Masyarakat Indonesia yang tinggal di urban Jawa mengenal gardu sebagai tempat berkumpul bersama, khususnya tempat cangkruk bapak-bapak. Kegiatannya termasuk mengamati lingkungan hingga untuk kesenangan saja seperti main kartu atau bergosip. Di desa, gardu ini terbuat dari kayu, bambu, dan beratapkan jerami. Tipe pengamanannya pun lebih bersifat pasif kebanyakan, tidak aktif secara berkeliling. Para penjaganya bahkan diperlengkapi dengan instrumen seperti bambu panjang hingga kentongan yang biasa dipakai untuk ronda.
Di kota, bangunan gardu dibuat dengan konstruksi lebih permanen. Bentuknya berupa rumah kecil yang terbuat dari batu-bata, bahkan ada kursi di sampingnya. Berbeda lagi dengan gardu kompleks yang dibuat dengan lebih fashionable dan bergaya seperti bangunan baroque.
Indonesia mengenal gardu sebagai artefak yang menunjukkan keamanan dan ketertiban, yang menghubungkan kekuasaan negara dengan kekuasaan lokal. Seperti pada kerusuhan 1998, gardu digunakan oleh PDIP untuk memobilisasi massa dan mengingatkan kembali kenangan terkait Soekarno.
Di dalam artiken ini, abidin ini menunjukkan gardu sebagai suatu ingatan, monumen, dan perjuangan simbolis yang saling berhubungan dan melampaui identitas/tempat.
Ben Anderson juga pernah menyampaikan, dalam memahami kecenderungan dan konteks dari sebuah budaya, penting untuk menganalisis bentuk dan konten dari monumen tersebut, bahkan ketika kita tak bisa secara menyeluruh menghitung peran monumen tersebut dalam pembentukan dan transformasi identitas kolektif.
Dalam konteks esai ini, penting mengenali bahwa gardu adalah bentuk dari pernyataan simbolis yang menunjukkan fungsi-fungsi tertentu. Artikel meneliti fungsi politik dan perubahan arti dari gardu secara genealogis.
Gardu ini melintasi zaman. Gardu membentuk memori kolektif dan sarana yang bisa membantu menghafal (mnemonic) kondisi suatu zaman.
Sebagai sebuah memori, gardu menjadi posko bagi Megawati dan platform Soekarnoisasi. Mega mendirikan posko (pos komunikasi/pos komando) di berbagai tempat, semisal di Solo sendiri ada 262 posko PDI-P dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan. Pendirian ini juga akibat dari kerusuhan tahun 1998. Dari posko itu, PDI-P mendonasikan uang dan mendistribusikan paket bagi orang miskin, sekaligus juga sebagai alat kampanye. Petinggi PDI-P menyampaikan, posko dapat menjadi alat mobilisasi masssa di sembarang waktu, ini juga sebagai simbol kekuatan.
Posko juga jadi pusat pendidikan bagi partai, sebagai pengkondisian anggota untuk mengatakan, "Kami ada untuk melindungi dan melayanimu, dan ini adalah bukti kebaikan hati pemimpin kita!" Posko juga menjadi simbol, ini adalah wilayah kekuasaan banteng.
Hal berikutnya yang dijelaskan oleh Abidin terkait pendopo. Pendopo ini merupakan ruang antara yang memediasi lingkaran dalam dan luar, pemilik dan bukan, dan simbol otoritas tradisional. Bentuk atapnya yang menyerupai payung atau adanya pohon banyan/ringin membuat rasa mengayomi muncul. Pendopo adalah jalan masuk memasuki dinding-dinding lain yang lebih dalam.
Cara serupa gardu ini di masa Orde Baru disebut pula sebagai pos hansip. Di tingkat kota, sarana ini dibantu oleh billboard. Juga dibentuk RT yang terdiri dari 40 KK atau RW yang terdiri dari 15-20 RT.
Gardu dan pendopo juga menjadi penanda wilayah di sepanjang Jalan Raya Pos Deandels. Di mana setiap 9 km, pendopo dibuat dari Barat ke Timur sebagai tempat konsesi, juga sebagai tempat beristirahat para musafir. Meskipun ada pula kisah-kisah penjagalan, perampasan, perampokan di sepanjang Jalan Pos.
Novel romantis berjudul "Hikayat Siti Mariah" yang ditulis tahun 1910-12 terkait kehidupan orang desa, sang penulis Haji Mukti memulai ceritanya dengan penjaga kampung yang berteriak dari sebuah gardu. Gardu juga digunakan oleh Syarikat Islam (SI) pada zaman itu sebagai tempat jaminan yang aman bagi pekerja di Surabaya. Begitu juga di kebudayaan para Chinese, misal Liem Thian Joe (dalam "Riwajat Semarang") yang menjelaskan penjagaan gardu di Semarang. Penjaga ini disebut sebagai Kapiten, yang melakukan patroli siang dan malam. Praktik ronda di Semarang, saat setelah gegeran dilakukan sekitar tahun 1840.
Jurnalis Kwee Thiam Tjing yang menulis buku "Indinesia dalem Api dan Bara" menggunakan istilah "wacht" alih-alih gardu untuk menunjukkan praktik penjagaan. Thiam menunjukkan, bagaimana kuasa rumah penjagaan didefinisikan tidak hanya dari penampilannya, tetapi yang tak kalah penting bagaimana pendefinisian tentang identitas dan relasi sosial dilekatkan. Misal orang desa bisa diketahui dari baju yang dikenakan dan polah tingkahnya. Buku Thiam tersebut ditulis dari pengalamannya ketika menjagi relawan penjaga kota. Ditulis dengan narasi yang penuh perasaan bersalah, horor, dan kekecewaan.
Di zaman Jepang, ada pasukan keibodan yang berada di rumah jaga (gardu dalam konteks lain) untuk mengamankan wilayah. Ini seperti dijelaskan dalam koran Sinar Baroe, peran gardu menjadi simbol ideologi Jepang di Asia, di mana berbagai etnis dan kelas bekerja sama untuk menjaga. Kisah tentara Jepang juga diceritakan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam buku "Di Tepi Kali Bekasi", tokohnya masuk dalam barisan jibaku, kamikaze.
Begitu juga yang dijelaskan oleh intelektual Sunda, Edi S. Ekadjati. DIa mengingatkan bagaimana desa di Karangtawang, Jakarta Barat saat perang dengan Darul Islam. Masyarakatnya melakukan ronda dan mendirikan gardu dengan menggunakan khokol (kentongan). Ditambah dengan tahayul lokal seperti jin dan macan untuk menjaga rakyat.
Link: https://www.jstor.org/stable/40376384
#abidinkusno #gardu #java #jurnalindonesia #cornell
Rabu, 01 November 2023
Abidin Kusno - Guardian of Memories: Gardu in Urban Java
Selasa, 31 Oktober 2023
Abidin Kusno - Back to the City: A Note on Urban Architecture in the New Indonesia
Poin-poin:
Tulisan ini dimulai dengan kutipan yang menarik dari Edward Said dalam karya Beginnings: Intention and Method: “Beginning is not only a kind of action; it is also a frame of mind, a kind of work, an attitude, a consciousness… beginning is making or producing difference.”
Arsitektur Indonesia berhubungan erat dengan "mood" suatu era. Gagasan terkait arsitektur ini jauh dari kata otonom, melainkan berjalan berdasarkan formasi sosial.
Abidin mempertanyakan, jenis arsitektur yang bagaimana yang dibuat untuk membantu bergantinya suatu masa? Kondisi arsitektur baru yang bagaimana bentuknya? Apa dampak dari pergantian teoritis, budaya, dan politik tersebut?
Abidin memulai studinya ini dengan melihat arsitektur setelah kerusuhan 1998. Meski tak diketahui bagaimana dunia arsitektur berubah karena peristiwa itu, tapi arsitek menjadi sensitif dengan budaya lokal yang ada sehingga bisa diterima oleh masyarakat/lingkungan. Pagar diminimalisir bahkan dibongkar, karena mereka sadar perencanaan kota yang baik akan gagal tanpa dikelilingi oleh komunitas sosial. Arsitektur yang memungkinkan seseorang berdialog dengan tetangga, sebagaimana dilihat di kampung, dan juga untuk mengurangi tekanan sosial.
Kemunculan "Kota Wisata" di Jakarta tahun 2002, berupa bangunan eksklusif dan mewah berusaha meminimalisir ketegangan dengan menghadirkan "taman". Ruang ini sebagai tempat bertemu kelas-kelas sosial yang berbeda, atau menjadi zona penyangga.
Apalagi Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) bersepakat, bahwa penghargaan terhadap arsitektur tertinggi itu diberikan pada arsitektur yang meningkatkan peradaban kemanusian, bertanggungjawab terhadap lingkungan sosial, peka terhadap konteks sosial di mana bangunan itu didirikan, tidak artifisial, tidak bersandar pada material bangunan yang mewah, inovatif, kreatif, sederhana tetapi genius, mendidik, dan visioner.
Pada masa itu 1998-2000an, tak ada satu pun proyek bangunan pemerintah yang dianggap layak oleh IAI untuk menerima penghargaan seiring dengna pergantian kekuasaan Orde Baru. Meski Soekarno pernah mendapat penghargaan karena konsennya terhadap diskursus arsitektur di Indonesia.
IAI tahun 1999 percaya, arsitektur Indonesia di milenium selanjutnya adalah arsitektur yang melayani rakyat. Seutopia apa pun agendanya nanti, hal ini bukanlah sesuatu yang naif.
Abidin melihat dua tipe arsitektur urban yang berhubungan dengan imajinasi kelas menengah atas: rumah privat dan bangunan komersial publik.
Menggunakan analisis semiotika, dirinya membongkar pengertian sosial dari arsitektur yang teah didesain di masyarakat, bagaimana gaya arsitektur dan tata letak ruang mengembangkan dan mendefinisikan ulang relasi kuasa.
Dirinya meniti dari praktik-praktik arsitektur marjinal ke desain-desain dominan yang ada di pusat Jakarta (superblock). Dia berpendapat, konsep negara dan kampung untuk memproduksi representasi arsitektur urban tidak hanya terkait desain budaya, tetapi juga ekonomi-politik yang dampaknya sangat problematik terhadap alam.
Terkait arsitektur kampung semisal, Adi "Mamo" Purnomo dikenal sebagai aristek yang ramah alam dan mengganggap plot kecil dari tanah di kota metropolitan sebagai tantangan untnuk menciptaan ruang-ruang yang baru. Mencari titik rekonsiliasi dari kota yang secara dalam dibagi antara si miskin dan si kaya. Udara, cahaya, corak, tanaman mengizinkan komponen dari alam untuk masuk ke ruang interior bangunan. Halaman fungsinya melebihi pajangan saja, tetapi juga interaksinya dengan alam dan menjadi komponen sentral dalam proses desain.
Arsitektur Mamo seringkali tidak mempunyai fasad yang cenderung untuk disombongkan, tapi sebagi titik keberangkatan yang didominasi oleh budaya setempat, dalam konteks ini Jakarta. Ini juga dalam rangka meng-counter "label besar" arsitektur yang sering dikarakterisasi secara mahal dengan banyaknya penggunaan volume AC. Mamo berusaha untuk merombak tren dominan tersebut dengan penggunaan material lokal, dan berkarakterkan kota di Indonesia.
Ini ditunjukkan pula dengan pembangunan rumah di Tanjung Duren, yang eksteriornya dipagari oleh bambu, dan berhubungan dengan tipologi kampung urban. Mamo menolak gagasan elitisme arsitektur, urban biasa menjadi inspirasi dari arsitektur baru. Ada pula Rumah Ragunan (2001) milik kelas keluarga menengah atas yang berlokasi dekat dengan kampung kota dan real estate dibangun dengan teknik serupa.
Mamo di sini mengeksplorasi kemungkinan perbedaan kelas kehidupan secara bersama di ruang urban. Di mana yang lemah dan yang kuat dapat berbagai ruang yang sama. Konsep "magersari" menjadi kata untuk menunjukkan bagaimana ruang bagi yang lemah ini diberi tempat untuk tumbuh.
Mamo juga bilang seharusnya orang miskin yang tak memiliki rumah diizinkan untuk menempati ruang di bawah flyover, dekat rel kereta api, dekat sungai, dll, dengan perumahan blok bagi orang miskin. Seperti diekspresikan dalam desain Kampung Tanggul Indah (2002), sebuah multiblok beraneka ukuran di tepi sungai. Pembangunannya dengan mempertimbangkan memori kognitif bersama, karena arsitektur berperan merawat hubungan antara memori kolektif dan lingkungan. Ini dipraktikkan pula oleh Romo Mangunwijaya di Yogyakarta.
Di Kampung Tunggal Indah, ruang komunal untuk masak dan mencuci juga disediakan. Bagaimana antar tetangga bisa berbagai tanggung jawab untuk merawat fasilitas dan ruang terbuka hijau.
Superblok dan branding bangsa menjadi fenomena lain yang menjadi komponen dalam pembentukan arsitektur baru. Fakta ini didukung dengan pembangunan megaproyek di pusat kota, di mana tempat itu mengandung tempat-tempat bersejarah bagi bangsa. Jantung kota menjadi arena konsolidasi kekuasaan, indentitas, dan pertukaran nilai, yang ini tentu berpengaruh pada diskursus arsitektur urban.
Superblok diartikan sebagai ruang yang megnandung berbagai fungsi untuk layanan komersil publik. Superblok bukan hanya menunjukkan pencapaian dan perkembangan negara, tetapi juga sebagai struktur untuk mereproduksi bentuk masyarakat yang berdasarkan kelas.
Desain yang baik tidak menjamin produksi masyarakat yang baik. Malahan dengan berbagai disiplin ukuran diperlukan keamanan seperti satpam. Beberapa contoh superblok itu seperti Senayan Ciy, The Archipelago, proyek Rasuna Episentrum, dan Grand Indonesia di kawasan Bundaran HI.
Senayan City (SC) menjadi superblok pertama di Indonesia. Dibuka tahun 2006, SC terdiri dari berbagai tempat belanja berkelas tinggi. Terdiri dari mal 5 lantai, 21 kantor, 23 apartemen, hotel bintang lima dengan 255 ruangan. Mal ini didirikan di sekitar area bersejarah, Senayan, yang didirikan tahun 1962 saat pelaksanaan Asian Games di zaman Soekarno. Pembangunannya dimiliki oleh developer grup Agung Podomoro, dengan jumlah investasi sebesar 1,3 triliun rupiah. Apalagi dikembangkannya fasilitas olahraga menjadi lebih modern. SC juga dianggap sebagai maestro pascakrisis yang membantu pertumbuhan ekonomi saat krisis.
Begitu juga dengan The Archipelago, bangunan yang diarsiteki oleh Ridwan Kamil (lulusan UC Berkeley) mengkarakterisasi proyek bangunan yang berdampak besar. Meski ruang publik yang didesain oleh RK dimiliki secara swasta. Menciptakan zona ekonomi khusus, distrik bisnis, serta menciptakan efek domino. Di mana salah satu capaian dari suatu bangunan adalah bangunan tersebut mendapat pengakuan internasional.
Serta superblok lain yaitu kompleks bangunan Grand Indonesia (GI), yang diarsiteki oleh firma yang berasal dari Los Angeles. Superblok yang mengusung misi klasik, modern, dan futuristik. Proyek ini telah mengubah wajah Jakarta dan meningkatkan nilai dari BUndaran HI, di sana ada bangunan-bangunan seperti Wisma Nusantara, Hotel Nikko (yang berganti menjadi Hotel Pulman, dengan arsitek Kenzo Tange Associates). Juga kawasan mall mewah, hotel bintang 6, pusat perkantoran elite, dlsb.
Quote:
“a good house is a house that unites with its surroundings.”
"What is also clear is that money and building are indeed coming “back to the city” with a vengeance."
"A “good design,” the architect urgently suggests, will not guarantee the production of a good citizen."
“visitors who have no such purchasing power, however, could hang around and do window shopping (activities of which) may still offer some satisfaction while they hope some day they will buy the items that now they can only dream of.” (wkwk, bullshit words)
" In a way, we can say that the superblock, via a powerful image of a new kind of urban form in the city, addresses such contested space of the metropolis by providing a microcosm for those who seek to escape from it."
Link: https://read.dukeupress.edu/books/book/1425/chapter-abstract/168952/Back-to-the-City-Urban-Architecture-in-the-New?redirectedFrom=fulltext
#abidinkusno #urbancity #mamo #architecture #senayancity #grandindonsia #superblock
Minggu, 29 Oktober 2023
29 Oktober 2023
Diingatkan sama kata-kata Mas Opik Arena, "Jurnalis itu dasarnya journey. Jurnalisme yg tidak berangkat dari journey ibarat ngebir zero alkohol, nyambel tanpa cabe."
Wakatobi, 29/10/2023
Pelajaran dari Wakatobi
I.
The basic of the evolution of life: survival of the fittest. It did on Wallace's paper, "On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type".
Alfred Russel Wallace OM FRS adalah naturalis sekaligus penjelajah, geografer, antropolog, biolog, dan ilustrator berkebangsaan Inggris yang mencetuskan teori evolusi lewat seleksi alam. Makalah yang ia tulis mengenai pokok bahasan tersebut terbit berbarengan dengan sejumlah karya tulis Charles Darwin pada tahun 1858.
Toma tala na nena tosidagi ri futu se wange toma sanang madaha, di rumah ini kuhabiskan siang dan malamku nan bahagia
II.
Dari buku Pak Hugua: Miskin dan Kaya Adalah Pilihan
Hidup hanya selalu berada pada bayang-bayang kekayaan orang lain.
Lalu benci dengan orang kaya, bersikap kritis terhadap kemapanan, dan bersahabat dengan para pecundang sambil saling membagi kesamaan pandangan dengan mereka.
Pikiran, perasaan, tindakan, hasil
Pikiran adalah respon pertama dari otak Anda terhadap sebuah input atau informasi, baik yang berasal dari sumber maupun banyak sumber informasi.
Perasaan adalah respon kedua setelah menyatunya otak dan hati anda. Fase ini punya dua respon, positive jika otak dan hati searah. Dan negatif jika otak dan hati bertolak belakang. Respon positif akan menuntun ke arah tindakan positif.
Inti kekayaan adalah kekuatan pikiran dan perasaan untuk membuat orang lain dan alam semesta menjadi kaya raya.
Orang menjadi berpikiran buruk karena mengambil sumber dari pikiran yang berguru kepada diri sendiri.
Orang kaya berkomitmen untuk hidup kaya, sedangkan orang miskin berkeinginan untuk kaya.
Pendapatan melebihi kebutuhan.
Uang bertelur uang.
Cetak biru keuangan merupakan program awal atau sikap Anda terhadap uang. Cetak biru keuangan merupakan kombinasi pikiran, perasaan, dan tindakan dalam bidang keuangan.
Nyatakan dalam benak Anda jumlah uang yang Anda niatkan dalam satuan waktu tertentu. Ucap syukur, terima kasih, dan lihat keajaiban yang muncul
Jika anda ingin mengubah buah, ubah akarnya. Ingin mengubah yang tampak, ubah yang tak tampak.
Memberi dulu baru menerima. Kalau enggak, kamu gila barangkali.
Kecerdasan spiritual: thanks to God, to people, to nature
Tipping point, pemicu
Invisible hand yang dilupakan
Selama ini, mindset kebanyakan orang adalah mengambil senjata untuk menembak orang lain. Sekarang, ambil senjata untuk menembak diri sendiri.
Most people don't lead their lives, they accept their lives
Inaction creates terror
III.
O iya ya, orang sukses ga mungkin baca kek-kek gini.
Tentang Pak Enuh Nugraha
Nonton video ini rasanya kayak terapi, gimana manusia bisa memanusiakan manusia lain. YouTube Sinau Hurip dari Pak Adi ini memang mengambil bagian yang belum digarap: menyajikan konten humanis dan ngobrol dengan orang gila yang ditemui di jalan. Di episode ini dia wawancara dengan alumnus ITB jurusan Teknik Kelautan '97, yang mengalami ODGJ diduga karena ditinggal kekasihnya.
Orang itu bernama Pak Enuh Nugraha. Pemberitaannya menjadi viral di berbagai media karena latar belakangnya yang bagi sebagian besar orang "sangar". Prestasinya dijelentrehkan dari pernah mengenyam Farmasi di Unpad, lalu setahun kemudian pindah ke Kampus Ganesha. Sisi SMA-nya pun tak lepas dari prestasi, jurusan IPA, dapat NEM tinggi, dan lulus dengan IPK 2,97 (angka yang cukup tinggi bagi generasi saat itu mengingat para alumninya seingatku berkomentar nilai itu susah banget di ITB, bahkan orang yang lulus dengan IPK 2,5 saja telah bersyukur, beda emang dengan kampus yang cuma ngejar nilai tinggi).
Yang epik, akibat ODGJ Pak Enuh ini narasi utama yang diceritakan adalah karena ditinggal kekasihnya yang pergi/meninggal bernama Sri Indah. Namun sumber lain menyebut karena hubungannya dengan Sri yang jurusan Kedokteran Unpad tak direstui oleh calon mertua. Salah satu pelajaran moral singkatnya: Sepinter apapun, cinta bisa membuat orang jadi gila, dan sedihnya, kurikulum pendidikan hingga hari ini tak memasukkan bab khusus terkait "cinta" ini sebagai mata pelajaran.
Salut dengan cara Pak Adi ini memotong kuku Pak Enuh, mencukur rambut, sampai memandikannya hingga (((bersih banget))) di POM bensin--ngeramasinya sampai berkali-kali. Lalu diberi air dan orang gila yang cenderung gak dianggap sama masyarakat itu dimanusiakan.
Selasa, 24 Oktober 2023
Runaway City: Jakarta Bay, The Pioneer and The Last Frontier - Abidin Kusno
Judulnya puitis ya, bagaimana teluk Jakarta menjadi "pelarian" juga benteng terakhir seseorang untuk hidup.
Kata "pantai" sendiri di Indonesia berhubungan dengan berbagai konsep dan kenyataan mistik, penggabungan, dan perluasan. Atau orang menyebutnya sebagai "oceanic feeling" yang kerap ditemui di negara-negara Asia Tenggara.
Seno Gumira Ajidarma pun pernah menulis di ceritanya terkait Sukab dan Alina, jika rumah yang menghadap ke pantai itu sesuatu yang misterius, bisa jadi aneh. Kisah Seno itu mengungkap metafora bagaimana dirinya mendefisikan era baru pantai di Jakarta.
Semenjak mereka yang punya kuasa memindahkan pemerintahannya ke daerah yang lebih tinggi agar tak kena banjir, maka di pantai hanya tertinggal para nelayan, kuli miskin, hingga komunitas ras yang melanjutkan hidup dan kerja di Utara Jakarta. Pesisir Utara menjadi layanan halaman belakang.
Narasi gentrifikasi pun meluas. Dikuatkan dengan kebijakan, baik dari presiden, gubernur, dan bawahannya. Disambut oleh tepuk tangan dan rangkulan para pengembang, kontraktor, dan bank.
Sementara, para binatang laut dan pesisir dipaksa menjalani eksodus mereka yang menyakitkan.
Sejarah pantai utara Jakarta ini menujukkan betapa berlapisnya sejarah Jakarta dari sisi pinggiran.
Teluk Jakarta merupakan proyek tepi laut yang besar di pantai utara Jakarta. Posisi geografinya menawarkan kekuasaan kota hingga kritik gerakan lingkungan. Kota-kota yang terletak di pesisir juga berhubungan dengan diaspora, para komunitas migran dan pedagang yang menghubungkan kota-kota pelabuan.
Dalam sejarah, pantai, pelabuhan, laut juga mengingatkan seseorang pada ingatan lain, nostalgia penjajah. Atau petualangan-petualangan terkait perubatan wilayah dan kekuasaan. Mereka pergi dan barangkali tak kembali. Meskipun mereka dikalahkan oleh "arus balik" orang-orang yang secara politis lebih mementingkan tanah.
Daerah sekelilingnya kemudian mengundang legenda dan keangkeran baru, seperti Ancol yang dipotret sebagai tempat yang dihuni oleh hantu perempuan. Mayorits orang Jakarta berpikir, gagasan kota-kota pesisir sebagai suatu hal yang ironis (tertinggal), meskipun Jakarta sendiri merupakan kota pesisir.
Abidin dalam esai ini berpendapat, kepentingan untuk kembali ke pesisir bukan hanya keharusan bagi kompetisi kapital di tepi laut, tetapi juga krisis pencitraan diri yang dihadapi negara, menyusul pembangunan yang berlebihan di ibu kota.
Dampak dari reklamasi yang terjadi di Utara Jakarta semisal, memperburuk kondisi ekologis kota. Reklamasi itu menciptakan 2700 hektare tanah sepanjang 32 kilometer di garis pantai Utara. Reklamasi ini digunakan sebagai lokasi hotel, pusat bisnis, mal, perkantoran, kompleks hiburan, industri, dan residen.
Proyek Teluk Jakarta dianggap sebagai salah satu dari megaproyek yang tak hanya untuk kota, tapi juga negara. Proyek ini diharapkan bisa sukses seperti yang terjadi di Singapura dan Tokyo. Para pembuat kebijakan sadar, tak mungkin mempercantik pantai tanpa melakukan make up pada area di sekitarnya; atau tanpa mengubah arsitektur dan tempat di sana.
Kemudian timbullah ide revitalisasi Jakarta. Sektor publik dan swasta saling bekerja sama, digembungkan dengan sejarah maritim dan pengaruhnya. Koridor Sejarah Jakarta dirancang untuk mendidik masyarakat terkait sejarah dan perjuangan bangsa akan peran kota pesisir Jakarta.
Lalu melihat ke depan, pesisir Jakarta semakin diperindah. Naga dipercaya oleh orang-orang Cina tinggal di sana, karena menjadi basis tempat beekrja mereka. Gambaran pun dibuat, pantai utara Jakarta menjadi pusat kompetisi.
Perkembangan arsitekturnya dibuat melampui sekadar simbol atau status, tapi juga kuasa dan perluasan kapital--sekaligus 'pelarian' bagi 'orang-orang kalah'.
Quote:
-I show how the coast can be seen as both the pioneer of and the last frontier for capitalist urban development in Jakarta.
-I argue that the urgency of returning to the coast as a catalyst for globalization is not only the imperative of waterfront competition in the region, but rather a particular crisis of self-imaging faced by the nation following the overdevelopment in the capital city.
-‘I don’t have to say how much economic and financial loss has been inflicted by traffic jams’ (Kompas 1995a).
-In Sepotong Senja untuk Pacarku (A Piece of Twilight for my Lover), he satirizes Jakarta and its relation with the coast. In one of the stories, Sukab, the protagonist from the inland, is so impressed by the twilight he saw on the coast of Jakarta that he decided to steal it for Alina, his lover. He cut out what he saw in the horizon and put it in his pocket, leaving a hole as big as a postcard in the sky. Seno’s story offers reflection on how it is possible to steal and own the twilight and the cost of owning it.
Kusno, A. (2011). Runaway city: Jakarta Bay, the pioneer and the last frontier. Inter-Asia Cultural Studies, 12(4), 513-531.
Link: https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/14649373.2011.603916
#abidinkusno #pantaiutara #jakarta #pesisir #pantai #coast #waterfront #runawaycity
Sabtu, 21 Oktober 2023
The Transformation Problem - Riccardo Bellofiore and Andrea Coveri
Setelah lama vakum, komunitas Simulakra mengadakan diskusi kembali terkait bahasan berjudul "The Transformation Problem". Di bab 10 bagian satu The SAGE Handbook of Marxism kali ini, kami membahas tulisan Riccardo Bellofiore dan Andrea Coveri. Riccardo Bellofirore merupakan profesor ekonomi politik. Andrea Coveri adalah muridnya yang ambil Posdoc di Universitas Urbino. Minat riset keduanya terkait ekonomi dan teori nilai Marxian.
Bahasan-bahasan awal isinya sangat rumus dan itung-itungan. Ada beberapa problem terkait transformasi nilai dan eksploitasi. Eksploitasi lebih dipahami sebagai kontrol secara langsung atau tidak langsung yang berdampak pada buruh. Ternyata kontrol itu gak bisa dihilangkan. "Exploitation should be understood as the direct and indirect imposition and control that affects all labour, in its quantity and nature."
Menurut pembacaan Sulkhan, dua penulis esai ini terkait kontrol terhadap kekuasaan terhadap kapitalis, bagaimana kapitalisme mengabstraksi nilai tenaga kerja yang diekstrak dari para buruh. Komoditas dipandang seolah dia punya nilai sendiri. Kemudian ada konsep fetisisme pertukaran barang ke barang. Misal pas bahas keris, kerja dan manusianya tak terpisah. Ketika Ofek jadi empu keris, Ofek tak terpisah dari keris itu. Kapitalisme enggak, komoditas dipisahkan dengan orang, kita jadi mesin, ketika rusak, diganti dengan pekerja lain. Dulu empu keris tak tergantikan karena sakralitasnya misal (atau tirakatnya).
Lina menambahkan, eksploitasi didasari oleh abstraksi nilai, kalau ditaruh lebih lanjut eksploitasi dari unsur-unsur lain seperti gender, apa itu masih bisa dikatakan seperti itu? Ketika menambah indikator lain. Jadi terkesan reduksionis. Terlepas dari masalah gender, ras, dll, Sulkhan melihat dua penulis ini memperluas lagi ngomong eksploitasi. Kontrol jadi layer yang penting untuk ngomongin eksploitasi, dia juga membaca adanya kecenderungan di buku ini yang ingin memperluas konsep Marx.
Diskusi bersepakat perhitungan yang matematis dalam teori Marx cenderung muter-muter. Ketika Marx nyoba matematis, bolak-ballik lagi ternyata ada variabel yang mubazir. Meski matematis, tapi kesimpulannya bukan matematis. Gagasan Marx tentang eksploitasi harus menjauhkan diri dari sekadar medan wacana matematis dan hubungan palsu terkait transformasi, karena menurut profesor dan muridnya, semua diskusi telah dinodai oleh gagasan bahwa eksploitasi berkaitan dengan kemungkinan menyelesaikan nilai lebih dengan tenaga kerja berlebih.
Surplus ini sifatnya sekunder, ciri khas gagasan Marxian: di bawah kapitalisme, seluruh tenaga kerja yang hidup, yang diambil dari pekerja berupah yang awalnya 'bebas dan setara' menjadi aktivitas yang 'dipaksakan' dan 'diasingkan'. Paksaan langsung untuk melakukan kerja. Dia hidup memompa keringat, atau hidup seperti vampir. Eksploitasi seharusnya dipahami sebagai pemaksaan dan kontrol langsung dan tidak langsung yang mempengaruhi semua tenaga kerja, baik kuantitas maupun sifatnya.
Soal tulisan Profesor Bellofiore dan mas2 murid jametnya ini (:D), yang selalu menarik dari diskusi adalah cerita dan refleksi dari teman-teman. Misal bagaimana Pambudi merefleksikan terkait pekerjaannya sebagai buruh akademik atau para buruh pabrik yang kerjanya overtime. Lalu bagaimana teori itu dikontekstualisasi dengan kerja-kerja yang ada sekarang.
"Kita terasa seperti zaman Marx, buruh tereksploitasi, waktu yang dihabiskan. Marx tidak melihat yang kita alami sekarang. Kapitalisme bergerak sangat cepat, nilai lebihnya juga cepat bertambah. Nilai lebih itu semua yang tidak dibayarkan ke pekerja, seperti memberikan review di MarketPlace, memberi Google review, mereka buruh tapi tak merasa buruh. Ada nilai-nilai tenaga kerja tak terbayarkan," ungkapnya.
Trus Dipa nerangin panjang lebar pengalamannya dan analisisnya terkait bagaimana "misteriusnya gaji", bahkan dengan indikator macam waktu, skill, tenaga, dll. Apalagi dia baru aja ngalami kejadian, kolega dia salah ngirim email gaji anak-anak. Emailnya ke Dipa, harusnya sendiri-sendiri. Yang koleganya kirim satu list semua, di kantor jadi ribut, ada yang malesan tapi gajinya lebih, gaji itu abstrak.
Misal kerja public relation (PR) itu 24 jam dan itu berita yang tak bisa ditebak jam waktunya, core-nya menyiapkan statement media terkait brand. Isunya bisa jadi berita nasional naiknya dengan deadline jam sekian. Kadangkala, yang sering terjadi, anak-anak PR suka dibilangnya cuma modal bacot, padal enggak. Mikirin banget sampai di conference, hingga fashion harus diatur. Itu yang bikin kerja itu sangat misterius.
Distingsi orang kerja abstrak dan fisik itu bisa jadi hal yang saling berkaitan. Misal ada white dan blue collar workers, meski kategori bermasalah, itu masih ada jelasnya. Misal jadi dosen gajinya bisa di bawah pekerja buruh Astra, itu meruncing ke hal-hal yang tak penting, misal diminta ngebayangin, "kamu aja yang jadi buruh Astra." Kalau nglihat kayak gitu akan terus bermasalah.
Yang coba dibongkar Marx, itu. Kita bisa ngitung jam kerja, tapi bisa gak ngitung variabel lain misal skills? Variabel apa yang menyebabkan orang A dan B bisa beda/sama? Motivator kan bilang, antara miliarder dan gak miliarder itu punya jam yang sama. Nyatanya kagak nyet. Misal tukang gudeg yang kerja jam 5 subuh kurang kerja keras apa? Buruh yang sampai shift malam kurang kerja keras apa? Kerja serius, gaji bercanda.
Kalau di perusahaan PR, itu bisa di-reimburse duit kalau lembur, tapi kalau dosen, harus ngecek kerjaan mahasiswa bisa satu minggu. Bisa dibilang, blue collar punya kesempatan lebih baik daripada white collar workers. Ekspresi matematis tak berubah, tapi variabel-variabel akan berubah. "Gaji adalah variabel yang sangat misterius."
Sulkhan terus nambahi fenomena yang dijelasin Dipa, andai waktu menjadi tolak ukur dalam menentukan nilai, karena itu lebih kompleks dari waktu. Misal seorang penuli itu bisa nulis buku itu bertahun-tahun, harusnya dapat duit lebih banyak, tapi realitasnya hanya dapat 10-20 persen. Sekarang itu abstrak lagi soal upah, nilai surplus, dll.
Aziz mengompori, Jangan-jangan Indonesia sudah di utopia, di mana orang-orang yang kerja di blue collars ternyat lebih tinggi dihargai daripada kerja-kerja abstrak kayak dosen di white collars. Dan emang bener sih, baca teori kiri itu cuma ada dua mimpi, mimpi indah atau mimpi buruk. Ofek menutup, teori-teori ini kasi kacamata yang gelap banget, selalu suram, wkwk.



