Sabtu, 31 Juli 2021

Ocean

Jika ada vibe atau mood tulisan yang bagaimana yang kusuka, aku suka tulisan-tulisan Ocean Vuong.

Ya, honestly, aku ingin belajar darinya. Berikut ku-repost tulisan Ocean:

"Someday I'll Love Ocean Vuong"

Ocean, don't be afraid
The end of the road is so far ahead
it is already behind us.
Don't worry. Your father is only your father
until one of you forgets. Like how the spine
won't remember its wings
no matter how many times our knees
kiss the pavement. Ocean,
are you listening? The most beautiful part
of your body is wherever
your mother's shadow falls.
Here's the house with childhood
whittled down to a single red tip wire.
Don't know. Just call it horizon
& you'll never reach it.
Here's today. Jump. I promise it's not
a lifeboat. Here's the man
whose arms are wide enough to gather
your leaving & here the moment,
just after the lights go out, when you can still see
the faint torch between his legs.
How you use it again & again
to find your own hands.
You asked for a second chance
& are given a mouth to empty out of.
Don't be afraid, the gunfire
is only the sound people
trying to live a little longer
& failing, Ocean. Ocean -
get up. The most beautiful part of your body
is where it's headed. & remember,
loneliness is still time spent
with the world. Here's
the room with everyone in it.
Your dead friends passing
through you like wind
through a wind chime. Here's a desk
with the gimp leg & a brick
to make it last. Yes, here's a room
so warm and blood-close,
I swear, you will make -
& mistake these walls
for skin.

Sumber: Buku "Night Sky With Exit Wounds" karya Ocean Vuong

Kamis, 29 Juli 2021

Pesan Guruku

"Pe neruske ning ndi Ma? Neruske Ma, meski hanya D1, kamu punya potensi. Gini Ma, pokoknya kamu berjalan terus, mboh piye carane jalan terus, liyane piye gak usah dipikirno, berdirilah sendiri, jangan membebani orangtua, carane aku kudhu wani rekoso." Cepu, 21 Januari 2011

Rabu, 28 Juli 2021

Mencari Timur dengan Konservatif

Beberapa hari ini, aku mendengarkan lagu-lagu The Adams. Lagu-lagu mereka seperti meminangku dengan cara yang sangat sopan. Ia masuk ke telingaku dan membuatku bahagia, entah karena liriknya atau karena melodinya. Lima lagu teratas yang kusuka: "Timur"; "Konservatif"; "Hanya Kau"; "Pelantur"; dan "Masa-Masa". Ntahlah, tiga lagu pertama ini seperti mewakili keadaan dan fase hidupku sekarang. Bahwa: Aku sedang mencari Timur dengan cara yang konservatif, karena dia memberiku jalan bagaimana menjadikan hidup lebih indah.

Kalau boleh jujur, fase hidupku adalah fase yang lelah dengan pola-pola yang kujalani sekarang. Dan sudah tak menggebu-gebu lagi menjadi barisan anak-anak subversif yang ingin mencoba dan melawan ini-itu. Justru tahap menjadi konservatif mungkin jadi pilihan paling stabil dan riil. Konservatif dalam artian KBBI: "bersikap mempertahankan keadaan, kebiasaan, dan tradisi yang berlaku" dan bisa jadi "kolot" untuk sikap dan prinsip tertentu saat ini.

Lagu "Konservatif" The Adams begitu indah menurutku. Segala kesederhanaan lagu itu membumikan sukmaku yang ndakik-ndakik. Sungguh, kau yang mengenaliku akan paham kalau aku ini sebenarnya hobi dengan yang ndakik-ndakik, suka yang tinggi-tinggi, senang yang sulit-sulit; kalau ada yang lebih sulit, mengapa harus yang mudah? Kadang begitu cara pandangku.

Dan ketika kumendengar lagu "Konservatif" rasa terharu itu tak bisa kutahan, dan aku tak keberatan menjadi medioker; meluruhkan kedakikanku; dan menjadi biasa-biasa saja. Aku ingin ngobrol dengan Timurku, menyuguhkannya gelas berisi air putih, dan kita berbicara tentang apa saja di Jogjakarta. Lalu jam sembilan malam dia akan pulang. Prosesi apel yang suam bukan?

Oh, sungguh indah kata itu, "Berbicara tentang apa saja!" Aku kadang mengatakan pada diri sendiri, "Kalau ada orang yang mau dan tahan mengajakku ngobrol tentang apa saja, aku ingin menjadikan orang itu sebagai Timurku." Dan ketika nanti kami menikah, aku akan menyetel lagu "Timur" The Adams ini untuknya. Aku ingin mengatakannya dengan sungguh-sungguh bahwa: aku tak bisa menjanjikan surga, atau bahagia untuk selamanya, tetapi jika Timur percaya, pasti ada jalan.

Hingga saat ini aku ingin menangis ketika mendengar lagu "Hanya Kau"... Aku tak bisa berkata-kata lagi. Lagu yang lebih cocok diperuntukkan untuk diriku sendiri daripada untuk Timur. Ya, terima kasih untuk diriku yang sampai saat ini masih sanggup diajak berjuang meski rasa telah mati. Dan tetap mencari yang terbaik di dalam hati ini. Dengan ketemu siapa, ketemu siapa, ketemu siapa, dari situ aku akan berkembang.

Dan kau melihat kan Timur, aku mulai melantur seperti kritik The Adams di lagu "Pelantur". Timur, mataku sudah lelah memandangi layar sehari-hari hanya demi memastikan kantongku tak kosong seperti biasanya terjadi berkali-kali. Masa depan begitu menakutkan Timur, dan akan percuma jika aku selesai di tengah jalan.

Namun tiap kudengar namamu, makin terbayang masa depanku...

Semakin jelas tujuan dan yang harus aku lakukan...

Rabu, 21 Juli 2021

Full House (2004): Aja-Aja Fighting!

Jika ada kehidupan lain di muka bumi, kisah di mana hidup ingin kujalani, aku ingin menggantikan tokoh Han Ji-eun. Seorang perempuan yang selalu bisa membuat orang-orang di sekitarnya jadi gembira, seorang penulis yang tidak mudah menyerah meski dibilang beberapa kali ceritanya payah, dan dengan segenap keluguan-kenaifan, dia begitu menghargai dunia ini. Dia memiliki jiwa resiliensi yang sebegitu kokohnya untuk bisa memaafkan kejadian-kejadian yang merugikannya atau membuatnya menderita. "Dia adalah wanita yang selalu memiliki harapan dan kebahagiaan bahkan pada hal kecil."

Kekecewaan terhadap sabahat yang rela menjual rumah satu-satunya Han Ji-eun (Song Hye Kyo) dari orangtuanya, membebani Han Ji-eun dengan tarikan kartu kredit, dan menguras semua uang Han Ji-eun; bisa dikomedikan dengan sebegitu manisnya di film ini. Hingga kita melupakan kejahatan orang-orang terdekat dan masih berhubungan baik dengan mereka.

Hal yang menurutku paling menarik, selain karakter dari Han Ji-eun juga plot yang begitu simple dalam film ini. Simplicity is the best choice tergambar dari adegan yang terjadi di situ-situ saja (ruang-ruang rumah (ruang tamu, kamar mandi, kamar tidur, dapur, halaman, gazebo), kafe, kantor, taman); tidak ada penambahan karakter lain seiring perubahan kejiwaan; dan komedi yang dibangun dengan memanfaatkan rasa bersitegang antara mau-tidak mau begitu menarik diikuti. 

Dan harus kuakui, kedua pasangan di drakor ini mampu membangun chemistry dengan baik; tak salah jika keduanya mendapat penghargaan Pasangan Terbaik di ajang KBS Drama Awards 2004. Lee Young-jae (Rain) dengan karakter tengilnya, keras kepalanya, sensitifnya, kepeduliannya, kakunya, sifat cool-nya, dan cerdasnya benar-benar akan mencuri atensimu ketika melihatnya. Di lain itu, Lee Young-jae sangat menyukai kebersihan, rajin berolahraga setiap hari untuk kesehatan, dan tekun membaca buku. Kau lihat kan, betapa berhamburannya adegan membaca buku di Full House yang dilakukan Lee Young-jae.

Lalu perhatikan kebiasaan Han Ji-eun yang seorang penulis. Dari episode 1 s.d. 16, tak pernah kuperhatikan Han Ji-eun literally membaca buku seintensif Lee Young-jae membaca buku. Padahal Han Ji-eun ini kan penulis! Lebih sering adegan Han Ji-eun duduk di depan komputer, mengerjakan naskah untuk film yang diproduseri Yoo Min-hyuk (Kim Sung Soo), atau yang relevan terkait karier menulisnya adalah ketika Han Ji-eun pergi ke Shanghai kemudian dia melakukan potret-potret seorang diri, juga melakuan observasi kemudian menulisnya dalam notes kecil. Sungguh part itu aku sekali!

Di sisi diriku yang lain, aku merasa Han Ji-eun ini tokoh yang ambivert. Dia bisa jadi orang yang sangat penyendiri, tapi juga bisa bergaul dengan orang lain seperti keluarga Lee Young-jae dengan mudah. Dia bisa terlantar dan tersesat seorang diri di luar negeri, tapi punya inisiatif untuk merepotkan orang lain guna menyelamatkan diri sendiri secara konyol (tapi cukup manjur). Trik dan tips Han Ji-eun kapan-kapan jika sangat kepepet bisa untuk ditiru, hahaha. 

Ah tentu, secara kekayaan dan kecerdasan, dibanding Han Ji-eun yang dipanggilnya Unggas, atau Ayam, atau Kukuk bertolak belakang. Han Ji-eun sebelum Lee Young-jae datang adalah gadis yang berantakan, agak bodoh, eskpresif, dan tentu lucu. Han Ji-eun lucu bukan hanya karena dia suka menyanyikan lagu Tiga Beruang, tapi juga sifat konyolnya yang begitu naif--dan kau melihatnya juga, jika Lee Young-jae ikut-ikutan naif: dia pergi ke Taman Safari, dia memakan makanan yang serupa makanan anjing, hingga puncaknya Lee Young-jae memutuskan ke daratan tinggi Korea untuk meditasi, untuk meneladani Buddha.

Bagian spiritual lainnya menurutku adalah ketika berseda. Plis, ini moment yang paling aku suka tiap kali mereka beradegan menggunakan sepeda. Saat Lee Young-jae mengajari Han Ji-eun naik sepeda, saat Han Ji-eun dibonceng sama Lee Young-jae pas mereka bulan madu, saat Han Ji-eun dan Lee Young-jae bersatu kembali. Moment sakral lainnya adalah ketika bersih-bersih, memasak, dan sikat gigi bareng. Duh, itu moment sejuta umat yang terasa bedaaaa jika mereka yang melakukan.

Tentu kegiatan bersih-bersih menjadi hal paling membosankan di rumah, tapi kenapa Lee Young-jae sebegitu terobsesinya dengan kebersihan (juga ketenangan) membikin adegan menyapu, mengepel, mengelap kaca, mencuci baju, membersihkan WC, membersihkan meja, mengelap instalasi, mengelap foto, jadi sebegitu berkesan? Juga terkait kegiatan menulis. Argh! Aku tak kebayang kalau memiliki tape recorder itu penting banget bagi seorang penulis karena bisa menjadi penunjang dan alat produksi dalam berkarya.  Dan sepertinya, agar bisa "sedikit sukses" aku mesti bekerja sekeras Han Ji-eun sampai dia tertidur di depan komputer berhari-hari. Ah, aku belum sekeras itu.

Terkait mencintai, duh Tuhan, apa manusia memang begitu ya. Dia menginginkan apa yang tidak bisa dia dapatkan. Sebagaimana Kang Hye-won (Han Eun Jung) pada Yoo Min-hyuk, sebagaimana Yoo Min-hyuk pada Han Ji-eun, sebagaimana Lee Young-jae pada Kang Hye-won, dan sebelum bersama sebagaimana Han Ji-eun pada Lee Young-jae. Tentu menunggi seseorang adalah hal yang melelahkan. Meski begitu, semua mantranya sama kan: AJA-AJA FIGHTING!

Harus kukatakan, jika Full House adalah drama Korea terbaik yang pernah kutonton, mengalahkan semua drakor yang pernah kusaksikan. Aku merasa engage secara personal di film ini. Sebab rumah itu, sebab profesi menulis itu, sebab sepeda itu, sebab kekonyolan itu, sebab kebersihan itu, dan rasa aneh yang tak bisa ditarikan oleh kata-kata.

Selasa, 20 Juli 2021

Critical Eleven (2017): Drama Cinta-cintaan yang Kemanisan

Cukup capek saya memaksakan untuk menonton film ini hingga akhir. Saya menjedanya hingga tiga waktu. Dan sensasi kedalaman yang saya temukan di film Kapan Kawin (2015) berbeda dengan pesan yang ingin disampaikan film ini, meski sama-sama dibintangi oleh Reza Rahardian (Ale) dan Adinia Wirasti (Anya). Sepanjang yang saya rasakan, isinya lebih seputaran suami over-protektif dan kisah cinta-cintaan lebai kemanisan dan bikin mual.

Wajah Suntuk Kelas Pekerja @ Critical Eleven (2017)
Dan latar belakang kota New York, Manhattan, dlsb, tak sanggup membayar kebosanan saya di 40 menitan awal film ini saya putar. Harapan saya ketika menonton adalah saya akan belajar terkait kehidupan suami-istri yang lebih dewasa; meski nyatanya bukan pendewasaan, tapi saya justru drained dengan emosi-emosi yang dihadirkan dan cukup hectic dengan konflik bertele-tele yang dimunculkan. Saya juga tak begitu mempedulikan dengan taburan bintang yang bermain dalam film ini, atau siapa sutradaranya, atau diangkat dari novel siapa; yang pasti saya merasa guilty  pleasure.

Dalam ingatan saya, konflik dalam film ini benar-benar baru dimulai ketika Anya mendapati bahwa Aidan bayi yang dikandungnya sudah tidak bergerak lagi. Ternyata, bayi tersebut meninggal di dalam perut. Sungguh itu perjuangan yang luar biasa menjadi seorang ibu. Ya, di titik itu saya bisa berefleksi bagaimana menata emosi. Juga pelibatan keluarga dalam proses rekonsiliasai antara Ale dan Anya di sini cukup penting juga, sebagaimana kata si ibu, "Jika kamu punya keluarga, ngapain sendiri?"

Membaca review dari Rio di Medium ini, menurut saya juga menarik. Saya jadi punya sudut pandang berbeda bagaimana jika tokoh-tokohnya memang dari kelas sosial yang berbeda. Beban yang dialami Ale dan Anya lebih banyak ke beban psikologi daripada ekonomi, bagaimana jika dua pasangan ini sama-sama buruh dan jangankan di New York, bisa nyewa rumah sederhana saja sudah bersyukur. 

Ya, film ini adalah tentang orang kaya dengan masalah-masalah universalnya. Dengan tempat-tempat super sibuk dan high class.  Juga kritik saya terhadap Anya dan Ale yang cenderung bersikap drama queen dan drama king. Melebih-lebihkan apa yang terjadi: ingin jadi sosok yang utama, kesedihan yang didramatisir, dan lainnya. Dan begitu mudahnya perekonomian bagi mereka: bisa cuti tanpa sanksi karena kinerja buruk, bisa kembali bekerja di tempat yang sama meski hamil, bisa membatalkan penerbangan sesukanya, bisa pindah dengan mudah dari New York ke Jakarta kek pindah dari Prambanan ke Sleman, dsb-dsb.

Dengan masalah kehilangan anak itu, penyelesaian dan self-healing sebagai orang kaya memang lebih mudah. Pergi ke Melbourne misal, atau konyol nyoba tenggelam di kolam renang, atau haha-hihi cipika-cipiki bareng gank di restoran mahal, dsb-dsb. Kalau butuh support sahabat dan saudara juga ada, kurang apalagi? Saya bilang juga apa, jadilah Anya dan Ale!

Wedding Agreement (2019): Janji Dibuat, Janji Juga Diingkari

Film ini memang khas film-film kelas menengah atas yang "Islamis". Di mana semua tokohnya tak ada masalah seputar finansial dan makanan, serta memiliki rumah yang bisa dikatakan "sangat layak dan ideal". Ya, meski bumbu konfliknya ala sinetron-sinetron: perjodohan dan yang dijodohkan salah satunya berontak.

Jika film ini meniru "Full House", drama percintaan antara Lee Young Jae dan Han Ji Eun, oh, sangat TIDAK. Dengan dalih kearifan lokal pun tidak sama. Sebagaimana narasi film sejenis yang predictable "Wedding Agreement" yang diangkat dari novel berjudul sama karya Mia Chuz ini memang memberi kesan religi pada saya, tapi tak kuat. Cenderung lebih bersifat formalis dan normatif. 

Petuah seputar pernikahan akan berhamburan: "Cerai itu bisikan setan, setan menyukai orang yang bercerai"; "Isri punya kewajiban berbakti pada suami."; yah kecuali guyonan Ami (Ria Ricis), "Mau ditaruh di mana muka gue yang pas-pasan ini Taaar."

Wedding Agreement

Baiklah, Byan (Refal Hady) yang kecelakaan menikahi Tari (Indah Permatasari) karena orangtua ini mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Diceritakan masing-masing orang memiliki karakternya sendiri yang keduanya sama-sama keras kepala, mandiri, dan keukeuh pada keputusannya sendiri. Tari ingin jadi istri sholehah bagi Byan; sedangkan Byan ingin menikahi pacarnya Sarah (Aghiny Haque) yang sudah lima tahun menjalin hubungan.

Dan Tari adalah representasi perempuan sejuta umat yang dimiliki Indonesia. Perempuan yang halus, memiliki niat mulia, berbakti pada orangtua, mengabdi pada Tuhannya, dan sering membaca Al-Qur'an ini tentu jadi sosok yang diidam-idamkan segala mertua dan calon suami. 

Tentu, film ini berakhir sebagaimana telah kita ramalkan di awal, film yang sangat sinetron ini pun niscaya akan membuat haru. Perjanjian pernikahan yang dibuat setelah menikah tidak terlaksana, dan malah dilanggar. Hingga masing-masing suami-istri ini saling mengenal: nonton bersama, makan bersama, jalan bersama, belanjar bersama, dan tentu hidup bersama. 

Bukankah itu akhir yang indah? Akhir yang diinginkan orang-orang? Agar semua sama-sama senang?

Bidadari Mencari Sayap (2020): Pendewasaan Rumah Tangga Berbeda Latar Belakang

"Bidadari Mencari Sayap", ini salah satu film terkait Rumah Tangga yang menurutku lebih riil dibanding dengan tema-tema serupa yang pernah kutonton. Mataku jadi lebih kebuka lagi gimana rumitnya pernikahan, ketika itu berbenturan dengan ego diri, hak prerogratif suami, hubungan dengan orangtua, dan hubungan dengan keluarga besar.

Namun, ada hal paling urgent dalam film ini, yaitu soal prinsip hidup yang dipegang kuat oleh kedua tokoh utamanya yang juga sekaligus suami-istri: Reza (Rizky Hanggono) dan Angela Tan (Leony Vitria Hartanti). Pasangan ini sebelum menikah sama-sama berbeda agama, Reza berasal dari keluarga Islam taat dan Angela dari agama Tiong Hoa (Babah, Cici, Cece apple to apple with Abi, Ummi).

Ciyeee suami
Aku salut dengan tokoh Angela, dia memutuskan untuk pindah Islam karena kesadarannya sendiri, bukan karena Reza atau tuntutan keluarga. Pun ketika keluarga Reza menekan Angela untuk berhijab, terlebih ibu Reza, Angela ribut dengan Reza soal itu. Dan kau tahu apa yang dikatakan Angela, "Aku ingin berhijab karena alasan aku sendiri, bukan karena alergi di kulit kepalaku atau disuruh ibu kamu."

Jleb. Istri yang keren. Dan ketika Reza marah saat itu, Angela juga bilang: "Kamu tahu kenapa aku ikut agama kamu? Karena aku yakin, Islam tak pernah mengajarkan kebohongan, kepalsuan!" Iya, kebohongan atau suatu kemunafikan untuk terlihat baik di depan orang lain. 

Di sisi lain, aku juga suka dengan prinsip yang Reza pegang dalam pekerjaan. Reza bekerja di semacam media jurnalistik online, lalu pemimpin redaksinya lebih bermoral pasar daripada kepentingan khalayak. Akhirnya cek-cok terjadi, karena Reza tak sejalan, akhirnya dia memilih keluar meski itu akan memberatkan dia dan keluarganya. Dan apa yang dikatakan Reza pada bosnya: "Saya tidak suka berhubungan dengan badut sok jenius seperti Anda!"

Akhirnya, Reza memanfaatkan mobilnya untuk menjadi "kaki-kaki yang lain" mencari makan. Dia jadi driver online, dan sebagaimana sifat laki-laki yang seolah semua masalah bisa ditanggung dan diselesaikan sendiri, Reza tak memberi tahu Angela atas dipecatnya dirinya. Ditambah keributan soal latar belakang yang berbeda, yang menjadi penghambat Rumah Tangga, Reza memutuskan untuk tinggal di penginapan temannya.

Di penginapan itu, Reza bertemu dengan Soraya. Mahasiswa S2 Psikologi yang lumayan eksentrik, hedon, dan berani. Untunglah, karakter Soraya ini hanya tempelan saja, yang tak berperan signifikan dalam alur rumah tangga Reza-Angela, meski aku sedikit was-was akan ada konflik cheesy di dalamnya. 

Bom waktu itu pun meledak, ketika Reza pulang dan mendapati istrinya bekerja, Reza jadi sangat merah, murka besar, dan apa pun yang ada dibanting. Dia merasa kuasanya sebagai suami diinjak-injak, dia merasa istrinya Angela tak menghormati keputusannya, dia merasa lebih baik dan istrinya salah, dia merasa benar sendiri. Pertengkaran itu begitu menghanyutkanku, di kenyataan, aku yakin masih banyak lelaki yang seperti itu. Kedewasaan lagi-lagi jadi faktor penentu.

Bidadari itu Angela
Hingga akhirnya orangtua menjadi tempat mencari saran terbaik. Reza datang pada ayahnya dan diberikanlah petuah-petuah rumah tangga bahwa mereka berbeda dan jalan keluarnya adalah saling hormat menghormati. Dan tentu si anak, Rasya, bisa menjadi penghubung semua ini. Juga Babah yang merasa lebih nyaman tinggal bersama Angela, dibanding dua anaknya yang lain, yang kaya raya sundul langit, meski akhirnya, yah... kena OTT, tersandung korupsi.

Jika dibilang ide sutradara Aria Kusumadewa populis dalam film ini, barangkali aku sepakat. Tapi akting Angela dan Reza secara emosi dapat. Apalagi ketika Reza nulis status di WhatsApp, pengen aku bilang: "Brengsek! Sempet-sempetnya! Haha." Karakter mereka dalam film ini juara sih.

Aku suka dengan adegan-adegan simbolik dan percakapan antar perbedaan keyakinan antara Reza dan Angela. Atau dialog-dialog antara Babah, penjual baju koko (Johan-Deddy Mizwar), dan Pak Boro penjual nisan. Begitu paradoks hidup, saat orang sedang dilanda kesedihan, ada pihak-pihak yang justru mendapat rezeki karena itulah sumber pendapatannya, "Belum ada orang mati!" kata Boro. Dan masih terkenang juga apa kata Johan dalam film ini: "Di tempat ini toleran karena para pemuka agamanya memberikan pemahaman yang benar pada umatnya."