Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Indonesia mengadakan webinar terbuka bertema "Value-based Education" (VbE) melalui Zoom Meeting, Sabtu, 16 Mei 2026. Webinar ini menghadirkan narasumber:
1. Prof. Corina D.S. Riantoputra (Fakultas Psikologi UI)
2. Prof. Theddeus O.H. Prasetyono (FK UI)
3. Prof. Agus Sartono (FEB UGM)
4. Prof. T. Chan Basaruddin (Fasilkom UI)
5. Prof. Sudarso Kaderi Wiryono (SBM ITB)
Sambutan:
Prof. Eko Prasojo (Ketua Umum DGB UI)
Prof. Riri Fitri Sari (Ketua Komite 1 DGB UI)
Moderator:
Prof. Cynthia Afriani Utama (FEB UI)
ISI DISKUSI:
Agus Sartono (Guru Besar FEB UGM) menjelaskan, hakikat hidup tertinggi manusia terletak pada kemampuannya untuk berpikir kritis dan berefleksi. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang berperan dalam pendidikan itu? Yang paling berperan guru dan dosen, tapi tak sekedar di kelas, orang tua juga harus jadi guru. Mereka harus bisa menjadi contoh. Menguasai materi itu mudah, tapi perlu punya satu value, integrity, dalam konteks agama ini ketakwaan (Allah selalu melihat). Di UGM ada contoh misal kasus sexual harrasment, runtuhlah kredibilitas dosen. Bagaimana kita memberi penilaian tidak hanya numerik, tapi juga karakter. Manner sangat penting. Bukan untuk dosen, tapi untuk masa depan mahasiswa. Guru harus jauh dari rasa ketakutan juga karena mendisiplinkan anak didik. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab formal, tapi juga orang tua dan orang-orang terdekat.
Dalam sambutannya, Eko Prasojo (Ketua Umum Dewan Guru Besar UI) mengatakan, tema ini sangat penting sekali dalam berbagai perkembangan sosial dan perilaku masyarakat. Ditandai dengan perkembangan teknologi dan informasi, juga perubahan generasi. Ada digitalisasi, globalisasi, dan milenialisasi. Ini berpengaruh pada mental model dan perilaku masyarakat. Tidak hanya transfer pengetahuan, tapi juga membentuk budaya yang baru, yang sesuai dengan perjalanan saat ini. Universitas sebagai salah satu institusi pendidikan, berperan dalam melahirkan sosok yang tak hanya baik dalam pengetahuan, tapi juga perubahan kultur. Alumni universitas harus jadi agen perubahan sehingga membantu perumahan sistem yang lebih kondusif, misal untuk pencegahan korupsi. Kemajuan setiap bangsa dipengaruhi empat hal: (1) sumber daya alam, (2) sumber daya manusia, (3) institusi atau sistem/good governance, (4) good value. Sehingga lulusan tak hanya pintar dan kompeten, tapi juga punya budaya yang baik.
Nilai Itu Inheren dengan Konflik
Corina D.S. Riantoputra (Fakultas Psikologi UI) melanjutkan, kalau melihat anak muda sekarang punya perkembangan yang berbeda. Mereka dalam informasi overload, ada informasi baru yang muncul tiap hari di gadget. Kalau dulu jam 9 malam tahu dunia dalam berita. Sebelum masuk kelas, mereka udah dapat informasi duluan. Informasi banyak yang membingungkan, ada inkonsistensi, sehingga bingung melangkah bagaimana. Semua ingin langkah kita aman jika peraturan berubah-ubah. Mahasiswa mengalami uncertainty yang tinggi. Mahasiswa juga hidup dalam perbandingan sosial yang tinggi, bahkan juga ada budaya cancel. Mereka bingung, kalau berbeda pendapat haruskan kita cut atau bagaimana. Mahasiswa dalam kondisi hampir tenggelam. Dalam menolong, kita tolong dari belakang. Nilai-nilai yang baik itu tidak selalu sejalan, bahkan sering berkonflik, satu dengan yang lain (Schwartz, 2012). Contoh: kreativitas vs kepatuhan; prestatif vs kebaikan/pehatian. Dengan resources terbatas, kita tak bisa memenuhi semua dalam waktu yang sama. Harus tahu prioritas. "Value inherent in conflicting," katanya.
Value-based education bukanlah upaya untuk mengajarkan tentang "to be good", tapi untuk merumuskan apa yang bermakna untuk dikejar, apa yang penting untuk tidak dilanggar, dan bagaimana membuat keputusan yang saling bertentangan.
Ada penelitian yang bagus, "Individual and Generation Value Change in an Adult Population, a 12-year Longtitudinal panel study", menunjukkan semakin tua, akan semakin konservatif. Barangkali tidak hanya self-bias. Selain itu, ada value transformation, tak hanya sekadar bagaimana caranya tapi juga "reason" (alasannya). Membantu untuk identifikasi konflik yang ada (contoh: kejujuran vs tekanan untuk berprestasi, takut gagal), memahami konsekuensi jangka panjang dari tiap keputusan dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Ketika seorang memilih tidak jujur, kita cari tahu alasannya. Bukan tak mau tanggung jawab, tapi ada value lain yang diprioritaskan.
Indonesia hanya sekadar ekspos value, bukan action. Kita hanya omon-omon saja. Kita tutup mata misal soal menulis dengan AI, dosen menyuruh tidak pakai AI, tapi dosen publikasi pakai karya mahasiswa. Bagaimana jika mahasiswa mengukur value dosen? Apakah mereka kasi role model atau dosen cuma omon-omon saja. Ditanya juga dosen yang dikagumi, karena dia bisa berperan sebagai role model, ini yang harus saya lakukan. Jika mereka melihat dosennya harus berprestasi, tapi ketika mahasiswa butuh pertolongan dan dosen memberikan, mereka belajar terkait passion. Banyak orang belajar dari "actions".
Universitas perlu melakukan soul searching: Apakah yang menjadi tujuannya? Pemerintah perlu merenungkan mungkinkah universitas diberikan beban begitu tinggi dengan dukungan yang sangat terbatas? Ada cerita mahasiswa UI yang home broken, dia harus jalan dari Cinmanggis ke UI, dia dapat beasiswa, ibunya tidak bekerja, dan uang beasiswa untuk ibunya, mengatur ekonomi keluarga; tidak mungkin dia secermelang yang punya privilege mahasiswa dengan ekonomi lebih. Dosen PTNBH 52% merasakan beban lebih. Cara dosen mengajar perlu dipertimbangkan, mahasiswa butuh dialog. "Our job is to prepare students to be responsible," ujarnya.
Dari Volume ke Value
Materi selanjutnya dari Theddeus OH Prasetyono (FK UI) menjelaskan tentang pengantar hidupnya, "to educate a man in mind and not in morals is to educate a menace to society..." (Theodore Roosevelt). Dia cerita bagaimana mahasiswa PPDS melakukan refleksi. Dalam kondisi lelah muncul jalan pintas, tapi dampaknya berpengaruh buruk dalam jangka panjang. Ada nilai yang perlu dibangun, UI jadi acuan sebagaimana UGM dan ITB, menggali nilai apa yang menjadi topik dialog internal? Kejujuran, keterpercayaan, ini bagian dari tanggung jawab, kepatuhan pada aturan.
Contoh lain pernah memberikan contekan saat ujian. Berpikir ini bentuk kepedulian pada temannya, tapi setelah refleksi ini melanggar nilai. Dialog internalnya tentang kejujuran. Ada kelonggaran terhadap nilai. Ternyata ada dokter spesialis, ada yang merasa tidak salah, ini surprising.
Studi kasus lain, ada pasien yang punya ambang batas rendah. Dokter ini menemani pasien ngobrol, ternyata pasien gelisah atau nyeri tapi karena tidak ada keluarga dekat yang ada di sampingnya. Dialog internal terjadi karena ada kesadaran akan kemartabatan sebagai manusia.
Etika profesi dan pendidikan yang berkarakter keluar bukan hanya sekadar teknik, tapi juga compassion yang proper, ethics, dan patient dignity. Termasuk leadership yang melayani, menekankan kesetaraan. Ada tiga prinsip nilai berbasis pendidikan: (1) holistic development, (2) critical thinking as a value, (3) civic engagement. Di dunia apa pun bisa menerapkan ini.
Ada tiga kurikulum tersembunyi mempelajari nilai: (1) role modeling, (2) institutional culture, (3) collborative learning. Setiap kita punya kesempatan role model di setiap kesempatan. Sebagai pendidik, selalu terpotret, conduct yang kita lakukan akan selalu terpotret. Tindak profesional akan jadi ukuran nilai, dan jadi feedback. Kita juga mesti lihat institusionalnya. Mengubah budaya institusional dari "volume ke value". Ini jadi perenungan penting tak hanya di dunia kedokteran. Ada the value star: (1) clinical excellence, (2) operational efficiency, (3) patient experience, (4) profesional value, (5) professional well-being. Gak hanya bicara body of knowledge saja, tapi juga memahami ada competent humility. Not just an individual trait, tapi juga sistem.
Materi terakhir dari Sudarso Kaderi Wiryono (SBM ITB) menjelaskan, tema ini penting karena masalah perubahan yang besar: AI, disrupsi, perubahan kerja, hingga degradasi etika. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan gak hanya pintar saja. Jika hanya berdasarkan pada kompetensi, VbE ini jadi penting, agar siap memimpin. Pendidikan masa depan akan jadi beyond knowledge and skill. Di era AI, akses mudah tapi tantangannya bukan hanya apa yang diketahui, tapi untuk tujuan apa digunakan. Integritas akademik jadi fondasi yang utama.
P.S.:
Untuk materi dari Prof Chan dan Prof Riri, saya tidak mengikutinya karena datang ke webinar terlambat. Baru mengetahui acara setelah menonton stori Instagram UI. Overall, saya berterima kasih untuk ilmu baru dari kegiatan ini karena semakin memperkuat pengajaran terkait dengan nilai yang saya terima.
Tanya Jawab:
1. Adelashal: Banyak teori value, tapi kenapa pejabat sekarang tidak sesuai nilai?
Agus: Ada dua tipikal pejabat, pejabat karier dan pejabat bukan karier. Kalau karier tidak ada pilihan, tapi kalau punya side job bisa ada pilihan. Yang karier ini akan sulit lurus. Ikan tergantung kepala ini juga betul. Sistem monitoring ini sangat penting. Korupsi ini terjadi karena mengorbankan identitas. Sebagai pejabat jangan diukur dari intesifnya, tapi juga integritas. Kalau melanggar pasti tidak sustainable. Mengejar dunia iya tapi tidak yang utama. Kejar akhirat, dunia akan mengikuti.
2. Question: Bagaimana cara terbaik mengatasi dekadensi moral?
Agus: Harus dimulai dari rekrutmen guru, beri guru intensif yang cukup. Masih sedih dengan nasib guru sekarang. Kalau Desember gak ada guru honorer, akan sangat kesulitan. Orang lebih mementingkan investasi jangka pendek daripada jangka panjang. Menanam nilai-nilai itu harus dari kecil, bukan dari malah pendidikan tinggi.
3. Sabang: Budaya kita paternalistik. Kita banyak orang pintar tapi kurang bijak. Mulainya darimana?
Corina: Kalau benar kita budaya yang membutuhkan role model, ini memberi kesempatan kita sebagai dosen untuk jadi role model. Saya mengundang ibu-bapak Profesor jadi role-model. Untuk membentuk mahasiswa, perlu refleksi apakah kita jadi role-model.
4. Dwi Wahyu: Bagaimana cara membantu mahasiswa dalam berbagi nilai? Tantangan utama menerapkan berbasis nilai?
Corina: Mengingat kita banyak yang hadir, forum DGB bisa bicara. Bagaimana kalau forum DBG alokasikan 30 persen untuk mendiskusikan dilema moral. Ini memungkinkan karena mahasiswa ada AI. Barangkali keseluruhan mengajar perlu diperbaiki. Alokasi waktu diberikan pada diskusi dilema moral, sehingga tak sekadar lewat.

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar