Senin, 02 Maret 2026

Catatan Buku "The Lost Library" (Misteri Perpustakaan yang Hilang) karya Rebecca Stead dan Wendy Mass

Perpustakaan gratis Martinville. Perpustakaan di antara balai kota dan rumah sejarah. Ada kubah dengan pintu warna biru yang megah. Aku membaca buku ini dengan hitungan cukup cepat, tidak lebih dari tiga hari kupikir dengan berbagai aktivitas kerja, ishoma, dlsb. Bahasanya cukup mudah dipahami, meskipun sense-nya tetap mirip novel terjemahan yang kerasanya seperti ada jarak yang gak kelihatan ketika itu pindah ke bahasa Indonesia. 

Membaca ini cukup menyenangkan, karena aku membayangkan diriku jadi salah satu karakter di dalamnya agar lebih ada sense terlibat, wkwk. Ya, aku merasa memang di usiaku yang sekarang, kita jadi lebih wise memerankan karakter yang mana. Bayangannya cukup jelas terkait tokoh-tokoh di buku ini. Ada semacam metode menggantung tiap bab, untuk menarik pembaca ke bab selanjutnya. Karena ditulis oleh Rebecca Stead dan Wendy Mass, dua orang yang bergantian, tiap babnya dinarasikan oleh masing-masing POV yang berbeda. Kalau manusia dewasa, dia dari sudut pandang kesatu. Selebihnya, lebih ke POV orang ketiga.

Premis buku ini sebenarnya sederhana: Ada anak kelas V SD yang penasaran dengan misteri perpustakaan gratis bernama Martinville yang pernah terbakar 20 tahun lalu dan menimbulkan korban. Perpustakaan ini dijaga oleh kucing comel bernama Mortimer, semacam kucing oranye gitu kalau di kita. Si kucing punya adik bernama Petunia yang jadi korban kebakaran. Perpustakaan ini juga dirawat oleh Al, singkatan dari Assistant Library. Dia jago memasak, dan sering membuatkan masakan untuk pimpinan perpustakaan bernama Ms. Scoggin, yang punya kekasih bernama Mr. Brock. Saat kebakaran tiba, Ms. Scoggin dan Mr. Brock menjadi korban kebakaran. 

Karakter Al unik. Dia gak punya orang tua, namun diketahui passion terbesar dia ada di perpustakaan. Dia pikir dia udah mati karena selalu mengeluhkan dirinya gak bisa terbang atau menghilang layaknya hantu. Al gak bisa seperti Ms. Scoggin dan Mr. Brock, sampai akhirnya di akhir-akhir buku dia menyadari kalau dirinya terjebak terlalu lama di Martiville, sampai 20 tahun pascakebakaran.

Tak dinyana, korban itu melibatkan ayah Evan si Mr. McClelland, yang punya pseudoname HG Higgins. Si ayah ini cukup unik pekerjaannya, jadi dia memilih jadi penulis yang "gak pengen terkenal", karena menjadi terkenal itu merepotkan. Dia juga gak mau ada wawancara, ceramah buku, penandatanganan massal, dlsb. Cukup hening dengan menjadi penulis "underground". Cara ini juga cukup ampuh agar tetap fokus. Kerjanya di ruang bawah tanah. Si ayah juga punya kebiasaan aneh suka nggusak tikus yang dianggap mengganggu ke tempat yang lebih layak. Dia pecinta tikus, itu kenapa dia tak ingin menyakiti tikus dan tak ingin melihat tikus mati dibunuh.

Pas kebakaran itu, ayah Evan jadi anak magang yang kesepian dan gak punya teman. Kebetulan dia juga ada di ruang bawah tanah untuk nata buku-buku yang habis dibaca. Ayah Evan ingin ngasi tahu ke Evan terkait dirinya yang masih merasakan trauma saat Al menolongnya keluar dari asap, kemudian media juga seolah menyalahkannya. Tapi karena ayah Evan di bawah umur, dia gak kena hubungan. Ayah Evan selalu menghindar ketika ditanya soal kebakaran. Namun, Evan dengan bukti-bukti buku terkait cara menulis novel misterius, hingga buku personal yang sampulnya sobek-sobek karena dibaca berulang kali dengan foto Polaroid di dalamnya, membuat Evan menjadi sosok Sherlock Holmes baru. 

Evan menguak misteri itu dengan kawannya bernama Rafe. Karakter Rafe ini sebenarnya pemberani dan rebel, karena ortunya sangat protektif, gak boleh ini itu. Bahkan untuk menyeberang pun, perlu temannya. Dia dan ortunya bikin kesepakatan: setelah di SMP, seluruh aturan yang mengekang akan dibebaskan. Sehingga si Rafe sangat menanti masa-masa "pembebasan" itu. Dan saat itu tiba, Evan mengajak Rafe untuk menguak misteri kebakaran Martiville dengan menaiki sebuah rumah pohon tempat foto Polaroid diambil. Foto ini dia temukan di dalam buku yang ada di Martinville. Setelah penuh perjuangan naik rumah pohon yang dianggap angker itu, ketahuan kalau foto itu adalah foto gurunya, Mr. O'Neal, wkwk, yang tak lain adalah teman ayah Evan di masa lalu. 

Kadang Evan merasa ayahnya, meskipun lahir di area Ville, susah buat sosialisasi dengan lingkungannya sendiri. Sementara ayah Rafe yang pendatang, sudah tinggal 10 tahun, malah dikenal oleh siapa saja. Ini cukup kena di aku sih, haha. Terus juga, si Rafe ini bilang dan yakin, keyakinannya ini ditunjukkan dengan bahasa yang bagiku cukup memukau, semisal, bahkan untuk sampai seratus kematian sekalipun rasa-rasanya ayah Evan gak mungkin jadi pelaku yang membakar perpustakaan. 

Penyebab kebakaran pun aneh. Polisi juga tidak begitu menemukan kepastiannya. Sampai akhirnya, berkat kucing dan para tikus keluarga F yang beratraksi, mereka seolah mau bilang, kalau sebenarnya akibat kebakaran itu karena para tikus yang gak sengaja semacam bawa batang korek api, terus ketika gerak, itu bagian mesiunya tergores ke benda-benda di sekitarnya, dan apesnya dekat dengan buku, sehingga, terbakar deh.  

Kelemahannya, aku ngrasa ketidaksadaran Al itu terlalu dibuat-buat, kek hello? Emang bisa orang halusinasi selama itu? Tinggal sendiri dengan dua hantu yang akhirnya lepas karena mau nonton bioskop? Kan aneh. Terus kadang juga tempo-temponya cukup lambat, dan ada bagian-bagian bab tertentu yang kalau itu dihapus pun gak masalah sih. Misal yang soal kakak kelas Evan yang kakinya jadi agak pincang setelah naik dari rumah pohon. Karena pas baca, karakter ini kek muncul tiba-tiba.

Terakhir, kalau butuh bacaan ringan dan mayan imajinatif. Kamu bisa baca buku ini. Karakter-karakternya juga cukup warm. Banyak kutipan yang menarik juga.  

KUTIPAN:

Awan sirus selalu berada di atas, tidak pernah di bawah. Bagiku, awan itu terlihat seperti bulu, rasanya seperti cokelat panas, dan baunya seperti semprotan serangga. Awan sirus bisa bergerak dengan cepat. (24) 

Mortimer, Evan, Goldie/Sunshine, Al (Assistant Library), Mr O'Neal, Rafe, Edward McClelland, HG Higgins, Ms Scoggin, Mr Brock....

Suara ketukan kibor melayang naik dari tangga. 

Asisten perpustakaan di Perpustakaan Martinville, 

Mr Block paling suka menemukan keberanian dalam buku. (49) 

Ia sudah berkeringat dan telah menghemat waktu tujuh menit. (59) 

Menjadi Pembaca Hebat tidak ada hubungannya dengan membaca buku-buku rumit, atau membaca buku-buku tebal, atau bahkan membaca banyak buku. Menjadi Pembaca Hebat berarti merasakan sesuatu tentang buku. (69) 

Aku tidak kecewa ketika orang lain tidak menyukai buku-buku yang kusukai. (71) 

Pagi ini aku bangun dan bertekad menjadikan hari ini hari yang baik. (90) 

Namun, bukankah "orang tua" adalah sumber kehidupan? Jika hidup adalah garis, yang mengarah ke suatu tempat, bukanlah orangtua adalah titik awalnya? (92) 

Buku tidak akan habis. Buku mendapatkan tenaga dari pembancanya, bukan? Mereka bisa dibaca lagi dan lagi. (94) 

Bagiku, perpustakaan itu selalu terlihat seperti raksasa kotor yang tangannya diikat ke belakang. (95) 

Perluasan besar kedua dari perpustakaan kecil gratis Martinville berbentuk gerobak merah tua yang ditarik dua siswa kelas tiga: Jessica dan Winnie D. (96) 

Menurutmu, apakah ada yang namanya dokter hantu? Bagaimana pula aku bisa memanggilnya? (98) 

Mortimer menyukai Winnie D. Tidak masalah jika anak itu lebih menyukai anjing dan kuda daripada kucing. Mortimer menyukai perpustakaannya. Ia merawatnya dengan baik. (100) 

Setiap kali membaca buku baru, dia membangun ruangan baru di dalam pikirannya. "Saat ini aku memiliki banyak sekali ruangan di sini," katanya, sambil mengetuk-ngetuk bagian di atas telinga kiri, "tetapi selalu ada tempat untuk satu buku lagi." Setelah itu, setiap kali menatap mata cokelatnya yang bersinar, aku membayangkan rumah yang sangat besar dan indah di balik mata tersebut... Aku membangun ruangan demi ruangan dalam pikiranku... Rumah yang kubangun sendiri dengan membaca banyak buku, dengan bantuan Ms. Scoggin, dan bantuan baterai-baterai senter, yang ternyata, seperti yang sudah dijelaskan manajer panti asuhan, harganya cukup mahal. (102) 

Bayangkan ada pembaca yang sedang mencari buku dan hanya menemukan ruang kosong di antara buku lain, seperti gigi ompong akibat dipukul perundung. (125) 

Mereka terus membayangkan setiap hal buruk yang mungkin terjadi. Aturan membuat mereka merasa jauh lebih baik. (135) 

Rafe tidak butuh orang lain mengetahui hal itu. (136) 

Judul: The Lost Library (Misteri Perpustakaan yang Hilang) | Penulis: Rebecca Stead dan Wendy Mass | Editor: Vania Adinda | Penerjemah: Reita Ariyanti | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta |  Cetakan: Kedelapan, Oktober 2025 | Jumlah halaman dan dimensi: 240 hlm, 20 cm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar