Kamis, 25 Juni 2026

Dari Huruf ke Huruf ke Banyak Esai dan Kolom


Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menggelar forum Mampir ke Makarya #68 berjudul "Dari Huruf ke Huruf ke Banyak Esai dan Kolom". Diskusi dilaksanakan di Ruang Tamu Makarya Gramedia Matraman Lantai I, Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026. Diskusi ini menghadirkan narasumber: Ariel Heryanto (Penulis, Profesor Emeritus Monash Unievrsity), Andina Dwifatma (Dosen Unia Atna Jaya, ko-editor dan penulis kata pengantar), Ining Isaiyas (Editor KPG), dan dimoderatori oleh Iman Zanatul Haeri (Guru Sejarah dan Wawasan Kebangsaan). 

Editor KPG Ining Isaiyas menjelaskan, ketika membidani buku ini masuknya di tengah tahun lalu, saat Ariel dan Andina main ke KPG. Karena satu dan lain hal pengerjaan agak lebih lambat. Dengan kesabaran menyusun dan mengurutkan, setelah berproses satu tahun persis, bisa dilengkapi, secara teknis melayout, menyiapkan indeks, dan idenya terlebih dulu. Untuk dua karya Ariel, pihaknya menyambut baik. Isi dua buku ini percakapan tentang Indonesia. Dua buku ini memperkaya percakapan tentang Indonesia. Ini kayak nyambung. Semakin lengkap dengan perayaan KPG ke-30 tahun.

Sebagai editor, Andina melanjutkan, Ariel detail, tapi dia sebagai editor galak juga. Ide dari penyusunan buku ini terjadi ketika dia kuliah di Monash, Melbourne. Pas tahun terakhir sekolah, rumah Ariel dekat dengan kos Andina. Ini masa ketika banyak demo yang ada di Indonesia. Pada saat itu, kecemasan teman-teman yang kuliah bermacam-macam. Ia dan teman-teman cemas, bikin diskusi dan seminar, apakah dengan terpilihnya Prabowo, ada pertanyaan yang mengganggunya, apakah kita mundur dibandingkan Orba? Apa bedanya dengan yang dulu? Diskusi udah berlangsung intens.

Dari pengamatan Andina, Ariel ini arsipnya bagus untuk menjawab itu. Playbook Orba itu gitu-gitu aja, misal pocong begal, dulu mainnya kolor ijo. Perlu ada pembacaan sejarah gerakan Indonesia dari masa ke masa. Tulisan Ariel bagus untuk nge-track. Akibat asal ngomong, beginilah hasilnya. Kolomnya lebih dari 500. Dipilih 158, lalu terpilih 100 kolom. Ia dan Ariel memilih dengan damai. "Nasib Publik dalam Republik" ini versi esai kolom. Yang esai akademik ini yang "Huruf Demi Huruf", tulisan lebih panjang. Untuk mendokumentasikan gerak Indonesia. Serta bagaimana memetakan Indonesia, dan gerak Indonesia ke depan. 

Andina melanjutkan, pemilihan judul juga dilakukan dengan perdebatan. Awalnya mau ambil judul "Republik Tanpa Publik". Tapi judul itu ternyata sudah ada yang memakai. Chairil Anwar juga pernah bilang nasib itu kesunyian masing-masing, tapi Indonesia jangan dipikirkan masing-masing. Kalau ia judulnya cenderung suka yang puitik, kalau Ariel enggak. Kemudian, ini sempat jadi materi soal urutan bab, apakah dibikin kronologis, atau yang paling kuat. Lalu dipilih berdasarkan abjad, lalu disusun secara kronologis. Ariel ini menarik karena merekam di berbagai bidang. 

Terkait kolom yang paling favorit, akan ada subjektivitas, karena Andina latar belakangnya sastra, ia suka sastra dan seni, ia suka tulisan yang membahas dominasi pria dalam sastra. Juga bagaimana Reformasi 98 mengecewakan. Lalu, juga kenapa demokrasi? Judulnya, "Mungkin yang Salah Demokrasi".

Ariel menyampaikan rasa bahagia atas lahirnya dua anak ini. Makasi pada editor dan rekan-rekan yang mau hadir. Saya terharu ada yang bersusah payah menemani saya.  

Sementara itu, Ariel ketika diberikan pertanyaan, kenapa Anda menulis? Ia menjawab, "alasannya karena mereka membaca tulisan saya, makanya saya nulis. Saya menulis karena saya tidak bisa yang lain." Ketika kecil, Ariel pernah bercita-cita jadi arsitek, tapi terhenti karena mahalnya bukan main. Ia juga giat berolahraga", tapi kalah juga. Akhirnya ia menemukan karier di menulis. Ini jujur: "Akhirnya saya temukan nulis itu kreasi sangat murah. Saya suka lukis, tapi biaya cat mahal. Dari Putu Wijaya saya belajar, hal utama bagi pegiat teater adalah tubuhnya." Dan bersandar pada argumen Putu Wijaya, penulis itu kertas dan penanya. Saya dari lapisan kelas menengah paling bawah. 

Beberapa judul Ariel juga hanya nulis judul itu cuma satu kata, tapi Ariel bisa menjelaskan dengan mengalir? Padahal sekarang banyak judul nyentrik. Jawabannya sederhana, yaitu berdasarkan pengalaman. Tahun 2026 ini menjadi tahun karier kepenulisan yang ke-50. Sejak tulisan pertama tahun 1976 diterbitkan. Kenapa judul satu kata? (1) Karena menulis kolom, dan harus pendek. Editor Kompas gak apa-apa judul panjang, tapi secara visual gak enak. (2) Saya terinspirasi dari Putu Wijaya juga yang hanya menulis judulnya satu kata. Makin sedikit kata, makin tidak mereduksi makna.

 

QnA:

1. Zainal Abidin (Tegal): Saya follower Andina, meskipun followers 43 ribu, saya mau tanya Pak Ariel. Untuk siapa menulis itu? Orang membaca semakin berkurang. Perubahan dalam tulisan ini berat. Yang baca itu-itu saja, dan itu makin berkurang? 

2. Chris Wibisana (Tangsel): "Nasib Publik dalam Republik" bukan yang terbaik tapi yang terpilih? Kenapa? 

Ariel: Sederhananya, kalau nulis untuk Kompas, sesuaikan dengan pembaca Kompas. Profil setiap pembaca berbeda-beda sesuai dengan media yang akan kita kirimkan tulisannya. Kalau nulis untuk Kompas, maka perlu mengenal pembaca Kompas kayak apa. Setiap hari baca Kompas, sehingga tahu yang dibaca apa? Apa yang luput dari bacaan itu dan saya isi. Juga, misalnya, pembaca Suara Merdeka ya berbeda. 

Andina: Pak Zainal ini baca tulisan saya kuliah S1 di Undip. Yang ditulis kajian media, Michelle Foucault. Pertanyaan Chris, kurasi berdasarkan pada kesinambungan yang ada dengan zaman sekarang. Misal, tentara selalu paranoid dengan berbagai gerakan kiri. Saya memilih yang paling kuat. Dari buku Ariel, kesadaran sebagai bangsa, ini bisa digerakkan dari situ. Ada hint optimis. 

Ining: Akhir-akhir ini baca intens, menurut penulis Parakitri Simbolon, tarik ulur kepentingan negara dan masyarakat selalu bertentangan. Kita harus melawan. Kadang-kadang publik ada moment menangnya. 

4. Adit (BSD): Ini startnya overthinking, lalu dikumpulkan jadi buku. Apakah setelah menulis ini, overthinking masih ada? Atau ada insight baru? 

Ariel: Banyak dari buku yang biru dari kolom harian dan majalah. Diterbitkan untuk dibaca saat itu. Pertanyaan Anda penting. Sekarang gimana? Saya dihubungi sejumlah penerbit, tapi saya hold dulu. Terutama lagi-lagi generasi saat ini, sudah dibahas teman-teman saya saat itu. Harapannya, ini disimpan, dan dikontekstualisasikan di masa kini. 

5. Wawan
: Mas Ariel, di zaman Anda dulu ini dari episteme group. Ariel punya kelompok intelektual. Ada Arief Budiman, Rizal Ramli, GM. Ini pembelajaran untuk memperdalam pengetahuan dan perspektif kita. Sehari-hari jadi sesuatu yang bermakna. Yang saya pahami, ada kelompok diskusi itu. Bisa diceritakan, terkait grup-grup itu? Buku ini akan lebih bermanfaat, sesuai bidang masing-masing. Lagi ramai-ramainya, bagaimana kita juga tetap update perbincangan intelektual global. Bisa cerita Mas.

Ariel: Pendek katanya, ada satu masa tentara masuk kampus dengan tank. Di saat itu, lagi ramai-ramainya teologi pembebasan dan marxisme, di Indonesia timbul kelompok diskusi. Kelompok diskusi terjadi di pra-internet. Jaman itu ketika bersurat, kelompok diskusi sangat intens. Kelompok diskusi itu kelompok kecil, lima sampai 15 orang, bertemu secara rutin. Di kota lain ada lagi. Puncaknya, kami bikin kelompok diskusi se-Jawa dan Bali. Ada Harwib, Vedi Hadiz, bacaannya orang-orang kiri-kiri semua. Salah satu analisisnya: Kenapa PKI kalah? Kelompok diskusi itu kekuatan. Kompas rajin, Mas St. Sunarto memetakan berbagai kota. Bisanya cuma itu. Demo gak bisa. Bacaan kita memang berat banget. Bacaan S3 dibaca S1. Kita teori, bisanya cuma nulis. Masa itu pasti sulit, orangnya sama tulis. Andina ayo bikin di Jakarta.  

6. Tio (Bungurasih): Saya tertarik politik sehari-hari, wabil khusus, Pak Ariel concern ke kelas menengah. Saya membayangkan, ketika bicara teater, film, Pak Ariel bercerita tentang kelas menengah di Indonesia. Apakah bisa melihat kelas menengah dari filmnya? Atau produk-produknya?

Ariel: Tentang kelas menengah, ada tren baru dalam ilmu-ilmu sosial. Setelah runtuhnya Marxisme, muncul reaksi baru di kalangan ilmu sosial terkait representasi. Lalu antropolog studinya orang desa, saya bertumbuh masa itu. Pilihan ideologis saya, saya kelas menengah, saya bukan  petani, produk saya ya dari posisi sata. Saya tak bisa tentang elit oligarki. Saya sadar betul, mengkritik kelas menengah karena saya adalah bagian dari situ. Kelas menengah itu paling gak jelas. Jadi dia akhirnya cenderung menjadi konservatif. Kelas bawah gak punya apa-apa kecuali penderitaan. Gak cukup menderita untuk melawan, untuk ngajak dialog. 

7. Isma: Kenapa dari banyaknya seniman seangkatan Bapak, yang menjadi inspirasi Putu Wijaya?

Ariel: Karena karya-karya Putu Wijaya seiman dengan saya. Semua cerita-cerita Putu itu antihero. Walaupun petani, buruh, dll, tapi dia selalu menunjukkan kekuatan.

8. Indra (Monash) : Saya penasaran, ada gak sedikit perbedaan nuansa kebatinan ketika nulis di Salatiga? Melbourne? Singapura? Apakah tempat menjadi pembeda. Kalau iya, relevan kabur aja dulu. 

Ariel: Menulis Indonesia dengan lokasi Indonesia seperti menulis pohon di hutan. Saya di luar Indonesia, seperti melihat hutan dari jauh. Yang kita lihat beda. Rahasia dapur yang individual, nulis Indonesia dari jauh, saya bersumpah gak hanya nulis-nulis yang jelek saja. Tapi ada saat-saat tertentu ketika nulis hal positif. Karena yang saya lihat memang beda. Karena "etika" sangat penting dalam segala hal.

9. Fitriadi: Tadi pagi yang saya baca di berita, kata Prabowo, cuma Indonesia tentaranya ngurus sawah. Gimana biar gak terjebak dalam kesalahan sejarah yang berulang kali? 



10. Question: Bagaimana dengan gerakan kabur aja dulu? 

Ariel: Ketika keluar Indonesia, saya terpaksa keluar. Di kampus kami dulu terjadi konflik besar selama tiga tahun. Puncaknya sembilan bulan nonstop dosen gak digaji, kampus mogok. Sekarang ramai Serikat Pekerja Kampus, kalau benar melawan, harus berani mogok. Setelah sembilan bulan, di akhir 90an, ada gedung yang dipecahkan. Rektor menelepon, ada teman-teman yang menyerang. Kelasnya lain. Kalau Serikat gak berani, gak bisa. Senjata utama itu mogok. Pasivis. Saya terlunta-lunta gak digaji, teman-teman saya banyak wartawan gak digaji. Zamannya, orang-orangnya radikal semua. Saya juga punya teman, saya terjebak di Singapura. Negara paling otoriter. Pokoknya kamu bayar saya, saya kerjakan. Jangan buru-buru harus kabur. 

Kenapa publik? Indonesia sedang berindustrialisasi. Publik ini kelasnya banyak. Dosen gak dihargai sebagai buruh. Kapitalisme gak betul-betul kapitalis industri. Ketika memaki-maki kapitalisme di Indonesia, kapitalisme macam apa ini? 

Terkait amnesia sejarah? Tujuan buku ini mencoba melihat kembali apa yang terjadi. Masalah kolonial ini jelas sekali. Kalau gak cocok ya putus, di mana pasar kita juga gak pernah bebas. Feodalisme di Indonesia kuatnya bukan main. 

Ining: Memang harus dibaca dua buku Pak Ariel. Membaca itu gak cuma pengalaman intelektual, tapi juga pengalaman tubuh. Gak semua orang betah duduk berjam-jam. Saya datang dari tradisi idea, tapi Ariel dua-duanya ada. 

Andina
: Saya menegaskan lagi, penerbitan ini bukan merayakan ketokohan, kami merekonstualisasi lagi republik. Apa artinya ini sekarang? Ariel juga nulis kata pengantar murni. Kenapa nulis? Bahasa teoritisi lainnya, agar bisa mengonstruksi structure of feeling kita sebagai masyarakat gimana. 

Minggu, 21 Juni 2026

Diskusi "Bedah Arsip: Ensiklopedia Gerwani"

Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) pernah menjadi salah satu organisasi perempuan terbesar di Asia dengan jutaan anggota dan jaringan yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia maupun dunia. Namun, setelah peristiwa 1965, keberadaan dan kontribusinya banyak mengalami penghapusan, penyederhanaan, hingga distorsi dalam narasi sejarah resmi. 

Diskusi "Bedah Arsip: Ensiklopedia Gerwani" yang diselenggarakan oleh Logos ID, Batjaan Rakjat, dan The Coretanist menghadirkan Nathanael Pribady untuk memaparkan hasil pengumpulan, digitalisasi, dan pembacaan arsip-arsip Gerwani. Diskusi digelar di Kafe Sastra Balai Pustaka Jakarta, Minggu, 21 Juni 2026 pukul 16.00-18.15 WIB. Melalui forum ini, peserta diajak meninjau kembali sejarah perempuan Indonesia, memahami jaringan transnasional Gerwani, serta mendiskusikan pentingnya arsip sebagai upaya memperluas ruang pengetahuan dan menghadirkan perspektif sejarah yang lebih beragam.

Berikut beberapa rangkuman diskusinya:

Nathan membaca bahwa terdapat perdebatan internal di Gerwani. Kurikulum 1965–1966 menunjukkan bahwa Gerwani merupakan turning point organisasi perempuan terbesar sepanjang sejarah Indonesia, bahkan dunia. Anggotanya diperkirakan mencapai 1,5 hingga 3 juta orang. Saat itu belum ada organisasi perempuan sebesar itu. Indonesia juga pernah menjadi hot topic dunia sebelum Perang Vietnam. Nathan menyebut, sebenarnya masih banyak proyek lain yang dia sedang lakukan. Misalnya, arsip milik Muhammad Nasroen (Guru Besar Filsafat UI) yang sudah tersedia di Pustaka Langka. Scam scanner juga bisa dimanfaatkan jika ingin mengarsipkan dokumen.

 

Question: Per 2026, ada KUHP Pasal 188. Prabowo hadir dalam pertemuan para pemimpin dunia yang meyakini tatanan dunia multipolar. Dalam berbagai dokumentasi, Prabowo terlihat berjalan bersama para pemimpin seperti Vladimir Putin hingga Kim Jong Un. Akhir Agustus pernah muncul isu "revolusi warna", rumah Sri Mulyani diobrak-abrik, lalu muncul nama Purbaya. Saya mengapresiasi usaha Nathan yang menunjukkan bahwa Gerwani ternyata luar biasa. Bangsa ini luar biasa besar. Kita pernah menggagas Gerakan Non-Blok dan berbagai inisiatif global lainnya. Bangsa ini terlalu besar untuk dikerdilkan oleh Pasal 188 KUHP. Ada perpustakaan di Salemba yang tidak bisa diakses sembarang orang.

Nathan: Tugas akademisi juga mengarsipkan. Penerima LPDP pun tidak perlu takut.

Question
: Saat mengumpulkan arsip, bagaimana kondisinya sekarang? Jika dilihat dari karya-karya yang muncul, ada perkembangan kelas-kelas lain yang turut membersamai. Bagaimana memastikan proyek seperti ini berkelanjutan?

Nathan: CZUR scanner sangat bagus digunakan untuk digitalisasi arsip. Harganya sekitar Rp2–3 juta. Di Jogja Library Center juga tersedia fasilitas pemindaian. Tantangannya adalah bagaimana mengoneksikan subjek-subjek yang terpisah. Jangan sampai disiplin ilmu justru memisahkan pengetahuan manusia. Yang berkelanjutan sejauh ini adalah proyek-proyek yang self-funded, sehingga tidak ada sensor.

MC (Auf A. Said): S.K. Trimurti seolah tidak pernah dikaitkan dengan Gerwani. Dalam Api Kartini juga terlihat adanya konflik internal. Siti Rukiah bahkan tidak lagi menulis setelah 1965. Bagaimana memahami sejarah yang tidak disensor? Rasanya seperti menyadari bahwa selama ini kita dibohongi.

Nathan: Salah satu mata kuliah yang saya ambil adalah gender. Dari berbagai materi, saya tertarik pada Api Kartini. Ada peristiwa genosida yang membuat saya marah, sehingga lahirlah gagasan arsip dan Museum Gerwani. Banyak jejak yang ternyata tidak ada di Indonesia. Ada benang-benang sejarah yang berdarah. Soal digitalisasi, kadang saya langsung mengkliping tanpa banyak pertimbangan. Untungnya dosen-dosen di Cornell dan Columbia mendukung. Sekarang tinggal menunggu arsip diolah dan dipublikasikan. Tidak perlu terlalu banyak perizinan karena prosesnya bisa sangat lama.

Pius: Museum Gerwani menjawab keresahan kami. Sejarah yang ditulis negara sering kali terasa propagandistis. Ini menjadi alternatif sejarah yang tidak hanya berpusat pada Soekarno atau Kartini. Saya tertarik melihat arsip ini karena sifatnya sangat praktis. Sebagai mahasiswa Sejarah, saya juga jarang menemukan pembahasan mengenai Gerwani. Historiografi kita sering kali maskulin, sehingga Gerwani menjadi unik. Dari arsip-arsip yang telah didigitalisasi, apa harapan ke depannya selain diseminasi pengetahuan?

Nathan: Saya berharap teman-teman sendiri yang mengolahnya, terutama teman-teman perempuan. Logos akan menerbitkan majalah Cantik yang berisi tulisan perempuan Tionghoa-Indonesia. Arsip-arsip ini bisa dibaca dan didiskusikan bersama. Rencana lainnya adalah membuat kurikulum yang nantinya terbuka untuk publik. Jika ada yang ingin melanjutkan proyek ini, sangat dipersilakan. Sejarawan perempuan di Yogyakarta juga akan mengadakan diskusi serupa. Kami ingin memberi lebih banyak ruang bagi perempuan.

Question: Dalam berbagai pembicaraan, isu 1965 sekarang sudah menjadi arus utama. Saya membaca tentang Gerwani dan Gerwis karena keterkaitannya dengan Perserikatan Buruh Kereta Api. Dari bacaan Nathan, apa yang bisa ditangkap mengenai memori kemarahan kolektif?

Question: Monash University pernah mengarsipkan Sin Po, tetapi sekarang arsipnya tidak bisa diunduh. Apakah nanti nasib arsip ini juga akan serupa?

Nathan: Perjuangan Gerwani bersifat bottom-up. Mereka memiliki pergerakan yang cukup masif di tingkat akar rumput. Ada media seperti Suara Ibu dan Seruni. Gerwani juga menaruh perhatian pada afeksi, yakni bagaimana menyambungkan pengetahuan dan perasaan. Mereka memiliki jaringan internasional yang cukup luas.



Terima kasih juga kepada Perpustakaan Nasional. Coba lihat koleksi di Cornell. Namun sekarang perhatian banyak pihak lebih besar pada bisnis dibanding sejarah. Kami juga membuat zine yang berisi refleksi teman-teman Logos setelah membaca arsip Gerwani. Tagihan hosting bahkan sempat membengkak. Kami juga ingin berkolaborasi dengan banyak ilustrator. Gerwani memiliki jaringan transnasional. Mereka tidak bergerak sendiri. Dukungan terhadap kemerdekaan Kamerun, misalnya, juga menjadi bagian dari perhatian mereka.

Nathan: Sejarah Cornell dan MIT tidak jauh dari CIA. Ada keterkaitan dengan aktivitas pemantauan terhadap Indonesia dan kerja intelijen luar negeri. Jika melihat kondisi sekarang, penjajahan masih terjadi di berbagai tempat, seperti Palestina. Kita bisa melihat bagaimana mereka melawan imperialisme Barat dan memahami seberapa luas jaringan tersebut. Pertanyaannya, bentuk transnasionalisme seperti apa yang bisa kita kontekstualisasikan saat ini? Di Columbia ada konferensi Bandung Humanism. Bagaimana menghubungkan semangat transnasionalisme tersebut? Melalui peta yang dibuat, kita dapat melihat jaringan transnasional yang sudah terbentuk sekitar 70 tahun lalu.

Anet (Aliansi Ibu): Kami memiliki komunitas homeschooler. Semua dimulai dari buku-buku. Kami membaca dengan lambat; satu buku bisa dibaca selama satu hingga satu setengah tahun. Kita bukan bangsa inferior. Kartini berbicara tentang perempuan yang memiliki jiwa merdeka. Terima kasih karena sudah mengorbankan sebagian masa muda untuk proyek ini. Di saat banyak anak muda ingin menjadi seperti Gibran, Nathan menunjukkan tipe yang berbeda. Saya jadi memiliki harapan. Kita perlu menemukan kembali DNA bangsa kita yang asli. Kita kehilangan banyak pemikir karena dibungkam. Kita membutuhkan orang-orang yang berani keluar dari gelembungnya. Bayangkan, Gerwani pada masa itu sudah membahas isu nuklir, bukan hanya soal keluarga.

Djoko Susilo (FH UI): Saya bertanya-tanya mengapa fenomena seperti Gowok bisa terjadi. Saya melihat adanya peluang human rights into government dan ruang leverage di Indonesia. Yang terlintas di benak saya adalah Lubang Buaya. Saya bergerak di isu kelompok marginal dan kebebasan berkeyakinan. Ini bisa menjadi momentum karena kita masih hidup di bawah sistem yang mewarisi kolonialisme. Upaya ini penting untuk mendekonstruksi warisan kolonial, termasuk penghapusan jejak perempuan-perempuan berprestasi dari sejarah. Bisa jadi banyak klaim yang diterima hari ini sebenarnya memiliki logical fallacy yang tinggi. Perempuan bukan subjek inferior dan bukan sosok yang boleh diobjektifikasi negara. Meskipun demikian, saya juga tidak ingin mengglorifikasi feminisme secara berlebihan. Melalui Logos, ada kesempatan untuk menghadirkan perlawanan yang lebih elegan, ilmiah, dan konkret. Di Indonesia selalu ada narasi tandingan, dan Logos menjadi salah satunya. Ada kontinuitas yang nantinya dapat diteliti lebih jauh oleh dunia akademik.

Nathan: Ada juga proyek saya bersama kolega yang mencoba membangun model terstruktur untuk memahami sejarah yang tersela, yaitu Deconstruction Indonesia. Saya cukup terkejut melihat banyaknya peserta yang hadir. Yang ingin saya lihat adalah bagaimana ide-ide teman-teman bisa diwujudkan. Sekali lagi, proyek ini bukan hanya tentang dua orang laki-laki. Setelah ini saya juga sedang mengerjakan proyek mengenai berbagai bentuk kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia.


Question: Saya teringat makalah Arief Budiman. Menurut saya, lebih baik persoalan dibahas secara struktural daripada individual. Selama lima puluh tahun terakhir, akademisi kita cenderung diarahkan untuk berpikir individual, bukan struktural. Bagaimana posisi Gerwani dalam konteks itu? Dunia sekarang juga sudah berubah total. Apa yang dilakukan Tiongkok saat ini justru mencerminkan wajah kapitalisme baru.

Andre (Kaca Benggala): Peta transnasional ini terjadi sebelum 1965. Bagaimana kehidupan mereka setelah 1965? Misalnya Siti Rukiah yang tidak lagi menulis. Kehidupan pasca-1965 mengalami perubahan politik dan ideologi yang besar. Eksil Indonesia tersebar di berbagai negara. Ada Ibu Darmini di Belanda yang menerbitkan majalah Setia Kawan. Ada juga Sobron Aidit dengan karyanya Ketemu di Jalan. Ia berpindah-pindah negara mencari suaka, berpindah agama menjadi Kristen, lalu banyak membahas spiritualitas. Di akhir hidupnya, ia bahkan tidak lagi percaya pada revolusi yang memakan begitu banyak korban manusia. Apakah perubahan ideologis pasca-1965 seperti ini juga akan dikaji?

Perwakilan UNS: Saya meneliti majalah Bintang Merah. Apakah ada perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan Gerwani?

Nathan: Pada periode awal, Gerwani lebih berfokus pada feminisme. Setelah semakin dekat dengan Soekarno, mulai muncul pembahasan tentang Leninisme dan sosialisme. Namun fokus utamanya tetap pada hak-hak perempuan. Di dalam Api Kartini sendiri terdapat beragam pandangan dan kecenderungan politik.

Untuk pertanyaan kedua, proyek ini berupaya mencakup sebanyak mungkin aspek sejarah sebelum 1965, terutama bagian-bagian yang belum banyak terungkap, termasuk perubahan-perubahan yang terjadi setelahnya.

Terkait Bintang Merah, Api Kartini lebih berfokus pada isu perempuan dan anak. Saya sendiri belum banyak membaca Bintang Merah. Dari yang saya lihat, Api Kartini tidak sedekat itu dengan PKI.

Michelia: Siti Rukiah pernah berjualan gorengan dan jajanan pasar untuk menghidupi enam anaknya. Saya menulis tentang hal itu dalam antologi Memasak Harapan yang berfokus pada pengalaman perempuan. Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1970-an juga mengangkat isu perbudakan seksual Jepang. Banyak wilayah yang menjadi korban. Apakah Gerwani pernah membicarakan isu perbudakan seksual ini? Selain itu, masih banyak hal yang belum dikaji. Maesy memiliki sejumlah penerbitan awal yang menarik. Apakah ada sejarah setelah 1913 yang juga akan ditelusuri? Pram juga pernah terlibat dalam penerbitan yang berkaitan dengan Yayasan Kebudayaan Sadar.

Nathan: Buku Memasak Harapan sangat bagus karena menunjukkan bahwa yang personal juga bersifat politis. Namun, dalam arsip yang saya temukan, Gerwani hanya sedikit membahas isu Jugun Ianfu. 

Sabtu, 20 Juni 2026

Diskusi Hikayat Mangrove

Catatan berikut merupakan rangkuman diskusi dalam serial Ambang #1: Hikayat Mangrove yang menghadirkan JJ Rizal dan Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS. Diskusi ini membahas keterkaitan sejarah pesisir Jakarta, folklor, identitas maritim Betawi, serta peran ekologis dan kultural mangrove dalam membentuk peradaban pesisir. Notulensi ini disusun berdasarkan catatan pribadi selama acara berlangsung sehingga lebih berfungsi sebagai dokumentasi gagasan dan pokok-pokok pembahasan daripada transkrip verbatim. Diskusi digelar via Zoom, Jumat, 19 Juni 2026 pukul 20.00-22.00 WIB. 

Cecep Kusmana menjelaskan paparannya dalam slide berikut:

Kemudian, pemateri JJ Rizal menceritakan pengalamannya saat menjadi mahasiswa baru. Ketika mulai mengenali sejarah Jakarta, ia datang ke Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Ia terkesan dengan folklor yang berkembang di sana.

Pada abad ke-17, pulau itu menjadi poros utama aktivitas VOC. Ada dua poros: darat dan laut. Semua aktivitas perdagangan tidak mungkin berjalan jika kekuatan lautnya lemah. VOC sangat tertopang oleh Pulau Onrust, yang berarti "pulau yang tak pernah beristirahat". Bukan hanya Batavia yang hidup 24 jam, tetapi juga Onrust. Apa yang disebut Iwang mengenai konsep darat dan laut juga digunakan oleh Belanda.

Ada folklor pulau itu seolah terus memanggil siapa pun untuk datang. Saat mendalami folklor, misalnya tamsil ikan di laut yang mencari pulau, mereka menerima panggilan dari pulau. Terjadi percakapan yang indah. Ada obrolan antar ikan yang secara saintifik dapat dimaknai sebagai pencarian tempat berkembang biak. Ini merupakan cerita sastra lisan versi Betawi tentang perjalanan menyusuri panggilan.

Tempat ini berharga bukan hanya bagi VOC, tetapi juga bagi ikan-ikan. Dua hal ini menarik. Kita mendapat gambaran bahwa hingga abad ke-19, pusat orientasi masyarakat masih ke laut. Meski VOC dan orang-orang Barat mengalihkan orientasi ke pedalaman, orang Betawi yang tinggal di daratan masih mengingat laut.

Kalau membuka sejarah keluarga-keluarga Betawi, seperti keluarga Usman di Pecenongan, terdapat karya sastra yang ditulis Sapirin bin Usman, yaitu Hikayat Nakhoda Afrika. Kisahnya tentang seorang pangeran yang diramalkan akan menjadi nahkoda yang berlayar ke tempat-tempat jauh. Untuk menjadi orang berilmu, seseorang harus berkelana.

Orang Betawi menjadikan laut sebagai pusat orientasi. Dalam cerita itu, sang pangeran memperoleh istri dari Pulau Pasir Berhambur. Ini sangat simbolik: Apakah tempat itu merujuk pada pulau yang terabrasi?

Jika membaca banyak laporan, kategori orang Betawi dibagi ke dalam lima lapis geografi. Yang paling identik dengan karakter maritim adalah orang pulau, orang laut, dan orang pesisir.

Bagaimana orang Betawi tetap terhubung dengan laut? Salah satunya bisa dilihat di Rumah Pitung, Marunda. Itu sebenarnya bukan rumah Pitung, melainkan rumah seorang saudagar kapal kaya yang pernah dirampok Pitung. Orang-orang kaya saat itu banyak tinggal di pesisir.

Ketika Pitung pergi ke Marunda, ia tahu betul bahwa itu bukan tempat yang mudah ditaklukkan. Orang-orang Marunda memiliki gaya silat tersendiri yang terkenal. Misalnya silat Beksi yang berkembang dari komunitas Cina Benteng di kawasan Dadap.

Di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, ada Silat Alif yang terkenal dari Nek Deli. Ada pula aliran lain dari Nek Ain. Mereka tidak sekadar memainkan pukulan, tetapi membangun tradisi silat yang khas.

Hal ini berkaitan dengan kompleksitas urbanisme Jakarta. Berbagai etnis dan bangsa bertemu di pulau-pulau itu. Kawasan pulau bukanlah wilayah sepi, melainkan wilayah yang sangat ramai.

Karena Iwang ingin pergi ke Pulau Damar Kecil, perlu diketahui bahwa nama awalnya adalah Pulau Edam. Ini pulau yang penting. Pulau tersebut terkenal karena pernah menjadi vila milik seorang pejabat VOC yang gemar ilmu pengetahuan, yang mendirikan tempat tinggal di sana. Lanskap bakau di pulau itu dianggap sangat indah.

Ketika pulau tersebut dihuni, tempat itu juga pernah menjadi lokasi pembuangan seorang bangsawan Banten, yaitu Ratu Syarifah. Ia menjadi bagian dari konflik antara Kesultanan Banten dan VOC. Makamnya kemudian menjadi tujuan ziarah. Di pulau-pulau lain juga terdapat pusat-pusat perziarahan.

Kalau kata Pak Cecep, banyak hal sudah hilang. Jika itu terus terjadi, kita akan kehilangan kultur, identitas, dan jejak perjalanan Jakarta. Dalam tamsil laut dan ekologi, laut adalah tempat menemukan kehidupan. Itu bukan hanya cerita orang pribumi, tetapi juga orang Belanda.

Pulau-pulau ini merupakan rahim besar peradaban. Dari sanalah asal-usul Jakarta tumbuh. Karena itu, jangan hanya mengingat ungkapan "jangan lupa daratan". Hari ini mungkin yang lebih tepat adalah "jangan lupa lautan".

Tanya Jawab

Johanes Jamil (Kepulauan Riau)

Saya anak suku laut di Kepulauan Bintan. Sebagai orang laut, kami hidup dikelilingi mangrove yang dijaga dan dirawat secara adat. Mangrove terkoneksi dengan laut.

Ada ritual makan pucuk bakau sebelum masuk kawasan mangrove. Ada hewan-hewan yang menjadi penanda sehat atau tidaknya mangrove, misalnya tempat penitipan telur cumi-cumi dan keberadaan kera.

Saat ini ada proyek strategis nasional (PSN) yang mengganggu kawasan tersebut. Padahal mangrove menjadi rumah bagi banyak spesies saat musim utara. Beberapa ikan menitipkan telur di sana.

Kami juga memiliki kuburan suku laut yang berada di kawasan mangrove. Mangrove tanpa ikan tidak bisa dipisahkan. Saya merupakan generasi kedua yang meneruskan tradisi tersebut.

Cecep Kusmana

Kami di kalangan akademisi sangat senang bertemu rekan-rekan yang bekerja langsung di lapangan.

Saya selama ini mencari bioindikator untuk mengetahui apakah suatu mangrove sehat atau tidak. Secara akademik indikatornya sangat rumit, tetapi ternyata ada indikator sederhana, seperti keberadaan telur-telur yang dititipkan ikan.

Banyak kearifan lokal yang sebenarnya ingin diteliti, tetapi sudah hilang. Padahal untuk restorasi mangrove, dunia akademik harus belajar dari kearifan lokal dan menggabungkannya dengan ilmu pengetahuan.

JJ Rizal

Dalam budaya Betawi ada tiga ritus penting: khitanan, pernikahan, dan kematian.

Saat menikah ada tradisi membawa bandeng dan mata bandeng (cincin bermata permata). Orang Betawi juga memiliki banyak tradisi lebaran. Jika saat Ceng Beng atau perayaan tertentu tidak membawa bandeng, dianggap kurang sopan.

Tradisi ini berasal dari bandeng yang hidup di lingkungan pesisir dan bergantung pada ekosistem bakau. Sama seperti cerita Pak Jamil, mangrove yang baik akan menghasilkan bandeng yang baik. Bandeng tumbuh di kawasan bakau dan memanfaatkan nutrisi dari ekosistem laut.

Dunia mangrove bukan sekadar pelengkap ritus, melainkan sesuatu yang memanggil kita untuk mengingat masa lalu.

Elen

Ada 29 pulau yang berpotensi tenggelam. Mengapa situasinya sedemikian genting? Terlihat ada keterputusan antara warga pesisir dan warga daratan. Seolah-olah persoalan ini hanya menjadi tanggung jawab orang pesisir. Bagaimana menyikapinya?

Iwang

Kita perlu lebih rajin melihat laut. Seolah laut ingin berbicara kepada kita, tetapi kita tidak tahu bagaimana cara mendengarkannya.

Kalau saya pribadi, saya ingin menjadi bajak laut.

Alia

Saya ingin menyambung soal Pulau Obi, tempat eksekusi Kartosuwiryo. Mengapa pada masa itu pulau-pulau dipilih sebagai tempat pengasingan?

Di Yogyakarta ada mitos Nyi Roro Kidul. Jika laut dirusak, akan datang tulah. Mitos itu memiliki fungsi sosial. Apakah di kawasan Jakarta juga ada mitos yang menjadi bagian dari ritual dan spiritualitas warga?

JJ Rizal

Hal itu berkaitan dengan politik kolonial Belanda. Gubernur Jenderal memiliki kewenangan menangkap dan memindahkan orang.

Misalnya ada bangsawan Banten yang dibuang ke Pulau Edam. Selain itu ada Pulau Bidadari yang pernah digunakan sebagai tempat isolasi penderita kusta.

Dalam banyak catatan kolonial, kawasan laut Batavia sering digambarkan sebagai wilayah yang tidak sehat. Ada buku Old Batavia yang menjelaskan bagaimana kota lama salah urus dan penuh persoalan. Karena itu pusat kota dipindahkan ke kawasan yang kemudian disebut Nieuw Batavia.

Proses ini berlangsung pada masa Herman Willem Daendels. Orientasi kota bergeser dari laut ke daratan. Bahkan banyak kelenteng yang tidak lagi menghadap laut.

Kawasan laut, pulau, dan Teluk Jakarta berulang kali digambarkan sebagai ruang yang buruk. Dalam kisah Nyai Dasima misalnya, yang baik selalu diasosiasikan dengan dunia orang kulit putih.

Jika berbicara tentang mitos, ada yang bersifat supranatural, seperti Si Manis Jembatan Ancol. Ada pula tokoh-tokoh seperti Arya dari Marunda yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat pesisir. Ada juga hikayat tentang jin yang muncul dari kawasan laut.

Cecep Kusmana

Saya sebenarnya sangat menyukai kebudayaan dan sering membaca sejarah Jawa Barat.

Belanda dahulu, ketika ingin melakukan restorasi hutan, akan mengirim antropolog terlebih dahulu sebelum ahli-ahli eksakta. Sekarang sering kali yang langsung diterjunkan justru ahli teknis.

Misalnya dalam tradisi Sunda, jika seseorang menebang pohon kaboa sembarangan, ia dipercaya akan didatangi harimau Prabu Siliwangi. Secara ilmiah, kaboa berfungsi menahan abrasi sehingga tetap lestari karena adanya kepercayaan tersebut.

Orang Sunda juga memiliki pantangan menanam beringin di depan rumah karena dianggap tempat genderuwo atau kuntilanak. Namun orang Belanda melihat bahwa di sekitar beringin biasanya terdapat sumber air, dan akar beringin yang besar dapat merusak bangunan.

Terlepas dari benar atau tidaknya secara intelektual, kepercayaan semacam itu terbukti efektif menjaga lingkungan.

Pulau Obi seharusnya menjadi ruang telling story yang menghubungkan sejarah dengan generasi sekarang. Pemerintah dapat merekonstruksi ingatan tentang pulau-pulau yang hilang. Karena itu peran antropolog sangat penting. Termasuk gagasan untuk rekonstruksi pulau. 

Senin, 15 Juni 2026

Diskusi Pre-launching Buku "Ekonomi Politik Kekuasaan" karya Vedi R. Hadiz

LP3ES menggelar diskusi dan pre-launching buku bertema "Ekonomi Politik Kekuasaan: Kapitalisme, Populisme dan Oligarki" melalui Zoom Meeting, Senin, 15 Juni 2026. Diskusi ini menghadirkan pembicara Vedi R. Hafiz, serta sambutan dari Rahadi T. Wiratama (Editor Buku) dan Widjanarko (Direktur Program Penerbit LP3ES). 

Vedi memberikan pengantar bahwa ketika menulis buku ini, dia sempat berpindah-pindah tema, salah satunya karena bosan. Tapi juga ada satu benang merah tentang kontestasi, tapi yang bedain, kontestasi ini tidak pernah sama antara satu orang ke orang lainnya. Lebih ke sosiologi kekuasaan, daripada liberalis pluralis. 

Dia terganggu dengan intelektual fate atau intelektual trendy, ada skeptis dari luar negeri sehingga dikonsumsi banyak orang. Dia tidak pernah menerima apa pun dengan take it for granted. "Saya skeptis dengan ide-ide trendi," katanya. Misal soal transisi demokrasi, siapa yang diuntungkan dan dirugikan. Dia juga kritis dengan pasar dan civil society. Lalu soal good governance, siapa sih di baliknya? Apa persoalannya? Produk tersebut merupakan hasil dari kontestasi. Desentralisasi sebagai bagian good governance memproduksi praktek predatoris atau raja-raja kecil. Ada sesuatu skeptis di semua artikel yang Vedi tulis di buku ini. 

Berbicara tentang Indonesia juga ada hal-hal yang dikomparasi secara global. Institutional design itu kurang memadai, kalau diterapkan, bisa dibajak kepentingan dominan, yaitu kepentingan oligarkis. Pemahaman tentang oligarki berbeda dengan pemakaiannya secara umum. Oligarki bukan sekadar perkumpulan orang kaya, tapi juga bagaimana posisinya secara sosial. Bagaimana korporasi dan institusi dominan terhadap gerakan ekonomi politik. Bukan semata-mata soal segelintir komlomerat, tapi juga politik. Kita perlu skeptis bahwa orang yang menulis tentang undang-undang juga orang yang punya usaha. 

Menurutnya, sekarang ini terjadi banyak diskusi tentang krisis demokrasi. Buat Vedi, ini outcome liberalisasi global. Sehingga institusi demokrasi tak bisa bekerja. Kenapa di Indonesia demokrasi tak bisa maju? Karena salah satunya juga ada politik identitas. Oligarki melindungi pihak-pihak di dalam koalisi, itu juga mengambil keuntungan dari struktur sosial ekonomi yang didominasi oleh oligarki. 

Populisme ini juga menjadi perhatian Vedi, terutama populisme Islam. Populisme itu upaya menggabungkan kepentingan-kepentingan yang semakin kompleks. Kemudian ini dimobilisasi untuk mendukung agenda politik tertentu di waktu-waktu penting, misal pada Pemilu 2014, 2019, dan Pilkada DKI Jakarta 2017. Untuk membangun solidaritas penduduk masyarakat karena posisi sosial yang berbeda. Dimobilisasi untuk agenda sesaat. Kemudian ketika berdamai jadi hilang. Ini bisa jadi alat oligarki. 

Ada juga karya-karya tentang buruh. Buruh itu representasi bagian masyarakat yang paling marjinal. Kemampuannya untuk mempengaruhi kebijakan dan sosial ekonomi yang dianggap itu jadi terbatas. Karena fragmentasi dari zaman Orde Baru, jadi mainan oligarki. Dari penelitian Vedi, meski ada yang mau berjuang, pikiran mereka dimoderasi yang dikonsumsikan negara  Buku ini untuk siapa saja yang ingin memahami persoalan-persoalan yang ada di Indonesia. 

Tanya Jawab:

Q1: Populisme Islam berbeda dengan sebelumnya. Dia gerakan sosialisme dan kelas. Ada skeptisisme, berujung pada cakisme. Adakah skenario lain selain cakisme? Kalau kita lihat Islam dan gerakan kelas menengah, mereka enggan berkompromi. 

Q2: Rizal UIN Malang: Bicara soal demokrasi, semua makhluk hidup itu binatang politik. Bagaimana menciptakan kesetaraan tanpa memicu konflik/anarki? Apakah negara yang banyak utang akan terpuruk oleh bunga? 

Q3: Maulana: Pemerintahan saat ini apakah lebih ke oligarki atau demokrasi? Untuk memperbaiki demokrasi tersebut bagaimana? 

Vedi: Di Turki populisme Islam lebih berhasil daripada di Indonesia. Dalam arti, kekuatan sospol yang beraliansi dengan Islam itu menguasai negara karena mereka punya basis materiil yang kuat. Mereka didukung tiga pilar, pertama, kelas menengah yang teralienasi oleh rezim Kemalisme. Kedua, mereka punya kelas pengusaha yang kedaerahan. Mereka punya usaha-usaha kecil, yang bisa jadi penopang. Mereka bisa menjalin ke kelas bawah. Ketiga, ada asosiasi pemudanya. Ada oligarki tandingan terhadap Kemalisme. 

Semua politik itu konflik. Konflik itu keniscayaan dalam ekopol. Bisa jadi konflik ide, senjata, dll. Tak harus ada kekerasan. Apakah ada kekuatan yang cukup inheren untuk menandingi kelas kepentingan berkuasa? Konflik ketika jadi anarki akan menguntungkan status quo. Misal dikomparasi, tak bisa disamakan antara Indonesia vs USA, karena berkaitan dengan ekonomi suatu negara. Indonesia tak bisa tak berhutang semaunya, karena luar negeri juga melihat bagaimana memenejemen sumber daya. 

Q4:  Nabil: Pertanyaan untuk Prof. Vedi, 

R. William Liddle pernah melontarkan kritik terhadap Tesis Oligarki dengan argumen bahwa mazhab ini cenderung mengajarkan 'keputusasaan politik'. Kritik tersebut muncul karena Tesis Oligarki dinilai terlalu deterministik, hanya melihat institusi demokrasi pasca-1998 pada akhirnya selalu dibajak oleh kekuatan elite lama, sehingga menafikan ruang bagi agensi polittisi reformis (seperti Pak B.J. Habibie, misalnya), masyarakat sipil, dan reformasi kelembagaan. Bagaimana Anda memandang kritik mengenai 'keputusasaan' yang dialamatkan pada Tesis Oligarki ini? Apakah analisis ekonomi-politik makro memang cenderung mengesampingkan potensi agensi lokal, atau justru hambatan strukturalnya yang selama ini belum berhasil didobrak? Dalam debat akademik mengenai transisi demokrasi di Indonesia, terdapat jurang yang cukup besar antara mazhab pluralis dan para pengusung Tesis Oligarki. Ketika para sarjana pluralis mengkritik bahwa Tesis Oligarki membawa narasi “keputusasaan” karena skeptis terhadap institusi demokrasi formal, apakah menurut Anda kritik tersebut muncul karena mereka terjebak dalam 'optimisme semu' (naive optimism)? Yaitu melihat demokrasi sebatas prosedur pemilu, tanpa membongkar asimetri material dan penguasaan kapital yang ada di baliknya?

Vedi: Resentralisasi oligarki terjadi dalam pemerintahan Prabowo. Tapi ada tiga kontradiksi inheren yang bisa jadi peluang. Pertama, akan jadi krisis fiskal. Ini menciptakan kontradiksi, karena proyek mahal seperti Danantara, MBG, Kopdes untuk membangun patronase dan hegemoni. Pada saat yang sama membebani APBN, memberatkan pengusaha dan masyarakat. Ini terjadi krisis oligarki juga. Kedua, dengan adanya Danantara dan MBG, membangun koalisi yang bisa dikontrol oleh sebagian orang. Lalu bagaimana dengan pihak yang sudah mengalami desentralisasi? Seperti kepala daerah, ini persoalan di dalam politik juga. Ketiga, terjadi konflik masyarakat dengan aparat dan ASN terutama yang berhubungan dengan Sumber Daya Alam. Ada kontradiksi yang mungkin akan menyebabkan konflik antara masyarakat lokal dan  aparat (negara). Akan banyak lagi konflik lokal yang terjadi. 

Q5: Deda UGM: Apa yang dihighlight soal civil society? Kelas menengah kita yang deliberal.

Q6: Andi: Tanggapan terkait krisis neoliberalisme? Bagaimana memandang populisme yang berbasis identitas jadi satu-satunya basis resistensi terhadap oligarki? 

Q7: Goris (FISIP Universitas Djuanda): Elaborasi lebih lanjut mulai dari perkembangannya, yang disebut aliansi apa saja? Basis ekonomi materialnya yang membentuk oligarki? Tesis saya pemain inti sama. 

Vedi: Oligarki itu bukan benda mati, tapi beradaptasi terus dengan kepentingan-kepentingan yang ada di dalamnya. Banyak oligarki manancapkan diri di neoliberalisme karena konsentrasi kekayaan menjadi lebih tajam, tetapi krisis neoliberalisme itu sendiri kemudian memberikan oligarki yang telah memanfaatkannya dalam mekanisme pasar untuk mempertahankan kedudukan. Pada tahun 2008-2009, partai jadi disfungsional. Ini menjadikan rentan terhadap krisis. Persoalan-persoalan ekonomi yang dialami rakyat diakibatkan oleh orang luar juga memberi dampak ideologis yang memunculkan gerakan-gerakan kritik. Oligarki bisa menggunakan retorika populis untuk melindungi diri sendiri, ternyata menciptakan amarah sosial. Sangat mudah kita tergelincir oleh propaganda oligarki, yang seolah mementingkan rakyat tapi enggak. 

Q10: Fahri: Apakah ekonomi politik kekuasaan berseberangan dengan free market? 

Vedi: Pasar bebas di Indonesia, tiap kali masuk jadi hal lain oleh pembuatnya. Misal regulasi perbankan, didukung oleh lembaga internasional. Yang terjadi kemudian konglomerat bikin bank-nya sendiri, kemudian ditambah kebijakan yang bisa mengakses dana internasional secara lebih mudah. Ini meningkatkan utang luar negeri swasta secara luas biasa. Teknokrat di Indonesia ini hanya berkuasa sekian tahun saja. Sesudah itu mereka dimutasikan untuk kepentingan oligarki. Perubahan geopolitik dan geoekonomi yang mengubah. 

Sabtu, 13 Juni 2026

Ruang Publik dan Aksi Massa

Ada satu pertanyaan yang mengusikku berkaitan dengan demo kemarin: Mengapa ruang publik sekarang semakin dijaga dari massa aksi? Pertanyaan ini tiba-tiba muncul saat aparat mengalihkan konsentrasi massa dari yang awalnya dari akan dipusatkan di Bundaran HI untuk diganti di Gedung DPR atau seputaran Patung Kuda Arjuna Wijaya dekat Monas. Aku mengetahui ini setelah membaca berita, dan ada orang-orang yang cukup kecele juga pas datang ke Bundaran HI di jam istirahat makan siang, dan melihat lokasi itu masih sepi. Mereka menyangka jam 10 sudah ada pergerakan. Bahkan driver ojol ada yang bilang jika katanya demo batal, karena lalu lintas di Bundaran HI masih lancar. Dalih aparat mengapa massa aksi dilarang ke Bundaran HI karena "menjaga ketertiban umum dan kelancaran kegiatan ekonomi ", dengan dialihkan ke tempat yang disebut sebelumnya, aspirasi jadi semakin didengar, begitu klaimnya. Namun, wait, pada Jumat pagi aku juga baca komentar netizen yang bilang Bundaran HI salah tempat. Berikut skrinsutnya. 

Padahal, jika kita membaca sejarah, misal ketika membaca tulisan Rita Padawangi, ruang publik strategis seperti Bundaran HI ini bisa menjadi "megafon", bagaimana informasi disebarkan, didistribusikan, dan bagaimana kota menjadi agen untuk menyuarakan gagasan. Tentu komentar yang menyerang pemilihan Bundaran HI bisa mudah dimentahkan. Ruang publik sestrategis Bundaran HI juga punya makna simbolik sebagai jalur efektif bagaimana pesan diterima publik, terutama bagi kalangan di luar elite, termasuk kaum papa dan mereka yang cenderung acuh sama politik kuasa. Ruang publik juga menyimpan memori kolektif yang tentu punya makna personalnya sendiri bagi setiap orang. Tentu, bagiku Bundaran HI adalah lalu-lintasku usai kerja untuk menuju tempat les belajar bahasa. Yang selalu macet di jam² pulang kerja. 

Pemindahan lokasi massa aksi ini punya dampak yang serius:

1. Strategi memecah belah massa: Ketika disepakati satu tempat, tapi di lapangan semacam dibajak lokasi dan waktunya, maka massa jelas akan terpencar-pencar dan tidak bersatu. Ini menjadikan substansi perjuangan jadi semakin dilemahkan. 

2. Pengontrolan massa di Bundaran HI lebih susah karena paling tidak ada tujuh simpang dari yang besar sampai yang jarang dilalui di titik itu. Bandingkan dengan simpang di patung kuda dengan persimpangan yang lebih sedikit dibandingkan HI. Sementara kita tahu efektivitas gedung DPR hari ini dengan elite-elitenya. 

3. Justru saking vitalnya Bundaran HI, tempat itu jadi tempat yang sangat politis. Tempat juga bisa menjadi agensi yang tak kalah penting untuk menyuarakan tuntutan. Karena di sana juga letak otoritasnya. 

Sebagai bagian dari sipil, aku juga ingin melihat Indonesia dengan kepemimpinan sekarang bisa melakukan refleksi. Aku mencoba membela apa yang menurutku perlu dibela, karena sekali lagi, hidup itu sendiri sudah sangat politis. 

Selasa, 09 Juni 2026

Refleksi Kelas Kritik Sastra dari Mbak Ayda

Saya mendapatkan berbagai inspirasi, seperti: (1) bisa membedakan bahwa sastra pinggiran itu konstruk dari apa yang ada di pusat, (2) sebagaimana refleksi Mbak Ayda, selera sastra yang dibentuk dalam lomba-lomba cenderung maskulin, (3) untuk melihat corak masyarakat bahkan bisa dilihat dari sastra populernya, bukan sastra kanonnya, (4) selera berkaitan dengan struktur yang membentuk seseorang, tidak ada yang perlu ditinggikan atau direndahkan, cukup dihormati, (5) pas Mbak Ayda mahasiswa, dia mendapatkan nilai yang biasa saja karena mengulas Kuntowijoyo. Sementara yang mengulas karya terkini dapat nilai baik. Pelajaran moralnya, ketika membahas karya kanon seperti Kuntowijoyo atau Pramoedya Ananta Toer semisal, kamu harus benar-benar paham dari yang lain, karena yang mengulas sudah sangat banyak. Tapi ketika mengulas karya baru, ada kemudahan relevansi dengan masa sekarang, dan cenderung belum banyak diulas. 

Kamis, 04 Juni 2026

Hantu, Klenik, dan Pengetahuan: Tinjauan Antropologis terhadap Dunia Gaib

Hantu, klenik, dan berbagai hal yang dianggap gaib sering kali ditempatkan di luar ruang diskusi akademik. Namun, mengapa kisah-kisah tentang mereka terus hidup, diwariskan, dan memengaruhi kehidupan sosial masyarakat hingga hari ini?

Bagaimana antropologi memandang hantu dan klenik? Apakah keduanya sekadar takhayul, atau justru merupakan bagian penting untuk memahami cara manusia memberi makna pada dunia di sekitarnya?

Mari bergabung dalam diskusi berjudul "Hantu, Klenik, dan Pengetahuan: Tinjauan Antropologis terhadap Dunia Gaib" bersama narasumber Geger Riyanto (Antropolog) dan dimoderatori oleh Isma Swastiningrum (Klenik Studies).

Diskusi ini digelar untuk membicarakan hantu dan klenik secara akademik, sekaligus melihat bagaimana ilmu sosial membaca pengalaman-pengalaman yang sering dianggap berada di luar nalar modern. Selain itu juga untuk merayakan satu tahun komunitas Klenik Studies dengan mottonya, "Membahas klenik dengan pendekatan yang tidak-tidak."

Sampai jumpa di ruang diskusi!

#KlenikStudies #Antropologi #KajianBudaya #Hantu #DiskusiAkademik