Senin, 10 November 2025

There's No Logic in Life, but Darling, Love is Understandable

The title of this article was taken from Ardhito Pramonos's song: "Waking Up Together with You". I heard this beautiful song randomly when I visited the Pos Bloc on Sunday, 9th November 2025. Even though I felt surprised that Dhito's song has an international quality melody, I think that this is an old song from a British band, European singers, or something like that. In my head, Ardhito Pramono's image is not good and appropriate for me. I tend to hate him and all about him because of the media framing, not because I know him exactly and literally as he is. 

After I have made a close reading, oh, a poor boy. So fragile a person like me. It was true that he had ever consumed drugs, been a hothead in the club, had an affair, divorced from his wife, and so on. You can list his faults as human normal standards. You can name it. But from another perspective, he was the kind of child who did not have enough love from his parents. He fulfills another person's needs over his own. I reflect on myself, and my condition is sometimes quite the same. 

And then I hear Dhito's works in music, oh God, he is a genius.

(Sure, in my lowest condition of life. I want to cry while writing this.)

I really like it when Dhito said that "love is understandable". Here, I want to tell you something. 

In the morning, I asked myself, relating to Dhito's condition: "Why do I tend to fulfill others' needs rather than myself?" And you know, there are a few very human reasons why someone tends to prioritize others' needs above their own, such as: (1) Being needed = being valued, (2) you are deeply empathetic, (3) giving more means your instrument to reduce your own anxiety, (3) fear being a burden or "too much", (4) or as simply, you haven't been taught how to identify your own needs.

But I tend to feel that I was never protected enough to love myself with the same intensity that I give to people. The condition I did last week. I don't have so much money to survive after being scammed, but I pressed myself to buy fashions for my brothers and sisters to celebrate Idul Fitri. I gave my best when I was buying it. But now, no one cares. I don't have anything, even a plate of rice. Why did this happen then? Does it love? So I realize, I equate love with sacrifice, and I know that it is an old, bad pattern. I value love not as a connection, but responsibility. I was running on emotional autopilot.

I ask again: Why does love in my body feel like responsibility? Because my body reacts to love the way other people react to duty, instead of feeling love as joy, warmth, and ease. This affection immediately turns into responsibility in my nervous system. My body goes into "I must" mode, rather than "I want". My first instinct in love is sacrifice, not reciprocity. I don't allow myself to receive with the same intensity, because when people love me back, I really feel uneasy, indebted, guilty for needing, and downplay my own pain. My body believes survival depends on being useful, even when I am hungry, alone, desperate, and no one checks on me. And it is common to the people who grew up without consistent emotional safety. Then, you collapse afterwards. My body is repeating an old script: self-destructive.

So, after realizing that love is easy and understandable, I will say, it's okay, Isma. It's okay, you still matter even though you don't give to your siblings. They are adults too. And this is not your responsibility to give them like you did last week. Come on, you have to prioritize your own first. Love is not responsible; it is a connection. Love is understandable.

Sabtu, 08 November 2025

Catatan Konser Rony Parulian di Summarecon Bekasi dan Taman Literasi Blok M

Parking Ground Summarecon Mal Bekasi

Graeme Simsion dalam novelnya "The Rosie Effect" (Gramedia, 2014), lewat tokoh utamanya Don Tillman menurutku memiliki karakter yang unik. Karakter ini membuatku berkaca pada diri sendiri: nerdy, kaku, logis, rasional, blak-blakan, sangat terstruktur, dan yang paling relevan pribadinya tak bisa mengolah dan merespons emosi dengan baik, tapi bukan berarti dia tak merasa. Justru orang-orang seperti Don yang dianggap aneh oleh orang-orang sekitarnya itu adalah tipe orang yang menampung beban emosional yang lebih berat dibandingkan yang lain. Sejujurnya, aku ingin bilang lewat ilustrasi ini kalau, meskipun aku masih gagap dalam mengelola emosi, bukan berarti aku kehilangan rasa.

Sebagaimana Don yang terstruktur, jadwal konser Rony Parulian bulan Oktober-November yang diadakan di Jakarta sudah kutulis rapi di kertas tersendiri. Jadwal itu kupajang di tembok kos. Sabtu, 8 November 2025, manajemen Rony ambil dua job di Bekasi dan Jakarta sekaligus. 

Tiket acara Neverland Festival Bekasi sudah kubeli sejak lama. Aku beli yang kelas Festival, harga tiket dan pajak daerahnya sekitar 200 ribu. Konser ini cukup aku nantikan karena selain mengundang Rony, promotor juga mengundang line up favoritku lain seperti The Adams dan band-nya Baskara (.Feast, Hindia, Lomba Sihir). Line up lain yang tidak terlalu favorit-favorit amat tapi masih kukenal karyanya dengan baik pas masih sekolah, khususnya pas SMP dan SMA, ada Vierratale; dengan personel Widy Soediro, Kevin Aprilio, dan Raka Cyril-nya itu. Ada satu band lain lagi yang baru kudengar namanya, Rebellionrose. Cukup kaget karena mereka band punk rock asal Yogyakarta (wilayah Sleman-Bantul), padahal udah 7 tahun tinggal di Jakarta, tapi baru tahu. Hihi.

Dari poster dan jadwal tampilnya, aku sudah bisa menganalisis, kalau line up utama adalah band-bandnya Baskara karena ditayangkan pas prime time sekitar pukul 19.10-21.05 WIB. Sementara, puncak line up mereka ada Vierratale, karena ditaruh di akhir--jagoan selalu datang terakhir bukan. Sementara Rony dan Rebellion Rose (RR), dari lay out desain saja sudah ditempatkan di bagian bawah, belum lagi tayangnya di jam yang tidak terlalu strategis. Rony manggung di pukul 15.20-16.40 WIB, setelah itu baru disusul Rebellionrose. Tidak salah, karena promotor juga tak lain latarnya tetap bisnis, barangkali mereka membaca jika rakyat Bekasi memang lebih menyukai karya Baskara dkk, alih-alih Rony atau RR. Ada hukum pasar yang satu lebih profitable dibandingkan yang lain. Wadefak bicara apa itu selera pribadi kalian yang minor. Suara pemenang tetaplah yang mayoritas.

Namun yang jelas, penempatan jadwal ini memberi dampak besar terkait agenda mana yang perlu aku prioritaskan. Tidak selaras dengan promotor Neverland yang mengatur line up-nya sedemikian rupa agar menguntungkan, aku sendiri mengatur jadwalku di Sabtu ini dengan kepayahan, dan berujung pada kerugian. Line up utama di kepalaku cuma Rony, sementara Rony hari ini ada dua jadwal, sementara jarak Summarecon Bekasi dan Blok-M Jakarta paling tidak satu jam (jika tidak macet), kalau macet bisa sampai dua-tiga jam. 

Sayangnya, hari Sabtu ini, aku cukup kepayahan mengelola jadwalu sendiri. Aku punya deadline tulisan yang perlu aku selesaikan hari itu juga. Tulisan itu baru selesai sekitar pukul 14.20 WIB. Satu jam sebelum Rony tampil, sementara aku sejak pagi belum makan, masih rembes belum mandi, dan perlu siap-siap ke stasiun KRL Juanda, transit di Manggarai menuju Bekasi, lalu lanjut Gojek ke Summerecon. Meskipun jadwal makan seadanya, mandi, dan perjalanan transportasi cukup lancar jaya, masalah lain muncul pas sampai di lokasi acara: antre tiket on the spot!

Ada tulisan "Veni, Vidi, Vici" di tas kerasa lucu lagi.

Sabtu itu Kota Bekasi ramai. Jalanan cukup hectic, aku sampai di Summarecon mau pukul empat sore, penampilan terakhir-terakhir Rony. Di gate pintu keluar mobil, terdengar lagu "Butuh Waktu" dinyanyikan. Aku ingin segera lari mengejar konser itu, tapi sayangnya, aku harus mengantre secara mengular. Antrean penukaran tiketnya bukan waktu yang sebentar, kamu bayangkan antrean memanjang paling tidak setengah kilo. Aku udah cari cara biar cepat dengan memotong salah satu kloter, aku tahu ini salah, tapi tetap saja harus berdiri setengah jam! Aku tak membayangkan yang ada di belakangku, barangkali mereka bisa berdiri sampai satu jam! 

Jujur, dari banyak pengalaman nonton konser musik yang kuikuti, ini konser dengan ticketing paling tidak efektif yang pernah kudatangi. Jika di konser lain butuh waktu gak sampai semenit bahkan, lu datang, tunjukin tiket online, scan, kasi gelang, masuk; ini kamu harus antre sampai setengah sampai satu jam. Sementara di sisi lain, kamu mengejar konser idolamu yang sebentar lagi mau selesai, karena kamu telat, karena kamu harus bekerja dan menuntaskan deadline di hari libur. Sedih tapi tidak berdarah. Saking kesalnya, aku sampai kapok gak pengen nonton konser lain yang dibuat si promotor nantinya. Terserahlah kalau dilabeli gimana-gimana, ini bentuk perlawanan personalku karena pihak promotor tidak bisa mengelola pos ticketing dengan baik. Sebaik apa pun line up yang mereka undang, akan percuma jika gak bisa menonton mereka yang kita tuju, bahkan di menit-menit terakhir mereka. Nyesek sih rasanya.

Summarecon Mall Bekasi

Akibatnya apa? Aku gak bisa lihat Rony, bahkan gak bisa lihat Rony dari layar besar yang tak sampai ke bagian antrean di menit-menit terakhirnya. Padahal kamu merasa sudah kejar-kejaran waktu sambil lari-lari dari stasiun ke stasiun. Padahal aku berharap masih bisa lihat wajah Rony, atau ikut nyanyi satu lagu sama Rony. Tapi emang belum takdirnya.

Dari luar panggung, dari lokasi antrean, sejujurnya sudah sejak lama aku membuang ekspektasi pada banyak hal. Prinsip ini sesederhana, apa yang ditakdirkan untukmu tak akan melewatkanmu, apa yang melewatkanmu tak ditakdirkan untukmu. Aku sing along di luar panggung menyanyikan lagu:

  1. Butuh waktu
  2. Mengapa
  3. Satu Alasan
  4. Tak Ada Ujungnya
  5. Pesona Sederhana

Jika promotor dan panitia lebih cerdas sedikit mengatasi antrean, barangkali aku masih bisa menyanyikan lima lagu itu bareng Rony di dalam lokasi acara, bukan di luar lokasi acara. Aku kapok datang ke acara mereka lagi. Sore itu, dengan suasana mendung usai turun hujan, seperti seirama dengan kondisi psikologiku. Apalagi uang tabunganku habis (pasca direnggut scamming), belum gajian, dan seperti tak ada yang menemaniku di kondisi-kondisi seperti ini. Tiket konser ini aku sisihkan dari hasil pendapatanku yang lain. Rony hari ini adalah satu-satunya subjek andalanku buat recharge semangat, tapi semangat itu pun harus direnggut juga oleh pihak promotor yang tidak bijaksana dalam mengelola ticketing. Aku cukup sadar memasuki sirkel kapitalisme tanpa akhir, tapi rasanya di hari itu, tak pernah aku sesedih itu. Aku kemudian mengikuti penampilan line up berikutnya dengan perasaan setengah hati. 

Rony Parulian with the kid
Tak satu pun lagu Rebellionrose yang aku tahu saat aku menyaksikan mereka di atas panggung, setelah masuk mendapatkan gelang. Aku hanya memilih di lahan bagian belakang-belakang, kemudian duduk sendirian, menyaksikan orang-orang banyak yang datang bersama kawan-kawan dan kekasih mereka. Aku sudah terbiasa datang sendirian ke konser, tapi baru sore itu aku rasanya linglung. Pas break solat Magrib, aku melewatkan solat karena situasi yang sudah terlalu crowded. Aku merasa ruang ibadah di acara-acara konser malah tambah menjauhkanku dari Tuhan. Aku saking linglungnya juga keliling tenant food and beverages, padahal aku tahu, aku tak punya uang lagi. Saldoku hanya cukup untuk biaya transportasi pulang dari Bekasi ke Jakarta. Sementara, kamu tahu, harga makanan di acara-acara konser bisa berkali lipat dari harga wajar. Aku cukup memandang makanan yang menggugah selera itu dengan mata sendu karena tak mampu kubeli. Kelezatannya tiba-tiba melonjak drastis berkali-kali lipat. Belum lagi, air mineral yang aku bawa dari kos diminta pihak security untuk dibuang saja. 

Aku lapar, aku sedih, dan rasanya aku tak punya siapa-siapa.

Ale. Ale. Ale.
Aku cukup hidup kembali saat The Adams tampil usai break Magrib. Setidaknya malam ini ada subjek-subjek lain yang masih jadi bagian dari hidupku yang lain, The Adams. Aku bisa lihat sosok Saleh Husein atau kerap disapa Ale di sana, setelah sekian purnama tak bertemu dengannya. Fyi, penting gak penting, tanggal ulang tahunku sama kayak ulang tahun Ale. Malam itu The Adams membawa personel cadangan. Aku cukup sedih juga karena band ini hanya menyisakan tiga personel inti: Ale, Ario, dan Gigih. Bukankah The Adams sudah terbiasa bongkar-pasang personel? Sementara Ario sendiri tak ikut karena sakit kalau tidak salah. Hanya Ale gitaris/vokal, dan bang drummer. Meskipun begitu, personel tambahan yang The Adams bawa malam itu bekerja dengan baik, meskipun secara penampilan keseluruhan di beberapa bagian terlihat keteteran, tapi Ale sendiri sudah terlihat pasrah, bisa konser sore itu saja sepertinya dia sudah bersyukur. 

The Adams
Aku juga respect malam itu Ale masih berdoa untuk Palestina sebelum menyanyikan lagu favoritku, "Timur". Sepanjang catatanku, berikut lagu-lagu yang The Adams nyanyikan malam itu:

  1. Pelantur
  2. Waiting
  3. Selamat Pagi
  4. Kau di Sana
  5. Hanya Kau
  6. Timur
  7. Konservatif
  8. Halo Beni

Nyawaku kembali lagi setelah The Adams tampil. The Adams kini cuma tinggal tiga personel intinya, wkwk. Si paling bisa adaptasi di tengah jedag-jedug ganti personel. Di konser ini pun Ario gak ikut karena sakit. Jadi banyak borong personel dadakan. Puas banget denger Ale teriak di lagu ini, meski vokal personilnya termasuk Ale kurasakan mayan kocar-kacir di konser ini. Sehat² terus Le, Ario, Gigih. Apresiasi untuk penampilan mereka, aku ingin mengutip lagu berikut: 

"Hanya kau yang bisaMemastikan semuaSegala yang kurasaHanya kau yang bisaMengubah semua'Tuk menjadi indah"

The Adams selesai di jam Isya, pukul 19.01 WIB. Aku memasuki waktu-waktu dilema, karena ada konser Dua Generasi di Blok M yang menghadirkan om Ebiet G. Ade dan Rony Parulian. Aku perlu mengambil keputusan cepat, karena jika tidak, aku akan ketinggalan konser Ebiet dan Rony, keduanya, karena jarak Jakarta-Bekasi bukanlah seperlemparan batu. Apalagi jiwa "tidak mau rugi" masih tersisa walau hanya secuil di jiwaku, masak udah beli tiket mahal-mahal cuma sedikit line up yang ditonton? Begitu kata suara hati yang gak terimaan itu. Akhirnya, aku menunggu sampai penampilan .Feast di lagu pertama. Aku perlu menyapa Baskara dari jauh setidaknya, apalagi pas konser Laleilmanino lalu, aku dapat kesempatan untuk wawancara dengan .Feast buat bahan tulisan di Serunai. 

.Feast
Baskara Putra

Feast
Aku pun menunggu .Feast tampil pukul 19.15 WIB. Aku berkata pada diriku sendiri untuk mengikuti 1-2 lagu saja, berikutnya langsung cabut ke Blok M buat nonton Rony di ronde kedua. Sejujurnya, sedikit lagu-lagu hits .Feast yang kukenal, di lagu pertama dan kedua yang Baskara nyanyikan tak begitu familiar. Aku pun memutuskan kembali ke Jakarta. 

Di pintu keluar, gelangku diputus pakai gunting sama panitia. Di luar panggung, aku masih sempat mendengar Baskara menyanyikan lagu "Arteri", yang juga mereka nyanyikan saat di panggung 11 tahun laleimanino and friends. Lagu ini diproduseri oleh Laleilmanino.

Telanjang ku telanjangMenyicipi duniaHatiku berkataSelamat datang di dua tiga puluh
Kau tambal kegagalankuKau masuk ke dalam darahBerdansa dan berserahUntuk sekian jam saja

Selamat tinggal Bekasi. Meskipun hari ini tak mudah, tapi aku sangat berterima kasih atas kesempatan dan pengalaman ini. Kita manusia memang tempatnya salah, tapi selalu ada yang bisa kita syukuri. Terima kasih ya.... 

Taman Literasi Blok M, Jakarta

Ini juga, momen konser yang gak pernah aku lupakan. Aku pernah baca sebuah cerpen yang aku lupa judulnya, entah Ali Akbar Navis atau siapa aku sungguh lupa. Ceritanya aku ingat karena nyesek. Jadi si tokoh utama ini mendapat dua undangan untuk datang ke sebuah kondangan. Tapi jarak dua tempat ini sama-sama jauh dan hanya bisa dicapai dengan dia naik semacam perahu kecil, menyerupai gethek dari kayu. Di sepanjang perjalanan, tokoh utama ini menakar-nakar tentang isi makanan yang dia dapatkan, ketika mau sampai di salah satu tempat, dia malah berbalik arah ke tempat satunya karena dirasa lebih baik. Tapi pas sampai, kondangan itu sudah selesai. Si tokoh utama tidak mendapatkan apa-apa. 

Kira-kira seperti itu ilustrasinya barangkali, meskipun tak persis amat, tapi aku merasa berada ada di dilema yang sama. Terkait memutuskan untuk memilih salah satu tapi di sisi lain juga takut kehilangan moment yang lebih menarik. Naasnya, kedua-duanya tak berjalan maksimal. Aku juga teringat dengan peribahasa, jangan mengejar dua ayam sekaligus. Dan rasanya hari Sabtu ini, aku serasa mengejar dua yam sekaligus, dua-duanya tak kudapat.

Nyanyi di luar pagar
Backstage
Proses itu: Aku ngejar waktu dari Bekasi ke Blok M, setelah pas di Bekasi gak dapat momennya Rony tampil karena nyelesain deadline kerjaan, dan pas sudah sampai ticketing-nya kacau. Lalu pas pulang habis The Adams dan .Feast manggung, di jalan dapat ojol yang melaju kek orang mabok, nyerempet² garis batas jalan, sampai jumpa tabrakan yang buatku merinding sekujur badan. Jalur yang dipilih si driver ojol ini kuperhatikan juga muter-muter. Pas sampai Blok M, gak tahu lagi mo lewat mana buat nonton konser Rony. "Pesona Sederhana" jadi lagu terakhir yang dinyanyikan Rony malam itu, dan sudah senang banget bisa sing along di luar pagar. Ya Allah, gini doang udah happy banget. Aku nyanyi sambil menangis.

 

Dedikasi to the max itu menghasilkan moment yang gak kuduga. Ternyata tempat luar pagar itu dekat sama backstage. Teriak manggil nama Rony, dianya nengok dan melambaikan tangan. Ah meleleh... Wkwk. Kok dia sepeka itu, haha. Aku merasa senang sekali dia nengok, keberadaanku semacam divalidasi, meskipun setelahnya kesedihan hidup datang lagi. Namun moment singkat itu memberiku kenangan yang jauh lebih panjang. Makasi Rony. Aku juga bangga kamu hari ini bisa duet bareng salah satu penyanyi legendarisnya Indonesia, Ebiet G. Ade. Kamu juga pas kulihat di Instagram sangat santun sekali pada oranguta. Aku bangga Rony sama kamu!

Berikut galeri foto Rony dari Instagram Rony dan WeR1:

Ini sih gongnya. 

Santun banget adek genziku. 

Menyala adekku Rony!!!

Jumat, 07 November 2025

Izinkan Aku Menjadi Menyek-Menyek

Aku mendidik diriku terlalu keras. Saking kerasnya, saking semuanya kupendam sendiri, aku kelelahan. Ternyata, aku merasa sedikit yang bisa menampung kesedihanku ini. Kalau diamat-amati, satu yang selalu hidup di diriku sampai sekarang: Aku menolak menjadi lemah dan bodoh. Aku selalu mempertahankan sisi perfeksionis ini dalam hal apa pun. Dan aku kewalahan. Ternyata, bukan hal perfect yang benar-benar kubutuhkan. Namun menerima sesuatu dengan sejujur-jujurnya jujur pada diri sendiri. 

Ditambah, tahun 2025 ini adalah tahun yang sangat jancuk! Banyak hal yang menghantamku di tahun ini. Aku mulai menyadari pola-pola lama yang memenjarakanku, dan berusaha bebas darinya. Aku sadar jika rezeki emang bukan milikku, tugasku hanya berusaha. Materi, uang, dan emas yang kutabung sepanjang kerja di Jakarta lenyap dalam sekejap mata. Aku mulai sadar jika tak semua orang baik, sebagian mereka memang punya karakter setan yang lebih banyak daripada malaikatnya. Aku perlu memberi pagar tak kasat mata pada apa pun yang punya potensi menyakiti dan menghancurkanku. Aku ingin lebih peka pada nuansa peristiwa. Sensibilitas rasa ingin kulatih sampai partikel terkecilnya.

Hidup dan cara pandangku berubah banyak. Termasuk aku ada pergeseran pada hal-hal kecil karena pengaruh lingkungan sehari-hari: cara memilih makanan, cara menata barang-barang di kos, cara bekerja dengan efektif-efisien, cara bergaul dengan kolega, cara berkomunikasi dengan orang-orang sekitar, termasuk cara mendengarkan musik. Aku sudah siap dengan semua label yang orang hakimkan. Bukankah sejak dulu aku sudah terlatih dengan perasaan berat penghakiman dan ditinggalkan sampai mati rasa?

Lewat tulisan ini, izinkan aku menjadi menyek-menyek... Lalu, akan kuevaluasi lagi hal-hal yang tak sesuai dengan nilai-nilai yang kuperjuangkan sejak dulu, dengan larat-larat, dengan air mata, dengan pengorbanan yang berat. Diiringi dengan kumurnian motif, menambah rasa syukurku, mempertahankan ketenangan hari demi hari, menjadi rumah aman, dan hidup pada jalan yang lurus. Hanya ini harta abadi yang kupunya, yang kumiliki.

Minggu, 02 November 2025

2 November 2025

“Gue pribadi kalau nulis gak pernah ingin menyampaikan sesuatu ya, maksudnya lebih pengen cerita aja gitu. Kayak berusaha mengarsipkan pengalaman hidup kami terutama di .Feast sebagai sebuah band. Kalau mengutip lirik dari albumnya sendiri yang kayak menyiarkan keburukan, dan dosa, dan luka yang kita punya aja gitu. Untuk bisa diarsipkan selama-lamanya di publik dalam bentuk lagu. Jadi tidak ingin menyampaikan apa-apa apalagi menggurui." Baskara Putra (.Feast)

.Feast di Brodo

Baskara

 
Bisa nangis nonton sesi Baskara ini, gak tahu napa dah. Keren lu Bas.
Sukses emang dipinjamkan, dan elu penyewa yang lihai. 
Awan

Pelajaran: Mendekor dengan apa yang saya butuhkan, dan apa yang saya senangi. 

Diki

Pelajaran: Yang tentu lu bisa belum tentu buat lu nyaman. Lu bukan Jack of all trades. 

Adnan

Pelajaran: Gw takut miskin. Iya lagi. | Arti pengkhianatan: Lu pansos di tengah orang-orang terdekat lu.

Bodat 


 Yang mau gw ilangin cuma keserakahan.

Selasa, 28 Oktober 2025

Kabar dari Cibubur: Catatan Konser Rony Parulian

Judul ini terinspirasi dari cerpen Pramoedya Ananta Toer di buku Cerita-Cerita dari Jakarta. Salah satu cerpen di dalam buku itu adalah Kabar dari Kebayoran. Berkisah tentang Aminah yang telah kehilangan segenap kemanusiaannya di masa pasca-kemerdekaan. Ketika dia memutuskan untuk meninggalkan suaminya Saleh, ikut pria lain bernama Diman ke Jakarta Pusat; setelah Saleh menjual tanah dan rumah sumber penghidupan mereka. Saleh melakukan hal tersebut karena jika tidak dijual, pemerintah akan menyitanya.  

Di Jakarta Pusat, hidup Aminah tak lebih baik. Dia jadi tunawisma, gelandangan, dan perempuan tunasusila. Dia menawarkan komoditas tubuhnya bahkan pada harga serendah-rendahnya untuk bisa makan. Suatu hari dia ketemu adiknya Khatijah yang berpenghidupan lebih baik, hendak ke Pasar Baru. Keluarga Aminah masih tinggal di Kebayoran, dia rindu. Pas ketemu adik, dia kaget mendengar kabar kalau adiknya hendak menikah dengan suaminya, Saleh. Adiknya sendiri jijik melihat Aminah, hidup Aminah berada di kondisi paling dasar hidup. Tak ada cahaya, tak ada harapan, selain kesedihan. Kakek Pramoedya keren sekali menulis ironi hidup seperti ini.

Ya, seperti itulah, judulnya bagus, maka aku adaptasi untuk menulis cerita konser Rony Parulian ini. Konser itu bertajuk "Music Corner Cibubur" yang digelar di Main Atrium Ciputra Cibubur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Saat itu hari Minggu, 26 Oktober 2025. Aku menyimpan jadwal Rony sebulan manggung di Jakarta, yang jadwalnya padat hampir setiap hari--bahkan di waktu tertentu, semisal kucatat tanggal 8 November mendatang, sehari bisa dua konser. Minggu itu, pas bangun, aku sedih karena piket kerja di hari Minggu, dengan tiba-tiba jadwal keluar. Aku tugas liputan Wamendagri Bima Arya di Kantor BPSDM Pancoran, Jakarta Selatan jam 4 sore. Padahal, di jam yang sama, aku ada acara Kampung Stories, Festival Kampung Muka, di Pademangan. Tour kampung kota yang diadakan oleh anak-anak Karangtaruna Ancol, dan Antropologi Bumi. Usai dapat kabar liputan, aku langsung hubungi panitia, minta maaf gak bisa datang, dan mendoakan semoga acaranya sukses.

Sebelum liputan, aku udah planning, paling gak kerangka beritanya udah jadi 20 persen, nanti sampai sana tinggal masuk-masukin bahan. Prosesnya kayak orang masak, kita udah siapin sebagian bahan dan alat-alat sebelumnya, nanti bahan tinggal diolah, dan disajikan. Sesuai rencanaku, aku cukup amazed karena jadwalku berjalan dengan sangat lancar dan rapi. Bahkan aku bisa melakukan solat Ashar dan Magrib tepat waktu, karena aku punya kecenderungan untuk (mohon maaf Ya Allah) meninggalkan solat kalau ada acara yang melibatkan mobilisasi cukup tinggi. Aku merasa, dari satu kegiatan ke kegiatan kayak dimudahkan. Di sini aku mengambil pelajaran: Kalau kamu tenang dan menerima, Tuhan akan memudahkan. Jadi ingat lirik lagu ciptaan Rony yang dinyanyikan Judika, "Tenang".

Perjalanan dimulai dari kos ke Stasiun Juanda pakai transportasi Gojek. Lalu naik KRL menuju Stasiun Duren Kalibata, dari stasiun jalan 800 meter ke Kantor BPSDM. Waktu itu liputan Bima Arya yang memberi arahan ke Sekolah Pimpinan Korps HMI Wati (Kohati). Hal penting yang bisa kubagikan, Bima cerita terkait buku The Great Wave: The Era of Radical Disruption and the Rise of the Outsider karya jurnalis pemenang Pulitzer, Michiko Kakutani. Inti buku ini, dunia sudah berubah drastis di segala bidang, dari politik, ekonomi, budaya, hingga hiburan. Para outsider bisa datang tanpa pemberitahuan sebelumnya yang meluluhlantakan sistem mapan yang udah dibangun bertahun-tahun. Semacam fenomena Presiden AS Donald Trump dan Presiden Volodymyr Zelenskyy. Trump ini pengusaha, Zelensky ini komedian (macam Eko Patrio-nya Indonesia gitu), keduanya gak pernah menjalani karier sebagai birokrat, walikota, kepala daerah, Sekda, atau kepala dinas, tiba-tiba bisa menang di Pemilu. Ini semacam disrupsi bagi tradisi perpolitikan AS yang udah dibangun sejak lama.

Di bidang hiburan, Spotify dan Netflix udah gak didominasi oleh musisi US dan UK, muncul outsider dari Asia. Lagu-lagu dari Korea Selatan, Puerto Riko, sampai Afrika kini bisa kita dengarkan. Belum lagi pas demo 17+8 lalu, mereka yang tampil bukan lagi para aktivis yang ikut gerakan Cipayung, PMII, HMI, atau FPPI; mereka para influencer! dengan banyak pengikut dan punya tabungan kekritisan yang cukup, yang justru ditemui DPR! Tentu kamu masih ingat bagaimana Afutami, Abigail Limuria, Andovi, dll, tampil. Sebenarnya fenomena ousider ini mengingatkanku dengan gerakan rimpang yang santer di ranah gerakan. Memang dia fragmented, bebas, fleksibel, dan karena itu, gerakan ini jadi lemah dan secara keberlanjutan masih dipertanyakan. 

Kembali ke Rony, berkat dia, aku jadi tahu Cibubur, haha. Pengalaman baru lain, aku naik kereta Lintas Raya Terpadu (LRT) pertama kali dari Stasiun Cikoko ke Stasiun Harjamukti. Menurutku ini menarik sekali, aku juga bisa ke Bandara lewat LRT dengan biaya yang lebih ekonomis. Pas sampai ke fasad Mal, poster Rony yang potongannya sekilas mirip Charlie ST 12 itu (wkwk, canda Ron), udah berjejer-jejer di sepanjang gerbang mal.

Aku sampai di Mal Ciputra Cibubur tepat waktu, pukul 18.55 WIB. Mal sudah sangat ramai, penonton berjibun dari lantai dasar ke sampai dua lantai di atasnya. Lautan manusia nunggu Rony, ini juga bersamaan dengan peringatan Halloween gitu, meski agak aneh budaya Amerika itu sampai di Indonesia. Ini pengalaman kesembilanku nonton Rony, sudah tidak berambisi lagi untuk dapat tempat yang oke buat nonton mengingat itu tidak memungkinkan. Aku ambil posisi mayan jauh dari panggung utama, dekat sama gerai Starbuck yang mendekati pintu masuk lobi. Rony susah dilihatnya dari sana, haha. Tujuanku cuma buat enjoy the concert aja, jadi WeR1 yang baik, dan tetap sepenuh hati dukung Rony. 

Oh iya, yang radha membuatku dikit kecewa mungkin karena konser ini molor sampai satu jam dari yang ditulis di run down pukul 19.00 WIB. Entah apa alasannya, tapi penonton seperti nunggu lama, sambil mengikuti permainan dari MC yang mengulur waktu. Dari pemenang kuis sampai nyanyi-nyanyi. Aku sempat ngeh, karena penonton di depanku seorang anak perempuan coming of age berambut panjang yang ditemani ibunya nonton bareng. Dia berulang kali nunjukin jam hape ke ibunya. Konser baru dimulai pukul 20.03 WIB. Teriakan satu mal menyambut Rony. Ada yang bawa poster gede banget buat ditandatangani Rony. Niat banget itu yang bawa. Kalau kuperhatikan, panggung di Mal Ciputra Cibubur ini menjadi panggung paling kecil dan seuprit yang didatangi Rony sejauh ini, tapi gak mempengaruhi keaktifan Rony dan Ron The Room. Malam itu, aku mencatat, Rony menyanyikan 11 lagu:

  1. Butuh Waktu 
  2. Dengarlah Cinta
  3. Mengapa
  4. Angin Rindu (Rony bilang lagu ini untuk para perantau, yang jauh dengan kekasih, dan menjalani LDR.)
  5. Salahi Aku
  6. Tak Ada yang Sepertimu
  7. Satu Alasan. (Setelah nyanyi lagu ini, Rony bilang, "Saya itu bisa nyanyi karena papa.")
  8. Tetap Bukan Kamu (featuring WeR1)
  9. Sepenuh Hati
  10. Tak Ada Ujungnya
  11. Pesona Sederhana ("Lagu ini untuk wanita-wanita yang punya pesona luar biasa," kata Rony)

Aku perhatikan juga malam itu banyak yang teriak Rony! Terus Rony jawab, "Apa-apa? Gak usah teriak-teriak, pelan-pelan." Selalu melelah Ron kamu bilang gitu, haha. Dari 11 lagu itu aku full power nyanyi dari bagian belakang. Berkat Rony, aku merasa volume suaraku kalau diibaratkan sebuah sound system kayaknya mengalami kenaikan. Selalu puas bisa sing along bareng Rony dan WeR1, meskipun aku sendiri, anjay. Seneng rasanya. Niatku simple aja, mau jadi kakak perempuan yang baik buat Rony (entah di universe mana), dan akan terus dukung dia selagi masih bisa.

Malam itu, Rony sebagaimana style yang ingin dia citrakan: Pria dengan pesona sederhana. Dia mengenakan kaos warna hitam dengan gambar tokoh yang aku gak tahu siapa dan ada tulisan AC/DC Rony pakai celana hitam, sabukan, dan awal pakai kacamata, pertengahan session kacamata dilepas. Kalau aku searching lebih jauh, AC/DC itu ternyata grup musik hard rock dari Sydney, Australia, yang dibentuk 1973. Mungkin wajah di kaos itu mungkin salah satu personilnya atau terkait album mereka. Rony ngikutin AC/DC juga di Instagram. Yah, aku kenalnya lebih ke Pink Floyd, Ron, wkwk. 

Inilah kabar dari Cibubur versiku. Aku juga sempat refleksi gini pas sampai kos, terkait perbedaan yang menunggu vs yang ditunggu; star vs audience; apa sih yang membedakan? Kupikir juga karena karya, karakter, dan mindset. Entahlah, aku selalu seneng Rony bisa jadi dirinya sendiri dengan semua style-nya. Keep growing ya Ron. I lof you as always. 

Ditulis di Jakarta, Oktober, 2025