Hari ini, ulang tahunku yang ke 33 tahun bertepatan dengan perayaan Idul Fitri 1447 Hijirah. Namun, dari dulu aku tak pernah suka lebaran. Lebaran hanya menambah tekanan. Tekanan ini aku alami sejak kecil, dari merasa inferior ketika bertemu dengan para sepupu di Bojonegoro. Mereka anak-anak dari saudara-saudara Bapak, lalu ke rumah Mbah Kung dan Mbah Yi dengan naik sepeda motor yang ditumpangi enam orang (ibu, bapak, aku, dan tiga adikku), juga aneka cerita-cerita yang membuat jiwa tertekan setelah pulang. Aku merasa, tanpa Lebaran pun, hidupku akan baik-baik saja.
Hari ini berbeda. Ibuku udah lebih dari empat tahun sakit stroke. Beliau tak bisa apa-apa kecuali hanya melakukan aktivitas di atas amben. Aku merasa ibu juga ketakutan untuk sembuh, barangkali, akumulasi sakit yang dialaminya berpotensi akan terjadi pada dirinya lagi jika dia sembuh. Sebagai anak pertama yang tinggal di perantauan, setelah 13 tahun hidup sebagai hyperindependent woman, yang tiap hari mengaktifkan skill problem solving, aku merasa ketika pulang, aku tetaplah jadi sosok yang tak banyak membantu. Aku merasa tiba-tiba kemampuan bertahan hidup yang kudapat di perantauan jadi melempem, seperti tisu terkena air.
Hari ini, di hari ulang tahunku, di hari Lebaran 2026, pagi tadi aku mengantar adik terakhirku ke rumah sakit. Dia tiba-tiba mengeluh ada gejala DBD dari bacaan internet di hapenya. Antena bertahan hidupku langsung ingin cepat membawanya berobat, meskipun dia ragu akan ada orang yang bertugas di hari raya, saat solat ied dimulai. Dia demam, tulangnya linu, setelah memaksakan diri puasa sebulan penuh. Tapi aku keukeuh, DBD harus segera diobati sebelum terlambat, karena di kantorku ada teman yang kena DBD, dan salah seorang kolegaku bilang, "Mesti cepat-cepat dibawa ke rumah sakit, jiak tidak bisa keterusan meninggal!" Tentu aku ketakutan, sama sekali belum siap.
Hari ini, aku ingin bercerita tentang dia, adik kebanggaanku. Anak bungsu ibu. Barangkali dia adalah adik yang paling aku banggakan secara akademik. Aku menaruh harapan yang besar padanya. Dia menuruti saranku untuk masuk jurusan HI, dia menuruti saranku untuk ikut organisasi-organisasi kampus sampai dia jadi ketua atau wakil ketua atau sekadar koordinator divisi. Dia mengikuti saranku masuk persma, prestasinya baik, IP-nya selalu membanggakan di atas 3,8; jika aku menjadi dia, sepertinya juga aku tak mampu menyaingi prestasinya. Termasuk ketika dia mendapatkan beasiswa yang cukup bergengsi dari Bank Indonesia. Namun, yang membuatku selalu terenyuh, dia adik yang paling peduli sama Ibu ketika sakit. Sebuah pengabdian yang belum tentu aku mampu menjalaninya, padahal dia laki-laki, aku perempuan, yang secara pandangan umum, perempuan memiliki keterampilan lebih di bidang perawatan. Adikku mematahkan itu. Aku merasa belum setelaten dia.
https://www.youtube.com/watch?v=3jJe_o8yrv8
Hari ini di ulang tahunku yang ke-33, aku menangis tanpa bersuara ketika mendengar lagu-lagu Dee Lestari berjudul "Grow A Day Older", "Selamat Ulang Tahun", "Firasat", "Malaikat Juga Tahu", dan "Back to Heaven's Light". Tangisan yang aku lakukan entah itu untuk apa.
Hari ini, aku makan mie ayam, akhirnya, meski harus menunggu lama. Dan aku melihat ada ibu dan anaknya yang jatuh dari kursi saat tempat makan itu sedang ramai-ramainya. Rasanya tak terlalu istimewa sebenarnya, aku ingin mie ayam Mas Mo, tapi udah tutup dan habis. Besok aku akan membelinya jika aku dan makanan itu berjodoh.
Hari ini, adik perempuanku membelikanku dimsum mentai ulang tahun yang ada lilinnya. Aku mengucapkan terima kasih untuk kadonya, aku sangat berterima kasih. Ternyata, di tengah hari raya yang tidak baik-baik saja ini, Tuhan masih memberikanku banyak rejeki. Pesan paling kurasa dari alam semesta tersimbol dengan kata-kata yang ketemukan di RSUD: "Aku bertekad membuat diriku sehat."
Hari ini, aku bersyukur pada Allah SWT. Terima kasih telah mengizinkan hamba-Mu bisa hidup sampai di usia 33 tahun ini. Terlebih sejak di tahun 2025 lalu, cobaan berat dan membuka mataku itu datang. Pelajaran hidup berharga di mana aku tak lagi mengagumi hal-hal yang sempurna, baik, kelihatan wah, atau menguntungkan tapi secara realita (logika dan matematika) tidak logis.
Hari ini aku berdoa, semoga, Isma selalu sehat, bisa kuliah Antropologi dan mengikuti tirakat prihatin dan wani rekoso dari Pak Dwi. Terima kasih, terima kasih Ya Allah.
Cepu, Blora, Jawa Tengah, 21 Maret 2026. 23.47 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar