Rasanya, rentang satu bulan ini jadi bulan yang berat untuk keluargaku. Kami kehilangan dua orang dekat kami sekaligus, Bapak yang meninggal Jumat, 14 Agustus 2026; dan Sabtu, 12 September 2026, Sunandar (Mas Nandar) yang juga suami dari adikku Tias, meninggal karena sakit pernafasan di usia yang masih muda. Adikku Tias tidak memberiku kabar, aku hanya tahu kabar ini dari nomor Mas Nandar yang aku kasi nama adikku Tias.
Kabar itu kuterima mendadak siang ini dari status WA tersebut. Aku langsung menghubungi adikku terakhir, menanyakan kebenarannya, dan begitu patahnya hatiku. Ya Allah, kenapa secepat itu? Ketika pulang ke Cepu, aku hanya sekilas lihat Mas Nandar. Dari dulu orangnya memang kurus, tinggi, jarang bicara jika tidak perlu, dan seperti menyimpan segalanya sendiri.
Aku ingin cerita flashback. Saat adikku izin menikah dengan melangkahiku, Tias udah bilang ke aku dulu, dan dia tanya aku minta apa? Karena dalam tradisi Jawa, agak pamali melangkahi kakak, dan perlu dapat izin atau aturan tertentu. Karena aku banyak dididik di kota dengan nilai-nilai yang lebih universal, aku sama sekali tidak keberatan Tias menikah duluan. Aku juga bilang padanya, aku tak minta apa-apa.
Saat Tias menikah di Dukoh, Jawa Timur, sepertinya saat itu aku masih kuliah di semester akhir, tanggal 11 November 2017. Aku saat itu datang bersama keluarga inti, dan saat itu ibu-bapak juga masih sehat. Pernikahan keduanya berlangsung sederhana, ada baju pengantin, tapi bukan yang ada tenda biru beserta meja dan kursi atau sound system di depan rumah sampai menghalangi jalan.
Dan dalam pengalaman hidupku, pernikahan adikku adalah pernikahan paling sederhana yang pernah kuhadiri. Aku sering datang di acara pernikahan kolega, kawan-kawan kerja, kawan-kawan kuliah dengan semua pesta meriahnya. Bahkan ada salah satu kolega yang karangan bunganya berjejer mengelilingi gedung tempat resepsi, dari pintu masuk sampai pintu keluar. Karangan bunga itu datang dari para pejabat dan orang-orang penting. Mereka juga menyediakan tempat makan VIP untuk tamu-tamu khusus, termasuk untuk hampers akhir juga dibedakan antara yang tamu spesial dan biasa.
Rata-rata dari mereka, pasti menyediakan tenda dan segala pernak-perniknya. Tapi, tidak untuk adikku. Pernikahan adikku jauh seperti itu, dilaksanakan di ruang tamu, makanan sederhana, tanpa hampers-hampersan. Bahkan aku masih ingat, aku memesankan undangan khusus ke temanku di Jogja untuk undangan adikku dari teman ontelektualku yang jago gambar dan desain grafis bernama Ayik. Saat itu, dengan harga teman, Ayik membuatkanku undangan lucu tersebut. Aku meminta adikku untuk mencetaknya, dan memberikan ke beberapa undangan.
Suami adikku bernama Sunandar, kelahiran 18 Juli 1989, sementara adikku kelahiran 13 Januari 1995. Mas Nandar dan Tias dikaruniai satu anak laki-laki bernama Alif. Pendidikan Mas Nandar jika tak salah hanya lulusan SD, sementara Tias SMK. Tias memang tidak pintar-pintar amat saat sekolah, tapi dia punya kapasitas empati dan EQ yang lebih baik daripada aku. Seingatku, Mas Nandar tak punya pekerjaan tetap. Sepanjang menikah dengan Tias, dia bekerja membantu adik kandungnya menjajakan lampu-lampu. Adik Mas Nandar punga toko elektronik yang menjual berbagai barang seperti TV, kulkas, kipas angin, mesin cuci, kabel, dan sebangsanya. Mas Nandar ini keliling menjajakan dagangan-dagangan itu.
Mas Nandar adalah orang desa. Orangtua dan saudara-saudara mereka juga sederhana. Mertua Tias para petani. Saat Tias hamil anak tunggalnya bernama Alif, Tias tinggal di rumah mertua yang bagiku cukup luas. Di sana Alif kecil juga tumbuh dengan lucu dan menggemaskan. Dinamika rumah tangga Tias dan Mas Nandar bagiku juga cukup baik, karena aku tak pernah melihat mereka bertengkar. Tidak ada kasus-kasus kusut yang mereka hadapi. Alif juga tumbuh dengan baik. Hubungan Alif dengan Mas Nandar juga baik. Mas Nandar sering membawa Alif jalan-jalan naik sepeda motor keliling Cepu. Bahkan untuk membeli hal-hal sederhana seperti mainan dan makanan.
Karakter Mas Nandar juga bukan orang yang neko-neko. Itu terlihat dari status-status yang dia buat, kadang sering sharing video-video lucu dari TikTok atau kata-kata dalam bahasa Jawa yang mudah dicerna maksudnya.
Semoga Tias selalu kuat. Jalan masih panjang. Semoga Mas Nandar husnul khotimah. Semoga Alif tumbuh menjadi anak yang berbakti.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar