PROLOG:
Buku klasik Ernest Hemingway ini mengingatkanku pada zaman-zaman ketika masih SMP entah SMA. Di masa-masa itu, aku meminjam buku The Old Man and The Sea di sebuah perpustakaan sekolah. Aku masih mengingat, buku ini laris jadi materi pembelajaran sastra. Namun, kesan yang mengikutiku sampai sekarang, ceritanya sangat sedih, dan dalam tubuhnya yang kecil dan kurus kala itu, aku menangis membaca buku ini. Aku kasihan sama Pak Tua, dan saat itu aku berpikir jika di akhir cerita, nelayan gaek berdedikasi yang sial ini meninggal. Tapi, pada pembacaan kedua, cerita
ternyata dia hanya tertidur nyenyak sambil bermimpi tentang singa di Afrika. Lelaki tua yang benar-benar kasihan. Kutipan antara Manolin dan Santiago ini benar-benar memukulku:
"Seberapa banyak kau menderita?"
"Sangat banyak," jawab lelaki tua.
ALUR:
Di sebuah desa nelayan di Havana, Kuba, hidup seorang nelayan yang sangat miskin bernama Santiago. Aku membayangkan rumahnya di tepi pantai, sedikit perabotan, tak ada makanan, dan dia hanya tidur di atas kertas koran. Harta benda paling berharga yang dia punya hanya perahu, dayung, kail, harpun, dan pisau untuk mencari ikan. Sayangnya, masyarakat di sekitar sana menyebut dia "salao" atau bentuk terburuk dari ketidakberuntungan. Pasalnya, selama 84 hari dia melaut, tak didapatkan satu pun tangkapan ikan yang mampu menghidupinya.
Kurasa, Santiago masih memiliki keberuntungan karena ada pemuda bernama Manolin yang berempati padanya. Manolin bukan anak kandung, tapi anak tetangga. Dia dilarang orangtuanya ikut Santiago agar tidak ketularan sial. Lebih baik ikut nelayan lain yang banyak menghasilkan ikan. Manolin keras kepala mengikuti dan peduli pada Santiago.
Dia sangat gemati pada laki-laki berumur tanpa keluarga itu, dari menemani ngobrol untuk mengurangi kesepian, menyediakan makanan dan minuman saat lelaki tua itu kekurangan, dan membantu membereskan alat melaut ketika Santiago berangkat atau pulang. Seolah-olah, Santiago ayahnya sendiri. Pun begitu, Santiago juga sangat sayang pada Manolin. Dia selalu mengharapkan kehadiran anak muda itu menemaninya di berbagai situasi, khususnya saat melaut.
Alur novela ini sangat-sangat sederhana. Jika kurangkum dalam satu kalimat: Nelayan tua yang berlayar di laut dalam untuk mencari ikan, namun setelah mendapat ikan besar sepanjang sejarah hidupnya, dia harus menghadapi cobaan makhluk-makhluk lain yang besar. Di akhir cerita, Santiago harus gigit jari karena ikan marlin seberat 1.500 pound, yang rencana akan dijual per pound seharga 30 sen itu habis dimakan predator laut seperti lumba-lumba, hiu, dan pari. Sesampai di gubuk deritanya lagi, hanya kerangka ikan marlinnya saja yang tersisa. Pak tua hancur jiwa-raga, tapi kupikir dia punya kemenangan akan harga dirinya yang berhasil melalui cobaan berat itu.
Di awal-awal pelayaran, perjalanannya santai-santai saja dengan hanya melewati laut yang tenang dan angin sepoi-sepoin. Namun, ketika dia sampai Laut Atlantik yang dalam, dia sendirian dan kelabakan. Apalagi dia sudah tua, bekalnya terbatas hanya sebotol minuman, tanpa makanan. Iya, karena dia tak punya makanan cukup dan sudah bosan makan. Dia hanya memakan ikan-ikan kecill yang ditemuinya di sepanjang perjalanan.
Kemampuan si lelaki tua dalam membaca arah angin, cuaca, bintang, dan situasinya seperti di luar kepala. Bahkan dia juga bisa memahami bahasa para burung-burung dan ikan-ikan secara tidak langsung. Meskipun, dalam perjalannya, tangan kirinya mengalami kram yang menyulitkannya. Selain itu, tangan kanannya juga terluka setelah pertarungan sengit dengan tangkapan ikan marlin raksasa yang cantik, anggun, dan kalem itu.
ANALISIS:
Nyaris, dari halaman pertama sampai terakhir, Hemingway begitu terfokus pada cerita Santiago saja di laut. Tak banyak bagiku penulis yang bisa sefokus ini, karena rata-rata kisah para penulis bercabang, banyak tokoh, dan berantakan. Progresi narasinya seperti reruntuhan puzzle yang diacak-acak, sementara progresi narasi Hemingway lewat tokohnya Santiago ini seperti melihat laut di pinggi pantai: padu, aware, dan berkesan. Aku ingin suatu hari bisa menulis sebaik ini. Setiap unsur sastra yang digunakan Hemingway sangat minimalis: karakter, alur, latar, konflik, hingga narasi interior dan eksterior tokoh.
Laut bagi Santiago adalah surga. Bahkan si lelaki tua menyebut ikan-ikan dan hewan-hewan yang ada di laut sebagai saudaranya. Aku begitu menikmati monolog-monolognya dengan diri sendiri dan linkungan sekitarnya. Santiago juga menganggap laut memiliki karakter feminim. Aku pribadi sangat mengagumi karakter kuat Santiago dalam menghadapi berbagai tantangan laut yang dihadapinya. Aku jadi berpikir, ketika kau yakin berada di jalan hidup yang menjadi panggilanmu, apa pun hambatannya akan bisa kau hadapi dengan penuh ketegaran.
Novela ini pintar sekali fokus pada kondisi laut tak dihalangi imajinasi di luar itu. Sepanjang cerita hanya satu, yakni kisah tanding panco yang dilakukan Santiago saat muda. Atau yang ringan seperti bisbol, legenda DiMaggio, dan harapan misal anak muda yang bernama Manolin itu menemaninya. Sisanya adalah problematika antara Santiago dengan dirinya sendiri, dengan ikan, dengan laut, dengan cuaca, dan kondisi kelaparan serta kepapaannya. Aku juga menyukai bagaimana Hemingway bisa memakai dua POV sekaligus secara bergantian, antara POV orang pertama dan POV orang ketiga. Namun, pembaca masih dibuatnya bisa membedakan antara keduanya. Genius.
Terakhir, aku mengutip kata-kata Hemingway berikut terkait karakternya di The Old Man and The Sea:
"Tidak ada buku bagus yang pernah ditulis yang menggunakan simbol-simbol yang sudah ada sebelumnya dan telah teringat di dalam pikiran. ... Saya mencoba untuk meciptakan lelaki tua yang sesungguhnya, anak laki-laki sesungguhnya, laut yang sesungguhnya, ikan yang sesungguhnya dan hiu yang sesungguhnya. Namun, jika saya telah membuatnya dengan cukup bagus dan sesungguh-sungguhnya, mereka dapat berarti apa saja".
Judul: The Old Man and The Sea | Penulis: Ernest Hemingway | Penerjemah: Deera Army Pramana | Penyunting: Nina Artanti R | Penerbit: Narasi Yogyakarta | Jumlah halaman: 164 | Dimensi: 11,5 x 18,5 cm | Cetakan: 8, 2025
KUTIPAN:
Tokoh, peristiwa, dan lema-lema: Pak Tua, pemuda Manolin, ikan terbang, bonito, albacore, sarden, burung fregat, penyu hijau, penyu sisik, ikan marlin, harpun, lumba-lumba hidung botol, ikan todak, hiu, Virgin of Cobre di Kuba, Santiago El Campeon muda vs negro, pompano dolphin, 1500 pound per pound 30 sen, ikan pedang, dentuso, taji tulang, pari hiu sirip coklat, hiu galanos, Guanabacoa Havana Kuba,
Untuk apa diciptakan burung-burung yang begitu ringkih dan mungil, padahal samudra begitu kejam? (36)
Fatom (atau fathom dalam bahasa Inggris) adalah satuan panjang yang setara dengan 6 kaki atau sekitar 1,8288 meter, yang digunakan khusus untuk mengukur kedalaman air atau panjang tali kapal.
Setiap hari adalah hari yang baru. Memang lebih baik kalau beruntung. Tapi aku lebih suka menjadi tepat. Sehingga saat keberuntungan datang, kau sudah siap. (40)
burung frigate yang megah adalah kleptoparasit, juga dikenal sebagai bajak laut di kerajaan hewan, mencuri makanan dari burung laut lainnya.
Ia senang melihat begitu banyak plankton karena itu berarti ada banyak ikan di perairan itu. (43)
Laut Sargasso adalah region di tengah Samudra Atlantik Utara. Laut Sargasso dikelilingi oleh arus air laut.
1 yard = 0,914 meter
Racun agua mala (ubur-ubur beracun) dari bangkai kapal perang Portugis di laut.
Karapaks atau Karapas adalah bagian dorsal dari cangkang atau eksoskeleton dari berbagai kelompok hewan, termasuk artropoda seperti krustasea dan arachnida, dan vertebrata seperti kura-kura dan penyu.
Nilai jual mereka juga sangat besar, meskipun jujur saja, ia memiliki rasa jijik dengan makhluk dungu besar itu. Menurutnya cara mereka kawin sangat aneh. Dan mengherankan juga bagaimana mereka bisa memakan kapal perang Portugis dengan mata tertutup namun tampak sangat riang. (45)
Sebagian orang tak merasa kasihan pada penyu karena jantung penyu masih akan berdetak selama berjam-jam setelah disembelih dan dijagal. (45)
Sebenarnya rasanya tak lebih buruk dari bangun tidur dengan terpaksa. (46)
Ingatlah, tak peduli seberapa kecil minatmu, kau harus sarapan di pagi hari. Ingatlah. (60)
Ia mencaplok umpan seperti pejantan dan menarik seperti pejantan dan perlawanannya tak mengandung kepanikan. Aku penasaran apakah ia punya rencana atau apa ia hanya putus asa sepertiku? (61)
Kekang adalah alat mendasar yang digunakan untuk mengendalikan dan berkomunikasi dengan kuda saat berkuda.
"Mungkin aku seharusnya tak menjadi seorang nelayan," pikirnya. "Tapi itulah tujuan hidupku, untuk itulah aku dilahirkan. Aku benar-benar harus ingat untuk makan tunanya setelah hari terang." (63)
"Ikan," katanya lembut, dengan keras, "Aku akan tetap bersamamu hingga aku mati."
Ia memandang langit dan melihat kumulus putih meninggi seperti tumpukan es krim yang bersahabat dan tinggi di atasnya adalah bulu-bulu tipis awan cirrus pada langit bulan September. (77)
Tapi, terima kasih Tuhan, hewan ini tak sepintar manusia, meskipun mereka memiliki kekuatan yang lebih. (80)
Tangan kirinya masih sekencang cakar elang yang mencengkeram. (80)
Seolah-olah samudra tengah bercinta dengan sesuatu di bawah selimut kuning. (92)
Bulan dan matahari juga tidur dan bahkan lautan pun terkadang tidur di hari-hari tertentu saat tak ada arus. Saat itu lautan begitu tenang. (99)
Rasa sakit bukanlah masalah untuk seorang laki-laki sepertiku. (108)
Seorang lelaki tak pernah tersesat di laut dan di laut adalah pulau yang panjang. (114)
Tetap tenang dan kuatlah lelaki tua. (116)
"Kau benar-benar menyiksaku, oh ikan," pikir si lelaki tua. Tapi kau punya hak untuk itu. Belum pernah aku melihat makhluk yang lebih agung, lebih cantik, lebih tenang, atau lebih mulia darimu, saudaraku. Kemari dan bunuhlah aku. Aku tak peduli siapa yang membunuh siapa di ujung cerita ini. (119)
"Kau harus menjaga agar kepalamu tetap jernih. Jaga kepalamu tetap jernih dan hadapi penderitaan ini layaknya seorang lelaki. Atau seekor ikan," pikirnya. (119)
Sirip punggungnya memisau air tanpa gentar. (129) Sirip punggung birunya mengiris air. (130)
Aku benar-benar ingin membelinya jika ada tempat yang menjual keberuntungan. (150)
"Aku tak ingin bertarung lagi, dan kuharap aku tak harus melakukannya," pikirnya. "Aku sangat berharap tak harus bertarung lagi." (152)
Kau tidak membunuh ikan hanya agar tetap hidup dan untuk menjual makanan, pikirnya. Kau membunuhnya untuk harga dirimu, dan karena kau adalah nelayan. Kau mencintainya saat ia hidup dan kau mencintainya sesudahnya. (135)
Ia hanya menyadari betapa ringan dan baiknya sampan itu berlayar setelah tak ada lagi beban yang sangat berat di sampingnya. (154)
Ia sadar betapa menyenangkannya memiliki seseorang untuk diajak bicara alih-alih berkata pada diri sendiri dan pada laut. (160)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar