Minggu, 16 Juni 2024

Sembuhkan dengan Yoga

Kemarin pas ke Glodok, aku nemu artikel bagus judulnya "Sembuhkanlah dengan Yoga". Beberapa inti yang bisa kucatat dari pesan, yaitu: 

-Ada empat kunci menuju hidup sehat: makanan yang baik, tidur dan latihan teratur, serta menjaga badan supaya bersih selalu. (Shree Swami Yoganand Puri)

-Sebaiknya menjadi vegetarian. Jangan khawatir tubuh menjadi lemah karena tidak makan daging, banteng dan gajah yang tidak makan daging tetap kuat meski mereka tak makan daging.

-Tidur lelap: Keadaan tanpa badan, tanpa aku, dan keadaan tanpa waktu.

-Bagaimana yoga menyembuhkan? "Tergantung ketekunan".

-Berlebihan dalam segala hal menunjukkan ada sesuatu yang "tak beres" dalam "aku".

Kata-kata manis pula:

"Jika pencarian Anda terhadap seorang guru sejati cukup kuat dan tulus, Anda pasti akan menemukannya."

Rabu, 12 Juni 2024

Renungan IVS #1

🌷Kenyataannya:
9 dari 10 energi kehidupan kita di habiskan untuk berusaha membuat orang lain berpikir tentang kita yang bukan diri kita sebenarnya.
🌷Alangkah baiknya bila energi itu  kita gunakan untuk menjadi apa yang kita inginkan.

🌷Jiwa suci Swami Vivekananda🌷

***

Jika anda memikirkan Tuhan siang dan malam, anda akan memperoleh kualitas-Nya (misal : welas asih, bijaksana, kebahagiaan, kedamaian etc).

- Jiwa Suci Rama K Paramhansa

***

🌷 Jangan pernah lupa untuk selalu Ber Dzikir ( memanggil Nama Tuhan YME) walaupun pikiran  sedang tidak stabil.

🌷Tetap dan terus melakukannya dan engkau akan merasakan pikiranmu akan menjadi lebih stabil.

🌷setiap adanya keinginan duniawi, akan membuat pikiran tidak stabil, begitu juga setiap hembusan angin akan menggoyang kan  pelita api.

🌷 Maka Janganlah engkau membuat kusut pikiran dengan banyak pertanyaan .

Kenyataanya: Seseorang merasa susah melakukan pembina diri. Tetapi berani mengundang begitu banyak gangguan dengan mengisi pikiran dengan segala  macam hal.

🌷Bila engkau tidak menjalankan pembinaan diri.
janganlah engkau pernah  bertanya " kenapa engkau tidak berkembang di dalam rohani?

Jiwa suci Sarada Devi Ma

***

🌸Nafsu Keinginan kita dimulai sejak lahir.🌸

Kita terus menginginkan sesuatu sepanjang hidup kita. Tapi Anda perlu belajar memberi. Anda tidak perlu belajar apa pun untuk bisa meminta-minta sesuatu.

🌿Setiap orang belajar meminta (sesuatu) sejak kecil. (Akhirnya) Lahirlah orang-orang hebat yang mengajarkan seni memberi.

🌷Kita menginginkan cinta tetapi kita tidak mau memberikan cinta.

🌺Saya menginginkan uang, tetapi saya tidak mau memberikan uang (bersedekah).

🌸Saya ingin penghargaan, tetapi saya tidak mau memberi penghargaan (kepada orang lain).

💎Tapi kalau anda tidak pernah memberi, maka artinya tidak akan pernah ada.

- Shri Shri Bhagavan

***

Ini akan menjadi sebuah pelajaran (besar) ketika seorang pencari Tuhan memahami bahwa ia memiliki kelemahan dalam pikirannya dan mencoba untuk memperbaikinya. Pada saat itu, Tuhan menjadi penuh berkah dan membukakan pintu (pencerahan) untuknya.

— Jiwa Suci Ibu Sarada Devi

***

Bagaimana Memperkuat Kekuatan Tekad ?

🌷Latihan Pengendalian Diri🌷

“Sebuah kereta dengan empat ekor kuda dapat berlari menuruni bukit tanpa terkendali, atau bisa saja kusir dapat mengekang kuda-kuda tersebut.

🌷 Manakah perwujudan kekuatan yang lebih besar, membiarkan mereka pergi atau mengendalikannya?

Semua energi yang keluar karena motif egoisme akan terbuang sia-sia; namun jika dikendalikan, hal ini akan menghasilkan pengembangan kekuatan.

🌷 Pengendalian diri ini menghasilkan kemauan yang kuat, sehingga membentuk sebuah karakter yang menjadikan se seorang tercerahkan

Jiwa suci- Swami Vivekananda

***

🌷Kita harus bertanggung jawab dengan apa yang ada dengan keadaan kita sekarang ini dan apa yang kita  inginkan di masa akan datang.

🌷 Kita memiliki kekuatan untuk itu.

🌷Jika apa yang ada pada kita adalah hasil dari perbuatan kita yang sebelumnya.

🌷maka apapun yang kita inginkan bisa tercipta di masa depan dengan tindak kan kita sekarang ini.

🌷Maka kita haruslah tahu bagaimana bertindak bijaksana

— Jiwa Suci Swami Vivekananda

***

🌷🌸🌷
Banyak kali kita berdoa:
Ya Tuhan, aku memohon kepada Mu untuk menerima aku apa adanya, aku menyerahkan diri kepada Mu, Tuhan.
Demikianlah kita menyerah kan diri kepada Tuhan YME. Namun, berikutnya kita mendapatkan diri kita berdoa untuk pemenuhan keinginan duniawi kita.

🌸🌷🌸
Di karenakan pikiran kita yang memutar balik kan fakta, kita mencari kesalahan orang lain. Mengapa saya harus mencari kesalahan orang lain?
Seharusnya,  pikiran ini di gunakan untuk menganalisa & menemukan kesalahan pada diri saya sendiri.

🌸🌷🌸
Berpikir buruk tentang orang lain adalah tindak kan yang paling tidak saleh
Jika kamu harus berpikir, pikirkanlah Tuhan YME


Jiwa suci Sri Sri Bhagavan

***

🌸🌸🌸

🌸Jangan engkau menyelam terlalu dalam di urusan2 duniawi.

🌸Karena semakin engkau menyelam, semakin besar penderita an mu.

🌸Minyak i tangan mu ketika engkau memegang nangka. 🌸Demikian juga, tetaplah sadar ketika menjalani kewajiban duniawi mu.

🌸🌷🌸🌷🌸

🌸Dunia ini bukanlah tempat yang menyenangkan Rasa menyenangkan hanya sementara, terkadang memberi kesenangan dan pada saat yang lain menyakitkan.

"Oh Jiwa ..., mari kembali kepada Tuhan"

Jiwa suci Sri Sri Bhagavan

***

🌷Selama kita masih jauh dari pasar, kita hanya bisa mendengar suara-suara yang samar samar. Tetapi ketika kita mendekati pasar tersebut: maka suara-suara menjadi  semakin jelas.
🌷Kita bisa melihat ada yang sedang menawar , ada yang sedang membeli dll.

🌷Demikian  juga dengan seseorang, ia tidak akan merelisasi  Tuhan,  bila ia terlalu jauh dari Nya.

Jiwa Suci Rama K

***

🌷Setiap jiwa ditakdirkan untuk menjadi sempurna, dan setiap makhluk, pada akhirnya, akan mencapai kesempurnaan.

🌷Apapun keadaan kita saat ini adalah hasil perbuatan dan pikiran kita di masa lalu; dan apa pun keadaan kita di masa depan adalah hasil dari apa yang kita pikirkan dan lakukan saat ini.

🌷Namun hal ini, dalam menentukan nasib kita sendiri, tidak menghalangi kita untuk menerima bantuan dari luar; sebagian besar bantuan seperti itu mutlak diperlukan.

🌷 Ketika hal itu terjadi, kekuatan dan perkembangan jiwa yang lebih tinggi dipercepat, kehidupan spiritual dibangkitkan, dan manusia pada akhirnya menjadi murni dan sempurna.

🌷Dorongan yang mempercepat ini tidak dapat diperoleh dari buku.
🌷Jiwa hanya dapat menerima impuls dari jiwa lain.

🌷Kita mungkin mempelajari buku sepanjang hidup kita, kita mungkin menjadi sangat intelektual, namun pada akhirnya yang kita dapati adalah kita belum berkembang sama sekali secara rohani.

🌷Tidaklah benar bahwa perkembangan intelektual yang tinggi selalu berjalan seiring dengan perkembangan sisi spiritual manusia secara proporsional.

