Moderator Rafqi Sadikin melihat adanya kecenderungan alegoris dalam
novel ini, mirip dengan Animal Farm. Ia menilai cerita tersebut dapat
dibaca sebagai representasi masyarakat Indonesia, di mana kelompok kecil
cenderung mengikuti yang lebih besar.
Pemaparan Evi Sri Rezeki
Evi membuka dengan menyampaikan bahwa Oni Jouska menarik setidaknya karena tiga hal utama.
Pertama, novel ini berbentuk fabel dengan tokoh utama ikan remora—pilihan yang tidak lazim dan memberi pengalaman membaca yang unik. Meski tipis, buku ini memberikan kesan yang menggetarkan sekaligus menyenangkan.
Novel ini juga menghadirkan kritik ekologi politik melalui sudut pandang non-manusia. Selama ini, isu kerusakan lingkungan cenderung dilihat dari perspektif manusia, sementara makhluk lain hanya menjadi latar. Dalam Oni Jouska, Asep menghadirkan “hidangan” tentang relasi ikan dan sampah laut—mengingatkan pembaca pada ironi bahwa manusia mengonsumsi ikan yang juga terpapar plastik, sering kali tanpa kesadaran.
Dalam kajian ekologi politik, relasi kuasa menjadi aspek penting, namun biasanya tetap berpusat pada manusia. Fabel dalam novel ini menjadi jembatan untuk menghadirkan perspektif alternatif: bagaimana jika dunia dilihat dari sudut pandang ikan?
Kedua, kesulitan dalam ekologi politik untuk menggambarkan “perasaan” makhluk non-manusia dijawab melalui pendekatan sastra. Fabel memungkinkan pembaca memahami emosi dan pengalaman ikan secara imajinatif.
Ketiga, novel ini bersifat reflektif. Jika fabel umumnya menyajikan pesan moral di akhir, Oni Jouska justru mengajak pembaca mempertanyakan hidup itu sendiri. Para tokohnya—ikan-ikan—bahkan tidak sepenuhnya tahu apa yang mereka cari dalam hidup, yang sekaligus merepresentasikan kondisi manusia.
Relasi kekuasaan juga tampak dalam interaksi antarklan dan bentuk simbiosis. Ikan remora sebagai makhluk kecil mampu bertahan dengan memanfaatkan kekuatan ikan besar—menjadi metafora kecerdikan dalam struktur sosial. Konflik diperkeruh oleh perilaku membuang sampah sembarangan.
Selain itu, novel ini kaya akan unsur mitos, kenabian, dan imajinasi. Misalnya, kisah ikan yang konon memakan nabi (mengacu pada cerita Nabi Yunus), serta mitos tentang dewa laut dan asal-usul hujan. Asep berhasil membangun mitologi baru dalam dunia ceritanya.
Evi juga menyoroti konsep “Jouska,” yang dalam psikologi merujuk pada dialog internal dengan diri sendiri. Jouska menjadi cara untuk memproses dan menjernihkan pikiran, serta menghadirkan pelajaran tentang empati dan simpati.
Ia membandingkan pengalaman membaca novel ini dengan nuansa serial SpongeBob SquarePants—tokoh Oni yang penuh pertanyaan seolah mengajak pembaca ikut “terjun” ke laut dan mengalami dialog batin tersebut.
Namun, Evi mencatat kelemahan pada penggambaran karakter yang cenderung hitam-putih.
Di sisi lain, novel ini juga terasa seperti membaca buku biologi karena dilengkapi ilustrasi dan deskripsi dunia laut. Pada bagian akhir, terdapat kemiripan dengan kisah Nabi Yunus, terutama pada motif “ditelan paus” dan refleksi spiritual yang menyertainya.
Secara keseluruhan, Evi melihat novel ini sebagai representasi perjalanan dari “nobody menjadi somebody,” yang memberi harapan sekaligus menunjukkan sisi marginal penulis.
Penjelasan Asep Ardian
Asep menjelaskan bahwa awalnya ia ingin menggunakan paus sebagai tokoh utama, tetapi setelah riset, ia menemukan ikan remora lebih relevan sebagai representasi diri.
Ia mengaitkan pilihan tersebut dengan pengalaman pribadi, termasuk fenomena “buntutisme” sejak masa sekolah—kecenderungan mengikuti kelompok tertentu demi terlihat kuat atau keren, yang justru ia anggap tidak menarik.
Menurutnya, novel ini juga menjadi pengingat bagi dirinya sendiri agar tidak terjebak dalam pola tersebut. Ia menekankan bahwa manusia memiliki pilihan dalam menentukan “simbiosis” atau relasi yang dijalani dalam hidup.
Dalam proses kreatif, Asep menyebut menulis bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga kebiasaan. Ia menulis di sela aktivitas sehari-hari, bahkan di tempat berjualan. Ia mengibaratkan menulis fiksi seperti memasak: menggunakan bahan yang ada—pengalaman, ingatan, dan imajinasi—untuk diolah menjadi cerita.
Ia juga menyoroti bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada aspek ekonomi, termasuk pedagang kecil dan nelayan. Dalam narasinya, “musuh” utama bukanlah sesama manusia secara horizontal, melainkan juga persoalan struktural (vertikal), seperti kebijakan.
Asep mengakui bahwa penulisan novel ini berangkat dari fase hidup yang suram. Interaksinya dengan lingkungan sekitar, termasuk laut dan isu sampah, membentuk gagasan cerita.
Ia juga menegaskan bahwa buku ini ditujukan untuk semua umur, dengan harapan pesannya dapat tersampaikan luas. Baginya, yang utama bukanlah figur penulis, melainkan gagasan dalam karya. “Pengkarya adalah wadah, karya adalah isi.”
.jpeg)
.jpeg)
Sesi Tanya Jawab
Pertanyaan (Rayan):
Menyoroti kontradiksi antara kesadaran akan sampah dan praktik penggunaan plastik, termasuk dalam kehidupan sehari-hari seperti pedagang.
Jawaban Asep:
Ia menyatakan bahwa pengalaman hidup dan lingkungan membentuk kesadaran seseorang. Ia sendiri merasakan perubahan perspektif setelah sering melihat laut dan fenomena sampah, bahkan dalam hal kecil seperti penggunaan sabun. Ia menyebut perjuangannya masih terbatas, berbeda dengan gerakan langsung seperti Pandawara Group.
Tanggapan Evi:
Setiap orang memiliki peran dan cara masing-masing dalam berkontribusi. Sastra, termasuk "Oni Jouska", dapat menjadi medium untuk mengubah cara pandang masyarakat.
Penutup
Evi menutup dengan menegaskan bahwa setiap penulis memiliki proses yang berbeda—ada yang memulai dari karya, ada pula yang dari komunitas. Diskusi ini menunjukkan bahwa "Oni Jouska" bukan hanya karya sastra, tetapi juga ruang refleksi atas relasi manusia, lingkungan, dan diri sendiri.
.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar