Jumat, 26 Agustus 2016

On Naked Loo

On Naked Loo 
 
as a refugee, nothing the wail place except in loo
my awe bust be a bow
no monsoon, no treachery, no fog, no distress
except the totem that out from your body
or your bastard filth abated by water        
and your garbage syringes disgust
wish, wash, and you will be clean

Jogja, 26 August 2016

--

A Bowl Rue

street saving election agony
ripple and hovering in the air
into your home, include your fate
temptatation swells in your nap
amulet copes deftly, lauds humanity
the crude intention utters on captivity
exhilarate by fist
intimate the grin chill, walks awkward
human rake their own malice
who that didn’t to care own self?

Jogja, 26 August 2016
--

The Bullet Flee 
“tranquil dear…” said the whore to her son
her stomach more big like basin back on her cloth
her womb ration the vormit, her thigh be nut in river town
she waits a man as ash to fill her dish
in this city, streets trying suicide, abduct the whore’s attention
dark trying blaspheme to interest the god’s attention
“how long?” cried the whore
city still lives

Jogja, 26 August 2016

--
Fornlorn Lane
can you hear the torrent howl?
I wandered around the wheel everyday
a moment
I saw canine breed maracle
her rioutous barked the havoc
saw puppy hurling the clamour
retaliation in starve
can you feel the hungry?
as a witness the duty recurrent
government just give us sheer remain
despite you toss recurrent
just rehearse on feast
then, can God give you all?
people said: everything acquired from Him
He brings joyus
All soveregnty
I am hesistant
He also brings agony, foul, doom
─[just little excerpt, much more]
further goverment
demolition the gait lane
we are their heir

Jogja, 26 August 2016

Jumat, 01 Juli 2016

Alen

GUYUR hujan mengenai genteng-genteng berwarna coklat. Hujan masih deras. Saya masih sendirian menggigil di pinggir jalan menanti angkot yang hendak mengantar saya ke kampus.  Dengan gigi gemeletuk, saya ingat Bapa di Wamena pernah bilang bangunan dan pohon-pohon hanya mandi ketika hujan. Bapa juga pernah bercerita tentang kesetiaan halilintar yang tak pernah mendahului kilat. 
 
Angkot warna abu-abu melintas, saya naik. Angkot hari itu lumayan penuh, hanya tersisa satu tempat duduk di pojok. Saya duduk di sana berdekatan dengan seorang perempuan berkulit putih yang dari penampilannya mirip iklan handbody di TV. Perempuan itu nampak tak nyaman di dekat saya. Ia mengambil tissue dalam tas dan menutup hidungnya. Kejadian ini sudah sering saya alami semenjak kedatangann saya di Yogyakarta sebulan yang lalu. Saat sampai di sini tiga kos-kosan menolak saya. Bahkan di beberapa tempat, jika mereka melihat manusia keriting dan berkulit hitam, mereka akan menghindar. Padahal saya tak pernah mengganggu mereka.

Beberapa menit kemudian dua orang yang duduk berhadapan dengan saya melakukan hal serupa perempuan putih itu, dengan tangan dan lengan bajunya. Lalu saya membaui diri saya sendiri, tak ada yang salah dengan bau saya. Saya pun hanya menunduk sambil memegang rambut gimbal saya yang sengaja saya potong cepak. 

Sampai di kelas, saya sering memilih duduk paling depan. Saya sudah janji pada Bapa akan jadi anak pintar dan pulang membangun sekolah di Papua. Saya ingin buktikan kalau tong tidak bodoh, tidak dungu. Di dekat saya duduk teman saya dari Bantul namaya Salistya, tapi saya panggil dia Sali. Dia kawan saya yang tak cerewet, tak seperti teman sekelas saya yang lain. Saya suka karena Sali baik, suka membantu saya, dan mau satu kelompok sama saya. Di antara banyak orang Jawa yang sering milih-milih dalam kerja kelompok. Yang pintar dengan yang pintar, yang putih sama yang putih.

Di kelas, saya satu-satunya manusia dari ras Melanesia. Ras yang memanjang dari Maluku sampai samudra pasifik bagian barat. Saya satu-satunya yang hitam. Dan siang ini saya senang, dosen Sejarah saya mirip Bapa di Wamena, nama dia Pak Samono. Tapi saya sedih ketika Pak Samono tak ramah pada saya. Saat itu di kelas saya bertanya pada Pak Sam:

“Bapa Sam, sa pu[1] daerah di Wamena. Di Papua kami tak butuh teori muluk-muluk Bapa. Merdeka dalam kehidupan sehari-hari bagi kitorang ialah Mama bebas menjual hasil pekarangan dan Papa bebas menangkap ikan. Bagi Bapa yang di Jawa bagaimana ei?” tanya saya.

“Pemuda, kau belajar Bahasa Indonesia yang benar dulu, baru kau ngomong!” Jawab Pak Sam kasar. Lalu, teman saya yang duduk di belakang saya dari Jawa menirukan kata-kata saya dengan logat yang saya punya dan seluruh kelas tertawa. 

BULAN kikuk di luar. Tadi siang adalah hari pertamaku mengajar sebagai dosen, setelah minggu yang lalu aku membiarkan kelas kosong. Serasa mengunyah lagi kenangan masa silam, aku begitu menggigil ketika di kelasku ada anak timur itu. Sudah ingin kulipat rapat-rapat kenangan yang silam, ia membongkar lagi lemari yang berdebu itu. Kenangan di tempat itu dan semua kompleksitas tentangnya. Wajahnya begitu mirip. Dendamku membuka, aku begitu takut, tapi aku juga begitu marah. Aku sering ingin menangis sendiri.

Aku berharap ayah sudah terbaring tenang. Ayahku seorang nasionalis yang dengan segenap hatinya menjaga tanah airnya sendiri. Ayahku yang nasionalismenya lebih kuat dari Soekarno. Namun, ayah menjadi korban saat perang pemekaran Provinsi Irian Jaya Tengah di Timika tahun 2003 silam. Kejadian itu begitu menyakitkan untukku. Mereka melakukan upacara bakar batu seratus kali pun tak akan menghapus lokus menyakitkan yang berbaris tertib di ingatan. Kejam, mendendam.

Ayah seorang intelejen. Waktu umurku enam tahun, aku sekeluarga dari Surabaya datang ke Sorong. Kami hidup di sana selama lima tahun. Ayah bekerja secara sembunyi-sembunyi laiknya orang biasa, yang paling biasa. Ia pergi ke sudut-sudut Papua yang jauh dari Sorong. Ayah memegang kuat apa yang diajarkan atasan: gagal dicaci maki, mati tak ada yang mencari. Setiap pulang yang ayah lakukan katanya riset, paginya melakukan apa yang menjadi catatannya semalam di buku kecil. Tak pulang berbulan-bulan. Kerap ayah berpesan: No, Samono, arek sinau sing sregep.

Saat dewasa, aku mulai paham apa yang dilakukan ayah. Aku juga sadar sepenuhnya politik sparatis yang terjadi di Papua tak hanya sekedar soal badut-badut Jakarta yang melakukan kekerasan struktural, tapi juga soal grand design AS, Inggris, Australia, Belanda, dan negara-negara NATO untuk menguasai Papua. Bangsat-bangsat itu melalui intelejennya melakukan operasi yang taktis, diplomatis, dan tertutup menguasai bumi emas itu.

Aku masih merasakan benar politik adu domba itu dengan mempolarisasi konflik-konflik Papua bersama ayah. Tindakan sparatis diruncingkan menjadi konflik sipil VS TNI. Penangkapan dan pembunuhan elite OPM dihiperbola sebagai tindakan represif pemerintah. 

Semakin jelas ketika aku membaca sebuah wacana ada 1500-an LSM dari Amerika Latin memberi dukungan Papua merdeka. Terlebih bangsat Melanesian Spherical Groove (MSG) yang benar-benar meracun Indonesia dalam suksesi pemisahan Papua dari Indonesia. Mereka mengumbar isu ras dimana orang-orang Papua mulai punah di tanah airnya sendiri. Dengan menghiperbola isu HIV/AIDS, para transmigran, dan lainnya.

Saat aku melanjutkan S3 di Amerika di sekitar tahun 2000-an USA membuat Rancangan Undang-undang tentang Foreign Relation Authorized Act (FRAA) yang di sana mengatur khusus tentang Papua yang nantinya digunakan sebagai landasan USA megintervensi kedaulatan Papua dari NKRI. Dan Freeport termasuk antek-anteknya. 

Ah, Alen, hidupmu Nak. Bapak tadi tak bermaksud kasar padamu. Bapak janji esok hari bapak akan mendidikmu jadi orang cerdas, melatihmu jadi pemimpin, dan mengembangkan semua bakatmu. Bukan karena bapak hendak menolongmu, tidak Nak, menolong hanya satu irama dengan kasihan. Tapi karena bapak manusia, sama sepertimu.  

BERSAMA Alen aku belajar menyemarakkan kata-kata baik. Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran Alen, tuan cendrawasih itu. Masih kuingat, Alen beberapa kali mengajakku ke padang ilalang dekat Bel Rusak (Belakang Rumah Sakit), bersama menikmati kemegahan waktu. Di sana, Alen sering membuatkanku rok sedengkul dari ilalang.

“Sali ini sali,” kata Alen dengan suara bass-nya selalu menyebut namaku dua kali setelah membuat rok ilalang tersebut. Hanya dia yang memanggilku Sali, mirip nama orang modern, Sally. Padahal sejak orok, emakku memanggil Salis. Aku menjawab dengan suara tenorku, “terima kasih.” Ya, hanya dua kata itu. Aku tak mau banyak bicara. Bagiku bicara itu cukup seperlunya. 

Di setiap perjumpaan kita, selalu yang banyak bicara adalah Alen. Dia yang mengisi kediamanku. Alen sering bercerita padaku di kampungnya sana ia tinggal di rumah yang tingginya satu setengah kali tinggi rata-rata orang Indonesia. Atapnya seperti mangkuk kebalik berwarna coklat tua dari jerami/ilalang. Pintunya hanya satu, alasnya rumput, dan setiap malam yang menerangi sedikit api unggun di tengah-tengah. 

Kotanya dikelilingi puncak-puncak besar, dari Puncak Trikora, lalu Puncak Jaya, Puncak Yamin, dan Puncak Mandala. Bahkan kadang sering terjadi hujan es. Len, hujan es itu seperti apa? Aku membayangkan dalam hati.

“Rumah itu kitorang kasi nama hanoi untuk papa, ebei untuk mama, dan wamai untuk babi,” Alen menjelaskan. Mendengar babi aku merinding, agamaku melarang memakannya. Dalam bayanganku babi itu lucu, seperti di boneka-boneka imporan China yang tak sanggup aku beli di etalase-etalase.

Di tanggal 29 Februari, Alen bercerita tentang peperangan di Papua. Lalu suara bass-nya tiba-tiba bertambah berat. Aku dapat merasa jika dia sedang sedih. Setahun menjalin hubungan persahabatan tanpa status, aku mulai menghafal bagaimana dia berjalan, bagaimana dia bahagia, bagaimana dia berduka.

“Sali, aku hendak pergi.” Aku terkejut.
Menjawab dengan lemah. “Ko hendak kemana Len?”
“Kemanapun Sali, yang alamnya liar.”

Sejenak kita saling diam. Badanku menggigil, kosong. Dendrit di tubuhku tiba-tiba lemas. Kami terdiam agak lama, aku mencoba mengurai arti liar yang ia maksudkan. Bodohku pun kumat, aku pun mengalihkan suasana dengan meletuskan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggguku tentang orang Papua.

“Len, aku sering dengar di Papua sana sering perang. Benarkah?”
“Satu pembunuhan di satu suku, bisa mengakibatkan 100 kematian lain. Hingga kedua korban dari suku yang bertikai seimbang. Sali, di Jawa tenang ya?” Aku mengangguk. Tak seperti yang kau pikirkan, Len.
“Sali, sa akan ajak Sali ke Danau Sentani nanti,” katanya dengan mata berkaca-kaca senja saga itu. Ia menatapku, mata bintangnya berdenyar seperti hendak menangis, aku tak kuasa beradu pandang dengan matanya. Butir linangan pun menggelinding di pipinya, kurasakan beban berat yang menggelayut yang bagiku begitu gelap. Esoknya ia pulang ke Papua, dan setelah kalimat terakhirnya itu, aku tak menjumpainya lagi. 

Hujan yang jatuh di pucuk-pucuk ilalang telah berhenti dan menyisakan gerimis yang gripis. Len, aku berkunjung lagi ke taman kita seperti biasa. Berharap kau di sini dan ingin kusandarkan kepalaku yang lelah di bahumu. Aku diam dan kau menceritaiku lagi tentang apapun. Biarkan aku bahagia di tamanmu bersama sosokmu yang membatu. Di sini sepuluh tahun sudah aku menantimu tiap sore di Bel Rusak: Len, ko kemana ei? []

NB: [1] Sa pu = Saya punya.

Isma Swastiningrum, mahasiswi Fisika angkatan 2013, UIN Jogja. Pernah bercita-cita jadi guru di Papua.
Post Script: Cerpen ini pertama diterbitkan di Slilit Arena Edisi April 2016. Saya post ulang untuk kepentingan dokumentasi.

Kamis, 02 Juni 2016

Munaqosah Taqwan

Jika ada diksi yang lebih serius selain "ngoyo", mungkin adalah "ngoyot". Mungkin ini diksi yang bisa kugambarkan untuk kawanku di fisika ini, sebut saja namanya Taqwan. Lengkapnya Hari Taqwan Santoso,Fisika angkatan 2011, anak seorang petani di Ponorogo sana. Nama fesbuknya Narasoma P. Feynman karena aku berasumsi mungkin dia salah satu pengikut setia ajaran begawan fisika itu: Richard Feynman. Dan Narasoma tak lepas dari kecintaannya pada dunia wayang. Selera yang boleh dibilang hanya milik orang-orang tertentu.

Jam 1 siang, dia munaqosah. Munaqosah itu sejenis sidang skripsi. Aku berniat datang. Ini untuk pertama kalinya aku datang ke munaqosah orang. Aku datang telat, kira-kira 12 menit. Aku tak tahu judul skripsinya apa. Aku hanya mendengarkan. Otakku membentuk imajinasi yang abstrak, semacam titik koma tanya tak ada habisnya. Intinya dia sedang berbicara tentang konsep waktu dalam relativitas Einstein (dan entah di mana anomalinya). Memang, otakku yang tak terlalu cerdas fisikanya ini agak lemot menangkap.

Cerita yang aku ingat: andai ada orang yang kembali ke masa lalu dan membunuh kakeknya, hal itu tak akan terjadi, karena si pembunuh ada di zaman sekarang. 

Mungkin cerita di atas tak setepat yang Mas Taqwan katakan. Ada titik-titik waktu di mana waktu tak bisa ditentukan. Aku banyak mendengar kata-katanya menari di otakku yang tak kumengerti. Tentang: kemalaran; syarat kesederhanaan; akronal; masa lalu Q; daerah kegayutan masa depan; singularitas telanjang; hiperbolasitas global; dll. Aku hanya terpukau dengan kata-kata cerdas itu yang mungkin tak pernah kutemui di KBBI, kecuali di kamus khusus.

Mas Taqwan juga bilang gerak kita menentukan gerak panggung. Setiap titik dalam ruang waktu mempunya kerucutnya sendiri. Ada tiga penguji: Pak Cecil, Pak Sidiq, dan pembimbing Pak Rosyid dari UGM. Diskusinya sepertinya lumayan lancar. Aku membayangkan andai yang menguji Mas Taqwan itu Einstein, Schrodinger, dan Feynman langsung pasti bakal seru. Sidang selesai, kita makan-makan, dan foto bersama. Sembari mengucapkan selamat.

Angkatan 2013 yang datang di sidang ini hanya aku sama Paryanti. Memang, ada kedekatan sendiri kenapa mungkin kami berdua bela-belain datang. Salah satunya, tak lain karena kemurahan dia membagi ilmu fisika. Kalau kata Paryanti: "Wonge ora cetil ilmu."

Aku masih ingat ketika awal semester I dulu, aku sama Mifta jadi muridnya dia. Dia ngajari kami fisika dasar. Jujur, aku kadang lebih paham saat diterangin dia, daripada di kelas. Sejak saat itu Mas Taqwan jadi asisten kelompok belajar fisika untuk anak-anak angkatan di bawahnya. Kadang belajarnya di fakultas, di SC, atau di maskam. Dan dia ikhlas, tak minta apa-apa.

Di depan dia seolah fisika itu hidup dan bernyawa. Aku ingat dia pernah bilang gini saat melihat kondisi fisika di UIN: "Sepertinya di sini belum ada yang seserius aku belajar fisika." Dari rumah, dia sudah punya visi dan tujuan ingin mempelajari satu konsep. Dan dia ngejar ilmu itu sampai ke UGM, atau acara kuliah lain di Jogja, dan beberapa kali dia masuk ke kelasku kadang cuma untuk dengar dosen ceramah, meski namanya tak tercantum dalam absen. Saat mengaca pada diriku sendiri, aku jadi ingin menangis, aku merasa bodoooh sekali. Dia juga gunain uang kirimannya buat beli buku-bulu tebal fisika Bahasa Inggris karangan Tipler, Stephen Hawking, Scott Dodelson, Fock, James Munkres, Richard Tolman... Haha, gak tahu koleksinya sebenarnya.. Tapi dia pernah minjami aku novel semi-filsafat karya Remy Sylado.

Saat kosku masih di Balai Yasa, sering aku lihat dia dan onthel-nya seliweran habis ikut kuliah di UGM. Karena mungkin di tempat itulah banyak orang-orang yang bisa mengimbangi dia dalam kewacanaan fisika. Baik teman dan dosennya.

Aku sama dia lumayan akrab, karena kami sama-sama suka dengan filsafat dan sastra. Aku pernah dipinjaminya script novelnya: Raden Mandaraka, novel tentang pewayangan. Dia juga udah pernah nerbitin buku The Jadzab Boy, yang menceritakan tentang santri koplak dan fisika gitu katanya.

Tulisan ini tak bermaksud melebih-lebihkan dia. Biar kalau dia baca nggak ke-GR-an. Untuk di bidang sastra Mas Taqwan kayaknya harus belajar banyak, menurut standar yang kubuat sendiri, tulisan sastranya Mas Taqwan masih, hm, gimana ya?. Filsafatnya juga kadang aku baca coraknya masih klasik-konservatif, belum bisa move on dari yang moral-etis ala Kantian (peace mas!). Perlu dekonstruksi lebih, biar gak melulu positivis #mungkinefekfisika. I believe that you are smart and multytalent.. I hope more.. Haha.

Selamat ya. Udah munaqosah, sebentar lagi yudisium, terus wisuda. Semoga cita-cita mas untuk menjadi dosen yang "benar-bernar dosen" bukan dosen abal-abalan terwujud. Dan segera berjodoh sama Khudi-nya mas itu. Semoga mas jadi penerusnya Kuhn dan fisika UIN lebih banyak orang-orang seperti mas lagi.  

Stay ngoyo and ngoyot.

Sabtu, 07 Mei 2016

Jurnal Asmara Tuilmiah

Abstrak:
Aku baca kembali tatapan matamu saat pertama kau menyapaku di perpustakaan dulu. Di lain hari kita sering berteorema membahas tentang sejarah musim, anjing yang berfilsafat, atau manusia yang butuh difalsifikasi.
Malam Minggu di bawah gerimis yang anggun, kita berjalan berdua beriringan saling tak bicara. Di pinggir jalan kenangan. Kita hanya percaya, rasa dan kata bisa digetarkan lewat diam.
Saat aku ingin menyeberang, tanganmu menyentuh pundakku. Kurasakan hangat kebahagiaan yang menjalar dalam tubuhku yang pendiam. Larut bersama pipiku yang gugup.
Deretan bangunan dan keletar kendaraan lalu sinis melihat kita yang romantis. Biarlah, KTP mereka belum cukup dewasa sehingga tak mengerti rasanya jatuh cinta.

Masalah:
Tiba di kamar aku menulis: aku mengasmaraimu.

Pembahasan:
Berharap adalah satu-satunya racun mematikan penyebab penderitaan. Aku berharap asmara garpuku bisa bertaut dengan sendokmu dalam sebuah piring makan. Aku benci mencari aman. Kini saatnya kuungkapkan rasa ini padamu.
Setelah kau tahu………
Kau hanya membalasnya dengan biasa-biasa saja. Kau hanya bilang: ada yang salah dengan pemahaman kita mengenai relasi sosial.
Aku gemetaran. Aku kaku.
Kamu tahu tapi kamu tak mengerti!
Dan aku pergi

Kesimpulan:
Aku memang tolol karena telah mengasmaraimu yang biasa saja.

Daftar pustaka:
Hatiku. Hatimu. Riwayatku. Riwayatmu.

Medula Oblongata, 2015

Epigram Jahat

Semalam, Rimbaud datang ke mimpiku
Ia ketuk berandaku yang resah, rinai itu
“Sebentar lagi, kakek moyangmu Chairil akan datang
Kita namai perkumpulan kecil ini Klub Binatang Jalang,”
serunya sambil mengoleh-olehiku seamplop tangis dan seranjang duka cita
yang mungkin ia beli usai menamatkan tamasya semusimnya di neraka.
Wajahnya kelihatan mengitabkan lara

Dan Chairil si manusia seribu tahun
tiba mengayuh sendu yang biru
tapi, ia masih sempat tersenyum padaku manis sekali

kita mulai berpuisi

Rimbaud :       Kita akan melakukan konsolidasi bagaimana,
                        Meledakkan kota-kota yang dungu.
                        Kita akan bekerja sama dengan iblis, mencari kematian
                        Kita provokasi orang-orang melakukan dosa kitab suci
                        Kita ajari mereka teknik tepat membulli malaikat
                        dan cara aman memaki Tuhan

Chairil :           Kita bangun lagi Negara yang lahir lewat kuping
                        Kita hidupkan ras tertinggi dari mereka yang terbuang
                        Kita isi dengan orang-orang yang dulunya sengsara dan lapar!

mereka memandangku,
kami bersorak

(2015)             

Aku Lautan

Di lautanku, setiap hari ada neraka
Isinya kumpulan manusia yang suka membiakkan muka dan duka
Masing-masing membawa cermin buram
Nafas roda kemudi yang tiap hari makin temaram
                          
Membunuh. Dibunuh. Mengunyam arketipe ingatan
Aku lautan dan manusia-manusia selalu api elegi
Jatuh nahkoda, kapal tumbal, ajal tak bersuara lagi


Sajak Kresek

Di rumahku terlalu banyak kresek
Di sekolah juga kresek
Di taman penuh kresek
Tiap makan ada kresek
Tiap mandi ada kresek
Tiap ke supermarket dibawai kresek
Gawat! Bumi akan menjadi lautan kresek
Kita ditelan kresek-kresek
Memikirkan cara berdaulat kresek-kresek
Yang sebentar lagi membentuk republik kresek

Orang-orang: tua muda malah resek
Pria wanita sibuk esek-esek
Hidupnya tak gesek-gesek
Kesadarannya pesek
Persis besek
Butuh dikesek

Huh! Brengsek!
Bagaimana cara merangsek?!

(2015)