yang terinspirasi gerakan Maois (Naxatile)... Pemberontakan telah menyebar melalui hutan-hutan kaya mineral di Chhattisgarh, Jharkhand, Orissa, dan Bengal Barat. Tanah air jutaaan masyarakat adat India, sekaligus surga yang menggiurkan bagi kaum korporat. (5) 

Pemilu palsu, parlemen sebagai kandang babi, dan secara terbuka ingin menggulingkan pemerintahan India. (6)

Pemerintah menggunakan dalih kemiskinan sebagai alat untuk melawan masyarakat adat. (7) 

Setiap kali pemerintah berbicara soal kesejahteraan masyarakat adat, saat itulah sebenarnya waktu yang tepat untuk merasa khawatir dan was-was.... Pemerintah negara bagian telah menandatangani ratusan MoU bernilai milyaran dollar untuk proyek industri besi, perusahaan bijih besi, pembangkit listrik, kilang minyak, bendungan, dan beberapa tambang. (8) 

Keywords: Sandwich Theory, PWG (Peoples War Group) faksi dari Communist Party of India), cordon and search, Salwa Judum, Dandakaranya, Charu Mazumdar, Kamerad Niti, Kamerad Vinod, 

Bahasa genosida dilumrahkan dan secara perlahan masuk ke dalam kosakata bahasa kita sehari-hari... Dana CSR menutupi ekonomi kotor yang menopang sektor pertambangan di India.(12) 

Keberadaan rumah sakit kanker di satu tempat menunjukkan keberadaan bauksit dengan gunung yang sudah rata di tempat yang lain. (13) 

Operasi Salwa Judum, kelompok vigilant yang ditakuti dan disponsori pemerintah serta bertanggung jawab atas praktik pemerkosaan, pembunuhan, pembakaran desa-desa, dipimpin oleh Mahendra Karma, anggota Kongres MLA. (14) 

Permasalahan dari masyarakat adat ini adalah mereka tampaknya tidak mengerti soal keserakahan. (16) 

Mereka adalah Peoples Liberation Guerilla Army (PLGA). Untuk merekalah detektor suhu dan senjata pengintai laser disiapkan. Dan untuk mereka juga Jungle Walfare Training School diadakan. (29) 

Tidak ada yang disia-siakan dalam perjalanan menuju revolusi. (33) 

Membangkitkan kebencian diri. 

Operasi pembersihan wilayah yang ditujukan untuk memindahkan orang-orang dari desanya ke kamp-kamp pinggir jalan, tempat mereka diawasi dan dikendalikan. Dalam istilah militer, hal itu disebut sebagai strategi hamleting. (55) 

Gadis-gadis (atau anak-anak) tetap tinggal di dalamnya sebagai "perisai" manusia. (59) 

Salwa Judum sejatinya adalah operasi gabungan antara Pemerintah Negara Bagian Chhattisgarh dan Partai Kongres yang berkuasa di pusat. Maka ia tidak bisa dibiarkan gagal... Terbagi ke dalam CAF, CRPF, BSF, ITBP, CISF... Kebijakannya penuh kemesraan, winning hearts and minds...(61) 

Tata Steel dan Essar Steel adalah pemodal utama yang berada di balik Salwa Judum. (62) 

50 orang dari masyarakat adat disewa. Media merilis berita-berita bohong agar iklan masuk dan laku. 

Sedangkan iklan-iklan di yang berserakan di televisi, yang telah mencuci otak anak-anak kecil bahkan sebelum mereka mampu berpikir, tidak dilihat sebagai proses indoktrinasi. (67) 

Keyakinan, harapan, dan cinta mereka untuk partai. Aku menemukan letupan itu berkali-kali dalam wujudnya yang paling dalam dan bentuknya yang paling personal. (70) 

Dalam hal konsumsi, ia lebih Gandhian daripada Gandhian-Gandhian lainnya. Ia juga meningalkan lebih sedikit jejak karbon dibanding kelompok evangelis pejuang climate change lainnya. (73) 

Dalam peperangan ini, hanya orang mati yang namanya aman untuk dipakai. (79) 

Sebuah majalah seperti Frontline juga mengatakan kalau kami telah membunuh 18 masyarakat adat yang tidak bersalah. Bahkan K. Balagopal, seorang aktivis hak asasi manusia yang biasanya selalu berpijak pada fakta-fakta juga mengatakan hal yang sama... Balagopal mengakui kesalahannya...(89) 

Semakin banyak yang mereka bunuh, semakin banyak pula penghargaan yang akan mereka peroleh. Mereka dijuluki "Bravehearts", " Encounter Spesialist". (90) 

Dengan seluruh hal yang terjadi di sini, sungguh sangat disayangkan, bahwa satu-satunya yang bisa dilihat dari dunia luar hanyalah aspek ketakutan serta ideologi partai yang keras dari sebuah kelompok yang lahir dari masa lalu yang problematik. (99) 

Dia memang gila kerja. 

Jika ini bukan "peperangan jangka panjang," lalu apa?. . . "Saya sedang memikirkan para jurnalis yang tahun lalu datang ke Perayaan Bhumkal. Mereka datang satu dua hari. Salah seorang berpose dengan senjata AK saya. Kemudian mereka pulang dan meyebut kami sebagai mesin pembunuh atau sejenisnya." (103) 

Para komunis muda mengambil dan membawa klip-klip catatan untuk bahan latihan membaca. Mereka berkeliling di sekitar kamp sambil membaca artikel-artikel anti-Maois dengan lantang seperti penyiar radio. (109) 

Tidak ada klinik di hutan ini selain satu atau dua klinik di Gadchiroli. Tidak ada dokter. Tidak ada obat-obatan. (110) 

Naxalvad berarti keluarga kami. Saat kami mendengar sebuah serangan, itu sama saja berarti keluarga kami telah disakiti... Mao adalah seorang pemimpin, kami bekerja untuk visinya. (116) 

Di pasar.... Para wanitanya diawasi ketat. Jika mereka berbelanja terlalu banyak, polisi akan menuduhnya membeli untuk Naxal. Para kimiawan memberikan instruksi untuk tidak memperkenankan orang memberi obat-obatan kecuali dalam jumlah yang sangat kecil. Sembako murah dari Public Distribution System (PDS) disimpan di dalam atau dekat kantor polisi sehingga kebanyakan orang sulit membelinya. (119) 

Lagi-lagi, sebuah kamar premium di hotel berbintang seribu. Aku sakit. Hujan mulai turun. (121) 

Di satu malam, orang-orang ber kerumunan di sekitar titik cahaya seperti ngengat. Itu adalah komputer kecil Kamerad Sukhdev. (123) 

Hal itu adalah lampu pengingat, bahwa betapa mudahnya disiplin perjuangan bersenjata larut dalam sebuah tindakan "lumpen" kekerasan yang dididiskriminalisasi, atau larut dalam sebuah perang identitas bodoh di antara kasta-kasta, komunitas dan kelompok agama. Dengan melembagakan ketidakadilan dengan cara-cara tersebut, India sebenarnya telah mengubah dirinya menjadi sebuah kotak yang mudah terbakar oleh kerusuhan besar-besaran. (125)

Judul: Bersama Para Kamerad | Penulis: Arundhati Roy | Penerjemah: Hilmy Firdausy | Ceakan: Pertama, Maret 2022 | Penerbit: GDN, Tangerang Selatan | Jumlah halaman: xxiv + 138

Minggu, 08 Maret 2026

Catatan Buku "Potret-Potret Tak Berbingkai" oleh Siswa-Siswa SMA Santa Ursula Jakarta

Ketika aku menemukan judul buku ini di Shoppee, reaksi pertamaku satu, "Eureka!" Ini jenis buku yang aku cari-cari untuk memperkuat fondasi teoritisku di bidang yang kugeluti: studi marjinal. Ada beberapa alasan mengapa buku ini revelan: (1) sejak dulu aku menggiati isu pekerja sektor informal, (2) pekerja sektor informal untuk perempuan masih jarang dibahas, (3) aku punya rencana riset yang menyangkut pekerja sektor informal perempuan. 

Menariknya lagi, buku ini tidak ditulis oleh para akademisi handal lulusan luar negeri atau akademia lulusan universitas-universitas prominen, melainkan anak kelas I SMA! Bayangkan! Dan tambah lagi, ini ditulis oleh SMA Santa Ursula Jakarta yang notabene sekolah Katolik khusus perempuan yang cukup elite di kawasan Jakarta Pusat. Mereka dari golongan kelas menengah ke atas yang diajak untuk menyelami lika-liku kehidupan hutan belantara sektor informal yang menurutku cukup beringas ini. Yang secara kelas sosial hingga "ras" dan "agama" berbeda dari mereka yang ditelitinya.

Buku ini dikerjakan secara berkelompok, dengan banyak format (dari laporan jurnalistik, puisi, cerpen, sampai drama), serta yang paling menggugahku adalah di bagian "menurut kami". Bagian terakhir ini memperlihatkan sisi jujur dan personal para anak SMA yang ternyata sudah bisa berpikir secara dewasa. Mereka cukup kritis juga membaca kondisi sosial di sekitar. 

Banyak pekerjaan yang dibahas, jika kubagi ke dalam berbagai kluster akan menjadi:

Pertama, "pedagang pakaian, tas dan perhiasan". Di bagian ini dijelaskan seperti ibu-ibu dan bapak-bapak yang berjualan loak. Ada stereotip jika mereka adalah tukang tadah. Jika makanan bisa ada label halalnya, lalu bagaimana dengan pakaian? Ada juga mereka yang kena gerebek polisi, lalu menangis karena tak ada biaya tebusan. Termasuk kisah penjual yang punya omset per hati Rp500 ribu pada zaman itu. Termasuk protes para anak SMA dan pelaku sektor informalnya sendiri jika kecakapan kerja itu tidak bergantung jenis kelamin. Para siswa berkelana dari Pasar Baru, Jatinegara, Kawasan Blok M, Sarinah, dlsb.

Kedua, "pekerja malam (waitress, bargirl, pemijat, pelacur)". Kisah di sini yang menurutku paling beragam, dan bisa dikatakan suram karena stereotipnya kuat sekali. Waitress dan bar girl yang bekerja malam ini ternyata ada training-nya, dan ketika diidentikkan dengan pelacur, ini kesalahan besar. Termasuk juga pekerjaan sebagai pemijat, yang rata-rata dikerjakan oleh (maaf) mereka yang tunanetra. Padahal, pekerjaan ini sangat membantu juga bagi kaum difabel.

Terkait kisah pelacur yang mangkal di sekitar Monas (aku teriingat dengan novel Pramoedya terkait kisah dari Jakarta), ini aku ketawa-tawa, terlebih dengan kutipan spiritual yang intinya, "Tentu aku masih ingat Allah, kalau kesandung setidaknya mengucap, Ya Allah-Ya Allah." Termasuk juga kisah anak perempuan rawa yang dipaksa menikah dengan kakek-kakek. Dia menolak terus kabur ke Jakarta. Dia menemukan orang yang kelihatannya baik, tapi juga malah menyetubuhinya, hingga akhirnya anak rawa yang bisa renang berkilometer di laut ini menyerah dengan tuntutan perut.

Ketiga, "pedagang makanan dan kudapan". Nah, ini banyak pekerja yang dipotret, dari tukang bakso, penjual rujak, hingga pedagang asongan. Yang lucu dan absurd kisah pedagang asongan bernama Ayu yang disukai anak konglomerat bernama Angga. Dengan bantuan adik Angga bernama Inge, didekatilah si Ayu sampai ke rumah bedengnya. Tapi ortu Angga tidak setuju, pas diajak main ke rumah gedong, diusir secara gak langsung terus mati tertabrak. Ini ceritanya menggelikan, khas khayalan anak SMA memang, karena banyak part yang sepertinya susah dicerna secara realistis.

Keempat, "penjaga WC". Yang paling kuingat dari bab ini adalah kutipan dari seorang nenek yang menjaga WC, dia merantau dari desa ke Jakarta. Dia ikut orang yang disegani di Jakarta, disuruh sama orang ini untuk jaga WC. Kata Mbahnya, "Menderita dulu, nantinya nggak tahu!"

Kelima, "pembantu rumah tangga". Rata-rata PRT yang ada di Jakarta berasal dari kampung. Namun, nyaris semua cerita PRT yang ada di buku ini memiliki nasib baik. Seperti mendapat majikan yang menghormati mereka, dikasih gaji layak, hingga ada waktu berlibur khusus. Mereka juga memaafkan misal ada majikan cerewet karena dianggap itu memang sudah menjadi karakternya. Yang kasihan mungkin kisah TKW, terkhusus mereka yang disalurkan ke Arab Saudi. Bab pembantu ini mengingatkanku dengan kepindahan pertama ke Jakarta pertama kali. Awalnya, aku disambut dengan langit biru. Kemudian aku tinggal sekitar seminggu di rumah yang cukup berpunya di daerah Cipete. Lalu, aku bertemu pembantu perempuan yang memperlakukanku dengan tidak baik dan terkesan seenaknya. Dia baik di depan majikan, tapi tidak di depanku. Mungkin suatu hari aku akan membuat tulisan tentang ini.

Keenam, "pemulung". Dari buku ini aku lumayan kaget jika pemulung pun ada serikat atau laskar yang menaungi mereka. Laskar ini membagi para pemulung ke wilayah-wilayah tertentu. Nah, ada laskar yang menyediakan alat produksi hingga jaminan kesehatan, tapi ada laskar yang tidak sama sekali. Malah disuruh membeli alat produksi dan mengembalikannya lebih mahal, dan boro-boro ada jaminan pekerjaan.

Ketujuh, "pengamen". Selain pemulung, pengamen ternyata di Jakarta juga punya serikatnya sendiri yang membagi wilayah-wilayah kerja. Latar mereka juga cukup beragam, dari perantauan, anak kuliahan, sampai mereka yang memang terjebak dilema antara passion di musik dengan tuntutan hidup (materi). Seperti kisah Kokom yang dibuat dramanya oleh anak-anak SMA ini. Diubah namanya jadi Konny G apa ya, plesetan dari Kenny G. Dia anak perempuan dari Sumatera Barat, anak kiai yang berontak karena ortu mereka menganggap musik haram. Si Kokom diminta sekolah perawatan saja. Dia menuruti keinginan orangtuanya, tapi dia juga tak melepaskan passion-nya untuk jadi penyanyi dengan menjadi pengamen. Hal menarik yang bisa kupetik dari kisah Kokom adalah prinsip hidup dia yang tak mau merepotkan orang lain dan mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya dengan bersungguh-sungguh.

Tujuh golongan pekerjaan ini telah mengajarkanku banyak hal terkait hidup dan kehidupan. Aku melihat kehidupan sektor informal terutama dengan kacamata yang tidak hitam putih. Setiap bidang di SI selalu ada dinamika, khususnya, baik itu senang, sedih, kecewa, harapan, mimpi. Setelah membaca ini, aku juga berpikir bahwa memiliki kemampuan bermimpi itu juga adalah sebuah privilege. 

Ada kesamaan dari para pekerja sektor informal ini, sebagian memang tidak memiliki cita-cita tinggi. Hidup bagi mereka ya subsisten saja, saat ditanya apa rencana di masa depan? Ternyata kemampuan membuat rencana itu juga sebuah "privilege", karena mereka hanya menjawab, " Yah, namanya Jakarta, pasti hanya begini-begini saja, dik." Atau, "Belum direncanakan dik, asal sudah cukup untuk hidup sehari-hari saja kami sudah senang."

Judul: "Potret-Potret Tak Berbingkai: Studi Kasus tentang Perempuan Pekerja Sektor Informal di Jakarta" | Penulis: Siswa-Siswa Kelas I SMA Santa Ursula Jakarta Tahun Ajaran 1991-1992 | Penyunting: Tian Bahtiar | Penerbit: Penebar Swadaya | Tahun: 1992 | Jumlah Halaman: x + 176

KUTIPAN:

Ia tidak percaya dengan kebiasaan sebagian pedagang yang menganggap dengan menepuk-nepuk uang perolehan medali pertama, maka dagangan mereka akan lebih laris. (16) 

Ia mengaku tidak berani mengeluh. (18) 

Iya, aku juga ingin cepat! Tapi kenapa badanku seolah menolak untuk bekerja cepat?! Menolak untuk berlari dari satu pelarian ke pelarian yang lain? Suara polisi-polisi itu semakin dekat... Duh.. Apa kehidupan selalu memusuhiku atau aku yang tak pernah karib dengan kehidupan?? (22) 

Hidup adalah kata-kata bagi mereka, dan, 
Hidup adalah deraan kata-kata bagiku. (22) 

Kami datang untuk belajar
Bukan mengajari bagaimana hidup itu seharusnya (27) 

Perempuan jaman sekarang harus mempunyai keahlian agar tidak diremehkan kaum pria. (34) 

Mereka cuma tau dari cerita aja terus tinggal buat laporan, kumpulin, diponten, selesai... Tapi kalau kita? Kagak tau kapan selesainya nih tugas. (52) 

"Kalau bekerja memang mesti betah." (142) 

Bekerja sebagai pengamen bukanlah sesuatu yang harus dinilai baik atau buruk. Semua mereka lakukan agar dapat tetap hidup dan membantu orang tuanya mencari uang. Pendapat yang positif itu ia peroleh dari rekan-rekan dan gurunya yang bertemu dengannya ketika ia tengah mengamen di bus. (172) 

"Asalkan mereka tidak mengejek saya karena apa yang saya lakukan ini merupakan hak pribadi saya sebagai manusia." (174) 

Bukan perasaan sudah tumpul namun kebutuhan tidak mempersilahkan perasaan untuk berbicara. (176) 

Jumat, 06 Maret 2026

Catatan Buku "Pedoman Praktis Membuat Usulan Penelitian" karya Masri Singarimbun

Topik yang diajukan sudah usang dan terasa yang bersangkutan tidak mengikuti perkembangan dalam bidangnya. (7)

Halo Pak Masri, rasanya kutipan itu menggelitikku. Untuk menjadi ilmuwan sungguhan, kita memang perlu up-to-date dengan perkembangan yang terjadi di bidang kita. Aku kembali lagi membaca buku Bapak yang menurutku penting ini. Dalam kata pengantar, Pak Masri membukanya dengan sangat lucu, terkait kelemahan penelitian yang tidak jelas tujuannya apa, sehingga membuat Bapak dan tim yang membacanya berkelakar, "Apa yang kau cari Palupi?" Aku ketawa-tawa Pak, karena di sisi lain, aku menghadapi permasalahan yang serupa pula. 

Buku ini membuatku lebih rigid lagi dalam membuat research note. Segala hal yang berkaitan dengan penelitian perlu menggunakan metode yang jelas, konsisten, dan bisa dipertanggungjawabkan. Termasuk dari latar belakang, kerangka teori, metodologi, referensi, hingga anggaran dan personelia yang dibutuhkan. 

Di sini, Pak Masri mencontohkan 11 contoh usulan penelitian (9 dari peneliti dalam negeri dan 2 luar negeri). Selain itu juga dilengkapi lampiran pengajuan usulan penelitian, kalau dulu namanya Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (DP3M). Kalau pas aku kuliah di UIN, mungkin sebutannya LPPM kali ya, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Tema-tema yang diangkat dalam usulan penelitian selaras dengan bidang Pak Masri di Studi Kependudukan. Berikut aku ingin melampirkan semua judulnya:

  1. Pengambilan Keputusan Ikut atau Tidak Ikut Transmigrasi (PM Laksono)
  2. Tanggapan Guru Terhadap Kurikulum Pendidikan Kependudukan di SMA Kotamadya Yogyakarta (Sunarto Hs)
  3. Penyerapan Tenaga Kerja pada Usaha Tani Padi Bimas dan Inmas (Sadyadharma)
  4. Pengaruh Pekerjaan Wanita Terhadap Jumlah Anak yang Diinginkan (M. Affandi)
  5. Keberhasilan Tubektomi di Daerah Pedesaan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta: Evaluasi Terhadap Tim Mobil Tubektomi Rumah Sakit Bethesda (Masri Singarimbun dan tim)
  6. Jaringan Komuniasi, Inovasi dan Adopsi Metode Kontrasepsi Modern di Kota Yogyakarta (Bambang Setiawan)
  7. Kebenaran Laporan dan Ketepatan Pencatatan Karakteristik Akseptor di Jawa Tengah (Masri Singarimbun dan tim)
  8. Analisa Jarak Kelahiran di Ngaglik (Analisa Data Sekunder)
  9. Proyeksi Penduduk Indonesia (Analisa Data Sekunder)
  10. Research Program for Study of Internal Migration in West Java (Graeme Hugo)
  11. The Relation Between Social Roles of Women and Family Formation (Valerie J. Hull)

Dari contoh-contoh yang Bapak tulis, meskipun aku tak memahami semuanya, aku mengambil benang merah dan sikap etisku sendiri: Nanti, ketika aku membuat penelitian, apa pun itu, harus punya peta yang sejelas Pak Masri contohkan. Bapak akan aku jadikan mentor dan konselorku. Makasi Pak Masri. Buku ini akan menjadi buku pegangan wajib penelitianku. Aku akan hati-hati dan konsisten dalam menjalankan metode.

Peneliti kita rata-rata tak memiliki atau tak mau mencari kunci dalam melakukan penelitian yang benar. Dengan bertemunya aku dengan kunci ini, aku tak perlu merasa rendah diri dengan para peneliti luar negeri. Aku siap tanding secara keilmuan dengan mereka. Gendang perang kubunyikan untuk semua pengetahuan-pengetahuan yang bertendensi kolonial.

Judul: Pedoman Praktis Membuat Usulan Penelitian | Penulis: Masri Singarimbun | Penerbit: Ghalia Indonesia Jakarta | Cetakan: Kedua, Januari 1986 | Jumlah halaman: 127

Kamis, 05 Maret 2026

Catatan Buku "Islam, Seni dan Da'wah"

Dari dulu, aku tidak bisa membedakan dengan jelas, mana seni Islam, dan mana yang bukan Islam. Di dalam seni rupa khususnya, aku memiliki kecenderungan untuk menikmati objek-objek hidup yang digambar oleh si perupa, baik itu bentuknya manusia, hewan, maupun gambar yang bercermin dari alam. Namun, setelah membaca buku "Islam, Seni, dan Da'wah", lewat penjelasan Pak Kuntowijoyo, aku setidaknya punya tiga saringan terkait seni yang Islam dan tidak. Batas yang beliau utarakan jelas: (1) dematerialisasi, (2) demasifikasi, dan (3) menuju cahaya. Untuk menjadi berbeda rasa-rasanya kita memang perlu batas demarkasi yang jelas.

Buku ini aku beli secara random di Shopee karena ditulis secara berjamaah oleh banyak penulis, dan salah tiganya aku sukai karyanya: Pak Kunto, Pak Emha, dan Pak Ebiet. Setelah kubaca, ternyata buku ini merupakan kumpulan makalah dari Seminar Sehari Tentang Islam, Seni, dan Da'wah yang dilaksanakan di Aula APDN Srondol Semarang, pada 13 Oktober 1988. Termaktub dalam majalan bulanan Rindang pada Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah.

Mendengar majalah "Rindang", ingatanku langsung melesat pada Doel Rohim, partner kepemimpinan, PU-ku dulu di LPM Arena. Dia pernah bercerita, seingatku, yang memotivasinya untuk kuliah di Jogja dan masuk Arena karena dulu pernah mengurusi penerbitan yang disebut Rindang ini (jika aku tak salah ingat). Sebab, salah satu kyai yang menjadi narasumber di sini juga berasal dari kota yang sama dengan Rohim, yaitu Pati. Kyai tersebut adalah Kyai Haji Muhammad Ahmad (KHMA) Sahal Mahfudz, yang mengasuh Pondok Pesantren "Maslakul Huda", Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Dari pembacaanku, sebenarnya tidak terlalu banyak kebaruan yang diutarakan para narasumbernya. Pikiran yang eksepsional barangkali yang telah saya sebutkan di atas, terkait ide Pak Kuntowijoyo yang memberikan batas demarkasi yang jelas. Narasumber lain lebih konvensional lagi karena berdasar pada argumentasi yang menurutku mengambang dan abstrak, yang diambil dari nilai-nilai agama dan pengalaman. Semisal, Cak Nun berkata, seni Islam itu bentuk anugerah dan sunatullah. Atau juga (maaf) para kyai yang bagi saya cukup mengambang juga memberikan argumentasi yang sangat umum (common sense) seperti amar ma'ruf nahi mungkar, atau ditujukan kepada Allah. 

Namun, terlepas dari semua itu, terima kasih telah menulis buku ini. Aku jadi kepikiran, semisal ada kegiatan serupa, membukukan pemikiran yang dibicarakan di dalamnya juga menjadi ide konkret yang menarik. Dengan begitu, bisa dibaca oleh generasi-generasi setelahnya. Seni termasuk menjadi bidang yang aku sukai, karenanya aku peduli.

Judul: Islam, Seni dan Da'wah | Penulis: K.H. Sahal Mahfudz, K.H. Amir Ma'sum, Drs. H. Amri Yahya, Azwar A.N., Dr. Kuntowijoyo, Drs. Suwaji Bustomi, Emha Ainun Najib, Ebiet G. Ade | Penerbit: Rindang Jawa Tengah | Tahun: 1988 | Jumlah halaman: xvi + 80

KUTIPAN:

Kelebihan seniman adalah kemampuannya untuk dapat melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh orang biasa. (1) 

Sekedar menampilkan solidaritas sosial desa dan bukan untuk menjamin karier seorang seniman. (3) 

Isma: Seni Islam yang aku pahami, ini sebagaimana diungkapkan Pak Kuntowijoyo, dematerialisasi (abstrak), demasifikasi (tidak sebesar kelihatannya atau mencairkan yang masif, tidak ada kesan berat), dan memberikan cahaya (dari gelap ke terang, pertemuan antara yang fana ke abadi). Jika menambah Cak Nun, seni Islam adalah seni yang ditujukan kepada Allah, dalam rangka (kata KH Sahal) amar maruf nahi mungkar. Di sini niat sangat-sangat penting, kesenian adalah manifestasi dari keilahian. Untuk dakwah, "pelaku dakwah harus menguasai substansi dakwah, di samping menguasai metoda dan alatnya. (12) 

Keberhasilan seni media dakwah selain dapat ditemukan melalui wawasan sejarah, juga berdasar penelitian-penelitian yang telah dilakukan para ahli maupun berdasar pengalaman para praktisi seni itu sendiri. (13) 

Pemanfaatan musik pop harus diawali dari musisi Muslim itu sendiri yang menyadari kekuatan musik pop. Kalau musisi Muslim mampu menyisipkan pesan Islam dalam momen yang pas, akan sangat luar biasa hasilnya. Keberhasilan musik sebagai media dakwah dialami sendiri oleh Ebiet, seseorang yang telah memberikan sebidang tanah seluas satu hejtar kepadanya sebagai pernyataan rasa syukur karena orang tersebut merasa telah "dikembalikan" imannya oleh lagu-lagu Ebiet. (14) 

Seseorang berkesenian adalah lantaran mensyukuri anugerah Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Hanya Allah yang memungkinkan dia berkesenian itu... Fungsi "liya' budun", hanya dapat berjalan apabila seluruh isi Al-Quran dan Sunnah Rasulullah menjadi tuntutan dalam berkesenian. (16) 

Seni yang Islami dapat melalui restriksi (pembatasan), yakni: bersih dari khufarat, bersih dari syirik, dan tidak membawa manusia kepada kehidupan yang nista. (19) 

Kebaikan dilakukan secara lumintu (terus menerus). 

Penulis semacam orang yang ikut-ikutan makan besar dalam pesta makan meskipun tidak diundang. (27) perumpamaan yang baik. 

Kalau dia (seni) ditumbuhkan dari bibit keimanan, maka dia juga akan menjadi pohon keimanan. Kalau dia ditumbuhkan dari bibit kekufuran maka dia juga tumbuh menjadi pohon kekufuran. (29) 

Rukh seni Islam itu taukhid. Ismail Rasi al Faruqi. 

Saya ingin memberikan catatan kaki terhadap apa-apa yang disampaikan Bapak KH Sahal Mahfudz dan Bapak KH Amir Maksum. Apa yang ingin saya sampaikan mungkin ilustrasi:
1. Tentang rukh Islam dan struktur seni
2. Tentang institusionalisasi kesenian
3. Tentang seni pertunjukan rakyat Jawa Islam

Dengan deformasi bentuk berarti dilakukan "dematerialisasi" yang berarti menuju kepada taukhid. Kalau kita tidak menganggap yang ada itu matter, maka kita melihat yang ada itu Allah. Itulah taukhid dalam kesenian. (33)
 

Seolah-olah lukisan itu menuju sesuatu yang tidak terjangkau. Hal itu berarti menuju Allah... Pak Sadali mengatakan, "Kesenian itu adalah tasbih kita kepada Allah." Karena itu kesenian dengan seluruh misinya semacam itu mampu memberikan pengaruh kepada pembaca, penonton atau kepada mereka yang masuk ke dalam arsitektur Islam. Kalau kita masuk ke dalam masjid, kita akan mensucikan diri. Tetapi masjidlah yang memberi suasana tazkiyah, yaitu terang, tidak ada misteri. (34) 

Kesenian partisipan: setiap orang dapat ikut ke dalam kesenian itu, tidak diketahui penciptanya dan pengubahnya. (35) Ternyata seni rakyat tradisional yang Islam tidak membutuhkan profesionalisme yang tinggi, karena pelaku dan penonton dapat saling berganti. Kesenian semacam ini akan sangat baik untuk media dakwah. (36) 

Emha Ainun Najib hlm. 37: Semoga bisa merupakan bahan silaturahim dan "syuraa bainahum" dari seorang tukang--yang semoga tidak terlalu berarti--kepada para ahli/pakar serta ulama:
(1) Orang berkesusastraan itu sama dengan orang mandi, makan, menimba atau menanam pohon. Ialah yang mensyukuri anugerah Allah dan melaksanakan Sunatullah: bahwa kalau diberi badan, kita kasih makan; kalau diberi tubuh, kita rawat kebersihannya; kalau diberi ilmu, kita amalkan; kalau diberi amr, kita laksanakan; dan kalau dilarang, kita hindarkan; kalau diberi ilham, kita ungkapkan. 
(2) Seorang sastrawan Muslim itu seorang mulhim di bidang kesusastraan. Pikiran dan perasaannya, atau segala potensi kreativitasnya , semacam radio, yang harus senantiasa siap menerima "siaran" dari Allah. 
(3) Kenapa manusia-sastrawan hanya semacam radio? Karena manusia itu tidak punya apa-apa, bahkan sebenarnya tidak ada; ia hanya "diselenggarakan" oleh Tuhan untuk "ada" dalam fungsi "liya' buduun". Manusia tidak bisa apa-apa, tidak punya ilmu, tidak bisa menulis puisi, hanya Allah yang memungkinkannya bisa, atau lebih tepatnya; Allah mewakilkan kebiasaannya. 

Kemiskinan hampir dikatakan membangun "kotak sabun" dalam skala besar, tanpa apa-apa. Bentuk bagus hambar makna dan ciri khas, ciri khas tetapi rusak karena papan nama yang terlalu "tamak" memborong semua halaman depan. (54) 

Yang membedakan kita di hadapan Tuhan cuma ketaqwaan, yang membedakan kita di hadapan manusia adalah akhlak dan wawasan. (Isma) 

Ketika kita sekali mengetahui kunci, kita bisa ikut di dalamnya.... Ada satu puisi Umar Kayam tentang ketauhidan, "Setiap pagi mawar berkembang, tetapi mawar kemarin mana ia sekarang... (61) 

Seni tradisional itu seni kebersamaan dan partisipasi, mementingkan sikap-sikap komunal yang tidak mendukung individualisme maka tidak mungkin membawa karier. Beda dengan seni profesional. (61) 

Rabu, 04 Maret 2026

Aku, Pak Masri Singarimbun, dan Buku Renungan dari Yogya

Buku "Renungan dari Yogya" - Masri Singarimbun
Pak Masri yang baik dan cerdas, aku menangis dua sampai tiga kali ketika membaca buku Bapak berjudul "Renungan dari Yogya" ini. Betapa besar kerinduan saya di zaman-zaman pas masih kuliah di Yogya (bahkan saat menulis ini aku meneteskan air mata). Pak Masri, dulu dengan sepeda mini kecilku berwarna pink yang kunamai Nuun Junior, aku mengolah roda dari kosku di daerah Sapen menuju Jl. Tevesia Bulaksumur, Sagan, Caturtunggal. Letak Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM berada. 

Aku masih ingat bangunannya Pak, sangat lekat karena aku sangat sering main ke sana. Aku tidak takut atau malu, meskipun aku orang di luar UGM, bagiku, tempat ini adalah salah satu kawah candradimuka yang tak pernah kulupakan. Di depan bangunan, terpampang lampu digital berjalan berwarna merah bertulis angka penduduk Indonesia yang tiap detiknya berganti jumlah. Satu demi satu. Sepeda kupakirkan di depan gedung. Parkiran itu tergolong sepi, satu-satunya sepeda hanyalah sepedaku. Aku tak tahu alasan apa yang bisa membawaku ke tempat ini? Apa muasalnya, aku tak ingat lagi.

Aku sering datang siang, pukul 10 ke atas. Seingatku, karena itu jam bukanya. Tak jauh dari pintu, di sana ada patung besar Bapak seolah menyambutku datang. Bapak tersenyum, mengenakan kacamata, dan entah kenapa ketika masuk ke dalamnya terasa seperti "rumah". Bukankah, rumah berarti sesederhana kamu merasa diterima di dalamnya? Aku akan tersenyum, semacam simbol untuk menghormati patung Bapak.

Setelahnya, aku naik, kalau tidak salah, ke lantai III. Aku sudah lupa karena sudah lama. Lalu, aku akan menenggelamkan diri menyisir buku-buku yang bahas terkait masalah kependudukan. Aku mengisi daftar tamu yang dijaga anak magang. Jumlah pengunjung bisanya bisa dihitung jari, kadang tak sampai lima. Perpustakaan tersebut tergolong sepi pengunjung, sering aku hanya sendiri di sana. Tapi entah kenapa rasanya damai. Aku mengambil beberapa buku, jurnal riset, dlsb, baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris.

Di sana, aku menemukan harta berharga bacaan-bacaan yang membuat tubuh, pikiran, dan hati aku seperti bersatu dan termotivasi. Aku seperti menemukan passion yang tenggelam dan direpresi sedemikian rupa oleh distraksi-distraksi yang bukan aku. Kadang aku merenung, kadang aku bermimpi, kadang aku menangis. Salah satu mimpi yang ingin kubocorkan, aku ingin kuliah ke Australian National University (ANU) seperti Pak Masri. Di mataku saat itu, ANU begitu keren. Aku merenda-renda mimpi untuk sekolah tinggi di tengah keterbatasan yang ada. Pendeknya, Bapak memberi inspirasi padaku untuk menempuh pendidikan tinggi yang lebih baik. Bahkan sebelum ke ANU, aku juga berminat untuk melanjutkan pendidikan Magister di Studi Kependudukan UGM. 

Waktu berlalu, barangkali aku sering datang ke PSKK sekitar tahun 2016-2018, saat ini tahun 2026, barangkali sudah hampir 10 tahun. Pak Masri.... Rasa itu tak berubah. Tanpa kurencanakan sebelumnya, aku membaca buku "Renungan dari Yogya". Awalnya, aku tak sadar jika tulisan itu ditulis oleh Pak Masri. Aku baru ngeh saat aku searching nama Bapak, dan teringatlah masa-masa di Perpustakaan PSKK. Buku ini merupakan kumpulan tulisan. yang Bapak tulis di berbagai media massa, seperti Tempo, Editor, Kompas, dan Jawa Pos sepanjang 1977 hingga 1992. Terdapat sebanyak 81 tulisan di dalamnya, yang sudah dikurasi oleh Pak Masri.

Pak Masri, aku begitu menikmati tulisan di buku Bapak. Namun, yang paling penting, aku merasa Pak Masri seperti berbicara langsung padaku melalui huruf-huruf dan kata-kata yang Bapak pilih. Rasanya begitu dekat. Banyak sekali catatan yang kubuat, Bapak begitu banyak membuka mataku terkait konflik-konflik sosial yang lepas dari pengamatanku. Oh ya, pas baca terkait profil Bapak di PSKK dulu, yang bahas terkait kasus kondom; sebagai mahasiswa yang pengetahuannya masih awam, aku sedikit mempertanyakan bahasan tabu tersebut. Namun, setelah aku membaca buku Bapak ini, aku benar-benar menyadari mengapa persoalan ini begitu penting. Bagaimana latar belakang kasusnya, dan bagaimana respons Bapak pada hal itu.

Tidak aku ragukan, Bapak sebenarnya adalah orang yang humoris, sastrais, dan berpemikiran dalam. Kesan ini aku dapatkan setelah aku selesai membaca buku "Renungan dari Yogya". Banyak pemikiran, metode penelitian, empati, hal-hal sederhana yang penting, jadi hal menarik ketika Bapak menceritakannya. Dari 81 tulisan yang diikat jadi satu buku, terdapat tujuh kluster di dalamnya:

1. Aneka Ragam: Di sini Bapak bercerita dari kisah tikus yang ternyata bisa dimakan di Karo, pemerataan kecantikan yang menyasar perempuan dan kepalsuannya, pesona pariwisata, hingga tokoh bidang bahari bernama Amanna Gappa.

2. Pendidikan Tinggi: Bapak berkisah tentang berbagai masalah penelitian dan budaya baca khususnya di lingkungan kampus. Akademia yang terjebak dalam embel-embel, simbol, hingga masalah perpustakaan dan konsultan domestik.

3. Wanita: Tulisan yang paling menarikku adalah soal imajinasi Pak Masri kalau dilahirkan kembali akan memilih jadi perempuan. Ini sangat mind-blowing, wkwk. Betapa kuatnya perempuan. Termasuk juga soal Bu Sutiyem, ayah rumah tangga, hingga persoalan memukul istri.

4. Perkawinan dan Seks: Bapak membedakan apa itu setan mini dan setan maksi dalam masifnya masalah seksual di Indonesia. Setan mini merujuk pada simbol hingga apa yang dicontohkan di layar kaca, sementara setan maksi mengalaminya secara langsung sampai hamil. Dan lagi, korban anak digugurkan. Bapak bahas soal mucikari paling punya passion di dunia, Xaviera, hingga kasus kumpul kebo.

5. Kesehatan dan Keluarga Berencana: Di sini Bapak mengulas terkait berbagai tantangan pelaksanaan KB di berbagai dunia dari kawasan ASEAN, India, hingga Amerika, Eropa, dan Afrika, pejuang ASI, termasuk juga soal kondom yang sempat ditabukan.

6. Kemiskinan dan Pemerataan: Pak, bahasan tentang Sphinx ini mengingatkanku dengan buku HG Wells yang "Mesin Waktu", ada adegan yang latarnya mirip Sphinx, wkwk. Lalu ada paradoks di sana, bagaimana kebudayaan zaman dulu berbeda jauh dengan kebudayaan manusia zaman sekarang, dengan studi kasus di Mesir. Termasuk juga soal kuli kontrak, hidup sampah, seragam untuk apa, per diem, hingga IPM.

7. Sosial Politik dan Birokrasi: Membahas terkait India, dan untungnya Indonesia punya bahasa persatuan. Juga menyangkut hutang adalah hutang, ijon dan UUPA, judi yang dibuat sebagai olahraga kaum "elite", hingga masalah hak ulayat Dayak dan Dodo.

Berikut renungan pribadiku:

  • Dari tulisan Pak Masri, aku belajar menggali keindahan dan masalah di bidang yang kugeluti sendiri. Seperti contoh tulisan "Sang Peneliti Tak Bisa Menulis", dia bilang: "Bukan tabel yang bercerita. Seharusnya saudara yang bercerita, lalu disisipkan tabel ke dalam cerita saudara. Begitu caranya menulis laporan ilmiah yang baik. Dan harus ada tema. Bukan tumpukan tabel dan keterangan." (71) Menurutku, ini metode baru dalam menulis esai, pakai pendekatan dalam menulis cerpen. Termasuk pengalaman ketika dia bertemu dan berbincang dengan seseorang yang tiba-tiba filosofis dalam cute meet.
  • Kisah Sutiyem bisa kuolah jadi cerpen yang mirip dengan tone-nya AA Navis di Anak Kebanggaan. Eureka. 
  • Pak Masri benar, di bulan April misal, ceramah soal perempuan banyak, penelitian tentang peranan perempuan juga menjamur, tapi tidak ada yang mencerahamahkan istri yang dipukul, dianiaya, yang menjadi objek kewenangan suami belum banyak. 
  • Menarik juga ya neliti kekerasan terhadap perempuan lewat 4 koran dan satu majalah sepanjang tahun 1989. Terdiri dari: Kompas, Pos Kota, Sinar Pagi, Jawa Pos, dan Tempo. Ditemukan ada 639 kasus yang dibagi atas 19 jenis kejahatan. 
  • Aku tertarik pada cara Pak Masri menganalisis data-data statistik yang keren. Dia misal bisa fleksibel membahas data perceraian dengan melihat dampaknya tak hanya pada suami istri, tapi juga anak. Lalu bagaimana hal itu dihubungkan ke kasus negara lain misal Australia, juga hubungan dengan pengalaman pribadi dan agama. 
  • Tulisan "Yang Takut Gaji Naik" mengingatkanku dengan layanan hotel ketika aku dinas. Semalam di sana rasanya bisa setara dengan gaji orang lain selama sebulan ;( Aku bisa mengerti perasaan Panut. Begitu timpangnya hidup Pak Masri. 
  • Pak Masri, di sini saya jadi mikir tentang IPM. Terkait bagaimana data dianalisis, saya belajar banyak. Yang nampaknya ini bisa mengungkapkan banyak sekali dampak, ekses, dlsb pada kehidupan sehari-hari. Termasuk soal pilihan dan fasilitas yang kita hadapi. Saya tinggal di kota dengan IPM tertinggi se-Indonesia. Ini privilege dan nature saya untuk saat ini. Jadi saya tidak hanya membaca data saja dengan bilang, IPM itu indikator ada tiga: 1. Angka kematian bayi kurang dari 50 per seribu kelahiran hidup, 2. Harapan hidup 65 tahun ke atas, 3. Tingkat melek huruf paling tidak 75 persen. Bukan sekadar itu! Baik Pak Masri, Anda memberikan saya alat yang sangat berguna sekali. Terima kasih. Oh ya, saya juga ingin mengkritik terkait IPM itu, saya pikir tiga indikator itu terlalu kaku. Apakah hanya dengan tiga itu orang lalu sadar dengan kondisinya? Saya pikir tidak serta merta. Apa persoalannya? Sepertinya saya bisa memberikan tanggapan untuk Pak Sayogyo. 
  • Pak Masri, saya nangis baca tulisan "Ibu-Ibu adalah para wanita yang perkasa". Aku tertarik pada segi disertasi juga yang dibahas Carol Hetler, "Female Headed Households in a Circular Migration Village in Central Java" (1986), ANU. Penelitian dilakukan di Desa Jaten, Wonogiri, 1984. Titik beratnya: seluk-beluk wanita yang menjadi kepala rumah tangga. Ternyata jumlah wanita demikian tidak sedikit di daerah penelitian. Juga tidak sedikit di tingkat provinsi, nasional, dan internasional. (93) 

Dari sub-sub itu, Bapak begitu spesifik dan kokoh pada "ladang penelitian" Bapak sendiri, jika memilih satu ladang, itu adalah studi kependudukan. Atau mungkin secara ilmiahnya: Studi Kependudukan hubungannya dengan masalah reproduksi, kemiskinan, dan sosial. Bapak juga banyak mengkaji kelompok-kelompok marjinal seperti buruh sirkuler Gunung Kidul, perempuan yang kerja bangunan, kuli kontrak, Dodo yang jenazahnya ditolak, tukang pijat urut yang tak sanggup beli seragam, para gelandangan. Dan di sinilah letak pertemuan kajian saya dengan kajian Bapak di aspek marginal studies. Saya jatuh cinta dengan bahasan-bahasan Bapak yang tak tertipu dengan statistik pada studi kebijakan, tapi mencoba untuk mengenali dan memahaminya secara kasus yang konkret dan personal. Masalah itu terjadi pada individu dan komunitas.

Saya juga sepakat dengan tulisan yang terbit di tokoh.id ini, yang menyatakan bahwa:

"KOLOM merupakan tulisan yang sangat menonjolkan strong personal views. Ciri utama kolom Pak Masri, sebagaimana dituturkan Prof Terence H Huul dari Australian National University, bahasanya populer, langsung menukik ke pokok soal, berlumuran humor di sekujur karangan, reflektif, dan tak lekang zaman. Almarhum Satyagraha Hurip, sastrawan, pernah menganjurkan Pak Masri menulis cerpen mengingat gagrak (genre) story telling tulisannya."

Mungkin kritikku untuk buku Bapak, kadang penceritaan Bapak kurasakan meloncat-loncat, baik dalam hal tokoh, latar, dan subjek yang Bapak perbincangkan. Aku perlu berhenti sejenak, ini masih bahasan yang samakah? Begitu. Dan gebrakan lain di buku esai ini, banyak tulisan menggunakan format dialog seperti orang sedang berbicang biasa. 

Kemampuan story telling Bapak sangat bagus, dan itu kenapa Pak Goenawan Mohammad meminta Bapak untuk jadi kolomnis tetap di Tempo. Buku ini ditulis setahun sebelum aku lahir di dunia tahun 1993. Sebelum saya lahir, buku ini sudah lahir terlebih dahulu. Semoga suatu hari saya bisa berziarah ke makam bapak di Makam Kuncen Wirobrajan Jogja. See you and thank you, Pak Masri!

KUTIPAN:

Dodo (299) 

Kemampuan manusia menciptakan senjata ampuh terus meningkat untuk membunuh sesama. Sementara itu kemampuannya mengekang diri tidak semakin baik. (7)

Persoalan orang tua: miskin, tidak ada jaminan, dianggap kelompok tak berguna, tidak produktif

Humanisme menjadi penghias etalase... Orang-orang jompo telah membeberkan kegagalan peradaban kita. Habis manis sepah dibuang. (38) 

Pak Masri, aku senang banget tahu Pak, bisa ngobrol dan mendengar cerita Bapak lewat buku. Dulu aku sering banget ke UGM dan tempat paling sentimental di UGM bagiku adalah pusat studi kependudukan, yang dulu aku juga pengen ambil S2 itu di sana. 

Penobatan Sultan HB X tanggal 7 Maret 1989 dan kirab keesokan harinya. Sayang peristiwa yang mulia itu dimanfaatkan para copet untuk mencari nafkah dengan menjambret uang pensiunan ibu-ibu. (44) 

Orang Wajo terkenal sebagai orang yang gemar mengembara, berlayar, dan berdagang, tidak begitu tertarik kepada pertanian. (50) 

Dalam pelayaran, perselisihan harus selesai sebelum mendarat. Sebab setiap negri punya masing-masing hakim. Amanna Gappa. (51) 

Namun uang bukan satu-satunya. Faktor penting lainnya adalah skala prioritas. (61) 

Kalau pegawai kurang beres, terminalnya di perpustakaan. (63) 

Sekali lagi tidak. Tidak usah naik eselon. Hatinya tidak tergoyahkan oleh rumah, mobil, dan embel-embel lainnya itu. Dia tidak mau menjadi makhluk kesasar, tapi terhormat. (65) 

Yang menjadi kebutuhan permanen sebagian orang adalah masalah kenaikan status sosial dan kenaikan gaji. (66) 

Penelitian digotong-royongkan seperti membersihkan jalan. (68) 

Pamong yang berpengalaman itu berpegang teguh pada asas pemerataan dan itu bisa dipecahkan secara ketimuran. (71) 

Gengsinya naik lagi, sebagai orang pertama yang memiliki benda ajaib berlubang-lubang itu. (71) 

Kita tidak pernah belajar memegang kunci. "Itu kesalahan kontrak namanya," komentarnya tegas. Mudah-mudahan tidak terulang lagi. (75) 

Kerapuhan laki-laki menuntut kompensasi bernama kejantanan dan kepemilikan. Ketahanan mental perempuan lebih tinggi, demografi menunjukkan itu. (83) Juga buku "The Mothers" karya Robert Briffault, dan "The Natural Superiority of Women" (84) 

Setelah menimbang dan mengkaji, kalau saya kembali, saya memilih yang unggul: lahir sebagai anak perempuan. Terus terang saja, jauh di dalam lubuk hati saya, terkadang menyelinao rasa iri terhadap isteri. Iri karena dia lebih dekat dengan anak-anak kami. Saya terlalu terpukau oleh revolusi industri dan sering terlupa hakekat kehidupan yang singkat ini. (85) 

Orang memerlukan modal tertentu untuk mempertahankan ukuran moral tertentu. Bernard Shaw. (88) 

Diam-diam, tanpa pidato dan gunting pita, mereka menampilkan gaya hidup yang sudah lain: kumpul ora kumpul angger mangan. (95) 

Di negeri yang maju tidak ada tenaga pembantu rumah tangga yang murah. Tenaga yang murah adalah cermin keterbelakangan. (99) 

Philip Yampolsky menganalisa riwayat lagu (cengeng) "Hati yang Luka" dengan jitu dalam majalah Indonesia (terbitan Cornell), nomor April 1989, dengan judul "Hati yang Luka, an Indonesian Hit". Dilagukan atau tidak, kisah-kisah pemukulan istri merupakan bagian dari bangsa kita dan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Duduk soalnya belum jelas dan kita juga tidak berbuat apa-apa untuk menguranginya.(101) 

Namun sayangnya, bangsa kita juga mempunyai warga negara yang terdidik, yang memotong-motong istrinya atas tujuh bagian. (102) 

Kehidupan seks hewan lebih teratur dan tujuannya lebih sederhana, reproduksi. (111) 

Mereka tidak perlu belajar dari buku tentang hal elementer itu... Orang Barat perlu pendidikan seks karena mereka gak pernah lihat capung, ayam, kucing, anjing, ngeseks liar di sekeliling. Jadi mereka butuh buku. (114) 

Xavier Hollander. Egonya terhibur, juga kejantanannya. Semoga pada suatu waktu, pelacuran dilegalisir. (123) 

Suasana jadi kurang gairah karena terjepit oleh persoalan moral... Perlu disadari, keluarga yang beranak banyak jadi tukang rebut di masyarakat. Merebut berbagai fasilitas yang terbatas: pendidikan, transportasi, kesehatan. (164) 

Tampangnya lugu, geraknya lamban, suaranya lembut; tapi berbagai hal penting yang tak pernah saya pikirkan bermunculan dari mulutnya. Benaknya ternyata sarat dengan rupa-rupa soal. (166) 

Masalah ekonomi yang ditimbulkan struktur umur yang tua di Jepang, tidak seberapa dibandingkan masalah kemiskinan pada masyarakat yang terbelakang dengan tingkat kelahiran tinggi. (167) 

Tidak peduli orang bilang jarum jam berputar ke belakang beberapa puluh tahun. Tapi sesungguhnya, apakah orang Amerika begitu jijik terhadap praktek pengangguran? Begini riwayatnya. (170) 

Eropa, mereka masih termasuk terbelakang dari sudut penggunaan kontrasepsi... Kondom yang dituduh banyak mempunyai dosa itu, menempati nomor satu di Finlandia dan Denmark. (174) 

Berkaca pada kestrikan Comstock, urgensi mengalahkan moralitas. (186) 

Sphinx pun tidak akan mengatakan bahwa ternyata mendirikan piramid lebih mudah daripada meratakan kesejahteraan, lebih mudah daripada mencerdaskan rakyat. (208) 

Eraini: Terpaksa ke Kota, Bukan Tarikan Neon Kemilau. (218) 

Untuk mendapatkan kuli yang diperlukan, dilakukan berbagai tipu daya terhadap mereka, dan mentalnya dirusak supaya tetap bertahan di perkebunan. (228) Kebiasaan berjudi dan bersenang-senang pada waktu gajian besar (tiap bulan) betul-betul menghancurkan mental kuli kontrak dan menggiring mereka memperpanjang kontrak terus menerus, tidak peduli penderitaan apa pun menimpanya. Sekali jadi kuli kontrak, tetap jadi kuli kontrak. (229) Isma: Pak Masri, aku lagi-lagi menangis membaca tulisan Pak Masri. Mungkin pas aku main ke UGM dulu, arwah Pak Masri benar-benar menyambutku. Aku teringat pada perbudakan modern yang dialami para manusia hari ini. Lingkaran setan yang merusak mental mereka. 

Pada Kelompok Tuna Wisma, dilakukan usaha 3 tertib, 3 bersih, 3 aman: (1) di dalam diri sendiri, (2) dalam keluarga, (3) dalam lingkungan... Terlintas dalam pikiran sebuah topik penelitian: peranan gelandangan dalam pembangunan nasional. (233) 

Kusum Nair, Blossoms in the Dust. 

Melihat penampilannya di pasar dan melihat barang dagangannya terus timbul belas kasihan... Tapi dalam penelitian kita harus berusaha menahan diri. (235-6) 

Tak berani lagi dia menghubungkan tarif tersebut dengan upah buruh tani, dan tak sampai hati dia mengaitkannya dengan Ekonomi Pancasila atau Demokrasi Ekonomi. (238) 

Jurang antara golongan atas dan menengah lebih besar daripada antara golongan menengah ke bawah. (243) 

Sayogyo, delapan jalur pemerataan, beserta matriksnya... Berkata Sayogyo dengan nada rendah tapi kocak, "Sayang tulisan saya mengenai Indeks Mutu Hidup di Prisma tahun 1984 sampai sekarang tidak ada yang menanggapinya, baik ilmuwan maupun policy maker." Peserta lalu senyum-senyum karena merasa bahwa, kalau sebuah konsep datang dari luar negeri, kita pun cepat ribut untuk menanggapinya, tapi lain halnya kalau itu datang dari pakar dalam negeri. (244) 

Tujuan utama dari pembangunan manusia adalah memperluas pilihan-pilihan, sehingga pembangunan lebih bersifat demokratis dan partispatoris. Pilihan-pilihan tersebut meliputi akses pada: pendapatan dan kesempatan kerja, pendidikan dan kesehatan, serta lingkungan fisik yang bersih dan aman. Tiap individu seyogyanya mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi penuh dalam keputusan-keputusan komunitas dan menikmati kebebasan-kebebasan insani, ekonomi, dan politik. Klise lama dicantumkan: pembangunan rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. (245) 

Gandhi mati hanya mewariskan dua mangkuk tempat nasi, sebuah sendok, dua pasang sandal, buku Bhagavad Gita, dan kacamata. (251) 

Inggah-inggih nanging mboten kepanggih.

Pinjam meminjamkan punya jalur, punya pola. Buruh tani miskin punya cara tertentu, usahawan kaya punya cara lain. Jumlahnya berbeda, jenisnya berbeda, tujuannya lain, sumbernya lain. Namanya pun bisa lain: yang satu "ijon" yang lainnya "kredit". (259) 

Membeli makanan dalam jumlah kecil dengan frekuensi yang tinggi... Percikan dari kebudayaan masyarakat miskin. (259) 

Semoga koruptor bekerja dengan baik, terus terang dan efisien. Cuma itu. (263)

Nampaknya Anda sudah menyiapkan alat-alat sebelum tujuan diketahui. Ada baiknya tujuan ditentukan dulu, baru dipikirkan alat untuk mencapainya. (268) 

Topik harus dikembangkan melalui bacaan. Minat, hipotesa, dan teori berkembang dari situ. Apakah sempat membaca waktu mengikuti lokakarya metodologi tempo hari? (268) 

Kata Dr. Ace Partadiredja, para ekonom tidak tertarik pada pendekatan antropologi; sebaliknya para antropolog, belum tertarik pada penelitian ekonomi. (273) 

Pertemuan kami adalah untuk membahas usulan penelitian yang berlusin-lusin banyaknya dari berbagai negara di Asia Tenggara. Tujuan program internet memberi kesempatan kepada peneliti muda untuk meningkatkan kemampuan meneliti dan memupuk kepekaan mereka terhadap masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan masalah kependudukan. (276) 

Prinsip jam kerja 37,5 jam seminggu. 

Bicara tentang pembangunan, kita harus bicara tentang hubungan kita dengan benda-benda. Kita harus mencintai benda-benda itu dalam arti yang sesungguhnya. Dan selalu ingin tahu tentang sifat-sifatnya, sehingga makin lama makin menguasai alam kebendaan. (284) 

Tampaknya ini juga kepribadian bangsa Indonesia. Orang datang mendengarkan suara. Tidak perlu mengerti isinya.... Kelompok I bahas Kak Alex di TVRI, kelompok II bahas lombok naik, kelompok III bahas seragam sekolah.... (288) 

Saya sudah siap menelan apa saja yang barangkali sukar dikunyah. Siap menyimak hal-hal teknis yang kurang saya mengerti. Maklumlah, saya buta huruf dalam bidang keahliannya. (289) 

Filsafat hidup Ki Ageng Suryomentaramlah orangnya yang mencanangkan asas 6-sa: sa-butuhe (sesuai dengan keperluan hakiki), sa-perlune (memenuhi kebutuhan secara efektif), sa-cukupe (tanpa berlebih-lebihan), sa-benere (sesuai dengan kenyataan yang obyektif), sa-mestine (sesuai dengan rasa kebenaran dan keadilan), sa-kepenake (tanpa melewati batas kesanggupan fisik dan material). 

Pada perguruan tinggi di Indonesia, perpustakaan merupakan embel-embel. Prioritasnya tidak tinggi. Statusnya saja tidak profesional. Selama ini di fakultas letaknya di bawah tata usaha yang tidak begitu mengerti tentang perpustakaan. Kalau bagian tata usaha sudah miskin, apalagi perpustakaan yang dibawahinya. (61)

"Pekerjaan ini memberikan kepuasan spiritual yang besar bagi saya karena efisiensinya tinggi," katanya sungguh-sungguh. "Waktu dipergunakan dengan sebaik-baiknya: dipakai dengan baik untuk bekerja, pakai dengan baik untuk rekreasi. Saya berusaha supaya selalu dalam keadaan segar. Jam terbang saya mungkin tidak kalah dengan pilot kita di muka. Gaji saya lumayan tapi tiap rupiah sangat halal karena kerja keras dan berusaha seefisien mungkin. Banyak orang menuntut kenaikan gaji. tapi kadang-kadang gaji yang rendah itu masih terlalu tinggi bila dihitung jam kerjanya dan apa yang dihasilkan.ungkin gajinya masih perlu diturunkan." (66)

Sikap dan ucapannya mengingatkan saya kepada Ivan Illich, Deschooling Society. Orangnya begitu polos, percaya diri dan konsekwen. Hari esok baginya hari kerja yang penuh gairah, hari menabur benih, menyiang, menghalau pipit atau panen. Bukan priyayi yang parlente, "thenguk-thenguk nemu gethuk." (68)

Penelitian-penelitian tidak luput dari berbagai masalah. Dalam pengambilan sampel orang perlu berhati-hati. Si peneliti juga perlu berhati-hati dalam menguraikan hasil penelitiannya tersebut. Dalam studi kasus, orang perlu hati-hati menarik kesimpulan, yakni bahwa hasilnya terbatas pada kasus tersebut, secara geografis dan sosial. Jangan cepat-cepat membuat generalisasi walaupun tidak mustahil bahwa fenomena tertentu, kalau diteliti, memang terdapat secara meluas di tempat-tempat lainnya. (77)

Ada kalanya terdapat masalah konsep, masalah mutu kuisioner (daftar pertanyaan), mutu wawancara atau mutu pengisian kuisioner, dan juga masalah analisa. Tiap tahap perlu dilakukan dengan hati-hati karena, sekali data sudah terkumpul dan dianalisa, si peneliti akan percaya pada hasilnya, percaya pada tabel-tabelnya. Tidak etis jika dia sendiri kurang percaya kepada angka-angkanya itu dan mengharapkan orang lain percaya. (77)

Karena masalah konsep yang tidak atau kurang dimengerti oleh responden, boleh terjadi kuesioner asal diisi, asal dijawab. Itu juga dapat terjadi kalau, karena suatu hal, dia kurang suka kepada si penanya. Dijawab seenaknya saja. Sebaliknya, jawaban mungkin cenderung terarah kepada jawaban tertentu, apalagi kalau dihadiri pula oleh pamong desa, yang merasa perlu untuk menghadirinya. Jawabannya dia sesuaikan dengan keinginan pamong. (77)

"Bapak ngerjain tanah berapa luasnya?" Responden terkejut dan menjawab: "Saya ngerjain tanah?" Dan suasana wawancara menjadi kurang enak dan ini dapat mempengaruhi obyektivitas jawaban. Sering terdapat jawaban yang menyimpang dari tujuan karena tidak termasuk ke dalam kategori yang dimaksudkan. Untuk menyisihkan jawaban tersebut dipakai istilah NA (not applicable). (78)

Bagi orang miskin pinjaman identik dengan bantuan. Dalam otak mereka hutang dan bantuan menjadi berbaur. Terserah mau diterangkan dengan teori apa. Barangkali bisa dihubungkan dengan teori Kusum Nair tentang aspirasi yang terlalu rendah, dengan David Penny tentang subsistence mindedness, dengan David McClelland tentang need for Achievement (n-Ach) yang pudar. Ahli lain barangkali bilang mereka tidak jauh melihat ke depan. Punya kecondongan yang terlalu besar untuk segera mengkonsumsikan. Tapi Oscar Lewis akan bilang, tanpa tedeng aling-aliing, bahwa doyan berhutang termasuk sebuah ciri kebudayaan golongan miskin, the culture of poverty. Mereka senantiasa terjun ke dalam dunia hutang dengan spontan, kapan saja kesempatan terbuka. Di samping itu suka jual beli barang bekas, membeli makanan dalam jumlah kecil dengan frekuensi yang tinggi. (259)

Kasus ini (tak diberi karcis agar dapat uang lebih) berbeda dengan korupsi tak kentara oleh penjaga palang rel kereta api, yang dituturkan oleh Syed Hussein Alatas. (The Sociology of Corruption, 1975). Konon seorang penjaga palang dengan sengaja terlalu awal menurunkan palang. Siasatnya ini sulit diketahui umum karena kereta memang sering terlambat lewat. Nah, antri kendaraan menjadi lama dan panjang. Banyak di antara mereka yang tertahan di antaranya sopir dan kernet truk, memarkir kendaraannya lalu jajan di warung-warung tepi jalan. Dan di sinilah letak kongkalikongnya. Penjaga palang mendapat komisi dari pemilih warung. Keterlaluan. Akibatnya, terhadap efisiensi, penghambatan transportasi, kekacauan jadwal orang, bukan main. (261)

Untuk kesekian kalinya dia dimintai konsultan. Bakal terjadi pengangguran konsultan kalau dituruti. Sudah berapa kali terjadi, konsultan yang mahal itu kebingungan, tak tahu apa yang mau dikerjakan di tempatnya yang baru. Rekan-rekan setempat sibuk ngobyek, seminar, lokakarya, widyakarya, rapat, mengikuti penataran, memberi ceramah, menjemput tamu, mengantar mahasiswa study tour, dan lain-lain. Tidak diketahui hari apa jam berapa ada di kantor. Dan sebagai barang pajangan yang mulus berulang kali sang konsultan diperkenalkan dengan sopan dan ditanyai: Apakah tuan kerasan di sini? Apakah suka nasi? Apakah sanggup makan sambal? (269)

Nasib Widodo, 18 tahun, sudah mati. Kematian yang konyol dari sebuah kehidupan yang konyol pula. Dia mati tanpa KTP, tanpa orang tua yang kehilangan anak, tanpa Kepala Desa yang kehilangan warga. Tanpa negara yang kehilangan warga negara. Namanya tidak tercantum di daftar mana pun. Dia cuma warga dunia. Soal pemakaman ini membuat Didit Adinanta pusing tujuh keliling. (299)

Matinya lebih mendapat perhatian daripada hidupnya. Matinya lebih terhormat walaupun ibunya tetap belum mengetahui kematian Dodo sampai sekarang. (302)

Untuk macam-macam urusan, kita bergelimang dengan aneka ragam formulir, banyak kuitansi, tanda tangan, stempel, membungkuk-bungkuk, bolak-balik, dan butuh banyak waktu menunggu. Tetek bengek yang menguras waktu dan energi itu tidak ada di negeri maju. Pada dasarnya kita tidak saling percaya. Tapi kita memuji-muji diri dalam hal kekeluargaan, ke-Timuran, tepa selira, gotong royong, tidak individualitis, dan yang muluk-muluk lainnya. Seolah kita lebih peka tentang soal-soal manusia daripada bangsa lain. Kalau kita saling percaya mengapa diperlukan Surat Berkelakuan Baik untuk berbagai urusan? Kita punya praduga bahwa yang bersangkutan tidak baik, kecuali dia dapat membuktikan sebaliknya. Kriteria juga tidak jelas bagaimana yang berkelakuan baik dan bagaimana yang tidak berkelakuan baik. (304)

Mohammad Said Reksohadiprodjo, Ki Ageng Suryomentaraman, Alex Inkeles. 

Judul: Renungan dari Yogya | Penulis: Masri Singarimbun | Penerbit: Balai Pustaka Jakarta | Cetakan: Pertama, 1992 | Jumlah halaman: 305 | Dimensi: 21 cm 

Selasa, 03 Maret 2026

Catatan Buku "Anatomi April" karya Bagus Dwi Danto

Halo Mas Danto, kayaknya sudah lama tidak ngobrol lagi. Terkait apa saja, terlebih terkait musik, musisi yang disingkirkan sistem, musisi pinggiran, buku-buku perlawanan yang menarik untuk ditarik metode survivalnya bagi orang-orang yang hidupnya sering ada di tepi jurang. Obrolan dengan Mas Danto selalu dalam dan sering membuatku berpikir sampai berhari-hari kemudian. Mas Danto sudah seperti saudara tua jauh yang memberiku sudut pandang lain untuk melihat bukan dari pusat sebagaimana orang sering tuju, tapi dari pinggirannya, yang sakit, luka, bopeng, dan ditelantarkan. Mas Danto, kita masih ada imajinasi untuk menulis musisi yang melalui laku hidup seperti Kang Mukti Mukti. Aku akan mengusahakannya lebih serius lagi.

Oh ya, Mas Danto, hari ini ibuku ulang tahun. Ibuku lahir di Blora, 3 Maret 1965. Berarti usianya sekarang 61 tahun. Keren sekali sih ibu, meski sudah empat tahun lebih ini sakit stroke sebelah dan cuma bisa tidur di amben, dia tetap ada semangat untuk hidup. Aku kadang ingin menangis sendiri membayangkan begitu kuatnya dia, sampai-sampai kalau pun aku jadi dia, aku ragu bakal bisa jadi orang yang sekuat dia. Aku menulis ini karena aku tahu, Mas Danto juga sangat sayang pada ibu. Bahkan, buku kumpulan puisi ini Mas Danto persembahkan untuk ibu. Katamu: "Kagem Ibu." Bahasa Jawa Kromo yang berarti, "Untuk Ibu." Mungkin aku tak begitu dekat dengan ibu, tapi beliau sampai kapan pun adalah panutan soal kesabaran bagiku. Lewat tulisan sederhana ini, aku ingin mengucapkan, "Selamat ulang tahun, Ibu. Semoga Ibu sembuh dan bisa sehat lagi, bisa main sama cucu lagi, dan jalan-jalan keliling rumah. Aamiin."

Buku yang ada di tanganku sekarang, yang sampul oranye-nya tertulis judul "Anatomi April", sudah kubaca untuk ketiga kalinya. Pertama, aku membacanya saat main ke Gramedia di Grand Indonesia (GI) Jakarta. Saat aku maraton membaca buku yang sampul plastiknya terbuka. Ah, aku jadi ragu, apakah di GI atau Pacific Place, karena agak-agak mirip vibes-nya. Sebenarnya agak curang karena membaca sampai habis, tapi tidak membeli. Membaca di Gramedia bukan cuma satu, bahkan sampai lima buku, haha. Ya, rata-rata hanya buku yang bisa dibaca sekali duduk. Sebab di tempat lain, kegiatan ini dilarang. Jangankan baca buku sampai habis, buka sampul plastiknya aja gak boleh. Tapi bagi sebagian orang yang gak mampu beli buku, aku akan rela untuk melegalkannya. Aku teringat kata Bernard Shaw, tentu saja, "Dibutuhkan modal tertentu untuk menjalani moral tertentu."

Dan, oh, ternyata pas aku lihat di Goodreads, tanggal 17 April 2022, aku pernah memberikan ulasan begini:

Pada pembacaan kedua, mungkin sekitar beberapa bulan lalu, aku memutuskan membeli buku Mas Danto melalui keranjang oranye. Mas, jujur, baca buku ini tuh seperti mendengarkan lagu-lagu yang ada di album "Woh". Beberapa diksi, frasa, dan struktur metaforanya begitu karib sampai bisa aku nadakan. Kalau mau jujur lagi, banyak puisi yang tidak aku mengerti, dan perlu pembacaan berkali-kali dan sangat slow reading untuk menangkap makna di baliknya. Meskipun buku ini bisa dibaca cepat, pemaknaannya bisa digali bahkan sepuluh tahun kemudian. 

Lalu, pada pembacaan ketiga, ketika aku hendak menulis untuk catatan buku ini.

Ada istilah lain dalam penulisan itu yang disebut "slow-burn", dan buku ini tipe yang begitu. Artinya bukan tipe tulisan yang meledak-ledak terus padam kayak kembang api, tapi pelan, lambat, dan bertahap untuk memahaminya. Mirip kayak bara api, dia gak cepat padam, dan tahan lama. Namun, ada satu tantangan lagi ketika membaca buku Mas Danto ini, bagi orang dengan modal metafora khas puisi yang masih terbatas, pembaca bisa jadi akan tersesat dan tidak paham. Pendeknya, ini sebenarnya mau bicara apa sih? 

Buku ini juga memilih untuk tidak memakai nomor halaman sebagaimana buku-buku lain. Barangkali agar pembaca tidak terbelenggu dengan angka-angka, atau semacam perhitungan kuantitatif: aku sudah di halaman mana? Sudut lainnya, barangkali ini memang strategi agar puisi ini bisa dibaca dari lembar yang mana saja. Secara pilihan huruf juga ditulis dengan kecil semua tanpa kapital. Seolah huruf kecil ingin mengejek si huruf besar, bahwa tanpa huruf besar pun, huruf kecil bisa berdiri.

Secara personal, aku sangat suka dengan judul-judul puisi di buku ini yang menurutku sangat imajinatif, seperti "springbed kebudayaan", "layout libido", dan "republik luka". Kalau kuhitung satu-satu, ada 70 puisi. Hampir di setiap puisi ada ilustrasi khusus yang dibuat oleh perupa bernama Dodi Irwandi. Aku tak akan membahas banyak soal ilustrasinya, tapi lebih pada puisinya. Secara gambar, sebagian besar sudah mewakili. Pesan gambarnya membuat pembaca seperti diajak senam antara makna yang denotatif dan konotatif. 

Aku juga baru ngeh, buku ini kokinya Om Dodo. Aku teringat dengan sosoknya yang ceplas-ceplos dan apa adanya saat dia sering main ke Penerbit Pocer Jogja mirip Mas Eka Wijaya dulu. Di mana saat dulu aku menjadi pekerja di Pocer. Editornya juga Mas Reza Nufa. Penulis buku "Pulang ke Rinjani" yang pernah Mas Danto ceritakan berkelana dari kosnya di wilayah Ciputat ke Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB). Aku juga pernah bertemu dengannya di Kafe Basabasi saat mengantar teman membahas soal perbukuan.

Aku penasaran mengapa judulnya "Anatomi April?" April dalam kepalaku bisa berkorelasi dengan banyak hal: Hari Kartini, bulannya para perempuan selain bukan Desember, April mop, bulan kelahiran adikku dan crush ku dulu (yang aku sadar, aku tidak cocok dengannya karena kami beda dunia, beda energi, semacam air dan minyak). Lalu, anatomi mengingatkanku dengan pelajaran Biologi pas SMA. 

Aku punya beberapa guru Biologi yang menurutku ikonik, salah satunya, sebut saja Bu Ning, rambutnya pendek dan tebal di atas bahu. Wajahnya tegas tapi tetap approachable. Kalau pelajaran dia selalu di Laboratorium Biologi, dan aku masih ingat saat dia menerangkan terkait bab anatomi tumbuhan, hewan, dan manusia. Dia jelaskan secara detail lewat PPT yang dia buat. Tahun 2009 dulu, masih sedikit guru yang menggunakan PPT. Bagiku dia selangkah lebih maju. Aku juga tak lama ini mendapat kabar, jika beliau meninggal. Semoga husnul khotimah.

Kalau refleksi sama ilmu IPA, barangkali aku membayangkan Anatomi April itu secara metaforis merujuk pada segala pengalaman yang terjadi pada Mas Danto saat bulan April. Itu anabel-ku aja sih, alias analisis gembel, wkwk. Yang jelas, antara narasi personal dan kritik sosial coba diulen jadi satu, kemudian dimarinasi jadi puisi-puisi yang menyesakkan hati. Nyaris, tak kutemukan fitur bahagia dalam cerita-cerita yang dibawa oleh puisi-puisi itu. Kecuali mungkin puisi berjudul "Cinta", yang bunyinya: "meski bersampul warna-warni / cinta tetap prolog tanpa koma". Ini pun masih misterius ronanya. Penggembolan kebahagiaan seperti jadi lagu sumbang.

Secara isi, aku menangkap ada beberapa diksi-diksi yang jadi kata kunci: kawan, lawan, keluarga, hidup, mati, sepi, mimpi, ajal, nihil, api matahari, buta, kebudayaan, kiri, restorasi, pucat, lelah, bungkuk, jerit, cakar, lubang, darah, pecah, rebah, spasi, hantu, deru, rahasia, tanya, tanda, toilet, pahit, mahal, air mata, kuasa, tai, nanah, sekam, desis, jerit, berak, kepyur-kepyur, bangkai, hitam, kere, polisi, mitos, penjara, mentok, kering, nisan ... suaka marga sastra ...

Aku menyukai metafora-metafora semacam:

"berat amat mereka mimpi / mungkinkah seperti kita / dan kita adalah tralala"

"sebelum jalan terjamah hasrat / jalan kecil di ujung mulai rintik / termakan tarot" 

"pelan-pelan / manusia membebani / pundaknya sendiri"

"siang ini kupetik setangkai setan di / sebatang hape. hati yang imitasi"

"begitu kerap kemunculan / begitu palsu"

"warung bakmi menyikat rugi dengan / hati-hati. panah putih retak. ada yang / tak sudi pada senja. menanggung / matahari mengunyah aspal. gontai. / kupinjam toilet dari mulutmu"

"kulirik aku. siangku lapar, kumakan / saja teman-teman"

"semakin beragenda / semakin putus asa"

"ketela / tumbuh subur kendati pisah kasur"

"gerobak bakso merampok matahari / dalam mangkuk meremas nalar" 

"ada subuh di apotik berdinding kaca" 

Namun, yang menurutku sangat menarik dari buku ini, sebagaimana yang sudah kutulis di Goodreads, "Mas Danto membawa cara tutur baru, diksi-diksinya unik, tidak linier, dan di berbagai puisi, saya butuh banyak waktu untuk mengartikan beberapa lariknya saja." Jika Chairil Anwar punya model berpuisinya sendiri yang membawa pembaruan, bagiku Mas Danto dalam buku "Anatomi April" ini juga punya literer otentiknya sendiri. 

Terakhir, terima kasih Mas Danto sudah menulis "Anatomi April". 

Judul: Anatomi April | Penulis: Bagus Dwi Danto | Ilustrasi: Dodi Irwandi | Koki Buku: Dodo Hartoko | Penyunting: Reza Nufa | Penerbit: Shira Media | Cetakan: Pertama, 2021 | Dimensi: 14,8 x 21 cm | Jumlah halaman: 124