Sabtu, 20 Juni 2026

Diskusi Hikayat Mangrove

Catatan berikut merupakan rangkuman diskusi dalam serial Ambang #1: Hikayat Mangrove yang menghadirkan JJ Rizal dan Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS. Diskusi ini membahas keterkaitan sejarah pesisir Jakarta, folklor, identitas maritim Betawi, serta peran ekologis dan kultural mangrove dalam membentuk peradaban pesisir. Notulensi ini disusun berdasarkan catatan pribadi selama acara berlangsung sehingga lebih berfungsi sebagai dokumentasi gagasan dan pokok-pokok pembahasan daripada transkrip verbatim. Diskusi digelar via Zoom, Jumat, 19 Juni 2026 pukul 20.00-22.00 WIB. 

Cecep Kusmana menjelaskan paparannya dalam slide berikut:

Kemudian, pemateri JJ Rizal menceritakan pengalamannya saat menjadi mahasiswa baru. Ketika mulai mengenali sejarah Jakarta, ia datang ke Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Ia terkesan dengan folklor yang berkembang di sana.

Pada abad ke-17, pulau itu menjadi poros utama aktivitas VOC. Ada dua poros: darat dan laut. Semua aktivitas perdagangan tidak mungkin berjalan jika kekuatan lautnya lemah. VOC sangat tertopang oleh Pulau Onrust, yang berarti "pulau yang tak pernah beristirahat". Bukan hanya Batavia yang hidup 24 jam, tetapi juga Onrust. Apa yang disebut Iwang mengenai konsep darat dan laut juga digunakan oleh Belanda.

Ada folklor pulau itu seolah terus memanggil siapa pun untuk datang. Saat mendalami folklor, misalnya tamsil ikan di laut yang mencari pulau, mereka menerima panggilan dari pulau. Terjadi percakapan yang indah. Ada obrolan antar ikan yang secara saintifik dapat dimaknai sebagai pencarian tempat berkembang biak. Ini merupakan cerita sastra lisan versi Betawi tentang perjalanan menyusuri panggilan.

Tempat ini berharga bukan hanya bagi VOC, tetapi juga bagi ikan-ikan. Dua hal ini menarik. Kita mendapat gambaran bahwa hingga abad ke-19, pusat orientasi masyarakat masih ke laut. Meski VOC dan orang-orang Barat mengalihkan orientasi ke pedalaman, orang Betawi yang tinggal di daratan masih mengingat laut.

Kalau membuka sejarah keluarga-keluarga Betawi, seperti keluarga Usman di Pecenongan, terdapat karya sastra yang ditulis Sapirin bin Usman, yaitu Hikayat Nakhoda Afrika. Kisahnya tentang seorang pangeran yang diramalkan akan menjadi nahkoda yang berlayar ke tempat-tempat jauh. Untuk menjadi orang berilmu, seseorang harus berkelana.

Orang Betawi menjadikan laut sebagai pusat orientasi. Dalam cerita itu, sang pangeran memperoleh istri dari Pulau Pasir Berhambur. Ini sangat simbolik: Apakah tempat itu merujuk pada pulau yang terabrasi?

Jika membaca banyak laporan, kategori orang Betawi dibagi ke dalam lima lapis geografi. Yang paling identik dengan karakter maritim adalah orang pulau, orang laut, dan orang pesisir.

Bagaimana orang Betawi tetap terhubung dengan laut? Salah satunya bisa dilihat di Rumah Pitung, Marunda. Itu sebenarnya bukan rumah Pitung, melainkan rumah seorang saudagar kapal kaya yang pernah dirampok Pitung. Orang-orang kaya saat itu banyak tinggal di pesisir.

Ketika Pitung pergi ke Marunda, ia tahu betul bahwa itu bukan tempat yang mudah ditaklukkan. Orang-orang Marunda memiliki gaya silat tersendiri yang terkenal. Misalnya silat Beksi yang berkembang dari komunitas Cina Benteng di kawasan Dadap.

Di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, ada Silat Alif yang terkenal dari Nek Deli. Ada pula aliran lain dari Nek Ain. Mereka tidak sekadar memainkan pukulan, tetapi membangun tradisi silat yang khas.

Hal ini berkaitan dengan kompleksitas urbanisme Jakarta. Berbagai etnis dan bangsa bertemu di pulau-pulau itu. Kawasan pulau bukanlah wilayah sepi, melainkan wilayah yang sangat ramai.

Karena Iwang ingin pergi ke Pulau Damar Kecil, perlu diketahui bahwa nama awalnya adalah Pulau Edam. Ini pulau yang penting. Pulau tersebut terkenal karena pernah menjadi vila milik seorang pejabat VOC yang gemar ilmu pengetahuan, yang mendirikan tempat tinggal di sana. Lanskap bakau di pulau itu dianggap sangat indah.

Ketika pulau tersebut dihuni, tempat itu juga pernah menjadi lokasi pembuangan seorang bangsawan Banten, yaitu Ratu Syarifah. Ia menjadi bagian dari konflik antara Kesultanan Banten dan VOC. Makamnya kemudian menjadi tujuan ziarah. Di pulau-pulau lain juga terdapat pusat-pusat perziarahan.

Kalau kata Pak Cecep, banyak hal sudah hilang. Jika itu terus terjadi, kita akan kehilangan kultur, identitas, dan jejak perjalanan Jakarta. Dalam tamsil laut dan ekologi, laut adalah tempat menemukan kehidupan. Itu bukan hanya cerita orang pribumi, tetapi juga orang Belanda.

Pulau-pulau ini merupakan rahim besar peradaban. Dari sanalah asal-usul Jakarta tumbuh. Karena itu, jangan hanya mengingat ungkapan "jangan lupa daratan". Hari ini mungkin yang lebih tepat adalah "jangan lupa lautan".

Tanya Jawab

Johanes Jamil (Kepulauan Riau)

Saya anak suku laut di Kepulauan Bintan. Sebagai orang laut, kami hidup dikelilingi mangrove yang dijaga dan dirawat secara adat. Mangrove terkoneksi dengan laut.

Ada ritual makan pucuk bakau sebelum masuk kawasan mangrove. Ada hewan-hewan yang menjadi penanda sehat atau tidaknya mangrove, misalnya tempat penitipan telur cumi-cumi dan keberadaan kera.

Saat ini ada proyek strategis nasional (PSN) yang mengganggu kawasan tersebut. Padahal mangrove menjadi rumah bagi banyak spesies saat musim utara. Beberapa ikan menitipkan telur di sana.

Kami juga memiliki kuburan suku laut yang berada di kawasan mangrove. Mangrove tanpa ikan tidak bisa dipisahkan. Saya merupakan generasi kedua yang meneruskan tradisi tersebut.

Cecep Kusmana

Kami di kalangan akademisi sangat senang bertemu rekan-rekan yang bekerja langsung di lapangan.

Saya selama ini mencari bioindikator untuk mengetahui apakah suatu mangrove sehat atau tidak. Secara akademik indikatornya sangat rumit, tetapi ternyata ada indikator sederhana, seperti keberadaan telur-telur yang dititipkan ikan.

Banyak kearifan lokal yang sebenarnya ingin diteliti, tetapi sudah hilang. Padahal untuk restorasi mangrove, dunia akademik harus belajar dari kearifan lokal dan menggabungkannya dengan ilmu pengetahuan.

JJ Rizal

Dalam budaya Betawi ada tiga ritus penting: khitanan, pernikahan, dan kematian.

Saat menikah ada tradisi membawa bandeng dan mata bandeng (cincin bermata permata). Orang Betawi juga memiliki banyak tradisi lebaran. Jika saat Ceng Beng atau perayaan tertentu tidak membawa bandeng, dianggap kurang sopan.

Tradisi ini berasal dari bandeng yang hidup di lingkungan pesisir dan bergantung pada ekosistem bakau. Sama seperti cerita Pak Jamil, mangrove yang baik akan menghasilkan bandeng yang baik. Bandeng tumbuh di kawasan bakau dan memanfaatkan nutrisi dari ekosistem laut.

Dunia mangrove bukan sekadar pelengkap ritus, melainkan sesuatu yang memanggil kita untuk mengingat masa lalu.

Elen

Ada 29 pulau yang berpotensi tenggelam. Mengapa situasinya sedemikian genting? Terlihat ada keterputusan antara warga pesisir dan warga daratan. Seolah-olah persoalan ini hanya menjadi tanggung jawab orang pesisir. Bagaimana menyikapinya?

Iwang

Kita perlu lebih rajin melihat laut. Seolah laut ingin berbicara kepada kita, tetapi kita tidak tahu bagaimana cara mendengarkannya.

Kalau saya pribadi, saya ingin menjadi bajak laut.

Alia

Saya ingin menyambung soal Pulau Obi, tempat eksekusi Kartosuwiryo. Mengapa pada masa itu pulau-pulau dipilih sebagai tempat pengasingan?

Di Yogyakarta ada mitos Nyi Roro Kidul. Jika laut dirusak, akan datang tulah. Mitos itu memiliki fungsi sosial. Apakah di kawasan Jakarta juga ada mitos yang menjadi bagian dari ritual dan spiritualitas warga?

JJ Rizal

Hal itu berkaitan dengan politik kolonial Belanda. Gubernur Jenderal memiliki kewenangan menangkap dan memindahkan orang.

Misalnya ada bangsawan Banten yang dibuang ke Pulau Edam. Selain itu ada Pulau Bidadari yang pernah digunakan sebagai tempat isolasi penderita kusta.

Dalam banyak catatan kolonial, kawasan laut Batavia sering digambarkan sebagai wilayah yang tidak sehat. Ada buku Old Batavia yang menjelaskan bagaimana kota lama salah urus dan penuh persoalan. Karena itu pusat kota dipindahkan ke kawasan yang kemudian disebut Nieuw Batavia.

Proses ini berlangsung pada masa Herman Willem Daendels. Orientasi kota bergeser dari laut ke daratan. Bahkan banyak kelenteng yang tidak lagi menghadap laut.

Kawasan laut, pulau, dan Teluk Jakarta berulang kali digambarkan sebagai ruang yang buruk. Dalam kisah Nyai Dasima misalnya, yang baik selalu diasosiasikan dengan dunia orang kulit putih.

Jika berbicara tentang mitos, ada yang bersifat supranatural, seperti Si Manis Jembatan Ancol. Ada pula tokoh-tokoh seperti Arya dari Marunda yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat pesisir. Ada juga hikayat tentang jin yang muncul dari kawasan laut.

Cecep Kusmana

Saya sebenarnya sangat menyukai kebudayaan dan sering membaca sejarah Jawa Barat.

Belanda dahulu, ketika ingin melakukan restorasi hutan, akan mengirim antropolog terlebih dahulu sebelum ahli-ahli eksakta. Sekarang sering kali yang langsung diterjunkan justru ahli teknis.

Misalnya dalam tradisi Sunda, jika seseorang menebang pohon kaboa sembarangan, ia dipercaya akan didatangi harimau Prabu Siliwangi. Secara ilmiah, kaboa berfungsi menahan abrasi sehingga tetap lestari karena adanya kepercayaan tersebut.

Orang Sunda juga memiliki pantangan menanam beringin di depan rumah karena dianggap tempat genderuwo atau kuntilanak. Namun orang Belanda melihat bahwa di sekitar beringin biasanya terdapat sumber air, dan akar beringin yang besar dapat merusak bangunan.

Terlepas dari benar atau tidaknya secara intelektual, kepercayaan semacam itu terbukti efektif menjaga lingkungan.

Pulau Obi seharusnya menjadi ruang telling story yang menghubungkan sejarah dengan generasi sekarang. Pemerintah dapat merekonstruksi ingatan tentang pulau-pulau yang hilang. Karena itu peran antropolog sangat penting. Termasuk gagasan untuk rekonstruksi pulau. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar