Kamis, 26 Maret 2026

Catatan Buku "Asal Usul Kebudayaan" karya Geger Riyanto

PROLOG:

Buku ini menarik karena penulis tidak menerima begitu saja hal-hal yang rasanya sudah umum, seperti ucapan-ucapan abstrak untuk membangkitkan motivasi, tapi juga membedahkan kenapa itu memungkinkan. Geger dalam buku ini mendedah artikulasi-artikulasi kebudayaan yang dilakukan oleh para advokat-advokat budaya di ruang publik. Kepeduliannya terhadap keselarasan antara teks dan konteks menjadi bagian yang bagiku sangat menarik untuk ditelusuri. Jika galibnya kebudayaan yang memiliki pusparagam definisi itu diartikan salah satunya sebagai hasil dari cipta, karsa, dan karya suatu masyarakat tertentu; di buku ini Geger menggugat antara pertentangan yang konkret dan kiasan dalam ranah kebudayaan.

ALUR: 

Barangkali, ini jadi salah satu review yang susah kulakukan karena sifatnya yang teoritis. Namun, sebisa mungkin, aku akan membuatnya dengan lebih sederhana dengan pikiranku sendiri:

Secara umum, premis buku ini adalah bagaimana gagasan dan praktik kebudayaan yang ada di Indonesia ini lebih bercorak pada kiasan, alih-alih pada bukti konkret, empiris, dan ilmiah. Namun, kiasan inilah yang justru menggerakkan kebudayaan di Indonesia karena sifatnya yang menghasrati jiwa-jiwa masyarakat Indonesia yang sering terpukau dengan kata-kata abstrak. Dalam pola yang seperti ini, budaya tidak ditentukan oleh seberapa konkret dia hadir, tapi seberapa mengambang dia hadir. Mengambang yang disimbolkan dengan kiasan ini penting untuk menstimulasi, memprovokasi, dan menggerakkan aktor-aktor budaya yang terlibat di dalamnya. 

Digarap dari POV antropologi, sepanjang membaca buku, aku seperti diajak berdialog secara intens, bab per babnya. Meskipun buku ini tergolong berketebalan sedang, aku membacanya tak kalah berat dengan buku-buku yang berhalaman tebal.

Buku ini terdiri dari enam bab. Pada Bab 1 "Problem Konseptualisasi Penalaran", di awal-awal buku, Mas Geger bercerita terkait sang budayawan dan sang akademisi. Keduanya sama-sama menggunakan kata "kebudayaan" untuk membangun bangsa, khususnya dari segi maritim dan pembangunan. Coba bayangkan, ketika ada seseorang mengatakan, "Kita hidup dalam kekangan adab daratan," apa yang ada di pikiranmu? Hal serupa inilah yang disampaikan sang budayawan. Di awal, aku tak begitu ngeh siapa sang budayawan yang dimaksud, tapi di akhir-akhir buku aku menemukan nama di balik sosok itu, yang berinisial RPD. 

Geger kemudian juga menyinggung penalaran primitif. Sejauh yang bisa kutangkap, dalam dunia mistik, kita sering kesusahan untuk menentukan antara apa yang ada dan apa yang kita yakini. Masalah ontologis dalam dunia mistik ini jadi salah satu misteri yang tak terpecahkan. Sayangnya, advokasi yang sering muncul di publik adalah menempatkan yang mistik ini sebagai suatu hal yang lebih rendah, hina, dan tentu, primitif dan pralogis. Kita juga punya kecenderungan untuk meninggikan yang rasional dan mengeksklusi yang mistik. Cara pandang ini tentu tak lepas dari peran rasionalisasi para ilmuwan Barat. 

Geger mendedah fenomena ini dengan menyebut beberapa penelitian relevan seperti penelitian E. B. Tylor, George Frazer, Lucien Lévy-Bruhl, hingga Evans-Pritchard; secara umum (dan vulgar) menganggap produk mistik itu sesuatu yang salah, galat, tentu sekali lagi, "primitif". Standar Barat ini dikritik oleh Geger, karena menghilangkan pusparagam kebudayaan yang sangat dijaga oleh antropologi. Dan parahnya, advokasi keunggulan nalar Barat ini masih sering kita reproduksi hingga hari ini.

Lalu, analisis berprogres pada penalaran kiasan dan konteks sosialnya. Geger mengutip penelitian Clifford Geertz bejrudul Witchcraft, Oracles and Magic Among Azande, yang mencoba untuk memoderasi universalisme akal sehat Barat. Kondisi mistik yang dialami masyarakat Azande bukan objek yang bebas dan berada di luar pikiran, tapi punya keterhubungan dengan benda-benda dalam tatanan klasifikasi yang bekerja--pion gagasan ini diambil dari Wittgenstein. 

Teori linguistik Wittgenstein sangat berfaedah untuk menguliti pengetahuan saintifik yang begitu dipuja oleh Barat dalam rangka meninggikan diri mereka sendiri, kemudian membodohkan golongan yang percaya pada mitos dan tahayul. Baginya: "Keyakinan, ritual, dan praktik-praktik lain yang dianggap menggambarkan mentalitas pralogis tak akan berjalan bila ia tak dianggap sesuatu yang meyakinkan dan nyata di antara para pelakunya." (13) Penekanan Geger yakni, penalaran berwatak kiasan ini seolah dari waktu ke waktu dianggap inferior, irasional, dibanding yang representasional. 

Secara alur pemikiran, Geger menjelaskan bahwa penalaran Indonesia dengan produk kiasan dan logika taut menautkan ini bisa mengonstitusi kehidupan sosial. Berbasis pada pemikiran Émile Durkheim bahwa dalam ranah sosial, gagasan melampaui ranah-ranah lainnya yang menciptakan realitas. Di sini, kita tak bisa amenyatakan bahwa produk kiasan para budayawan kita itu tidak nyata, tapi dialah yang memungkinkan kehidupan sosial bergulir.

Dalam subbab kajian-kajian terdahulu tentang kiasan, Geger banyak sekali mengutip berbagai penelitian terkait temanya ini, dari Durkheim, Mauss, Radcliffe-Brown, Malinowski, Alfred Gell, CS Peirce, Graeber, Lévi-Strauss, hingga penelitian dari Indonesia milik Tony Rudyansjah. Tujuannya untuk menjelaskan bagaimana kiasan-kiasan ini bekerja secara nyata dalam dunia kita hari ini. Bagaimana hubungan antara kekuasaan dan dinamika sosial. Dia mengungkap bahwa diskursus kebudayaan Indonesia berjalan atas prinsip kiasan, pemajasan, dan analogi yang penampakannya didukung oleh dimensi-dimensi yang praktis, afektif, dan sensual.

Pada Bab 2 "Artikulasi-Artikulasi Diskursus Kebudayaan Indonesia", di sini Geger mendedah keberagaman penggunaan konsep kebudayaan Indonesia. Ia menyinggung juga tentang kebudayaan pembangunan, sebagai tindak lanjut dari pembahasan di bab 1. Ia mengutip bagaimana Kepala Bapenas kala itu, Andrinof Chaniago, saat dies natalis FISIP UI ke-47 memberi orasi "Pengarusutamaan Bidang Sosial dan Budaya dalam Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia". Geger mengkritik bagaimana lema "budaya" masih menjadi dagangan yang laris untuk diberikan kepada audiens di tataran kelasnya, meskipun gagasan itu tidak baru. Bahkan pejabat-pejabat sebelumnya seperti SBY, juga lebih dulu menggunakannya.

Pada subbab "Sesudah Makan, Kebudayaan", menyinggung advokat budaya lainnya seperti Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III, yang terkenal dengan kebijakan NKK/BKK. Daoed menekankan jika menjadi manusia berbudaya lebih penting dibandingkan menjadi manusia berpendidikan, katanya, "Sesudah roti, kebutuhan rakyat yang pertama adalah pendidikan." 

Dari retorika Daoed dan Andrinof tersebut, sebenarnya tidak ada gagasan baru. Hal yang ingin ditekankan, dialektika kita berubah secara statis, dan masih tak bergeming antara Barat dan Timur. Diskurus ini termasuk yang dilakukan oleh Sutan Takdir Alisjahbana (STA), Sanusi Pane, dan Purbatjaraka. STA misalnya dalam polemik kebudayaannya, menginginkan adanya kebudayaan baru dengan meninggalkan kebudayaan lama, dan nasihatnya, jangan mabuk kebudayaan kuno. STA meminta kita untuk memilih mana yang baik, kemudian memakainya agar selamat.

Pada Bab 3 "Akar dan Perkembangan Diskursus Kebudayaan", Geger mengidentifikasi dan melacak asal-usul konotasi yang menganyam diskursus kebudayaan kita. Bab ini aku rasakan seperti suatu studi historiografi dan jadi bab jantung judul bulu terkait asal-usul kebudayaan yang Geger maksudkan. Lebih khusus lagi, kita akan diajak untuk mengenali aturan dan batasan dari wacana kebudayaan Indonesia. Di subbab pertama, Geger menelisik lebih jauh bagaimana kebudayaan menjadi oposisi terhadap alam. Dia menelisik berbagai literatur klasik dari zaman Plato, Hobbes, Thucydides, John Adams, Sahlins, dan Whitehead. Intinya, dualisme antara phusis (alam) dan nomos (manusia) ini berlangsung secara kontradiktif hingga hari ini, namun tidak bisa terpisahkan satu sama lain. 

Geger kemudian mendedah bab ini lagi ke dalam empat subbab utama: 

1. Kebudayaan sebagai agensi, daya kreatif: Pembahasan ini bagiku pribadi menarik, sebab merekatkan kebudayaan dengan kreativitas, vitalitas, dan kemanusiaan. Salah satu contoh yang menarik adalah bagaimana Michel Foucault secara jenius memberikan interpretasi jitu terhadap lukisan berjudul Las Meninas karya Diego Velázquez. Lukisan ini menggambarkan keluarga kerajaan Philip V di ruang megah Royal Alcazar, Madrid. Yang unik dari lukisan ini adalah, ia menandai Eropa sedang berada pada era epistemik baru, "ketika penghadiran perlahan mulai dipahami dapat dilakukan tanpa melalui objek yang dihadirkan itu sendiri." Foucault juga mencontohkan fenomena lain, Don Kisot, ketika Spanyol saat itu masih menjunjung tinggi norma-norma ksatriaan; Don Kisot dianggap tak waras oleh zamannya dengan cara tidak merespons pikirannya, dan berpetualang dalam pikirannya sendiri.

Subbab ini juga mengulas ranah yang bagiku cukup personal dalam konsep yang diusung oleh Kant dalam slogannya "sapere aude", beranilah menggunakan akal budimu sendiri. Kalimat yang disebut sebagai moto pencerahan ini membangkitkan seseorang pada ketidakberdayaan akalnya sendiri. Secara kebudayaan, ia juga memberikan implikasi yang memaksa manusia untuk membelenggu sifat kebinatangannya, lalu membalut diri dengan norma, kesantunan, dan selera estetik yang unggul.

2. Kebudayaan sebagai jati diri kolektif: Di subbab ini, Geger menelisik bagaimana kebudayaan juga merupakan cermin dari jati diri suatu masyarakat secara kolektif. Mengutip Raymond Williams semisal memahami Kebudayaan sebagai "produk dan praktik intelektual dan khususnya kegiatan artistik", seperti musik, sastra, patung, teater, film, dan karya berkualitas tinggi. Namun, di dalam konteks Indonesia sendiri, pencatatan bukan menjadi hal natural yang digeluti masyarakat sehingga kesulitan untuk menganalisis "kebudayaan" sendiri. Berbeda dengan Barat, yang sejak filsuf Yunani sudah sadar pentingnya mencatat, sehingga keholistikan lebih tinggi. Ini bagiku juga jadi tantangan/hambatan bagi masyarakat Timur yang masih lekat sampai hari ini, ketika kita ingin mengkaji hal-hal yang dianggap non-empiris. Tapi setelah kurefleksikan, faktor ini cukup inheren juga, jadi masih bisa diperdebatkan.

3. Kebudayaan dan watak bangsa: Geger di bab ini menegaskan bahwa diskursus kebudayaan Indonesia dilakukan dengan jalan menaut-nautkan alih-alih pembuktian, yang mengarah pada watak bangsa, karena memicu kepribadian asali jutaan orang. Apa yang dikatakan antropolog jadi kurang relevan dengan para ideolog yang tak ambil pusing dengan kontradiksi-kontradiksi pemikirannya sendiri. Memakai eksplorasi konsep yang dirintis oleh Levi-Strauss, Geger memakai istilah "penanda mengambang" yang tidak merujuk pada satu objek tertentu. Namun, penanda mengambang ini tidak langgeng ketika diuji secara empiris, tapi dia langgeng melalui kiasan dan konotasi. 

Di sini, Geger mengkritik bagaimana konsepsi kebudayaan tidak selalu memberikan kejernihan analitik, karena hubungan kolonial di zaman dulu. Masyarakat Eropa yang secara inheren dianggap lebih tinggi, maju, dan menduduki jabatan tinggi; mempertegas kebudayaannya yang kontras dengan budaya pribumi yang memiliki watak berkebalikan, dengan stereotip dihuni para kuli, petani, buruh kebun, dan meskipun priyayi masih dikatakan kolot. Ketimpangan ekonomi berlaku di sini, termasuk situasi yang terjadi pada sosok seperti RA Kartini.

Argumentasi terhadap kecenderungan ini bisa dilihat dalam karya JH Boeke terkait dualisme ekonomi dan JS Furnivall tentang masyarakat majemuk. Boeke pernah menyebut, bangsa Eropa dengan ekonomi kapitalisnya telah mengoyak-oyak kehidupan pribumi, menggerus kolektivitas dengan tatanan yang berorientasi pada keuntungan pribadi. Kebudayaan kemudian dimanfaatkan untuk melabeli dan menasionalisasi kemajuan, pandangan ini banyak ditemukan di berbagai pemikiranpemikiran, terutama para orientalis. Termasuk ini juga yang digemakan para cerdik cendekia kita seperti STA, hingga Kartini pada mimpi menjadi gadis abad baru/gadis modern. 

Kartini kalau kamu amat-amati, mana ada dia jadi aktivis yang mengorganisir gerakan formal yang besar. Dia lebih dikenal karena korespondensi surat-suratnya, sekolah perempuan di lingkungan pendopo kabupaten yang terbatas, dan seperti halnya ibu-ibu PKK, Dharma Wanita, dan Dekranasda, promosi hasil ukiran pengrajin kayu di Jepara untuk orang-orang Eropa—dan itu bisa dilabeli pemberdayaan ekonomi. Yang penting dari Kartini, karena dia ada di "jantung terdalam masyarakat feodal", yang jauh dari pencerahan, tapi punya mimpi besar agar perempuan bangsanya terdidik, bebas, dan mandiri; dia lalu dianggap sebagai tokoh emansipasi perempuan. 

Jadi buat kamu terutama yang sekarang ada di kelas menengah ke atas, dan kalian merasa jauh dari pencerahan dengan kondisi kebijakan yang masih dianggap porak-poranda ini, kalian punya kesempatan jadi pembaharu di masa berbeda seperti halnya Kartini. Kalau kalian progresif, posisi kelasmu sekarang jangan disalahkan dan dimusuhi, jadikan privilese itu untuk menguliti kebudayaan kalian sendiri, sehingga ada emansipasi untuk pihak-pihak lain yang secara sistem dibunuh karakternya untuk menjadi sepadan.

Namun, kita semestinya cukup tahu, Kartini tidak akan memperoleh reputasi sebagai pahlawan tanpa narasi tragis seseorang yang sadar dengan ketertindasan yang malangnya tak berdaya lantaran terlahir dalam palungan kebudayaan masyarakat yang tertindas. (72) 
Diskursus kebudayaan yang seolah bersifat inheren dan statis terhadap lingkungannya ini terus diulang-ulang dalam berbagai macam bentuk penulisan. 

4. Kebudayaan dan kegelisahan pascakolonial: Dari masa kolonial, analisis kemudian bergerak pada masa pascakolonial. Di masa kolonial, contoh gamblang yang diberikan untuk subbab ini adalah lukisan Raden Saleh yang berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan ini merupakan tanggapan Raden Saleh yang tidak menerima lukisan Nicolas Pieneman, seolah Diponegoro "pasrah" ditangkap pihak Belanda. Kontras dengan itu, Raden Saleh membuat lukisan Diponegoro yang tak terima dan melawan, termasuk semangat ini diikuti oleh para pendukung dan masyarakatnya. Lukisan ini menjadi ekspresi kebangsaan yang bagiku mahal di ranah budaya.

"Raden Saleh tak sekadar berniat menunjukkan Diponegoro dikhianati oleh Belanda sebagaimana tafsir yang dominan muncul mengikuti penulisan sejarah Orde Baru. Raden Saleh juga menunjukkan Diponegoro bukanlah semata pemberontak yang mengacaukan ketenangan tatanan dan tidak dihiraukan orang-orang Jawa sendiri sebagaimana yang dilukiskan Pieneman melainkan sosok bagi orang-orangnya yang terancam direnggut kedaulatannya oleh sebuah bangsa asing." (77)

Pada situasi pascakolonial, advokat budaya kita melakukan berbagai macam strategi untuk menggambarkan bahwa kebudayaan Indonesia ini sejajar dengan kebudayaan bangsa lain. Beberapa praktik ini dilakukan oleh Sjahrir dan Pramoedya lewat perjuangan dan karyanya. Strategi lainnya, dengan menciptakan kebudayaan sintesis yang melampaui masyarakat sendiri di masa lalu dengan bangsa lain yang dianggap lebih maju. Praktik ini sebagaimana dilakukan oleh Romo Mangun.

Di dalam buku "Burung-Burung Manyar", ini bagiku menarik, karena aku akan lebih berhati-hati sekali soal konsep dan pengertian. Misal konsep kebudayaan yang dianggap sebagai bawaan sebuah bangsa, yang ini terus direproduksi sampai di situasi kontemporer, bahkan pada jalur yang tak terduga: kritik sastra pascakolonial. Geger memberi contoh "Burung-Burung Manyar" (BBM) karya YB Mangunwijaya, setelah dia merenungkan baik-baik usai membacanya, ditemukan Romo Mangun terang-terangan menyimbolkan kebudayaan Indonesia berwatak kolektif, dan merepresentasikan budaya Barat dengan watak rasional, individual, dan benci terhadap feodal. Romo Mangun mengusung gagasan-gagasan yang tidak lelah dia usung: pasca-Indonesia. 

Maksud Geger, tokoh utama BBM, Teto, tak seharusnya setiap waktu bergelut dengan dilema dua bangsa dengan wataknya masing-masing. Romo Mangun gagal menanggalkan ambisi filosofisnya karena BBM menarasikan konsep kebudayaan yang ahistoris. Pengertian kebudayaan hari ini didesain untuk memastikan kelompok yang satu lebih unggul dibandingkan yang lain. Lalu para pejabat menerokanya secara latah dalam pidato dan kebijakan. Lalu dalih yang tak usang bahwa suatu budaya harus "dilindungi, dilestarikan, dan dibangun" terus bergulir, meskipun pihak bersangkutan kebingungan, tak ada keuntungan praktis jangka pendek yang diperoleh darinya.  

Pada Bab 4 "Terpanggil Oleh Kebudayaan", di bab ini Geger menyigi temanya pada pengamatan-pengamatan yang dilakukannya pada para advokat kebudayaan. Pertanyaan sederhana yang coba diajukan: bagaimana proses mereka menjadi ideolog dalam diskursus ini? Bagaimana situasi-situasi yang memungkinkan mereka menjadi seperti itu secara intelektual?

Antara pilihan "memilih atau dipilih kebudayaan", secara panjang lebar, Geger menelusuri rekam jejak beberapa sosok yang disebut budayawan atau yang menggeluti kebudayaan, yang terdiri dari: Radhar Panca Dahana dan Yudi Latief (dengan sedikit tambahan Nirwan Dewanto). Radhar Panca Dahana yang sering membubuhkan identitas sebagai budayawan. Juga Yudi Latief yang sering melibatkan kebudayaan untuk menganalisis persoalan-persoalan pelik. Termasuk juga Nirwan Dewanto dalam pidatonya di Kongres Kebudayaan pada 1991. 

Yudi Latief misal menulis buku "Intelegensia Muslim dan Kuasa" (2005), hasil dari disertasinya di ANU. 
Buku itu dianggap menaikkan popularitasnya di lingkungan yang terbatas, apalagi dia juga memiliki kedekatan dengan Nurcholish Madjid ketika mendirikan Universitas Paramadina. Yudi tentu senang dengan itu, apalagi New York Times saat Cak Nur meninggal, membuat obituari berjudul, "Nurcholish Madjid, 66, Advocate of Moderate Islam". Namun, trayektori Yudi berubah ketika menulis buku "Negara Paripurna", dari yang awalnya orang-orang respek padanya karena berhati-hati dalam mengajukan gagasan, kali itu mengajukan gagasan secara anakronistis, penuh apriori, dan pretensius dengan mengidealkan konsepsi masa silam. 

Berbeda dengan Radhar Panca Dahana, ia berawal dari arena kesenian. Sejak umur 10 tahun, dia telah menulis untuk Kompas dan menjadi wartawan di sana. Termasuk juga mengajar di Sosiologi UI, meneruskan di EHESS Paris (dan sempat berkorespondensi dengan Pierre Bourdieu dan Jacques Derrida), karenanya ia juga bekerja dengan standar akademik, memberikan pandangan miring terhadap gagasan yang tak disampaikan dengan keketatan yang memadai. Sepulang dari Paris, ia menderita sakit ginjal dan harus cuci darah seminggu tiga kali. Dalam tulisan-tulisan Radhar kemudian, lebih banyak mengangkat terkait dunia bahari dan peradaban maritim. 

Kesamaan antara Yudi Latief dan Radhar adalah gerak advokasinya dari mengajukan kritik menuju bentuk kebudayaan yang ideal. Mereka juga menggunakan "struktur terbayang" untuk mendefinisikan kebudayaan. Kata Geger, "Kita dapat secara metaforis, karenanya, mengatakan, mereka tidak memilih kebudayaan. Kebudayaanlah yang memilih mereka." Kebudayaan dengan jejaring konotasinya menempatkan mereka sebagai juru bicara. 

Progresi deskripsi beralih pada peralihan ganjil, sebagaimana yang dijelaskan di subbab sebelumnya, peralihan corak intelektual Yudi dan Radhar ini menggelikan. Namun, ada lagi yang lebih menggelikan untuk menggambarkan bagaimana konotasi, kiasan, dan otak-atik gatuk ini digunakan untuk membuat buku-buku yang bernada sensasional (dan berorientasi bisnis). Di antaranya, para ilmuwan yang bekerja di antara penanda mengambang ini seperti buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found karya Arysio Santos; Eden in the East karya Stephen OppenheimerPenjelajahan Bahari karya Robert Dick-Read; Majapahit Peradaban Maritim karya Irawan Djoko Nugroho; Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman karya KH Fahmi Basya; hingga Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB).

Buku-buku yang disebutkan ini dianggap ditulis dengan logika yang sama dengan memanfaatkan kuasa, dan seolah-olah untuk membentuk imajinasi jika bangsa kita lebih maju dan berharga. Hasrat bawah sadar yang dirindukan orang-orang Indonesia, meskipun materi pembuatannya bisa kita pertanyakan lagi secara akademis, ditulis oleh sejarawan amatir, atau diterbitkan di penerbit yang mengejar laba, dan secara referensi abal-abal kredibilitasnya.

Pada Bab 5 "Game of Nations", aku curiga bab ini terinspirasi dari serial drama fantasi "Game of Thrones", tentang perebutan kekuasaan politik yang kejam antarkeluarga bangsawan. Kemudian, di ranah yang lain kita bisa menggantinya dengan perebutan kekuasaan kebudayaan antarnegara di dunia—atau secara lebih khusus antaradvokat budaya di Indonesia. Geger dalam bab ini menunjukkan asosiasi penanda untuk menunjukkan betapa besarnya bangsa Indonesia ini. Termasuk juga oposisinya ketika bangsa ini direndahkan, akan ada perlawanan, seperti yang dilakukan oleh Ridwan Saidi dalam buku Profil Orang Betawi. Buku ini merupakan bentuk kontra terhadap buku yang ditulis Lance Castles yang menganggap orang Betawi ini golongan budak dari berbagai suku yang berdatangan.

Narasi-narasi yang seolah menggembongkan diri sendiri itu dibangun di atas topangan perebutan nilai. Sejauh ini, para advokat budaya Indonesia tidak terlalu mempermasalahkan bagaimana konseptualisasi mereka sendiri perihal kebudayaan yang menggambarkan realitas di luar pikiran. Mengutip Graeber, ada cara pandang antropologis yang anti-ontologis pada medan kultural tertentu. Representasi ini berlaku secara kolektif, yang memobilisasi diskursus kebudayaan Indonesia. Dengan cara pandang yang menganggap bangsa sendiri lebih unggul lewat kiasan, tenaga, kapasitas intelektual, dan sumber daya.

Geger kemudian menyinggung World Culture Forum, yang dianggap sebagai Davos-nya segi budaya. Forum ini oleh Kemendikbud dianggap sebagai ajang besar yang bisa memperkenalkan budaya Indonesia (dan Asia Tenggara) ke dunia, sekaligus untuk meningkatkan dunia pariwisata dengan jualan budaya yang dianggap Barat eksotik dan panoramik. Sebelum ajang itu, dilakukan forum World Conference on Culture, Education, and Science (WISDOM) yang digelar di UGM pada 8-11 November 2010. Forum itu dihadiri oleh berbagai macam tokoh budaya, dari Radhar Panca Dahana, HS Dillon, Rokhmin Dahuri, Taufik Ikram Jamil, Anhar Gongong, Aspar Paturusi, Achmad Chodjim, Sori Siregar, Wicaksono Adi, Warih Wisatsana, Dolorasa Sinaga, Hermawan Sulistyo. 

Seribu permasalahan, satu kiasan, satu pertandingan  Di mana intinya, bagaimana gagasan akan kiasan menjadi otoritas. Namun dari yang berbasis kiasan tersebut, ada pandangan berbeda dari Jean Couteau, budayawan asal Prancis yang mencintai Bali dan hidup dalam kultur Barat:

Menurutnya, kapitalisme harus dihadapi dengan instrumen alih-alih dengan mimpi kebudayaan yang tak punya hubungan dengan dunia riil. Bila menginginkan Indonesia maju, mereka menurutnya harus melihat situasi sosial secara materialistis. Orang Indonesia harus melihat sistem kapitalis menggerus tanah, hubungan sosial, menggerus sistem hukum, prosedur, norma dan lain sebagainya melalui analis yang riil. (163)  

Pada Bab 6 "Penutup: Kebenaran Dunia Sosial, Kebenaran Mengambang", Geger memberi penegasan, buku ini adalah menelaah logika sosial yang bekerja di balik penalaran yang lazim disebut berwatak kiasan dan acap dicemooh tidak bermanfaat, mendekatkan kita kepada kebenaran. Geger menjelaskan konsep ini lewat konsep Lévi-Strauss terkait penanda mengambang yang tak merujuk pada satu objek tertentu.  Menurutnya, dunia sosial yang tak (selalu) koheren .

Pengkaji kebudayaan yang ingin memperoleh gambaran proses penalaran yang ditelitinya, bila sebelumnya tidak melepaskan kategori-kategori kebudayaannya sendiri, akan kesulitan memperoleh gambaran yang dikatakan representatif. (176) 

Bagi sebagian orang pertanyaannya mungkin, "kebenaran tegak dari alasan sesepele itu?" Sesepele itu, memang... Bukan dari apa yang kita yakini berlaku, tapi dari apa yang berlaku. (182)  

EPILOG: 

Sebagai penutup--ini akan terbaca personal--dari pikiran dan argumentasi Mas Geger, aku jadi mikir mengagumi seseorang sampai segitunya, termasuk pikiran-pikirannya itu kok malah njijiki ya, wkwk. Karena dia sangat membongkar kebiasaan kita yang latah untuk kagum. Jadi, ya, biasa saja. Kita toh semua setara. Tapi yang sangat aku hormati (alih-alih aku ingin menulis kagumi) adalah kemampuannya melihat intinya inti. Pendeknya, dia tidak suka kebiasaan menghamba-hamba. Dari bukunya, lama-lama aku paham bagaimana pola, cara berpikir, dan cara bekerja dari Mas Geger. Contohnya seperti paragraf ini:

Meskipun berhadapan dengan perkara yang berbeda dan, untuk memperpanjang daftar perbedaannya, masing-masing dengan gaya menguraikan permasalahannya sendiri di mana satu merengkuh strategi bertutur kompleks dan tak menampik intensi menjadi filosofis dan yang lain bertutur gamblang dan cepat dicerna, baik Soedjatmoko maupun Andrinof sama-sama berangkat dari perspepsi tentang kebudayaan dan pembangunan yang masih dapat dikatakan simetris. (45)  

Kamu tahu, apa yang selalu kusuka dari Mas Geger sejak dulu? Dia jernih. Jadi berbagai upaya intelektual antropologiku kadang hanya usaha-usaha untuk mendekatkan diri pada cahayanya saja. Dia tak menjanjikan apa-apa. Dia realistis. Aduh, aku nangis. Salah satu lotere hidup yang aku syukuri adalah pernah mengenal Mas Geger. Jarang aku nangis baca buku teori. Hanya Mas Geger, Pak Masri, atau Mas Danto yang bisa. 

Jika nanti aku ditanya mengapa Antropologi? Karena Mas Geger Riyanto. Kalau dalam konteks HAM, motivasi aktivis Fatia Maulidiyanti karena Munir; aku karena Mas Geger. Dia tak hanya antropolog yang pintar, tapi juga rendah hati dan berani. Tulisan-tulisannya bernas, kritis, dan menggugah. Dia loyal pada dunia akademik. 

Terima kasih Mas Geger telah menulis buku penting ini. 

Judul: "Asal Usul Kebudayaan: Telaah Antropologi Penalaran terhadap Advokasi Intelektual Diskursus Kebudayaan Indonesia" | Penulis: Geger Riyanto | Penerbit: Beranda (Kelompok Intrans Publishing), Malang, Jatim | Cetakan: Pertama, Maret 2018 | Dimensi: 15,5 x 23 cm | Halaman: xiv + 192

KUTIPAN BUKU:

Budaya adalah konstruk-konstruk yang dibangun manusia sesuai dengan konteks lingkungan dan kepentingannya. (v) 

Manuskrip yang saya tulis ini merupakan karya antropologi kebenaran.... Sesutu hanya dapat dikatakan benar apabila ia bisa dibuktikan terlebih dahulu. (vi) 

Akan tetapi, dalam berbagai pengalaman saya meneliti praktik kebudayaan, nyaris setiap pemahaman yang dikotomis apalagi dikotomi bersangkutan memuaskan kita dengan melekatkan segala bentuk keburukkan kepada yang lain adalah konstruksi internal alih-alih empiris. (vii) 

Kita, artinya, tak pernah semodern yang dibayangkan kawula cerdik cendikia. Kita menghasrati fiksi yang menjadi panglima serta kebenaran kita... Bagaimana fiksi lebih efektif menjadi kebenaran dibandingkan kebenaran itu sendiri. Kebetulan, perkakas yang tersedia untuk saya gunakan adalah konsep serta metode antropologi penalaran. Dan fenomena yang langsung tersedia untuk menjadi subjek kajian saya adalah diskursus kebudayaan Indonesia.(viii) 

Apa yang menggerakkan diskursus kebudayaan Indonesia bukanlah kemasukakalannya ataupun memadaiannya secara logis dan empiris melainkan kekuatannya menggerakkan, memprovokasi, menstimulasi, pusparagam aktor kehidupan sosial. (viii) 

Mari rebut perubahan dengan membaca! (xii) 

"Anda itu ngawur," tegasnya tanpa tedeng aling-aling. (4) 

Kehati-hatiaan menjadi cara kerja sang ilmuwan. 

Tak sedikit kolega yang mengambil penekunan di ranah akademik. 

Akibat kemenduaannya, mereka menyandang satu sebutan sendiri sebagai intelektual elektrik... Mereka disebut demikian lantaran suka mencampuradukkan pengetahuan, konsep, istilah tanpa mengikuti kaidah yang dianggap tertib. (8) 

Sedari pertama saya mendengar tuturan argumentasi para budayawan dalam mengedepankan gagasannya, selaku seseorang yang merasa dilatih dalam tradisi akademik saya memiliki kecenderungan untuk mengesampingkannya sebagai proses logika yang cacat. (8) 

Teoretisasi terdahulu yang lebih telanjang lagi dalam mengadvokasi keunggulan akal sehat Barat. (11) 

Teori linguistik Wittgenstein ini tampaknya merupakan kontribusi yang sangat berfaedah bila kita memiliki kepentingan mblejeti konsep pengetahuan saintifik yang pernah sedemikian dipuja di antara para cendekiawan Eropa untuk meninggikan diri di hadapan masyarakat luar Eropa yang identik terbelenggu mitos dan takhayul. (12) 

Wittgenstein sendiri tercatat pernah mengkritik Frazer yang uraiannya dalam Golden Bough tak menutup-nutupi gelagat merendahkan kapasitas penalaran masyarakat-masyarakat di luar Eropa... Menggugat konsepsi penalaran Barat yang tidak membantu kerja antropologis untuk memahami proses pengetahuan di antara para subjek amatan sebagaimana ia berjalan. (13) 

Masyarakat di luar Eropa maupun yang kelas sosialnya dianggap rendah tak dapat dikatakan memiliki sensibilitas yang lebih rendah dibandingkan masyarakat Eropa terdidik. Yang ada adalah pengorganisasian mentalitasnya berbeda lantaran mereka harus menghadapi situasi-situasi yang berbeda dari para insan Eropa terdidik. (14) 

Kebudayaan Indonesia, memang, adalah produk dari penalaran kiasan atau menaut-nautkan. (20) 

Saya terbantu oleh teori nilai yang dikembangkan oleh David Graeber dari pemikiran Terrence Turner dan Nancy Munn. (23) 

Bila kita periksa seluk beluk argumentasi mereka adalah kebutuhan untuk menyejajarkan antara identitas kedirian dengan pihak kolonial. (23) 

Kontestasi tidak hanya berlangsung pada tataran imajiner dengan bayangan bangsa-bangsa berlomba-lomba mengungguli yang lain, melainkan juga secara aktual di antara para tokoh yang berkutat di dalam arena bersangkutan. (25) 

Logika keberiringan antar diskursus yang coba diajukan dalam bab ini, saya rasa, cukup penting apabila kita hendak memahami kebudayaan sebagai kesinambungan praktik yang dilakoni para subjek alih-alih pemahaman normatif mereka. (25) 

Baik atau buruk adalah dua idiom yang merupakan penanda mengambang yang sangat umum, tak menggambarkan apa-apa. (25) 

Pengujian-pengujian etnografis lebih lanjut terhadap inferensi ini, bagi saya, bukan tidak mungkin mendatangkan konseptualisasi-konseptualisasi antropologis yang produktif; khususnya tentu saja, bagi konseptualisasi tentang penalaran kiasan yang ditinggalkan mengikuti maraknya proyek-proyek intelektual yang menganggapnya relik dari masa di mana antropologi masih mengerdilkan "orang-orang primitif". (25-26) Isma: Mas Geger, dari bahasan yang kami bahas di Klenik Studies, sepertinya aku bisa melakukan interferensi yang produktif berkaitan dengan diskursus ini. Kapan-kapan ya Mas Geger. Aku siapkan amunisi yang banyak dulu. Terkait bagaimana kajian klenik diteorisasikan ke dalam Antropologi.

Saya akan memperlihatkan beberapa dari antara kerja-kerja antropologis tersebut lantas menunjukkan sisi-sisi di mana saya berkontribusi terhadap khazanah konseptual yang ada. (27) 

Salah satu teori Pierce adalah teori abduksi. Kecenderungan kita untuk menganggap bahwa benda mati memiliki agensi sebagaimana makhluk hidup atau melekatkan agensi ke tempat yang tidak seharusnya adalah karena penalaran abduksi ini. (29) 

Yang disediakan oleh kiasan bersangkutan bukanlah sekadar pemahaman bersama melainkan arena... Kontestasi imajiner ini memungkinkan para aktornya memiliki orientasi, dan memberikan pengakuan pada objek yang mengambang... Satu objek hasrat yang didambakan di antara orang-orang. (30) 

Kiasan sebelumnya harus sanggup melibatkan para pelaku dalam sebuah ruang imajiner di mana mereka membayar dirinya dan diri-diri yang lain bertarung menunaikan ataupun mendapatkan apa yang mereka hasrati. (31) 

Diskursus kebudayaan Indonesia adalah satu di antara berbagai abstraksi mengambang yang berdaya menggerakkan, menggugah, memobilisasi para aktor melalui bayangan adanya misi besar yang mesti diperjuangkan yakni kesetaraan dengan atau kedigdayaan imajiner di hadapan bangsa-bangsa lain. (31) 

Telisik tidak sampai meneoritisasi pengejaran kekuasaan ini sebagai dinamika pergulatan nilai... (33) 

Fakultas ilmu sosial salah satu Perguruan Tinggi paling prestisius. ...  Budaya alur argumentasinya pun tak bisa dikatakan tak bersinggungan satu sama lain... Koentjaraningrat terhadap mentalitas menerabas... 

Hal yang menjadi kehirauan pokok dari telaah kita adalah ketidakbaruannya. Seseorang yang mencurahkan sedikit waktunya mencermati diskursus-diskursus pembangunan yang telah silam dapat dengan mudah menyadari bahwa kebaruan adalah klaim yang sama sekali oksimoron bila ia dilekatkan dengan tajuk yang diangkat Andrianof. (38) 

Persoalan-persoalan yang mengganggu kehidupan sosial di Indonesia berakar pada kebudayaan tabiat yang tertanam pada sekelompok manusianya yang bermasalah. (40) 

Daoed menyelesaikan studi doktoralnya di bidang keuangan internasional dan hubungan internasional serta ilmu ekonomi di Sorbonne, Paris. Ekspresi-ekspresi ekstaverbalnya tak pernah menutup-nutupi kekagumannya dengan pengalaman-pengalaman berkesan yang didapatinya di negeri tempat studinya tersebut maupun antusiasmenya ketika memperbincangkan kebudayaan. (43) 

Pendek kata: janganlah mabuk kebudayaan kuno, tetapi jangan mabuk kebaratan.

Menurut Syahrir, kita tak bisa berkiblat lagi kepada Barat yang kapitalistis maupun Timur yang menghamba-hamba. (48) 

Saya masih bisa lanjut menjajarkan litani cendekiawan, teknokrat, akademisi hingga instansi strategis yang mengerumuni konsep ini, dan saya cukup yakin tak akan kehabisan nama dalam waktu dekat. Namun, poin pentingnya bukanlah deretan nama itu sendiri, dan poin ini semoga sudah tersampaikan cukup baik. Di balik hamburan nama, pemikiran, orasi, retorika, intrik, perdebatan kebudayaan dalam kesinambungan ruang dan waktu yang begitu ekstensif ini, poin pentingnya, kesemuanya berdiri di atas pemahaman kebudayaan sebagaimana ia dimetaforakan sebagai kepribadian bangsanya. (49) 

Satu pesan yang saya harap tersampaikan adalah para pelaku kontemporer diskursus ini, ketika melakoninya, maupun saya sendiri, ketika mengkajinya, tidak menatanya sekehendak diri. Pergeseran signifikan dari pemaknaannya terjadi hanya karena situasi kontekstual yang cukup kuat dan pergeseran tersebut dituntut untuk tetap koheren dengan konfigurasi internalnya yang sudah tersusun. (51) 

Telusur Sahlins berlanjut sampai dengan memeriksa terperinci berbagai permutasi yang menjadi konsekuensi dari silang sengkarut antara variasi sejarah dengan bingkai penalaran sifat alami manusia ini. Namun, untuk kepentingan kita, kiranya kita cukup mengambil satu poin penting yang mengemuka dari telusurnya, yakni bahwa sejak era Thucydides dikotomi antara alam dan kebudayaan sudah mendarah daging dalam asumsi-asumsi bagaimana kekacauan sipil dibayangkan serta harus ditanggulangi. (57) 

Penyimpangan konsepsi phusis dan nomos secara lebih utuh akan memakan waktu yang panjang dan, selain saya sama sekali tak memiliki kompetensi untuk mengkajinya, halaman-halaman uraian ini bukanlah tempat yang patut untuk berkutat melakukannya. Untuk itu, guna kepentingan proyek intelektual kita, saya akan mempercayai paparan Guthrie dkk bahwa antara phusis dan nomos sebagai dua konsep yang kontradiktif namun tak terpisahkan satu sama lain; antara phusis, di satu sisi, sebagai alamiah dan sejati, dan nomos yang dimengerti selaku yang dibuat dan rekaan. (58) 

Mengatakan bahwa pemikiran-pemikiran prominen dalam sejarah gagasan di Barat semata terusan pemikiran Plato tentu saja adalah penyederhanaan yang kelewatan. Kendati demikian, untuk mereproduksi abstraksi semesta Plato seseorang tak perlu sama sekali menjiplak alur berpikirnya, melainkan cukup memulai telusurnya... (59) eureka! 

Geertz yang dalam proyek teoritisnya memahami kebudayaan sebagai tatanan simbol yang dirampungkan para pelakunya dari kenyataan sosial yang dihidupi... (60)

Kebudayaan: cerapan yang cacat dari tatanan alamiah di luar diri. 

Obsesi terhadap realisme dan konsepsi alam yang dibayangkan bergeming pejal... 

Terdapat dunia riil dan dunia fenomenologis yang secara spesifik yakni oleh Plato, dianggap lebih rendah dan senantiasa merupakan peniruan terhadap yang pertama. Dalam bingkai penalaran ini, memikirkan seniman sebagai pencipta adalah hal yang sama sekali tak terbayangkan... (60-61) 

Aristoteles tak melakukan banyak hal untuk meretas jalan keluar dari dikotomi antara ranah alami dan ranah representasi. (61) 

Satu hal yang penting kita perhatikan adalah kebudayaan belum dibayangkan sebagai sesuatu yang lekat dengan kreativitas, vitalitas, apalagi: kemanusiaan. (Isma: Tapi Mas Geger, diksi kemanusiaan di sini problematis juga gak sih? Sebagai calon antropolog yang semoga sungguhan, aku jadi ingin membongkar secara teoritis terkait apa yang disebut "kemanusiaan" melalui metode telusurnya Mas Geger). Ia baru terbayangkan sebagai nomos sebagai konsep yang membantu para pengamat untuk mengidentifikasi apa-apa yang dianggap bukan kenyataan yang terberi melainkan apa yang diorkestrasi, didesain, disepakati insan manusia. (61) 

Menurut Levi-Strausse, alam merupakan sesuatu yang hadir tanpa memerlukan intervensi apa pun dari manusia. Alam spontan, sementara yang kultural adalah yang berkembang dan menyeruak setelah masyarakat memberikan sentuhannya. (61) 

Las Meninas, lukisan Diego Velazques. Sekilas kita tak akan menangkap sesuatu yang benar-benar menempatkan Las Meninas berbeda dengan lukisan-lukisan zamannya sampai dengan Foucault menunjukkan daya metalukisan dari lukisan ini. Lukisan ini maksudnya insaf dengan mediumnya sendiri. (62) 

Mengapa Las Meninas sekurangnya menurut Foucault, revolusioner? Pasalnya, Foucault menunjukkan, ia menandai bahwa Eropa yang tengah memasuki sebuah era epistemik yang baru yakni ketika penghadiran perlahan mulai dipahami dapat dilakukan tanpa melalui objek yang dihadirkan itu sendiri. (62) Isma: Mas Geger, aku jadi kepikiran ketika main ke Art  Jakarta atau ArtJog nanti, aku ingin mengamati adakah lukisan yang serupa Las Meninas ini? Maksudku, dia bisa menggambarkan semangat intelektual atau epistemik dari zamannya. Ini menjadi kajian dan sawah telusur yang sangat baik. 

Konsep, penanda, kiasan, pada masa yang baru ini, dapat berjalan sendiri tanpa tuntutan bertautan dengan objek konkret di luar sana. Ia mempunyai logikanya sendiri. (62-63) Isma: Barangkali ini juga ya Mas Geger yang bisa kukontribusikan di bidang sastra. Sebagaimana Don Kisot.

Alih-alih memperlakukan manusia tak ayalnya 'mesin', atau 'anasir pasif dari dunia ini' sebagaimana yang dilakukan oleh filsafat lama, Kant memberikan agensi kepada manusia. Sang insanlah, pasalnya, yang memproduksi dunianya. (63) 

Mengiringi pemahaman ini, Kant kemudian mengajukan apa yang bisa kita katakan sebagai definisi dan takaran kemanusiaan seseorang. Manusia menjadi manusia pada saat ia bisa menghindarkan dirinya dari tuntutan-tuntutan bawaan alamiahnya: pada saat ia mengekspresikan kebebasannya manakala dihadapkan dengan kodrat alaminya. Manusia memiliki obligasi moral untuk menjadi insan yang berbudaya, membentuk dirinya berdasarkan penafsiran atas kehidupan yang dianyamnya dalam kategori-kategorinya sendiri. Kemanusiaan, kebudayaan adalah kebebasan, alam adalah pengekangnya, dan Kant tidak pernah malu-malu dalam mengikrarkan implikasi moral dari pemikirannya ini. Dalam kata-kata Kant bila kita perlu mendengarnya sendiri:

Pencerahan merupakan kebangkitan manusia dari ketidakdewasaan yang ditanamkannya kepada dirinya sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan seseorang memberdayakan akal budinya tanpa bimbingan dari orang lain. Ketidakdewasaan ini ditanamkan oleh dirinya sendiri manakala ia disebabkan bukan oleh mempergunakan akal budinya tanpa tuntutan orang lain. Sapere aude! "Beranilah mempergunakan akal budimu sendiri!" Inilah moto dari pencerahan (Kant, 1991 [1784]: 162). (64) 

Dengan kesadarannya sendiri, ia mesti memilih untuk menjadi berbudaya, membalut diri dalam norma, kesantunan, selera estetik yang dianyamnya dengan kapasitas akal budi yang hanya miliknya, dan melalui ini mendemonstrasikan dirinya lebih unggul di hadapan makhluk lain serta manusia yang tidak bisa mengekang dorongan-dorongan alamiahnya. (65) Isma: Kant keren banget, Mas Geger. Aku nemu kunci hidup yang lain dari filsafatnya. 

Terdapat tiga perbedaan mendasar antara Hegel da Kant yang penting kita perhatikan untuk memudahkan kita mengidentifikasi perbedaan konsep kebudayaan yang menyeruak dari tubuh keduanya. Pertama, Hegel berangkat dari sudut pandang komunitas alih-alih individual. Kita dapat memahfumi ini pasalnya, beriringan dengan kepentingannya merespons gagasan-gagasan besar zamannya, proyek antropologi filosofis Hegel juga dimotivasi kepentingannya memahami sejarah pembentukan masyarakat sipil (Patterson, 2009: 33). Kemudian, yang kedua, dalam tubuh filsafat Hegel tidak ada yang benar-benar bisa dikatakan sebagai kenyataan yang bertempat di luar ruh. Semua yang terjadi, terjadi dalam kesadaran kolektif yang adalah sang ruh. Yang ketiga dan terpenting adalah ruh senantiasa bergerak dengan satu asas yakni merealisasikan rasionalitas. Sejarah adalah sebuah gerak baik insan maupun komunitasnya bertumbukan dengan situasi-situasi liyan dan, melalui proses sublasi terhadapnya, membangun satu keutuhan yang lebih rasional ketimbang sebelumnya. (67) 

Mas Geger menjelaskan, kebudayaan di masa kolonial khususnya, yang memisahkan antara kawula Eropa dan kawula wilayah koloni, semakin menegaskan kebudayaan satu berbeda dengan yang lain. Tak hanya berbeda, tapi juga terpisah dan asimetris. Orang Eropa menduduki posisi yang lebih tinggi, karena status ekonomi-sosial yang lebih terpandang. "Sementara orang pribumi yang stereotipnya adalah kuli, petani, buruh kebun, atau terkadang priyayi menduduki status sosial yang lebih rendah dikarenakan kebudayaan mereka yang memang terbelakang dan berkutat di masa lalu." (69) Fenomena ini melahirkan eksklusi sistematis yang menghasilkan ekses-ekses pada kelompok tertentu di tengah kerumitan-kerumitan modernitas. 


Kebudayaan diri pada dasarnya mulia, agung, berfaedah. Hanya saja masyarakatnya dipaksa menrima kategori-kategori Barat yang sebenarnya tidak sejalan dengan jati dirinya. (78) 

Inferensi adalah proses menarik kesimpulan logis berdasarkan pengamatan, bukti, fakta, atau informasi yang ada. Tindakan menyimpulkan sesuatu yang tidak dinyatakan secara eksplisit. Melibatkan pengamatan (fakta) + pengetahuan sebelumnya = kesimpulan logis. Jika melihat seseorang membanting pintu, Anda dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut sedang kesal. Mengamati langit mendung dan rumput basah, lalu menyimpulkan bahwa baru saja hujan. Pengamatan adalah apa yang Anda lihat (data), sedangkan inferensi adalah penjelasan atau makna dari apa yang Anda lihat. (Isma: Menarik banget konsep inferensi ini untuk kupakai dalam pembuatan karya sastra.) 

Di bab 4, Mas Geger melakukan inferensi terkait mereka yang dianggap sebagai advokat intelektual isu kebudayaan Indonesia. Ia mempertanyakan hal sederhana: Bagaimana proses mereka "terpanggil" menjadi "ideolog" diskursus ini? Situasi-situasi seperti apakah yang turut andil menceburkan mereka menjadi bagian yang tak terpisahkan dari reproduksi diskursus ini pada tataran intelektual? (81) 

Mereka juga akan memahamkan kepada kita bahwa pencapaian akademia bukanlah sesuatu yang benar-benar mereka singkirkan dari trayektori kehidupan mereka. Mereka menempuh pendidikan tinggi di institusi Barat yang dianggap prestisius di antara kolega-koleganya. Sesekali, mereka menampakan keinginannya menyusun karya yang dapat dibandingkan dengan magnum opus sejarawan, antropolog, sosiolog, atau filsuf terpandang. (82)

Artinya, berkat konotasi megah dan sublim lema kebudayaan, banyak gagasan yang dalam pengertian tertentu tak bisa dikatakan genial memperoleh kedudukan yang penting dalam imajinasi pencerap yang ditujunya karena dianyam sebagai upaya mengadvokasi entitas penting yang tengah terancam ini. (87) 

Lema adalah kata atau frasa masukan dalam kamus yang menjadi entri utama, biasanya berupa kata dasar tanpa imbuhan, yang didefinisikan maknanya. 

Pekerja pengetahuan, audiens elite, ditulis dengan referensi yang sulit dikatakan akademis, 

Cerpen eksperimental "Sepi Pun Menari di Tepi Hari" Radhar. 

Ambivalen adalah kondisi emosi atau sikap seseorang yang bercabang, memiliki perasaan campur aduk, atau bersikap bertentangan terhadap satu objek, orang, atau situasi yang sama secara bersamaan. Ini mencakup perasaan suka dan tidak suka, ragu-ragu, atau ketertarikan sekaligus penolakan yang terjadi berbarengan. 

Yudi sendiri, saya kira, tak akan mempersulit dirinya menyusun satu literatur yang ketebalannya mengintimidasi bila kebutuhannya adalah semata untuk tampil di antara para pemegang kedudukan strategis. Sumber-sumber referensi Yudi pun sebagian besar merupakan karya yang membawa otoritas akademik. Ia tidak mengutip dokumen dari internet kecuali ia bisa memastikan kredibilitas situs yang menampilkan informasi bersangkutan. (Ini mungkin tampak sepele, tapi ada karya yang ditulis dengan referensi yang sulit dikatakan akademis). (99) 

Karena persoalan didefinisikan bukan dari sesuatu yang aktual melainkan dari prakonsepsi yang mengambang, setiap bentuk praktik yang kita lihat dapat dibingkai bermasalah. (101) 

Persoalannya adalah kita lupa dengan jati diri itu sendiri akibat pengetahuan-pengetahuan yang dicangkokkan bangsa lain melalui kekuasaannya. (104) 

Sebagai penanda mengambang, artinya, kekaburan justru merupakan kekuatan dari konseptualisasi revitalisasi kebudayaan yang diajukan Rudi serta Radhar. Karena tak merujuk kemana-mana, ia berimplikasi leluasa untuk dipahami oleh siapa pun. (105) 

Isma: Kemudian aku jadi bertanya, apa modusmu dalam produksi pengetahuan? 

Penaut-nautan yang membingkai cendekiawan dan audiensnya untuk memiliki objek hasrat yang serupa dan tak jarang menjadi orang yang tidak asing satu sama lain. (120) 

Bukan hanya kerja-kerja penalaran kiasan menjadi relevan namun tatanan konseptual mengambangnya juga menjadi terasa nyata karena ia berada di atas sebuah medan yang ditempatkan sebagai pertandingan yang pencapaiannya adalah bayangan kedigdayaan komunitas kebangsaan sang pelaku. (122) 

Sementara Ahmad Samantho, penulis lokal yang giat menggeluti teori konspirasi, tak banyak memberikan pandangan baru... Juga penting menimbulkan efek sensasional yang setara dengannya lantaran, agaknya, berawal dari terbitan di luar negeri, disusun orang asing berlatar akademisi, serta ketebalannya mengintimidasi adalah karya dari Oppenheimer, Eden in The East. (123) 

Buku Atlantis karya Arysio Santos. 

Tidak heran mengapa buku teori konspirasi yang liar hingga buku panduan kesehatan yang isinya tak ditulis dokter melainkan menjiplak dari internet bertebaran menjadi buku terlaris di Indonesia.... Popularitas buku, karenanya, bisa membantu kita meraba apa yang mengundang mereka untuk membaca.... Agak tak terduga bila kita membayangkannya dari tema yang sampaikan sejauh kita ulas, adalah Hitler Mati di Indonesia. (126) 

Kecenderungan sebagian orang mengejar bayangan sendiri sebagai satu bangsa yang punya posisi di antara bangsa-bangsa lain. (126) 

Namun, saya kira, kelarisan buku yang dicetak ulang hingga berkali-kali ini berbicara jauh lebih banyak dari apa yang mungkin kita peroleh dari buku ini apabila kita membacanya secara sinis selaku dalam kapasitas seorang akademisi... Saya kira, menengarai kepada kita satu dorongan yang saat ini berkembang untuk mendapati Indonesia punya andil atau meninggalkan jejak dalam perguliran sejarah dunia, bahkan walau sebatas wilayahnya menjadi tempat meninggalnya salah satu figur sentral sejarah abad ke-20. (126-127) 

Ia akan menggoda pembaca generik di Indonesia yang dibayangkan akan bangga mendapati negerinya punya andil penting menentukan negeri lain. (129) Isma: Entah kenapa ambisi ini apinya gak padam² ya? Heran juga saya. Termasuk mungkin ketika menemukan tokoh yang lahir di Cepu, haha. Aku pernah kegocek juga sama narasi ini. 

Mereka membatasi pengamatannya sebatas apa yang tercerna secara materiil padahal data materiil ini tidak netral, apalagi untuk menggambarkan bangsa Indonesia yang sedari dulu memiliki kepribadian mistis dan tak mencatat pengalaman-pengalamannya dalam wujud tulisan. (135) 

Satu kecenderungan yang didorong oleh tatanan konseptual mengambang ini adalah mencari takaran kedigdayaan bangsanya dan inilah yang terjadi. (137) 

Apa yang ingin saya kontribusikan terhadap teori nilai ini kini adalah menggambarkan keterpautannya dengan praktik-praktik penalaran kiasan yang menjadi subjek telaahan kita. (139) 

Artinya, kemajuan dan kebaruan mereka tak lebih dari citra hasil abstraksi penaut-nautan.... Apa yang mendasari perumusan-perumusan tentang bangsa dan kebudayaan adalah persoalan pembuktian harga diri: nilai apa yang dicitrakan sebagai dirinya. (140) 

Tujuan eksklusif sihir, tampaknya adalah hasil. Mauss. (142) 

Keyakinan-keyakinan supranatural dilakoni bersama-sama, artinya, utamanya bukan karena gambarannya yang meyakinkan atas realitas, melainkan karena dampaknya yang dibayangkan para pelajar akan memengaruhi trayektori kehidupan mereka. (142) 

Kita menjumpai situasi yang luar biasa ironis. Ironi tersebut yakni: hanya dengan penanda yang tidak konkret kehidupan sosial bergulir secara konkret. (143) 

Menurut HS Dillon, kebudayaan tak pernah orisinil. Ia dipelajari ketika manusia masuk ke suatu kelompok tertentu untuk bertahan hidup. 

HS Dillon menyampaikan bahwa yang pada saat ini marak terjadi adalah hegemoni makna. Sekelompok kecil orang menentukan apa itu Indonesia ada kelompok yang berhak menentukannya dan yang lain tidak diperkenankan bicara. Penindasan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sejak kita berlaku kasar kepada pembantu. (154) 

Mengapa terus terjadi kesenjangan? Karena roh-roh kolonial menjelma kembali dari masa ke masa. Apa yang perlu dijebol? Kelembagaan ekstraktif (sistem oligarkis yang mengeksploitasi penduduk serta sumber dayanya). (154) 

Dua sektor yang perlu diperbaiki menurutnya adalah perguruan tinggi, karena ia merupakan pusat kebudayaan bangsa, dan media massa yang saat ini malah dikendalikan kekuatan pasar dan kepentingan kapitalis untuk membentuk masyarakat menjadi konsumtif. (154) 

Ia mempertanyakan keberadaan masyarakat akademis yang menurutnya tak merawat ilmu pengetahuan dan teknologi yang menentukan masa depan. (154) 

Selepas mengenang kedekatannya dengan HS Dillon sebagai sesama almamater IPB dan pejabat, Rokhmin sebagaimana pemrasaran pertama lebih banyak mengartikulasikan apa yang ia pandang sebagai persoalan kritis Indonesia. (156) 

Kapitalisme, menurutnya, tak memiliki kandungan spiritualitas. Tanpa spiritualitas, orang terperosok dalam nihilisme dan hedonisme. (157) Isma: Aku tiba-tiba takut, tanpa kesadaran yang utuh, nulis yang gak bener. 

Menyampaikan pikiran yang strukturnya serupa meskipun isinya berbeda. 

Wicaksono Adi, kritikus kesenian menyampaikan pandangannya dengan artikulasi yang menurut saya lebih sistematis dan mudah saya organisir. (159) 

Forum untuk memufakati desain kebudayaan Indonesia yang tepat, dalam pergulirannya, menjadi tak terpisahkan dengan pertunjukan kebernilaian diri istilah sehari-hari kita, harga diri dari para pelakunya. (161) 

Sepanjang para pelaku bekerja dengan membingkai persoalan dari tatanan konseptual mengambang diskursus kebudayaan Indonesia, saya karenanya tak bisa membayangkan akan ada alternatif perumusan yang secara radikal lain. (162) 

Kecenderungan beberapa kalangan intelektual dan kelas menengah pada pertengahan abad ke-20 mengidentifikasi haluan mereka sebagai sosialis. Mereka tampak cukup jelas tak ingin diidentikkan dengan komunisme, di satu sisi, dan di sisi lain tidak mau pula tampak lekat dengan kapitalisme. (170)

Maksud saya mungkin sudah dapat ditebak. Saya ingin menunjukkan bahwa upaya merumuskan kekhasan kebudayaan Indonesia yang kita jumpai dalam ajang kebudayaan yang barusan kita amati bukanlah kecenderungan yang eksepsional melainkan fenomena yang lazim dalam sejarah. Para cendekiawan menyusun kiasan-kiasan yang bisa menyematkan Indonesia dengan keunikan yang tak terbandingkan di mana melalui lelaku diskursif ini mereka bisa menikmati bayangan bangsanya sebagai bangsa yang digdaya atau dirinya, yang merumuskannya, sebagai cendekiawan yang punya peranan memperjuangkan konsepsi yang penting tersebut. (171) 

Mungkinkah demikianlah kebudayaan terbentuk, berubah, berinovasi, menyimpang, terbarukan? Melalui penolakan-penolakan yang tak selalu logis? Penelusuran lebih lanjut, memang, dibutuhkan. Tetapi saya tak akan menampik kemungkinannya. (172) 

Galib (kata sifat) menurut KBBI/bahasa Indonesia berarti umum, lazim, atau sering terjadi. 

Isma: STA lucu juga ya, emang gimana sih maksud, sebelum tercium perasaan keindonesiaan? 

Kapasitas penalaran yang satu lebih rendah dibandingkan yang lain, melainkan karena keduanya merupakan bagian dari keutuhan diskursif yang berbeda. Tatanan pengklasifikasian mereka, yang terbentuk melalui proses sejarah yang kontingen berbeda.... Lingkungan kehidupan yang berbeda menuntut pelaku mengorganisir persepsinya secara berbeda. (175-176) 

Kendati emansipatif, kontribusi eksepsional Levi-Strauss secara spesifik terletak pada kerja-kerjanya mengintegrasikan inspirasi-inspirasi dari kajian linguistik menjadi wawasan teoritis untuk membantu mencerna fenomena sosial dalam keberlangsungannya. (175) 

Galat adalah istilah bahasa Indonesia untuk error, yang berarti kesalahan, kekeliruan, atau cacat.

"Semua teori antropologi haruslah sebuah teori tentang praktik." (Viverios de Castro, 2012) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar