Minggu, 01 Maret 2026

Catatan Buku "Time is More Valuable Than Money: Dampak Transportasi pada Hidup Kita" karya Yoris Sebastian

Aku membaca buku ini ketika waktu sahur. Sebenarnya aku tak begitu bisa tidur nyenyak. Barangkali, aku perlu memprioritaskan tidur nyenyak 8 jam setiap hari sebagaimana yang Yoris praktikkan dalam hidupnya. Buku ini kubaca relatif cepat, kurang lebih dua jam sudah selesai. Mungkin karena bahasanya yang enak diikuti, meskipun informatif, di aku sangat masuk. Apalagi dia ngutip ide wartawan Amerika, Christopher Morley, yang menarik juga, "When You sell a man a book, you don't sell him just twelve ounces of paper and ink and glue -- you sell him a whole new life." Kurasa ini yang diberikan sama buku-buku yang kubaca.

Berkat buku ini, aku jadi paham terkait sejarah transportasi di Indonesia. Dari pas masa Orde Lama, Orde Baru, reformasi, sampai lanjutannya sekarang ini. Premis buku ini sebenarnya sederhana juga, penulis mau menunjukkan kalau waktu itu lebih berharga daripada uang berdasarkan kacamata mode transportasi yang kita gunakan sehari-hari. Hidup di tempat kerja yang jauh dari tempat tinggal itu suatu PR besar, karena gak hanya menyangkut kesehatanmu, tapi juga waktumu. Waktu yang gak bisa diganti, diperbanyak, dan dikembangbiakkan kayak komoditas kapitalisme yang lainnya.

Penulis mencontohkan ada kawannya seorang konsultan yang hidup di kota satelit, sementara kantornya katakanlah di distrik bisnis Jakarta. Pergi-pulang sudah berapa jam, tapi pas mutusin pindah, kualitas hidup jadi berubah. Dia bisa jadi punya banyak waktu sama keluarga. Lalu, karena dekat, juga enak. Praktik-praktik serupa banyak contohnya. Yoris juga ngasi semacam log book yang bisa diisi oleh pembaca terkait alokasi waktu yang bisa digunakan dalam 24 jam.

Namun, ada semacam titik buta juga menurutku, ya, itu masuk akal, tapi masalahnya kupikir lebih kompleks daripada sekedar transportasinya. Tapi juga gimana struktur kapital, modal, kelas sosial, dan finansial bekerja. Untuk buruh yang di bawah UMR itu gak ada pilihan lain. Mungkin Yoris atau kawannya bisa bacot gitu karena secara finansial udah settle, sehingga mereka punya banyak pilihan. Bagaimana dengan kelas sosial lain, kaum pinggiran yang tak punya banyak pilihan? 

Sudahlah, itu bahasan lain, aku tertarik dengan sejarah transportasi yang kita temui sehari-hari. Sebab aku menerimanya secara take it for granted saja, tanpa mempertanyakannya lebih jauh. Yoris ngutip pendapat Buya Hamka, intinya, kalau dulu kita ibadah ke Makkah bisa sampai dua bulan, sekarang berkat teknologi bisa ditempuh selama 9 jam saja. Ini berkat bantuan yang namanya "transportasi". Jadi, transportasi itu bagian dari revolusi sebenarnya. 

Aku jadi punya asumsi, revolusi itu emang cara manusia memanfaatkan waktu. Semakin dia cepat, efektif, dan efisien; maka manusia lebih punya banyak waktu untuk menikmati hidupnya--atau justru lebih sengsara dan teraleniasi? Bukan soal transportasi aja, misalnya juga soal AI. Alat itu benar-benar menggunting waktu boros yang kita gunakan untuk kegiatan yang lebih produktif. Sebagaimana yang kayaknya udah jadi common sense, masyarakat Indonesia itu boros waktu, jamnya pun jam karet.

Yoris di buku ini juga ngulas soal problem kemacetan di Jakarta yang menyebabkan stres. Kemudian didukung sama inovasi transportasi. Di zaman dulu, kita semisal mengenal delman, yang itu ternyata berasal dari bahasa Belanda, dan ditemukan oleh Charles Theodore Deeleman. Dulu kendaraan ini cukup elite, tapi sekarang lebih difungsikan untuk kegiatan yang sifatnya rekreatif. Lanjut dengan sepeda, dari yang rodanya satu, atau model sepeda Baron Karls Davis, sampai sepeda yang kita jumpai sekarang.

