Minggu, 16 Agustus 2026

Obituari Meninggalnya Bapak

1/ Satu rasa penyesalanku sebelum Bapak meninggal adalah belum sempat bilang kalau aku mau S2 di Antropologi. Dulu saat S1, pas daftar SBMPTN, aku juga gak bilang Bapak. Sampai akhirnya pengumuman aku akan melakukan tes di jurusan Fisika baru bilang. Keputusan ini aku ambil karena sudah di taraf tidak mampu mewujudkan harapan Bapak agar aku bisa masuk sekolah kedinasan yang beliau bilang masa depan lebih jelas: kebutuhan sekolah dibayari, setelah lulus PNS. Selama rentang waktu 2 tahun setelah lulus SMA tahun 2011, aku mencoba daftar IPDN (3X), STAN (2X), dan STIS (1X), sampai habis prasyarat usiaku. Di tengah-tengah itu, selain sempat nganggur juga sempat kerja jadi pelayan toko di pasar induk Cepu. 

2/ Namun cita-citaku buat kuliah tetap tinggi. Buku-buku seperti "Laskar Pelangi", "Sang Pemimpi", dan " Edensor" yang kubaca dulu membuatku jadi pengen sekolah tinggi juga. Bukan buku Pramoedya Ananta Toer, A.A. Navis, Marah Roesli atau berbagai buku berat kala itu yang menggerakkan masa kala itu. Sebagai anak kurang gaul dan pendiam di sebuah SMA level kecamatan, aku seperti mahasiswa di jejaring penulis pop culture pada umumnya, pembaca Andrea Hirata yang booming kala itu. Ada keinginan di hati kecilku ingin melanjutkan cita-cita Lintang Samudra Basara (aku fans Lintang) yang tertunda, yang pengen jadi matematikawan, karena itu, aku masuk sains. Karena buku-buku Andrea juga aku punya mimpi-mimpi yang gak tahu diri tentang pendidikan, pencapaian, dan karier. 

3/ Siswa-siswa yang tumbuh di daerah, yang tanah kelahirannya kaya minyak, tapi masyarakatnya banyak yang miskin sepertiku memang perlu lebih aktif agar bisa maju. Termasuk dengan membaca buku-buku, apa pun bukunya, asal bisa memberikan inspirasi untuk memperbaiki hidup. Dulu, jika dibandingkan teman-teman sekelas, kelebihanku bukan karena dapat juara-juara, tapi karena sering ke perpustakaan. Aku gak begitu ambis di akademik, prestasiku tengah-tengah saja, misal dari 45 siswa, aku sering dapat rangking antara 21 sampai 25. IQ ku biasa-biasa aja. Motivasi lainnya, karena saat itu guru Matematika favoritku bernama Pak Dwi Setyanto bilang, "Ma, kuliah ya, meski cuma D1." Beliau udah kuanggap seperti Bapakku sendiri di sekolah. Aku akan sedih kalau kelas Pak Dwi kosong. Suatu hari, aku ingin buat tulisan khusus juga untuk beliau. 

4/ Usai berbagai kegagalan sekolah kedinasan, aku inisiatif cari universitas yang kira-kira tidak memberatkan ekonomi Bapak, karena adikku tiga, dan aku anak perempuan pertama. Aku cari universitas kala itu dengan indikator satu saja: "murah". Dari berbagai universitas yang seleksinya dengan SBMPTN, entah kenapa saat itu aku nemu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tahun masukku 2013 dulu jadi tahun pertama percobaan UKT, pembayaran untuk jurusan Saintek 1 juta/semester, sementara yang rumpun agama/sosial hanya 600 ribu, sampai rektor Pak Musa Asy'arie kala itu bilang, UIN Jogja itu kampus paling murah "di dunia dan akhirat". Aku mengamininya. Entah sekarang, kalau memperhatikan berita-berita di LPM Arena (UKM yang membentukku dari maba sampai lulus), label "termurah di dunia dan akhirat" itu sudah tidak relevan lagi. 

5/ Saat aku memberi tahu Bapak, aku daftar UIN tanpa konsultasi dulu ke beliau yang membiayai, Bapak marah. Aku masih ingat momen nangisnya kala itu pas diceramahi Bapak. Tapi Bapak luluh juga mengikuti keinginanku. Malah Bapak yang ngantar aku tes SBMPTN di SMA 6 Semarang, tanggal 19 Juni 2013, naik kereta. Karena gak ada saudara, saat itu nginep di masjid. Ternyata aku lolos di UIN, Bapak juga yang mengantarkanku naik sepeda motor tuanya dari Cepu ke UIN Jogja untuk daftar ulang. Usia Bapak saat itu 64 tahun, masih kuat angin mengendara dengan motor dengan jarak sekitar 200 km. Kami berangkat pagi dan sampai malam sekitar Isya, tanpa Google Map dan pengalaman sebelumnya, entah kenapa Bapak bisa tahu jalan. Pas lewat UIN, aku ngeh karena plang yang cukup besar. Melihat UIN pertama kali, jujur saat itu di atas ekspektasiku. Aku pikir UIN kecil seperti STAI Al Muhammad Cepu, tapi malam itu entah kenapa terlihat agung, besar, dan beraura bijaksana. Gedung pertama yang kulihat setelah gedung rektorat yang terletak di pinggir jalan adalah Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, lebih khusus lagi berhenti sejenak di tulisan jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (kelak, teman-temanku banyak di jurusan ini). 

6/ Usai berhenti di UIN, Bapak mengajakku ke arah Malioboro. Sampai sekarang, aku masih takjub dengan kemampuan navigasi Bapak, kok bisa-bisanya dia seolah tahu jalan dan gak tersesat? Sesampainya di Malioboro dan mamarkirkan mobil di pinggiran jalan, malam itu untuk pertama kalinya aku merasakan gegap gempita Jogja. Malioboro begitu ramai dengan para wisatawan, orang-orang jualan, pengamen, dan permainan angklung yang khas. Saat itu, Bapak kupikir pusing akan tidur di mana. Kami tidak menemukan masjid semudah di Semarang, jika pun buka, masjid di Jogja sedikit yang buka 24 jam sangat jarang. Akhirnya, entah mendapat ide darimana, Bapak menyuruhku tidur di emperan depan pagar Museum Benteng Vredeburg sekitar Titik Nol Jogja, yang tak jauh dari kompleks istana di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Aku tidur, Bapak yang jaga sambil tidur dan wiridan (kebiasaannya). Aku tidur di antara hingar bingar suara Malioboro. Sampai esoknya bangun, mencari masjid yang buka untuk mandi, dan daftar ulang ke UIN. Usai mengurus administrasi, lalu kami meneruskan perjalanan pulang ke Cepu. 

7/ Pas akan masuk kuliah pertama kali, Bapak juga yang mengantarkanku bolak-balik dari Cepu ke Jogja. Bapak juga yang mencarikan aku kos pertama di daerah Balai Yasa, bengkel kereta api yang depannya banyak pphon-pohon tua besar dan terkadang sering disebut angker. Di depan Balai Yasa adalah rumah-rumah zaman Belanda, tempat di mana aku ngekos pada seorang nenek sepuh dengan panggilan Eyang. Hampir semua yang ngekos di tempat Eyang adalah mahasiswa-mahasiswa STIE YKPN. Kos pilihan Bapak atas saran dari Bapak tukang becak nyaman, keluar pintu langsung udara, tanah, dan pohon. Hubungan Bapak dan Eyang juga sangat baik. Di semester awal-awal, aku mencoba banyak ekstrakurikuler kampus, dari persma Arena, Sanggar Nuun, PMII cabang Saintek sebentar, sampai KMPD, membuatku sering pulang malam. Terutama pas latihan pentas teater, dengan sepedaku, oh ya, Bapak membelikanku sepeda mini warna pink untuk transportasiku sehari-hari, aku sering lewat Balai Yasa sendirian yang dianggap angker dengan pohon-pohon jaman penjajahan sampai rumah-rumah gaeknya itu. 

8/ Karena kos Eyang punya jam malam sampai pukul 22.00 WIB, sementara kegiatan-kegiatan di kampus memintaku fleksibel, akhirnya aku pindah kos di sekitar Kantor Kecamatan Gondokusuman. Di kos yang pemiliknya memelihara dua anjing besar itu, Bapak masih beberapa kali menengokku. Pesan yang sering aku dengar dari Bapak, dia akan mengusahakan apa pun untuk pendidikan anak, asalkan si anak mau sekolah. "Tak badhani. Isane mung nyangoni ilmu (Bapak biayai, bisanya hanya membekali ilmu)," katanya. Ya, meski saat itu aku offside kuliah sampai lulus di semester 9 dengan IPK yang biasa-biasa saja, karena aku lebih sibuk di Arena daripada Fisika, Bapak sempat menegur, meski aku juga memberikan alasan-alasan. Sampai tahun 2018, aku lulus, Bapak sudah tidak cawe-cawe lagi dengan pilihan pekerjaanku, meskipun keinginan dia yang utama tetap satu, jadi PNS seperti dirinya. 

9/ Bapak sendiri lahir di Bojonegoro, Jawa Timur tahun 1949. Dia anak pertama dari sembilan bersaudara. Didikan keluarganya cukup keras, tapi dari didikan keras itu, rata-rata saudara Bapak bisa hidup layak. Pendidikan Bapak SMA, tapi beliau pernah bilang sempat merasakan pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Malang zaman itu, IPDN kalau sekarang, yang kampusnya di daerah. Tapi karena Bapak tergolong nakal di zaman mudanya, dia tidak lulus. Ya, Bapak juga mengalami banyak kenakalan di era remaja sampai menikah dua kali. Di pernikahan pertama, Bapak punya empat anak, jadi aku punya banyak saudara tiri juga. Setelah cerai dari istri pertama, Bapak menikah dengan ibuku, yang juga punya empat anak. Karena punya latar belakang semi-militer, Bapak juga mendidikku dan adik-adikku tak kalah keras juga. Bapak sendiri meski gagal di APDN, dengan ijazah SMA diterima jadi PNS bergolongan rendah-menengah sampai pensiunannya sebagai Satpol PP. Dengan "menjagakan" uang pensiun itulah, Bapak mengkuliahkanku, dan terus mendorongku dulu sekolah kedinasan dan jadi PNS. Bapak pengen ada anaknya yang sekolah di IPDN, bahkan nama adikku nomor tiga ada kata Praja-nya. 

10/ Berkat doa Bapak juga barangkali, aku bisa bekerja di Jakarta seperti sekarang. Di lingkungan dan instansi yang sebenarnya juga tidak jauh-jauh dengan dunia Bapak, dan mimpi Bapak. Bapak mungkin bangga aku bisa kerja di lingkup Dagri dan Pemda, turun lapangan langsung sampai ke daerah-daerah terpencil di berbagai pulau di Indonesia. Sementara rekan kerjaku rata-rata adalah lulusan IPDN. Nasib berjalan dan melingkar dengan cara yang aneh bukan? Dan, cita-cita untuk sekolah tinggi itu masih kugenggam. Tuhan memberikanku kesempatan untuk melanjutkan kuliah lagi tahun ini. Aku diterima di S2 Antropologi Universitas Indonesia (UI). Setelah berbagai percobaan beasiswa, yang lagi-lagi menghadapi kegagalan, sampai akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan gaji bulanan sebagai bekal melanjutkan kuliah S2. Suatu hari, ada teman yang bertanya? "Kamu kuliah beasiswa, Is?" Aku jawab, "Enggak dong, ini itu dari Ideopraksis Foundation." Lalu dijawab temanku, "wkwk". Aku sendiri juga tertawa, hahaha. Hidup ini juga tidak mudah, sebelumnya, tabunganku selama di bekerja full hours pernah habis sampai minus karena kena tipu secara online orang yang mengaku-aku teman. Namun, alhamdulillah lagi, aku masih bisa seperti burung Phoenix, bangkit lagi apa pun yang terjadi. Sejak saat itu, aku sangat berhati-hati soal uang, punya tujuan finansial yang lebih jelas, salah satunya alokasi untuk pendidikan.

12/ Beberapa hari yang lalu, aku sempat berdiskusi dengan kawan, kakak angkatan lulusan UIN yang juga akan wisuda di Antrop UI sebentar lagi. Kata-katanya menurutku jadi renungan yang berharga buatku pribadi. Konteksnya, aku punya banyak sekali minat, gimana caranya agar aku bisa fokus ke salah satu bahasan? Kalau bahasa ilmiahnya bisa disebut, trayektori akademik. 

Dia bilang, "Anak UIN kayak kita gak punya privilese untuk punya imajinasi trayektori, just follow the money." Aku bingung, memintanya menjelaskan lebih, katanya:

Jadi, menurutku anak2 uin kan yg penting asal kuliah (ini jamanku yg spp masih 600), yaa. Jadi terbiasa berpikir dan hidup scr generalis. Belajar de urban property. Mereka gak akan bisa hidup jika mjd spesialis. Perjalanan hidup mereka menuntut mjd generalis, harus bisa segala bidang, karena gak mungkin mjd spesialis, itu akan menambah pengeluaran. Jadi pas ditanya, "apa trajektorimu?". Biasanya bingung karena terbiasa hidup generalis. Trajektori menuntut timeline dan expertise. Atau setidaknya peminatan yg spesifik. (Putra, 2026) 

13/ Dari situ rasanya kayak, deg, blind spot-ku terbuka. Ini alasan yang sangat jelas, mengapa mahasiswa yang hidup dari kelas menengah ke bawah dan kekurangan/pas-pasan secara ekonomi susah membayangkan dirinya sebagai seorang ahli. Karena mode hidup kami lebih banyak soal bertahan, mencari uang, dan aturan sederhananya adalah, kemana uang itu ada, kita mengikuti. Asalkan bisa hidup dan makan sehari-hari, "just follow the money." Tentu, bukan follow curiousity, nah, itu kenapa juga terhubung dengan kegelisahanku setelahnya, mengapa di dalam kultur akademik kampus, mahasiswa yang fokus pada penelitian teoritik itu jauh lebih sedikit daripada yang penelitian lapangan? Contohnya, di jurusan Fisika angkatanku, seingatku tidak ada satu pun yang fokus ke fisika teoritik, hampir semua arahnya ke penelitian terapan di bidang instrumentasi, material, dan fisika bumi. Bukannya antara yang teoritik dan lapangan tidak berhubungan, tapi aku penasaran mengapa penelitian yang satu lebih dominan dibanding yang lainnya.

14/ Lewat tulisan ini, aku sungguh berterima kasih pada Bapak yang sudah mbandhani aku sampai lulus dari UIN. Masa ketika aku menjalani jenjang S1 adalah titik balik banyak perubahan besar dalam hidup. Bukan karena aku dapat ijazah, tapi perubahan caraku berpikir, perubahan paradigmaku menjalani hidup, hingga dipertemukan dengan orang-orang yang akan mengubah hidupku di kemudian hari. Bagiku, kado terindah dari Bapak sejauh ini bukanlah materi, tapi pendidikan. Bapak juga bilang, misal aku mampu sekolah sampai di tingkat paling tinggi, dia akan mengusahakan. Bapak, kini Isma sudah bisa menjalani hidup mandiri, sebagaimana arti nama "Swa" yang Bapak berikan padaku. Kali ini, aku izin ke Bapak untuk melanjutkan sekolah lagi, Pak, aku mau jadi Antropolog di kemudian hari. Semoga Bapak ridha dengan pilihan Isma. Matur nuwun njih, Pak.

Jumat, 14 Agustus 2026

Catatan Klenik Studies Vol. XIII Edisi 23 Juli 2026: “Hantu dan Permainan”

Klenik Studies Vol. XIII Edisi Kamis, 23 Juli 2026 mengambil tema “Hantu dan Permainan”. Diskusi ini dihadiri oleh Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Jevi Adhi Nugraha, dan Isma Swastiningrum. Tentu kawan-kawan tak asing dengan jalangkung, yang awalnya untuk permainan memanggil roh halus. Permainan lain yang cenderung mistis di berbagai budaya seperti hide and seek, dakon dengan alat yang berasal dari masa lalu, instrumentasi boneka yang ditusuk lalu menjadi hantu, dll. Nah, permainan-permainan ini yang kami bahas, tapi sebelumnya, kami melakukan evaluasi.

I. EVALUASI SATU TAHUN KLENIK STUDIES

Pada bagian evaluasi satu tahun Klenik Studies, pembahasan diawali dengan gagasan untuk memiliki tenaga lebih dalam menjalankan kelompok studi. Pembahasan kemudian mengarah pada pentingnya mengenal terlebih dahulu orang-orang yang akan terlibat dalam kegiatan Klenik Studies.

Jika Klenik Studies ingin dijalankan lebih serius, perlu ada MoU. Hal-hal yang dianggap sepele dapat menjadi besar, terutama jika berkaitan dengan pasal-pasal di dalamnya. Termasuk orang yang menjadi pemateri dalam diskusi Klenik Studies tidak merupakan pelaku kejahatan seksual. Selain itu, sebagaimana yang dikatakan Sulkhan, sharing pengetahuan yang berlangsung dalam kelompok. Semua yang ia lemparkan dalam diskusi dianggap bebas dipakai. Namun, teman-teman lain memiliki konsen yang berbeda. Banyak topik yang sebenarnya memiliki nilai ekonomi jika ingin dimanfaatkan. Arahnya kemudian perlu dibicarakan bersama.

Salah satu kemungkinan yang dapat dilakukan dari tawaran Jevi adalah membuat workshop sendiri. Workshop internal komunitas yang dilakukan secara santai tetapi serius. Ia juga melihat bahwa evaluasi satu tahun ini dapat menjadi titik refleksi. Untuk sementara, menurutnya, Klenik Studies bisa berjalan seperti sekarang tanpa menutup kemungkinan merambah ke hal-hal lain. Akbar menyampaikan bahwa ia sepakat dengan Jevi. Menurutnya, selama ini ia lebih banyak melakukan diskusi dan jika dikembangkan lebih jauh, arahnya bisa menuju konten.

Sulkhan kemudian membahas kemungkinan membuat proyek seperti zine, buku, dan sebagainya. Kegiatan semacam ini juga membutuhkan massa yang dapat membantu membagikan atau menyebarkan hasilnya. Namun, jika membuat proyek, ia menyarankan agar dimulai dari proyek-proyek kecil saja. Jevi menghubungkan gagasan tersebut dengan workshop. Perlu disepakati berapa orang yang akan terlibat. Hal ini juga berkaitan dengan dinamika media sosial hari ini.

Pembahasan kemudian kembali pada persoalan arah dan output kelompok. Akbar mempertanyakan, “Outputnya apa?” Menurutnya, Klenik Studies perlu memiliki output yang tangible. Kelompok ini betul-betul perlu menentukan arah dan secara spesifik tetap berada pada kajian klenik.

Kami kemudian melihat adanya dua kepentingan dalam keberlangsungan Klenik Studies. Di satu sisi, ada kehidupan dan kepentingan jangka pendek yang sifatnya santai, sebagai jeda dari kehidupan sehari-hari, sisi lain, komunitas juga perlu sustain. Karenanya, perlu dipikirkan bagaimana kedua misi tersebut dapat menyatu. Klenik Studies dapat tetap menjadi ruang jeda, tetapi pada saat yang sama memiliki misi yang lebih besar ke depan.

II. HANTU DAN PERMAINAN SEBAGAI BENTUK SOLIDARITAS DAN MOBILITAS SOSIAL

Akbar mengawali pembahasan tema “Hantu dan Permainan” dengan melihat kembali permainan, seperti main jelangkung-jelangkungan dan penggunaan ouija board. Menurutnya, motivasi awal permainan-permainan tersebut adalah keinginan untuk bersinggungan dengan sesuatu yang gaib. Dalam permainan uji nyali, ada keinginan untuk mengalami persinggungan tersebut, tetapi ada pula teman yang bisa menarik kita ketika merasa takut. Dalam permainan itu, ada teman dan solidaritas yang ikut bekerja dari dalam. Motivasi permainan ini juga berkaitan dengan bagaimana kita menghubungkannya dengan hal-hal yang ilmiah. Kita membahas sesuatu yang gaib, tetapi ada juga teman-teman yang mengajak dan menemani.

Sulkhan menceritakan pengalamannya memainkan jalangkung-jalangkungan. Ia ingin diangkat sebagai jagoan, ingin dianggap keren, dan merasa sudah melampaui anak-anak lain karena pernah melihat hantu bersama teman-teman saat bermain jalangkung. Namun, ia sendiri tidak menemukan hantu. Saking khusyuknya bermain, ketika terdengar suara kresek, mereka langsung lari. Permainan jalangkung dengan boneka yang menulis nama juga pernah dilakukan. Menurut Sulkhan, semangatnya lebih kepada rasa penasaran. Mereka ingin punya nilai lebih secara sosial. Kalau punya cerita, perhatian orang akan tertuju kepada mereka. Itu kemudian menjadi modal sosial.

Akbar melihat kisah-kisah tersebut sebagai semacam perekat sosial untuk mobilisasi massa. Warga dapat membuat keributan dan bergerak bersama karena hantu. Di Kalimantan, ketika seseorang dimakan buaya, warga akan berkeliling menggunakan perahu. Tradisi yang unik, ada telur yang diketok-ketokkan untuk mengganggu buaya. Dari ritual, buaya dipercaya akan merasa bersalah ketika memakan manusia. Dalam hal ini, manusia menghadapi buaya atau hal gaib dengan memobilisasi massa. Mobilisasi massa tidak hanya terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga muncul dalam permainan. Orang-orang kampung berusaha memobilisasi massa ketika menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam.

Sulkhan kemudian menghubungkan pembahasan mobilisasi massa dengan masa kolonial. Menurutnya, hal tersebut sudah ada sejak zaman Belanda. Ia merujuk pada buku Sindhunata, ketika orang menyerukan adanya orang hilang yang diculik Belanda. Ada pula cerita mengenai tumbal proyek, termasuk memfitnah orang Belanda sebagai pihak yang menjadikan seseorang tumbal proyek. Dalam cerita Lampor, anak yang hilang kemudian ditemukan dalam kondisi linglung. Sebelumnya, orang-orang membuat suara gaduh. Dari situ muncul pertanyaan mengenai hubungan entitas gaib dengan bunyi.

Sulkhan melanjutkan dengan cerita lain tentang seorang anak yang memang iseng bersembunyi di beranda, lalu dipercaya dibawa terbang. Ia menyebutnya sebagai keranda terbang yang melintasi massa.

Akbar kemudian melihat permainan-permainan tersebut dalam konteks usia anak-anak. Permainan itu memiliki semacam ritual pendewasaan. Seseorang yang berhasil, misalnya ketika jalangkung menjawab pertanyaan, akan dianggap luar biasa dan melebihi yang lain. Ia mengingat pengalamannya ketika S1, ketika sering masuk ke tempat-tempat angker dan melakukan uji nyali. Ia dan teman-temannya pernah mencari tempat seperti Warung Pocong Sumi, terutama pada malam bulan purnama yang dianggap bagus. Pada usia tersebut, tetap muncul sensasi tertentu. Ada semacam kepuasan sendiri dan perasaan menjadi lebih dewasa. Menurut Akbar, ini menjadi salah satu tujuan dari permainan-permainan semacam itu.

Sulkhan menambahkan bahwa ada semacam perasaan kagum, sebuah momen kekaguman meskipun diiringi rasa takut. Sosok hantu dianggap menyeramkan, tetapi di satu sisi juga menakjubkan karena merupakan prestasi tersendiri. Jika hanya satu dari seribu orang yang melihatnya, muncul sensasi tersendiri. Ketika nyantri, mereka juga suka mencari hantu. Mereka sering memamerkan pengalaman, seperti “aku nemu naga”, yang kemudian diceritakan kepada adiknya. Ketika ziarah ke suatu tempat, bisa saja mendapat tombak, atau mengalami mimpi tentang harimau. Ada pula pengalaman menantang sosok tersebut untuk berkelahi, meskipun kemudian dipikir-pikir lagi.

Menurut Sulkhan, spirit dari berbagai pengalaman tersebut sama, yaitu membuktikan dan meraih sesuatu yang lebih. Unsur eksperimen berperan di dalamnya.

III. ANAK HILANG DAN FENOMENA BLEK-BLEK-TING DI GUNUNGKIDUL, JOGJA

Jevi berbagi cerita mengenai fenomena blek-blek-ting di Gunungkidul (GK). Ketika ada anak kecil yang hilang, misalnya sekitar jam lima sore ketika sedang bermain, warga zaman dulu akan mencari anak tersebut menggunakan alat-alat masak dan pertanian, seperti gatul dan tampah untuk menanam jagung. Alat-alat tersebut dibunyikan sehingga menghasilkan suara “blek-blek-ting”. Ada pula nyanyian yang didendangkan, seperti “anakku digondol wewe, wewe gombel”.

Menurut mitosnya, anak yang hilang tersebut ditutupi oleh makhluk halus. Supaya anak tidak disembunyikan, warga perlu membunyikan alat-alat tersebut. Jevi mengatakan pernah ada kasus anak hilang yang terjadi pada zaman simbahnya.

Sulkhan kemudian bertanya apakah anak yang hilang tersebut benar-benar ditemukan setelah dicari dengan cara demikian.

Jevi menjawab bahwa ada yang ditemukan tersangkut di pohon. Pernah pada jam 12 siang, anak tersebut dicari dengan metode seperti itu dan kemudian ditemukan di pohon yang tinggi, jika tidak salah pohon asem. Ada juga cerita mengenai Mbah Mugi (yang berusia sekitar 80 tahun) hilang dan dicari di ladang sekeliling kampung, di daerah perbukitan yang mengelilingi kampung. Namun, setelah pulang justru ditemukan berada di dapur rumah. Hal semacam ini, menurut Jevi, biasa dialami anak-anak kecil.

Yang kemudian menjadi perdebatan adalah bagaimana anak tersebut bisa tiba-tiba berada di tempat itu. Padahal mungkin orang yang mengalaminya mengatakan, “Aku dari tadi di situ kok.” Namun, warga tidak melihatnya, termasuk hingga ibunya sendiri. Menurut Jevi, fenomena ini seperti terjadi dalam dimensi lain. Ia kemudian mengatakan bahwa cerita blek-blek-ting tersebut sudah pernah ia pentaskan bersama teman-teman sanggar dalam sebuah pertunjukan.

Isma kemudian teringat pada perbedaan waktu antara dunia manusia dan dunia gaib yang juga muncul dalam novel Narnia karya C.S. Lewis. Ratusan tahun di Narnia dapat menjadi hanya hitungan menit di dunia nyata.

Jevi kemudian mempertanyakan kembali anggapan bahwa sosok yang menculik tersebut digambarkan sebagai sosok jahat. Menurutnya, logika itu bisa dibalik, wewe gombel justru bisa saja menyelamatkan anak. Mungkin anak tersebut sedang mendekati bahaya dan diselamatkan oleh wewe. Di Gunungkidul, wewe gombel memang dianggap jahat karena menyembunyikan anak, tetapi ada pula pembacaan yang lebih berpihak kepada wewe gombel, bahwa ia justru menyelamatkan.

Jevi kemudian menghubungkan cerita tersebut dengan trauma psikologis. Ada pengalaman dengan orang tua dan teman-temannya yang kemudian membuat pembacaan cerita semakin mengerucut. Bisa jadi yang salah bukan anak kecilnya, tetapi ada masalah di dalam keluarganya.

IV. DAKON, PETAK UMPET, JATHILAN

Jevi kemudian membahas permainan dakon yang juga memiliki kesan horor. Selain dakon, petak umpet juga memiliki sisi yang serupa. Banyak papan dakon yang merupakan peninggalan Hindia-Belanda kemudian dimistiskan karena dianggap sebagai benda lama. Jumlah bijinya juga dipercaya dapat berkurang sendiri. Ada sisi mistis yang melekat pada alatnya, meski Isma merasa, saat dia kecil dan bermain dakon, tidak selalu menggunakan alat. Cukup digambar di lantai atau tanah, yang penting ada klungsu (biji asam) untuk memainkan. Dakon sendiri merupakan permainan yang tua. Orang keraton juga memainkannya, termasuk ketika mengunjungi museum dan menggunakan dakon lama.

Menurut Sulkhan, justru petak umpet yang terasa menyeramkan. Ketika berada di posisi mencari, seseorang berada dalam posisi ketidaktahuan. Misalnya ketika mencari di lorong, muncul pertanyaan apakah ada orang di sana atau tidak. Menurutnya, sisi menyeramkan petak umpet ada pada pertanyaan apakah tempat tersebut juga mengandung sesuatu. Rumahnya berada di kampung pelosok di Batang, Jawa Tengah, dan ia pernah memanfaatkan sudut-sudut desa untuk bermain. Namun, ia sendiri tidak berani berada di tempat-tempat tertentu. Ada pula cerita tentang orang yang melihat hantu ketika bermain petak umpet. Sulkhan menambahkan bahwa permainan tersebut juga mendorong seseorang untuk berani bersembunyi di tempat-tempat yang agak ekstrem.

Jevi kemudian menghubungkan pembahasan dengan jathilan dan pengalaman merasuki tubuh dengan sesuatu yang gaib. Ia mengaku sering mengalami dan melihatnya ketika kecil. Dalam permainan bersama teman-teman kampung, mereka mencari kembang di taman, kemudian menyebar dan melakukan reka adegan jathilan. Mereka menyalakan musik agar tubuhnya terasa lebih kuat. Ada pula adegan makan beling. Menurut Jevi, permainan-permainan semacam itu merupakan bagian dari pengalaman bermain ketika kecil.

Sulkhan menambahkan bahwa di dalamnya juga ada perasaan tertentu. Ketika berhasil mendapatkan roh macan atau monyet, seseorang merasa memiliki kekuatan yang lebih.

V. HUBUNGAN HANTU DI MASA KANAK-KANAK DENGAN POLA PARENTING

Jevi membuka pembahasan dengan pertanyaan mengenai masa kanak-kanak. Ketika kecil, sebenarnya kita takut karena apa? Ia mempertanyakan apakah ada buku psikologi anak yang membahas kapan seorang anak mulai merasa takut pada hantu dan kapan pertama kali merasa takut pada malam.

Akbar mengatakan bahwa ia belum membaca literatur yang spesifik mengenai hal tersebut. Namun, secara logika dan budaya, ketakutan dapat berbeda-beda. Orang Bajo, misalnya, mungkin tidak setakut kita ketika melihat laut. Hal yang ditakuti tergantung pada konteks budaya masing-masing.

Jevi kemudian mengingat aturan ketika kecil, yaitu sebelum Magrib harus sudah sampai rumah. Kalau ingin bermain, jangan sampai melewati Magrib.

Sulkhan mengatakan bahwa salah satu ketakutan yang paling memorable baginya adalah ketakutan terhadap orang-orang yang membangunkan sahur. Mereka dianggap sebagai hantu, bukan manusia. Ketika para pemuda berkeliling membangunkan sahur, ia mengira mereka hanya hantu dengan suara bedug. Ibunya bahkan menyebutnya sebagai “setan ember”.

Sulkhan juga menceritakan bahwa ketika SD ia kemudian menjadi bagian dari mereka yang membangunkan sahur. Menurutnya, orang tua turut berperan dalam menyosialisasikan gambaran mengenai hantu. Ia menyebut “soho tetek”, yaitu hantu yang muncul ketika orang berisik atau memukuli benda-benda, kemudian akan ada suara yang menirukan. Hantu tersebut merupakan hantu suara.

Jevi kemudian menyinggung pola parenting yang menurutnya keliru, misalnya cerita bahwa bakul mi ayam sudah meninggal atau “bakule kintir”. Cerita-cerita semacam ini dapat menjadi cara orang tua menakut-nakuti anak.

Akbar mengatakan bahwa ketika kecil ia justru tidak pernah ditakut-takuti dengan hantu. Jika ada pembahasan mengenai hantu, orang tuanya cenderung menghindarkan. Namun, pada periode yang sama, televisi pada jam 12 malam menayangkan film-film hantu. Karena ada kontrol semacam itu, ketika besar ia justru berontak dan semakin penasaran. Menurutnya, jika sesuatu benar-benar dihilangkan, justru dapat muncul rasa ketertarikan. Ketika anak diberi asupan cerita seperti “hantu ember”, yang muncul malah ketakutan. Bentuk kontrol yang berbeda dapat menghasilkan efek yang berkebalikan.

Sulkhan mengatakan bahwa ketika SD menjelang remaja, ia mulai menjadi orang yang membangkang. Justru karena itu, ia mencari hantu di mana-mana.

Jevi kemudian menceritakan pengalaman masa kecilnya dengan tempat-tempat yang disebut “lurung”. Ada lurung yang merupakan tempat atau jalan untuk memandikan sapi. Biasanya berada di pinggir pagar, sebagai jalan tempat sapi hendak dimandikan. Anak-anak dilarang melewati tempat tersebut pada siang hari karena dianggap berbahaya.

Menurut Jevi, banyak orang tua memberikan larangan dengan pola “jangan ini” dan “jangan itu”. Larangan tersebut kemudian menjadi semacam trauma. Hal itu membekas, meskipun ia mengaku belum membaca ulang apakah ada pembacaan lain terhadap fenomena tersebut. Lurung juga digunakan untuk membuang barang-barang rumah tangga yang sudah tidak terpakai. Anak-anak ditakut-takuti dengan larangan untuk berada di lurung karena bisa “ketempelan”.

Bagaimana Suara Bisa Mengundang Hantu?

Pembahasan kemudian beralih pada hubungan suara dengan kehadiran yang gaib. Jathilan menjadi salah satu contoh yang muncul dalam diskusi, terutama mengenai “suara sebagai instrumen memanggil yang gaib”. Dalam konteks Jawa, hantu juga kerap dikaitkan dengan gamelan. Ada mitos-mitos mengenai gamelan dan hubungannya dengan dunia gaib. Menurut Jevi, bagian ini menarik untuk dibahas lebih jauh.

Beberapa kemungkinan tema yang muncul untuk dikembangkan adalah “Hantu, Suara, dan Musik”, “Suara sebagai Instrumen Gaib”, dan “Musik sebagai Medium Klenik”. Selain itu, muncul pula gagasan mengenai “Suara-Suara Hantu”.

 

VI. KESIMPULAN

Sebelum ke materi, kami melalkukan evaluasi dan refleksi setahun Klenik Studies. Grup ini kecil saja, dan maaf belum ada wacana nambah personel baru. Kami ingin lebih ke penguatan internal dulu. Namun kami mengusahakan akan ada diskusi untuk umum yang bisa diikuti oleh siapa saja. Saat diskusi umum kemarin, kami juga tidak menyangka antusiasme kawan-kawan sangat besar. Semoga kelompok studi ini ke depan lebih matang dan memberikan keberkahan bagi lingkungan. Bisa melahirkan empati pada dunia yang tak kasat mata, kesadaran akan yang hakiki, dan tetap hepi di antara naik turunnya hidup.

Dari diskusi yang bertema "Hantu dalam Permainan", ada beberapa kesimpulan:

(1) Hantu dalam permainan sering berkelompok, dan secara tidak langsung itu membangun solidaritas. Tak hanya itu, juga mobilitas sosial, seperti orang sedesa bisa berkumpul untuk mencari anak yang hilang karena ditutupi hantu.

(2) Dalam permainan yang berhubungan dengan hantu, terkadang anak-anak merasakan kebanggaan dan status sosial tertentu karena bisa bertemu dengan sosok makhluk halus, yang itu terjadi langka, bandingannya mungkin bisa 1:1.000. Dampaknya, ketika ada anak-anak lain yang ingin berbuat jahat, bisa tidak berani mendekati.

(3) Ketakutan sewaktu kita kecil juga tak jauh dari unsur parenting, bagaimana orangtua memperkenalkan hantu pada anak. Pola yang kami baca, mitos hantu muncul dalam rangka untuk pendisiplinan dan pengontrolan, misal agar tidak main setelah Magrib, bangun saat sahur tiba, tidak membeli makanan tertentu karena takut-takut penjualnya sudah meninggal. Sayang sekali, hal ini juga memberikan efek psikologi yang dibawa sampai dewasa.

Jumat, 07 Agustus 2026

Catatan Klenik Studies Vol. XII Edisi 5 Juni 2026: “Hantu, Klenik, dan Pengetahuan: Tinjauan Antropologis terhadap Dunia Gaib”

Klenik Studies Vol. XII Edisi Jumat, 5 Juni 2026 mengambil tema “Hantu, Klenik, dan Pengetahuan: Tinjauan Antropologis terhadap Dunia Gaib”. Diskusi ini menghadirkan narasumber Geger Riyanto (Antropolog), dengan moderator Isma Swastiningrum (Klenik Studies), dan diikuti oleh peserta online sebanyak lebih dari 400 orang.

Pada pembukaan diskusi, Geger memulai diskusinya dengan memperkenalkan diri. Ia adalah seorang antropolog yang sehari-sehari mengajar di Universitas Indonesia (UI). Di kampus, dia mengajar soal religi dan magi, atau topik-topik yang berkaitan dengan agama dan sihir, dan kajian antropologi tentang hal-hal gaib. Geger membuka dengan pertanyaan: ketika Antropologi mengkaji tentang klenik, sebenarnya apa yang dikaji? Geger menjawabnya dengan paparan slide PPT berjudul “Mengapa Antropologi Sibuk dengan Klenik?”

Ketika berbicara antropologi sehari-hari berkaitan dengan klenik, ada beberapa praktik yang umum kita temukan, seperti orang menyantet, fenomena dukun online, hingga tarot. Antropologi sendiri dekat dengan kajian yang gaib-gaib. Namun, jelas Geger, hal yang gaib-gaib tersebut tidak dikaji semata sebagai ilmu untuk memberi berkat maupun mencelakakan orang lain, tapi dalam sisi antropologi adalah berusaha mengkaji yang gaib sebagai kondisi kemanusiaan. Bahwa manusia mencoba untuk menjawab persoalan-persoalan di dalam hidupnya. Mereka berusaha untuk menjalani hidup, menavigasi lika-liku hidup, lalu menghadapi frustrasi, bahkan melalui hal gaib. Fenomena ini muncul dalam beberapa dorongan atau prinsip disiplin yang sudah dicetuskan oleh para pendahulu antropologi.

Antropolog Polandia bernama Bronislaw Malinowski mempertanyakan: Kenapa magi itu ada di seluruh kebudayaan dunia? Kenapa sihir ada di mana-mana? Kenapa santet ada di Afrika, tetapi juga sekaligus ada di Asia Tenggara? Jika ditarik dalam budaya Indonesia, semisal suanggi (hantu yang ada di banyak wilayah Indonesia Timur khususnya Maluku dan Papua), kenapa ada perbandingannya dengan fenomena serupa di Nigeria? Bahkan, kita tidak hanya membatasi pada negara-negara selatan atau bahasa pembangunannya negara berkembang, hantu juga banyak dibicarakan di negara-negara Utara, seperti Amerika, dan negara maju seperti Jepang. Manusia tidak bisa berhenti berbicara tentang hantu hanya karena teknologi atau perekonomian lebih maju. Magi juga tidak berhenti pada seseorang yang dianggap lebih rasional dan berilmu, bahkan di negara yang mengedepankan ilmu.

Dari hal ini, Geger mengajak untuk memulai pada sebuah premis: Sihir, magi, dan hal-hal gaib adalah universal, ada di mana-mana, ada di segala bentuk kebudayaan, ada di masyarakat di berbagai belahan dunia, bahkan ada pada orang-orang yang memahami ilmu pengetahuan. Geger mencontohkan salah seorang fisikawan bernama Niels Bohr yang memajang tapal kuda di rumah yang identik dengan keberuntungan. Ketika Bohr ditanya apakah dia percaya bahwa tapal kuda membawa keberuntungan? Bohr menjawab, dia tidak percaya dengan keberuntungan yang bisa dibawa oleh tapal kuda, tapi dia percaya dan tidak percaya bahwa tapal kuda itu mempunyai kekuatan untuknya.

Jawaban kontradiktif tersebut sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan selanjutnya, antropolog mencoba untuk menelusuri kondisi-kondisi kemanusiaan apa yang menyebabkan itu terjadi? Mengapa magi itu universal? Pertanyaan ini akan membawa kita untuk mencoba memahami kenapa magi ada di mana-mana.

TINJAUAN ANTROPOLOGIS

Geger menegaskan, antropologi tidak menganggap klenik sebagai kedunguan atau tahayul usang, melainkan sebagai indikasi nyata dari pergulatan dan pergumulan sosial di tengah masyarakat. Kita mencoba untuk menelusuri magi sebagai indikasi, representasi sesuatu yang lebih menandai dinamika kemanusiaan. Dasar dari magi dan praktiknya bisa disebut sebagai kondisi-kondisi kemanusiaan, yang di dalamnya terdapat pergumulan manusia. Karenanya, kata kunci selanjutnya untuk memahami hal ini adalah perlunya mengkaji magi secara empatik.

Klenik tampil sebagai upaya aktif manusia menghadapi dan memasukakalkan realitas dunia yang tidak pasti. Di mana ada ketidakpastian, di mana ada kondisi negatif yang dihadapi manusia, maka di sana ada klenik. Ia adalah bagian dari cara manusia menghadapi ketidakpastian.

Mengutip Rebecca L. Stein dan Philip L. Stein dalam buku The Anthropology of Religion, Magic, and Witchcraft menyampaikan, “Beberapa situasi berada di luar jangkauan penjelasan dan kendali sains serta teknologi. Tak peduli seberapa cermat dan tampilnya seorang petani dalam menjalankan tugasnya, hal-hal buruk tetap bisa dan memang terjadi. Hujan tak kunjung turun, atau serangan hama serangga menghancurkan tanamannya, ‘Mengapa ini terjadi padaku? Apa yang bisa kulakukan untuk mencegah hal-hal ini terjadi?’ Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak dapat dijawab melalui penyelidikan ilmiah.”

Tidak peduli seberapa terampil seorang petani, akan ada ketidakpastian tentang kondisi tanah hingga serangga yang menghancurkan tanaman. Mengapa itu terjadi? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat seseorang berspekulasi dan mengembangkan imajinasi tentang magi. Makanya, dalam tradisi petani di Jawa Barat, untuk menangkal ketidakpastian tersebut, sebelum menanam padi akan dilakukan ritual. Termasuk juga sebagai doa agar hasil panennya melimpah. Meski hal ini tidak menjamin keberhasilan, karena akan selalu ada kemisteriusan, praktik magi digunakan untuk menavigasi ketidakpastian.

Antropolog Malinowski pada awal 1990-an juga mengkaji orang-orang Trobriand yang tinggal di Kepulauan Pasifik yang dianggap primitif dan terbelakang, tapi Malinowski menunjukkan bahwa masyarakat di sana maju. Mereka tahu musim, bisa memancing, tahu cara untuk mendapatkan ikan. Menariknya, Malinowski membandingkan dua cara orang Trobriand mendapatkan ikan, yakni di laguna dan laut. Ketika memancing di laguna (teluk), airnya lebih tenang dan tidak mengancam keselamatan. Masyarakat Trobriand tidak mempunyai ritual khusus untuk memancing. Sebaliknya, ketika memancing di laut yang jauh lebih berbahaya, luas, badai, hingga kemungkinan perahu bisa bocor dan tenggelam di tengah laut, masyarakat mempunyai ritualnya sendiri. Dari hal ini, Geger menegaskan: Magi adalah cara untuk mengintervensi dan menegaskan kontrol atas kehidupan yang tidak terkontrol.

Dalam penelitian yang dilakukan Geger di Maluku Tengah, di mana mata pencaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, mereka sangat jago memancing. Mereka mempunyai pengetahuan yang luar biasa tentang jenis-jenis ikan, cara menarik untuk membuat umpan yang efektif, tapi ketika berbicara tentang laut, maka menjadi tidak pasti. Mereka sering memancing hingga jarak 40-50 kilometer ke tengah laut. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan. Orang-orang di sana tidak berani untuk melaut ketika saat mereka membeli perahu baru, belum didoakan. Mereka menjalani ritual untuk keselamatan. Meskipun perahu baru itu bagus, kokoh, dan kelihatan canggih, mereka tidak berani memakainya dan lebih memilih menggunakan perahu lama yang sudah didoakan. Untuk mendoakan perahu, mereka perlu mengundang ustad dan orang-orang yang dianggap memiliki otoritas. Klenik dalam hal ini membantu untuk menavigasi dan mengarungi kehidupan.

Selain itu, salah satu profesi yang mempunyai ritual yang tak kalah absurd dan tidak sepenuhnya masuk akal adalah olahragawan. Mereka sering berada dalam kompetisi, di mana lengah sedikit akan kalah, kompetisi identik dengan ketidakpastian. Symbaluk and Honey (2009) dalam Introduction to Learning and Behaviour 3rd Edition menyampaikan, “Di bawah ancaman terus-menerus kehilangan posisi oleh pendatang baru yang ambisius, atlet profesional selalu mencari apa pun yang dapat meningkatkan performa mereka. Akibatnya, kejadian tidak biasa yang mendahului penampilan luar biasa (seperti menyenandungkan nada tertentu atau memakai pakaian unik) sengaja diulang dengan harapan dapat memproduksi performa tersebut.”

Ritual dalam sepak bola seperti dilakukan keeper seperti mencium gawang terlebih dahulu sebelum memulai permainan atau hal lain ritual lain yang tidak ada hubungannya dengan kondisi fisik mereka. Secara rasional memang kita tidak benar-benar memahaminya, tapi ketika kita mencoba berempati kepada mereka, mencoba duduk dan ada di posisi mereka—dan ini merupakan prinsip dari penelitian antropologi—maka hal itu menjadi masuk akal karena kondisi mereka tidak pasti. Mereka mencoba menenangkan diri, mengambil kontrol pada hal-hal yang tidak terkontrol. 

Antropologi sebagai disiplin mencoba memahami kebudayaan yang berbeda, mencoba untuk berfokus pada konteks. Di dalam psikologi menekankan mekanisme yang muncul dari diri individu seperti tadi, akan mencoba melihat pola-pola yang berbeda dan membandingkannya pada setiap kebudayaan yang berbeda. Antropologi yang penting adalah konteks sosialnya. Semisal di Jawa, mereka memiliki cara yang berbeda untuk mengintervensi ketidakjelasan. Antropologi berusaha untuk melihat fenomena sosial yang terjadi. Bagaimana ia bisa terjadi di masyarakat dan menggambarkannya? Termasuk bagaimana latar belakang fenomena yang terjadi secara lebih komprehensif. Karenanya, antropologi sering dianggap ilmu yang terlalu lama dalam penelitian, karena berusaha untuk membuat konteks yang lebih menyeluruh, berbeda dengan psikologi lebih sering melakukan penelitian dengan menggunakan survei langsung dan mendapatkan sampel. “Pada akhirnya klinik itu menunjukkan kondisi kemanusiaan kondisi manusia berusaha untuk mengintervensi ketidakpastiannya,” katanya.

Malinowski menekankan, “Fungsi dari sihir/klenik adalah untuk meningkatkan keyakinannya pada kemenangan harapan atas rasa takut. Klenik mengekspresikan nilai yang lebih besar bagi manusia atas keyakinan di atas keraguan, keteguhan di atas keragu-raguan, dan optimisme di atas pesimisme.” Kata kuncinya adalah usaha manusia untuk menavigasi dan mengontrol hidup. Meskipun manusia masuk lewat ilmu pengetahuan, selalu akan ada dan banyak ruang yang tidak bisa dijelaskan.

Antropolog lain bernama Ernesto De Martino juga mengatakan, “Akar dari... segala bentuk sihir adalah hal negatif yang merajalela dalam hidup, yang membekaskan trauma, hambatan, frustrasi, dan keterbatasan, serta kerapuhan hal-hal positif.” Dalam kehidupan sehari-hari, praktik itu diwujudkan semisal bagaimana seorang ibu mendoakan anak ketika pergi agar tidak terjadi kecelakaan. Atau studi kasus yang ada di Lombok, bahkan ilmu pengetahuan dalam operasinya di kehidupan sehari-hari bisa mendapatkan status sebagai sihir. Salah seorang teman Geger bernama Rhino Ariefiansyah dalam penelitian “Petani dan Pengetahuan Perubahan Iklim”, Rhino melakukan meneliti di Lombok tahun 2015, terjadi perselisihan antara petani dan ketua adat terkait pengetahuan berkaitan dengan musim kemarau. Dari dua musim basah dan kering, mana yang lebih panjang?

Musim penting karena tembakau butuh dijemur lama. Ketika musim panasnya kering, petani biasanya untung, karena bisa dijemur dan dijual ke gudang pabrik rokok. Ketika musim kemaraunya basah, maka mereka akan rugi. Petani tembakau yang berselisih dengan ketua adat tersebut kemudian mengikuti workshop iklim. Dalam workshop diberikan pengetahuan untuk mengukur curah hujan, lalu membuat prediksi musim panas ini kering atau tidak. Sementara, ketua adat bilang agar tidak menanam, karena kemaraunya akan basah. Sebaliknya, petani yang ikut workshop dari data curah hujan yang dia punya meramalkan jika kemaraunya adalah kemarau kering. Masyarakat kemudian mengikuti petani yang mengikuti workshop, dan terbukti prediksinya lebih benar. Petani tersebut kemudian mendapatkan gelar yang cukup klenik dan gaib, yaitu jadi mangku hujan. Sihir dan ilmu pengetahuan saling bersanding untuk menawarkan bacaan tentang masa depan atau bacaan tentang hidup yang tidak pasti. Sementara, orang-orang berusaha menggunakan sihir sebagai cara mengintervensi dengan cara yang sebetulnya mirip dengan ilmu pengetahuan.

ORANG-ORANG AZANDE

Di studi kasus lain, antropolog Evans-Pritchard pernah mengkaji tentang perdukunan di antara orang-orang Azande di Afrika. Masyarakat Azande percaya, saat kemalangan terjadi, seperti bencana dan petaka yang mereka alami ke dukun. Bahkan sesederhana ada anak kecil yang tersandung tunggul kayu, orang di sana akan bilang hal itu gara-gara dukun. Kemudian, ada atap rumah yang tiba-tiba ronoh, ada yang tertimpa luka parah, juga dianggap gara-gara disantet. Padahal bisa jadi, anak tersandung kayu karena dia ceroboh, atap roboh karena banyak rayap. Mereka bisa menjelaskan itu secara rasional tetapi pertanyaan yang muncul berbeda, kenapa saya yang mesti terus mengalami? Kenapa orang dekat saya yang mengalami? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian direspons dengan pikiran-pikiran spekulatif klenik.

Penelitian Evans-Pritchard pada orang-orang Azande tersebut berkontribusi penting terhadap gagasan: selalu akan ada pertanyaan yang membayangi orang-orang yang terkenal malapetaka. Pertanyaan itu adalah kenapa saya? Kenapa saya adalah pertanyaan yang kemudian dijawab orang-orang dengan penjelasan-penjelasan yang bersifat klenik. Serta berusaha untuk diatasi melalui usaha-usaha yang menyentuh klenik. Ketika menempatkan pada posisi orang tersebut, juga terlihat bahwa hidup kita pun tidak pernah pasti. Selalu ada perasaan yang menggantung berkaitan dengan kenapa saya begini dan begitu, mengalami ini itu, kesialan ini itu. Di sini, “magi adalah ekspresi ketidakpastian dan usaha untuk menavigasi ketidakpastian itu.”

Geger juga menunjukkan salah satu skrinsut dari TikTok berkaitan dengan medium santet. Ada media santet di dekat rumah si pengguna TikTok, kemudian dia berasumsi agar netizen waspada terhadap orang-orang di sekitar. Karena ada orang-orang yang berusaha untuk menjelekkan kita. Berbicara santet secara universal lekat dengan menarik orang-orang dekat. Termasuk dalam kajian Evans-Pritchard, tetangga terdekat Anda adalah dukun santet. Sementara Clifford Geertzs juga menyebut, “Santet di Jawa cenderung dipraktikkan kepada tetangga, teman, kerabat, dan orang-orang dekat.”

Ada pun menurut penelitian Rupert Stasch, “Suanggi Korowai merupakan kerabat sangat dekat dengan korbannya.” Di wilayah-wilayah lain, masih banyak lagi kajian-kajian antropologi yang memperlihatkan bahwa biasanya pelaku santet yang dituduh pertama adalah orang-orang dekat. Hal ini menunjukkan, bahkan orang-orang terdekat kita adalah simbol ketidakpastian. Kita tidak pernah bisa menebak isi hati orang. Ada suatu prasangka kita sakit karena tetangga atau sahabat kita. “Ketidakpastian itu selalu ada, bahkan orang yang kita anggap dekat. Orang yang kita anggap bisa kita pegang, juga selalu kita duga, dia punya kepentingan untuk mencelakakan kita. Ini adalah ekspresi ketidakpastian dalam hidup,” terang Geger.

ORANG-ORANG PRANCIS DALAM PENELITIAN FAVRET-SAADA

Ia beralih pada fenomena yang terjadi di Prancis (Bocage). Antropolog Prancis bernama Favret-Saada, di kawasan pertaniannya orang-orang percaya bahwa mereka yang percaya santet dianggap orang terbelakang, orang-orang Prancis lebih senang mengedepankan diri sebagai orang-orang yang mempunyai rasionalitas. Santet dianggap sebagai kultur orang-orang terbelakang yang ada di kampung-kampung. Orang-orang Prancis punya kecenderungan untuk tidak percaya. Namun, ketika orang-orang yang tidak percaya santet itu terkena sakit, mereka mulai berpikir jangan-jangan ini akibat santet. Kemudian mereka mulai pergi ke penyembuh (healer), narasumber Favret-Saada: “Saya tahu [bahwa sakit ini bukan karena santet]... tapi tetap saja...”

Lanjut Geger, kita selalu punya keraguan. Salah satu antropolog Finlandia pernah menggambarkan kehidupan manusia dan kenapa dia akan selalu kembali ke klenik. Manusia mempunyai keraguan yang tidak pernah bisa padam (restlessness of doubt). Satu hal yang pasti tentang hidup adalah ketidakpastian itu sendiri. Perasaan manusia akan ketidakpastian selalu berkecamuk. Meskipun ilmu pengetahuan menawarkan solusi terhadap persoalan praktis, selalu ada celah untuk berkembangnya hal-hal klenik. Makanya, dibutuhkan pendekatan yang empatik untuk memahami, pengetahuan dan teknologi tidak bisa menjamah persoalan di setiap lini kehidupan.

Contoh terkait penyembuhan, meskipun pengobatan modern efektif, tapi satu hal yang sering jarang disadari oleh orang-orang yang berusaha mengutuk pengobatan yang lebih holistik adalah layanan kesehatan profesional itu biasanya dibebani dengan pasien yang luar biasa membludak. Di kampung-kampung, semisal di Puskesmas kampung, dari pagi penuh dan akhirnya di hadapan kondisi seperti itu, bisanya orang-orang yang berhadapan dengan nakes memperlakukan pasien bukan sebagai manusia, tetapi sebagai persoalan yang harus segera selesai. Ini akan berelasi dengan pengalaman personal kita yang sering bertemu dengan nakes yang jutek, dokter yang tidak berusaha untuk menanyakan lebih jauh. Di sisi lain, dokter hanya punya waktu untuk menghadapi pasien selama lima menit, karena sudah menunggu pasien lainnya. Belum lagi dengan pembayaran BPJS yang kecil.

Persoalannya bukan hanya ilmu pengetahuan yang tidak menjawab, tetapi juga persoalan secara sosial, solusi pengobatan modern mempunyai keterbatasan. Belum lagi ketika kita berbicara tentang terapi yang disarankan oleh dokter, belum tentu itu efektif, dokter harus mencoba beberapa kali. Setelah berobat berkali-kali, belum tentu pasien akan sembuh. Kondisi medis bisa menjadi sangat tidak pasti. Ketika pasien ingin mendapatkan komunikasi yang intens dan simpatik dari dokter, sementara nakes kewalahan menghadapi pasien yang banyak, sementara rasa sakit tidak berhenti-henti. Apalagi manusia yang dibawa ke rumah sakit, akan membawa seseorang untuk mencari solusi-solusi lain. Semisal dia pergi ke orang sakti untuk menyembuhkan rasa sakit. Terutama ini juga banyak terjadi di desa-desa dukun putih. Kita sering melihat di Instagram/TikTok yang berusaha untuk memberikan terapi pengobatan yang ekstrem, yang kelihatannya juga konyol dan tahayul. Misalkan, dipukul-pukul anak, ini dipercaya akan menyembuhkan.

Geger melihat juga dan membuatnya cukup terganggu, ketika pergi ke kampung sangat banyak orang-orang yang kemudian berusaha untuk memberikan kesembuhan dengan cara yang agak ekstrem, cuma digosok-gosok, atau hanya dibacakan doa. Biasanya mereka ada tetangga atau kerabat dekat, yang bukan hanya memberi terapi penyembuhan yang sifatnya klenik, tapi juga kepada orang-orang yang datang juga memberikan sugesti-sugesti positif. Pendekatan ini tentu berbeda dengan nakes yang dihadapkan dengan pasien yang banyak, yang dia tidak kenal.

Sebaliknya, ketika berobat ke dukun kampung, biasanya dukun kampung masih merupakan kerabat dan masih sosok yang dikenal, yang bisa diajak ngobrol. Bagaimanapun, treatment ini memanusiakan orang. Geger berefleksi, sebagai antropolog juga seperti itu, paling tidak ketika melakukan penelitian, Geger perlu memahami kondisi kemanusiaan. Bahwa dalam pengobatan holistik, biasanya dukun adalah kerabat. Dukun itu akan berusaha untuk memahami dan memperlakukan yang datang sebagai manusia. Problemnya bukan hanya ilmu pengetahuan yang tidak sampai, tetapi terkadang kondisi sosial tidak memungkinkan model pengobatan yang proper bisa didistribusikan ke seluruh masyarakat, karena biaya yang mahal. Ini menjadikan klenik terus berkembang.

MASEAN’S MESSAGES DI BALI

Studi kasus lain yang ditunjukkan Geger adalah Masean 1965, Masean adalah salah satu banjar di Bali. Pada tahun 2015-2016 sempat ada penggalian kuburan yang berasal dari inisatif warga Banjar, Masean. Sampai dengan tahun 2015, masyarakat di sekitar merasa diganggu oleh makhluk gaib. Berdasarkan orang Bali istilahnya “buto kalah”, dan saking seringnya gangguan, orang di sana bunuh diri—menjadi kampung dengan tingkat bunuh diri paling tinggi di seluruh dunia. Kemudian orang-orang bertanya-tanya. Ada juga cerita-cerita, anak kecil yang sedang berjalan, tidak ada siapa-siapa tiba-tiba dilempar baju. Banyak juga insiden anak kecil yang jatuh.

Muncul berbagai pertanyaan, generasi muda mencari tahu ke generasi yang lebih tua, sebetulnya ada apa sih dengan kampung ini? Ternyata, di kampung ini pernah terjadi pembunuhan dari tahun 1965 sampai dengan 1967. Pada zaman itu, di Bali posisinya lebih parah dibandingkan berbagai tempat lain di Indonesia. Insidennya bisa disebut sebagai pembunuhan orang-orang yang dianggap berkaitan dengan PKI, berdasarkan filmnya, “Masean’s Messages”, beberapa orang di kampung kemudian dikumpulkan. Orang-orang di kampung saat itu diminta oleh pihak keamanan yang sedang membasmi PKI untuk membunuh saudaranya sendiri yang PKI. Hingga sampai hari ini, mereka masih membawa perasaan yang tidak terselesaikan. Perasaan tidak terselesaikan ini berkembang menjadi hantu yang hadir secara harfiyah dan tidak harfiyah di masyarakat.

Lalu, ada inisiatif untuk menyewa traktor, dari pendanaan masyarakat sendiri untuk membongkar jalan. Masyarakat berusaha untuk menghilangkan hal negatif yang lekat dengan trauma politik di masa lalu. Hal-hal negatif dalam hidup bukan hanya terkait dengan usaha manusia mengintervensi rasa sakit, atau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tapi juga terkait trauma politik masa lalu yang tidak pernah terselesaikan. Fenomena ini sangat manusiawi, karena ketika seseorang membawa sesuatu yang tidak selesai, dia akan selalu merasa dihantui. Hantu itu akan mewujud dalam imajinasi dan realitas yang berkembang di masyarakat. Hal itu mewujud menjadi hantu yang real.

HUTAN ADAT SEI TOBUN DAN PABRIK KAYU JOKOWI

Studi kasus lainnya terjadi di Sei Tobun, Kalimantan Tengah, tentang kembalinya roh leluhur. Alkisah, pada tahun 2016, Jokowi datang untuk memperkenalkan pohon sengon ke orang-orang di Sei Tobun. Sengon sendiri bukan pohon native masyarakat di sana, tapi mereka diminta menanam dengan kepentingan di sana akan dibangun pabrik kayu lapis. Pohon-pohon sengon yang ditanam tersebut bisa jadi tabungan keluarga pria Solo tersebut. Jokowi meresmikan pabriknya pada akhir 2016. Namun, pada tahun 2019, pohon sengon warga ludes karena kebakaran lahan. Pabrik kemudian sering menggunakan kayu meranti dari hutan.

Kita bisa menduga, jangan-jangan pabrik dibangun untuk mendapatkan persetujuan sosial saja dari warga. Agar warga mengizinkan pabrik masuk ke wilayah mereka. Yang terjadi, warga bukannya untung, tetapi malah buntung. Akhirnya, pabrik menutup akses jalan tani. Jalan tani milik warga ini diambil oleh pabrik. Ketua adat di sana kemudian melakukan ritual “hinting pali” (menandai hutan sebagai wilayah roh yang tidak boleh diakses). Hutan tersebut ditandai sebagai wilayah roh yang tidak boleh diakses. Selanjutnya yang terjadi, pabrik tersebut diganggu oleh kecelakaan kerja, ada penampakan, dan masalah kesurupan massal yang tidak selesai-selesai. Pabrik akhirnya melakukan ritual adat untuk menenangkan roh-roh.

Fenomena ini bukan hanya berbicara bahwa orang-orang Sei Tobun dari awal cuma percaya dengan klenik. Sebab yang sebenarnya terjadi, ketika Jokowi datang, sebagian warga antusias karena mereka berharap akan punya tabungan dengan sengon. Mereka bisa mengkuliahkan anaknya, karena mereka sudah tidak bisa mengharapkan pertanian lagi. Orang-orang dilarang untuk membuka lahan dengan cara dibakar. Mereka perlu uang kas dan mengelola tanaman komoditas. Mereka juga berharap kampungnya akan dibangun jalan, sekolah, hingga akses kehidupan, sehingga mereka senang dengan pabrik kayu lapis tersebut. Namun, begitu pabrik dianggap membawa hal-hal negatif ke masyarakat, roh leluhur kemudian kembali.

Ketika kecelakaan terjadi di pabrik, kemudian dianggap karena roh leluhur tidak suka dengan mereka. Pabrik memperlakukan bentang alam dan roh-roh penghuni sebagai subordinat. Padahal selama ini, hubungan di antara manusia, roh, bentang alam, bersifat resiprokal. Pembukaan hutan dan penebangan pohon yang dilakukan tanpa izin menyebabkan roh-roh jadi haus darah. Berbagai insiden yang terjadi di pabrik karena roh menuntut keadilan. Warga kemudian melakukan pemalangan adat dan berusaha untuk dan ‘apel’ pada kekuatan gaib.



KESIMPULAN

Ini menunjukkan bahwa klenik/hal gaib walaupun hidup di era modern, akan selalu ada kontradiksi yang tidak pernah bisa untuk diselesaikan. Akan ada hal negatif yang akan selalu ada di kehidupan kita. Justru, Geger berasumsi, semakin modern kita, semakin banyak persoalan yang akhirnya modernitas bukan hanya menghilangkan klenik, tapi justru sisi-sisi lain yang mengakselerasi klenik. Karena di masa depan justru semakin banyak ketidakpastian yang terjadi. Kepercayaan klenik adalah sebuah respons. Klenik hadir bukan hanya sebagai ekspresi bahwa orang yang melakukannya terbelakang, tapi dia adalah ekspresi kemanusiaan yang menandai di balik hal tersebut ada “hal lain”. Hal lain ini adalah usaha manusia untuk menghadapi ketidakpastian dalam hidupnya. Klenik adalah kondisi kemanusiaan. Kondisi bahwa manusia selalu dihadapkan dengan ketidakpastian dan berusaha untuk mengintervensi hal itu. Manusia berusaha untuk menavigasi kehidupan, karena semampu-mampunya kita mengendalikan kehidupan, pasti akan ada celah-celah. Ketika ada celah itu, celah itu kemudian bisa diisi oleh hal-hal yang sifatnya klenik.