Rabu, 11 Februari 2015

Sepuluh Kutipan #12

Sumber: Tanyalah Aku Sebelum Kau Kehilangan Aku (Kata-kata Mutiara Ali Bin Abi Thalib).
 
1. Berjalanlah dengan penyakitmu, niscaya ia tidak akan berjalan denganmu.

2. Teman adalah ikatan ruhani, sedangkan saudara adalah ikatan jasmani.

3. Barangsiapa membaikkan niatnya, maka Allah akan menjadikan baik lahiriahnya.

4. Tak ada penyakit yang lebih menguruskan daripada kurang akal.

5. Orang alim tahu kemampuan dirinya. Orang bodoh tidak mengetahui kemampuan dirinya.

6. Serendah-rendahnya ilmu adalah yang berhenti di lidah, dan yang paling tinggi adalah tampak di anggota badan.

7. Umur itu terlalu pendek untuk mempelajari segala hal yang baik untuk dipelajari. Akan tetapi, pelajarilah ilmu yang paling penting, kemudian yang penting dan begitu seterusnya secara berurutan.

8. Kelambatan adalah penyia-nyiaan. Cepatlah selagi ada kesempatan sebelum ia berubah menjadi kesedihan.

9. Seorang teman tidak dapat disebut teman sehigga dia menjaga temannya dalam tiga hal: dalam musibahnya, ketidakhadirannya, dan kematiannnya.

10. Kedudukan orang alim bagaikan pohon kurma, engkau menuggu kapan buahnya jatuh kepadamu.

Jumat, 06 Februari 2015

Kisah Kamu Di Hari Kamis

Gi, mungkin kamu masih merasakan getar-getar nadi
yang kurambatkan padamu lewat langkah kakiku yang begitu cepat,
kamis kemarin
kubaca lagi matamu yang serupa turbin
mencoba menemuimu dalam pupilmu
yang kutemui hanya catatan rahasia perihal hujan

Gi, apa yang kamu ketahui tentang rapat:
"Pengembangan Sumber Daya Manusia?"
ketika kamu duduk di pojok kursi itu
memikirkan kurikulum yang tak ada semut pun paham
kelas bagi bajingan organik yang berpura-pura sadar

sampai kamu tak melihat Gi,
langit merah muda magrib itu memantul dari dinding putih
menikam mataku dan merajut kasihku padamu
romantis sekali Gi,
sambil kubayangkan aku dan kamu melihat dari pinggir jendela
duduk berdua,
membicarakan bab epistemologi merapi 
atau tentang senja yang berfilsafat

kukalungkan bunga-bunga doa
sebagai metafora yang terus kupelajari darimu
kekasih semiotikaku

karena mencintaimu Gi,
membuatku menjelma menjadi puisi

Rabu, 04 Februari 2015

Udara Pucat yang Merebut

kabut yang menghubungkan kita melalui relevansi pasang-surut
di arena itu. dan gagu yang begitu menggeliat.
di sesak rasa ini yang tak kunjung gugur.
lalu dirimu duduk dengan jarak dua jengkal dariku.
membawa dongeng yang menari-nari di otakku.
sunyiku, sunyimu, kuasah dari jari-jari yang hendak bicara.
sampai kamu masuk ke dalam.
sambil kueja lagi derit kepergianmu yang menjadi mendung.
meski itu dekat.

hatiku berubah jadi ranting kayu.
tenggelam dari dahan-dahan ritual kita.
kubiarkan udara pucat merebutku.
namun masih tak bisa menjamahmu.

dan hanya menyisakan dongeng bayang-bayang.

Selasa, 03 Februari 2015

Medsos Ora Cetho (Analisis Terhadap Media Sosial)

Tulisan ini hasil ngobrol-ngobrol kemarin sama James, Maya, dan Anis di acara pura-pura ngeteh Arena...
Ya, kita sedikit mengobrolkan tentang media sosial dan para aktivisnya. Dimulai dari pernyataan James yang bilang kalau orang yang paling kebingungan itu adalah orang yang ketika dia ada dikerumunan, ia sibuk dengan HP-nya sendiri. Aslinya dia bingung mau ngapain. Lalu ditimpali sama Anis tentang sikap "autis" yang diakibatkan oleh medsos semacam FB/twitter/BBM, dll. James sedikit menyangkal tentang label autis itu sendiri dan dia menyarankan untuk baca tentang postmodern.
Ada pernyataan-pernyataan menarik yag dikatakan James terkait medsos, begini:
  • Orang yang terlalu aktif di medsos, mereka punya dua dunia. Dunia sekarang (yang mereka jalani) dan dunia bayang-bayang (dunia dimana mereka mereka-reka kata, berimajinasi sendiri, nanti saya akan posting atau nyetatus gimana ya?). Mereka melupakan dunianya sekarang. Ada istilahnya tapi lupa..
  • Orang sekarang dengan mudah membagikan pemikirannya, perasaannya, yaa.. dimana saja (terlebih medsos). Orang yang terlalu aktif di medsos itu jangan terlalu dipercayai, mereka orang yang ora cetho. Soalnya apa yang dibaca di status-status itu kebanyakan ngambang dan kebanyakan semuanya "asumsi".  Dan asumsi hanya berupa spekulasi, tidak berdasar fakta juga kadang. Pernyataan mereka tak mengakar.
  • Orang yang terlalu aktif di medsos mereka kebanyakan sok tahu. Ada semacam budaya "asal comot" dari statement orang, tulisan orang, pikiran/pandangan orang, juga soal berita-berita yang disajikan media massa (web, koran, TV). Parahnya itu gini: dengan sekali melihat judul berita, para medsos holic seolah-oleh bisa menebak isinya apa lalu meng-share-kannya. Mereka tidak membaca keseluruhan maksud dari isi berita. Kalau berita benar ga papa, tapi kalau berita yang ga jelas dan isu sensitif itu yang berbahaya.
Media sosial sebenarnya buat apa?
Lalu saya bertanya pada James, "Jems, bagaimana dengan status-status yang seperti "tidak dianggap"? Ada kan di medsos itu seolah tak dianggap?". Dia menjawab seperti ini: "Yang tidak dianggap menurut kamu itu bagaimana? Atau gini, aku pernah ada orang yang meneliti fesbukku bilang, aku ini kalau ada yang komen gak pernah aku bales dan itu dianggap sebagai 'sesuatu yang tidak dianggap', sampai ada lho yang marah-marah gara-gara komennya tak kubalas, Soalnya komentar mereka tak perlu jawaban, ya itu asumsi mereka, mereka berpendapat".

Saya: "Yang gini lho Jems, kita buat status, trus gak ada yang nge-like, nggak ada yang komen, itu gimana? Seolah itu nggak dianggap?" (Udah di dunia nyata gak dianggap, di dunia maya juga lagi, nelangsane cahh)
Maya: "Ya jangan gitu toh Ma" (Maya menepuk pundak saya)
James: "Oh, yaa, itu pengaruhnya juga pada kepopuleran. Setiap orang itu punya cara untuk bagaimana menghargai dirinya sendiri, termasuk me-like statusnya sendiri (sebagai cara menghargai dirinya sendiri). Tapi apakah setiap orang itu wajib menghargai dirinya sendiri?"
Maya: "Menurutku wajib, nge-like status sendiri itukan bentuk penghargaaan terhadap diri sendiri juga"
James: "Tapi apakah itu harus diperlihatkan?"
Saya, Maya, Anis: (ada yang ngomong tidak, ada yang geleng-geleng kepala)
James: "Tidak haruskan. Setiap orang itu punya cara bagaimana dia menghargai dirinya sendiri, lewat pakaian yang dia kenakan, lewat penolakannya tidak mengenakan baju seperti ini, seperti itu, dan lebih milih yang seperti ini. Termasuk dalam tindakan, misalkan di medsos itu aku gak mau SKSD (sok kenal, sok dekat) sama orang."

Berhenti beberapa saat...

Saya: "Tentang orang yang meneliti fesbukmu itu menarik mas, bisa diceritakan?"
James: "Iya, dia itu bilang aku kalau buat status gak pernah aku like sendiri, kalau ada orang komen jarang dibales....."
--
At least, tiap orang punya jadwal online-nya sendiri-sendiri. Oh, saya sering online jam segini, kamu jam segini, dia jam segitu. Atur itu dan gunakan secara bijak.

Rabu, 28 Januari 2015

Haha

silahkan teriak
aku masih baik-baik saja

tak perlu kata-kata tinggi
aku capek itu hanya obat mabuk sementara

keluarlah, bebaslah, seperti kamu yang biasanya
aku dan kamu akan masih baik-baik saja
dan kita akan tertawa "haha" lagi bersama

Musyawarah Majelis Syura (MMS) Sanggar Nuun 2015


Setelah sekitar jam 9-an siap-siap, pergi ke PKSI buat kumpul. Karena waktu itu saya jadi seksi konsumsi, saya di-sms Havid (ketua MMS) buat datang jam segitu. Di sana ketemu Madam, Mita yang lagi KRS-an, Mila, dll. Dapat kabar gak enak karena Meli dan Havid pas mau ngambil sesuatu dari kontrakan, mereka jatuh dari motor dan dibawa ke RS Bethesda. Untunglah tak apa-apa.
Teman-teman belum banyak yang datang, sampai siang nunggu di PKSI. Sorenya berangkat ke Pondok Pesantren Kaliopak, Piyungan, Bantul lokasi MMS naik motor bareng-bareng.

Malamnya (23/1), acara pembukaan, dilanjutkan pembacaan tata tertib dan laporan pertanggungjawaban, LPJ. Ngeh saat pembacaan LPJ terakhir. Saat Mas Mumun bicara tentang faktor penghambat kinerja sanggar, seperti di fakultas kita tak punya wacana teater yang bagus, terbatasnya ruang, kita tidak lepas dari sistem kampus yang seperti itu, sifat acuh tak acuh. Trus saat debat tentang divisi sastra juga yang kata Gudel dan Diyanto belum terwadahi. Yang menarik mungkin respon dari Pak Munir:

"Coba kita renungkan kembali Sanggar Nuun itu wadah. Tentunya awak di dalamnya, keaktifasnya. Misal kuliah di sastra memunculkan sastra. Apakah sudah bertanggungjwab dengan sastra? Coba kembangkan. Yang luar dibawa masuk, yang masuk dibawa keluar. Seberapa kuat merealisasikannya, seberapa besar susah payahnya? Apakah tekat kita sudah yes atau hanya lacur di mulut kita? Penting untuk saling menopang sebenarnya. Itu dibangun dari teks. Sastra tidak hanya cenderung puisi atau cerpen, yo hola holo. Niate kalau mau dibikin bagus ya tinggal tekat kita."

Dari Pak Tain sendiri menjelaskan angkatan saya proses yang dilalui sekitar setahunan, sedang yang di-LPJ-kan dua tahunan. Laku prosesnya sudah beda, tak hanya tanggung jawab formal, tapi juga etis. Dari historiografi ada kelemahan-kelemahan juga bagi yang tidak ikut. Kalau diibaratkan roda sebenanrya Nuun menggelinding terus. Di satu sisi, kita tak bisa menghitung ruji roda jika kita bergerak terus, kita bisa ngitung kalau sudah berhenti dan mempertanyakan pertanyaan krusial: sebenarnya kita lagi ngopo sih? 

 "Tak sekedar berkumpul, tapi juga soal penciptaan dan nilai-nilai yang kita perjuangkan."

Kalau kata Mas Mumun, proses individu sebagai proses pengayaan bersama. Ya, di hari pertama itu LPJ diterima namun secara bersyarat. Saat saya membaca LPJ-nya sendiri yang seperti buku diktat tebal, gila ini Nuun membahasnya detail banget, dokumentasi rapi, sampai pertemuan-pertemuan kecil itupun dimasukkan. Wohhh tenan...
Bolo Kurowo Pasca LPJ (Doc. Sanggar Nuun)
***
Di hari kedua (24/1), usai sarapan telo godog dan teh anget kita membentuk anggota komisi untuk membahas tentang Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Sanggar Nuun.
Yang selalu membuat kangen, makan bareng! (Doc. Sanggar Nuun)
Saya masuk anggota komisi AD, anggota membahas, mendebat, merombak apa-apa saja yang perlu diubah. Ada yang alot soal diksi, sampai esensi. Lalu siangnya AD dan ART ini diplenokan di pendopo. Pemimpin sidangnya si Madam Jemprit sama sekretarisnya Mas Penyok Kholis Lembayung. Dan perdebatan sengit memang ada di sidang pleno ini sampai lamaa banget. Dari siang sampai bakda magrib baru selesai.

Membahas GBHSN (Doc. Sanggar Nuun)
Malamnya membahas tentang Garis-garis Besar Haluan Sanggar Nuun (GBHSN). Semacam ideologi, pegangan, landasan baik struktural maupun kultural.

Pak Munir: "Kaitannya di agama,  general kita pahami. Sepengetahuan dan sepembacaan saya, kita memiliki titik sadar kesenian yang wilayahnya ideologis bukan idealis. Ketika pentas, disana memberi rambu-rambu. Aturan itu bukan belenggu, kita mentransformasikannya dalam nilai-nilai. Akan sangat beda bobotnya jika kita punya plot atau alur yang jelas."

GBHSN ini setelah dikomisikan lalu diplenokan. Cukup lama sampai larut malam, sebagai proses memahami aku adalah manusia. Karena ketika jadi sesuatu tapi 'gak ngerti' itu lucu.

Mas Mumun: "Konsep keseluruhan Sanggar Nuun itu ya Nglaras Natas. Bagaimana kita sampai pada keseimbangan dari carut marut nilai yang ada. Doa kita di ultah bagaimana bisa seimbang (equiblirium)? Kenapa sih kita ngedan? Intinya pemantik diri sendiri. Bagaimana saya? Bagaimana kekuatan saya? Bagaimana memahami teks? Itu sangat tercermin dalam proses. Tidak hanya membaca ini, tapi juga membaca apa yang terjadi, apa yang saya lakukan? Beda lho mentalnya orang yang proses di sanggar itu penuh dan yang tidak.Proses tergantung individu masing-masing. Pengaruhnya buat aku apa? Tanggung jawab dengan diri sendiri, dengan tugas sendiri untuk besok berarti."

Ada yang pernah bilang pada saya bahwa kalau ikut proses, menyetubuhlah dengan proses itu. Mungkin itu yang diinginkan mas Mumun. Dan GBHSN yang dipimpin oleh Fuad dan disekretarisi Mas Dimpil Adib Hasubullah ini usai jam 12-an malam. Dengan semua kelakar warga saat membahasnya, dari kosa kata sensitifitas, kepekaan, hingga humor "harap disantaikan", haha.

***
Di hari ketiga (25/1), pembentukan tim formatur. Terpilihlah lima orang yang menjadi tim formatur melalui voting dengan sedikitnya lima suara, yaitu: Pak Munir (ketua), Kak Icha, Mas Zulfan, Mas Perek 'bitch' Okta, dan Mas Mon Mumun. Dari tim formatur terbentuklah tiga kandidat calon ketua Sanggar Nuun: Wahyu M. Firdaus, Havid Anshori, dan Sohibul Hidayat. Dilakukan pemilihan putaran pertama, dan Wahyu Cempe gugur. Dua masuk final, Dayat dan Havid (John Keple). Koalisi dua kandidat cukup sengit, hahaha. Ada tim kampenya juga.

Setelah pembacaan visi-misi dan debat calur (calon lurah) kita voting lagi. Dan terpilihlah (jreng-jreng-jreng)..........  

Damn! They choose the mother of fuckers Sohibul Hidayat!
Serah terima lurah lama Mumun (kanan) ke lurah baru Dayat (kiri) - Doc. Sanggar Nuun
Dayat menang mutlak 22 suara mengalahkan Havid 8 suara. Setelah terbentuk ketua, lalu pembentukan struktur kepengurusan, dari pelindung, penasehat, pembina, pendamping, ketua, sekretaris, bendahara, dll. Setelah itu foto-foto bareng. Dan pulang. Alhamdulillahhirobiil alamin.
Pengurus Baru dan Pendamping (Doc. Sanggar Nuun)
Bersama (Doc. Sanggar Nuun)
Cheer!! (Doc. Sanggar Nuun)
 Is-2015

Selasa, 27 Januari 2015

Pak'e Tain Tentang Tradisi Sanggar Nuun

(Disampaikan oleh Mustain Ahmad/Pak’e di acara Musyawarah Majelis Syura Sanggar Nuun 23-25 Januari 2015 di PP Kaliopak Piyungan Bantul)


"Selamat bagi pengurus dimensioner yang purna tugas, selamat bagi pengurus baru yang akan melaksanakan kepengurusan baru. Tahun 2001, 2002, 2003 periode paling sunyi karena orangnya dikit, akhir 2002 yang dikatakan aktif enam orang, datang pergi 16 orang sudah bagus. Tahun 2001 ada 16 orang yang berangkat ke Surabaya-Semarang. (Pentas) Sinbad kemarin meningkat drastis sampai 42 orang. 

Periode yang paling semarak periode tahun 2008-sekaranglah. 2009 ke Bandung 50 orang saat Kidung Matahari. Kru paling lumayan. Alhamdulillah hingga saat ini masih ada 33 orang yang ada disini. Militansi Sanggar Nuun luar biasa. Sedikit atau banyaknya orang tidak menjadi masalah bagi orang yang berkesenian. Kalau sedikit ya piye carane membuat orang terbuka, tetap santai. Mengatur banyak kepala kan sulit tapi punya banyak pilihan atau alternatif yang bisa dikerjakan. 

Teman-teman baru mewarisi tradisi panjang. Tradisi pertama adalah keluarga yang paling penting adalah kerukunan. Tradisi kedua adalah tradisi gotong royong, berat sama dipikul, ringan santé wae. Tradisi ketiga tradisi keras kepala tradisi kekuatan berkata tidak atau iya pada apa yang kita yakini. Kalau benar-benar “iya” ya “iya”, tidak ya tidak. Salah satu karakternya kita tidak mungkin mengingkari GBHSN untuk sekedar mencari uang. 

Tradisi paling lekat adalah ini sebenarnya bukan tradisi atau sifatnya umum saja. Bahasa yang paling tepat mungkin itu bisa dipelajari sambil berjalan dan berproses. Di satu sisi orang mengatakan bahwa yang di depan dihormati, belakang disayangi. Itu tidak berlaku di Sanggar Nuun. Ketika mulai proses bersama semua orang equal, kita tidak memandang semua senior yang harus didewakan. Tapi kita juga tidak mengingkari sejarah teman yang lebih dulu proses lebih punya sesuatu. Itu tak berlaku bagi sanggar umumnya, kecuali berkesenian untuk profit. Orang film meski senior kalau nggak becus ya dipekok-pekokan. 

Selain berproses tentu berkarakter. Kalau karakter bunga itu wangi, api ya panas. Sabar, bersungguh-sungguh, karakter manusia tidak sekonyong-konyong hadir, okelah kita tak bisa mengajari api menjadi panas, tapi manusia bisa. Kalau tidak dipelajari ya tidak bisa. Satu karakter yang semua sepakat “santai”. Tidak dalam arti berleha-leha.

Yang harus dikritik berat adalah tradisi “baca buku”. Tradisi kita melompat dari tradisi lisan ke tradisi informasi. Tiba-tiba revolusi industri sudah terlompati, sudah masuk sedemikian cepat. Masih ada orang yang belum lewat tradisi bacanya. Kalau orang kerja satu minggu liburan satu hari, kalau orang informasi kerja plus liburan. Padahal tidak seperti itu. Kita kembalikan lagi pada yang punya. Selamat mengurusi Sanggar Nuun. 

Sanggar yang hebat buat saya. Banyak hikmah. Saya yakin di sanggar ini kita lebih dewasa dan lebih menjadi manusia."
Tengah: Pak'e Tain (Doc. Nanisa)