Sabtu, 11 Juli 2026

Belajar Menulis Kritik Sastra Bareng Mbak Katrin Bandel

Hari ini aku belajar dari diskusi buku "Seks, Teks, dan Konteks" bersama Mbak Katrin Bandel dan dimoderatori oleh Bageur di Post Santa, Sabtu, 11 Juli 2026:

1. Rasa yang menimbulkan emosi padha diri kita ternyata bisa diselidiki sedemikian rupa lewat pembacaan yang mendalam, untuk menemukan jawaban, lalu dituangkan ke dalam karya. Metode ini yang digunakan Mbak Katrin dalam menulis kritik sastra yang digelutinya lebih dari 20 tahun. Berawal dari undangan di berbagai forum sastra, dia diminta untuk menanggapi buku/tulisan sastra tertentu, dan dicari apa yang menggelisahkannya secara pribadi untuk ditulis jadi bahasan yang utuh. 

2. Buku-buku sastra yang dirayakan macam Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dee Lestari, mengandung nilai-nilai implisit yang bisa dikritik setelah menginvestigasi apa yang mengganjal dari buku itu. Misal soal spiritualitas yang otoriter dalam "Supernova" (Dee), seksualitas bebas dalam novel "Saman" (Ayu) dan cerpen "Menyusu Ayah" (Djenar). 

3. Kompas moral memang penting, tapi jangan lupakan konteks di mana moral itu diterapkan. Mbak Katrin mencontohkan sebuah cerpen tentang buruh migran yang sedang berlibur di pantai sebuah negeri jauh. Kemudian dia melihat pasangan LGBT di sana dan merasakan pergolakan batin yang membuatnya menolak itu. Kita tidak boleh serta merta mengatakan buruh migran ini homofobik karena pandangannya, tapi juga lihat konteks lebih dalam kenapa dia seperti itu. Apa latar belakang dll-nya. Imposible to be politically correct everywhere, tapi soal keberpihakan, kamu yang nentuin nilai itu. 

4. Mbak Katrin membaca buku-buku yang menjawab kegelisahan, sehingga buku itu bisa dinikmati. Dia tidak membaca per se hanya untuk "menambah informasi". Aku jadi refleksi, kebiasaan hoarding bacaan yang gak sesuai dengan kegelisahan atau hubungannya dengan pengalaman pribadi itu memang sulit untuk dihabiskan bukunya, aku ngrasain sendiri. 

5. Sebagai penulis, belajar untuk rendah hati. Maksudnya, gak semua hal bisa bisa kamu tulis, kesempurnaan dalam tulisan itu utopia. Tulis yang menjadi bagianmu, dan biarkan penulis lain yang menulis bagian-bagian mereka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar