Klenik Studies Vol. XI edisi Kamis, 14 Mei 2026 mengangkat tema “Tarot dan Ramalan”. Diskusi ini dihadiri oleh Khumaid Akhyat Sulkhan, Mi’rajul Akbar, Nurizky Adhi Hutama, Jevi Adhi Nugraha, Nurul Diva Kautsar, dan Isma Swastiningrum.
Pada pembukaan diskusi, Sulkhan menyampaikan bahwa Klenik Studies telah memasuki pertemuan ke-11 dan berlangsung secara konsisten. Ia menjelaskan bahwa tema tarot dan ramalan dipilih karena cukup banyak memantik perhatian. Pembahasan diawali dari tarot, yang dinilai sebagai salah satu jalur spiritual yang populer di kalangan anak muda, termasuk bagi mereka yang sedang menghadapi berbagai persoalan hidup. Selain tarot, diskusi juga menyinggung praktik ramalan lain seperti primbon dan zodiak.
Tarot dalam banyak kasus berkembang sebagai bentuk bisnis hiburan yang menawarkan layanan konseling dan refleksi diri dengan pendekatan yang lebih atraktif. Menurutnya, di kalangan anak muda perkotaan, termasuk di Yogyakarta, tarot sering menjadi salah satu sarana untuk mencari makna, ketenangan, maupun pengalaman spiritual di luar institusi keagamaan formal.
Sulkhan kemudian mempersilakan Nurizky sebagai praktisi untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai tarot.
II. TREN TAROT DAN PERKENALAN DENGANNYA
Pembahasan mengenai tren tarot diawali oleh Nurizky yang menceritakan pengalamannya mengenal dunia tarot sejak 2012 melalui sebuah komunitas yang awalnya berfokus pada pendekatan psikologi. Ketertarikannya terhadap tarot kemudian berkembang melalui interaksi dengan almarhum kakaknya (Bunda Ry) yang merupakan praktisi psikologi. Menurutnya, praktik membaca tanda-tanda kehidupan sebenarnya telah lama dikenal di berbagai kebudayaan, seperti zodiak, shio, maupun berbagai bentuk ilmu titen. Ia mencontohkan kemampuan nelayan membaca arah angin dan posisi bintang sebagai bentuk pengetahuan serupa yang berangkat dari pengamatan terhadap pola-pola tertentu.
Nurizky menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap tarot juga dipengaruhi oleh game Persona yang memperkenalkan konsep dalam tarot seperti mayor dan minor arcana. Rasa penasaran tersebut mendorongnya mempelajari tarot lebih serius sejak masa kuliah dan hingga kini masih terus belajar.
Ia menjelaskan bahwa salah satu daya tarik tarot terletak pada visual kartu-kartunya yang menarik dan mudah digunakan sebagai media refleksi. Misal kartu “Eight of Swords” yang menggambarkan seseorang dalam kondisi tertekan atau menghadapi banyak persoalan yang menguras pikiran. Dalam praktiknya, ia melihat sebagian orang datang untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Namun, ia juga menyoroti adanya praktik-praktik tertentu yang memanfaatkan sugesti negatif dan rasa takut agar seseorang menjadi bergantung pada pemberi ramalan.
Menanggapi hal tersebut, Sulkhan berpendapat bahwa praktik ramalan sering kali berkaitan dengan keinginan manusia untuk mengendalikan nasib dan mengantisipasi masa depan. Menurutnya, tidak sedikit ramalan yang menonjolkan unsur ketakutan sehingga membuat orang terdorong untuk kembali mencari jawaban atau kepastian. Ia membedakan praktik tersebut dengan tarot yang, dalam beberapa pendekatan, juga digunakan sebagai sarana mencari solusi atau refleksi diri.
Nurul kemudian menceritakan pengalamannya mengenal dunia ramalan sejak SMP ketika mulai aktif menggunakan internet. Pada masa itu, situs-situs seperti Primbon.com cukup populer di kalangan remaja dan sering diakses di warnet. Berbagai informasi mengenai karakter berdasarkan hari kelahiran, kecocokan pasangan, hingga kisah-kisah mistis menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari anak muda saat itu. Ia juga mengingat berbagai narasi yang berkembang di masyarakat, seperti pantangan tertentu yang diwariskan dari para sesepuh, serta bagaimana ramalan sering kali memengaruhi keyakinan dan harapan seseorang terhadap masa depan.
Sulkhan menambahkan bahwa pada masa remajanya terdapat berbagai saluran yang turut mempopulerkan praktik ramalan, mulai dari primbon, zodiak, acara televisi, hingga rubrik-rubrik ramalan di surat kabar. Menurutnya, zodiak menjadi lebih populer di kalangan anak muda dibandingkan primbon karena lebih banyak hadir dalam media populer. Nurul juga mengingat maraknya iklan layanan ramalan di televisi yang menawarkan konsultasi mengenai kehidupan, pekerjaan, maupun hubungan asmara, serta figur-figur publik yang membahas astrologi sebagai bagian dari hiburan.
III. ILMU RAMALAN SECARA PSIKOLOGI
Pembahasan mengenai ramalan dari perspektif psikologi disampaikan pula oleh Akbar yang menjelaskan adanya dua kecenderungan dalam memandang praktik ramal-meramal. Di satu sisi terdapat kelompok skeptis yang melihat ramalan sebagai hasil kecenderungan manusia mencari dan mencocokkan pola dari berbagai peristiwa yang telah terjadi. Di sisi lain, terdapat pendekatan psikologi analitik yang dipengaruhi pemikiran Carl Jung, terutama melalui konsep synchronicity atau sinkronisitas, yaitu gagasan bahwa dua peristiwa yang terjadi secara bersamaan dapat memiliki keterkaitan makna meskipun tidak memiliki hubungan sebab-akibat secara langsung. Menurutnya, konsep ini dapat digunakan untuk memahami bagaimana tarot bekerja sebagai media refleksi terhadap kondisi psikologis seseorang.Akbar menjelaskan bahwa simbol-simbol dalam kartu tarot dapat memancing imajinasi dan menjadi pintu masuk ke alam bawah sadar. Dalam perspektif Jungian, alam bawah sadar tidak hanya berisi dorongan-dorongan personal, tetapi juga terhubung dengan simbol dan makna yang lebih luas. Karena itu, tarot dinilai kurang tepat digunakan untuk meramalkan masa depan secara pasti, tetapi lebih berguna untuk memahami situasi yang sedang dihadapi seseorang pada saat ini. Ia juga membandingkan tarot dengan I Ching dalam tradisi Tiongkok yang digunakan untuk membaca pola perubahan suatu keadaan. Menurutnya, tujuan utama metode-metode tersebut bukanlah memprediksi masa depan secara mutlak, melainkan membantu memahami posisi seseorang dalam fase kehidupan yang sedang dijalani.
Menanggapi penjelasan tersebut, Sulkhan mengaitkan konsep sinkronisitas dengan pengalaman sehari-hari ketika seseorang menemukan berbagai peristiwa yang terasa sejalan dengan kondisi batin. Misalnya, ketika sedang mengalami kesedihan lalu menemukan novel, lagu, atau simbol tertentu yang seolah menggambarkan pengalaman yang sama. Menurutnya, tarot dapat dipahami sebagai sebuah sistem simbol yang membantu seseorang mengenali pola-pola yang sebenarnya sudah ada dalam pikirannya sendiri. Simbol-simbol pada kartu kemudian memicu imajinasi dan refleksi yang lebih jauh mengenai pilihan maupun konsekuensi yang sedang dihadapi.
Jevi mengaku tidak memiliki banyak pengalaman dengan tarot, karena dari pengalaman di sekitarnya lebih banyak berkaitan dengan berbagai bentuk peramalan tradisional, seperti membaca cuaca atau tanda-tanda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Isma menyampaikan bahwa dirinya telah cukup lama mengenal tarot dan beberapa kali berkonsultasi dengan praktisi. Namun, ia mempertanyakan sejauh mana karakteristik yang dilekatkan pada suatu zodiak dapat digeneralisasi kepada semua orang, mengingat adanya perbedaan latar belakang sosial dan pengalaman hidup.
Nurizky menyatakan, tarot lebih tepat dipahami sebagai alat untuk membaca pola dan membantu seseorang memahami dirinya sendiri. Mengutip Tarot Bunda Ry, ia mengibaratkan tarot seperti GPS atau payung yang tidak menentukan masa depan, tetapi membantu seseorang mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan. Dalam praktiknya, tarot digunakan untuk menerjemahkan alam bawah sadar melalui simbol-simbol visual sehingga memudahkan seseorang memahami masalah yang sedang dihadapi. Ia juga membandingkan tarot dengan tes psikologi seperti Rorschach yang sama-sama mengandalkan proses pemberian makna terhadap simbol atau gambar tertentu.
Lebih lanjut, Nurizky menjelaskan bahwa setiap praktisi memiliki cara dan ritual masing-masing dalam menggunakan tarot. Namun, menurutnya, yang paling penting bukanlah kartu atau atribut yang digunakan, melainkan kepercayaan yang dibangun antara praktisi dan klien. Banyak orang datang bukan semata-mata untuk mengetahui masa depan, tetapi untuk memperoleh rasa aman, keyakinan, atau perspektif baru terhadap persoalan yang sedang dihadapi. Dalam konteks ini, tarot sering kali berfungsi sebagai sarana komunikasi dan refleksi yang membantu seseorang memahami dirinya sendiri.
Nurizky mengungkapkan bahwa dalam praktik profesional, peran seorang pembaca tarot sering kali lebih dekat dengan konsultan atau teman berbagi cerita dibandingkan peramal. Menurutnya, banyak klien datang karena membutuhkan ruang untuk didengarkan tanpa dihakimi. Kartu tarot hanya menjadi media pembuka percakapan, sedangkan inti interaksi terletak pada proses mendengarkan, memahami persoalan, dan memberikan umpan balik. Pengalaman tersebut membuatnya melihat tarot bukan hanya sebagai alat membaca simbol, tetapi juga sebagai sarana membangun hubungan, refleksi diri, dan pertukaran pengalaman antarmanusia.
Akbar kemudian menegaskan kembali konsep self-fulfilling prophecy dalam praktik ramalan. Menurutnya, sebuah ramalan dapat memengaruhi perilaku seseorang sehingga pada akhirnya turut membentuk masa depan yang diprediksi. Ia juga menyoroti bahwa makna yang muncul dari tarot pada dasarnya merupakan hasil interpretasi. Sebagai contoh, kartu “Death” tidak selalu dimaknai sebagai kematian secara harfiah, tetapi dapat diartikan sebagai berakhirnya suatu fase dan dimulainya fase baru. Karena itu, banyak ramalan disampaikan dalam bentuk yang relatif terbuka sehingga memberi ruang bagi individu untuk memberikan makna sesuai dengan pengalaman hidupnya masing-masing.
Menanggapi hal tersebut, Sulkhan menyoroti bahwa berbagai bentuk ramalan, termasuk zodiak dan primbon, sering kali berkaitan dengan konsep self-fulfilling prophecy yang disebut Akbar, yaitu ketika keyakinan terhadap suatu ramalan secara tidak langsung memengaruhi perilaku seseorang sehingga ramalan tersebut tampak menjadi kenyataan. Ia juga menilai bahwa faktor kelas sosial dapat memengaruhi bagaimana karakteristik yang dikaitkan dengan suatu zodiak diwujudkan dalam kehidupan seseorang.
IV. SARANA COPING MECHANISM
Diskusi kemudian berlanjut pada fungsi ramalan sebagai sarana coping mechanism dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Nurul mengaku cukup dekat dengan berbagai bentuk ramalan dan masih menggunakan aplikasi seperti The Pattern. Menurutnya, ramalan sering kali terasa relevan dengan kondisi yang sedang dialami seseorang. Namun, yang lebih penting adalah perannya sebagai alat untuk memahami ketidakpastian dan mengelola perasaan tidak nyaman. Ketika menghadapi situasi yang rumit, ramalan dapat membantu menyederhanakan persoalan, memberikan arah, serta menghadirkan harapan yang membuat seseorang merasa lebih tenang dalam mengambil keputusan.
Nurul menjelaskan bahwa berbagai narasi dalam ramalan, seperti prediksi mengenai fase kehidupan tertentu, sering kali berfungsi sebagai sumber motivasi dan refleksi diri. Baginya, benar atau tidaknya ramalan bukanlah hal yang utama. Yang lebih penting adalah bagaimana ramalan membantu seseorang memvalidasi perasaan, memahami kondisi yang sedang dihadapi, dan memperoleh ketenangan dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti. Ia juga menyoroti peran media sosial yang, melalui algoritma, kerap menampilkan konten-konten serupa setelah seseorang berinteraksi dengan tema ramalan tertentu. Karena itu, ia melihat ramalan sebagai salah satu mekanisme psikologis dan sosial untuk menghadapi ketidakpastian hidup.
Menanggapi pandangan tersebut, Sulkhan menilai bahwa pengalaman yang disampaikan Nurul memperkuat argumentasi sebelumnya mengenai fungsi tarot sebagai alat untuk memaknai kondisi yang sedang dialami seseorang pada masa kini. Menurutnya, proses refleksi yang muncul melalui tarot atau ramalan dapat membantu seseorang memahami pola hidupnya dengan lebih baik, sehingga lebih bijak dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan.
Isma kemudian mengaitkan pembahasan ini dengan praktik kreatif dalam dunia sastra. Ia mencontohkan penggunaan tarot oleh seorang penulis sebagai alat untuk mengembangkan alur cerita maupun karakter. Akbar juga mencontohkan bagaimana I Ching juga dipakai penulis sebagai pemicu kemungkinan-kemungkinan baru yang membuat cerita berkembang secara lebih organik dan variatif. Dari sini muncul pertanyaan apakah proses yang sama juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang membaca ramalan lalu menyesuaikan cara pandang maupun tindakannya berdasarkan makna yang diperoleh.
Menurut Sulkhan, upaya memahami atau bahkan memprediksi masa depan berpotensi memengaruhi perilaku seseorang pada masa kini. Ketika seseorang menerima suatu prediksi, baik secara sadar maupun tidak, ia dapat mulai mengubah sikap, pilihan, dan tindakannya. Dengan demikian, ramalan tidak hanya berfungsi sebagai pembacaan terhadap kemungkinan yang akan terjadi, tetapi juga dapat menjadi faktor yang turut membentuk arah masa depan itu sendiri.
V. FENOMENA DI GUNUNGKIDUL DAN TAROT SEBAGAI ENTERTAIN
Pembahasan kemudian bergeser pada berbagai praktik ramalan dan pembacaan tanda yang berkembang di Gunungkidul. Jevi menjelaskan bahwa dirinya tidak terlalu terpapar tarot, tetapi lebih akrab dengan tradisi lokal seperti Cupu Panjala dan Pawukon. Dalam tradisi Cupu Panjala, ramalan dilakukan melalui pembacaan motif atau bercak pada kain mori yang dibuka setahun sekali. Berbagai bentuk yang muncul kemudian ditafsirkan oleh tokoh tertentu untuk menggambarkan kondisi sosial, lingkungan, maupun peristiwa yang diperkirakan akan terjadi. Menurutnya, praktik ini lebih berorientasi pada pembacaan keadaan zaman dan kehidupan masyarakat dibandingkan nasib individu.
Selain itu, Jevi menjelaskan bahwa Pawukon masih digunakan di sejumlah wilayah Gunungkidul, terutama untuk menentukan waktu yang dianggap tepat dalam berbagai aktivitas, seperti menanam, panen, maupun penyelenggaraan hajatan. Pengetahuan tersebut biasanya dimiliki oleh orang-orang tertentu dan diwariskan secara terbatas. Meskipun jumlah praktisinya semakin sedikit, masih terdapat upaya pewarisan kepada generasi muda melalui kelas-kelas informal yang dipandu para sesepuh. Di sisi lain, berbagai tradisi tersebut juga mulai menarik perhatian peneliti dan wisatawan karena dianggap sebagai bentuk pengetahuan lokal yang semakin langka.
Menanggapi hal tersebut, Sulkhan menilai Gunungkidul memiliki kekayaan tradisi yang menarik untuk dikaji, terutama berbagai teknologi budaya yang digunakan masyarakat untuk memahami alam dan membaca pola kehidupan. Menurutnya, tradisi-tradisi yang mulai terancam hilang justru memiliki nilai penting untuk didokumentasikan dan dipelajari lebih lanjut.
Sulkhan kemudian mengaitkan pembahasan ini dengan fungsi sosial ramalan dalam kehidupan masyarakat. Ia mencontohkan berbagai nasihat dalam tradisi pesantren yang disampaikan dalam bentuk konsekuensi atau prediksi, seperti peringatan bahwa seseorang akan dijauhi masyarakat jika tidak menghormati orang tua atau gurunya. Menurutnya, narasi-narasi semacam itu memiliki fungsi sosial untuk membentuk perilaku dan kepatuhan melalui gambaran mengenai akibat yang mungkin terjadi di masa depan.
Jevi kemudian mempertanyakan apakah seorang pembaca tarot mengalami perubahan identitas atau memasuki kondisi tertentu ketika melakukan pembacaan kartu, sebagaimana yang ia temui dalam beberapa praktik spiritual di Gunungkidul. Ia menceritakan pengalamannya menjumpai sejumlah tokoh spiritual yang tampak berubah sikap, bahasa, maupun perilakunya ketika memberikan nasihat atau ramalan kepada orang lain.
Menjawab pertanyaan tersebut, Nurizky menjelaskan bahwa dalam praktik tarot yang ia jalani, perubahan tersebut lebih merupakan bagian dari cara berkomunikasi dan membangun suasana daripada pengalaman mistis. Menurutnya, tarot pada dasarnya merupakan bentuk hiburan sekaligus media konseling yang menggunakan simbol, bahasa, dan penyampaian yang menarik agar klien merasa nyaman untuk bercerita. Dalam praktiknya, kemampuan membangun kepercayaan, memilih kata-kata, serta menciptakan suasana yang cair justru menjadi aspek yang paling penting. Karena itu, ia melihat tarot sebagai perpaduan antara komunikasi, refleksi diri, dan hiburan yang mudah diterima oleh masyarakat urban maupun generasi muda.
Pembahasan kembali mengarah pada praktik perdukunan yang masih berkembang di Gunungkidul. Jevi menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih mendatangi dukun ketika menghadapi persoalan hidup, mulai dari masalah ekonomi hingga persoalan pribadi. Dalam praktik tersebut biasanya terdapat berbagai syarat, media, dan ritual tertentu yang harus dipenuhi. Menurutnya, pola yang digunakan tidak jauh berbeda dengan praktik ramalan pada umumnya, yaitu memberikan tafsir, arahan, atau solusi atas persoalan yang sedang dihadapi seseorang.
Nurul kemudian menanyakan apakah praktik perdukunan masih banyak dijumpai pada masa sekarang. Menanggapi hal itu, Jevi menyatakan bahwa praktik tersebut masih bertahan karena sebagian masyarakat merasa lebih nyaman berkonsultasi kepada figur spiritual dibandingkan kepada tenaga profesional seperti psikolog. Ia menambahkan bahwa keberhasilan maupun kegagalan dari praktik-praktik tersebut tetap bergantung pada banyak faktor, meskipun kepercayaan masyarakat terhadapnya masih cukup kuat.
Sulkhan menilai bahwa berbagai cerita mengenai perdukunan, mitos, dan praktik spiritual lokal merupakan bagian menarik dari kehidupan sosial masyarakat yang layak diteliti maupun dijadikan bahan karya sastra. Nurul menambahkan bahwa praktik-praktik semacam itu tidak hanya ditemukan di tingkat masyarakat biasa, tetapi juga kerap dikaitkan dengan berbagai kalangan, termasuk tokoh-tokoh politik. Sulkhan kemudian menegaskan bahwa pada dasarnya berbagai bentuk ramalan dan ilmu titen berangkat dari upaya manusia membaca pola-pola yang dianggap memiliki makna dalam kehidupan.
Sulkhan kembali menyoroti fungsi tarot dan berbagai bentuk ramalan sebagai sarana pencarian makna. Menurutnya, berbagai ritual yang menyertai praktik tarot dapat dipahami sebagai cara para praktisi membangun makna dan pengalaman simbolik bagi diri mereka maupun kliennya. Ia melihat apa yang sering disebut sebagai “cocokologi” tidak semata-mata bertentangan dengan rasionalitas, melainkan merupakan bagian dari pengalaman batin manusia dalam mencari pemahaman terhadap kehidupan. Dalam pandangannya, banyak orang datang kepada tarot atau ramalan bukan sekadar untuk mengetahui masa depan, melainkan untuk menemukan makna atas pengalaman yang sedang mereka jalani.
VI. POLA, WETON, DAN PRIMBON
Pembahasan mengenai weton dan primbon dijelaskan oleh Jevi yang menjelaskan bahwa sistem penanggalan Jawa masih dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk pada nama-nama hari pasaran seperti Pon, Kliwon, Legi, Wage, dan Pahing. Menurutnya, tradisi tersebut berangkat dari upaya masyarakat Jawa membaca pola-pola kehidupan berdasarkan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia meyakini bahwa sistem seperti weton lahir dari pengamatan yang panjang terhadap karakter maupun peristiwa yang berulang, meskipun sebagian besar pengetahuan tersebut kini lebih banyak diwariskan secara lisan dibandingkan melalui catatan tertulis.Nurul mengaku tertarik untuk mencoba membaca weton karena tradisi tersebut tidak terlalu populer dalam lingkungan keluarganya yang berlatar Jawa dan Sunda. Ia menceritakan bahwa media sosial sering menampilkan berbagai kisah terkait weton, perjodohan, dan penentuan hari baik, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari pengamatannya, weton masih digunakan oleh sebagian masyarakat untuk menentukan waktu yang dianggap tepat dalam berbagai aktivitas, mulai dari pernikahan hingga membuka usaha.
Jevi kemudian menceritakan sejumlah tradisi yang masih dijalankan di lingkungannya terkait peringatan weton. Salah satunya adalah penyajian makanan tertentu pada hari kelahiran berdasarkan weton, lengkap dengan tata cara dan simbol-simbol yang memiliki makna tersendiri. Menurutnya, berbagai ritual tersebut tidak selalu dianggap wajib, tetapi tetap dijalankan sebagai bagian dari tradisi keluarga dan penghormatan terhadap warisan budaya. Ia juga menambahkan bahwa dalam beberapa praktik Jawa, arah mata angin memiliki peran penting dalam menentukan hari baik maupun membaca berbagai pertanda.
Pembahasan kemudian beralih pada perbedaan cara masyarakat memaknai ramalan. Jevi menyinggung pengalamannya melihat praktik-praktik ramalan di luar Indonesia yang cenderung lebih terbuka dan spesifik dalam menyampaikan prediksi, termasuk mengenai kehidupan dan kematian. Sebaliknya, menurutnya, tradisi Jawa umumnya lebih simbolis dan tidak disampaikan secara gamblang, sehingga memberi ruang yang lebih luas bagi proses penafsiran.
Isma kemudian menambahkan bahwa ramalan zodiak yang banyak beredar di media populer sering kali ditulis dengan cara mengarang sehingga mudah dianggap relevan oleh banyak orang. Ia mengingat pengalaman seorang redaktur media yang mengaku menyusun ramalan zodiak lebih sebagai konten hiburan daripada hasil pembacaan yang benar-benar mendalam.
Menanggapi terkait ramalan sebagai suatu bentuk entertain, Nurizky menjelaskan bahwa sebagian tayangan ramalan yang muncul di televisi pada masa lalu sering kali mengandung unsur rekayasa demi kepentingan hiburan dan peningkatan rating. Ia mencontohkan pengalaman kakaknya yang pernah mendapat tawaran untuk terlibat dalam program televisi bertema ramalan, namun diminta mengikuti skenario yang telah disiapkan sebelumnya. Menurutnya, aspek hiburan sering kali menjadi pertimbangan utama dalam penyajian ramalan di media massa.
Nurizky menjelaskan bahwa berbagai sistem seperti weton, neptu, astrologi, maupun metode serupa di kebudayaan lain pada dasarnya berangkat dari upaya mengumpulkan dan membaca pola-pola kehidupan manusia. Menurutnya, para pendahulu menyusun berbagai klasifikasi berdasarkan waktu kelahiran, karakter, dan pengalaman hidup untuk membantu memahami kecenderungan seseorang serta meminimalkan potensi konflik dalam hubungan sosial. Namun, ia menekankan bahwa kecocokan antara hasil pembacaan dengan realitas tidak selalu mutlak karena kepribadian manusia juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial, pengalaman hidup, dan proses pembelajaran.
Nurizky menekankan bahwa yang terpenting dari ramalan adalah kemampuan seseorang mengambil hal-hal yang dianggap bermanfaat dan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sulkhan menambahkan bahwa ramalan pada akhirnya dapat berfungsi sebagai sarana untuk membuat seseorang merasa lebih berdaya dalam menghadapi kehidupannya. Nurizky kemudian menegaskan bahwa setidaknya ramalan dapat memberikan keyakinan dan dorongan bagi seseorang untuk terus bergerak menjalani hidup.
VII. RAMALAN DAN CHATGPT
Pada bagian akhir diskusi, pembahasan berkembang ke fenomena penggunaan kecerdasan buatan, khususnya ChatGPT, sebagai sarana mencari jawaban dan memahami kehidupan. Jevi mengaku tidak terlalu tertarik pada ramalan maupun upaya mengetahui masa depan secara detail. Baginya, kejutan-kejutan dalam hidup justru menjadi bagian yang menarik untuk dijalani. Ia juga mengamati bahwa banyak anak muda saat ini cenderung bertanya kepada ChatGPT mengenai berbagai persoalan hidup, meskipun dirinya sendiri tidak memiliki kebiasaan tersebut.
Menanggapi hal itu, Sulkhan berpendapat bahwa sebagian orang memang lebih menikmati ketidakpastian dan kejutan-kejutan hidup, sementara sebagian lainnya merasa perlu memiliki gambaran mengenai masa depan sebagai pegangan dalam mengambil keputusan. Menurutnya, kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa manusia selalu berupaya mencari arah di tengah kompleksitas kehidupan.
Nurizky kemudian membandingkan penggunaan ChatGPT dengan praktik tarot. Menurutnya, ChatGPT lebih banyak menawarkan pendekatan yang logis dan analitis, sedangkan tarot lebih dekat dengan refleksi perasaan dan intuisi. Ia mengaku menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu melihat persoalan secara lebih objektif, terutama ketika sedang menghadapi penolakan atau bias dalam menilai dirinya sendiri. Dalam pandangannya, AI dapat membantu meredam kecenderungan menyangkal kenyataan dan memberikan sudut pandang yang lebih rasional. Sementara itu, tarot digunakan untuk membantu menyelaraskan pikiran dan perasaan melalui simbol-simbol yang memancing refleksi.
Jevi menilai bahwa hal yang belum sepenuhnya dapat diberikan oleh ChatGPT adalah aspek rasa dan intuisi yang sering muncul dalam interaksi antarmanusia. Menurutnya, jawaban yang diberikan AI tetap berangkat dari pola dan sistem yang telah dirancang sebelumnya. Sulkhan kemudian menambahkan bahwa pencarian rasa maupun makna juga merupakan bagian dari upaya manusia mencari kebenaran, sebagaimana pencarian melalui ramalan, refleksi diri, maupun berbagai bentuk pengetahuan lainnya.
Nurul menjelaskan bahwa ketertarikannya menggunakan ChatGPT berangkat dari pengalaman menghadapi ketidakpastian dalam hidup. Setelah mengalami berbagai kegagalan dan merasa tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai masa depan, ia mulai menggunakan ChatGPT sebagai sarana menyusun rencana dan mencari alternatif solusi. Baginya, teknologi tersebut membantu proses refleksi sekaligus memberikan struktur dalam menghadapi persoalan yang sebelumnya terasa membingungkan.
Menutup diskusi, Nurizky menekankan bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki pola hidup dan kebiasaan yang dapat diamati. Menurutnya, kemampuan mengenali pola tersebut membantu seseorang memahami dirinya sendiri maupun orang lain. Ia mengaku lebih nyaman menjalani hidup dengan pola yang relatif teratur karena keteraturan tersebut membantunya menjaga keseimbangan psikologis. Dari perspektif ini, baik ramalan, ilmu titen, maupun penggunaan ChatGPT dapat dipahami sebagai berbagai cara yang digunakan manusia untuk membaca pola.
VIII. PENUTUP
Beberapa kesimpulan diskusi Klenik Studies Vol. XI:
1. Ramalan, tarot, weton, primbon, maupun ilmu titen menunjukkan upaya manusia membaca pola dan mencari makna di tengah ketidakpastian hidup.
2. Dari perspektif psikologi, ramalan lebih berfungsi sebagai sarana refleksi diri, coping mechanism, dan pemberian makna atas pengalaman hidup daripada alat untuk memprediksi masa depan secara pasti.
3. Baik melalui ramalan tradisional maupun teknologi seperti ChatGPT, manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama, yaitu mencari arah, memahami diri sendiri, dan memperoleh keyakinan dalam mengambil keputusan.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar