I. EVALUASI SATU TAHUN KLENIK STUDIES
Pada bagian evaluasi satu tahun Klenik Studies, pembahasan diawali dengan gagasan untuk memiliki tenaga lebih dalam menjalankan kelompok studi. Pembahasan kemudian mengarah pada pentingnya mengenal terlebih dahulu orang-orang yang akan terlibat dalam kegiatan Klenik Studies.
Jika Klenik Studies ingin dijalankan lebih serius, perlu ada MoU. Hal-hal yang dianggap sepele dapat menjadi besar, terutama jika berkaitan dengan pasal-pasal di dalamnya. Termasuk orang yang menjadi pemateri dalam diskusi Klenik Studies tidak merupakan pelaku kejahatan seksual. Selain itu, sebagaimana yang dikatakan Sulkhan, sharing pengetahuan yang berlangsung dalam kelompok. Semua yang ia lemparkan dalam diskusi dianggap bebas dipakai. Namun, teman-teman lain memiliki konsen yang berbeda. Banyak topik yang sebenarnya memiliki nilai ekonomi jika ingin dimanfaatkan. Arahnya kemudian perlu dibicarakan bersama.
Salah satu kemungkinan yang dapat dilakukan dari tawaran Jevi adalah membuat workshop sendiri. Workshop internal komunitas yang dilakukan secara santai tetapi serius. Ia juga melihat bahwa evaluasi satu tahun ini dapat menjadi titik refleksi. Untuk sementara, menurutnya, Klenik Studies bisa berjalan seperti sekarang tanpa menutup kemungkinan merambah ke hal-hal lain. Akbar menyampaikan bahwa ia sepakat dengan Jevi. Menurutnya, selama ini ia lebih banyak melakukan diskusi dan jika dikembangkan lebih jauh, arahnya bisa menuju konten.
Sulkhan kemudian membahas kemungkinan membuat proyek seperti zine, buku, dan sebagainya. Kegiatan semacam ini juga membutuhkan massa yang dapat membantu membagikan atau menyebarkan hasilnya. Namun, jika membuat proyek, ia menyarankan agar dimulai dari proyek-proyek kecil saja. Jevi menghubungkan gagasan tersebut dengan workshop. Perlu disepakati berapa orang yang akan terlibat. Hal ini juga berkaitan dengan dinamika media sosial hari ini.
Pembahasan kemudian kembali pada persoalan arah dan output kelompok. Akbar mempertanyakan, “Outputnya apa?” Menurutnya, Klenik Studies perlu memiliki output yang tangible. Kelompok ini betul-betul perlu menentukan arah dan secara spesifik tetap berada pada kajian klenik.
Kami kemudian melihat adanya dua kepentingan dalam keberlangsungan Klenik Studies. Di satu sisi, ada kehidupan dan kepentingan jangka pendek yang sifatnya santai, sebagai jeda dari kehidupan sehari-hari, sisi lain, komunitas juga perlu sustain. Karenanya, perlu dipikirkan bagaimana kedua misi tersebut dapat menyatu. Klenik Studies dapat tetap menjadi ruang jeda, tetapi pada saat yang sama memiliki misi yang lebih besar ke depan.
II. HANTU DAN PERMAINAN SEBAGAI BENTUK SOLIDARITAS DAN MOBILITAS SOSIAL
Akbar mengawali pembahasan tema “Hantu dan Permainan” dengan melihat kembali permainan, seperti main jelangkung-jelangkungan dan penggunaan ouija board. Menurutnya, motivasi awal permainan-permainan tersebut adalah keinginan untuk bersinggungan dengan sesuatu yang gaib. Dalam permainan uji nyali, ada keinginan untuk mengalami persinggungan tersebut, tetapi ada pula teman yang bisa menarik kita ketika merasa takut. Dalam permainan itu, ada teman dan solidaritas yang ikut bekerja dari dalam. Motivasi permainan ini juga berkaitan dengan bagaimana kita menghubungkannya dengan hal-hal yang ilmiah. Kita membahas sesuatu yang gaib, tetapi ada juga teman-teman yang mengajak dan menemani.
Sulkhan menceritakan pengalamannya memainkan jalangkung-jalangkungan. Ia ingin diangkat sebagai jagoan, ingin dianggap keren, dan merasa sudah melampaui anak-anak lain karena pernah melihat hantu bersama teman-teman saat bermain jalangkung. Namun, ia sendiri tidak menemukan hantu. Saking khusyuknya bermain, ketika terdengar suara kresek, mereka langsung lari. Permainan jalangkung dengan boneka yang menulis nama juga pernah dilakukan. Menurut Sulkhan, semangatnya lebih kepada rasa penasaran. Mereka ingin punya nilai lebih secara sosial. Kalau punya cerita, perhatian orang akan tertuju kepada mereka. Itu kemudian menjadi modal sosial.
Akbar melihat kisah-kisah tersebut sebagai semacam perekat sosial untuk mobilisasi massa. Warga dapat membuat keributan dan bergerak bersama karena hantu. Di Kalimantan, ketika seseorang dimakan buaya, warga akan berkeliling menggunakan perahu. Tradisi yang unik, ada telur yang diketok-ketokkan untuk mengganggu buaya. Dari ritual, buaya dipercaya akan merasa bersalah ketika memakan manusia. Dalam hal ini, manusia menghadapi buaya atau hal gaib dengan memobilisasi massa. Mobilisasi massa tidak hanya terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga muncul dalam permainan. Orang-orang kampung berusaha memobilisasi massa ketika menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam.
Sulkhan kemudian menghubungkan pembahasan mobilisasi massa dengan masa kolonial. Menurutnya, hal tersebut sudah ada sejak zaman Belanda. Ia merujuk pada buku Sindhunata, ketika orang menyerukan adanya orang hilang yang diculik Belanda. Ada pula cerita mengenai tumbal proyek, termasuk memfitnah orang Belanda sebagai pihak yang menjadikan seseorang tumbal proyek. Dalam cerita Lampor, anak yang hilang kemudian ditemukan dalam kondisi linglung. Sebelumnya, orang-orang membuat suara gaduh. Dari situ muncul pertanyaan mengenai hubungan entitas gaib dengan bunyi.
Sulkhan melanjutkan dengan cerita lain tentang seorang anak yang memang iseng bersembunyi di beranda, lalu dipercaya dibawa terbang. Ia menyebutnya sebagai keranda terbang yang melintasi massa.
Akbar kemudian melihat permainan-permainan tersebut dalam konteks usia anak-anak. Permainan itu memiliki semacam ritual pendewasaan. Seseorang yang berhasil, misalnya ketika jalangkung menjawab pertanyaan, akan dianggap luar biasa dan melebihi yang lain. Ia mengingat pengalamannya ketika S1, ketika sering masuk ke tempat-tempat angker dan melakukan uji nyali. Ia dan teman-temannya pernah mencari tempat seperti Warung Pocong Sumi, terutama pada malam bulan purnama yang dianggap bagus. Pada usia tersebut, tetap muncul sensasi tertentu. Ada semacam kepuasan sendiri dan perasaan menjadi lebih dewasa. Menurut Akbar, ini menjadi salah satu tujuan dari permainan-permainan semacam itu.
Sulkhan menambahkan bahwa ada semacam perasaan kagum, sebuah momen kekaguman meskipun diiringi rasa takut. Sosok hantu dianggap menyeramkan, tetapi di satu sisi juga menakjubkan karena merupakan prestasi tersendiri. Jika hanya satu dari seribu orang yang melihatnya, muncul sensasi tersendiri. Ketika nyantri, mereka juga suka mencari hantu. Mereka sering memamerkan pengalaman, seperti “aku nemu naga”, yang kemudian diceritakan kepada adiknya. Ketika ziarah ke suatu tempat, bisa saja mendapat tombak, atau mengalami mimpi tentang harimau. Ada pula pengalaman menantang sosok tersebut untuk berkelahi, meskipun kemudian dipikir-pikir lagi.
Menurut Sulkhan, spirit dari berbagai pengalaman tersebut sama, yaitu membuktikan dan meraih sesuatu yang lebih. Unsur eksperimen berperan di dalamnya.
III. ANAK HILANG DAN FENOMENA BLEK-BLEK-TING DI GUNUNGKIDUL, JOGJA
Jevi berbagi cerita mengenai fenomena blek-blek-ting di Gunungkidul (GK). Ketika ada anak kecil yang hilang, misalnya sekitar jam lima sore ketika sedang bermain, warga zaman dulu akan mencari anak tersebut menggunakan alat-alat masak dan pertanian, seperti gatul dan tampah untuk menanam jagung. Alat-alat tersebut dibunyikan sehingga menghasilkan suara “blek-blek-ting”. Ada pula nyanyian yang didendangkan, seperti “anakku digondol wewe, wewe gombel”.
Menurut mitosnya, anak yang hilang tersebut ditutupi oleh makhluk halus. Supaya anak tidak disembunyikan, warga perlu membunyikan alat-alat tersebut. Jevi mengatakan pernah ada kasus anak hilang yang terjadi pada zaman simbahnya.
Sulkhan kemudian bertanya apakah anak yang hilang tersebut benar-benar ditemukan setelah dicari dengan cara demikian.
Jevi menjawab bahwa ada yang ditemukan tersangkut di pohon. Pernah pada jam 12 siang, anak tersebut dicari dengan metode seperti itu dan kemudian ditemukan di pohon yang tinggi, jika tidak salah pohon asem. Ada juga cerita mengenai Mbah Mugi (yang berusia sekitar 80 tahun) hilang dan dicari di ladang sekeliling kampung, di daerah perbukitan yang mengelilingi kampung. Namun, setelah pulang justru ditemukan berada di dapur rumah. Hal semacam ini, menurut Jevi, biasa dialami anak-anak kecil.
Yang kemudian menjadi perdebatan adalah bagaimana anak tersebut bisa tiba-tiba berada di tempat itu. Padahal mungkin orang yang mengalaminya mengatakan, “Aku dari tadi di situ kok.” Namun, warga tidak melihatnya, termasuk hingga ibunya sendiri. Menurut Jevi, fenomena ini seperti terjadi dalam dimensi lain. Ia kemudian mengatakan bahwa cerita blek-blek-ting tersebut sudah pernah ia pentaskan bersama teman-teman sanggar dalam sebuah pertunjukan.
Isma kemudian teringat pada perbedaan waktu antara dunia manusia dan dunia gaib yang juga muncul dalam novel Narnia karya C.S. Lewis. Ratusan tahun di Narnia dapat menjadi hanya hitungan menit di dunia nyata.
Jevi kemudian mempertanyakan kembali anggapan bahwa sosok yang menculik tersebut digambarkan sebagai sosok jahat. Menurutnya, logika itu bisa dibalik, wewe gombel justru bisa saja menyelamatkan anak. Mungkin anak tersebut sedang mendekati bahaya dan diselamatkan oleh wewe. Di Gunungkidul, wewe gombel memang dianggap jahat karena menyembunyikan anak, tetapi ada pula pembacaan yang lebih berpihak kepada wewe gombel, bahwa ia justru menyelamatkan.
Jevi kemudian menghubungkan cerita tersebut dengan trauma psikologis. Ada pengalaman dengan orang tua dan teman-temannya yang kemudian membuat pembacaan cerita semakin mengerucut. Bisa jadi yang salah bukan anak kecilnya, tetapi ada masalah di dalam keluarganya.
IV. DAKON, PETAK UMPET, JATHILAN
Jevi kemudian membahas permainan dakon yang juga memiliki kesan horor. Selain dakon, petak umpet juga memiliki sisi yang serupa. Banyak papan dakon yang merupakan peninggalan Hindia-Belanda kemudian dimistiskan karena dianggap sebagai benda lama. Jumlah bijinya juga dipercaya dapat berkurang sendiri. Ada sisi mistis yang melekat pada alatnya, meski Isma merasa, saat dia kecil dan bermain dakon, tidak selalu menggunakan alat. Cukup digambar di lantai atau tanah, yang penting ada klungsu (biji asam) untuk memainkan. Dakon sendiri merupakan permainan yang tua. Orang keraton juga memainkannya, termasuk ketika mengunjungi museum dan menggunakan dakon lama.
Menurut Sulkhan, justru petak umpet yang terasa menyeramkan. Ketika berada di posisi mencari, seseorang berada dalam posisi ketidaktahuan. Misalnya ketika mencari di lorong, muncul pertanyaan apakah ada orang di sana atau tidak. Menurutnya, sisi menyeramkan petak umpet ada pada pertanyaan apakah tempat tersebut juga mengandung sesuatu. Rumahnya berada di kampung pelosok di Batang, Jawa Tengah, dan ia pernah memanfaatkan sudut-sudut desa untuk bermain. Namun, ia sendiri tidak berani berada di tempat-tempat tertentu. Ada pula cerita tentang orang yang melihat hantu ketika bermain petak umpet. Sulkhan menambahkan bahwa permainan tersebut juga mendorong seseorang untuk berani bersembunyi di tempat-tempat yang agak ekstrem.
Jevi kemudian menghubungkan pembahasan dengan jathilan dan pengalaman merasuki tubuh dengan sesuatu yang gaib. Ia mengaku sering mengalami dan melihatnya ketika kecil. Dalam permainan bersama teman-teman kampung, mereka mencari kembang di taman, kemudian menyebar dan melakukan reka adegan jathilan. Mereka menyalakan musik agar tubuhnya terasa lebih kuat. Ada pula adegan makan beling. Menurut Jevi, permainan-permainan semacam itu merupakan bagian dari pengalaman bermain ketika kecil.
Sulkhan menambahkan bahwa di dalamnya juga ada perasaan tertentu. Ketika berhasil mendapatkan roh macan atau monyet, seseorang merasa memiliki kekuatan yang lebih.
V. HUBUNGAN HANTU DI MASA KANAK-KANAK DENGAN POLA PARENTING
Jevi membuka pembahasan dengan pertanyaan mengenai masa kanak-kanak. Ketika kecil, sebenarnya kita takut karena apa? Ia mempertanyakan apakah ada buku psikologi anak yang membahas kapan seorang anak mulai merasa takut pada hantu dan kapan pertama kali merasa takut pada malam.
Akbar mengatakan bahwa ia belum membaca literatur yang spesifik mengenai hal tersebut. Namun, secara logika dan budaya, ketakutan dapat berbeda-beda. Orang Bajo, misalnya, mungkin tidak setakut kita ketika melihat laut. Hal yang ditakuti tergantung pada konteks budaya masing-masing.
Jevi kemudian mengingat aturan ketika kecil, yaitu sebelum Magrib harus sudah sampai rumah. Kalau ingin bermain, jangan sampai melewati Magrib.
Sulkhan mengatakan bahwa salah satu ketakutan yang paling memorable baginya adalah ketakutan terhadap orang-orang yang membangunkan sahur. Mereka dianggap sebagai hantu, bukan manusia. Ketika para pemuda berkeliling membangunkan sahur, ia mengira mereka hanya hantu dengan suara bedug. Ibunya bahkan menyebutnya sebagai “setan ember”.
Sulkhan juga menceritakan bahwa ketika SD ia kemudian menjadi bagian dari mereka yang membangunkan sahur. Menurutnya, orang tua turut berperan dalam menyosialisasikan gambaran mengenai hantu. Ia menyebut “soho tetek”, yaitu hantu yang muncul ketika orang berisik atau memukuli benda-benda, kemudian akan ada suara yang menirukan. Hantu tersebut merupakan hantu suara.
Jevi kemudian menyinggung pola parenting yang menurutnya keliru, misalnya cerita bahwa bakul mi ayam sudah meninggal atau “bakule kintir”. Cerita-cerita semacam ini dapat menjadi cara orang tua menakut-nakuti anak.
Akbar mengatakan bahwa ketika kecil ia justru tidak pernah ditakut-takuti dengan hantu. Jika ada pembahasan mengenai hantu, orang tuanya cenderung menghindarkan. Namun, pada periode yang sama, televisi pada jam 12 malam menayangkan film-film hantu. Karena ada kontrol semacam itu, ketika besar ia justru berontak dan semakin penasaran. Menurutnya, jika sesuatu benar-benar dihilangkan, justru dapat muncul rasa ketertarikan. Ketika anak diberi asupan cerita seperti “hantu ember”, yang muncul malah ketakutan. Bentuk kontrol yang berbeda dapat menghasilkan efek yang berkebalikan.
Sulkhan mengatakan bahwa ketika SD menjelang remaja, ia mulai menjadi orang yang membangkang. Justru karena itu, ia mencari hantu di mana-mana.
Jevi kemudian menceritakan pengalaman masa kecilnya dengan tempat-tempat yang disebut “lurung”. Ada lurung yang merupakan tempat atau jalan untuk memandikan sapi. Biasanya berada di pinggir pagar, sebagai jalan tempat sapi hendak dimandikan. Anak-anak dilarang melewati tempat tersebut pada siang hari karena dianggap berbahaya.
Menurut Jevi, banyak orang tua memberikan larangan dengan pola “jangan ini” dan “jangan itu”. Larangan tersebut kemudian menjadi semacam trauma. Hal itu membekas, meskipun ia mengaku belum membaca ulang apakah ada pembacaan lain terhadap fenomena tersebut. Lurung juga digunakan untuk membuang barang-barang rumah tangga yang sudah tidak terpakai. Anak-anak ditakut-takuti dengan larangan untuk berada di lurung karena bisa “ketempelan”.
Bagaimana Suara Bisa Mengundang Hantu?
Pembahasan kemudian beralih pada hubungan suara dengan kehadiran yang gaib. Jathilan menjadi salah satu contoh yang muncul dalam diskusi, terutama mengenai “suara sebagai instrumen memanggil yang gaib”. Dalam konteks Jawa, hantu juga kerap dikaitkan dengan gamelan. Ada mitos-mitos mengenai gamelan dan hubungannya dengan dunia gaib. Menurut Jevi, bagian ini menarik untuk dibahas lebih jauh.
Beberapa kemungkinan tema yang muncul untuk dikembangkan adalah “Hantu, Suara, dan Musik”, “Suara sebagai Instrumen Gaib”, dan “Musik sebagai Medium Klenik”. Selain itu, muncul pula gagasan mengenai “Suara-Suara Hantu”.
VI. KESIMPULAN
Sebelum ke materi, kami melalkukan evaluasi dan refleksi setahun Klenik Studies. Grup ini kecil saja, dan maaf belum ada wacana nambah personel baru. Kami ingin lebih ke penguatan internal dulu. Namun kami mengusahakan akan ada diskusi untuk umum yang bisa diikuti oleh siapa saja. Saat diskusi umum kemarin, kami juga tidak menyangka antusiasme kawan-kawan sangat besar. Semoga kelompok studi ini ke depan lebih matang dan memberikan keberkahan bagi lingkungan. Bisa melahirkan empati pada dunia yang tak kasat mata, kesadaran akan yang hakiki, dan tetap hepi di antara naik turunnya hidup.
Dari diskusi yang bertema "Hantu dalam Permainan", ada beberapa kesimpulan:
(1) Hantu dalam permainan sering berkelompok, dan secara tidak langsung itu membangun solidaritas. Tak hanya itu, juga mobilitas sosial, seperti orang sedesa bisa berkumpul untuk mencari anak yang hilang karena ditutupi hantu.
(2) Dalam permainan yang berhubungan dengan hantu, terkadang anak-anak merasakan kebanggaan dan status sosial tertentu karena bisa bertemu dengan sosok makhluk halus, yang itu terjadi langka, bandingannya mungkin bisa 1:1.000. Dampaknya, ketika ada anak-anak lain yang ingin berbuat jahat, bisa tidak berani mendekati.
(3) Ketakutan sewaktu kita kecil juga tak jauh dari unsur parenting, bagaimana orangtua memperkenalkan hantu pada anak. Pola yang kami baca, mitos hantu muncul dalam rangka untuk pendisiplinan dan pengontrolan, misal agar tidak main setelah Magrib, bangun saat sahur tiba, tidak membeli makanan tertentu karena takut-takut penjualnya sudah meninggal. Sayang sekali, hal ini juga memberikan efek psikologi yang dibawa sampai dewasa.

.png)
.png)

.png)
.png)