Kesan pertama lihat layar film Petualangan Sherina 2 saat nonton di Gama Plaza Jakarta, yaitu, "Hidup mendewasa itu susah dan banyak masalah." Warna dan situasi layar sangat berbeda dibandingkan dengan PS 1 yang sangat rural, Bandung, dan katakanlah "perumahan". Di layar pertama, aku sudah disambut oleh duniaku keseharian akan Jakarta: beton-beton yang keras, menara pencakar langit, kostum-kostum profesional, KRL yang penuh, jalan raya yang macet, dan bekerja menjadi jurnalis.
Kenapa semua hal itu jadi sangat dekat dengan diriku? Sherina juga membuka film dengan menyanyi di jalan raya bahwa hidup itu membahagiakan beserta semua rasa optimistisnya. Belum lagi pas liputan di Gedung Nusantara DPR, duh, rasanya jadi ingat Mbak Puan, Pak Tito, dan kawan-kawannya.
Sampai akhirnya, Sherina mendapat masalah karena dia gak jadi liputan World Economic Forum di Davos, Swiss. Tim yang berangkat adalah dia yang punya aliran darah dengan si pemilik media. Sementara Sherina dikirim ke KALIMANTAN! untuk meliput orangutan dan bagaimana reservasinya di sebuah LSM bernama OUKAL. Tentu telah menjadi karakter Sherina jika dia suka konfrontasi, dia tak suka dengan keputusan atasan yang sepihak. Memutuskan pulang menemui ayah dan ibunya dan berniat resign dari kantor. Namun, ayah dan ibunya mengingatkan Sherina untuk melanjutkan petualangan dan "menerima nasib".
Namanya juga film kan ya, di Kalimantan, sebentar, aku mau berlebai dulu dengan Kalimantan. Sepanjang film ini yang latarnya diambil di Kalimantan, Kalimantan Tengah tepatnya menurut pengamatanku, di daerah Katingan dan Bukit Raya. Sontak aku langsung teringat dengan petulangan pertamaku pergi keluar Jawa naik kapal sendirian, tersesat di Pangkalan Bun, dan menempuh perjalanan hampir sehari untuk sampai ke Palangkaraya. Lalu, bersama teman-teman dari berbagai wilayah di Indonesia, melakukan studi wisata di Katingan, terkait pendoaan mayat, bakar babi, sampai hal terkecil: nyebrang sungai dengan perahu yang memuat mobil-mobil itu.
Terus hutan itu, Ya Allah, hutan itu, sungai itu. Aku mengingat air sungainya bisa diminum langsung tanpa ada efek batuk dan alergi, terus rasanya segeeer dan bening banget. Melihat film Sherina seperti mengajakku bernostalgia secara double, gak cuma saat Sherina dan Saddam kecil berubah jadi gedhe, aku pun juga ikut gedhe, tapi tentang hutan Kalimantan dan binatang endemiknya. Itu pengalaman-pengalaman yang rasanya menarik untuk dihidupi kembali, entah dalam bentuk yang lain ataupun dalam bentuk yang sama.
Di Kalimantanlah, Sherina ketemu sahabat masa kecilnya, Sadam atau Yayang. Dia jadi project manager di OUKAL, LSM yang melindungi orangutan di Kalimantan. Di sana juga ada tokoh namanya Sindai, anak SD yang melindungi orangutan. Konflik utama yang diangkat pada PS2 yaitu, pembalakan binatang-binatang langka. Pelakunya tentu orang-orang kaya yang gak ngotak dan hobinya memberi makan ego saja seperti Syailendra (Chandra Satria) dan istri mudanya Ratih (Isyana Sarasvati), dibantu dengan body guard perempuan, Pinkan (Kelly Tandiano). Lagu musikal dari Ratih dan Syailendra pun secara literal menyebut, koleksi binatang langka itu sebagai gengsi dan eksistensi.
Sherina dan Sadam akhirnya melalui petualangan mereka untuk kesekian kalinya. Bukan di Observatorium Bosscha, tapi di rumah pembalak liar yang hendak menumpas mereka. Di situ akhirnya masa lalu keduanya diungkap dengan intim. Pernah gak sih ngalami moment berdua seperti itu? Cerita masa lalu terus ngebicarain diri masing-masing secara jujur. Merefleksikan berapa lama cahaya bintang bisa sampai ke bumi, bukan
dengan obrolan yang sok filsafat atau bagaimana, tapi obrolan yang
sifatnya lebih ke pengetahuan.
Misal, Sadam jengah dan meninggalkan Sherina karena anaknya selalu pengen mengontrol, selalu pengan mimpin, sering sok tahu, dan apa-apa dia lakukan dengan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan yang lain? Sherina tak sadar itu. Sejak kematian papi Sadam dan maminya yang hidup di Sydney bersama kakak-kakaknya, Sadam memilih jalannya sendiri. Namun ada juga kesamaan-kesamaan yang menyatukan keduanya, terutama bintang-bintang di langit, vega dan canopus, atau capella. Jika aku boleh berdoa, aku pengen hidup selamanya dengan sahabatku, sahabat yang telah mengenalku sangat lama. Bukan hanya soal waktu, tapi juga perkenalan itu sendiri.
Dan, setelah 23 tahun, Sherina dan Sadam tak mudah berubah karakternya. Mereka punya kehidupan masing-masing, tapi kumelihat Derby Romero seperti telah melalui berbagai pengalaman yang membuat wajahnya jadi teduh seperti itu. Sherina pun sebagaimana trend perempuan kiwari, tumbuh menjadi perempuan yang glowing dan bak princess dari negeri Disney. Meski part tersedih yang aku rasakan sebagai perempuan, di tokoh Sherina yang dewasa, nilai-nilai stereotip yang dilekatkan ke perempuan jadi semakin dinormalisasi. Aku merasakannya sangat halus, semisal pemimpin itu ya laki-laki, perempuan sekonfontratif apa pun harus dijinakkan, dan perempuan harus nurut. Haha. Ya, argumennya gak salah, konteksnya juga, bukanlah hidup harus dinikmati? Terlepas dari stereotip-stereotip ini?
Film ini dianggap sebagai film 'pahlawan' pada masanya, karena berhasil mengangkat dunia hiburan yang saat lesu usai reformasi 98 dan aneka krisis masa itu jadi terkerek naik. Setelah menontonnya, kurasa keberhasilan film ini dilandasi pada satu hal: KETULUSAN. Semua pihak yang membuat film ini melaksanakan tugas-tugasnya dengan gembira, passion mereka telah melampui waktu, sehingga bisa menghadirkan nafas lanjutan di film Petualangan Sherina 2, yang dirilis kemarin, 28 September 2023.
Aku memperhatikan, dari penulis skenario Jujur Prananto, sang sutradara Riri Riza, produser Mira Lesmana, hingga kehadiran aktor-aktor klasik Indonesia dari Butet Kertaradjasa, Didi Petet, Djaduk Ferianto, Matias Muchus, sampai artis-artis cilik/muda Sherina Munaf dan Derby Romero. Dari behind scene, aku melihat film ini dibikin dengan gembira sehingga sampai kepada penonton juga dalam perasaan yang gembira.
Poin kedua, Sherina adalah simbol dari anak perempuan yang meruntuhkan berbagai stereotipe akan anak perempuan. Dia juga sangat egaliter, membuka mata lawan mainnya Sadam yang menjadi karakter mainstream pertelevisian Indonesia. Sherina adalah gadis cilik yang banyak akal, tidak lemah ketika diculik, mandiri, bersahabat dengan siapa saja, menjaga hak-haknya bahkan sampai di hal detail: Sadam harus mencuci roknya yang kena permen karet gara-gara kelakukan temannya itu, meskipun si ibu telah menyederhanakan persoalan bisa dia cuci sendiri, "Oh, TIDAK!" pekik Sherina dalam hati. Sherina sebagai anak perempuan berani melakukan "konfrontasi", sungguh skill langka.
Poin ketiga, aku senang terkait cara orangtua Sherina mendidik anak perempuan satu-satunya itu. Salah satu adegan yang menyentuhku secara personal, ketika ayahnya Pak Darmawan (Mathias Muchus) memberi tahu Sherian akan kepindahannya dari Jakarta ke Bandung. Dialog mereka menyentuhku, si ayah pertama menjelaskan terkait mimpinya yang menjadi alasan kuat kepindahannya, lalu memberi pemahaman pelan-pelan pada Sherina. Meski kesedihan tak bisa ditampik, tapi akhirnya Sherina bisa mengerti pula. Dia menemukan kehidupan lain yang lebih menarik. Si ayah lulusan S1 IPB di bidang pertanian (bukan bank) dan melanjutkan pendidikannya di Jepang. Ibunya sebagai seorang yang ahli musik juga digambarkan berhati lembut dan sangat keibuan.
Poin keempat, berbagai interior, fashion, tempat, dan property yang dipilih dalam film ini sangat unik. Aku sangat suka dengan latar perkebunan di Bandung yang sangat hijau, observatorium Bosscha yang didesain oleh arsitek favoritku Schoemaker untuk melihat bintang-bintang, boneka pink Piglet (aku juga punya!), sampai interior yang dipilih di rumah Sadam, homey banget. Jika diberikan hidup lain, jadi orangtua Sadam yang punya perkebunan besar di wilayah yang sesejuk itu adalah mimpi besarku. Komposisi itu membuat Wes Anderson pun rasa-rasanya kalah dan Indonesia bisa buat film yang gak ke-Wes-Wes-an tapi punya karakternya sendiri. Kostum yang dipakai Sherina dan Sadam juga khas anak-anak nan trendy gak berlebihan. Sinematografi kita sendiri.
Poin kelima, cerita film ini punya narasi intertekstual dengan kisah lain di dunia. Tentu kamu masih ingat dengan dongeng Hans dan Gretel dari Jerman yang dibuang orangtua tirinya ke hutan, tapi bisa kembali berkat taburan kue. Nah, di film Sherina, dia memakai permen warna-warni untuk menandai jejaknya. Aku jadi berpikir terkait banyak narasi interstekstual yang menarik untuk dikolasekan ke dalam satu cerita yang utuh.
Poin keenam, film ini didukung dengan musikalisasi dan koreografi yang mudah diingat. Lagu-lagu yang dinyanyikan Sherina enak didengar, easy listening. Ini perpaduan yang sangat oke.
Sebenarnya pola Sherina ini coba ditawarkan oleh film garapan Riri Riza yang lain, "Kulari Ke Pantai" (2018) yang dibintangi oleh Marsha Timothy. Meskipun kurang se-hype Sherina, namun nilai-nilai kekeluargaan masih sangat lekat. Film-film ini membuatku yakin, berkeluarga tak seburuk itu. Haha.
Ada 10 cerpen dalam buku ini, semuanya terkait Jakarta dan menarik. Kota ini rasa-rasanya jadi tempat yang tak habis untuk digali. Karakter orang-orangnya beragam, moral hidup dan matinya juga beragam. Ada yang memilih berjalan di atas sepatu ketakutan, atau karena saking kayanya, bisa kebal bencana terhadap apa pun.
Cerita berpusat soal pola relasi urban khas Tinder pemuda Jakarta, yang sehari sebelum pernikahan masih pergi bareng stranger keliling pinggiran kota dan makan makanan serupa pecel lele di pinggiran jalan (B217AN, Ratri Ninditya). Judulnya singkatan dari 'Berdua 1 Tujuan', wkwk).
Sebagai etnia China, aku tak menyadari jika membuat paspor akan bisa serumit dan memusingkan itu seperti dialami oleh cici muda yang ngurus paspor di cerpen "Aroma Terasi" karya Hanna Fransisca. Dia bahkan harus memakai calo agar proses dipercepat, dia juga harus mengaku sebagai anak di luar nikah karena ngurus surat nikah ortunya yang susah. Di kejengkelan yang puncak, si cici tokoh utama harus meminjam sarung bau terasi penjual makanan di luar kantor imigrasi karena dia pakai celana pendek.
Hal lain tentu, urban tak lepas dari pengamen. Aku memperkirakan 90℅ pengamen hidup di urban daripada rural, hal itu yang diangkat Sabda Armandio dalam cerpen "Masalah", si tokoh Yuli, Gembok, dan kawannya yang diduga intel menjalani hidup khas jalanan. Meski ilmu mereka akan musik terlalu tinggi pula seperti bukan khas anak-anak jalanan, tapi lebih ke pengetahuan anak-anak skena. Yang pokok di cerpen Dio, bagaimana negara dan suprastruktur yang dimiliki bisa menindas siapa pun. Bahkan lewat orang-orang yang mengaku teman tapi bukan teman.
Cerpen "Buyan" dari utiuts seperti mengajak tamasya ke masa depan dengan menghadirkan tokoh yang terjebak dalam kendaraan yang tak ada sopirnya, lalu dia terjebak di banjir Jakarta. Driverless car ini nyasar dan tokoh kebingungan.
Berbeda dengan cerpen-cerpen sebelumnya, di cerpen "Rahasia dari Kramat Tunggak" karya Dewi Kharisma Michellia bercerita terkait nasib PSK Kramat Tunggak yang memiliki anak di luar nikah. Lalu mereka harus melarikan diri dari ayah kandung yang mau lepas dari penjara. Yang menarik di cerpen Michel ini lebih ke penggambaran suasana hidup dan tinggal si ibu sebagai PSK.
Lalu, cerita dari Ziggy Zesyazeoviennazabriskie selalu bisa mengernyitkan dahi, tema-tema pilihannya selalu jarang ditulis. Seperti saat dia menulis "Anak-Anak Dewasa", tentang para manula di kompleks yang ingin main di sebuah wahana hysteria di Ancol, tapi berakhir dengan kematian beberapa teman manula tokoh utama. Penyebabnya, si pihak pembikin wahana ini cuma mau untung tapi tak memikirkan keselamatan penumpang. Jadi sadar pula begitu kompleksnya hari tua itu. Orang-orang berubah.
Di cerpen Ben Sohib berjudul "Haji Syiah", lebih legowo lagi. Cerpen ini tak ada kaitan sebenarnya dengan ideologi Syiah, tapi si tokoh hanya memasang gambar Ayatollah Khomeini saja, karena merasa wajah die teduh. Tapi secara prinsip ibadah kagak ikut-ikutan. Tapi simbol itu justru jadi bumerang buat yang masang.
Berikutnya, kisah dari Cyntha Hariadi sebagaimana cerita-ceritanya di "Mimi Lemon", dari pandangan anak keturunan Tionghoa di masa Mei 1998. Ya, kerusuhan itu membuat persahabatan yang erat antara Tata dan Ace jadi bercerai berai.
Yang menyedihkan lagi yaitu kisah yang diceritakan oleh Afrizal Malna dalam "Pengakuan Teater Palsu". Mengambil cerita yang dekat dengan dirinya, Afrizal mengungkap salah satu kisah seniman di TIM bernama Frans yang malas menjadi manusia. Dia melakukan berbagai hal yang aneh dan dianggap gila untuk membuktikan jika dirinya aktor. Meski hasil yang dia dapat hanya kesia-siaan.
Terakhir, cerita dari Yusi Avianto Pareanom berjudul "Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang Warga Depok yang Pergi ke Jakarta". Warga Depok ini hanya pergi ke Jakarta ketika keperluan khusus saja, dan tujuannya tak cuma satu, tapi banyak sehingga waktunya tak sia-sia. Dia lebih suka menghabiskan waktunya hanya untuk di rumah. Selama perjalanan di Jakarta selama seharian penuh itu, si warga Depok tokoh utama yang kita cintai itu bertemu dengan banyak orang, dan dia pulang kenyang dengan dongeng. Dari pembuatan visa yang dia lupa bawa paspor, pertemuan dengan teman sejurusan pas kuliah, dll
Dari 10 tulisan yang juga terbit lebih dulu dalam bahasa Inggris berjudul "The Book of Jakarta" yang diterbitkan oleh Comma Press, UK, aku paling suka cerpen Ziggy dan Cyntha. Bagiku terasa unik dan gaya penceritaannya segar.
Refleksi yang coba aku susun:
-Kota tak ada bedanya seperti laut, menerima yang baik dan buruk yang kesemuanya akan ditelan. Dari mereka yang duduk di pusat, hingga yang paling pinggir. Dari tokoh Ace yang kaya raya seolah hidupnya bebas bencana, sampai ibu PSK di Kramat Tunggak. Dari paling wangi sampai busuknya. Dari yang paling serius sampai paling remeh-temeh. Jakarta dagrasinya sekeren itu. Meski dia selalu disalahkan oleh banyak daerah karena dianggap sebagai daerah prioritas apa-apa (DIISTEMEWAKAN), tapi dia juga menanggung "beban" yang paling besar.
-Bagi sebagian orang, kota Jakarta memang "menjijikkan" untuk disentuh, yang membuat seseorang jadi lupa untuk memikirkan dirinya sendiri, apalagi orang lain (menyedihkan bukan?). Meskipun begitu, kota ini juga adalah kota kehidupan.
Di bukunya "Yang Tidak Banyak Dikatakan Soal Pekerja Media" ini, aku sevisi dengan Citra Maudy Mahanani dalam banyak hal. Tentang kerentanan pekerja media, prekarisasi, dan membongkar bagaimana struktur ekonomi-politik itu terjadi. Dan secara lebih emosional, apa yang ditulis Citra juga pernah aku alami di masa-masa bekerja. Aku suka metode Citra yang menulis buku ini dengan referensi-referensi yang serius dan yang paling pokok, membongkar sistem struktural mengapa pekerja media bisa mengalami kerentanan yang sedemikian rupa.
Pergantian rezim kepemimpinan tak mengubah banyak, prekarisasi dan informalisasi masih terus berjalan entah sampai kapan. Di titik yang rasanya nadir, aku sadar, aku hanya satu orang pekerja di antara miliaran pekerja lainnya yang siap jadi "cadangan pekerja" para perusahaan. Pemiliknya tak memikirkan kesejahteraan pekerja, yang lebih dipikirkan adalah bagaimana akumulasi kapital yang terus memperkaya segelintir individu berjalan.
Titik menyedihkan lainnya adalah deskillisasi. Dengan banyaknya beban kerja para pekerja media (golongan muda terlebih), yang sehari-hari harus menulis 5-12 berita sehari, membuat mereka hanya menulis yang kelihatan-kelihatan saja, sementara kemampuan analitisnya diamputasi entah kemana. Kondisi ini tentu menguntungkan sistem karena kadar kritisisme menjadi semakin berkurang. Aku seneng Citra gak meromantisasi perjuangan dan individu yang mungkin akan berakhir jadi problem personal dan menghilangkan gambaran besar. Narasumber yang dia wawancara telah menjelaskan senyata mungkin yang mereka alami.
Citra juga tak lupa membeberkan pentingnya membangun dan bergabung dengan serikat pekerja, yang fungsinya untuk memberi perlindungan pada para buruh yang rentan terkait hubungan industrial yang mereka jalani. Hubungan industrial di sini luas: hubungan buruh dengan bos, dengan sesama pekerja, atau konflik lain yang berhubungan dengan hukum. Minimnya kesadaran kolektif itu ditengarai salah satunya, buruh tak merasakan guna dan fungsi dari serikat pekerja itu sendiri. Ditambah beban kerja mereka yang banyak membuat mereka lebih suka beristirahat daripada sibuk-sibuk mikir dan kerja-kerja "volunteer" lagi. Kerja-kerja sosial itu yang dilakukan semisal oleh SINDIKASI dan Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM).
Aku berterima kasih pada Citra yang juga rekanku di Remotivi karena telah menulis ini. Semakin membuka mataku akan berbagai kerentanan yang terjadi pada pekerja media, juga kesempatan lain yang terlihat menggiurkan tapi sejatinya prekarisasi juga. Aku ingin mencontohkan seperti program P3K, yang meski haknya sama dengan PNS, tetapi dasarnya adalah kontrak juga, dan mereka tidak mendapat pensiun. Telah sebegitu menggurita neoliberalisasi ini menjangkiti segala lini, tak hanya di swasta, tapi juga pemerintahan.
Penelitian Citra ini bisa menjadi penelitian longitudinal yang menarik untuk dikembangkan, meski banyak bahasa dan frasa tinggi yang susah untuk dibumikan, namun tanpa susah payah mempelajari itu, orang juga tak akan membaca struktur besar yang terjadi. Analisis yang bukan menyangkut basis struktur rasanya susah mengubah apa-apa, sementara perang di tanah basis ekonomi dan politik ini terjadi di mana-mana.
Catatan ini diambil dari Seri Diskusi Publik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) berjudul "Masih Adakah yang Spiritual di Kota?". Diskusi menghadirkan narasumber: Adin Hysteria (Art Enthusiasts), Jecko Siompo (Choreographer), Ardianti Permata Ayu (Dosen dan Peneliti), serta dimoderatori oleh Saras Dewi (Komite Tari DKJ). Pertemuan dilaksanakan di Teater Wahyu Sihombing, TIM Jakarta, Selasa (26/9/2023).
Ketua Komite Tari DKJ Josh mengatakan, pihaknya melakukan riset di Banyuwangi tentang Tari Sablang Bakungan. Spiritualitas tak hanya terjadi secara vertikal tetapi juga horizontal. Dari proses itu, pihaknya membuat esai visual singkat bagaimana spiritualitas menjadi inspirasi untuk diperbincangkan.
Lalu, Dave dari DKJ mengatakan, ritual itu dilakukan pada hari Minggu. Sudah ada keluarga yang telah membuat bunga-bunga. Ada juga ibu yang memasak sajen, yang juga menjadi pengudang Mbah Witri. Lalu ke makam, bersih desa, dan ritual berjalan. Acara berlangsung sampai jam 10-11 malam.
Saras Dewi mengatakan, Banyuwangi telah berkembang perkotaannya. Bagaimana warta di Bakungan, juga berbagai elemen masyarakat mengalami urbanisasi. Dari tuturan lisan, ini sudah 300an tahun yang lalu. Tarian ini tarian kuno yang bermakna di tengah urbanisasi. Bagaimana dari tarian itu, bukan bagian perspektif semata, tapi bagaimana sosial dan ekologis.
Narasumber Adin Hysteria menyampaikan terkait anomali imajinasi budaya urban. Ada Festival Bukit Jatiwayang, di sana ada ritual siraman dan cucuk rampah. Ada hal yang ingin disakralkan. Imajinasi terkait urban tak melulu personal. Dia memperhatikan masih primordial. Di Bustaman, ada kuliner petengan. Alasannya kangen listrik mati. Ada kerinduan terhadap itu.
Juga ada tumpengan yang bukan hasil alam, tapi tumpeng makanan sachet. Gunungan bukan hasil sayur mayur, tapi jajanan ringan. Filosofinya, tidak ada lagi tradisi, sudah tak ada orang yang kirim saji ke pohon, kecuali di periperi seperti di dekat Kendal. Atau moment tertentu seperti Agustusan.
Dalam konteks ini, primordialisme bisa dideskripsikan ulang: agama, asal usul, etnisitas, dll, yang bisa mengikat mereka secara bersama-sama. Dia bertanya, apakah doa mereka sudah ditemukan ratusan lalu? Itu dikarang-karang. Dulu tak ada tradisi ke makam, tapi kemudian digawat-gawatkan, harus dibikin sakral. Ada hal seperti itu di kampung-kota.
Realitas itu tunggal, tapi perspektif macam-macam. Misal di beringin, kasi lampu artistik, tapi beda ketika ada yang turun dari pohon. Menurutnya, kampung di Semarang banyak hilang karena pembangunan, perebutan tanah, dan pengilangan laut. Kampung-kampung terancam hilang oleh banyak hal. Industri pariwisata dipakai dalam rangka mengurangi kemiskinan, mesti tak selalu seperti itu. Ada kerinduan kangen main bareng, ngobrol bareng, ada kekangenan atau kohesi sosial. Pemerintah datang dan itu saja yang dia pahami. Dinas Kebudayaan jadi hal krusial, meski dianaktirikan.
"Aktivisme bertemu kebutuhan, konteks sehingga relevan," jelasnya.
Spiritualitas bukan satu-satunya aspek, aktivasi ruang dan aktor menjadi signifikansi dalam place making project. Tapi tak pernah bilang urbanisasi itu apa, dan climate change tak disuarakan. Apa memori kolektif yang disepakati bersama? Siapa yang berkepentingan dan berpengaruh. Di kampung-kota hal ini bisa dilakukan.
Di sisi lain, Ardianti Permata Ayu mengatakan, seni punya spiritualitas di urban. Ruang merupakan lingkungan tempat manusia berada. Ruang juga merupakan bagian dari masyarakat dan kebutuhan (Hoed, 2011). Jika dilihat dari segi morfologi kota, ruang kota bisa dianggap sebagai ruang budaya, bukan hanya sebagai ruang industri dan ekonomi.
Kota harus memfasilitasi warganya bisa berinteraksi secara individual dan komunal. Di sini, komunitas menjadi penting dalam produksi ruang kota. Penting ketika ada interaksi, sebagaimana yang dikatakan Harvey, warga memiliki hak untuk membentuk dan mengubah kota, serta dapat mereformasi struktur kota sesuai dengan kebutuhan dan keinginan secara komunal.
Lefebvre bilang, kota merupakan hasil interaksi kompleks antara elemen fisik dan non-fisik. Tradisi dan kepercayaan merupakan salah satu aspek dalam produksi ruangnya. Ruang fisik kota dipengaruhi yang material maupun non-material, termasuk spiritualitas.
Spiritual tak selalu vertikal, tetapi juga hubungan dengan masyarakat. Bagaimana setiap manusia punya jiwa. Ketika dikaitkan dengan seni tradisi, ada yang disebut roh. Dari penelitiannya terkait Tari Ballet yang dimasukkan dengan seni tradisi (yang hanya menjadi dekorasi saja). Spiritualitas memiliki rasa, intuisi, kelestarian, dll.
Kehidupan di kota banyak, dari kepadatan, kriminal, kerusakan lingkungan, dll. Lalu masyarakat mencari spiritualitas. Mereka keinginannya mau healing dan healing. Bukan sekadar pelarian, tapi juga berhubungan dengan alam. Ada kehati-hatian untuk bertindak. Ini bisa membuat komunitas menjaga lingkungan hidup. Kita bisa mencoba pendekatan kesenian untuk memberikan wawasan.
Masih adalah yang spiritual di kota saat ini? Dalam konteks urban Jakarta, Jakarta merupakan kota warisan kolonial dan patron-patron setelahnya. Masyarakat yang majemuk membuat suatu kebudayaan yang baru. Punya potensi menumbuhkan suatu spiritualitas baru. Ada sense of place, ketika sudah milik publik, ada rasa yang berubah. Ada kampung batik, dll, tapi tidak riset kota butuhnya apa?
Dia menanyakan, bagaimana cara menggali dan menumbuhkan kembali
spiritual yang pernah hadir? Bagaiman kesenian tradisi dengan
spiritualitasnya dimaknai masyarakat kota saat ini? Bagaimana regulasi
ikut berperan dalam hal ini?
Lalu, narasumber Jecko Siompo mengisahkan ceritanya di Papua. Berbicara spiritualitas harus ada yang faktual. Budaya spirit, itu perjuangan individu lalu kelompok dan kesepakatan bersama. Seperti fosil menjadi fosil. Ketika hanya orang-orang tertentu, itu akan menjadi kepercayaan baru. Ada bahasa baru yang berkembang.
Pada tahun 80an, dia mengikuti di Senayan ada break dance, dia terapkan itu di Papua jadi battle. Dia menciptakan itu. Dia menemukan spiritualitas individu. Ada logika dan matematis. Ada penelitian, orang US ke Indonesia, mempelajarinya, tapi ketika diterapkan di negara dia, pesertanya cedera.
Sesi diskusi:
1. Hasan Aspahani: Apa hubungannya spiritualitas dan religiusitas? Seperti kisah
Mauludan, 40 hari berturut-turut. Ada imam muda dari Jatim di Batam, dan
ramai. Ini ternyata bisa tumbuh.
2. Isma: Berkaca pada kasus Kendal, tak dipungkiri tradisi makin lama akan
hilang, berbagai seni tradisi juga udah malih lupa ke bentuk yang lain,
dan spiritualitas pun tergerus, dan diganti dengan hal-hal yang tak
masuk akal, tak berhubungan, dan mengais-ais mitos masa lalu. Apa
pendapat narasumber terkait hilangnya tradisi itu? Bagaimana
relevansinya?
Tanggapan:
Menurut Anti, ada mindset tentang hidup sejahtera. Misal ART cari uang aja. Artinya nilai yang ditimbuhkan beda. Pendidikan kita arahnya di situ. Rangking dianggap penting, spiritualitas itu hilang. Sudah jadi orang sukses, mereka hilang, akan punya rasa di situ.
Menurut Adin, religiusitas itu agama, spirit kembali ke jiwa. Apapun itu, mau
maulidan, semua hal yang berpotensi menggalang massa itu politis. Seni
itu bukan bidang istimewa dibandingkan yang lainnya.
Betapa kota-kota pesisir, Jakarta dan Semarang yang sebenarnya tak jelas. Tak ada beban menjadi Jawa. Itu beban administratif dari Jawa. Termasuk yang anak, warak ngendok. Hewan paling tidak jelas, tapi dibikin paradoks. Itu fenomena sepele, itu mainan yang tak jelas. Misal waraknya harus ngendok, itu puasa, harus jaga nafsu. Orang Tionghoa punya tafsir lain, begitu kebudayaan kota. Supaya lebih spiritual, dikasi tafsir yang aneh-aneh. Misal Maesa Jenar dari Jogja, jadi nama klub sepak bola. Dari assembling itu punya budaya baru. Yang paling penting, memori kolektif apa dulu? Dan orang yang berkepentingan dan berpengaruh. Kelas-kelas yang punya suara bisa menawarkan corak kebudayaan tertentu.
Menurut Jacko, dari caranya melihat agama, sampai saat ini, tradisi ya tradisi, tapi tradisi jadi agama. Ada kebiasaan nenek moyang yang itu dijadikan agama. Misal Maulidan, gunung bukan jadi kebiasaan spiritual. Ketika masuk tradisi tak ada hubungannya sama sekali, seperti bumi dan langit. Bumi dan laut wkwk. Kemudian mereka mengaitkan, misal jilbab, itu tradisi. Dikolaborasi tidak bisa. Yang kuat sebenarnya spiritualitas individu. Tradisi ya tradisi, agama ya agama. Misal juga terkait Haji, itu tradisi, tapi sebenarnya ibadah. Ini ada hubungannya dengan penjajah. Dia menekankan pada spiritualitas individu yang harus dicari dulu. Gak butuh healing tapi dealing.
Kesan setelah membaca buku ini seperti yang dikatakan Lusia di cerita "Lusia et ses Enfants", dia mengatakan, "Hidup ini sudah menyedihkan, kita jangan." Delapan cerpen yang Cyntha Hariadi tulis dalam buku "Mimi Lemon" semua tokohnya punya keberpihakan yang kuat dengan ibu, anak, dan dunia perempuan. Tokoh-tokohnya punya satu garis merah yang sama: Sejahat apa pun yang terjadi pada hidup, toh semuanya akan berlalu dan kita bisa tertawa lagi.
Cerpen yang paling kusukai adalah cerpen terakhir, "Bella Biutiful". Cerita menyentuh tentang seorang pembantu dari Lampung bernama Ida yang bekerja sebagai ART di Jakarta di rumah nyonya bernama Lisa. Sebelum ke Jakarta, hidup Ida di Lampung sungguh menguras empati. Suaminya lumpuh, anak tertua pemalas, dan anak kedua si Bella punya keterbelakangan mental. Dengan segala cara Ida bertahan dan bekerja apa pun asal menghasilkan uang, menghidupi keluarganya. Circle Lisa sendiri tipe keluarga kelas menengah yang rentan depresi, dan punya anak laki-laki queer yang tak mau membuka identitas diri. Semua bertautan dan saling melengkapi.
Cyntha dalam buku ini juga intens menjelaskan dengan detail pola hubungan antara majikan dan pembantu, tuan dan sopir, atau hubungan serupa itu dengan baik. Melalui cerita itu jadi paham latar-latar psikologis kedua kelas berbeda ini dalam menjalani hidup. Dan dapat kusimpulkan, apa pun posisinya, semua orang punya deritanya masing-masing yang tak bisa disamaratakan. Seperti diceritakan dalam cerpen mayan thriller berjudul "Ikatan", saat seorang sopir menyelematkan harkat dan martabat si bos (direktur keuangan perusahaan yang hidupnya tak kurang apapun) yang bunuh diri, dengan menutupi kasusnya seolah-olah dia kena serangan jantung. Meski di akhir cerita saya masih mangkel tidak diberi alasan kenapa si bos mati?
Yang paling berkesan tentu, buku ini dengan indah menceritakan pola hubungan antara ibu dan anak. Seperti kisah dalam "Holy Orange Bottles", si ibu digambarkan menjadi sahabat paling dekat bagi si anak, tak ada cerita apa pun yang hebat bagi si ibu kecuali cerita terkait apa yang terjadi pada si anak dan orang-orang di sekitar si anak. Anaknya pun sayang pada ibunya, meskipun dia juga sedih karena ibunya menderita kanker yang harus minum obat warna orange tiap hari. Pola hubungan ibu-anak ini juga tampak di cerpen "Ke Planet Lain Bersama Aluna" dan "Mimi Lemon", bagaimana dunia anak dan orangtua begitu berseberangan, susah disatukan dan menciptakan teror mental.
Meski di balik itu, kita bisa dengan mudah menghayati kehidupan yang sekuler dan liberal ala Lusia di cerpen "Lusia et ses Enfants", yang hidup bebas dan menggunakan kebebasannya untuk menolong jiwanya sendiri. Prinsip bebas dan mandiri itu pula yang nampak dalam cerpen " Coco De Mer". Atau memilih dunia kerangkeng seperti dalam cerpen "Formula 44", suatu paradoks kehidupan tetangga yang satu milih single, yang satu orangtua yang punya lima anak. Dan tentu, orang single lah yang justru cari moment untuk terhubung dengan yang lain. Keseluruhan, cerpen-cerpen Cyntha mengingatkanku dengan cerpen-cerpen Budi Darma, yang tokohnya punya rentang dimensi yang tidak hitam-putih dan punya motif kuat untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Cyntha dalam buku ini juga intens menjelaskan dengan detail pola hubungan antara majikan dan pembantu, tuan dan sopir, atau hubungan serupa itu dengan baik. Melalui cerita itu jadi paham latar-latar psikologis kedua kelas berbeda ini dalam menjalani hidup. Dan dapat kusimpulkan, apa pun posisinya, semua orang punya deritanya masing-masing yang tak bisa disamaratakan. Seperti dikisahkan dalam cerpen mayan thriller berjudul "Ikatan", saat seorang sopir menyelematkan harkat dan martabat si bos (direktur keuangan perusahaan yang hidupnya tak kurang apapun) yang bunuh diri, dengan menutupi kasusnya seolah-olah dia kena serangan jantung. Meski di akhir cerita saya masih mangkel tidak diberi alasan kenapa si bos mati? Pola ini juga ada di cerpen "Formula 44" dan "Bella Biutiful".
Andina Dwifatma, Kuli Tinta yang Beralih Jadi Dosen Muda - Dunia Dosen
Redaksi
11–14 minutes
Dosen program studi (prodi) Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik
Indonesia (Unika) Atma Jaya Jakarta, Andina Dwifatma, S.I.Kom., M.Si.,
sama sekali tak memiliki bayangan bagaimana mengajar mahasiswa di kelas
saat masih belia. Profesi dosen tak pernah terlintas di benak Andin,
sapaan karib Andina Dwifatma, sebagai pekerjaan yang ia tekuni di
kemudian hari. Sejak kecil, Andin ingin menjadi wartawan. Dan bagaimana
perjalanan karir Andin dari kuli tinta dan beralih profesi menjadi dosen
muda? Simak wawancara duniadosen.com berikut.
Sejak kecil, Andin gemar membaca dan menulis. Berawal dari
kesukaannya membaca komik Tintin, keinginan untuk menjadi wartawan makin
membuncah. Untuk mengakomodasi keinginannya tersebut, pada 2004 Andin
mengambil jurusan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
(FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah.
Semasa kuliah, dosen muda ini rutin menulis artikel di rubrik kajian
budaya di harian Suara Merdeka setiap dua minggu sekali. Dia menulis
ulasan terkait tayangan televisi, film, sinetron, dan acara realitas
menggunakan teori-teori kajian media yang ia dapatkan di kelas
perkuliahan. Kegiatan tersebut dia tekuni sampai lulus dari Undip
Semarang pada tahun 2009.
Menjadi Wartawan Agar Bisa Melihat Dunia Lebih Luas
Menjadi wartawan, bagi Andin adalah kegiatan yang menyenangkan karena
dia bisa melihat kehidupan secara lebih luas. ”Saat itu, beberapa dosen
yang dekat dengan saya sudah menyarankan agar saya mengajar saja. Tapi,
saya nggak mau karena ya itu tadi, maunya jadi wartawan biar bisa lihat
dunia,” ujar perempuan kelahiran 15 September 1986 di Jakarta tersebut.
Setelah lulus dari Undip Semarang, Andin kembali ke rumah orang
tuanya di Jakarta. Sempat bekerja di sebuah agensi hubungan masyarakat
multinasional selama dua bulan, Andin kemudian melamar posisi wartawan
di Kompas Gramedia Majalah. ”Saat diterima, saya ditempatkan sebagai
wartawan ekonomi bisnis untuk majalah Fortune Indonesia,” cerita dosen
muda tersebut.
Andin bekerja di majalah Fortune Indonesia sejak tahun 2010. Pada
2012, sambil tetap bekerja, Andin memutuskan untuk melanjutkan
pendidikan master di Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI).
Awalnya, Andin mengaku ragu untuk mendaftar S2 karena meski suka
membaca, Andin tidak suka sekolah, apalagi harus berlama-lama di dalam
kelas.
Andin mengakui keputusannya untuk melanjutkan pendidikan tinggi
berkat dorongan dari suaminya. ”Suami saya, dengan setengah memaksa,
meminta saya ambil kuliah S2 karena menurut dia saya punya kemampuan di
bidang akademik,” ceritanya. Andin mengambil kelas pagi sedangkan siang
sampai menjelang malam digunakan untuk bekerja.
Andin menganggap keputusannya untuk melanjutkan pendidikan S2 sebagai
momentum untuk menaklukkan diri sendiri. ”Saya belajar untuk tidak
alergi pada struktur, tidak malas mengikuti jadwal, tidak anti pada
rutinitas. Pada akhirnya saya merasakan bahwa aturan dibuat bukan hanya
untuk membatasi, tapi bisa juga memberdayakan. Saya bahkan jadi punya
keinginan untuk sekolah sampai ke jenjang yang setinggi-tingginya,”
akunya.
Saat Liputan, Ditawari Menjadi Dosen oleh Narasumber
Karirnya sebagai dosen diawali oleh kejadian unik ketika masih
bekerja sebagai wartawan. Tak disangka, profesi dosen yang saat ini dia
ampu berawal dari tawaran seorang narasumber yang juga dosen di Unika
Atma Jaya Jakarta saat Andin melaksanakan pekerjaannya sebagai wartawan.
Andina Dwifatma (paling kanan) bersama novel pertamanya, Semusim dan Semusim Lagi. (doc. Andin)
”Suatu hari, saya harus mewawancarai salah satu narasumber, ekonom
Unika Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko. Dari situ, Pak Pras tahu saya
sedang kuliah S2. Beliau langsung bersemangat karena Prodi Ilmu
Komunikasi ternyata sedang membutuhkan banyak dosen. Saya lalu melamar
dan diterima,” cerita Andin. Tahun 2014, Andin memutuskan untuk
mengundurkan diri dari Kompas Gramedia dan bergabung menjadi dosen di
Unika Atma Jaya Jakarta sampai sekarang.
Bagi Andin, ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan ketika dirinya
menjadi dosen. ”Saya ingin jadi pakar di bidang tertentu, syukur-syukur
kepakaran saya bisa menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat.
Maka dari itu, saya harus pintar dulu, sekolah setinggi-tingginya dan
berupaya membagikan ilmu sebanyak-banyaknya. Hal seperti itu hanya bisa
saya capai dengan menerjunkan diri di bidang akademik,” ujar perempuan
yang bertempat tinggal di Tangerang Selatan tersebut.
Andin masih ingat perkataan seniornya ketika masih menjadi wartawan
di majalah Fortune Indonesia. ”Dia mengatakan bahwa wartawan tahu
sedikit tentang banyak hal, sedangkan akademisi tahu banyak tentang
sedikit hal. Saya terus memikirkan ucapan itu dan menyadari yang ingin
saya lakukan adalah memperdalam ilmu saya,” tegas Andin.
Dosen Muda Harus Progresif
Saat ini, Andin berusia 32, terbilang usia yang cukup muda.
Menurutnya, usia muda memiliki beberapa keuntungan, terutama kaitannya
dengan interaksi kepada mahasiswa. ”Saya merasa lebih mudah mendekati
mahasiswa. Saya tahu istilah-istilah gaul dan hal yang sedang nge-tren
di kalangan mereka. Ini menjadi senjata saya dalam mengajar. Dengan
menganggap saya menarik dan tidak kaku, mahasiswa jadi lebih rileks dan
lebih mudah menerima pengetahuan baru,” katanya.
Andina
Dwifatma menjadi salah satu pembicara dalam diskusi A Conversation
Between Peter Fray and Andina Dwifatma. (doc.UAJ Jakarta)
Pun, dosen muda juga memiliki kesempatan lebih luas untuk belajar
banyak hal baru. ”Saya ‘diperbolehkan’ untuk terus merasa kurang.
Maksudnya begini, dosen itu kan identik dengan kepandaian dan
kebijaksanaan, dan ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah
matang. Nah, berhubung saya masih muda, saya masih mengejar kedua hal
itu,” lanjut perempuan yang memeroleh gelar master pada 2014 tersebut.
Andin merasa lebih terpacu untuk belajar banyak hal ketika dirinya
merasa ‘kurang’. Andin mengakui, empat tahun menjadi dosen tak
membuatnya merasa cukup, tapi dia merasa semakin banyak yang belum dia
ketahui. ”Saya merasakan paradoks: semakin banyak hal yang saya
pelajari, semakin saya merasa pengetahuan saya sedikit sekali. Saya jadi
makin terpacu untuk belajar terus. Perasaan seperti ini mungkin tidak
saya dapatkan kalau saya jadi dosen ketika sudah tua,” ujarnya.
Bagi Andin, dosen muda harus meningkatkan kemampuan diri selaras
dengan perkembangan keilmuan yang ada. Andin menyebut sangat mudah bagi
dosen untuk cepat merasa puas karena dihormati dan dianggap orang yang
pintar. Padahal, lanjut Andin, ketika dosen tidak meningkatkan diri
melalui proses membaca dan menulis, tak akan ada kemajuan bagi dosen
tersebut.
Menjadi dosen muda adalah tentang menjadi sosok progresif. ”Sekadar
muda jika tidak progresif ya buat apa? Sebaliknya, banyak kok
dosen-dosen senior yang sampai tua tetap progresif,” ujarnya.
Bagi Andin, dosen yang progresif adalah mereka yang banyak membaca,
banyak menulis, dan selalu punya mental pembelajar. “Kalau rasa ingin
tahu kita sudah habis, berarti karier kita akan stagnan,” imbuhnya.
Menjadi Dosen, Ingin Membuat Karya yang Diterima Masyarakat
Sebagai dosen, Andin selalu ingin meningkatkan
kualitas keilmuannya. Kedepan, dia ingin melanjutkan pendidikan
doktoral. ”Saya punya target untuk menjadi doktor sebelum umur 40
tahun,” ujar perempuan yang ingin mengambil program doktoral di
Melbourne, Australia tersebut.
Tak hanya itu, Andin tak mau menjadi dosen yang biasa saja. Dia ingin
membuat karya-karya yang bisa diterima oleh masyarakat secara luas.
”Saya kagum dengan sosok-sosok akademisi yang karyanya bisa dinikmati
secara populer, bahkan memicu diskusi publik. Menurut saya, itulah
setinggi-tingginya prestasi seorang akademisi. Karyanya tidak hanya
dimuat di jurnal-jurnal ilmiah dan dibaca oleh sesama akademisi, tapi
juga didiskusikan dan mencerahkan bagi kalangan di luar kampus,”
ungkapnya.
Dalam proses pengajaran sehari-hari di kelas, Andin selalu mendapat
pengalaman berkesan. Menurutnya, interaksi dengan mahasiswa adalah hal
yang sangat menyenangkan. ”Bertemu mahasiswa itu selalu menyenangkan,
apalagi kalau bisa membangkitkan rasa ingin tahu mereka,” ujar Andin.
Meski begitu, ada satu pengalaman berkesan yang tak bisa ia lupakan.
”Pengalaman paling berkesan mungkin pas pertama kali mengajar. Saking
gugupnya saya hampir nggak bisa ngomong!,” lanjutnya seraya tertawa.
Tantangan: Kemampuan Berpikir Kritis dan Minat Baca
Menurut Andin, dari banyaknya tantangan yang dihadapi oleh dosen, ada
dua hal yang menjadi fokusnya, yaitu peningkatan kemampuan berpikir
kritis dan mendorong minat baca mahasiswa. ”Mahasiswa kadang segan
mengemukakan pendapat karena takut salah. Karena itu, di kelas saya
selalu bilang nggak ada opini yang jelek. Nggak ada pertanyaan yang
konyol. Semuanya sahih, sejauh hasil pemikiran sendiri,” katanya tegas.
Andin menilai praktik hafalan yang diterapkan sejak jenjang
pendidikan dasar membuat mahasiswa menjadi gagap ketika diminta
menganalisis masalah. Bagi Andin, kenyataan tersebut adalah sebuah
masalah besar karena mustahil mengharapkan solusi pemecahan masalah dari
mahasiswa jika mereka tak mampu berpikir kritis.
Ihwal minat baca, Andin tak mau menyebut mahasiswa memiliki minat
baca yang rendah. Hanya saja, mahasiswa perlu memperhatikan kebutuhan
bacaan yang dia baca. ”Sebenarnya kalau kita dengar cerita kawan-kawan
penggiat pustaka di pelosok Indonesia, minat baca rendah itu nggak
benar. Anak-anak itu mau baca, tapi enggak ada sumbernya. Buku hanya
sedikit,” ceritanya.
Dalam proses pengajaran di kelas, Andin mengaku cukup sulit mendorong
mahasiswa untuk membaca buku teks, jurnal, dan laporan yang seharusnya
menjadi santapan wajib. Meski begitu, Andin punya kiat khusus untuk
mengatasi kesulitan tersebut.
”Solusinya, saya yang mengalah. Saya sering mengawali kelas dengan
baca berita bareng di LINE Today. Atau mengajak mereka belajar dengan
nonton video atau film. Kadang saya minta mereka menganalisis
artikel-artikel populer yang relevan dengan topik. Pokoknya saya ikutin
saja apa yang mereka suka. Pelan-pelan saya arahkan ke tema-tema yang
menurut saya penting dan relevan,” jelas pendiri panajournal.com tersebut.
Tak hanya itu, memasuki era revolusi industri 4.0, dosen juga
menghadapi proses digitalisasi yang mau tak mau kudu diterapkan dalam
proses kegiatan akademik. Andin berusaha untuk selalu menyesuaikan
materi ajar dengan perkembangan teknologi. Pun, Andin juga sebisa
mungkin mengekspos mahasiswa kepada industri.
”Tapi, yang paling penting adalah mempersiapkan mereka dengan skill berpikir kritis atau critical thinking. Kalau mahasiswa punya sense
tersebut, mereka tidak perlu hanya dididik jadi lulusan siap kerja,
tapi siap dilatih kembali. Ini penting karena perkembangan industri itu
pesat sekali,” ujar dosen yang juga seorang penulis novel tersebut.
Perempuan yang memiliki keinginan untuk menjadi pimpinan usaha lahan
parkir tersebut tak hanya memiliki kegiatan di kampus dan dunia sastra,
namun Andin juga harus meluangkan waktu untuk keluarga. Bagaimana
kiatnya membagi waktu? Menurutnya, suami sangat suportif dalam urusan
mengurus keluarga. Dia bersama suami berkolaborasi untuk melakukan
berbagai kegiatan sebaik mungkin. ”Peran dalam keluarga dikerjakan
bersama. Hal tersebut yang membuat saya bisa membagi waktu di sela
kesibukan,” tutupnya. (duniadosen.com/az)