Minggu, 20 April 2014

Kegelisahan Saya Tentang Tulisan-tulisan Saya

Kemarin dan kemarinnya lagi ada dua peristiwa yang berarti bagi hidup saya. Saya menerima kritikan yang dalam bahasa AS Laksana “menghantam kepala” saya tentang tulisan-tulisan yang saya tulis. Saya sendiri juga merasa tulisan saya masih jelek, serampangan, subjektif, cethek, miskin wacana, dan saya tak PD dengan tulisan saya sendiri.

Saya mengucapkan terima kasih banyak atas pencerahan-pencerahannya. Terima kasih telah melecut saya. Terima kasih juga buat FM. Kita berbicara banyak tentang buku, tulisan, sejarah, dan kritik-kritik. Saya merasa, saya masih bodoh sekali. Sastra ini tak tahu, buku itu tak pernah dengar, penulis ini tak kenal, wacana itu tak ngerti, masih plongah plongoh. Saya tidak berharap kamu membaca ini F, karena tulisan ini juga masih tergolong “lugu” (mungkin juga saya ini penulis terlugu di dunia ini).

Terima kasih untuk rujukan-rujukan kamu F:  AS Laksana, Linda Christanty, Seno Gumira Ajidarma, Raudal Tanjung Banua, Leo Tolstoy, John steinbeck (Dataran Tortilla), Edgar Allan Poe, Rabindranath Tagore, Orhan Pamuk, Paulo Coelho, Leila S Chudori (Pulang), Agustinus Wibowo dll.
                                                               
Dari sini saya belajar, bakat bagi saya adalah ketika ‘karya dari bakatmu’ dihina, dikritik, dihujat habis-habisan, kamu masih tetap maju, bangkit, dan bersemangat membangunnya lagi.

is

Kamis, 10 April 2014

Cuap-cuap Pemilu 2014

9 April, yap, hari ini tuh jadwalnya ‘nyoblos’.

Sedikit cerita, kemarin pas tutorial matematika dasar II di MP-01, asdosnya, Mbak Apri.. ngasi pencerahan gitu tentang pemilu. Sebelumnya juga, aku sama kelompok 5 cm Kewarganegaraan (aku, Roman, Uki, Darma, Khoer) lagi bahas tentang ‘Good Governance’ dan pas sesi tanya jawab pertanyaannya kebanyakan soal PEMILU.

Nah, mbak Apri ini cerita kalau dulu itu dia juga apatis. Tapi dia bilang, kalau bisa ‘nyoblos’ lah. Alangkah berharganya satu suara itu. Satu suara bisa membuat perubahan. Begitu luar biasanya satu orang itu.

“Kalian tahu dana yang dipakai buat kampanye itu?” mbak Apri nanya, kita geleng-geleng.
Itu uang rakyat! Mereka buat proposal ke atas dengan judul untuk membantu rakyat, tapi yang sampai ke kita itu bukan atas nama pemerintah tapi atas nama caleg-caleg itu!” aku gregetan. Wah, keterlaluan sekali, UANG RAKYAT BRO. UANG RAKYAT.

Flashback ke presentasiku di kelompok V, si Irsyad nanya: “Gimana sih caranya mengajak orang-orang yang pada golput?” Dengan spontanitas aku jawab gini, “Mungkin susah ya karena ini menyangkut kesadaran. Tapi mungkin bisa dipancing dengan saling mengajak orang-orang terdekat. Ayo, ayo, ayolah. Yang peduli ngajak yang apatis”.

Trus ada argumen yang luar biasa juga dari Redy: “Pawai itu kan mencerminkan jati diri dari wakil pemimpin partai yang diusung. Mereka urakan, nggak tertib, rusuh, yang kemudian ini mempengaruhi generasi muda selanjutnya melakukan hal serupa. Nah, itu solusinya apa?” Tet-tot, aku bingung jawabnya.

Dia juga berargumen gini: “Onglos kirim atribut pemilu dari pusat ke daerah-daerah itu kan mahal. Kenapa nggak memberdayakan masyarakat setempat untuk bisa membuatnya sendiri?” Alternatif yang keren menurutku. (*melenceng dikit, karena ini menarik maka aku tulis. Si Redy ini kan datangnya telat. Kami selesai presentasi, dia baru masuk kelas. Nah, menurut kontrak belajar mahasiswa yang telat diperbolehkan masuk asal berdiri selama keterlambatan dia berapa menit. Aku kan yang di depan bingung yaa, ni anak kenapa berdiri terus? Saking menariknya kita apa ya? #LOL. Baru nyadar saat dosennya bilang, “Salut buat mas yang tadi berdiri, atas tanggung jawab dan kesediaannya. Baru Anda yang sadar dengan kesalahan dan mau menjalani konsekuensinya. Di kelas lain saya tidak menjumpai itu. Tiap telat, mereka langsung duduk. Baru di kelas ini.” #prok-prok-prok. Aplause buat lo Red).

Yang menarik lagi pendapatnya si Nurul. Dia bilang. “Tiap mau pemilu, perputaran uang itu gampang banget. Kamu ngajuin proposal apa? Pasti dikabulin. Beda saat nggak pemilu. Proposal untuk perbaikan masjid aja susahnya minta ampun”

Hal yang sama aku rasakan saat beli mi ayam di depan kecamatan Gondokusuman habis kelas bahasa Arab (di kedai mi ayam yang penjualnya esentrik dan unik banget. Bapaknya itu pakaiannya kayak orang kantoran: kemeja, celana bahan, sabuk. Di gerobaknya juga ada tulisan ‘BUKA’ kalau mi ayamnya masih, dan ‘HABIS’ kalau mi ayamnya sold out. Mungkin kedai sederhananya itu adalah kantornya. Satu lagi: menurutku mi ayam bapak ini mi ayam ter-enak se-Jogja). Di kedai ini ada semacam pamflet buat daftar menu gitu kan, nah, yang nyeponsori caleg. Hal yang sama juga terjadi di burjo-burjo gitu. Tapi, bapak ini kok pinter gitu. Dia nutup foto caleg sama partainya pakai kertas bertulis daftar harga, haha.. bapak, bapak.


Nah, ceritanya nih ya, hari ini kan aku sebenarnya pengen nyoblos. Tapi males banget kalau harus ribet. Rencananya mau ke Gardena buat beli kertas-kertas gitu, aku bela-belain jalan kaki. Sampai sana, “Loh, jalanan kok sepi?” tanyaku. Oh, Gardena tutup (sedikit nggak nyambung juga, Gardena kalau di tempatku (Cepu, Blora) itu toko roti dan ingredients-nya gitu. Di Jogja malah mall :D) Gardena buka lagi jam 1 siang. Ku lihat, hal yang sama juga terjadi di toko-toko sebelah yang pada meliburkan diri demi PEMILU. Asumsi awalku, wah… kesadaran mereka tinggi juga yaa :D

Mau gimana lagi? Baliklah aku ke kos. Berhubung perut masih lapar. Beli sayur sama lauk di warung dekat kali itu sambil denger lagu Bams terbaru, “…bahagia walau tak bersamaku…” #jadi inget ‘…..’ #lupakan. Ibu ini nanya: “Udah nyoblos mbak?”. Aku jawab belum, trus ibunya ngasi penjelasan, yang di luar Jogja bisa kok dengan bawa KTP. Aku disuruh ke TPS terdekat di daerah Langensari (basecamp pramuka Klitren).
TPS 01 Langensari
Aku langsung kesana. Ketemu sama anak UIN juga yang jadi saksi. Namanya Umi anak pendidikan bahasa Arab semester 6, aku juga ketemu sama anak UIN lagi, yang sepertinya PU-nya LPM Humaniush gitu :) Next, sama mbak Umi aku disuruh nanya ke panitianya. Apa yang terjadi? Ternyata tidak bisa sodara-sodara. Harus ada ‘alima-alima’ gitu #bingung, ini apaan? Semacam surat perpindahan pencoblosan yang ngurusnya minggu-minggu sebelumnya. Aku cerita sama mbak Umi, curhat. Dia baik banget, aku dikasi snack-nya dia, hahaha. Ya udahlah, pulang ke kos, nulis tulisan ini :)

Oya, aku tertarik banget sama tulisan cerdas pak Radhar Panca Dahana di harian Kompas edisi Kamis, 3 April 2014 yang judulnya “Dramaturgi Pemilu”.
Sebagai anak teater aku langsung excite aja? kok ada Dramaturginya? :D Kebetulan juga tadi malam sanggar nuun juga ngadain pemilu ketua kelas dan sekretaris Afternuun School buat angkatan kemah seni V, yang terpilih si Melia sebagai ketua dengan (20 suara) dan Havid (7 suara). Di artikel pak Radhar ini dijelaskan bagaimana ilustrasi para caleg melakukan kampenya di lanskap kota, desa, sampai jalanan berdebu “sebagai panggung yang riuh, menyesakkan, dan sungguh menganggu citra visual”. Juga tentang kebenaran artifisial yang dilakukan oleh lembaga survei. Mereka mengkondisikan seolah para caleg itu hebat, punya kapasitas, dan masyrakat menganggap itu sebagai sebuah “kebenaran”. Akibatnya, banyak calon pemimpin alternatif yang tersingkirkan, kalah dengan mereka yang mampu menampilkan wajahnya di koran selembar penuh atau mereka yang bolak balik jadi iklan di TV. Terakhir yang bikin aku ‘sakit hati’ tentang pengorbanan rakyat! Pak Radhar bilang gini:

“Menurut LPEM FE UI, biaya yang dikeluarkan caleg mulai dari tingkat lokal hingga pusat berkisar Rp 320 juta – Rp 9 miliar, hingga rata-rata didapat Rp 1,18 miliar per caleg. Apabila ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan jumlah jumlah caleg nasional 200.000 orang, Anda bisa memperkirakan sendiri total uang yang rakyat kita keluarkan untuk pertunjukan dengan dramaturgi yang menggelikan di atas. Tidak kurang dari 227 triliun.”

“….Bahwa total semua itu sebanding dengan membuat 5.675 kilometer rel lereta api ganda (cukup untuk seluruh Sumatra) atau 3,200 kilometer jalan tol (sama dengan target 25 tahun kita) atau sebanding dengan menggratiskan biaya kuliah seluruh mahasiswa Indonesia selama 32 tahun berdasarkan hitungan Mendikbud RI.

Sedih banget sebenarnya, coba sebelum-sebelumnya sudah ku urus, mungkin sekarang bisa nyoblos. Dari pengalaman dan artikel pak Radhar ini aku jadi 100 kali mikir lagi kalau mau GOLPUT! NO GOLPUT!

Kamar kos, 9 April 2014

Senin, 07 April 2014

Far

Sketsa 1:
Disini aku terkagum melihatmu
Jumpalitan menjangkau sumber suara
Ah, kau pun pergi
Membiarkanku sendirian menunggui senja yang menjadi gelap
(student centre, 5/4/14)

Sketsa 2:
Ia memasang muka pasi
Meratapi, "Kapan toga berkesempatan singgah?"
Mengaku kalah
Kini pun ditertawakan selempang cumlaude
Gadis anteng di pinggiran berikrar: "Nanti saya lulus tepat waktu"
(depan poliklinik, 6/4/14)

Sketsa 3:
Belajar lagi..
Merasakan apa yang orang lain rasakan
Berbahagia saat orang lain bisa
Tinggal 'percaya' saja
Tambahi apa yang tak dipunya
Karena disudut lain
Seseorang berkata:
"Jika tidak ada orang yang iri
itu tandanya...
kamu tak punya apa-apa"
(laboratorium fisika lantai 4, 7/4/14)

Minggu, 06 April 2014

Sepuluh Kutipan #9

Edisi spesial dari dinding-dinding LPM Arena :D

1. Moco ora tau. Diskusi ora melu. Nulis ora mutu. Wess muleh wae ra usah dadi mahasiswa.

2. Life for nothing or die for something. -Rambo

3. Wacana tanpa aksi "Ilusi". Aksi tanpa wacana "Mimpi".

4. Jangan hanya menulis berita, tapi ciptakan sejarah! :D
5. Menulis ibarat mengeluarkan tinja dan membaca adalah makanannya. Bagaimana kita bisa mengeluarkan tinja kalau kita sendiri tidak pernah makan?

6. Maaf.. atas ketidaknyamanan Anda. Disini sedang mengubah sejarah.

7. Scripta Manent. Verba Volant.

8. Dalam konteks penindasan, netral adalah sebuah pengkhianatan. -Dom Helder "Rimba'

9. Rebellion Zone. Liberate zone.

Atau hari ini (6/4/14) si Gila Mas Opik nulis gini di dinding atas almari keramat :D

10. "Kalian boleh maju dalam pelajaran mungkin mencapai deret gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai" Pramoedya Ananta Toer (kakeknya Isma)

Senin, 31 Maret 2014

Study Pentas Teater Lakon "TUK" dan "CIPOA"

Sebelumnya, entah kalimat apa yang tepat untuk menuliskan proses panjang ini. Saya sebagai orang yang terlibat mencoba menggambarkan tentang semua yang saya (eh, “KAMI”) alami, rasakan, dapatkan, dan kompleksitasnya. Kalau pas tahap II Sanggar Nuun kemarin ada IV kelompok. Dalam tahap III ini ada dua kelompok: TUK dan CIPOA. Let’s story begin… :)
Dimulai di kontrakan Nuun tanggal 28 Januari 2014 kita berkumpul. Meski yang datang tidak banyak (karena libur UAS dan pada pulang kampung) kita diskusi tentang study pentas ini. Intinya, apa pun yang kita lakukan dengan gembira itu asyik. Disusul 2 hari kemudian bedah naskah Tuk di SC sampai SC mau tutup 2 hari kemudian lagi bedah naskah Cipoa ruangnya anak Cepedi. Hari-hari beerikutnya, tanpa libur, tiap jam 7 hingga jam 10 malam lebih, kita reading naskah bareng-bareng di depan kantin dakwah (yang dulu masih sepi, beda dengan sekarang yang ramai karena SK CafĂ©-nya serta acara-acara diskusi malam, dan aku sekarang kepikiran dengan nasib “Gorong-gorong Institute”, apakah mereka terganggu? :D). Hingga malam itu tanggal 7 Februari kita dibagi menjadi dua kelompok. Kita tutup mata kemudian dituntun ke sebuah tempat, kita bukakan mata dan teranglah kita dimana. Masih ku ingat malam itu, aku melihat bapak Munir dan mas Ilham menyambut kami. Kulihat di samping dan depanku ada Madam, mbak Aim, Kiky, Mita, Chandra, dll (aku lupa siapa aja yang datang malam itu, yang pasti ada satu anak baru bernama “Isnain” yang masuk Sanggar). Bapak bilang: “Mari bersama-sama membuat kesaksian di Magersaren. Menghidupkan Magersaren”
Agenda selanjutnya diisi dengan latihan, kerja keras, dan latihan. Dari jam empat sore sampai jam enam buat olah tubuh dan materi-materi teater. Lanjut lagi jam tujuh sampai jam dua belas malam (bahkan di TUK sampai jam satu dan dua dini hari) untuk eksekusi naskah tiap kelompoknya. Kita latihan dimana aja. Di panggung demokrasi, di depan MP, di depan kantin dakwah, di belakang SC, di parkir tarbiyah, di lorong bawah tanah, di area sport venue, dll. Rasa-rasanya hampir setiap sudut UIN pernah kita kunjungi buat latihan :) Ya, itulah Sanggar Nuun, bisa menjadikan tempat yang kurang layak menjadi layak.
 

bersambung

Sekilas Tentang Tokoh “Sum” dalam Lakon Tuk

Ini bukan bermaksud narsis-narsisan atau apa yaa? Hehehe. Karena dalam study pentas teater (lakonTUK karya pak Bambang Widoyo SP) kemarin aku meranin Sum makanya, aku nulisnya Sum, kalau aku berperan sebagai Mbah Kawit atau Mbokdhe Jemprit, akan beda lagi judulnya :D Tulisan ini juga aku tujukan kepada pelaku teater yang mungkin saja suatu hari meranin si “Sum”, kita lebih expert di tokoh yang kita perankan bukan?
Romli dan Sum
Sebelumnya, terima kasih buat suamiku Romli (a.k.a Faruqi Munif) yang menambahkan nama lanjutan di namaku yang singkat ini. Dulu, sehabis aku kesrempet mobil sampai dibawa ke kantor polisi tapi Alhamdulillah masih bisa latihan, malam itu pak Munir (sutradara) meminta kita memperkenalkan latar belakang peran kita masing-masing. Malam itu aku ditanya, nama lengkapnya siapa? Aku bingunglah, ada nama-nama yang ku kenal, dari Sumi (penjual jajan di kampungku) dan Sumiati (teman SD ku), lalu kau yang waktu itu ada di dekatku #eaa #dan kita di “suit-suitin”, memberi tawaran “Sumarto atau Sumarni?” Gila apa kau ngasi aku nama Sumarto, haha, okelah “Sumarni” nggak jelek-jelek amat. Mulai saat itu, warga se-Magersaren manggil aku “Sum, Sumarni”. Next, aku akan menceritakan latar belakang yang pernah aku imajinasikan dan aku sampaikan dulu: Sum umurnya 29 tahun. Asal Bojonegoro (ini sih asal ayah aku, haha). Pendidikan SMP. Pekerjaannya tukang cuci, dia punya tiga anak (melenceng sama Romli yang bilang dua anak, haha). Seingatku itu dulu.

Sum muncul di babak I, karakter dia menurutku ngenes. Sejak pertama kali baca dialognya Sum di naskah asli, gila nih istri, bahasanya vulgar banget, apalagi pas di dialog “Tak jejeg muntu sisan m*n*kmu”. Si Sum ngomong gini bukan tanpa alasan. Bayangin deh, kamu punya suami yang sering selingkuh, Sum tahu itu tapi dia pura-pura tak tahu. Dia sakit nge-diemin si Romli sambil berdoa semoga dia sadar. Namun apa balasannya? SI ROMLI MENGHAMILI PERAWAN. Disana puncak kemarahan si Sum. Selama latihan beberapa hari itu, aku belum bisa paham, Sum itu maunya apa sih? Sampai mas Ilham (asisten sutradara) bilang, “Bayangin, kamu lagi hamil muda dan suamimu selingkuh sampai membuat selingkuhannya hamil”. Aku denger aja udah saaakiiit banget, apalagi bayangin aku hamil muda. Bukan lebai atau apa, haha, aku tuh pernah ya, habis latihan tanggal 24 Februari, malam itu nangis di kos gara-gara bayangin jadi si Sum.

Selama pengalaman aku latihan, hal paling susah itu sebenarnya di emosi. Dan emosi dimulai sejak dari luar panggung. Tiap latihan harus marah-marah, vokal tinggi, dan teknis-teknis lainnya itu tantangan banget.

Pernah suatu hari di tengah kejenuhan, suami Sum si Romli buat gebrakan. Pas Sum minggat dia bilang gini, “Sayaaangggg, kamu mau kemana?”. What? Dia manggil apa? “Sayang”, kami pada cekikik’an di luar panggung. Beneran, baru kali ini ada yang manggil aku sayang (Helloww, bukan elo Is, tuh si Sum, wkwk). Namun, sebagai pemeran si Sum, Isma merasa tersanjung sekali #gubrak :D

Yang jadi masalah itu sebenarnya aku yang belum bisa menikmati panggung. Entahlah, di acting terparahku, saat malam itu (ntah tanggal berapa), pas pertama-tama diiringi musik gamelan. Kesalahanku masih ku-ingat: aku ngelewatin adegan Marto Krusuk, aku dialognya kecepetan, lupa dialog, blank, parah. Sampai si Faruqi bilang, “Kamu tuh tenang, nikmati panggung. Jangan kamu pikirin, kamu kebanyakan mikir, biarlah apa kata orang”. Dan aku nyurhatin hal ini pas evaluasi. Aku jujur-jujuran.

Nah, pas gladi resik, aku merasa itu penampilan terbaik yang pernah aku rasakan selama aku jadi Sum. Dimana aku bisa tenang, bisa nikmati panggung, nggak keburu-buru, dialogku nggak mblibet-mblibet, emosiku pas dan yang paling penting aku bisa merasakan di situ ada Romli suamiku (suami Sum).

Hingga puncaknya tanggal 21 Maret 2014, tepat di hari ulang tahun aku yang ke-21, kami pentas. Perasaanku campur aduk. Siang-siang pas lagi kumpul warga Magersaren gitu, karena mereka tahu aku ulang tahun, mereka godain aku sama Faruqi. Aku Cuma senyum-senyum doang, nggak salting juga sih, emang aku nggak ada apa-apa sama dia, haha. Lagian, umurnya tua’an aku (aku 93, dia 94) -_- aku udah sepakat sama diri sendiri, nyari cowok yang umurnya di atas aku, haha. Sebenarnya yang bikin aku senang tuh saat Faruqi ngucapin selamat ulang tahunnya ke aku. Pas senyum-senyum GJ, dia berdiri di depanku menghadap belakang dan melepas kemejanya. Disana, di kaos warna putihnya dia nulis kira-kira gini:

“SELAMAT ULANG TAHUN SUMARNI”

Ya Allah, siapa coba yang nggak tersipu malu. So sweet banget. Kayak terbang ke langit ke-tujuh. Di depan anak-anak lagi, Faruqi bilang: “Aku udah ngasi ini ke kamu, kamu mau ngasi apa?”. Anak-anak pada teriak: “Sun… sun.. sun..”. Dalam hati aku bilang: “apa’an sih??”. Kelakar-kelakar ini jadi kado indah, haha. Karena waktu itu hari jumat, anak-anak cowok pada jumatan. Dalam hati aku bilang: Makasih Qi, makasih Magersaren.

Malamnya.. saat latihan terakhir. Eksekusi di depan penonton. Aku sedih banget, motivasiku malam ini entah menguap kemana. Dari adegan lempar piring yang gak neror. Sampai aku masuk panggung, padahal cuma ini doang kesempatan aku, porsiku nggak banyak. DIINGAT atau DILUPAKAN.

“Tenag-tenang… kamu tadi kecepetan. Kamu yang tenang yaa” kata Faruqi. Makasih udah buat aku tenang. Dan, aku bisa menikmati peranku lagi di dialogku terakhir. Saat minggat bawa magic com dan tas besar sambil bilang: “Duh Gusti, Ya Allaaah, aku ra kuat. Mbah Kawit, aku pamit”. Si Romli pakai improve dialog segala lagi, “Sumarni sayaaangg kamu mau kemana? Jangan pergi sayaang, aku janji tak akan selingkuh lagi”. But, it hears romantic in my ear.. :D

Dan pas evaluasi, aku senang dikritik. Sama Pak Dhe Untung (seorang aktor, seniman, yang pernah berproses bareng WS Rendra. Meski beliau sudah berumur, tapi semangatnya keren). Beliau mengkritik intinya: 1) Saat adegan pertengkaran, itu aktor vokalnya tinggi, kecepatan tinggi, maknanya jadi hilang. 2) Irama kurang diolah, irama dan pemenggalan sama. Saat tutup mata jenuh. “GERRR” dari penonton itu bukan berarti sukses, ada unsur lain yang membuat “GERRR”. *dan esoknya pas evaluasi Cipoa, dapat kritikan lagi* 3) Di Magersari, bertengkar seperti itu, meski sedikit saja, bisa jadi tawur. Sutradara harus pinter meng-intrepretasi itu (merujuk pak Munir, aku yang meranin ngrasa “…..”). Dan kritik-kritik tak terdengar lainnya.

Dan sekarang, saya sudah legowo dengan semua yang terjadi di panggung. Mungkin juga baru pertama kali yaa, ya, setidaknya saya tahu dimana letak kesalahan saya :) Seperti kata Mas Ilham dulu: Nggak usah disesali, nggak usah ngrasa bersalah :D

Itulah, sedikit pengalaman yang bisa aku bagikan tentang Sum, Sumarni. Aku juga tidak menyangka, Sumarni itu nama tantenya mas Zulfan, ada lagi yang bilang nama ibunya Doni (Tivri “Cipoa”), haha.
Terakhir, aku mengucapkan terima kasih tak terhingga buat seluruh tim produksi, ntah apa kata yang tepat untuk mengucapkan terima kasih. Rasanya ingin saya katakan pada dunia: "Saya bangga berproses di Sanggar Nuun". Dan secara pribadi aku mengucapkan terima kasih untuk Mas Aji Duta dan temannya yang udah mau jauh-jauh datang dari ISI Solo cuma buat menghadiri undanganku di pentas perdana TUK Sanggar Nuun ini. Terima kasih Mas Aji buat ilmu-ilmunya, masukan-masukannya, cerita-ceritanya. Malam itu kau bilang: “Jika tidak ada proses, aku malah sakit”. Rasa-rasanya memang begitu. Selamat berrproses disana yaa, di tempat yang keren, berharap September nanti aku bisa memenuhi undanganmu :)

Djogja, 31 Maret 2014

Minggu, 30 Maret 2014

Review Film Tentang “Jurnalisme Investigasi”

Tanggal 4 Februari 2014 kemarin (udah lama banget), aku diajak sama anak-anak LPM Arena ke basecamp Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI). Jam setengah 8-an malam itu masih kuingat, kita bareng-bareng kesana, dibelaiin muter-muter gara-gara gak apal jalan :D Dihadiri mahasiswa-mahasiswa pers kampus di Yogyakarta. Daripada tulisan tentang film ini karatan di laptop, mending aku bagi-bagi aja :) Film ini dibagi menjadi lima babak.

Pertama, tentang Jurnalisme Investigasi itu sendiri. Sejarah-sejarah yang dirintis pers Indonesia dalam melakukan jurnalisme investigasi dari zaman orde lama hingga masa kini. Dari pembredelan dan tokoh-tokoh yang berjuang melahirkan tulisan investigasi. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya: pimpinan redaksi Sinar Harapan Aristides Katoppo yang mengisahkan tentang keluarga cendana. Bondan Winarno yang mengusut tentang kasus busang dan bunuh diri jadi-jadiaan Michael de Guzman. Dan dari media elektronik tentang investigasi reporting yaitu Dadi Sumaatmadja dalam acaranya Metro Realitas yang tayang di Metro TV. Banyak hal kecil yang bisa di-investigasi menjadi hal menarik.

Kedua, tentang profil jurnalis. Mengisahkan siapa dan bagaimana jurnalis (investigasi) itu. Ada Yuliwati (wartawan majalah Tempo), yang meng-investigasi tentang aborsi illegal dan tentang mewahnya penjara Artalita Suryani. Dari media layar kaca ada Johan Heru (repoter Metro Realitas) yang ingin memberikan sesuatu lain daripada yang sudah beredar. Ada pula kisah dari wartawan majalah Tempo yang lain, Metta Dharmasaputra yang meng-investigasi tentang korupsi yang terjadi di Asian AGRI, sebuah perkebunan dan perusahaan kelapa sawit. Ia juga bercerita tentang rintangan-rintangannya, dari disomasi, disadap, sampai diteror.Kata dia (mengutip seorang tokoh), “Kita boleh lelah tapi jangan menyerah. Kita boleh kalah tapi jangan takluk.” 

Ketiga, tentang perencanaan peliputan (investigasi). Di majalah Tempo sendiri, Wahyu Dhyatmika menuturkan urutan-urutan melakukan reportasi. Dari ide kemudian dicari bahan mentah dan dokumen (seperti video, catatan, testimoni). Bahan mentah dan dokumen ini kemudian diverifikasi. Setelah itu menentukan sumber babon/utama. Kemudian dilakukan rapat besar, pembabatan dan penentuan angle, pembagian tugas (yang meliputi daftar narasumber, daftar pertanyaan, daftar dokumen). Setelah lengkap dilakukan penulisan dan terakhir editing. Sebagai tambahan sebelum dilempar ke publik, naskah itu diserahkan ke lawyer/seseorang yang mengerti tentang hukum dan jurnalistik agar tidak punya celah untuk digugat. Lain dengan Tempo, reporter investigasi media elektronik Dadhy Dwi Laksono punya langkahnya sendiri Ada lima langkah dari membentuk tim multispesialisasi, melakukan riset, menentukan angle, merancang strategi eksekusi, dan menerapkan skenario paska publikasi.  

Ke-empat, tentang Metode Penelusuran. Ada tiga metode investigasi. Pertama material trail, yaitu berupa dokumen, foto, rekaman, audio. People trail, yaitu siapa-siapa aja yang terlibat. Ketiga, money trail, yang merupakan motif utama segala masalah. Bahkan, kliping-kliping koran yang mengabarkan orang-orang kaya yang meninggal itu bisa berguna sebagai sumber dokumen. Investigasi itu tidak lepas dari menyamar. Menyamar itu ada tiga jenis. Dari melebur (menjadi bagian dari subjek), menempel (memanfaatkan subjek lain sebagai kuda troya), dan berjarak (tidak berinteraksi, mengamati dari jauh). 

Kelima, tentang etika dan hukum. Seorang jurnalis harus mematuhi kode etiknya sebagai seorang jurnalis. Paling sedikit ada empat kode etik yang harus dipenuhi. Pertama, jangan mau disuap. Kedua, jangan melakukan plagiat. Ketiga, jangan membuka identitas narasumber. Ke-empat, jangan menulis kebohongan yang Anda tulis sebgai kebenaran.