Refleksi 29052026:
Hari ini aku makan bakso di dekat Stasiun Juanda, karena bakso Handayani di Gang Kingkit tutup, mungkin karena libur panjang Idul Adha. Aku pun memutar jalan menuju arah Juanda, melewati gang-gang kecil di Jakarta. Aku memperhatikan, bahkan karena sempitnya ruang, menjadi umum gang digunakan sebagai dapur. Kompor dan bahan makanan yang diletakkan di depan rumah jadi hal lazim.
Saat sampai di penjual bakso kaki lima, aku memesan semangkok bakso dan es teh tawar. Penjualnya seorang ibu berkacamata, yang dibantu anak perempuannya (mungkin usia 20-an), wajah mereka mirip. Aku makan seperti biasa, yang menarik, si anak perempuan ini nyanyi lagu yang lagi viral berulang-ulang: "MBG, Mas Bahlil Ganteng / Buah apa, yang paling manis? / Buahlil / Tambah ganteng aja..."
Tanpa bermaksud menghafalnya, aku sampai hafal reff-nya saking si anak tadi mengulang-ulangnya terus. Panasaran, aku browsing asal-usul lagu itu, dan ternyata lagu itu dibuat AI. Aku jadi mikir: untuk golongan grassroots, lagu-lagu seperti ini populer juga ya. Ia jadi semacam "earworm" di wilayah abu-abu, yang sulit dibedakan apakah ini meme, propaganda, satire, ironi, hiper-absurd, atau ambiguitas sama sosok Bahlil. Politik udah ekspansi ke jalur-jalur seperti ini.
Untunglah, enggak tahu nyambung atau enggak dengan refleksiku, di semesta lain, ada pula orang-orang baik yang ngasi bacaan-bacaan waras (di tengah gempuran musik algoritma) macam ini. Buku itu judulnya, Music and Social Movements: Mobilizing Traditions in the Twienthieth Century karya Ron Eyerman dan Andrew Jamison. Link dowload bisa dunggah dari ini: https://share.google/FVbgsxQ7Uy0N1j3vO.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar