Selasa, 03 Maret 2026

Catatan Buku "Anatomi April" karya Bagus Dwi Danto

Halo Mas Danto, kayaknya sudah lama tidak ngobrol lagi. Terkait apa saja, terlebih terkait musik, musisi yang disingkirkan sistem, musisi pinggiran, buku-buku perlawanan yang menarik untuk ditarik metode survivalnya bagi orang-orang yang hidupnya sering ada di tepi jurang. Obrolan dengan Mas Danto selalu dalam dan sering membuatku berpikir sampai berhari-hari kemudian. Mas Danto sudah seperti saudara tua jauh yang memberiku sudut pandang lain untuk melihat bukan dari pusat sebagaimana orang sering tuju, tapi dari pinggirannya, yang sakit, luka, bopeng, dan ditelantarkan. Mas Danto, kita masih ada imajinasi untuk menulis musisi yang melalui laku hidup seperti Kang Mukti Mukti. Aku akan mengusahakannya lebih serius lagi.

Oh ya, Mas Danto, hari ini ibuku ulang tahun. Ibuku lahir di Blora, 3 Maret 1965. Berarti usianya sekarang 61 tahun. Keren sekali sih ibu, meski sudah empat tahun lebih ini sakit stroke sebelah dan cuma bisa tidur di amben, dia tetap ada semangat untuk hidup. Aku kadang ingin menangis sendiri membayangkan begitu kuatnya dia, sampai-sampai kalau pun aku jadi dia, aku ragu bakal bisa jadi orang yang sekuat dia. Aku menulis ini karena aku tahu, Mas Danto juga sangat sayang pada ibu. Bahkan, buku kumpulan puisi ini Mas Danto persembahkan untuk ibu. Katamu: "Kagem Ibu." Bahasa Jawa Kromo yang berarti, "Untuk Ibu." Mungkin aku tak begitu dekat dengan ibu, tapi beliau sampai kapan pun adalah panutan soal kesabaran bagiku. Lewat tulisan sederhana ini, aku ingin mengucapkan, "Selamat ulang tahun, Ibu. Semoga Ibu sembuh dan bisa sehat lagi, bisa main sama cucu lagi, dan jalan-jalan keliling rumah. Aamiin."

Buku yang ada di tanganku sekarang, yang sampul oranye-nya tertulis judul "Anatomi April", sudah kubaca untuk ketiga kalinya. Pertama, aku membacanya saat main ke Gramedia di Grand Indonesia (GI) Jakarta. Saat aku maraton membaca buku yang sampul plastiknya terbuka. Ah, aku jadi ragu, apakah di GI atau Pacific Place, karena agak-agak mirip vibes-nya. Sebenarnya agak curang karena membaca sampai habis, tapi tidak membeli. Membaca di Gramedia bukan cuma satu, bahkan sampai lima buku, haha. Ya, rata-rata hanya buku yang bisa dibaca sekali duduk. Sebab di tempat lain, kegiatan ini dilarang. Jangankan baca buku sampai habis, buka sampul plastiknya aja gak boleh. Tapi bagi sebagian orang yang gak mampu beli buku, aku akan rela untuk melegalkannya. Aku teringat kata Bernard Shaw, tentu saja, "Dibutuhkan modal tertentu untuk menjalani moral tertentu."

Dan, oh, ternyata pas aku lihat di Goodreads, tanggal 17 April 2022, aku pernah memberikan ulasan begini:

Pada pembacaan kedua, mungkin sekitar beberapa bulan lalu, aku memutuskan membeli buku Mas Danto melalui keranjang oranye. Mas, jujur, baca buku ini tuh seperti mendengarkan lagu-lagu yang ada di album "Woh". Beberapa diksi, frasa, dan struktur metaforanya begitu karib sampai bisa aku nadakan. Kalau mau jujur lagi, banyak puisi yang tidak aku mengerti, dan perlu pembacaan berkali-kali dan sangat slow reading untuk menangkap makna di baliknya. Meskipun buku ini bisa dibaca cepat, pemaknaannya bisa digali bahkan sepuluh tahun kemudian. 

Lalu, pada pembacaan ketiga, ketika aku hendak menulis untuk catatan buku ini.

Ada istilah lain dalam penulisan itu yang disebut "slow-burn", dan buku ini tipe yang begitu. Artinya bukan tipe tulisan yang meledak-ledak terus padam kayak kembang api, tapi pelan, lambat, dan bertahap untuk memahaminya. Mirip kayak bara api, dia gak cepat padam, dan tahan lama. Namun, ada satu tantangan lagi ketika membaca buku Mas Danto ini, bagi orang dengan modal metafora khas puisi yang masih terbatas, pembaca bisa jadi akan tersesat dan tidak paham. Pendeknya, ini sebenarnya mau bicara apa sih? 

Buku ini juga memilih untuk tidak memakai nomor halaman sebagaimana buku-buku lain. Barangkali agar pembaca tidak terbelenggu dengan angka-angka, atau semacam perhitungan kuantitatif: aku sudah di halaman mana? Sudut lainnya, barangkali ini memang strategi agar puisi ini bisa dibaca dari lembar yang mana saja. Secara pilihan huruf juga ditulis dengan kecil semua tanpa kapital. Seolah huruf kecil ingin mengejek si huruf besar, bahwa tanpa huruf besar pun, huruf kecil bisa berdiri.

Secara personal, aku sangat suka dengan judul-judul puisi di buku ini yang menurutku sangat imajinatif, seperti "springbed kebudayaan", "layout libido", dan "republik luka". Kalau kuhitung satu-satu, ada 70 puisi. Hampir di setiap puisi ada ilustrasi khusus yang dibuat oleh perupa bernama Dodi Irwandi. Aku tak akan membahas banyak soal ilustrasinya, tapi lebih pada puisinya. Secara gambar, sebagian besar sudah mewakili. Pesan gambarnya membuat pembaca seperti diajak senam antara makna yang denotatif dan konotatif. 

Aku juga baru ngeh, buku ini kokinya Om Dodo. Aku teringat dengan sosoknya yang ceplas-ceplos dan apa adanya saat dia sering main ke Penerbit Pocer Jogja mirip Mas Eka Wijaya dulu. Di mana saat dulu aku menjadi pekerja di Pocer. Editornya juga Mas Reza Nufa. Penulis buku "Pulang ke Rinjani" yang pernah Mas Danto ceritakan berkelana dari kosnya di wilayah Ciputat ke Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB). Aku juga pernah bertemu dengannya di Kafe Basabasi saat mengantar teman membahas soal perbukuan.

Aku penasaran mengapa judulnya "Anatomi April?" April dalam kepalaku bisa berkorelasi dengan banyak hal: Hari Kartini, bulannya para perempuan selain bukan Desember, April mop, bulan kelahiran adikku dan crush ku dulu (yang aku sadar, aku tidak cocok dengannya karena kami beda dunia, beda energi, semacam air dan minyak). Lalu, anatomi mengingatkanku dengan pelajaran Biologi pas SMA. 

Aku punya beberapa guru Biologi yang menurutku ikonik, salah satunya, sebut saja Bu Ning, rambutnya pendek dan tebal di atas bahu. Wajahnya tegas tapi tetap approachable. Kalau pelajaran dia selalu di Laboratorium Biologi, dan aku masih ingat saat dia menerangkan terkait bab anatomi tumbuhan, hewan, dan manusia. Dia jelaskan secara detail lewat PPT yang dia buat. Tahun 2009 dulu, masih sedikit guru yang menggunakan PPT. Bagiku dia selangkah lebih maju. Aku juga tak lama ini mendapat kabar, jika beliau meninggal. Semoga husnul khotimah.

Kalau refleksi sama ilmu IPA, barangkali aku membayangkan Anatomi April itu secara metaforis merujuk pada segala pengalaman yang terjadi pada Mas Danto saat bulan April. Itu anabel-ku aja sih, alias analisis gembel, wkwk. Yang jelas, antara narasi personal dan kritik sosial coba diulen jadi satu, kemudian dimarinasi jadi puisi-puisi yang menyesakkan hati. Nyaris, tak kutemukan fitur bahagia dalam cerita-cerita yang dibawa oleh puisi-puisi itu. Kecuali mungkin puisi berjudul "Cinta", yang bunyinya: "meski bersampul warna-warni / cinta tetap prolog tanpa koma". Ini pun masih misterius ronanya. Penggembolan kebahagiaan seperti jadi lagu sumbang.

Secara isi, aku menangkap ada beberapa diksi-diksi yang jadi kata kunci: kawan, lawan, keluarga, hidup, mati, sepi, mimpi, ajal, nihil, api matahari, buta, kebudayaan, kiri, restorasi, pucat, lelah, bungkuk, jerit, cakar, lubang, darah, pecah, rebah, spasi, hantu, deru, rahasia, tanya, tanda, toilet, pahit, mahal, air mata, kuasa, tai, nanah, sekam, desis, jerit, berak, kepyur-kepyur, bangkai, hitam, kere, polisi, mitos, penjara, mentok, kering, nisan ... suaka marga sastra ...

Aku menyukai metafora-metafora semacam:

"berat amat mereka mimpi / mungkinkah seperti kita / dan kita adalah tralala"

"sebelum jalan terjamah hasrat / jalan kecil di ujung mulai rintik / termakan tarot" 

"pelan-pelan / manusia membebani / pundaknya sendiri"

"siang ini kupetik setangkai setan di / sebatang hape. hati yang imitasi"

"begitu kerap kemunculan / begitu palsu"

"warung bakmi menyikat rugi dengan / hati-hati. panah putih retak. ada yang / tak sudi pada senja. menanggung / matahari mengunyah aspal. gontai. / kupinjam toilet dari mulutmu"

"kulirik aku. siangku lapar, kumakan / saja teman-teman"

"semakin beragenda / semakin putus asa"

"ketela / tumbuh subur kendati pisah kasur"

"gerobak bakso merampok matahari / dalam mangkuk meremas nalar" 

"ada subuh di apotik berdinding kaca" 

Namun, yang menurutku sangat menarik dari buku ini, sebagaimana yang sudah kutulis di Goodreads, "Mas Danto membawa cara tutur baru, diksi-diksinya unik, tidak linier, dan di berbagai puisi, saya butuh banyak waktu untuk mengartikan beberapa lariknya saja." Jika Chairil Anwar punya model berpuisinya sendiri yang membawa pembaruan, bagiku Mas Danto dalam buku "Anatomi April" ini juga punya literer otentiknya sendiri. 

Terakhir, terima kasih Mas Danto sudah menulis "Anatomi April". 

Judul: Anatomi April | Penulis: Bagus Dwi Danto | Ilustrasi: Dodi Irwandi | Koki Buku: Dodo Hartoko | Penyunting: Reza Nufa | Penerbit: Shira Media | Cetakan: Pertama, 2021 | Dimensi: 14,8 x 21 cm | Jumlah halaman: 124 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar