Minggu, 21 Juni 2026

Diskusi "Bedah Arsip: Ensiklopedia Gerwani"

Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) pernah menjadi salah satu organisasi perempuan terbesar di Asia dengan jutaan anggota dan jaringan yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia maupun dunia. Namun, setelah peristiwa 1965, keberadaan dan kontribusinya banyak mengalami penghapusan, penyederhanaan, hingga distorsi dalam narasi sejarah resmi. 

Diskusi "Bedah Arsip: Ensiklopedia Gerwani" yang diselenggarakan oleh Logos ID, Batjaan Rakjat, dan The Coretanist menghadirkan Nathanael Pribady untuk memaparkan hasil pengumpulan, digitalisasi, dan pembacaan arsip-arsip Gerwani. Diskusi digelar di Kafe Sastra Balai Pustaka Jakarta, Minggu, 21 Juni 2026 pukul 16.00-18.15 WIB. Melalui forum ini, peserta diajak meninjau kembali sejarah perempuan Indonesia, memahami jaringan transnasional Gerwani, serta mendiskusikan pentingnya arsip sebagai upaya memperluas ruang pengetahuan dan menghadirkan perspektif sejarah yang lebih beragam.

Berikut beberapa rangkuman diskusinya:

Nathan membaca bahwa terdapat perdebatan internal di Gerwani. Kurikulum 1965–1966 menunjukkan bahwa Gerwani merupakan turning point organisasi perempuan terbesar sepanjang sejarah Indonesia, bahkan dunia. Anggotanya diperkirakan mencapai 1,5 hingga 3 juta orang. Saat itu belum ada organisasi perempuan sebesar itu. Indonesia juga pernah menjadi hot topic dunia sebelum Perang Vietnam. Nathan menyebut, sebenarnya masih banyak proyek lain yang dia sedang lakukan. Misalnya, arsip milik Muhammad Nasroen (Guru Besar Filsafat UI) yang sudah tersedia di Pustaka Langka. Scam scanner juga bisa dimanfaatkan jika ingin mengarsipkan dokumen.

 

Question: Per 2026, ada KUHP Pasal 188. Prabowo hadir dalam pertemuan para pemimpin dunia yang meyakini tatanan dunia multipolar. Dalam berbagai dokumentasi, Prabowo terlihat berjalan bersama para pemimpin seperti Vladimir Putin hingga Kim Jong Un. Akhir Agustus pernah muncul isu "revolusi warna", rumah Sri Mulyani diobrak-abrik, lalu muncul nama Purbaya. Saya mengapresiasi usaha Nathan yang menunjukkan bahwa Gerwani ternyata luar biasa. Bangsa ini luar biasa besar. Kita pernah menggagas Gerakan Non-Blok dan berbagai inisiatif global lainnya. Bangsa ini terlalu besar untuk dikerdilkan oleh Pasal 188 KUHP. Ada perpustakaan di Salemba yang tidak bisa diakses sembarang orang.

Nathan: Tugas akademisi juga mengarsipkan. Penerima LPDP pun tidak perlu takut.

Question
: Saat mengumpulkan arsip, bagaimana kondisinya sekarang? Jika dilihat dari karya-karya yang muncul, ada perkembangan kelas-kelas lain yang turut membersamai. Bagaimana memastikan proyek seperti ini berkelanjutan?

Nathan: CZUR scanner sangat bagus digunakan untuk digitalisasi arsip. Harganya sekitar Rp2–3 juta. Di Jogja Library Center juga tersedia fasilitas pemindaian. Tantangannya adalah bagaimana mengoneksikan subjek-subjek yang terpisah. Jangan sampai disiplin ilmu justru memisahkan pengetahuan manusia. Yang berkelanjutan sejauh ini adalah proyek-proyek yang self-funded, sehingga tidak ada sensor.

MC (Auf A. Said): S.K. Trimurti seolah tidak pernah dikaitkan dengan Gerwani. Dalam Api Kartini juga terlihat adanya konflik internal. Siti Rukiah bahkan tidak lagi menulis setelah 1965. Bagaimana memahami sejarah yang tidak disensor? Rasanya seperti menyadari bahwa selama ini kita dibohongi.

Nathan: Salah satu mata kuliah yang saya ambil adalah gender. Dari berbagai materi, saya tertarik pada Api Kartini. Ada peristiwa genosida yang membuat saya marah, sehingga lahirlah gagasan arsip dan Museum Gerwani. Banyak jejak yang ternyata tidak ada di Indonesia. Ada benang-benang sejarah yang berdarah. Soal digitalisasi, kadang saya langsung mengkliping tanpa banyak pertimbangan. Untungnya dosen-dosen di Cornell dan Columbia mendukung. Sekarang tinggal menunggu arsip diolah dan dipublikasikan. Tidak perlu terlalu banyak perizinan karena prosesnya bisa sangat lama.

Pius: Museum Gerwani menjawab keresahan kami. Sejarah yang ditulis negara sering kali terasa propagandistis. Ini menjadi alternatif sejarah yang tidak hanya berpusat pada Soekarno atau Kartini. Saya tertarik melihat arsip ini karena sifatnya sangat praktis. Sebagai mahasiswa Sejarah, saya juga jarang menemukan pembahasan mengenai Gerwani. Historiografi kita sering kali maskulin, sehingga Gerwani menjadi unik. Dari arsip-arsip yang telah didigitalisasi, apa harapan ke depannya selain diseminasi pengetahuan?

Nathan: Saya berharap teman-teman sendiri yang mengolahnya, terutama teman-teman perempuan. Logos akan menerbitkan majalah Cantik yang berisi tulisan perempuan Tionghoa-Indonesia. Arsip-arsip ini bisa dibaca dan didiskusikan bersama. Rencana lainnya adalah membuat kurikulum yang nantinya terbuka untuk publik. Jika ada yang ingin melanjutkan proyek ini, sangat dipersilakan. Sejarawan perempuan di Yogyakarta juga akan mengadakan diskusi serupa. Kami ingin memberi lebih banyak ruang bagi perempuan.

Question: Dalam berbagai pembicaraan, isu 1965 sekarang sudah menjadi arus utama. Saya membaca tentang Gerwani dan Gerwis karena keterkaitannya dengan Perserikatan Buruh Kereta Api. Dari bacaan Nathan, apa yang bisa ditangkap mengenai memori kemarahan kolektif?

Question: Monash University pernah mengarsipkan Sin Po, tetapi sekarang arsipnya tidak bisa diunduh. Apakah nanti nasib arsip ini juga akan serupa?

Nathan: Perjuangan Gerwani bersifat bottom-up. Mereka memiliki pergerakan yang cukup masif di tingkat akar rumput. Ada media seperti Suara Ibu dan Seruni. Gerwani juga menaruh perhatian pada afeksi, yakni bagaimana menyambungkan pengetahuan dan perasaan. Mereka memiliki jaringan internasional yang cukup luas.



Terima kasih juga kepada Perpustakaan Nasional. Coba lihat koleksi di Cornell. Namun sekarang perhatian banyak pihak lebih besar pada bisnis dibanding sejarah. Kami juga membuat zine yang berisi refleksi teman-teman Logos setelah membaca arsip Gerwani. Tagihan hosting bahkan sempat membengkak. Kami juga ingin berkolaborasi dengan banyak ilustrator. Gerwani memiliki jaringan transnasional. Mereka tidak bergerak sendiri. Dukungan terhadap kemerdekaan Kamerun, misalnya, juga menjadi bagian dari perhatian mereka.

Nathan: Sejarah Cornell dan MIT tidak jauh dari CIA. Ada keterkaitan dengan aktivitas pemantauan terhadap Indonesia dan kerja intelijen luar negeri. Jika melihat kondisi sekarang, penjajahan masih terjadi di berbagai tempat, seperti Palestina. Kita bisa melihat bagaimana mereka melawan imperialisme Barat dan memahami seberapa luas jaringan tersebut. Pertanyaannya, bentuk transnasionalisme seperti apa yang bisa kita kontekstualisasikan saat ini? Di Columbia ada konferensi Bandung Humanism. Bagaimana menghubungkan semangat transnasionalisme tersebut? Melalui peta yang dibuat, kita dapat melihat jaringan transnasional yang sudah terbentuk sekitar 70 tahun lalu.

Anet (Aliansi Ibu): Kami memiliki komunitas homeschooler. Semua dimulai dari buku-buku. Kami membaca dengan lambat; satu buku bisa dibaca selama satu hingga satu setengah tahun. Kita bukan bangsa inferior. Kartini berbicara tentang perempuan yang memiliki jiwa merdeka. Terima kasih karena sudah mengorbankan sebagian masa muda untuk proyek ini. Di saat banyak anak muda ingin menjadi seperti Gibran, Nathan menunjukkan tipe yang berbeda. Saya jadi memiliki harapan. Kita perlu menemukan kembali DNA bangsa kita yang asli. Kita kehilangan banyak pemikir karena dibungkam. Kita membutuhkan orang-orang yang berani keluar dari gelembungnya. Bayangkan, Gerwani pada masa itu sudah membahas isu nuklir, bukan hanya soal keluarga.

Djoko Susilo (FH UI): Saya bertanya-tanya mengapa fenomena seperti Gowok bisa terjadi. Saya melihat adanya peluang human rights into government dan ruang leverage di Indonesia. Yang terlintas di benak saya adalah Lubang Buaya. Saya bergerak di isu kelompok marginal dan kebebasan berkeyakinan. Ini bisa menjadi momentum karena kita masih hidup di bawah sistem yang mewarisi kolonialisme. Upaya ini penting untuk mendekonstruksi warisan kolonial, termasuk penghapusan jejak perempuan-perempuan berprestasi dari sejarah. Bisa jadi banyak klaim yang diterima hari ini sebenarnya memiliki logical fallacy yang tinggi. Perempuan bukan subjek inferior dan bukan sosok yang boleh diobjektifikasi negara. Meskipun demikian, saya juga tidak ingin mengglorifikasi feminisme secara berlebihan. Melalui Logos, ada kesempatan untuk menghadirkan perlawanan yang lebih elegan, ilmiah, dan konkret. Di Indonesia selalu ada narasi tandingan, dan Logos menjadi salah satunya. Ada kontinuitas yang nantinya dapat diteliti lebih jauh oleh dunia akademik.

Nathan: Ada juga proyek saya bersama kolega yang mencoba membangun model terstruktur untuk memahami sejarah yang tersela, yaitu Deconstruction Indonesia. Saya cukup terkejut melihat banyaknya peserta yang hadir. Yang ingin saya lihat adalah bagaimana ide-ide teman-teman bisa diwujudkan. Sekali lagi, proyek ini bukan hanya tentang dua orang laki-laki. Setelah ini saya juga sedang mengerjakan proyek mengenai berbagai bentuk kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia.


Question: Saya teringat makalah Arief Budiman. Menurut saya, lebih baik persoalan dibahas secara struktural daripada individual. Selama lima puluh tahun terakhir, akademisi kita cenderung diarahkan untuk berpikir individual, bukan struktural. Bagaimana posisi Gerwani dalam konteks itu? Dunia sekarang juga sudah berubah total. Apa yang dilakukan Tiongkok saat ini justru mencerminkan wajah kapitalisme baru.

Andre (Kaca Benggala): Peta transnasional ini terjadi sebelum 1965. Bagaimana kehidupan mereka setelah 1965? Misalnya Siti Rukiah yang tidak lagi menulis. Kehidupan pasca-1965 mengalami perubahan politik dan ideologi yang besar. Eksil Indonesia tersebar di berbagai negara. Ada Ibu Darmini di Belanda yang menerbitkan majalah Setia Kawan. Ada juga Sobron Aidit dengan karyanya Ketemu di Jalan. Ia berpindah-pindah negara mencari suaka, berpindah agama menjadi Kristen, lalu banyak membahas spiritualitas. Di akhir hidupnya, ia bahkan tidak lagi percaya pada revolusi yang memakan begitu banyak korban manusia. Apakah perubahan ideologis pasca-1965 seperti ini juga akan dikaji?

Perwakilan UNS: Saya meneliti majalah Bintang Merah. Apakah ada perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan Gerwani?

Nathan: Pada periode awal, Gerwani lebih berfokus pada feminisme. Setelah semakin dekat dengan Soekarno, mulai muncul pembahasan tentang Leninisme dan sosialisme. Namun fokus utamanya tetap pada hak-hak perempuan. Di dalam Api Kartini sendiri terdapat beragam pandangan dan kecenderungan politik.

Untuk pertanyaan kedua, proyek ini berupaya mencakup sebanyak mungkin aspek sejarah sebelum 1965, terutama bagian-bagian yang belum banyak terungkap, termasuk perubahan-perubahan yang terjadi setelahnya.

Terkait Bintang Merah, Api Kartini lebih berfokus pada isu perempuan dan anak. Saya sendiri belum banyak membaca Bintang Merah. Dari yang saya lihat, Api Kartini tidak sedekat itu dengan PKI.

Michelia: Siti Rukiah pernah berjualan gorengan dan jajanan pasar untuk menghidupi enam anaknya. Saya menulis tentang hal itu dalam antologi Memasak Harapan yang berfokus pada pengalaman perempuan. Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1970-an juga mengangkat isu perbudakan seksual Jepang. Banyak wilayah yang menjadi korban. Apakah Gerwani pernah membicarakan isu perbudakan seksual ini? Selain itu, masih banyak hal yang belum dikaji. Maesy memiliki sejumlah penerbitan awal yang menarik. Apakah ada sejarah setelah 1913 yang juga akan ditelusuri? Pram juga pernah terlibat dalam penerbitan yang berkaitan dengan Yayasan Kebudayaan Sadar.

Nathan: Buku Memasak Harapan sangat bagus karena menunjukkan bahwa yang personal juga bersifat politis. Namun, dalam arsip yang saya temukan, Gerwani hanya sedikit membahas isu Jugun Ianfu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar