Sabtu, 07 Maret 2026

Catatan Buku "Aktivisme di Persimpangan Jalan" karya Fatia Maulidiyanti

Aktivis HAM KontraS, Andrie Yunus, disiram dengan air keras oleh oknum yang dendam pada gerak-geriknya. Kejadian itu berlangsung di Jalan Salemba I Jakarta pada 12 Maret 2026 pada malam hari. Luka bakar dialami di seperempat tubuhnya, di mata, wajah, dada, dan tangan. Membakar 24 persen dari tubuhnya. Terjadi di malam bulan suci usai Andrie podcast membahas soal isu TNI. Ini menjadi pukulan yang besar bagi dunia HAM dalam rentang satu bulan terakhir, dan sampai kini hanya pihak "keset" dan "lap"-nya saja yang ditangkap, sementara otak pelakunya masih bersih. Apa yang dialami Andrie Yunus ini jugalah yang barangkali disebut Fatia sebagai bentuk "aktivisme di persimpangan jalan".

Aku membaca buku Fatia ini lumayan cepat, dalam rentang sekitar dua hari dengan berbagai kesibukan harianku bekerja. Bahasanya mudah dipahami, terdapat tiga bagian utama buku ini:

1. Ketika Semuanya Bermula 

Bagian pertama ini membahas terkait kondisi ontologis Fatia. Di teras depan buku nyaris seperti pembaca dijadikan teman curhat, terkait kisah Fatia dengan keluarganya, bagaimana dilema dia memilih isu HAM, pilihan kuliahnya di Universitas Parahyangan, krisis eksistensial yang dialaminya di umur 20-an, hingga akhirnya mendapatkan pekerjaan di KontraS. Privilese yang dimiliki Fatia, dia memiliki orangtua yang support keputusannya. Kisah awal Fatia ini mengingatkanku dengan kisahku sendiri saat mahasiswa, dan memutuskan untuk mengikuti kegiatan dan organisasi bertema kerakyatan. Di kampus juga bisa menonton berbagai film kritis, ikut pelatihan-pelatihan profresif, dan advokasi-advokasi kaum marjinal.

Di bagian pertama, Fatia menjelaskan mengapa HAM? Mengapa Munir? Menurutnya, Munir Said Thalib-lah yang mempengaruhi kariernya di KontraS. Munir tak hanya berani, tapi juga rendah hati. Dia loyal di jalan aktivisme sejak tahun 1998 dengan menolong kelompok tertindas, meskipun kematiannya di pesawat Garuda nomor GA-974 pada 7 September 2004 dengan jalan diracun arsenik masih meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tim Pencari Fakta (TPF) juga enggan membuka kasus tersebut. 

Munir tak sendiri, masih banyak aktivis-aktivis HAM lain yang bernasib serupa, seperti Marsinah dan Salim Kancil. Sementara ada pula aktivis seperti Golfrid Siregar, mantan advokat Walhi Sumatera yang kematiannya tidak menemui titik terang hingga hari ini. Di kalangan mahasiwa, ada mereka yang terlibat dalam aksi #ReformasiDikorupsi tahun 2019.

Dia juga terinspirasi dari Sjahrir dan perjuangan kelompok muda. Kutipan Sjahrir yang terkenal, "Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan dimenangkan." Fatia mendedah biografi Sjarir, yang lahir di Agam, Sumbar, 5 Maret 1909. Sjahrir menempuh pendidikan di AMS Bandung, bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), hingga karena aktivismenya pada gerakan antifasis Jepang, dijebloskan ke pengasingan di Boven Digoel (1935) dan Banda Neira (1936). Fatia sangat menolak ketika Ketum Golkar Airlangga Hartanto menyamakan Gibran dengan Sjahrir, serta dia mengajak kita membayangkan, jika Sjahrir hidup hari ini, barangkali dia akan mengajak diskusi terkait bagaimana kiprah pemuda saat ini dalam gerakan kemasyarakatan dan HAM? 

Fatia melihat sebab-akibat kondisi HAM yang saat ini terjadi karena masa lalu. Ia mengingatkan kita terkait sejarah kasus-kasus HAM yang terjadi, termasuk pelanggaran HAM berat masa lalu, hingga barisan pembela HAM yang menunggu mati meskipun mereka tidak bersalah. Sebagaimana dikutip dari wawancara Fatia dengan JJ Rizal, sejarah resmi formal tak lepas dari propaganda politik untuk memanipulasi sejarah. 

"Sejarah menurut sejarawan JJ Rizal, sejatinya adalah ruang aspirasi dan inspirasi. Namun, meski menjadi ruang memori identitas bangsa, akses untuk mempelajari sejarah alternatif sayangnya tidak dibiasakan dalam sistem pendidikan kita." (28)

Yang kuingat juga, mengapa metode pengajaran sejarah lebih cenderung pada hafalan dan kronologi? Karena itu akan menjauhkan mereka pada metode refleksi, yang ini sangat berbahaya bagi rezim. 

Sebenarnya, pemerintah hari ini "sudah cukup pintar" untuk menggunakan instrumennya dalam menuntaskan dosa sejarah negara. Namun, ketika kita menilik pola sejarah, kasus ini tak mendapatkan jawaban karena malah dijadikan sebagai dagangan politik. Termasuk misalnya Gerakan 30 September, pengkhianatan G30S/PKI, hingga kasus yang dialami oleh para buruh migran Indonesia di luar negeri. Kasus itu seperti yang dialami Merri Utami yang tak hanya mengalami penipuan, kekerasan seksual, tapi juga dituduh menjadi bagian dari gembong sindikat Narkoba yang dipidana mati!

Kasus HAM yang tak kalah menyayat hati terjadi pada Pak Ruben Pata Sambo dan Pak Markus Pata Sambo. Mereka terpidana mati karena diduga melakukan pembunuhan terhadap keluarga yang di kemudian hari tidak terbukti. KontraS mendampingi mereka di Lapas Lowokwaru, dengan kondisi yang sangat sulit secara logistik, yang disediakan bagi jaringan teroris. Menurut Fatia:

"Putusan hukuman mati, dengan kondisi hukum di Indonesia yang masih buruk, sangat sarat dengan maladministrasi, unfair trial, penyiksaan, dan tindakan tidak manusiawi lainnya yang sayangnya tidak pernah mendapatkan perhatian dari Hakim. Hal ini terlebih rentan bagi orang-orang yang miskin dan buta hukum." (61) 

2. Jalan Terjal Gerakan HAM

Fatia di bagian dua menyinggung tertkait tantangan yang dialaminya saat dia memilih untuk menggeluti HAM. Hal yang dia soroti adalah ekonomi mendesak, yang berdampak pada demokrasi yang terasa sesak. Kelas menengah di Indonesia masih menjadi paradoks di tengah bonus demografi dan ilusi Indonesia Emas 2045. Cita-cita ini memang baik, tapi melihat gaji para pekerja Indonesia saat ini, saya tidak yakin dalam waktu sekitar 19 tahun lagi, akan bisa mencapai dua digit. Bayangkan UMR di Banjarnegara saja Rp2.327.813, tak sampai 2,5 juta, dan masih banyak pekerja yang gajinya lebih rendah dari itu!

Tantangan lainnya, yaitu persimpangan jalan antara Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dan gerakan sosial politik. Fatia mengkritik bagaimana OMS hari ini sifatnya tak hanya programatis, tapi juga pragmatis. Mereka bahkan hadir bukan atas dasar kebutuhan masyarakat, tetapi malah jadi beban masyarakat. Sepertinya kita juga perlu membaca lebih dalam terkait OMS ini, salah satunya dari penelitian yang dilakukan oleh Bob Sugeng Hadiwinata dalam bukunya, "The Politics of NGOs in Indonesia: Developing Democracy and Managing a Movement". Menurut Fatia, seharusnya OMS bisa memberi ruang belajar, berorganisasi, pemberdayaan, keahlian, hingga pendukung bagi suara akar rumput.

Namun, tak hanya menyebutkan tantangan, Fatia juga memberikan kiat-kiat yang berguna ketika kamu ingin berangkat aksi, serta bagaimana ketika terjebak dalam ancaman aparat keamanan. Misal untuk barang-barang, yang perlu kamu persiapkan seperti: tas yang nyaman, pakaian ganti, helm, sunscreen, air minum, masker, identitas, uang secukupnya, payung, kacamata hitam, tisu, obat pribadi, dan NaCl (untuk disiram di wajah jika terpapar gas air mata). Panduan lainnya: simpan kontak darurat, cari buddy system agar tidak sendiri, bikin kode-kode singkat, dan gunakan VPN untuk merekam kejadian penting.

Fatia menganggap para pemuda ini menjadi garda depan, termasuk masa depan kekuatan gerakan. Dari data bonus demografi juga, ditakutkan mereka hanya jadi rente suara dan jadi para pendengung (buzzer) yang dibayar untuk propaganda dan provokasi. Tindakan ini tentu mengancam demokrasi, sebagaimana riset yang pernah dilakukan oleh LP3ES dan UvA dengan ketuanya Pak Ward Barenschot. Kebetulan pas riset ini, aku jadi peneliti lapangan, meneliti bagaimana buzzer bekerja. Kita perlu mengingat juga pesan dari Romo Mangun:

"Generasi muda tidak boleh hanya sibuk mengejar masa depan pribadinya. Ia harus berani melibatkan diri dalam penderitaan bangsanya, karena di situlah martabatnya sebagai manusia." (100) 

3. Menjaga Konsistensi Gerakan HAM

Pada bagian tiga, Fatia menyebarkan optimisme agar gerakan HAM terus hidup melalui proses yang didengungkan oleh Tan Malaka: "Terbentur, Terbentur, Terbentuk." Termasuk Fatia juga bercerita tentang kejadian yang dialaminya dan sempat viral di media sosial, saat berhadapan langsung dengan Luhut Binsar Pandjaitan. Sebenarnya, ini bagian yang paling aku tunggu-tunggu, meskipun menurutku kurang tereksplorasi dengan baik. Pasalnya, Fatia hanya menceritakan dengan singkat, kurang mendalam, dan rasanya seperti laporan teknis belaka, kurang refleksi. Kasus ini juga melibatkan Haris Azhar, personel KontraS lainnya. Alhamdulillah, kasus ini dimenangkan oleh mereka.

Fatia juga mengulas terkait titik nadir pelanggaran HAM di ufuk timur Indonesia, yaitu di Papua. Kita tentu masih ingat dengan kasus Theys Eluay yang tewas di dalam mobil yang terperosok di jurang pada bulan November 2001. Kecelakaan ini dianggap sebagai pembunuhan politik. Masih di Papua, kasus penembakan oleh TNI pada pendeta di Intan Jaya Papua bernama Yeremia Zanambani juga dilakukan dengan dalih makar. Serangan juga dilakukan pada mereka yang dianggap pemberontak seperti OAP. Papua ini kaya dengan pelanggaran HAM karena pelanggaran pembangunan, pertikaian horizontal, hingga kekerasan masif aparat. Mengingat ini, aku selalu terkenang-kenang dengan karya Seno Gumira Ajidarma dalam buku "Penembak Misterius".

Fatia juga menyemangati kita khususnya sebagai perempuan untuk bangga menjadi perempuan yang berani. Menurut Fatia, ketika perempuan di Barat sudah melakukan protes patriarki dengan slogan "The Personal is Political", tapi perempuan di global selatan, khususnya Indonesia, masih berada di bawah kekuasaan norma-norma kolonial, dan menjadi subjek eksotis kulit putih. Kita perlu bercermin pada perempuan-perempuan pemimpin hari ini, seperti Ketua Umum Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Nining Elitos yang menjadi motor perlawanan kebijakan negara yang menyesatkan. Sebab pembentukan kebijakan yang tidak berpihak pada perempuan.

Di bagian epilog, Fatia menekankan agar kita berani merebut Renaissance di tengah zaman gelap. Akhirnya, menurut Fatia, "aktivisme adalah jalan untuk menjaga agar energi perubahan tidak padam."

Kritik dan Pemikiran Pribadi: 

Tapi aku juga punya kritik pada penanganan HAM di Indonesia yang mayoritas berpusat pada narasi "besar-besar" saja. Bukan menafikan yang besar, tapi bagaimana bisa menghadapi yang besar jika penanganan HAM yang level kecil saja kita masih belum menaruh perhatian. Contohnya sesederhana Pak Minta di Jabar yang mati karena mencuri dua butir labu siam di tempat tetangganya. Dikutip dari koran Kompas edisi Jumat, 6 Maret 2026, dia terpaksa mencuri karena tak punya uang dan harus merawat nenek berusia 90 tahun. Dia dibunuh oleh tetangganya sendiri yang main hakim sendiri memukul tangan dan tubuh, sampai Pak Minta sakit dua hari, tak ada biaya ke dokter, sampai dia meninggal. 

Apakah penanganan HAM mainstream (yang berkutat pada tokoh-tokoh pejuang HAM dan aktivis-aktivis prodemokrasi) menjangkau sampai kelompok marjinal di sana? Bagiku, dalam HAM, tidak ada yang lebih berarti selain nyawa manusia--ini juga sudah ditekankan Fatia dalam buku ini. Apa arti HAM tanpa manusia, yang ada hanya ha! Hak hidup di atas segala-galanya. Siapa Pak Minta? Dia tak punya kuasa apa-apa, tak punya instrumen yang memadai, tak punya pengetahuan, yang dia usahakan setiap hari adalah upaya bertahan hidup. Negara zalim pada orang-orang seperti Pak Minta. 

Menurutku, penanganan HAM masih didominasi oleh kasus PKI/peristiwa 65, Peristiwa Trisakti, Semanggi I dan II, serta para aktivis. Seolah sorot hanya diberikan pada kasus pelanggaran HAM berat. Aku tidak menganulir kasus babon ini, tidak. Karena sangking pentingnya, seolah kita stuck dengan kasus HAM lain, yakni pada golongan yang sangat lemah. Kita lupa pelanggaran HAM harian yang terjadi pada masyarakat biasa-biasa saja.

Sekali lagi, posisiku bukan sebagai oposisi terhadap HAM berat, tapi lebih memperluas horizon lain dalam bahasan HAM yang kebetulan banyak pegiatnya luput. Karena judul buku ini pun begitu menarik, "Aktivisme di Persimpangan Jalan." Dan di jalan lain, aku melihat kasus berkaitan dengan martabat manusia yang pegiat HAM sendiri luput.  

Judul: Aktivisme di Persimpangan Jalan | Penulis: Fatia Maulidiyanti | Editor: Matthew Fenat, Celine Anastasya | Penerbit: PT Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia, Jakarta | Tahun terbit: 2025 | Jumlah Halaman: x + 180

KUTIPAN:

Ruang yang memadai bagi orang muda untuk bersiasat dan berkonsolidasi masih sangat minim. Minim dari segi horizontal maupun vertikal. Ragam tokenisme banyak terjadi, keberlanjutan yang terhambat sehingga membuat gerakan muda dianggap "rimpang". (v) 

Mudah-mudahan kalian tidak menjadi aktivis-aktivis yang berkhianat dari jalan perjuangan masyarakat (doa ini juga berlaku untuk saya). (vi) 

Inti dari kebenaran adalah pengungkapan atau membuka dari apa yang tersembunyi... Kebenaran membuat kita memahami dampak kekerasan pada hidup masa kini, untuk kemudian mengurai dan mencegah kekerasan di masa mendatang. Tanpa mengetahui kebenaran, kekerasan akan terus berulang. (27) 

Kemiskinan tidak hanya terkait ekonomi, tapi bisa juga informasi... Tujuannya menciptakan ketidakpedulian terhadap komunitas korban dan penyintas pelanggaran HAM berat. (29) 

Ajaran menghafal merupakan warisan kolonial kepada pribumi. Dengan mengajarkan kronik dan urutan waktu, orang hanya dapat mengetahui peristiwanya, bukan nilainya. Kronik membuat orang belajar sejarah, tapi tidak belajar sama sekali dari sejarah. Poin yang paling penting malah gagal untuk ditangkap, bahwa sejarah bukan semata-mata menemukan pahlawan dan tokoh, tetapi bagaimana dialog kemanusiaan itu mengalami pasang surut, terus dicari, dan ditegakkan... Semestinya api sejarah dijaga dengan mempelajari kronik dan nilainya. Dengan begitu sejarah tidak kehilangan nyawa dan masyarakat dapat mengevaluasi diri. (30) 

Menganggap narasi sejarah di luar negara adalah sesat, maka sesungguhnya negara sedang memproses anak bangsa menjadi virus jahat yang akan merusak bangsa. (31) 

Anak muda menjadi arena pertarungan wacana dan informasi. Termasuk pertarungan politik papan atas. Anak muda mengambil dia posisi sekaligus: subjek dan objek politik. (32) 

Pemerintah sudah cukup pintar, mereka sudah cukup pintar. Masalah sebenarnya telah terlihat jelas jika menilik pola dalam sejarah: pembentukan tim-tim khusus di atas sejatinya tidak lebih dari sekadar dagangan politik. (39) 

Pelanggaran-pelanggaran HAM berat bisa terulang dengan modus serupa para pelaku... Pemimpin negara boleh saja berganti, tetapi mereka yang diduga kuat melakukan pelanggaran HAM berat masih kuat dalam pemerintahan. Dengan kata lain, persoalannya terletak pada politik kekuasaan. (41) 

Pak Paian, "Saya cuma ingin tahu, kalau masih hidup, Ucok ada di mana? Kalau dibuang, ia dibuang di mana? Kalau mati, ia mati di mana? Agar kami keluarga bisa bertemu lagi dengan raganya Ucok, hidup ataupun mati." (44) 

Aksi Kamisan dipelopori oleh Jaringan Solidaritas Keluarga Korban (JSKK) sejak 18 Januari 2007. Didukung oleh beberapa OMS seperti KontraS dan YLBHI. Mereka menagih janji negara terhadap penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat di depan Istana Merdeka pada setiap hari Kamis. (45) 

Aksi Kamisan terinspirasi dari Las Madres de la Plaza de Mayo... Aksi itu dilakukan oleh ibu-ibu yang menuntut janji negara terhadap korban pelanggaran HAM yang dilakukan ekstremis kanan bersenjata di Argentina. Dilakukan sejak tahun 1977. (46) 

Hak hidup adalah hal paling fundamental pada konsep HAM. Tanpa adanya hak hidup, tidak ada hak asasi manusia lainnya yang dapat dinikmati oleh seorang manusia. (69) 

Tantangannya adalah bagaimana anak muda tetap berdaya, merangkul sebayanya dan warga umum khususnya dari kelas menengah bawah, untuk setia mengawasi, mengkritisi sekaligus mengutuk kekuasaan tak semestinya oleh pemerintahan dan elite di tengah ketimpangan sosial ekonomi dan iklim politik represif? (76) 

Bersamaan dengan itu, perlu bersuara pula atas hak-hak liberal seperti kebebasan berpendapat, akuntabilitas, serta kompetensi elektoral yang sehat. (79) 

Masyarakat sipil termasuk anak muda, cenderung diatur dengan cara-cara tua agar mampu terlibat membicarakan dan membentuk kebijakan publik secara politis-formal. (83) 

Orang muda dan kelompok marjinal diperlakukan sebatas sasaran janji kampanye dan mobilisasi suara daripada subjek berdaya. (84) Why? 

Keresahan publik adalah milik kolektif, bukan milik satu wajah saja, dalam hal ini penokohan yang membuka ruang pada kultus individu, kritik internal melemah, fanatisme tokoh, dan melemahkan inisiatif dan pikiran bebas dari generasi gerakan-gerakan baru. (85) 

OMS mungkin perlu mundur dari klaim "mewakili" komunitas dan justru menjadi sekutu dan pendukung suara akar rumput. (114) 

Pengalaman bertumbuh dan menguji kemampuan diri dalam menghadapi konflik, secara pribadi maupun profesional. Berhadapan langsung dengan Luhut Binsar Pandjaitan... (118) 

Konsistensi, teliti, dan kepala batu dalam interogasi atau proses BAP jadi sangat dibutuhkan jika kalian menghadapi hal serupa. (122) 

Publik yang bungkam melahirkan masyarakat yang apologetis, berujung pada merosotnya demokrasi. (124) 

Motif terbesar kami adalah menginginkan negara yang baik, pemerintahan yang jujur, bersih, dan sungguh-sungguh melayani sehingga kecintaan kepada negara makin kuat. (125) 

Jika kita menyerah, kita hanya memuaskan keinginan penguasa. (137) 

Bagi saya, dibanding Gerakan #MeToo, gerakan-gerakan itulah yang kita (masyarakat dunia Selatan) perlu dipelajari lebih banyak. (161) 

Ilmu pengetahuan merupakan sarana penting penopang, bintang pemandu perjuangan perempuan hingga masa mendatang. (167) 

Politik harapan hanya mungkin lahir bila orang muda dan masyarakat sipil berani keluar dari echo chamber, melepas eksklusivitas, dan mengakui bahwa demokrasi tidak bisa lagi diserahkan kepada elite. (171) 

Aktivisme adalah jalan untuk menjaga agar energi perubahan tidak padam... Teruslah berlawan dengan penuh kegembiraan! (171) 

Jumat, 06 Maret 2026

Catatan Buku "Pedoman Praktis Membuat Usulan Penelitian" karya Masri Singarimbun

Topik yang diajukan sudah usang dan terasa yang bersangkutan tidak mengikuti perkembangan dalam bidangnya. (7)

Halo Pak Masri, rasanya kutipan itu menggelitikku. Untuk menjadi ilmuwan sungguhan, kita memang perlu up-to-date dengan perkembangan yang terjadi di bidang kita. Aku kembali lagi membaca buku Bapak yang menurutku penting ini. Dalam kata pengantar, Pak Masri membukanya dengan sangat lucu, terkait kelemahan penelitian yang tidak jelas tujuannya apa, sehingga membuat Bapak dan tim yang membacanya berkelakar, "Apa yang kau cari Palupi?" Aku ketawa-tawa Pak, karena di sisi lain, aku menghadapi permasalahan yang serupa pula. 

Buku ini membuatku lebih rigid lagi dalam membuat research note. Segala hal yang berkaitan dengan penelitian perlu menggunakan metode yang jelas, konsisten, dan bisa dipertanggungjawabkan. Termasuk dari latar belakang, kerangka teori, metodologi, referensi, hingga anggaran dan personelia yang dibutuhkan. 

Di sini, Pak Masri mencontohkan 11 contoh usulan penelitian (9 dari peneliti dalam negeri dan 2 luar negeri). Selain itu juga dilengkapi lampiran pengajuan usulan penelitian, kalau dulu namanya Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (DP3M). Kalau pas aku kuliah di UIN, mungkin sebutannya LPPM kali ya, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Tema-tema yang diangkat dalam usulan penelitian selaras dengan bidang Pak Masri di Studi Kependudukan. Berikut aku ingin melampirkan semua judulnya:

  1. Pengambilan Keputusan Ikut atau Tidak Ikut Transmigrasi (PM Laksono)
  2. Tanggapan Guru Terhadap Kurikulum Pendidikan Kependudukan di SMA Kotamadya Yogyakarta (Sunarto Hs)
  3. Penyerapan Tenaga Kerja pada Usaha Tani Padi Bimas dan Inmas (Sadyadharma)
  4. Pengaruh Pekerjaan Wanita Terhadap Jumlah Anak yang Diinginkan (M. Affandi)
  5. Keberhasilan Tubektomi di Daerah Pedesaan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta: Evaluasi Terhadap Tim Mobil Tubektomi Rumah Sakit Bethesda (Masri Singarimbun dan tim)
  6. Jaringan Komuniasi, Inovasi dan Adopsi Metode Kontrasepsi Modern di Kota Yogyakarta (Bambang Setiawan)
  7. Kebenaran Laporan dan Ketepatan Pencatatan Karakteristik Akseptor di Jawa Tengah (Masri Singarimbun dan tim)
  8. Analisa Jarak Kelahiran di Ngaglik (Analisa Data Sekunder)
  9. Proyeksi Penduduk Indonesia (Analisa Data Sekunder)
  10. Research Program for Study of Internal Migration in West Java (Graeme Hugo)
  11. The Relation Between Social Roles of Women and Family Formation (Valerie J. Hull)

Dari contoh-contoh yang Bapak tulis, meskipun aku tak memahami semuanya, aku mengambil benang merah dan sikap etisku sendiri: Nanti, ketika aku membuat penelitian, apa pun itu, harus punya peta yang sejelas Pak Masri contohkan. Bapak akan aku jadikan mentor dan konselorku. Makasi Pak Masri. Buku ini akan menjadi buku pegangan wajib penelitianku. Aku akan hati-hati dan konsisten dalam menjalankan metode.

Peneliti kita rata-rata tak memiliki atau tak mau mencari kunci dalam melakukan penelitian yang benar. Dengan bertemunya aku dengan kunci ini, aku tak perlu merasa rendah diri dengan para peneliti luar negeri. Aku siap tanding secara keilmuan dengan mereka. Gendang perang kubunyikan untuk semua pengetahuan-pengetahuan yang bertendensi kolonial.

Judul: Pedoman Praktis Membuat Usulan Penelitian | Penulis: Masri Singarimbun | Penerbit: Ghalia Indonesia Jakarta | Cetakan: Kedua, Januari 1986 | Jumlah halaman: 127

Kamis, 05 Maret 2026

Catatan Buku "Islam, Seni dan Da'wah"

Dari dulu, aku tidak bisa membedakan dengan jelas, mana seni Islam, dan mana yang bukan Islam. Di dalam seni rupa khususnya, aku memiliki kecenderungan untuk menikmati objek-objek hidup yang digambar oleh si perupa, baik itu bentuknya manusia, hewan, maupun gambar yang bercermin dari alam. Namun, setelah membaca buku "Islam, Seni, dan Da'wah", lewat penjelasan Pak Kuntowijoyo, aku setidaknya punya tiga saringan terkait seni yang Islam dan tidak. Batas yang beliau utarakan jelas: (1) dematerialisasi, (2) demasifikasi, dan (3) menuju cahaya. Untuk menjadi berbeda rasa-rasanya kita memang perlu batas demarkasi yang jelas.

Buku ini aku beli secara random di Shopee karena ditulis secara berjamaah oleh banyak penulis, dan salah tiganya aku sukai karyanya: Pak Kunto, Pak Emha, dan Pak Ebiet. Setelah kubaca, ternyata buku ini merupakan kumpulan makalah dari Seminar Sehari Tentang Islam, Seni, dan Da'wah yang dilaksanakan di Aula APDN Srondol Semarang, pada 13 Oktober 1988. Termaktub dalam majalan bulanan Rindang pada Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah.

Mendengar majalah "Rindang", ingatanku langsung melesat pada Doel Rohim, partner kepemimpinan, PU-ku dulu di LPM Arena. Dia pernah bercerita, seingatku, yang memotivasinya untuk kuliah di Jogja dan masuk Arena karena dulu pernah mengurusi penerbitan yang disebut Rindang ini (jika aku tak salah ingat). Sebab, salah satu kyai yang menjadi narasumber di sini juga berasal dari kota yang sama dengan Rohim, yaitu Pati. Kyai tersebut adalah Kyai Haji Muhammad Ahmad (KHMA) Sahal Mahfudz, yang mengasuh Pondok Pesantren "Maslakul Huda", Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Dari pembacaanku, sebenarnya tidak terlalu banyak kebaruan yang diutarakan para narasumbernya. Pikiran yang eksepsional barangkali yang telah saya sebutkan di atas, terkait ide Pak Kuntowijoyo yang memberikan batas demarkasi yang jelas. Narasumber lain lebih konvensional lagi karena berdasar pada argumentasi yang menurutku mengambang dan abstrak, yang diambil dari nilai-nilai agama dan pengalaman. Semisal, Cak Nun berkata, seni Islam itu bentuk anugerah dan sunatullah. Atau juga (maaf) para kyai yang bagi saya cukup mengambang juga memberikan argumentasi yang sangat umum (common sense) seperti amar ma'ruf nahi mungkar, atau ditujukan kepada Allah. 

Namun, terlepas dari semua itu, terima kasih telah menulis buku ini. Aku jadi kepikiran, semisal ada kegiatan serupa, membukukan pemikiran yang dibicarakan di dalamnya juga menjadi ide konkret yang menarik. Dengan begitu, bisa dibaca oleh generasi-generasi setelahnya. Seni termasuk menjadi bidang yang aku sukai, karenanya aku peduli.

Judul: Islam, Seni dan Da'wah | Penulis: K.H. Sahal Mahfudz, K.H. Amir Ma'sum, Drs. H. Amri Yahya, Azwar A.N., Dr. Kuntowijoyo, Drs. Suwaji Bustomi, Emha Ainun Najib, Ebiet G. Ade | Penerbit: Rindang Jawa Tengah | Tahun: 1988 | Jumlah halaman: xvi + 80

KUTIPAN:

Kelebihan seniman adalah kemampuannya untuk dapat melihat hal-hal yang tidak terlihat oleh orang biasa. (1) 

Sekedar menampilkan solidaritas sosial desa dan bukan untuk menjamin karier seorang seniman. (3) 

Isma: Seni Islam yang aku pahami, ini sebagaimana diungkapkan Pak Kuntowijoyo, dematerialisasi (abstrak), demasifikasi (tidak sebesar kelihatannya atau mencairkan yang masif, tidak ada kesan berat), dan memberikan cahaya (dari gelap ke terang, pertemuan antara yang fana ke abadi). Jika menambah Cak Nun, seni Islam adalah seni yang ditujukan kepada Allah, dalam rangka (kata KH Sahal) amar maruf nahi mungkar. Di sini niat sangat-sangat penting, kesenian adalah manifestasi dari keilahian. Untuk dakwah, "pelaku dakwah harus menguasai substansi dakwah, di samping menguasai metoda dan alatnya. (12) 

Keberhasilan seni media dakwah selain dapat ditemukan melalui wawasan sejarah, juga berdasar penelitian-penelitian yang telah dilakukan para ahli maupun berdasar pengalaman para praktisi seni itu sendiri. (13) 

Pemanfaatan musik pop harus diawali dari musisi Muslim itu sendiri yang menyadari kekuatan musik pop. Kalau musisi Muslim mampu menyisipkan pesan Islam dalam momen yang pas, akan sangat luar biasa hasilnya. Keberhasilan musik sebagai media dakwah dialami sendiri oleh Ebiet, seseorang yang telah memberikan sebidang tanah seluas satu hejtar kepadanya sebagai pernyataan rasa syukur karena orang tersebut merasa telah "dikembalikan" imannya oleh lagu-lagu Ebiet. (14) 

Seseorang berkesenian adalah lantaran mensyukuri anugerah Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Hanya Allah yang memungkinkan dia berkesenian itu... Fungsi "liya' budun", hanya dapat berjalan apabila seluruh isi Al-Quran dan Sunnah Rasulullah menjadi tuntutan dalam berkesenian. (16) 

Seni yang Islami dapat melalui restriksi (pembatasan), yakni: bersih dari khufarat, bersih dari syirik, dan tidak membawa manusia kepada kehidupan yang nista. (19) 

Kebaikan dilakukan secara lumintu (terus menerus). 

Penulis semacam orang yang ikut-ikutan makan besar dalam pesta makan meskipun tidak diundang. (27) perumpamaan yang baik. 

Kalau dia (seni) ditumbuhkan dari bibit keimanan, maka dia juga akan menjadi pohon keimanan. Kalau dia ditumbuhkan dari bibit kekufuran maka dia juga tumbuh menjadi pohon kekufuran. (29) 

Rukh seni Islam itu taukhid. Ismail Rasi al Faruqi. 

Saya ingin memberikan catatan kaki terhadap apa-apa yang disampaikan Bapak KH Sahal Mahfudz dan Bapak KH Amir Maksum. Apa yang ingin saya sampaikan mungkin ilustrasi:
1. Tentang rukh Islam dan struktur seni
2. Tentang institusionalisasi kesenian
3. Tentang seni pertunjukan rakyat Jawa Islam

Dengan deformasi bentuk berarti dilakukan "dematerialisasi" yang berarti menuju kepada taukhid. Kalau kita tidak menganggap yang ada itu matter, maka kita melihat yang ada itu Allah. Itulah taukhid dalam kesenian. (33)
 

Seolah-olah lukisan itu menuju sesuatu yang tidak terjangkau. Hal itu berarti menuju Allah... Pak Sadali mengatakan, "Kesenian itu adalah tasbih kita kepada Allah." Karena itu kesenian dengan seluruh misinya semacam itu mampu memberikan pengaruh kepada pembaca, penonton atau kepada mereka yang masuk ke dalam arsitektur Islam. Kalau kita masuk ke dalam masjid, kita akan mensucikan diri. Tetapi masjidlah yang memberi suasana tazkiyah, yaitu terang, tidak ada misteri. (34) 

Kesenian partisipan: setiap orang dapat ikut ke dalam kesenian itu, tidak diketahui penciptanya dan pengubahnya. (35) Ternyata seni rakyat tradisional yang Islam tidak membutuhkan profesionalisme yang tinggi, karena pelaku dan penonton dapat saling berganti. Kesenian semacam ini akan sangat baik untuk media dakwah. (36) 

Emha Ainun Najib hlm. 37: Semoga bisa merupakan bahan silaturahim dan "syuraa bainahum" dari seorang tukang--yang semoga tidak terlalu berarti--kepada para ahli/pakar serta ulama:
(1) Orang berkesusastraan itu sama dengan orang mandi, makan, menimba atau menanam pohon. Ialah yang mensyukuri anugerah Allah dan melaksanakan Sunatullah: bahwa kalau diberi badan, kita kasih makan; kalau diberi tubuh, kita rawat kebersihannya; kalau diberi ilmu, kita amalkan; kalau diberi amr, kita laksanakan; dan kalau dilarang, kita hindarkan; kalau diberi ilham, kita ungkapkan. 
(2) Seorang sastrawan Muslim itu seorang mulhim di bidang kesusastraan. Pikiran dan perasaannya, atau segala potensi kreativitasnya , semacam radio, yang harus senantiasa siap menerima "siaran" dari Allah. 
(3) Kenapa manusia-sastrawan hanya semacam radio? Karena manusia itu tidak punya apa-apa, bahkan sebenarnya tidak ada; ia hanya "diselenggarakan" oleh Tuhan untuk "ada" dalam fungsi "liya' buduun". Manusia tidak bisa apa-apa, tidak punya ilmu, tidak bisa menulis puisi, hanya Allah yang memungkinkannya bisa, atau lebih tepatnya; Allah mewakilkan kebiasaannya. 

Kemiskinan hampir dikatakan membangun "kotak sabun" dalam skala besar, tanpa apa-apa. Bentuk bagus hambar makna dan ciri khas, ciri khas tetapi rusak karena papan nama yang terlalu "tamak" memborong semua halaman depan. (54) 

Yang membedakan kita di hadapan Tuhan cuma ketaqwaan, yang membedakan kita di hadapan manusia adalah akhlak dan wawasan. (Isma) 

Ketika kita sekali mengetahui kunci, kita bisa ikut di dalamnya.... Ada satu puisi Umar Kayam tentang ketauhidan, "Setiap pagi mawar berkembang, tetapi mawar kemarin mana ia sekarang... (61) 

Seni tradisional itu seni kebersamaan dan partisipasi, mementingkan sikap-sikap komunal yang tidak mendukung individualisme maka tidak mungkin membawa karier. Beda dengan seni profesional. (61) 

Rabu, 04 Maret 2026

Aku, Pak Masri Singarimbun, dan Buku Renungan dari Yogya

Buku "Renungan dari Yogya" - Masri Singarimbun
Pak Masri yang baik dan cerdas, aku menangis dua sampai tiga kali ketika membaca buku Bapak berjudul "Renungan dari Yogya" ini. Betapa besar kerinduan saya di zaman-zaman pas masih kuliah di Yogya (bahkan saat menulis ini aku meneteskan air mata). Pak Masri, dulu dengan sepeda mini kecilku berwarna pink yang kunamai Nuun Junior, aku mengolah roda dari kosku di daerah Sapen menuju Jl. Tevesia Bulaksumur, Sagan, Caturtunggal. Letak Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM berada. 

Aku masih ingat bangunannya Pak, sangat lekat karena aku sangat sering main ke sana. Aku tidak takut atau malu, meskipun aku orang di luar UGM, bagiku, tempat ini adalah salah satu kawah candradimuka yang tak pernah kulupakan. Di depan bangunan, terpampang lampu digital berjalan berwarna merah bertulis angka penduduk Indonesia yang tiap detiknya berganti jumlah. Satu demi satu. Sepeda kupakirkan di depan gedung. Parkiran itu tergolong sepi, satu-satunya sepeda hanyalah sepedaku. Aku tak tahu alasan apa yang bisa membawaku ke tempat ini? Apa muasalnya, aku tak ingat lagi.

Aku sering datang siang, pukul 10 ke atas. Seingatku, karena itu jam bukanya. Tak jauh dari pintu, di sana ada patung besar Bapak seolah menyambutku datang. Bapak tersenyum, mengenakan kacamata, dan entah kenapa ketika masuk ke dalamnya terasa seperti "rumah". Bukankah, rumah berarti sesederhana kamu merasa diterima di dalamnya? Aku akan tersenyum, semacam simbol untuk menghormati patung Bapak.

Setelahnya, aku naik, kalau tidak salah, ke lantai III. Aku sudah lupa karena sudah lama. Lalu, aku akan menenggelamkan diri menyisir buku-buku yang bahas terkait masalah kependudukan. Aku mengisi daftar tamu yang dijaga anak magang. Jumlah pengunjung bisanya bisa dihitung jari, kadang tak sampai lima. Perpustakaan tersebut tergolong sepi pengunjung, sering aku hanya sendiri di sana. Tapi entah kenapa rasanya damai. Aku mengambil beberapa buku, jurnal riset, dlsb, baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris.

Di sana, aku menemukan harta berharga bacaan-bacaan yang membuat tubuh, pikiran, dan hati aku seperti bersatu dan termotivasi. Aku seperti menemukan passion yang tenggelam dan direpresi sedemikian rupa oleh distraksi-distraksi yang bukan aku. Kadang aku merenung, kadang aku bermimpi, kadang aku menangis. Salah satu mimpi yang ingin kubocorkan, aku ingin kuliah ke Australian National University (ANU) seperti Pak Masri. Di mataku saat itu, ANU begitu keren. Aku merenda-renda mimpi untuk sekolah tinggi di tengah keterbatasan yang ada. Pendeknya, Bapak memberi inspirasi padaku untuk menempuh pendidikan tinggi yang lebih baik. Bahkan sebelum ke ANU, aku juga berminat untuk melanjutkan pendidikan Magister di Studi Kependudukan UGM. 

Waktu berlalu, barangkali aku sering datang ke PSKK sekitar tahun 2016-2018, saat ini tahun 2026, barangkali sudah hampir 10 tahun. Pak Masri.... Rasa itu tak berubah. Tanpa kurencanakan sebelumnya, aku membaca buku "Renungan dari Yogya". Awalnya, aku tak sadar jika tulisan itu ditulis oleh Pak Masri. Aku baru ngeh saat aku searching nama Bapak, dan teringatlah masa-masa di Perpustakaan PSKK. Buku ini merupakan kumpulan tulisan. yang Bapak tulis di berbagai media massa, seperti Tempo, Editor, Kompas, dan Jawa Pos sepanjang 1977 hingga 1992. Terdapat sebanyak 81 tulisan di dalamnya, yang sudah dikurasi oleh Pak Masri.

Pak Masri, aku begitu menikmati tulisan di buku Bapak. Namun, yang paling penting, aku merasa Pak Masri seperti berbicara langsung padaku melalui huruf-huruf dan kata-kata yang Bapak pilih. Rasanya begitu dekat. Banyak sekali catatan yang kubuat, Bapak begitu banyak membuka mataku terkait konflik-konflik sosial yang lepas dari pengamatanku. Oh ya, pas baca terkait profil Bapak di PSKK dulu, yang bahas terkait kasus kondom; sebagai mahasiswa yang pengetahuannya masih awam, aku sedikit mempertanyakan bahasan tabu tersebut. Namun, setelah aku membaca buku Bapak ini, aku benar-benar menyadari mengapa persoalan ini begitu penting. Bagaimana latar belakang kasusnya, dan bagaimana respons Bapak pada hal itu.

Tidak aku ragukan, Bapak sebenarnya adalah orang yang humoris, sastrais, dan berpemikiran dalam. Kesan ini aku dapatkan setelah aku selesai membaca buku "Renungan dari Yogya". Banyak pemikiran, metode penelitian, empati, hal-hal sederhana yang penting, jadi hal menarik ketika Bapak menceritakannya. Dari 81 tulisan yang diikat jadi satu buku, terdapat tujuh kluster di dalamnya:

1. Aneka Ragam: Di sini Bapak bercerita dari kisah tikus yang ternyata bisa dimakan di Karo, pemerataan kecantikan yang menyasar perempuan dan kepalsuannya, pesona pariwisata, hingga tokoh bidang bahari bernama Amanna Gappa.

2. Pendidikan Tinggi: Bapak berkisah tentang berbagai masalah penelitian dan budaya baca khususnya di lingkungan kampus. Akademia yang terjebak dalam embel-embel, simbol, hingga masalah perpustakaan dan konsultan domestik.

3. Wanita: Tulisan yang paling menarikku adalah soal imajinasi Pak Masri kalau dilahirkan kembali akan memilih jadi perempuan. Ini sangat mind-blowing, wkwk. Betapa kuatnya perempuan. Termasuk juga soal Bu Sutiyem, ayah rumah tangga, hingga persoalan memukul istri.

4. Perkawinan dan Seks: Bapak membedakan apa itu setan mini dan setan maksi dalam masifnya masalah seksual di Indonesia. Setan mini merujuk pada simbol hingga apa yang dicontohkan di layar kaca, sementara setan maksi mengalaminya secara langsung sampai hamil. Dan lagi, korban anak digugurkan. Bapak bahas soal mucikari paling punya passion di dunia, Xaviera, hingga kasus kumpul kebo.

5. Kesehatan dan Keluarga Berencana: Di sini Bapak mengulas terkait berbagai tantangan pelaksanaan KB di berbagai dunia dari kawasan ASEAN, India, hingga Amerika, Eropa, dan Afrika, pejuang ASI, termasuk juga soal kondom yang sempat ditabukan.

6. Kemiskinan dan Pemerataan: Pak, bahasan tentang Sphinx ini mengingatkanku dengan buku HG Wells yang "Mesin Waktu", ada adegan yang latarnya mirip Sphinx, wkwk. Lalu ada paradoks di sana, bagaimana kebudayaan zaman dulu berbeda jauh dengan kebudayaan manusia zaman sekarang, dengan studi kasus di Mesir. Termasuk juga soal kuli kontrak, hidup sampah, seragam untuk apa, per diem, hingga IPM.

7. Sosial Politik dan Birokrasi: Membahas terkait India, dan untungnya Indonesia punya bahasa persatuan. Juga menyangkut hutang adalah hutang, ijon dan UUPA, judi yang dibuat sebagai olahraga kaum "elite", hingga masalah hak ulayat Dayak dan Dodo.

Berikut renungan pribadiku:

  • Dari tulisan Pak Masri, aku belajar menggali keindahan dan masalah di bidang yang kugeluti sendiri. Seperti contoh tulisan "Sang Peneliti Tak Bisa Menulis", dia bilang: "Bukan tabel yang bercerita. Seharusnya saudara yang bercerita, lalu disisipkan tabel ke dalam cerita saudara. Begitu caranya menulis laporan ilmiah yang baik. Dan harus ada tema. Bukan tumpukan tabel dan keterangan." (71) Menurutku, ini metode baru dalam menulis esai, pakai pendekatan dalam menulis cerpen. Termasuk pengalaman ketika dia bertemu dan berbincang dengan seseorang yang tiba-tiba filosofis dalam cute meet.
  • Kisah Sutiyem bisa kuolah jadi cerpen yang mirip dengan tone-nya AA Navis di Anak Kebanggaan. Eureka. 
  • Pak Masri benar, di bulan April misal, ceramah soal perempuan banyak, penelitian tentang peranan perempuan juga menjamur, tapi tidak ada yang mencerahamahkan istri yang dipukul, dianiaya, yang menjadi objek kewenangan suami belum banyak. 
  • Menarik juga ya neliti kekerasan terhadap perempuan lewat 4 koran dan satu majalah sepanjang tahun 1989. Terdiri dari: Kompas, Pos Kota, Sinar Pagi, Jawa Pos, dan Tempo. Ditemukan ada 639 kasus yang dibagi atas 19 jenis kejahatan. 
  • Aku tertarik pada cara Pak Masri menganalisis data-data statistik yang keren. Dia misal bisa fleksibel membahas data perceraian dengan melihat dampaknya tak hanya pada suami istri, tapi juga anak. Lalu bagaimana hal itu dihubungkan ke kasus negara lain misal Australia, juga hubungan dengan pengalaman pribadi dan agama. 
  • Tulisan "Yang Takut Gaji Naik" mengingatkanku dengan layanan hotel ketika aku dinas. Semalam di sana rasanya bisa setara dengan gaji orang lain selama sebulan ;( Aku bisa mengerti perasaan Panut. Begitu timpangnya hidup Pak Masri. 
  • Pak Masri, di sini saya jadi mikir tentang IPM. Terkait bagaimana data dianalisis, saya belajar banyak. Yang nampaknya ini bisa mengungkapkan banyak sekali dampak, ekses, dlsb pada kehidupan sehari-hari. Termasuk soal pilihan dan fasilitas yang kita hadapi. Saya tinggal di kota dengan IPM tertinggi se-Indonesia. Ini privilege dan nature saya untuk saat ini. Jadi saya tidak hanya membaca data saja dengan bilang, IPM itu indikator ada tiga: 1. Angka kematian bayi kurang dari 50 per seribu kelahiran hidup, 2. Harapan hidup 65 tahun ke atas, 3. Tingkat melek huruf paling tidak 75 persen. Bukan sekadar itu! Baik Pak Masri, Anda memberikan saya alat yang sangat berguna sekali. Terima kasih. Oh ya, saya juga ingin mengkritik terkait IPM itu, saya pikir tiga indikator itu terlalu kaku. Apakah hanya dengan tiga itu orang lalu sadar dengan kondisinya? Saya pikir tidak serta merta. Apa persoalannya? Sepertinya saya bisa memberikan tanggapan untuk Pak Sayogyo. 
  • Pak Masri, saya nangis baca tulisan "Ibu-Ibu adalah para wanita yang perkasa". Aku tertarik pada segi disertasi juga yang dibahas Carol Hetler, "Female Headed Households in a Circular Migration Village in Central Java" (1986), ANU. Penelitian dilakukan di Desa Jaten, Wonogiri, 1984. Titik beratnya: seluk-beluk wanita yang menjadi kepala rumah tangga. Ternyata jumlah wanita demikian tidak sedikit di daerah penelitian. Juga tidak sedikit di tingkat provinsi, nasional, dan internasional. (93) 

Dari sub-sub itu, Bapak begitu spesifik dan kokoh pada "ladang penelitian" Bapak sendiri, jika memilih satu ladang, itu adalah studi kependudukan. Atau mungkin secara ilmiahnya: Studi Kependudukan hubungannya dengan masalah reproduksi, kemiskinan, dan sosial. Bapak juga banyak mengkaji kelompok-kelompok marjinal seperti buruh sirkuler Gunung Kidul, perempuan yang kerja bangunan, kuli kontrak, Dodo yang jenazahnya ditolak, tukang pijat urut yang tak sanggup beli seragam, para gelandangan. Dan di sinilah letak pertemuan kajian saya dengan kajian Bapak di aspek marginal studies. Saya jatuh cinta dengan bahasan-bahasan Bapak yang tak tertipu dengan statistik pada studi kebijakan, tapi mencoba untuk mengenali dan memahaminya secara kasus yang konkret dan personal. Masalah itu terjadi pada individu dan komunitas.

Saya juga sepakat dengan tulisan yang terbit di tokoh.id ini, yang menyatakan bahwa:

"KOLOM merupakan tulisan yang sangat menonjolkan strong personal views. Ciri utama kolom Pak Masri, sebagaimana dituturkan Prof Terence H Huul dari Australian National University, bahasanya populer, langsung menukik ke pokok soal, berlumuran humor di sekujur karangan, reflektif, dan tak lekang zaman. Almarhum Satyagraha Hurip, sastrawan, pernah menganjurkan Pak Masri menulis cerpen mengingat gagrak (genre) story telling tulisannya."

Mungkin kritikku untuk buku Bapak, kadang penceritaan Bapak kurasakan meloncat-loncat, baik dalam hal tokoh, latar, dan subjek yang Bapak perbincangkan. Aku perlu berhenti sejenak, ini masih bahasan yang samakah? Begitu. Dan gebrakan lain di buku esai ini, banyak tulisan menggunakan format dialog seperti orang sedang berbicang biasa. 

Kemampuan story telling Bapak sangat bagus, dan itu kenapa Pak Goenawan Mohammad meminta Bapak untuk jadi kolomnis tetap di Tempo. Buku ini ditulis setahun sebelum aku lahir di dunia tahun 1993. Sebelum saya lahir, buku ini sudah lahir terlebih dahulu. Semoga suatu hari saya bisa berziarah ke makam bapak di Makam Kuncen Wirobrajan Jogja. See you and thank you, Pak Masri!

KUTIPAN:

Dodo (299) 

Kemampuan manusia menciptakan senjata ampuh terus meningkat untuk membunuh sesama. Sementara itu kemampuannya mengekang diri tidak semakin baik. (7)

Persoalan orang tua: miskin, tidak ada jaminan, dianggap kelompok tak berguna, tidak produktif

Humanisme menjadi penghias etalase... Orang-orang jompo telah membeberkan kegagalan peradaban kita. Habis manis sepah dibuang. (38) 

Pak Masri, aku senang banget tahu Pak, bisa ngobrol dan mendengar cerita Bapak lewat buku. Dulu aku sering banget ke UGM dan tempat paling sentimental di UGM bagiku adalah pusat studi kependudukan, yang dulu aku juga pengen ambil S2 itu di sana. 

Penobatan Sultan HB X tanggal 7 Maret 1989 dan kirab keesokan harinya. Sayang peristiwa yang mulia itu dimanfaatkan para copet untuk mencari nafkah dengan menjambret uang pensiunan ibu-ibu. (44) 

Orang Wajo terkenal sebagai orang yang gemar mengembara, berlayar, dan berdagang, tidak begitu tertarik kepada pertanian. (50) 

Dalam pelayaran, perselisihan harus selesai sebelum mendarat. Sebab setiap negri punya masing-masing hakim. Amanna Gappa. (51) 

Namun uang bukan satu-satunya. Faktor penting lainnya adalah skala prioritas. (61) 

Kalau pegawai kurang beres, terminalnya di perpustakaan. (63) 

Sekali lagi tidak. Tidak usah naik eselon. Hatinya tidak tergoyahkan oleh rumah, mobil, dan embel-embel lainnya itu. Dia tidak mau menjadi makhluk kesasar, tapi terhormat. (65) 

Yang menjadi kebutuhan permanen sebagian orang adalah masalah kenaikan status sosial dan kenaikan gaji. (66) 

Penelitian digotong-royongkan seperti membersihkan jalan. (68) 

Pamong yang berpengalaman itu berpegang teguh pada asas pemerataan dan itu bisa dipecahkan secara ketimuran. (71) 

Gengsinya naik lagi, sebagai orang pertama yang memiliki benda ajaib berlubang-lubang itu. (71) 

Kita tidak pernah belajar memegang kunci. "Itu kesalahan kontrak namanya," komentarnya tegas. Mudah-mudahan tidak terulang lagi. (75) 

Kerapuhan laki-laki menuntut kompensasi bernama kejantanan dan kepemilikan. Ketahanan mental perempuan lebih tinggi, demografi menunjukkan itu. (83) Juga buku "The Mothers" karya Robert Briffault, dan "The Natural Superiority of Women" (84) 

Setelah menimbang dan mengkaji, kalau saya kembali, saya memilih yang unggul: lahir sebagai anak perempuan. Terus terang saja, jauh di dalam lubuk hati saya, terkadang menyelinao rasa iri terhadap isteri. Iri karena dia lebih dekat dengan anak-anak kami. Saya terlalu terpukau oleh revolusi industri dan sering terlupa hakekat kehidupan yang singkat ini. (85) 

Orang memerlukan modal tertentu untuk mempertahankan ukuran moral tertentu. Bernard Shaw. (88) 

Diam-diam, tanpa pidato dan gunting pita, mereka menampilkan gaya hidup yang sudah lain: kumpul ora kumpul angger mangan. (95) 

Di negeri yang maju tidak ada tenaga pembantu rumah tangga yang murah. Tenaga yang murah adalah cermin keterbelakangan. (99) 

Philip Yampolsky menganalisa riwayat lagu (cengeng) "Hati yang Luka" dengan jitu dalam majalah Indonesia (terbitan Cornell), nomor April 1989, dengan judul "Hati yang Luka, an Indonesian Hit". Dilagukan atau tidak, kisah-kisah pemukulan istri merupakan bagian dari bangsa kita dan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Duduk soalnya belum jelas dan kita juga tidak berbuat apa-apa untuk menguranginya.(101) 

Namun sayangnya, bangsa kita juga mempunyai warga negara yang terdidik, yang memotong-motong istrinya atas tujuh bagian. (102) 

Kehidupan seks hewan lebih teratur dan tujuannya lebih sederhana, reproduksi. (111) 

Mereka tidak perlu belajar dari buku tentang hal elementer itu... Orang Barat perlu pendidikan seks karena mereka gak pernah lihat capung, ayam, kucing, anjing, ngeseks liar di sekeliling. Jadi mereka butuh buku. (114) 

Xavier Hollander. Egonya terhibur, juga kejantanannya. Semoga pada suatu waktu, pelacuran dilegalisir. (123) 

Suasana jadi kurang gairah karena terjepit oleh persoalan moral... Perlu disadari, keluarga yang beranak banyak jadi tukang rebut di masyarakat. Merebut berbagai fasilitas yang terbatas: pendidikan, transportasi, kesehatan. (164) 

Tampangnya lugu, geraknya lamban, suaranya lembut; tapi berbagai hal penting yang tak pernah saya pikirkan bermunculan dari mulutnya. Benaknya ternyata sarat dengan rupa-rupa soal. (166) 

Masalah ekonomi yang ditimbulkan struktur umur yang tua di Jepang, tidak seberapa dibandingkan masalah kemiskinan pada masyarakat yang terbelakang dengan tingkat kelahiran tinggi. (167) 

Tidak peduli orang bilang jarum jam berputar ke belakang beberapa puluh tahun. Tapi sesungguhnya, apakah orang Amerika begitu jijik terhadap praktek pengangguran? Begini riwayatnya. (170) 

Eropa, mereka masih termasuk terbelakang dari sudut penggunaan kontrasepsi... Kondom yang dituduh banyak mempunyai dosa itu, menempati nomor satu di Finlandia dan Denmark. (174) 

Berkaca pada kestrikan Comstock, urgensi mengalahkan moralitas. (186) 

Sphinx pun tidak akan mengatakan bahwa ternyata mendirikan piramid lebih mudah daripada meratakan kesejahteraan, lebih mudah daripada mencerdaskan rakyat. (208) 

Eraini: Terpaksa ke Kota, Bukan Tarikan Neon Kemilau. (218) 

Untuk mendapatkan kuli yang diperlukan, dilakukan berbagai tipu daya terhadap mereka, dan mentalnya dirusak supaya tetap bertahan di perkebunan. (228) Kebiasaan berjudi dan bersenang-senang pada waktu gajian besar (tiap bulan) betul-betul menghancurkan mental kuli kontrak dan menggiring mereka memperpanjang kontrak terus menerus, tidak peduli penderitaan apa pun menimpanya. Sekali jadi kuli kontrak, tetap jadi kuli kontrak. (229) Isma: Pak Masri, aku lagi-lagi menangis membaca tulisan Pak Masri. Mungkin pas aku main ke UGM dulu, arwah Pak Masri benar-benar menyambutku. Aku teringat pada perbudakan modern yang dialami para manusia hari ini. Lingkaran setan yang merusak mental mereka. 

Pada Kelompok Tuna Wisma, dilakukan usaha 3 tertib, 3 bersih, 3 aman: (1) di dalam diri sendiri, (2) dalam keluarga, (3) dalam lingkungan... Terlintas dalam pikiran sebuah topik penelitian: peranan gelandangan dalam pembangunan nasional. (233) 

Kusum Nair, Blossoms in the Dust. 

Melihat penampilannya di pasar dan melihat barang dagangannya terus timbul belas kasihan... Tapi dalam penelitian kita harus berusaha menahan diri. (235-6) 

Tak berani lagi dia menghubungkan tarif tersebut dengan upah buruh tani, dan tak sampai hati dia mengaitkannya dengan Ekonomi Pancasila atau Demokrasi Ekonomi. (238) 

Jurang antara golongan atas dan menengah lebih besar daripada antara golongan menengah ke bawah. (243) 

Sayogyo, delapan jalur pemerataan, beserta matriksnya... Berkata Sayogyo dengan nada rendah tapi kocak, "Sayang tulisan saya mengenai Indeks Mutu Hidup di Prisma tahun 1984 sampai sekarang tidak ada yang menanggapinya, baik ilmuwan maupun policy maker." Peserta lalu senyum-senyum karena merasa bahwa, kalau sebuah konsep datang dari luar negeri, kita pun cepat ribut untuk menanggapinya, tapi lain halnya kalau itu datang dari pakar dalam negeri. (244) 

Tujuan utama dari pembangunan manusia adalah memperluas pilihan-pilihan, sehingga pembangunan lebih bersifat demokratis dan partispatoris. Pilihan-pilihan tersebut meliputi akses pada: pendapatan dan kesempatan kerja, pendidikan dan kesehatan, serta lingkungan fisik yang bersih dan aman. Tiap individu seyogyanya mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi penuh dalam keputusan-keputusan komunitas dan menikmati kebebasan-kebebasan insani, ekonomi, dan politik. Klise lama dicantumkan: pembangunan rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. (245) 

Gandhi mati hanya mewariskan dua mangkuk tempat nasi, sebuah sendok, dua pasang sandal, buku Bhagavad Gita, dan kacamata. (251) 

Inggah-inggih nanging mboten kepanggih.

Pinjam meminjamkan punya jalur, punya pola. Buruh tani miskin punya cara tertentu, usahawan kaya punya cara lain. Jumlahnya berbeda, jenisnya berbeda, tujuannya lain, sumbernya lain. Namanya pun bisa lain: yang satu "ijon" yang lainnya "kredit". (259) 

Membeli makanan dalam jumlah kecil dengan frekuensi yang tinggi... Percikan dari kebudayaan masyarakat miskin. (259) 

Semoga koruptor bekerja dengan baik, terus terang dan efisien. Cuma itu. (263)

Nampaknya Anda sudah menyiapkan alat-alat sebelum tujuan diketahui. Ada baiknya tujuan ditentukan dulu, baru dipikirkan alat untuk mencapainya. (268) 

Topik harus dikembangkan melalui bacaan. Minat, hipotesa, dan teori berkembang dari situ. Apakah sempat membaca waktu mengikuti lokakarya metodologi tempo hari? (268) 

Kata Dr. Ace Partadiredja, para ekonom tidak tertarik pada pendekatan antropologi; sebaliknya para antropolog, belum tertarik pada penelitian ekonomi. (273) 

Pertemuan kami adalah untuk membahas usulan penelitian yang berlusin-lusin banyaknya dari berbagai negara di Asia Tenggara. Tujuan program internet memberi kesempatan kepada peneliti muda untuk meningkatkan kemampuan meneliti dan memupuk kepekaan mereka terhadap masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan masalah kependudukan. (276) 

Prinsip jam kerja 37,5 jam seminggu. 

Bicara tentang pembangunan, kita harus bicara tentang hubungan kita dengan benda-benda. Kita harus mencintai benda-benda itu dalam arti yang sesungguhnya. Dan selalu ingin tahu tentang sifat-sifatnya, sehingga makin lama makin menguasai alam kebendaan. (284) 

Tampaknya ini juga kepribadian bangsa Indonesia. Orang datang mendengarkan suara. Tidak perlu mengerti isinya.... Kelompok I bahas Kak Alex di TVRI, kelompok II bahas lombok naik, kelompok III bahas seragam sekolah.... (288) 

Saya sudah siap menelan apa saja yang barangkali sukar dikunyah. Siap menyimak hal-hal teknis yang kurang saya mengerti. Maklumlah, saya buta huruf dalam bidang keahliannya. (289) 

Filsafat hidup Ki Ageng Suryomentaramlah orangnya yang mencanangkan asas 6-sa: sa-butuhe (sesuai dengan keperluan hakiki), sa-perlune (memenuhi kebutuhan secara efektif), sa-cukupe (tanpa berlebih-lebihan), sa-benere (sesuai dengan kenyataan yang obyektif), sa-mestine (sesuai dengan rasa kebenaran dan keadilan), sa-kepenake (tanpa melewati batas kesanggupan fisik dan material). 

Pada perguruan tinggi di Indonesia, perpustakaan merupakan embel-embel. Prioritasnya tidak tinggi. Statusnya saja tidak profesional. Selama ini di fakultas letaknya di bawah tata usaha yang tidak begitu mengerti tentang perpustakaan. Kalau bagian tata usaha sudah miskin, apalagi perpustakaan yang dibawahinya. (61)

"Pekerjaan ini memberikan kepuasan spiritual yang besar bagi saya karena efisiensinya tinggi," katanya sungguh-sungguh. "Waktu dipergunakan dengan sebaik-baiknya: dipakai dengan baik untuk bekerja, pakai dengan baik untuk rekreasi. Saya berusaha supaya selalu dalam keadaan segar. Jam terbang saya mungkin tidak kalah dengan pilot kita di muka. Gaji saya lumayan tapi tiap rupiah sangat halal karena kerja keras dan berusaha seefisien mungkin. Banyak orang menuntut kenaikan gaji. tapi kadang-kadang gaji yang rendah itu masih terlalu tinggi bila dihitung jam kerjanya dan apa yang dihasilkan.ungkin gajinya masih perlu diturunkan." (66)

Sikap dan ucapannya mengingatkan saya kepada Ivan Illich, Deschooling Society. Orangnya begitu polos, percaya diri dan konsekwen. Hari esok baginya hari kerja yang penuh gairah, hari menabur benih, menyiang, menghalau pipit atau panen. Bukan priyayi yang parlente, "thenguk-thenguk nemu gethuk." (68)

Penelitian-penelitian tidak luput dari berbagai masalah. Dalam pengambilan sampel orang perlu berhati-hati. Si peneliti juga perlu berhati-hati dalam menguraikan hasil penelitiannya tersebut. Dalam studi kasus, orang perlu hati-hati menarik kesimpulan, yakni bahwa hasilnya terbatas pada kasus tersebut, secara geografis dan sosial. Jangan cepat-cepat membuat generalisasi walaupun tidak mustahil bahwa fenomena tertentu, kalau diteliti, memang terdapat secara meluas di tempat-tempat lainnya. (77)

Ada kalanya terdapat masalah konsep, masalah mutu kuisioner (daftar pertanyaan), mutu wawancara atau mutu pengisian kuisioner, dan juga masalah analisa. Tiap tahap perlu dilakukan dengan hati-hati karena, sekali data sudah terkumpul dan dianalisa, si peneliti akan percaya pada hasilnya, percaya pada tabel-tabelnya. Tidak etis jika dia sendiri kurang percaya kepada angka-angkanya itu dan mengharapkan orang lain percaya. (77)

Karena masalah konsep yang tidak atau kurang dimengerti oleh responden, boleh terjadi kuesioner asal diisi, asal dijawab. Itu juga dapat terjadi kalau, karena suatu hal, dia kurang suka kepada si penanya. Dijawab seenaknya saja. Sebaliknya, jawaban mungkin cenderung terarah kepada jawaban tertentu, apalagi kalau dihadiri pula oleh pamong desa, yang merasa perlu untuk menghadirinya. Jawabannya dia sesuaikan dengan keinginan pamong. (77)

"Bapak ngerjain tanah berapa luasnya?" Responden terkejut dan menjawab: "Saya ngerjain tanah?" Dan suasana wawancara menjadi kurang enak dan ini dapat mempengaruhi obyektivitas jawaban. Sering terdapat jawaban yang menyimpang dari tujuan karena tidak termasuk ke dalam kategori yang dimaksudkan. Untuk menyisihkan jawaban tersebut dipakai istilah NA (not applicable). (78)

Bagi orang miskin pinjaman identik dengan bantuan. Dalam otak mereka hutang dan bantuan menjadi berbaur. Terserah mau diterangkan dengan teori apa. Barangkali bisa dihubungkan dengan teori Kusum Nair tentang aspirasi yang terlalu rendah, dengan David Penny tentang subsistence mindedness, dengan David McClelland tentang need for Achievement (n-Ach) yang pudar. Ahli lain barangkali bilang mereka tidak jauh melihat ke depan. Punya kecondongan yang terlalu besar untuk segera mengkonsumsikan. Tapi Oscar Lewis akan bilang, tanpa tedeng aling-aliing, bahwa doyan berhutang termasuk sebuah ciri kebudayaan golongan miskin, the culture of poverty. Mereka senantiasa terjun ke dalam dunia hutang dengan spontan, kapan saja kesempatan terbuka. Di samping itu suka jual beli barang bekas, membeli makanan dalam jumlah kecil dengan frekuensi yang tinggi. (259)

Kasus ini (tak diberi karcis agar dapat uang lebih) berbeda dengan korupsi tak kentara oleh penjaga palang rel kereta api, yang dituturkan oleh Syed Hussein Alatas. (The Sociology of Corruption, 1975). Konon seorang penjaga palang dengan sengaja terlalu awal menurunkan palang. Siasatnya ini sulit diketahui umum karena kereta memang sering terlambat lewat. Nah, antri kendaraan menjadi lama dan panjang. Banyak di antara mereka yang tertahan di antaranya sopir dan kernet truk, memarkir kendaraannya lalu jajan di warung-warung tepi jalan. Dan di sinilah letak kongkalikongnya. Penjaga palang mendapat komisi dari pemilih warung. Keterlaluan. Akibatnya, terhadap efisiensi, penghambatan transportasi, kekacauan jadwal orang, bukan main. (261)

Untuk kesekian kalinya dia dimintai konsultan. Bakal terjadi pengangguran konsultan kalau dituruti. Sudah berapa kali terjadi, konsultan yang mahal itu kebingungan, tak tahu apa yang mau dikerjakan di tempatnya yang baru. Rekan-rekan setempat sibuk ngobyek, seminar, lokakarya, widyakarya, rapat, mengikuti penataran, memberi ceramah, menjemput tamu, mengantar mahasiswa study tour, dan lain-lain. Tidak diketahui hari apa jam berapa ada di kantor. Dan sebagai barang pajangan yang mulus berulang kali sang konsultan diperkenalkan dengan sopan dan ditanyai: Apakah tuan kerasan di sini? Apakah suka nasi? Apakah sanggup makan sambal? (269)

Nasib Widodo, 18 tahun, sudah mati. Kematian yang konyol dari sebuah kehidupan yang konyol pula. Dia mati tanpa KTP, tanpa orang tua yang kehilangan anak, tanpa Kepala Desa yang kehilangan warga. Tanpa negara yang kehilangan warga negara. Namanya tidak tercantum di daftar mana pun. Dia cuma warga dunia. Soal pemakaman ini membuat Didit Adinanta pusing tujuh keliling. (299)

Matinya lebih mendapat perhatian daripada hidupnya. Matinya lebih terhormat walaupun ibunya tetap belum mengetahui kematian Dodo sampai sekarang. (302)

Untuk macam-macam urusan, kita bergelimang dengan aneka ragam formulir, banyak kuitansi, tanda tangan, stempel, membungkuk-bungkuk, bolak-balik, dan butuh banyak waktu menunggu. Tetek bengek yang menguras waktu dan energi itu tidak ada di negeri maju. Pada dasarnya kita tidak saling percaya. Tapi kita memuji-muji diri dalam hal kekeluargaan, ke-Timuran, tepa selira, gotong royong, tidak individualitis, dan yang muluk-muluk lainnya. Seolah kita lebih peka tentang soal-soal manusia daripada bangsa lain. Kalau kita saling percaya mengapa diperlukan Surat Berkelakuan Baik untuk berbagai urusan? Kita punya praduga bahwa yang bersangkutan tidak baik, kecuali dia dapat membuktikan sebaliknya. Kriteria juga tidak jelas bagaimana yang berkelakuan baik dan bagaimana yang tidak berkelakuan baik. (304)

Mohammad Said Reksohadiprodjo, Ki Ageng Suryomentaraman, Alex Inkeles. 

Judul: Renungan dari Yogya | Penulis: Masri Singarimbun | Penerbit: Balai Pustaka Jakarta | Cetakan: Pertama, 1992 | Jumlah halaman: 305 | Dimensi: 21 cm 

Selasa, 03 Maret 2026

Catatan Buku "Anatomi April" karya Bagus Dwi Danto

Halo Mas Danto, kayaknya sudah lama tidak ngobrol lagi. Terkait apa saja, terlebih terkait musik, musisi yang disingkirkan sistem, musisi pinggiran, buku-buku perlawanan yang menarik untuk ditarik metode survivalnya bagi orang-orang yang hidupnya sering ada di tepi jurang. Obrolan dengan Mas Danto selalu dalam dan sering membuatku berpikir sampai berhari-hari kemudian. Mas Danto sudah seperti saudara tua jauh yang memberiku sudut pandang lain untuk melihat bukan dari pusat sebagaimana orang sering tuju, tapi dari pinggirannya, yang sakit, luka, bopeng, dan ditelantarkan. Mas Danto, kita masih ada imajinasi untuk menulis musisi yang melalui laku hidup seperti Kang Mukti Mukti. Aku akan mengusahakannya lebih serius lagi.

Oh ya, Mas Danto, hari ini ibuku ulang tahun. Ibuku lahir di Blora, 3 Maret 1965. Berarti usianya sekarang 61 tahun. Keren sekali sih ibu, meski sudah empat tahun lebih ini sakit stroke sebelah dan cuma bisa tidur di amben, dia tetap ada semangat untuk hidup. Aku kadang ingin menangis sendiri membayangkan begitu kuatnya dia, sampai-sampai kalau pun aku jadi dia, aku ragu bakal bisa jadi orang yang sekuat dia. Aku menulis ini karena aku tahu, Mas Danto juga sangat sayang pada ibu. Bahkan, buku kumpulan puisi ini Mas Danto persembahkan untuk ibu. Katamu: "Kagem Ibu." Bahasa Jawa Kromo yang berarti, "Untuk Ibu." Mungkin aku tak begitu dekat dengan ibu, tapi beliau sampai kapan pun adalah panutan soal kesabaran bagiku. Lewat tulisan sederhana ini, aku ingin mengucapkan, "Selamat ulang tahun, Ibu. Semoga Ibu sembuh dan bisa sehat lagi, bisa main sama cucu lagi, dan jalan-jalan keliling rumah. Aamiin."

Buku yang ada di tanganku sekarang, yang sampul oranye-nya tertulis judul "Anatomi April", sudah kubaca untuk ketiga kalinya. Pertama, aku membacanya saat main ke Gramedia di Grand Indonesia (GI) Jakarta. Saat aku maraton membaca buku yang sampul plastiknya terbuka. Ah, aku jadi ragu, apakah di GI atau Pacific Place, karena agak-agak mirip vibes-nya. Sebenarnya agak curang karena membaca sampai habis, tapi tidak membeli. Membaca di Gramedia bukan cuma satu, bahkan sampai lima buku, haha. Ya, rata-rata hanya buku yang bisa dibaca sekali duduk. Sebab di tempat lain, kegiatan ini dilarang. Jangankan baca buku sampai habis, buka sampul plastiknya aja gak boleh. Tapi bagi sebagian orang yang gak mampu beli buku, aku akan rela untuk melegalkannya. Aku teringat kata Bernard Shaw, tentu saja, "Dibutuhkan modal tertentu untuk menjalani moral tertentu."

Dan, oh, ternyata pas aku lihat di Goodreads, tanggal 17 April 2022, aku pernah memberikan ulasan begini:

Pada pembacaan kedua, mungkin sekitar beberapa bulan lalu, aku memutuskan membeli buku Mas Danto melalui keranjang oranye. Mas, jujur, baca buku ini tuh seperti mendengarkan lagu-lagu yang ada di album "Woh". Beberapa diksi, frasa, dan struktur metaforanya begitu karib sampai bisa aku nadakan. Kalau mau jujur lagi, banyak puisi yang tidak aku mengerti, dan perlu pembacaan berkali-kali dan sangat slow reading untuk menangkap makna di baliknya. Meskipun buku ini bisa dibaca cepat, pemaknaannya bisa digali bahkan sepuluh tahun kemudian. 

Lalu, pada pembacaan ketiga, ketika aku hendak menulis untuk catatan buku ini.

Ada istilah lain dalam penulisan itu yang disebut "slow-burn", dan buku ini tipe yang begitu. Artinya bukan tipe tulisan yang meledak-ledak terus padam kayak kembang api, tapi pelan, lambat, dan bertahap untuk memahaminya. Mirip kayak bara api, dia gak cepat padam, dan tahan lama. Namun, ada satu tantangan lagi ketika membaca buku Mas Danto ini, bagi orang dengan modal metafora khas puisi yang masih terbatas, pembaca bisa jadi akan tersesat dan tidak paham. Pendeknya, ini sebenarnya mau bicara apa sih? 

Buku ini juga memilih untuk tidak memakai nomor halaman sebagaimana buku-buku lain. Barangkali agar pembaca tidak terbelenggu dengan angka-angka, atau semacam perhitungan kuantitatif: aku sudah di halaman mana? Sudut lainnya, barangkali ini memang strategi agar puisi ini bisa dibaca dari lembar yang mana saja. Secara pilihan huruf juga ditulis dengan kecil semua tanpa kapital. Seolah huruf kecil ingin mengejek si huruf besar, bahwa tanpa huruf besar pun, huruf kecil bisa berdiri.

Secara personal, aku sangat suka dengan judul-judul puisi di buku ini yang menurutku sangat imajinatif, seperti "springbed kebudayaan", "layout libido", dan "republik luka". Kalau kuhitung satu-satu, ada 70 puisi. Hampir di setiap puisi ada ilustrasi khusus yang dibuat oleh perupa bernama Dodi Irwandi. Aku tak akan membahas banyak soal ilustrasinya, tapi lebih pada puisinya. Secara gambar, sebagian besar sudah mewakili. Pesan gambarnya membuat pembaca seperti diajak senam antara makna yang denotatif dan konotatif. 

Aku juga baru ngeh, buku ini kokinya Om Dodo. Aku teringat dengan sosoknya yang ceplas-ceplos dan apa adanya saat dia sering main ke Penerbit Pocer Jogja mirip Mas Eka Wijaya dulu. Di mana saat dulu aku menjadi pekerja di Pocer. Editornya juga Mas Reza Nufa. Penulis buku "Pulang ke Rinjani" yang pernah Mas Danto ceritakan berkelana dari kosnya di wilayah Ciputat ke Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB). Aku juga pernah bertemu dengannya di Kafe Basabasi saat mengantar teman membahas soal perbukuan.

Aku penasaran mengapa judulnya "Anatomi April?" April dalam kepalaku bisa berkorelasi dengan banyak hal: Hari Kartini, bulannya para perempuan selain bukan Desember, April mop, bulan kelahiran adikku dan crush ku dulu (yang aku sadar, aku tidak cocok dengannya karena kami beda dunia, beda energi, semacam air dan minyak). Lalu, anatomi mengingatkanku dengan pelajaran Biologi pas SMA. 

Aku punya beberapa guru Biologi yang menurutku ikonik, salah satunya, sebut saja Bu Ning, rambutnya pendek dan tebal di atas bahu. Wajahnya tegas tapi tetap approachable. Kalau pelajaran dia selalu di Laboratorium Biologi, dan aku masih ingat saat dia menerangkan terkait bab anatomi tumbuhan, hewan, dan manusia. Dia jelaskan secara detail lewat PPT yang dia buat. Tahun 2009 dulu, masih sedikit guru yang menggunakan PPT. Bagiku dia selangkah lebih maju. Aku juga tak lama ini mendapat kabar, jika beliau meninggal. Semoga husnul khotimah.

Kalau refleksi sama ilmu IPA, barangkali aku membayangkan Anatomi April itu secara metaforis merujuk pada segala pengalaman yang terjadi pada Mas Danto saat bulan April. Itu anabel-ku aja sih, alias analisis gembel, wkwk. Yang jelas, antara narasi personal dan kritik sosial coba diulen jadi satu, kemudian dimarinasi jadi puisi-puisi yang menyesakkan hati. Nyaris, tak kutemukan fitur bahagia dalam cerita-cerita yang dibawa oleh puisi-puisi itu. Kecuali mungkin puisi berjudul "Cinta", yang bunyinya: "meski bersampul warna-warni / cinta tetap prolog tanpa koma". Ini pun masih misterius ronanya. Penggembolan kebahagiaan seperti jadi lagu sumbang.

Secara isi, aku menangkap ada beberapa diksi-diksi yang jadi kata kunci: kawan, lawan, keluarga, hidup, mati, sepi, mimpi, ajal, nihil, api matahari, buta, kebudayaan, kiri, restorasi, pucat, lelah, bungkuk, jerit, cakar, lubang, darah, pecah, rebah, spasi, hantu, deru, rahasia, tanya, tanda, toilet, pahit, mahal, air mata, kuasa, tai, nanah, sekam, desis, jerit, berak, kepyur-kepyur, bangkai, hitam, kere, polisi, mitos, penjara, mentok, kering, nisan ... suaka marga sastra ...

Aku menyukai metafora-metafora semacam:

"berat amat mereka mimpi / mungkinkah seperti kita / dan kita adalah tralala"

"sebelum jalan terjamah hasrat / jalan kecil di ujung mulai rintik / termakan tarot" 

"pelan-pelan / manusia membebani / pundaknya sendiri"

"siang ini kupetik setangkai setan di / sebatang hape. hati yang imitasi"

"begitu kerap kemunculan / begitu palsu"

"warung bakmi menyikat rugi dengan / hati-hati. panah putih retak. ada yang / tak sudi pada senja. menanggung / matahari mengunyah aspal. gontai. / kupinjam toilet dari mulutmu"

"kulirik aku. siangku lapar, kumakan / saja teman-teman"

"semakin beragenda / semakin putus asa"

"ketela / tumbuh subur kendati pisah kasur"

"gerobak bakso merampok matahari / dalam mangkuk meremas nalar" 

"ada subuh di apotik berdinding kaca" 

Namun, yang menurutku sangat menarik dari buku ini, sebagaimana yang sudah kutulis di Goodreads, "Mas Danto membawa cara tutur baru, diksi-diksinya unik, tidak linier, dan di berbagai puisi, saya butuh banyak waktu untuk mengartikan beberapa lariknya saja." Jika Chairil Anwar punya model berpuisinya sendiri yang membawa pembaruan, bagiku Mas Danto dalam buku "Anatomi April" ini juga punya literer otentiknya sendiri. 

Terakhir, terima kasih Mas Danto sudah menulis "Anatomi April". 

Judul: Anatomi April | Penulis: Bagus Dwi Danto | Ilustrasi: Dodi Irwandi | Koki Buku: Dodo Hartoko | Penyunting: Reza Nufa | Penerbit: Shira Media | Cetakan: Pertama, 2021 | Dimensi: 14,8 x 21 cm | Jumlah halaman: 124 

Senin, 02 Maret 2026

Catatan Buku "The Lost Library" (Misteri Perpustakaan yang Hilang) karya Rebecca Stead dan Wendy Mass

Perpustakaan gratis Martinville. Perpustakaan di antara balai kota dan rumah sejarah. Ada kubah dengan pintu warna biru yang megah. Aku membaca buku ini dengan hitungan cukup cepat, tidak lebih dari tiga hari kupikir dengan berbagai aktivitas kerja, ishoma, dlsb. Bahasanya cukup mudah dipahami, meskipun sense-nya tetap mirip novel terjemahan yang kerasanya seperti ada jarak yang gak kelihatan ketika itu pindah ke bahasa Indonesia. 

Membaca ini cukup menyenangkan, karena aku membayangkan diriku jadi salah satu karakter di dalamnya agar lebih ada sense terlibat, wkwk. Ya, aku merasa memang di usiaku yang sekarang, kita jadi lebih wise memerankan karakter yang mana. Bayangannya cukup jelas terkait tokoh-tokoh di buku ini. Ada semacam metode menggantung tiap bab, untuk menarik pembaca ke bab selanjutnya. Karena ditulis oleh Rebecca Stead dan Wendy Mass, dua orang yang bergantian, tiap babnya dinarasikan oleh masing-masing POV yang berbeda. Kalau manusia dewasa, dia dari sudut pandang kesatu. Selebihnya, lebih ke POV orang ketiga.

Premis buku ini sebenarnya sederhana: Ada anak kelas V SD yang penasaran dengan misteri perpustakaan gratis bernama Martinville yang pernah terbakar 20 tahun lalu dan menimbulkan korban. Perpustakaan ini dijaga oleh kucing comel bernama Mortimer, semacam kucing oranye gitu kalau di kita. Si kucing punya adik bernama Petunia yang jadi korban kebakaran. Perpustakaan ini juga dirawat oleh Al, singkatan dari Assistant Library. Dia jago memasak, dan sering membuatkan masakan untuk pimpinan perpustakaan bernama Ms. Scoggin, yang punya kekasih bernama Mr. Brock. Saat kebakaran tiba, Ms. Scoggin dan Mr. Brock menjadi korban kebakaran. Padahal mereka hendak nonton film bareng.

Karakter Al unik. Dia gak punya orang tua, namun diketahui passion terbesar dia ada di perpustakaan. Dia pikir dia udah mati karena selalu mengeluhkan dirinya gak bisa terbang atau menghilang layaknya hantu. Al gak bisa seperti Ms. Scoggin dan Mr. Brock, sampai akhirnya di akhir-akhir buku dia menyadari kalau dirinya terjebak terlalu lama di Martiville, sampai 20 tahun pascakebakaran, dengan meyakini bahwa dia hantu padahal bukan.

Tak dinyana, korban itu melibatkan ayah Evan si Mr. Edward McClelland, yang punya pseudoname HG Higgins. Si ayah ini cukup unik pekerjaannya, jadi dia memilih jadi penulis yang "gak pengen terkenal", karena menjadi terkenal itu merepotkan. Dia juga gak mau ada wawancara, ceramah buku, penandatanganan massal, dlsb. Cukup hening dengan menjadi penulis "underground". Cara ini juga cukup ampuh agar tetap fokus. Kerjanya di ruang bawah tanah. Si ayah juga punya kebiasaan aneh suka nggusak tikus yang dianggap mengganggu ke tempat yang lebih layak. Dia pecinta tikus, itu kenapa dia tak ingin menyakiti tikus dan tak ingin melihat tikus mati dibunuh.

Pas kebakaran itu, ayah Evan jadi anak magang yang kesepian dan gak punya teman. Kebetulan dia juga ada di ruang bawah tanah untuk nata buku-buku yang habis dibaca. Ayah Evan ingin ngasi tahu ke Evan terkait dirinya yang masih merasakan trauma saat Al menolongnya keluar dari asap, kemudian media juga seolah menyalahkannya. Tapi karena ayah Evan di bawah umur, dia gak kena hukuman. Ayah Evan selalu menghindar ketika ditanya soal kebakaran. Namun, Evan dengan bukti-bukti buku terkait cara menulis novel misterius, hingga buku personal yang sampulnya sobek-sobek karena dibaca berulang kali dengan foto Polaroid di dalamnya, membuat Evan menjadi sosok Sherlock Holmes baru. 

Evan menguak misteri itu dengan kawannya bernama Rafe. Karakter Rafe ini sebenarnya pemberani dan rebel, karena ortunya sangat protektif, gak boleh ini itu. Bahkan untuk menyeberang pun, perlu temannya. Dia dan ortunya bikin kesepakatan: setelah di SMP, seluruh aturan yang mengekang akan dibebaskan. Sehingga si Rafe sangat menanti masa-masa "pembebasan" itu. Dan saat itu tiba, Evan mengajak Rafe untuk menguak misteri kebakaran Martiville dengan menaiki sebuah rumah pohon tempat foto Polaroid diambil. Foto ini dia temukan di dalam buku yang ada di Martinville. Setelah penuh perjuangan naik rumah pohon yang dianggap angker itu, ketahuan kalau foto itu adalah foto gurunya, Mr. O'Neal, wkwk, yang tak lain adalah teman ayah Evan di masa lalu. 

Kadang Evan merasa ayahnya, meskipun lahir di area Ville, susah buat sosialisasi dengan lingkungannya sendiri. Sementara ayah Rafe yang pendatang, sudah tinggal 10 tahun, malah dikenal oleh siapa saja. Ini cukup kena di aku sih, haha. Terus juga, si Rafe ini bilang dan yakin, keyakinannya ini ditunjukkan dengan bahasa yang bagiku cukup memukau, semisal, bahkan untuk sampai seratus kematian sekalipun rasa-rasanya ayah Evan gak mungkin jadi pelaku yang membakar perpustakaan. 

Penyebab kebakaran pun aneh. Polisi juga tidak begitu menemukan kepastiannya. Sampai akhirnya, berkat kucing dan para tikus keluarga F yang beratraksi, mereka seolah mau bilang, kalau sebenarnya akibat kebakaran itu karena para tikus yang gak sengaja semacam bawa batang korek api, terus ketika gerak, itu bagian mesiunya tergores ke benda-benda di sekitarnya, dan apesnya dekat dengan buku, sehingga, terbakar deh.  

Kelemahannya, aku ngrasa ketidaksadaran Al itu terlalu dibuat-buat. Kek hello? Emang bisa orang halusinasi selama itu? Tinggal sendiri dengan dua hantu yang akhirnya lepas karena mau nonton bioskop? Kan aneh. Terus kadang juga tempo-temponya cukup lambat, dan ada bagian-bagian bab tertentu yang kalau itu dihapus pun gak masalah sih. Misal yang soal kakak kelas Evan yang kakinya jadi agak pincang setelah naik dari rumah pohon. Karena pas baca, karakter ini kek muncul tiba-tiba.

Terakhir, kalau butuh bacaan ringan dan mayan imajinatif. Kamu bisa baca buku ini. Karakter-karakternya juga cukup warm. Banyak kutipan yang menarik juga.  

KUTIPAN:

Awan sirus selalu berada di atas, tidak pernah di bawah. Bagiku, awan itu terlihat seperti bulu, rasanya seperti cokelat panas, dan baunya seperti semprotan serangga. Awan sirus bisa bergerak dengan cepat. (24) 

Mortimer, Evan, Goldie/Sunshine, Al (Assistant Library), Mr O'Neal, Rafe, Edward McClelland, HG Higgins, Ms Scoggin, Mr Brock....

Suara ketukan kibor melayang naik dari tangga. 

Asisten perpustakaan di Perpustakaan Martinville, 

Mr Block paling suka menemukan keberanian dalam buku. (49) 

Ia sudah berkeringat dan telah menghemat waktu tujuh menit. (59) 

Menjadi Pembaca Hebat tidak ada hubungannya dengan membaca buku-buku rumit, atau membaca buku-buku tebal, atau bahkan membaca banyak buku. Menjadi Pembaca Hebat berarti merasakan sesuatu tentang buku. (69) 

Aku tidak kecewa ketika orang lain tidak menyukai buku-buku yang kusukai. (71) 

Pagi ini aku bangun dan bertekad menjadikan hari ini hari yang baik. (90) 

Namun, bukankah "orang tua" adalah sumber kehidupan? Jika hidup adalah garis, yang mengarah ke suatu tempat, bukanlah orangtua adalah titik awalnya? (92) 

Buku tidak akan habis. Buku mendapatkan tenaga dari pembancanya, bukan? Mereka bisa dibaca lagi dan lagi. (94) 

Bagiku, perpustakaan itu selalu terlihat seperti raksasa kotor yang tangannya diikat ke belakang. (95) 

Perluasan besar kedua dari perpustakaan kecil gratis Martinville berbentuk gerobak merah tua yang ditarik dua siswa kelas tiga: Jessica dan Winnie D. (96) 

Menurutmu, apakah ada yang namanya dokter hantu? Bagaimana pula aku bisa memanggilnya? (98) 

Mortimer menyukai Winnie D. Tidak masalah jika anak itu lebih menyukai anjing dan kuda daripada kucing. Mortimer menyukai perpustakaannya. Ia merawatnya dengan baik. (100) 

Setiap kali membaca buku baru, dia membangun ruangan baru di dalam pikirannya. "Saat ini aku memiliki banyak sekali ruangan di sini," katanya, sambil mengetuk-ngetuk bagian di atas telinga kiri, "tetapi selalu ada tempat untuk satu buku lagi." Setelah itu, setiap kali menatap mata cokelatnya yang bersinar, aku membayangkan rumah yang sangat besar dan indah di balik mata tersebut... Aku membangun ruangan demi ruangan dalam pikiranku... Rumah yang kubangun sendiri dengan membaca banyak buku, dengan bantuan Ms. Scoggin, dan bantuan baterai-baterai senter, yang ternyata, seperti yang sudah dijelaskan manajer panti asuhan, harganya cukup mahal. (102) 

Bayangkan ada pembaca yang sedang mencari buku dan hanya menemukan ruang kosong di antara buku lain, seperti gigi ompong akibat dipukul perundung. (125) 

Mereka terus membayangkan setiap hal buruk yang mungkin terjadi. Aturan membuat mereka merasa jauh lebih baik. (135) 

Rafe tidak butuh orang lain mengetahui hal itu. (136) 

Judul: The Lost Library (Misteri Perpustakaan yang Hilang) | Penulis: Rebecca Stead dan Wendy Mass | Editor: Vania Adinda | Penerjemah: Reita Ariyanti | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta |  Cetakan: Kedelapan, Oktober 2025 | Jumlah halaman dan dimensi: 240 hlm, 20 cm

Minggu, 01 Maret 2026

Catatan Buku "Time is More Valuable Than Money: Dampak Transportasi pada Hidup Kita" karya Yoris Sebastian

Aku membaca buku ini ketika waktu sahur. Sebenarnya aku tak begitu bisa tidur nyenyak. Barangkali, aku perlu memprioritaskan tidur nyenyak 8 jam setiap hari sebagaimana yang Yoris praktikkan dalam hidupnya. Buku ini kubaca relatif cepat, kurang lebih dua jam sudah selesai. Mungkin karena bahasanya yang enak diikuti, meskipun informatif, di aku sangat masuk. Apalagi dia ngutip ide wartawan Amerika, Christopher Morley, yang menarik juga, "When You sell a man a book, you don't sell him just twelve ounces of paper and ink and glue -- you sell him a whole new life." Kurasa ini yang diberikan sama buku-buku yang kubaca.

Berkat buku ini, aku jadi paham terkait sejarah transportasi di Indonesia. Dari pas masa Orde Lama, Orde Baru, reformasi, sampai lanjutannya sekarang ini. Premis buku ini sebenarnya sederhana juga, penulis mau menunjukkan kalau waktu itu lebih berharga daripada uang berdasarkan kacamata mode transportasi yang kita gunakan sehari-hari. Hidup di tempat kerja yang jauh dari tempat tinggal itu suatu PR besar, karena gak hanya menyangkut kesehatanmu, tapi juga waktumu. Waktu yang gak bisa diganti, diperbanyak, dan dikembangbiakkan kayak komoditas kapitalisme yang lainnya.

Penulis mencontohkan ada kawannya seorang konsultan yang hidup di kota satelit, sementara kantornya katakanlah di distrik bisnis Jakarta. Pergi-pulang sudah berapa jam, tapi pas mutusin pindah, kualitas hidup jadi berubah. Dia bisa jadi punya banyak waktu sama keluarga. Lalu, karena dekat, juga enak. Praktik-praktik serupa banyak contohnya. Yoris juga ngasi semacam log book yang bisa diisi oleh pembaca terkait alokasi waktu yang bisa digunakan dalam 24 jam.

Namun, ada semacam titik buta juga menurutku, ya, itu masuk akal, tapi masalahnya kupikir lebih kompleks daripada sekedar transportasinya. Tapi juga gimana struktur kapital, modal, kelas sosial, dan finansial bekerja. Untuk buruh yang di bawah UMR itu gak ada pilihan lain. Mungkin Yoris atau kawannya bisa bacot gitu karena secara finansial udah settle, sehingga mereka punya banyak pilihan. Bagaimana dengan kelas sosial lain, kaum pinggiran yang tak punya banyak pilihan? 

Sudahlah, itu bahasan lain, aku tertarik dengan sejarah transportasi yang kita temui sehari-hari. Sebab aku menerimanya secara take it for granted saja, tanpa mempertanyakannya lebih jauh. Yoris ngutip pendapat Buya Hamka, intinya, kalau dulu kita ibadah ke Makkah bisa sampai dua bulan, sekarang berkat teknologi bisa ditempuh selama 9 jam saja. Ini berkat bantuan yang namanya "transportasi". Jadi, transportasi itu bagian dari revolusi sebenarnya. 

Aku jadi punya asumsi, revolusi itu emang cara manusia memanfaatkan waktu. Semakin dia cepat, efektif, dan efisien; maka manusia lebih punya banyak waktu untuk menikmati hidupnya--atau justru lebih sengsara dan teraleniasi? Bukan soal transportasi aja, misalnya juga soal AI. Alat itu benar-benar menggunting waktu boros yang kita gunakan untuk kegiatan yang lebih produktif. Sebagaimana yang kayaknya udah jadi common sense, masyarakat Indonesia itu boros waktu, jamnya pun jam karet.

Yoris di buku ini juga ngulas soal problem kemacetan di Jakarta yang menyebabkan stres. Kemudian didukung sama inovasi transportasi. Di zaman dulu, kita semisal mengenal delman, yang itu ternyata berasal dari bahasa Belanda, dan ditemukan oleh Charles Theodore Deeleman. Dulu kendaraan ini cukup elite, tapi sekarang lebih difungsikan untuk kegiatan yang sifatnya rekreatif. Lanjut dengan sepeda, dari yang rodanya satu, atau model sepeda Baron Karls Davis, sampai sepeda yang kita jumpai sekarang.

Dari sepeda, terus beranjak ke motor. Sebuah inovasi yang salah satunya digerakkan oleh Edward Butler di tahun 1885. Sementara, di Indonesia sendiri, motor pertama itu ada pada tahun 1898. Kalau kamu bayangin itu agak mirip-mirip sama property film jadul di masa dulu. Terus lanjut ke becak yang ditemukan pada tahun 1869 di Jepang. Yoris juga lihat rickshaw pertama kali pas baca Tintin. Nah, problem becak itu bagiku cukup kompleks, karena dianggap sebagai pekerjaan yang tidak manusiawi. Soekarno juga pernah menghina ini di tulisan scholar Jepang. Di Jakarta, ternyata ada alat transportasi yang bagiku udah punah, macam helicak (helipad + becak).

Di buku lain, aku malah membaca kalau rickshaw itu digeret pakai tangan! Ini terjadi di Kolkata, India. Menariknya, malah pelakunya sendiri merasa pekerjaan ini lebih bermartabat. Gajinya lebih tinggi daripada dia ikut orang disuruh-suruh, sementara di rickshaw, cukup selow sambil tidur-tidur juga gak masalah. Bahkan mereka menyalahkan pemerintah yang gak menyediakan transportasi yang proper buat masyarakat yang dianggap pekerjaannya "tak manusiawi" itu.

Berlanjut, mode transportasi lainnya ada becak motor (bemo) dan oplet. Baca ini, yang kebayang itu filmnya si Doel. Terus juga transportasi modern di era sekarang, Yoris lebih banyak membahas lebih cepat lagi, seperti trem dan kereta api. Tapi gak terlalu bahas teknologi, misal pintu ke mana sajanya Doraemon. Atau baling-baling bambu untuk terbang.

Sementara untuk tranportasi modern di era sekarang, Yoris lebih banyak bahas sistem. Misal untuk mengatasi kemacetan, dia bahas ada perkumpulan nebeng gitu. Juga, lebih ke transportasi umum yang bisa digunakan secara inklusif semacam Transjakarta (TJ). Atau yang lain ada shuttle, Yoris juga membagikan mode di negara lain seperti lyft rideshare service, bicycle sharing system yang biasa kutemukan di UI, city water transportation, jadi macam taksi air gitu, sampai intelligent transportation system (ITS). 

Di bab lainnya, Yoris bahas terkait kemungkinan transportasi di masa depan. Jadi sistemnya lebih terintegrasi gitu, kayak yang dia temukan di Bandara Kualanamu Medan. Aku sempat mau ketinggalan pesawat pas ke sini, wkwk. Dia juga bahas semacam very fast transportation macam kereta cepat yang sudah bisa kita nikmati di Kereta Cepat Bandung. Termasuk juga usulan seputar panoramic transportation, atau kereta wisata yang sangat mahal itu. Dan ternyata, Indonesia punya: Kereta Wisata Nusantara, Kereta Wisata Bali, dan Kereta Wisata Toraja. Dari buku ini, aku bermimpi suatu hari bisa menjajal naik Glacier Express dan The Pride of Africa, yang bisa jalan-jalan lihat panorama negeri dongeng di Eropa dan Afrika.

Di akhir bab buku, Yoris nekanin kalau harusnya dengan mencermati transportasi yang kita gunakan, kita bisa menghemat waktu kita untuk hal-hal yang lebih  bermakna dalam hidup kita. Mengutip kata Yoris, "Ukuran penting bagi orang yang satu dengan orang yang lain pasti berbeda. Namun saya coba paparkan beberapa hal yang penting untuk saya pribadi. Dengan mempunyai banyak waktu, saya punya 'extra time' to be HEALTHY, to be HAPPY, and to be WEALTHY. Ya, tiga hal ini penting buat saya. Itulah yang menjadi alasan kenapa saya harus menghindari pemborosan waktu."

Yang intinya: extra time to be healthy, extra time to be happy, and extra time to be wealthy

Mari kita lebih memberi perhatian pada transportasi yang kita gunakan.

Judul: "Time is More Valuable Than Money: Dampak Transportasi pada Hidup Kita" | Penulis: Yoris Sebastian | Editor: Mirna Yulistianti | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta | Cetakan: Pertama, November, 2013 | Jumlah halaman: vii + 148