Jumat, 27 Februari 2026

Catatan Klenik Studies Vol. IX Edisi 26 Februari 2026: "Kanuragan dan Ilmu Hitam"

I. Pembukaan Diskusi

Klenik Studies Vol. IX pada tanggal 26 Februari 2026 mengangkat tema “Kanuragan dan Ilmu Hitam.” Diskusi ini diikuti oleh Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurizky Adhi Hutama, dan Isma Swastiningrum. Forum dibuka dengan tagline Klenik Studies: “membahas klenik dengan cara yang tidak-tidak.”

Tema kali ini berangkat dari pertanyaan tentang bagaimana ilmu kanuragan dicari, dilatih, diwariskan, dan dimanifestasikan. Diskusi bergerak dari pengalaman personal dalam perguruan silat, praktik tenaga dalam, kitab dan mantra, hingga refleksi teoretis tentang sihir perang dan resistensi kolonial. Ilmu kanuragan tidak pernah berdiri hanya sebagai teknik bela diri. Ia selalu bersentuhan dengan spiritualitas, moralitas, ambisi duniawi, hingga struktur sosial.

II. Tubuh, Nafas, dan Progresi Ilmu Kanuragan

Akbar membuka refleksi dari pengalamannya bersentuhan dengan dunia kanuragan. Ia membandingkan konteks Kalimantan dan Jawa. Menurutnya, cerita praktik kanuragan di Kalimantan (Dayak) cenderung lebih sekretif, sementara di Jawa ilmu-ilmu semacam ini lebih sistematis karena keberadaan banyak perguruan.

Ia mengamati progresi yang relatif serupa dalam perguruan kanuragan: dari olah tubuh, olah nafas, dilanjutkan ke tahap mental dan kesadaran. Tenaga dalam disebut memiliki banyak kesamaan dengan tradisi Tiongkok dan India kuno: konsep energi yang disimpan di bawah pusar (dantian), serta paralel dengan kundalini. Dalam konteks Indonesia, pengolahan ini sering dikombinasikan dengan unsur lokal dan Islam, termasuk penggunaan rajah berbahasa Arab. Menariknya, meskipun simbol berubah, klaim kesaktian tetap dianggap konstan.

Sulkhan mengonfirmasi pola serupa dari pengalamannya di lingkungan perguruan silat Jawa Timur. Fase awal menitikberatkan pada fisik dan teknik pertempuran. Tenaga dalam baru diajarkan kemudian, lengkap dengan kitab dan mantra yang merupakan campuran Jawa-Islam—termasuk konsep papat limo pancer dan kode-kode Arab. Tubuh menjadi pintu masuk menuju spiritualitas. Fisik bukan lawan dari metafisik, melainkan fondasi menuju tahap berikutnya.

III. Energi, Manifestasi, dan Ambisi Duniawi

Diskusi beralih pada fungsi dan motivasi pencarian ilmu. Sulkhan menyebut bahwa pada fase awal belajar kanuragan, dorongan utama adalah mencari kekuatan. Ketika kitab dan amalan mulai dikuasai, kekuatan itu dipercaya dapat dimanfaatkan untuk: pengobatan, meningkatkan wibawa, hingga mendekati perempuan.

Ia bahkan menyebut pengalaman empiris di mana 8 dari 10 target perempuan berhasil didekati oleh praktisi yang dianggap memiliki kanuragan, meski secara fisik tidak terlalu menonjol. Di sini, ilmu berfungsi sebagai kapital simbolik dalam pergaulan.

Praktik lain yang muncul adalah berburu keris atau jimat untuk melacak sejarah personal—menghubungkan diri dengan figur seperti Jaka Tingkir. Kanuragan menjadi medium untuk membangun narasi identitas dan otoritas sosial.

Akbar menambahkan konsep “krah” (energi) yang pernah dijelaskan gurunya. Ketika energi terbuka, manifestasinya bisa beragam dan memang bisa jadi kenyataan—dari memikat lawan jenis hingga efek destruktif. Ia memberi contoh ekstrem: beras yang dimakan ayam hingga mati sebagai bentuk manifestasi energi terbuka. Ia bisa diarahkan pada pengendalian diri, tetapi juga pada ambisi duniawi.

IV. Rajah, Disiplin Moral, dan Paralel Asia Tenggara

Isma lalu mengaitkan diskusi rajah dengan praktik tato sakral Thailand, yaitu Sak Yant. Sak Yant adalah tato sakral berisi mantra Pali, simbol geometris (yantra), serta figur seperti harimau, Hanuman, atau Garuda. Ia biasanya ditato oleh biksu atau ajarn (guru ritual). Fungsinya meliputi: perlindungan tubuh, penambah karisma dan wibawa, hingga kekuatan kebal.

Namun, kekuatan ini tidak gratis. Pemakai harus menjaga sila tertentu, paralel dengan Five Precepts Buddhis: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berbohong, tidak mabuk. Beberapa ajaran menambahkan pantangan khusus. Jika dilanggar, kekuatan dipercaya melemah. Praktik ini paralel dengan puasa mutih, laku tapa, serta pantangan sebelum menerima ilmu dalam kanuragan, di mana kekuatan selalu mensyaratkan disiplin moral.

Isma juga membahas ke praktik ilmu hitam yang paling populer di Indonesia: santet. Dalam narasi populer, santet dipercaya bekerja melalui: Media benda (paku, kaca, rambut, foto); Perantara roh atau jin; Ritual malam hari; Peran dukun. Korban sering dilaporkan mengalami sakit misterius, mengeluarkan benda dari tubuh, gangguan mental, atau nasib buruk bertubi-tubi. Secara antropologis, santet kerap muncul dalam konteks konflik ekonomi, kecemburuan sosial, dan rivalitas politik lokal. 

V. War Magic, Agama Prajurit, dan Politik Perlawanan

Untuk memperluas horizon teoretis, Isma merujuk pada buku War Magic: Religion, Sorcery, and Performance suntingan Douglas S. Farrer. Buku ini mengkaji “war magic” dan “warrior religion” secara antropologis—yakni bagaimana sihir dan ritual dipakai dalam konteks kekerasan, pertahanan, konflik sosial, dan resistensi kolonial.

Beberapa contoh kasus dalam buku tersebut antara lain: (a) Tangki war magic di Singapura, (b) Inisiasi ritual Jawa dan konsep invulnerabilitas, (c) Black magic di Sumatra, (d) Ritual dan keyakinan dalam gerakan Tamil Tigers, (e) Shamanisme di Venezuela, (f) Revitalisasi spiritual Chamorro sebagai resistensi kolonial, (g) Buddhisme Tantra dan perang defensif di India.

Buku ini tidak hanya bertanya apa makna sihir, tetapi apa yang dilakukan sihir dalam kehidupan sosial: bagaimana ia menciptakan keberanian, legitimasi, solidaritas, teror, bahkan melawan kolonialisme.

Menanggapi Isma, Akbar kemudian memperluas pembahasan pada dimensi historis dan politis. Penggunaan kata-kata suci sebagai medium kekuatan radial mengingatkannya pada tesis Ian Wilson dalam buku Politik Tenaga Dalam: Praktik Pencak Silat di Jawa Barat.

Menurut pembacaan tersebut, tenaga dalam tidak hanya fenomena spiritual, tetapi juga terkait gerakan sosial dan perlawanan kolonial. Dari bela diri fisik, praktik ini berkembang menjadi medan spiritual perlawanan. Spiritualitas menjadi strategi menghadapi dominasi, bukan sekadar latihan batin.

VI. Sensitivitas, Visualisasi, dan Interaksi dengan “Alam Sebelah”

Nurizky mengaku tidak mengikuti perguruan formal. Praktik yang ia ceritakan lebih berbasis visualisasi dan fokus mental. Dalam konteks menarik lawan jenis, ia menggambarkan proses memfokuskan pikiran hingga sosok yang ditargetkan “terngiang-ngiang,” bahkan mengirimkan imajinasi makhluk tertentu agar respons meningkat. Di sini, kekuatan tidak dipahami sebagai mantra formal, melainkan sebagai intensifikasi konsentrasi dan proyeksi mental.

Pengalaman lain muncul dalam konteks kesurupan. Ia membayangkan menarik sesuatu dari tubuh orang yang kesurupan, mengajak entitas berdialog, sampai makhluk halus tersebut keluar. Atau pengalaman mengeluarkan gangguan rumah yang singup saat dirinya menjalani KKN. Nurizky lalu membangun semacam “kubah energi” yang diperluas bersama teman-teman untuk mendorong gangguan keluar dari lokasi rumah. Ia menyebut sensasi medan energi yang padat namun tak terlihat.

Ia juga mengisahkan pengalaman intuisi atau “warning”: dorongan untuk menghindari jalan tertentu, pulang lebih dulu sebelum acara di klenteng, hingga visualisasi orang-orang yang memusuhinya sedang berkumpul. Feeling semacam ini dipahaminya sebagai sensitivitas tertentu, meski ia sendiri menyebutnya dengan nada percaya-tidak-percaya.

Dalam konteks personal, Nurizky mengakui pernah memvisualisasikan seseorang yang menurutnya sudah bertindak menyakiti orang lain. Ia menyebut nama dan tanggal, membentuk entitas seperti dementor dalam Harry Potter—bukan untuk membunuh, tetapi untuk menakut-nakuti. Ada ambivalensi antara ingin membalas, tetapi tetap membatasi. Motifnya lebih pada ingin diingat, punya andil dalam kehidupan orang tersebut. Visualisasi kembali menjadi teknik kunci—bukan sekadar imajinasi liar, tetapi intensifikasi emosi menjadi bentuk simbolik yang diarahkan.

Akbar menanggapi bahwa interaksi dengan “alam sebelah” memang mensyaratkan sensitivitas. Ada orang yang terbentuk secara natural, ada pula yang dilatih melalui semedi, puasa mutih, dan pantangan. Visualisasi menjadi tahap awal sebelum energi diarahkan ke bentuk tertentu.

VII. Keturunan, Transfer Energi, dan Ikatan Guru–Murid

Pembahasan kemudian bergeser pada aspek keturunan dan pewarisan energi. Nurizky menyebut adanya pantangan keluarga seperti larangan naik Gunung Lawu, serta narasi bahwa dari sekian cucu, “turun” kekuatan tertentu kepadanya. Ia mempertanyakan mengapa dirinya yang menerima, dan mengakui dampaknya pada ketidakstabilan mental.

Ia juga menyebut penggunaan benda simbolik sebagai pelindung, misalnya gundam yang diletakkan untuk “menjaga” ruangan. Dalam tradisi lain, ia menyebut simbol-simbol tertentu dalam cabang ilmu injilogi (misalnya simbol Mikael) yang digunakan untuk perlindungan atau menangkal ilmu hitam. Di sini, simbol menjadi medium koneksi.

Akbar memperluas bahwa pewarisan tidak selalu berbasis darah. Dalam praktik tenaga dalam di Indonesia, ada periode tertentu ketika murid mewarisi energi dari guru—semacam distabilisasi energi agar dapat digunakan. Pola ini, menurutnya, juga ditemukan dalam tradisi Tiongkok kuno: transfer pola energi dari guru ke murid.

Dengan demikian, garis transmisi bisa melalui keluarga atau melalui relasi pedagogis. Energi membangun jejaring sosial: ada keterikatan sesama pengguna, membentuk komunitas tak kasat mata.

VIII. Imajinasi, Keyakinan, dan Tubuh sebagai Medium

Sulkhan merefleksikan pengalaman yang berhubungan erat dengan imajinasi dan keyakinan. Dalam perguruan, keyakinan dianggap krusial. Ia memberi contoh memecahkan bata dengan kepala, atau menahan pukulan tanpa rasa sakit.

Kanuragan dipahami sebagai menarik tenaga alam melalui pernafasan, lalu menjadikan tubuh sebagai medium entitas tertentu. Dalam beberapa praktik, visualisasi mengambil bentuk hewan—mode kera atau gorila—meski ia menekankan bahwa ini dipahami sebagai energi alam, bukan jin. Namun antarperguruan berbeda-beda pendekatannya.

Visualisasi juga digunakan dalam penyembuhan: membayangkan penyakit diangkat keluar dari tubuh. Bahkan dalam konteks menarik lawan jenis, imajinasi diarahkan agar target jatuh cinta. Meski begitu, ia mengakui tidak semua orang berhasil memanifestasikan bentuk tertentu—misalnya ia tidak pernah berhasil masuk “mode monyet” seperti teman-temannya.

Akbar menegaskan bahwa meyakini sesuatu adalah proses universal. Energi dianggap mengelilingi tubuh; tahap awal adalah melatih sensitivitas dan visualisasi, lalu mengontrol arah dan bentuknya. Ia melihat Nurizky dan Sulkhan berada pada level sensitivitas tertentu. Pada bagian ini, diskusi memperlihatkan bahwa kanuragan bukan sekadar mantra, melainkan latihan persepsi dan sugesti yang terinternalisasi pada tubuh.

Sulkhan dan Akbar kemudian berbagi pengalaman yang mereka sebut sebagai “games” perguruan. Sulkhan mengisahkan telur ayam Jawa yang tidak bisa dipecahkan meski dicengkeram sekuat tenaga setelah diberi “kanuragan.”

Akbar menyebut permainan memindahkan keseleo ke tubuh orang sehat atau menjatuhkan kelapa dari pohon sebagai bagian dari latihan. Demonstrasi semacam ini berfungsi sebagai pembuktian kolektif dan penguat keyakinan anggota.

IX. Maskulinitas, Kuasa, dan Dimensi Gender

Isma mengangkat dimensi gender dalam kanuragan dan persilatan. Ia melihat praktik ini maskulin dan patriarkis: berkaitan dengan kejantanan, kekuasaan lokal, otoritas informal, figur jawara, hingga penaklukan perempuan.

Sebagai pembanding, ia menyebut figur kuyang dalam folklor Kalimantan—makhluk yang diasosiasikan dengan kecantikan dan keawetmudaan, namun mengambil korban ibu hamil yang mengandung seorang anak untuk dijadikan tumbal.

Nurizky membuka dengan kisah tentang perkuyangan sebagai turunan. Ia menyebut ada orang yang tidak sadar bahwa dirinya keturunan kuyang, lalu menolak ilmu tersebut. Penolakan itu justru menciptakan ketegangan antara “ilmu” dan tubuhnya sendiri. Ada gambaran garis di leher, simbol bahwa ilmu tersebut tidak benar-benar lepas.

Akbar menanggapi dengan menarik paralel pada figur seperti Elizabeth Báthory yang dalam legenda dikaitkan dengan obsesi kecantikan dan keabadian. Ia melihat bahwa jika kanuragan maskulin cenderung mengejar power dan dominasi, maka praktik yang diasosiasikan dengan feminin sering berkisar pada kecantikan dan keawetmudaan.

Refleksi pun muncul: dari tujuan yang dikejar suatu praktik spiritual, kita bisa membaca nilai apa yang dianggap penting oleh gender dan masyarakat tertentu.

Diskusi kembali ke soal gender. Akbar mengakui jejak patriarki di perguruan kanuragan masih kuat. Di tempatnya tidak ada perempuan. Di sisi lain, Sulkhan menyebut di perguruannya ada perempuan, tetapi sangat minim dan perempuan yang mengikuti cenderung berkarakter maskulin. Latihannya semi-militer: push-up dengan kepalan tangan, fisik keras, disiplin tinggi. Latihan ini memberi rasa percaya diri sebagai laki-laki, seperti disiplin bertarung, disegani, tidak dibully

Menariknya, Sulkhan berefleksi, praktisi kanuragan tidak benar-benar merasa sedang “meninggalkan dunia.” Justru merasa sedang meraih dunia: meraih posisi, pengakuan, dan identitas. Akbar lalu menanggapi, mungkin yang dikejar bukan hanya kekuatan, tetapi identitas dan teman: baik secara spiritual maupun sosial.

X. Power, Pantangan, dan Paradoks Keduniawian

Akbar menarik kesimpulan awal: pencarian kanuragan selalu berkaitan dengan power. Namun untuk mengejar power itu, diperlukan pantangan, pengorbanan, dan disiplin yang justru menuntut menjauh dari keduniawian. Di sini muncul paradoks: Puasa dan laku prihatin untuk tidak terikat dunia, tetapi ilmu dipakai untuk menarik lawan jenis, menaikkan status, atau mengejar otoritas

Sulkhan menambahkan bahwa mantra seperti sedulur papat limo pancer berfungsi sebagai “password” untuk mengakses energi alam. Ia bahkan membandingkannya dengan segel tangan dalam Naruto—kode tertentu untuk mengeluarkan kekuatan pada level tertentu.

Namun di Jawa Timur, praktik pencak silat seperti PSHT, Pagar Nusa, dan Merpati Putih bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga membentuk fraksi sosial. Silat menjadi identitas, mitologi diri, sekaligus alat proteksi dari bullying. Ada rasa aman karena orang lain berpikir dua kali untuk berhadapan. Belajar kanuragan yang dulu dibingkai sebagai perlawanan kolonial, dalam konteks kontemporer bisa berubah menjadi produksi identitas gagah, mencari musuh agar kepahlawanan tetap relevan.

XI. Skeptisisme, Ilmu yang Asli, dan Batas Manusia

Sulkhan mulai mempertanyakan konsistensi praktik etis dalam kanuragan. Ada doktrin bahwa anggota level tertentu tidak boleh banyak dosa, tidak maksiat, tidak minum. Namun ia melihat banyak yang melanggar tetapi tetap mengklaim sakti.

Ia menyaksikan praktik yang terasa performatif. Narasi spiritual yang ternyata juga bisa ditemukan di Google. Ini memunculkan keraguan: Apakah kekuatan itu nyata atau sekadar performa sosial?

Isma menegaskan kecenderungan semakin tinggi ilmunya, semakin tidak performatif. Akbar mengonfirmasi, praktisi yang punya kekuatan dalam tidak arogan. Ia merefleksikan perjalanannya sendiri—awal yang patriarkis dan penuh ambisi, tetapi seiring mastery, motivasi berubah menjadi pengendalian diri dan perbaikan diri. Pada tahap lebih tinggi, orientasi bisa bergeser menuju realitas yang lebih tinggi, yaitu menuju Tuhan, dengan bahasa masing-masing tradisi. Namun, tetap ada risiko jatuh ke duniawi.

Nurizky mengakui pernah merasa punya kekuatan lebih, pernah meremehkan orang lain karena merasa lebih “tebal.” Tetapi pengalaman membantu orang justru memperlihatkan keterbatasan. Energi cepat habis. Membantu beberapa orang saja sudah menguras fisik; tarot pun hanya bisa mendalam pada dua-tiga orang sebelum tubuh terdampak.

Dia juga memiliki pengalaman sensitivitas terhadap kematian: feeling kuat sebelum kakak angkatnya meninggal, kakak angkatnya selama tujuh hari berturut-turut meminta ditemani. Lalu juga ada insiden menyenggol guci yang terasa sebagai tanda. Sensitivitas terkadang menurutnya bukan selalu anugerah; tapi membawa kekhawatiran dan beban.

Akbar kembali pada paradoks: semakin tinggi ilmu, justru semakin biasa hidupnya. Guru-guru tenaga dalam hidup normal, tidak performatif. Bahkan ada anggapan semakin tinggi ilmu, semakin jauh dari kekayaan sebagaimana yang pernah dikatakan gurunya Sulkhan. Dukun sakti bisa membuat klien kaya, tetapi dirinya sendiri miskin. Realitas ini memunculkan ironi: menguasai sesuatu yang melampaui manusia, tetapi hidup tetap biasa, bahkan sederhana.

Pertanyaan reflektif dari Akbar juga muncul: Mengapa orang memilih jalan pantangan dan laku berat untuk menyelesaikan masalah? Mengapa tidak langsung menggunakan kekerasan fisik jika tujuan akhirnya sama? Apa motif terdalamnya? Apakah kontrol, identitas, pengakuan, atau transendensi?

Sulkhan mengakui bahwa masa remaja dengan hormon tinggi mendorong pencarian kekuatan yang melampaui diri. Kini ia melihat kanuragan sebagai salah satu cara produksi kekuatan, seperti produksi pengetahuan dalam dunia akademik.

XII. Penutup dan Resonansi Diskusi

Dari seluruh diskusi, muncul beberapa simpul refleksi:

Pertama, kanuragan selalu berangkat dari tubuh, tetapi tidak pernah berhenti pada tubuh semata. Ia tidak bisa dipahami hanya sebagai praktik mistik yang bersifat individual, melainkan sebagai fenomena sosial yang menghubungkan tubuh dengan moralitas, kekuasaan, identitas, dan sejarah.

Energi atau kekuatan dalam kanuragan bersifat ambivalen: dapat diarahkan untuk pengendalian diri, tetapi juga untuk ambisi duniawi. Rajah, mantra, dan tato sakral memperlihatkan bahwa kekuatan selalu mensyaratkan disiplin moral. Dalam konteks sejarah, praktik seperti tenaga dalam dan war magic bahkan dapat menjadi bagian dari resistensi politik.

Kedua, sensitivitas dan kemampuan visualisasi menjadi fondasi dalam berinteraksi dengan dunia tak kasat mata. Pewarisan energi dapat terjadi melalui garis keturunan maupun relasi guru–murid. Di sini, imajinasi dan keyakinan memediasi tubuh sebagai medium kekuatan.

Ketiga, kanuragan dan ilmu supranatural menyingkap struktur gender dan relasi kuasa yang kuat. Ilmu menjadi instrumen power—baik dalam ranah sosial, gender, maupun politik. Dimensi maskulinitas dan kecantikan turut memperlihatkan bahwa praktik-praktik ini bekerja pada banyak lapisan sekaligus—psikologis, simbolik, politis, dan kultural.

Di dalamnya terdapat pantangan serta paradoks antara asketisme dan ambisi duniawi. Ketegangan antara performativitas dan kedalaman yang tersembunyi juga menunjukkan tingkat kematangan (mastery) dalam kanuragan. Pada akhirnya, perjalanan spiritual ini dapat bermuara pada pengendalian diri—atau justru membuat seseorang tetap terjebak dalam hasrat duniawi. 

Edisi Vol. IX Klenik Studies ini tidak menyimpulkan apakah ilmu itu benar atau tidak. Yang jelas, ia nyata sebagai pengalaman sosial, karena membentuk identitas, relasi kuasa, dan cara manusia memahami keterbatasannya sendiri.

Vol. IX juga tidak berhenti pada glorifikasi kekuatan, tetapi membuka pertanyaan yang lebih dalam: Apa yang sebenarnya dicari manusia ketika mengejar kesaktian? Kanuragan dan ilmu hitam sebagai praktik, tetapi juga sebagai cermin nilai, hasrat, dan struktur sosial yang lebih luas.

Di ujung diskusi, obrolan beralih ringan pada kemungkinan tema berikutnya: UFO, banaspati, atau fenomena lain. Pertemuan ditutup dengan rencana: malam Jumat Kliwon depan, yang jatuh pada Kamis, 2 April 2026, akan membahas Unidentified Flying Object (UFO).

Sabtu, 21 Februari 2026

Catatan Buku "Kokokan Mencari Arumbawangi" karya Cyntha Hariadi

Setelah membaca buku ini, aku kepikiran satu hal, "Jika seluruh doa petani ada pada tanah-tanah yang digarapnya, maka seluruh doa penulis ada di dalam kata-kata yang dia tulis."

Kamu percaya gak, seperti konsep jodoh dalam pasangan, buku itu juga jodoh-jodohan sama pembaca. Ada yang cocok, ada yang tidak cocok. Dan bagiku, aku berjodoh dengan buku Cyntha Hariadi yang berjudul "Kokokan Mencari Arumbawangi" ini. Aku menyelesaikannya dengan kekuatan super cepat, bahkan dengan tebal 337 hlm., bisa aku selesaikan selama dua hari saat aku main ke Lembang dan Subang! Membacanya seperti mengingatkan aku pada buku-buku yang aku jadikan jodoh lainnya, seperti serial petualangan Narnia karya C. S. Lewis. Energinya sama, anak-anak, dan ketahuan juga dari buku ini jika Cyntha menyukai buku-buku karangan JK Rowling, Hans Christian Andersen, dan sebangsanya. 

Ini buku keempat Cyntha Hariadi yang kubaca. Aku mengagumi caranya menulis dan bercerita, sekaligus sudut pandang penceritaan yang dia pilih. Anak-anak yang masih murni, belum dicemari soal konflik kepentingan orang-orang dewasa atas tanah, pendapatan, ekonomi, dlsb. Seperti di buku ini, rasanya begitu karib: sawah, capung, pohon kelapa, cakrawala, petualangan ke tempat-tempat liminal. Dan, yang paling menggugahku, bagaimana cara menghargai alam lebih baik. Bahkan sekalipun sendiri, saksi-saksi binatang dan tumbuhan melalui narasinya masih bisa tersampaikan.

Di Lembah Dewata Lembang
Secara sederhana, buku ini berkisah tentang seorang ibu yang hidup bersama dua anaknya, cowok dan cewek, bernama Kakaputu dan Arumbawangi. Adiknya, si Arum, ini tidak jelas orangtuanya. Ia dikirim oleh burung kokokan saat Nanama ingin anak perempuan, sehingga Kakaputu meningkatkan kepercayaan dirinya sebagai manusia ketika dia menjadi seorang kakak. Di sisi lain, Nanamama menghadapi perlawanan dari seluruh masyarakat di kampung karena tak mau menjual sawah sumber kehidupannya kepada pihak hotel. Pihak hotel ini awalnya dikelola oleh seorang pria kaya, sibuk, dan necis bernama Pak Rudi. Namun, istrinya meninggal, dan dia hidup bersama anak laki-laki satu-satunya bernama Jojo. Namun, karena sebuah kecelakaan, Jojo meninggal dan arwahnya bertransformasi menjadi pipit haji.

Nama Arum juga mengingatkanku pada diri sendiri. Dia sering dirisak oleh teman-teman bermainnya, terutama dengan Si Kembar, cucu Pak Wawatua, dan tiga anaknya yang meskipun dewasa tetap menyusahkan. Aku tak membayangkan jadi Nanamama. Dia meninggal bukan karena sakit, tapi karena seluruh kampung memusuhinya. Nanamama berpesan agar dikuburkan di tanah dekat rumah, dekat dengan tumbuhan pandan dan sereh, bukan dibakar lalu abunya dilarung berdasarkan adat di Bali. 

Aku suka di buku ini banyak ilustrasinya yang lucu-lucu, saat anak-anak ini sedang bermain di sawah, menerbangkan layangan, naik pohon kelapa, hingga permainan khas Bali yang entah sekarang masih dimainkan atau tidak. Imajinasiku begitu hidup di buku ini. Gambar dan visualnya sangat jelas, mirip film, yang sangat bisa aku nikmati. Anak-anaknya juga sangat bisa kubayangkan, dengan diriku sendiri menjadi Nanamama, haha. Aku sengaja mengajak diriku sendiri ke visual cerita agar konteksnya lebih bisa kurasakan. 

Dalam buku ini, Cyntha juga mengatakan, "Tanah yang tak digarap, tak akan punya nyawa. Seperti jiwa kita, kalau tidak pernah sakit, tak akan jadi kuat." Kata Nanamama pada Arumbawangi, saat Arum lagi down-down-nya. Kalimat ini juga yang berasa di aku saat aku lagi jatuh terkilir kaki ketika menginap di sebuah vila di Lembang. Membaca kalimat ini membuatku kuat lagi.

Judul: Kokokan Mencari Arumbawangi | Penulis: Cyntha Hariadi | Editor: Mirna Yulistianti | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta | Cetakan: Ketiga, Maret 2025 | Jumlah halaman: x + 337 hlm

Jumat, 20 Februari 2026

Catatan Buku "Tiga Dalam Kayu" karya Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie


Emosiku setelah membaca buku ini, jujur: aku ingin membuangnya dan tak ingin kubaca lagi. Alasannya, meskipun buku ini bagus secara isu, tema, dan pesan; tapi disampaikan dengan cara yang membuat bingung pembaca. Dari komentar yang kudapat di Goodreads juga, banyak yang merasa bodoh dan otaknya tak sampai ketika membaca buku ini. Pembaca mengalami fenomena reading slump, di mana kamu kehilangan minat untuk membacanya sampai akhir. Berisiko DNF, meskipun lagi-lagi, aku lulus, aku membacanya sampai akhir. 

Sebetulnya aku tak masalah dengan narasi gore-nya, hanya aku bermalasah dengan logika nulis yang membingungkan dan rentan membuat orang tersesat. Sepertinya ini salah satu buku Ziggy yang salah kuambil. Dua buku Ziggy sebelumnya yang kubaca, tentang kisah Emina dan negeri di bawah laut, kupikir itu enak-enak saja, tapi di buku ini tidak. Ya, mungkin aku membaca buku Ziggy dengan urutan yang salah. 

Buku ini terdiri dari 11 bab, di mana setiap babnya diberi judul Buku 1, 2, 3, dst, kemudian disusul 7 bab lain semacam enigma dari bahasa Rusia, alih-alih itu gaya-gayaan penulis edgy yang ingin tampil "berbeda". Salah seorang pengguna Goodreads juga sudah dengan baik menuliskan arti "Myla", "Pid Oblachkom", hingga "Patshok Spivat" itu, yang dari bunyinya saja sudah mirip dengan mantra sihirnya Harry Potter.

Namun, yang paling menggugahku dari buku ini adalah (setelah aku menghujatnya di paragraf awal), aku tersadar jika pengalaman perempuan memang sesedih, setragis, semenyakitkan, sesakit, dan serapuh itu. Orang selalu ingin membuangnya, menyampahkannya, karena sulit dipahami, dan dengan dalih demi kebaikan. Ziggy barangkali menangkap semangat yang sangat mentah (raw) ini terkait berbagai ketidakadilan yang dialami oleh perempuan, dengan tokoh-tokohnya yang kebanyakan dari sudut pandang penceritaan kriminal.

Hanya beberapa cerita saja yang menurutku berkesan dari 18 bab kumpulan cerpen, ya, aku lebih suka menyebutnya kumpulan cerpen daripada novel itu:

Pertama, Buku 1, tentang Petrus di masa Orba dulu. Bagaimana orang-orang ditembaki kemudian mayatnya dikarungi goni, dibuang ke tempat-tempat umum seperti pasar hingga di depan rumah. Yang menarik, yang bercerita adalah anak-anak. Bahkan, di sini Ziggy dengan berani memakai tokoh anak-anak sebagai pelaku pembunuhan teman-temannya sendiri. Di sini, aku melihat keberanian Ziggy untuk keluar dari pakem umum bahwa anak-anak itu polos, ternyata tidak. Dia juga tak memberikan gender yang jelas pada tokoh-tokohnya, bisa jadi dia perempuan, bisa jadi juga laki-laki.

Kedua, Buku 6, terkait keluarga yang nonton bioskop, tapi anak terakhir perempuannya tidak suka. Si ibu juga tak suka nonton bioskop, tapi karena ia istri yang baik, dia menemani suaminya yang suka nonton bioskop. Si ibu bercerita pada anak perempuannya, jika di situ ada perempuan gila yang dihamili oleh pria-pria belang yang sering nongkrong di bioskop, saat perempuan gila ini mengambil bunga soka. Aku tak tahu, sepertinya Ziggy suka bunga soka, karena nama bunga ini disebut berkali-kali.

Ketiga, Buku 4, cerita Nyonya Van Wijk dan suaminya yang sama-sama mati karena racun si Nyonya. Bagaimana dia menyukai kue pancong, juga menghadiahkan seluruh kekayaan pada seorang anak perempuan yang berpakaian beludru. 

Berikutnya barangkali sekilas terkait seorang kakek yang tidak ingin menyakiti ikan tapi punya istri yang jago masak ikan, kisah Maria asli dan Maria lain yang jadi korban kejahatan, seorang ibu yang hobi teaternya tak diwadahi tapi masih menerima-menerima saja, seorang adik yang aneh, Arkeolog Sushi, seorang bapak yang membumikan istri, anak, dan cucunya di satu peti sampai mayatnya busuk. Tapi aparat militer malah seakan-akan membebaskannya, dengan dalih "demi kebaikan". 

Dan jujur, aku tak mengerti dengan kisah perempuan hantu di perpustakaan yang dibuat khusus untuk menyimpan buku-buku orang mati itu. Ceritanya belibet dan tidak clear. Atau soal pembunuhan yang dilakukan perempuan dengan piano mahalnya itu juga cukup sulit dipahami alurnya. Aku yakin Ziggy cukup sadar ceritanya ini tak semua pembaca akan paham, tapi dia tetap memilihnya.

Tambahan, judul "Tiga Dalam Kayu" ini dari interpretasi suka-sukaku, diambil dari tiga generasi perempuan: nenek, ibu, anak, (ada juga yang cucu) terkait kehidupan mereka di sepanjang banyak bab. Atau kisah di bab-bab terakhir terkait, seorang laki-laki yang menguburkan istri, anak, sekaligus cucunya sendiri di dalam peti. Terakhir, kalau kamu mau baca buku-buku Ziggy, plis, jangan mulai dari buku ini. Sekian dan terima kasih.

Judul: Tiga Dalam Kayu | Penulis: Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie | Editor: Teguh Afandi | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta | Cetakan: Ketujuh, Februari 2025 | Tahun terbit: 2022 | Jumlah Halaman dan Dimensi: vi + 162 hlm, 13,5 x 20 cm

Kamis, 19 Februari 2026

Catatan Buku "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" karya Brian Khrisna

Ya, aku cukup fomo ketika memilih buku tiap aku datang ke Gramedia tanpa preferensi yang jelas pengen beli buku apa. Akhirnya, nasib mempertemukanku dengan buku penulis Bandung, Brian Khrisna ini. Judulnya cukup provokatif, "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati". Anyway, entah perasaanku saja atau bagaiamana, akhir-akhir ini aku sering membaca judul-judul buku yang temanya tentang suicide (bunuh diri), namun alih-alih mendukung tentunya, kebanyakan judul lebih kek ingin mencegah dengan cara yang cukup chill dan kekinian, termasuk buku ini. Buku serupa lain misalnya, "want to die but i want to eat tteokbokki" karya penulis Korea, Baek Se Hee Jakkanim. Meskipun yang terakhir ini cukup tragis aku baca sekilas di internet. Hidup emang segelap itu kadang ya, jadi buku-buku pun memilih demikian. 

Premisnya barangkali cukup sederhana, bahkan makanan kesukaanmu bisa menyelamatkan dirimu di fase terendah hidup, ketika kamu ingin mati saja. Persis seperti itu yang dialami si tokoh utama bernama Ale, anak kantoran SCBD yang dari gaji cukup mapan, tinggal di apartemen, tapi pengen mengakhiri hidup karena merasa dirinya useless dan korban bullying sana-sini. Tubuh Ale tinggi gempal, badannya bau, mukanya mirip preman kriminal, dan dia merasa tak ada yang mencintainya. Dia sudah berulang kali ke psikiater berharap sembuh, tapi gak mempan. Dia ingin memutuskan untuk mati dengan menenggak pil yang jumlahnya banyak, TAPI "makan mie ayam dulu".  

Buku ini terdiri dari 12 bab. Di tiap babnya, usaha Ale untuk bunuh diri akan digagalkan oleh Tuhan dengan berbagai jenis orang dan kejadian yang dialaminya. Mulai dari ternyata penjual mie ayamnya (Pak Jo) sudah koit dulu, ketemu sama pemimpin mafia pengedar sabu di penjara sekaligus bromocorah (Murad), ketemu ketua PSK dan pelacur yang hidup demi anak (Mami Lousse dan Juleha), ke rumah pegawai OB di pinggir rel kereta api (Ipul), ketemu seorang ibu yang mengecewakan anaknya sendiri karena sering dibanding-bandingkan (Bu Murni), ketemu bapak-bapak penjual layangan (Pak Uju), sampai ketemu seorang pria penjual kerupuk bangka yang buta (Jipren).

Di kantoran ber-AC, tokoh utama dipanggil Ale; di jalanan, tokoh utama dipanggil Blek. Anaknya monster di depan, tapi Hello Kitty di dalam. Aku cukup menikmati kisahnya, meskipun ini jenis novel yang "alim" banget, di tiap lembarnya ada petuah-petuah yang akan membawamu pada "kebijaksanaan hidup". Ya, walaupun setelah kubaca sampai akhir, kupikir ini bukan my cup of tea. Penulisnya seperti mendedikasikan diri untuk jadi juru selamat (yang itu memang dibutuhkan untuk sebagian besar orang, karena buku itu laris, tapi tidak saya). 

Aku cukup banyak mengalami dan merasakan apa yang dialami dan dirasakan oleh Blek. Tapi bagiku, alasan dia untuk bunuh diri tak sekuat dan sefundamental itu. Meskipun level mental orang beda-beda, tokoh Blek rasanya memang terlalu cengeng. Hal yang menarik dari buku ini menurutku malah bagaimana dia mengangkat kelas-kelas yang dianggap "sampah" oleh masyarakat yang diberikan suara: pelacur, OB, lansia, penyandang disabilitas, dlsb. Kupikir ini bukan hal mudah untuk diceritakan. 

Selain itu, ada plot hole, terutama dengan mudahnya Ale di akhir buku bisa lepas dari jerat setan orang macam Murad. Padahal Murad sudah memberikan tanda istimewa sekaligus nulis nama Blek di tembok perumahan dekat kampung sarang kriminal. Bagiku secara penulisan juga masih ada rasa hitam-putih dengan jelas. Ya, itu saja kesannya. 

KUTIPAN:

Lo gak usah takut salah. Di dunia ini, lo gak boleh kelihatan salah. Sesalah apa pun yang sudah lo lakuin, berntak mereka, tanyain memangnya kenapa kalau lo salah? Kalau lo salah, terus mereka mau apa? ... Hilangkan sikap pengecut lo itu. Perasaan orang lain bukan tanggung jawab lo. Berdiri tegap dan lawan seakan-akan itu adalah cara lo bisa tetap hidup dan gak mati." (72-73)

Rawa rontek, kanuragan, pancasona, brajamusti, dan khodam macan putih. 

Itu sih cuma alur cinta anak muda biasa aja Le. Semua orang jelek di dunia ini setidaknya pernah mengalami hal yang sama. Jadi santai saja. (101) 

Elo punya kesamaan dengan barbie-barbie gue. Elo dan mereka itu seringnya cari cinta di tempat yang salah. (102) 

Berkembangbaiklah dulu sebelum memutuskan berkembang biak. (103) 

Kalau gak bisa ngidupin diri sendiri, jangan matiin masa depan perempuan. (104) 

Coba deh sekali-kali ubah sudut pandang lo. Siapa tahu hidup bakal ngebawa lo ke arah yang lebih baik. (108) 

Ternyata selama ini banyak yang melihatku. Aku pikir aku sendirian. Tapi ternyata tidak. Aku saja yang tak mampu melihat mereka. (127) 

Hidup akan jadi lebih gampang kalau kita sudah bisa belajar untuk menerima kekecewaan dan melihatnya sebagai sebuah berkah yang asing. (128) 

Judul buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati | Penulis: Brian Khrisna | Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) Jakarta | Editor: Trian Lesmana | Cetakan: Ke-83, Desember 2025 | Jumlah Halaman dan Dimensi: 216 hlm, 13.5 x 20 cm |  

Rabu, 18 Februari 2026

Catatan Buku "Perayaan Hal-Hal Tak Penting" karya Bre Redana


Buku ini dihadiahi langsung oleh Mas Eka Pocer, saat diskusi pembahasan buku Pak Bre ini di eks Gedung Filatelli Jakarta. Saat itu pembahasnya ada KD (Krisdayanti) juga, termasuk moderator dari Kompas. Buku "Perayaan Hal-Hal Tak Penting" ini aku selesaikan sekali duduk. Setengah adalah cerita Pak Bre, setengah buku sisanya adalah komentar dari seorang seniman Bali bernama Pak Hartanto.

Buku ini terdiri dari 11 bab. Secara keseluruhan, aku menikmatinya. Yang paling menggugahku adalah soal betapa rapuhnya ingatan manusia. Bahkan ketika itu sudah dengan baik kita arsipkan secara tertulis. Namun, ketika dokumentasi itu kita lihat lagi, beberapa bahkan kita sudah tak ingat lagi terkait konteksnya. Menurutku ini mindblowing, karena aku pernah mengalami kejadian serupa ketika membuka jurnal-jurnal pribadiku katakanlah 10 tahun lalu.

Sebagaimana buku ini dipersembahkan untuk Milan Kundera yang pernah mengatakan jika, "Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa." (Kitab Lupa dan Gelak Tawa); barangkali, buku ini juga ditulis dengan tujuan melawan lupa. Sebagaimana saat diskusi, Pak Bre mengatakan jika kejadian luar biasa itu sangat jarang terjadi di hidup kita, karena itu dia memilih untuk menuliskan hal-hal yang biasa-biasa saja.

Namun, sebiasa-biasanya sebuah tulisan, jika itu ditulis oleh orang-orang yang memiliki skill, jatuhnya tetap berat, seberat komentar yang ditulis oleh Pak Hartanto juga. Aku menangkap di setiap tulisan Pak Bre selalu ada dorongan akan pemberian makna yang filosofis, dan tentu itu menjauhkan isi buku dengan judulnya. Kuharap kau tak terkecoh.

Secara alur, aku justru teringat dengan buku Ashadi Siregar yang fenomenal kala itu, "Cintaku di Kampus Biru", ketika aku mengikuti perjalanan tokoh utama di buku Pak Bre. Namanya Frans, dia punya moral dan etika yang sangat urban dan Jakarta akan aturan umum. Frans punya band rock Tumapel, namun karena memilih lebih oportunistik, dia menggeluti usaha sound system.

Frans punya teman-teman dekat seperti Sisca (yang kematiannya aneh, tenggelam dengan high heels cantik berwarna merah), Haris (Chindo businessman yang hobi koleksi barang seni dan selalu menepati kata-katanya), hingga tokoh-tokoh pendukung lain seperti Emma (keponakan Haris, mirip Sisca tapi versi sepatu keds bukan high heels), Vita (yang menikahi bule dan kata Frans, nama akhir Vita diambil dari nama burung), Kirana/Nani (yang Frans lupa konteks pertemuan dia dengannya, perempuan yang bosen hidup di Jakarta dan mencoba hidup stoik di sebuah desa di Magelang), Eva (ibu-ibu sosialita pemimpin bisnis EO), dlsb.

Di novel ini, aku mengenal istilah "oblivious", tapi alih-alih jelas, di sini yang kuartikan lebih ke "terlupakan". Inti masalah yang diangkat Pak Bre, "Persoalannya di sinilah rahasia memori. Dua orang yang sama, pernah mengalami peristiwa yang sama, belum tentu memori yang tertinggal pada keduanya serupa, persis sama." (hal. 21)

Di buku ini aku juga belajar terkait "ketidakberesan kognitif" manusia. konsep ini diambil dari buku "The Art of Thinking Clearly" karya Rolf Dobelli. Intinya, kita semua rentan mengalami ketidakberesan kognitif. Umumnya dimulai rai prasangka-prasangka yang diciptakan manusia sendiri, sehingga membuat realitasnya jadi ikut-ikutan bias dan error.

Buku ini menarik dan cukup ringan dibaca ketika kamu senggang.   

Judul: Perayaan Hal-Hal Tak Penting | Penulis: Bre Redana | Penanggap: Hartanto | Penerbit: Minak Jingga, Yogyakarta | Jumlah halaman dan dimensi: viii + 114; 11 x 17 cm | Cetakan: Pertama, Oktober 2025 

Senin, 09 Februari 2026

Memaknai Metafora Bebas Bernama "Zona Nyaman"

"Comfort’s etymology maps directly onto histories of colonialism, industrialization and consumer capitalism." (h. 4)

Zona nyaman bukan istilah yang netral. Awalnya, kata ini merujuk pada istilah mekanis yang berkaitan dengan suhu, atau suatu teknik yang berhubungan dengan ventilasi dan AC. Zona nyaman berhubungan dengan suhu, kelembaban, dan aliran udara yang bagaimana yang membuat tubuh betah, tapi juga produktif.

