Senin, 31 Mei 2021

Paradoks Ideologi dalam Film "When My Love Blooms"

Kemarin aku masih sempat melakukannya, menonton episode-episode film Korea ganjil yang membuatku merasa bersalah. Ya, seolah ada isi kedondong di tenggorokanku. Dua tokoh utama hidup dengan kelas sosial yang berbeda ketika mereka berumur 40 tahun. Meski ketika masih mahasiswa, si Yoon Ji Soo dari kalangan atas daripada Han Jae Hyun, saat di pinggir jalan Jae Hyun gerah dengan tingkah Ji Soo yang sering mengejarnya, "Aku ingin menyingkirkan borjuis sepertimu."

Hidup berjalan, dua tokoh berpisah hidup dan kelas. Ji Soo memiliki anak yang cerdas, tapi dia miskin, dan selalu: kesalahan selalu dilakukan oleh orang-orang miskin. Sebrutal apa pun orang miskin membuat tingkah; yang bahkan menyakiti lalat saja tak berani apalagi manusia, si miskin tetaplah salah. Berapa penghasilan orang miskin? Sulitkah mencari nafkah? Cocokkah menggantungkan nasib mereka dengan pernyataan: "Tergantung pekerjanya!" (?)

Watch: GOT7's Jinyoung Enjoys Teasing Jeon So Nee And Byung Hun On “When My  Love Blooms” Set | Soompi

Dan si ibu, Ji Soo sebagaimana yang diwarisi oleh aktivisme mahasiswa Jae Hyun bekerja sebagai pekerja swalayan. Dia sering membantu memberi minuman bagi para ibu permrotes ketidakadilan perusahaan. Ji Soo sering mengunjungi surga: Surga Paruh Waktu dan Surga Gimbap. Dia menikmati ketika terlibat di Perkumpulan Gotong Royong bersama kaum papa. Meski di titik yang lain, ketika Ji Soo berkumpul dengan para ibu sosialita orangtua murid anaknya (yang mendapat beasiswa di sekolah internasional), dia merasa kira-kira begini:

"Kurasa aku ingin muntah, di suatu waktu aku bersama para pemrotes memberikan air untuk mereka, tapi di lain waktu, aku duduk bersama ibu-ibu, yang harga tasnya seharga satu bulan biaya hidup para pemrotes itu. Sembari sarapan siang di hotel dan mengobrol."

Sedang Jae Hyun kehilangan idealismenya ketika dewasa. Jika di masa mahasiswa dia membela buruh, membaca Karl Marx, bersyair The End of That Summer-nya Lee Seong Bok, menjadi kepala aktivis perkumpulan, dengan kos yang dindingnya tertempel poster Che Guevara, meski gembeng karena sering nonton Love Letter; dewasa dia memecat banyak orang, bekerja untuk perusahaan bonafid, bekerja untuk Kementerian Tenaga Kerja, panjat sosial dengan menikahi anak konglomerat, dan bermitra bisnis dengan bank. 

Jae Hyun ketika mahasiswa dan Jae Hyun ketika paruh baya 180 derajat berbeda. Paradoks ideologi film itu tidak ada dalam skenario yang aku pikirkan. Aku seolah tersadar, niat baik sering dikalahkan oleh kenyataan. Sebagaimana Jae Hyun ketika di usia muda dia berdiri pada pihak yang kalah, ketika paruh baya jadi berubah: "Untuk apa kau berdiri di sisi itu? Untuk kawan atau keadilan? Hal-hal seperti itu tak memberimu uang." Pernyataan ini membuat kepalaku seperti kepala tauge yang sudah layu.

Namun Ji Soo di usia paruh baya masih bersetia dengan apa yang diyakini Jae Hyun ketika mahasiswa: berdiri di pihak kalah. (Dan ya, aku teringat dengan kutipan: kalau ingin dihargai Tuhan, maka hargailah orang yang tidak dihargai manusia). Sebagaimana para buruh yang disabotase haknya oleh perusahaan, para pekerja kecil, para pekerja yang tak dianggap manusia.

Sampai episode empat, ketika link nonton film tak bisa kuakses lagi, rasanya aku tak mau melanjutkan  menontonnya, karena beberapa pola film Korea hampir sama: masa depan-masa lalu yang lebai, detail yang kadang menjijikkan karena menonjolah segala keperfekan wajah-busana-dll, kadang alurnya mbulet gitu-gitu aja. Yang menarik adalah lebih pada konflik yang kadang memang di luar prediksi, landscape yang menyejukkan mata, dan muatan-muatan filsafatnya--terdengar sombong memang.

Meski begitu, film ini memberiku pertanyaan besar:  Apakah ada yang namanya kesetiaan pada ideologi? Membandingkan Jae Hyun mahasiswa dan Jae Hyun paruh baya membuatku frustrasi sendiri ketika itu kurefleksikan pada diriku. Apakah aku juga akan merasa jijik dan ingin muntah sebagaimana Ji Soo membandingkan antara dia di jalanan protes dan ketika dia berada di tengah para sosialita di tempat elite?

Kos Vidagarin, Depok, 31 Mei 2021

Sabtu, 29 Mei 2021

Tuan Tanah Desa dan Musuh-Musuhnya

Usai krisis ekonomi tahun 1998 dengan diterapkannya peraturan neoliberal, pemerintah Indonesia lebih menggantungkan pada sektor tambang dan ekspor terhadap komoditi pertanian seperti kelapa sawit, ketimbang sektor manufaktur guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Awal abad 21, dinamika perubahan agraria ditandai dengan ekspansi kelapa sawit.

Ekspansi kelapa sawit ini khususnya di Asia Tenggara dikenal dengan "serbuan tanah global (global land rush)". Yang mana hal ini meningkatkan konflik agraria di luar pulau. Dengan latar belakang seperti itu, lalu literatur yang berkembang kemudian mencurahkan perhatiannya terhadap perampaasan tanah dan konflik agraria yang terkait dengan sektor tersebut. Dengan naiknya kelapa sawit di pulau-pulau terluar, di sisi lain perhatian terhadap budidaya padi kontemporer di Jawa sebagian besar mengalami pengabaian. Kontras dengan yang terjadi seperempat abad terakhir di abad 20, di mana fokus lebih diarahkan pada perubahan agraria kapitalis di pedesaan Jawa.

Di pedesaan Jawa kontemporer sendiri, kebutuhan akan beras secara politik tetap lebih penting dibandingkan dengan kelapa sawit, karena padi menjadi makanan pokok orang Indonesia. Di mana ketersediannya menjadi mata uang utama dalam menjaga stabilitas sosial. Inilah yang melatarbelakangi mengapa pemerintah tetap menyediakan subsidi bagi petani padi meskipun di bawah rezim neoliberal. Menurut data BPS 2019, hingga saat ini lebih dari setengah total produksi padi domestik tumbuh di Jawa. Pulau kecil yang kurang dari 10 persen total ukuran negara bisa mengakomodasi lebih dari setengah total kebutuhan penduduk Indonesia.

Meski di sisi lain, dalam beberapa dekade terakhir akibat dari konversi lahan untuk sektor industri dan properti di Jawa, pangsanya jadi menurun. Konversi cepat di bidang non-pertanian ini terkhusus di sektor konstruksi dalam dua dekade terakhir, menciptakan konteks perubahan agraria yang baru di Jawa.

Njomplang adalah sebuah nama desa di Purworejo (Jateng), nama yang unik karena ketika dibahasa Indonesiakan artinya timpang, ketimpangan. Di desa inilah, Muhtar Habibi melakukan penelitianya terkait dinamika kelas dari perubahan agraria di pedesaan di Jawa, melalui wawancara dan literatur dari perubahan agraria terbaru pada abad 21.

Purworejo sendiri merupakan daerah dengan produksi padi yang besar, sebagaimana Jateng menjadi salah satu area produksi padi tertinggi di Indonesia. Tiga perempat lahan padi menggunakan sistem irigasi yang layak di mana panen dilakukan dua kali dalam setahun. Ini didukung dengan adanya teknik produksi modern seperti sistem irigasi, alat-alat modern, bahan-bahan kimia, hiingga mekanisasi.

Purworejo mengalami revolusi hijau pada 1970an. Hampir seluruh area tanah di Desa Njomplang digunakan sebagai lahan padi (112 ha), dan 15 ha digunakan untuk perumahan dan fasilitas publik. Desa ini terdiri dari 314 rumah tangga, dengan jumlah penduduk 1115 orang, di mana 60% penduduknya memiliki penghasilan dari bidang ekonomi padi, bekerja di sektor pertanian. Lainnya di sektor non-pertanian seperti guru, perawat, pegawai bank, pedagang, birokrat, dll.

Habibi melakukan penelitian di desa tersebut sendirian, dan dia tinggal di sana dengan waktu yang ditentukan (bulan September-Desember 2017). Dia melakukan wawancara semi terstruktur dengan 80 partisipan untuk mendapat informasi kualitatif terkait pertanyaan penelitian. Pertanyaan yang ingin diangkat dalam jurnal ini adalah bagaimana karakter relasi kelas dalam penanaman padi di pedesaan Jawa pada abad ke-21 di bawah perkembangan kapitalis kontemporer? Serta apa perbedaannya dengan karakternya di masa lalu?

Studi ini menunjukkan bagaimana para kelas penguasa agraria yang terdiri dari para petani kapitalis dan tuan tanah dan para kelas buruh di pedesaan Jawa kontemporer bernegosiasi terhadap upah dan kondisi kerja mereka. Negosiasi ini dimediasi oleh institusi lokal setempat yang dikenal dengan nama "rembug desa". Terkait rembug desa, dahulu pada 1960an, di Njomplang, PKI merupakan partai politis terbesar, hanya beberapa yang bergabug pada Partai Nasionalis Indonesia (PNI). PKI yang berafiliasi dengan Pemuda Rakyat, BTI, dan Lekra sering mengadakan pertemuan di Njomplang. Untuk mempromosikan program-prorgam seperti redistribusi.

Terlepas dari lanskap dominasi agraria, para petani kapitalis dan tuan tanah ini memiliki posisi yang kuat dalam atmosfer non-agraria di pedesaan. Posisi mereka disebut sebagai tuan/raja (master) di desa. Diskusi terkait tuan tanah desa dan musuh mereka dalam kelas buruh menawarkan pemahaman baru terkait bagaimana upah pertanian dan kondisi kerja disesuaikan di Jawa.

Studi terkait pedesaan di Jawa ini juga menyoroti pentingnya mengeksplorasi kompleksitas lokasi kelas, guna memahami karakter relasi kelas yang terjadi. Dengan melihat lokasi kelas keduanya dan bagaimana relasi kelas berjalan menawarkan pemahaman yang lebih lengkap terkait dinamika kelas dari perubahan agraria.

Relasi kelas tak hanya kategori: secara volunter atau idealis. Relasi produksi membentuk formasi kelas. Relasi kelas berjalin dengan bentuk-bentuk relasi sosial seperti ras, gender, etnis, identitas nasional, dll. Sifat hubungan kelas atanra petani kapitalis dan kelas pekerja pedesaan perlu melihat dalam kerangka situasi kelas yang kompleks. Dan bagaimana itu berdampak pada hubungan kelas dari waktu ke waktu.

Habibi, M. (2021). Masters of the countryside and their enemies: Class dynamic of agrarian changes in rural Java. Journal of Agrarian Change, 1-27.

Sumber: https://doi.org/10.1111/joac.12433

#muhtarhabibi #agrarianchange #classdynamics #classlocation #rural #java #journal #wiley

Quote:

"Identifying agrarian class location, based not only on their position in property relations and production relations but also on their engagement in non-agricultural activities, is crucial to grasping the complex nature of agrarian class location."

"In Njomplang, we have seen three main agrarian class locations: capitalist farmers, PCP, and classes of labour. We have observed the complex nature of each class location. For capitalist farmers in Njomplang, we identify three different subgroups, namely, the “typical capitalist farmer,” “politico-bureaucrat capitalist farmer,” and “professional-capitalist farmer.” Apart from capitalist farmers, there is also a group of “landlord-capitalists.” Different types of capitalist farmer have different takes on the production process. We have also seen the different groups within PCP in the two villages. “Substantial PCP” owning their land and having no relationship with patrons separates them from “formal PCP,” who only control the land and are generally bound to their patrons."

"While “semiproletariat farmers,” “proletariat farmers,” and the “fully-fledged proletariat” share similar class locations, they occupy different positions in land, labour, or output relations."

"A worker, who is also one of the former members of Pemuda Marhaen (PNI) in Njomplang, offers an ambiguous compliment: “I admit that PKI's members were smart, but they were too radical.”"

"The rembug desa is the most important moment when class contradiction rises to the surface above the subtler forms of daily class relations in the village. Our discussion on rembug desa, though exceptional to our knowledge, offers a new understanding of how agricultural wages in rural Java are adjusted and how the relations between employers and workers shape the wage rates."

"Politically, at least in Java, the main enemies of “the masters of the countryside” are only “proletariat farmers” and the “fully-fledged proletariat.” “Semi-proletariat farmers” are barely vocal in the meetings since they have “something to lose,” and most of them are tied to patron landlord-capitalists."

29 Mei 2021

I.

Halo langit, semoga aku memiliki kesabaran dan kekuatan seluas dirimu.

II.

Meski terlihat sama, setiap helai daun dalam setiap dahan dan pohon memiliki bentuk dan arsitektur yang tak pernah sama.

III.

Kupikir, tanaman lebih baik daripada binatang, karena tumbuhan tak menghasilkan kotoran sebagaimana binatang. Kalau pun tumbuhan menghasilkan kotoran, bentuknya lebih bisa diterima. Namun kupikir lagi, menjadi binatang lebih baik daripada menjadi manusia, karena binatang naluri merusak dan melukainya tak semengerikan manusia. Tapi entahlah. Bukannya aku manusia, ha-ha.

Jumat, 28 Mei 2021

28 Mei 2021

 I.

Sebagai calon ibu, kewajibanku adalah memilihkan Bapak yang baik untuk anak-anakku nanti. Memiliki Bapak yang baik adalah hak bagi setiap anakku kelak.

II.

Sebagai orang yang nantinya akan mati, kewajibanku adalah mempersiapkan rumah yang baik di dunia abadi nanti.

III.

Pepatah, "Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui" kupikir bisa kuterapkan juga. Pada waktu yang sama tapi dengan niat yang berbeda.

Rabu, 26 Mei 2021

Nyari Sumber di Internet

Sengaja ngulas buku lama tahun 1998 ini dari Book Reviews-nya Research on Social Work Practice, buat ningkatin semangat nulis lagi, ha-ha. Sebab si Gary Holden ngulas ini secara pendek dan to the point.

Intinya, menulis dari bahan internet itu tantangannya sama kayak misal kamu moto. Ketika kamu akam memotret Jogja semisal, akankah kamu akan momotretnya dari matamu sendiri ketika berdiri di dekat tugu, atau dari mata burung yang terbang di langit senja titik Nol KM, atau dari lensa mata ikan yang ada di Tamansari. Pertanyaannya, bagaimana meng-capture sesuatu yang besar, dengan fenomena yang bergerak konstan tersebut jadi suatu foto yang menarik.


Nah, mengapa pekerja sosial ini peduli dengan bahan-bahan yang ada di internet untuk penelitiannya? Jawabannya, sebagaimana kita tahu, anak bernama WWW telah tumbuh sedemikian rupa menjadi ensiklopedi dunia, semua pertanyaan hampir dapat dijawabnya. Dan saat ini internet menjadi bagian kehidupan sosial, budaya, pekerja sosial, dan lingkungan.

Internet berfungsi sebagai perpustakaan virtual yang berguna bagi para pekerja sosial untuk pengembangan profesional, jaringan, menemukan sumber, advokasi, penggalangan dana, hingga berhubungan dengan klien.

Meski begitu, yang kurang di internet adalah terkait mekanisme peer dan editorial review, makanya ketika menggunakan sebuah sumber di internet mesti yakin dulu informasi tersebut didapat darimana, bagaimana, dll; kalau enggak, mending gunakan usaha dan pendekatan tradisional. Gitu sih.

Holden, G. (1999). Book Review: The Social Worker’s Internet Handbook. Research on Social Work Practice, 9(3), 383–384.

doi: 10.1177/104973159900900311

Link: https://ur.booksc.org/book/38122422/58109e

26 Mei 2021

 "Profesi editormu diragukan kalau membenarkan kalimat dan paragraf saja masih salah."

Senin, 24 Mei 2021

Cita-Cita Pagi

I.

Hidup Mulia, Mati Mulia

II.

Prof. Isma Swastiningrum, Ph.D semoga tak terlalu tinggi kucita-citakan

III.

Pada sebuah makam tertulis: "Menolong itu tanpa tapi."

 

Sawitsari, 24 Mei 2021