Senin, 09 Maret 2026

Catatan Buku "Bersama Para Kamerad" karya Arundhati Roy


Ketika hendak mengulas sebuah buku, biasanya aku akan memulai dengan entri tertentu yang aku merasa dekat. Aku tak perlu membahas sesuatu yang aku tak paham, sebab bagiku itu tak hanya melelahkan, tapi juga membuatku ketika menulis merasa tidak nyaman. Setelah membaca buku Arundhati berjudul "Bersama Para Kamerad" ini, aku pernah memikirkan satu entri poin yang menurutku penting. Tapi ingatanku sebegitu rapuhnya, sehingga aku lupa pintu masuk yang kumaksud itu. Akhirnya, aku masuk ke pintu lain. Begini ceritanya...

Saat aku kuliah di UIN Jogja dulu, menjadi aktivis LPM Arena, aku ditawari untuk menjadi proofreading entah mengulas buku dari pejuang Timor Timur. Buku itu berjudul "Timor Timur: Sebuah Memoar" yang ditulis oleh Naldo Rei, dan disunting oleh Linda Christanty. Buku itu rasanya begitu pekat, sedih, dan lembar demi lembar adalah catatan luka yang terasa sesak ketika kamu baca. Wajah kemanusiaan digambarkan se-raw itu di antara perjuangan di hutan-hutan, derap perang, dan darah. Meski tak sepekat narasi Naldo Rei, Arundhati Roy kurang lebih menuturkan suatu perjuangan yang kurang lebih sama: melawan penjajahan dari mereka yang punya kuasa terhadap mereka yang dianggap pemberontak.

Aku mengoleksi sekitar tiga buku Arundhati di kosku, tapi baru ini yang pertama kubaca. Aku cukup shock ternyata penulis perempuan yang sepertinya bertubuh kecil itu punya keberanian yang sangat besar untuk melakukan turun bawah (turba) di sebuah kamp terlarang, tepatnya di Hutan Dandakaranya, India. Dia melakukan suatu liputan etnografis terkait perjuangan sekelompok masyarakat adat dan marjinal yang menolak tanah mereka menjadi ladang eksploitasi tambang pemerintahan yang berkuasa saat itu. Rezim yang sewenang-wenang melakukan pembunuhan, pembakaran, pemerkosaan, dan pencurian besar-besaran melalui instrumen berseragam mereka. Operasi Salwa Judum inilah biang keroknya. Ketika kau mengetik, "salwa judum", kau akan menemukan banyak pelanggaran yang dilakukan mereka atas tindakan tidak beradab yang mencoreng nilai-nilai kemanusiaan.

Perlawanan itu terhimpun dalam sekelompok golongan yang disebut Naxal, yang memiliki nama lain pengikut ajaran Mao. Inti ideologis kelompok ini adalah berbasis pada pemikiran Mao Zedong, yang percaya bahwa revolusi bisa dipimpin oleh petani. Mao berfokus pada masyarakat agraris, percaya pada strategi perang gerilya dari desa ke kota. Mao percaya petani adalah kekuatan revolusi utama, bukan hanya buruh kota saja. Ini tentu berbeda dengan pandangan Leninisme (yang basisnya buruh industri dengan strategi utama partai pelopor di tingkat nasional), Trotskisme (berbasis kekuatan buruh dengan skala revolusi yang internasional), dan Stalinisme (revolusi dengan sentralisasi kekuasaan ekstrem, industrialisasi cepat). Tentu isme-isme ini berfondasi pada pemikiran Karl Marx bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas. 

Berbekal kekuatan para petani yang kehilangan tanah, rumah, dan keluarganya itulah; kemarahan ini disulut. Pelawanan ini terjadi di daerah-daerah dengan kekayaan mineral yang kaya, di Chhattsgarh, Jharkhand, Orissa, dan Bengal Barat. Di sini, secara telaten, Arundhati juga menceritakan berbagai kamerad-kamerad yang ditemuinya sepanjang perjalanan: 

Chandu, Mangtu, Didi, Kamerad Mahdav, Kamerad Narmada (sosok yang bertanggungjawab di Krantikari Adivasi Mahila Sangathan/KAMS yang kepalanya punya label harga), Kamerad Saroja dari PLGA, Kamerad Maase (perempuan hitam di Gondi), Kamerad Roopi (sang penyihir teknologi), Kamerad Raju, Kamerad Veny/Muralli/Sonu/Sushil (yang paling senior dari Komite Sentral atau Politbiro). Kamerad Kamla. Setiap kamerad-kamerad ini mempunyai kisah-kisahnya sendiri. Salah satu sobat yang paling kuingat adalah dia yang membawa sepeda. Sepeda selalu mengingatkanku dengan diri sendiri.

Hal yang sangat menggugahku adalah bagaimana Arundhati menganggap bahwa tidur di hutan yang penuh kesusahan, capek, kelegaan tak terkira itu nilainya lebih tinggi daripada tidur di hotel mewah mana pun! Dia juga tak pernah mengeluh meskipun dia perempuan, punya disleksia arah, kekurangan makanan, mungkin tidurnya tak nyenyak, tapi dia menganggap bahwa apa yang dia lakukan adalah suatu "tugas mulia". Arundhati bekerja bukan untuk dirinya, tapi untuk kepentingan yang lebih tinggi dari golongan minoritas yang dianggap hama yang perlu dibasmi. Arundhati menulis dengan nada menyentuh seperti ini:

Ini adalah kamar paling indah yang pernah kutiduri selama ini. Sebuah kamar khusus di sebuah hotel berbintang seribu. Aku terkepung oleh keasingan, bocah-bocah luar biasa dengan kantong senjata yang aneh... Kenapa mereka harus mati? Untuk apa? Hanya untuk mengubah dan menukarnya dengan tambang?. . . Aku tak menyangka keberadaanku di sini akan sebahagia ini. Tidak akan ada lagi tempat-tempat di dunia yang ingin aku kunjungi. (25-27) 
Para pejuang dalam buku ini digambarkan sangat beragam latar belakangnya. Ada yang masih anak-anak, ada yang ibu-ibu atau orang tua yang kehilangan anaknya, ada para remaja, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama berjuang. Perjuangan ini tidak mengenal gender. Aku terenyuh saat di bagian ketika para pejuang ini secara logistik dibatasi, mereka tak boleh membeli yang dibutuhkan karena pasarnya dijaga aparat, para kamerad yang kepalanya seolah ada label harganya, hingga perempuan terpaksa tidak bisa haid lagi. Belum lagi kondisi kesehatan dan pengobatan yang sangat terbatas. Tentu akan sangat sedikit menemukan dokter yang mau bekerja di kondisi seperti itu, dengan persediaan obat yang juga sangat terbatas. Aku ingin menangis. Masa depan tak ada harganya di depan mereka.

Di buku ini juga diceritakan tentang kebudayaan khas Naxal, dari pakaian khas mereka, persenjataan mereka, hingga tradisi bertemu keluarga di sebuah lapangan besar. Khususnya saat berkumpul dan menari dalam perayaan Bhumkal. Aku sangat tertarik dengan kerja-kerja yang dilakukan Arundhati menulis terkait hal-hal marjinal seperti ini. Karena katertarikan awalku membeli buku ini adalah, aku sudah mendapat getaran jika dia akan mengulas hal-hal yang aku hidupi sejak dulu: studi marjinalitas.

Terbagi ke dalam 20 bagian, Arundhati menulis ini tidak sepenuhnya mirip dengan catatan harian. Namun, dia mengelompokkan ke bagian-bagian tertentu sehingga memudahkan untuk dibaca. Sebenarnya tidak terlalu tebal, bisa kamu baca sekali duduk, dengan tambahan foto-foto di lapangan dan lembaran khusus "quote" untuk mempertebal part-part penting, buku ini jadi bacaan penting untuk mempertebal humanisme di siatuasi konflik (atau perang). 

Buku ini diberikan pengantar yang sangat baik oleh Hilmy Firdausy, meskipun bagian-bagian buku yang dikutip dari Arundhati tidak berhubungan langsung dengan isi buku, melainkan dengan karya Arundhati yang lain. Dari pengantarnya, keresahan dan kritik Arundhati menjadi terang benderang. Pengantarnya adalah salah satu pengantar terbaik, dari berbagai buku yang pernah kubaca. Judulnya, "Lipatan Fiksi Arundhati Roy, Walking with The Comrades dan Problem Pascakolonial". Dia membaca dari POV kajian poskol. Aku mengutipnya sangat banyak di bagian "Kutipan". 

Di Islam Bergerak, salah khas yang kami berikan untuk para kamerad adalah "Lal Salam". Salam ini dipopulerkan oleh Mas Azka Fahriza. Setiap postingan, kami memakai salah "Lal Salam", untuk membalas email pun juga diakhiri salam tersebut, yang juga digunakan oleh para golongan Naxalite di buku Arundhati. Belakangan, aku baru ngeh, salam ini "Lal Salam" (लाल सलाम)  diambil dari bahasa Hindi/Urdu yang berarti "salam merah". Merupakan sapaan revolusioner yang oleh kaum sosialis dan komunis di Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, Nepal).

KUTIPAN:

Arundhati Roy terlibat dalam agenda kebudayaan bagaimana seharusnya "menulis" novel sekaligus mengembalikan novel sebagai sebuah "genre". (iii) 

Sastra menjelma tidak hanya sebagai novel atau fiksi, namun juga korpus historiografi, laporan antropologis hingga gelanggang perlawanan serta gugatan pada hegemoni. (iv) 

Realitas tidak hanya dijadikan bahan mentah dan dipilih hanya karena ia unik, epik, dan "lokal". Keunikan dan lokalitas hanya akan menjadi peneguh identitas "liyan" kala ia tidak disokong oleh suatu keresahan eksistensial berikut kejelasan mengenai apa yang hendak dilawan dan diperjuangkan. Dengan kata lain, ada latar belakang keberpihakan yang kuat sekaligus keresahan terhadap satu problem identitas... Arundhati tidak muluk-muluk. Ia melihat sekelilingnya, memaksimalkan keresahan dan mempersoalkan ketersudutan beberapa komunitas yang terpental dari tanahnya sendiri... Memintal pertanyaan-pertanyaan dan menyusun amarahnya menjadi mozaik-mozaik cerita. (iv) 

Sosok asing tiba-tiba datang mengomentari satu hal berdasarkan kemampuan berbahasa Inggrisnya yang sedang-sedang saja. Karena sudah menjadi ke makluman, kecongakan intelektual seringkali muncul dari orang yang baru setengah tahu, atau baru tahu... Tidak ada yang ingin dicapai kecuali monopoli makna dan identitas. (vii)

Kolonialisme memang selalu akan menemukan ruang kabur, hibriditas dan kebingungan-kebingungannya sendiri. Dan dalam kebingungan itu, obyek kolonial yang mulanya berupaya didisiplinkan, berbalik menatap dan keluar melawan. (viii) 

Arundhati melakukan gugatan atas seluruh aspek kolonialistik dalam kebudayaan beserta sempalan tradisi dengan konservatisme akut yang sudah terlanjur didaku sebagai yang asli dan fitrah. Arundhati juga menggugat kapitalisme, kecongakan negara yang baru kaya, tindak pembalakan dan setiap praktik ketidakadilan pada kelompok-kelompok minoritas. (ix) 

Ia fiksi karena tokoh-tokohnya dan plot ceritanya mungkin hanya rekaan semata. Ia nonfiksi karena problem, latar kesejarahan dan tragedi yang dipotret di dalamnya benar-benar terjadi di dunia nyata. (x) 

Keserakahan pihak-pihak yang diperbudak perutnya sendiri. (xiii) 

Yang lebih penting dan krusial sejatinya adalah keretakan mentalitas dan konstruksi imajinatif yang berujung pada pembelahan identitas, bahasa sampai kebudayaan. (xvii) 

Kata Arundhati, Orang-orang Maois tampaknya tidak terjebak dalam politik teritori semacam itu. Sebagai bagian dari hutan, mereka punya petanya sendiri. Peta itu terukir secara permanen dalam benak dan memori mereka. (xviii) 

Yang tidak boleh hilang dalam proses perjuangan adalah bahwa nyawa manusia tetap prioritas dan berada di atas segala-galanya. (xx) 

Bukan hanya mengalihbahasakan, tapi mendekatkan problem yang dimiliki Arundhati, menafsir ulang dan menyuguhkannya seakan-akan problem itu juga problem kita hari ini. Hilmy Firdausy. (xxi) 

Arundhati pada Februari 2010, diam-diam mengunjungi kamp terlarang di tengah Hutan Dandakaranya, India. Di sana ada masyarakat yang mengangkat senjata dari perampok dan eksploiter yang didukung negara. Ia hidup bersama gerilyawan, ini buku etnografis yang penuh darah, senjata, traktor, truk besar, dari kaum yang dipinggitkan dan diusir dari tanah sendiri. (hlm. xxv) 

Ada banyak cara untuk menggambarkan Dantewara. Ia adalah oksimoron. Sebuah kota perbatasan yang tepat berada di jantung India. Ia adalah pusat gelanggang peperangan. Luar dalam, Dantewara adalah kota yang serba terbalik. (3) 

Antagonisme di dalam hutan memang berbeda dan tidak setara hampir dalam segala hal. Di satu sisi pasukan paramiliter, di sisi lain masyarakat sipil yang terinspirasi gerakan Maois (Naxatile)... Pemberontakan telah menyebar melalui hutan-hutan kaya mineral di Chhattisgarh, Jharkhand, Orissa, dan Bengal Barat. Tanah air jutaaan masyarakat adat India, sekaligus surga yang menggiurkan bagi kaum korporat. (5) 

Pemilu palsu, parlemen sebagai kandang babi, dan secara terbuka ingin menggulingkan pemerintahan India. (6)

Pemerintah menggunakan dalih kemiskinan sebagai alat untuk melawan masyarakat adat. (7) 

Setiap kali pemerintah berbicara soal kesejahteraan masyarakat adat, saat itulah sebenarnya waktu yang tepat untuk merasa khawatir dan was-was.... Pemerintah negara bagian telah menandatangani ratusan MoU bernilai milyaran dollar untuk proyek industri besi, perusahaan bijih besi, pembangkit listrik, kilang minyak, bendungan, dan beberapa tambang. (8) 

Keywords: Sandwich Theory, PWG (Peoples War Group) faksi dari Communist Party of India), cordon and search, Salwa Judum, Dandakaranya, Charu Mazumdar, Kamerad Niti, Kamerad Vinod, 

Bahasa genosida dilumrahkan dan secara perlahan masuk ke dalam kosakata bahasa kita sehari-hari... Dana CSR menutupi ekonomi kotor yang menopang sektor pertambangan di India.(12) 

Keberadaan rumah sakit kanker di satu tempat menunjukkan keberadaan bauksit dengan gunung yang sudah rata di tempat yang lain. (13) 

Operasi Salwa Judum, kelompok vigilant yang ditakuti dan disponsori pemerintah serta bertanggung jawab atas praktik pemerkosaan, pembunuhan, pembakaran desa-desa, dipimpin oleh Mahendra Karma, anggota Kongres MLA. (14) 

Permasalahan dari masyarakat adat ini adalah mereka tampaknya tidak mengerti soal keserakahan. (16) 

Mereka adalah Peoples Liberation Guerilla Army (PLGA). Untuk merekalah detektor suhu dan senjata pengintai laser disiapkan. Dan untuk mereka juga Jungle Walfare Training School diadakan. (29) 

Tidak ada yang disia-siakan dalam perjalanan menuju revolusi. (33) 

Membangkitkan kebencian diri. 

Operasi pembersihan wilayah yang ditujukan untuk memindahkan orang-orang dari desanya ke kamp-kamp pinggir jalan, tempat mereka diawasi dan dikendalikan. Dalam istilah militer, hal itu disebut sebagai strategi hamleting. (55) 

Gadis-gadis (atau anak-anak) tetap tinggal di dalamnya sebagai "perisai" manusia. (59) 

Salwa Judum sejatinya adalah operasi gabungan antara Pemerintah Negara Bagian Chhattisgarh dan Partai Kongres yang berkuasa di pusat. Maka ia tidak bisa dibiarkan gagal... Terbagi ke dalam CAF, CRPF, BSF, ITBP, CISF... Kebijakannya penuh kemesraan, winning hearts and minds...(61) 

Tata Steel dan Essar Steel adalah pemodal utama yang berada di balik Salwa Judum. (62) 

50 orang dari masyarakat adat disewa. Media merilis berita-berita bohong agar iklan masuk dan laku. 

Sedangkan iklan-iklan di yang berserakan di televisi, yang telah mencuci otak anak-anak kecil bahkan sebelum mereka mampu berpikir, tidak dilihat sebagai proses indoktrinasi. (67) 

Keyakinan, harapan, dan cinta mereka untuk partai. Aku menemukan letupan itu berkali-kali dalam wujudnya yang paling dalam dan bentuknya yang paling personal. (70) 

Dalam hal konsumsi, ia lebih Gandhian daripada Gandhian-Gandhian lainnya. Ia juga meningalkan lebih sedikit jejak karbon dibanding kelompok evangelis pejuang climate change lainnya. (73) 

Dalam peperangan ini, hanya orang mati yang namanya aman untuk dipakai. (79) 

Sebuah majalah seperti Frontline juga mengatakan kalau kami telah membunuh 18 masyarakat adat yang tidak bersalah. Bahkan K. Balagopal, seorang aktivis hak asasi manusia yang biasanya selalu berpijak pada fakta-fakta juga mengatakan hal yang sama... Balagopal mengakui kesalahannya...(89) 

Semakin banyak yang mereka bunuh, semakin banyak pula penghargaan yang akan mereka peroleh. Mereka dijuluki "Bravehearts", " Encounter Spesialist". (90) 

Dengan seluruh hal yang terjadi di sini, sungguh sangat disayangkan, bahwa satu-satunya yang bisa dilihat dari dunia luar hanyalah aspek ketakutan serta ideologi partai yang keras dari sebuah kelompok yang lahir dari masa lalu yang problematik. (99) 

Dia memang gila kerja. 

Jika ini bukan "peperangan jangka panjang," lalu apa?. . . "Saya sedang memikirkan para jurnalis yang tahun lalu datang ke Perayaan Bhumkal. Mereka datang satu dua hari. Salah seorang berpose dengan senjata AK saya. Kemudian mereka pulang dan meyebut kami sebagai mesin pembunuh atau sejenisnya." (103) 

Para komunis muda mengambil dan membawa klip-klip catatan untuk bahan latihan membaca. Mereka berkeliling di sekitar kamp sambil membaca artikel-artikel anti-Maois dengan lantang seperti penyiar radio. (109) 

Tidak ada klinik di hutan ini selain satu atau dua klinik di Gadchiroli. Tidak ada dokter. Tidak ada obat-obatan. (110) 

Naxalvad berarti keluarga kami. Saat kami mendengar sebuah serangan, itu sama saja berarti keluarga kami telah disakiti... Mao adalah seorang pemimpin, kami bekerja untuk visinya. (116) 

Di pasar.... Para wanitanya diawasi ketat. Jika mereka berbelanja terlalu banyak, polisi akan menuduhnya membeli untuk Naxal. Para kimiawan memberikan instruksi untuk tidak memperkenankan orang memberi obat-obatan kecuali dalam jumlah yang sangat kecil. Sembako murah dari Public Distribution System (PDS) disimpan di dalam atau dekat kantor polisi sehingga kebanyakan orang sulit membelinya. (119) 

Lagi-lagi, sebuah kamar premium di hotel berbintang seribu. Aku sakit. Hujan mulai turun. (121) 

Di satu malam, orang-orang ber kerumunan di sekitar titik cahaya seperti ngengat. Itu adalah komputer kecil Kamerad Sukhdev. (123) 

Hal itu adalah lampu pengingat, bahwa betapa mudahnya disiplin perjuangan bersenjata larut dalam sebuah tindakan "lumpen" kekerasan yang dididiskriminalisasi, atau larut dalam sebuah perang identitas bodoh di antara kasta-kasta, komunitas dan kelompok agama. Dengan melembagakan ketidakadilan dengan cara-cara tersebut, India sebenarnya telah mengubah dirinya menjadi sebuah kotak yang mudah terbakar oleh kerusuhan besar-besaran. (125)

Judul: Bersama Para Kamerad | Penulis: Arundhati Roy | Penerjemah: Hilmy Firdausy | Ceakan: Pertama, Maret 2022 | Penerbit: GDN, Tangerang Selatan | Jumlah halaman: xxiv + 138

Tidak ada komentar:

Posting Komentar