Senin, 26 Februari 2024

Tulisan Bukan Milikku

"Yang kutulis bukan sepenuhnya milikku, baik itu teori, kata, pengalaman, dan semuanya. Aku hanya merangkai hal-hal yang tak kupunya. Jadi setelah tulisan itu lepas ke publik, ya aku menyadari itu sudah bukan milikku sepenuhnya. Aku membiarkan publik menilai. Kalau ada kritik ya itu lebih bagus, aku makin giat belajar dan memperbaikinya, daripada dibilang tulisan itu udah bagus dan aku berhenti belajar."

Jelasmu tadi malam menjawab semua kegelisahanku kemarin. Setelah aku merasa sedih, hampa, menangis, dan merasa tidak berguna, kamu mengembalikan nyawaku kembali. Kritik di saat waktu yang tak tepat bisa sesedih itu, tapi kemudian aku sadar kembali. Terima kasih telah menemaniku mengobrol banyak hal, mendengarkan curhat-curhat tidak pentingku selama hampir 4 tahun ini, sampai suaramu tak terdengar lagi, dan kau pun hilang. Saat itu aku berpikir, tak hanya tulisan, tapi juga semua yang kupunya bukan sepenuhnya milikku, dan yang terjadi padaku, termasuk kamu.

Paginya kau berkirim pesan, "Maaf ya semalam aku ketiduran." 

Aku paham. Aku ngrasa semalam dari suaramu, kayaknya kamu kecapekan. Jangan lupa istirahat, dirapikan lagi jadwal tidurnya, makan sehat, dan banyak minum air putih. Biar kuat menjalani hidup.

Makasi ya, makasi....

Minggu, 25 Februari 2024

Catatan Film #5: Bob Marley: One Love (2024)

 "Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our mind
Whoa! Have no fear for atomic energy"

--Redemption Songs, Bob Marley

Rita, istri Nesta bertanya tentang lagu ini, "Kapan kau membuatnya?" Dia menjawab, "Seumur hidupku." Musik dan lirik bagi Nesta tak bisa dipisahkan, dan lagu "Redemption Songs" ini salah satu lagunya dengan lirik yang sangat kuat. Bayangkan gagasan ini keluar dari latar belakangnya sebagai kelompok ras manusia di Jamaika yang kondisinya masih dikucilkan, di dunia ketiga dengan semua persoalan tribalnya, hanya tiga kata: songs of freedom.

Bob Marley aka Nesta meninggal semuda itu saat umur 36 tahun karena kanker kulit. Reggae dan Rastafari yang menjadi ideologi hidupnya semacam menjadi cahaya yang mengilhami karya-karya Nesta. Saat ditanya kenapa reggae begitu populer? Jawabannya serupa argumen yang dibangun oleh orang-orang besar sepanjang sejarah yang tak pernah mementingkan dirinya sendiri: reggae adalah musik rakyat, dia hadir dari sanubari orang-orang kecil. 

Exodus, album Bob Marley dan The Wailers yang dinobatkan Times sebagai salah satu album besar abad ke-20 liriknya syarat pesan-pesan transenden dari bibble dan ajaran Jah, Rastafar(a)i. Marley suka buku cerita Haile Selassie (Mantan Kaisar Etiopia) dibaca Nesta berkali-kali, buku perjuangan para kulit hitam, tak hanya Jamaika tapi juga dunia. 

Menonton film ini di XXI Plaza Indonesia, aku seperti diajak ke sebuah negara dengan penduduk yang sebagian besar kulit hitam secara lebih nyata, sangat nyata. Mereka tidak dijadikan figuran, tapi menjadi aktor itu sendiri. Dari awal film, Nesta kecil dengan gambaran suasana vintage yang menyejukkan mata, pelan-pelan film ini beurbah menjadi baku penembakan tak bertanggungjawab di Jamaika, bahkan Nesta yang hendak mengadakan konser perdamaian bagi negaranya nyaris tertembak.

Namun, Nesta adalah jamaah Rastafari yang kuat. Tidak dijelaskan secara detail terkait ajaran ini, namun yang pasti mereka punya pakem dan selingkung mereka sendiri. Inspirasi lagu-lagu Nesta banyak didapat dari ajaran Rastafari, dengan tuhan Jah sebagai mandatornya. Film ini juga menunjukkan sosok setia dan kebapakkan yang dimiliki Nesta ketika bersama anak-anak dan istrinya. Banyak hal-hal menarik, beberapa di antaranya: rambut gimbal membuat peluru di kepala Nesta/Rita melambat beberapa detik sehingga melindungi sarafnya. 

Oiya, pas selesai nonton kebetulan lagi ada semacam gala screening film Ratu Adil. Nah, para kru dan pemainnya datang, dari Dian Sastrowardoyo (yang datang ditemain suaminya Maulana Indraguna Sutowo dan anak lelakinya Shailendra Naryama Sastraguna Sutowo), ada pula Nino Fernandez, Ira Wibowo, Doni Damara, dan kru lain yang aku kurang tahu namanyan. Ketemu Mas Adi kos yang sedang kerja juga, wkwk.

Rabu, 21 Februari 2024

Catatan Film #4: Eksil (2024)

Film "Eksil" kutonton bareng anak-anak Remotivi di XXI Plaza Senayan hari Selasa, 20 Februari 2024 kemarin. Kami nonton berlima: aku, Gendis Kendra Disa, Bhenageerushtia, Vania Evan, dan Yuniarsih Nur Azizah. Kami nonton yang sesi pukul 19.02 WIB, usai beberapa dari kami pulang dari kantor, atau melaju dari kediamannya masing-masing. Kami berangkat pada jam sibuk Jakarta, saat jalan-jalannya di berbagai ruas utama macet. Setelah sampai di ruang tonton, tak kusangka yang nonton terutama di deretan belakang sangat banyak dan rata-rata anak muda.

Dibuka dengan sebuah puisi yang cukup kelam, seingatku, kata pertama yang keluar dari film itu adalah "kuburan", ya kuburan kami ada di mana-mana. Kami yang dimaksud adalah para korban sejarah dan kemanusiaan sebagai tumbal parade kekuasaan dan kepemilikan. Lalu perlahan, kamera seperti mengajak penonton untuk perlahan-lahan melakukan transisi dari sebuah tempat di Indonesia, masuk terowong dan berubah latarnya ke beberapa landmark negara-negara di Eropa.

Lalu, satu per satu narasumber yang menjadi eksil dan menjadi materi dasar dari film ini memberikan kesaksianya. Para narasumber itu yang kira-kira terdiri dari 10 orang: Hartoni Ubes, Asahan Aidit, Sarjio Mintardjo, Chalik Hamid, Kusian Budiman, Djumaini Kartaprawira, Sarmadji, Tom Iljas, Waruno Mahdi, I Gede Arka, dll. Mereka berdiaspora ke berbagai negara di Eropa, dari Swedia, Belanda, Jerman, Ceko, dll, usai huru-hara politik tahun 65. Awalnya mereka mendapat beasiswa ke China, Rusia, Romania, tetapi pemaksaan ideologi, dan permintaan untuk mengakui hal-hal yang tak dilakukan membuat para diaspora ini tetap mempertahankan prinsipnya. Tidak mengikuti arus pemborjuisan diri yang melenakan.

Alih-alih larut dalam superdrama yang dibuat oleh rezim Orde Baru, para eksil memilih untuk menggeluti bidang yang menjadi panggilan hidup masing-masing. Ada yang bekerja di sebuah perusahaan di Swedia sampai diberikan rumah, ada yang kerja di bidang Kimia sebuah institusi riset di Jerman, ada yang membantu di bidang perkebunan, ada yang ahli fotokopi sampai diberi penghargaan, ada yang mengarsip, hidup tentu harus tetap berjalan bukan? Jika pilihan menjadi stateless adalah satu-satunya pilihan, maka kewarganegaraan tak lebih dari sekadar pengakuan di atas kertas.

Namun, meski mereka tinggal di luar negeri, pikiran mereka tetap tak bisa lepas dari Indonesia. Dan ini salah satu poin penting yang kutangkap dari film ini: Jika eksil di luar Indonesia seperti eksil dari India atau Timur Tengah bisa dengan mudah melepas diri dari bayang-bayang negara asal, sampai mereka bisa bekerja di bagian pemerintahan sampai jadi Perdana Menteri; maka eksil dari Indonesia rata-rata masih terpaku dengan kondisi Indonesia, fisik mereka di luar negeri, tapi jiwa dan pikirannya masih di Indonesia, berbagai informasi dari Indonesia diikuti, sampai-sampai, ada yang menanam tanaman khas Indonesia. Sebagai orang desa, seorang eksil menanam pohon pisang dan bambu dengan ukuran bonsai di dalam rumah.

Ada satu pernyataan menarik, jika seorang pembunuh hanya dikurung 20-25 tahun kemudian bisa bebas, sebagai eksil, jiwa mereka seperti terpenjara selamanya. Ada yang tinggal di luar bahkan melebihi masa kuasa Soeharto yang sepanjang 32 tahun. Mereka lebih dari tahun-tahun itu, efeknya pun beragam, ada yang mengalami trust issue, merasa diikuti oleh intel, dan takut menceritakan keluarganya kalau sewaktu-waktu pihak keluarga akan menjadi korban selanjutnya.

Akhir dari film yang dibuat sepertinya selama kurun waktu hampir 10 tahun ini bahkan telah membuat para tokohnya meninggal. Mereka dikebumikan di Eropa, dan anak serta orang-orang dekatnya memberi kesaksian. Salah satu yang kukenang, tentang eksil yang bahkan ketika dia hidup sendiri, kursi-kursi di ruangannya sangat banyak untuk menyambut orang-orang Indonesia ketika berkunjung, atau mahasiswa-mahasiswi yang datang mungkin sekadar untuk mengikuti short course.

Beberapa eksil dengan ketekunannya juga melakukan kerja-kerja pengarsipan di rumah pribadi mereka, sampai kamar isinya hanya buku-buku. Koleksi mereka seperti berbagai buku yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, dan karya-karya tentang Pram. Ada pula yang mengarsip orang-orang eksil lain yang meninggal menjadi buku khusus dengan informasi karya dan keluarga mereka. Eksil dan kerja-kerja pengarsipan ini menurutku menjadi hal yang menarik untuk dikulih lebih jauh.

Film yang disutradarai oleh Lola Amaria sepanjang 119 menit ini juga menampilkan banyak footage-footage tempat di Indonesia dan Eropa, entah apa kepentingannya? Namun, footage itu menurutku ada yang nyambung, tapi banyak yang tidak nyambungnya, atau kalau dihapus pun tak akan mengurangi nilai-nilai utama yang ingin disampaikan oleh film. Kekuarangan lain, tak ada narasi perempuan, meski telah dijelaskan film ini tak menghadirkan perempuan, karena mereka tidak mau. 

Ketika menengok film Lola Amaria lain, seperti "Minggu Pagi di Victoria Park", aku sangat mengapresiasi beliau atas visi-misinya dalam dunia perfilman yang mengangkat kisah-kisah marjinal. Kerja-kerja yang dilakukan Lola juga mengingatkanku dengan kerja-kerja yang dilakukan oleh penerbit Ultimus di bawah naungan Mas Bilven Sandalita. Ultimus setahuku banyak menerbitkan buku terkait eksil, bahkan paling banyak di antara banyak penerbit yang dimiliki Indonesia.

Tentu film ini mengingatkanku pula pada buku Bu Magdalena Sitorus terbitan Tanda Baca berjudul "Lima Puan dalam Pusaran Kelana". Buku yang kebetulan dulu aku edit ini bercerita terkait lima eksil perempuan yang tinggal di Belanda, ada Bu Siti, Bu Francisca, Bu Tiwi, Bu Yarna, dan Bu Aminah. Kalau kamu masih ingat dengan tokoh Pak I Gede Arka, eksil dari Bali, beliau adalah suami dari Ibu Yarna Mansur. Kisah mereka terukir dalam buku yang ditulis Bu Magda, bagaimana suka dan dukanya menjadi eksil.

Jumat, 16 Februari 2024

REMOTIVI: Capres-Cawapres dalam Lensa Media

Remotivi menggelar diskusi "Capres-Cawapres dalam Lensa Media: Pejabat Publik Atau Idol?" di Sinou Coffee Jakarta Selatan, Senin (12/2/2024). Menghadirkan para narasumber: Surya Putra (Peneliti Remotivi), Kunto Adi Wibowo (Akademisi UNPAD), Andhyta F. Utami (CEO Think Pilicy), dan Fathia Maulidiyanti (Pegiat HAM). Diskusi dimoderatori oleh Raihan Luthfi (Upi).

Acara dibuka oleh penampilan musik Deugalih. Dia menyanyikan lagu "We Can Share All Pain My Friend", "Tanahku Tidak Dijual", dan "Buat Gadis Rasyid". Kemudian dilanjutkan dengan stand up comedy dari komika Igen Wahang.


Narasumber Kunto Adi Wibowo mengatakan, dalam komunikasi politik harus tahu siapa pemirsanya. Ada psikologi pemilih yang sering digunakan, seperti rasional. Ada derajat rasionalitas. Ada cerita di NTB, fotonya dipermak lewat Photoshop menjadi cantik dan menang (heuristik). Pemilih tak punya cukup motivasi dan energi untuk memilih. Di sini peran gimmick berperan. Politik bagi sebagian orang tak menarik, jadi orang yang susah menginvestasikan waktu kesana.

Dalam paparannya, Wowo menjelaskan, TV masih menjadi sarana utama komunikasi, disusul FB, Tiktok, YouTube, dan Instagram. Awalnya, paslon 01 menggunakan cara tradisional, seperti pidato politik. Di tengah-tengah bergeser, pakai TikTok (yang dicibir). Kritik ke 01 banyak omong, sehingga muncul "Desak Anis". Lalu bergeser ke K-Pop dan dibahas di Korea terkait pengggunaan K-Pop di politik Indonesia. Ada transformasi, yang gimmick jadi transformatif.

Lalu untuk paslon 02, dia hadir dengan konsep "lucu", yang unggahannya lebih dari 300 ribu. Prabowo dikit-dikit joget, dan itu proses rebranding yang luar biasa. Strateginya melanggengkan Jokowi. Lalu ada unggahan nangis-nangis berjamaah. Semua di-TikTok-an. Anis mulai riding the wave.

Juga paslon 03 di Tim Penguin Nasional (TPN) dengan mengkapitalisasi anaknya, Alam. Ganjar mulai tahun baru ganti strategi. Januari lebih soft.

"Kalau Pemilu tidak ada isu, maka capresnya yang jadi isu," katanya.

Polarisasi tahun ini yang disyukuri tak sekencang tahun 2014 dan 2019. Kalau melihat media informasi, media banyak media survei. Media gak kritis ketika lihat survei, seakan-akan survei sebuah kebenaran.

Narasumber Surya putra menjelaskanmenjelaskan terkait penelitian Remotivi, dengan mencari berita-berita terkait basa-basi politik. Menghadirkan relawan anak muda sebanyak kurang lebih 100 muda di 9 kota. Latar belakang karena memiliki kesamaan yang sama, dipenuhi hal-hal yang emosionil dan sentimen. Dampaknya gak tercipta pemilih yang rasional.

Remotivi memiliki premis, media terlalu banyak memproduksi berita tidak substansial terkait Pemilu. Berdasarkan temuan Remotivi, media ikut makan gimmick kandidat. Artinya, ketika media hanya mengamplifikasi kandidat, yang bercorak game frame (pertandingan olahraga) dan personalisasi (yang berfokus mengeksplorasi penokohan); media tidak berfokus pada substansi.

Dari temuan Remotivi, ada beberapa jenis berita yang non-substansial: pernak-pernik kampanye, debat pilpres, seruan terhadap kandidat (cheerleader kandidat), keluarga kandidat, kehidupan personal (suka anime apa, musik apa), dll. Berita ini mengkonstruksi kandidat dengan cara-cara tertentu.

"Melek pop culture anak muda, tapi gak tahu kebijakan yang berkaitan anak muda," terangnya.

Selain mengkonstruksi cerita, culture keluarga juga berpengaruh karena dapat exposure yang sangat tinggi. Bagaimana Gibran mengelola bisnis martabaknya; atau berita yang isi beritanya sandiwara antar-elite. Berita model kayak gini muncul sinisisme ke politik, karena bingkainya seperti itu, mengalienasi masyarakat dari politik. Padahal sebagai warga persoalannya konkret dan politis.

Ada asumsi, kenapa media tidak substantif, karena capres-cawapres juga tak membicarakan hal yang substantif. Pencitraan tak terhindarkan, tapi bagaimana dia dicitrakan itu penting. Misal yang ramah lingkungan dengan yang pakai outfit hijau. Kata Thomas Patterson, yang diangkat emang tokoh yang suka bergimmick ria dan jago berkomunikasi politik. Pemberitaan capres-cawapres di media online juga tergantung siapa yang memiliki media (konglomerat media).

Narasumber berikutnya, Afutami memaparkan, dalam konteks pasar informasi ada supply-demand, yang diproduksi media adalah permintaan masyarakat. Ada insentif ekonomi dan politik. Dalam konteks Bijakmemilih, fokus ke demand, bagaimana menciptakan demand. Bagaimana menciptakan anak-anak muda yang mencari informasi substantif. Demand-nya memang belum.

Bijakmemilih ada di kontainer dan isi. Kontainernya adalah yang melihat capres-cawapres sebagai pertarungan idola dan fans club. Yang ingin diubah ini bukan kontestasi idola. Nomor satunya ini bukan idolisme. Akhirnya defensif terhadap fakta-fakta. Karena idolisasi, di garis batas ada bias konfirmasi dari fakta.

Kemudian, memori history feodalisme kuat. Kalau ada anak Raja, itu jadi justifikasi yang masih diteruskan. Banyak konteks yang tidak diperhatikan.

Cara berpikir lainnya, di AS ada beer theory, dia approachable enggak? Elektabilitas ini menyangkut nilai-nilai, dan mendominasi.

Ada tiga kerangka yang difokuskan dalam Bijakmemilih:
1. Isu: menormalisasi isu yang berhubungan dengan publik, dalam hal tertentu menjadi aktivis. Memahami isu itu wajar. Masuknya dari isu dulu, misal undang-undang terkair ITE, EBT, revisi KPK, dll. Bukan masuk dari "sosok kandidat".
2. Partai: banyak orang Indonesia yang tak paham partai. Anak muda yang pendidikan politiknya tak mendalam itu tak paham, jumlahnya juga banyak banget, sampai yang ditunjukkan rekam jejak korupsi partai. Peran partai yang mengatur sistem itu penting.
3. Prestasi, kontroversi, afiliasi: ini berpengaruh pada kebijakan. Siapa yang masuk di rombongan capres-cawapres.

Pembicara terakhir, Fathia Maulidiyanti menyampaikan terkait cerita raja kurus dan pangeran utamanya. Kemampuan mereka dalam membangun dinasti bahkan cuma sembilan tahun. Kalau Soeharto hidup, barangkali dia akan sungkem pada raja kurus, "gw 9 tahun, lu harus 32 tahun, pakai lift bos."

Diktator seperti raja kurus membuat dinasti dengan menguasai media, menguasai orang-orang, hukum, UU ITE. "Untuk bisa mengendalikan itu semua, kita yang pegang," katanya.

(Joke: Kalau berkualitas itu gak laku 😂)




Tanya jawab:

1. Tips untuk disabilitas tuli agar melek literasi politik?

Pak Wowo: Literasi politik itu masalah luas, dan disabilitas cenderung dipojokkan. Sayangnya di Indonesia, masalah ini bahkan yang gak disabilitas pun gak bisa bedain DPR dan DPD.

Surya: Media gak substantif karena pengaruh oleh ekomomi. Logika komersil dan publiknya ini saling bertentangan. Parahnya logika komersil lebih dikeataskan daripada yang logika publik. Gimana mau buat berita substantif kalau sehari diminta nulis 10 berita? Demi klik.

2. Adakah keragaman ideologis di pemilu kali ini seperti di awal kemerdekaan?

Afu: Jika kembali ke pasar dan memakai logika pasar, maka gak ada keragaman ideologis. Hanya meraih market share mekanismenya sekarang. Misal lagi growing itu Partai Buruh, yang secara pesan itu lebih ideologis daripada Perindo dan PSI, muda apa itu gak jelas. Membiasakan masyarakatnya ideologis dulu, baru partainya ideologis.

Fathia: Di PDI-P, malah masuk gak lagi diajari Marhaenisme, tapi bagaimana mempertahankan kuasa. Bahkan oposisi politik kita sekarang dasarnya tak berideologi. Indonesia juga tak ada yang basisnya independen, harus ada partai.

Kamis, 15 Februari 2024

15 Februari 2024

I

Dunia ini hanya puasa, yang pendek tapi panjang.

2

Hembusan angin di sana, dinginkan rasa kecewa

Dan pada waktunya, semua akan berterbangan

3

Kita pun menyesali, kita merugi

Pada siapa mohon berlindungan

Debu-debu berterbangan**

 

PS:

*Diambil dari lirik lagu "Nyala" oleh Pure Saturday.

**Diambil dari lirik lagu "Debu-Debu Berterbangan" oleh ERK.

Selasa, 06 Februari 2024

6 Februari 2024

Menyelamatkan mentalmu jauh lebih penting daripada sekadar menyelamatkan hal-hal yang sifatnya material.

Jumat, 02 Februari 2024

2 Februari 2024

Yesterday an EF student said in general club learning:

"I don't like horror movies. I don't like how the characters make decisions."

That's mind-blowing for me. The character is everything.