Senin, 04 Mei 2026

Tentang "Kober"

Sabtu lalu aku mendatangi acara Kober Memanggil. Kober di sini baru kuketahui adalah nama gang strategis di kawasan permukiman di Depok. Suatu hari, saat ngobrol dengan tetangga kosku, di dekat Museum Prasasti Jakarta, yang hanya berjarak tak lebih dari satu kilo meter dari kos, ada daerah bernama Kober pula. Daerah ini terkenal angker, dan secara harfiah katanya kober itu artinya kuburan. 

Hari ini, aku bertemu dengan kata ini lagi dalam konteks yang berbeda. Di sebuah acara yang isinya para veteran yang anggotanya berusia lebih dari 60an tahun, salah satunya berkata dalam sebuah sambutan. Ada empat karakteristik seorang pemimpin: pinter, pener, bener, dan kober. Pinter itu syarat biar jadi sumber inspirasi. Pener itu taat hukum. Bener itu bersikap jujur. Kober itu, aku tak menyangka diartikan veteran berumur 76 tahun ini dengan makna peduli, respect, dan respons. 

Veteran ini Jawa tulen, aku langsung ingat juga percakapan di kampung dulu, kata "kober" diartikan memiliki waktu untuk melakukan sesuatu. Kalau ada yang bilang, "wis lah, ora kober", mengindikasikan jika orang ini tidak sempat, atau juga tidak mau. Bagiku cukup menarik juga ketika "kober" dimaknai dengan suatu respons dan kepedulian. Untuk hal-hal yang penting dalam hidup kita, rasa-rasanya tiap hari adalah usaha untuk mengkober-koberkan sesuatu. Aku sepakat dengan veteran yang sebenarnya lebih suka ngarit dan berkebun di tegalan di masa tuanya ituitu bahwa makna "kober" itu perlu diuri-uri.

Kober dalam nama gang atau daerah di Depok, meskipun secara penulisan sama dengan kober yang dimaksud dalam pengertian si veteran, secara pengucapan berbeda di "e". Kalau secara lingustik namanya homograf, sama dengan kata "apel" (buah) yang diucapkan dengan e pepet /ə/. Lalu, "apel" (upacara) yang diucapkan dengan e taling /a/. Jawa lebih suka pakai pepet, sementara yang mode Depok, pakai mode taling. Pepet (ꦼ) dalam aksara Jawa sangat umum karena secara linguistik, tapi ini bahasan lain. Titik tekan tulisan ini adalah ingin menekankan tentang "kober" yang selaras dengan kepedulian.

Perpusnas Jakarta, 4 Mei 2026 

Minggu, 03 Mei 2026

Diskusi Buku "Oni Jouska" karya Asep Ardian

Diskusi buku "Oni Jouska" menghadirkan pembicara Evi Sri Rezeki dan penulisnya langsung Asep Ardian, dengan moderator Rafqi Sadikin. Diskusi membahas perspektif sastra, ekologi politik, hingga proses kreatif penulisan novel. Kegiatan berlangsung di The Hallway Space, Pasar Kosambi, Bandung, Minggu, 3 Mei 2026.

Moderator Rafqi Sadikin melihat adanya kecenderungan alegoris dalam novel ini, mirip dengan Animal Farm. Ia menilai cerita tersebut dapat dibaca sebagai representasi masyarakat Indonesia, di mana kelompok kecil cenderung mengikuti yang lebih besar.

Pemaparan Evi Sri Rezeki

Evi membuka dengan menyampaikan bahwa Oni Jouska menarik setidaknya karena tiga hal utama.

Pertama, novel ini berbentuk fabel dengan tokoh utama ikan remora—pilihan yang tidak lazim dan memberi pengalaman membaca yang unik. Meski tipis, buku ini memberikan kesan yang menggetarkan sekaligus menyenangkan.

Novel ini juga menghadirkan kritik ekologi politik melalui sudut pandang non-manusia. Selama ini, isu kerusakan lingkungan cenderung dilihat dari perspektif manusia, sementara makhluk lain hanya menjadi latar. Dalam Oni Jouska, Asep menghadirkan “hidangan” tentang relasi ikan dan sampah laut—mengingatkan pembaca pada ironi bahwa manusia mengonsumsi ikan yang juga terpapar plastik, sering kali tanpa kesadaran.

Dalam kajian ekologi politik, relasi kuasa menjadi aspek penting, namun biasanya tetap berpusat pada manusia. Fabel dalam novel ini menjadi jembatan untuk menghadirkan perspektif alternatif: bagaimana jika dunia dilihat dari sudut pandang ikan?

Kedua, kesulitan dalam ekologi politik untuk menggambarkan “perasaan” makhluk non-manusia dijawab melalui pendekatan sastra. Fabel memungkinkan pembaca memahami emosi dan pengalaman ikan secara imajinatif.

Ketiga, novel ini bersifat reflektif. Jika fabel umumnya menyajikan pesan moral di akhir, Oni Jouska justru mengajak pembaca mempertanyakan hidup itu sendiri. Para tokohnya—ikan-ikan—bahkan tidak sepenuhnya tahu apa yang mereka cari dalam hidup, yang sekaligus merepresentasikan kondisi manusia.

Relasi kekuasaan juga tampak dalam interaksi antarklan dan bentuk simbiosis. Ikan remora sebagai makhluk kecil mampu bertahan dengan memanfaatkan kekuatan ikan besar—menjadi metafora kecerdikan dalam struktur sosial. Konflik diperkeruh oleh perilaku membuang sampah sembarangan.

Selain itu, novel ini kaya akan unsur mitos, kenabian, dan imajinasi. Misalnya, kisah ikan yang konon memakan nabi (mengacu pada cerita Nabi Yunus), serta mitos tentang dewa laut dan asal-usul hujan. Asep berhasil membangun mitologi baru dalam dunia ceritanya.

Evi juga menyoroti konsep “Jouska,” yang dalam psikologi merujuk pada dialog internal dengan diri sendiri. Jouska menjadi cara untuk memproses dan menjernihkan pikiran, serta menghadirkan pelajaran tentang empati dan simpati.

Ia membandingkan pengalaman membaca novel ini dengan nuansa serial SpongeBob SquarePants—tokoh Oni yang penuh pertanyaan seolah mengajak pembaca ikut “terjun” ke laut dan mengalami dialog batin tersebut.

Namun, Evi mencatat kelemahan pada penggambaran karakter yang cenderung hitam-putih.

Di sisi lain, novel ini juga terasa seperti membaca buku biologi karena dilengkapi ilustrasi dan deskripsi dunia laut. Pada bagian akhir, terdapat kemiripan dengan kisah Nabi Yunus, terutama pada motif “ditelan paus” dan refleksi spiritual yang menyertainya.

Secara keseluruhan, Evi melihat novel ini sebagai representasi perjalanan dari “nobody menjadi somebody,” yang memberi harapan sekaligus menunjukkan sisi marginal penulis.


Penjelasan Asep Ardian

Asep menjelaskan bahwa awalnya ia ingin menggunakan paus sebagai tokoh utama, tetapi setelah riset, ia menemukan ikan remora lebih relevan sebagai representasi diri.

Ia mengaitkan pilihan tersebut dengan pengalaman pribadi, termasuk fenomena “buntutisme” sejak masa sekolah—kecenderungan mengikuti kelompok tertentu demi terlihat kuat atau keren, yang justru ia anggap tidak menarik.

Menurutnya, novel ini juga menjadi pengingat bagi dirinya sendiri agar tidak terjebak dalam pola tersebut. Ia menekankan bahwa manusia memiliki pilihan dalam menentukan “simbiosis” atau relasi yang dijalani dalam hidup.

Dalam proses kreatif, Asep menyebut menulis bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga kebiasaan. Ia menulis di sela aktivitas sehari-hari, bahkan di tempat berjualan. Ia mengibaratkan menulis fiksi seperti memasak: menggunakan bahan yang ada—pengalaman, ingatan, dan imajinasi—untuk diolah menjadi cerita.

Ia juga menyoroti bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada aspek ekonomi, termasuk pedagang kecil dan nelayan. Dalam narasinya, “musuh” utama bukanlah sesama manusia secara horizontal, melainkan juga persoalan struktural (vertikal), seperti kebijakan.

Asep mengakui bahwa penulisan novel ini berangkat dari fase hidup yang suram. Interaksinya dengan lingkungan sekitar, termasuk laut dan isu sampah, membentuk gagasan cerita.

Ia juga menegaskan bahwa buku ini ditujukan untuk semua umur, dengan harapan pesannya dapat tersampaikan luas. Baginya, yang utama bukanlah figur penulis, melainkan gagasan dalam karya. “Pengkarya adalah wadah, karya adalah isi.”



Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan (Rayan):
Menyoroti kontradiksi antara kesadaran akan sampah dan praktik penggunaan plastik, termasuk dalam kehidupan sehari-hari seperti pedagang.

Jawaban Asep:
Ia menyatakan bahwa pengalaman hidup dan lingkungan membentuk kesadaran seseorang. Ia sendiri merasakan perubahan perspektif setelah sering melihat laut dan fenomena sampah, bahkan dalam hal kecil seperti penggunaan sabun. Ia menyebut perjuangannya masih terbatas, berbeda dengan gerakan langsung seperti Pandawara Group.

Tanggapan Evi:
Setiap orang memiliki peran dan cara masing-masing dalam berkontribusi. Sastra, termasuk "Oni Jouska", dapat menjadi medium untuk mengubah cara pandang masyarakat.

Penutup

Evi menutup dengan menegaskan bahwa setiap penulis memiliki proses yang berbeda—ada yang memulai dari karya, ada pula yang dari komunitas. Diskusi ini menunjukkan bahwa "Oni Jouska" bukan hanya karya sastra, tetapi juga ruang refleksi atas relasi manusia, lingkungan, dan diri sendiri.

Sabtu, 02 Mei 2026

Diskusi “Mitos dan Mimpi” – Kober Memanggil

Diskusi “Mitos dan Mimpi” telah terlaksana di Gramedia Margonda, Depok, pada Sabtu, 2 Mei 2026. Diskusi menghadirkan dua antropolog, Hestu Prahara dan Geger Riyanto, dengan moderator dari pihak Kober Memanggil. Tema utama yang dibahas adalah posisi mimpi dan mitos sebagai bentuk pengetahuan dalam kehidupan manusia.

Pemaparan Hestu Prahara

Hestu memulai dengan menegaskan bahwa mimpi bukan sekadar “bunga tidur,” melainkan dapat dipahami sebagai teknologi untuk menavigasi hidup dan waktu. Mimpi tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial. Dalam banyak masyarakat adat, mimpi digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan—misalnya untuk menentukan masa tanam, pembukaan ladang, hingga relasi manusia dengan tanah dan lingkungan.

Dalam risetnya tentang kematian dan kesejahteraan, Hestu melihat bagaimana pengalaman manusia—termasuk mimpi—dapat menjadi sumber pengetahuan alternatif. Ia menekankan bahwa mimpi bisa menjadi bagian dari sistem pengetahuan yang sah, bukan sekadar fenomena psikologis.

Dalam praktiknya: Mimpi sering kali tidak diceritakan sembarangan. Ada otoritas sosial tertentu (misalnya ketua adat) yang menafsirkan mimpi. Mimpi dapat dinegosiasikan dan dimaknai secara kolektif.

Dengan demikian, mimpi bersifat cultural universal, tetapi cara memaknainya sangat bergantung pada konteks kosmologi masing-masing masyarakat. Selain itu, mimpi juga dapat dipahami sebagai respons terhadap trauma, sekaligus alat untuk membaca kemungkinan masa depan.

Hestu menambahkan bahwa pengalaman etnografi sering kali bersifat personal dan penuh kejadian “uncanny” (ganjil namun bermakna). Dalam praktiknya, batas antara hidup dan penelitian menjadi kabur. Pengetahuan tidak hanya diperoleh dari teori, tetapi juga dari pengalaman langsung dan perjumpaan tak terduga (serendipity). 

Pemaparan Geger Riyanto


Geger membahas mitos dengan pendekatan yang tidak hitam-putih. Menurutnya, mitos tidak bisa dilihat sekadar sebagai benar atau tidak benar, tetapi berada dalam “ruang antara”—di mana kepercayaan dan ketidakpercayaan bisa hadir bersamaan.

Ia mengibaratkan pengetahuan manusia seperti memiliki “kamar-kamar”, seperti ada kamar mitos, kamar mimpi, kamar empiris, dll. Semua kamar tersebut sama-sama valid dalam membentuk cara manusia memahami dunia.

Geger juga bercerita tentang penelitian disertasinya yang mengambil studi kasus: Mitos Siluman Ular di Maluku Dalam penelitian disertasinya (2018–2022) di Maluku, Geger menemukan mitos tentang siluman ular sebagai bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat, khususnya terkait komunitas migran Buton.

Tokoh seperti La Ode Una (yang digambarkan setengah manusia dan setengah ular) di Sulawesi Tenggara dipahami sebagai sosok “siluman,” tetapi di Maluku diposisikan sebagai nenek moyang. Mitos ini berfungsi sebagai: alat legitimasi identitas, dasar pengakuan sosial, bahkan berkaitan dengan klaim atas tanah. Dalam konteks Indonesia, di mana legitimasi kepemilikan sering terkait dengan “siapa yang lebih dahulu,” mitos menjadi instrumen penting untuk mendapatkan pengakuan.

Geger menekankan bahwa kekuatan mitos justru terletak pada sifatnya yang kontra-intuitif (tidak masuk akal). Hal-hal yang absurd cenderung lebih mudah diingat, menyebar, dan “menjajah” pikiran manusia. Ia juga mengaitkan motif ular dengan berbagai budaya, termasuk figur seperti Nyi Blorong dan bahkan karakter Nagini dalam semesta Harry Potter, yang menunjukkan pola serupa di berbagai wilayah.

Baik Hestu maupun Geger sepakat bahwa manusia tidak selalu berada pada posisi percaya atau tidak percaya secara mutlak. Ada kondisi “berayun”, di mana seseorang bisa sekaligus ragu dan percaya dalam waktu yang sama. Contoh yang diangkat: pengalaman melihat hal gaib, fenomena “ketindihan” saat tidur, interpretasi bentuk-bentuk visual yang ambigu.

Dalam situasi lapangan, seorang antropolog tidak bisa langsung menolak atau menerima, tetapi perlu memahami bagaimana pengalaman tersebut bermakna bagi pelakunya. 

Sesi Tanya Jawab (Ringkasan) 

1. Fungsi mitos dalam masyarakat: Pertanyaan menyoroti apakah mitos perlu dinilai benar atau salah, atau cukup dilihat dari fungsinya.

Geger menjawab bahwa mitos penting sebagai cara membaca kondisi manusia dan membantu pengambilan keputusan sosial. Ia memberi contoh petani tembakau di Lombok yang dihadapkan pada pilihan antara data ilmiah dan tafsir tradisional (dukun/peramal hujan).

2. Relasi antara tradisi dan modernitas: Pertanyaan lain menyoroti kecenderungan “mengilmiahkan” tradisi secara reduktif.

Diskusi menekankan bahwa sistem pengetahuan lokal seharusnya diposisikan setara, bukan lebih rendah dari ilmu modern.

3. Mitos dan perempuan: Mitos sering kali berkaitan dengan kontrol terhadap perempuan (misalnya dalam sejarah atau narasi tertentu).

Geger menegaskan bahwa mitos juga merefleksikan struktur kekuasaan, termasuk patriarki. Antropologi, pada akhirnya, harus peka terhadap ketimpangan dan cenderung berpihak pada kelompok yang rentan.

Diskusi juga menyinggung praktik lokal seperti: konsep sasi dalam menjaga laut, mitologi penjaga kebun, serta pengalaman keseharian yang membentuk etika dan batas sosial. Hal ini menunjukkan bahwa mitos dan mimpi memiliki dimensi praktis dalam menjaga tatanan sosial dan ekologis.

Penutup dan Refleksi

Bareng Mas Geger dan Neneng

Moderator menutup dengan menekankan bahwa tidak ada satu “pisau bedah” tunggal untuk memahami realitas. Pengetahuan bersifat jamak, dan forum lintas disiplin seperti ini menjadi ruang penting untuk memperluas cara pandang.

Salah satu refleksi menarik dari Geger sebagai “life hack”: Tidak apa-apa mengambil keputusan di mendekati titik akhir, karena semakin dekat dengan momen tersebut, variabel yang terlihat justru semakin jelas.

Sementara itu, Hestu menekankan bahwa menjadi antropolog berarti membuka diri pada pengalaman—karena belajar tidak selalu terpisah dari kehidupan sehari-hari.