Senin, 30 Maret 2026

Catatan Buku "The Hound of the Baskervilles" karya Sir Arthur Conan Doyle

Aku sering ngerasa amazed dengan penulis-penulis macam Arthur Conan Doyle, kek ada aja gitu imajinasinya, dan pinter banget nyembunyiin plot twist. Kek, di awal-awal cerita tuh kita dijebak kalau semua karakter itu punya potensi jadi pelaku, termasuk ketika aku membaca buku berbahasa Inggris tingkat elementary berjudul "The Hound of the Baskervilles". Ada 12 karakter di buku ini, premisnya: Terjadi pembunuhan pemilik Baskerville Hall yang udah jadi mitos diserang anjing siluman besar, padahal bukan serangan anjing, tapi ada pelaku di baliknya. 

Cerita dimulai dengan kedatangan dokter pribadi Raja Sir Charles Baskerville bernama dr. Mortimer ke markas Sherlock Holmes di 221B Baker Street, London. Latar berlangsung pada tahun 1889. Di sana si dokter bercerita terkait mitos yang ditulis koran The Times tentang pemilik istana Baskerville tahun 1645 bernama Sir Hugo Baskerville. Hugo ini seorang ateis yang kejam. Suatu hari menculik seorang gadis desa untuk dinikahi. Gadis itu dibawa ke istana tapi bisa melarikan diri. Murkalah dia lalu dikejar sampai ke hutan. Di rimba itu, nasibnya naas, dia mati karena ulah anjing hitam besar.

Legenda itu kemudian turun-temurun menimpa pewaris setelahnya, si Charles. Suatu malam pas nyebat di dekat gerbang, dia juga diserang oleh anjing besar seperti siluman yang mengeluarkan api di sekitar tubuhnya. Usai kematian itu, istana diserahkan kepada pewaris setelahnya, Sir Henry Baskerville. Dr. Mortimer pun sanksi jika pasien langganannya dibunuh siluman hound, lalu diceritakanlah kronologinya.

Secara kebetulan, Henry juga ada di London, menginap di sebuah hotel mewah di sana. Tapi dia diikuti oleh orang yang menggunakan topeng pembantu pribadi di Istana. Hal aneh lain yang terjadi, sepatu booth Henry satu sisi dicuri entah oleh siapa. Henry pun dijaga ketat oleh Holmes bersama dengan asisten Holmes bernama Watson. Henry juga menerima semacam surat peringatan yang kata-katanya diambil dari potongan koran lokal. Intinya, berhati-hatilah dan menjauh dari The Moor (kawasan Baskerville).

Namun, alih-allih menjauh, Holmes meminta Henry untuk ke Istana saja, karena di London jauh lebih bahaya. Agak laen emang pikirannya. Tapi Henry tak sendirian, kemana pun dia pergi, selalu dijaga oleh Watson dengan senjata pistol di jubahnya. Watson kemudian mempelajari denah The Moor, termasuk pembantu yang telah ikut lama dan ditemui di London, Mr. Barry More, yang tinggal dengan istrinya Mrs. Barry More. Pembantunya sering keluar malam pakai lilin ke arah hutan. Entah untuk menemui siapa. Padahal hutan seram, dan dianggap tempat sembunyi anjing siluman.

Di kawasan The Moor, ada tetangga yang tinggal tak jauh dari istana. Dia adalah Mr. Jack Stapleton yang tinggal di Merripit House dekat dengan Grimpen Mire. Serupa biolog dan akunya sebagai naturalis, dia sangat tertarik dengan tanaman, burung-burung, dan serangga yang ada di Dartmoor. Dia tinggal dengan seorang perempuan cantik yang diperkenalkan sebagai adik bernama Miss Stapleton. Selain itu, tinggal juga tetangga lain yang tinggal di Lafter Hall dekan Coombe Tracey bernama Mr. Frankland. Dia tertarik mempelajari bintang-bintang menggunakan teleskop. 

Watson mengunjungi dua tetangga dengan hobi aneh ini. Henry sendiri sering ke Merripit House karena dia naksir sama Miss Stapleton, tapi yang ditaksirnya itu coba mengingatkan Henry agar berhati-hati pada kakaknya. Watson juga berkomunikasi menggunakan surat untuk dikirimkan ke Holmes yang ada di London terkait perkembangan status, termasuk membuat denah The Moor dan sekelilingnya.

Suatu hari, Henry menginterogasi Mr. Barry terkait kegiatannya di hutan. Ternyata, Mr. Barry punya saudara laki-laki yang cukup kurang waras kali ya bernama Selden. Selden ini sekaligus tahanan penjara yang melarikan diri dari Darmoor Prison. Barry memberikan makan pada Selden yang tinggal di hutan. Sebab kasihan, Henry pun memberikan baju bekasnya untuk dipakai Selden. Barry sangat senang dan menemui saudaranya.

Naas, terjadi serangan di hutan karena Selden ternyata dimangsa anjing jadi-jadian yang menjadi mitos di Baskervilles. Watson dan Henry ke hutan, menemukan Selden telah mati tercabik-cabik. Suatu waktu, tanpa angin dan hujan, Holmes tiba-tiba muncul ketika Watson kesulitan memecahkan teka-teki kematian Selden. Termasuk informasi dari Frankland yang menunjukkan teleskop kehadiran orang asing di The Moor. Di suatu tempat, terjadilah tembak menembak yang melibatkan Selden itu, yang dikira Henry. Karena baunya Henry lewat baju itu, meskipun bukan. Holmes dan Watson menembak anjing siluman itu.

Akhirnya, terkuaklah semuanya. Pembunuh Charles adalah Mr. Stapleton. Dia adalah anak haram dari saudara Charles yang menginginkan harta Baskervilles. Dia meminta Miss Stapleton untuk mendekati Henry, sehingga memudahkan niatnya. Padahal Miss Stapleton itu bukan adiknya, tapi istrinya. Yang mengikuti Henry ke London pun Stapleton, dia sudah bereksperimen sains kaitannya dengan anjing yang bisa ada apinya. Sebagai seorang naturalis, dia telah banyak memahami. Booth yang dicuri di hotel itu pun berkat kongkalikong dengan pegawai hotel untuk mengidentifikasi bau Henry. Watson sering bertanya-tanya pada Holmes terkait lapis misteri ini, dan Holmes mencanda, "Watson, you are very slow." Wkwk.

Buku ini aku baca sekali duduk. Asik ceritanya, gak muter-muter dan aku langsung dapat poinnya. Gak ada kritik serius di aku, meskipun mitos yang diturunkan dari Hugo ke Charles lalu ke Henry ini kurang kuat aja. Karena jenis anjingnya berbeda, masanya berbeda, dan kalau jarak waktunya sangat jauh, itu kayak sulit kuterima aja motif si pelakunya yang tinggal di masa Henry. Lesson learned-nya:

1. Kagak usah berambisi deh cari harta sampai membunuh orang segala. Nyusahin hidup saja.

2. Milikilah sikap skeptis yang bertanggung jawab, seperti yang dicontohkan Dr. Mortimer. 

3. Seriusilah hobimu, seaneh apa pun itu, pasti bermanfaat. Tokoh-tokoh seperti Frankland dan Stapleton ini menarik secara hobi, tapi jangan lupa gunakan untuk hal yang bermanfaat.

Sekian, terima kasih. 

Judul: The Hound of the Baskervilles | Penulis: Sir Arthur Conan Doyle | Retold: Stephen Colbourn | Penerbit: Dian Rakyat Jakarta | Cetakan: Kedua, 2011 | Jumlah Halaman: 64

Tidak ada komentar:

Posting Komentar