Dalam tulisan ini, David Graeber curiga, mengapa sejak tahun
1980-an, para Antropolog dibombardir dengan nasihat yang tak berujung (yang
seringkali moralistik) terkait pentingnya "konsumsi". Dalam 2 dekade
terakhir, nasihat itu efektif dan menjadi pokok wacana teoritis, meski begitu
jarang para antropolog memeriksanya atau bertanya pada diri sendiri: Mengapa
hampir semua bentuk ekspresi diri atau kesenangan manusia dianalogikan sebagai
“makanan”?
Graeber tak ingin menawarkan kritik atau praktik konsumsi,
dia hanya ingin bertanya, mengapa manusia mengonsumsi? Bagaimana istilah
konsumsi berasal dan mengapa kita menggunakannya. Esai ini berusaha
menyelidiki, mengapa hal itu terjadi.
Literatur yang disebut Graeber seperti penelitian Etnografer
Dick Hebdige (1979) yang meneliti perilaku konsumsi pada pemuda yang menjadi
agen aktif konsumsi. Kemudian Arjun Appadurai (1986) tentang “The Social Life
of Things: Commodities in Cultural Perspective”, Jonathan Friedman (1994) dalam
“Cultural Identity and Global Process Theory”, Colin Campbell (1987) dalam
" The Romantic Ethic and the Spirit of Modern Consumerism", serta
yang dianggap Graeber penting pula, Daniel Miller dalam “Material Culture and
Mass Consumption” (1992). Masing-masing memiliki versi ceritanya sendiri.
Konsumsi berasal dari kata kerja Latin "con
sumere" yang berarti "merebut atau mengambil alih sepenuhnya",
dan artinya meluas menjadi "memakan, melahap, menghabiskan". Konotasi
konsumsi selalu negatif, kata ini muncul di Inggris abad 14. Apa yang
diciptakan di suatu bidang tertentu akan dihancurkan atau digunakan di bidang
lain.
Seperti petani memproduksi padi dan konsumen memesan dan
memakannya, pabrik kimia memproduksi tinta dan konsumen memakainya, dll. Untuk
memberi jalan bagi produk baru, maka yang ketinggalan zaman dan tidak relevan
dibersihkan, dihancurkan, dibuang. Ini menjadi ciri dari "masyarakat
konsumen".
Pencapaian unik dari konsumerisme modern telah membantu
penciptaan bentuk hedonisme yang besar. Ini menjadi kompas destruktif , Graeber
menjelaskan beberapa komplikasi dalam konsumsi: (1) invividualisasi, (2)
pergeseran kelas dan gender.
Lebih lanjut, Graeber menghubungkan konsumsi dengan dorongan
kuat akan “keinginan”. Orang yang bekerja menemukan sebagian besar kesenangan
hidup dalam konsumsi. Mereka tidak menelan begitu saja seperti robot tanpa
pikiran, tapi memilih identitas mode untuk mereka sendiri. Terlihat dari
makanan apa yang dimakan, pakaian apa yang dikenakan, musik apa yang didengar,
video apa yang ditonton, dlsb.
Secara intuitif, manusia menginginkan apa yang tidak dia
miliki. Seseorang merasakan ketidakhadiran, lalu menginginkan bagaimana
seseorang mengisinya, tindakan pikiran ini yang disebut sebagai
"keinginan". Keinginan sebagai kerinduan akan suatu objek yang tidak
ada, tapi juga hal lain yang lebih mendasar: pelestarian diri dan keinginan
untuk terus eksis. Keinginan dalam bentuk narsistik ini kadang muncul lebih
norak; kita ingin menjadi objek keinginan orang lain.
Keinginan akan uang membuat seorang bekerja. Keinginan tanda
kehormatan membuat dia berperilaku terhormat. Keinginan tanda cinta mengilhami
perilaku romantis.
Keinginan adalah 'gagasan tentang selera', konstruksi asli
imaji yang diletakkan seseorang pada beberapa ketertarikan. Keinginan manusia
menyiratkan pengakuan timbal balik. Keinginan (a) selalu berakar pada imajinasi
dan (b) cenderung mengarahkan dirinya pada hubungan sosial, baik nyata ataupun
imajiner. Keinginan dan kurangnya kepuasan terus menerus inilah yang mendorong
konsumsi dan memungkinkan ekspansi produksi tanpa akhir.
Kesimpulan Graeber dari esainya ini:
1/ Keinginan manusia pada dasarnya bukan masalah hubungan
antara dia dan orang di luar dia, tapi hubungan antara dia dengan fantasinya.
2/ Hubungan kita dengan individu lain adalah perjuangan
tanpa akhir untuk menegakkan kedaulatan dan otonomi, dengan memasukkan dan
menghancurkan aspek-aspek di sekitar kita.
3/ Hubungan ‘genuine’ dengan orang lain adalah problematik
(karena masalah "The Others")
4/ Masyarakat dilihat sebagai mesin produksi dan
penghancuran raksasa, di mana satu-satunya aktivitas manusia yang signifikan
adalah membuat barang-barang terlibat dalam penghancuran seremonial, untuk
memberi jalan barang lain untuk lebih banyak masuk.
Graeber, D. (2011). Consumption. Current anthropology,
52(4), 489-511.
Link: https://www.journals.uchicago.edu/doi/abs/10.1086/660166
#davidgraeber #consumption #currentanthropoly #konsumsi