Dari sepeda, terus beranjak ke motor. Sebuah inovasi yang salah satunya digerakkan oleh Edward Butler di tahun 1885. Sementara, di Indonesia sendiri, motor pertama itu ada pada tahun 1898. Kalau kamu bayangin itu agak mirip-mirip sama property film jadul di masa dulu. Terus lanjut ke becak yang ditemukan pada tahun 1869 di Jepang. Yoris juga lihat rickshaw pertama kali pas baca Tintin. Nah, problem bencak itu bagiku cukup kompleks, karena dianggap sebagai pekerjaan yang tidak manusiawi. Soekarno juga pernah menghina ini di tulisan scholar Jepang. Di Jakarta, ternyata ada alat transportasi yang bagiku udah punah, macam helicak (helipad + becak).

Di buku lain, aku malah membaca kalau rickshaw itu digeret pakai tangan! Ini terjadi di Kolkata, India. Menariknya, malah pelakunya sendiri merasa pekerjaan ini lebih bermartabat. Gajinya lebih tinggi daripada dia ikut orang disuruh-suruh, sementara di rickshaw, cukup selow sambil tidur-tidur juga gak masalah. Bahkan mereka menyalahkan pemerintah yang gak menyediakan transportasi yang proper buat masyarakat yang dianggap pekerjaannya "tak manusiawi" itu.

Berlanjut, mode transportasi lainnya ada becak motor (bemo) dan oplet. Baca ini, yang kebayang itu filmnya si Doel. Terus juga transportasi modern di era sekarang, Yoris lebih banyak membahas lebih cepat lagi, seperti trem dan kereta api. Tapi gak terlalu bahas teknologi, misal pintu ke mana sajanya Doraemon. Atau baling-baling bambu untuk terbang.

Sementara untuk tranportasi modern di era sekarang, Yoris lebih banyak bahas sistem. Misal untuk mengatasi kemacetan, dia bahas ada perkumpulan nebeng gitu. Juga, lebih ke transportasi umum yang bisa digunakan secara inklusif semacam Transjakarta (TJ). Atau yang lain ada shuttle, Yoris juga membagikan mode di negara lain seperti lyft rideshare service, bicycle sharing system yang biasa kutemukan di UI, city water transportation, jadi macam taksi air gitu, sampai intelligent transportation system (ITS). 

Di bab lainnya, Yoris bahas terkait kemungkinan transportasi di masa depan. Jadi sistemnya lebih terintegrasi gitu, kayak yang dia temukan di Bandara Kualanamu Medan. Aku sempat mau ketinggalan pesawat pas ke sini, wkwk. Dia nawarin semacam very fast transportation macam kereta cepat yang sudah bisa kita nikmati di Kereta Cepat Bandung. Termasuk juga usulan seputar panoramic transportation, atau kereta wisata yang sangat mahal itu. Dan ternyata, Indonesia punya: Kereta Wisata Nusantara, Kereta Wisata Bali, dan Kereta Wisata Toraja. Dari buku ini, aku bermimpi suatu hari bisa menjajal naik Glacier Express dan The Pride of Africa, yang bisa jalan-jalan lihat panorama negeri dongeng di Eropa dan Afrika.

Di akhir bab buku, Yoris nekanin kalau harusnya dengan mencermati transportasi yang kita gunakan, kita bisa menghemat waktu kita untuk hal-hal yang lebih  bermakna dalam hidup kita. Mengutip kata Yoris, "Ukuran penting bagi orang yang satu dengan orang yang lain pasti berbeda. Namun saya coba paparkan beberapa hal yang penting untuk saya pribadi. Dengan mempunyai banyak waktu, sya punya 'extra time' to be HEALTHY, to be HAPPY, and to be WEALTHY. Ya, tiga hal ini penting buat saya. Itulah yang menjadi alasan kenapa saya harus menghindari pemborosan waktu."

Yang intinya: extra time to be healthy, extra time to be happy, and extra time to be wealthy

Mari kita lebih memberi perhatian pada transportasi yang kita gunakan.

Judul: "Time is More Valuable Than Money: Dampak Transportasi pada Hidup Kita" | Penulis: Yoris Sebastian | Editor: Mirna Yulistianti | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta | Cetakan: Pertama, November, 2013 | Jumlah halaman: vii + 148

Tidak ada komentar:

Posting Komentar