Ada satu pertanyaan yang mengusikku berkaitan dengan demo kemarin: Mengapa ruang publik sekarang semakin dijaga dari massa aksi? Pertanyaan ini tiba-tiba muncul saat aparat mengalihkan konsentrasi massa dari yang awalnya dari akan dipusatkan di Bundaran HI untuk diganti di Gedung DPR atau seputaran Patung Kuda Arjuna Wijaya dekat Monas. Aku mengetahui ini setelah membaca berita, dan ada orang-orang yang cukup kecele juga pas datang ke Bundaran HI di jam istirahat makan siang, dan melihat lokasi itu masih sepi. Mereka menyangka jam 10 sudah ada pergerakan. Bahkan driver ojol ada yang bilang jika katanya demo batal, karena lalu lintas di Bundaran HI masih lancar. Dalih aparat mengapa massa aksi dilarang ke Bundaran HI karena "menjaga ketertiban umum dan kelancaran kegiatan ekonomi ", dengan dialihkan ke tempat yang disebut sebelumnya, aspirasi jadi semakin didengar, begitu klaimnya. Namun, wait, pada Jumat pagi aku juga baca komentar netizen yang bilang Bundaran HI salah tempat. Berikut skrinsutnya.
Padahal, jika kita membaca sejarah, misal ketika membaca tulisan Rita Padawangi, ruang publik strategis seperti Bundaran HI ini bisa menjadi "megafon", bagaimana informasi disebarkan, didistribusikan, dan bagaimana kota menjadi agen untuk menyuarakan gagasan. Tentu komentar yang menyerang pemilihan Bundaran HI bisa mudah dimentahkan. Ruang publik sestrategis Bundaran HI juga punya makna simbolik sebagai jalur efektif bagaimana pesan diterima publik, terutama bagi kalangan di luar elite, termasuk kaum papa dan mereka yang cenderung acuh sama politik kuasa. Ruang publik juga menyimpan memori kolektif yang tentu punya makna personalnya sendiri bagi setiap orang. Tentu, bagiku Bundaran HI adalah lalu-lintasku usai kerja untuk menuju tempat les belajar bahasa. Yang selalu macet di jam² pulang kerja.
Pemindahan lokasi massa aksi ini punya dampak yang serius:
1. Strategi memecah belah massa: Ketika disepakati satu tempat, tapi di lapangan semacam dibajak lokasi dan waktunya, maka massa jelas akan terpencar-pencar dan tidak bersatu. Ini menjadikan substansi perjuangan jadi semakin dilemahkan.
2. Pengontrolan massa di Bundaran HI lebih susah karena paling tidak ada tujuh simpang dari yang besar sampai yang jarang dilalui di titik itu. Bandingkan dengan simpang di patung kuda dengan persimpangan yang lebih sedikit dibandingkan HI. Sementara kita tahu efektivitas gedung DPR hari ini dengan elite-elitenya.
3. Justru saking vitalnya Bundaran HI, tempat itu jadi tempat yang sangat politis. Tempat juga bisa menjadi agensi yang tak kalah penting untuk menyuarakan tuntutan. Karena di sana juga letak otoritasnya.
Sebagai bagian dari sipil, aku juga ingin melihat Indonesia dengan kepemimpinan sekarang bisa melakukan refleksi. Aku mencoba membela apa yang menurutku perlu dibela, karena sekali lagi, hidup itu sendiri sudah sangat politis.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar