Diskusi publik bertema "Indonesian Women Artists Exposure Internationally" digelar di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia (Galnas) Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026. Diskusi ini menghadirkan empat pembicara: Citra Sasmita (Perupa), Ines Katamso (Perupa), Farah Wardani (Kurator), Maya Rizano (Art and Communications), dan dimoderatori oleh Falencia Hutabarat (Wakil Ketua 2 Dewan Kesenian Jakarta).
Maya Rizano (Art and Communications Consultant) mengatakan, seni rupa itu tak hanya harus inklusif, tapi secara kreativitas juga sangat besar. Setelah berkarir di industri manufaktur hingga perbankan (termasuk UOB), ada yang bersinggungan dengan art, hubungannya dengan CSR. Tapi untuk apa perbankan mendekati art? Karena kebanyakan ada di pendidikan. UOB berbeda, dia melihat di sini ada human capital dan nilai ekonomi dari sebuah seni. Return of invesment (ROI) meskipun tak bisa dihitung kuantitatif, tapi bisa dihitung secara kuantitatif. Powerful sekali panggung ini, penghargaan sangat dinanti seniman. Bukan hanya memberikan prize, tapi bisa untuk menunjang karier seniman. Ini mengangkat galeri juga.
Beberapa kali UOB ke ISI Bali untuk memberikan dukungan dan berkarya. Ini yang membuat kompetisi semakin bersaing. Saat Covid-19, kompetisi juga tak berhenti, yang membedakan justru saat bencana isu lebih diangkat daripada isu manusia. Memberi wawasan pada seniman untuk bereksplorasi, tidak ada tema justru membuka lebar kreativitas. Di program ini ada redefinisi tentang seni lukis sendiri yang tertuang dalam karya-karya para seniman dari berbagai negara, seperti karya seniman Thailand tentang isu perempuan.
Di UOB terbuka topik apa saja, termasuk sangat terbuka untuk gender dan dinilai berdasarkan merit. "Seni Rupa untuk korporasi sangat terbuka sekali," katanya. Meskipun ada value juga yang dijaga, termasuk tidak mengakomodir pornografi.
Seniman Indonesia juga tidak kalah, seorang kurator buat one day visit, salah satu seniman karyanya dilirik karena bahas manusia dan Antropologi juga.
Yang penting juga ada edukasi untuk anak-anak. Kolaborasi dengan Art Jakarta, Art Moment, Museum Macan, dan responsnya juga sangat baik. Bahkan ada art online juga untuk anak-anak terkait fabel kerja sama dengan Citra Sasmita. Tidak mungkin bergerak sendiri, tetapi bermain dengan para pemain di ekosistem. Juga mengajak masyarakat yang tidak mengenal art, untuk orang yang tak punya waktu untuk melihat seni. Karena umumnya yang datang ke seni itu lagi, itu lagi. Termasuk juga di bidang culinary, ada kerja sama untuk isu yang dihubungkan dengan seni rupa. Setiap seniman punya nilai sendiri yang diperjuangkan.
Ada Bibit dan Treasury juga bermain di seni rupa. Maya juga bertanya kenapa memberikan dukungan pada seni rupa? Karena juga menarik ekonomi kreatif. Dana filantropis ini diterima karena ROI kadang tak kelihatan. Ini jadi tools untuk investasi juga. Melalui art bisa mempertemukan para kolektor juga mereka punya aset yang sangat penting. "Ujung-ujungnya monetize," terangnya. Selain itu juga untuk jaringan (network).
Citra Sasmita (Perupa) menambahkan, momentum kebangkitan seni rupa untuk perempuan datang sekarang, manfaatkan itu sebaik-baiknya, seluas-luasnya. Ketika tahun 2012, saat dia merintis karier, masih sedikit perempuan yang bicara seni rupa perempuan. Citra mengkaji ini akarnya di mana. Termasuk belajar dari tulisan Farah Wardani, bahkan Basoeki Abdullah memberikan doktrin kalau perempuan hanya layak dilukis, tapi tidak melukis. Indonesia juga sedikit memberikan apresiasi bagi seniman perempuan. Yang ingin diretas Citra, apa sih yang paling primordial? Secara perspektif ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Apalagi IVAA juga buat arsip seni rupa Indonesia yang melibatkan perempuan. Pioner seniman perempuan dari Bali tahun 50an juga mendobrak tradisi itu, dia perlu mendobrak lebih keras gagasannya seperti apa. Di Bali, seni rupanya lahir duluan daripada lahir Indonesia. Ini membuat Citra tertarik untuk menguji sebaik-baiknya bagaimana gagasan yang dia bawa punya kontekstualitas.
