Jumat, 29 Agustus 2014

Review Film The Way

The Way, Sebuah Perjalanan
Film ini berkisah tentang seorang bapak asal Amerika bernama Thomas Avery (Tom), berumur enam puluh tahunan lebih. Ia berkeja sebagai dokter mata. Suatu hari saat tengah asyik main golf bersama teman-temannya, ia mendapat kabar dari telepon, mengabari jika anaknya yang bernama Daniel meninggal di sebuah ekspedisi di perjalanan menuju Camino de Santiago, terkena badai.

Tom shock mendengar anak semata wayangnya itu meninggal. Ia teringat dahulu saat Daniel menentangnya dan memilih menjadi adventurer sejati yang menikmati hidup dengan jalan-jalan. Bagi Daniel hidup itu memilih bukan menjalani. Sedang hidup ayahnya adalah menjalani (jadwal).

Saat melihat langsung jasad anaknya, di tengah kesedihan, Tom menyuruh seseorang untuk mengkremasi abu Daniel. Lalu abunya ditaruh di sebuah kotak kecil. Saat ia pulang, ia membuka-buka lagi tas perjalanan Daniel. Menemukan peta, paspor, dan buku perjalanan Daniel. Tom lalu memutuskan untuk berkelana seperti anaknya Daniel. Membawa tas Daniel dan kotak abu anaknya itu. Tujuannya adalah Santiago De Conmpostella, Spanyol (sebuah katedral . Tempat para peziarah, khusunya Katolik). Di titik-titik tempat tertentu, Tom selalu menebar abu anaknya.

Perjalanan dimulai... Tas Tom yang berisi abu kremasi Daniel terjatuh ke sungai. Dengan sekuat daya ia menyelamatkan tas itu. Ia bertemu dengan seorang pezirah lain dari Amsterdam, Belanda bernama Joost. Fisik Joost tinggi besar, perut buncit, dan sedikit gemuk. Mereka sempat berpisah, tapi dalam perjalanannya mereka bersatu lagi. Ditambah Tom bertemu dengan seorang wanita dari Kanada bernama Sarah. Wanita yang mungkin patah hati atau gimana ya?

Tom, Joost, dan Sarah berpetualang bersama menuju Santiago. Sikap Tom sangat dingin, cuek, dan acuh pada Joost apalagi Sarah. Di tengah perjalanan, tiga orang ini bertemu dengan peziarah lain dari Irlandia bernama Jack.

Jack adalah seorang penulis. Jack bermimpi menjadi penulis besar seperta W. B. Yeats atau James Joice. Ia melakukan perjalanannya ini untuk membuat sebuah tulisan perjalanan yang nanti akan dibuat buku. Jack mensurvei setiap peziarah dengan pertanyaan: Apa tujuanmu melakukan perjalanan ini? Awalnya ia bertanya pada Tom, Tom menunjukkan rasa tidak sukanya. Yang bersedia menjawab hanya Joost, ia beralasan karena kesehatan. Joost ingin menurunkan berat badannya (sebetulnya, ini karena tuntutan istri Joost yang tidak suka melihat suaminya gemuk dan tidak mau satu ranjang lagi).

Sikap Tom yang cuek mengundang rasa penasaran Jack. Joost lalu bercerita sedikit tentang Tom, tentang anaknya yang meninggal. Jack mengkofirmasi ini pada Tom. Tom terlihat sangat marah dan mendiamkan Joost. Tom juga mencaci Jack sebagai penulis, Tom kehilangan kontrol hingga ia ditangkap polisi dan Jack dengan kartu kreditnya menyelamatkan si gaek Tom.

Sarah sendiri pergi berziarah karena mungkin ia ingin menenangan diri. Sebelumnya, Sarah mengandung seorang anak, tapi anak itu digugurkan karena suaminya yang jahat kepadanya. Ia menceritakan ini pada Tom.

Suatu waktu di sebuah tempat, ada pemuda yang mencuri tas Tom (di daerahnya orang-orang gipsi). Tom mengejar pemuda tadi. Tom bilang: ambil apa saja, asal jangan kotak kecil abu anaknya itu. Naas, pemuda tadi tak ditemukan. Lalu seorang bapak datang membawa pemuda tadi (yang ternyata bapak itu adalah ayah si pemuda). Bapak pemuda minta maaf pada Tom dkk, bapak pemuda mengajak Tom dkk untuk makan bersama (pesta) orang-orang gipsi. Wih, menarik pestanya.

Esoknya, bapak pemuda menyarankan Tom untuk pergi ke sebuah tempat bernama Muxia. Sebuah laut, disana ada kuil (lupa nama kuilnya). Bapak pemuda menyuruh Tom utnuk menabur abu Daniel di laut tersebut.

Sampailah empat sahabat ini di pusat Santiago de Compostella. Mereka berdoa. Lalu melanjutkan perjalanan ke Muxia. Tom menabur abu Daniel di laut tersebut. Selesai.

Film ini menarik secara visual. Film khas perjalanan banget. Anda akan terpukau melihat pemandangan, bangunan, budaya, dan tradisi di tempat-tempat yang dihadirkan dalam cerita. Meski plotnya minim ketegangan dan kesannya datar.

Untuk nilai yang dikandungnya sendiri. Tentang cinta seorang ayah pada anaknya. Sebuah arti persahabatan, makna relejiusitas, dll.

Cocok bagi Anda yang suka jalan-jalan, peziarah, para relijius, pendeta, penulis, dan Anda yang suka berpetualangan.

Jogja Lagi Reading Naskah, 29 Agustus 2014

Is

Minggu, 24 Agustus 2014

Little Story For Sisir Tanah, First I Meet

Kumencari kau di pusat raga. Kumencari kau di pusat rasa.

Pas kecil saya pernah (istilahnya) ngefans dengan sebuah band. Cukup lama jadi penikmat band tersebut dari kelas VI SD (2003) sampai II SMA (2009). Saya juga cukup fanatik seperti anak-anak ababil lainnya yang bermimpi ingin ketemu, foto, dan melihat konsernya langsung. Band ini beraliran romantis-melankolis. Satu-satunya artis paling lama yang saya suka, ya band itu.

Seiring waktu dan kedewasaan, saya mulai beralih memfanatiki buku daripada sekedar manusia. Perlahan saya mulai  mengikis kadar emosi saya pada band yang saya kagumi itu. Akhir SMA (2011), kecintaan saya berubah. Saya ingin bertemu dengan seorang penulis saja.

Lalu, dalam masa transisi saya selama dua tahun antara nganggur, buku, nulis, dan kerja. Rasa kefanatikkan akan band bahkan penulis itu pudar. Saat jadi mahasiswa (2013) sudah lengser idola-idola yang bersemayam di otak (dalam arti fanatik). Saya lebih obyektif dalam menilai mereka. Suka sih suka, saat ini pun saya masih kagum dengan band masa kecil saya itu dan penulis idola saya itu, tapi dalam porsi  yang wajar dan tidak berlebihan.

Suatu hari di tahun 2014, ada orang yang mengajari saya metik-metik gitar. Dia mengajari saya tiga lagu ber-chord mudah milik Pink Floyd dan Radiohead. Lalu orang itu memberi saya beberapa lagu berlirik mudah juga (katanya dia), bandnya saya tidak kenal. Namanya Sisir Tanah.

Nah, di kos… Iseng-iseng ndengerin kan. Pertama dengar vokal penyanyinya, imajinasi saya membayangkan kayaknya penyanyinya ini sudah matang usianya seperti Iwan Fals atau Ebiet. Kedua, musiknya sederhana banget, dari lagu satu ke lagu lainya hanya iringan gitar saja yang saya dengar. Ketiga, liriknya kalau menurut bahasa di sanggar yang saya ikuti ‘wohhh’. Saya mendengarkan kira-kira lebih dari dua kali.

Suatu hari, orang yang ngajari saya sedikit main gitar bernyanyi , dan saya kok ngrasa ini nada sama liriknya pernah dengar. Soalnya jleb  banget dengan suasana hati waktu itu. Orang itu nyanyi gini:

                “…Seumpama suka, kau ambillah jantungku saja….”

Entah kenapa di lirik itu rasanya saya seolah mengikhlaskan semua beban yang memberatkan hati saya. Di kos langsung saya buka lagu-lagu Sisir Tanah. Baru sadar isinya ternyata ‘kritik sosial’ semua. Dan satirnya kalau dalam bahasa rock ‘cadas’ banget. Keren.

Sejak saat itu lagu Sisir Tanah yang judulnya Lagu Baik, saya dengarkan berulang-ulang sampai liriknya hafal. Suatu malam juga iseng-iseng googling tentang Sisir Tanah, hm, sedikit kecewa karena di google juga minim banget info tentang Sisir Tanah. 

Ternyata Sisir Tanah berasal dari Jogja. Ada beberapa tulisan keren sih, kayak ulasan Aris Setyawan di jakartabeat.net juga blog si vokalinya langsung (sayangnya juga minim tulisan). Pas searching gambar juga, ternyata prejengan-nya tak se’matang’ vokalnya (lebih muda). Teduh. 

Pencarian malam itu membawa saya akan musik alternatif mereka. Sungguh, saya mencintai kesederhanaan yang berisi tetapi tanpa keberisikan. Seolah mengantar saya pada keabadian. Saya suka konsep luka mereka. Adalah luka… Adalah luka… Adalah luka… (Lagu Wajib). Bahwa hidup tak semulus kuliah moral para motivator, yang menurut bahasa Marx “Candu Masyarakat” tempat dimana mereka meng-aleniasi diri. Saya belum menemukan analogi yang tepat untuk ini.

Sejak saat itu saya semacam menemukan role model baru: Sisir Tanah. Dalam artian, saya tidak memfanatiki orang-orang dalam Sisir Tanah, tetapi saya suka pada karya-karya mereka (kefanatikan pada ‘seorang  manusia’ luntur sejak saya banyak ikut acara-acara yang dihadiri orang-orang hebat di Jogja. Teman saya bilang: kita sama-sama makan nasi. Kesimpulan saya: you can do more than him/her). 

Lirik Sisir Tanah mulai saya hafal dan saya tulis ulang di blog. Terbesit juga dalam hati, suatu saat saya ingin nonton Sisir Tanah langsung.

Kamis kemarin (20/8) kebetulan lagi nongkrong di sekret LPM Arena, ada yang memberi undangan. Acara pameran tentang Forest Project gitu. Pas undangannya sampai di tangan, saya senang banget (bisa dibilang sedikit ‘histeris’) ada Sisir Tanah sebagai salah satu yang mengisi acara.

Saya lalu cari teman buat nonton bareng. Awalnya mau ngajak Ria (naik sepeda), tapi kata teman dekatnya Cakson, Ria balik lagi ke kampung halaman. Yaudah, saya ngajak teman sealiran Ria, Cakson. Dia menyetujui, kita janjian naik pit. Eh, iseng nyebar info, Mas Jamal juga mau ikut, orientasinya sekarang naik motor.

Pas hari H (23/8), setelah olah tubuh sanggar. Jam tujuh malam saya sudah stay di Arena. Yang ikut ternyata empat orang: Saya, Cakson, Mas Jamal, dan Mas Sabiq. Kami naik motor, saya sama Cakson, Mas Jamal sama Mas Sabiq. Acara dimulai jam delapan, kita berangkat pukul setengah delapan. Di jalan macet euy, maklum, lagi banyak event (FKY, Pasar Kangen, Festival Dodolan, dll).  Dan sampailah kita di Jogja Nasional Museum tempat acara (letaknya dekat SMA Negeri 1 Yogyakarta).

Pas sampai panggung, ternyata eh ternyata Sisir Tanah lagi main. Yaph, disana vokalis Bagus Dwi Danto yang mengenakan kemeja dan topi memetik gitar bolongnya seorang diri, menyanyi dengan suara khasnya. Kita berempat langsung duduk di bangku agak depan. Sepertinya kita datang agak telat karena acara sudah dimulai. Saat itu Mas Danto nyanyi lagu judulnya Bebal. 

                “...jika hutan adalah ibu. Kita manusia memperkosa ibunya.
                Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik…”

Bergetar banget pas dengar itu. Apalagi pas suaranya ditinggikan, nusuk banget. Diksi memperkosa ibu ngeri sekali, refleksi akan kerusakan alam Indonesia khususnya hutan. Apalagi tadi siang saya melihat pohon depan Rumah Sakit Bethesda yang pinggir jalan ditebangi. Ah, payah. Benar kata Mas Danto, ada dan tak ada manusia itu harusnya pohon-pohon tetap tumbuh. 

Acara pembukaan pameran lalu dibuka. Ada tujuh seniman yang berpartisipasi dalam acara ini.  Wujud karyanya ada lukisan, instalasi, video grafis, foto-foto, dll. Senimannya pun banyak yang datang langsung.

Yang menarik, pas saya masuk di ruang instalasi karya Hiroshi Mehata, orangnya masih muda, salah satu seniman yang berasal dari Jepang. Nah, kan lagi lihat gambar Hiroshi semacam lukisan naga-naga gitu kan. Seperti kolase  gambar sih menurut saya. Entah kenapa, setiap ada event itu di otak saya selalu kepikiran buat meliput acara. Dan… Mas Bagus Dwi Danto juga sedang melihat-lihat lukisan itu ada disana. Kebetulan di tangan saya sudah pegang note. Saya dengan PD-nya mendekati dia, salaman, kenalan. Kira-kira gini:

“Mas Danto ya?”
“Iya…”
“Boleh wawancara? Saya Isma dari UIN, dari pers mahasiswa UIN, LPM Arena.”
“Oh UIN… Arena.” Katanya seperti mengingat, aku sempat mendengar dia berkata Arena terkenal.

Dengan diringi canda-canda gitu, Mas Dantonya mau diwawancarai. Setelah bertanya beberapa pertanyaan, datanglah Mas Sabiq. Dia dan Mas Danto seperti sahabat lama yang seabad tak ketemu, haha, langsung salaman, ngomong-ngomong, canda-candaan, ketawa-ketawa. Ternyata mereka sudah kenal lama saat di Bandung, Mas Danto cerita pernah makan gorengan bareng.

“Oh, kamu temannya mbak ini… Ini ada selebaran tinggal dibaca… Aku bukan aktor utama, tapi aktor figuran…” Katanya dengan nada bercanda dan tertawa bareng gitu. Mas Sabiq bilang, “Satu komplotan, LPM Arena.” Makin keras tawa kita waktu saya nanya tentang isu kehutanan di Indonesia saat ini? Haha. Mas Danto bilang, “Bobrok, sudah jadi rahasia umum. Indonesia kaya dengan hutan. Banyak hutan dalam tanda kutip ‘lepas’,” katanya.

Terus, saya juga bilang: lagu-lagunya keren, saya suka. Mas Dantonya ketawa lagi, tersipu mungkin. Saya lalu minta tanda tangannya diakan. Dia awalnya nolak, terus mau juga. Terus saya minta foto bareng, Mas Dantonya bilang apa coba? “Wawancaranya modus ini, hahaha…” celotehnya ketawa, dalam hati ngakak banget, rasanya kayak mimpi.

Memakai kamera HP Mas Jamal (sekaligus Mas Jamal fotografernya), Mas Danto mau diajak foto, senangnya lagi Mas Sabiq juga ikut foto, duuhhh… lengkap!

Bertiga: Dibilang “modus” sama Mas Danto, haha.


Tanda Tangan: Bagus Dwi Danto/Sisir Tanah

Habis foto bareng, saya mewawancarai ketua acara, mbak Ope’e Wardany yang juga seorang penulis. Trus lihat-lihat pamerannya lagi. Keren pokoknya. Recommended buat datang kesini, penutupan sampai 29 Agustus 2014 di Jogja Nasional Museum.

Senang, Mas Danto nyanyi lagi. Dia menyanyikan lagu favorit saya Lagu Baik (tiap dengar lagu ini tuh jadi semangat lagi), lalu nyanyi lagu Konservasi Konflik, nendang banget ini lagu, haha. Dan ditutup dengan Lagu Wajib. Dalam hati saya juga ingin bilang sesuatu untuk seseorang: Yang wajib dari aku adalah kamu. Hahaha *apaan sih Is?*

Pas mau pulang, Mas Sabiq pamit sama Mas Danto, kita ngikut. Berlima sama Mas Danto ngobrol-ngobrol lagi di pinggir panggung. Mas Danto cerita tentang event-event Sisir Tanah ke depan. Ngasi contack person juga ke Mas Sabiq. Katanya mau main ke UIN *asyik!!*

Nanya juga ke saya darimana dapat lagu Sisir Tanah? Saya nunjuk Mas Sabiq. Soalnya di internet sedikit, kalau dari soundcloud (kasian) nggak begitu jelas. Di stafa lagu Sisir Tanah bisa juga di-download meski tak semua. Terus ngomong tentang album juga. Mas Danto cerita, ada yang bertanyakan pada Sisir Tanah, “Kapan buat album?” Dijawab tahun 2020, waktu itu dia jawab sebenarnya bercanda tapi ditulis beneran. Namun kali ini di mata dan suaranya saya melihat ada keseriusan mau buat album di tahun 2020.

“Mungkin tahun 2020, tepat sepuluh tahun Sisir Tanah. Kalau tahun ini 2014, usia empat tahun, diibaratkan manusia masih anak-anak…” katanya. Aplause banget, bertolak belakang sekali dengan band-band sekarang yang maunya instan. Sisir Tanah dengan konsep, lirik, spirit, kesederhanaan, dan kritik telah memberikan sesuatu yang luar biasa untuk saya pribadi. Sukses.

Yogyakarta Yang Wajib, 24 Agustus 2014
Is

Kamis, 14 Agustus 2014

Lelucon Pembukaan Puisi Aziz Manna dan Jokpin

Sore ini (13/8) jadwal Arena sama Sanggar bentrok. Yang satu rapat redaksi, yang satu bersih-bersih trus malamnya mbahas naskah. Setelah melakukan pertimbangan matang, aku putuskan ke Arena dulu. Malamnya, seribu sayang buat Sanggar, aku nggak bisa ikut karena ada pamflet bertulis Diskusi Sastra PKKH UGM #EdisiKhusus dengan tiga penyair dan pembaca puisi: Joko Pinurbo (Jokpin), Ahmad Yulden Erwin, dan F. Aziz Manna dengan pembahasnya Retno Darsi Iswandari.

Sore itu Arena juga kedatangan tamu alumni yang sekarang kerja di Tribun Batam. Aku udah janjian sama teman sealiran Ria buat datang bareng ke acara diskusi itu. Kita pedahan berdua bareng pit kita masing-masing kesana. Setelah kita menemukan gedung PKKH yang mirip gedung teater, kita ngisi daftar hadir, juga beli buku kumpulan puisi tiga penyair itu seharga lima ribu.

Kita duduk di urutan kedua dari depan. Sekitar jam delapan malam acara dimulai, telat setengah jam. Sebelumnya mau say congrats buat pak Jokpin karena cerpennya yang berjudul  Jalan Asu dimuat di koran Kompas Minggu (10/8). Aku suka kalimat pembukanya: Hari ini adalah hari rindu. Hari untuk pulang. Hari untuk bertemu. Setelah mandi dan menunaikan ibadah puisi………(dst)

Oke, tak mau berpanjang lebar. Yang menarik buat aku saja yang aku tulis.
Kiri: Aziz, Yulden, Jokpin saat Membacakan Puisi
Iya, tentang analisis Ria untuk tiga penyair malam ini.

Ria, anak filsafat ini emang gila. Coba perhatikan kalimat pembuka puisi-puisi Aziz Manna berikut:
//selamat tinggal langit,
//hujan apakah ini, ibu,
//lambung kapal ini telah pecah,
//laut memudar, delta pecah,

Ini aku ambil dari judul-judul pembuka puisi Aziz yang berbeda-beda. Tiap pembukanya itu seolah konsisten dengan hidupnya yang mungkin miris. Tiap pembukanya menggambarkan sebuah kondisi yang mengerikan:

//menyusun kembali tubuhmu,
//candi-candi beruntuhan,
//mayat yang dibasahi lumpur,
//minyak menelan rumah kami,
//kesendirian yang aneh,
//kau akan mati,

Pengantar dikit, F. Aziz Manna lahir di Sidoarjo, 8 Desember 1978. You know that, about Sidoarjo, Lapindo and etc. Ria penasaran sama si Aziz Manna, psikologinya kayak apa sih nih orang? Dari wajahnya aja udah serius banget, seperti menyimpan beban yang tak terselesaikan. Dan pas pak Jokpin dan pak Yulden baca puisi, Ria merhatiin dia (Aziz) memegang kepala dengan tangan sambil mikir. Mungkin hobi dia mikir. Wajahnya serius.

Coba bandingkan pembuka judul-judul puisi Aziz dengan pembuka puisi-puisi Jokpin (seri surat) berikut:
//Aku mengarang surat ini di hadapan cermin
//Maaf, baru sekarang aku membalas surat
//Lima menit menjelang minum kopi
//Kau tak ada di kakiku
//Tenanglah. Aku tak pernah mengharap

Dibayanganku ini seperti penggambaran adem ayem, santai, nggak ada beban seserius puisi pembuka Aziz. Ria berkomentar, andai Aziz dan Jokpin ini umurnya sama, si Aziz pasti udah mati duluan gara-gara beban psikologis daripada Jokpin, haha #LOL. (Aziz kelahiran ’78; Jokpin ’62; Yulden ’72. Aziz termuda.) Apa benar yang dikatakan mbak Retno bahwa dalam puisi Aziz kita “Melihat arsitektur luka yang begitu menyakitkan.” Tentang luka yang ditelanjangi dengan detail. Juga tema lumpur Lapindo yang tidak selesai-selesai? Entah.

Puisi Aziz lebih realis daripada puisi Jokpin yang penuh imajinasi. Perbedaannya lagi, puisi Aziz sekilas aku melihat dari morfologinya yang memanjang mirip paragraf cerpen. Setuju dengan si pembahas Retno: melelahkan. Tapi dari segi substansi dan kebaruan, dia puisi banget dan mendobrak tatanan nyaman puisi-puisi mainstream.

Jokpin kenapa imajinatif? Coba perhatikan larik-larik puisinya berikut:
“Sebagian rambutku sudah jadi rambut salju.
Jangan sedih. Aku belum lupa cara berbahagia.
Dompet boleh padam, rezeki tetap menyala.”

Atau yang ini:

“Akhirnya batumu hamil. Dari Rahim batumu
lahir air mancur kecil yang menggemaskan.
Air mancur itu sekarang sudah besar,
sudah bisa berbincang-bincang dengan hujan”

Mungkin juga karena cerita dari Jokpin langsung yang bilang dia tidak rutin mebuat karya itu satu hari satu karya. Dia perlu waktu panjang untuk mikir. Sekali nulis, itu langsung banyak, kau bisa menyebutnya jurus “mak droll”.
 
Terlepas dari dua penyair di atas, pak Yulden ada di tengah-tengah Aziz dan Jokpin. Bentuknya pun juga, ada di tengah-tengah. Dia sebagai katalisator. Substansinya pun antara realis dan imajinatif. Fiktif dan faktual. Coba perhatikan puisi Pak Yulden berikut:

//Sedikit aneh, sedikit terlambat, buah-buah mangga matang Terlalu cepat,
jejak kemarau menapak langkan rumah tua. Pagi-pagi seorang tukang pos
mengantar sepucuk surat, Seolah semacam isyarat: satu keluarga
mesti pergi, sebelum…..

Puisi ini lebih realis, tidak imajinatif seperti Jokpin yang mengubah rambut hitam menjadi rambut salju. Puisi Yulden di atas judulnya Hantu-hantu Halaman Rumah, tentang penolakan lupa terhadap mayat-mayat PKI. Lalu bandingakan dengan puisi pak Yulden yang lain (yang imajinatif):

//Di Portland yang dingin, sepasang gagak
                menolak menjadi angin. Matamu tersedak
mencari langit yang lin. Fajar musim semi

Terlepas dari perbedaan itu semua. Ya, kembali ke selera masing-masing. Ria bilang lebih suka puisi Jokpin dengan keindahan diksi-diksinya, daripada Aziz yang nelangsa. Yang menjadi catatan adalah apa yang dikatakan pak Yulden. Bahwa sastra akan menyentuh hati Anda. Merampas jantung Anda. Sastra menganggu ingatan agar kita tidak lupa. Sastrawan membuat jarak menjadi dekat. Teknik bisa bermacam-macam, tapi substansi itu yang perlu diraih. Sastra merebut hati Anda hingga Anda bergetar.

Jogja Belum Mandi, 14 Agustus 2014
Is

Selasa, 05 Agustus 2014

Lirik Lagu Perahu Kertas - Sisir Tanah

Pertunjukkan malam seperti perahu kertas
Tenggelam luruh tertunda hasrat
Melekat jadi karat dan bermimpi
Perahu kayu keluar dari jantung
Mata kuyup menatap tak kedip
Meruangkan kata di depan altar
Membuat mereka merasa lurus
Mengantar hidup dalam hening
Mati tersenyum tanpa aba-aba
Kursi-kursi tumbuh roda di ujungnya
Menggeret nyawa pada jalan tak ada ujung
Selesai mencari awal lagi
Kebenaran jadi lumer tak ada arti
Darah datang tanpa kering lalu lenyap
Habis ruang untuk luka... dihisap metafora...
Habis ruang untuk luka... dihisap metafora...
Kepalan tanah air mata
Satu titik tanpa tujuan
P.s.: Jika ada kesalahan lirik, silahkan dikomentari, saya akan memperbaiki. Terima kasih.

Senin, 14 Juli 2014

Kalimat Sederhana Untuk .....

1.
Aneh, sepi, berisik, sakit..
Merenda kata yang terpaku pada udara yang menemani alunan musikmu
Bahagia, sumringah..
Ah, aku tak tahu bagaimana menjadi puitis
Menjadi untaian tadarus yang mengisyaratkan rasa (atau cinta) ini
Ah, kamu tak tahu ya?
Ya sudah, nggak papa
Hanya dengan melihatmu saja
Aku sudah senang

2.
Aku sedang belajar menghidupkan benda mati
Aku sedang mempelari yang ada menjadi tiada
Seperti keyboard dan layar ini yang bicara
Aku takut
Aku ragu
Nulis ini
Lain kali aku harus hati-hati
Agar tidak ada yamg mencurigai
Ha ha ha
Mereka
Sahabatmu
Dapatkah ia mengatakan sesuatu ke kamu?
Tentang hati yang mengapung-apung menuju pelabuhanmu?
Maaf ya sok puitis

Jogja, 13 Juli 2014

Minggu, 13 Juli 2014

Bukber Bareng Ayah Pidi Baiq di Halaman KR 2014

Sekitar jam setengah empat aku main ke Sanggar Teater Eska. Aku dapat info dari mas Sabiq ada akustikan Ayah Pidi Baiq di halaman Kedaulatan Rakyat (KR) sekaligus buka bersama dengan orang ikhlas se-Jogja. Mas Sabiq bilang di SMS kalau mau on foot kesananya. Yang ikut ternyata banyak, ada satu anak Eska cewek yang baru kukenal bernama mbak Sayu naik sepeda motor. UIN – KR lumayan jauh juga sih, trus aku diajak boncengan sama dia. Nggak jadi on foot deh, haha, meski yang  on foot (mas Sabiq dan Eska’s family) banyak juga.

Pas sampai di KR, wah, kejutan banget. Ada seseorang yang pengen aku temui di UIN, aku temui disini, wajahnya ku kenal sekali. Ya, teman FB yang inspiratif, tapi aku tak berani meyapanya. Setelah belasan bulan lamanya, baru lihat sore ini. Ia datang bersama temannya yang sesama penulis, yang bikin ngiri temannya itu datang kesana bawa buku dan masih nyempetin baca buku. Lelucon Jogja-nya, bajigur…

Aku sama mbak Sayu duduk di belakang (nggak jauh dari teman FB-ku itu. Ya, semoga dia tak mengenalku, tapi aku ragu) karena nggak bawa ta’jil buat buka akhirnya kita nyari mart terdekat buat beli minuman. Usai nyari minum kita balik ke depan KR, dan Alhamdulillah on foot mans-nya udah pada datang, mas Sabiq, mas Harik, mas Hilman, mas Abdillah, mas Habib, mas Sholeh, dll.

Kita ngumpul, trus tak kusangka tiba-tiba ayah Pidi berjalan di depanku menuju panggung makai kemeja warna putih (khas kampanye, haha) dan kupluk khas-nya itu. Lalu, kami merapat di depan panggung. Meski berdesak-desakan, kita nonton di depan euy, haha.

Ada empat lagu yang dibawakan ayah Pidi. Lagu pertama itu tentang anjing dan kucing, entah apa judulnya. Kata Ayah, “Anjing tidak pernah mengerti dia disebut anjing. Begitu juga kucing, harimau, dll. Ya begitulah manusia, suka ikut campur urusan Anjing”. Haha. Liriknya gini: //Kupunya anjing. Kuberi nama kucing. Bila kupanggil kucing dia mengonggong menghampiriku juga. Anjing adalah musuhnya kucing. Dia memusuhi diri sendiri.

Usai nyanyi itu ayah bilang: “Lagu ini menjelaskan untuk memerangi musuh, yaitu musuh yang ada dalam diri kita sendiri”; “Saya tidak pernah mencoba lebih baik dari orang lain, tapi saya mencoba lebih baik dari diri saya kemarin”. Yap, super sekali, Pidi Teguh Broken Ways, haha…

Lagu kedua, judulnya ayah konda. Kocak banget. Kamu bakal ngakak aja dengerinnya, dan bakal membayangkan sesuatu absurd yang hanya ibu yang tahu. Banyak hal romantis yang diceritakan ayah Pidi, seperti, ayah itu pernah nulis surat pada istrinya, dikirim ke kantor pos ke rumahnya sendiri. Tapi pas nyampe, dia sendiri yang nerima, haha, konyol. Ayah bilang itu romantis. Lalu, ayah juga sering ngirim e-mail ke istrinya, meski satu rumah gitu, hahaha. Ada nggak, suami yang kayak gitu lagi? Haha.

Ayah juga bilang, kalau kamu suka dan cinta pada seseorang, “Buatlah dia bahagia, jangan banyak kau gombali dengan kata cintamu. Kalau setiap hari kau mengatakan cinta dia akan bosan. Tapi kalau setiap hari dia kau buat bahagia, siapa coba yang bosan?”. So sweet banget!

Lagu ketiga itu tentang Nia, sesorang yang pernah ayah sukai dulu. Masih dengan lirik yang kocak dan easy listening. Terus, usai nyanyi sesinya, Tanya jawa-tanya jawab.

Ada orang yang bertanya tentang sebenarnya kepribadian Ayah di depan teman,keluarga itu seperti apa sih? Ayah menjawab:

“Setiap orang itu berbeda-beda. Bayangkan, kalau kamu menjadi se-ekor kucing jangan mengonggong karena mengonggong lagi trend. Kalau kamu jadi se-ekor bangau jangan kau membeli surai agar kau tampak seperti harimau. Kalau kau jadi se-ekor tikus, jangan menggunakan mantel manusia agar kau berlagak seperti manusia dan meninggalkan comberan padahal itu tempatmu yang nyaman.
“Untuk membuat dirimu kreatif itu tidak perlu ikut seminar kreativitas. Nanti kamu ikutin apa yang dibicarakan pembicaranya kamu jadi nggak kreatif. Kreatif itu adalah dampak karena kamu menjadi dirimu sendiri. Kalau kamu se-ekor bangau dan kamu tahu tinggalnya di rawa kamu akan tahu bahwa kakimu akan panjang, benar nggak? dan akan jelas kamu akan berbeda dengan harimau, betul? Kalau kamu se-ekor lalat badanmu akan menyesuaikan lingkunganmu. Maka kamu adalah ciri khasmu. Jangan-jangan kamu jelek bukan karena kekurangan tapi ciri khasmu. Karena kalau kamu ganteng, kamu bingung ini siapa?
“Orang hebat itu bukan yang kuat dan taat, tapi yang bisa menyesuaikan dengan keadaannya. Kalau menjadi se-ekor kecoak jangan jadi kecoak yang baik nanti kamu bukan lagi kecoak, jadilah kecoak yang membuat ibu-ibu yang suka berdandan menjadi menjerit. Begitu juga se-ekor tikus dia menjijikkan, jangan jadi tikus indah, karena bukan tikus lagi.
“Setan itu beribadahnya berbuat salah. Kau tak boleh melarang setan menggodamu. Ketika nabi dihina orang, aku tanya dulu siapa yang menghina? Musuh bukan? Iya musuh. Pantaslah musuh tugasnya menghina. Kalau musuh memuji-muji, kamu curigai dia.”

Ada cerita lucu lagi, saat ujian kan ayah nggak bisa njawab, lalu diisi kertas itu dengan jawaban “Allahu ‘alam”, katanya kalau guru itu menyalahkan berarti dia murtad, hahaha. Sekolah mengajari kita percaya diri, tapi saat ujian ada kunci jawaban. Kebenaran ada di luar dirinya, bukan dalam dirinya. Atau kisah anak ayah si Timur, ia malu saat tampil di depan orang banyak, malu pada penonton, lalu ayah bilang, “Kamj jangan malu, yang harusnya malu itu penonton. Bisanya cuma nonton. Tapi kalau kamu tahu suaramu jelek dan nekat tampil itu memerlukan kekuatan mental yang besar”, haha, kacau!

Konser akustikan hari ini diakhiri dengan lagu tentang Nia lagi, tapi kisahnya ditolak. Haha. Magrib telah berkumandang, lalu panitian menginstruksikan untuk mengambil kupon angkringan, buat buka bersama bareng. Dan, mengantrilah kita, makan bareng-bareng lesehan. Nikmat sekali!
Di sisi sana, ayah Pidi sedang kebanjiran para fans yang minta foto dan tanda tangan. Usai makan, mas Abdillah dan mbak Sayu minta tanda tangan juga. Lalu, disusul mas Sabiq, hal lucu terjadi, saat semua ngantri tanda tangan di buku ayah Pidi, mas Sabiq minta tanda tangannya di buku kwarto merah isi 200, Ayah ketawa, mungkin di otaknya, “Ini apa gitu?” ketawanya bersahabat banget. Kalau mas Abdillah beda lagi, dia minta tanda tangannya di kaos, trus mas Sholeh ikut-ikutan deh, haha. Berhubung kamera HP ku nggak ber-standar saat dipakai buat foto malam, sebagai kenang-kenangan juga, aku buka note kecilku, aku minta tanda tangan juga. Lalu, aku cium tangan ayah dan aku ajak salaman. Ayah Pidi nepuk pundakku sambil bilang, “Semoga sukses” ahhh, senang sekaliii, aamiin.
Tanda Tangan Ayah Pidi
Lalu, setelah kenyang, istirahat sebentar. Kita pulang. Aku milih jalan kaki aja sama anak-anak Eska yang lain. Pengen aja malam minggu jalan-jalan menikmati udara Jogja. Kapan lagi coba bisa kayak gini? Ya, bertujuh kita jalan kaki: aku, Mas Sabiq, mas Harik, mas Abdillah, mas Hilman, mas berbaju putih, dan mas berbaju biru. Diajak main juga ke oulet biz.net, disana ngobrol, ngopi, bercanda, dll. Kita juga ditemani rintik-rintik hujan yang turun lembut sekali.
Terima kasih Allah untuk hari ini.

Jogja, 12 Juli 2014

Sabtu, 12 Juli 2014

Review Film “The Secret Life of Walter Mitty”


Motto Perusahaan
Yap, agak freaky emang nih film. Haha. Bercerita tentang sebuah perusahaan majalah. Nama majalahnya sendiri “LIFE”. Motto dari perusahaan ini sangat menantang sekali, “To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, to draw closer, to find each others and to feel. That is the purpose of LIFE”. Sayangnya, karena sesuatu hal, perusahaan dalam wujud kertas ini mau tutup (akan beralih ke produk digital)  dan akan mengeluarkan edisi akhir majalah. Cover terakhir dari majalah LIFE ini sangat spesial, karena merupakan intisari dari akumulasi perjalanan LIFE. Ada 25 foto negatif yang dikirimkan orang bernama Sean O’Connell, dia seorang fotografer, dan foto ke-25 lah yang rencananya akan dijadikan cover.

Tokoh utamanya adalah Walter Mitty. Seorang dreamy man, yang suka mengkhayalkan hal-hal yang tinggi, aneh, dan tidak masuk akal. Seorang pekerja yang dedikatif, yang sudah 16 tahun bekerja di LIFE sebagai layouter dan duduk di bagian perfotoan. 

Masalah terjadi, foto yang dikirimkan Sean yang nomor 25 tidak ada! Walter bingung, sudah berjuta foto masuk di mejanya, tapi baru satu ini hilang. Ia cari negatif foto itu di tempat kerjanya bersama sahabatnya, tapi tidak ada.

Akhirnya, Walter memutuskan untuk mencari dimana keberadaan Sean, fotografer bebas. Masalahnya juga mencari Sean tidak gampang, hidupnya dimana-mana, sehari di belahan bumi sini, sehari di belahan bumi sana. Lalu, melalui 24 foto lain yang diberikan Sean. Dicetak dan dipelajari foto-foto itu, ada teka-teki dan petunjuk yang tersimpan. Ia diskusikan ini bersama salah satu pekerja wanita bernama Cheryl Melhoff yang diam-diam Walter mencintainya. Cheryl ini punya anak satu bernama Richy, Cheryl baru sebulan bekerja di LIFE dan terancam PHK karena penutupan perusahaan. Kisah cinta Cheryl dan Walter ini lucu gitu, haha. Apalagi lamunan Walter, dari dia nolong Cheryl dan anjingnya pas lagi ada bom di sebuah perkotaanlah, atau tiba-tiba Walter jadi manusia kutub yang memberi Cheryl bunga-lah, atau Walter pengen berubah jadi Benjamin Button yang mengecil dan menua bersama Cheryl dan mati di samping Cheryl, unik banget imajinasi dia. Atau kegalauan dia saat mengirim “kedipan” di media sosial bernama e-harmony (sejenis “colek” kalau di fesbuk), dia galau nge-klik, iya-enggak-iya-enggak, haha.

Petualangan pun dimulai. Dari teka-teki foto-foto dan diskusinya dengan Cheryl. Dia sampai di sebuah pelabuhan terpencil gitu. Ia datangi café dan bertemu dengan seorang penyanyi laki-laki besar yang mengajaknya bernyanyi tapi Walter tidak mau. Terjadilah perkelahian, saat jempol laki-laki besar ini dekat dengan mata Walter, ia menemukan teka-teki lagi. Jempol ini sama dengan salah satu dari 24 foto. Perkelahian berhenti dan dua orang ini ngobrol-ngobrol. Laki-laki ini bercerita jika Sean pernah datang ke café itu, tapi dia pergi naik perahu gitu. Kebetulan laki-laki besar ini mau mengirim sebuah radio komunikasi gitu ke sebuah perahu dengan naik pesawat pribadi. Namun, laki-laki ini mabuk. Café ini cukup gila, masak satu porsi gelas bir ukurannya 2 literan, bentuk gelasnya sepatu besar gitu. Walter ragu, lalu imajinasinya datang. Ia melihat Cheryl tengah menyanyi lagu untuknya, menuntunnya ke arah pesawat, lalu saat pesawat on, Walter berlari dan melompat ke dalam pesawat. Nyaris tertinggal. Saat pesawat sampai di tengah lautan, laki-laki besar itu menyuruh Walter untuk melompat ke bawah. Walter ketakutan, melompatlah dia. Dia terapung-apung di laut, lalu ada ikan hiu yang nyaris melahapnya, untungnya ditolong oleh awak-awak kapal.

Di kapal itu ia menemukan petunjuk lagi. Dari bungkus roti ada tulisan tempat-tempat yang Sean datangi untuk berfoto, lalu didatangilah tempat itu.

Walter lalu tersesat di Islandia! Ia harus balapan memperebutkan sepeda dengan orang-orang laut saat sampai di dermaga, karena cuma satu-satunya sepeda. Naiklah ia, lalu saat sampai di savana hijau yang indah, dia melihat burung-burung banyak terbang. Lalu burung-burung itu membentuk formasi wajah Cheryl hingga tak sadar Walter menabrak sebuah tiang dan terloncat. Karena sepedanya rusak, ia memutuskan berjalan. Lalu ia bertemu dengan anak yang membawa skateboard, Walter teringat dengan Richy (anak Cheryl) yang ingin skateboard seperti itu. Lalu ia membuat penawaran pada si anak, boneka Armstrong miliknya untuk ditukar denga Skateboard itu, anak itu mau.

Dipakailah skateboard itu untuk mengarungi savana Islandia yang hijau dan indah. Ia datangi hotel tempat Sean menginap, tapi Sean sudah pergi di pegunungan gitu. Lalu Walter mencari lagi, naas, erupsi gunung terjadi. Walter pun berpetualangan di tengah erupsi itu.
Walter saat di Himalaya
Hingga akhirnya deadline pun tiba. Walter belum menemukan foto itu. Bosnya yang baru memecatnya. Di rumah, ia menemukan petunjuk lagi dalam piano ibunya. Lalu Walter bertanya pada sang ibu tentang Sean. Ibunya pun mengatakan keberadaan Sean. Ternyata Sean ada di Afganistan! Di pegunungan Himalaya! Dan berangkatlah Walter kesana. Petulangan dan pemandangan indah terjadi dalam scene ini. Ia bertemu penduduk asli Himalaya, mendaki bersama mereka, hingga ia pergi sendiri mencari Sean.

Dan, pencariannya pun membuahkan hasil. Ia bertemu Sean yang tengah duduk manis di belakang kamera, menunggu leopard salju (the ghost cat) datang. Walter ceritakan semua yang terjadi pada Sean, khusunya tentang dimana foto ke-25 itu? Sean pun menjawab foto itu ada di dalam dompet bersamaan dengan 24 foto lain tapi terpisah. Itu kado spesial Sean untuk Walter. Namun telat, dompet itu telah dibuang Walter di tempat sampah saat ia depresi dulu. Ia pun sedih. Lalu ia pulang.

Tak terduga, setiap pernak-pernik Walter selalu disimpan ibunya. Termasuk dompet yang Walter buang ketika ibunya memasak. Lalu, setelah ditemukan negatif foto itu, ia ke kantor dan memberikan foto itu kepada bosnya yang baru ketika rapat. Awalnya Walter tak diterima karena ia bukan lagi karyawan, ia bilang niatnya hanya ingin memberikan foto itu. Walter juga bertanya pada bosnya yang baru, “apa motto LIFE?”. Bosnya bilang, “Im Lovin It” yang jelas-jelas itu motto Mc. Donald, lalu Walter keluar.

Saat ngambil gaji akhirnya gitu, ia melihat Cheryl, dikejarlah wanita itu dan ia ungkapkan perasaan sesungguhnya. Cheryl salting, nggak ada kejelasan disini. Tapi kemudian mereka jalan berdua. Di jalan ada toko majalah, mereka berdua pun melihat edisi terkakhir dari majalah LIFE. Cover-nya adalah foto Walter Mitty: “Final Issue—Dedicated to the people who made it”.
Cover Akhir "LIFE"
Film ini cocok untuk ditonton para jurnalis. Menurutku, ia berbicara tentang dedikasi dan petualangan. Meski di bagian tertentu ada yang nggak nyambung.

Jogja, 12 Juli 2014