🌷 Dari dalam mempelajari buku-buku kita kadang-kadang tertipu dengan berpikir bahwa dengan membaca buku kita sudah terbantu secara rohani; Namun jika kita menganalisis pengaruh mempelajari buku terhadap diri kita sendiri, kita akan menemukan bahwa hanyalah intelek kita yang memperoleh manfaat dari pembelajaran tersebut, dan bukan batin kita.

🌷Ini adalah Kekurangan belajar dari buku-buku di dalam  pertumbuhan spiritual.

🌷 Meskipun hampir setiap orang dari kita dapat berbicara dengan sangat baik mengenai hal-hal spiritual, namun ketika menyangkut tindakan dan menjalani kehidupan spiritual yang sesungguhnya, kita mendapati diri kita sangat kekurangan.

🌷Untuk menggerakan semangat, dorongan itu harus datang dari jiwa yang lain.

— Jiwa suci 🌷Swami Vivekananda

***

🌷Ya...Memang sangat sulit melakukan latihan rohani- membina  diri  ketika hidup di dunia. Saya tidak perlu sebut semua halangan & hambatan nya , seperti: Sakit, duka, miskin ...
Tidak akur dengan pasangan hidup, anak yang tidak patuh & keras kepala, dll.

🌷Akan tetapi masih ada jalannya : se- sekali, menyendirilah dan berdoalah kepada NYA, berusahalah dengan sungguh sungguh untuk mencapai NYA

🌷Apakah kita harus meninggalkan rumah?  

🌷Hanya sementara, bila ada kesempatan, cobalah untuk bertapa satu atau dua hari.

🌷Tujuaannya adalah memutuskan semua kemelekatan dengan manusia yang duniawi beserta ucapan kata2 dari mereka  yang tidak ada gunanya

Jiwa suci Sri Rama K

***

🌷Manusia yang hanya memikirkan duniawi itu ibarat kursi sofa yang memiliki  PEER SPRING pegas .
🌷Selagi di duduki :  bantalan pegas sofa itu akan tertekan kedalam.

🌷Akan tetapi: Seketika kursi sofa tidak di duduki lagi,  maka spring pegas sofa  segera kembali mengembang ke bentuk aslinya.

🌷Demikian pula keimanan akan dirasakan oleh manusia yang berpikiran duniawi,  ketika berada bersama orang-orang baik dan suci.

🌷Tetapi Keimanan nya hilang se ketika dia meninggalkan kebersamaan nya dengan  orang-orang baik & Suci. 🌷  Dan Seketika itu juga pikirannya kembali menjadi tidak murni seperti sebelumnya.

Jiwa Suci SRI Rama K

***

Sekedar cerita : dulu sekali saya sangat menyukai buku2 spiritual dalam sebulan setidaknya 2 buku, juga gemar cari info di google membaca artikel2 spiritual, setelah ada ytube beralih mendengar hal2 spiritual (tapi tidak pernah menjadi spiritual), setelah secara pribadi mengamati perkembangan spiritual hanya bisa di dapat dari praktek/latihan/laku.
Laku Ruhani/spiritual memang akan membuat pelakunya jenuh, malas dll. Karena dampaknya sangat halus nyaris tidak bisa dirasakan secara langsung, hanya dengan ketekunan dan pengamatan diri sendiri kita akan dapat merasakan adanya perkembangan spiritual.

Dulu emosional sekarang lebih sabar
Dulu sering merasa khawatir sekarang tenang, juga perasaan takut menghilang.
Rasa cinta kasih/welas asih muncul dengan sendirinya.

(Pak Sutarman)

Senin, 03 Juni 2024

Berdiri di Antara Dua Kaki, Refleksi dari Sajogyo Institute

Hari Sabtu kemarin, KRL sangat penuh, dari Stasiun Juanda ke Stasiun Bogor nyaris seperti pepes. Aku berdiri dekat pintu, setiap pemberhentian stastiun, orang keluar masuk tak dapat tempat duduk, tapi setidaknya bisa mendapat tempat berdiri. Di antara perjalanan itu pula, aku masih menyempatkan diri untuk rapat mingguan project bareng Nial terkait evaluasi RAN PE oleh BNPT dan UN Women. Tahap proyek ini akan berada di tahap FGD bersama Pokja dan K/L terkait lainnya.

Sesaimpainya di Stasiun, sepertinya ini memang weekend paling padatku selama berkunjung ke Bogor. Aku berniat datang ke acara diskusi bertajuk "Nusantara Bergerak: Ekologi dan Pembangunan" yang diadakan di Ruang Sidang PSP3 Kampus IPB Baranangsiang, Kota Bogor. Untungnya, tempatnya bukan di IPB yang jauh di sana, tapi IPB yang dekat stasiun Bogor. Diskusi ini mendatangkan narasumber:

1. Azhar Ibrahim Alwee (National University of Singapore) dengan materi "Ecological Society: Insights from Sajogyo and Murray Bookchin"

2. Shakila Zen (Persatuan Aktivis Sahabat Alam/KUASA Malaysia) dengan materi "Reading Vedanta for Our Own Environment"

3. Roy Murtadho (Pesantren Ekologis Misykat al-Anwar Indonesia) dengan materi "Environmental Damage: Islamic Perspectives and Ecosocialism"

4. Shela Herlita (Sajogyo Institute Indonesia) dengan materi "Gendered Participatory Action Research: Establishment of Customary Women Institution for Coastal and Fishery Management in Aru Archipelago District"


Saat itu diskusi dipandu oleh Mas Eko Cahyono dari Sajogyo Institute (Sains), aku telat datang karena melewatkan materi dari Pak Azhar. Namun, ketiga materi lainnya sangat menarik, apalagi dari Mbak Shakila dari Malaysia dengan logatnya yang kental. Berbagai pemikiran dijelaskan, aku telah merangkumnya dalam catatan terpisah, tapi di tulisan ini, aku ingin bercerita yang lebih ke sifatnya refleksi personal, bukan materi diskusi.

Setelah diskusi tersebut dan diskusi mahasiswa-mahasiswanya Mas Shohib terkait "Ekspose Hasil Riset Ko-kreasi Mahasiswa di Nanggung", Bogor hujan deras Magrib itu. Diskusi selesai, aku duduk di luar, di pertemuan ini, aku tak menyangka pula bertemu dengan kawan lama, Habib dari Teater Eska yang sekarang bergiat di Sains, dan tambahan dia sudah menikah tahun 2023 lalu, istrinya orang Sains juga dan sekarang kuliah di Korea Selatan.


Sore itu, aku berkesempatan bertemu dengan Gus Roy Murtadho lagi bersama istri dan anak perempuan paling kecil beliau, Aisha. Aku sebenarnya di beberapa kesempatan bertemu dengan Gus Roy, tapi sungkan menyapa takut beliau sudah lupa denganku. Namun, Magrib itu, keraguanku terpatahkan, Gus Roy masih mengingatku dan malah mengajakku untuk main dan menginap di Pesantren Ekologi Misykat Al-Anwar  milik beliau. "Oh, Mbak Isma, saya kira siapa, IPB bukan, Sains bukan, oh iya, Islam Bergerak."

Gus Roy bercerita tentang aktivitasnya sekarang, jadi pengurus di Partai Hijau Indonesia (PHI) dan meninggalkan semua kelompok-kelompok gerakan yang dia ikuti sebelumnya, salah satunya Islam Bergerak yang beliau dirikan dulu. Entah kenapa, aku berkaca-kaca menulis ini, aku seperti terbawa pada suasana gerakan dan perjuangan yang tak mudah seperti yang dialami oleh Gus Roy, juga yang dialami teman-temanku yang lain di Islam Bergerak: Mbak Rizki, Mas Azka, Mbak Ella, dkk. Jalan yang terjal.

Ketika Gus Roy dan keluarganya akan pulang, beliau mengajakku ke Misykat, tapi aku ingat masih ada deadline RAN PE sama Nial dan tes PVA EF, dan aku meminta maaf untuk lain kali. Lalu, Habib mengajakku ke basecamp Sains di Jl. Malabar 22 Bogor, naik mobil bareng orang-orang Sains yang lain. Bangunan Sains sangat sederhana dan teduh, di depannya ada warung kopi juga.

Di sana aku ketemu Mas Eko Cahyono yang sedang ngobrol dalam lingkaran meja segi empat bersama dengan Mbak Shakila, suami Mbak Shakila (Mas Wan Khuzairey), Mas Ahalla Tsuro, Habib, dan aku sendiri. Yang menarik perhatianku adalah cerita Mas Eko. Begini cerita beliau yang kutangkap:

Dulunya, Mas Eko lulusan UIN Jogja juga Tafsir Hadir, dia sempat ngajar di universitas Kristen begitu sampai jadi wakil rektor apa ya (atau wakil apa gitu, aku lupa), jadi dia ngajar perbandingan Islam dan Nasrani dalam kitab-kitab. Ketika teman-temannya berkumpul, cerita mereka heroik-heroik, seperti ikut pembebasan lahan dlsb, dia juga mencoba mengangkat kisah pribadinya dengan heroik: "memberi kejelasan Islam" pada tempat kerjanya, haha. 

Namun, ketika dia bekerja di sana, dia tak menemukan sesuatu yang dia cari, dia merasa ada sesuatu yang kurang. Istrinya pun mengamati itu, istrinya mendukung apa pun keputusan Mas Eko asalkan suaminya bahagia. Suatu hari, kegelisahan itu terjawab, saat dia bertemu dengan teori-teori dari Pak Sajogyo. Awalnya dia bertanya-tanya, siapa ini Pak Sajogyo? Dia pun mendalaminya, dan teori membumi dan merakyat Pak Sajogyo adalah yang dia cari.

Akhirnya dia memutuskan untuk bertemu Pak Sajogyo dan berniat menjadi muridnya. Setiap malam sekitar pukul 10-12 malam, Pak Sajogyo mendermakan waktunya di ruang depan kantor Sains, dan orang-orang yang bertanya-tanya tentang apa saja boleh bertanya kepada beliau. Mas Eko tertarik dengan gagasan Pak Sajogyo terkait pertanyaan, akademisi seperti apa sih yang kita butuhkan di tengah kondisi masyarakat kita yang penuh dengan kemiskinan struktural seperti ini? Dia menjawab akademisi yang berjalan dengan dua kaki, satu kaki dia seorang akademisi yang paham bagaimana metode penelitian dan cara menulis yang baik; di satu kaki yang lain berbaur dengan problema masyarakat marjinal, terpinggirkan, dan teraniaya sehari-hari. Konsep yang hebat sih ini.

Mas Eko kemudian memilih untuk ke Pak Sajogyo dan meninggalkan pekerjaan sebelumnya yang boleh dikatakan cukup mapan. Pak Sajogyo kemudian bertanya, "Kamu mau cari apa di Sains ini? Ini lembaga kere, gak bisa kasi kamu apa-apa." Mas Eko hanya yakin di situ tempatnya, dia pun memilih pindah dari tempat asalnya ke Bogor, berguru pada Pak Sajogyo, juga dengan dukungan penuh dari istrinya, dia bertumbuh. Mas Eko bercita-cita menjadi akademisi yang berjalan di antara dua kaki. 

Dia juga pernah mengkritik Martin Suryajaya terkait buku "Kiat Sukses Hancur Lebur" sebagai sastra yang diperuntukkan untuk dirinya sendiri, sastra yang egois, dan tidak menggambarkan realitas masyarakat Indonesia keseharian yang masih dipenuhi dengan kemiskinan dan kebodohan struktural. Mas Eko bertanya, sebenarnya kita butuh akademisi, seniman, sastrawan, atau profesi lain yang seperti apa sih untuk menjembatani antara kondisi kerakyatan sekarang dengan basic profesi yang kita punya? Jawabannya berdiri di antara dua kaki tadi.

Akademisi yang gak sibuk riset untuk Scopus dan dirinya sendiri, akademisi yang bisa menjawab kebutuhan-kebutuhan jutaan orang miskin, kemiskinan adalah adalah realita

Ya, aku telah mencatat hal fundamental ini, entah bagaimana nanti implementasinya, aku akan berusaha.

Ini juga sebenarnya yang dilakukan oleh Bapak Hariadi Kartodihardjo (HK) guru besar Sosiologi Pedesaan, yang kabar kematian beliau kudengar esok hari usai berkunjung ke Sains untuk pertama kalinya. Ya, perjuangan masih panjang, masih sangat panjang....

Minggu, 02 Juni 2024

Terima Kasih EF, Aku Lulus C1/C2, Yeee!

Refleksi: Tadi pagi jam 9 aku ikut Personal Verbal Assesment (PVA), semacam ujian kenaikan level bahasa di EF. Ini stage PVA terakhirku dari A1 (beginner) ke C1/C2 (Advanced/Upper Advanced). Pengujinya kalau gak orang UK ya US, namanya Pak David. PVA kali ini beda juga dengan PVA lain, di mana penguji kasi pertanyaan terus aku jawab. Dia memintaku memulai diskusi apa pun dengan tema yang aku pilih sendiri. Aku langsung deg, ngomong apa ya? Karena akhir-akhir ini belajar spiritualitas, ya sudah, aku mulai dari sana. Aku jelasin spiritualitas yang beda dengan agama, dan balasan Pak David sebagaimana stigma masyarakat Barat yang sekuler, dia seperti tak tertarik dengan isu ini. Dia nganggap tema terkait agama dan spiritualitas itu egois, dia juga ngaku bukan orang yang taat beragama.

Jawaban dia membuatku langsung keder lagi, tapi ada pertanyaan lain yang kayaknya ngetuk hati dia, pas dia tanya: "Kenapa dalam spiritualitas kamu membutuhkan orang lain?" Aku jawab sebagaimana kata seorang guru, spiritualitas datang dari jiwa ke jiwa, hati ke hati, tak bisa tanpa orang lain, dan tak bisa hanya dari buku dan nonton Youtube. Dia juga tanya terkait orang-orang yang di jalan kaitannya sama agama, aku jawab itu bukan cuma urusan agama, tapi juga problem ekonomi-politik struktural (anjas). Terus di akhir sesi dia kasi komentar yang intinya, dia terbuka dengan tema apa pun, dan dia senang aku bisa berargumen tidak sepakat dengan dia.

Beginner


Elementary
Intermediate

Upper-Intermediate

Advanced/Upper-advanced

Hampir 20 bulan sudah aku ngikuti kursus di EF, ngadepi macet Jakarta tiap pulang kerja, dan ini puncak prestasi yang sudah kudapatkan. Kupikir dulu level basa Inggrisku sudah di tahap "lumayan", tapi pas dites EF, baru di beginner (A1), wkwk, what's the heaven sake. Sebab aku tahu ikut kursus ini berarti tiap bulan juga aku perlu saving banyak, aku serius dan bikin program sebelum kontrakku habis, aku harus sampai di level tertinggi. Dan doa itu dijabah sekarang. Alhamdulillah Ya Allah. Dan sebagai catatan, "pass" ini bukan tertinggi, ada yang lebih tinggi lagi, "strong pass". Aku sadar, grammar dan fluency-ku in speaking belum semaju itu, tapi aku sudah komitmen akan belajar bahasa sampai nanti, sampai mati, karena skill terbaikku hanyalah belajar. Yee, thank you Isma, you did!

Makasi juga Ci Desy Amelia, aku senang dan bahagia belajar di EF 🌷🌷🌷

Jumat, 31 Mei 2024

Doa

Ya Allah, aku mengikuti kebajikan Mukti, jika siapa pun datang kepadaku meminta pertolongan, aku janji akan menolongnya. Entah itu ilmu, materi, spiritualitas, tenaga, cinta, welas asih, apa pun. Aku akan berusaha menjadi berkah bagi orang lain. Aku sehat selalu, aku akan hidup lebih berkelimpahan. Hal-hal duniawi tak mampu mengusikku, hanya Allah tempat bersandarku, manusia mana pun dan kejadian apa pun tak mampu menyakitiku. Aku merdeka, aku sempurna. Ya Allah, beri aku ketegasan terhadap hal-hal yang menurunkan nilai kemanusiaanku, beri aku kekuatan untuk berkata tidak pada hal-hal yang merugikanku. Aku akan menjadi cahaya dalam gelap. Aku akan memperbanyak kerja baktiku pada sesama umat. Aku janji, dan tolong ingatkan aku selalu akan hal ini Ya Allah, aamiin.

Selasa, 28 Mei 2024

Catatan Film #14: How to Make Billions Before Grandma Dies (2024)

How to Make Billions Before Grandma Dies

Sebelum aku pulang ke Cepu dan mengajak keluargaku wisata ke Tuban, malam sebelum keberangkatan di esok harinya, aku menyempatkan diri untuk menonton film "How to Make Billions Before Grandma Dies" di Gajah Mada Plaza, Kamis, 22 Mei 2024. Nonton sekitar pukul jam 9 sampai 11 malam. Setelah beli barang-barang DIY berupa jam dinding, bantal untuk perjalanan, dan minum teh Tongji di foodcourt.

Film ini memang sedih, realistis, dan kata orang-orang "gak lebai", gak ada yang dilebih-lebihkan. Semua sesuai porsinya. Film ini diawali dengan pemandangan dan adegan ziarah di makam leluhur, si nenek panggil Ma atau Amah (Usha Seamkhum), dan si cucu panggil M (Putthipong Assaratanakul), awalnya serupa air dan minyak, susah mendekatkan keduanya. Namun, ketika Ma dikabarkan menderita kanker stadium empat, tiga anak-anak Ma berubah, termasuk M cucunya.

Konflik awalnya adalah soal warisan rumah Ma yang tua, yang terletak di sebuah kota lama di Thailand. Ma sakit kanker usus karena sering makan makanan kadaluarsa di kulkas, karena dia tak mau membuang makanan. Pekerjaan Ma tiap bagi bikin conge apa ya, aku lupa, semacam panganan tradisional khas Thailand gitu di dekat pasar. Tiga anak Ma kondisinya berbeda-beda, ada yang kaya raya, ada yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri, ada pula ibu M yang bekerja sebagai pegawai toko.

Setelah dinyatakan menderita kanker usus, anak-anak Ma berbuat baik, tapi yang paling berinisiatif adalah M, cucu Ma. Awalnya, motif dia merawat Ma adalah untuk menjual rumah Ma sehingga bisa mengganti komputer rumah yang udah out of the date dan lemot mesti di-upgrade, apalagi M bercita-cita jadi seorang gamers. 

Namun, seiring berkembangnya karakter, M benar-benar merawat Ma dengan sepenuh hatinya. Salah satunya karena terinspirasi oleh Mui (Tontawan Tantivejakul) yang merawat seorang kakek ketika sakit hingga si kakek meninggal dan diwarisi rumah si kakek. Mui memberi tahu M, bagaimana merawat orang tua, apa yang kamu cium dari mereka, apa perbedaannya, bagaimana tahu kamu berada menjadi nomor satu di hati mereka? M terus mempelajari itu.

Hingga penyakit itu semakin mengeroposi usia Ma, hingga menjelang akhir kematian Ma, rumah ternyata diwariskan pada anak laki-laki Ma yang tak bisa mengurus diri sendiri, yang hidupnya serabutan, banyak utang, dan harus berjuang keras mengembalikan hidup stabilnya lagi. Anak laki-laki Ma yang kaya raya kecewa, mengancam tak akan datang lagi ke rumah Ma karena tak dapat warisan. Ma sempat ditempatkan di panti asuhan, tapi kondisinya semakin memburuk. 

M dipenuhi kesedihan yang sama, M dan ibunya akhirnya membawa Ma pulang dan merawat Ma di rumah. Dia pun pada akhirnya meninggal. Plot twist-nya, Ma menyimpan deposit di bank dari Ma senilai jutaan untuk diwariskan pada M cucunya. M pun menangis, dan Mui juga memberi tahu jika M sudah menjadi yang nomor satu di hati Ma.

Film yang disutradarai oleh Pat Boonnitipat ini memang genre keluarga yang sedih, yang bisa bikin nangis karena dialami oleh banyak orang, dan menyentuh perasaan. Orang Indonesia sebenarnya kaya dengan cerita-cerita seperti ini dan bisa membuat yang lebih dari ini. Dari review-review juga yang kubaca, film ini ngajari kita soal literasi keuangan juga. Aku sempat terkecoh kalau miliaran uang yang didapat M dari menang lotre, yang didoakan M pas ke kuil sama Amah dan anak-anaknya, ternyata tidak, dari deposito Ma yang dia tabung sejak lama.

Kamis, 23 Mei 2024

Shadana by Shraddha Ma

Aku ingin menggandakan ulang kajian welas asih dari Shraddha Ma, berikut tulisan beliau:

💛Salam kasih & Damai Tadi malam:  Shraddha Ma membahas sedikit mengenai:

SHADANA  yaitu
latihan-latihan Spiritual & disiplin diri di dalam Pembinaan diri, yang perlu di terapkan setiap hari agar bisa merelisasi Tuhan💛

1. Bermeditasi
2. Membaca kitab suci/Alquran
3. Jagalah kesehatan
4. Hindari penyalahgunaan
5. Memikirkan  sesama
6. Jujur, berpegang kepada Kebenaran Sejati dan bisa dipercaya
7. Membuka hati, menerima semua dengan kasih
8. Percaya kepada Tuhan
9. Membina diri agar menjadi sempurna
10. Menghilangkan ego spiritual
11. Mengucapkan nama Tuhan