Pada tahun 1923, istilah ini diperkenalkan oleh American Society of Heating and Ventilating Engineers (ASHVE) untuk mendefinisikan kombinasi suhu, aliran udara, dan kelembapan di lingkungan ber-AC buatan yang menghasilkan sensasi hangat bagi manusia. 

Istilah ini kemudian maknanya jauh berkembang, dari yang awalnya mekanis, jadi terma luas yang dikenal di dunia arsitektur, psikologi, sampai ekonomi-politik. Ia juga berada di antara pertentangan antara pikiran dan tubuh, ekologi dan ekonomi. Semisal para psikolog-pop setuju dengan semangat neoliberal, bahwa zona nyaman menurunkan inovasi dan ekonomi, meskipun lama-lama di zona nyaman juga bisa mengancam pertumbuhan ekonomi.

Tahun 1960-an misanya, zona nyaman maknanya berkembang untuk perluasan spasial yang berhubungan dengan rumah tangga dan lingkungan kantor kerah putih. Lalu tahun 1970-an, zona nyaman diartikulasikan sebagai ruang psikososial di mana terapis, konsultan, dan bahkan pemimpin politik bisa melakukan intervensi. Kenyamanan itu mahal bagi mereka yang berpenghasilan rendah, akan lebih parah lagi pada mereka yang berusia lanjut dan minoritas. Zona nyaman ada di produksi industri dan reproduksi sosial.

Zona nyaman merupakan bagian dari ketidaksetaraan. Ini juga diciptakan untuk memitigasi ketidaknyamanan golongan kulit putih berkaitan dengan suhu, yang disandarkan pada teknologi. Cross dan Nading memperkuat ini dengan mengutip gagasan Marx, zona nyaman merupakan kondisi material yang dibutuhkan untuk proses reproduksi. Para inspektur pabrik, pendeta, pendidik, ekonomi, menggunakan kenyamanan untuk menggambarkan kondisi material tenaga kerja industri.

Sementara itu, Frederich Engels menghubungkan konsep kenyamanan dengan masalah alkoholisme. Ketika pekerja yang pulang dalam keadaan lelah, sementara mendapati rumahnya "tidak nyaman" (lembap, kotor, menjijikkan); akan memunculkan pikiran dan tubuh yang gelisah hingga hipokondria. Kenyamanan di sini menjadi cara bagaimana ekonomi politik, lingkungan, dan keadaan afektif saling membentuk satu sama lain.

Sejarawan arsitektur, Daniel Barber (2019) juga pernah memperkenalkan istilah "comfortocene" untuk menamai zaman geologi saat ini. Argumen inti darinya adalah, saat ini manusia mengejar "kenyamanan". Termasuk praktiknya dengan penggunaan alat-alat listrik seperti AC sebagai bagian dari ancaman eksistensial. Bayangkan, superblok dan kantor-kantor tinggi di Jakarta tanpa AC, apakah bisa disebut nyaman?

Paper ini juga mengeksplorasi terkait bagaimana zona nyaman dipetakan dalam ekonomi global kontemporer, lewat kerangka ekologi dunia dari Jason Moore (2015). Zona nyaman membentuk infrastruktur material-semiotik, yang mengarahkan seseorang pada aliran kekuasaan, modal, dan energi melalui jaringan akumulasi modal. Kita bisa melihat praktiknya lewat berbagai macam ruang, dari perumahan, pekerjaan, migrasi, makanan, hingga data.

Ada lima karakteristik zona nyaman:
1. Bukan hanya terkait suhu, tapi juga rasa aman hidup.
2. Selalu menciptakan kondisi "di dalam" dan "di luar".
3. Dibangun oleh benda, orang, dan sistem.
4. Melibatkan non-manusia: tanaman, hewan, mesin, dll.
5. Punya konsekuensi sosial dan politik.

Kebalikan dari comfort zone adalah discomfort zone, atau kadang juga disebut sacrifice zone (zona penderitaan). Cross dan Nading mengkritik gagasan, "kita perlu lebih banyak rasa tidak nyaman supaya dunia jadi lebih baik." Padahal, gagasan seperti ini lahir dari orang-orang yang sebenarnya sudah sangat nyaman dan punya privilese. Rasa tidak nyaman bukan hal alami, tapi bisa diatur, dikelola, bahkan difasilitasi lewat teknologi, desain, material, dan kondisi sosial tertentu.

Penulis:

Jamie Cross, Profesor Sosial Antropologi di Universitas Glasgow. Direktur inisiatif Glasgow Changing Futures. Ia suka menelusuri bagaimana repsons manusia dan non-manusia terhadap perubahan iklim yang saling terhubung. Menulis buku berjudul "Planet Mold",  yang lahir dari risetnya selama tiga tahun berkaitan dengan panas (heat) dalam kajian sosial, serta dampaknya bagi negara-negara di Global Utara dan Global Selatan.

Alex Nading, Profesor Sosial Antropologi di Universitas Cornell. Seorang antropolog medis dan lingkungan yang fokus pada Nikaragua. Menulis buku "Mosquito Trails: Ecology, Health, and the Politics of Entanglement" (2014), dan "The Kidney and the Cane: Planetary Health and Plantation Labor in Nicaragua" (2025).

***

Sastrawan India, Prayaag Akbar, dalam fiksi iklim distopia berjudul "Leila" bercerita sebuah kota di India yang dilanda panas ekstrem. Kemudian, terdapat perusahaan multinasional yang membangun suatu "zona nyaman" di distrik kota yang disebut "Skydomes". Ruang-ruang yang diperuntukkan bagi orang kaya yang suhunya bisa diatur, lalu membuang polusi dan limbahnya ke rumah-rumah warga yang berpenghasilan rendah. Pembangunan ini memperburuk ketidaksetaraan dan memicu konflik kelas, kasta, dan komunal warga.

Cross, J., & Nading, A. (2026). Comfort zones: Thermal environments for life and capital in a warming world. Economy and Society, 1-24.

Link: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/03085147.2025.2603819

#jamiecross #alexnading #comfortzones

Minggu, 01 Februari 2026

Ebiet G. Ade

Kota Langsa, Aceh, 1 Februari 2026

1. Elegi Esok Pagi

2. Ibu (feat Iwan Fals)

3. Untuk Kita Renungkan

4. Aku Ingin Pulang

5. Bila Kita Ikhlas

 

6. Menjaring Matahari

7. Titip Rindu Buat Ayah

8. Berita Kepada Kawan 


 9. Masih Ada Waktu

 

10. Nyanyian Rindu

11. Kupu-Kupu Kertas


12. Cinta Sebening Embun
 
 
13. Camelia II