Sabtu lalu aku mendatangi acara Kober Memanggil. Kober di sini baru kuketahui adalah nama gang strategis di kawasan permukiman di Depok. Suatu hari, saat ngobrol dengan tetangga kosku, di dekat Museum Prasasti Jakarta, yang hanya berjarak tak lebih dari satu kilo meter dari kos, ada daerah bernama Kober pula. Daerah ini terkenal angker, dan secara harfiah katanya kober itu artinya kuburan.
Hari ini, aku bertemu dengan kata ini lagi dalam konteks yang berbeda. Di sebuah acara yang isinya para veteran yang anggotanya berusia lebih dari 60an tahun, salah satunya berkata dalam sebuah sambutan. Ada empat karakteristik seorang pemimpin: pinter, pener, bener, dan kober. Pinter itu syarat biar jadi sumber inspirasi. Pener itu taat hukum. Bener itu bersikap jujur. Kober itu, aku tak menyangka diartikan veteran berumur 76 tahun ini dengan makna peduli, respect, dan respons.
Veteran ini Jawa tulen, aku langsung ingat juga percakapan di kampung dulu, kata "kober" diartikan memiliki waktu untuk melakukan sesuatu. Kalau ada yang bilang, "wis lah, ora kober", mengindikasikan jika orang ini tidak sempat, atau juga tidak mau. Bagiku cukup menarik juga ketika "kober" dimaknai dengan suatu respons dan kepedulian. Untuk hal-hal yang penting dalam hidup kita, rasa-rasanya tiap hari adalah usaha untuk mengkober-koberkan sesuatu. Aku sepakat dengan veteran yang sebenarnya lebih suka ngarit dan berkebun di tegalan di masa tuanya ituitu bahwa makna "kober" itu perlu diuri-uri.
Kober dalam nama gang atau daerah di Depok, meskipun secara penulisan sama dengan kober yang dimaksud dalam pengertian si veteran, secara pengucapan berbeda di "e". Kalau secara lingustik namanya homograf, sama dengan kata "apel" (buah) yang diucapkan dengan e pepet /ə/. Lalu, "apel" (upacara) yang diucapkan dengan e taling /a/. Jawa lebih suka pakai pepet, sementara yang mode Depok, pakai mode taling. Pepet (ꦼ) dalam aksara Jawa sangat umum karena secara linguistik, tapi ini bahasan lain. Titik tekan tulisan ini adalah ingin menekankan tentang "kober" yang selaras dengan kepedulian.
Perpusnas Jakarta, 4 Mei 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar