Jumat, 30 Desember 2016

Yang Sebentar Lagi Patah

Aku telah berusaha sekuat pikiran untuk menyamakan frekuensi otak kita yang jarang bertemu. Juga hatiku yang kadang kupautkan entah di mana dalam bagian tubuh dan rohmu. Di lain sisi, di lain tempat, aku hanya menjadi bayanganmu yang lain. Aku begitu mencontohmu terlalu banyak. Dalam konteks mengasmarai, menjadi duplikat adalah ritus yang sangat menyenangkan. Dari sana aku merasa, aku tak sendiri. Namun, dari sana aku juga merasa menjadi orang yang bodoh. Hanya orang bodoh yang mencontek orang lain. Ya, kebodohan yang menantang. Ah, tidak. Kita tak pernah sama, tak pernah sama.

Desember sebentar lagi patah. 2016 akan menjadi jompo dan mati. Kesedihan dan kegembiraan kemarin hanya menjadi pulasan saja, yang memberi corak buku lukisan hidupku, hidupmu. Kamu semakin tua, aku juga. Salah satu yang kusuka dari kamu, meski kamu tua kamu tak pernah merasa tua. Hidup bagimu hanya seperti permainan yang lucu yang harusnya lebih banyak tertawa (to laugh is to life profoundly, kata Kundera). Kamu sadar cara bermain dan kamu tahu cara berposisi. Aku tak perlu lagi mengkhawatirkanmu menghadapi apapun. Kamu juga tak perlu mengkhawatirkanku. Kita sama-sama bebas dan soliter bukan?

Sekarang, saat semua perlahan pergi... Ada sakit yang sangat pada jaring-jaring persekawanan yang bersama kita ciptakan dengan yang lian. Bersamamu dan bersama mereka. Aku rindu lagi ketika melihat mata kalian yang pagi, suara kalian yang siang, dan keteduhan kalian yang malam yang tiba-tiba tak ada lagi. Jujur, aku shock di hari itu. Mau tumbang aku rasanya, sebentar lagi putus. Lagi-lagi kamu menjadi penyanggaku yang sangat baik. Kamu telah memberiku contoh terlalu banyak bagaimana menjadi seorang ubermensch. 

Jika di akhir waktu, aku gagal membuatmu mencintaiku... kamu pergi dan memiliki hidup yang baru. Tak peduli gita kasih Otis Redding I've Been Loving You Too Long... Aku tak menyesal. Aku telah memiliki dirimu dalam diriku.

Minggu, 18 Desember 2016

Apalagi yang Bermakna?

Aku akan jadi perempuan yang sehat, ceria, pintar, dan tumbuh sedikit gemuk. Hidup dari sawah, kebun, kolam, dan peternakan bersama pria yang suka guyon, sabar, dan menyayangi anak-anak, hewan-hewan, tanaman-tanaman dengan tulus.

Rabu, 30 November 2016

“Bangun Perjuangan dan Solidaritas untuk Kedaulatan Rakyat Indonesia”

Lahirnya MEA, Undang-Undang No.1/1967 tentang Penanaman Modal Asing, Inpres No. 1 tahun 2015 tentang Percepatan Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Inpres No. 4 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pusat di Badan Koordinasi Penanaman Modal, PP 78 tahun 2015 tentang Pengupahan Buruh, kurikulum KKNI, menjadi sederet bukti bahwa pemerintah dininabobokan oleh kepentingan korporasi dan digembluk tahi dunia bernama pasar bebas. Modal produksi diprivatisasi oleh maling-maling besar lewat wajah-wajah kapitalisme yang beraneka ragam, yang hanya melambungkan kesejahteraan cukong dalam pertarungan modal nasional dan internasional. Buntutnya, penggusuran, perampasan, pemiskinan, penggadaian kekayaan negara berupa tanah, air, dan udara terjadi oleh tangan-tangan investor. Yang mana realita ini sangat merugikan dan menindas rakyat.
 
Titik-titik pembangunan infrastuktur, meliputi: bandar udara, pelabuhan, perluasan area perkebunan kelapa sawit, waduk, jalan tol, jalur kereta api, serta puluhan kawasan industri baru dan kawasan ekonomi khusus tak lain berdampak besar pada sektor agraria. Semua diarahkan pada industrialisasi yang menyebarkan penyakit ketergantungan. Lebih banyak mengkonsumsi daripada produksi. Ini tak lain dari dampak masterplan nawacita rezim Jokowi-JK dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019. Kebijakan-kebijakan pembangunan di atas tak diimbangi  dengan kebijakan yang pro rakyat. Alih-alih mengimbangi, negara malah menggunakan kekuatan militer dan hukumnya untuk memuluskan jalan korporasi dan menindas rakyat kecil. Akibatnya, penggusuran lahan produktif petani yang terjadi di Kulon Progo, Sukamulya, Langkat, dan daerah lain menciptakan aksi solidaritas membela tanah dan kedaulatan mereka.

Ketika alat produksi dirampas dan tanah dikuasai korporasi, rakyat beralih kerja menjadi buruh atau menuju pekerjaan-pekerjaan lumpen di sektor informal. Di mana penghasilan mereka hanya cukup untuk hidup subsisten sehari. Semisal di sektor perburuhan Jogja, UMK buruh hanya naik 8,25%, jauh sesuai dari kebutuhan buruh hari ini. Juga nasib Pedagang Kaki Lima dan nelayan yang musti berhadapan dengan kebijakan-hukum yang mencekik jaring hidup mereka. Pendidikan yang idealnya mengkonstruk pemikiran kritis cum pro rakyat, ironisnya, semakin tinggi pendidikan pejabat malah semakin tercerabut dari akar rumput. Para intelek pembuat kebijakan, sifatnya hanya sebatas berputar pada kepentingan pribadi dan golongan,  tanpa ‘visi-misi’ yang jelas untuk rakyat. 

Ditambah lagi di Generasi Status seperti sekarang, semakin banyaknya orang yang menderita superhero syndrome. Di mana setiap orang ingin menjadi artis dan pahlawan yang ingin dipuja-puja, tapi minim konstribusinya untuk hajat rakyat. Hanya berkesah ketika kalah dan lelah. Semacam menjadi aktor-aktor fabel dan lintah yang memunggungi rakyat. Maka, ketika eksistensi individualis dijunjung tinggi, dan buruh serta petani tidak memiliki kawan lagi, maka yang bertanggung jawab besar akan hidup para petani, buruh serta kaum marjinal adalah pemuda. Pemuda merupakan subjek yang memiliki kesadaran bertindak, berjiwa sosial (volkgiest), dan mengubah keadaan. Ia membawa misi kesejahteraan, sebagai kerja kita bersama. Solidaritas pemuda adalah proses kesadaran dan sikap konsistennya membela rakyat. Untuk itu, kami para pemuda dari Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Yogyakarta, menuntut:
  • Pendidikan murah untuk rakyat
  • Naikkan upah buruh
  • Cabut PP 78 Tahun 2015
  • Tolak investasi yang merugikan rakyat
  • Cabut UU PMA
  •  Wujudkan reforma agraria sejati
  • Hentikan represifitas aparat terhadap petani Sukamulya (Majalengka) dan Langkat (Sumatera)

Viva, diva, merdeka Rakyat!!!                                

Tugu Jogja, 28 November 2016

Rabu, 26 Oktober 2016

Ruang Gelap

Usaha untuk lepas dari normatifitas rasanya hanya membuang-buang energi. Ceramah perubahan menyuruh dari negatif ke positif, dari jahat ke baik, dari bajingan menuju sholeh rasanya akan mengabadi diserukan. Bahkan oleh lagu-lagu folk, sastra-sastra kiri, sampai filsafat kritis sekalipun. Semua harus dimaknai secara linier pada arah kemajuan, pada sesuatu yang menggugah, meskipun itu kritik. Semua orang dasarnya hanya memburu terang dan tenang, tak peduli dia ateis, agamis, anarkis, sosialis, komunis, atau kapitalis. Dimana-mana orang-orang memburu guna dan manfaat, kembalinya pasti ke kepentingan dirinya lagi. Hal haram adalah semua hal yang tak berguna, hal yang tak menunjang kepentingan. Di luar misi kepentingan adalah jalang. Pantas dikebiri, dipermalukan, diserapah, ditakut-takuti, dikutuk, diinjak-injak, dan di satu sisi juga mensucikan yang lain. Tai yang sok suci atau aku yang sok antipati yang kehabisan pil penggugah.

Aku tengah bermimpi berada di ruang yang bebas dengan nilai. Ruang yang bukan serupa manusia. Aku mencari ruang baru itu. Dan, tak ada yang bisa kutemui di sana, kecuali aku tak tahu apa-apa. Aku lari… lagi-lagi aku terjebak pada terang. Pada ruh yang dicari orang-orang. Di sana aku pasti dikucilkan. Mereka tak menerima gelap yang sepertiku. Aku ingin memberontak, lari, lari, lari…

Hai terang. Benar kataku, anomali hanya quote-quote bullshit. Usaha untuk lepas dari normatifitas hanyalah kesia-siaan.

Minggu, 16 Oktober 2016

Kasian

kondisi 1:
dihajar  disiplin pribadi
dadakan  sejak dulu
membuat susah sendiri
serasa sakit mental
di simpang sepuluh
tengah-tengah iya, tengah-tengah tidak

kondisi 2:
tak mau meninggalkan beban yang telah terbuntal
banyak meninggalkan ikhwal-ikhwal sentral
bersulur gemulai wajah-wajah di persimpangan sepuluh
menarik tanggung jawab, seperti menarik hutang
tak selesai dengan diri, itu resep agar tercekik
tidak butuh istirahat panjang
atau liburan

kondisi 3:
dimanakah Keluarga Air tinggal?
bolehkah saya dari Keluarga Api berkunjung?
melawan kecurigaan, ketakutan, kesakitan
mencari merdeka
meski saya harus padam

Jogja, 16 Oktober 2016

Selasa, 04 Oktober 2016

Hujan dan Hitam

I
Sudah seberapa langkah hujan menemanimu membangun rumah yang ingin kamu bangun dengan sungguh-sungguh? Kamu ingin menyerah ya? Jangan. Sebentar lagi reda. 

Namun kenapa kau kebacut bunuh diri?
Bukankah aku dan kamu suka hujan?

II
Bolehkah aku menanyakan pertanyaanmu: “Dalam mejikuhibiniu, di mana kah posisi hitam?” Atau hitam sengaja dihilangkan?
Hei, hitam tak sama dengan gelap, gelap tak sama dengan malam, malam tak sama dengan hitam. Dalam malam aku masih bisa melihat. Dalam gelap aku masih mampu mendengar. Dalam hitam tak ada yang kutemui selain, (mungkin) kedalaman.

Apakah itu berarti mati?
Bukankah kamu dan aku suka hitam?

Jogja, 4 Oktober 2016

Selasa, 27 September 2016

Cerita Tentang Tigapagi

Orang lain mengingat orang lain di luar mereka sesuka mereka. Pun ketika saya mengingat Tigapagi, saya tidak ingin demikian. Perkenalan pertama saya dengan grup alternatif asal Bandung ini pada suatu hari (9/2) di sebuah rumah baca di Solo. Saat itu malam, saya dan  kawan saya yang sangat baik hati itu tengah beristirahat seusai kehujanan sejak siang. Kami berdua sepedahan mengelilingi beberapa tempat di Solo, malam itu juga gerimis, kawan saya bercerita dan mengenalkan saya dengan lagu Tigapagi, dia menyetel playlist Tigapagi dari netbook-nya. Mendengarnya pertama saya langsung tertarik. Ada campuran nuansa musik etnik-etnik Sunda.

Saat kembali ke Jogja, saya download album Roekmana’s Repertoire Tigapagi dari You Tube. Saya dengarkan di kos. Usai mendengarkan, jiwa liar saya yang sesekali (juga) misantropi ini bertanya: “Siapa Tigapagi? Enak sekali dia memusingkanku dengan lagunya? Memang dia siapa?” Jujur, saya yang selalu menolak ide-ide kerumunan lebih menyukai musik-musik indie dengan lirik-lirik berat daripada musik berlirik sekali lupa—yang isinya cuma mengajak orang galau, baper, egois, individualis. Musik yang merusak kesehatan jiwa, kerajaan semut yang hidup di bawah tanah pun pasti akan terbahak-bahak menertawakan lagu-lagu manusia yang seperti itu.

Minggu, 25 September 2016: Malam itu gerimis jatuh satu-satu di pelataran Jogja, hari ini iklim tengah ababil. Semoga musim tak ikut-ikutan. Pohon-pohon di Jogja banyak yang ditebang, diganti dengan hotel dan mall-mall. Malam itu saya asyik mencatat di kos, tak ingin kemana-mana. Namun, kalender di dinding yang angkanya sudah saya lingkari mengingatkan saya dengan tulisan: Tigapagi @ PKKH UGM. Pun di papan tulis kecil saya tertulis intinya: bisa main gitar kayak Tigapagi DL 12 Agustus 2016! Dan sampai sekarang saya belum bisa main gitar. 

Jam hampir menunjukkan pukul delapan malam, saya hampir sesak nafas, sebenarnya saya ingin tidak nonton. Kiriman saya menipis, sedang pengeluaran tak terduga saya akhir-akhir ini membengkak. Beratnya menjadi mahasiswa miskin, tiket 40 ribu bisa untuk makan sampai empat  hari. Ini tanggal tua, kalau uang habis saya makan apa? 

Dan lirik: “…berharap pada tangan hampa dan kaki telanjang. Mungkin hancur ragaku, namun tanpa buta hati.” Seperti memberi keyakinan pada saya. Yah, mungkin besok saya akan lapar, tapi setidaknya saya bisa melihat apa yang menjadi impian saya sejak lama: menonton konser Tigapagi! Saya putus keraguan saya, ambil sepeda di parkiran kos dan ngontel ke PKKH UGM gerimis-gerimis sendirian. 

Malam itu di sebuah jalan juga saya lihat ada bendera lelayu, ada orang yang meninggal. Saya ingat lagu Tigapagi feat ERK yang Pasir. Saya pernah di kos ngunci pintu, terus menyanyikan lagu ini sambil menghayatinya dalam sekali. Saya memutarnya berkali-kali, dengan lebay saya mengatakan saya berderai-derai… 

Pasir, lelah mengukir. Terukir tersingkir. Pasir… tak terukur… 

Mendengar lagu ini saya seolah bisa mengimajinasikan apa itu samsara. Ketika saya merasa kosong dan rasanya begitu nikmat. Gie yang pernah menulis: “kita tak pernah menanam apa-apa, kita tak kehilangan apa-apa” memang benar. Mungkin pesan ini juga yang coba dibangun dalam lagu Tangan Hampa Kaki Telanjang (THKT). Saya sering membayangkan manusia itu lebih kecil dari pasir, lebih kecil dari debu. Manusia tidak ada apa-apanya tapi kemakinya luar biasa. Juga seperti pasir, tak bisa dihitung banyaknya.. Perlahan tersungkur, tersingkir..

Sampai di PKKH, saya lalu membeli tiket OTS. Masuk dikasi tiket dan dicap tangan. Banyak band yang tampil, ada yang tidak asing lainnya seperti Kelompok Penerbang Roket dari Jakarta. Grup lain yang tampil ada ZZUF, Talking Coasty, dan Sirati Dharma. Tajuk acara ini Stomp Out Fest UGM, entah itu agenda apa saya tidak tahu. Panggung yang dihadirkan panitia pun serasa hitam putih, tak ada semiotika apapun yang bisa saya baca di sana. Identitas yang mengadakan acara tak sampai di saya. Hiasannya cuma background hitam, itu saja, sudah. Dalam hati mbatin: cuma sampai sanakah jangkauan seninya? Entah, atau kosepnya memang begitu.

Di sana yang nonton sudah berkumpul banyak. Gedung itu panggungnya ada tiga level. Level pertama panggung utama, level kedua kosong, level ketiga buat penonton. Saya agak terganggu dengan penonton-penonton yang maju di level kedua yang panggungnya kecil dan menghalangi penonton yang kebanyakan di level ketiga. Saya lalu naik ke lantai dua PKKH. Akhirnya nonton di atas yang sepi, gelap, dan agak jauh.

Yang saya nanti-nanti hanya Tigapagi. Dan, kegembiraan yang tak sanggup saya tutupi, senang rasanya ketika pukul sekitar 21:50 mereka tampil. Akhirnya bisa lihat Sigit Agung Pramudita, Eko Sakti Oktavianto, dan Prima Dian Febrianto di panggung secara langsung, juga lima personil tambahan lainya di biola,  violin, bass, flute, sampai kayaknya ada juga yang bawa kecapi Sunda. Sigit dengan rambutnya yang dikuncir setengah ke belakang, Eko yang main gitar sambil kaki kirinya ditaruh di atas lutut—sangat santai, juga Ewo dengan kacamatanya, pakaian mereka sama-sama hitam. Mereka konser sambil duduk, sangat elegan. Mata langsung segar. Apalagi saat dinyanyikan lagu pertama THKT. Mencoba merasakan. Saya yang hampir selalu dihantui akan makna dan kesan sering bertanya: bagaimana mengukur suatu “kedalaman”? Suatu yang dalam seni rasa disepakati sebagai sesuatu yang sublim?

Ini lagu-lagu yang Tigapagi nyanyikan:
  •    Tangan Hampa Kaki Telanjang (everlasting…)
  •    Batu Tua (lagu favorit saya, selalu merasa autentik kalau dengar lagu ini)
  •    Alang-Alang (rampas semuanya, rampas bedebah!) 
  •  Sembojan  (buat ibu-ibu yang berjuang mempertahankan tanah di Kulonprogo kata Sigit, #sweet)
  •  Tertidur (kosong)
  • The Way (“busy, busy, busy, we’re just too busy”)
Aa Sigit bilang ini konser pertama mereka di Jogja. Yah, selamat datang di Jogja kakak-kakak! Namun konser mereka kali ini saya rasakan begitu sebentar. Belum puas saya menonton. Saya belum mendegarkan lagu-lagu favorit saya yang lain dinyanyikan: Erika, S(M)UNDA, Yes We Were Lost In Our Home Town, dan saudara-saudaranya.

Sekarang ini, masa yang isinya hanya pengagungan diri tanpa ada fungsi dan kontribusi apa-apa untuk dunia, Tigapagi seperti oasis tersendiri. Ada satu garis yang sama setiap kali saya melihat penyanyi-penyanyi favorit saya berada di depan panggung: menunduk dalam, semakin dalam, dan semakin dalam. Mata konsentrasi penuh. Entah darimana koreo itu tercipta.

Terakhir, saya ingin menyampaikan kegelisahan seorang kawan saya mengenai lagu-lagu folk indie alternatif sekarang, kalau diperhatikan beberapa kelompok karyanya banyak yang sama. Entah “kesamaan” dari segi lirik sampai nada. Semoga, Tigapagi tak pernah sama. Elemen musik sekecil apapun sampai kata arbiter sekata apapun akan memberi sentuhan berbeda. Terus berkarya ya! Tetap menjadi jingga meski lelah kau mencoba…