"Ketika masih ada ketidakadilan pada perempuan, saya akan masih menggeluti feminisme," tegas Citra.
Ines Katamso (Perupa) menjelaskan, karyanya lebih ke ekologi juga feminisme. Lebih mudah bicara nature, feminisme bukan hanya menempatkan perempuan di panggung, tapi juga bagaimana kualitasnya. Untuk elemen yang sifatnya budaya nasional, dipengaruhi oleh lingkungan, penting untuknya menemukan identitasnya sendiri, misalnya dengan menggunakan medium tanah. Di Binneal Bali, ada isu plastik, berkolaborasi bersama untuk mengolah sampah menjadi karya seni--suatu artificial material--dan ada narasi apokaliptik. Fokusnya pada harapan.
Farah Wardani (Kurator) melanjutkan, agensi perempuan dalam ekualitas, banyak dari seni rupa perempuan juga mengangkat isu perempuan sebagai agensi. Feminisme berkembang termasuk di wilayah seni. Ini benang merah. Tapi kadang ada era ketika bahas perempuan malah dia di-dismiss sendiri. Ketika dua perupa laki-laki dan perempuan sama-sama melukis bunga, responnya berbeda, yang perupa perempuan lebih dijudge. Bahkan Sudjojono pernah bilang perupa Emiria Soenassa karyanya lebih maskulin dibandingkan perupa laki-laki. Menurutnya, termasuk dengan karya dari Arahmaiani, lebih ke maskulin.
"Aku sendiri kurang pro dengan dikotomi [gender] itu," katanya.
Tanya Jawab:
1. Diva: Saya merintis karier sebagai seniman perempuan kontemporer. Di luar jalur media sosial, jalur apa untuk membangun visibilitas internasional tanpa harus kehilangan identitas sebagai perempuan? Karena saya tidak pandai membuat hal yang viral.
2. Question: Apakah dari panel, adakah kegelisahan di negeri sendiri? Audiens di sini punya kebebasan. Apakah ada kekhawatiran dalam kebebasan ekspresi, untuk lebih mengekspresikan tentang tubuh/cara berpakaian dalam kreativitasnya?
3. Kevin: Sejauh mana adat bisa jadi objek setara dan bukan sebagai objek eksotis?
Citra: Kebetulan saya dari akar rumput. Saya juga tidak sekolah seni. Jalan menuju kesenian dua kali lipat, benefitnya saya bisa mendekati seni dengan berbagai POV. Bisa menambah referensi, paham bagaimana membentuk karya yang mampu berdialog dan tidak hanya selesai di podium. Mindset seperti orang petani yang menyelamatkan saya. Mereka mengajari saya bagaimana melemparkan "koin" sampai titik terjauh. Soal kebebasan berekspresi, saya selalu mengamini dia adalah jalan kemerdekaan. Saya tidak takut dengan hantu-hantu dan sensor-sensor seni. Kita punya sensitivitas yang tinggi. Karya saya ada nudity, tapi untuk seni anak harus menyesuaikan seni itu. Saya terjemahankan, di situ intelektualitas seniman, bagaimana menerjemahkan sesuatu jadi hal yang mampu dibahasakan. Based bisa di Bali, tapi pemikiran harus beyond. Untuk pertanyaan tradisi, itu satu-satunya sustain hingga saat ini. Mereka penjaga warisan budaya.
Ines: Saya sebagai introvert mencoba untuk bersosialisasi dalam pameran seni. Kamu bisa belajar berbagai teknik narasi, gali curiosity. Pikirkan dirimu sendiri dulu, dan bekerjalah.
Farah: Aku beberapa kali ngomong di berbagai kesempatan soal ekosistem seni kita, yang aneh sekali akademi seni di Indonesia masih jadi minoritas. Art School bisa dihitung jari dan gak nambah-nambah. Ada ASRI, ISI, atau humaniora, wacana indigenous art jadi counter Barat yang bisa dikaji di tataran akademis. Buatlah art school di 38 provinsi ini, bahwa tradisi sebagai lokal sih oke, tapi secara akademis belum. Selama ekosistem termasuk pendidikan belum kuat, jadi susah berkembang.
Maya: Pertanyaan pertama bisa dimulai dari apa yang membedakan dengan yang lain. Sosmed penting mau gak mau. Ikut aktif dalam asosiasi seni, perkenalkan siapa dirimu, kenalan dengan kurator, tapi juga kamu harus punya "profil" juga, sehingga orang bisa capture itu. Memang ketuk pintu gak cuma sekali, tapi kalau sudah kebuka akan sangat membentuk.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar