Jumat, 19 Desember 2014

Falsafah Prihatin dari Dia yang Bersenyum Karnaval


Pak Dwi
Tiap tahun, kota saya mengadakan kegiatan rutin berupa karnaval. Kebetulan saat itu diadakan pas awal saya masuk kelas XII SMA, saat dimana saya belum merasa nyaman dengan suasana kelas yang baru.
Di karnaval itu hanya satu hal yang masih tersimpan permanen di sanubari saya: ketika wali kelas saya yang bernama Pak Dwi tersenyum pada saya. Senyum yang begitu tulus, indah, manis. Saya waktu itu tak menyangka, guru matematika yang baru saya kenal itu ingat saya, meski baru beberapa hari menjadi muridnya.
Dimulai dari satu senyum yang saya sebut senyum karnaval, saya mulai mengenalnya. Beliau, guru paling rendah hati yang pernah saya kenal. Ia sangat sederhana. Fisiknya kecil, tidak tinggi, pakai kacamata, dan tiap berjalan cepat. Kekhasannya lagi adalah logat bahasa Jawa halusnya. Tiap mengajar, beliau detail dan sering berputar mengelilingi siswanya dari meja ke meja untuk membantu. Dari situ tanpa sengaja interaksi terbangun. Pak Dwi tak hanya sekedar berbicara tentang matematika saja, tetapi juga berbagi kisah hidupnya dan falsafah yang beliau anut.
Saya begitu merasa dekat dengan Pak Dwi. Setiap hari selalu ada inspirasi untuk saya bawa ke rumah. Seperti, ojo rumongso iso, iso’o rumongso (jangan merasa bisa, bisalah merasa). Pesan yang paling berkesan bagi saya, Pak Dwi mengajarkan saya untuk hidup prihatin sebagai konsep dasar hidup. Dengan prihatin orang akan sadar akan keberadaannya dan bagaimana seharusnya ia berbuat. Prihatin terhadap diri sendiri, prihatin terhadap kondisi orang tua, juga prihatin terhadap lingkungan yang diwujudkan dalam sikap wani rekoso (berani menderita).
Dan Pak Dwi pernah bilang: “Ma, meski kamu kecil, nanti kamu kuliah ya… meski hanya D1. Prinsipnya: aku kudhu iso, kudhu wani rekoso, kerja keras, jangan mau merepotkan orang lain.”  Dan sekarang harapan untuk kuliah telah terwujud, saya sekarang kuliah di Yogyakarta, meskipun saya telat dua tahun dari teman-teman seangkatan saya. Pak Dwi, Isma ingin buat Pak Dwi bangga. 
#MenjagaApi

Kamis, 18 Desember 2014

Nuun yang Pulang Dari Malaysia

Selamat buat Sanggar Nuun yang tanggal 15-16 Desember kemarin mentas di Malaysia.
Baiklah, aku akan sharing obrolan malam ini, saat rombongan dari Malaysia ini pulang dan keluarga Nuun menyambutnya dengan mengadakan syukuran makan-makan. Berikut parafraseku mengenai kesan orang-orang yang ikut:
Om yang ngomong pertama (lupa namanya): Teater disana ternyata tak se-detail yang kita harapkan. Yang ikut teater ya orang-orang yang udah menguasai beragam teknik berteater dari olah vokal, olah akting, dan olah-olah yang lain. Jadi tidak seperti disini yang berangkat dari nol. Dan panggung pun itu tidak sewa tapi beli.
Mas Mumun: Orang di sana itu nggumun. Ternyata kita nggak cuma bisa tampil, tapi linghting pun bisa. Apa-apa kita bisa, sedangkan disana itu terspesialisasi kerjanya, nggak seperti di kultur kita yang bisa megang ranah mana pun. Lighting-nya pun disana mung katon padang thok.
Mas Bandot: Yang jelas, ilmu yang kita dapatkan di sanggar semuanya berguna disana.
Mas Adib: Disana nggak bantuin nyetting itu rasanya gatel. Latihan dari jam 10 pagi sampai jam 1 malam.
Kak Echa: Kalau ingin merasakannya langsung mending mengalaminya langsung. Main-main disana. Dan yang bagus kita pakai, yang jelek nggak usah. Kayak beli panggung itu nggak usah.
(karena di sanggar barang bekas pun jadi sesuatu untuk ditampilkan, bahkan banner pun hasil dari daur ulang banner yang tak terpakai. Malam-malam jam 12-an nyari banner di jalan yang nggak kepakai. Malahan pas pentas kemarin ada yang dijadiin kostum)
Mas Ilham dan Mas Mudin: mengesankan seperti yang lain.
Mbak Isti: Kalau di luar negeri jangan cuma di kamar, keluar biar temannya banyak. Semangat aktor pun patut ditiru. Meski sudah tua tapi masih punya semangat.

Dan kesimpulanku adalah: teater di Malaysia itu mahal dan elite. Tak seperti di Jogja yang proletar pun bisa mempelajarinya.
Last, makasih buat oleh-olehnya ya. Kak Echa, makasih gantungin kunci Malaysianya, Mas Mumun untuk coklatnya, dan uang senilai 1 RM yang entah dari siapa, haha, tengkyu. Aku jadi semakin semangat untuk melancong keluar negeri dan keliling dunia. Oleh-oleh kalian tuh jadi motivasi banget, haha... Kalian hebat!!

Rabu, 17 Desember 2014

Tentang Kamu dan Hari Ini

:sebuah narasi tidak untuk siapa-siapa

Aliran deras air di sungai sana tampak begitu romantis. Sedang ruangan ini masih tetap terdiam dan kamu masih duduk disitu seperti biasanya. Aku masih ingat dengan yang kamu ucapkan tadi. Aku ragu menulis karena terbayang kamu mungkin membacanya.Yang ingin aku katakan adalah apa yang bisa aku lakukan agar kamu tak merasa ini sesuatu yang jemu?
Orang lalu lalang masuk pintu ini dengan niat-niat mereka. Datang lalu duduk dan memandang gadget dan leptop mereka sendiri, tanpa ada ikatan emosional yang menyatukan (mungkin juga salah satunya aku).
Kamu tahu kan, aku tak pandai bicara. Aku hanya pandai menulis perasaan dimana pun aku suka. Itu sebabnya aku selalu ragu untuk berbicara duluan, meski hanya sekedar menyapa kamu. Di perbincangan bersama di ruang berdinding berisik ini kamu juga bilang bahwa teks itu lebih meneror daripada orangnya sendiri. Lalu mungkin kamu akan menyudutkanku dengan pertanyaan: alasan rasionalya apa? Tiba-tiba aku akan gagap menjawab, mataku berputar-putar, tanganku tak hentinya bergetar, dan dari mulutku terlontar kata-kata yang meloncat-loncat. Itulah sindrome yang sering diderita orang-orang yang dahulunya memiliki latar belakang tak banyak teman sepertiku. Mungkin aku akan menjawab: di tulisan aku bisa menjadi subjek dan semua di luarku akan berubah menjadi objek yang bisa aku permainkan apa saja. Termasuk aku bisa menulis sesuatu yang baik, buruk, atau sekedar teks munafik. Sungguh, satu-satunya yang ingin aku hindari adalah aku tak ingin menjadi polisi moral. Menjadi polisi moral adalah pekerjaan paling menyengsarakan bagiku seperti halnya menjadi motivator. Seorang motivator setidaknya harus punya energi lebih yang ia pakai untuk membangkitkan dirinya sendiri sebelum membangkitkan orang lain. Aku tak yakin dengan pertanyaan: bagaimana bisa manusia bisa terus menyala selalu dalam hidupnya seperti motivator? Atau kesedihan dan kelemahannya ditutup-tutupi. Itulah hal yang paling menyengsarakan dalam apriori itu: menyembunyikan.
Dan tak seperti biasanya, kamu menyetelakan simfoni musik klasik. Selera musikmu itu apa? Ah, musik-musik itu adalah karaktermu yang menunjukkan otakmu yang sebenarnya juga berwarna-warni. Di dunia ini aku menyukai semua musik kecuali yang beraliran cadas.
 Lampu ruangan ini masih menyala putih seperti biasanya. Dan debu-debu rokok masih tidur dengan tenang di atas piring sana. Sesekali kamu mengumpat dengan lucu  binatang yang sering menjulurkan lidah itu. Aku ada di titik tengah apakah aku harus menegurmu untuk jangan mengumpat lagi atau membiarkanmu mengumpat? Akhirnya aku mengapologikannya juga, dengan teknik menyinonimkan umpatan itu sebagai diksi yang wajar. Karena kadang sejujurnya aku juga menirunya saat hatiku marah (dan apa hakku juga melarangmu?).
Ada yang menarik tentang hari ini. Di saat kamu berkata 'hah' atau bunyi ketikanmu yang bertarung dengan ketikanku. Tentang penderitaan. Lagi-lagi tentang penderitaan ya? Mungkin kamu bosan. Eh, kata guru teaterku: kalau kamu bosan, kenapa ketika kamu makan nasi kamu tidak bosan? Kenapa setiap hari kamu tidur kamu tidak bosan? Atau guru teaterku yang sok tahu dengan menyamakan semua kondisi?
Sebenarnya, aku ingin menderita bersamamu. Si filsuf temanku bertanya dengan filosofis: "apa yang paling mendekatkan kita selain penderitaan?" Ia melanjutkan kata-katanya: Karena pada akhirnya, hal yang paling pahit akan indah untuk dikenang. Dan hal yang indah akan pahit untuk dikenang.

P.s.: Kamu jangan membacanya ya.

Jogja, 17 Desember 2014

Senin, 08 Desember 2014

Tersesat Di Pernikahan Orang, Sampai Bedah Sastra Di Pinggir Kuburan

Mungkin kemarin (7 Des 2014) adalah hari yang konyol sekaligus asyik.

Jam setengah sepuluh ke SC, Arena kumpul. Rencananya mau menghadiri pernikahan Mbak Melani Jayanti. Aku datang tepat pas rombongan mau berangkat. Aku bareng sama alumni Arena, namanya Mas Faisal. 

Berangkat kan, nah, pas Mas Faisal beli bensin, kita berdua ketinggalan dari rombongan yang lain. Akhirnya diikutilah jalan lurus itu, di sebuah jalan, ternyata ada acara pernikahan juga. Aku sama Mas Faisal turun. Sebelumnya aku nanya bapak penunjuk parkir, apakah benar ini pernikahannya Mbak Melani? Bapaknya mengangguk. Kami berdua pun menuju buku tamu--gak bawa kado!. Mas Faisal ngisi buku itu trus salaman sama seorang bapak yang kayaknya salah satu dari keluarga yang punya hajat sambil ngomong-ngomong.

Aku ngisi buku tamu sambil melihat sekitar, kemana anak-anak Arena yang lain? Setelah tanda tangan, aku diberi souvenir (gelas kaca kecil). Trus, kita berdua bingung. Ini yang lain pada kemana? Trus kami merhatiin dua orang yang duduk di pelaminan. "Loh, itukan bukan Mbak Mela!". Mas Faisal curiga, lalu aku baca nama dua sejoli yang ada dalam souvenir. Tertulis: Dian & Prima.

Masya Allah, kita salah masuk. Padahal bapaknya sudah menawari kami makan besar, hahaha.

Dengan laku sok tidak tahu, tidak bersalah, kami tertawa dan pergi dari pernikahan itu. Perjalanan dilanjutkan lagi.

Wah, ternyata tempatnya lumayan jauh. Di Desa Manisrenggo kaki Gunung Merapi. Kita kehilangan arah. Untungnya Mas Opik, Mas Taufiq, Yani SMS terus memberi petunjuk arah.

Kita juga tanya-tanya sama warga sekitar. Ada yang gak kelupa juga, pas di sebuah perempatan gitu. Kita nanya pada seorang anak muda penjual ayam goreng gitu. Di dekat pemuda ada dua pemuda lagi, satu cewek, satu cowok. Terjadilah sebuah adegan sinetron. Muncul seorang cewek lagi yang memaki sambil menangis pada pemuda yang kita tanyai itu. Pemuda itu dianggap selingkuh sama satu cewek yang ada disitu. Kata-kata baji**an dan binatang muncul. Ah, kasin sekali mereka.

Lalu kami melanjutkan perjalanan, untungnya ada Mas Makin yang menjemput kami dan akhirnya tiba di tempat pernikahan Mbak Mela :)
Selamat Menikah Mbak Mela, langgeng selalu (Pic. Sandal Jepit)
Para Perusuh (Pic. Sandal Jepit)
Disana seperti ajang reuni juga euy, haha. Ada Mbak Ulfa, Mbak Susi, Mbak Anik, Mbak Mun, angkatan Arena atas. Ya, ngobrol-ngobrol, ketawa-ketawa, dan saling mem-bully, haha. Trus makan bareng, foto-foto bareng, sampai pulang sekitar pukul 12 siang.

Pulangnya, rombongan mau main-main ke Candi Sambisari, tapi karena Mas Faisalnya ada acara, kita duluan (padahal pengen banget ikut).

Malamnya, usai Rapat Redaksi Online buat anak magang sama Mbak Ulfa, aku main ke Kem. Ketemu anak-anak. Niatku pengen baca cerpen dan diskusi bersama tentang sastra sama Mas Opik dll. Karena presiden Lembah Sastra Gajah Wong itu sedang ngopi di luar, Mas Taufiq (partner in crime Mas Opik) ngajak ke angkringan. Kita berdua ditambah Mas Arif jalan-jalan ke angkringan pinggir jalan dekat SAB. Namun, karena tutup kita cari alternatif lain. Di sepanjang jalan kami saling mengoceh. Mas Taufiq cerita tentang sebuah film satu kali shoot yang membuat bulu kuduk merinding.

Kita jalan-jalan di kompleks Gowok nyari angkringan. Sampai aku ngajak mereka berdua mampir ke kontrakan Sanggar Nuun di blok CV yang sekarang udah pindah kontrakan :(

Rumah itu begitu gelap, terbayang kenangan-kenangan dan nostalgiaku di tempat itu. Trenyuh sekali rasanya hati ini. Bercakap pada simbol Nuun yang merah dan sulur-sulur markisa yang masih sama. Tiba-tiba aku merasa kangen.

Mas Taufiq bilang: "Rumah boleh jadi berpindah-pindah, tapi kenangan akan selalu hidup."
Sampailah kita di angkringan dekat kuburan Gowok. Pesan gorengan bakar, nasi, dan satu teh anget. Sebelumnya makasih buat Mas Taufiq yang malam itu bersedia mensubsidi aku karena aku bawa uang dikit. Bau-bau gerimis membuat malam itu terasa syahdu.

Lalu kita mulai bicara tentang apa saja, dan obrolan yang mengalir ini membuat kita berbicara tentang sastra. Tentang sebuah cerpen yang aku tawarkan untuk dibedah. Judulnya Jalan Sunyi Kota Mati karya Radhar Panca Dahana. Menurutku cerpen itu sangat menarik. Dari gadget Acer Mas Taufiq, aku dan Mas arif membacanya bergantian. Setelah usai, kita sharing pendapat kita tentang cerpen itu. Banyak kritik sosial di cerpen ini, tentang kepedulian, tentang mahasiswa, tentang aparat negara, tentang agama, dll. Hingga waktu menunjukan pukul 21.15 WIB, kita kembali. Berjalan-jalan pulang.

Lalu di jalan ngobrolin puisi Sapardi yang temanya banyak tentang cinta yang dalam. Aku juga tak menyangka malam itu aku bisa lancar bercerita tentang dongeng Tuck Everlasting. Kisah keluarga Tuck yang bisa hidup selamanya. Kisah air abadi, Winnie, Jesse, dan katak.

Jam 21.45 sampai di depan SC yang gelap. Aku ngambil sepeda dan berniat pulang.
Di PKSI anak Sanggar sedang latihan untuk perform di Malaysia.
Aku sudah sampai di gerbang depan tong setan, tapi hati menyeretku untuk mampir ke PKSI. Seolah energi yang kurasakan dari kontrakan Sanggar tadi menarikku kesana. Yang penting adalah mereka Ma. Mereka masih ada, sapalah selagi kesempatan itu ada.

Aku kesana. Disambut dengan senyum dan lambaian tangan Mas Mumun. Mereka sedang memainkan komposisi Romantika Awan. Sungguh, indah dan harmonis sekali. Aku selalu menyukai totalitas sanggar. Malam itu juga ada seperangkat gamelan baru yang datang.
-----
NB: Di kondangan kemarin di-bully gini, "mesthi ditulis di blog. Tapi gara-gara dibilangin ntar dilema dan nggak ditulis". Hahaha, nih, aku tulis.

(Is)

Rabu, 03 Desember 2014

Konsisten Itu Membosankan

Baiklah akan kumulai tulisan ini dengan kisah pre-test elektronika dasar yang membuat gregetan. Hanya karena salah mengartikan, harusnya buat simbol flip flop JK doang, tapi aku malah kerajinan buat yang rangkaiannya. Harusnya bisa dapat nilai 80 tapi malah 65! Nyesek banget.
Soalnya apa? Aku baru nyadar di praktikum eldas kemarin, kalau kita inhall, mengulangnya itu harus bayar >50 rb, gila, banyak banget itu. Kalau nilai nggak maksimal itu sayang! Ya, hari ini aku cukup senang, meski cuma sedikit aku bisa ikut merangkai kabel-kabel yang mbulet itu. Sebelumnya, aku kayak jadi patung kalau dibandingkan teman kerjaku. Dia lebih pintar.
***
Pindah ke kelas filsafat. Cukup menarik sebenarnya materi tentang ilmu dan problem nilai. Apalagi pas Lina berkata tentang pendapat si Foucault bahwa ilmu melahirkan kekuasaan, kekuasaan melahirkan ilmu (mirip si gaek Bacon: knowledge is power). Dengan sok tahunya aku ngacung trus tanya: ilmu sebagai kekuasaan kalau saya menganologikannya begini. Ada pasien yang datang ke dokter, trus si pasien percaya aja sama si dokter. Disini si dokter punya kuasa terhadap pengetahuannya. Lalu tentang dosen yang juga punya kuasa terhadap mahasiswa. Atau kisah teman saya, keamarin itu saya dan teman saya bersepeda ke sebuah candi dan kami duduk di sebelah arca. Ada sesesorang lewat dan memberi tahu teman saya, "mas, jangan duduk disitu, nanti rusak" lalu teman saya langsung pindah. Orang itu mungkin seorang arkeolog atau siapa, yang jelas dia lebih tahu. Yang ingin saya tanyakan, apa yang membuat ilmu itu menjadi kekuasaan?
Awalnya dijawab karena faktor ketahuan saja. Saya tidak puas menggeleng kepala. Lalu dijawab sama Mas Allam (mantan PU LPM Metamorfosa yang tak kusangka sekelas), dia bilang gini: ilmu adalah alat. Alat itu yang dipakai untuk berkuasa. Kalau diibaratkan pisau, pisau bisa sebagai alat ia bisa digunakan untuk membunuh, tapi ia juga bisa digunakan untuk memasak. 
Jawaban ini aku cukup puas. Berarti, ilmu adalah alat. Tools, instrument, weapon, etc. Aku jadi bayanginnya tuh gini (implementasi), UAS dan UTS itu aku ibaratkan perang. Kalau aku tak punya alat/senjata untuk perang gimana mau menang? Ditembak duluan deh, mati.
 
Trus, di akhir kelas dosen filsafatnya memberi tanggapan. Ternyata, aku salah. Kekuasaan yang aku sebutkan tadi adalah kekuasaan yang sifatnya tradisional, sifatnya mengintimidasi orang, menakuti orang lain. Sedangkan si Foucault bicara tentang kekuasaan yang dalam diksinya Foucault itu 'normalisasi'. Ilmu pengetahuan itu dinormalisasi. Contohnya si tokoh kesehatan X buat buku tentang merawat anak. Pengetahuan tentang merawat anak dinormalisasikan seperti teori si X, dan jika tidak sesuai X maka dikatakan itu salah. (Haha, meski salah setidaknya uneg-unegku keluar)
***
Kemarin juga, ARENA kedatangan tamu dari LPM Ekspresi UNY. Ada Mas Taufik Ekspresi dan empat anggota magang. Kita ngobrol-ngobrol tentang keredaksisan dan banyak hal. Salah satu celetukan yang menarik adalah: konsisten itu membosankan.
***
Ini pesan dari John Rimba. Hal paling menarik di ARENA adalah tantangan-tantangannya. Tantangan saat meliput, wawancara, hambatan, dll. kayak Mas Rimba yang hidup di jalanan untuk peliputan majalah, atau Mas Folly yang jauh-jauh ke Klaten untuk wawancara. Lalu, hal paling mewah menjalani profesi jadi juranalis adalah dipaksa untuk TERUS BELAJAR. Contohnya gini, saat kamu ngliput tentang HAM, kamu akan belajar HAM, saat ngliput kesehatan, kamu belajar kesehatan, dll. yang itu mungkin tak sesuai dengan jurusan kamu. Yang penting juga, saat penulis atau wartawan melepas tulisannya, ia tak berhenti sampai disitu. Jejak-jejak seperti catatan, foto, dan rekaman harus tetap disimpan jika suatu waktu digugat. Kalau perlu data ini diklasifikasikan dan ditempatkan di tempat khusus.
***
Inti dari tulisan ini adalah mari hidup dinamis.

--Is

Jumat, 28 November 2014

Tiga Keunggulan Mahasiswa Fisika

Sharing pemikiran salah satu dosen fisika yang "yes" di UIN, Pak Cecilia Yanuarief.
Jadi ceritanya itu gini, usai dengar dongeng tentang Dewi Sri berserta kisah cupu manik astaginanya dari opa Jadul Maula. Di hari yang mendung, datanglah aku ke kelas fisika matematika (fismat).
Pak Cecil bilang mahasiswa fisika harusnya itu tiga kali lebih pintar daripada mahasiswa matematika. Kenapa? Ada tiga alasan:

1. Fisika lebih dari matematika. Matematika adalah alat bantu fisika. Di fisika pasti ada matematika, di matematika belum tentu ada fisika.
2. Mahasiswa fisika itu memiliki kemampuan fisis lebih. Kalau dalam matematika 2+2=4, di fisika tidak hanya berhenti disitu. Perlu penjabaran fisis kenapa bisa dapat 4? Contohnya gini: E=mc² hal fisis apa sih yang nerangin tentang ini? Apa dampaknya bagi fisik, ragawi?
3. Punya kemampuan verbal lebih. Jadi gini, saat Newton mengatakan rumus F=m.a tentu secara verbal kemampuan bahasanya dilatih untuk menerjemahkan: apa sih maksudnya itu?

Terakhir, tambahan dari aku sendiri, haha.. Yang punya bahasa simbol tak cuma puisi aja. Fisika adalah ilmu simbol-simbol--bahkan mungkin paling kaya. Bayangain aja untuk menuliskan massa cukup nulis satu huruf aja yaitu (m), tegangan (V), temperatur (T), arus listrik (I), jumlah muatan (N), dsb.

Ya, namun ini semacam tulisan hipokrit belaka jika tidak sungguh-sungguh *eh. Nothing happens until something moves.

Rabu, 26 November 2014

Taitologi

Kesalahan sebagian manusia adalah dirinya selalu menunggu keadaan 'ideal' untuk melakukan sesuatu. Entah itu di bidang apa atau kerjaan apa. Padahal sampai mampus sekali pun keadaan yang ia sebut 'ideal' itu tak akan datang. Jika pun datang itu fatamorgana saja. Hanya anggapan yang seolah-olah ideal. Bilapun itu demikian aku tak yakin si manusia itu bisa mengerjakan apa yang ia kehendaki dengan maksimal. Tidak ideal itu ideal. Ideal itu tidak ideal.

Lalu aku ingin meloncat tentang sebuah analisis sederhana tentang seseorang manusia yang tak tahu diri. Berkaca dari realitas barusan.Tadi aku nyuci piring, mbak yang nemenin ibuk kos bilang ke aku, intinya dia bilang: "mbak, besok kalau nyuci piring pake sabun sendiri ya, soalnya eyang (pemilik kos-red) marah. Kalau sekali dua kali nggak papa. Masalahnya udah berbulan-bulan, mbak-mbak yang lain juga sudah saya kasih tahu."
Aku tersadar. Ini bermula saat pertama aku masuk kos ini. Dulu aku menyiapkan sabun sendiri. Namun ada sebuah tradisi salah yang diwariskan mbak-mbak tetangga kos sebelum aku mereka selalu mencuci piring dengan sabun milik eyang. Akhirnya, karena nggak mau susah aku ketularan hingga berbulan bahkan setahun lamanya menikmati kemanjaan itu. Dan baru tadi tersadarkan.
Aku berpikir, kenapa manusia selalu nyaman melakukan kesalahan yang ia nikmati sebagai sebuah tradisi yang ia rasa enak? Analisisku lagi malah bercabang kemana-mana. Aku jadi ingat ibuk bapak di rumah. Apa selama ini aku juga tak tahu diri seperti kelakuanku memakai sabun eyang itu.

Ya, sebagian manusia asyik tertidur dengan kenyamanan yang salah. Sleep is so f38719U6c3k%#$%#%. !!!!!!!!!!