Diskusi "Kota Pesisir: Bayangan yang Mulai Memudar" sekaligus pemutaran film "Nelayan Perempuan Terakhir" karya Irwan Ahmett dan Tita Salina dilaksanakan di Ruang 302-303 Institute for Advancement of Science Technology and Humanity (IASTH) Kampus UI Salemba, Jumat, 22 Mei 2026. Diskusi ini menghadirkan pembicara: Elisa Sutanudjaja (Direktur RCUS), Irene Sondang Fitrinitia (Dosen KPP-SPBB UI), serta sambutan pembuka oleh Husnul Fitri (Kaprodi Kajian Pengembangan Perkotaan UI).
Husnul mengatakan, pihaknya di sini membahas perkotaan dari berbagai sisi. Ruang itu berisi tak hanya fisik, tapi organisme yang bergerak dan beraktivitas. Ruang tak bisa dipandang berhasil jika punya gedung mewah atau pemukiman yang baik, tapi juga jiwa yang dibangun. Manusia itu hidup di dalamnya, jiwanya yang ingin terus untuk hidup dalam kota. Sifatnya bukan teknis, tapi juga dari berbagai sudut pandang. Menampilkan seni, kota bisa dilihat dari berbagai perspektif.
Dia mengapresiasi kepada seniman, sastrawan, yang melihat kota dari sisi seni. Ini film yang dibuat Iwang dan tim dari lingkungan pesisir, dia salah satu tempat dengan kemiskinan ekstrem. Mendekatinya tak seperti yang ada di daratan, tapi juga pesisir. Bagi yang tinggal di Jakarta, kita ada di kawasan itu. Itu bukan kawasan yang jauh dari kita. Ancaman yang membawa kita, isu yang sama-sama kita kawal. Dengan adanya pemutaran film ini, bisa melihat potret kehidupan pesisir. Kita berdiskusi tentang itu, tak hanya perdebatan tapi juga solusi terbaik.
Usai sambutan dari Husnul, diselenggarakanlah nobar film "Nelayan Perempuan Terakhir". Usai itu digelarlah diskusi film.
Moderator usai penayangan film berkomentar, banyak metafora yang menarik. Rumah yang disunggi itu kenapa? Biasanya yang disunggi kitab suci. Iwang menjelaskan, sebagai seniman tak ingin banyak bicara, yang menarik dari seni adalah interpretasi. Kalau terlalu jelas jadi undang-undang. Mungkin yang sifatnya lebih relasi biar lebih humanis.
Elisa melanjutkan paparan, dirinya agak berbeda dengan Iwang. Ia ingin menjelaskan sejelas-jelasnya. Rumahnya ini untuk kesenian lain. Ada mitologi, narasi tentang tembok pantai. Kenapa rumah jadi topeng itu menarik. Mereka menolak penggusuran. Satunya lagi, ada juga pameran dengan Bremen. Akhir tahun Rujak Center for Urban Studies (RCUS) kerjasama dengan negara-negara dunia ketiga di Amerika Selatan dan Afrika, ada satu departemen khusus yang bahas perumahan dan iklim. RCUS pakai seni untuk cara, metode, dan membebaskan. Seni ini salah satu saja. Berdasarkan jurnal "Infrastructure: Etymology dan Import", istilah infrastruktur itu untuk dunia militer lalu pindah ke istilah pembangunan.
Elisa kemudian menjelaskan tentang kronologi tahun dan peristiwa terkait kondisi Kampung Dadap dari era kolonial sampai tahun 2025. Misal ekspansi PIK itu ada tahun 2013. PIK juga bekerja sama dengan UGM untuk penataan kampung. Elisa sempat ketemu Profesor, bilang gara-gara aktivis tak bisa buat rumah susun. Di sisi lain yang menjadi korban, menurut UUPA setelah 30 tahun, ada bukti khusus, tanahnya bisa diurus. Di Dadap bencana dibuat-buat. Ada pula jalan tol ilegal yang sudah ada. Kapitalis tidak pernah puas, dia selalu absorbsi lahan-lahan di area frontier. Menurutnya, infrastruktur kembali ke maknanya, melibatkan militer untuk perang. Ketika tak masuk, dia akan ke badan, menderita stroke. Seperti yang dialami Bu Rustami di Dadap.
Irene Sondang Fitrinitia menyampaikan alur yang dia tangkap. Dia menonton bagaimana ini disampaikan secara menarik, dengan suasana bisa merasakan apa yang dirasakan Mak Karmitem (Item). Bagaimana sisi kota lainnya dibungkus dengan seni, satu metode yang inovatif, ini jadi catatan di ruang akademik. Bagaimana media lain seperti seni menjadi instrumen untuk mengungkapkan isu kota. Di Dadap, dia mengambil dari Google Map tahun 2014, ada ancaman rob-nya untuk wilayah daratan. Mak Item juga menjelaskan naik-turun laut itu biasa, menjadi luar biasa ketika berpengaruh pada permukiman di arena pesisir. Ini jadi ancaman untuk Jakarta. Namanya infrastruktur, pendekatan infrastruktur digunakan untuk menjawab ancaman, mengatasnamakan pesisir. Sebenarnya infrastrukturnya untuk siapa? Jika publik, tapi publik yang mana?
Untuk Pesisir, sebenarnya di Jakarta Pusat juga pesisir, tapi lebih jauh seluruh Jakarta itu juga Pesisir. Air tanah di Pusat ini juga asin. Salah satu solusinya adalah tanggul untuk proteksi wilayah. Intensinya lebih ke mainland. Ada dampak spasial, alih-alih melindungi, dia punya risiko baru, airnya terperangkap, bisa masuk tapi tak bisa keluar. Di Jateng ada kasus water trapped, yang menyebabkan kampung terendam. Selain itu juga memberikan dampak sosial, yang terjadi multiplier effect. Kampungnya kebanjiran, kualitas hidup tak tercapai. Mereka dikepung darat dan laut.
Di Timbulsloko, Demak, berbeda. Mereka orang daratan yang terbenam. Dia tidak terbiasa dengan air yang tergenang, lalu mau tak mau mengubah penghidupan, dari buruh jadi nelayan. Di Dadap ini kampung nelayan, belonging dengan tempat tinggal tidak sedekat dengan orang darat. Tapi jangan salah, nelayan juga punya keluarga. Nelayan digambarkan miskin dan kotor, kulturnya beda. Seperti kasus Mak Item beberapa kali pindah tapi merasa biasa saja.
Selain spasial, juga lihat secara sosial. Sebenarnya yang terjadi adalah risikonya terkapitalisasi, ada manufacture risks. Risikonya ternyata dibikin. Adaptasi sehari-hari itu terhadap si infrastruktur tadi. Di Muara Baru misal, mereka meninggikan rumah, itu berlomba dengan jalan, dengan infrastruktur, bukan alamnya. Risiko yang muncul di Dadap ini terkapitalisasi.
Lalu apakah ada hal yang bisa dilakukan di ranah akademik? Apa yang "dibutuhkan" oleh Pesisir? Sebenarnya pemerintah kota sudah banyak berbuat, tapi apa dia bisa sendiri? Mereka tak bisa sendiri, tapi seperti RCUS dan seniman bisa masuk. Mekanisme co-kreasi dan co-produksi penting. Perlu ada kolaborasi dari berbagai pihak. Termasuk akademisi apakah bisa jadi pengkritik saja?
TANYA JAWAB:
Pak Gun: Saya ada beberapa pertanyaan, ke Iwang, kenapa memilih pilihan artistik itu? Ke Elisa, tadi ada alam, apakah benar yang dibutuhkan Mak Item dan orang pesisir, sebetulnya adalah pekerjaan? Pembangunan untuk apa dan untuk siapa? Ke Irene, level yang mau kita bicarakan di forum ini skalanya di mana? Kebijakan nasional tak begitu memperhatikan geografi Indonesia. Angkutan termurah itu laut, baru kereta.
Iwang: Ada satu kata yang membuat saya menelusuri kata apa yang tepat untuk menggambarkan nelayan di Pantura. Setelah saya cari, ternyata istilahnya bukan nelayan, tapi "wong balik". Dia punya harapan pulang. Berangkat dari wong balik, kerinduannya itu ke rumah. Kedua, bagaimana juga sebagai warga Jaksel di kompleks perumahan, kondisi kami tidak akan pernah sama, karena saya lahir berprivilege. Ketika mengarahkan kamera pun saya tak tega, apakah saya mengobjektifkan dia? Tidak tega. Banyak kondisi lain. Ketika melihat ibu tua, butuh pertolongan, tidak ada ambulans. Saya apakah jadi seniman atau bagaimana? Etika ini jadi hal yang sangat penting. Di film ini, Mak Item masih punya privasi. Hari ini, shooting kamera ini sangat politis. Menciptakan tokoh-tokoh yang dialenasi. Keputusan untuk aktor megang kamera sendiri adalah hal yang menurutnya demokratis. Dengan membuat framing, wide framing, itu juga beda, ini yang membuat saya memutuskan untuk mengedit sendiri. Buat warga, kamera dan drone itu bentuk intimidasi. Saya dan Tita bikin kameranya satu dan kemana-mana. Dia juga menjelaskan rumahnya sendiri, sehingga menubuh. Mak Item punya pride karena dia pernah menjadi nelayan paling kaya.
Elisa: Saya tidak layak menjawab. Dalam bekerja dengan JRMK ada perbedaan jawaban, jika sudah terorganisir hak dan kewajiban, dia akan kasi jawaban beda dengan mereka yang belum terorganisir. Kalau nanya ke bukan kelompok yang terorganisir, pasti pertama uang. Di Dadap itu sudah terorganisir. Kami di RCUS, mengadakan penelitian di empat seri (kelompok) ojol, mereka terorganisir, mereka butuh rumah yang dekat dengan tempat kerja. Satu rumah, kedua jiwanya. Pengen ada namanya di sertifikat.
Irene: Bicara Indonesia yang bisa dikedepankan adalah wilayah pesisirnya. Kita archipelago state, hanya beberapa negara yang seperti Indonesia. Harusnya uniqueness Indonesia kaya. Menurut data Kemendagri, 30 persen itu pesisir. Tapi tidak semanis yang kita bayangkan, kalau bicara nelayan pesisir itu menyedihkan. Di Jepang bahkan nelayan yang melaut jauh itu sensei. Bahkan di Kampung Bajo bukan jadi nelayan tapi jadi satpam tambang, karena nelayan pendapatan tidak jelas.
Reza (Kajian Gender UI) : Filmnya keren banget, detail yang coba dibagikan sudah merepresentasikan judul. Saya memberikan beberapa kritik, banyak isu yang berkelindan, di sini saya ingin mengkritik kebijakan hari ini. Banyak sekali bantuan pemerintah tak diberikan ke perempuan. Makasi judulnya sudah berjudul perempuan. Kedua, bicara pembangunan, tak hanya bicara infrastruktur, tapi juga jiwa. Di Dadap sudah direbut kapitalisme. Alih-alih melindungi, mereka direnggut secara perlahan-lahan. Bicara soal ruang hidup, dampaknya yang melekat ke perempuan itu kebutuhan air bersih. Ngomongin perempuan juga homogen. Ada force migration, pengetahuan itu juga bergender. Mangrove sudah hilang, ada beban nurturing. Kita gak berhenti di sini, tapi juga ekskalasi. Pemerintah mungkin ada kebijakan di sana, tapi bagaimana bentuknya? Di film tadi tidak partisipatif. Proses advokasi dan riset ada gak inter generasi trauma? Bagaimana pengetahuan itu diwariskan?
Iwang: Tadi ngundang warga Dadap yang mungkin bisa jawab tapi terjebak hujan. Namun, ada jurnalis Mey yang bisa cerita.
Mey: Saya pernah meliput anak-anak Dadap. Di Juli mereka ada Festival Dadap, menyuarakan isu itu. Waktu itu nulis untuk Project Multatuli, ya, miris menurut saya. Pemuda-pemudanya, generasi muda mereka, di tengah keterbatasan, sangat tidak berpihak, banyak sampah-sampah tak bisa keluar. Saya juga tak tahu apa yang membuat mereka tetap semangat, terus berjuang, bicara tentang sertifikat, saya dapat undangan dari pihak kelurahan. Pembangunan yang untuk Jakarta, di situ tertulis Dadap harus berkorban. Festival Dadap adalah festival tahunan yang digelar, dilakukan untuk masyarakat Dadap. Skalanya mungkin festival kampung, itu bentuk mereka bisa melawan. PIK selalu mengincar wilayah Dadap. Pemuda di Dadap tak kalah di bidang pendidikan, mereka mencoba untuk sekolah dan kuliah dengan beasiswa. Meski ironisnya setelah lulus mereka juga kalah, nelayan muda banyak yang berganti pekerjaan karena kondisi pesisir yang susah dapat ikan dari jarak dekat. Hasil tangkapan sedikit, yang ketika dijual tak seberapa. Pak Wanto juga memutuskan jadi penembak karena kondisi pesisir yang hitam, juga pabrik yang dibuang ke lautan. Soal gender Dadap, setidaknya mereka punya jembatan.
Elisa: Tadi Irene sempat bicara perbedaan antara Timbulsloko dan Dadap, ada perbedaan gender jelas. Di Dadap seperti tak ada bedanya gender. Di Timbul Sloko ada perbedaan perlakuan. Yang dilakukan gimana caranya jadi nelayan kerang hijau yang banyak untungnya, di sana perempuannya tak disebut. Yang laki-laki bilang perempuan gak usah, perempuan seperti gak dianggap. Bagian RCUS memastikan perannya apa? Lewat baby steps, akhirnya perempuan mencatat keuangan. Ini menarik peran perempuan berbeda-beda, tergantung tempatnya.
Irene: Saya selalu melakukan riset ini membagi perempuan, laki-laki, anak muda, termasuk nature mereka. Saya berkesimpulan, kalau bicara bapak-bapak itu bicara romantisme masa lalu, dulu begitu begini, dia sangat tahu sequence seperti apa. Kalau anak muda di Pesisir, sedih karena mereka tak mau jadi nelayan. Yang rutin, dan pengen jadi pegawai negeri, meskipun bersih-bersih. Mereka juga enggan bawa teman ke rumah. Orientasinya selalu keluar. Karena dianggap kampung tak ada harapan. Di Timbulsloko juga ada pemuda yang gerak. Ibu-ibu ini lebih realistis, ibu-ibu yang menghadapi keseharian. Mereka udah tahu musim, lalu belanja seminggu sekali. Mereka paling adaptif dan bisa coping dengan kondisi yang ada. Bapak masa lalu, ibu masa kini, anak muda masa depan. Perempuan senior di wilayah terendam air, mereka tidak ada layanan kesehatan. Ada penderita stroke yang tiga tahun tidak keluar. Dia meminta cerita dan kabar dunia di luar seperti apa. Mereka juga ada yang gak mau punya anak, karena membayangkan risiko.
Di akhir sesi diskusi, Iwang juga bercerita tentang proyek pembangunan toilet apung untuk Mak Item. Kenapa satu toilet? Karena di sana sudah ada toilet yang dibisniskan warga. Jadi untuk membuat toilet bersama sudah terlambat. Ada politik lokalnya juga. Di sana, orang berhutang karena urusan toilet, karena urusan perut. Dibantu kawan-kawan, pihaknya membuat program toilet apung yang tahan air laut untuk Mak Item. Pembangunan toilet ini butuh dana 50 juta. Jika tidak tercapai, akan ada program berak bersama yang isinya nanti akan dikirim ke Senayan.
Ps: Hari ini 22 Mei, bertepatan juga dengan ulang tahun Mas Iwang, selamat ulang tahun Mas Iwang! Sehat selalu!






Tidak ada komentar:
Posting Komentar