Refleksi 21052026:
Siang ini aku makan di sebuah warung makan Padang yang menurutku paling enak dan murah di kawasan dekat kos. Aku harus pulang sebentar ke kos karena ada urusan administrasi kantor yang tertinggal. Di warung naspad itu, saat jam makan siang ramai. Aku mencari tempat duduk yang kosong. Duduklah aku di sebelah Bapak tua berkaos maroon (mungkin usia 60an ke atas, sekilas Bapak itu terlihat (maaf) seperti petugas cleaning service. Sementara, di depan Bapak itu ada Bapak lain yang lebih muda mungkin usia 40an, nampak terawat dari prejengannya seperti bos. Gesturnya seperti berniat hendak interogasi.
Aku gak berniat nguping, terpaksa mendengarkan karena mau gak mau obrolannya meluber padaku. Intinya, Bapak tua itu telah ditipu oleh lawan bisnisnya sampai 500-600 juta (si Bapak memperkirakan segitu). Dia berbicara pada orang di depannya bahwa dia mau kerja apa saja, usahanya juga apa saja dari bengkel motor sampai usaha kaligrafi yang kena tipu. Bahkan saat dia sukses pun, dia masih memperhitungkan gaji karyawan yang belum layak. Eh tiba-tiba, si Bapak yang lebih muda ini bilang dengan jelas, "Bapak terlalu jujur, Bapak terlihat polos. .."
Dalam hatiku, anjir, aku freeze sejenak, aku memahami kondisi sakitnya ditipu finansial yang tidak sedikit. Terus aku mikir dan kalau boleh ngegas, "Lu gak harus degradasi moral seseorang untuk ngebuat diri lu sendiri lebih baik, dengan mengatakan dia terlalu jujur, terlalu baik, terlalu dapat dipercaya!" Berak itu narasi-narasi yang ada kata-kata, "Kamu buatku terlalu baik," yang jelas-jelas orang yang ngatain itu lebih toksik dari orang yang diberi pesan. Untunglah, aku melihat Bapak tua itu orangnya selow. Dia masih bisa tertawa, bahkan masih bisa bilang kalau sekarang dirinya lebih bebas mengelola usaha kecilnya sekarang. Meski tidak sebesar dulu, tapi hidupnya lebih enteng. Sehat terus Bapak berkaos maroon, Tuhan memberkahi hidup Bapak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar