Selasa, 05 Mei 2026

Poskolonialisme dalam Kritik Sastra

Sesi IV kelas kritik sastra DKJ, "Poskolonialisme dalam Kritik Sastra" oleh Asri Saraswati via Zoom, Selasa, 5 Mei 2026.

Asri menjelaskan, teori hanya dipakai ketika dibutuhkan. Teori poskolonialisme merupakan salah satu teori pascastrukturalis dan posmodernis. Mengenali struktur dan hierarki antarkelompok, tapi juga mencari ketidaksinambungan dan ambivilansi dalam struktur. Bersilangan dengan feminisme dan Marxisme. Para ahlinya membaca dekat teks dan memperhatikan hubungannya dengan konteks. 

Poskolonialisme terdiri dari dua kata: post merupakan masa, penunjuk waktu "setelah". Namun, tak sekadar setelah dia juga sebagai pemikiran yang "melampaui" kolonialisme. Mencermati dan mengkritisi kolonialisme dan instrumennya. Seringkali yang dianggap awal dari poskolonialisme adalah buku Edward Said dalam bukunya "Orientalisme" (1978). Saat kelahiran buku ini, memberikan pengaruh yang besar dalam dunia akademia. 

Said sendiri merupakan penulis dari Palestina. Ia mengkaji sastrawan dan ilmuwan Barat yang mempelajari orient (Timur). Said mengumpulkan tulisan para orientalis yang menafsirkan Timur sebagai "terbelakang", "kosong", dan "perlu diselamatkan". Ia mencermati jika sastra dan akademisi menjadi alat bantu penjajahan. Ada ideologi yang ada dalam karya atau yang bekerja dalam tulisan, yaitu supremasi ras kulit putih dan imperialisme mempengaruhi sastra dan ilmu pengetahuan. Mereka justru membantu penjajahan. 

Karya-karya sastra ini bisa ditemukan di mana-mana. Namun di sini, Asri menunjukkan puisi karya Rudyard Kipling berjudul "The White Man's Burden" (1899). Puisi ini tentang Spanyol menyerahkan jajahannya Filipina ke Amerika Serikat. Tulisan ini bicara dorongan penulis agar orang AS mengambil beban kulit putih, menyelamatkan orang-orang Filipina. Ada kata-kata yang stereotiptikal, seperti "half devil and half child" atau "run amok" (yang tidak bisa diatur). Nada-nadanya seolah-olah yang dilakukan orang kulit putih ini hal yang baik. Penjajahan bukan kekerasan tapi dianggap penyelamatan! Di mana sebuah ras dianggap lebih kuat dibanding ras yang lain. 

Tulisan Kipling juga diberikan ilustrasi yang jelas sekali antara kulit putih dan kulit hitam. Ia bersandar pada stereotip: kita vs mereka, logis vs primitif, maju vs sederhana. Penduduk asli dianggap tidak mampu memutuskan nasib dan mengatur dirinya. 

Said dalam "Orientalisme" menggambarkan mekanisme penjajahan. Penggambaran Timur sebagai terbelakang dan kosong menjadi pembenaran bagi kolonialisme dan imperialisme untuk terjadi. Imperialisme digambarkan sebagai bentuk "penyelamatan" dan "bantuan" pada pihak yang dijajah untuk menjadi maju. 

Dampak orientalisme pada seni, di antaranya lukisan lanskap dan fotografi di abad ke-19 Amerika. Misal lukisan oleh Thomas Cole. 

Yang menarik dari orientalisme Said, kelompok yang dianggap berbeda (the others) juga digambarkan sebagai hal yang eksotis, yang misterius, yang diinginkan, yang difetiskan, karena nampak yang berbeda. Ini hubungan yang cukup sakit. Ini terjadi hingga hari ini, misal ketika seseorang melihat Afrika.

Kenapa masih membahas poskolonialisme? Karena hingga sekarang, pembedaan dengan yang liyan itu masih kental. Masih ada struktur dan ideologi sebagai dampak dari kolonialisme, seperti feodalisme, atau kerja sama dengan ideologi baru seperti kapitalisme. Kolonialisme tidak terhenti, tapi berubah bentuk. Sebagai pendekatan, pascakolonialisme mencermati pemisahan kita dan mereka, termasuk istilah global south - global north. 

Asri mencontohkan juga foto di sampul majalah National Geographic berjudul "The Afghan Girl" (1985), dengan caption, "haunted eyes tell of an Afghan refugee's fears", yang juga menunjukkan bagaimana orientalisme bekerja. Perempuan yang difoto ini ternyata masih hidup, dia sedang ikut sekolah, lalu dipotret oleh fotografer laki-laki dari Barat. Ada proses pengambilan foto yang tidak menghormati budaya setempat, hanya mengambil eksotisasi perempuan Timur. Seakan-akan mencuri privasi subjek yang difoto. Ada relasi kuasa narasi yang ingin disampaikan. 

Selain Said, tokoh lain yang bahas orientalisme adalah Gayatri Spivak, dalam gagasan can subaltern speak (1978). Golongan subaltern tak diizinkan berbicara atau didengar pendapatnya. Spivak mendiskusikan akademisi laki-laki yang membahas tradisi sati perempuan India kelas ekonomi bawah. Subaltern tidak diizinkan berbicara atas dirinya sendiri, melainkan selalu direpresi suaranya. 

Asri juga merekomendasikan buku "Empire Writes Back" karya Bill Ashcroft, Gareth Griffits, dan Helen Tiffin. Bahwa koloni mampu berbicara pada penjajah dengan berbagai strategi: menolak bahasa Inggris standar, menggunakan bahasa Inggris sebagai senjata untuk menyuarakan suaranya. 

Pendekatan poskolonialisme dalam kritik sastra terlibat dalam praktik diskursif. Ia mencermati karya dan medan budaya yang melingkupinya (penerbitan, penerjemahan, dst). Ia bisa membantu pembacaan dekat; membantu menghubungkan karya dengan kondisi politik, sosial, budaya; dan karya dibahas tak terbatas pada bentuk. Pemilihan lensa kritis kembali pada tujuan kritik, posisi karya, dan kegelisahan kita. 

SESI TANYA JAWAB:

1. Lukman Hakim: Terkait teori Spivak, kebetulan saya lulusan India, saya pernah beberapa kali Spivak di kelas saya. Yang diangkat Spivak tentang subaltern itu dari realitas India sendiri, di sana ada persoalan kasta. Termasuk satu, seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, maka janda yang ditinggalkan ikut membakarkan diri. Ini sudah dilarang tapi juga sebagian dilakukan. Perempuan itu makhluk yang dikurung, ngomong saja tidak boleh. Ia mengkritik dominasi patriarki yang luar biasa. Di Indonesia kasus pelecehan dan perkosaan tinggi, ketika melapor yang dipenjarakan justru perempuannya. Ada dokter di Kolkata yang mogok karena itu. Juga soal ingatan dan bahasa, ada yang ingin mengubah nama "India" dengan "Barat", kayak Belanda menyebut Indonesia itu Pribumi (merendahkan). Barat di sini dari Mahabarata, Biksu Tong melakukan perjalanan ke Barat bukan Barat versi arah angin sekarang, tapi Tanah Leluhur yang Mulia. Terus bicara kolonialisme, juga bicara geografi. Saya ditunjukkan peta dunia. Apa yang disebut Timur? Apa pun yang di luar Eropa. Sebenarnya orang Asia bagi Barat itu disebut India semua, termasuk Indonesia, itu dengan sebutan Hindia Belanda. Sehingga itu berdampak pada berbagai wilayah-wilayah atau nama-nama tempat di India. Ada politik ingatan yang dimainkan. Poskolonialisme itu gak cuma Barat-Timur tapi juga kesadaran yang dimainkan. 

Asri: Ada kritik lebih lanjut, yang Spivak bicarakan juga akademisi yang notabene bisa dipertanyakan akses perempuan mendapatkan ilmu bagaimana. Tidak hanya ranah gender, tapi juga kelas sosial. Baru para akademisi seperti Spivak yang bicara. Penjajahan bukan sekadar ambil SDA, tapi juga cara memahami dan memikirkan sesuatu (way of knowledge). Misalnya, rasa belum sah ketika tidak mengutip filsuf Barat. 

2. M. Fadhil: Apakah poskolonialisme bisa gugur dalam konsensus? 

Asri: Kalau memakai poskolonialisme, konstruksi sosial, pendekatan ini akan mempertanyakan konsensus itu sendiri. Misalnya, pekerja harus menandatangani sesuatu untuk bertahan hidup. Kita akan dikejar terus struktur kuasa yang berjalan. 

3. Asri membahas juga esai karya Dymussaga berjudul "Identitas dan Pengkhianatan: Membaca Poskolonialisme di Mata Kolonial". Dari esai itu, Asri memberikan dua pertanyaan: (1) Bagaimana pendekatan poskolonialisme membantu memahami cerita? (2) Apa yang luput ketika kritik berfokus pada pendekatan poskolonialisme? 

Ratih: Menjawab pertanyaan pertama, ada inkonsistensi orang Belanda dalam memandang tokoh yang di luar Belanda. Untuk bisa memahami cara pandang seperti itu, karena pakai pendekatan poskolonialisme, termasuk bagaimana si penulis menggambarkan alam sekitar seperti apa. Meromantisasi tapi juga mengkeramatkan situs-situs tertentu. 

Gladhys: Pertanyaan pertama, saya tumbuh membaca "Oeroeg", ketika besar dan belajar poskolonial dan dekolonial. Aku merasa sekali bagaimana naratornya menarasikan tokohnya secara pasif. Seolah narator itu mau paham, tapi gak paham dengan Oeroeg. Othering atau peliyanan di novel itu sangat kelihatan. Pertanyaan kedua, yang luput, kenapa tembok itu bisa sekontras itu dalam cerita Oeroeg? Kalau pakai poskolonialisme, mempertanyakan posisi politik penulis, bukan cuma objeknya. Yang ini akan berpengaruh pada karyanya. Poskolonialisme belum menjawab itu. Beda dengan dekolonialisme. 

4. Fadli Muslimin: Poskolonialisme kadang mengabaikan aspek kekerasan struktural. 

Asri: Berhubungan dengan Gladhys, memang ketika poskolonialisme hanya membedakan saya dan mereka, poin-poin lain tentang agensi, kesadaran yang disebut pengkhianatan, dll, sehingga mengabaikan hal-hal lain. Bhabha juga bahas mimikri dalam ruang ketiga. Copy meng-copy untuk membuktikan diri. 

5. Asri juga bertanya pada peserta, terhadap tulisan karya Gerson Poyk dalam cerpen "Matias Akankari". Bagaimana pendekatan poskolonialisme bisa digunakan untuk memahami cerita ini? Adakah pendekatan dan/atau kacamata kritis lain (maupun kombinasi perspektif) untuk menginterpretasi cerita? 

Mohammad Daffa: Dalam pembacaan saya, Matias digambarkan dengan terkagum-kagum melihat kota, bahkan dengan speaker. Matias bingung hidup di Jakarta ketika dia tak bisa berbahasa Indonesia. Naratornya tak bisa menggambarkan bagaimana Matias berkomunikasi dengan bahasanya sendiri. Seolah-olah Matias tak punya suara sendiri, padahal dia dikatakan buta bahasa Indonesia. Juga di akhirnya, yang ada di kampung halaman. Banyak yang senang dengan tarian Matias, karena melihat Matias sebagai sesuatu yang eksotik. Saya melihat endingnya, Matias berpikir pada akhirnya ketika kembali ke kampung halaman apa yang disebut high class di Jakarta itu sama saja dengan di kampung, sama-sama pakai cawat. Pertanyaan, kenapa negara mengambil kebijakan yang sama dengan apa yang dilakukan penjajah ketika dulu ada? Kenapa ada pikiran tentang primitif pada suku lain misal, padahal sama-sama dijajah? 

Asri: Kita melihat kuasa berlapis-lapis dalam cerpen Poyk. Bisa saja persentuhan dengan kolonialisme juga memberikan inspirasi, misal soal rasisme yang bertemu bentuk dengan ide, laku, dan gagasan lain. 

6. Ilda Karwayu: Narator di cerpen Poyk ini yang menggunakan pendekatan poskolonialisme, misal perjalanan dia dari Irian Barat ke Jakarta. Dari primitif atau yang dikuasai ke yang berkuasa. Termasuk fungsi ruang ibadah yang berfungsi sebagai tempat tidur. Meskipun tampak asing, tapi juga membuat diri sendiri itu superior. Jakarta di sini juga representasi sebagai Barat. 

Asri: Menarik, ini berhubungan dengan yang disampaikan Lukman Hakim. 

Daffa: Matias dibawa di Jakarta bukan karena keinginan sendiri, banyak kemungkinan, yang seolah-olah merepresentasikan sebagai Timur. Ada identitas yang dipaksakan. Pada akhirnya, Matias merasa tak nyaman karena dia punya identitas sendiri. Secara kebahasaan juga berbeda, yang membuat peristiwa ini jadi uncanny. Masalah inferior dan superior ini soal sudut pandang saja. 

Asri: Lepas dari orientalisme dan lawannya oksidentalisme, di Indonesia relasi kuasa ini tak hanya Barat-Timur, tapi juga pusat dan pinggiran. Lantas, pembaca siapa yang dituju? Dalam konteks cerpen Poyk, karena pembaca di Jakarta berbeda dengan pembaca di Papua. 

7. Dendi Madiya: Pendekatan poskolonialisme mendekatkan konteks sosial pada karya. Di cerpen Poyk, koteka malah seperti olok-olok, hanya Matias tidak melakukan perlawanan karena budaya hidupnya seperti itu. 

Asri: Itu poin yang saya pikirkan juga. Ada relasi kuasa antara Matias dan Jakarta. Juga si narator dengan apa yang disangkanya sebagai suatu yang primitif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar