Diskusi bertajuk "Sore di Prasravana: Harapan, Praktik, dan Masa Depan Seniman", di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu, 23 Mei 2026. Diskusi ini digelar dalam rangka artist talk para pemenang Cipta Art Award 2026 yang digelar Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Diskusi menghadirkan seniman dan pemenangnya langsung: Tahnia Ahista Nareswari, Yosua Reydo Respati, Kevin Jagar Eliezer Nababan, Karin Josephina Tani Tantiana, Ismayanti, Kristian Panca "Kape" Nugroho, dan Maryo Pratama. Ada dua penanggap dalam diskusi, yaitu Aidil Usman (Komite Seni Rupa DKJ) dan Ilham Nurjadin (Dewan Juri Cipta Art Award 2026), serta dimoderatori oleh Danny Yuwanda.
Moderator Danny Yuwanda membuka diskusi dengan menyampaikan, Prasravana ini benih, bentang (dari benih ke bentang), sebagai simbolisasi dari fenomena seni rupa kontemporer yang sangat dinamis. Di samping sisi kiri kanan dia duduk ada penanggap. Pertama ada Aidil yang sudah melakukan project membuat dua ton rendang untuk korban banjir Pulau Sumatera.
Danny menyebut, setiap karya besar selalu dimulai dari hal kecil, layaknya mata air. Melalui pameran ini tidak melihat karya sebagai hasil, tapi juga proses. Sebagai ruang tumbuh untuk memperkuat ekosistem seni rupa. Saat ini, seniman punya tantangan bagaimana memaknai kedalaman di tengah situasi kontemporer sekarang. Ia mempertanyakan kepada seniman yang hadir: Apa sih benih utama yang melahirkan karya Anda saat ini?
Tahnia menjelaskan, karyanya berjudul "Her Second Skin" merupakan visual tubuh perempuan dengan deboss lingerie. Inspirasi karya awalnya ketika dia sedang meyortir pakaian eyang putri. Banyak koleksi lingerie di sana, di awal doa mengamati, "wow, ini sangat berbeda dengan pakaian dalam yang kami kenakan, dengan visual brokat kasar." Ada perasaan ingin mencoba dari diri Tahnia. Ada rasa paradoks di mana tubuhnya cantik, tapi juga tidak nyaman. Eyang Tahnia menyukai ini dan dipakai setiap hari. Dia memakai lingerie ini sebagai visual jejak perempuan. Karya ini series yang dia pakai juga di sidang skripsi studinua. Tahnia lebih khusus lagi mengulas fenomena happy victim. Bukan untuk memenuhi standar kecantikan, tapi memenuhi standar dia sendiri.
Selanjutnya, Yosua Reydo Respati atau kerap disapa Edo, karyanya berjudul "Tuhan, Tulang Ini Aku Pinjam". Awal idenya adalah dari kecil mengikuti satu ritual, tiap minggu pergi ke gereja Katolik. Ada khotbah bacaan, dia mempertanyakan ulang tak hanya khotbah tapi narasi tunggal yang ada di sekitarnya. Proses itu menjadi refleksi Edo terhadap kebenaran yang menghegemoni. Menurutnya itu bukan karya yang sempurna tapi yang lebih ingin Edo tegaskan adalah bagaimana dia bisa menjelaskan argumennya dalam sebuah karya.
Kevin Jagar Eliezer Nababan kemudian menjelaskan karyanya yang berjudul "Manuskrip Kulit", menggunakan teknik single foto pigmen print. Berangkat dari risetnya di Kupang. Kevin merasa ada rantai terputus antara kebudayaan dan kesenian. Kenapa kebudayaan hari ini itu representasinya kurang di seni kontemporer. Ia mencoba menyajikan karya yang argumennya kontemporer. Fokus karya adalah mendekode karya masyarakat adat jadi karya yang consumable untuk contemporary art.
Karin dengan karya berjudul "Anicca", sebelum dikolase, awalnya karya itu belum ada nama. Karya itu sudah dia bikin tahun lalu, tapi belum dapat kesempatan ditampilkan. Pas ada open call, karya yang belum ada nama ini ia ikutsertakan di Cipta Art Award. Karin memandang tema benih itu kesempatan baru, karena dia lagi banyak eksplorasi konsep agama Buddha. Sangat lumayan belajar tentang kesederhanaan yang mengena secara pribadi. Makanya dia namai Anicca, yang juga bisa berarti ketidaktetapan. "Yaudah itu kayak bibit, sebuah peluang tapi juga bisa layu. Memandang itu secara pribadi zoom in kemungkinan, kita lihat dari lensa mikroskop ada peluang. Apakah itu nanti akan layu atau bertumbuh, semua bisa punya kemungkinan. Tapi di sini ada kedamaian pribadi."
Ismayanti dalam karyanya berjudul "A quiet Reclaiming" menjelaskan, karyanya berbentuk mika bulat. Baginya karya itu reflektif sekali. Dia yang memiliki background di fotografi, ingin membuat fotografi dikonsumsi dengan cara yang berbeda. Kemudian dia eksplorasi berbagai medium, sampai akhirnya berlabuh ke lem Korea. Asal idenya, kalau lagi jalan motret, dia sering lihat tumbuhan kecil yang nerobos tembok, mereka tidak mati. Jalan di bawah flyover, tumbuhan ada yang nempel di tembok dengan akar besar. Dia lalu bertanya, "Kapan ya pembangunan di kota ini melihat sisi ekologis dari tumbuhan yang juga punya sikap keras, masif, senyap? " Dia menganggap, kajian arsitektur tidak memberikan hak yang sama dengan mereka, kesenyapan yang bingar. "Before mereka ambil dengan cara mereka, better kita memperhatikan," ujarnya. Akhirnya analisis itu dia bawa juga ke urban studies melalui teknik layering, karena tersembunyi tapi juga terlihat. Begitulah dasar ide Isma.
Kape dalam karyanya berjudul "Kuasa" berkontrmplasi terlebih dahulu terkait konsep pameran? Apa benih utamanya? Kekaryaannya sendiri didasarkan dari kayu. Dan kayu ini diambil sebagai metode berkarya. "Saya ikut vipasana, meditasi 10 hari. Metode kesadaran. Dalam 10 hari berkarya, saya kontemplasi, nemu satu kalimat we are nature. Ini dasar untuk menggali karya ini. Kita ini dengan alam satu kesatuan, tapi kondisi sekarang paradoks. Kita membutuhkan alam tapi juga menghancurkan alam. Makanya pakai simbol kampak dan tali yang diikat. Pohonnya itu dari alam langsung," jelasnya.
Danny sebagai moderator juga bertanya kembali, sejauh mana pengalaman personal mempengaruhi penciptaan karya?
Tahnia menjawab, menurutnya semua karyanya dari pengalaman personalnya sendiri, apalagi konteksnya ketubuhan perempuan. "Pengalaman aku sebagai seorang perempuan."
Edo menjawab, di karyanya, dia mengamati ada informasi yang gak berhenti di masa sekarang. Ini memunculkan dialog di dalam dirinya, "Apa yang saya pikirkan ini saya tuangkan ke karya. Beruntungnya di Indonesia masalah bertubi-tubi, supaya sehat diolah dan dikeluarkan lagi," ungkapnya.
Kalau menurut Kevin, ada ketimpangan urban dan suburban. Di Timur Indonesia ada anggapan melihat mereka kok merasa kasihan, misa buat kain tenun sulit-sulit dan lama tapi dijual murah. Narasi kasihan terhadap orang Timur ini yang coba dia bongkar. "Saya sampai ke cara pandang suburban, apa yang kita anggap susah itu resilensi buat mereka. Ini beda dengan konsep yang sekarang uang, uang, uang," protesnya. Dari refleksi itu, lalu hasil karya tidak memasukkan wajah, tapi hanya tangan. Kalau ada wajah, pasti ada konsep untuk dikasihani. "Kita hanya fokus ke kebudayaan yang mereka miliki. It is what it is. Cara mereka hidup adalah cara mereka hidup."
Karin begitu sepakat jika pengalaman pribadi berpengaruh ke karya. Mungkin ini dianggap egosentris juga berasal dari pengalaman pribadi. Dari pengalamannya sepuluh tahun lebih menekuni visual abstrak, selama ini bertanya kenapa karyanya gak eye catching? Secara intuitif karyanya ke arah abstrak, setelah sekian periode, ia mengalami isu penurunan pendengaran. Ini berefek ke berbagai hal, ternyata setelah dia proses, ternyata tubuh bereaksi duluan sebelum ia tahu kenapa. Laku untuk berkarya secara intuitif itu cara menyelamatkan diri Karin. "Aku menggali mengapa toh? Reaksi otak begini, korelasi terhadap dunia luar beraksi kayak gini ketika gak ditangani dengan baik. Aku mempelajari dengan caraku sendiri. Sangat pribadi tapi juga sangat universal," ceritanya.
Isma menjawab, banyak hal yang masuk ke dalam dirinya itu menggilakan, jadi harus dikeluarkan. Semua terserap menimbulkan banyak pertanyaan. Banyak apatisme orang, mereka, society punya big attention ke yang terlihat, tapi lingkungan seperti tanaman kurang diperhatikan. Ada keresahan personal terhadap lingkungan. Kalau sedang moto, itu gak dikasi ke ruang hidup. Menurutnya, ada dialektika, entah kenapa dan bagaimana. "Karya saya juga terkait identitas, bagaimana manusia menghasilkan kebudayaan. Saya pernah buat film di Kalbar, sebagai human, kita part of lingkungan. Tapi sebagai manusia Nusantara kok malah menjauh dari lingkungan. Ada kontemplasi sendiri agar melihat alam gak sempit. Buat saya ini menyakitkan," ungkapnya.
Kape berkaitan dengan pengalaman personal justru mempertanyakan, seorang seniman ketika berhadapan dengan medium, harus jujur dengan karyanya atau tidak? "Keseharian saya coba masuk ke situ. Di rumah grounding, permakultur, saya melihat bahwa medium sangat penting untuk seniman. Lucu kalau seniman tak jujur dengan mediumnya," jelasnya.
TANGGAPAN:
Danny bertanya pada Usman: Bagaimana melihat ekosistem Jakarta selama beberapa tahun terakhir? Apa kontribusi Cipta Art Award pada karier seniman?
Aidil Usman menjelaskan, di dalam konteks sejarah seni rupa, masa sekarang menjadi periode kedua setelah lima puluh tahun, sebagai cikal bakal Jakarta Binneal. Tapi ini banyak perdebatan, ada dikotomi seniman baik. Ada perlawanan dengan gerakan seni rupa baru dengan tokohnya seperti Hardi, FX Harsono, Bonyong. Ini para seniman pembangkang.
"Alhamdulillah saya berhubungan dengan mereka. Kenapa cipta ini kita inisiasi di Jakarta. Dengan harapan seni rupa Jakarta harus menciptakan ekosistem baru, agar seni rupa Indonesia biar masuk ke pergulatan wacana. Jakarta hanya masuk etalase, primary market," katanya.
Menurutnya, Cipta Art Award ini akan sustain. Dari sisi karya kawan-kawan seniman menarik. Banyak genre, ada lukis, instalasi, patung. Ini yang ada di pergulatan seni rupa kontemporer. Dari sisi narasi dan kesadaran juga tumbuh, ada lompatan jauh, tapi pertanyaan bagaimana konsistensinya? Cara berpikirnya bisa dimulai dari menemukan ide, mengolah ini sebagai sistem, akan dilihat dalam kondisi tertentu.
"Sekarang pendekatan itu mudah diraih, sejauh mana mengolah kesadaran imajinasi, visi, mengelola ekosistem, tentu ini bisa personal. Keterkejutan ini tentu perlu dijaga. Saya berkeyakinan teman-teman ini merangkak pada posisi tertentu. Pengkaryaan perlu ada impact ekonomi tertentu. Dimulai dari bercipta, ruangan yang mempengaruhi seniman. Dari ide benih. Simbolnya bibit kelapa. Selamat para seniman di sini akan jadi penerus," ungkapnya.
Ilham Nurjadin menambahkan, dari 20 finalis pemenang, secara personal dia fokus ke teknis, konsep, dan mediumnya. Bagaimana kita bisa melihat beyond dalam karya seni. Setiap seniman punya mediumnya sendiri, juga konsep yang menarik untuk dijelaskan. Ada hubungan yang kuat dengan teknik khusus mereka masing-masing.
Danny mempertanyakan lagi, bagaimana eksplorasi medium?
Kape menjawab, aturan pertama, dia adalah seniman yang suka dengan medium kayu. Kenapa kampak gak pakai besi tapi pakai? "Dari dulu saya suka banget sama kayu. Punya hasrat yang kuat ke kayu kalau lihat kayu. Saya ingin bawa benda-benda yang natural dari alam," kata Kape menjelaskan tentang mediumnya.
Seniman lain bernama Maryo Pratama yang datang terlambat menjelaskan, berkaitan dengan pemilihan media, dirinya eksplorasi medium ini sudah dari tahun 2015. "Sempat tidak pede dengan media, saya suka numpuk objek di lukisan. Proses editing olah dulu di Photoshop. Ada tiga layer. Saya eksplorasi medium apa yang ada objeknya tapi masih bisa transparan. Akhirnya saya nemukan medium kain tile," terang Maryo yang menjelaskan karyanya berjudul "Life Rhytm".
Tahnia menambahkan, dia pernah satu tahun magang di Jogja, dan mengharuskannya eksplorasi material. Ia ditekan untuk extend print making yang lebih modern menggunakan teknik litografi, dan akhirnya photolitography yang dipilih. "Dari situ kepikiran tentang jejak, jejak pada tubuh perempuan. Tidak ada tintanya, tapi ada teksturnya, khususnya teknik deboss."
Edo menyebut bahwa mediumnyalah yang paling sederhana, medianya kertas. Banyak perupa menganggap gambar di kertas jadi awal buat ide. "Yang saya temukan, dalam medium kertas ada ungkapan yang lebih jujur, gak dipoles. Karena kertas juga kaku mungkin tidak menarik, itu jadi nilai lebih. Juga tentang garis, bagaimana garis itu hadir. Bagaimana kertas jadi medium yang sangat mendasar," ungkap Edo.
Kevin menanggapi, awalnya dia merasa insecure di awal, fotografi lumayan jarang dipertimbangkan dalam seni. Untuk membuat foto ini bisa bertatapan dengan karya lumayan lama, adalah dibesarkan skalanya. Tangan yang sangat besar, seperti manusia. Ditempel di dinding ukurannya pas. "Yang ingin saya tonjolkan adalah energinya. Banyak yang kira oil paint, karena tenggat dan materialnya tetap. Gak hanya fotografi, tapi juga hal yang hidup."
Karin menjelaskan, "Aku kerja dengan kertas, utamanya kertas yang siap dibuang, seperti ketika dapat kemasan, kardus bekas, selotip, itu diproses lagi, juga tanggung jawab pribadi ngurangin sampah. Belakangan banyak bekerja dengan benang, belajar merajut, itu aku eksplorasi dan bagaimana bisa digabungkan dengan kolaseku. Itu berkontribusi untuk narasi karya."
Isma menjelaskan, "Kenapa akrilik? Karena chemical-nya di akrilik itu sesuai, gak perfect, ada cracked, gimana karya itu gak harus dari looks, tapi bagaimana menyampaikan pesan. Saya mengincar ketidaksempurnaan. Kemudian ditransfer image, saya eksplorasi dari gel medium, stiker, UV print. Pemilihan bukan akrilik yang tebal, saya ingin membuatnya tipis."
Dewan Juri Ilham menanggapi, medium penting dan medium yang dipilih seniman harus sesuai dengan konsep. "Yang saya temukan, setiap seniman bercerita dengan sangat lokal dan personal," ujarnya.
Aidil juga mendapat pertanyaan dari Danny, "Seberapa penting membangun regenerasi seniman?" Aidil menjawab, penting karena kompetisi seperti Cipta Art Award bisa menampung seniman. Bagaimana memberikan ruang bagi seniman muda yang punya kemampuan sendiri. Ketika dikomunitaskan, bagaimana itu menciptakan ruang. Sustainable juga agar terjaga. " Agar mereka sudah tak gamang milih seni rupa sebagai jalan hidup. Sekaligus seni rupa ini bagaimana agar punya implikasi sosial, bagaimana sejarah dibangun."
Dari sisi audiens, Isma dari Petojo bertanya: "Benih atau ide dalam berkarya itu mudah ditemukan dalam sehari-hari, tapi bagaimana membuat ekosistem untuk menjadi karya yang jadi itu yang sulit. Bagaimana seniman di sini membangun ekosistem dari benih ke karya tersebut?"
Edo menjawab, dia berkarya tidak ada ekspektasi, yang dia puaskan pertama kali adalah dirinya. Layaknya menebar benih, tidak semuanya akan tumbuh dengan baik, tapi di sana ada konsistensi dari Edo untuk selalu berkarya dan mencoba sesuatu yang baru. Mengulang pun juga bentuk eksperimen.
Ismayanti melengkapi, menurutnya gak ada ekspektasi sama seperti Edo. Dia melakukan seni bahkan dengan lembur tapi itu dilakukan dengan menyenangkan. Justru menjaga intensi atau niat, untuk apa. Yang mendasar itu Isma merasa merdeka dalam berkarya, itu yang saya jaga. Eksperimental itu ada hasil tak terduga. Ini respons terhadap apa yang kita konsumsi. Bagaimanapun jadinya itu sebuah karya. Itu wujud pikir kita, kalau ditolak berarti ada problem. Ekosistem itu yang dia jaga dalam berkarya. "It's liberating. Ini yang personal buat saya. Interaksi medium dengan hasil karya kita."
Sementara itu, Arhan Aryadi Komponis sekaligus dari DKJ Seni Musik menanggapi, menurutnya seni itu bukan pacuan kuda, tidak perlu dilombakan, tapi lomba itu penting untuk merangsang kita berkarya. Ada ruang di DKJ, untuk merepresentasikan karyanya. DKJ memberikan ruang itu.
"Seni gak ada yang baik dan buruk, sama dengan di musik, bukan musik yang enak atau tidak enak, yang paling dicari itu kuat atau tidak kuat, kedalamannya. Awal-awal itu saya sempat lihat plating pamerannya, itu sebenarnya kuat, menarik, tapi balik ke personal. Kalau kuat harus betul-betul jujur dan dalam terkait bagaimana mengungkapkan ekspresi. Harus dilihat dari berbagai segi arahnya. Saya pergi ke Baduy, saya sering kecamatan Baduy, di Baduy Dalam itu wanita tak pakai daleman. Karena kolonialis, tubuh harus ditutup. Lingerie itu produk kolonialisme, lingerie itu produk yang dipakai bangsawan kelas atas. Kedalaman karya harus betul-betul dipikirkan, dalam berkesenian akan masuk dalam gaya seperti apa? Misal saya spektralisme. Misal lingerie bisa jadi gaya, mengembangkan itu dengan terus menerus. Sebagai seniman gak harus mencari-cari atau apa, kalau ketemu satu, yaudah itu aja yang dikembangkan." Arhan memberi pesan.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar