Jumat, 31 Mei 2024

Doa

Ya Allah, aku mengikuti kebajikan Mukti, jika siapa pun datang kepadaku meminta pertolongan, aku janji akan menolongnya. Entah itu ilmu, materi, spiritualitas, tenaga, cinta, welas asih, apa pun. Aku akan berusaha menjadi berkah bagi orang lain. Aku sehat selalu, aku akan hidup lebih berkelimpahan. Hal-hal duniawi tak mampu mengusikku, hanya Allah tempat bersandarku, manusia mana pun dan kejadian apa pun tak mampu menyakitiku. Aku merdeka, aku sempurna. Ya Allah, beri aku ketegasan terhadap hal-hal yang menurunkan nilai kemanusiaanku, beri aku kekuatan untuk berkata tidak pada hal-hal yang merugikanku. Aku akan menjadi cahaya dalam gelap. Aku akan memperbanyak kerja baktiku pada sesama umat. Aku janji, dan tolong ingatkan aku selalu akan hal ini Ya Allah, aamiin.

Selasa, 28 Mei 2024

Catatan Film #14: How to Make Billions Before Grandma Dies (2024)

How to Make Billions Before Grandma Dies

Sebelum aku pulang ke Cepu dan mengajak keluargaku wisata ke Tuban, malam sebelum keberangkatan di esok harinya, aku menyempatkan diri untuk menonton film "How to Make Billions Before Grandma Dies" di Gajah Mada Plaza, Kamis, 22 Mei 2024. Nonton sekitar pukul jam 9 sampai 11 malam. Setelah beli barang-barang DIY berupa jam dinding, bantal untuk perjalanan, dan minum teh Tongji di foodcourt.

Film ini memang sedih, realistis, dan kata orang-orang "gak lebai", gak ada yang dilebih-lebihkan. Semua sesuai porsinya. Film ini diawali dengan pemandangan dan adegan ziarah di makam leluhur, si nenek panggil Ma atau Amah (Usha Seamkhum), dan si cucu panggil M (Putthipong Assaratanakul), awalnya serupa air dan minyak, susah mendekatkan keduanya. Namun, ketika Ma dikabarkan menderita kanker stadium empat, tiga anak-anak Ma berubah, termasuk M cucunya.

Konflik awalnya adalah soal warisan rumah Ma yang tua, yang terletak di sebuah kota lama di Thailand. Ma sakit kanker usus karena sering makan makanan kadaluarsa di kulkas, karena dia tak mau membuang makanan. Pekerjaan Ma tiap bagi bikin conge apa ya, aku lupa, semacam panganan tradisional khas Thailand gitu di dekat pasar. Tiga anak Ma kondisinya berbeda-beda, ada yang kaya raya, ada yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri, ada pula ibu M yang bekerja sebagai pegawai toko.

Setelah dinyatakan menderita kanker usus, anak-anak Ma berbuat baik, tapi yang paling berinisiatif adalah M, cucu Ma. Awalnya, motif dia merawat Ma adalah untuk menjual rumah Ma sehingga bisa mengganti komputer rumah yang udah out of the date dan lemot mesti di-upgrade, apalagi M bercita-cita jadi seorang gamers. 

Namun, seiring berkembangnya karakter, M benar-benar merawat Ma dengan sepenuh hatinya. Salah satunya karena terinspirasi oleh Mui (Tontawan Tantivejakul) yang merawat seorang kakek ketika sakit hingga si kakek meninggal dan diwarisi rumah si kakek. Mui memberi tahu M, bagaimana merawat orang tua, apa yang kamu cium dari mereka, apa perbedaannya, bagaimana tahu kamu berada menjadi nomor satu di hati mereka? M terus mempelajari itu.

Hingga penyakit itu semakin mengeroposi usia Ma, hingga menjelang akhir kematian Ma, rumah ternyata diwariskan pada anak laki-laki Ma yang tak bisa mengurus diri sendiri, yang hidupnya serabutan, banyak utang, dan harus berjuang keras mengembalikan hidup stabilnya lagi. Anak laki-laki Ma yang kaya raya kecewa, mengancam tak akan datang lagi ke rumah Ma karena tak dapat warisan. Ma sempat ditempatkan di panti asuhan, tapi kondisinya semakin memburuk. 

M dipenuhi kesedihan yang sama, M dan ibunya akhirnya membawa Ma pulang dan merawat Ma di rumah. Dia pun pada akhirnya meninggal. Plot twist-nya, Ma menyimpan deposit di bank dari Ma senilai jutaan untuk diwariskan pada M cucunya. M pun menangis, dan Mui juga memberi tahu jika M sudah menjadi yang nomor satu di hati Ma.

Film yang disutradarai oleh Pat Boonnitipat ini memang genre keluarga yang sedih, yang bisa bikin nangis karena dialami oleh banyak orang, dan menyentuh perasaan. Orang Indonesia sebenarnya kaya dengan cerita-cerita seperti ini dan bisa membuat yang lebih dari ini. Dari review-review juga yang kubaca, film ini ngajari kita soal literasi keuangan juga. Aku sempat terkecoh kalau miliaran uang yang didapat M dari menang lotre, yang didoakan M pas ke kuil sama Amah dan anak-anaknya, ternyata tidak, dari deposito Ma yang dia tabung sejak lama.

Kamis, 23 Mei 2024

Shadana by Shraddha Ma

Aku ingin menggandakan ulang kajian welas asih dari Shraddha Ma, berikut tulisan beliau:

💛Salam kasih & Damai Tadi malam:  Shraddha Ma membahas sedikit mengenai:

SHADANA  yaitu
latihan-latihan Spiritual & disiplin diri di dalam Pembinaan diri, yang perlu di terapkan setiap hari agar bisa merelisasi Tuhan💛

1. Bermeditasi
2. Membaca kitab suci/Alquran
3. Jagalah kesehatan
4. Hindari penyalahgunaan
5. Memikirkan  sesama
6. Jujur, berpegang kepada Kebenaran Sejati dan bisa dipercaya
7. Membuka hati, menerima semua dengan kasih
8. Percaya kepada Tuhan
9. Membina diri agar menjadi sempurna
10. Menghilangkan ego spiritual
11. Mengucapkan nama Tuhan

Selasa, 21 Mei 2024

Empat Jalur Merealisasikan Tuhan

Hari Sabtu dan Minggu kemarin, aku kembali mengikuti retret Shraddha Ma dan Tante Chika di rumah Bu Yulia Kompleks Tamansari Bandung. Aku ingin mencatat apa yang disampaikan oleh Tante Chika terkait empat jalan atau jalur merealisasikan Tuhan:

Pertama, selfless-worked atau kerja-kerja tak berbayar. Realisasi ini menjadi hal yang paling susah dan paling berat. Ketika kita melakukannya pun terkadang masih ada jebakan ego dan keakuan, ada perasaan ini karena aku, kalau bukan karena aku tak bisa jalan. Nah, kerja tak berbayar ini jangan diarahkan ke aku, tapi harus diarahkan murni ke Tuhan. 

Kedua, jalur pendidikan, melalui belajar, membaca buku, berkutat dengan ilmu pengetahuan. Tante Chika memberi catatan lagi, bacalah buku dari penulis yang sudah tercerahkan oleh Tuhan. Jika tidak ibaratnya orang buta yang membimbing orang buta. 

Ketiga, jalur bhakta, cinta, atau pengabdian, ini yang sebetulnya mudah untuk dilakukan. Ketika melakukan sesuatu, lakukanlah dengan cinta, berikan welas asih pada sesama. Cinta ini masih dibagi lagi menjadi empat: cinta antara orang tua kepada anak, cinta kepada pasangan, cinta kepada sahabat, dan cinta antara tuan ke budak atau majikan ke pembantu. Tante Chika mencontohkan, di rumahnya, dia punya asisten rumah tangga yang ikut sangat lama, dari belum menikah sampai punya beberapa anak, anak pertamanya sudah SMA. Asisten sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Di situ menunjukkan betapa cinta bekerja.

Keempat, jalur meditasi. Meditasi ini pun luas, tak hanya duduk, tapi bisa dilakukan juga ketika duduk, berdiri, tidur, dan melakukan kegiatan, terus menerus menyebut nama Tuhan, berdzikir sebanyak yang kita bisa. Selalu ingat Tuhan di mana pun berada. Sebutlah nama Tuhan dengan "lemah lembut".

Dari keempat realisasi ini, keempatnya sebenarnya sudah dilakukan oleh semua orang, tetapi dengan persentase yang berbeda-beda. Temukanlah persentase realisasi tersebut sesuai dengan kadar dan kemampuan masing-masing. Ada yang porsinya lebih besar ke selfless-worked, bhakta, atau pengetahuan/pendidikan. Kalau aku, kata Shraddha Ma, sudah sangat kelihatan persentase realisasi Tuhan akan sangat besar di jalur pendidikan/pengetahuan. Karena Shraddha Ma melihat, tiap kali aku lihat buku, pasti gatel untuk mendekati, membacanya, dan menghayatinya. Dunia akan narik kita pada hal-hal yang menjadi kecenderungan kita pula.

Pengalaman Tante Chika juga yang menarik ketika beliau pertama kali diminta membantu Shraddha Ma untuk memandu pertemuan Vedanta internasional menggunakan bahasa Inggris di Bali (sebagaimana pesan Bhagavan), kalau kamu tahu A, sampaikanlah A, kalau kamu tahu B, sampaikanlah B. Jangan menunggu dari A ke Z dulu baru kamu sampaikan. Setelah pertemuan itu, kepercayaan diri Tante Chika meningkat.

Retret di Bandung selama dua hari ini penuh dengan kasih. Aku menemani Shraddha Ma kembali ke Jakarta pula dengan naik Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau kereta Woosh dari Stasiun Tegalluar. Aku bertemu banyak orang-orang baik: Bu Yulia, Aulia, Pak Sutarman, Bu Nunung, Rina, Mami, Bunda, Bapak Aulia... Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Semoga Allah SWT selalu memberkahi.

Pesan-pesan cahaya lain yang ditulis Shraddha Ma dan kawan IVS:

VEDANTA:  Ilmu pengetahuan  bijak.

🌷Ada dua aspek Maya:
Vidya dan Avidya.

🌷Avidya adalah ketidaktahuan yang menipu manusia dengan ilusi keduniawian.  

🌷Vidya  adalah
kebijaksanaan, pengabdian yang menuntun seseorang kepada Tuhan YME.

🌷RK🌷

***

🌸🌸🌸🌸
Sangatlah mudah kita mengucapkan
'do, re, mi, la, si, do' dengan mulut kita.

Akan tetapi sangat sulit untuk di mainkan di alat musik.

🌸🌸🌸
Ini sama dengan di spiritual, Sangat lah mudah membicarakannya,
akan tetapi teramat sulit di jalankan "

(Jiwa Suci Sri RK)
🌸🌸🌸🌸

***

🌷Jika seseorang ingin minum air dari danau yang dangkal. Maka ia harus mengambil air dari bagian atas. Bila tergoncang ketika mengambil, air itu menjadi tidak bersih karena kotoran lumpur akan muncul keatas membuat air menjadi keruh.

🌷Begitu juga bila engkau menginginkan Tuhan, yakinlah kepadaNya dan lakukan latihan rohani dengan tekun & mengabdi kepada-Nya.

🌷Janganlah membuang waktu untuk berdebat.
🌷Karena pikiran yang tidak murni sangat lah cepat keruh tercampur Lumpur.

Jiwa suci Sri RK

***

🌷Apapun yang melemahkan mental spiritual ataupun fisik, Janganlah engkau sampai menyentuhnya walaupun dengan jari kakimu🌷- S. V.

***

🌷Tuhan Maha Pengasih kepada manusia yang berusaha dengan tekun untuk Merelisasi-Sang Sejati.

🌷Tetapi manusia yang malas, tanpa mau berusaha, maka engkau akan melihat Berkah Tuhan tidak akan pernah hadir.

🌷Swami Vivekananda🌷

***

🌷Manusia yang egois yang hanya mementingkan dirinya & malas.
🌷Neraka  bahkan tidak punya tempat untuk nya.
🌷 Aku tidak mau berhubungan dengan manusia yang malas, keras hati, kejam dan egois.
🌷kalian yang ingin menjadi temanku harus membebaskan diri dari semua itu.

🌷Swami Vivekananda🌷

***

🌷Daripada mendengarkan yang tidak berguna, seharusnya kita mendengar tentang Tuhan.

🌷Daripada berkata yang tidak berguna, seharusnya kita berkata mengenai Tuhan

🌷Daripada membaca buku yang tidak berguna. Seharusnya bacalah buku tentang Tuhan

🌸Swami Vivekananda🌸

21 Mei 2024

"Jangan fokus ke orang ya. Kalau fokus ke orang nanti konflik, fokus ke perkembangan spiritual saja." Bagus NA

Minggu, 12 Mei 2024

12 Mei 2024

Aku tahu kebahagiaan jenis apa yang aku ingin dan butuhkan. Aku tahu cinta dan welas asih seperti apa yang harus aku tarik. Aku tahu tujuan hidup apa yang perlu aku capai. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.

Kamis, 09 Mei 2024

Perjalanan Mengenal Vedanta

Hari ini aku menemukan cahaya yang mengantarkanku lebih dekat pada apa yang kucari selama ini: Allah, atau yang punya nama lain Tuhan, Krisna, Atman. Aku berterima kasih pada Bagus yang telah membawaku ke IVS (International Vedanta Society) - Indonesia. Beberapa hari yang lalu Bagus DM Instagramku untuk mengikuti Retret Vedanta dan Meditasi bertema "Pikiran Murni Adalah Kunci Hidup Berwelas Asih" di Taman Rempoa Tangerang, Jakarta Selatan. Vedanta sedikit yang kukenal berasal dari India dan dikembangkan oleh resi-resi di India sana.

Aku kesana naik sepeda motor, dan cukup telat 24 menit (mayan jauh dan macet) karena acara sudah dimulai. Saat itu, Ust. M. Khasan (Founder Dialog Maya) sudah memulai materinya. Para peserta membentuk lingkaran besar di rumah Tante Chika yang luas dan teduh. Materi beliau terkait pengetahuan kuno yang akan berlaku secara abadi. Beliau bertanya, apa yang paling berharga dalam hidup? Kukira ini pertanyaan yang sangat berat. Dua peserta menjawab "hidup" dan "ruh", jawaban-jawaban yang dalam, Ustad Khasan lalu menjawab, yang berharga adalah "kesadaran".

Kesadaran yang membedakan manusia dengan tumbuhan. Tanpa kesadaran ini, orang yang terlihat hidup tapi hakikatnya mati. Kesadaran di sini adalah kesadaran yang holistik untuk sampai pada Atman. Namun, kesadaran ini melalui akal yang terisi dengan memori, emosi, dan imajinasi bisa melenceng (ilusi). Bagaimana memurnikan akal? Kesadaran ini bisa diaktivasi lewat chanting, kalau dalam Islam menggunakan zikir untuk mencapai kesadaran tanpa batas, kesadaran murni, atau Tuhan. Kesadaran pun masih bisa kita nilai sendiri levelnya, ada di tengah ke atas atau tengah ke bawah? 

Namun intinya, untuk mencapai kesadaran murni, perlu disadari jika "aku bukanlah apa yang aku pikirkan, aku persepsikan, aku asumsikan, aku adalah Allah". Hanya dengan itu kita bisa merasa kembali pada yang Maha Luas, seperti satu titik air yang kembali pada samudra atau kesadaran yang menyamudra. Batin jika simbolnya samudra, diberi kotoran pun akan tidak berpengaruh. Lewat dzikir atau mantra, maka bisa mengembalikan kita ke kesadaran murni. Kita membuat jalan kita yang sempit menjadi luas. Dzikir bisa memusnahkan batas-batas identitas yang kita ciptakan sendiri.

"Dzikir itu bukan mengingat, dzikir itu menyadari."

Efek dari dzikir adalah ketenangan dan kebahagiaan atau yang kita sebut sebagai surga. Dari sini, kita bisa menjawab, apa harta sesungguhnya kita? Allah. Semua hanya pinjaman. Kotoran bisa rontok dengan dzikir. Dzikir juga akan membuat kita sensitif dengan yang lain. Nama yang kita dzikirkan pun bukan nama yang dikarang, tapi nama yang diwahyukan. 

"Diri kita tak terbatas, kita berada di seluruh alas, meditasi untuk mengasihi, melampaui, ketenangan, kasih sayang yang hadir. Meditasi yang khusyuk."

Dan saat praktik meditasi pertama, sekitar hampir 45 menit gak terasa, kalau aku sendirian, pasti akan terasa sekali. Lalu juga ada sharing time dengan seorang teacher dari India, panggilan beliau Swamiji. Dari keterangannya Bagus, Guru di International Vedanta Society cuma satu: Bhagavan. Bagus diinisiasi oleh beliau. Bhagavan sudah lepas dari tubuh tahun lalu. Swamiji kaki-tangannya Bhagavan. Swamiji itu gelar monastery untuk Biksu yang cowo (sanyasin). Swamiji sebagai teacher aja bukan Guru.

Guru beda dengan teacher. Guru itu tinggi banget. Ibarat pohon pisang kan sulit dibakar, tapi sama si Guru itu bisa. Apa yang gak mungkin jadi mungkin. Guru tahu past, present future muridnya. "Makanya kalo dia kasih instruksi itu perlu diambil secara personal. Sebab si guru tahu apa yang akan membantu muridnya." Guru tak tergantikan. cintanya guru itu luar biasa.

Dalam narasinya yang singkat, Swamiju mengatakan, kita semua sebenarnya suci, tapi dalam keseharian mengapa tidak seperti itu? Untuk mengembalikan diri yang murni, kita perlu latihan spiritual, salah satunya menyebut nama Tuhan, memanifestasikannya dari dalam ke luar. 

Fungsi chanting adalah untuk menghapus layers. Kalau diibaratkan, diri kita itu serupa pohon besar. dan gangguan-gangguan yang datang seperti burung-burung yang hinggap di pohon tersebut. Untuk mengusir burung-burung itu kita manusia bisa menggunakan kata "hush". tapi dalam konteks ini kita menggunakan mantra atau dzikir. Memanggil nama Tuhan dengan jiwa, intim, dan intens. Khusyuk sungguh-sungguh kita tak jauh dari Tuhan.

Bagaimana kita tahu chanting kita itu benar? Tandanya akan kita rasakan di hati kita, Tuhan menjadi dekat, Tuhan tak ada dua hanya satu. Lalu ada keinginan untuk selalu berdzikir. Air mata bisa menghapus atau memurnikan atau mensucikan jiwa, seperti air membersihkan tangan yang kotor. Pada tiap orang tidak sama efeknya, tetapi kedamaian hati pasti ada. 

Sebenarnya aku ingin sharing dan bertanya juga pada Swami terkait pengalamanku barusan, "Sometimes, I felt empty when I was meditating, is it normal? What's indicator that showing to us that we connect to the God?" Lalu dari sharing-sharing dengan yang lain aku mendapatkan jawaban, nope, gak normal, sama aja kayak otakmu lagi kosong padahal kamu diminta fokus. Masak iya Is, lu solat tapi lu kosong? Kan berabe, itu lu gak solat, atau dengan kata lain, itu lu gak meditasi. 

Sebagai hiburan, tadi Tante Chika juga nyanyi lagu Chrisye, "Jangan biarkan damai ini pergi, jangan biarkan semuanya berlalu, hanya padaMu Tuhan, tempat berteduh, dari semua kepalsuan dunia." Lalu, Ibu Sraddha Maa yang pernah dikenalkan Bagus padaku pada acara SSRF (semacam institut riset spiritual internasional) berbagi pengalamannya lagi. Bernama lengkap Pravrajika Shraddhaprama Mata (praktisi Vedanta) mengenalkan meditasi Nidra, lewat tidur, meditasi ini jujur langsung kerasa efeknya, badan pas bangun langsung enteng. Metodenya pun mudah, kita diminta tidur dan Ibu Sraddha Maa memberikan kata-kata baik atau suatu manifestasi baik pada tubuh untuk lebih bersyukur.

Sesi terkahir atau penutup yang banyak mengubahku dan memberiku banyak pelajaran. Aku ingin mencatat, tapi Ibu Sraddha Maa bilang untuk fokus mendengarkan saja, jangan mencatat.

"Spiritual itu dari hati ke hati, bukan pada tulisan yang berakhir pada sebatas intelektual." Beliau bilang begitu aku langsung jleb, ini kalimat sepertinya ditujukan padaku dan langsung menusukku. "Hati ke hati, yang membuka hatinya dengan luas akan mendapatkan banyak. Tidak apa-apa dapatnya sedikit, karena ini juga butuh waktu."

Peserta retret
Lalu, Ibu Sraddha Maa menjlentrehkan tiga tingkatan level kualitas manusia:

1. Satvik (warna kuning): Ini tingkatan tertinggi, ketika manusia sudah stabil, bisa mengenal dirinya, dari wajah dan fisiknya pun bisa diidentifikasi, wajahnya tenang, teduh, tidak grusa-grusu, punya kontrol diri yang baik, dan tertata, dan dia tahu waktunya akan digunakan untuk apa. Ini adalah tingkatan di mana manusia telah mengenal diri dan Tuhannya.

2. Rajasik (warna merah): Tingkatan tengah, kedua, yang terdiri dari syahwat, nafsu, hal-hal yang sifatnya gerak dan aktif, seperti memasak, bersih-bersih, dan lain-lain. Ini tidak sepenuhnya bagus atau enggak bagus, tapi jika ini tak diarahkan ke yang benar, akan menjadi masalah.

3. Tamasik (warna hitam): Tingkat paling rendah. Ini ditandai dengan sikap diri yang malas, mageran, tidak mau bertindak dan usaha. Jika ada di titik ini harus cepat-cepat disadari untuk naik ke level atasnya.

Nah, dari ketiga ini, sebenarnya kita bisa mengira-ngira ada di mana. Lalu Ustadz Khasan menambahkan konsep serupa dari Al Ghazali (aku lupa arabnya apa). Kata Bagus, "Soal triguna (tiga kualitas) ini asalnya dari filsafat samkya-yoga, mbak isma bisa eksplor. Sebab  bukan ada di manusia aja, tp juga di alam. Biasanya kl udah tau jadi jauh lebih peka nnti."

Yang menarik pula pas sesi tanya jawab, ada salah satu peserta IVS yang sharing, ketika Swami bertanya padanya, "Apa bedanya tujuan hidup dan keperluan hidup?"  Ini tentu pertanyaan yang sangat susah. Sebenarnya bisa dianalisis lewat pertanyaan lagi, kita makan untuk hidup atau hidup untuk makan? Dia mengatakan, keperluan hidup itu seperti makan, tidur, kerja, menikah, mencapai karier, itu perlu untuk hidup. Tapi tujuan hidup kita apa? Tak lain dan tak bukan adalah Tuhan. Anehnya, manusia kadang tertipu. Ini sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Gus Baha, "Jangan jadi manusia bodoh yang meninggalkan sang pemberi rezeki dengan alasan mencari rezeki."

Acara dilanjutkan dengan meditasi penutup, di meditasi ini pengalamanku lebih baik, aku berusaha sadar, berusaha fokus, sembari dzikir. Ada beberapa peserta yang menangis, merintih, dan mengekspresikan spiritualitasnya dengan bersuara dan menggerakan tangan. Hingga cara ditutup dengan membaca Surat Al-Fatihah.

Lalu di akhir acara, aku dan Ibu Sraddha Maa bercakap-cakap lagi. Beliau banyak bercerita pengalaman pribadinya mencari dan mencari spiritualitas di berbagai tempat dan negara, hingga yang benar-benar cocok dengannya adalah Vedanta. "Serupa lebah mencari madunya kan, kalau udah nemu satu dia gak ke mana-mana lagi. Vedanta ini seperti nadiku. Dulu nyari-nyari juga di mana-mana tapi gak cocok." Lalu beliau bercerita sedikit tentang karma yang dihubungkan dengan pertemuan SSRF terakhir. Karma bisa dari orang-orang dekat: pasangan, orantua, adik-kakak, dlsb.

Wajah Ibu Sraddha Maa dan Tante Chika yang adem

Juga semacam empat jalan menuju (aku agak lupa) semacam yang hakiki gitu dengan jalan: pengetahuan, pengabdian, meditasi, karya bhakti. Yang terakhir ini paling cepat karena kita bekerja dengan ikhlas tanpa dibayar, tapi tak semua orang bisa karena butuh tenaga dan waktu. Beliau dan juga Tante Chika dan juga Om Aji kompak memuji Bagus, kata mereka Bagus itu pinter. Tante Chika juga bilang, Bagus sering ngisi kelas di sini dan ngajarnya jelas.

"Jelas banget konsep Vedanta kalau sama Bagus, dia bisa nerangin dengan sangat-sangat jelas, mudah, dan bisa dipahami, nanti kamu tanya Bagus, apalagi skripsinya tentang Vedanta. Dia itu young man with old soul. Bayangin umur 16 tahun ke Mas Aji dan mau belajar. Nadinya dia juga Vedanta," kata Bu Sraddha Maa yang pas saat aku mencatat kontaknya dinamai apa, beliau bilang, "Sraddha Maa saja atau Ibu angkatnya Bagus" hahaha. Bukan main emang Bagus. 

Meski Ibu Sraddha Maa mengatakan pula, Vedanta ini masih terbatas bagi orang Indonesia karena masyarakat masih sangat melihat form (bentuk), eh ini India, ini Hindu, udah antipati duluan. Padahal, ini ajaran yang universal (spiritual universality) untuk semua agama. Juga tak ada fanatisme di sini, isinya cinta, welas asih, kasih sayang pada semua macam keyakinan. Aku berniat belajar Vedanta lagi dengan pikiran yang terbuka. Vedanta menjadikan ke-Islamanku lebih kuat, menunjangnya ke arah yang lebih baik.

Yang bisa kucatat pula sebagai kesimpulan: Tujuan dari hidup adalah "merealisasikan Tuhan", merealisasikan sifat-Nya, karakter-Nya. Merealisasikan Tuhan berarti juga merealisasikan Diri. Mengutip Bagus dalam skripsinya:

"AV (Advaita Vedanta) membuka diri untuk semua agama, di tengah-tengah agama yang entah tidak tahu tujuannya apa, AV menawarkan jawaban: Self-realization/God-realization (moksha). Inilah tujuan agama bagi AV, tetapi sering dilupakan. Akibatnya agama tak punya dampak terharap diri sendiri atau dengan kata lain sebatas percaya, mengikuti nenek moyang sebagaimana quran larang dan membawa penderitaan. Maka menggunakan AV untuk memperkaya pemahaman ke-Islaman sangat mungkin sekali sebab keduanya dekat. Misalnya bagi penulis ketika membaca Islam dengan gaya AV akan menghasilkan pemahaman bahwa “syahadat” adalah tujuan, bukan formulir pendaftaran."

Kata Bagus juga padaku:

"Ini jalan sunyi, jalan yg sangat personal sekali mbak. Musuh kita diri sendiri🙏🏼aku juga masih berjuang menaklukan diri, khususnya yg disebut seven deadly sins itu. Jalan ini kadang naik kadang turun, makanya perlu jamaah, ada komunitasnya. Buat protect dan selalu terinspirasi di jalan self -realization ini.

Gak ada yg spesial dari Vedanta, dalam tradisi dianggap cuma sebatas petunjuk. Kalo kita disuruh ke pasar sama ibu ada daftar belanjaan. Daftar belanjaan itulah Vedanta. Jadi kalo udah tau barang apa yg mesti dibeli biasanya mampu melihat daftar belanjaan tradisi/agama lain. Tujuan agama cuma satu: memanifestasi keilahian diri, menjadi sempurna, menyempurnakan akhlak kalo kata agama. Jadi gak ada istilah konversi ke vedanta atau pindah agama jadi vedanta. 

Orang islam belajar vedanta hasilnya jadi muslim yg lebih baik. Begitu pun org kristen yg belajar vedanta, jadi kristen yg lebih baik. Begitupun orang buddha dst. Sebab yg ditunjukkan vedanta adalah pengetahuan utama, pengetahuan puncak."