Selasa, 03 Maret 2026

Catatan Buku "Anatomi April" karya Bagus Dwi Danto

Halo Mas Danto, kayaknya sudah lama tidak ngobrol lagi. Terkait apa saja, terlebih terkait musik, musisi yang disingkirkan sistem, musisi pinggiran, buku-buku perlawanan yang menarik untuk ditarik metode survivalnya bagi orang-orang yang hidupnya sering ada di tepi jurang. Obrolan dengan Mas Danto selalu dalam dan sering membuatku berpikir sampai berhari-hari kemudian. Mas Danto sudah seperti saudara tua jauh yang memberiku sudut pandang lain untuk melihat bukan dari pusat sebagaimana orang sering tuju, tapi dari pinggirannya, yang sakit, luka, bopeng, dan ditelantarkan. Mas Danto, kita masih ada imajinasi untuk menulis musisi yang melalui laku hidup seperti Kang Mukti Mukti. Aku akan mengusahakannya lebih serius lagi.

Oh ya, Mas Danto, hari ini ibuku ulang tahun. Ibuku lahir di Blora, 3 Maret 1965. Berarti usianya sekarang 61 tahun. Keren sekali sih ibu, meski sudah empat tahun lebih ini sakit stroke sebelah dan cuma bisa tidur di amben, dia tetap ada semangat untuk hidup. Aku kadang ingin menangis sendiri membayangkan begitu kuatnya dia, sampai-sampai kalau pun aku jadi dia, aku ragu bakal bisa jadi orang yang sekuat dia. Aku menulis ini karena aku tahu, Mas Danto juga sangat sayang pada ibu. Bahkan, buku kumpulan puisi ini Mas Danto persembahkan untuk ibu. Katamu: "Kagem Ibu." Bahasa Jawa Kromo yang berarti, "Untuk Ibu." Mungkin aku tak begitu dekat dengan ibu, tapi beliau sampai kapan pun adalah panutan soal kesabaran bagiku. Lewat tulisan sederhana ini, aku ingin mengucapkan, "Selamat ulang tahun, Ibu. Semoga Ibu sembuh dan bisa sehat lagi, bisa main sama cucu lagi, dan jalan-jalan keliling rumah. Aamiin."

Buku yang ada di tanganku sekarang, yang sampul oranye-nya tertulis judul "Anatomi April", sudah kubaca untuk ketiga kalinya. Pertama, aku membacanya saat main ke Gramedia di Grand Indonesia (GI) Jakarta. Saat aku maraton membaca buku yang sampul plastiknya terbuka. Ah, aku jadi ragu, apakah di GI atau Pacific Place, karena agak-agak mirip vibes-nya. Sebenarnya agak curang karena membaca sampai habis, tapi tidak membeli. Membaca di Gramedia bukan cuma satu, bahkan sampai lima buku, haha. Ya, rata-rata hanya buku yang bisa dibaca sekali duduk. Sebab di tempat lain, kegiatan ini dilarang. Jangankan baca buku sampai habis, buka sampul plastiknya aja gak boleh. Tapi bagi sebagian orang yang gak mampu beli buku, aku akan rela untuk melegalkannya. Aku teringat kata Bernard Shaw, tentu saja, "Dibutuhkan modal tertentu untuk menjalani moral tertentu."

Dan, oh, ternyata pas aku lihat di Goodreads, tanggal 17 April 2022, aku pernah memberikan ulasan begini:

Pada pembacaan kedua, mungkin sekitar beberapa bulan lalu, aku memutuskan membeli buku Mas Danto melalui keranjang oranye. Mas, jujur, baca buku ini tuh seperti mendengarkan lagu-lagu yang ada di album "Woh". Beberapa diksi, frasa, dan struktur metaforanya begitu karib sampai bisa aku nadakan. Kalau mau jujur lagi, banyak puisi yang tidak aku mengerti, dan perlu pembacaan berkali-kali dan sangat slow reading untuk menangkap makna di baliknya. Meskipun buku ini bisa dibaca cepat, pemaknaannya bisa digali bahkan sepuluh tahun kemudian. 

Lalu, pada pembacaan ketiga, ketika aku hendak menulis untuk catatan buku ini.

Ada istilah lain dalam penulisan itu yang disebut "slow-burn", dan buku ini tipe yang begitu. Artinya bukan tipe tulisan yang meledak-ledak terus padam kayak kembang api, tapi pelan, lambat, dan bertahap untuk memahaminya. Mirip kayak bara api, dia gak cepat padam, dan tahan lama. Namun, ada satu tantangan lagi ketika membaca buku Mas Danto ini, bagi orang dengan modal metafora khas puisi yang masih terbatas, pembaca bisa jadi akan tersesat dan tidak paham. Pendeknya, ini sebenarnya mau bicara apa sih? 

Buku ini juga memilih untuk tidak memakai nomor halaman sebagaimana buku-buku lain. Barangkali agar pembaca tidak terbelenggu dengan angka-angka, atau semacam perhitungan kuantitatif: aku sudah di halaman mana? Sudut lainnya, barangkali ini memang strategi agar puisi ini bisa dibaca dari lembar yang mana saja. Secara pilihan huruf juga ditulis dengan kecil semua tanpa kapital. Seolah huruf kecil ingin mengejek si huruf besar, bahwa tanpa huruf besar pun, huruf kecil bisa berdiri.

Secara personal, aku sangat suka dengan judul-judul puisi di buku ini yang menurutku sangat imajinatif, seperti "springbed kebudayaan", "layout libido", dan "republik luka". Kalau kuhitung satu-satu, ada 70 puisi. Hampir di setiap puisi ada ilustrasi khusus yang dibuat oleh perupa bernama Dodi Irwandi. Aku tak akan membahas banyak soal ilustrasinya, tapi lebih pada puisinya. Secara gambar, sebagian besar sudah mewakili. Pesan gambarnya membuat pembaca seperti diajak senam antara makna yang denotatif dan konotatif. 

Aku juga baru ngeh, buku ini kokinya Om Dodo. Aku teringat dengan sosoknya yang ceplas-ceplos dan apa adanya saat dia sering main ke Penerbit Pocer Jogja mirip Mas Eka Wijaya dulu. Di mana saat dulu aku menjadi pekerja di Pocer. Editornya juga Mas Reza Nufa. Penulis buku "Pulang ke Rinjani" yang pernah Mas Danto ceritakan berkelana dari kosnya di wilayah Ciputat ke Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB). Aku juga pernah bertemu dengannya di Kafe Basabasi saat mengantar teman membahas soal perbukuan.

Aku penasaran mengapa judulnya "Anatomi April?" April dalam kepalaku bisa berkorelasi dengan banyak hal: Hari Kartini, bulannya para perempuan selain bukan Desember, April mop, bulan kelahiran adikku dan crush ku dulu (yang aku sadar, aku tidak cocok dengannya karena kami beda dunia, beda energi, semacam air dan minyak). Lalu, anatomi mengingatkanku dengan pelajaran Biologi pas SMA. 

Aku punya beberapa guru Biologi yang menurutku ikonik, salah satunya, sebut saja Bu Ning, rambutnya pendek dan tebal di atas bahu. Wajahnya tegas tapi tetap approachable. Kalau pelajaran dia selalu di Laboratorium Biologi, dan aku masih ingat saat dia menerangkan terkait bab anatomi tumbuhan, hewan, dan manusia. Dia jelaskan secara detail lewat PPT yang dia buat. Tahun 2009 dulu, masih sedikit guru yang menggunakan PPT. Bagiku dia selangkah lebih maju. Aku juga tak lama ini mendapat kabar, jika beliau meninggal. Semoga husnul khotimah.

Kalau refleksi sama ilmu IPA, barangkali aku membayangkan Anatomi April itu secara metaforis merujuk pada segala pengalaman yang terjadi pada Mas Danto saat bulan April. Itu anabel-ku aja sih, alias analisis gembel, wkwk. Yang jelas, antara narasi personal dan kritik sosial coba diulen jadi satu, kemudian dimarinasi jadi puisi-puisi yang menyesakkan hati. Nyaris, tak kutemukan fitur bahagia dalam cerita-cerita yang dibawa oleh puisi-puisi itu. Kecuali mungkin puisi berjudul "Cinta", yang bunyinya: "meski bersampul warna-warni / cinta tetap prolog tanpa koma". Ini pun masih misterius ronanya. Penggembolan kebahagiaan seperti jadi lagu sumbang.

Secara isi, aku menangkap ada beberapa diksi-diksi yang jadi kata kunci: kawan, lawan, keluarga, hidup, mati, sepi, mimpi, ajal, nihil, api matahari, buta, kebudayaan, kiri, restorasi, pucat, lelah, bungkuk, jerit, cakar, lubang, darah, pecah, rebah, spasi, hantu, deru, rahasia, tanya, tanda, toilet, pahit, mahal, air mata, kuasa, tai, nanah, sekam, desis, jerit, berak, kepyur-kepyur, bangkai, hitam, kere, polisi, mitos, penjara, mentok, kering, nisan ... suaka marga sastra ...

Aku menyukai metafora-metafora semacam:

"berat amat mereka mimpi / mungkinkah seperti kita / dan kita adalah tralala"

"sebelum jalan terjamah hasrat / jalan kecil di ujung mulai rintik / termakan tarot" 

"pelan-pelan / manusia membebani / pundaknya sendiri"

"siang ini kupetik setangkai setan di / sebatang hape. hati yang imitasi"

"begitu kerap kemunculan / begitu palsu"

"warung bakmi menyikat rugi dengan / hati-hati. panah putih retak. ada yang / tak sudi pada senja. menanggung / matahari mengunyah aspal. gontai. / kupinjam toilet dari mulutmu"

"kulirik aku. siangku lapar, kumakan / saja teman-teman"

"semakin beragenda / semakin putus asa"

"ketela / tumbuh subur kendati pisah kasur"

"gerobak bakso merampok matahari / dalam mangkuk meremas nalar" 

"ada subuh di apotik berdinding kaca" 

Namun, yang menurutku sangat menarik dari buku ini, sebagaimana yang sudah kutulis di Goodreads, "Mas Danto membawa cara tutur baru, diksi-diksinya unik, tidak linier, dan di berbagai puisi, saya butuh banyak waktu untuk mengartikan beberapa lariknya saja." Jika Chairil Anwar punya model berpuisinya sendiri yang membawa pembaruan, bagiku Mas Danto dalam buku "Anatomi April" ini juga punya literer otentiknya sendiri. 

Terakhir, terima kasih Mas Danto sudah menulis "Anatomi April". 

Judul: Anatomi April | Penulis: Bagus Dwi Danto | Ilustrasi: Dodi Irwandi | Koki Buku: Dodo Hartoko | Penyunting: Reza Nufa | Penerbit: Shira Media | Cetakan: Pertama, 2021 | Dimensi: 14,8 x 21 cm | Jumlah halaman: 124 

Senin, 02 Maret 2026

Catatan Buku "The Lost Library" (Misteri Perpustakaan yang Hilang) karya Rebecca Stead dan Wendy Mass

Perpustakaan gratis Martinville. Perpustakaan di antara balai kota dan rumah sejarah. Ada kubah dengan pintu warna biru yang megah. Aku membaca buku ini dengan hitungan cukup cepat, tidak lebih dari tiga hari kupikir dengan berbagai aktivitas kerja, ishoma, dlsb. Bahasanya cukup mudah dipahami, meskipun sense-nya tetap mirip novel terjemahan yang kerasanya seperti ada jarak yang gak kelihatan ketika itu pindah ke bahasa Indonesia. 

Membaca ini cukup menyenangkan, karena aku membayangkan diriku jadi salah satu karakter di dalamnya agar lebih ada sense terlibat, wkwk. Ya, aku merasa memang di usiaku yang sekarang, kita jadi lebih wise memerankan karakter yang mana. Bayangannya cukup jelas terkait tokoh-tokoh di buku ini. Ada semacam metode menggantung tiap bab, untuk menarik pembaca ke bab selanjutnya. Karena ditulis oleh Rebecca Stead dan Wendy Mass, dua orang yang bergantian, tiap babnya dinarasikan oleh masing-masing POV yang berbeda. Kalau manusia dewasa, dia dari sudut pandang kesatu. Selebihnya, lebih ke POV orang ketiga.

Premis buku ini sebenarnya sederhana: Ada anak kelas V SD yang penasaran dengan misteri perpustakaan gratis bernama Martinville yang pernah terbakar 20 tahun lalu dan menimbulkan korban. Perpustakaan ini dijaga oleh kucing comel bernama Mortimer, semacam kucing oranye gitu kalau di kita. Si kucing punya adik bernama Petunia yang jadi korban kebakaran. Perpustakaan ini juga dirawat oleh Al, singkatan dari Assistant Library. Dia jago memasak, dan sering membuatkan masakan untuk pimpinan perpustakaan bernama Ms. Scoggin, yang punya kekasih bernama Mr. Brock. Saat kebakaran tiba, Ms. Scoggin dan Mr. Brock menjadi korban kebakaran. 

Karakter Al unik. Dia gak punya orang tua, namun diketahui passion terbesar dia ada di perpustakaan. Dia pikir dia udah mati karena selalu mengeluhkan dirinya gak bisa terbang atau menghilang layaknya hantu. Al gak bisa seperti Ms. Scoggin dan Mr. Brock, sampai akhirnya di akhir-akhir buku dia menyadari kalau dirinya terjebak terlalu lama di Martiville, sampai 20 tahun pascakebakaran.

Tak dinyana, korban itu melibatkan ayah Evan si Mr. McClelland, yang punya pseudoname HG Higgins. Si ayah ini cukup unik pekerjaannya, jadi dia memilih jadi penulis yang "gak pengen terkenal", karena menjadi terkenal itu merepotkan. Dia juga gak mau ada wawancara, ceramah buku, penandatanganan massal, dlsb. Cukup hening dengan menjadi penulis "underground". Cara ini juga cukup ampuh agar tetap fokus. Kerjanya di ruang bawah tanah. Si ayah juga punya kebiasaan aneh suka nggusak tikus yang dianggap mengganggu ke tempat yang lebih layak. Dia pecinta tikus, itu kenapa dia tak ingin menyakiti tikus dan tak ingin melihat tikus mati dibunuh.

Pas kebakaran itu, ayah Evan jadi anak magang yang kesepian dan gak punya teman. Kebetulan dia juga ada di ruang bawah tanah untuk nata buku-buku yang habis dibaca. Ayah Evan ingin ngasi tahu ke Evan terkait dirinya yang masih merasakan trauma saat Al menolongnya keluar dari asap, kemudian media juga seolah menyalahkannya. Tapi karena ayah Evan di bawah umur, dia gak kena hubungan. Ayah Evan selalu menghindar ketika ditanya soal kebakaran. Namun, Evan dengan bukti-bukti buku terkait cara menulis novel misterius, hingga buku personal yang sampulnya sobek-sobek karena dibaca berulang kali dengan foto Polaroid di dalamnya, membuat Evan menjadi sosok Sherlock Holmes baru. 

Evan menguak misteri itu dengan kawannya bernama Rafe. Karakter Rafe ini sebenarnya pemberani dan rebel, karena ortunya sangat protektif, gak boleh ini itu. Bahkan untuk menyeberang pun, perlu temannya. Dia dan ortunya bikin kesepakatan: setelah di SMP, seluruh aturan yang mengekang akan dibebaskan. Sehingga si Rafe sangat menanti masa-masa "pembebasan" itu. Dan saat itu tiba, Evan mengajak Rafe untuk menguak misteri kebakaran Martiville dengan menaiki sebuah rumah pohon tempat foto Polaroid diambil. Foto ini dia temukan di dalam buku yang ada di Martinville. Setelah penuh perjuangan naik rumah pohon yang dianggap angker itu, ketahuan kalau foto itu adalah foto gurunya, Mr. O'Neal, wkwk, yang tak lain adalah teman ayah Evan di masa lalu. 

Kadang Evan merasa ayahnya, meskipun lahir di area Ville, susah buat sosialisasi dengan lingkungannya sendiri. Sementara ayah Rafe yang pendatang, sudah tinggal 10 tahun, malah dikenal oleh siapa saja. Ini cukup kena di aku sih, haha. Terus juga, si Rafe ini bilang dan yakin, keyakinannya ini ditunjukkan dengan bahasa yang bagiku cukup memukau, semisal, bahkan untuk sampai seratus kematian sekalipun rasa-rasanya ayah Evan gak mungkin jadi pelaku yang membakar perpustakaan. 

Penyebab kebakaran pun aneh. Polisi juga tidak begitu menemukan kepastiannya. Sampai akhirnya, berkat kucing dan para tikus keluarga F yang beratraksi, mereka seolah mau bilang, kalau sebenarnya akibat kebakaran itu karena para tikus yang gak sengaja semacam bawa batang korek api, terus ketika gerak, itu bagian mesiunya tergores ke benda-benda di sekitarnya, dan apesnya dekat dengan buku, sehingga, terbakar deh.  

Kelemahannya, aku ngrasa ketidaksadaran Al itu terlalu dibuat-buat, kek hello? Emang bisa orang halusinasi selama itu? Tinggal sendiri dengan dua hantu yang akhirnya lepas karena mau nonton bioskop? Kan aneh. Terus kadang juga tempo-temponya cukup lambat, dan ada bagian-bagian bab tertentu yang kalau itu dihapus pun gak masalah sih. Misal yang soal kakak kelas Evan yang kakinya jadi agak pincang setelah naik dari rumah pohon. Karena pas baca, karakter ini kek muncul tiba-tiba.

Terakhir, kalau butuh bacaan ringan dan mayan imajinatif. Kamu bisa baca buku ini. Karakter-karakternya juga cukup warm. Banyak kutipan yang menarik juga.  

KUTIPAN:

Awan sirus selalu berada di atas, tidak pernah di bawah. Bagiku, awan itu terlihat seperti bulu, rasanya seperti cokelat panas, dan baunya seperti semprotan serangga. Awan sirus bisa bergerak dengan cepat. (24) 

Mortimer, Evan, Goldie/Sunshine, Al (Assistant Library), Mr O'Neal, Rafe, Edward McClelland, HG Higgins, Ms Scoggin, Mr Brock....

Suara ketukan kibor melayang naik dari tangga. 

Asisten perpustakaan di Perpustakaan Martinville, 

Mr Block paling suka menemukan keberanian dalam buku. (49) 

Ia sudah berkeringat dan telah menghemat waktu tujuh menit. (59) 

Menjadi Pembaca Hebat tidak ada hubungannya dengan membaca buku-buku rumit, atau membaca buku-buku tebal, atau bahkan membaca banyak buku. Menjadi Pembaca Hebat berarti merasakan sesuatu tentang buku. (69) 

Aku tidak kecewa ketika orang lain tidak menyukai buku-buku yang kusukai. (71) 

Pagi ini aku bangun dan bertekad menjadikan hari ini hari yang baik. (90) 

Namun, bukankah "orang tua" adalah sumber kehidupan? Jika hidup adalah garis, yang mengarah ke suatu tempat, bukanlah orangtua adalah titik awalnya? (92) 

Buku tidak akan habis. Buku mendapatkan tenaga dari pembancanya, bukan? Mereka bisa dibaca lagi dan lagi. (94) 

Bagiku, perpustakaan itu selalu terlihat seperti raksasa kotor yang tangannya diikat ke belakang. (95) 

Perluasan besar kedua dari perpustakaan kecil gratis Martinville berbentuk gerobak merah tua yang ditarik dua siswa kelas tiga: Jessica dan Winnie D. (96) 

Menurutmu, apakah ada yang namanya dokter hantu? Bagaimana pula aku bisa memanggilnya? (98) 

Mortimer menyukai Winnie D. Tidak masalah jika anak itu lebih menyukai anjing dan kuda daripada kucing. Mortimer menyukai perpustakaannya. Ia merawatnya dengan baik. (100) 

Setiap kali membaca buku baru, dia membangun ruangan baru di dalam pikirannya. "Saat ini aku memiliki banyak sekali ruangan di sini," katanya, sambil mengetuk-ngetuk bagian di atas telinga kiri, "tetapi selalu ada tempat untuk satu buku lagi." Setelah itu, setiap kali menatap mata cokelatnya yang bersinar, aku membayangkan rumah yang sangat besar dan indah di balik mata tersebut... Aku membangun ruangan demi ruangan dalam pikiranku... Rumah yang kubangun sendiri dengan membaca banyak buku, dengan bantuan Ms. Scoggin, dan bantuan baterai-baterai senter, yang ternyata, seperti yang sudah dijelaskan manajer panti asuhan, harganya cukup mahal. (102) 

Bayangkan ada pembaca yang sedang mencari buku dan hanya menemukan ruang kosong di antara buku lain, seperti gigi ompong akibat dipukul perundung. (125) 

Mereka terus membayangkan setiap hal buruk yang mungkin terjadi. Aturan membuat mereka merasa jauh lebih baik. (135) 

Rafe tidak butuh orang lain mengetahui hal itu. (136) 

Judul: The Lost Library (Misteri Perpustakaan yang Hilang) | Penulis: Rebecca Stead dan Wendy Mass | Editor: Vania Adinda | Penerjemah: Reita Ariyanti | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta |  Cetakan: Kedelapan, Oktober 2025 | Jumlah halaman dan dimensi: 240 hlm, 20 cm

Minggu, 01 Maret 2026

Catatan Buku "Time is More Valuable Than Money: Dampak Transportasi pada Hidup Kita" karya Yoris Sebastian

Aku membaca buku ini ketika waktu sahur. Sebenarnya aku tak begitu bisa tidur nyenyak. Barangkali, aku perlu memprioritaskan tidur nyenyak 8 jam setiap hari sebagaimana yang Yoris praktikkan dalam hidupnya. Buku ini kubaca relatif cepat, kurang lebih dua jam sudah selesai. Mungkin karena bahasanya yang enak diikuti, meskipun informatif, di aku sangat masuk. Apalagi dia ngutip ide wartawan Amerika, Christopher Morley, yang menarik juga, "When You sell a man a book, you don't sell him just twelve ounces of paper and ink and glue -- you sell him a whole new life." Kurasa ini yang diberikan sama buku-buku yang kubaca.

Berkat buku ini, aku jadi paham terkait sejarah transportasi di Indonesia. Dari pas masa Orde Lama, Orde Baru, reformasi, sampai lanjutannya sekarang ini. Premis buku ini sebenarnya sederhana juga, penulis mau menunjukkan kalau waktu itu lebih berharga daripada uang berdasarkan kacamata mode transportasi yang kita gunakan sehari-hari. Hidup di tempat kerja yang jauh dari tempat tinggal itu suatu PR besar, karena gak hanya menyangkut kesehatanmu, tapi juga waktumu. Waktu yang gak bisa diganti, diperbanyak, dan dikembangbiakkan kayak komoditas kapitalisme yang lainnya.

Penulis mencontohkan ada kawannya seorang konsultan yang hidup di kota satelit, sementara kantornya katakanlah di distrik bisnis Jakarta. Pergi-pulang sudah berapa jam, tapi pas mutusin pindah, kualitas hidup jadi berubah. Dia bisa jadi punya banyak waktu sama keluarga. Lalu, karena dekat, juga enak. Praktik-praktik serupa banyak contohnya. Yoris juga ngasi semacam log book yang bisa diisi oleh pembaca terkait alokasi waktu yang bisa digunakan dalam 24 jam.

Namun, ada semacam titik buta juga menurutku, ya, itu masuk akal, tapi masalahnya kupikir lebih kompleks daripada sekedar transportasinya. Tapi juga gimana struktur kapital, modal, kelas sosial, dan finansial bekerja. Untuk buruh yang di bawah UMR itu gak ada pilihan lain. Mungkin Yoris atau kawannya bisa bacot gitu karena secara finansial udah settle, sehingga mereka punya banyak pilihan. Bagaimana dengan kelas sosial lain, kaum pinggiran yang tak punya banyak pilihan? 

Sudahlah, itu bahasan lain, aku tertarik dengan sejarah transportasi yang kita temui sehari-hari. Sebab aku menerimanya secara take it for granted saja, tanpa mempertanyakannya lebih jauh. Yoris ngutip pendapat Buya Hamka, intinya, kalau dulu kita ibadah ke Makkah bisa sampai dua bulan, sekarang berkat teknologi bisa ditempuh selama 9 jam saja. Ini berkat bantuan yang namanya "transportasi". Jadi, transportasi itu bagian dari revolusi sebenarnya. 

Aku jadi punya asumsi, revolusi itu emang cara manusia memanfaatkan waktu. Semakin dia cepat, efektif, dan efisien; maka manusia lebih punya banyak waktu untuk menikmati hidupnya--atau justru lebih sengsara dan teraleniasi? Bukan soal transportasi aja, misalnya juga soal AI. Alat itu benar-benar menggunting waktu boros yang kita gunakan untuk kegiatan yang lebih produktif. Sebagaimana yang kayaknya udah jadi common sense, masyarakat Indonesia itu boros waktu, jamnya pun jam karet.

Yoris di buku ini juga ngulas soal problem kemacetan di Jakarta yang menyebabkan stres. Kemudian didukung sama inovasi transportasi. Di zaman dulu, kita semisal mengenal delman, yang itu ternyata berasal dari bahasa Belanda, dan ditemukan oleh Charles Theodore Deeleman. Dulu kendaraan ini cukup elite, tapi sekarang lebih difungsikan untuk kegiatan yang sifatnya rekreatif. Lanjut dengan sepeda, dari yang rodanya satu, atau model sepeda Baron Karls Davis, sampai sepeda yang kita jumpai sekarang.

Dari sepeda, terus beranjak ke motor. Sebuah inovasi yang salah satunya digerakkan oleh Edward Butler di tahun 1885. Sementara, di Indonesia sendiri, motor pertama itu ada pada tahun 1898. Kalau kamu bayangin itu agak mirip-mirip sama property film jadul di masa dulu. Terus lanjut ke becak yang ditemukan pada tahun 1869 di Jepang. Yoris juga lihat rickshaw pertama kali pas baca Tintin. Nah, problem bencak itu bagiku cukup kompleks, karena dianggap sebagai pekerjaan yang tidak manusiawi. Soekarno juga pernah menghina ini di tulisan scholar Jepang. Di Jakarta, ternyata ada alat transportasi yang bagiku udah punah, macam helicak (helipad + becak).

Di buku lain, aku malah membaca kalau rickshaw itu digeret pakai tangan! Ini terjadi di Kolkata, India. Menariknya, malah pelakunya sendiri merasa pekerjaan ini lebih bermartabat. Gajinya lebih tinggi daripada dia ikut orang disuruh-suruh, sementara di rickshaw, cukup selow sambil tidur-tidur juga gak masalah. Bahkan mereka menyalahkan pemerintah yang gak menyediakan transportasi yang proper buat masyarakat yang dianggap pekerjaannya "tak manusiawi" itu.

Berlanjut, mode transportasi lainnya ada becak motor (bemo) dan oplet. Baca ini, yang kebayang itu filmnya si Doel. Terus juga transportasi modern di era sekarang, Yoris lebih banyak membahas lebih cepat lagi, seperti trem dan kereta api. Tapi gak terlalu bahas teknologi, misal pintu ke mana sajanya Doraemon. Atau baling-baling bambu untuk terbang.

Sementara untuk tranportasi modern di era sekarang, Yoris lebih banyak bahas sistem. Misal untuk mengatasi kemacetan, dia bahas ada perkumpulan nebeng gitu. Juga, lebih ke transportasi umum yang bisa digunakan secara inklusif semacam Transjakarta (TJ). Atau yang lain ada shuttle, Yoris juga membagikan mode di negara lain seperti lyft rideshare service, bicycle sharing system yang biasa kutemukan di UI, city water transportation, jadi macam taksi air gitu, sampai intelligent transportation system (ITS). 

Di bab lainnya, Yoris bahas terkait kemungkinan transportasi di masa depan. Jadi sistemnya lebih terintegrasi gitu, kayak yang dia temukan di Bandara Kualanamu Medan. Aku sempat mau ketinggalan pesawat pas ke sini, wkwk. Dia nawarin semacam very fast transportation macam kereta cepat yang sudah bisa kita nikmati di Kereta Cepat Bandung. Termasuk juga usulan seputar panoramic transportation, atau kereta wisata yang sangat mahal itu. Dan ternyata, Indonesia punya: Kereta Wisata Nusantara, Kereta Wisata Bali, dan Kereta Wisata Toraja. Dari buku ini, aku bermimpi suatu hari bisa menjajal naik Glacier Express dan The Pride of Africa, yang bisa jalan-jalan lihat panorama negeri dongeng di Eropa dan Afrika.

Di akhir bab buku, Yoris nekanin kalau harusnya dengan mencermati transportasi yang kita gunakan, kita bisa menghemat waktu kita untuk hal-hal yang lebih  bermakna dalam hidup kita. Mengutip kata Yoris, "Ukuran penting bagi orang yang satu dengan orang yang lain pasti berbeda. Namun saya coba paparkan beberapa hal yang penting untuk saya pribadi. Dengan mempunyai banyak waktu, sya punya 'extra time' to be HEALTHY, to be HAPPY, and to be WEALTHY. Ya, tiga hal ini penting buat saya. Itulah yang menjadi alasan kenapa saya harus menghindari pemborosan waktu."

Yang intinya: extra time to be healthy, extra time to be happy, and extra time to be wealthy

Mari kita lebih memberi perhatian pada transportasi yang kita gunakan.

Judul: "Time is More Valuable Than Money: Dampak Transportasi pada Hidup Kita" | Penulis: Yoris Sebastian | Editor: Mirna Yulistianti | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta | Cetakan: Pertama, November, 2013 | Jumlah halaman: vii + 148