Sabtu, 03 Februari 2018

Sepuluh Kutipan #16

Saya ambil dari status WA, FB, web:

1.
Via Akmalia Status
2.
Via Apri Status
3.
Via Wikipedia on Chomsky
4.
Via Cindy Status
5.
Via Mas Angga Status
6.
Via Tamara Status

7.
Via Faris Status
8.
Via Rohim Status
9.
Via Jevi Status
10.
Via Isma Status


Kamis, 01 Februari 2018

Hanya Dia dan Dia Saja

Well, you know or don't you kennet or haven't I told you every telling has a taling and that's the he and the she of it.’ ('Baiklah, Anda tahu atau tidak, Anda paham atau tidak, saya katakan kepada Anda bahwa setiap ceramah memiliki pertengkaran dan hanya dia dan dia saja.') --James Joyce: Finnegan's Wake, p. 213

Pernahkah engkau merasakan apa yang dikatakan Joyce di atas? Aku sering. Yang bertengkar biasanya adalah dia yang paling paham, yang paling tahu, yang paling expert; orang itu akan bertemu dengan sesamanya. Kemudian berdebat. Jika topik yang mereka bahas sesuai dengan apa yang kita minati, niscaya akan muncul iri positif. Semacam umpatan: holy shit! why i can't be like her/him!?

Di kondisi seperti itulah kebodohan terasa dilucuti terang-terangan--tapi orang lain tak melihatnya. Hanya diri yang merasa. Berbagai peryataan reflektif muncul: kenapa argumennya begitu mudah dipahami? Kenapa strukturnya begitu runtut? Bagaimana cara dia belajar? Bagaimana agar aku bisa sepertiya? Sampai yang paling membuat sebal: kenapa cuma itu-itu aja yang mbacot di perkara ini!? 

Jika itu terjadi, itu adalah masa bahwa ilmu patut untuk diirikan penguasaannya.  Aku pernah membayangkan, andai aku, Karl Marx, George Orwell, Ayn Rand, Hayek, Nietszche, Pramoedya, berada dalam satu ruangan; apa yang membedakan kita semua dalam berkarya? Semua jawaban, aku pikir ada di "daya tahan dalam menekuni sesuatu". 

Rabu, 31 Januari 2018

Wartawan

Rabu (24/01/2018), di sebuah bus, ada seorang bapak yang bertanya tentang cita-cita saya, “Mbak, setelah lulus ingin jadi apa?”. Saya menjawab, “Jadi wartawan, Pak.” Lalu, bapak setengah baya berjaket kulit hitam itupun menasehati saya. Pertama, wartawan itu banyak musuhnya. Kedua, wartawan segala harus bisa, ilmunya harus luas, dan siap ditempatkan (alih-alih dibuang) dimanapun. Ketiga, semua perusahaan media cetak milik swasta, tidak ada yang negeri, dan tak ada jaminan di hari tua. Dan saya berpikir ulang. Kata-kata tersebut semakin membuat tubuh saya yang kecil menjadi semakin kecil; tapi tak menyurutkan apapun.

Jumat, 05 Januari 2018

Mengenang Kakung Yon Koeswoyo

2018 seperti bukan tahun yang ramah bagi dunia permusikan Indonesia. Setidaknya ada dua keping duka yang saya baca sampai tanggal 5 Januari ini: 1) Edisi cetak Rolling Stone Indonesia bubar; 2) Musisi idola bapak, Yon Koeswoyo meninggal. Saya punya kenangan pribadi yang cukup dalam dengan grup musik Koes Plus. Sejak kecil, vokal Yon Koeswoyo yang unik, jernih, dan khas sering saya dengar.

***

Koes Plus adalah musik pertama yang kukukenal sebelum kumengenal karya musik-musik lain saat kecil. Bapak sering memutarnya, entah di pagi hari, siang, atau malam. Lewat kaset atau dia mainkan sendiri. Entah yang liriknya Indonesia, Jawa, atau yang "Why Do You Love Me". Tak hanya Bapak, keluarga besar Bapak di Bojonegoro pun pecinta Koes Plus, lagu-lagu mereka jadi lagu wajib yang dinyanyikan saat kumpul besar keluarga, sembari bapak/Lik Yon/Lik Heri memainkan organ. Sungguh, mereka seperti Bambang Sunaryo Bersaudara. 

Suara Mbah Kung Yon bagiku ada ciri khas sendiri (magis, jernih, berkarakter) yang memberi ruang spesial di bagian sub musikku, Cak Nun menyebutnya sebagai unikum. "Unikum membuat seseorang yang memilikinya berposisi sebagai fenomena. Ia memiliki dan menciptakan kursinya sendiri di dalam jiwa kita." Aku sepakat jika Koes Plus disebut sebagai musisi kehidupan, bukan musisi bentukan ala studio, textbooks, dan skolastik. 

Lagu mereka sangat merakyat, mudah dicerna, nada yang oke punya, suara jernih, dan selalu menghadirkan perasaan yang sosial, guyub, dan meski mellow tetap trasenden, seperti di video "Cintamu Telah Berlalu" karya the head brothe of Koes Bersaudara, Tonny Koeswoyo ini--yang karya musiknya udah ribuan. Koes Plus membalut simbol-simbol di dalam lirik menjadi begitu egaliter dan semua menerimanya, seperti pada lagu "Bunga di Tepi Jalan" yang bermaksud untuk tak hanya mengentas derita bunga-bunga yang bekerja di pinggir jalan, tapi sekaligus memuliakannya di lirik "biarlah kan ku ambil sebagai penghias rumahku". 

Koes Plus sekarang hanya menyisakan Mbah Kung Yok Koeswoyo. Bahagia dulu pernah melihat konsernya sekali pas acara dies natalis Akamigas Cepu. Dia sudah tua, tapi semangatnya tetaplah semangat kehidupan. Koes Plus telah memposisikan diri untuk mengalir dan hidup bersama "mereka", semua lapisan kelas.

***

Salah satu Pop Jawa yang sering bapak putar di rumah

wong arep, ngundhuh klopo, ora biso menek
Mbok ojo, kondo kondo, klapane elek
Sore sore, lungguh ngebuk, do mangan tempe
Ojo ngece, omah gubuk omahe dewe 


RIP Kakung Yoon... Terima kasih suara kakung udah nemeni saya sejak kecil. Lewat lagu-lagu yang sering bapak putar. Di Jogja pun saya selalu menantikan konser reinkarnasi Koes Plus lain di Gardena lantai 4.. Atau gank bapak-bapak pas konser kecil di Kecamatan Gondokusuman yang joget-joget dan nyanyi-nyayi nyanyiin lagu Koes Plus.

Sabtu, 30 Desember 2017

Berbicara Angkatan dan Persoalan Generasi Iyig-Iyig

"Sama-sama angkatan 2011. Sama-sama SMA 1 beda kota. Sama-sama IPA 3. Sama-sama suram ketika SMP. Sama-sama kecil. Sama-sama fisika. Hasyah." (Status saya yang tidak jelas)

Saat kau tua dan tertinggal dari sekelilingmu, orang yang paling dekat secara personal terkadang adalah teman seangkatan. Semisal saya menyebut diri sebagai angkatan 1993 (angkatan yang lahir dari tanggal 1 Januari-31 Desember 1993). Ketika saya bertemu dengan teman seangkatan rasanya ada motivasi tersendiri, tanpa sekat, barrier, dan tak ada beban saya harus manggil kak atau dek atau apalah. Bagi saya yang lahir sebelum atau sesudah 1993 punya cerita dan kisah sendiri. 

Tonggak sejarah kadang juga dinamai berdasarkan angkatan. Bukan angkatan lahir memang, tapi angkatan kapan suatu karya besar muncul. Seperti dalam sastra ada periodesasi angkatan: Pujangga Lama, Balai Pustaka, Pujangga Baru, 60, 80, sampai angkatan cybernetika. Angkatan dijadikan permulaan di mana inovasi-inovasi segar memulai sejarahnya yang baru. Yang lebih kontekstual dan sesuai zaman. Bahkan saya pernah baca pernyataan Eka Kurniawan yang dengan PD menyiratkan, "generasi sastra terbaik adalah angkatan saya". Penulis angkatan yang sezamannya.

Diksi "angkatan" lekat dengan dunia permiliteran. Angkatan bisa diartikan pasukan; bala tentara; atau sederhananya suatu kelompok/gank. Kayak Angkatan Laut, Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Kerja. Angkatan di sini bermakna pula sekelompok manusia yang memiliki kesamaan nasib, kesamaan zaman, kesamaan blok, sampai kesamaan persoalan. 

Di balik angkatan yang sukses, saya yakin ada penggerak sejarah yang mengawali. Yang datang dengan segenap kemampuan par exellence-nya. Membangunkan segenap ledakan yang dimiliki pada setiap manusia. Membangunkan harimau yang tertidur pulas pada diri tiap individu. Dan di balik angkatan yang gagal, ada sesuatu yang meninabobokan. Bukan inovasi yang mendatangi angkatan, tapi angkatan yang mendatangi inovasi. 

Meski begitu, "angkatan" juga menimbulkan mata lembingnya tersendiri. Sepengalaman saya di organisasi yang mengaku egaliter, konsep angkatan dianggap menciptakan kelas baru. Kerja-kerja menjadi tersekat dan tak bisa melebur satu sama lain. Salah seorang ketua saya waktu itu mencoba menghapus konsep "angkatan" yang tumbuh mengakar dari demisioner (kawan-kawan post). Sayangnya, konsep yang ia bangun tak terteruskan ke periode kepengurusan selanjutnya, karena mindset kesamaan nasib dan semangat korsa angkatan susah dihilangkan. Organisasi kembali lagi pada sistem angkatan untuk pembagian kerja. Padahal kapasitas seseorang tak bisa diukur dari angkatan. Kadang ada anggota baru yang kapasitasnya melebihi anggota lama. Di sini konsep "angkatan" menjadi tereduksi dan tak relevan.

Apa yang dibangun dari semangat angkatan? Anggap sekarang kita tengah berada pada masa "generasi iyig-iyig"; angkatan yang sedikit-sedikit berisik membuat status. Lalu, apa yang salah? Bukankah status juga semgangat generasi yang dibawa angkatan hari ini? Angkatan neo-teknologi. Kenapa banyak orang memfitnah mereka sebagai generasi micin? Yang setiap hari lebih banyak menatap layar, daripada menatap buku. Seolah generasi gelap yang sulit menghasilkan sesuatu. 

Saya hanya percaya, setiap angkatan genius pada zamannya. Cintailah zaman, dan zaman niscaya juga akan mencintaimu. Semua memang mengalir seperti air, tapi kita punya pilihan untuk mengalirkannya ke aliran yang lebih bermakna. Seperti yang dikatakan Ayn Rand: di suatu zaman pasti ada orang yang mengambil langkah pertama ke sebuah jalan baru. Mereka tidak datang dengan apapun, kecuali visi besar mereka. Yohhhhh...

#ijek kuat

Senin, 25 Desember 2017

SK Trimurti: Tak Punya Cita-Cita untuk Diri Sendiri

"Saya tidak punya cita-cita untuk diri saya sendiri. Cita-cita saya untuk Indonesia, agar Indonesia menjadi negeri yang makmur." Surastri Karma Trimurti

 Foto beliau saya tempel di kamar kos saya sebagai pengingat: saya ingin menjadi perempuan baja, sama sepertinya. Fisiknya ringkih, tapi pikirannya besar. SK memulai debutnya sejak remaja. Hidup di banyak jaman dari presiden Soekarno hingga SBY. Menteri perempuan pertama, menjabat sebagai Menteri Perburuhan (Menteri Tenaga kerja). Menjadi jurnalis dan kolumnis di berbagai koran dan majalah: Fikiran Ra'jat; Sinar Selatan; Pesat (Mingguan politik populer, suara rakjat merdeka); Api Kartini; dan Mawas Diri. Dipenjara karena tulisan. Tak mau dikasihani, karena baginya segenap penderitaan adalah konsekuensi dari perjuangan. "Saya tidak senang yang lunak-lunak itu".
Mendirikan Gerakan Wanita Istri Sedar (Gerwis), cikal bakal Gerawan Wanita Indonesia (Gerwani). Lulusan ekonomi UI, pernah ke Yugoslavia untuk belajar workers management. Meski jadi menteri, tak malu pakai sandal jepit, setia memakai kebaya. Hidup sederhana. Meski di dalam matanya yang merasuki mata saya, SK sebelas dua belas dengan Pram: berkemauan keras, mandiri, dan keras kepala.
Dia tetap revolusioner meski punya suami dan anak. Malah berjuang bersama dengan suami, Sayuti Melik. Meski akhirnya mereka berpisah, karena SK tak mau dimadu. SK juga sadar dirinya terlalu sibuk, sedang Sayuti butuh perempuan yang selalu bisa mengasuhnya. Perkawinan ibarat kongsi. Simple saja bagi dia.
Aktif membaca, aktif di gerakan. SK menyumbangkan segenap waktu dan pengabdiannya ke bidang yang tidak kalah dengan pria. Dia di perburuhan, pendidikan, politik aktivisme, pejuang literasi. Bukan melulu di perempuan.

Ia telah tiada. Masih banyak hal yang ingin dia perbuat.  Menyatukan kekuatan revolusioner. Pesan SK di hari tuanya: Supaya meneruskan perjuangan ini supaya Indonesia menjadi masyarakat yang adil dan makmur. Bunyinya:

"Kami bukanlah pendiri bangunan candi
Kami hanyalah pengangkut batu
Kami adalah angkatan yang harus punah
agar dari kubur kami bangkit
Angakatan  yang lebih kuat..."

Minggu, 22 Oktober 2017

Doaku Hari Ini

 Ya Allah, jagalah kami dari sikap putus asa, sedih, kosong, dan tak melakukan apa-apa. Sebab jika itu terjadi, itu adalah waktu kehancuran kami. Aamiin.