Jumat, 20 Februari 2026

Catatan Buku "Tiga Dalam Kayu" karya Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie


Emosiku setelah membaca buku ini, jujur: aku ingin membuangnya dan tak ingin kubaca lagi. Alasannya, meskipun buku ini bagus secara isu, tema, dan pesan; tapi disampaikan dengan cara yang membuat bingung pembaca. Dari komentar yang kudapat di Goodreads juga, banyak yang merasa bodoh dan otaknya tak sampai ketika membaca buku ini. Pembaca mengalami fenomena reading slump, di mana kamu kehilangan minat untuk membacanya sampai akhir. Berisiko DNF, meskipun lagi-lagi, aku lulus, aku membacanya sampai akhir. 

Sebetulnya aku tak masalah dengan narasi gore-nya, hanya aku bermalasah dengan logika nulis yang membingungkan dan rentan membuat orang tersesat. Sepertinya ini salah satu buku Ziggy yang salah kuambil. Dua buku Ziggy sebelumnya yang kubaca, tentang kisah Emina dan negeri di bawah laut, kupikir itu enak-enak saja, tapi di buku ini tidak. Ya, mungkin aku membaca buku Ziggy dengan urutan yang salah. 

Buku ini terdiri dari 11 bab, di mana setiap babnya diberi judul Buku 1, 2, 3, dst, kemudian disusul 7 bab lain semacam enigma dari bahasa Rusia, alih-alih itu gaya-gayaan penulis edgy yang ingin tampil "berbeda". Salah seorang pengguna Goodreads juga sudah dengan baik menuliskan arti "Myla", "Pid Oblachkom", hingga "Patshok Spivat" itu, yang dari bunyinya saja sudah mirip dengan mantra sihirnya Harry Potter.

Namun, yang paling menggugahku dari buku ini adalah (setelah aku menghujatnya di paragraf awal), aku tersadar jika pengalaman perempuan memang sesedih, setragis, semenyakitkan, sesakit, dan serapuh itu. Orang selalu ingin membuangnya, menyampahkannya, karena sulit dipahami, dan dengan dalih demi kebaikan. Ziggy barangkali menangkap semangat yang sangat mentah (raw) ini terkait berbagai ketidakadilan yang dialami oleh perempuan, dengan tokoh-tokohnya yang kebanyakan dari sudut pandang penceritaan kriminal.

Hanya beberapa cerita saja yang menurutku berkesan dari 18 bab kumpulan cerpen, ya, aku lebih suka menyebutnya kumpulan cerpen daripada novel itu:

Pertama, Buku 1, tentang Petrus di masa Orba dulu. Bagaimana orang-orang ditembaki kemudian mayatnya dikarungi goni, dibuang ke tempat-tempat umum seperti pasar hingga di depan rumah. Yang menarik, yang bercerita adalah anak-anak. Bahkan, di sini Ziggy dengan berani memakai tokoh anak-anak sebagai pelaku pembunuhan teman-temannya sendiri. Di sini, aku melihat keberanian Ziggy untuk keluar dari pakem umum bahwa anak-anak itu polos, ternyata tidak.

Kedua, Buku 6, terkait keluarga yang nonton bioskop, tapi anak terakhir perempuannya tidak suka. Si ibu juga tak suka nonton bioskop, tapi karena ia istri yang baik, dia menemani suaminya yang suka nonton bioskop. Si ibu bercerita pada anak perempuannya, jika di situ ada perempuan gila yang dihamili oleh pria-pria belang yang sering nongkrong di bioskop, saat perempuan gila ini mengambil bunga soka. Aku tak tahu, sepertinya Ziggy suka bunga soka, karena nama bunga ini disebut berkali-kali.

Ketiga, Buku 4, cerita Nyonya Van Wijk dan suaminya yang sama-sama mati karena racun si Nyonya. Bagaimana dia menyukai kue pancong, juga menghadiahkan seluruh kekayaan pada seorang anak perempuan yang berpakaian beludru. 

Berikutnya barangkali sekilas terkait seorang kakek yang tidak ingin menyakiti ikan tapi punya istri yang jago masak ikan, kisah Maria asli dan Maria lain yang jadi korban kejahatan, seorang ibu yang hobi teaternya tak diwadahi tapi masih menerima-menerima saja, seorang adik yang aneh, Arkeolog Sushi, seorang bapak yang membumikan istri, anak, dan cucunya di satu peti sampai mayatnya busuk. Tapi aparat militer malah seakan-akan membebaskannya, dengan dalih "demi kebaikan". 

Dan jujur, aku tak mengerti dengan kisah perempuan hantu di perpustakaan yang dibuat khusus untuk menyimpan buku-buku orang mati itu. Ceritanya belibet dan tidak clear. Atau soal pembunuhan yang dilakukan perempuan dengna piano mahalnya itu juga cukup sulit dipahami alurnya. 

Terakhir, kalau kamu mau baca buku-buku Ziggy, plis, jangan mulai dari buku ini. Sekian dan terima kasih. Tambahan, judul "Tiga Dalam Kayu" ini dari interpretasi suka-sukaku, diambil dari tiga generasi perempuan: nenek, ibu, anak, (ada juga yang cucu) terkait kehidupan mereka di sepanjang banyak bab. Atau kisah di bab-bab terakhir terkait, seorang laki-laki yang menguburkan istri, anak, sekaligus cucunya sendiri di dalam peti.

Judul: Tiga Dalam Kayu | Penulis: Ziggy Zezyazeoviennazabrizkie | Editor: Teguh Afandi | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta | Cetakan: Ketujuh, Februari 2025 | Tahun terbit: 2022 | Jumlah Halaman dan Dimensi: vi + 162 hlm, 13,5 x 20 cm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar